5/10/10

Spontan... uhuy...

Perjalanan seru kalau direncakan, tapi jauh lebih seru kalau tidak direncanakan alias spontan. Seperti kemarin, tidak ada niat untuk ketemu Purin di Sokaraja atau Neysa di Kalibagor, apalagi Ni Tiwen di Wlahar, tapi akhirnya sampai ke Kebasen, tempat tepian sungai yang asri dan diberkati (Ke = tempat tepian sungai, Ba = Asri, Sen = Diberkati.. Haha..).

Perjalanan yang spontan.. lebih uhuy... tak kalah menginspirasi..

Kali ini bener-bener ditepinya Kali Serayu

Pada bisa nyanyi ini nggak?

ditepinya sungai serayu
waktu fajar menyingsing
pelangi merona warnyanya
nyiur melambai-lambai
warna air sungai nan jernih
perahu berkilauan
desir angin lemah gemulai
aman tenteram dan damai
gunung slamet nan agung
tampak jauh di sana


bagai sumber kemakmuran
kerta kencana
indah murni alam semesta
tepi sungai serayu
sungai pujaan bapak tani
penghibur hati rindu


Cipt : Soetedja 

5/7/10

(serasa) Di Stasiun

bukan menentukan arah, menentukan kendaraan
Bukan sedang "menentukan arah", karena ini tidak seperti di persimpangan, tapi serasa di stasiun. Hiruk, pikuk, penat, riuh, berisik, ramai dan sendiri.

*sedang bingung, sedang perlu tambahan dorongan, dan sedikit udara baru.*

terima saja, ikuti.... lalu lepaskan

5/6/10

Kalibrasi Kesuksesan

Orang sukses selalu mengalami suatu kurva S tidur di titik terrendah, seperti penyakit cacar, minimal sekali. Kalau belum pernah mengalami tapi sudah sukses, siap-siaplah saja sewaktu-waktu akan menghampiri.

Masa ini pasti terjadi, mengapa? Karena orang sukses itu perlu dikalibrasi. Tanpa dikalibrasi, orang bisa jadi tidak sadar apa faktor yang membuat dia jadi sukses. Jangan-jangan dia sukses karena temannya hebat, dia sukses karena keberuntungan, dia sukses karena uangnya, dia sukses karena sesuatu yang ada diluar dirinya.

Dititik terbawah kurva S tidurnya itulah orang akan mengenali sebenarnya seberapa besar faktor penyukses yang ada di dalam dirinya. Ada banyak indikator sebetulnya untuk mengukur seberapa besar faktor itu, tapi saya ingin bagikan 3 yang umum-umum saja. Kalau faktor penyukses yang tertanam dalam dirinya itu besar, maka dia memang siap sukses, tapi kalau kecil bahkan tidak ada, hm, jangan bangga deh dengan kesuksesan yang akan orang itu raih nanti, rapuh, maya, nisbi, fatamorgana.

Kalau orang tipe kedua itu ditinggalkan temannya, kesuksesan akan berakhir. Kalau uangnya habis, juga demikian. Kalau keberuntungan enggan lagi menghampiri, pun demikian. Maka nikmatilah proses ke-blank-an, blank ide, blank uang, blank partner sebagai timing istimewa dimana enegeri The Power of Kepepet hadir tanpa diundang.

Nah, inilah 3 indikator yang saya maksud di atas dalam proses kalibrasi kesuksesan bernama BANGKRUT itu. :

Level 3 : Bunuh Diri 

Bunuh diri bukan hanya nyemplung sungai atau menabrakkan diri di depan kereta api loh ya. Bunuh diri dalam bentuk halus adalah dengan mematikan keyakinan dirinya akan keberhasilan, tidak ada lagi perasaan hebat dan kebesaran jiwa yang dimiliki sebelumnya. Mati sudah mimpi-mimpi dan harapan oleh benturan realita. Ya, nothing spesial lagi.

Manusia itu makhluk spesial, kalau dia sudah delete perasaan kespesialan terhadap dirinya sendiri, atribut2 spesialnya ia tanggalkan, bukankah itu namanya bunuh diri juga?

Level 2 : Menggadaikan Diri

Ia salahkah keadaan, ia maki-maki nasib yang ia terima, ia berpangku tangan seolah dirinya sudah tenang di dalam pegadaian dan masalah akan terselesaikan dengan kerelaannya mendekamkan diri selayaknya barang tergadai. Itu kondisi parahnya.

Kondisi ringannya, sebelum menggadaikan televisi, hape, atau apapun, cobalah level 1 di bawah ini. Menggadaikan barang-barang bukan pilihan bijak, kecuali bagi orang yang sudah tidak punya pilihan untuk berusaha.

Atau kalau tidak punya barang yang bisa digadaikan, gadaikanlah harga diri Anda dengan mencari hutang pinjaman kesana-kemari. Memang memalukan itu berhutang, tapi asal Anda berkomitmen melunasinya dan benar-benar melunasinya, it's not bad.

Level 1 : Menjual Diri 

Anda punya kaki, berjalanlah untuk menjajakkan dagangan. Anda punya mulut, bersuaralah yang dengan suara itu orang akan mendapatkan manfaat dan Anda berhak mendapat feedback berupa uang. Anda punya motor, berpaculah dengan waktu walau hanya menjadi sales. Anda punya channel, hubung2kanlah hingga mereka merasakan nilai tambah dan andapun uangnya bertambah.

Seberapa kuat Anda menghasilkan uang dalam kondisi minim, itulah kualitas seberapa tinggi derajat level 1 Anda. Kok uang? Ya, uang adalah indikator paling mudah, paling nyata dan paling real untuk menjadi indikator level diri kita.

Ke pegadaianlah sebelum Anda berpikir hanya bunuh diri satu-satunya solusi. Namun, sebelum ke pegadaianlah, berjualanlah kecuali benar-benar berjualan itu tidak bisa.

Menginginkan Istirahat

Ketahuilah, sungguh engkau berada pada medan pertempuran, sedangkan waktu itu akan berlalu dengan cepat. Maka janganlah engkau kekal dalam kemalasan.

Tidaklah sesuatu itu dapat terluput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah seseorang dapat meraih apa yang dicapainya melainkan karena kesungguhan dan tekadnya yang bulat.

Ilmu Tidak Akan Di Dapatkan Dengan Jasad Yang Selalu Menginginkan Istirahat...

Barakallahu fiik Ya Aba Umar

::Arif Anggriawan::

Kalau Mau Efektif, jangan Buat Rencana Pagi-Pagi!

Capaian, impian, target, perolehan... yah, apapun istilahnya itu biasanya ada di dimensi fisik kita, bukan didimensi quantum. Oleh karena itulah, kerja cerdas tidak bisa menjadi penukar kerja keras bagi seorang pemburu keberhasilan.

"Efektivitas kerja tidak bergantung pada ketersediaan (alokasi) waktu, tetapi pada ritme yang kita bangun".Dalil May Way Rizky ayat (1)


Apa maksud dalil di atas? Ya, kalau mau efektif, jangan buat rencana pagi-pagi!. Mengapa? Begini, sering tidak kita, pagi-pagi membuat rencana, lalu saat hendak melaksanakannya di jeda "istirahat dulu ah", hingga adzan Dhuhur berkumandang, ternyata belum mengerjakan apa-apa, hanya berkata "lho kok cepet banget ya sudah tengah hari", begitu sampai malam, ternyata keindahan rencana kita tidak serupa dengan hasil yang kita peroleh.


Ya, pagi-pagi itu bukan waktunya membuat rencana, pagi-pagi itu waktunya membangun ritme. Ini memang tips terlihat konyol, tapi coba praktekkan si, ketika Anda sedang ditimpuki serangkaian pekerjaan padat, atau akan ada acara penting, misal ujian bagi mahasiswa atau training bagi trainer, cobalah sibukkan waktu pagi Anda. Sibukkan dengan apa saja, dengan menyapu rumah, mencuci motor, lari pagi, menyiram tanaman, dan sebagainya sekalipun pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan prime time agenda Anda hari itu. 


Hm, apa gunanya, bukannya itu malah bikin capek? Tunggu dulu... itulah yang namanya membangun ritme, ketika dari pagi tubuh Anda sudah diadaptasikan dengan pekerjaan yang tap tap tap tap... disitulah enzim dan hormon akan membangun sebuah pola yang indah untuk hari yang indah Anda itu. Sederhananya, karena Anda sudah membangun ritme sibuk, maka tubuh Anda akan nyaman dengan kesibukkan, dan efektiflah hari Anda.


Bisa diterima?


Lalu, kita tidak usah membuat rencana? target? proposal hidup? Hm... siapa bilang? perhatikan judulnya : "Jangan buat rencana pagi-pagi...", buatlah rencana di malam sebelumnya, Otre?


Pagi-pagi adalah saatnya membangun ritme. Itu kiat membangun hari yang efektif, sehingga dimalam harinya Anda review "seharian saya sudah ngapaian aja ya?", Anda akan bangga dengan sepak terjang Anda sendiri.

5/3/10

Mradak

Rambu-rambu lingkungan meminta kita ke kiri, lah kok tetep maunya RIGHT? Mradak namanya... 
Saatnya bermain uang
Pelangi ini akan jadi uang berapa ya setelah bulan ini berakhir nanti?
Pagar untuk mlumpat, bukannya lewat aspalan malah lewat kebonan, dimarahin orang, kecocok duri, kepaduk batu, makan buah yang bisa diranggeh, itulah petualangan seru yang disebut mradak.

5/2/10

Tidak ada Shuttle Bus

Bagaimana si kalau seekor lalat, yang tadinya ikut kereta api dari Semarang ke Jakarta terus turun dan tidak melanjutkan lagi ke Cengkareng? Bandara Soekarno Hatta.

Bagaimana si kalau lalat enggan menclok di busway? Bagaimana kalau si lalat hanya berkutat di dalam stasiun? Bagaimana kalau si lalat malah tetap kereta itu kembali ke Jogja?

Manusia saja banyak yang bingung ketika turun di stasiun yang belum pernah ia singgahi sebelumnya, apalagi lalat. Tapi, kebingungan itu bukan alasan untuk si lalat untuk skeptis dan enggan naik busway kalau memang shuttle bus dari bandara tidak tersedia saat itu.

Akibat kurang tidur

Awalnya duduk di deretanm kursi-kursi putih itu

Lalu bergerak ke balik layar, dan kini sudah dipercaya tampil di atas panggung... Pa Edi Darmoyo, Semarang

Choice

Sebelum berangkat beberapa hari lalu, disebuah kesempatan saya singgah dirumahnya saya memperoleh banyak oleh-oleh. Salah satunya adalah oleh-oleh inspirasi seperti yang sedang akan saya tuliskan di note ini.

Ketika itu saya bertanya, "Saya ini sekarang sedang diragukan, bagaimana ini?", lalu teman saya itu menjawab, "lalu kamu mau mengiyakan kalau kamu memang meragukan, atau menunjukkan sebaliknya?"

"Saya sekarang itu sudah tidak dianggap, bagaimana ini?" lalu teman saya itu menjawab lagi, "lalu kamu mau mengiyakan bahwa memang kamu memang layak untuk tidak dianggap, atau kamu mau menunjukkan sebaliknya?"

Mereka yang bersikap, tapi kita yang mendapat ilmunya to? Ilmu The Power of Choice. Saat itu saya kembali sadar, hak memilih masih di tangan saya.

Lompat Kuadran

Si sebuah belahan dunia, banyak orang-orang dari kuadran kiri melompat ke kuadran kanan. Ada yang soft-jump ada yang hard-jump. Ada yang membuat sayap dulu baru lompat, ada yang lompat sambil membuat sayap. Di belahan dunia lainnya masih banyak orang-orang kiri yang konsisten dengan ke-kiri-annya, tentu dengan alasannya sendiri-sendiri.

Eh, dibelahan dunia lainnya ada orang-orang yang melompat dari kuadran sebaliknya, dari kanan ke kiri. Ada yang soft-jump ada pula yang hard-jump. Maksudnya, ada yang tetap menjalankan aktivitas kanannya, ada yang betul-betul pure pindah ke kiri. Dan di belahan dunia lainnya masih ada beberapa orang yang tetap persisten dengan ke-kanan-annya, tentu dengan kondisi-kondisi yang mendukungnya.

5/1/10

Banyak Jalan Menuju Karang Klesem

Beberapa pilihan jalan ke Karang Klesem
Kita memilih jalan kita sendiri-sendiri. Andri dan Azis memilih jalur lain karena ia ada tanggungan jangka pendek yang harus dipenuhi. Hilmy dan saya awalnya berjalan beriring-iringan, tapi sampai di tugu jalan merdeka kami berpisah jalan, entah berpisah jalan, entah berbeda kecepatan, yang jelas tidak terlihat lagi di spion saya.

Memang Azis dan Andri memilih jalan apa? Jalan yang mereka pilih adalah jalan Ringin Tirto, karena ada paket yang harus dikirimkan disana. Hoo... Saya dan Hilmy lewat yang jalan Karangkobar lewat arah SMA 2, karena menurut saya itu jalur tersingkat, teririt BBMnya.

Kalau Hilmy saya tidak tahu lewat mana, tapi setahu saya dia suka jalan yang lurus dan omber yang enak buat dibawa banter. Ya, itu semua pilihan tidak ada yang salah, yang salah kan kalau tujuannya ke Karangklesem kok mbawa motornya ke Cendrawasih... Nyasar... Ini yang harus dikoreksi.

Kalau tidak bareng-bareng begitu memang resikonya kalau ban kena paku dan mesti ditambal, atau ketilang atau apalah apalagi kayak saya kemarin cuma bawa uang pas-pasan 11.000 rupiah saja di dompet. SMS-an sangatlah membantu. Dan kalau tidak bareng-bareng, harus disadari kalau nanti sampainya pun tidak bareng-bareng juga, ada yang sampai duluan dan bisa lihat-lihat slender dulu disana, ada yang sampainya belakangan.

Itulah, sekelumit cerita perjalanan ke rumah Aan-betutu dan istrinya kemarin. Rencananya selasa depan Aan-betutu dan istrinya akan opening Mie Ayam Cendrawasih, di Jalan Cendrawasih, Kompleks Unsoed. Nah, kemarin itu acaranya trialnya, anak-anak L22 diundangi kesana untuk icip-icip.

Godaan

Knowledge itu godaannya adalah perasaan "merasa sudah berilmu". Idea itu godaannya adalah sikap "moody". Focus itu godaanya adalah bertebarannya peluang menggiurkan disekeliling kita. Positive itu godaannya adalah pembanding-pembanding yang ada disekeliling kita, yang semestinya tidak usah kita banding-bandingkan.

4/30/10

Sebaiknya Jangan Diulang

Seseorang meminjam Digicam kemarin, saat meminjam orang itu mengucapkan, "maaf ya merepotkan". Kalimat biasa itu menjadi tidak biasa karena dia ulang-ulang berkali-kali. Hm, saya jadi teringat nasehat dari Pa Fahrur dulu, mengucapkan "terima kasih" atau "maaf" sekali saja, jelek kalau diulang-ulang, atau bahasa gaulnya bukan jelek, tapi lebay.

Itu adalah alasan pertama dari dua alasan kenapa sebaiknya ucapan "maaf ya merepotkan" sebaiknya jangan diulang. Lalu, apa alasan kedua? Alasan kedua adalah bahwa sikap merepotkan itu sebetulnya tidak pas disandingkan dengan kata maaf, karena orang itu harusnya senang bisa merepotkan orang lainnya. Dengan kesediaan dia merepotkan, berarti orang itu terpakai, berguna.

Ya, maaf itu kalau tidak merepotkan, maaf itu kalau mengabaikan, kalau tidak memakai, tidak menggunakan. Setiap orang senang digunakan, tandanya masih berguna. Biar tetap berguna, teruslah tambahkan ilmu pada diri kita, karena banyak orang lain lebih bisa digunakan ketimbang kita.

4/28/10

Tentang Semangat Donk

"Semangat donk (masih) sedang mencari bentuknya."

L22, 8 April 2010 | 16.30

4/27/10

Keep Right

The Power of  Ngeyel
Buku tentang bagaimana membuat ruang pasar yang irrelevan

Berat juga melawan arus, tolong dibantu ya...
Dua KA Berlawanan arus
Slogan Owabong : Melawan Arus
Tetaplah menjadi An Extraordinary ki!

Persistensi

An Extraordinary People (Manusia Nggumuni), Nelson Mandela

Inggit Garnasih, dari tangannya buku-buku pembuka pikiran terus terselundup ke dalam penjara Banceuy

Yang dinilai sesungguhnya adalah bagaimana kita bereaksi terhadap apapun keadaan

Thanks to

Kalau diri saya yang 5 dan 10 tahun yang lalu datang dengan mesin waktu menemui saya yang hari ini, mereka pasti akan berdecak kagum saat menyalami saya, menyaksikan betapa sudah berubahnya saya saat ini.

Loh iya, perjalanan sudah mengantarkan saya hingga sekuat saat ini, tidak lain dan tidak bukan itu adalah hasil tarbiyah dari masalah-masalah yang saya temui. Karena itu, kali ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih, kepada para masalah yang silih berganti tidak pernah jemu menghampiri saya. Terima kasih, karena kalian telah menguatkanku dari waktu ke waktu, hingga saya bisa bereaksi atau menahan reaksi dalam bentuk yang dulu sama sekali saya tidak bisa.

Kata Mario Teguh, "Jangan kau tolak masalah, hanya karena tidak enak rasanya..". Masih terus belajar.

Tidak Gampang

Allah adalah dzat yang selalu memutuskan, makanya beliau sering disalahkan. Maka bila ada seseorang yang diberi kewenangan membuat keputusan, dia berarti sedang diberi kesempatan untuk "merasakan" menjadi tuhan,

dan ternyata jadi tuhan gak gampang ya, hue he he he he (AR)

Dibalik Jendela

Adakah pemandangan baik yang bisa terlihat dari balik jendela yang kotor? 

4/26/10

"Up", The Flying House Movie

"Up", sebuah film yang mengisahkan perjalanan sebuah rumah terbang "Flying house", saya sangat suka ini film. Hm, sudah berapa kali nonton, nggak bosen juga.

"Up", seperti GPS yang bisa sy baca sebagai peta panduan perjalanan hidup saya. Dari film ini sy bisa menerka, setelah menimpa masalah ini, lalu selesai, akan datang masalah apalagi ya? Hm, jadi lebih prepare.

PIXAR memang hebat, bukan hanya mendesain hiburan, tapi mendesain GPS kehidupan. Kita akan diantar, untuk sampai senyum sebahagia ini, terbang sebebas ini, atau bahkan lebih.

Hingga Hilang Sehilang-Hilangnya

Menurut saya Film Up lebih mengesankan daripada film The Miracle dari segi penggambaran jalan cerita. Si kecil Russel dan Kakek Fredricksen betul-betul harus kehilangan segalanya padahal saat itu mereka sedang berniat menolong Kevin, bukankah itu sebuah niatan yang baik? Russel sudah mengesampingkan lencana impiannya, Fredricksen juga sudah rela menunda perjalanannya ke air terjun Paradise hanya untuk menolong si burung unik Kevin yang sedang terluka menuju sarangnya.

Tapi apa yang terjadi, Kevin ditangkap oleh si pemburu bebuyutannya, rumah Fredricksen juga di bakar oleh si pemburu itu. Russel dan Fredricksen sama-sama bingungnya, harus berbuat apa saat itu.

Mereka sampai pada puncak krisis saat itu, disitulah Russel si anak mama yang sok petualang akhirnya berani terbang dengan balon hidrogen untuk menyelamatkan si burung Kevin. Fredricksen dengan tidak panjang berpikirpun akhirnya membuang perabot yang ada di rumahnya, sampai kursi kesayangannya dan istrinyapun ia tinggalkan untuk memperingan rumahnya agar bisa terbang lagi menyusul Russel menyelamatkan Kevin.

Begitulah, tonton sendiri filmnya. Puncak krisis mereka berdua adalah awal jalan kemenangan mereka. Awal kemenangan kebahagiaan mereka justru pada saat mereka dipaksa keadaan untuk hilang sehilang-hilangnya. Kemenangan yang lebih dari sekedar lencana, lebih dari sekedar rumah di sisi air terjun Paradise. Kemengangan yang pada akhirnya si anak manja Russel akhirnya bisa memanjat tali yang tadinya tidak bisa, kemengangan yang pada akhirnya si kakek mendapat keluarga baru hingga ia tidak kesepian lagi, cucu baru, tidak lain adalah Russel.

Menjelang akhir petualangan mereka ketika rumah terbang Fredrickson harus jatuh ke hutan rimba, Russel berkata kepada Fredrickson, "Maafkan aku atas rumahmu". Lalu Fredrickson menjawab, "Ah, tak apa, itu cuma Rumah kok".

Mengerti kah dengan pesan di dalam kisah ini?

4/24/10

Riwayatmu Dulu

Mobilnya Mas Hendro

Laptopnya Bu Nuniek

Motornya Mas Wendy

Ganti Mainframe

Kembali meyakini keajaiban demi keajaiban. Terinspirasi kata2 Hilmy "jangan pernah bernegoisasi dengan mimpimu".

Keajaiban itu ada kok. Siapa bilang keajaiban harus ditebus dengan kerja keras? Sombong amat kalau orang merasa suksesnya adalah bersumber dari kerja kerasnya.

Cara pertama untuk menjemput hadirnya keajaiban adalah dengan meyakini bahwa keajaiban itu ada, ada dan kita ada pula dalam satu sistem dengan keajaiban itu.

Cupek menilai diri kurang maksimal terus. Berapa banyak orang malas yang bisa sireng-sireng dengan uang miliaran.

Gambang Semarang di Semarang Tawang

Photo : Google

Menggugat Tuhan

Untung saya punya time planner. Time planner sebenarnya bukan hanya menguntungkan, tetapi sangat mnguntungkan bagi pemiliknya. Ada kata sangat, kenapa? Karena time planner memiliki fungsi untuk menata jadwal, acara dan janjian-janjian kita ke depan. Tetapi tidak hanya itu, time planner juga secara otomatis berfungsi untuk menjadi jurnal review perjalanan kita sebelumnya.

Dari time planner itulah saya membatalkan diri menggugat Tuhan. Tadinya saya ingin menggugat, kenapa target tidak tercapai memuaskan, kenapa tidak kunjung sukses dan kenapa ini dan itu banyak sekali. Tapi, sebelum gugatan itu disampaikan, saya buka-buka time planner saya untuk hari-hari yang sudah berlalu. "Lah saya sudah ngapain?".

Walaupun berat mengakuinya, tapi memang etos kerja saya masih selemah itu, belum pantas apa-apa yang tertulis di time planner itu dicerminkan secara ekuivalen dengan sukses yang saya impikan. Hari ini dan beberapa hari kedepan saya canangkan sebagai hari introspeksi ekuivalensi time planner dengan wall dream saya.

I'm Not Legend

Not di judul artinya adalah belum. Ya, saya tunda dulu saya mimpi saya jadi legend. I'm bisa lunasi utang dan lancar mengangsur + I'm punya minimal satu usaha yang mantap perputarannya sebagai dan bisa dijadikan basis. Itu saja dulu. Simple kan?

4/23/10

St. Hall

Photographed by : Rizky

Laka-Laka

Photograped by : Rizky

Pertemuan-pertemuan Penting

Saya lupa tanggalnya, tapi saya ingat betul suasananya, pertemuan demi pertemuan yang mengantarkan nasib saya sampai pada hari ini.

Red Crispy
Dengan Ambar, juga dengan Arif dan Mas Hendro. Itu mungkin kali terakhir saya memperbincangkan tentang apa yang biasa disebut Visi Indonesia Emas. Hasil prinsip pertemuan itu adalah Mas Hendro mendukung penuh rencana yang kita gagas. Rencana yang akhirnya kandas di tengah jalan. 

Jet Star
Dengan Mas Hendro, saya hanya bisa mendengar, menyimak dan mengiyakan sebagai tanda setuju dan mendukung gagasan-gagasan baik Mas Hendro. Yang nyatanya saya dalam prakteknya NOL besar.

Ruang Tamunya Ria
Terlalu banyak ilmu tertumpah di ruangan ini ke dalam benak saya. Disamping Time Planner, To Do List, Buku Kas dan IC-nya, Ria memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan kematangan jiwa saya. Filosofi mangkok, pelajaran tentang Inu, menjadi an extraordinary dan banyak lagi lainnya. Akan amat jarang sekali ada lagi obrolan di tempat ini, selamat jalan meniti karier di salah satu Bank terbesar di negeri ini yang ATM-nya ada di setiap universitas negeri Ri.

Ruang Tengah L22
Bersama teman-teman fosma angkatan lama. Akhirnya sayapun menjadi seperti Isma, Rani, Dana dan Iyes, itulah hari dan kali terakhir saya punya pengaruh di Fosma.

Ruang Depan L22

Saya mengetik ini, saya ingin bertemu dia di Samarinda.

4/22/10

Mengukur Seberapa Yakin Diri Kita

Alat ukur seberapa yakin diri kita atas apa yang sedang kita kerjakan adalah tidak lain dan tidak bukan godaan dari jalan-jalan lain yang sinawang nampak lebih indah, mudah dan murah dari kerja keras.

Satu demi satu ilmu yang saya terima dari slide-slide seminar entrepeneurship dari 2005 lalu harus dibuktikan satu persatu, bagaimana godaan tentang ini dan itu, bagaimana jalan teman-teman yang terlihat lebih nyamleng. Kadang saya tergiur juga ingin melengos, ah, tapi apa iya disana saya tak perlu kerja keras? Andai ada satu tempat disana yang tak perlu kerja keras, bukankah pasti akan ada ribuan orang berduyun-duyun mengerubuti dan memaksa saya akhirnya harus kerja keras?

Saya masih mau tetap dijalan yang sedang saya jalankan. Saya percaya ilmu demi ilmu yang bergulir pada saya yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya beberapa waktu belakangan ini adalah bentuk rejeki Allah SWT yang tidak diuangkan.

Dan bukankah pembeda antara orang beriman dan orang yang hanya merasa dirinya beriman padahal tidak beriman adalah ini : Orang beriman dikabarkan oleh Allah SWT bahwa rejekinya datang dari arah yang tidak diduga-duga. Maka orang yang merasa beriman tetapi masih meragukan kabar itu, dan melulu menatap prospek, bisa jadi dia belum benar-benar beriman. Yakin saja belum...

4/21/10

Bukan Robot

Saya itu berinteraksi dengan manusia, bukan robot. Maka wajar kalau ketemu dengan respeck down, turun semangat, mosi tidak percaya, tidak mood, muak dan aneka rupa rasa lainnya.

Yang terpenting adalah prinsip tetap saya pegang teguh, keyakinanpun demikian. Semua sikap yang saya terima, nasib yang saya alami, kondisi yang menimpa saya hanyalah alat penguji seberapa kuat keyakinan akan keberhasilan yang ada benak saya.

Pilihan di tangan saya, mengiyakan apa kata sekeliling saya bahwa "kamu nantinya akan gagal", atau membuktikan kepada orang-orang yang mengatakan itu kepada saya (baik secara lisan, sikap, sorot mata atau sekedar pancaran aura) bahwa prediksi kegagalan itu adalah keliru.

Tenang, saya memakluminya... Karena itu pula saya tetap tenang.

Terjun Sambil Membuat Sayap

Awal dari iman yang utuh adalah berhentinya analisa yang menakar kewenangan Tuhan. Kalau kita tidak lagi menghitung, menakar, sehingga Tuhan betul-betul masuk ke wilayah iman. Orang tidak bisa sepenuhnya disebut beriman kalau di dalam pikiran dan perasaan dan cara-caranya dia masih membatasi yang bisa dilakukan Tuhan.

Kalau kita berdoa bagi keajaiban, jangan kurangi kewenangan Tuhan sebagai pemilik keajaiban. Minta, lakukan! Alasan mengapa kita meloncat adalah tanda kepada Tuhan bahwa kita demikian percayanya sampai kita terjun walaupun tidak memiliki sayap.

Karena kita tahu Tuhan sangat waktu mengulur waktu yang satu detik terasa seperti sepuluh tahun. Atau membuat waktu yang panjang hanya terasa sempit tahu-tahu yang tadinya kehidupan itu menderita sekarang kita pimpin dalam kesejahteraan, dalam kebahagiaan, dalam kecemerlangan.


Maka terjunlah sambil membuat sayap, karena Anda betul-betul menyerahkan diri Anda kepada kepemimpinan Tuhan, maka perhatikanlah apa yang terjadi.

::Kutipan kesimpulan Mario Teguh dari MTGW : Terjun Sambil Membuat Sayap::

Super sekali.....

Susahnya Menerapkan Rumus

Hanya tiga rumus saja untuk bulan ini, tapi susahnya bukan muain. Ya, yang penting sudah dicoba, sudah maksimal, ukuran maksimal memang relatif, tanya dengan jujur saja pada diri sendiri sudah betul-betul maksimal atau belum, diri sendiri tidak akan berbohong.

Dua hal jadi saya dapatkan karena kesusahan menerapkan tiga rumus ini, pertama : sesuatu yang susah artinya tidak sembarang orang nantinya bisa akan menyusuli kita. Loh iya, artinya kalau kita masih mau mengusahakan, ketika kesusahan itu berhasil ditembus, kita sudah bukan orang sembarangan lagi.

Kedua : bisa jadi kita kesusahan karena memang kita saat ini masih jadi orang sembarangan. Setidaknya bukan orang sembarangan ya orang yang masih di level orang biasa. Apa tandanya kita masih level orang biasa? masih terpengaruh oleh variabel lingkungan di luar diri kita. Malah bukan terpengaruh, tetapi tersetir oleh hal-hal diluar diri kita. Misalnya, hujan jadi tidak berangkat. Misalnya kesal, jadi tidak mood mengerjakan. Misalnya mendapat respon penolakan jadinya lemah semangat. Atau misalnya ada yang membuat jealous jadinya sewot sendiri (wkwkwk....)

Inilah tiga rumus yang saya maksud, yang akan terus saya coba otak-atik.

4/20/10

Bukan Sedang Iseng



Semoga diberikan jalan untuk mewujudkannya.. amin...

4/19/10

Rancangan Mei Value

1. Seyogyanya alokasi modal paling prioritas adalah untuk modal pembangunan pelanggan (market)

Dalam memulai usaha kita membutuhkan modal. Namun, kuatitas modal bukanlah ukuran keberhasilan sebuah usaha, berapa banyak usaha yang modalnya besar tetapi kemudian bangkrut. Di Purwokerto contohnya adalah ayam cepat saji The Chicken yang menempati salah satu ruko lumayan mewah akhirnya tutup dalam hitungan bulan. Tetapi bandingkan dengan angkringan pertigaan jalan kampus, yang modalnya kecil dan pesaingnya banyak, setiap malam untuk mereguk omzet 1-2 juta bukanlah hal yang sulit.
Disinilah kita memerlukan strategi dalam mengalokasikan modal. Modal besar banyak dialokasikan untuk membangun tempat produksi terbaik, tetapi sebagian besar orang hanya menyisakan sedikit saja untuk penjaringan pelanggannya. Saatnya dibalik, seefisien mungkin membangun tempat produksi dan semaksimal mungkin membangun pasar.

Salah satu bentuk real mengalokasikan modal besar-besaran untuk pemasaran adalah memberikan harga khusus bahkan gratis dalam jumlah besar di awal soft opening usaha. Ini gambarannya adalah, alokasi modal yang tadinya akan dipakai untuk membuat tempat yang mewah, karyawan yang banyak dan sebagainya disubstitusi untuk membelikan bahan baku produk kita yang akan dibeli cuma-cuma atau dengan harga murah oleh konsumen-konsumen awal yang meramaikan usaha kita.


2. Sebaik-baik marketing adalah dari orang dekatnya, orang yang berhasil melakukan pendekatan dan dari orang banyak yang berkerumun

Sebuah usaha mengumbar diskon berharap pada tertarik datang, tapi dengan diskon itu orang justru jadi berstigma “oh, usaha ini sedang turun nih, makanya didiskon-diskon”. Sebuah usaha membuat spanduk dan baliho besar-besar, tatapi orang justru calon konsumen berasumsi “oh, ini promo mewah-mewah begini nanti jatuhnya aku yang bayarin, karena kan uang buat bikin spanduk dan baliho diambil dari pendapatan alias uang pelanggan”. Begitu juga sebuah usaha memborbardir brosur dan selebaran, tetapi yang ada di benak orang “wah ini lagi menjilat orang-orang biar pada mau beli disana nih’.

Begitulah, banyak orang berbisnis tanpa memahami filosofinya. Bisnis menjadi ajang untuk menggaet uang orang sebanyak-banyaknya, padahal bukankah tidak begitu filosofi bisnis, filosofi bisnis yang benar adalah bisnis untuk ajang melayani dan kita akan mendapat imbalan yang setimpal dengan tingkat seberapa puas orang itu terhadap kualitas pelayanan kita.

Itulah mengapa hanya ada tiga cara pemasaran (marketing) yang paling efektif dan tidak membutuhkan uang besar (yang dibutuhkan ketekunan besar).

a. Dari orang dekat
Promo dari orang dekat adalah kebalikan dari promo model bombardir brosur yang seakan menjilat bahkan mengibuli orang agar mau membeli produknya tanpa peduli orang benar-benar membutuhkannya atau tidak. Dari orang dekatlah prasangka negatif itu mental. Bayangkan kalau ada teman dari seseorang mengatakan “Itu loh beli disana enak”, “di toko X saja pelayannya ramah”, ampuh mana coba kata-kata itu dengan satu rim brosur fullcolor? Itulah ampuhnya pemasaran dari mulut ke mulut, asal kita telaten pasti sukses.

b. Dari orang yang melakukan pendekatan (bukan pengakalan)
Ketimbang kita membombardir seantero kota dengan brosur dan voucher diskon, lebih efektif kita menebar orang-orang yang bertalenta di bidang pemasaran. Orang yang bertalenta itu tidak serta merta menyerang orang untuk beli dan jadi pelanggan, terlebih dahulu orang-orang itu dikirimkan untuk melakukan pendekatan, setelah berhasil dekat, barulah promo produk dilakukan.
Model seperti ini kendalanya di mencari orangnya, tetapi ampuhnya luar biasa. Karena kita tidak menyerang orang dengan promosi kita, tetapi kita mengirimkan orang-orang yang bisa menjadi dekat dengan mereka, baru setelah dekat melalui orang-orang itu kita mencoba melayani mereka dengan produk kita.

c. Dari orang banyak yang berkerumun
Di dunia ini berlaku prinsip kebenaran (semu) mayoritas, maksudnya orang akan cenderung percaya kepada sesuatu yang diyakini banyak orang sebagai kebenaran. Begitu juga ketika orang melintas di sebuah tempat usaha yang ramai sekali orang berkerumun, orang yang melihat itu akan berpikir bahwa tempat usaha itu memang baik buktinya didatangi banyak orang.
Mensiasati agar di tempat usaha kita orang-orang berkerumun akan menjadi alat marketing yang ampuhnya mengalahkan baliho. Di Purwokerto di contohkan dengan Yogya Chicken, rasa biasa, harga standar, tapi laris, kuncinya adalah ketika awal-awal opening orang berkerumun ramai.

3. Produk generik lebih mudah dalam membuka pasar ketimbang produk yang unik. Produk generik yang berhasil meraih pasar adalah produk generik yang unik.

Gorengan itu generik, martabak unyil itu unik. Gorengan dikenal oleh semua orang sedangkan martabak unyil harus dikenalkan dulu baru orang pada kenal. Membuka pasar gorengan itu lebih mudah daripada membuka pasar martabak unyil, karena jauh sebelum usaha dibuka orang sudah mengenal dan mengkonsumsi gorengan, sedangkan untuk menjadi doyan, bahkan “klangenan” (baca : maniac) martabak unyil butuh waktu.
Namun begitu, untuk menjadi pemain utama di usaha generik yang kita bangun kita tetap harus membangun keunikan, bisa dengan keramahan peyananan yang hanya ada di tempat kita, rasa yang tidak ditemui di tempat lain atau lainnya. Jadilah generik yang unik.

4. Sebaik-baik ide bisnis

Apa si sebaik-baik ide bisnis itu? Sebaik-baik ide bisnis adalah yang dijalankan. Karena ide bisnis yang mudah akan mudah pula digunakan oleh orang lain. Ketika orang lain ternyata lebih tangguh dari kita, maka kita akan tenggelam oleh orang itu. Maka agar kita tidak tenggelam oleh perlakuan pesaing yang lebih tangguh, pilihlah ide bisnis yang sulit. Dan ide bisnis yang sulit akan membuat kita kesulitan, pusing, stress, gila, bangkrut hingga trauma berbisnis, maka bisa jadi ide itu akhirnya diambil alih oleh orang lain yang lebih tangguh.

Maka, tidak ada pilihan lain, mau ide bisnis mudah atau ide bisnis sulit, kata kuncinya adalah : KITA HARUS TANGGUH dan cara untuk tangguh apalagi kalau bukan mencoba, meningkatkan jam terbang.

4/17/10

Bisnis akan Menelanjangi Kita

Di bisnis orang yang omong doang akan menjadi barisan pertama yang segera pergi ke laut... Ya, karena setiap apa-apa yang kita ucapkan dan pikirkan akan diuji blang gamblang disini. Kita akan mengenal orang sesejatinya orang itu di bisnis.

Saya merasakannya, betapa ketika saya mengatakan, saya sungguh-sungguh kok. Eh, hantaman demi hantaman yang menguji saya bahwasannya saya sungguh-sungguh beneran atau tidak. Itu kejadian umum di dunia bisnis.

Kejadian lainnya adalah soal kepiawaian kita, saya tidak bisa mengelak ketika bisnis menelanjangi saya yang lemah di sisi direct marketing. Atau orang lainpun ada yang tertelanjangi, bahwa dia lemah di sisi konsep, lemah di sisi kerapihan administatf, dsb.

Itupun hal umum di dunia bisnis. Bukan itu yang harus kita perhatikan, tetapi sikap kita terhadap fenomena penelanjangan diri kita itu. Apa sikap yang kita pilih diantara alternatif-alternatif yang mungkin? Pertama : kita memaksakan diri untuk pada akhirnya bisa menutupi kelemahan kita itu dengan melatih diri. Kedua : kita mencari partner yang kuat di kelemahan kita itu sehingga kita bisa intens membangun kekuatan kita.

Keduanya bagus, terserah mau pilih cara yang mana

4/16/10

An Extraordinary Journey

Stasiun Besar Kroya

Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Stasiun Surabaya Gubeng


Stasiun Banyuwangi Baru

Pelabuhan Gilimanuk Bali

Pelabuhan Padang Bai Bali

Bandara Udara Internasional Selaparang Lombok


Bandar Udara Hasanuddin Makasar

Pelabuhan Pariwisata Bunaken

Jembatan Barito Kalimantan Selatan

Pelabuhan Batam Center

Pelabuhan Dumai

Terminal Bus Padang Sumatera Barat

Stasiun Gambir

Stasiun Kejaksan Cirebon

Kroya Kroya Kroya
Segera...

Grafik Belanja Pribadi Rizky 2010



Data diambil hingga 15 April 2010 dari sumber : Buku Kas Pribadi Rizky

Tidak Akan Pernah

Kalau kamu tak membuat kesalahan dan mengambil resiko, kamu tidak akan pernah melakukan apapun yang menarik...

*Tony Wheeler at The Lonely Planet Story diriwayatkan oleh Uliel Afwa

4/15/10

Kenapa Dhuha-Line Sejajar Ashar-Line

Menurut Anda, mana yang lebih penting, sholat Ashar atau sholat Dhuha? Apa alasannya?

Agus Mustofa dalam bukunya "Tahajud Siang Hari, Puasa Malam Hari" menjawabnya dengan jawaban yang mungkin berbeda, dia mengkomparasikan antara sholat wajib dan sholat sunnah, dituliskannya, kedua sholat itu sama-sama membaca Al-Fatihahnya, sama-sama didahului dengan wudhunya, sama-sama untuk Allah sematanya.

Nah, terus kalau sama, kenapa sholat wajib kebanyakan orang anggap lebih penting? Sebelum menjawabnya, mari kita simak analogi ini,

Misalnya ada dua orang anak SD, dia bilang pada gurunya bahwa masing-masing dari mereka sangat menyukai matematika, lalu si gurupun menguji mereka. Guru itu memberikan kepada mereka 10 soal, yang 5 soal pertama harus dikerjakan, yang 5 sisanya boleh dikerjakan boleh tidak, terserah. Lalu si anak yang pertama mengerjakan soal yang harus dikerjakan itu saja, dan si anak yang kedua mengerjakan semua soal. Nah, pertanyaannya, siapakah yang benar-benar menyukai matematika?

Tidak beda tata cara dan pra-syarat untuk Sholat Dhuha dan Sholat Wajib, oleh karenanya, bisa jadi, Sholat Dhuha (dan sholat-sholat lainnya) bisa jadi adalah sebuah pembeda belaka. Pembeda mana yang bersujud untuk menunaikan kewajiban belaka, dan mana yang bersujud karena mencintai yang ia sujudi.

CMIIW