9/14/10
Semudah itukah Mencap Orang Lain Sesat?
Kepada para kiai-kiai itu saya ingin bertanya ke mereka, ibadah itu ada (1) ATURAN dan ada (2) TUJUAN, apa cukup kita mencapai maqom kemuliaan tertinggi hanya dengan mencapai ATURAN ibadah saja, sehingga tidak perlu kita berpikir, merasa dan merenung tentang TUJUAN ibadah. Atau TUJUAN ibadah memang hanya sebatas mencukupi ATURAN2nya saja?
Jangan Pake "Mantese"
Mantese kepenak ya ngger nduwe bojo, mantese nyamleng ya nek wis ana kodean, mantese bombong ya ngger dadi kaya Aa Gym...
Mau sampai manapun diperturuti, "mantese" hanya akan berbuah kekecewaan. Ya, dalilnya jelas, jangan mengikuti prasangka, karena kebanyakan prasangka itu tidak benar. Nyatanya memang begitu, wong mbojo kepengen menyepi, wong ngode kepengin prei, wong penggede kepengen leren.
Itulah tingkatan hakikat kehidupan yang diajarkan Tuhan kepada manusia melalui proses. Bukan karena tidak mampu, Tuhan kok mengulur terkabulnya doa, memperpanjang masa prihatin sebelum sukses, cuma agar manusia tidak terjerat oleh pikirannya sendiri yang bernama "mantese".
Pada akhirnya, semua keberhasilan adalah karena Rahmat Allah. Upaya kita bukan penyebab keberhasilan kita, secuilpun tidak. Kalau konsep ini sudah tertanam bukan sekedar "mudheng", tetapi bener-bener "dong" alias "ngeh", saya yakin, tidak ada itu kita ngode dan bilang "kepriwe maning", tidak juga cemas dan kuwatir dikala jodoh yang dipanjatkan disetiap doa tidak kunjung hadir, tidak pula kemrungsung untuk mengharuskan diri menjadi penggede negeri.
Sekali lagi, bukan karena kerja keras terus kita jadi sukses, bukan karena dosa terus kita jadi gagal, karena Rahmat Allah semata. Kerja keras dan dosa itu hanya link untuk kita eling bahwa Allah itu dekat, rahmat-Nya itu dekat...
Bagi yang tidak mudheng, silahkan tanya langsung ke Allah... boleh kok.
Mau sampai manapun diperturuti, "mantese" hanya akan berbuah kekecewaan. Ya, dalilnya jelas, jangan mengikuti prasangka, karena kebanyakan prasangka itu tidak benar. Nyatanya memang begitu, wong mbojo kepengen menyepi, wong ngode kepengin prei, wong penggede kepengen leren.
Itulah tingkatan hakikat kehidupan yang diajarkan Tuhan kepada manusia melalui proses. Bukan karena tidak mampu, Tuhan kok mengulur terkabulnya doa, memperpanjang masa prihatin sebelum sukses, cuma agar manusia tidak terjerat oleh pikirannya sendiri yang bernama "mantese".
Pada akhirnya, semua keberhasilan adalah karena Rahmat Allah. Upaya kita bukan penyebab keberhasilan kita, secuilpun tidak. Kalau konsep ini sudah tertanam bukan sekedar "mudheng", tetapi bener-bener "dong" alias "ngeh", saya yakin, tidak ada itu kita ngode dan bilang "kepriwe maning", tidak juga cemas dan kuwatir dikala jodoh yang dipanjatkan disetiap doa tidak kunjung hadir, tidak pula kemrungsung untuk mengharuskan diri menjadi penggede negeri.
Sekali lagi, bukan karena kerja keras terus kita jadi sukses, bukan karena dosa terus kita jadi gagal, karena Rahmat Allah semata. Kerja keras dan dosa itu hanya link untuk kita eling bahwa Allah itu dekat, rahmat-Nya itu dekat...
Bagi yang tidak mudheng, silahkan tanya langsung ke Allah... boleh kok.
9/13/10
Bertanya
Apa umur idealis saya sudah habis ya? Saatnya menyerah pada persoalan-persoalan hidup dan menjadi manusia "ya, kepriwe maning..."
9/7/10
Pasak/Pilar yang Dipancangkan
Pasak/Pilar yang Dipancangkan tidak cukup dengan satu atau dua hari, atau dengan energi satu atau dua joule itu akan menjadi penjaga keyakinan kita dalam berikhtiar.
Terlaksana Sudah
Ditujukan kepada para donatur postingan ini di publis, minta maaf nih atas keterlamabatnya.
Telah terselenggara dengan baik, pelatihan inspirasi menulis dilanjutkan buka puasa bersama untuk putra-putri panti asuhan Darmo Yuwono, kala itu tanggalnya 20 bulannya Agustus 2010.
Ini dokumentasinya sekelumit...
Untuk teman-teman yang tertarik untuk ikut berpartisipasi dan berbagi inspirasi di pertemuan-pertemuan lanjutan, hubungi saya saja
Jazakumulloh khoiron katsiron untuk para donatur, salam sudah disampaikan bersambut doa dari saya dan mereka semua.
Telah terselenggara dengan baik, pelatihan inspirasi menulis dilanjutkan buka puasa bersama untuk putra-putri panti asuhan Darmo Yuwono, kala itu tanggalnya 20 bulannya Agustus 2010.
Ini dokumentasinya sekelumit...
![]() |
| Peserta |
![]() |
| Crew, mohon maaf yang sisi sebelah kanan masih ada sederet lagi, tapi belum ketemu dokumentasinya |
![]() |
| Pelatihan lanjutan, setiap pekan sekali |
Jazakumulloh khoiron katsiron untuk para donatur, salam sudah disampaikan bersambut doa dari saya dan mereka semua.
8/28/10
Nusa Madani
Keikhlasan tidak menerima sesuatu yang seharusnya menjadi hak kita, mudah2an itu menjadi sedekah kita dalam bentuk yang lain
8/24/10
Tujuh
Orang Jawa terkenal sangat kental basa-basinya. Bahkan untuk sekedar pamitan saat bertamu, basa-basi sebagai ekspresi kesantunan dan kecerdasan emosinya hingga berlevel tujuh.
Pertama : "Kadosipun niki badhe pamit rumiin" (Sepertinya ini saya mau pamit dulu).
Begitu GeErnya takut kepulangannya membuat sedih si empunya rumah (padahal asilnya mah si empunya rumah malah senang, hehe) maka sebelum pamitan sesungguhnya ada acara pra pamitan, menggunakan kata "sepertinya".
Kedua : Berpamitan
Inilah inti dari serangkaian seremoni pamitan yang sesungguhnya, bagi bukan orang Jawa sebenarnya ini saja lebih dari cukup.
Ketiga : "Niki maturnuwun sanget lho" (Mengucapkan terima kasih)
Mengucapkan terima kasih, tidak peduli disuguh atau tidak tadi, tidak peduli dioleh-olehi atau tidak, ya diterimakasihi saja item-item yang ada walau beberapa mungkin meksa.
Keempat : Bersalaman
Salaman sebagai aksi kongkrit sebuah seremony pertemuan maupun persiapan, tentu diiringi dengan senyuman yang termanis dan kata-kata basa-basi pengiring yang bentuk dan jumlahnya tergantung tingkat kepandaian masing-masing
Kelima : Sambil naleni sepatu bercakap-capak seperlunya lalu ditutup dengan ucapan "pareng" (permisi)
Ya begitu deh.
Keenam : Saat kendaraan mulai melaju mengklakson sambil uluk salam "Assalamu'alaykum"
Klakson itu penting, untuk mobil-mobil yang sudah menggunakan power window biasanya dengan membuka kaca. Tapi untuk yang bertamu menggunakan becak, cukup dengan meminta pak tukang becak memelankan genjotannya.
Ketujuh : Sesampainya dirumah sms lagi "Kolowau saestu maturnuwun sanget lho"
Ucapan terima kasih lagi, kali ini beda, lebih tinggi levelnya, karena ada kata "saestu" (benar-benar).
Hahaha....
Pertama : "Kadosipun niki badhe pamit rumiin" (Sepertinya ini saya mau pamit dulu).
Begitu GeErnya takut kepulangannya membuat sedih si empunya rumah (padahal asilnya mah si empunya rumah malah senang, hehe) maka sebelum pamitan sesungguhnya ada acara pra pamitan, menggunakan kata "sepertinya".
Kedua : Berpamitan
Inilah inti dari serangkaian seremoni pamitan yang sesungguhnya, bagi bukan orang Jawa sebenarnya ini saja lebih dari cukup.
Ketiga : "Niki maturnuwun sanget lho" (Mengucapkan terima kasih)
Mengucapkan terima kasih, tidak peduli disuguh atau tidak tadi, tidak peduli dioleh-olehi atau tidak, ya diterimakasihi saja item-item yang ada walau beberapa mungkin meksa.
Keempat : Bersalaman
Salaman sebagai aksi kongkrit sebuah seremony pertemuan maupun persiapan, tentu diiringi dengan senyuman yang termanis dan kata-kata basa-basi pengiring yang bentuk dan jumlahnya tergantung tingkat kepandaian masing-masing
Kelima : Sambil naleni sepatu bercakap-capak seperlunya lalu ditutup dengan ucapan "pareng" (permisi)
Ya begitu deh.
Keenam : Saat kendaraan mulai melaju mengklakson sambil uluk salam "Assalamu'alaykum"
Klakson itu penting, untuk mobil-mobil yang sudah menggunakan power window biasanya dengan membuka kaca. Tapi untuk yang bertamu menggunakan becak, cukup dengan meminta pak tukang becak memelankan genjotannya.
Ketujuh : Sesampainya dirumah sms lagi "Kolowau saestu maturnuwun sanget lho"
Ucapan terima kasih lagi, kali ini beda, lebih tinggi levelnya, karena ada kata "saestu" (benar-benar).
Hahaha....
8/23/10
Taci Taci Semakin Tua
Bahasa apa yang wajib kita siapkan kalau kita mau belanja di Toko Cina? jawabannya adalah Bahasa Jawa. Kenapa? Karena sudah tertebak, yang jaga warungnya si Kokoh atau Taci disana pasti orang Jawa.
Kenapa suka belanja di Toko Cina? Karena 9 dari 10 toko di 9 dari 10 pasar di Indonesia yang punya orang Cina. Yang jaga orang Jawa, kasirnya si Kokoh, si Taci atau anak mereka, paling begitu.
Dan karena Cina berhasil menguasai kunci-kunci supply produk. Tokonya jelek, tapi harganya murah. Berantakan penataannya, tapi semuanya ada.
Pertanyaannya, ketika si Kokoh dan si Taci itu sudah semakin tua, lalu meninggal dunia. Kepada siapakah akses supply barang, diteruskan? Kepada siapakah toko2 terstrategis diwariskan? Apakah kepada anak-anak mereka yang sedari kecil hidup mewah tetapi gigih dilatih prihatin dan telaten?
Atau kepada orang-orang pribumi yang kita salah satu diantaranya?
Kenapa suka belanja di Toko Cina? Karena 9 dari 10 toko di 9 dari 10 pasar di Indonesia yang punya orang Cina. Yang jaga orang Jawa, kasirnya si Kokoh, si Taci atau anak mereka, paling begitu.
Dan karena Cina berhasil menguasai kunci-kunci supply produk. Tokonya jelek, tapi harganya murah. Berantakan penataannya, tapi semuanya ada.
Pertanyaannya, ketika si Kokoh dan si Taci itu sudah semakin tua, lalu meninggal dunia. Kepada siapakah akses supply barang, diteruskan? Kepada siapakah toko2 terstrategis diwariskan? Apakah kepada anak-anak mereka yang sedari kecil hidup mewah tetapi gigih dilatih prihatin dan telaten?
Atau kepada orang-orang pribumi yang kita salah satu diantaranya?
Lama sekali tidak ngeblog...
Padahal lagi sering ketemu dedengkotan komunitas blogger... hahaha, lucu.
8/14/10
Rubik
Pada suka mainan rubik, kubus dengan 9 segmen kotakan kecil setiap sisinya yang bisa duputar2 untuk mencari warna yang sama. Haha, kemarin ustadz rizky belajar rubik dari santrinya, Ahmad namanya. Saking sungguh2nya belajar bagaimana membuat 6 sisi rubik menjadi seragam warnanya dalam hitungan detik, sampai-sampai pas santri sedang materi, tetep saja direcoki ustadz rizky dengan rubiknya. "Ini gimana?", "ditolakin maksudnya gimana?"....
Sayang di sayang, di hari ketiga rubik menghilang, padalah ustadz rizky baru belajar sampai step dua saja. Kata si Ahmad sebelum pamitan pas acara sudah selesai, "sini berguru ke rumahku aja tad", sembari memberikan denah awangan ancer-ancer dimana rumahnya.
Ustadznya disuruh datang kerumah buat berguru... Hahaha, ustadz sama santri kagak ada yang beres.
Sayang di sayang, di hari ketiga rubik menghilang, padalah ustadz rizky baru belajar sampai step dua saja. Kata si Ahmad sebelum pamitan pas acara sudah selesai, "sini berguru ke rumahku aja tad", sembari memberikan denah awangan ancer-ancer dimana rumahnya.
Ustadznya disuruh datang kerumah buat berguru... Hahaha, ustadz sama santri kagak ada yang beres.
Bukber Tahun Ini
Semakin banyak teman-teman sealmamater yang sudah bekerja, itu artinya ritual buka bersama 28 Ramadhan harus digeser harinya, karena kebanyakan mereka baru pulang tanggal 29, bahkan 30 bahkan pas hari raya Idul Fitri dari kota tempat bekerjanya.
Dan saya sudah memutuskan untuk tidak hadir, memilih agenda lain yang bersamaan.
Seraya berdoa, Ya Allah lapangkanlah hati, harta dan hari-hari hamba-Mu ini, hingga tidak terkotaki bahwasannya yang namanya hidup mapan itu harus bekerja, yang membuat tidak bisa leluasa di akhir Ramadhan, yang membuat tidak bisa memfasilitasi teman-teman untuk berkumpul di tahun-tahun yang akan datang. Curahkanlah rahmat kesejahteraan, sebagaimana Engkau curahkan kepada Abdurrahman bin Auf R.A yang membelanjakan hartanya tanpa pikir panjang di jalan dakwah, sebagaimana Engkau curahkan kepada ulama-ulama pra kemerdekaan, yang bisa kaya raya dengan bisnis dan investasi sehingga tidak pernah terhalangi kesibukannya mencari dan membagi ilmu, amin...
Dan saya sudah memutuskan untuk tidak hadir, memilih agenda lain yang bersamaan.
Seraya berdoa, Ya Allah lapangkanlah hati, harta dan hari-hari hamba-Mu ini, hingga tidak terkotaki bahwasannya yang namanya hidup mapan itu harus bekerja, yang membuat tidak bisa leluasa di akhir Ramadhan, yang membuat tidak bisa memfasilitasi teman-teman untuk berkumpul di tahun-tahun yang akan datang. Curahkanlah rahmat kesejahteraan, sebagaimana Engkau curahkan kepada Abdurrahman bin Auf R.A yang membelanjakan hartanya tanpa pikir panjang di jalan dakwah, sebagaimana Engkau curahkan kepada ulama-ulama pra kemerdekaan, yang bisa kaya raya dengan bisnis dan investasi sehingga tidak pernah terhalangi kesibukannya mencari dan membagi ilmu, amin...
Jalan Kaki Ke Jalan Asia Afrika
![]() |
Melalui salah satunya adalah inisiatifnya, negara dari dua benua, Asia dan Afrika, terbang dan melaut, bertemu muka di tempat yang sekarang diberi nama Gedung Merdeka, menunjukkan eksistensinya ditengah-tengah dua blok besar : Blok Barat dan Blok Timur.
Bagaimana pengetahuan ini bisa kita ilmui? (ilmui, baca : terapkan dalam aplikasi kondisi diri kita saat ini), agar menjadi ilmu yang bermanfaat, bukan ilmu yang mubadzir.
Jangan Kangkung
Puasa hari keempat, hari ini saya ke ATM 3x. Hampir setengah juta terbelanjakan, tapi tidak satu rupiahpun keluar uang untuk makan.
Di atas karpet hijau baru milik masjid PJKA, rasanya trenyuh sedalam2nya... rasanya bahagia sekali, enteng sekali hari ini, bahkan untuk makanpun enggak perlu mikir. "Loh, memang enggak buka mas?", Ya buka lah. Indonesia kan baldatun toyyibatun warrobun ghofur (amin...), tinggal ke masjid saja ada tajil bahkan kalau beruntung dapat makanan.
Bukan karena tidak punya uang saya enggak beli makan untuk buka puasa tadi. Tapi sungguh, nafsu makan ini ludes, bersamaan dengan terlahapnya sebungkus nasi + jangan kangkung + ikan tongkol. Juaan, uenak tuenan jangan kangkungnya, sekalipun dari kemarin buka pake ayam, pake lumpia, pake martabak, di hari keempat inilah yang paling enak : jangan kangkung...
Alhamdulillah, masih belum cukup kenikmatan jangan kangkung itu, eh ada tajilan minuman kotak kacang hijau, terus habis taraweh ditraktir Bakso Pak Kardi LANGSUNG oleh anaknya Pak Kardi dan belum juga usai, sebagai penutup masih ada semangkok kolak di kosan Uchas... sekali lagi Alhamdulillah.
Dan hari inipun berlalu indah, hari-hari yang semakin enteng saya jalani, tidak ada beban seperti dulu. Tidak perlu banyak mikir, tidak perlu banyak ngrumus, mengalir saja... seperti tadi, betapa relaxnya saya di masjidnya Perusahaan Kereta Api Indonesia itu, di serambi masjid yang agak remang mengendap-endap mencari nasi, hahaha.... tanpa jaim... Rizky Rizky...
Di atas karpet hijau baru milik masjid PJKA, rasanya trenyuh sedalam2nya... rasanya bahagia sekali, enteng sekali hari ini, bahkan untuk makanpun enggak perlu mikir. "Loh, memang enggak buka mas?", Ya buka lah. Indonesia kan baldatun toyyibatun warrobun ghofur (amin...), tinggal ke masjid saja ada tajil bahkan kalau beruntung dapat makanan.
Bukan karena tidak punya uang saya enggak beli makan untuk buka puasa tadi. Tapi sungguh, nafsu makan ini ludes, bersamaan dengan terlahapnya sebungkus nasi + jangan kangkung + ikan tongkol. Juaan, uenak tuenan jangan kangkungnya, sekalipun dari kemarin buka pake ayam, pake lumpia, pake martabak, di hari keempat inilah yang paling enak : jangan kangkung...
Alhamdulillah, masih belum cukup kenikmatan jangan kangkung itu, eh ada tajilan minuman kotak kacang hijau, terus habis taraweh ditraktir Bakso Pak Kardi LANGSUNG oleh anaknya Pak Kardi dan belum juga usai, sebagai penutup masih ada semangkok kolak di kosan Uchas... sekali lagi Alhamdulillah.
Dan hari inipun berlalu indah, hari-hari yang semakin enteng saya jalani, tidak ada beban seperti dulu. Tidak perlu banyak mikir, tidak perlu banyak ngrumus, mengalir saja... seperti tadi, betapa relaxnya saya di masjidnya Perusahaan Kereta Api Indonesia itu, di serambi masjid yang agak remang mengendap-endap mencari nasi, hahaha.... tanpa jaim... Rizky Rizky...
7/29/10
Halaman Pertama, Urutan Pertama
Gagal posting 1 artikelpun di Kompasiana Blogging Day, malamnya saya rilis saja dua tulisan terkait itu. Bukan emosi, hanya tawaran solusi untuk penyelenggara. Karena ratusan peserta yang gagal posting sudah cukup legowo dan lapang dada menerima kesalahan sistem yang terjadi, maka sudah sepantasnya panitiapun ksatria legowo mengakui kesalahan, memberikan keterangan gamblang dan memberikan pertanggungjawaban. Apalagi ada proses vote artikel sampai pertengahan Agustus nanti.
Satu dari dua tulisan saya tentang protes berisi usulan konstruktif itu ternyata ditangkap mesin pencari google dan didudukkan di halaman pertama, urutan pertama pula pada clue pencarian : Kompasiana Blogging Day.
Satu dari dua tulisan saya tentang protes berisi usulan konstruktif itu ternyata ditangkap mesin pencari google dan didudukkan di halaman pertama, urutan pertama pula pada clue pencarian : Kompasiana Blogging Day.
Kompasiana Waiting Day
Sudah menyiapkan waktu khusus untuk Kompasiana Blogging Day, 100 menit nge-blog hari ini dengan iming-iming 23 hadiah menarik, eh malah tepat jam 14.00 website Kompasiana.com Error. Jadinya Bukan Kompasiana Blogging Day lagi deh... Kompasiana Waiting Day
7/24/10
Menuju Mata Air
Dua orang pengembara sedang mencari air, orang pertama memilih berkembara langsung ke hulu sungai, agar bisa mendapatkan air langsung dari mata airnya yang jernih dan murni.
Seorang lainnya merasa tidak kuat kalau harus mendapatkan air baru di hulu, maka iapun menuju hilir. Di hilir air memang tidak sejernih di hulu, tetapi si pengembara tahu, sekalipun ada bagian yang keruh, tapi ini tidak berbahaya. Ia meminum air di hilir itu, sambil berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Tanpa sungkan, kepada orang yang ada disekelilingnya ia minta diajari bagaimana caranya mengambil air, agar kemanapun ia pergi ia bisa mempunyai simpanan air untuk cadangan dirinya, agar kemanapun ia pergi ia bisa berbagi air ke sebanyak-banyaknya orang.
Maka, bergulat dengan air hilir yang kadang keruh, ia belajar membuat timba, membuat kantong penampungan. Belajar mengambil, menyimpan dan mendistribusikan air. Singkat cerita akhirnya si pengembara itupun mahir. Berbekal air hilir yang kadang keruh itu, ia bergegas berhijrah, mencari tempat yang lebih jernih, sambil meminumunya, sambil membagikannya kepada orang2 yang ia temui, tanpa terasa akhirnya ia telah sampai ke hulu, ke tempat mata air itu.
Bertemulah dengan si pengembara pertama, ketika pengembara kedua sudah begitu mahirnya mengambil, menyimpan dan membagikan air, maka air jernih yang bisa ia ambil dari mata air itu begitu banyak, lalu ia simpan dan ia distribusikan. Namun, si pengembara pertama tidak mempunyai keahlian apa-apa dalam mengambil, menyimpan dan membagikan air. Akibatnya, ia tidak pernah berani meninggalkan mata air. Ia takut sekali, menghindari sekali air hilir yang keruh yang dibawa oleh orang-orang dari hilir yang kebetulan mendekatinya. Dan ia tidak pernah mempunyai kesempatan turun ke perkampungan membawa air jernih itu untuk dibagikan kepada sebanyak2nya warga kampung di dekat hilir sana.
Dari mata air memang jernih, tapi apakah cukup untuk dikonsumsi sendiri. Hm, ternyata kitapun butuh bisa ahli untuk membagikannya.
Seorang lainnya merasa tidak kuat kalau harus mendapatkan air baru di hulu, maka iapun menuju hilir. Di hilir air memang tidak sejernih di hulu, tetapi si pengembara tahu, sekalipun ada bagian yang keruh, tapi ini tidak berbahaya. Ia meminum air di hilir itu, sambil berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Tanpa sungkan, kepada orang yang ada disekelilingnya ia minta diajari bagaimana caranya mengambil air, agar kemanapun ia pergi ia bisa mempunyai simpanan air untuk cadangan dirinya, agar kemanapun ia pergi ia bisa berbagi air ke sebanyak-banyaknya orang.
Maka, bergulat dengan air hilir yang kadang keruh, ia belajar membuat timba, membuat kantong penampungan. Belajar mengambil, menyimpan dan mendistribusikan air. Singkat cerita akhirnya si pengembara itupun mahir. Berbekal air hilir yang kadang keruh itu, ia bergegas berhijrah, mencari tempat yang lebih jernih, sambil meminumunya, sambil membagikannya kepada orang2 yang ia temui, tanpa terasa akhirnya ia telah sampai ke hulu, ke tempat mata air itu.
Bertemulah dengan si pengembara pertama, ketika pengembara kedua sudah begitu mahirnya mengambil, menyimpan dan membagikan air, maka air jernih yang bisa ia ambil dari mata air itu begitu banyak, lalu ia simpan dan ia distribusikan. Namun, si pengembara pertama tidak mempunyai keahlian apa-apa dalam mengambil, menyimpan dan membagikan air. Akibatnya, ia tidak pernah berani meninggalkan mata air. Ia takut sekali, menghindari sekali air hilir yang keruh yang dibawa oleh orang-orang dari hilir yang kebetulan mendekatinya. Dan ia tidak pernah mempunyai kesempatan turun ke perkampungan membawa air jernih itu untuk dibagikan kepada sebanyak2nya warga kampung di dekat hilir sana.
Dari mata air memang jernih, tapi apakah cukup untuk dikonsumsi sendiri. Hm, ternyata kitapun butuh bisa ahli untuk membagikannya.
Kumpul Blogger
Sedulur2 blogger se-Banyumas lan sekitarane, saben minggu esuk jam 7.30 komunitas blogger banyumas "Bawor" nganakna kumpul-kumpul nang alun-alun purwokerto, digoleti baen nang kolem tiang bendera.
Kepriben, pada kepengin melu ora? wong anyar ora usah rikuh, asal nduwe blog, arep aktif apa ora bloge, teka baen, ora masalah.
Wotreeeey??? tek enteni ya pada sedulur...
Info lainnya :
Kepriben, pada kepengin melu ora? wong anyar ora usah rikuh, asal nduwe blog, arep aktif apa ora bloge, teka baen, ora masalah.
Wotreeeey??? tek enteni ya pada sedulur...
Info lainnya :
7/17/10
Ada Hak Mereka di Kita
Waktu, keahlian dan ide-ide yang mungkin bagi kita biasa saja, bisa saja berarti begitu istimewa bagi mereka.
Sebuah panti asuhan beberapa waktu lalu menghubungi kami, meminta kami berbagi tentang jurnalistik dan ilmu-ilmu lainnya agar putra-putri di panti asuhan tersebut nantinya bisa membuat mading (majalah dinding) untuk kalangan mereka sendiri.
Dari permintaan tersebut, terpikirlah hal : Pertama, ternyata sesuatu yang kami anggap remeh selama ini, keahlian kami sekedar menggunting sterefoam, meramu artikel dari hasil googling dan mencetak dokumen dengan mesin bernama printer apabila dibagikan banyak diluar sana yang membutuhkan. Panti asuhan tersebut hanya satu diantaranya.
Demikian pula waktu kita, tiga jam yang biasa digunakan untuk bersantai-santai apabila diberikan untuk mereka ternyata bisa menjadi sangat istimewa. Begitupun dengan ide kita, ide yang hanya kita simpan dan kita anggap remeh, apabila dibagikan kepada mereka bisa jadi ada begitu banyak tangan yang siap bahu membahu mewujudkannya.
Kedua, dengan segala keterbatasan kami, kami berkeyakinan bila berbagi sendirian itu baik, maka dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bersama-sama berbagi pasti akan berlipat-lipat jauh lebih baik.
Melatih teknik membuat mading itu baik. Melatih teknik membuat mading dengan memberikan pelatihan tambahan berupa motivasi-meraih-mimpi, itu lebih baik, karena mereka bukan hanya akan menjadi tahu cara membuat mading tetapi juga tahu apa yang akan dituangkan untuk mading itu sehingga bisa berkelanjutan tanpa pernah kehabisan materi.
Dan melatih membuat mading, memberikan training inspirastif-motivasional ditambah lagi memberikan suguhan logistik untuk konsumsi, itu semakin baik lagi, karena materi yang baik akan didukung oleh konsentrasi dan antusiasme yang baik pula bila dibandingkan dengan penerimaan materi tanpa konsumsi.
Dan bila tidak hanya tiga hal di atas yang diberikan, apabila dibekalkan pula perkakas dan bahan-bahan untuk membuat mading, maka akan semakin berlipat lagi bukan baiknya? Kemudian keempat hal itu dilaksanakan lagi dengan penyempurnaan di tempat lain, sedangkan sudah ada satu yang berhasil, maka di tempat lain akan menjadi lebih baik lagi, karena sudah ada contoh yang bisa dilihat yang semakin memacu semangat mereka.
Oleh karenanya, kami bermaksud memenuhi undangan panti asuhan tersebut untuk memberikan pelatihan praktikal membuat Mading sekaligus pelatihan inspirasi-motivasi. Dan melalui catatan pendek ini kami bermaksud mengajak rekan-rekan semuanya yang jauh maupun dekat untuk ikut berpatisipasi dalam bentuk kehadiran dan dukungan finansial untuk bersama-sama kita bersinergi sehingga terlipatgandakanlah nilai baik dari program yang baik ini.
Dukungan finansial untuk konsumsi dan logistik, untuk belanja perkakas dan buku-buku inspiratf untuk sumber inspirasi mereka bukan untuk membiayai trainer. Dukungan finansial untuk memodali mereka membuat mading yang elegant, yang membuat mereka bangga akan karya kreasi mereka sendiri. Kelebihan dana akan digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan mudah-mudahan lebih sempurna di panti asuhan lain untuk kegiatan sosial berkala kami.
Dukungan finansial untuk konsumsi dan logistik, untuk belanja perkakas dan buku-buku inspiratf untuk sumber inspirasi mereka bukan untuk membiayai trainer. Dukungan finansial untuk memodali mereka membuat mading yang elegant, yang membuat mereka bangga akan karya kreasi mereka sendiri. Kelebihan dana akan digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan mudah-mudahan lebih sempurna di panti asuhan lain untuk kegiatan sosial berkala kami.
Untuk akuntabilitas kegiatan, dokumentasi dan laporan keuangan akan diunggah dan ditransparansikan kepada public seusai acara. Dan nama baik pemilik blog ini sebagai garansi penyelenggaraan kegiatan ini.
Donasi dukungan finansial teman-teman kami nantikan pada rekening kemi di bawah ini. Mohon konfirmasi ke alamat surat elektronik di atas setelah transfer. Berapapun nominalnya, penghargaan kami tetap yang setinggi-tingginya untuk rekan-rekan.
Kegiatan ini bukanlah kegiatan sosial pertama kami, namun kegiatan ini merupakan kegiatan pertama kami merangkul rekan-rekan untuk ikut serta berpatisipasi dalam bentuk donasi finansial. Kami sampaikan ajakan ini sebagai deklarasi atas keterbatasan kami, dan deklarasi atas keinginan kami memberikan model "berbagi" yang terbaik, yang betul-betul optimal terasa manfaatnya oleh mereka, bukan sekedar berbagi alakadarnya.
Regards,
RIZKY DR
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lampiran :
Pengisi Acara
![]() |
| Kerfesta "Iche" Marpaung. Guru Sekolah Dasar, Pembimbing senior dan Juri berbagai kompetisi Mading. Salah satu asuhannya adalah tim Mading SMAN2 Purwokerto. |
Rekening untuk donasi :
Bank Syariah Mandiri nomor 1777-01-7991 atas nama RIZKY DR. kami tunggu sebelum 25 Juli 2010 atau sesegera mungkin atau menghubungi kami bila lewat batas tanggal tersebut.
Catatan :
Kegiatan ini murni sosial, bersifat independent, 100% tidak ditumpangi kepentingan apapun
Tangga Keamanan
Safak Muhammad menjelaskan secara sistematis dan logis tentang bagaimana seorang pebisnis bisa memiliki keamanan finansial. Ini mematahkan mitos-mitos konservatif bahwa pebisnis rawan stess karena bangkrut bisa terjadi sewaktu-waku, bahwa bisnis tidak bisa untuk hidup.
Ada tiga komponen sekaligus merupakan tangga karena lazimnya untuk menguasai ketiga hal tersebut kita harus memulainya satu persatu. Tiga komponen itu disingkat dengan 3P.
P yang pertama adalah PAKAR.
Untuk memulai tangga keamanan finansial seorang pebisnis, seorang pebisnis harus mendefinisikan dirinya sebagai pakar di bidang apa, misal fotografi, musik, penulis, design grafis, IT, dan lain sebagainya.
P yang kedua adalah PENGUNGKIT.
Bisnis tidak bisa dikerjakan sendiri, karena itu diperlukan pengungkit. Apa saja pengungkit itu? Pengungkit adalah faktor-faktor diluar diri kita yang dimanaj untuk membantu mengungkit kesuksesan diri kita, diantaranya adalah uang orang lain, tenaga orang lain, ide orang lain, nama besar orang lain, tempat orang lain dan sebagainya.
dan P yang ketiga adalah PETERNAKAN ASET.
Pada akhirnya seorang pebisnis yang sudah bisa mengumpulkan dana cash bisa dengan smart memilih tempat investasi teraman, bukannya dihabiskan untuk kebutuhan konsumsi. Aset kita bisa diternakkan dalam bentuk pengembangan property, deposito, saham, emas, investasi di bisnis orang lain dan lain sebagainya.
Nah, ajaran bisnis Aliran Purdi E Chandra pincang, karena di awal bisnis orang sudah diajari untuk langsung P yang kedua. Tentu, ini tidak bisa serta merta menyalahkan Purdi Chandra, karena sudah terang-terangan beliau mengatakan manhaj bisnisnya adalah otak kanan, dan karakteristik otak kanan memang non-secuensial (acak) bukannya linear, jadi sah-sah saja melompat.
Namun demikian, ketika kita sudah memilih berbisnis dengan manhaj acak seperti itu, kita harus sadar akan dimana posisi kita pada peta kesuksesan kita, kita harus bisa mendefinisikan realitas [Dalil July Way Rizky ayat (1)], bahwa resiko kita memulai bisnis tidak sesuai garis linear 3P adalah kebutuhan masa kini kita yang mendesak tidak terpenuhi. Apa saja kebutuhan itu? Kebutuhan untuk makan, membayar angsuran, memiliki status untuk melamar, memiliki tabungan untuk menikah dan sebagainya.
Lalu, bagaimana untuk mensiasati agar kebutuhan itu bisa tetap tercover? ada tiga cara : Pertama, bangunlah P yang pertama, jadilah pakar di bidang sesuai skill kita, satu-satunya cara menjadi pakar adalah menghabiskan waktu terbanyak kita untuk fokus di bidang yang kita akan menjadi pakar disana, karena tidak ada seorang menjadi pakar (expert) dengan menekuni terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan.
Bila kita memilih forografi, tekuni itu. Bila kita memilih kuliner, tekuni itu. Temporary dan seiring berjalannya waktu kita akan menjadi pakar. Setelah menjadi pakar, kita akan dibutuhkan orang, akan dibayar orang dan kita akan punya uang untuk makan, membayar angsuran, memiliki status dan berani melamar, menabung untuk modal menikah dan sebagainya.
Cara kedua, kalau tidak telaten memilih bidang dan membangun diri menjadi seorang pakar, maka cara ini bisa dipilih, barterkan waktu kita. Dengan membartertkan waktu kita kepada orang lain, maka kita bisa dibayar (baca : digaji), dan dari orang lain itu kita bisa makan, bisa membayar angsuran, bisa memiliki kartu pegawai sebagai status dan bisa menabung.
Cara ketiga, berhutanglah. Selama ada pihak ketiga yang bisa mendonasi hidup kita, itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi jembatan sementara hingga selesai pembangunan jembatan permanenenya (baca:bisnis), dan setelah itu bisa berlipat-lipat kita bayar hutang itu.
Diantara ketiga cara, menurut saya cara paling smart adalah yang pertama, karena hutang itu sama dengan menggadaikan diri, karena membarterkan waktu itu sama dengan menyerahkan kekayaan paling berharga yang kita miliki, sedangkan mengasah skill menjadi seorang PAKAR, maka berarti kita belajar selaras alam dan pada akhirnya status yang kita sandang sebagai (Expert in ...) itu lebih sejati ketimbang status pada kartu perusahaan manapun.
Tetapi jangan 'sawang sinawang' beranggapan berbisnis secara acak itu lebih jelek daripada berbisnis secara linear. Jangan salah, justru banyak sekali pebisnis linear yang karena memulainya monoton mulai dari P1, P2 dan seterusnya, mereka terjebak dalam zona nyaman bernama "omzet", sehingga menjadi orang yang takut mengambil resiko lebih besar dan enggan mengembangkan usaha. Akhirnya P yang ketiga pun tak kunjung bisa mereka raih.
Hm, saya belum menemukan apa sebenarnya "Expert in" saya. di bidang apa ya saya asah ke-PAKAR-an saya? Ada masukan?
7/13/10
Alarm Kegagalan
Sebetulnya, sebelum sebuah perusahaan, negara bahkan seseorang itu jatuh, entah untuk jatuh yang penghabisan atau sekedar kurva sedang men-jurang, ada tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Ary Ginanjar dalam materi Self Control memaparkan hasil penelitian dunia tentang penyebab jatuhnya perusahaan-perusahaan kaliber internasional.
Dari ratusan perusahaan, dengan ratusan kasus pula, ditarik kesimpulan 7 penyebabnya, yang saya lupa catatannya saya taruh mana, intinya adalah karena kegagalan mereka dalam menuruti dorongan jiwa yang baik (Nafsul Muthmainah). Dari kasus inilah saya sedikit mendapat tambahan pengertian, kenapa puasa kok bisa masuk dalam The Big Five, 1 dari 5 hal yang dijadikan rukun (pokok)nya agama Islam. Kalau hanya sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual saja, sesederhana itukah? Ternyata tidak.
Perusahaan kaliber internasional sekalipun, yang berhasil bertahan, yang kuat dari ancaman kejatuhan, adalah yang mereka berhasil puasa. Mengendalikan dorongan jiwa yang baik dengan mengeluarkan yang baik (Taqwiyatun Nafs) dan menekan yang jelek (Tazkiyatun Nafs).
Implementasi dalam kehidupan pribadi, ketika sudah tahu tentang ini, saya jadi paham, bahwa sebuah keberhasilan atau kegagalan yang akan dicapai, ternyata sudah bisa terbaca dari sikap kita sendiri. Adakah arogansi saat kita mengupayakannya? adakah ketakaburan saat kita memperjuangkannya? Adakah sikap abai saat kita menapakinya? dan sikap-sikap sejenisnya yang kita pasti merasa, tinggal kita mencoba menekan dan menggantinya dengan yang baik, atau tetap abai, takabur dan arogan mengabaikannya?
Kata bergaris bawah, "mencoba", tidak selalu berarti langsung berhasil. Mencoba itu hanya upaya.
Semoga bermanfaat.
Dari ratusan perusahaan, dengan ratusan kasus pula, ditarik kesimpulan 7 penyebabnya, yang saya lupa catatannya saya taruh mana, intinya adalah karena kegagalan mereka dalam menuruti dorongan jiwa yang baik (Nafsul Muthmainah). Dari kasus inilah saya sedikit mendapat tambahan pengertian, kenapa puasa kok bisa masuk dalam The Big Five, 1 dari 5 hal yang dijadikan rukun (pokok)nya agama Islam. Kalau hanya sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual saja, sesederhana itukah? Ternyata tidak.
Perusahaan kaliber internasional sekalipun, yang berhasil bertahan, yang kuat dari ancaman kejatuhan, adalah yang mereka berhasil puasa. Mengendalikan dorongan jiwa yang baik dengan mengeluarkan yang baik (Taqwiyatun Nafs) dan menekan yang jelek (Tazkiyatun Nafs).
Implementasi dalam kehidupan pribadi, ketika sudah tahu tentang ini, saya jadi paham, bahwa sebuah keberhasilan atau kegagalan yang akan dicapai, ternyata sudah bisa terbaca dari sikap kita sendiri. Adakah arogansi saat kita mengupayakannya? adakah ketakaburan saat kita memperjuangkannya? Adakah sikap abai saat kita menapakinya? dan sikap-sikap sejenisnya yang kita pasti merasa, tinggal kita mencoba menekan dan menggantinya dengan yang baik, atau tetap abai, takabur dan arogan mengabaikannya?
Kata bergaris bawah, "mencoba", tidak selalu berarti langsung berhasil. Mencoba itu hanya upaya.
Semoga bermanfaat.
7/11/10
Ilmu Menjual Emas
Saya kok jadi teringat waktu itu, hm, waktu itu ada sesuatu yang sedang sangat ingin saya dapatkan, tapi tidak kunjung dapat. Tidak usah sebut merk lah ya, inti (hikmah) ceritanya saja yang diambil. Terus saya berpikir "Ah, itu cuma angan-angan, nasib saya ya begini ini".
Namun, selang sepersekian detik kok tiba2 ada bisikan halus dari dalam diri saya sendiri, "Hush, jangan ngomong begitu, lihat saja nanti ketika waktu itu tiba". Dan betul, memang agak lama dari saat itu, akhirnya waktu yang saya impikanpun tiba, dan ketika itu kok ya seperti Angkering, saya langsung teringat pada saat saya mengeluh, "Ah, ternyata keluhan saya waktu itu salah."
Haha, begitulah pengalaman singkat tapi berharga dan berguna. Seperti ilmu menjual emas, saat grafik harga sedang turun, janganlah buru-buru emas dijual, tunggu, grafik pasti naik. Dan begitu rumus yang harus kita pakai, saat kehidupan kita sedang down, keberhasilan kita sedang redup, jangan buru-buru menghakimi diri bahwa takdir kita adalah seperti itu.
Agar nanti ketika sudah naik grafiknya, kita tidak malu dengan diri sendiri. Tugas orang berhasil adalah Tawadhu, dan tugas orang gagal adalah Tawakal... mana yang lebih mulia? Yang lebih mulia ya manapun diantara keduanya yang lebih bersungguh-sungguh.
Namun, selang sepersekian detik kok tiba2 ada bisikan halus dari dalam diri saya sendiri, "Hush, jangan ngomong begitu, lihat saja nanti ketika waktu itu tiba". Dan betul, memang agak lama dari saat itu, akhirnya waktu yang saya impikanpun tiba, dan ketika itu kok ya seperti Angkering, saya langsung teringat pada saat saya mengeluh, "Ah, ternyata keluhan saya waktu itu salah."
Haha, begitulah pengalaman singkat tapi berharga dan berguna. Seperti ilmu menjual emas, saat grafik harga sedang turun, janganlah buru-buru emas dijual, tunggu, grafik pasti naik. Dan begitu rumus yang harus kita pakai, saat kehidupan kita sedang down, keberhasilan kita sedang redup, jangan buru-buru menghakimi diri bahwa takdir kita adalah seperti itu.
Agar nanti ketika sudah naik grafiknya, kita tidak malu dengan diri sendiri. Tugas orang berhasil adalah Tawadhu, dan tugas orang gagal adalah Tawakal... mana yang lebih mulia? Yang lebih mulia ya manapun diantara keduanya yang lebih bersungguh-sungguh.
7/6/10
Passion dan Skill Ternyata Berseberangan. Sudah Tahu?
Apa itu passion, definisi lengkap dan formalnya bisa dilihat di Kamus Besar Bahasa Inggris di Perpustakaan Nasional Inggris sana, demikian pula untuk definisi lengkap dan formalnya Skill. Makna sederhana saja, dimana passion kita bisa kita kenali dengan di aktivitas yang disana kita menemukan kesenangan, kebetahan, cinta, sehingga kehujanan terasa hangat, terbakar matahari terasa sejuk, dibayar atau tidak dibayar kualitas yang kita berikan sama.
Sedangkan skill adalah sesuatu keahlian yang kita kuasai yang tidak semua orang kuasai dan biasanya kalau orang ada perlu bantuan yang berhubungan dengan bidang skill kita itu, kitalah yang mereka panggil untuk diminati bantuan (maupun job).
Nah, dua hal itu sama-sama bisa kita jadikan pijakan untuk memulai bisnis. Loh, kok sama-sama? katanya berseberangan? Sebentar... Sekalipun keduanya sama-sama bisa kita gunakan pijakan untuk memulai bisnis, tetapi karakter bisnisnya berbeda, bertolak belakang, berseberangan.
Bagaimana berseberangannya? Akan saya jelaskan dalam beberapa paragraf. Begini, Purdi E Chandra dan rekan-rekan bisnis yang seideologi dengannya memiliki kredo "kalau mau sukses bisnis, pilihlah bidang yang berbeda dari latar belakang bidang kita."
Misalnya Anda orang perikanan, cobalah berjualan katering. Atau Anda orang dapur, cobalah bercocok tanam salak pondoh untuk diekspor misalnya. Pernyataan diatas bukan tanpa dasar Pa Purdi lontarkan. Salah satu logikanya begini, misalnya Anda orang perikanan, Anda tahu sekali seluk beluk sebuah species ikan, mulai dari masa pemeliharaan, makanan favorit hingga tipe-tipe kepribadian masing-masing ikan. Oleh karena fokus yang begitu detail dan dalam soal obyek produksi, bisa jadi ia lemah di strategi pemasaran apalagi spekulasi persaingan, makanya bisa jadi orang selain perikanan yang tidak terlalu tahu banyak ikan, tahu hanay seperlunya saja, tetapi dia memiliki alokasi pikiran yang lebih ke faktor-faktor non obyek produksi bisa jadi lebih berhasil untuk menjadi pengusaha besar ikan.
Begitu juga bila orang dapur, mau berjualan kue, dari segi rasa sangat detail sekali bisa menguasai, tapi karena terlalu fokusnya, dia jadi mengabaikan faktor persaingan, efisiensi cadangan operasional, manajemen pengembangan cabang dan lain sebagainya, maka bisa jadi orang yang tidak menguasai kualitas rasa dan tetek bengek soal dapur roti bisa lebih besar keberhasilannya karena memiliki alokasi pikiran yang luas juga di aksi spekulasi dan pengembangan tidak terforsir di satu hal saja : rasa.
Namun demikian, bukan memilih bidang yang sesuai latar belakangnya bukan berarti sembarang pilih. Yang paling mudah untuk berhasil adalah mereka yang memilih bukan di bidangnya tetapi sesuai dengan passionnya.
Kemudian tentang skill, saya mengidentifikasi rekan-rekan saya yang tetap komit di dunia bisnis, mereka ternyata bisa survive dan berpenghasilan dari bisnisnya, pola yang saya temukan adalah karena mereka berbisnis sesuai dengan skillnya. Orang yang skillnya di dunia Linux bisa hidup cukup bahkan berkelimpahan dari order install aplikasi dan maintenance dipanggil nge-job disana-sini. Orang yang skillnya di fotografi bisa terus berbisnis dengan menggandeng wedding organizer menjemput order foto-foto aneka rupa resepsi. Dan berbagai contoh lainnya.
Sederhana, cukup tingkatkan skill kita, gandeng pihak-pihak yang berkaitan dengan skill kita, kenalkan pada sebanyak mungkin orang bahwa kita memiliki skill itu, maka keberhasilan berbisnispun ada di tangan.
Disinilah berseberangannya, dengan skill kita bisa menjadi pebisnis yang mantap, karea order akan sulit terputus. Tetapi dengan passion kita bisa menjadi pebisnis yang besar, karena kita tidak tersita banyak waktu di ranah produksi sehingga bisa concern mengembangkan usaha.
Jadi, pilihan di tangan kita, mau jadi pebisnis yang penghasilannya mantap, setiap hari tidak pernah kurang order dan tidak pernah tidak pegang uang, pilihlah bisnis di skill kita. Tetapi konsekuensinya kita akan sulit menjadi besar, karena kita akan berat meninggalkan ranah produksi yang merupakan keahlian kita, kecuali kita delegator yang baik.
Tapi kalau kita inginnya menjadi pebisnis yang besar, pilihlah yang bukan skill kita tapi sesuai dengan passion kita, sehingga tidak pernah merasa lelah untuk terus mengembangkan itu usaha.
*Ini bukan tulisan justifikasi, sekedar bahan diskusi
Sedangkan skill adalah sesuatu keahlian yang kita kuasai yang tidak semua orang kuasai dan biasanya kalau orang ada perlu bantuan yang berhubungan dengan bidang skill kita itu, kitalah yang mereka panggil untuk diminati bantuan (maupun job).
Nah, dua hal itu sama-sama bisa kita jadikan pijakan untuk memulai bisnis. Loh, kok sama-sama? katanya berseberangan? Sebentar... Sekalipun keduanya sama-sama bisa kita gunakan pijakan untuk memulai bisnis, tetapi karakter bisnisnya berbeda, bertolak belakang, berseberangan.
Bagaimana berseberangannya? Akan saya jelaskan dalam beberapa paragraf. Begini, Purdi E Chandra dan rekan-rekan bisnis yang seideologi dengannya memiliki kredo "kalau mau sukses bisnis, pilihlah bidang yang berbeda dari latar belakang bidang kita."
Misalnya Anda orang perikanan, cobalah berjualan katering. Atau Anda orang dapur, cobalah bercocok tanam salak pondoh untuk diekspor misalnya. Pernyataan diatas bukan tanpa dasar Pa Purdi lontarkan. Salah satu logikanya begini, misalnya Anda orang perikanan, Anda tahu sekali seluk beluk sebuah species ikan, mulai dari masa pemeliharaan, makanan favorit hingga tipe-tipe kepribadian masing-masing ikan. Oleh karena fokus yang begitu detail dan dalam soal obyek produksi, bisa jadi ia lemah di strategi pemasaran apalagi spekulasi persaingan, makanya bisa jadi orang selain perikanan yang tidak terlalu tahu banyak ikan, tahu hanay seperlunya saja, tetapi dia memiliki alokasi pikiran yang lebih ke faktor-faktor non obyek produksi bisa jadi lebih berhasil untuk menjadi pengusaha besar ikan.
Begitu juga bila orang dapur, mau berjualan kue, dari segi rasa sangat detail sekali bisa menguasai, tapi karena terlalu fokusnya, dia jadi mengabaikan faktor persaingan, efisiensi cadangan operasional, manajemen pengembangan cabang dan lain sebagainya, maka bisa jadi orang yang tidak menguasai kualitas rasa dan tetek bengek soal dapur roti bisa lebih besar keberhasilannya karena memiliki alokasi pikiran yang luas juga di aksi spekulasi dan pengembangan tidak terforsir di satu hal saja : rasa.
Namun demikian, bukan memilih bidang yang sesuai latar belakangnya bukan berarti sembarang pilih. Yang paling mudah untuk berhasil adalah mereka yang memilih bukan di bidangnya tetapi sesuai dengan passionnya.
Kemudian tentang skill, saya mengidentifikasi rekan-rekan saya yang tetap komit di dunia bisnis, mereka ternyata bisa survive dan berpenghasilan dari bisnisnya, pola yang saya temukan adalah karena mereka berbisnis sesuai dengan skillnya. Orang yang skillnya di dunia Linux bisa hidup cukup bahkan berkelimpahan dari order install aplikasi dan maintenance dipanggil nge-job disana-sini. Orang yang skillnya di fotografi bisa terus berbisnis dengan menggandeng wedding organizer menjemput order foto-foto aneka rupa resepsi. Dan berbagai contoh lainnya.
Sederhana, cukup tingkatkan skill kita, gandeng pihak-pihak yang berkaitan dengan skill kita, kenalkan pada sebanyak mungkin orang bahwa kita memiliki skill itu, maka keberhasilan berbisnispun ada di tangan.
Disinilah berseberangannya, dengan skill kita bisa menjadi pebisnis yang mantap, karea order akan sulit terputus. Tetapi dengan passion kita bisa menjadi pebisnis yang besar, karena kita tidak tersita banyak waktu di ranah produksi sehingga bisa concern mengembangkan usaha.
Jadi, pilihan di tangan kita, mau jadi pebisnis yang penghasilannya mantap, setiap hari tidak pernah kurang order dan tidak pernah tidak pegang uang, pilihlah bisnis di skill kita. Tetapi konsekuensinya kita akan sulit menjadi besar, karena kita akan berat meninggalkan ranah produksi yang merupakan keahlian kita, kecuali kita delegator yang baik.
Tapi kalau kita inginnya menjadi pebisnis yang besar, pilihlah yang bukan skill kita tapi sesuai dengan passion kita, sehingga tidak pernah merasa lelah untuk terus mengembangkan itu usaha.
*Ini bukan tulisan justifikasi, sekedar bahan diskusi
7/4/10
Menjadi Apa
Anda akan menjadi seperti :
1. Apa yang banyak Anda lihat
2. Orang seperti Apa yang Anda banyak mintai pertimbangan
Mari kita review sejenak.
7/2/10
Keramahtamahanmu
Sy,atau kami tepatnya, sdang meluncur nyari penerbit Tiga Serangkai.
Sy : "Pnerbit TS pundi gih,Pak?"
Bpk : "Oh. Lurus mawon,mangke w0nten pertigaan,niku ngajeng niku (menunjuk arh),belok kiri"... Lihat Selengkapnya
sy: "teras?"
bpk: "lurus mawon.mangke ningali kiri jalan. Nah TS niku w0ntening kiri jLn..mmmmh (susah pyah ia hitung2) kinten2 800meteran saking pertigaan niku"
sy: "oh. Gih. Mtsuwun gih pak gih." dan sy pergi.
Lima meter mtor sy mlaju, sesuara susah pyah mdarat k tlingaku. Aih,trnyta si Bpk. Dia menyusulkn sesuatu,
"eh, boten 800meter. Mung 200meteran Mas" susulnya, ngos ngosan.
Aih, ia smpat2ny mralat hitung2 itu. Hmm.m trmkasih Solo,keramahtamahanmu...
(Solo,2006)
:: Suyatna "Citho" Pamungka ::
6/30/10
Baghdad
Dari Muhammad AS Hikam, "Sufi Junaid al Baghdadi mengatakan: "Apabila anda bertemu dg orang miskin, jangan mulai membicarakan ttg ilmu, tetapi mulailah dg bersikap lemah lembut. Bicara ttg ilmu akan membuat mrk liar, sikap lembut akan membuat mrk jinak."
6/27/10
6/24/10
Jiwa-Jiwa yang Tenang
"Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu" (QS Al-Fajr :27-30)
6/13/10
6/11/10
6/10/10
6/9/10
23 Juni
Komunitas blogger solo akhirnya sukses menyelenggarakan perhelatan nasional kopdar blogger dari berbagai penjuru Indonesia bertajuk SOLO (Sharing Online Lan Offline). Sebagaimana amanat pak Walikota, Pak Agus Wi yang sangat mensupport acara ini, peserta dihimbau untuk menuliskan tentang yang didapat di Solo kemarin.
Simpel saja, saya hanya ingin berbagi tentang suguhan di awal acara pembukaan, sebuah penampilan unik eksentrik yang merupakan cuplikan dari akan megah, meriah dan wah-nya sebuah moment tahunan dunia bertajuk Solo International Batik Carnival 2010.
Pelaksanaan acara ini yakni tanggal 23 Juni 2010 yang akan digelar terbuka untuk umum disepanjang jalan Slamet Riyadi, aortanya jaringan jalan di kota Solo. Hm, sebuah moment yang amat sangat disayangkan bila dilewatkan.
Untuk informasi bagi yang hendak datang ke Solo menyaksikan perhelatan dunia 23 Juni esok, Solo bisa jadi jauh dari tempat pembaca berada, tapi Solo bukanlah tempat yang susah dijangkau. Untuk Anda yang berada di Purwokerto dan sekitarnya, Anda bisa berangkat menggunakan Kereta Api kelas Eksekutif hanya dengan 70.000 rupiah, KA Lodaya, naik dari Stasiun Kroya (Karena KA Lodaya berangkat dari Bandung jadi tidak menyambangi Stasiun Purwokerto), tunggu saja jam setengah dua AM maupun PM ada dua trayek dalam sehari. Ikutlah kereta itu sampai tujuan akhir, Stasiun Solo Balapan.
Sedangkan untuk pulangnya, karena tidak ada tiket KA ke Purwokerto (semua tiket KA dari Solo yang melewati Purwokerto tiketnya bertarif Jakarta, mahal...), bisa naik Bus saja, Rosalia Indah yang berangkat dari Terminal Tirtonadi jam 17.00, tiketnya 60.000 rupiah. Sebagai informasi, Terminal Bus Tirtonadi letaknya bertetanggaan dengan Stasiun Solo Balapan.
Kalau Anda dari Jogja, wah keterlaluan kalau sampai tidak tahu alat transportasi ke Solo. Hm, tapi tak apa, ini mungkin info bagi Anda yang orang mana yang kebetulan tanggal 22 Juni sedang berlibur di Jogja. Untuk ke Solo Anda cukup datang ke Stasiun Yogyakarta, lalu naik kereta Prameks (Prambanan Ekspress) dengan tiket 9.000 rupiah. Begitu juga pulangnya. Kalau ingin pulang dengan variasi kendaraan yang berbeda, bisa naik bus dengan tiket 7.000 rupiah. Pilihlah bus yang AC Ekonomi, biarpun busnya AC, masih baru pula, tapi tiketnya tak lebih mahal, sama. Salah satu busnya namanya "Mira".
Kalau Anda posisi di Semarang? Bisa naik KA Banyubiru, dengan tiket 16.000 rupiah, berangkat dari Stasiun Semarang Tawang pukul 5.50. Dan pulangnya ada kereta yang sama sekitar pukul 19.00.
Kalau Anda dari Surabaya, Madura, Blitar atau sekitarannya? Bisa naik kereta Pasundan yang berangkat dari Surabaya Gubeng jam Enam pagi dan sampai Solo sekitar jam 11.00, tiket hanya 20.000an.
Kalau Anda dari Jakarta, bisa naik Senja Utama Solo dengan tiket Bisnis 130.000, berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 20.30 dan sampai di Solo sekitar jam 08.00 pagi.
Kalau Anda dari luar Jawa? Naik pesawat saja, turun di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Bandara Internasional kok...
So, 23 Juni datang ke Solo, The City of Batik.
Simpel saja, saya hanya ingin berbagi tentang suguhan di awal acara pembukaan, sebuah penampilan unik eksentrik yang merupakan cuplikan dari akan megah, meriah dan wah-nya sebuah moment tahunan dunia bertajuk Solo International Batik Carnival 2010.
Pelaksanaan acara ini yakni tanggal 23 Juni 2010 yang akan digelar terbuka untuk umum disepanjang jalan Slamet Riyadi, aortanya jaringan jalan di kota Solo. Hm, sebuah moment yang amat sangat disayangkan bila dilewatkan.
Untuk informasi bagi yang hendak datang ke Solo menyaksikan perhelatan dunia 23 Juni esok, Solo bisa jadi jauh dari tempat pembaca berada, tapi Solo bukanlah tempat yang susah dijangkau. Untuk Anda yang berada di Purwokerto dan sekitarnya, Anda bisa berangkat menggunakan Kereta Api kelas Eksekutif hanya dengan 70.000 rupiah, KA Lodaya, naik dari Stasiun Kroya (Karena KA Lodaya berangkat dari Bandung jadi tidak menyambangi Stasiun Purwokerto), tunggu saja jam setengah dua AM maupun PM ada dua trayek dalam sehari. Ikutlah kereta itu sampai tujuan akhir, Stasiun Solo Balapan.
Sedangkan untuk pulangnya, karena tidak ada tiket KA ke Purwokerto (semua tiket KA dari Solo yang melewati Purwokerto tiketnya bertarif Jakarta, mahal...), bisa naik Bus saja, Rosalia Indah yang berangkat dari Terminal Tirtonadi jam 17.00, tiketnya 60.000 rupiah. Sebagai informasi, Terminal Bus Tirtonadi letaknya bertetanggaan dengan Stasiun Solo Balapan.
Kalau Anda dari Jogja, wah keterlaluan kalau sampai tidak tahu alat transportasi ke Solo. Hm, tapi tak apa, ini mungkin info bagi Anda yang orang mana yang kebetulan tanggal 22 Juni sedang berlibur di Jogja. Untuk ke Solo Anda cukup datang ke Stasiun Yogyakarta, lalu naik kereta Prameks (Prambanan Ekspress) dengan tiket 9.000 rupiah. Begitu juga pulangnya. Kalau ingin pulang dengan variasi kendaraan yang berbeda, bisa naik bus dengan tiket 7.000 rupiah. Pilihlah bus yang AC Ekonomi, biarpun busnya AC, masih baru pula, tapi tiketnya tak lebih mahal, sama. Salah satu busnya namanya "Mira".
Kalau Anda posisi di Semarang? Bisa naik KA Banyubiru, dengan tiket 16.000 rupiah, berangkat dari Stasiun Semarang Tawang pukul 5.50. Dan pulangnya ada kereta yang sama sekitar pukul 19.00.
Kalau Anda dari Surabaya, Madura, Blitar atau sekitarannya? Bisa naik kereta Pasundan yang berangkat dari Surabaya Gubeng jam Enam pagi dan sampai Solo sekitar jam 11.00, tiket hanya 20.000an.
Kalau Anda dari Jakarta, bisa naik Senja Utama Solo dengan tiket Bisnis 130.000, berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 20.30 dan sampai di Solo sekitar jam 08.00 pagi.
Kalau Anda dari luar Jawa? Naik pesawat saja, turun di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Bandara Internasional kok...
So, 23 Juni datang ke Solo, The City of Batik.
| Batik Performance |
6/4/10
6/3/10
6/1/10
Subscribe to:
Posts (Atom)



















