Ia selalu meyakinkanku untuk menjunjung tinggi mimpi-mimpi kami, lalu ia membakarku untuk selalu mencapainya. Ia adalah antitesis sikap pesimis, panglima yang mengobrak-abrik mental penakut, dan hulu balang bagi jiwa besar. Ia telah membawaku mengalami hidup seperti yang kuinginkan.
Hidup dengan tantangan dan gelegak mara bahaya. Bersamanya aku melepuh terbakar panas matahari, limbung dihantam angin dan menciut dicengkeram dingin. ...
Semuanya telah kami rasakan, dalam kemenangan manis yang gilang-gemilang dan kekalahan getir yang paling memalukan, tapi selangkahpun kami tak mundur, tak pernah. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi.
1/5/09
Cobaan tak pernah berhenti
Lagi-lagi, kini beda lagi, hardware speaker 1257 mati. Ke Jogja lagi, ngurus garansi lagi,
yah mau bagaimana lagi, begitulah, begitu juga di rumah tangga,
Bukankah hidup adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah lainnya.
Yang penting hidup harus tetap berjalan, hari ini tiga jadwal tertunda tidak boleh tertunda seperti renang pagi tadi : Bayar kontrak L22 tahun ketiga, donor darah dan ke DI Panjaitan.
Ke Gramednya besok saja, Insya Allah
yah mau bagaimana lagi, begitulah, begitu juga di rumah tangga,
Bukankah hidup adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah lainnya.
Yang penting hidup harus tetap berjalan, hari ini tiga jadwal tertunda tidak boleh tertunda seperti renang pagi tadi : Bayar kontrak L22 tahun ketiga, donor darah dan ke DI Panjaitan.
Ke Gramednya besok saja, Insya Allah
Kuliah?
Kuliah, kuliah kok untuk cari duit? Ya to, dapat nilai bagus, wisuda dengan predikat excellent, dapat kerja, dapat gaji, bisa beli makan, perut kenyang, perut, perut, perut... Sependek itukah visi kita?
Kalau cuma cari duit, kalau cuma isi perut, sok dagang bakso itu lebih realistis. Loh, kita punya otak, punya imajinasi, jangan dikira jadi Raja Bakso itu mustahil.
Ini nih pikiran yang sudah ddibelenggu tanpa sadar oleh empat dinding kelas di kampus. Sayang disayang, memperangkan otak sendiri, dilupakan dengan potensi tak ternilai yang kita miliki, manut saja sama label yang diberikan sang dosen. Tega sekali kau pak dan bu dosen..??!!
Lalu kalau cari duit bisa didapat dengan jualan bakso, buat apa dong kuliah? Saya juga tidak tahu
Kalau cuma cari duit, kalau cuma isi perut, sok dagang bakso itu lebih realistis. Loh, kita punya otak, punya imajinasi, jangan dikira jadi Raja Bakso itu mustahil.
Ini nih pikiran yang sudah ddibelenggu tanpa sadar oleh empat dinding kelas di kampus. Sayang disayang, memperangkan otak sendiri, dilupakan dengan potensi tak ternilai yang kita miliki, manut saja sama label yang diberikan sang dosen. Tega sekali kau pak dan bu dosen..??!!
Lalu kalau cari duit bisa didapat dengan jualan bakso, buat apa dong kuliah? Saya juga tidak tahu
1/4/09
Front Desk
Teman, kau tahu berapa lama waktu untuk SDI sekedar memiliki front desk? Dua tahun, ya dua tahun. Apa artinya? Yakinkah betapa kuatnya karakter yang sedang tergembleng pada diri kita? Senyata mimpi-mimpi yang sudah terwujud, begitulah tampak nyata dihadapan saya, bahwa sukses finansial itu tinggal satu kali klik saja, ya, satu kali klik, bukan double klik sekalipun. Saksikan kebenaran kata-kata ini!
Hati-hati dengan peluang

Berbisnis, untuk bisa memulainya haruslah ada peluang. Tapi kenapa kok kita harus hati-hati dengan peluang? Suatu ketika saya ikut acara di Dinasti, membahas tentang bisnis properti, apa yang dikatakan?"Properti merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, tidak pernah lesu", dikesempatan berikutnya saya mendapati komentar dari seorang pengembang perumahan mewah di Purwokerto, "Banyak mas yang lebih jago dari yang kemarin ngomong di Dinasti."
Atau kasus lainnya, "Motivasi merupakan komoditas yang tidak ada habisnya, semua orang butuh dan semua orang harus terus mengulang-ngulangnya", dan dikesempatan lain saya mendengar begitu derasnya terpaan argumen tentang komersialisasi training motivasi. Atau hal lainnya lagi, katanya "Agrobisnis merupakan usaha yang sangat prospektif, apalagi kalau bisa menembus pangsa ekspor" dan dikesempatan lainnya saya mendapati fakta, "kebanyakan pebisnis agro se-kancah internasional gulung tikar bukan karena kekurangan pasar, tetapi karena kewalahan memenuhi permintaan pasar, kontinuitasnya ambruk dan kredibilitasnya jeblok".
Atau lainnya lagi "Bisnis kuliner tidak pernah ada matinya", nyatanya saya mendapati berapa puluh warung yang gulung tikar, awalnya sepi, lama-lama bangkrut".
Dari situ saya berpikir tentang tukang bakso, bagaimana kalau dia tidak pandai menyikapi peluang, melihat es cingcau ramai, dia berganti aliran jadi jualan cingcau, ketika melihat tukang jagung rebus lebih ramai diapun berganti lagi, pertanyaannya, kapankah sukses akan menghampirinya?
Inilah yang saya maksud dengan hati-hati dengan peluang, teman, ketahuilah bahwa dunia ini penuh dengan peluang, sangat penuh, saking penuhnya, kapasitas keahlian kita tidak akan menutupi jumlah peluang yang mungkin dikerjakan oleh manusia. Tapi pertanyaannya, apakah sukses adalah milik orang yang memiliki banyak peluang? belum tentu. Sukses adalah milik mereka yang mau loyal, dengan integritasnya, spesifik mengerjakan peluang.
Penjelasan ini ilmiah dan sangat logis, mengapa demikian? Karena peluang hanyalah pintu awal, sementara tititan lanjutan setelah melewati pintu itu ada yang namanya 'jam terbang'. Ketahuilah bahwa ketika kita masuk ke pintu peluang baru, ada orang-orang yang telah lama melewati pintu itu dan memiliki jam terbang tinggi. Maka pertanyaannya, siapakah yang akan menang disitu?
Begitu juga ketika kita sudah menetapkan satu pintu peluang yang kita ambil, kalau kita keukeuh ada di pintu itu, percayalah, sesepele apapun pintu itu, lambat laun jam terbang kita akan meninggi dan bisa mengarahkan kemudi ke pulau keberhasilan. Karena itulah, satu kesimpulan besar yang musti kita pegang erat-erat, genggam kuat-kuat, bahwa : Bisnis yang bagus bukanlah bisnis yang mudah, karena kalau bisnis itu mudah, bisa jadi sudah banyak orang yang menjejak di dalamnya dan kita bukan lagi yang pertama, dan bisnis yang mudah akan mudah pula disusuli oleh orang-orang sesudah kita, dan bila orang-orang yang menyusul itu memiliki kapasitas lebih dari kita, misalnya lebih mau kerja keras, lebih banyak belajar, lebih banyak relasi, lebih tahan banting, maka kita akan tersalip dan resiko terbesar kita adalah gulung tikar.
Ya, kesulitan yang kita temui dalam bisnis bukanlah pertanda pilihan peluang yang kita ambil salah, kesulitan itulah justru tanda langkah kita benar. Ketika kita bisa tetap bertahan maka jam terbang kita akan meninggi di bidang yang kita tekuni, dan ketika kesulitan itu tak kunjung habis, itu tandanya tidak banyak orang yang bisa menyusul apalagi mendahului kita.
Dari seorang penulis buku "Joshua Wahyudi" namanya, dia mengatakan, banyak peluang untuk mencapai sukses, mudah itu, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan sukses, apa alat mempertahankan sukses itu, tidak lain adalah 'karakter', dan karakter hanya bisa lahir dalam diri manusia dari kawah candradimuka bernama 'kesulitan'.
Sulit itu bukan lampu merah untuk berhenti, sulit itu tanjakan yang menantang kita untuk meningkatkan posisi kita di atas permukaan bumi. Semangat berjuang, meraih mimpi-mimpi.
Magang Menikah?
Wahyuningsih, "Rizky, hebat idealismenya", Putra, "Rizky, berani mengambil keputusan-keputusan besar", Hilmy, "Rizky, pantas menikah lebih dulu", Nurcahyaningsih, "Rizky, banyak ide dan tingkah polah".
Satu dua tahun pertama bahtera pernikahan, ingin saya bawa berpesiar. Pacaran dulu istilahnya, karena memang sebelum akad, tidak ada aktivitas pacaran diantara kami. Soal pakaian yang menumpuk, banyak laundry, piring-piring kotor, bisa dicuci bersama, urusan nafkah itu urusan saya, tugasmu hanya melanjutkan study hingga ke program profesi, agar jadi keahlian berarti, soal jalan-jalan, setiap haripun bisa, kalau ada duit, kita jalan-jalan menyambangi sanak saudara seantero Jawa, kalaulah tak ada duit, cukup keliling kompleks, ke GOR, atau Rajawali. Soal momongan, DIA yang lebih tahu yang terbaik.
Nyatanya, mau jadi pegawai kantor pajak saja harus magang 1 sampai 2 tahun pasca pendidikan. Kenapa di pernikahan tak boleh magang dulu setelah ijab. Pasangan muda haruslah rela dicerca kalau belum rajin ikut arisan RT, kalaupun nafkah kurang, tak ada celanya pinjam ke orang tua atau mertua. Yang penting kita punya potensi, pinjam bukan untuk hura-hura konsumtif, banyak hal bisa kita garap bersama, indah.
Dari sebuah buku, "Kita tidak bisa belajar bisnis hanya dari pelatihan dan buku-buku bisnis, tapi kita bisa belajar bisnis dengan memulai menjadi seorang pebisnis", bukankah esensi bisnis macam ini ekuivalen dengan esensi pernikahan? "Kita tidak bisa belajar menjadi suami/istri hanya dari pelatihan dan buku-buku pernikahan, tapi kita bisa belajar menjadi suami/istri dengan memulai menjadi seorang suami/istri."
Bukankah pasangan kita adalah figur istimewa bagi kita? Lalu kenapa kita lebih memilih belajar sendiri, atau belajar dari orang lain, kenapa tidak memilih belajar bersama-sama saja dengan sang istimewa itu?
Ketika membaca postingan ini mungkin 999 dari 1000 orang akan berkomentar, "Ah, Rizky terlalu idealis, belum tahu si bagaimana peliknya masalah di rumah tangga yang sebenarnya...", Komentar macam apa itu, seolah-olah tidak pernah mendengar dalil, "Allah tidak akan memberi cobaan di atas kemampuan sang hamba" juga dalil lain, "Ujian adalah tarbiyah (pendidikan) yang meningkatkan derajat manusia", atau dalil lainnya lagi, "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu...".
Satu dua tahun pertama bahtera pernikahan, ingin saya bawa berpesiar. Pacaran dulu istilahnya, karena memang sebelum akad, tidak ada aktivitas pacaran diantara kami. Soal pakaian yang menumpuk, banyak laundry, piring-piring kotor, bisa dicuci bersama, urusan nafkah itu urusan saya, tugasmu hanya melanjutkan study hingga ke program profesi, agar jadi keahlian berarti, soal jalan-jalan, setiap haripun bisa, kalau ada duit, kita jalan-jalan menyambangi sanak saudara seantero Jawa, kalaulah tak ada duit, cukup keliling kompleks, ke GOR, atau Rajawali. Soal momongan, DIA yang lebih tahu yang terbaik.
Nyatanya, mau jadi pegawai kantor pajak saja harus magang 1 sampai 2 tahun pasca pendidikan. Kenapa di pernikahan tak boleh magang dulu setelah ijab. Pasangan muda haruslah rela dicerca kalau belum rajin ikut arisan RT, kalaupun nafkah kurang, tak ada celanya pinjam ke orang tua atau mertua. Yang penting kita punya potensi, pinjam bukan untuk hura-hura konsumtif, banyak hal bisa kita garap bersama, indah.
Dari sebuah buku, "Kita tidak bisa belajar bisnis hanya dari pelatihan dan buku-buku bisnis, tapi kita bisa belajar bisnis dengan memulai menjadi seorang pebisnis", bukankah esensi bisnis macam ini ekuivalen dengan esensi pernikahan? "Kita tidak bisa belajar menjadi suami/istri hanya dari pelatihan dan buku-buku pernikahan, tapi kita bisa belajar menjadi suami/istri dengan memulai menjadi seorang suami/istri."
Bukankah pasangan kita adalah figur istimewa bagi kita? Lalu kenapa kita lebih memilih belajar sendiri, atau belajar dari orang lain, kenapa tidak memilih belajar bersama-sama saja dengan sang istimewa itu?
Ketika membaca postingan ini mungkin 999 dari 1000 orang akan berkomentar, "Ah, Rizky terlalu idealis, belum tahu si bagaimana peliknya masalah di rumah tangga yang sebenarnya...", Komentar macam apa itu, seolah-olah tidak pernah mendengar dalil, "Allah tidak akan memberi cobaan di atas kemampuan sang hamba" juga dalil lain, "Ujian adalah tarbiyah (pendidikan) yang meningkatkan derajat manusia", atau dalil lainnya lagi, "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu...".
Be The First or Be The Number One

Menjadi orang nomor 1 di negeri ini sesuai dengan bidang saya,
that is my ultimate goal,
Karena itu sesungguhnya 'presiden' hanyalah trigger. Yang terpenting bukan jabatan politik yang saya emban, yang terpenting bukan istana merdeka menjadi rumah saya. Lebih penting dari itu, saya bisa membuat kiprah besar, saya lahir hanya sekali, mati hanya sekali, apalah artinya tidak bisa berkiprah besar.
Seberapa ukuran besar itu? Minimal setaraf kiprah presiden. Pada saatnya nanti saya bisa mengambil keputusan yang bisa memberi kemaslahatan ke-seantero negeri. Bisa membuat gebrakan aksi yang manfaatnya merebak keseluruh pelosok tanah air. Ini mungkin, sebut saja Ary Ginanjar, kiprahnya mendunia, Purdi E Chandara gebrakannya membawa banyak kemajuan untuk bangsa ini, Yusuf Mansyur bisa membawa satu lentera paradigma baru 'the power of giving', dan banyak lagi lainnya. Bukankah mereka adalah orang-orang nomor 1 di bidangnya?
Ketika generasi mereka berlalu, siapa yang akan menjadi pengganti mereka? lebih letoykah dari mereka, atau lebih dahsyat? Itu tergantung mimpi kita hari ini. 'First is first, second is nowhere'.
Dengan menjadi orang nomor 1,
Bangsa ini layak mengantarkan kepergian saya dengan senandung gugur bunga,
Seluruh penduduk negeri ini mengirimkan al fatihah dan lantunan doa,
Istri saya menjadi seorang wanita mulia, Ibu Bangsa,
Anak-anak saya akan menjadi generasi rabbani, kader hebat pengganti saya,
Orang tua saya bangga akan peluh keringat dan untaian doa sedari saya muda,
Indonesia akan berjaya,
Sedikit bekal untuk menghadap-Nya
Visi dan Misi Rizky
Hidup harus ada yang menjadi tujuan, ada yang menjadi pegangan, ada yang menjadi tumpuan. Itulah Visi, Misi, Nilai dan Peran, seperti yang diajarkan di training Mission Statement. Apa Visi-Misi Pribadi saya?
RIZKY DWI RAHMAWAN
Visi :
Menjadi wakil-Nya yang mampu berkiprah besar di dunia, ditandai dengan layak mendapat predikat No. 1 di bidang yang saya jalankan, di tanah air ini, sebagai bekal menghadap-Nya nanti (Kanggo sebo mengko sore)
Misi :
Meningkatkan kualitas diri,
Mengembangkan komunitas motivasi,
Pilar-pilar mandiri,
Kontribusi sosial,
Kemampuan syiar spiritual, di bidang pembelajaran kecerdasan moral bangsa
Nilai :
Sembilan-sembilan suara hati dengan dua diantaranya sebagai triger : Cerdas (Smart) dan Berkemauan (Willing)
Peran :
Sebagai generasi rabbani, yang membagikan ilmu, menambah ilmu, membagikan lagi, menambah ilmu lagi
Apa Visi-Misi pribadimu?
RIZKY DWI RAHMAWAN
Visi :
Menjadi wakil-Nya yang mampu berkiprah besar di dunia, ditandai dengan layak mendapat predikat No. 1 di bidang yang saya jalankan, di tanah air ini, sebagai bekal menghadap-Nya nanti (Kanggo sebo mengko sore)
Misi :
Meningkatkan kualitas diri,
Mengembangkan komunitas motivasi,
Pilar-pilar mandiri,
Kontribusi sosial,
Kemampuan syiar spiritual, di bidang pembelajaran kecerdasan moral bangsa
Nilai :
Sembilan-sembilan suara hati dengan dua diantaranya sebagai triger : Cerdas (Smart) dan Berkemauan (Willing)
Peran :
Sebagai generasi rabbani, yang membagikan ilmu, menambah ilmu, membagikan lagi, menambah ilmu lagi
Apa Visi-Misi pribadimu?
Mimpi-mimpi Rizky
Mimpi saya untuk bisa mengakses internet tanpa harus ke warnet sudah terwujud,
Mimpi saya untuk memiliki sebuah situs internet dengan searh engine dan buku tamu sudah terwujud,
Mimpi saya untuk menjadi penulis sudah terwujud , 23 edisi sudah tulisan saya beredar,
Mimpi saya di L22 terparkir mobil-mobil bagus sudah terwujud,.
Mimpi saya L22 memiliki front desk dan sekretaris sudah terwujud,
Mimpi saya tamu-tamu berdatangan dan menyalami saya dengan rasa hormat sudah terwujud,
Mimpi saya bisa menyetir mobil-mobil bagus hingga ke depan rumah sudah terwujud,
Mimpi saya memiliki sahabat baik satu visi sudah terwujud, sejak lama malahan,
Mimpi saya untuk memiliki olahraga rutin sudah terwujud,
Mimpi saya untuk bisa menghabiskan 1 buku dalam 1 hari sudah terwujud,
Mimpi saya untuk kenal dekat dengan pendiri ESQ sudah terwujud, baru Mas Ridwan si belum Pa Ary,
Mimpi saya memiliki laptop berukuran imut 12 inchi sudah terwujud
Mimpi saya memiliki nomor HP 165 sudah terwujud, dua malahan, bahkan blog dan emailpun rizky165, bukan mengkultuskan, hanya identitas semata,
Mimpi saya untuk menemukan calon pendamping sevisi sudah terwujud, doakan bisa melangkah ke jenjang legal dan barokah tahun ini,
Seiring dengan itu, saya mulai sering menuai terpaan angin dream stealer dan badai kritik, sebut saja sikap saya yang training-sentris, atau perjalanan saya ke Patrajasa, Lembang atau terakhir ke Widrapayung kemarin. Awalnya saya selalu klarifikasi setiap kritik, saya selalu cemaskan celoteh para dreamstealer. Seiring dengan perkembangan waktu, saya mulai bisa menutup telinga dan tetap melangkah tanpa menghiraukan semua itu.
Saya tak pernah merayakan tahun baru, jangankan masehi, hijriyahpun tidak. Pergantian tahun adalah momentum yang baik untuk melakukan refleksi diri, melakukan flashback dari setahun yang lalu kita sudah habis berapa dan sudah dapat apa, untung atau rugi? bukan finansial saja. Dan setelah itu melanjutkan dengan perenungan, kedepan, perbaikan apa yang akan dibuat. Saya menyebut ini sebagai chekpoint, sebagaimana pada system restore komputer kita.
Soal saya ke widarapayung, atau tahun yang lalu saya ke jalur pendakian slamet, atau tahun lalu saya ke dzikir nasional Jakarta Islamic Center, atau tahun sebelumnya ke alun-alun bersama anak-anak Rohis SMA 2. Itu pilihan yang saya buat secara sadar, dan bukan untuk meleburkan diri dengan mereka yang merayakan, dan saya pergi tidak membawa identitas apapun, tidak dengan fosma, sepertihalnya tahun lalu tidak dengan identitas founder Semangat Donk, atau tahun lalunya lagi tidak dengan IPB saya, atau tahun lalunya lagi tanpa membawa nama Rohis SMA 2.
Dan mulai hari ini, bagi saya kritik adalah konsekuensi atas semakin besarnya kiprah saya, bagi saya kritik hanyalah angin lalu, kecuali kritik yang membawa perbaikan. Dan dreamstealer, bukan teman saya, bukan beban pikiran saya, karena saya tahu apa yang saya lakukan dan saya tuju, walau saya tak pernah tahu apa yang akan saya dapatkan.
Mimpi saya untuk memiliki sebuah situs internet dengan searh engine dan buku tamu sudah terwujud,
Mimpi saya untuk menjadi penulis sudah terwujud , 23 edisi sudah tulisan saya beredar,
Mimpi saya di L22 terparkir mobil-mobil bagus sudah terwujud,.
Mimpi saya L22 memiliki front desk dan sekretaris sudah terwujud,
Mimpi saya tamu-tamu berdatangan dan menyalami saya dengan rasa hormat sudah terwujud,
Mimpi saya bisa menyetir mobil-mobil bagus hingga ke depan rumah sudah terwujud,
Mimpi saya memiliki sahabat baik satu visi sudah terwujud, sejak lama malahan,
Mimpi saya untuk memiliki olahraga rutin sudah terwujud,
Mimpi saya untuk bisa menghabiskan 1 buku dalam 1 hari sudah terwujud,
Mimpi saya untuk kenal dekat dengan pendiri ESQ sudah terwujud, baru Mas Ridwan si belum Pa Ary,
Mimpi saya memiliki laptop berukuran imut 12 inchi sudah terwujud
Mimpi saya memiliki nomor HP 165 sudah terwujud, dua malahan, bahkan blog dan emailpun rizky165, bukan mengkultuskan, hanya identitas semata,
Mimpi saya untuk menemukan calon pendamping sevisi sudah terwujud, doakan bisa melangkah ke jenjang legal dan barokah tahun ini,
Seiring dengan itu, saya mulai sering menuai terpaan angin dream stealer dan badai kritik, sebut saja sikap saya yang training-sentris, atau perjalanan saya ke Patrajasa, Lembang atau terakhir ke Widrapayung kemarin. Awalnya saya selalu klarifikasi setiap kritik, saya selalu cemaskan celoteh para dreamstealer. Seiring dengan perkembangan waktu, saya mulai bisa menutup telinga dan tetap melangkah tanpa menghiraukan semua itu.
Saya tak pernah merayakan tahun baru, jangankan masehi, hijriyahpun tidak. Pergantian tahun adalah momentum yang baik untuk melakukan refleksi diri, melakukan flashback dari setahun yang lalu kita sudah habis berapa dan sudah dapat apa, untung atau rugi? bukan finansial saja. Dan setelah itu melanjutkan dengan perenungan, kedepan, perbaikan apa yang akan dibuat. Saya menyebut ini sebagai chekpoint, sebagaimana pada system restore komputer kita.
Soal saya ke widarapayung, atau tahun yang lalu saya ke jalur pendakian slamet, atau tahun lalu saya ke dzikir nasional Jakarta Islamic Center, atau tahun sebelumnya ke alun-alun bersama anak-anak Rohis SMA 2. Itu pilihan yang saya buat secara sadar, dan bukan untuk meleburkan diri dengan mereka yang merayakan, dan saya pergi tidak membawa identitas apapun, tidak dengan fosma, sepertihalnya tahun lalu tidak dengan identitas founder Semangat Donk, atau tahun lalunya lagi tidak dengan IPB saya, atau tahun lalunya lagi tanpa membawa nama Rohis SMA 2.
Dan mulai hari ini, bagi saya kritik adalah konsekuensi atas semakin besarnya kiprah saya, bagi saya kritik hanyalah angin lalu, kecuali kritik yang membawa perbaikan. Dan dreamstealer, bukan teman saya, bukan beban pikiran saya, karena saya tahu apa yang saya lakukan dan saya tuju, walau saya tak pernah tahu apa yang akan saya dapatkan.
Style yang Bagus
Fikry : Hem warna muda, jaket hitam khas trainer, bolpen laser, celana bahan hitam
Narkim Dwi Pamungkas : Baju SDTC, celana bahan
Andri : Batik putih
Karyanto : Batik SMC
Indie : Baju SDTC, Rok hitam longgar
Hilmy : Hem hitam, celana hitam, khas ATS
Mas Hendro : Kaos berkerah putih casual traveling
Aan Betutu : Gamis, celana tiga perempat
Arini : baju longgar lengan panjang, kerudung besar, rok rapih
Ambar : Gamis hijau
Tata : Baju longgar, kerudung besar, rok jeans biru rapih
Ayu : Blezer hitam khas ATS MCB, atau baju longgar lengan panjang motif hijau lembut, rok hitam longgar, kerudung rapih, kalung hp
Huda : Baju koko, sarung, peci hitam
Rizky : Hem violet, celana bahan atau kaos putih, celana tiga perempat
Azis : kaos berkerah, peci putih
Mas wendy : Baju koko coklat
dokter sari : bluz baju langsungan biru
bunda ery : idem
Narkim Dwi Pamungkas : Baju SDTC, celana bahan
Andri : Batik putih
Karyanto : Batik SMC
Indie : Baju SDTC, Rok hitam longgar
Hilmy : Hem hitam, celana hitam, khas ATS
Mas Hendro : Kaos berkerah putih casual traveling
Aan Betutu : Gamis, celana tiga perempat
Arini : baju longgar lengan panjang, kerudung besar, rok rapih
Ambar : Gamis hijau
Tata : Baju longgar, kerudung besar, rok jeans biru rapih
Ayu : Blezer hitam khas ATS MCB, atau baju longgar lengan panjang motif hijau lembut, rok hitam longgar, kerudung rapih, kalung hp
Huda : Baju koko, sarung, peci hitam
Rizky : Hem violet, celana bahan atau kaos putih, celana tiga perempat
Azis : kaos berkerah, peci putih
Mas wendy : Baju koko coklat
dokter sari : bluz baju langsungan biru
bunda ery : idem
Dimana Rumus Energi Potensial Menjadi Energi Kinetik?
Saya berpikir tentang seberapa percayakah dia terhadap kapasitas saya, seberapa percayakah orang tuanya. Sementara kiprah saya masih kasat mata, tetapi demikian, saya teringat satu kalimat yang saya yakini 100% 'keajaiban akan muncul bagi orang-orang yang berani mengambil resiko mencoba hal baru'.
Setelah saya menikah, saya membayar kontrakan rumah, listrik, telepon dan langganan internet Indosat M2, belanja dapur, belanja kebutuhan istri, membiayai sisa-sisa semester kuliah istri, program profesi, tugas, praktikum, kerja lapangan, arisan, kondangan, kunjungan kalau ada saudara dan kerabat yang sakit, iuran RT, wisata mingguan, fitnes, bensin mobil, tak terduga.
Orang kiri akan pusing memikirkan itu, orang kanan bisa menemukan celah, bukankah saya punya ratusan daftar nama dalam phonebook? Berapa persen diantara mereka adalah orang-orang luar biasa, sebut saja Pa Mungkas, Pa Zainal Abidin, Mas Andri Maadsa, Cryo, Otong, Putra, Pemkab, Jogja Bursa Buku. Bukankah saya punya segudang keahlian, menyusun proposal, melipat surat, menawarkan barang, mengadakan lobi kegiatan, memberikan pelatihan motivasi, menulis, berbicara, menjajakan produk, membuat kerajinan, mengkombinasikan ide. Lalu berpikir lagi, bukankah saya dikelilingi orang-orang hebat, sebut saja Hilmy, Ria Marliana, Mas Hendro, Aan Betutu, Bu Nuniek, dokter Sari, Mas Ryan Kayyisu. Lalu saya melanjutkan berpikir, bukankah orang tua saya mendukung penuh langkah-langkah yang saya ambil. Lanjut lagi pikiran saya, bukankah saya punya segepok tulisan penyemangat di blog 'the power of dream' yang merupakan kumpulan pelajaran dari perjalanan hidup saya, tanda jam terbang saya sudah tinggi. Dan pikiran saya tertuju pada, bukankah ada Allah bersama saya, yang mencukupi kebutuhan saya, yang membuat saya mampu menjemput jodoh saya, yang menjawab pertanyaan saya, yang mengabulkan apa yang saya minta, yang menghargai sedekah saya, Yang Maha Sempurna.
Coba perhatikan, panjang mana paragraf pertama dan kedua di atas? setelah membaca paragraf kedua dan mencoba membaca paragraf pertama lagi, masih samakah ketakutan dan pesimisme awal kita? kalau sama dengan yang saya rasakan, jawabannya : tidak. Seperti kemarin saya berbincang dengan Hilmy dan Andri, kita itu punya energi potensial yang tidak terperikan besarnya, tapi tidak tahu rumus mengubahnya menjadi energi kinetik. Ya, itulah bedanya dengan tukang angkringan alun-alun Banyumas, potensinya bisa jadi cuma itu, tapi dia tahu rumus mengubahnya menjadi kinetik, jadi maksimallah potensi kecilnya itu dimanfaatkan. Bukankah potensi kita berlipat-lipat lebih ketimbang tukang angkringan yang tidak tahu joomla, yang tidak pernah mendapat rekomendasi Dinas Pendidikan, yang tak pernah disalami ucapan selamat oleh Wakil Bupati, yang tak pernah makan bersama Bob Sadino, yang tidak pernah mendapat nasehat privat dari Pa Waidi, yang tidak terpikir untuk foto bersama Ary Ginanjar yang tidak pernah dipuji oleh Ridwan Mukri, yang tidak tahu bagaimana membuat entri baru pada blog, yang tidak paham stempel proposal itu dikiri atau dikanan tanda tangan.
Dahsyat tidak sebenarnya kita, bagaimana kalau dibandingkan dengan tukang angkringan? bakul somay? pedagang basgor? Tidak malu mereka bisa menikah, mampu menghidupi keluarga kecil, bahagia dalam kemuliaan menjalankan sunnah rasul dan menjaga diri demi kedekatan dengan-Nya? Dahsyat itu baru kita rasakan kalau kita sudah memahami rumus mengubah potensi itu menjadi kinetik. Dan tahukah, kalau yang tahu rumus itu adalah istri kita, rumus dahsyat itu ada di istri kita, yang akan dia bisikkan di malam pertama nanti, karena itu menikahlah.
Setelah saya menikah, saya membayar kontrakan rumah, listrik, telepon dan langganan internet Indosat M2, belanja dapur, belanja kebutuhan istri, membiayai sisa-sisa semester kuliah istri, program profesi, tugas, praktikum, kerja lapangan, arisan, kondangan, kunjungan kalau ada saudara dan kerabat yang sakit, iuran RT, wisata mingguan, fitnes, bensin mobil, tak terduga.
Orang kiri akan pusing memikirkan itu, orang kanan bisa menemukan celah, bukankah saya punya ratusan daftar nama dalam phonebook? Berapa persen diantara mereka adalah orang-orang luar biasa, sebut saja Pa Mungkas, Pa Zainal Abidin, Mas Andri Maadsa, Cryo, Otong, Putra, Pemkab, Jogja Bursa Buku. Bukankah saya punya segudang keahlian, menyusun proposal, melipat surat, menawarkan barang, mengadakan lobi kegiatan, memberikan pelatihan motivasi, menulis, berbicara, menjajakan produk, membuat kerajinan, mengkombinasikan ide. Lalu berpikir lagi, bukankah saya dikelilingi orang-orang hebat, sebut saja Hilmy, Ria Marliana, Mas Hendro, Aan Betutu, Bu Nuniek, dokter Sari, Mas Ryan Kayyisu. Lalu saya melanjutkan berpikir, bukankah orang tua saya mendukung penuh langkah-langkah yang saya ambil. Lanjut lagi pikiran saya, bukankah saya punya segepok tulisan penyemangat di blog 'the power of dream' yang merupakan kumpulan pelajaran dari perjalanan hidup saya, tanda jam terbang saya sudah tinggi. Dan pikiran saya tertuju pada, bukankah ada Allah bersama saya, yang mencukupi kebutuhan saya, yang membuat saya mampu menjemput jodoh saya, yang menjawab pertanyaan saya, yang mengabulkan apa yang saya minta, yang menghargai sedekah saya, Yang Maha Sempurna.
Coba perhatikan, panjang mana paragraf pertama dan kedua di atas? setelah membaca paragraf kedua dan mencoba membaca paragraf pertama lagi, masih samakah ketakutan dan pesimisme awal kita? kalau sama dengan yang saya rasakan, jawabannya : tidak. Seperti kemarin saya berbincang dengan Hilmy dan Andri, kita itu punya energi potensial yang tidak terperikan besarnya, tapi tidak tahu rumus mengubahnya menjadi energi kinetik. Ya, itulah bedanya dengan tukang angkringan alun-alun Banyumas, potensinya bisa jadi cuma itu, tapi dia tahu rumus mengubahnya menjadi kinetik, jadi maksimallah potensi kecilnya itu dimanfaatkan. Bukankah potensi kita berlipat-lipat lebih ketimbang tukang angkringan yang tidak tahu joomla, yang tidak pernah mendapat rekomendasi Dinas Pendidikan, yang tak pernah disalami ucapan selamat oleh Wakil Bupati, yang tak pernah makan bersama Bob Sadino, yang tidak pernah mendapat nasehat privat dari Pa Waidi, yang tidak terpikir untuk foto bersama Ary Ginanjar yang tidak pernah dipuji oleh Ridwan Mukri, yang tidak tahu bagaimana membuat entri baru pada blog, yang tidak paham stempel proposal itu dikiri atau dikanan tanda tangan.
Dahsyat tidak sebenarnya kita, bagaimana kalau dibandingkan dengan tukang angkringan? bakul somay? pedagang basgor? Tidak malu mereka bisa menikah, mampu menghidupi keluarga kecil, bahagia dalam kemuliaan menjalankan sunnah rasul dan menjaga diri demi kedekatan dengan-Nya? Dahsyat itu baru kita rasakan kalau kita sudah memahami rumus mengubah potensi itu menjadi kinetik. Dan tahukah, kalau yang tahu rumus itu adalah istri kita, rumus dahsyat itu ada di istri kita, yang akan dia bisikkan di malam pertama nanti, karena itu menikahlah.
Pe eN eS
saya tidak pernah tau apa yang saya dapatkan, tapi saya tau persis apa yang saya inginkan...
Kalau saya ikuti arus berpikir orang kebanyakan, maka masa depan saya pasti, pasti pakai seragam PSH setiap hari kecuali minggu. Gajinya segitu-segitu saja, ambil kredit ini kredit itu, relasi saya paling tinggi kepala Unit Pendidikan Kecamatan, bla.. bla.. bla...
Ya, mungkin tidak jauh berbeda dengan Bapak saya sekarang. Apa yang akan saya bawa pas mati nanti, apa orang akan melupakan saya dan saya yakin berhak atas surga yang mulia.
Merdeka atau mati, merdeka pikiran saya dari belenggu dominasi otak kiri, hedonisme dan krisis tanah air. Saya bahagia dengan pencapaian ini, dengan impian-impian ini, dengan komunitas ini...
Saya masih mungkin untuk berkiprah mengabupaten, memprovinsi, mengindonesia, mendunia dan mengakherat. Walau saya tau saya tidak sempurna, tidak bisa futsal, renang apalagi basket
Dan saya masih yakin atas mimpi-mimpi saya, walau lagi-lagi Honda Jazz kemarin tertunda. Kalau saya salah diingatkan, ya maaf merepotkan, sudah bikin salah, minta diingatkan lagi
Kalau saya ikuti arus berpikir orang kebanyakan, maka masa depan saya pasti, pasti pakai seragam PSH setiap hari kecuali minggu. Gajinya segitu-segitu saja, ambil kredit ini kredit itu, relasi saya paling tinggi kepala Unit Pendidikan Kecamatan, bla.. bla.. bla...
Ya, mungkin tidak jauh berbeda dengan Bapak saya sekarang. Apa yang akan saya bawa pas mati nanti, apa orang akan melupakan saya dan saya yakin berhak atas surga yang mulia.
Merdeka atau mati, merdeka pikiran saya dari belenggu dominasi otak kiri, hedonisme dan krisis tanah air. Saya bahagia dengan pencapaian ini, dengan impian-impian ini, dengan komunitas ini...
Saya masih mungkin untuk berkiprah mengabupaten, memprovinsi, mengindonesia, mendunia dan mengakherat. Walau saya tau saya tidak sempurna, tidak bisa futsal, renang apalagi basket
Dan saya masih yakin atas mimpi-mimpi saya, walau lagi-lagi Honda Jazz kemarin tertunda. Kalau saya salah diingatkan, ya maaf merepotkan, sudah bikin salah, minta diingatkan lagi
Soal Kritik Mengkritik
Founder ESQ LC ini pantaslah dijuluki sang kritikus hebat. Gagasan The ESQ Way-nya yang mendunia merupakan buah yang lahir dari upaya kritisnya terhadap konsep pemikiran dan pelatihan SDM kreasi Steven R. Covey. Mengapa hebat? Ary Ginanjar bukan hanya menghadirkan fakta dan bantahan-bantahan, Ary memberikan kritik lengkap dengan solusinya, maka buah kritiknya bukan sebatas kontroversi orang perorang tetapi sebuah terobosan baru training yang memadukan konsep kecerdasan emosional dan spiritual yang saat ini telah mendunia, saking padatnya traffic, dia sudah tidak punya waktu untuk mengisi pelatihan dengan konsep yang dia gagas yang menyempurnakan konsep Covey kecuali di Ibukota-Ibukota Negara.
Solutif, itulah kritikus yang hebat. Kritikus yang hanya pandai menguak fakta, kadang malah perlu dicibir dan dinafikan keberadaan mereka, saya mengistilahkan 'numpang tenar', sebut saja Abu Sangkan dengan bukunya 'Spiritual Salah Kaprah', saya tertegun membaca, menelaah dan mendiskusikan konsep yang dikemukakan oleh buku ini dengan beberapa orang yang saya 'ajeni' sesuai bidang ilmunya. Sebuah paradigma berbeda yang mencengangkan, namun demikian, buku yang diobsesikan laris manis terdongkrak penjualannya karena orang-orang tertarik dengan kontroversi temanya ini ternyata 'layu sebelum berkembang', surut sebelum sempat booming.
Ya, bukan karena konsep kritiknya yang tidak menarik, justru menurut saya sangatlah cerdas dan logis, namun demikian, kesalahan ada pada pengemasan konsep itu. Sederhananya, hanya menguak fakta, dan kurang dari sisi solusi. Berbeda dengan kelahiran buku Rahasia Sukses ESQ yang saat ini sudah hampir menembus penjualan satu juta copy dan telah terbit dua versi bahasa, Inggris dan Indonesia serta tiga kluster pembaca, Dewasa, Remaja dan Anak-Anak. Buku yang ditransformasikan dalam bentuk training itu menjadi bentuk solutif, dalam bahasa sederhana, ketika Ary mengatakan 'Covey itu kurangnya begini, Ary menyajikan langsung, begini lebih baik...'. Sekali lagi saya tuliskan 'lebih baik', bukan 'yang terbaik'.
Seandainya Abu Sangkan bisa menyajikan satu paket solusi yang bisa menggeser kiprah ESQ tentu ini terobosan baru untuk kemajuan kecerdasan moral bangsa ini, bukan sekedar menyulut kontroversi orang-orang yang awam akan spiritualitas dan pembelajaran akan kecerdasannya. Nyatanya Abu tidak bisa.
Begitu pula dengan blog 'mengintip-dunia'nya Firdaus Putra, saya mengakui ilmiah, saintis dan sistematisnya penulisan blog ini. Selamat saya sampaikan atas kemenangannya dalam salah satu kompetisi blog berhadiah 5 juta beberapa waktu lalu. Namun demikian, saya mengistilahkan sang penulis yang pernah memberikan pesan pada saya untuk 'wisdom' justru penulis sendiri yang tidak wisdom.
Silakan, orang awam saja bisa menelaah postingan-postingan blognya, ini seperti Aa Gym dengan hikayat tukang pelnya, ketika sang pembantu selesai mengepel ruangan, majikan bukan mengucapkan terima kasih atas satu ruangan yang lantainya sudah mengkilap, tetapi hanya menerawang sudut ruangan dan mencemooh karena terlewat satu kotak keramik masih kotor.
Kritik semacam ini tidaklah memberikan kontribusi apa-apa terhadap perkembangan kecerdasan moral bangsa, alih-alih memberikan nilai tambah perbaikan, malah menyulut kontroversi tak berdasar. Ada dalam salah satu self-comment Firdaus yang mengatakan bahwa dirinya kecewa atas tanggapan-tanggapan yang masuk justru tidak bersifat substansi. Hanya penyerangan-penyerangan terhadap personal sang penulis. Untuk ini saya ada dua tanggapan, pertama, comment2 saya di waktu2 yang lalu dinafikannya, silakan dianalisis comment-comment saya, banyak hal mendasar dan substansi yang saya ungkap disitu, dan itu tidak disebutkan. Sebut saja soal pemilihan PT adalah bentuk strategi, soal trainer bukanlah ustadz atau ulama tetapi pelatih SDM, soal pengelolaan wakaf keuntungan merchandise dan masa depan Menara 165. Saya rasa itu sangat substansi.
Kedua, kenapa para pembaca memberikan komentar yang tidak substansial adalah karena bentuk penyajian kritik itu sendiri yang 'tidak pada tempatnya'. Dalih kritik disampaikan untuk perbaikan amatlah tidak bisa dibenarkan bila ditampilkan di blog, Ary Ginanjar sebagai obyek kritik sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan saya sudah beberapa kali memfasilitasinya, terakhir kemarin undangan pertemuan saya di Atrium Hotel, tetapi baginya itu tidak penting, lebih penting agenda lain. Dengan memberikan kritik langsung pada obyek akan membuat keniscayaan perbaikan, bukan sekedar polemik.
Disinilah saya pantas memprediksi kritikan disampaikan untuk memancing pembaca, sehingga traffic naik, populer dan bisa menjadi blog yang menang. Tentu, saya bukan blogger semacam ini.
Masih berkaitan dengan ketida-wisdom-an Firdaus, satu hal lagi saya sampaikan, silahkan perhatikan bukan hanya postingannya seputar ESQ, beberapa postingan lain, Firdaus menguak fakta pada satu sisi sempit tertentu saja, yang kesemuanya negatif, tak ada apresiasi positif, ini tentu akan menggelincirkan pembaca yang tidak memahami fakta lengkap atas pemikiran yang diangkat oleh Firdaus itu sendiri. Ya, argumentasi-argumentasi yang disusun dalam point-point kritiknya yang diangkat hanyalah yang mendukung argumentasi mendasar yang dia angkat, tak disebutkan pengakuan-pengakuannya atas kebenaran konsep, kehebatan pemikiran, kecemerlangan ide, atau hal-hal positif lainnya sebagai sebuah bentuk kebijaksanaan berpikir melingkar, wisdom.
Sekedar saran, Abu Sangkan memiliki kesempatan untuk membuat training yang lebih sempurna dari ESQ, bukan sekedar buku kontroversial. Firdauspun punya kesempatan luas untuk menyampaikan kritik langsung pada Ary Ginanjar, saya bisa membantu, jika memang tujuan kritik adalah penyempurnaan konsep pembelajaran kecerdasan moral, bukan sekedar memancing kontroversi peningkat traffic pengunjung, bila memang sudah risih dengan komentar-kmentar tidak substansi seperti yang dia keluhkan di self-comment-nya. Ya, saya memfasilitasi penuh diskusi secara substansi, diskusi semacam itu ya dengan orang-orang yang substansi, Ary Ginanjar dan para trainer, bukan dengan menyusun argumentasi untuk kepentingan tertentu dan menggelapkan pengakuan-pengakuan atas kebenaran konsep, kehebatan pemikiran, kecemerlangan ide, kebesaran kiprah, kekuatan persaudaraan, kestabilan pilar ekonomi, kebesaran hati dan kemajuan progresif.
Karena sayapun seorang kritikus, namun demikian, saya lebih suka meneladani Ary Ginanjar ketimbang dua lainnya, Komunitas Semangat Donk yang saya dirikan bersama Hilmy Nugraha merupakan satu bentuk ekspresi kritik melihat kecemasan atas ESQ yang begitu fenomenal tetapi perlu dibenahi dalam hal maintenance alumni, bukan dalam bentuk komentar parsial, namun tindakan penyambung tongkat estafet upaya peningkatan kecerdasan moral bangsa.
Inilah yang kami lakukan, yang dari hari ke hari terus menunjukkan peningkatan yang semakin signifikan, telah nyata dihadapan saya terwujudnya visi yang kami canangkan ini, inilah satu bentuk kritik solutif untuk kemajuan pendidikan moral bangsa, bukan dengan menampilkan sisi-sisi negatif dalam postingan blog atau buku kontroversi, tapi dalam upaya nyata yang diharapkan mampu menyambungkan dan melengkapi kiprah besar pergerakan sebelumnya. Kami tidak banyak menuai kontroversi, tapi kami memberikan banyak kontribusi solusi, itulah kritik sejati. Kritik yang menyambung tangga menuju kesempurnaan, bukan kritik penaik popularitas, apalagi sekedar penaik traffic. Belajarlah menjadi kritikus-solutif, banyak lahan mencari uang tanpa harus memicu kebingungan orang awam. Ada jalan yang begitu mudah untuk bertemu dengan orang-orang substasi untuk berdialog dan menyampaikan kritik secara substansi. Kecuali alasan memberikan kritik adalah demi perbaikan yang dikritik hanyalah alasan kosong, dalih.
Solutif, itulah kritikus yang hebat. Kritikus yang hanya pandai menguak fakta, kadang malah perlu dicibir dan dinafikan keberadaan mereka, saya mengistilahkan 'numpang tenar', sebut saja Abu Sangkan dengan bukunya 'Spiritual Salah Kaprah', saya tertegun membaca, menelaah dan mendiskusikan konsep yang dikemukakan oleh buku ini dengan beberapa orang yang saya 'ajeni' sesuai bidang ilmunya. Sebuah paradigma berbeda yang mencengangkan, namun demikian, buku yang diobsesikan laris manis terdongkrak penjualannya karena orang-orang tertarik dengan kontroversi temanya ini ternyata 'layu sebelum berkembang', surut sebelum sempat booming.
Ya, bukan karena konsep kritiknya yang tidak menarik, justru menurut saya sangatlah cerdas dan logis, namun demikian, kesalahan ada pada pengemasan konsep itu. Sederhananya, hanya menguak fakta, dan kurang dari sisi solusi. Berbeda dengan kelahiran buku Rahasia Sukses ESQ yang saat ini sudah hampir menembus penjualan satu juta copy dan telah terbit dua versi bahasa, Inggris dan Indonesia serta tiga kluster pembaca, Dewasa, Remaja dan Anak-Anak. Buku yang ditransformasikan dalam bentuk training itu menjadi bentuk solutif, dalam bahasa sederhana, ketika Ary mengatakan 'Covey itu kurangnya begini, Ary menyajikan langsung, begini lebih baik...'. Sekali lagi saya tuliskan 'lebih baik', bukan 'yang terbaik'.
Seandainya Abu Sangkan bisa menyajikan satu paket solusi yang bisa menggeser kiprah ESQ tentu ini terobosan baru untuk kemajuan kecerdasan moral bangsa ini, bukan sekedar menyulut kontroversi orang-orang yang awam akan spiritualitas dan pembelajaran akan kecerdasannya. Nyatanya Abu tidak bisa.
Begitu pula dengan blog 'mengintip-dunia'nya Firdaus Putra, saya mengakui ilmiah, saintis dan sistematisnya penulisan blog ini. Selamat saya sampaikan atas kemenangannya dalam salah satu kompetisi blog berhadiah 5 juta beberapa waktu lalu. Namun demikian, saya mengistilahkan sang penulis yang pernah memberikan pesan pada saya untuk 'wisdom' justru penulis sendiri yang tidak wisdom.
Silakan, orang awam saja bisa menelaah postingan-postingan blognya, ini seperti Aa Gym dengan hikayat tukang pelnya, ketika sang pembantu selesai mengepel ruangan, majikan bukan mengucapkan terima kasih atas satu ruangan yang lantainya sudah mengkilap, tetapi hanya menerawang sudut ruangan dan mencemooh karena terlewat satu kotak keramik masih kotor.
Kritik semacam ini tidaklah memberikan kontribusi apa-apa terhadap perkembangan kecerdasan moral bangsa, alih-alih memberikan nilai tambah perbaikan, malah menyulut kontroversi tak berdasar. Ada dalam salah satu self-comment Firdaus yang mengatakan bahwa dirinya kecewa atas tanggapan-tanggapan yang masuk justru tidak bersifat substansi. Hanya penyerangan-penyerangan terhadap personal sang penulis. Untuk ini saya ada dua tanggapan, pertama, comment2 saya di waktu2 yang lalu dinafikannya, silakan dianalisis comment-comment saya, banyak hal mendasar dan substansi yang saya ungkap disitu, dan itu tidak disebutkan. Sebut saja soal pemilihan PT adalah bentuk strategi, soal trainer bukanlah ustadz atau ulama tetapi pelatih SDM, soal pengelolaan wakaf keuntungan merchandise dan masa depan Menara 165. Saya rasa itu sangat substansi.
Kedua, kenapa para pembaca memberikan komentar yang tidak substansial adalah karena bentuk penyajian kritik itu sendiri yang 'tidak pada tempatnya'. Dalih kritik disampaikan untuk perbaikan amatlah tidak bisa dibenarkan bila ditampilkan di blog, Ary Ginanjar sebagai obyek kritik sangat terbuka untuk menerima masukan, bahkan saya sudah beberapa kali memfasilitasinya, terakhir kemarin undangan pertemuan saya di Atrium Hotel, tetapi baginya itu tidak penting, lebih penting agenda lain. Dengan memberikan kritik langsung pada obyek akan membuat keniscayaan perbaikan, bukan sekedar polemik.
Disinilah saya pantas memprediksi kritikan disampaikan untuk memancing pembaca, sehingga traffic naik, populer dan bisa menjadi blog yang menang. Tentu, saya bukan blogger semacam ini.
Masih berkaitan dengan ketida-wisdom-an Firdaus, satu hal lagi saya sampaikan, silahkan perhatikan bukan hanya postingannya seputar ESQ, beberapa postingan lain, Firdaus menguak fakta pada satu sisi sempit tertentu saja, yang kesemuanya negatif, tak ada apresiasi positif, ini tentu akan menggelincirkan pembaca yang tidak memahami fakta lengkap atas pemikiran yang diangkat oleh Firdaus itu sendiri. Ya, argumentasi-argumentasi yang disusun dalam point-point kritiknya yang diangkat hanyalah yang mendukung argumentasi mendasar yang dia angkat, tak disebutkan pengakuan-pengakuannya atas kebenaran konsep, kehebatan pemikiran, kecemerlangan ide, atau hal-hal positif lainnya sebagai sebuah bentuk kebijaksanaan berpikir melingkar, wisdom.
Sekedar saran, Abu Sangkan memiliki kesempatan untuk membuat training yang lebih sempurna dari ESQ, bukan sekedar buku kontroversial. Firdauspun punya kesempatan luas untuk menyampaikan kritik langsung pada Ary Ginanjar, saya bisa membantu, jika memang tujuan kritik adalah penyempurnaan konsep pembelajaran kecerdasan moral, bukan sekedar memancing kontroversi peningkat traffic pengunjung, bila memang sudah risih dengan komentar-kmentar tidak substansi seperti yang dia keluhkan di self-comment-nya. Ya, saya memfasilitasi penuh diskusi secara substansi, diskusi semacam itu ya dengan orang-orang yang substansi, Ary Ginanjar dan para trainer, bukan dengan menyusun argumentasi untuk kepentingan tertentu dan menggelapkan pengakuan-pengakuan atas kebenaran konsep, kehebatan pemikiran, kecemerlangan ide, kebesaran kiprah, kekuatan persaudaraan, kestabilan pilar ekonomi, kebesaran hati dan kemajuan progresif.
Karena sayapun seorang kritikus, namun demikian, saya lebih suka meneladani Ary Ginanjar ketimbang dua lainnya, Komunitas Semangat Donk yang saya dirikan bersama Hilmy Nugraha merupakan satu bentuk ekspresi kritik melihat kecemasan atas ESQ yang begitu fenomenal tetapi perlu dibenahi dalam hal maintenance alumni, bukan dalam bentuk komentar parsial, namun tindakan penyambung tongkat estafet upaya peningkatan kecerdasan moral bangsa.
Inilah yang kami lakukan, yang dari hari ke hari terus menunjukkan peningkatan yang semakin signifikan, telah nyata dihadapan saya terwujudnya visi yang kami canangkan ini, inilah satu bentuk kritik solutif untuk kemajuan pendidikan moral bangsa, bukan dengan menampilkan sisi-sisi negatif dalam postingan blog atau buku kontroversi, tapi dalam upaya nyata yang diharapkan mampu menyambungkan dan melengkapi kiprah besar pergerakan sebelumnya. Kami tidak banyak menuai kontroversi, tapi kami memberikan banyak kontribusi solusi, itulah kritik sejati. Kritik yang menyambung tangga menuju kesempurnaan, bukan kritik penaik popularitas, apalagi sekedar penaik traffic. Belajarlah menjadi kritikus-solutif, banyak lahan mencari uang tanpa harus memicu kebingungan orang awam. Ada jalan yang begitu mudah untuk bertemu dengan orang-orang substasi untuk berdialog dan menyampaikan kritik secara substansi. Kecuali alasan memberikan kritik adalah demi perbaikan yang dikritik hanyalah alasan kosong, dalih.
inovasi Sang Caleg

Bersepeda motor melewati lampu merah karang jambu, ada pemandangan menarik bagi saya, "ini baru namanya inovasi", ujar saya.
Ya, dua caleg satu baliho. Hemat kan?
Nah, kepada para Caleg, bisa ditiru tuh, kalau perlu 10 Caleg 1 baliho. Penghematan. Karena saya tahu persis harga 1 meter persegi baliho Anda itu bisa buat makan 10 kali nasi telor untuk tukang becak.
Tegakah para calon wakil rakyat, membiarkan fotomu terpampang sementara tukang becak di bawahmu tak makan?
Kepada rakyat, saya belum jadi presiden, jadi belum bisa menginstruksikan dan membuat kebijakan apapun, hanya bisa menghimbau : janganlah mau dibodohi oleh orang-orang narsis yang suka memajang fotonya di perempatan jalan besar-besar. Pakai duit siapa tuh bikinnya? siapa nanti yang mau mengganti? nggak murah loh bikin begituan, belum ongkos pasangnya, belum pajaknya...
Ah, keterlaluan elit politik negeri ini. Bangsa ini sudah bodoh, masih saja dibodohi. Teganya dikau?!
Ya, dua caleg satu baliho. Hemat kan?
Nah, kepada para Caleg, bisa ditiru tuh, kalau perlu 10 Caleg 1 baliho. Penghematan. Karena saya tahu persis harga 1 meter persegi baliho Anda itu bisa buat makan 10 kali nasi telor untuk tukang becak.
Tegakah para calon wakil rakyat, membiarkan fotomu terpampang sementara tukang becak di bawahmu tak makan?
Kepada rakyat, saya belum jadi presiden, jadi belum bisa menginstruksikan dan membuat kebijakan apapun, hanya bisa menghimbau : janganlah mau dibodohi oleh orang-orang narsis yang suka memajang fotonya di perempatan jalan besar-besar. Pakai duit siapa tuh bikinnya? siapa nanti yang mau mengganti? nggak murah loh bikin begituan, belum ongkos pasangnya, belum pajaknya...
Ah, keterlaluan elit politik negeri ini. Bangsa ini sudah bodoh, masih saja dibodohi. Teganya dikau?!
Next Leader
Untuk Palestina
Saudaramu ini tak bisa banyak membantu, hanya lantunan sendandung doa, semoga Allah berikan kekuatan.
Tak tergerak untuk menjadi relawan berangkat kesana,
Tak tersentuh untuk ikut dalam barisan demo dan aksi,
Tak juga meneruskan SMS simpati,
Tak juga mengirim ke rekening peduli,
Sungguh, saya belum bisa banyak berguna. Tapi saya berjanji akan terus berusaha untuk menjadi lebih berguna,
Al Fatihah ...
Tak tergerak untuk menjadi relawan berangkat kesana,
Tak tersentuh untuk ikut dalam barisan demo dan aksi,
Tak juga meneruskan SMS simpati,
Tak juga mengirim ke rekening peduli,
Sungguh, saya belum bisa banyak berguna. Tapi saya berjanji akan terus berusaha untuk menjadi lebih berguna,
Al Fatihah ...
1/2/09
Label
Beberapa orang memberikan labelnya sendiri pada saya, terakhir putra, teman sejak SMA, dia sampaiakan tanpa saya meminta, Rizky itu : Cerdas dan Berani Mengambil Keputusan Besar.
Atas chat dengan Putra itulah, keraguan saya atas ketidakmungkinan sirna, berganti menjadi 'mungkin'. Dan Ikhtiar saya selanjutnya adalah menguatkan kta 'mungkin' itu, hingga bersemayam dalam-dalam dalam bawah sadar saya.
Mungkin
Atas chat dengan Putra itulah, keraguan saya atas ketidakmungkinan sirna, berganti menjadi 'mungkin'. Dan Ikhtiar saya selanjutnya adalah menguatkan kta 'mungkin' itu, hingga bersemayam dalam-dalam dalam bawah sadar saya.
Mungkin
Transistor v.s. Resistor

Kenapa jalan ke rumah saya tanjakan pertama adalah tanjakan yang paling curam?
Kenapa jalan ke pancuran 7 anak tangga di tower pertama adalah anak tangga yang paling tinggi derajat kemiringannya?
Kesulitan itu tantangan, bukan penghambat. Ya, kesulitan itu salah satu jenis transistor, tapi orang sering menganggapnya resistor, membuat orang itu mendapat nilai jelek pas keluar dari lab praktikum karena kesalahan itu. Fatal, karena akibat kesimpulan yang salah, penyusunan laporanpun menjadi salah kaprah.
Satu hal yang mendasar, kenapa kesulitan letaknya di awal, agar kita teruji menghadapi medan, rute selanjutnya. Seandainya saja di tanjakan pertama kita memilih untuk berhenti dan berbalik, makan kita tidak akan menikmati indahnya rute, view dan end destination yang tak pernah kita temui sebelumnya.
Namun ketika di awal dengan nafas tersengal-sengal, keringat mengucur, peluh memendar, tak ada kata berhenti, maka di rute selanjutnya ketika kita mendapati tanjakan lagi, kita sudah terlatih, sudah bertambah kuat.
Begitu juga soal menikah, dari teman baik saya, Aan, dia bercerita, sebenarnya alasan-alasan orang menunda pernikahan adalah dekat dengan dalih. Ortu minta PNS dulu, Ortu minta sarjana dulu, Ortu bilang "pengen nyawang anake" dulu.
Itu adalah tantangan dari ortu, seolah mereka bertanya, "apa wis tenanan kowe nduk?". Kalo sudah beneran kuat komitmen kita, tentu kita akan menerjang hambatan2 itu. Bukan akan dicap durhaka kita, tapi orang tua akan menilai keberanian dan kesungguhan kita.
"Lah pakne, dilarang gini aja anak kita wis mundur, tandane rung tenanan..." begitu pikir ortu kita. Nah, dalih itu tidak ada habisnya, bahkan kabarnya Dayu punya kamus dalih 1001 alasan, hahaha maaf, bercanda Day...
Intinya, kesungguhan adalah satu instrumen menuju gerbang indah ibadah bernama 'pernikahan'. Kesungguhanlah membuat bakul warung tenda angkringan bernama 'kafa alun-alun' diijinkan menikah oleh ortunya. Kesungguhan membuat bakul basgor di depan masjid ponpes babakan fakultas 7 dengan modal wajan kecil dan tusukan bakso bisa menghidupi keluarganya.
Bukan diri kita yang mendatangkan rejeki, bukan negara yang menjaminkan rejeki. Kalau Allah lahirkan kita lengkap dengan jantung dan pembuluh darah, begitu pula diri kita lengkap dengan kebutuhan rejeki dan jodoh kita.
Dan salah satu bentuk keyakinan hakiki kepada-NYA adalah, kita mengoptimalkan ikhtiar, dan berbaik sangka atas sebaik apapun takdir hasil yang DIA tentukan. Allah, kalau dia jodohku, bukalah hatinya untuk menerimaku dan hatiku untuk menerimanya, dan mudahkan proses kami dalam waktu yang hemat.
Jika bukan, kabulkanlah dalam ijabah doa terbaik dari-MU. Aku serahkan urusan ini seperti aku serahkan jantung dan pembuluh darah ini bekerja atas mekanisme-MU. Semoga aku tergolong hamba-hambamu yang terus mendekat pada ketinggian ikhlas, amin... Aku selalu percaya ENGKAU akan senantiasa memudahkan rezekiku.Dan, terima kasih ya Allah, ENGKAU kumpulkan aku dengan orang-orang yang mencintai-MU.
Kenapa jalan ke pancuran 7 anak tangga di tower pertama adalah anak tangga yang paling tinggi derajat kemiringannya?
Kesulitan itu tantangan, bukan penghambat. Ya, kesulitan itu salah satu jenis transistor, tapi orang sering menganggapnya resistor, membuat orang itu mendapat nilai jelek pas keluar dari lab praktikum karena kesalahan itu. Fatal, karena akibat kesimpulan yang salah, penyusunan laporanpun menjadi salah kaprah.
Satu hal yang mendasar, kenapa kesulitan letaknya di awal, agar kita teruji menghadapi medan, rute selanjutnya. Seandainya saja di tanjakan pertama kita memilih untuk berhenti dan berbalik, makan kita tidak akan menikmati indahnya rute, view dan end destination yang tak pernah kita temui sebelumnya.
Namun ketika di awal dengan nafas tersengal-sengal, keringat mengucur, peluh memendar, tak ada kata berhenti, maka di rute selanjutnya ketika kita mendapati tanjakan lagi, kita sudah terlatih, sudah bertambah kuat.
Begitu juga soal menikah, dari teman baik saya, Aan, dia bercerita, sebenarnya alasan-alasan orang menunda pernikahan adalah dekat dengan dalih. Ortu minta PNS dulu, Ortu minta sarjana dulu, Ortu bilang "pengen nyawang anake" dulu.

Itu adalah tantangan dari ortu, seolah mereka bertanya, "apa wis tenanan kowe nduk?". Kalo sudah beneran kuat komitmen kita, tentu kita akan menerjang hambatan2 itu. Bukan akan dicap durhaka kita, tapi orang tua akan menilai keberanian dan kesungguhan kita.
"Lah pakne, dilarang gini aja anak kita wis mundur, tandane rung tenanan..." begitu pikir ortu kita. Nah, dalih itu tidak ada habisnya, bahkan kabarnya Dayu punya kamus dalih 1001 alasan, hahaha maaf, bercanda Day...
Intinya, kesungguhan adalah satu instrumen menuju gerbang indah ibadah bernama 'pernikahan'. Kesungguhanlah membuat bakul warung tenda angkringan bernama 'kafa alun-alun' diijinkan menikah oleh ortunya. Kesungguhan membuat bakul basgor di depan masjid ponpes babakan fakultas 7 dengan modal wajan kecil dan tusukan bakso bisa menghidupi keluarganya.
Bukan diri kita yang mendatangkan rejeki, bukan negara yang menjaminkan rejeki. Kalau Allah lahirkan kita lengkap dengan jantung dan pembuluh darah, begitu pula diri kita lengkap dengan kebutuhan rejeki dan jodoh kita.
Dan salah satu bentuk keyakinan hakiki kepada-NYA adalah, kita mengoptimalkan ikhtiar, dan berbaik sangka atas sebaik apapun takdir hasil yang DIA tentukan. Allah, kalau dia jodohku, bukalah hatinya untuk menerimaku dan hatiku untuk menerimanya, dan mudahkan proses kami dalam waktu yang hemat.
Jika bukan, kabulkanlah dalam ijabah doa terbaik dari-MU. Aku serahkan urusan ini seperti aku serahkan jantung dan pembuluh darah ini bekerja atas mekanisme-MU. Semoga aku tergolong hamba-hambamu yang terus mendekat pada ketinggian ikhlas, amin... Aku selalu percaya ENGKAU akan senantiasa memudahkan rezekiku.Dan, terima kasih ya Allah, ENGKAU kumpulkan aku dengan orang-orang yang mencintai-MU.
Sukses itu Meresonansi
Tidak lama berselang setelah saya beli laptop, teman baik saya menyusulnya. Secara fisik mac lebih baik, karena memang lebih mahal, selisih xxx juta lebih man... Namun demikian, saya tak pernah menyesal atas pilihan saya, itu yang terbaik untuk saya, ukurannya.... empuknya tuts klik kanan dan klik kirinya.... performanya... ya, walau saya akui itu tidaklah sempurna, saya mencintai apa adanya, satu kata : fungsionable.

Demikian pula soal menikah, saya yakin antara saya dan Hilmy tidak akan berselang lama. Secara garis waktu impian, saya dulu sebelum Hilmy, karena saya Mei dan Hilmy September. Artinya proses yang dia jalankan Mei adalah proses yang sudah mungkin saya jalankan Februari. Dekat, dekat sekali...

Allah yang menyimpan rahasia ini. Dia yang tahu yang terbaik untuk masing-masing kita. Tugas saya, kita, hanya mengoptimalkan ikhtiar. Tetapi memang resonansi sukses itu ada. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus bersemangat untuk sukses. Agar teman baik kitapun terresonansi, mendapat manfaat.

Demikian pula soal menikah, saya yakin antara saya dan Hilmy tidak akan berselang lama. Secara garis waktu impian, saya dulu sebelum Hilmy, karena saya Mei dan Hilmy September. Artinya proses yang dia jalankan Mei adalah proses yang sudah mungkin saya jalankan Februari. Dekat, dekat sekali...

Allah yang menyimpan rahasia ini. Dia yang tahu yang terbaik untuk masing-masing kita. Tugas saya, kita, hanya mengoptimalkan ikhtiar. Tetapi memang resonansi sukses itu ada. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus bersemangat untuk sukses. Agar teman baik kitapun terresonansi, mendapat manfaat.
1/1/09
Label Diri oleh Lingkungan
Sewaktu SD saya lebih pandai dari yang lain, bukan karena otak saya lebih besar dari teman yang lain. Karena lingkungan menstimulasi saya dengan label 'pandai', sedangkan yang lain tidak mendapatkannya. Alih-alih mereka sekolah menjadi cerdas, tetapi malah menjadi semakin yakin bahwa diri mereka adalah 'anak kampung sejati'.
Adik saya juga begitu, karena anak guru, lingkungan mencapnya dengan 'label' istimewa, dan istimewalah prestasinya. Adik saya yang berikutnya juga begitu, dan adik saya yang terakhir juga saya kira akan begitu juga.
Itulah kenapa masuk kelas 2 SMA, prestasi akademik saya menurun, dair rangkin 4 paralel semasa SMP eh, rangkin 37 di kelas 3 SMA. Bukan karena otak saya aus, tapi karena stimulasi label 'lingkungan' yang berubah.
Saya punya cap 'lemot', 'tukang tidur', jauh dari cap cerdas dan pandai seperti semasa SD. yang dapat label 'cerdas' ya mereka yang nilainya 9 dan 10.
Label yang ditempelkan pada diri kita, yang terus terbiasa menempel dari hari ke hari membuat yang pandai dan mendapat label pandai akan terus menjadi pandai. Dan yang bodoh dan mendapat label 'le
mot' akan semakin bodoh-lemotlah dia. Karena terbiasa.
Begitu juga dalam organisasi, seseorang akan punya pengaruh kepemimpinan dominan atau kerdil itu tergantung dari bagaimana orang-orang disekelilingnya memberi label atas dirinya. Kalau terlalu banyak perintah, sedikit2 disalahkan, kerdillah dia. Tapi kalau sering dilepas dan diberi kepercayaan, dan dibiarkan berbuat salah hingga dia memperbaikinya, maka berkembanglah kepemimpinannya.
Belajar dari masa SD itulah, saya jadi paham, di lingkurang rumah tanggapun 'labeling' punya pengaruh luar biasa. Kalau istri kita seringkali, terbiasa untuk minta dimengerti, minta dituruti, menyuruh ini menyuruh itu, menasehati ini menasehati itu, maka kita yang tadinya pribadi yang brilian bisa jadi kerdil hanya karena 'label' dari istri kita.
Tapi kita yang tadinya pribadi kutukupret, tapi sehari-hari sang istri selalu minta diajari, percaya atas apapun keputusan kita, memberi pengertian, memaklumi kesalah kita, membuat kita berani melangkah, maka berdikarilah diri kita, dari yang tadinya pribadi kutukupret bisa jadi pemimpin yang brilian.
Itulah dahsyatnya efek 'label'. Maka jangan salahkan toko buku kalau kertas label mahal.
Adik saya juga begitu, karena anak guru, lingkungan mencapnya dengan 'label' istimewa, dan istimewalah prestasinya. Adik saya yang berikutnya juga begitu, dan adik saya yang terakhir juga saya kira akan begitu juga.
Itulah kenapa masuk kelas 2 SMA, prestasi akademik saya menurun, dair rangkin 4 paralel semasa SMP eh, rangkin 37 di kelas 3 SMA. Bukan karena otak saya aus, tapi karena stimulasi label 'lingkungan' yang berubah.
Saya punya cap 'lemot', 'tukang tidur', jauh dari cap cerdas dan pandai seperti semasa SD. yang dapat label 'cerdas' ya mereka yang nilainya 9 dan 10.
Label yang ditempelkan pada diri kita, yang terus terbiasa menempel dari hari ke hari membuat yang pandai dan mendapat label pandai akan terus menjadi pandai. Dan yang bodoh dan mendapat label 'le
mot' akan semakin bodoh-lemotlah dia. Karena terbiasa.Begitu juga dalam organisasi, seseorang akan punya pengaruh kepemimpinan dominan atau kerdil itu tergantung dari bagaimana orang-orang disekelilingnya memberi label atas dirinya. Kalau terlalu banyak perintah, sedikit2 disalahkan, kerdillah dia. Tapi kalau sering dilepas dan diberi kepercayaan, dan dibiarkan berbuat salah hingga dia memperbaikinya, maka berkembanglah kepemimpinannya.
Belajar dari masa SD itulah, saya jadi paham, di lingkurang rumah tanggapun 'labeling' punya pengaruh luar biasa. Kalau istri kita seringkali, terbiasa untuk minta dimengerti, minta dituruti, menyuruh ini menyuruh itu, menasehati ini menasehati itu, maka kita yang tadinya pribadi yang brilian bisa jadi kerdil hanya karena 'label' dari istri kita.
Tapi kita yang tadinya pribadi kutukupret, tapi sehari-hari sang istri selalu minta diajari, percaya atas apapun keputusan kita, memberi pengertian, memaklumi kesalah kita, membuat kita berani melangkah, maka berdikarilah diri kita, dari yang tadinya pribadi kutukupret bisa jadi pemimpin yang brilian.
Itulah dahsyatnya efek 'label'. Maka jangan salahkan toko buku kalau kertas label mahal.
Core & Clading

Ibarat Fiber Optik, pemikiran saya sedang berjalan berlawanan arah, melawan arus yang mengalir di dalamnya.
Awalnya berat, hampir tergerus di bagian clading, nyatanya sekarang saya bisa survive. Sudah tidak bergeming saya atas arus pemikiran mayoritas yang cukup menggerus. Itu karena jam terbang dan pengalaman.
Namun demikian, dream stealer sejati memang adalah orang-orang terdekat. Begitulah, yang membuat label yang saya coba lekas rekatkan tak kunjung merekat kuat justru adalam orang2 terdekat di sekeliling saya. Tragis. Saya yakin mereka tidak sengaja melakukan itu, hanya mereka tidak tahu.
Lagipula saya yang salah, sebuah konsekuensi atas akumulasi kesalahan-kesalahan saya. Nah, saya hanya percaya, kalau arus pemikiran mayoritas itu clading dan arus pemikiran para dream stealer sejati adalah core, maka sayapun bisa mengangkat diri, untuk lagi-lagi tidak bergeming.
Abaikan saja! Karena memang ego adalah komponen tak terpisahkan dalam kolaborasi. Tanpa Ego, tak ada kolaborasi. Dariapda saya kepikiran terus...
Awalnya berat, hampir tergerus di bagian clading, nyatanya sekarang saya bisa survive. Sudah tidak bergeming saya atas arus pemikiran mayoritas yang cukup menggerus. Itu karena jam terbang dan pengalaman.
Namun demikian, dream stealer sejati memang adalah orang-orang terdekat. Begitulah, yang membuat label yang saya coba lekas rekatkan tak kunjung merekat kuat justru adalam orang2 terdekat di sekeliling saya. Tragis. Saya yakin mereka tidak sengaja melakukan itu, hanya mereka tidak tahu.
Lagipula saya yang salah, sebuah konsekuensi atas akumulasi kesalahan-kesalahan saya. Nah, saya hanya percaya, kalau arus pemikiran mayoritas itu clading dan arus pemikiran para dream stealer sejati adalah core, maka sayapun bisa mengangkat diri, untuk lagi-lagi tidak bergeming.
Abaikan saja! Karena memang ego adalah komponen tak terpisahkan dalam kolaborasi. Tanpa Ego, tak ada kolaborasi. Dariapda saya kepikiran terus...
Malam 1 Januari di Widarapayung
First Experience, melihat pantai di malam hari, pasang ...
Satu pesan saya dapati di inbox : pantaskah seorang yang mengaku musuh budaya hedonisme, malam tahun baru ada di keramaian pantai selatan? ditengah gelamor anak muda hiruk pikuk terompet dan buncahan-buncahan kembang api.
Bagi saya tak beda dengan setahun lalu menyepi dari hiruk pikuk kota ke lereng salah satu gunung di tengah pulau Jawa naik dari arah Bambangan, atau tahun sebelumnya di JIC bersama Arifin Ilham, atau tahun sebelumnya lagi bersama anak-anak Rohis SMA berkumpul di jalan tengah alun-alun Purwokerto menyaksikan lautan manusia.
Kalau saya memilih tidur, saya tak pernah tahu, bagaimana pantai menyambut pergantian tahun dengan botol-botol hijau bergambar bintang, menyalakan mesin motor di tengah malam, menggerung-gerungkannya seolah-olah beradu keras, gaduh tak terperikan, sembari dalam hati saya bertanya, "Apa maksudnya mereka melakukan itu?"
Tak tahu pula, mengira-ira berapa kalkulasi uang yang terogoh dari kantong untuk membeli dan membakar sekedar, kembang api.
Ekspresi bodoh, oleh anak-anak muda bodoh, di negeri yang kaya raya. Bagaimana tidak kaya, cukup setengah jam dari pasar karangmangu, kita bisa melihat dahsyatnya pemandangan sawah dan air terjun. Cukup 15 menit dari stasion Kroya kita bisa melihat deburan ombak dan indahnya horison cakrawala pantai indah, bersih, menakjubkan. Atau hanya 10 jam dari basecamp Bambangan, kita bisa berdiri di puncak tertinggi Jawa Tengah, menyapu pandangan hingga gunung cermei di barat, bromo-lawu di timur, pantai utara jawa dan samudera hindia di selatan, spektakuler.
Negeri sekaya ini, yang diisi oleh anak-anak muda yang tak mengerti arti berlalunya satu tahun. Dan akan segera berlalu dengan cepatnya lagi 1 tahun yang akan datang.
1 Januari depan, saya berharap bisa menyaksikannya, atau hal lain yang baru, yang berbeda lagi, bersama istri tercinta, di atas mobil pribadi, amin.
Satu pesan saya dapati di inbox : pantaskah seorang yang mengaku musuh budaya hedonisme, malam tahun baru ada di keramaian pantai selatan? ditengah gelamor anak muda hiruk pikuk terompet dan buncahan-buncahan kembang api.

Bagi saya tak beda dengan setahun lalu menyepi dari hiruk pikuk kota ke lereng salah satu gunung di tengah pulau Jawa naik dari arah Bambangan, atau tahun sebelumnya di JIC bersama Arifin Ilham, atau tahun sebelumnya lagi bersama anak-anak Rohis SMA berkumpul di jalan tengah alun-alun Purwokerto menyaksikan lautan manusia.
Kalau saya memilih tidur, saya tak pernah tahu, bagaimana pantai menyambut pergantian tahun dengan botol-botol hijau bergambar bintang, menyalakan mesin motor di tengah malam, menggerung-gerungkannya seolah-olah beradu keras, gaduh tak terperikan, sembari dalam hati saya bertanya, "Apa maksudnya mereka melakukan itu?"
Tak tahu pula, mengira-ira berapa kalkulasi uang yang terogoh dari kantong untuk membeli dan membakar sekedar, kembang api.
Ekspresi bodoh, oleh anak-anak muda bodoh, di negeri yang kaya raya. Bagaimana tidak kaya, cukup setengah jam dari pasar karangmangu, kita bisa melihat dahsyatnya pemandangan sawah dan air terjun. Cukup 15 menit dari stasion Kroya kita bisa melihat deburan ombak dan indahnya horison cakrawala pantai indah, bersih, menakjubkan. Atau hanya 10 jam dari basecamp Bambangan, kita bisa berdiri di puncak tertinggi Jawa Tengah, menyapu pandangan hingga gunung cermei di barat, bromo-lawu di timur, pantai utara jawa dan samudera hindia di selatan, spektakuler.
Negeri sekaya ini, yang diisi oleh anak-anak muda yang tak mengerti arti berlalunya satu tahun. Dan akan segera berlalu dengan cepatnya lagi 1 tahun yang akan datang.
1 Januari depan, saya berharap bisa menyaksikannya, atau hal lain yang baru, yang berbeda lagi, bersama istri tercinta, di atas mobil pribadi, amin.
Langen Tirto, The Swimming Pool
Baru malamnya saya posting,
paginya saya buktikan,
dan benar!
Bahwa memang bukan bukan seberapa keras kita memeras keringat,
tapi seberapa cerdas kita menginternalisasikan kata 'mungkin' ke jiwa (bawah sadar) kita.
Bawah sadar lebih dominan, sayangnya selama ini terbelenggu, sehingga kita tidak terlatih untuk menjadikannya mumpuni memimpin perjalanan diri kita menjemput impian.
Umpama alam sadar adalah semut, maka bawah sadar adalah gajah. Sayangnya kita sudah terlalu lama membiarkan gajah mengikuti jejak si semut, padahal semut jalannya pelan.
Maka, mulai sekarang latihlah agar gajah bisa berjalan di depan, dia bisa jauh lebih cepat. Lalu, semut tak bisa mengikuti nanti? Siapa bilang? Gajah tidak bisa naik semut, tapi bukankah semut bisa naik ke punggung gajah.
Dan semua berjalan lebih cepat, bukan, sangat cepat.
paginya saya buktikan,
dan benar!
Bahwa memang bukan bukan seberapa keras kita memeras keringat,
tapi seberapa cerdas kita menginternalisasikan kata 'mungkin' ke jiwa (bawah sadar) kita.
Bawah sadar lebih dominan, sayangnya selama ini terbelenggu, sehingga kita tidak terlatih untuk menjadikannya mumpuni memimpin perjalanan diri kita menjemput impian.
Umpama alam sadar adalah semut, maka bawah sadar adalah gajah. Sayangnya kita sudah terlalu lama membiarkan gajah mengikuti jejak si semut, padahal semut jalannya pelan.
Maka, mulai sekarang latihlah agar gajah bisa berjalan di depan, dia bisa jauh lebih cepat. Lalu, semut tak bisa mengikuti nanti? Siapa bilang? Gajah tidak bisa naik semut, tapi bukankah semut bisa naik ke punggung gajah.
Dan semua berjalan lebih cepat, bukan, sangat cepat.
Continous Writing
Heran saya, kadang saya bertanya-tanya, kok, saya bisa menulis sepanjang ini?
Iri kadang saya, tiap melihat tulisan teman-teman lain, banyak komen di bawahnya, walau cuma 2,3 atau 4 karakter yang menurut saya tak bermakna
Muak saya, terhadap tulisan-tulisan manja berorientasi perasaan-sentris, tulisan macam ini bukan ada dimana-mana, di kumpulan tulisan saya sendiri, yang sedang saya coba untuk kurangi dan hilangkan
Tetap menulis saya, walau taka da komen, bahkan walau tak dibaca siapapun sekalipun. Dibalik label positif yang saya coba rekatkan kuat-kuat pada diri saya, saya mengakui ketidakberdayaan dan kejelekrupaan diri saya. Pantaslah, ini balasan atas sikap-sikap saya selama ini.
Karena memang akibat itu lahir karena sebab, cause then effect.
1 Januari 2009
Iri kadang saya, tiap melihat tulisan teman-teman lain, banyak komen di bawahnya, walau cuma 2,3 atau 4 karakter yang menurut saya tak bermakna
Muak saya, terhadap tulisan-tulisan manja berorientasi perasaan-sentris, tulisan macam ini bukan ada dimana-mana, di kumpulan tulisan saya sendiri, yang sedang saya coba untuk kurangi dan hilangkan
Tetap menulis saya, walau taka da komen, bahkan walau tak dibaca siapapun sekalipun. Dibalik label positif yang saya coba rekatkan kuat-kuat pada diri saya, saya mengakui ketidakberdayaan dan kejelekrupaan diri saya. Pantaslah, ini balasan atas sikap-sikap saya selama ini.
Karena memang akibat itu lahir karena sebab, cause then effect.
1 Januari 2009
12/30/08
Pelajaran Berharga dari Honda Jazz untuk Para Pemimpi
Honda Jazz lagi2 telat, padahal sudah kerja keras, korbankan banyak hal? kenapa? ketemu jawabannya setelah beberapa hari berlalu dari 1 Desember. Ya, karena aku sibuk menyiapkan segala sesuatu tetapi lupa menginternalisasikan kata 'mungkin' ke alam bawah sadarku.
Padahal Pa Lee pernah berpesan dulu, "ketika kita bisa memikirkannya (memikirkan bahwa itu mungkin), berarti itu mungkin terwujud".
Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi para pemimpi. Bukankah kita sudah tahu kalau mekanisme kerja alam bawah sadar itu jauh lebih punya pengaruh, jauh lebih besar, bahkan sangat besar terhadap keberhasilan pencapaian kita.
Tapi seringnya kita lupa, menginternalisasikan kesadaran bahwasannya pencapaian kita "mungkin" terwujud. Sehingga sekeras apapun kita berusaha, jalan menuju pencapaian impian kita akan penuh ganjalan dan tak kunjung finish.
Karena itu, saya mulai belajar menginternalisasikannya kuat-kuat. Apa indikasinya? Indikasi itu sudah terinternalisasi dan semakin terinternalisasi adalah ketika kita tidak lagi punya perasaaan heran atas pencapaian kita. Contoh sederhana saja, kita akan sulit bisa mencapai impian untuk bisa mahir mengendarai mobil, kalau kita sendiri masih merasa heran kita bisa menyetir mobil mulai dari pelan-pelan. Mungkin, mungkin, mungkin.
Kata "mungkin" adalah kunci ketercapaian pencapaian kita, satu kunci dari sekian banyak kunci. Satu kunci yang menentukan. Mudah, tidak perlu hal-hal ribet untuk meniupkan kata 'mungkin', hanya perlu 'ketelatenan'. Berkomunikasi dengan bawah sadar itu harus telaten, telaten dan telaten.
Semangat mewujudkan mimpi, ucapkan 'mungkin'! Dari hati terdalam.
Padahal Pa Lee pernah berpesan dulu, "ketika kita bisa memikirkannya (memikirkan bahwa itu mungkin), berarti itu mungkin terwujud".
Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi para pemimpi. Bukankah kita sudah tahu kalau mekanisme kerja alam bawah sadar itu jauh lebih punya pengaruh, jauh lebih besar, bahkan sangat besar terhadap keberhasilan pencapaian kita.
Tapi seringnya kita lupa, menginternalisasikan kesadaran bahwasannya pencapaian kita "mungkin" terwujud. Sehingga sekeras apapun kita berusaha, jalan menuju pencapaian impian kita akan penuh ganjalan dan tak kunjung finish.
Karena itu, saya mulai belajar menginternalisasikannya kuat-kuat. Apa indikasinya? Indikasi itu sudah terinternalisasi dan semakin terinternalisasi adalah ketika kita tidak lagi punya perasaaan heran atas pencapaian kita. Contoh sederhana saja, kita akan sulit bisa mencapai impian untuk bisa mahir mengendarai mobil, kalau kita sendiri masih merasa heran kita bisa menyetir mobil mulai dari pelan-pelan. Mungkin, mungkin, mungkin.
Kata "mungkin" adalah kunci ketercapaian pencapaian kita, satu kunci dari sekian banyak kunci. Satu kunci yang menentukan. Mudah, tidak perlu hal-hal ribet untuk meniupkan kata 'mungkin', hanya perlu 'ketelatenan'. Berkomunikasi dengan bawah sadar itu harus telaten, telaten dan telaten.
Semangat mewujudkan mimpi, ucapkan 'mungkin'! Dari hati terdalam.
Begini Caraku Bermimpi
Pengen mbawa Honda Jazz, nanti saja,
Aku yang beliin,
STNK atas namamu,
aku anterin bikin SIM-nya..
Maaf, kalo ini mungkin akan terwujud nanti.
Karena memang beginilah caraku bermimpi
Aku yang beliin,
STNK atas namamu,
aku anterin bikin SIM-nya..
Maaf, kalo ini mungkin akan terwujud nanti.
Karena memang beginilah caraku bermimpi
12/29/08
Untuk Para Srikandi
Terus terang saya ngenes, mengakunya srikandi, tapi melihat ruangan berserakan, melihat ini dan itu berantakan, tidak tersentuh..
Saya sampai posting ini di blog, karena memang menurut saya ini sudah pada tahap yang kelewatan, sebelumnya sudah secara halus by lisan, lalu ditempel di tembok, eh, tetap saja..
Memang dekadensi moral kaum wanita begitu kentara, kalau teman saya menyoroti soal baju ketat dan penampilan seksi, saya menyoroti sudut pandang lainnya, ya soal 'primpen' dan 'handarbeni'. Jangankan dibandingkan dengan Ibu saya dan angkatan Ibu saya, bahkan dengan teman-teman se-SD saya, sungguh apa mereka pada tidak ngenes, pandai guyon, pandai bermanja-manja, tapi radar akan primpen dan handarbeninya seakan nggak bergerak melihat ketidakrapihan..
Apa calon ibu macam ini yang anak-anaknya akan menjadi generasi emas, yang primpen membenahi bangsanya, yang handarbeni akan ibu pertiwi. Itung2an, analisis, akademis, absensi, okelah, tapi kalau kepekaan sebagai satu bagian naluriah seorang wanita nggak diasah, ya, apa yang mau dihaturkan kepada sang suami?
saya bertanya-tanya
Saya sampai posting ini di blog, karena memang menurut saya ini sudah pada tahap yang kelewatan, sebelumnya sudah secara halus by lisan, lalu ditempel di tembok, eh, tetap saja..
Memang dekadensi moral kaum wanita begitu kentara, kalau teman saya menyoroti soal baju ketat dan penampilan seksi, saya menyoroti sudut pandang lainnya, ya soal 'primpen' dan 'handarbeni'. Jangankan dibandingkan dengan Ibu saya dan angkatan Ibu saya, bahkan dengan teman-teman se-SD saya, sungguh apa mereka pada tidak ngenes, pandai guyon, pandai bermanja-manja, tapi radar akan primpen dan handarbeninya seakan nggak bergerak melihat ketidakrapihan..
Apa calon ibu macam ini yang anak-anaknya akan menjadi generasi emas, yang primpen membenahi bangsanya, yang handarbeni akan ibu pertiwi. Itung2an, analisis, akademis, absensi, okelah, tapi kalau kepekaan sebagai satu bagian naluriah seorang wanita nggak diasah, ya, apa yang mau dihaturkan kepada sang suami?
saya bertanya-tanya
Memperangkap Otak Kita Sendiri
Bukti itu sudah dihadapan saya, kalau memang saya akan mampu menunjukkan bahwa keberhasilan finansial bisa didapat tanpa harus mendikotomisasi kuliah. Kuliah is Rubish!!!!!!!!!
Kenapa Rubish? Ya, memperangkap, membatasi otak kita sendiri, apa bukan pembodohan itu namanya. Sekalipun saya dipenjara (dikucilkan) oleh orang2 kebanyakan bak Galileo, argumentasi saya sungguh kuat tak terbantahkan, karena itu saya tetap akan bertahan.
Karena saya punya prinsip
Kenapa Rubish? Ya, memperangkap, membatasi otak kita sendiri, apa bukan pembodohan itu namanya. Sekalipun saya dipenjara (dikucilkan) oleh orang2 kebanyakan bak Galileo, argumentasi saya sungguh kuat tak terbantahkan, karena itu saya tetap akan bertahan.
Karena saya punya prinsip
12/26/08
Penokohan dalam ESQ
Bahwa memang tidak ada penokohan, pengkultusan terhadap tokoh tertentu di dalam ESQ. Menyoal foto dan video Ary Ginanjar yang seringkali tampil bukanlah wujud budaya kultus ESQ terhadap Ary Ginanjar. Seperti pada slide pra pembukaan, Ary Ginanjar hanyalah difungsikan sebagai icon.
Apa maksudnya icon?
Icon agar orang akan lebih mudah mengenali bila ada ESQ ESQ lain yang berusaha menyerupai, tampilan Ary Ginanjar berfungsi bak hologram, bahwasanya ESQ yang Anda lihat adalah ESQ yang sama dengan yang dimaksud banyak orang, ESQ yang dirintis dan dikembangkan salah satunya oleh tangan Ary Ginanjar.
Sebagai icon, bermakna pula bahwa Ary Ginanjar sebagai shortcut yang memudahkan orang mengenal ESQ, tanpa harus bertanya2 dulu, ini ESQ yang mana ini.. mengingat, pelatihan2 bernada spiritual kian berkembang saja, tentu ada yang koheren dan ada yang sebaliknya.
Dan di slide akhir training, kini nama Ary Ginanjar sudah tidak lagi disebutkan sendirian, satu bukti ESQ tidak diidentikkan dengan satu figur tertentu, tetapi seperti disebutkan diatas, adalah sebaliknya, diidentikkan sgar fungsionable sebagai shortcut.
Ary Ginanjar Agustian dan Ridwan Mukri, begitulah terpampang di slide akhir training mulai baru-baru ini.
Apa maksudnya icon?
Icon agar orang akan lebih mudah mengenali bila ada ESQ ESQ lain yang berusaha menyerupai, tampilan Ary Ginanjar berfungsi bak hologram, bahwasanya ESQ yang Anda lihat adalah ESQ yang sama dengan yang dimaksud banyak orang, ESQ yang dirintis dan dikembangkan salah satunya oleh tangan Ary Ginanjar.
Sebagai icon, bermakna pula bahwa Ary Ginanjar sebagai shortcut yang memudahkan orang mengenal ESQ, tanpa harus bertanya2 dulu, ini ESQ yang mana ini.. mengingat, pelatihan2 bernada spiritual kian berkembang saja, tentu ada yang koheren dan ada yang sebaliknya.
Dan di slide akhir training, kini nama Ary Ginanjar sudah tidak lagi disebutkan sendirian, satu bukti ESQ tidak diidentikkan dengan satu figur tertentu, tetapi seperti disebutkan diatas, adalah sebaliknya, diidentikkan sgar fungsionable sebagai shortcut.
Ary Ginanjar Agustian dan Ridwan Mukri, begitulah terpampang di slide akhir training mulai baru-baru ini.
12/25/08
Dari Tata
...berpisah (sementara) hingga bertemu lagi pada keadaan diri yg masing-masing telah menjadi lebih baik, di waktu terbaik. Amin...
Agenda Agenda Tertunda
Berbenah (tambal ulang) Gigi dan THT
1 hari 1 buku
Avanza SDI
Sektor Real SDI (Toko)
Shubuh, Maghrib di Masjid Always
1 hari 1 buku
Avanza SDI
Sektor Real SDI (Toko)
Shubuh, Maghrib di Masjid Always
Hari Ini
Ihwan, temen kos semasa SMA dulu hari ini nikah dengan Inung, temen di Rohis.
Dahsyat!!!! benar2 meresonansi...
Semoga, dimudahkan dan disegerakan jalan indah untukku, terima kasih Ya Allah
Dahsyat!!!! benar2 meresonansi...
Semoga, dimudahkan dan disegerakan jalan indah untukku, terima kasih Ya Allah
12/22/08
OSIS Edutraining 1
di add semua ya alamat2 di bawah ini :
banditz-Boys
osispwt_smk75_2
osisjtl_smanjatilawang
osispwt_sma3
osispwt_smkn1
osisskj_sma1
osisajb_man1
osisbms_smkpurnama
osisbms_smkypesumpiuh
osisbtr_smp2
rizky165
kyo_ansh
banditz-Boys
osispwt_smk75_2
osisjtl_smanjatilawang
osispwt_sma3
osispwt_smkn1
osisskj_sma1
osisajb_man1
osisbms_smkpurnama
osisbms_smkypesumpiuh
osisbtr_smp2
rizky165
kyo_ansh
12/20/08
ESQ dan PT sebagai bangun usaha yang dipilihnya
Sudah saya terima salam njenengan melalui teman baik saya, tentu jalinan silaturahmi tidak akan terputus hanya karena adu argumentasi dan telisik ilmiah macam ini.
Ini saya dapatkan langsung dari Mas Novriza, trainer, sama seperti Fadli Mudaz, ketika beliau berbincang dengan Kepala RSUD Purbalingga di kesempatan training beberapa waktu lalu.
ESQ memang sengaja memilih bangun usaha PT, bukan yayasan atau ormas, karena memang ESQ punya program jangka panjang yang berkesinambungan. Sifat netral oksigennya dan independensinya terhadap kepentingan-kepentingan apapun, baik itu kepartaian, faham sosial, bahkan obsesi pribadi Pa Ary sekalipun menuntut profesionalitas lembaga pelatihan yang sering disalahpersepsikan sebagai insitusi dakwah (pengajian) ini.
Namun demikian, sebelum beranjak pada kajian ilmiah alasan pemilihan PT, dan mungkin memang tidak akan saya jelaskan disini, secara pribadi, tidak terbantahkan bahwa PT bukanlah mesin komersialisasi ESQ bagi pendirinya.
Sekali lagi lebih pada strategi, yakni strategi agar universalitas ESQ bisa diterimaoleh seluruh lapisan. Sebenarnya ini sudah pernah saya jelaskan. Analoginya begini, tentu profesionalitas Pa Ary dan ti sudah tidak diragukan lagi untuk melakukan estimasi-estimasi, bahwasannya bila harga diturunkan, maka expansi 'the esq way 165' ke daerah-daerah baru, negara-negara baru. Artinya, ESQ memerlukan lembaga donor, dan independensi ESQ akan dipertanyakan.
Namun, justru dengan mempertahankan profesionalitas, termasuk harga, ESQ saat ini sudah berhasil membuat gedung sendiri, yang disebut2 sebagai gadung milik alumni, bukan gedung milik ESQ sebagai korporasi. Apa buktinya, kantor ESQ Leadership Center tetap tidak berpindah dari Ciputat yang sesak dan kecil, padahal gedung megah itu sudah berdiri megah setinggi 6 lantai.
Apa maknanya, gedung itu memang dirancang sebagai bagian dari strategi ESQ, untuk memberi kemaslahatan kepada alumni. sedikitnya dua kemaslahatan, pertama : Alumni memiliki ruang yang leluasa untuk berinteraksi, sehingga proses pencarian akan Tuhan tidak selesai hanya pada training, seperti pesan para trainer "training yang sesungguhnya adalah setelah sholat Isya dirumah, hingga ajal menjemput, 2 hari di ruangan ini kita hanya bersenang-senang..."
Dan kedua, alumni memiliki semacam mesin wakaf, ya, pendapatan dari operasional gedung yang mungkin setara dengan pusat perkantoran macam menara Telkomsel atau menara SCTV di kawasan traffic activities di Jakarta akan memungkinkan untuk memberikan trainig gratis bagi 1 juta guru seperti target ESQ 2020 "1 juta guru sudah mengenal the esq way 165", begitu juga kalangan menengah ke bawah.
Strategi cerdas semacam ini lebih memungkinkan ESQ memberikan kiprah berlipat ganda lebih besar ketimbang memilih menurunkan harga. Sekarang, dengan menurunkan harga, efeknya justru akan lebih luas, misalnya, biaya pengembangan skill SDM trainer akan terpangkas, biaya pengadaan sound LCD dan macam peralatan lainnya demikian pula, sehingga training berjalan dibawah standar, dan tahu apa akibatnya, ya, semakin deras peserta melontarkan persepsi-persepsi negatif, dan the esq way 165 tidak dipahami secara utuh dan positif.
Lepas dari semua itu, saya tidak punya obsesi untuk berdebat berpanjang-panjang, nyatanya, tidak ada ikatan formal apapun antara ESQ dan saya, kecuali : kesamaan visi, dan saya sedang belajar sungguh-sungguh meng-kaizen-kan strategi brilian ESQ yang memang amat jarang sekali terlintas di benak orang, cerdas, ya, itu strategi cerdas.
Satu hal yang membuat saya kecewa, pemaparan Anda di blog memang ilmiah, namun demikian, tidak WISDOM dalam pandangan saya, mengapa? karena dari delapan butir atau lebih yang dimuat, selidik punya selidi, diperhatikan dengan seksama, kesemuanya adalah point2 yang sudah dipilih, yang memang mendukung argumentasi Anda.
Saya memang tidak paham liberal, apalagi kiri, terlebih Marx, tapi saya paham, seandainya mau fair, ada ratusan atau bahkan ribuan point yang sebenarnya akan melengkapi sudut pandang argumentasi-argumentasi Anda sehingga tidak terkesan sempit atau memang sengaja dibuat sempit agar terkesan kuat.
Dan terakhir, 3 Desember lalu tepat 3 tahun saya menjadi alumni ESQ, dan mudah-mudahan benar yang saya rasa, bahwasannya sedikitpun saya tidak mengkultuskan ESQ, baik itu dengan syndrom 165, exlusivis training atau mengkultuskan Pa Ary.
Soal nomer hp yang 165, dan pengamat nomor-nomor pelat mobil 165, saya rasa itu cuma bagian dari kekuatan fokus saja. Terhadap ESQ training, sayapun mengkritisi habis alumni pasca training, cuma memang kritis saya beda, tidak dengan memasang kertas2 demo, atau tulisan-tulisan perlawanan, tapi dengan mencoba menggiatkan alumni-alumni yang selama ini terbengkelai, dalam bentuk kegiatan lanjutan yang tidak melulu training, karena memang proses pencarian itu tidak selesai dengan 2 hari bersenang-senang diatas karpet biru.
Soal pa Ary, bertemu dengan beliau yang saya rasa tidak berbeda dengan ketika saya bertemu dan bersalam semut dengan Hilmy, sahabat baik saya atau Abah Bahrun, rekan sekelompok saat training Character Building di Semarang lalu. Karisma yang saya tangkap dari beliau bukan kekuasaan, ketokohan, tetapi lebih sebagai sahabat, saudara spiritual lebih tepatnya.
Demikian, semoga tulisan ini jauh dari riya, postingan ini ditulis disaat saya merasa demikian hina, dijauhi oleh 2 orang terdekat di waktu yangnyaris bersamaan. Mudah2an ada kesempatan untuk saya memperbaiki keadaan yang cukup menyita pikiran ini. Nuwun
Ini saya dapatkan langsung dari Mas Novriza, trainer, sama seperti Fadli Mudaz, ketika beliau berbincang dengan Kepala RSUD Purbalingga di kesempatan training beberapa waktu lalu.
ESQ memang sengaja memilih bangun usaha PT, bukan yayasan atau ormas, karena memang ESQ punya program jangka panjang yang berkesinambungan. Sifat netral oksigennya dan independensinya terhadap kepentingan-kepentingan apapun, baik itu kepartaian, faham sosial, bahkan obsesi pribadi Pa Ary sekalipun menuntut profesionalitas lembaga pelatihan yang sering disalahpersepsikan sebagai insitusi dakwah (pengajian) ini.
Namun demikian, sebelum beranjak pada kajian ilmiah alasan pemilihan PT, dan mungkin memang tidak akan saya jelaskan disini, secara pribadi, tidak terbantahkan bahwa PT bukanlah mesin komersialisasi ESQ bagi pendirinya.
Sekali lagi lebih pada strategi, yakni strategi agar universalitas ESQ bisa diterimaoleh seluruh lapisan. Sebenarnya ini sudah pernah saya jelaskan. Analoginya begini, tentu profesionalitas Pa Ary dan ti sudah tidak diragukan lagi untuk melakukan estimasi-estimasi, bahwasannya bila harga diturunkan, maka expansi 'the esq way 165' ke daerah-daerah baru, negara-negara baru. Artinya, ESQ memerlukan lembaga donor, dan independensi ESQ akan dipertanyakan.
Namun, justru dengan mempertahankan profesionalitas, termasuk harga, ESQ saat ini sudah berhasil membuat gedung sendiri, yang disebut2 sebagai gadung milik alumni, bukan gedung milik ESQ sebagai korporasi. Apa buktinya, kantor ESQ Leadership Center tetap tidak berpindah dari Ciputat yang sesak dan kecil, padahal gedung megah itu sudah berdiri megah setinggi 6 lantai.
Apa maknanya, gedung itu memang dirancang sebagai bagian dari strategi ESQ, untuk memberi kemaslahatan kepada alumni. sedikitnya dua kemaslahatan, pertama : Alumni memiliki ruang yang leluasa untuk berinteraksi, sehingga proses pencarian akan Tuhan tidak selesai hanya pada training, seperti pesan para trainer "training yang sesungguhnya adalah setelah sholat Isya dirumah, hingga ajal menjemput, 2 hari di ruangan ini kita hanya bersenang-senang..."
Dan kedua, alumni memiliki semacam mesin wakaf, ya, pendapatan dari operasional gedung yang mungkin setara dengan pusat perkantoran macam menara Telkomsel atau menara SCTV di kawasan traffic activities di Jakarta akan memungkinkan untuk memberikan trainig gratis bagi 1 juta guru seperti target ESQ 2020 "1 juta guru sudah mengenal the esq way 165", begitu juga kalangan menengah ke bawah.
Strategi cerdas semacam ini lebih memungkinkan ESQ memberikan kiprah berlipat ganda lebih besar ketimbang memilih menurunkan harga. Sekarang, dengan menurunkan harga, efeknya justru akan lebih luas, misalnya, biaya pengembangan skill SDM trainer akan terpangkas, biaya pengadaan sound LCD dan macam peralatan lainnya demikian pula, sehingga training berjalan dibawah standar, dan tahu apa akibatnya, ya, semakin deras peserta melontarkan persepsi-persepsi negatif, dan the esq way 165 tidak dipahami secara utuh dan positif.
Lepas dari semua itu, saya tidak punya obsesi untuk berdebat berpanjang-panjang, nyatanya, tidak ada ikatan formal apapun antara ESQ dan saya, kecuali : kesamaan visi, dan saya sedang belajar sungguh-sungguh meng-kaizen-kan strategi brilian ESQ yang memang amat jarang sekali terlintas di benak orang, cerdas, ya, itu strategi cerdas.
Satu hal yang membuat saya kecewa, pemaparan Anda di blog memang ilmiah, namun demikian, tidak WISDOM dalam pandangan saya, mengapa? karena dari delapan butir atau lebih yang dimuat, selidik punya selidi, diperhatikan dengan seksama, kesemuanya adalah point2 yang sudah dipilih, yang memang mendukung argumentasi Anda.
Saya memang tidak paham liberal, apalagi kiri, terlebih Marx, tapi saya paham, seandainya mau fair, ada ratusan atau bahkan ribuan point yang sebenarnya akan melengkapi sudut pandang argumentasi-argumentasi Anda sehingga tidak terkesan sempit atau memang sengaja dibuat sempit agar terkesan kuat.
Dan terakhir, 3 Desember lalu tepat 3 tahun saya menjadi alumni ESQ, dan mudah-mudahan benar yang saya rasa, bahwasannya sedikitpun saya tidak mengkultuskan ESQ, baik itu dengan syndrom 165, exlusivis training atau mengkultuskan Pa Ary.
Soal nomer hp yang 165, dan pengamat nomor-nomor pelat mobil 165, saya rasa itu cuma bagian dari kekuatan fokus saja. Terhadap ESQ training, sayapun mengkritisi habis alumni pasca training, cuma memang kritis saya beda, tidak dengan memasang kertas2 demo, atau tulisan-tulisan perlawanan, tapi dengan mencoba menggiatkan alumni-alumni yang selama ini terbengkelai, dalam bentuk kegiatan lanjutan yang tidak melulu training, karena memang proses pencarian itu tidak selesai dengan 2 hari bersenang-senang diatas karpet biru.
Soal pa Ary, bertemu dengan beliau yang saya rasa tidak berbeda dengan ketika saya bertemu dan bersalam semut dengan Hilmy, sahabat baik saya atau Abah Bahrun, rekan sekelompok saat training Character Building di Semarang lalu. Karisma yang saya tangkap dari beliau bukan kekuasaan, ketokohan, tetapi lebih sebagai sahabat, saudara spiritual lebih tepatnya.
Demikian, semoga tulisan ini jauh dari riya, postingan ini ditulis disaat saya merasa demikian hina, dijauhi oleh 2 orang terdekat di waktu yangnyaris bersamaan. Mudah2an ada kesempatan untuk saya memperbaiki keadaan yang cukup menyita pikiran ini. Nuwun
Keren hari ini
Luar biasa lah,
its so, so... ta terlukiskan
Ya, ta terbayang betapa indahnya besok, lusa,
ah, terlalu dangkal imajinasi ini
Jl. Kalisari, Gg Gn Merapi, Gn Muria, Jend Soedirman, Dr Angka
its so, so... ta terlukiskan
Ya, ta terbayang betapa indahnya besok, lusa,
ah, terlalu dangkal imajinasi ini
Jl. Kalisari, Gg Gn Merapi, Gn Muria, Jend Soedirman, Dr Angka
3 Rumus Mengenali Orang
Seseorang, bisa kita kenali dari 3 hal,
1. Dengan siapa dia beteman
2. Buku apa yang dia baca
3. Bagaimana dia bersikap dalam kondisi sulit
1. Dengan siapa dia beteman
2. Buku apa yang dia baca
3. Bagaimana dia bersikap dalam kondisi sulit
Soal Foto
Sejak lama saya kepikiran ini, ya, mudah2an beberpa saat lagi terwujud. Belakangan marak diperempatan-perempatan jalan foto berukuran jumbo, dengan tagline aneka-gombal-ria dan saya yakin cukup enek dilihat oleh bakul2kangkung di pasar, atau oleh songan2 jagung rebus di alun-alun.
Saya ingin memasang foto dengan ukuran yang sama, tapi itu adalah Bung Tomo, itu adalah Diponegoro, ituadalah Ahmad Yani. Nyatanya mereka bukan hanya berkoar, bukan hanya nampang muka, mereka benar-benar mau dan berani berkontribusi.
Untuk para caleg, mbok ngaca dulu, sebelum berani memajang fotodi keramaian. Apa nggak malu?
1. Sudah pada bikin (berkiprah) apa kalian?
2. Mau dapat untung berapa dengan majang foto diatas banner macam gitu...
1 meter pampangan fotomu, itu 10 bungkus nasi telor buat pedagang asongan yang nggak dapat 1 rupiahpun karena hujan seharian. Seperti itu wakil rakyat?
Saya ingin memasang foto dengan ukuran yang sama, tapi itu adalah Bung Tomo, itu adalah Diponegoro, ituadalah Ahmad Yani. Nyatanya mereka bukan hanya berkoar, bukan hanya nampang muka, mereka benar-benar mau dan berani berkontribusi.
Untuk para caleg, mbok ngaca dulu, sebelum berani memajang fotodi keramaian. Apa nggak malu?
1. Sudah pada bikin (berkiprah) apa kalian?
2. Mau dapat untung berapa dengan majang foto diatas banner macam gitu...
1 meter pampangan fotomu, itu 10 bungkus nasi telor buat pedagang asongan yang nggak dapat 1 rupiahpun karena hujan seharian. Seperti itu wakil rakyat?
12/19/08
Jelang 1 Muharram
Selamat Tahun Baru 1430 H,
Teriring doa,
semoga bisa menjadi Rizky yang lebih baik,
bisa memperbaiki yang sudah dirusak,
bisa meneruskan yang belum tuntas,
bisa menjemput yang belum ketemu.
Teriring doa,
semoga bisa menjadi Rizky yang lebih baik,
bisa memperbaiki yang sudah dirusak,
bisa meneruskan yang belum tuntas,
bisa menjemput yang belum ketemu.
12/14/08
Ikut?
Besok pagi saya mau ke tempat Pak Waidi, siapa mau ikut?
Jumat depan diajak Aan belajar Bahasa Arab,
Sabtu ba'da Ashar diajak Huda ke tempat Mas Ryan
Jumat depan diajak Aan belajar Bahasa Arab,
Sabtu ba'da Ashar diajak Huda ke tempat Mas Ryan
Dream sharing
SDI adalah mimpi kita!
Ini harga mati, tak ada yg bisa ditawar-tawar, semua hal lain hanya soal posisi dan reposisi
Tetaplah ini mimpi kita bersama, sampai kapanpun!!!
Ini harga mati, tak ada yg bisa ditawar-tawar, semua hal lain hanya soal posisi dan reposisi
Tetaplah ini mimpi kita bersama, sampai kapanpun!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
