7/16/09

Aneh... Ironi...

Pernyataan2 yang membumi dan sikap2 yang melangit...

1. Rizky yang katanya facebook hanya wasting time & bilang mau off kan facebook, tapi kini...
2. Afrana Pratiwi juga, bilang facebook nggak mutu n nggak manfaat, but now...
3. M Huda, katanya anti sama sistem MLM yang jaringannya beranak-pinak, lah sekarang jadi...
4. Azis, katanya mau azzamkan begini, sejam kemudian...
5. ...[terusin sendiri]

Guru-Guru Aplikatif

1. Yusuf Mansyur

Bayangin aja, baca makalah Yusuf Mansyur kata beliau kok ga boleh cepet2, ga boleh banyak2... siapa yang ga seneng belajar kayak gitu coba, asyeek!

2. Eko Laksono

Kalau mengucapkan selamat belajar bukan selamat mengerjakan, tetapi selamat bersenang-senang... weleh2, tiap saya nannya ya , pertanyaannya 1 kalimat, jawabannya 4 paragraf dan bisa langsung dipraktekkan, keren2 lah!

3. Jamil Az Zaini

Begitu saya beli bukunya, langsung saya buat proposal hidup sesuai arahan beliau, begitu ketemu orangnya saya minta kontaknya, tak berapa lama saya kirimkan proposal hidup saya, manstab!

Masa si Semua Harus dengan Uang Dulu? Remeh s'Kali...


Masa si untuk bekerja profesional harus digaji UMR dulu, harus nunggu duit dulu.. padahal saya kepenginnya ini semua, etos kerja yang dibangun berasal dari hati nurani, sumber kesadaran terdalam. bukan karena disuruh, apalagi karena dibayar. sedih donk...

Masa si untuk bisa melamar harus punya status dulu, status yang melampirkan slip gaji.. apa pernikahan berarti menghimpun biaya untuk memenuhi seisi perut? uang lagi, uang lagi

Apa iya untuk mensedekahkan kontribusi untuk bangsa harus jadi orang kaya dulu? setahu saya dari pahlawan militer sampai pahlawan kemanusiaan tidak mengenal starta, feodalisme dan limit minimal kekayaan

Apa iya untuk dikatakan sebagai pelajar sejati haruslah rajin kuliah dulu? bukankah kalau internet di dalami dengan maksimal, kampus dan sekolah akan ketinggalan amat jauh sekali... sekolah kan mahal, internet kan murah... lagi2 uang,

7/15/09

Dua Presiden yang Tidak Mencalonkan Diri

1. Soekarno

Namanya disegani dan ditakuti dunia, tak perlu merekayasa redaksi majalah Times, negara mana yang tidak 'ngajeni' pemimpin kita yang satu ini. Beliau tidak silau harta, fasilitas, tidak juga memanfaatkan jabatan untuk merancang bisnis, macam busway dan tender backbone internet. Buat beli buah di pinggir jalan saja ngutang sama ajudannya.

Beliau adalah sedikit pemimpin yang pernah merasakan bagaimana menggeloranya tersulut api nasionalisme



2. Habibie

Diminta jadi menteri pertamanya oleh Pak Harto sebagai seorang teknokrat, terus eh terus dipercaya jadi Wapres. Pas posisi wapres simbah lengser, mau tidak mau dan akhirnya beliau memilih mau akhirnya jadi presiden. Diakui atau tidak dan memilih saya mengakui, banyak prestasi gemilang semasa pemerintahannya, salah satunya dalam hal ekonomi, sayang isu Timor-Timur cukup kuat dihembuskan untuk menggembosi..

Tersingkirlah beliau dari bumi pertiwi, tapi jangan salah, bagaimana di Jerman beliau disegani, orang kedua di perusahaan aeroplane di salah satu negeri termaju di dunia.

Kalau bukan karena nasionalisme, mana mau beliau masih mempertahankan KTP Indonesianya sementara di Jerman saja sudah jadi surga dunia bagi beliau dan keluarga.

7/14/09

Besok Rabu

* Form Penawaran sdcp baru
* Materi Mafaza Dare to Fail & Dare to Raise
* Tukang kayu sumpiuh
* Promo warnet
* Pantau progress kas mandiri
* Stiker & taplak pisang ijo
* ke terowongan ijo (bawa kamera)

Lalu Kamis
* sbsd (sekolah bisnis semangat donk)
* blbi (bola-bali)
* beli karpet
* bikin banner
* pesen bantal
* pesen nomor card
* buletin warnet

Materi 30 Juni (4) Habis

8. Sukseskan wajib belajar sepanjang hayat

Dalam berproses sering kali kita tidak bisa terhindar dari masalah. Apa sebenarnya masalah itu? Sependapat dengan kata Aa Gym, masalah timbul adalah karena ketidakcukupan ilmu kita menghadapi kenyataan yang ada. Karena itulah, kuncinya ada pada ilmu. Ilmu hanya diperoleh dengan belajar.

Oleh sebab itulah, wajib belajar sesungguhnya bukan hanya Sembilan tahun, tetapi seumur hidup. Bayangkan saja kalau selepas lulus SMP kita tidak belajar lagi, apa kata dunia? Namun, kita harus memahami makna belajar dengan benar. Belajar tidak identik dengan sekolah, setiap orang yang sekolah belum tentu belajar. Setiap orang yang tidak sekolah tidak selalu tidak belajar. Karenanyalah banyak orang lulusan SD atau putus sekolah yang mencapai keberhasilan.

Belajar yang sesungguhnya adalah ketika kita membuka otak kita seperti parasut, menangkap pesan dari ayat kauliyah maupun kauniyah dan menerapkannya dalam berbagai keadaan yang kita hadapi.

Pada saat belajar, ada proses yang terjadi dalam otak kita, yakni terjadi arus elektrik dengan kecepatan luar biasa tinggi di dalam otak kita yang menyebabkan jaringan otak berkembang, sambungan antar sel dalam otak berkembang. Otak kita memiliki mekanisme yang luar biasa canggih, yang tidak akan kewalahan menyerap hal baru setiap detiknya sampai dua ribu tahun sekalipun, karena itu kita tidak perlu khawatir. Tugas kita adalah membaca sebanyak-banyaknya, bertanya pada orang-orang berilmu, menyerap pelajaran dari kejadian yang kita hadapi dan mengambil garis evaluasi dari kesalahan yang telanjur sudah kita buat.

Perjalanan kita dalam berproses menuju kesuksesan akan bertemu banyak dinamika, tidak ada pilihan lain kecuali secara kontinyu menambah ilmu dari waktu ke waktu dengan belajar, belajar tiada henti.

Dan sekali lagi, definisi belajar adalah berubah. Jadi, untuk mengukur seberapa banyak kita sudah belajar, caranya gampang, tinggal ukur saja seberapa banyak kita sudah berubah. Berubah dari sikap malas, dari susahnya untuk ontime, dari keinginan untuk sukses instan, mudah mengeluh, memandang orang lain jauh lebih baik sehingga yang ada adalah minder, mengubahnya menjadi sikap sebaliknya.

9. Cerdas Adversity Quotient syaratnya adalah tidak egois

Yang kita lakukan bukanlah sepandai mungkin menghindari masalah, tetapi adalah menguatkan bahu kita agar semakin kokoh menghadapi masalah. Sudah tentu kan, ujian untuk kelas 1 SMA jauh lebih sulit ketimbang ujian kelas 1 SMP? Begitupun, kita harus siap kalau semakin ke depan, masalah yang akan kita hadapi akan semakin berat.

Karena itu, memang lebih positif bila kita mengubah kata “Masalah” menjadi kata “Tantangan”, sehingga ibarat main game, adrenalin kita akan terus terpacu untuk waspada dan meningkatkan skill menghadapi tantangan musuh di level-level yang lebih tinggi.

Mengeluh, adalah musuh utama menuju kesuksesan, ibarat tuan kura-kura yang menjadi lawan Super Mario. Selalu saja datang, bahkan kadang dia datang dengan berkaki atau bersepatu roda. Bagaimana cara paling ampuh menghadapi sikap mudah mengeluh?

Sederhana, caranya adalah dengan sempatkan berjalan-jalan, ketika rasa ingin mengeluh muncul, ketika untuk bertindak terasa malas, cobalah berjalan-jalan di trotoar dalam kota atau masuk ke pasar tradisional, ada banyak guru-guru kita disana. Ada kakek yang sudah tua tapi masih memanggul dagangan meja kursi sedemikian banyaknya.

Ada seorang bapak yang mungkin anaknya banyak tapi hanya jualan mainan sederhana dari bambu yang belum tentu anak-anak tertarik membelinya, tapi itu ditelateni setiap hari. Dan banyak lagi lainnya, rasakanlah energi mereka, maka kita akan malu sendiri karena belum apa-apa sudah mengeluh.

“Lebih baik bersusah-susah di waktu muda mengusahakan kemandirian, ketimbang bersusah-susah di waktu tua menanggung malu”, begitulah seharusnya semboyan yang kita pegang agar tidak mudah mengeluh. Agar siap bekerja di bawah tekanan, tahan banting dan terjaga istiqomah kita. Karena memang istiqomah kuncinya. Apa faktor penentu istiqomah itu, yakni ketekunan (tidak modah bosan) dan kegigihan (tidak mudah menyerah).

Dan benahi motivasi kita, sebenarnya untuk apa sukses yang sedang kita usahakan ini? Orbitkanlah motivasi kita pada kemanfaatan orang lain, itulah cara menguatkan adversity quotient atau kecerdasan ketahan-malangan kita.

Misalnya, bahwa ketika kita sukses, yang bahagia bukan hanya diri kita, tetapi juga keluarga, sahabat dan tetangga kita. Bahwa ketika kita bisa menjadi seorang tokoh dalam bidang tertentu, yang dipikirkan bukan seberapa popular kita, tetapi seberapa banyak orang yang akan mendapatkan ilmu dan inspirasi dari kita. Bahwa kalau kita tidak mudah menyerah, akan banyak orang disekeliling kita yang ikut tersemangati. Bahwa ketika kita kaya, akan semakin banyak nominal zakat dan infak kita. Dan seterusnya, terus perkikis sifat egois kita dan arahkan perhatian pada kemanfaatan untuk orang lain.

10. Tiga hal istimewa

Modal yang kita punyai sungguh luar biasa, pertama adalah diri yang istimewa. Perangkat yang ada dalam tubuh dan jiwa kita sangatlah fungsionable, dengan perawatan sederhana yakni asupan nutrisi yang higienis dan olahraga yang seimbang semua bisa diberdayakan dengan potensi hasil yang luar biasa besar. Sayangnya, kita terlalu sibuk memandang hebat orang lain dengan tanpa sadar telah mengkerdilkan diri sendiri. Pandangan skeptis terhadap diri sendiri ini harus kita ubah terlebih dahulu.

Lalu apa modal kedua? Yakni waktu yang istimewa. Tidak ada yang perlu disesali atas masa lalu, karena semuanya sudah terjadi. Masa lalu kita perlukan hanya sebagai bahan evaluasi dan inspirasi untuk langkah kita selanjutnya.

Begitu juga tidak ada yang perlu ditunggu dari masa depan, masa depan kita adalah hari ini. Karena tidak ada yang tahu bagaimana dengan masa depan kita, apakah kesempatan masih ada seluas saat ini? apakah tantangan baru tidak akan hadir pada waktu yang kita tunggu itu? Waktu yang kita punyai hanya saat ini.

“Never till tomorrow what you can do today”, kita dibekali akal-pikiran dengan kemampuan yang superdahsyat untuk memikirkan, apa yang bisa dikerjakan saat ini. Karena kesuksesan selalu berawal dari mengerjakan hal-hal yang bisa dijangkau, “lakukan sesuatu yang kamu anggap bisa, lalu lakukan sesuatu yang kamu anggap mungkin dan tiba-tiba kamu telah melakukan hal yang luar biasa.”

Dan yang ketiga adalah kita memiliki proses yang istimewa, karena sesungguhnya setiap kejadian yang menimpa kita mengandung hikmah dan pelajaran didalamnya. Yang paling mendasar saja, kesuksesan kecil yang kita terima, mengandung hikmah untuk kita bersyukur, dan kegagalan yang menimpa kita mengandung hikmah untuk kita bersabar. Belum hikmah-hikmah lainnya, hikmah berupa tantangan untuk meningkatkan kreativitas, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, untuk meningkatkan ketahanan menghadapi tekanan, kemampuan untuk menajamkan visi, dan banyak lagi.

Karena itu, jangan remehkan kejadian-kejadian yang menimpa kita, ibarat kejadian itu adalah batu, maka telusurilah batu itu, karena dibaliknya ada udang yang berharga bagi kita.

Katria ada yang Narsis juga

Nakula, Ksatria Paling Tampan :
Nakula adalah ksatria muda yang paling tampan, bahkan Putri Drupadi mengakuinya. Dia seringkali senang membanggakan ketampanannya. Tapi Nakula adalah pangeran yang rajin, berdisiplin, giat bekerja, jujur, dan sangat setia pada saudara-saudaranya, bahkan rela mati demi membela mereka semua. Nakula adalah ahli pedang tertangguh diantara Pandawa.

http://imperiumindonesia.blogspot.com/

Purwokerto : Rute Terminal-L22 tanpa Helm

Terminal, arah jalur keluar motor pintu belok kanan ketemu perempatan lurus terus ke utara, melewati balai kelurahan purwokerto selatan, mentok pertigaan rumah sakit bunda belok kiri.

Gang kedua belok kanan, sampai pasar kaget dekat penatusan, menyeberang jalan jenderal soedirman, lalu masuk jalan penatusan, terus, belok kiri, ada bengkel masuk gang disebelahnya, lewat santo yoseph, mangunjaya, jalan yang ke GOR diseberangi saja, terus, belok kiri, keluar di DKT.

Belok ke utara, masuk perumahan bancarkembar, keluar di ringin tirta, tinggal ikuti alur normal ke griya satria indah II

7/12/09

Ganti Password


Semua item apapun yang membutuhkan password yang dulu adalah C****A**A sekarang saya ganti, semuanya...

7/11/09

tetep jadi diri sendiri

Visi & Eksekusi

Saya buka pemilih JK, tapi saya banyak belajar dari beliau, salah satunya tentang ini : visi & eksekusi. Visi tanpa eksekusi yang bagus, hasilnya adalah penyesalan. Eksekusi tanpa visi yang jelas, hasilnya adalah kita seperti baling-baling yang terus sibuk berputar.

Persis kata Suyatna, atau ada di salah satu Novel Habiburrahman El Shirazy bahwa kesibukkan tidaklah berbanding dengan produktivitas.

Apa yang saya kejar? jawabannya : Visi. Tapi apa yang saya lakukan, jawabannya : Eksekusi! pertanyaan selanjutnya, sudah sebandingkah eksekusi saya dengan besarnya visi saya? Ingat kata tukang kayu pembuat gerobak, hidup itu harus tekun dan dispiplin, atau lebih tepatnya tekun dan gigih.

Seberapa besar visi saya, tidak perlu diragukan! tetapi seberapa gigih eksekusi saya, ini yang harus dikoreksi sekiranya hari ini masih merasa harus ada yang disesali.

Ketika diluar sana orang dituntut untuk memperbaiki visi, maka saya disini dipaksa untuk memperbaiki eksekusi. Atau saya hanya akan menjadi seorang pecundang yang :

1. menyesal
2. 'sawang sinawang' selalu

dan kehilangan arah.

Demam Tak Gendong

Analisa lugu dari seseorang di media dan saya pun setuju tentang hasil Pilpres 2009, Bahwa memang masyarakat Indonesia lebih memilih lagu tak gendong ketimbang musik jazz dan klasik. Begitulah capres yang baru lolos.

Betul bukan? seperti 2004 lalu juga, waktu itu Indonesian Idol Fever, dimana ramai diisukan, Delon menang bukan karena kualitas suaranya yang superior, tetapi ditopang kuat oleh tampangnya yang ganteng.

Yah, beginilah masyarakat kita mayoritas, belum sampai ke visi, yang penting aman, yang penting gaji 13 turun lagi, BLT mengalir lagi, perut terisi lagi...

Belum setinggi otak, masih setinggi perut...kita lihat bersama ke depan lah, sampai kapan demam Tak Gendong berakhir

SURAT CINTA MBAK ANI (tanpa mempengaruhi isi, sedikit telah diedit).

SURAT CINTA MBAK ANI.

ANI, bermaksud memutuskan hubungan dengan kekasihnya seorang bule dari Amerika bernama Robbie akan tetapi dia tak sanggup untuk bertemu muka dengan kekasihnya. Sum menulis surat dengan berbekal pengetahuan bahasa Inggris & kamus tebal.

Hi Robbie, with this letter I want to give know you
(hai Robbie, bersama surat ini saya ingin memberitahu kamu)

I WANT TO CUT CONNECTION US
(SAYA INGIN MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA)

I have think this very cook cook
(saya telah memikirkan hal ini masak-masak)

I know my love only clap half hand
(saya tahu cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan)

Correctly, I have see you go with a woman entertainment at town with my eyes and head myself
(sebenarnya, saya telah melihat kamu pergi bersama seorang wanita penghibur di kota dengan mata kepala saya sendiri)

You always ask apology back back times
(kamu selalu minta maaf berulang ulang kali)

You eyes drop tears crocodile
(matamu mencucurkan airmata buaya)

You correct correct a man crocodile land
(kamu benar-benar seorang lelaki buaya darat)

My Friend speak you play fire
(teman saya bilang kamu bermain api)

Now I know you correct correct play fire
(sekarang saya tahu kamu benar benar bermain api)

So, I break connection and pull body from love triangle this
(jadi, saya putuskan hubungan dan menarik diri dari cinta segitiga ini)

I know result I pick this very correct, because you love she very big from me
(saya tahu keputusan yang saya ambil ini benar, karena kamu mencintai dia lebih besar dari saya)

But I still will not go far far from here
(namun saya tetap tidak akan pergi jauh-jauh dari sini)

I don't want you play play with my liver
(saya tidak ingin kamu main-main dengan hati saya)

I have been crying night night until no more eye water thinking about your body
(saya menangis bermalam-malam sampai tidak ada lagi airmata memikirkan dirimu)

I don't want to sick my liver for two times
(saya tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya)

Safe walk, Robbie
(selamat jalan, Robbie)

Girl friend of your liver
(kekasih hatimu)

Ambar FitriANI.. hohoho

note:
this river I forgive you, next river I kill you !
(kali ini aku maafkan kamu, kali lain kubunuh kau !)

7/9/09

L22 dulu dan sekarang


Dulu itu, kalau orang pertama datang, tidak menemukan 1 kursipun di dalam, ngelempraklah di karpet biru.
Sekarang, pertama datang, ada yang langsung log in di ruang depan, atau masuk ke dalam dan membuka laptop, terus... pantenging sampai lupa makan.
Dulu itu, boro-boro laptop, pertama datang duduk bareng saling bertanya, saling bercerita, eh kemarin gini... (yah, mirip laporan non-formal) terus cerita ini gimana ni jadinya... (mirip konsultasi non-formal) dan jadi besok kita begini begini begini (mirip sharing plan non-formal).
Karena PC hanya satu, RAM hanya 128 pula, maka praktis harus bergantian memakainya... dan kalau mau minta gantian, basa-basi dulu "eh lagi ngerjain apa" terus terjadilah komunikasi dua arah "sebaiknya gini gini gini, bla bla bla..."
Karena sekarang sudah ada zona free hotspot, maka bertegur sapa jadi tidak penting, yang penting teman di hp dan di YM jangan sampai dicueki 1 detikpun, aneh...
Berbagi unek-unek menjadi sangaaaaaat berat, sampai ada yang bingung diam saja, yang tau ada yang bingung juga memilih diam, yang ini sibuk dengan urusannya, yang itu bingung mau ngerjain apa, yah miriplah bus damri yang jurusan orang yang naiknya beda-beda.
Apa harus breakdown dulu tuh internet biar dehumanisasi bisa luluh lantah? beginilah kita, teknologi bukannya memanjukan, tetapi malah memundurkan.
Cenderung lebih permisif, egois tak mau sharing apalagi laporan, minder tak mau berbagi masalah, pelit tak mau bertukar ide, jutek tak mau menomorsatukan yang face to face. Inikah saya hari ini?

Dehumanisasi di L22 Kian Parah

Kerasa kan betapa bosennya, yah memang gobak sodor itu lebih asyik ketimbang chating yang nggak jelas juntrungannya. Dulu saya kira surga, ketika L22 ter-online internet secara free 24 jam non-stop.

But now, saya (dan pastinya bukan cuma saya) merindukan saat-saat dimana dulu tak ada jaringan disini, tak ada laptop disini, tak ada facebook, tak ada rapidshare, tak ada kompasiana, tak ada yang sekarang ada.

Dehumanisasi yang kian parah, satu sama lain menjadi pelit ngobrol, dengan angkuh mendongak didepan layar berjam-jam, atau dengan sembrono lebih mementingkan ber-sms-an atau ber-ear-phone ria dengan menomorsekiankan orang yang ada dihadapannya yang butuh di dengarkan.

Betul kata Meiji, kita boleh punya ini dan itu, tapi kita tidak boleh lupa pada nilai dasar kita. Ketika kebersamaan semakin remeh-temeh, saya tidak hengkang dari visi dan eksekusi saya satu inchi-pun. Ayo maju maju, nggak mau maju ke laut aja.

Hari Ini JK di Caci Maki

Saatnya berkemas, 4 bulan lagi harus pulang kampung. Hm, apakah seorang pengabdi yang tulus cemas dengan angka persentase perolehan pemilu? seperti yang saya posting beberapa hari lalu dan yang saya baca di banyak sekali pendapat orang, nama JK tetaplah terhormat sebagai the real president. Iklannya mengenalkan akan visi, bukan mengajarkan narsis dan menyuguhkan dusta bagi publik.

Ini bukan 'supatani', tapi memang sampai hari inipun saya belum mendapatkan bantahan fakta-fakta tentang bagaimana rekam jejak dan road map SBY dan Boediono yang akan melanggeng ke depan. Saya membayangkan jika semua itu benar, tentang ke'letoy'annya terhadap orang2 disekelilingnya, tentang konsiderasinya dengan asing, tentang ke'jaim'annya terhadap rakyat, tentang sekuleritas agamanya, tentang kakunya birokrasi, tentang mandulnya visi ekonomi..

saya membayangkan betapa caci maki dan pertontonan yang demikian seru akan semua itu, jauh lebih menyakitkan ketimbang caci maki bagi JK hari ini. Karena itu, saya hanya mengingatkan, jangan takabur dan berhura-hura dalam kemenangan. Tidak ada yang dimenangkan dari besarnya persentase perolehan suara, kemangan hanyalah ketika di akhir karier politik, nama Anda tetaplah cemerlang... (sekarang saja begitu banyak yang ditutupi dan tercium bau menyengat disana-sini, mananya yang cemerlang pak?)

Lanjutkan!

7/8/09

Bolehkah Saya Sedih Hari Ini

Saya pertama mendengar ini dari Uje, "Semua orang akan masuk Surga, kecuali yang enggan."... Begitupula, saya percaya korelasi kata-kata ini pada nasib bangsa kita, "Semua bangsa akan sejahtera, kecuali yang enggan".

Sebuah fakta miris yang jumlahnya puluhan, yang tak terdengar ketika saya kritikkan, bahkan jauh sebelum pilpres dan serang-menyerang dalam kampanye saya temui ragam fakta. Eh, kali ini, bahkan ketika seorang menawarkan visi, seorang lainnya menawarkan citra, yang dipilih tetaplah citra.

Oh, begitukah gambaran umum bangsa saya, enggan untuk memilih tetes mata agar bisa memiliki cara pandang yang lebih cerah dan cemerlang tentang kemajuan diri dan bangsanya, eh malah lebih suka memilih pelembut kulit, agar biji yang terbungkus di dalam yang semrawut biji kedondong semakin rapi tersimpan.

Inilah bangsa saya, belum berbeda jauh ketika rel Cilacap-Jember dibangun di masa Belanda dulu, belum berbeda jauh ketika para sultan-sultan tidak bertanggung-jawab menggadaikan kerajaannya demi mengais dan menjilat kompeni walau mengabaikan rakyatnya, belum berbeda jauh ketika Soedirman yang anak ndesa harus bergerilya dan merumuskan serangan umum.

Bangsa yang menjadi pegawai yang membebani negara menjadi rebutan, menjadi pengusaha dibilang rakus. Bangsa yang menjunjung tinggi prestise sementara mengesampingkan keramahtamahan. Bangsa yang berebut bantuan langsung tunai dan tak ada greget kuat mengoptimalkan PNPM Mandiri.

Bangsa yang mengaku religius tetapi banyak sekali undang-undang yang tidak bernafaskan agama apapun, bangsa yang mengaku ekonomi kerakyatan tetapi aliran barang dan perilaku konsumsi dalam negeri tak terbingkai, bangsa yang mengaku ketimuran tetapi kiblatnya melampaui ka'bah, teruus ke barat sana... Amerika.

Inilah pilihan rakyat di bangsa saya sendiri, inilah nasib yang dipilih, sedih, sangat sedih saya, saya membayangkan ini belum seberapa dibanding ketika Iwan Fals berkoar-koar tapi rakyat disekelilingnya bukannya menjadi sadar tetapi malah ikut menghujat, dan ini terulang lagi.

Kebobrokan yang demikian nyata bak borok yang tak diperban tetapi justru ini yang dipuja-puja, justru kepada ini kepengurusan negeri seistimewa zamrud ini diserahkan.

Saya tidak habis pikir, tapi saya ingat kata Eko Laksono di inbox saya kemarin... kira-kira begini, "Hei Rizki, kalau tak ada penjajah, Soekarno mungkin tidak seperti yang kita kenal saat ini..."

Masa muda saya lebih terfasilitasi dibanding Soekarno, semisal jatah umur saya sama dengan beliau, saya azzamkan untuk mengungguli kiprah beliau. Biarlah rakyat bangsa saya sekarang begini, ini adalah selongsong kepompong yang sedang menguatkan sayap kupu-kupu indah bangsa ini yang akan membuat mereka menjadi penggubah bangsa, menjadi rujukan dunia.

Optimisme yang Masih Tersisa

Tidak pada siapa RI 1 dan RI 2 optimisme itu tersisa buat negeri ini. Tapi Insyaallah saya masih tetap optimis, karena masih ada Eko Laksono, Ary Ginanjar, Yusuf Mansyur, Dedi Mizwar, Erbe Sentanu dan Semangat Donk.

Jenderal Soedirman mempertahankan bangsa tanpa alokasi anggaran sebesar KPU bahkan tak sebesar tim sukses kampanye berdana terbesar.

Muhammad Yunus mengubah dunia dengan $27

Indonesia menggeliatpun tak perlu tampuk jabatan di awal, optimislah, optimislah, optimislah tetap!

Jangan Sombong dan Takabur

Buat yang terpilih jadi Presiden, tetaplah memandang jabatan dalam mindstream yang benar ya. Cirinya, tidaklah sombong apalagi takabur.

Sebenarnya saya merasa sangat tidak pas dengan istilah 'memenangkan'...

Lagipula yang selalu menang tapi tak sombong, tak takabur juga tak pernah digubris adalah Partai Golput...

Sinetron Jilid 2, Sinetron masih Berkibar disini

Hasil Penghitungan Suara TPS 12 di Perum Griya Satria Indah 2, Pajang 21 :
1. Mega yang menjual Fakta 32 : 9%
2. SBY yang menjual Citra 267 : 72%
3. JK yang menjual Visi 66 : 17%
4. Rusak 6 : 2%


Perum Griya Satria ternyata SBYdicted, wah-wah-wah, ternyata masih gemar sinetron warga sini. Untung saja UUD membatasi hanya sampai jilid 2, soalnya kalau kayak sinotron Tersanjung, bisa sampai jilid 6 dulu.

Pak JK, selamat ya, bisa hidup tenang pulang kampung memakmurkan masjid dan membuat perdamaian bagi dunia. Untuk Pak SBY, selamat melanjutkan drama 5 tahun ke depan bersama Paman Sam sang sutradara, trio malarangeng sang aktor utama yang jarang tampil, dan pa boed sang figuran.

produsernya siapa? siapa lagi kalau bukan "the invisible hand". Silahkan buktikan deh pa, kalau panjenengan bukan kayak raja jawa yang jadi antek kompeni tega mengabaikan rakyat... sekarang bukan saatnya LANJUTKAN! saatnya BUKTIKAN!

Tapi kalau masuk putaran 2 dan pak JK yang jadi, ucapkanlah innalillahi wa inna ilaihi raji'un ya pak JK, karena seorang muslim yang taat pasti memandang jabatan sebagai sebenar-benar amanah.

Bohong!

Katanya Indonesia menganut ekonomi jalan tengah,
Tapi penambahan motor dan mobil baru tidak dikontrol, pendirian carrefour hingga alfamart tidak dikendalikan, EKONOMI LIBERAL namanya itu.

Katanya Indonesia negara hukum,
Pejabat daerah yang diusung Demokrat yang pada bermasalah, ijin penyidikan dari presidennya tidak turn-turun, BEGARA HUKUM RIMBA namanya.

Katanya Politik luar negeri kita Bebas-Aktif,
presiden kita mendukung penjajahan modern di forum PBB, kenapa tak berani Abstain?
NEGARA TERDIKTE namanya.

Katanya Indonesia negara Pancasila dimana Agama dan Negara berjalan beriringan,
Pilpres langsung adalah proses penyerahan urusan kepada yang bukan ahlinya dikarenakan rakyat tidakdiahlikan dulu sebelum disuruh mencontreng, padahal keyakinan Agama menyebutkan "ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, bersiaplah menanti kehancuran", NEGARA SEKULER namanya.

Dan sebagainya.

Majukan Perkeretaapian Kita


Eksekutif 2-2 Sinar Jaya, memakan waktu 10 jam Jakarta-Purwokerto. Tapi kelas Bisnis Kereta Api cuma 5 jam saja. Hebat euy, setengahnya sendiri efisiensi waktunya

Kultur geographic Indonesia adalah berjauh-jauhan antar kotanya, karena itu Kereta Api memang merupakan sarana transportasi yang paling tepat untuk dikembangkan di negeri ini. Saya membayangkan kalau kereta Api berbenah diri, atau kalau tidak mau berbenah diri ya dikebiri saja kayak Telkom yang disandingi Indosat, XL dan sebagainya, biar terpacu.

Kalau kereta api ditata dengan baik, fasilitas bisa lebih memadai (Armada antar kota selalu cukup tempat duduk), kereta bisnis jadi ekonomi, kereta argo jadi bisnis, dan didatangan kereta eksekutif baru yakni kereta upercepat (ya, mungkin belum secepat sinkanzhen karena rel kita masih peninggalan belanda).

Lalu dikembangkan jalur baru jarak dekat, lalu di dukung dengan shuttle bus dalam kota, yakni angkot ber-AC dengan tiket murah. Lalu pajak mobil dan motor untuk kepemilikan dalam keluarga yang kedua dan seterusnya ditinggikan hingga dua kali lipat.

Maka saya yakin, masyarakat akan lebih nyaman, ketimbang tiap tahun jalan dilebarkan terus... Majulah kereta api Indonesia, pada saatnya nanti dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung mendi satu rel.

Jakarta, Jam Dua Pagi

Jam yang sama dengan ketika tulisan ini diposting, turun dari Stasiun Gambir, fiuh, rame dan terang benderang, nggak kerasa lagi kalau itu dini hari.

Jam dua pagi di Jakarta itu berasa ba'da maghrib. Beda kalau di rumah saya, ba'da maghrib itu gelap dan sepinya sama kayak jan 2 pagi.

7/6/09

Jogja, Never Ending Asia

Saya itu dari dulu suka sekali memuji-muji Jogja, indah kotanya dan ramah penduduknya, weleh-weleh, kalau saya ditakdirkan tersesat dan boleh memilih kotanya, maka saya pilih tersesat di kota Jogja... Bayangkan saja, kalau di kota lain, paling dijawab seperlunya, tapi di jokja, bahkan biodata lengkap mungkin malah balik ditanyakan saking ramahnya... malah satu pengalaman kemarin saya kesasar, belum juga nanya, si calon pemberi jawaban yang menanyakan duluan... malu bertanya sesat di jalan agaknya nggak berlaku di kota itu, nggak nanya juga ditunjukkin kok.

Eh, pas kemarin seorang teman mengatakan kata yang saya sepakat banget, "kalau kau ingin melihat lembutnya indonesia, cukup datang ke Jogja. kalau kau ingin melihat kerasnya indonesia, cukup datang je Jakarta"

Saya ingin se-ramah orang Jogja. Eh, kalau-kalau jodohnya orang sana dan sekitarnya ya... suku mana ya yang mengalahkan keramahannya? sudah2, nanti di demo kayak Malarangeng Brother kalau ngomongin suku...

Belajar Mencintai Indonesia

Untuk awal, anda bisa baca buku favorit saya, buku Sukarno, “Indonesia Menggugat”. Benar-benar sebuah buku yang mengagumkan, cerdas luar biasa, dan di buku itu anda bisa belajar rahasia bagaimana Sukarno bisa membangun kekuatan yang begitu besar dan membangkitkan Indonesia.

Anda juga bisa mendengarkan salahsatu pidato Sukarno yang paling menggetarkan di internet.
Kalau anda senang nonton film, coba tonton film “Gandhi” (1982) dari Richard Attenborough.
EL

7/4/09

Pengusaha itu Jelek!

Jadi Pengusaha, ternyata double tantangan. Disamping mengubah mindset untuk memiliki keberanian memulai dan berproses yang handal, juga, khusus pengusaha Indonesia, harus siap melawan stigma negatif : PENGUSAHA ITU JELEK.

Saya bukan calon pencontreng JK besok, saya hanya ingin sampaikan, sebulan terakhir saya belajar banyak tentang LEADERSHIP dari beliau. Dan hari ini saya tahu, ternyata faktor pemberat dia maju mengeksekusi visinya adalah karena dia seorang PENGUSAHA.

Pengusaha berbahaya jadi penguasa, betulkah? saya membayangkan, seandainya saya punya kekayaan 300 Milyar, punya begitu banyak kendaraan bisnis, apa ya saya masih minat mengeruk uang dari jalur politik yang nggak jelas haram dan subhatnya?

Kalau alasannya soal kelonggaran birokrasi, ah, bukankah khusus di negeri ini, semua bisa dibeli dengan uang. Itu kan faktanya Freeport bisa beli gunung, Exxon bisa beli danau minyak, kan karena bargaining uang?

Yang bahaya justru kroni-kroni pemerintahan yang rela menjadi kacung asing, memakelari privatisasi, menggerogoti ekonomi bangsa sendiri. ya wajarlah, kekayaan mereka baru beberapa milyar, masih tamak akan bertambahnya rekening. Apalagi mereka masuk ke politik sebagai orang biasa 'seperti kita kebanyakan', masih silau pada uang, mereka mengira politik adalah keran pesugihan.

Para entrepreneur dengan sekian banyak kendaraan bisnisnyalah yang lebih bisa berpikir arif, wahai bangsa, ubahlah stigma, saya tahu jadi employee memang lebih aman, tapi itu bukan solusi bagi kebangkitan bangsa.

(ditulis pas mau berangkat ke Jakarta, doakan saya kembali dgn selamat)

7/3/09

Siapa Pemenang Pilpres 2009?


Kandidat yang terpilih 8 Juli besok belum tentu menang, tak ada yang perlu dirayakan, karena itu artinya 5 tahun kedepan tantangan menghadang sepanjang hari sepanjang jam hidupnya. Kalau yang disyukuri materi, ah, sadarlah, gaji, tunjangan, fasilitas dan komitmen fee yang Anda, sponsor Anda dan tim sukses Anda dapat itu tidak seberapa dibanding pendapatan David Beckam yang gajinya 9 milyar rupiah perminggu.

Apa artinya mendapat suara terbanyak, tapi ditengah pemerintahan terjadi chaos, pergolakan rakyat akibat ketidakmampuan Anda menangani permasalahan yang ada. Apa pula mulianya kemenangan Anda kalau sepanjang periode tidak banyak perubahan, kepemimpinan jalan di tempat.

Bagi saya JK sudah menang, dari sisi gestur, bahasa tubuh dan pembawaan sikap dia yang terbaik. Penguasaan dalam debat, dia yang terunggul. Keberanian dan ketangkasan dalam mengeksekusi program dia yang teratas. Soal visi ekonomi, dia yang tertajam. Ketransparanan dan efisiensi dana kampanye dia juaranya.

Kalau public yang melek siapa kandidat paling SMART, JK jawabannya. Dengan perolehan suara berapapun, JK sudah menang, terpilih atau tidak, yang tahu yang terbaik yang akan terjadi bukan manusia, siapa tahu keterpilihannya justru malah menjerumuskannya.

Karena JK sudah menang, karena itu saya tidak perlu mencontrengnya. Tidak juga mencontreng lainnya.

Mangkok dan Bubur Pisang Ijo

Ini pelajaran dari Ria yang saya janjikan mau saya posting ke pembaca kemarin. Sumber aslinya adalah dari Mario Teguh..

Soal Kewibawaan dan Karisma, keduanya adalah seperti mangkok dan bubur yang akan dituang ke mangkok itu. Disinilah kita harus menyadari adanya ranah ikhtiar manusia dan ranah tawakal manusia yang ekuivalen dengan ranah murni kekuasaan Allah SWT.

Agar berhasil dapat bubur Pisang Ijo yang lezat--selezat Es Pisang Ijo depan Patung Kuda Unsoed yang harganya 3.000an, buka dari jam 10.30 sampai 14.30--maka tugas kita adalah menyiapkan mangkoknya.

Begitulah, membangun kewibawaan adalah ibarat kita menyediakan mangkok. Sementara karisma adalah bubur yang akan dituang apabila mangkok sudah siap. Begitulah makanya orang yang memiliki kharisma, yang menjadi magnet bagi lainnya adalah orang yang memiliki kewibawaan.

Bagi saya, kewibawaan bukan selalu berarti harus bertubuh gembur dan bersuara manstab. kewibawaan lebih pada kesungguhan menguapayakan "satunya kata dengan perbuatan", lebih pada kesungguhan menambah ilmu, kesungguhan menaruh hormat pada orang lain dengan menepis ego.

Kewibawaan adalah ranah ikhtiar manusia, dan kharisma adalah hak prerogatif Allah SWT. Nah, pelajaran itu saya dapat siang kemarin, dan langsung saya diberi-Nya kesempatan praktikum sore harinya.

Sore hari itu saya harus memutuskan suatu hal yang menyangkut dana yang tidak sedikit, orang yang tidak sedikit dan keadaan yang bagi saya perlu cermat, sangat cermat. Maka saya buka kembali file pelajaran siangnya, bahwasannya ada pembagian ranah, yakni ranah manusia dan ranah Tuhan.

Dan betul, tepat pukul 19.00 harus saya putuskan dengan mudharat yang paling minimal. Maka, setelah saya maksimalkan ikhtiar saya, karena hanya itu ranah yang saya punyai, maka setelah diakhiri dengan koordinasi dan penghitungan dan analisis fakta secara cermat, saya tentukan tugas terakhir saya adalah mengirim persoalan ini ke ranah berikutnya, ranah Tuhan.

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. dan Alhamdulillah, satu bisikan mantap terbesit beberapa menit sebelum 19.00, walau masih dengan beberapa persen keraguan. Dan dengan meminggirkan ego saya, maka saya ikuti suara hati saya itu sebagai sinyal dari zona luar, ranah Tuhan. Dan, kuliah serta praktikum saya hari kemarin, tuntas, dengan nilai A. apa itu A? A = Ayem Alhamdulillah.

"Keyakinan" yang Kuat itu Harganya Triliunan Rupiah


Pemimpin, adalah mereka yang berbuat sesuatu, bukan hanya tahu sesuatu. Mereka berjuang meningkatkan kualitas hidup lingkungannya dan memberi inspirasi pada banyak orang.

Para pemimpin yang unggul bisa berbuat sesuatu yang unggul, karena mereka punya pengetahuan yang unggul. Visi, dihasilkan dari pengetahuan yang lebih banyak, lebih besar, dan lebih tajam dari orang kebanyakan. Dengan pengetahuan yang unggul, mereka tahu apa yang bisa dilakukan.

Kalau anda belajar tentang para pemimpin besar, Sukarno, Hatta, Gandhi, Napoleon, anda akan lihat mereka senang belajar dari para tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Mereka juga belajar bagaimana membangkitkan bangsanya jadi bangsa besar, dengan belajar dari bangsa-bangsa besar lainnya. Sampai akhirnya mereka tahu caranya.

Dan anda betul sekali, para pemimpin terbesar, Gandhi, atau Muhammad Yunus, dan tentu Nabi Muhammad Saw, punya satu kesamaan. Mereka adalah pejuang, aktivis yang paling revolusioner. Mereka samasekali tidak pernah memikirkan jabatan atau kekuasaan. Mereka berjuang karena semata-mata mencintai bangsanya, dan karena perjuangan mereka adalah ibadah yang tertinggi. Itu yang membuat mereka paling istimewa.

Mereka bisa merubah bangsanya, bahkan hanya dengan kemauan yang kuat. Bayangkan, mereka tidak punya pemerintahan dengan ribuan pejabat dan aparat, tidak punya anggaran milyaran atau trilyunan, tapi mereka mampu merubah seluruh bangsanya. Sukarno-Hatta pun mempersatukan seluruh Indonesia tidak dengan anggaran bertrilyun-trilyun.

Jendral Sudirman, bisa mengalahkan militer Belanda dan Jepang yang modern, tidak punya anggaran bertrilyun-trilyun. Kecintaan mereka pada bangsanya jauh lebih kuat dari apapun. Jadi kalau anda juga mencintai bangsa ini, andapun akan bisa melakukan sesuatu yang besar. (Eko Laksono)

Ini Bukan Kampanye, dari Tulisan ini Kita Bisa Berpikir Lebih Rasional


Siapakah pemenang debat capres yang berlangsung tiga putaran? Jawabannya JK. SBY di urutan kedua dan Megawati di posisi terakhir. Nilai Megawati, yang tertatih2 dalam debat, cukup jauh dari kedua capres tersebut.

Penilaian itu diungkapkan tim akademisi UI dalam siaran Metro TV seusai debat putaran ketiga tadi malam (2/7). Tim akademisi itu adalah Dr Firmansyah (fakultas ekonomi), Prof Dr Satya Arinanto (fakultas hukum), Hamdi Muluk, dan Adrianof Chaniago.

Tim mengajukan sejumlah parameter seperti penguasaan materi dan penguasaan panggung dari tiga kali debat dengan tiga materi debat yang berbeda. Selanjutnya, masing-masing parameter diberi skor dengan range 1-10.

Walhasil, skor ditotal, kemudian dibagi dengan jumlah parameter untuk menghasilkan angka rata-rata.

Hasilnya:
JK 8,7
SBY 8,6
Mega 6,7

“Secara keseluruhan, JK tampil lebih menonjol selama debat antarcapres,” komentar Firmansyah.

JK dianggap paling logis dan kreatif menyampaikan pendapatnya selama debat. Kalla mendapat poin 8,85 sementara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 8,6, dan Megawati Soekarnoputri 6,1.

Untuk penguasaan panggung kategori body language (bahasa tubuh), JK juga unggul 8,85 atas SBY (8,15) dan Mega (6,55).

Untuk ketepatan waktu, SBY unggul 8,65 atas Kalla 8,45 dan Mega 5,9.

Bagi saya, tidak ada gunanya angka-angka itu secara praktis bila tidak dikaitkan dengan “kemampuan melaksanakan”, bukan sekadar “kemampuan mengatakan”. Banyak orang yang pintar berpidato, tapi tidak cakap mengeksekusi. Sebaliknya, banyak orang yang pintar mengeksekusi tapi tidak pintar berpidato. Idealnya: pintar pidato, pintar melaksanakan.

Saya menemukannya ketika tim akademisi itu menyampaikan cara berpikir mereka. Dari sisi logis (dalam arti apa yang disampaikan masuk akal, reachable, realistics), JK jagonya. SBY jago dalam soal penyampaian yang sistematis.

Cara berpikir SBY juga cenderungan “taat aturan” sedangkan JK cenderung mencari inovasi untuk mengurai benang kusut dan menyelesaikan masalah.

Mega? Tim akademisi menilai terlalu berpikir normatif.

Dari uraian itu dapat dikatakan bahwa JK tidak hanya pintar bicara tapi punya potensi besar untuk pintar mengeksekusi. Bila dikaitkan dengan rekam jejak dia menyelesaikan kasus2 yang rumit seperti Aceh, Poso, dan Ambon, maka sangat jelas bahwa potensi mengeksekusi itu menjadi kenyataan.

Saya juga membaca tulisan Kompas mengenai psikologi para capres. Yang menonjol dari JK adalah kemampuannya melahirkan inovasi, cara baru (tentang bagaimana JK mengelola krisis dengan cara2 baru, lihat http://public.kompasiana.com/2009/06/16/aceh-dan-sinetron-jk/)

Pada posting sebelumnya mengenai gaya kepemimpinan JK, saya menulis:

“Konflik Aceh dianggap sebagai separatisme selama 30 tahun sebelum JK terjun ke Aceh dan mengatakan tidak, itu bukan masalah separatisme. Aceh, seperti juga Papua, adalah masalah ekonomi. Persisnya, masalah ketidakadilan ekonomi.

Poso dan Ambon oleh pemimpin lainnya dianggap sebagai masalah konflik agama. Di Ambon bahkan ditemukan elemen2 separatisme dalam kasus RMS.

JK tegas mengatakan tidak. Itu masalah ekonomi. Masalah ketidakadilan. JK menyelesaikan masalah itu, dan Ambon serta Poso aman sampai sekarang.”
http://public.kompasiana.com/2009/06/27/kepemimpinan-beda-j k-dari-sby/

Pada posting yang sama, juga ditulis:
“SBY pemimpin yang baik. Boediono adalah ahli ekonomi yang sudah teruji. Tapi, saya percaya, kedua pemimpin melihat masalah Indonesia dengan cara2 lama, karena itu akan menyelesaikannya pula dengan cara2 lama. Hasilnya sudah bisa ditebak.

Sementara JK akan mengelola dengan cara2 baru, yang hasilnya tentu akan melahirkan kejutan2. Itulah yang kita lihat dalam penyelesaian Aceh, Poso, Ambon, pembangunan infrastruktur, bahkan dalam proyek listrik 10 ribu MW.”

Banyak pemimpin dengan visi besar, tapi sedikit pemimpin dengan keterampilan mengeksekusi visi menjadi misi. Visi adalah apa yang kita ingin capai, sedangkan misi adalah cara mencapainya.

Ke dalam cara mencapainya itu dikenal prinsip SMART: Specific (spesifik), Measurable (terukur), Achiveable (dapat dicapai), Realistic (realistik, tidak mengawang-ngawang), Time (bound) atau ada jangka waktu.

Melihat apa yang sudah dicapai JK selama masuk di pemerintahan, saya percaya bahwa JK terbiasa dengan visi besar, tapi juga terbiasa dengan prinsip SMART.

Kita percaya bahwa Megawati memiliki visi sangat besar, tapi (mohon maaf, ini pendapat subyektif): saya agak ragu dia tahu cara mengeksekusinya.

Saya menulis pada posting sebelumnya:

“Terus terang, itulah yang membuat saya ragu bahwa SBY akan efektif tanpa JK. Banyak prestasi besar pemerintah, paling tidak menurut JK, yang lahir karena JK mengeksekusi keputusan, mengawal rencananya secara detail.”(http://public.kompasiana.com/2009/06/24/sby-jk-dan-ef ektivitas-kepemimpinan/)

Pada debat capres putaran kedua, JK mengingatkan SBY tentang suatu program. Sudah ada keppresnya, sudah ada timnya, tapi tidak jalan-jalan. Masalahnya bukan pada program, bukan pada tim, tapi pada level eksekusi.

Jadi, mestinya, JK tidak hanya menang di debat, tapi juga akan menang di level eksekusi.
Mari berdiskusi. Mohon maaf bagi yang kurang berkenan.

Salam Kompasiana

Mufida

7/2/09

The Power of Choice hari ini

Hari ini,
bangun pagi-pagi, lalu tidur lagi (biasa...), aktivitas pertama adalah membantu mencerdaskan kehidupan bangsa di dunia pendidikan pada khususnya kegiatan kejar paket A, yakni dengan membantu mengeprintkan foto-foto peserta sekolah kejar paket A.

sebagai catatan, hari ini saya terlalu banyak makan gorengan, pagi tadi 1 bakwan dan empat tahu isi, siangya di sitapen 1 bakwan lagi dan sorenya di L22 1 bakwan lagi dan ini rencananya akan ke sega bandem yang tidak lain akan ada gorengan bakwan dan sebangsanya lagi disana.

menjelang jam 08.00 pagi aktivitas print foto selesai, dilanjut dengan finishing dan print dua proposal sekaligus, yakni proposal ospek SPC dan proposal Seribu Semangat Ramadhan. Lalu dilanjutkan dengan aktivitas yang penuh perjuangan (melawan dingin), yakni mandi.

Sambil menunggu SMS dari Andri saya mengetik beberapa halaman untuk diposting hari ini, lalu sesuai jadwal (terlambat setengah jam si...) tiba juga di Sumpiuh untuk melakukan komunikasi politik dengan bu Puji, pemilik kios yang akan jadi tempat usaha Semangat Donk cabang Sumpiuh (ciee... gayane...).

Lepas melakukan komunikasi politik dan menggenapkan uang muka, langsung mencari info seputar tukang, PLN, telkom dan perijinan seputar usaha. Lalu dilanjut meluncur ke daerah Mijo di Tambak sana... kebablasan sampai melewati dua toko yang semuanya ada truknya, mbalik lagi ke arah barat, di tikungan miring bernama pereng, segera saya berkoordinasi dengan PLN bersama Andri.

Karena belum bisa ditemui dan disuruh menunggu, maka saya dan Andri mengadakan rapat singkat seputar persiapan MD Sukabumi yang mana Azis dan Hilmy sedang meluncur kesana. Hitung-hitungan dan strategi yang mungkin dibahas. Lalu meluncur ke sebuah rumah yang sedang pasang baru di sebelah barat underpass rell KA tambak. Meminta info dari petugas, kami bergegas ke PLN Sumpiuh yang letaknya di tikungan pula.

Lepas dari situ kami beranjak ke tukang teralis di daerah Wijahan, cukup lama berdialog dengan karyawan sana. Namun, kami banyak mendapat informasi.

Seperempat jam kurangnya dari jam 12.00 siang yang begitu panas, kami melanjutkan perjalanan ke Kroya, menuju Telkom. Sayang disayang sedang tutup karena istirahat, tapi tak apa, kemarin sudah ketemu pa Mungkas inih.

Setelah itu segera meluncur ke Banyumas, menurukan Andri di Cilwek, singgah di Sumirat untuk menemukan DVD-R, lalu mengembalikan kamera ke kedunguter. Dan meluncur ke rumah Ria di Kalisube seorang diri. Oh lupa, sholat dhuhur dilangsungka di kedunguter, mushola depan rumah mbah.

Cukup lama, dapat beberapa halaman ketikan di rumah Ria, selain mendapat ilmu juga yang akan saya posting nanti lah ya. kepentingan saya selesai, janji sayapun tertuai, segera menuju ke Purwokerto.

Yang pertama disinggahi adalah kafe Sitapen, dalam perjalanan melintas depan rumah Sukma, ada Sukma dan teman-teman batikkan, darimana ya? sudahlah... Lalu segera meluncur ke L22.

Chek email salah satunya ada kiriman dari Eko Laksono, saya posting nanti juga ya. Kemudian dilanjutkan dengan sedikit koordinasi MD, Ashar, lalu update berita dan update blog, segera menunaikan Maghrib di Baitul Arqom. Selesai Maghrib diadakan rakor intensif dengan Andri dan teleconference dengan Azis dan Hilmy... lalu dilakukan analisis, pemetaan dan perhitungan ulang, dengan berbekal istikharoh, hati ini mantap memilih : Cancel.

Cancel untuk event sukabumi harus diputuskan jam 19.00, mudah-mudahan ini keputusan terbaik. Lalu dilanjut dengan sholat Isya. Menjelajah di Kompasiana, lalu streaming TVone untuk menyaksikan debat capres final dilanjutkan dengan debat timsukses, lalu chating dengan Iyes dan Bunda Ery.

Dan akhirnya mengetik postingan ini. Menurut rencana, masih ada agenda setelah ini, yakni rakor perubahan rencana dan konsekuensi pembatalan Sukabumi yang akan dilangsungkan entah dimana.

8 Juli Petang, Kita Lihat!


Sewaktu jalan-jalan di Gramedia, saya melihat buku yang mengupas dua tokoh, JK dan Sri Sultan... Waktu itu belum Pemilu Legislatif acan. Nah, di sampul buku itu ada tulisan, salah satu dari dua tokoh ini akan jadi presiden.

Nah, selang beberapa lama, kita tahukan hanya JK yang lolos jadi capres... Hm, Sultan tersingkir. Pertanyaannya? terbuktikah kebenaran buku itu? kalau JK benar2 jadi presiden, maka buku itu berarti benar, kalau tidak...

Kalau buku itu terbukti benar, dan masih ada di Gramed Pwt, saya pengen beli.

19.00

Bismillahirohmanirrohim. Lebih cepat pulang lebih baik.

Menyusul Kakaknya


Ade ke-2, kemarin baru menyusul kakaknya, juara lomba di tingkat kabupaten. Juara 3 lho, tu foto sama pembesar bangsa ini (kepala dinas deh kalau nggak salah)...


ya, saya mengakui kepandaian dia. Tapi ya itu, jujur saya katakan, dia termasuk yang beruntung, ade mendapat labeling positif dari sekelilingnya begitu hebat, lantaran bapak-ibunya guru yang dihormati di kampung saya, lantaran saya yang pandai juga kali, hehe...


makanya kepercayaan dirinya terus menguat, sehingga bisa menelorkan prestasi, baru kelas 5 SD tapi udah beberapa piala dan piagam yang dia dapat. Tapi, yang ingin saya kemukakan disini adalah soal labeling tadi, saya tahu, dikampung saya sebenarnya setiap anak bisa seperti ade saya itu, tapi ya itu, orang2 kampung yang bukan anak guru (dan yang nggak punya kakak pandai kayak saya, hehe, becanda...) tidak seberuntung ade saya, tidak mendapat label positif dan label hebat dari lingkungannya..


alih-alih ade saya mendapat label "kamu hebat, kamu pandai...", eh, yang lain cuma dapat label "kamu kui cah ndeso...". Sedih saya, tapi ya memang belum banyak yang bisa saya lakukan, mereka tiap hari memang mendapat tambahan hafalan dan beban rumus-rumus selama 6 tahun di SD, tapi imajinasi mereka, kepercayaan diri mereka, kebanggaan diri mereka, luluh luntur pada setiap teguran, celaan, dan ungkapan negatif sekelilingnya.


Dan sekolah kita, sekalipun katanya sudah 20%, masih lebih memperhatikan pembangunan taman berair mancur, ketimbang menggugah kebesaran jiwa dan kebesaran pikir anak didik mereka... .

Sekolah itu Membodohkan


Pembodohan ini menimpa adik saya yang paling kecil, yang tahun besok masuk SD. Bayangin aja, dia dah pandai membaca, daya nalarnya cepet kalau aku uji pikirannya, imajinasinya juga bagus... dia anaknya sangat PD, berani (kecuali ke ombak, paling takut..), dibanding mbaknya yang pencemas, dia ngikut lomba dengan tenang-tenang aja, dan hasilnya... kalah....


Sudah2, lepas dari semua itu, karena aturan negara ini bernama sekolah, dia harus masuk ke kelas 1. Terpaksa deh, dia harus pura2 nggak pandai baca tulis dulu, pura2 baru kenal angka (padahal dah bisa ngitung awangan sampai ratusan, soalnya dah ikut Matematika Dahsyat si.. bener, suwerr dia bisa)


Imajinasinya harus disimpan, agar tidak dimarahi guru karena menjadi anak yang nggak nurut... ah, kasihan sekali, kecerdasan adikku dikebiri. Yah, tapi tetaplah, aku akan sering mengajaknya bertualang, agar walau dia dikungkung di kelas bertembok tinggi dengan tata cahaya redup redam, mimpi dan imajinasinya tetap menyala...


Dia harus jadi orang hebat, harus juga pinter ngaji, adik yang sholehah (walau sekarang masih susah disuruh beli baju muslimah)... Halo2... yang mau jadi mbaknya adekku, bisa message ke 12.izky@gmail.com, walau udah menetapkan pilihan, tapi saya masih membuka peluang.. huehe

Cukup Satu Putaran (pengen kalah gasik ni?)


Pemilu Satu Putaran, itu adalah slogan salah satu kandidat yang menurut saya ada muatan 'takabur'-nya, katanya agar hemat 4 triliun. Ya, mudah2an saja harapan sang kandidat tercapai, cukup satu putaran saja, selanjutnya kalah sehingga putaran kedua dia tidak ikut maju lagi, hehe. Itu skenario pertama.

Sebelum skenario kedua, kenapa atuh berani-beraninya saya ikut mengatakan slogan itu takabur? banyak alasannya, saya sebutkan salah satunya saja, yakni karena kandidat ybs (baca : yang bersangkutan--boleh juga dibaca dari belakang..) sering melontarkan statement bernada takabur lainnya, diantaranya tiga saja saya sebut disini : pertama, salah satu petinggi partainya mengatakan, kandidat ybs kalau dipasangkan dengan sandal jepit saja pasti menangnya (hebat ya membodohi rakyat, sampai-sampai disuruh milih sandal jepit saja dibuat mau, penggiringan opini publik yang hebat tapi menyesatkan).

Kedua, slogan "lebih cepat lebih baik" disebut takabur dan ngawur (penghematan pembangunan bandara dibilang ngawur, pembangunan infrastruktur listrik 10.000 megawatt disebut ngawur, perdamaian Poso dan Aceh disebut takabur).

Ketiga, ungkapan ybs yang menyebut dirinya 'ksatria' yang tidak seperti kandidat yang lain yang menyerang-nyerang, tapi lihat saja survay Republika dan sering saya lihat, dengar dan rasakan langsung kandidat ybs-pun juga tak beda, sama, sering menyerang juga.

Soal pilihan, saya memang aliran ABS. Tapi, ya siapapun yang jadi, tak masalahlah. Terlalu banyak masalah yang harus dibenahi, kalaupun kita kritis, diantara 3 kandidat yang paling smart orang rasional dari belahan bumi manapun pasti akan mengatakan kandidat no.3. Tapi apakah jaminan, kalau no.3 yang jadi negeri ini akan sejahtera dan nama no.3 akan bercitra istimewa? jawabannya menurut saya : belum tentu.

Karena apa? karena negeri ini butuh banyak sekali keputusan-keputusan yang tidak populer, dan pemulihan krisis yang sudah begitu mengakar ini sulit menunjukkan perubahan indah dalam waktu cepat, sekalipun tindakannya sudah cepat.

Jadi, menurut saya, siapapun kandidatnya, dalam 5 tahun kedepan akan terjadi pergolakan bahkan mungkin chaos. Tinggal masalahnya, chaos itu terjadi karena presiden disetir asing, presiden limbung, rakyat dirugikan. Atau chaos terjadi karena keputusan presiden yang tidak populer tetapi sesungguhnya keputusan itu untuk kepentingan rakyat.

Tulisan saya muter-muter, intinya saja. Biarkan SBY jadi, kalau memang benar semua yang berdengang-dengung, tentang neoliberalnya ekonomi beliau, tentang sekulernya agama beliau, tentang tipisnya nasionalisme beliau (bahkan Amerika disebut negara keduanya), tentang ke-jaga image-an beliau, tentang kecerdikan timses para bala kurawa beliau, maka kemenangan itu adalah bencana bagi SBY itu sendiri. Siap-siaplah menunggu kehancuran dengan citra buruk di akhir masa perpolitikan Anda.

Atau jika semua statement itu tidak benar, maka siap-siaplah berubah watak untuk tidak mudah tersinggung, tegas tidak mudah disetir orang-orang sekelilingnya, dan pangkas birokrasi mendekatlah pada rakyat bila ingin akhir masa perpolitikan Anda gemilang.

Soal JK? Sebagai capres memang smart, tetapi sebagai Presiden, bisa saja bukan hanya smart tapi juga brave! bisa juga kemungkinan lainnya. Lihat saja! 'Lanjutkan' tanpa JK tidak bisa, karena bunyinya hanya akan menjadi 'lanutkan'.

Jalan Semangat


I imagine that word "semangat" will be an identity of Purwoerto City, like word "jogja" on Yogyakarta.

Jalan Kalisari akan berubah nama menjadi Jalan Semangat, karena toh Kalisari sudah menjadi nama kampung disitu. Begitu juga Perumahan Griya Satria Indah 2 akan saya ajukan penggantian namanya menjadi Perumahan Semangat, saya rasa konvensi warga akan menyetujui karena toh nama Perumahan yang mirip sudah banyak sekali di Purwokerto, ada Griya Satria Indah 1, Griya Satria Permai 1, Griya Satria Permai 2, Griya Satria Mandala dan entah Griya Satria mana lagi. Tentu ini membingungkan.

"semangat" dengan font yang khas akan menjadi identitas, mulai dari pusat kota hingga merk kaos, logo oleh-oleh dan banyak lagi lainnya dari kota Purwokerto.

Dari Bocah Katrok, Kenal di Kompasiana


Kesalahan terbesar Pak SBY adalah memilih Pak Boediono sebagai CAWAPRES sehingga membuat partai-partai koalisi pendukungnya banyak yang kecewa. PAN dan PKS yang awalnya menuding Pak Boediono tidak mewakili kepentingan ummat dan seorang ekonom NEOLIB. Entah kenapa setelah isu itu bergulir, kok yang dianggap mengangkat isu itu adalah Capres/Cawapres lain.

Padahal menurut Tim Suksesnya (Anas Urbaningrum, yang notabene seorang intelektual dan mantan dosen), Pak SBY itu sudah pasti akan memang walau pun hanya dipasangkan dengan sandal jepit.

Coba kalau Pak SBY memilih Sandal Jepit sebagai Cawapres, pasti masalah-masalah berikut tidak akan terjadi :

Pak Mahfudz Siddik (PKS) tidak perlu repot-repot meminta Bu Ani berjilbab.
Pak Tifatoel (PKS) tidak perlu repot2 mengajak Pak Boediono umroh.
Pak Tifatoel (PKS) tidak perlu pasang badan untuk menjadi JUBIR Pak Boed dan Bu Hera, hanya untuk menjelaskan status keagamaan Bu Hera dan mengatakan bahwa Bu Hera sudah belajar ngaji kepada kader PKS
Rizal Mallarangeng tidak perlu repot-repot menyerang Pak Kwik tentang isu neolib.
Dan Pak Tifatoel tidak perlu menjadi “pembohong” yang keblinger, plin-plan, pagi marah, siang mesra.

Dan saya yakin bila Pak SBY dipasangkan dengan sandal jepit pun, pendukung-pendukung SBY yang tipenya adalah pendukung fanatik buta, tidak menggunakan akal sehat, BONEK, dan sangat mengkultuskan Pak SBY, tetap akan memilih Pak SBY. Dan bila Pak SBY menang, setidaknya bisa menujukkan kepada dunia, bagaimana tingkat pendidikan mayoritas masyarakat Indonesia yang telah memilih sandal jepit (merek swallow hehehehe) sebagai wakil presiden, hanya karena fanatik dan cintanya kepada Capresnya.

Salam Kompasiana

Bocah Katrok

Kreatipnya...

Sebuah tempat cucian motor yang memberikan servis layanan cuci hingga motornya mengkilap memberikan nama tempat usahanya : KON KIN CLONG

Satu persewaan tarub untuk hajatan yang ingin memberitahukan bahwa di tempatnya juga menyewakan sound system memberikan nama usahanya : ADA SONYA

Seorang bapak bernama Jamin menghendaki usaha baksonya laris dan dipercaya kualitasnya oleh konsumen, memberikan usahanya nama : JAMIN NAN MUTU

Akuyah Ayukah

Saya katakan padanya "luar biasa", ketika satu hal tak mencapai titik terang, satu semangat solutif mengalir, untuk ketemu, untuk ngobrol, yah... salut saya,
walau baru petang ucapan selamat hari lahir saya terima,
sungguh, saya hanya sampaikan, terima kasih... saya bahagia.

Materi 30 Juni (3)

6. Memperbaiki ‘konsep diri positif’

Kebiasaan dari kebanyakan kita adalah mudah sekali menghakimi diri. Apa maksudnya? Maksudnya, ketika kita mendapati perjalanan sebuah proses dan menjumpai tertundanya tercapainya suatu keinginan maka dengan mudah kita hakimi bahwa kita telah gagal, bahwa diri kita tidak lebih baik dari orang lain.

Saya mencontohkan suatu kejadian di sebuah kepanitiaan yang mengadakan suatu pelatihan tetapi terlambat mulainya 30 menit dan beberapa peserta terlambat mendapatkan materi pelatihan, panitia diprotes oleh beberapa peserta di akhir pelatihan. Maka dengan raut putus asa, beberapa panitia menghakimi diri sendiri bahwa pekerjaannya tidak becus.

Ini adalah sikap yang merusak, karena bisa jadi kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan itu bukanlah semata-mata karena kesengajaan panitia. Karena itu, cobalah untuk berpikir lebih luas, ternyata diluar sana masih banyak panitia kegiatan yang terlambat hingga dua jam, yang tidak memberikan fasilitas memadai untuk peserta, yang pembicaranya tidak menarik sama sekali, yang ruangan pelaksanaan tidak nyaman.

Nah, dari ilustrasi itu kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya memandang kekurangan diri tidaklah dianjurkan untuk digunakan sebagai alat menghakimi diri. Kekurangan yang kita lakukan hanya kita lihat untuk bahan evaluasi saja. Cukup.

Mengapa demikian? Hal mendasar soal memghakimi diri adalah pada proses pembentukan konsep diri kita. Sangat berbahaya bila karena satu atau beberapa kesalahan lantas kita memandang negatif terhadap diri kita sendiri, alhasil yang terbentuk adalah konsep diri negatif. Konsep diri negatif hanyalah akan menghasilkan tindakan dan hasil yang negatif pula.

Maka, tantangan kita dalam menjalani proses adalah bagaimana kita mempertahankan bahkan meningkatkan konsep diri positif, sekalipun kita terlanjur berbuat kesalahan. Konsep diri positiflah yang dapat melahirkan tindakan dan hasil positif.

Untuk lebih bisa memahami tentang konsep diri, saya ilustrasikan dengan cerita anak elang yang bertemu dengan induk ayam. Alkisah pada suatu masa ada seekor elang yang melahirkan anak, yaitu anak elang, karena suatu bencana angin rebut, maka kedua insane hewan itu terpisahkan satu sama lain. Lalu, ketika seekor induk ayam sedang berjalan-jalan sore, tiba-tiba dia berjumpa dengan anak elang yang sedang kebingungan dalam kondisi payah mungkin kelaparan juga, maka karena iba, induk ayam itu membawa si anak elang ke rumahnya. Di rumah si induk ayam, diperkenalkanlah anak elang itu kepada anak-anak si induk ayam yang banyak jumlahnya.

Ternyata ayam memang baik, si anak elang itu sudah dianggap keluarga sendiri, bermain kesana-kemari bersama. Hingga beranjak remaja, ketika sekumpulan anak ayam dan ada anak elang juga sedang berjalan-jalan, tiba-tiba seekor elang terbang rendah dan menghampiri mereka, semua ketakutan, tapi tidak berapa lama si induk elang member penjelasan dengan begitu lembutnya, bahwa kedatangannya bermaksud menjemput anaknya yang dulu hilang.

Si anak elang diajaknya pulang, malang nian, ketika diajak terbang ternyata si anak elang tak bisa terbang. Tapi, si induk elang tak juga menyerah, terus mengajaknya dan mengajarinya, tapi tetap saja dia tak bisa terbang dan tetap merasa bahwa dirinya tak beda dengan anak-anak ayam yang sudah bersamanya sedari lama.

Begitulah, seekor elang yang memiliki konsep diri sebagai ayam, untuk terbang saja susah. Dan untuk menjadi hebat, manusia tak perlu memiliki konsep diri elang dulu, karena kalau kita mengembalikan konsep diri kita yang sejatinya, maka kita jauh lebih hebat dari elang, tak terbandingkan.

Sekaranglah saatnya mengoreksi, apakah kita begitu merasanya sebagai seorang pecundang akibat bentukan konsep diri lingkungan kita yang tidak membangun? Perbaiki segera, sebelum berlarut semakin parah.

7. Kemana karakter kita diarahkan?

Setiap orang memiliki personality atau tipe kepribadian yang berbeda-beda satu sama lain. Kita mengenal empat tipe umum, yakni : Sanguinis yang Populer, Melankolis yang Sempurna, Plegmatis yang damai dan Koleris yang Dominan. Setiap orang menonjol di salah satu atau beberapa tipe personality itu, walaupun ada yang personality-nya rata-rata saja atau disebut asertif.

Setiap tipe itu, memiliki ciri khas masing-masing, misalnya tipe plegmatis memiliki ciri tenang, setia, dan menerima. Lalu melankolis memiliki tipe, peka, analitis dan sebagainya.

Baik atau jeleknya seseorang tidaklah ditentukan oleh termasuk tipa apa orang itu secara personality. Nah, berarti bergantung pada apa? Bergantung pada bagaimana kita mengelola ke-khas-an personality kita. Tipe kepribadian yang kita miliki bisa diarahkan menjadi kelebihan tetapi juga bisa menjadi penyebab kelemahan kita.

Langsung saja pada contoh agar mudah dipahami, misalnya kita termasuk pribadi plegmatis, kepribadian kita yang tenang, setia dan menerima bila diarahkan menjadi sikap cuek, acuh-tak acuh dan suka mengekor hanya akan membuat lemah diri kita. Tetapi sebaliknya, bila kita arahkan itu menjadi sikap tidak mudah terprovokasi, sikap loyal terhadap pekerjaan dan tidak memforsir diri mencapai keinginan, maka semua itu akan menjadi bekal keunggulan pribadi kita.

Begitu juga bila kita seorang pribadi melankolis, bila kepribadian kita yang peka dan analitis diterapkan pada sikap mudah tersinggung dan menganalisis urusan orang, maka bisa jadi itu akan memundurkan kualitas diri kita. Tapi bila diterapkan sebaliknya, menjadi sikap detail dalam merencanakan dan teliti dalam membaca keadaan, maka hal itu bisa menjadi keunggulan diri kita.

Jadi, ada dua kiat dari pembahasan kali ini. Pertama, kenali personality kita secara detail, bisa melalui identifikasi dengan self-talk yakni setelah membaca buku persona, atau menggunakan media test baik itu kuisioner maupun menggunakan mesin deteksi personality canggih yang saat ini sudah banyak beredar. Dan setelah kita mengenali betul, tinggal kita arahkan kepribadian khas kita itu ke sikap-sikap yang konstruktif, yang menguatkan kelebihan kita, bukan sebaliknya, melemahkan kita.

Tetaplah Be Yourself! Personality kita adalah modal yang luar biasa berharga, jadi tak usah berlagak menjadi seperti orang lain, akan menyusahkan diri sendiri malalan.