9/30/10

Rahasia Dibalik Bilangan Ganjil

Sewaktu dulu saya ikut pelatihan Kewirausahaan bersama Pa Supardi Lee di Auditorium salah satu Fakultas di IPB saya diajari tentang "anchor", atau istilah Indonesianya jangkar. Jadi, kita membuat satu gerakan khusus, misalnya menceplikkan jempol, menggenggam tangan atau apapun lah, yang dengan itu kita jadikan shortcut atau penghubung dengan memory kita yang berisi semangat, kemenggebu-gebuan dan lain sebagainya.


Sederhananya, dengan kita mengepalkan tangan misalnya, diri kita jadi tergerak untuk semangat lagi, mengulang semangat di suatu waktu yang pernah kita alami dulu. Itulah anchor.


Saya mengistilahkan itu dengan aktivitas "mengingat semangat" atau bahasa Arabnya mungkin "Dzikrul Semangat" (ngarang....), karena dengan melakukan apa yang menjadi anchor kita, memory tentang semangat hadir di diri kita.

Ternyata hal itu bukan ilmu baru, sudah diajarkan bagaimana Dzikrullah dengan metode anchor sebagaimana yang diajarkan Pa Supardi Lee di atas. Bagaimana caranya?


Hadits Qudsi menyebutkan, "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", yang artinya, sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.


Nah, bilangan ganjil diajarkan-Nya untuk menjadi anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Kita memilih hari untuk bepergian, "hm, tanggal 13 apa 14 ya?" lalu sontak kita memilih "tanggal 13 ah!", kemudian seorang teman berkata "kenapa 13?", lalu kita menjawab "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", bukankah itu artinya kita sudah melaksanakan aktivitas mengingat Allah? Dzikrullah?


Bukan hanya mengingat, tetapi juga memilih apa yang Dia cintai. Nah, mulai sekarang jadikanlah bilangan ganjil sebagai anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Ketika kita bimbang memilih hari untuk bepergian, pilih yang ganjil, ketika membeli sesuatu pilihlah jumlah yang ganjil, ketika menyalakan volume televisi tetapkan pada volume ganjil, dan setiap kali ada orang bertanya atau diri kita sendiri yang bertanya, "kenapa?", maka jawablah "Allah itu ganjil, dan menyukai yang ganjil". Maka kita sudah mengingat-Nya, sudah melibatkannya.


Quraish Syihab mengatakan, "Esensi beragama adalah melibatkan Allah dalam setiap urusan kita."


Wallahu'alam, CMIIW.



Sumber dari kuliah taraweh di Masjid Daarut Tauhid

Lilinnya Padam

Teduh rasanya ruangan, kalau ada lilin yang menyala di dalamnya. Memang tidak terang benderang, tapi nyaman. Beda ceritanya kalau lilin itu mati. Kita berharap ada lampu pijar menyala menerangi kita. Masih kurang terang, sambil menggerutu, kita menuntut dihadirkan matahari.

Ada cara yang lebih tidak menyiksa, yakni : akui saja. Akuilah saja kalau "lilin diri" kita padam, sehingga kita menuntut lampu pijar untuk segera dinyalakan agar kita terterangi. Akuilah seperti Nabi Yunus AS mengakui kedzoliman dirinya dalam doa "Lailahaila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin" agar kita tidak lelah menuntut dihadirkan matahari.

Memang terlalu sombong manusia, Nabi saja mengaku dirinya dzolim dihadapan-NYA, lah kita malah mengaku-ngaku hebat, walau pada kenyataannya setiap hari kita meminta lampu pijar, menuntut dihadirkan matahari, pertanda "lilin diri" kita mati.

9/28/10

Amannya Mario Teguh

Ketika Ary Ginanjar dihujat lantaran dalam membawakan materi training-training pembangun jiwa mengutip Al Quran, Hadits, dan kata bijak dari tokoh2 Islam. Mario Teguh justru aman-aman saja.

Coba si simak rekaman Mario Teguh dalam programnya di Metro TV yang populer dengan sebutan MTGW, simak dengan cermat, dalam sekali tayang berapa kali Mario Teguh mengungkapkan kalimat-kalimat yang menyerupai ayat Al Quran dan Hadits Nabi SAW.

Ary Ginanjar yang mencoba mempenetrasikan nash-nash asli itu digampar bahkan ditendang, lantaran ini dan itu. Tetapi Mario Teguh tidak, karena Mario Teguh me re-redaksi atau membuat keredaksian sendiri yang senada dan mirip dengan nash-nash Al Quran dan Hadits.

Apapun itu, merekalah orang2 berilmu yang turun gunung, yang bukan hanya dakwah di dalam masjid, yang bukan hanya berharap membeli surga dengan rakaat sholat dan sekian persen zakat berasnya.

Saya jadi teringat kata teman baik saya di kumpulan di rumah Karyanto silaturahim Idul Fitri kemarin, "Golongan Islam klasik memang lebih getol mengkritik saudara seiman sendiri, ketimbang mengkritik orang lain."

Prihatin saya.

Pa Ary, teruslah menuju kebenaran dan teruslah berbagi. Mario Teguh, teruskan pula, saya setuju2 saja kok, toh itu lebih aman dari serangan saudara sendiri. Yang penting pesannya sampai dulu, daripada pesan tidak pernah tersampaikan hanya karena meributkan nash.

9/26/10

Nanti Dibikin

Sebuah dedikasi untuk teman-teman se-almamater tercinta, untuk persatuan ukhuwah kita dan mengembangkan semangat koperasi tanpa harus mendaftarkan diri ke departemen koperasi (karena sesungguhnya departemen koperasi, departemen agama dan lain2nya itu aneh keberadaannya...), bahkan tanpa menggunakan nama koperasi seperti yang tertempel di taksi-taksi sekarang... Nanti kita bikin :

99. Spensaba Mart
05. Pasar Kecil Psimis

Man shabara zhafira

"Sopowonge sing sabar, dheweke begja", begitu kira-kira artinya.

Hikayat Kelahiran Bedug

Waktu itu Islam belum lama datang di tanah Jawa, tanah Jawa yang masyarakatnya belum mengenal kalkulator apalagi kamus bahasa Arab, masih tradisional pokoknya.

Setelah beberapa orang di kelompok masyarakat itu bisa syahadat, selanjutnya mereka diajari sholat. Maka, dibangunlah sebuah masjid yang sederhana dan diserahkanlah pengurusan masjid itu kepada seorang warga bersama Tarmin.

Tarmin juga yang biasa adzan disitu, hari berganti hari si Tarmo yang masuk Islam dan mengaji materi "Fundamental Islam" bersama Tarmin jarang sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di masjid, lalu ditegurlah dia, "kamu kok nggak ikut sholat jamaah Dhuhur dan Ashar?"

Si Tarmo menjawab, "Lah, saya di kebon, nggak denger kamu Adzan, makanya beli mic & Toa donk?!", Lalu si Tarmin menjawab, "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada toko yang jualan mic & Toa!".

"Oh iya, lupa...", kata Tarmo. "Kalau begitu begini saja, itu ada kayu bolong kalau dipukul kan lumayan keras bunyi 'thong-thong-thong' nya, nah, kalau kamu mau Adzan, dipukul dulu ya yang keras biar aku tahu bahwa sebentar lagi Adzan", lanjut Tarmo.

"Ah, ribet amat si, tinggal kamu lihat jam si kenapa, kira2 sendiri sudah masuk waktu sholat apa belum...", Sanggah Tarmin. "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada jam! lupa ya?!", jawab Tarmo. "Oh iya, lupa....", balas Tarmin.

"Baiklah, aku tabuh kayu itu ya kalau mau Adzan, tapi kamu gotong gih ke depan masjid", lanjut Tarmin.

Sejak saat itu, tiap dengar 'thong-thong-thong', Tarmo segera bergegas dari kebonnya dan menuju masjid. Dia tidak pernah lagi ketinggalan jamaah karena sebuah benda yang kemudian diberi nama "Kenthong", karena bunyinya tang thong-thong-thong itu.

Nah, yang kebonnya lebih jauh tidak bisa mendengar jelas itu kenthong, apalagi anak-anak biasa mainan menabuh-menabuh kayu. Daripada salah pendengaran atau tidak terdengar, ada orang lain yang kebonnya lebih jauh dari Tarmo urun kulit sapi yang dibundarkan di atas kayu yang kalau dipukul bunyinya "dug-dug-dug".

Lambat laun benda itu dikenal dengan nama bedug karena bunyinya yang 'dug-dug-dug'. Karena tarmin sudah ribuan hari menabuh itu dua benda, maka lambat laun jadi tidak sekedar menabuh tetapi muncul irama tertentu seperti yang terdengar sekarang ini.

Dan karena kayu bolong dan kulit sapi itu sering kehujanan, maka diiubkanlah di di serambi masjid. Tidak lama berselang setelah kebiasaan itu terbentuk, kiai yang mengajar ngaji Tarmin dan Tarmo ditangkap penjajah Belanda.

Kejamnya penjajah Belanda, kiai yang baik itu diasingkan dan ditukar dengan kiai palsu yang pekerjaannya menyelewengkan aqidah. Walhasil, masyarakah Jawa yang tradisional, sederhana dan miskin wawasan itu beberapa ada yang mensyariatkan kenthong dan bedug sebagai syarat sah sebuah masjid.

Begitulah, tidak selang berapa lama berlalu, Tarmo, Tarmin dan gurunya dianggap sesat karena menggunakan benda-benda itu. Mungkin pendapat dari orang yang menganggap sesat itu, seandainya Tarmo tidak usah menggunakan benda-benda itu, dan tidak usah mendengar orang adzan karena jauhnya ladang, itu bisa jadi dianggap tidak sesat. (*Aneh...)

Sebagaimana di judul, ini cuma hikayat, hikayat itu cuma ngarang... jadi ini bukan teks sejarah kelahiran bedug ya, jangan dicap sesat saya.

Sekedar ingin mengajak berpikir, bahwa yang mutlak benar itu Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain, selain Al Quran dan Hadits semuanya mempunyai kemungkinan salah. Nah, cara dan hasil tafsil Al Quran dan Hadits itu bagian dari Al Quran dan Hadits itu sendiri atau bukan? Kalau bukan, berarti itupun mungkin salah.

CMIIW

9/24/10

Play On

Tidak terasa, sudah hampir setengah tahun saya menikmati irama aktivitas yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya saya banyak di balik layar (layar laptop) dan sedikit putar-putar purwokerto, sekarang hampir setiap hari harus mampir SPBU.

Setiap kali saya selesai dari sebuah urusan eh kemudian merogoh saku dan menyimak lembaran to do list yang saya buat dari potongan kertas aster ukuran 6 x 8 dan ternyata sudah ada waiting list aktivitas berikutnya yang harus segera saya temujui dan saya beresi, seketika itu pula saya melatih diri saya untuk reflex mengucap ungkapan tertulus dari dalam hati :

"Alhamdulillah, waktu yang saya punyai termanfaatkan"

Betapa syukur itu kentara mendalam ketika saya mengcounternya dengan dua kenyataan berbeda di luar saya : 1. mereka yang bingung mau ngapain dan 2. mereka yang terpaksa harus ngapa-ngapain demi janji yang mereka tuangkan dalam surat kontrak yang mereka tanda tangani sendiri.

Dan sebuah hadiah indah kemarin saya dapati, MYELIN namanya. Bahwasannya, tidak ada yang merugi bagi seorang yang gemar playon tetapi tetap berpikir mendalam (berkontemplasi), karena muscle memory atau memory yang tersebar di sekujur tubuh kita berkembang, seiring dengan berkembangnya brain memory di dalam otak kita.

Orang yang hanya bertindak, berorientasi pada bayaran atau penilaian atas hasil tanpa berpikir mendalam tentang visi hingga evaluasi maka brain memory-nya tidak berkembang. Dan orang yang hanya berpikir, tanpa tersibukkan dirinya dengan action fisik (playon), maka muscle memory nya tidak akan berkembang. Dan kata Renald Kasali si penulis buku MYELIN, beriringnya perkembangan kedua memori penting di dalam tubuh kita itulah yang membuat lahirnya pemimpin-pemimpin besar dibidangnya.

Saya mengira-ira, mungkin itu semakna dengan perpaduan yang kata Bob Sadino jam terbang dan kata Ippho Santosa Intuisi.

Mari playon, marilah playon, marilah Play On bersama sama...

9/23/10

Stadium Kepepet, Stadium Dorurot

Sebetulnya sangat beda, tapi berapa banyak orang yang sengaja merancukan antara dua kondisi ini, yakni stadium kepepet dan stadium darurat.

Kepepet itu misalnya, jatuh tempo angsuran. Dorurot itu diancam sama depkolektor mau dibunuh. Nah, diajaran agama kita, dalam kondisi dorurot bahkan daging babipun boleh dimakan asal dianggap menjadi satu-satunya jalan yang bisa berefek kuratif (menyembuhkan).

Kehati-hatian kita adalah dalam menentukan kita sebetulnya stadiumnya sudah dorurot apa baru kepepet. Kalau baru kepepet kok sudah makan daging babi, aduh jaaan sayang..... Jasa Setiabudi sampai membuat buku tersendiri tentang kekuatan dibalik kepepet yang judulnya The Power of Kepepet.

Pesan saya, saat merasa stress, buntu, merasa kondisi sudah dorurot, sharinglah kepada orang yang tepat, kalau bisa jangan hanya kepada satu orang, agar kita bisa menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk mendefinisikan kondisi kita memang benar-benar dorurot atau baru kepepet tapi sudah mau makan babi?

Kepepet adalah tonggak kebangkitan diri kita, kecuali sudah benar-benar dorurot, janganlah terburu-buru makan babi. Kepepet bukan dalih untuk bisa kita sebut dorurot, kepepet adalah timing kita untuk meluncur...

Ayuku

Rangkaian penawaran demi penawaran yang kupikir selesai dengan 2,5 jam talkshow dan diskusi interaktif tadi malam dirumah kawan lamaku, Ayuku namanya. Ternyata tidak, setelah tadi pagi menandatangani 3 materai, sore dan malam ini masih ada 3 appointment lagi. Alhamdulillah...

Saya jadi ingat sebuah kalimat sakral di salah satu awal paragraf pembukaan UUD 1945, itulah bukti betapa tinggi spiritualitas para pendiri bangsa, bayangkan kemerdekaan yang untuk menggapainya melahap seabreg harta benda bahkan ribuan malah jutaan nyawa, tidak mereka tulis di UUD : Atas berkat uang yang terbuang dan darah yang tertumpah, tetapi

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..."

Dan bukan hanya itu, kalimat yang membuntutinyapun bukan soal materi, bukan soal kerja keras, tapi :

"...dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur."

Keinginan luhur mungkin identik artinya dengan niat yang lurus dan penuh kesungguhan.

Ya, semua penawaran dan penerimaan yang bertubi-tubi adalah atas berkat Rahmat Allah, bukan hasil kerja keras dan lelah...

*to Ayuku dan all tenant-tenant saya, semoga berlanjut ya obrolan kita...

Cukup Jadikan itu Pemacu, Bukan Peresah

Hari ini talkshow Inspirasi Entrepeneurship di kampus Akatel berlangsung lancar, antusias dan saya sendiri puas dengan performa tadi. Slide terakhir yang saya tampilkan tadi di baris paling bawah sebagai inti materi adalah "berpikir linear v.s. berpikir lateral".

Ini sebetulnya bukan slide untuk mereka saja, tapi slide untuk diri saya sendiri. Agar tidak terjebak dalam alur berpikir linear ketika dilontari pertanyaan-pertanyaan yang terkesan menekan. Contohnya adalah pertanyaan ini "Lah, kamu kapan nikah?", yang dilontarkan bertubi-tubi selama rangkaian silaturahim Idul Fitri keliling diantaranya ke guru-guru SMA tercinta kemarin.

Pertanyaan itu, harus kita analisis asbabun-nya atau latar belakang kenapa pertanyaan itu dilontarkan. Apakah sebuah pertintah untuk kita lekas menikah, atau sebuah bumbu komunikasi yang ringan, menggelitik tetapi mengesankan perhatian personal yang dekat?

Berpikir linear terhadap pertanyaan itu dan pertanyaan lain yang serupa hanya akan membuat kita terjerumus dalam lubang bernama keresahan. Karena itu, berpikir lateral saja, cukup jadikan itu sebagai pemacu, tidak perlu merasa tidak nyaman, sehingga kita mempercepat nikah kita atas dasar ingin menjawab pertanyaan itu secepatnya, bukan lagi karena niat sucinya sebuah pernikahan.

Sering bukan? kita terjebak dalam kekeliruan niat semacam itu? Misalnya di kasus lain, ada orang menutup akun facebook, sebenarnya ingin membukanya lagi, tapi karena gengsi, ia tak kunjung membukanya. Bayangkan, susah-susah tutup akun bukan karena niat ingin memetik manfaatnya, tetapi karena demi gengsi.

Begitu juga dengan wisuda, niat suci mengambil bagian dalam perhetalan wisuda sebagai perhelatan proklamasi diri bahwa skill yang ia ilmui sudah melampaui batas kapasitas, eh banyak orang justru memburu-buru wisuda karena resah dengan slentingan dan omongan orang, termasuk orang tua.

Hal semacam itulah yang memboroskan amal, kinerja meningkat tapi niat tidak terpelihara, sayang... mubah... . Mending si tidak usah nikah saja, atau buka saja itu akun facebook, atau tidak usah wisuda saja, daripada niat ingsun memuja gengsi diri.

Ya sudahlah, intinya, jangan resah oleh omongan orang, karena belum tentu orang ngomong seperti itu sedang dalam konteks menuntut, bisa saja cuma sekedar menggelitik. Jadikan saja itu pemacu. Kalau itu menimbulkan keresahan dan keresahan tidak bisa diusir, percayalah, setelah pertanyaan itu terjawab akan menyusul pertanyaan berikutnya, "Kapan punya rumah?", "Kapan punya anak?", "Kapan punya mantu?", "Kapan punya cucu?", "Kapan kamu mati?"...

Haha, mending mati sekarang, daripada menghabiskan umur hanya untuk bergumul dari keresahan akibat :
1. omongan orang
2. gengsi diri



CMIIW

9/22/10

Nasi Kuning

Nasi kuning depan Rumah Makan Sederhana jam 08.00 sudah habis. Padahal jam 06.00 baru buka. Hm, sudah laku berapa ya? Katakanlah laku 100, harga perporsi 3.500 maka didapat angka 350.000 omzet perhari.

Keuntungan minim-minimnya 50%, jadi untung 175.000. Angka itu mungkin sudah bersih, karena tidak perlu bayar karyawan sebab si owner sekaligus jadi self-employee disitu, dan tidak perlu sewa ruko karena cukup menggelar lapak.

Perbulan didapat laba bersih 175.000 x 30 = 5.250.000,00. Tiga kali lipat dari gaji CS. Bahkan cicilan Avanza saja cuma 3.500.000,00.

Kepada para entrepeneur yang saat ini omzetnya masih seret, sabarlah, ikhlaslah, asal tidak putus asa, kata SBY "Ku Yakin Sampai Disana".

9/20/10

Bebaskan Dirimu....

Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek.
Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan.
Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak hanya bisa minta petunjuk.

(Dahlan Iskan)

9/15/10

Multi-intepretasi SMS

Memang gampang sekali salah tafsir dalam membaca SMS, apalagi yang membacanya cepat, hanya sekali dan tidak diulang. Haha, sore ini, SMS-an dengan harus dua kali kirim dengan penjedaan dan tata penulisan yang berbeda demi menghindari multi-intepretasi SMS. Hahaha... ada ada saja.

9/14/10

Semudah itukah Mencap Orang Lain Sesat?

Kepada para kiai-kiai itu saya ingin bertanya ke mereka, ibadah itu ada (1) ATURAN dan ada (2) TUJUAN, apa cukup kita mencapai maqom kemuliaan tertinggi hanya dengan mencapai ATURAN ibadah saja, sehingga tidak perlu kita berpikir, merasa dan merenung tentang TUJUAN ibadah. Atau TUJUAN ibadah memang hanya sebatas mencukupi ATURAN2nya saja?

Jangan Pake "Mantese"

Mantese kepenak ya ngger nduwe bojo, mantese nyamleng ya nek wis ana kodean, mantese bombong ya ngger dadi kaya Aa Gym...

Mau sampai manapun diperturuti, "mantese" hanya akan berbuah kekecewaan. Ya, dalilnya jelas, jangan mengikuti prasangka, karena kebanyakan prasangka itu tidak benar. Nyatanya memang begitu, wong mbojo kepengen menyepi, wong ngode kepengin prei, wong penggede kepengen leren.

Itulah tingkatan hakikat kehidupan yang diajarkan Tuhan kepada manusia melalui proses. Bukan karena tidak mampu, Tuhan kok mengulur terkabulnya doa, memperpanjang masa prihatin sebelum sukses, cuma agar manusia tidak terjerat oleh pikirannya sendiri yang bernama "mantese".

Pada akhirnya, semua keberhasilan adalah karena Rahmat Allah. Upaya kita bukan penyebab keberhasilan kita, secuilpun tidak. Kalau konsep ini sudah tertanam bukan sekedar "mudheng", tetapi bener-bener "dong" alias "ngeh", saya yakin, tidak ada itu kita ngode dan bilang "kepriwe maning", tidak juga cemas dan kuwatir dikala jodoh yang dipanjatkan disetiap doa tidak kunjung hadir, tidak pula kemrungsung untuk mengharuskan diri menjadi penggede negeri.

Sekali lagi, bukan karena kerja keras terus kita jadi sukses, bukan karena dosa terus kita jadi gagal, karena Rahmat Allah semata. Kerja keras dan dosa itu hanya link untuk kita eling bahwa Allah itu dekat, rahmat-Nya itu dekat...

Bagi yang tidak mudheng, silahkan tanya langsung ke Allah... boleh kok.

9/13/10

Opname

Masjid Daarut Tauhid

Bergumam

Toyota Vios 2007, 140juta. Sikat???

Meminta

Tuhan berikanlah aku cinta...

Bertanya

Apa umur idealis saya sudah habis ya? Saatnya menyerah pada persoalan-persoalan hidup dan menjadi manusia "ya, kepriwe maning..."

9/7/10

Pasak/Pilar yang Dipancangkan

Pasak/Pilar yang Dipancangkan tidak cukup dengan satu atau dua hari, atau dengan energi satu atau dua joule itu akan menjadi penjaga keyakinan kita dalam berikhtiar.

Terlaksana Sudah

Ditujukan kepada para donatur postingan ini di publis, minta maaf nih atas keterlamabatnya.

Telah terselenggara dengan baik, pelatihan inspirasi menulis dilanjutkan buka puasa bersama untuk putra-putri panti asuhan Darmo Yuwono, kala itu tanggalnya 20 bulannya Agustus 2010.

Ini dokumentasinya sekelumit...

Peserta

Crew, mohon maaf yang sisi sebelah kanan masih ada sederet lagi, tapi belum ketemu dokumentasinya

Pelatihan lanjutan, setiap pekan sekali
Untuk teman-teman yang tertarik untuk ikut berpartisipasi dan berbagi inspirasi di pertemuan-pertemuan lanjutan, hubungi saya saja

Jazakumulloh khoiron katsiron untuk para donatur, salam sudah disampaikan bersambut doa dari saya dan mereka semua.

8/28/10

Nusa Madani

Keikhlasan tidak menerima sesuatu yang seharusnya menjadi hak kita, mudah2an itu menjadi sedekah kita dalam bentuk yang lain

8/24/10

Tujuh

Orang Jawa terkenal sangat kental basa-basinya. Bahkan untuk sekedar pamitan saat bertamu, basa-basi sebagai ekspresi kesantunan dan kecerdasan emosinya hingga berlevel tujuh.

Pertama : "Kadosipun niki badhe pamit rumiin" (Sepertinya ini saya mau pamit dulu). 
Begitu GeErnya takut kepulangannya membuat sedih si empunya rumah (padahal asilnya mah si empunya rumah malah senang, hehe) maka sebelum pamitan sesungguhnya ada acara pra pamitan, menggunakan kata "sepertinya".

Kedua : Berpamitan
Inilah inti dari serangkaian seremoni pamitan yang sesungguhnya, bagi bukan orang Jawa sebenarnya ini saja lebih dari cukup.


Ketiga : "Niki maturnuwun sanget lho" (Mengucapkan terima kasih)
Mengucapkan terima kasih, tidak peduli disuguh atau tidak tadi, tidak peduli dioleh-olehi atau tidak, ya diterimakasihi saja item-item yang ada walau beberapa mungkin meksa.


Keempat : Bersalaman
Salaman sebagai aksi kongkrit sebuah seremony pertemuan maupun persiapan, tentu diiringi dengan senyuman yang termanis dan kata-kata basa-basi pengiring yang bentuk dan jumlahnya tergantung tingkat kepandaian masing-masing


Kelima : Sambil naleni sepatu bercakap-capak seperlunya lalu ditutup dengan ucapan "pareng" (permisi)
Ya begitu deh.


Keenam : Saat kendaraan mulai melaju mengklakson sambil uluk salam "Assalamu'alaykum"
Klakson itu penting, untuk mobil-mobil yang sudah menggunakan power window biasanya dengan membuka kaca. Tapi untuk yang bertamu menggunakan becak, cukup dengan meminta pak tukang becak memelankan genjotannya.


Ketujuh : Sesampainya dirumah sms lagi "Kolowau saestu maturnuwun sanget lho"
Ucapan terima kasih lagi, kali ini beda, lebih tinggi levelnya, karena ada kata "saestu" (benar-benar).

Hahaha....

8/23/10

Taci Taci Semakin Tua

Bahasa apa yang wajib kita siapkan kalau kita mau belanja di Toko Cina? jawabannya adalah Bahasa Jawa. Kenapa? Karena sudah tertebak, yang jaga warungnya si Kokoh atau Taci disana pasti orang Jawa.

Kenapa suka belanja di Toko Cina? Karena 9 dari 10 toko di 9 dari 10 pasar di Indonesia yang punya orang Cina. Yang jaga orang Jawa, kasirnya si Kokoh, si Taci atau anak mereka, paling begitu.

Dan karena Cina berhasil menguasai kunci-kunci supply produk. Tokonya jelek, tapi harganya murah. Berantakan penataannya, tapi semuanya ada.

Pertanyaannya, ketika si Kokoh dan si Taci itu sudah semakin tua, lalu meninggal dunia. Kepada siapakah akses supply barang, diteruskan? Kepada siapakah toko2 terstrategis diwariskan? Apakah kepada anak-anak mereka yang sedari kecil hidup mewah tetapi gigih dilatih prihatin dan telaten?

Atau kepada orang-orang pribumi yang kita salah satu diantaranya?

Lama sekali tidak ngeblog...

Padahal lagi sering ketemu dedengkotan komunitas blogger... hahaha, lucu.

8/14/10

Rubik

Pada suka mainan rubik, kubus dengan 9 segmen kotakan kecil setiap sisinya yang bisa duputar2 untuk mencari warna yang sama. Haha, kemarin ustadz rizky belajar rubik dari santrinya, Ahmad namanya. Saking sungguh2nya belajar bagaimana membuat 6 sisi rubik menjadi seragam warnanya dalam hitungan detik, sampai-sampai pas santri sedang materi, tetep saja direcoki ustadz rizky dengan rubiknya. "Ini gimana?", "ditolakin maksudnya gimana?"....

Sayang di sayang, di hari ketiga rubik menghilang, padalah ustadz rizky baru belajar sampai step dua saja. Kata si Ahmad sebelum pamitan pas acara sudah selesai, "sini berguru ke rumahku aja tad", sembari memberikan denah awangan ancer-ancer dimana rumahnya.

Ustadznya disuruh datang kerumah buat berguru... Hahaha, ustadz sama santri kagak ada yang beres.

Bukber Tahun Ini

Semakin banyak teman-teman sealmamater yang sudah bekerja, itu artinya ritual buka bersama 28 Ramadhan harus digeser harinya, karena kebanyakan mereka baru pulang tanggal 29, bahkan 30 bahkan pas hari raya Idul Fitri dari kota tempat bekerjanya.

Dan saya sudah memutuskan untuk tidak hadir, memilih agenda lain yang bersamaan.

Seraya berdoa, Ya Allah lapangkanlah hati, harta dan hari-hari hamba-Mu ini, hingga tidak terkotaki bahwasannya yang namanya hidup mapan itu harus bekerja, yang membuat tidak bisa leluasa di akhir Ramadhan, yang membuat tidak bisa memfasilitasi teman-teman untuk berkumpul di tahun-tahun yang akan datang. Curahkanlah rahmat kesejahteraan, sebagaimana Engkau curahkan kepada Abdurrahman bin Auf R.A yang membelanjakan hartanya tanpa pikir panjang di jalan dakwah, sebagaimana Engkau curahkan kepada ulama-ulama pra kemerdekaan, yang bisa kaya raya dengan bisnis dan investasi sehingga tidak pernah terhalangi kesibukannya mencari dan membagi ilmu, amin...

Jalan Kaki Ke Jalan Asia Afrika


Menapaktilasi kebesaran Soekarno. Soekarno besar apanya? Besar inisiatifnya. Bayangkan seorang dari negeri pinggiran bernama Indonesia, dia bukan hanya menggagas komunitas, dia bukan menggagas imperium bisnis, dia bukan menggagas negara. Dia menggagas entitas ketiga dunia yang bernama GNB (Gerakan Non Blok).

Melalui salah satunya adalah inisiatifnya, negara dari dua benua, Asia dan Afrika, terbang dan melaut, bertemu muka di tempat yang sekarang diberi nama Gedung Merdeka, menunjukkan eksistensinya ditengah-tengah dua blok besar : Blok Barat dan Blok Timur.

Bagaimana pengetahuan ini bisa kita ilmui? (ilmui, baca : terapkan dalam aplikasi kondisi diri kita saat ini), agar menjadi ilmu yang bermanfaat, bukan ilmu yang mubadzir.

Jangan Kangkung

Puasa hari keempat, hari ini saya ke ATM 3x. Hampir setengah juta terbelanjakan, tapi tidak satu rupiahpun keluar uang untuk makan.

Di atas karpet hijau baru milik masjid PJKA, rasanya trenyuh sedalam2nya... rasanya bahagia sekali, enteng sekali hari ini, bahkan untuk makanpun enggak perlu mikir. "Loh, memang enggak buka mas?", Ya buka lah. Indonesia kan baldatun toyyibatun warrobun ghofur (amin...), tinggal ke masjid saja ada tajil bahkan kalau beruntung dapat makanan.

Bukan karena tidak punya uang saya enggak beli makan untuk buka puasa tadi. Tapi sungguh, nafsu makan ini ludes, bersamaan dengan terlahapnya sebungkus nasi + jangan kangkung + ikan tongkol. Juaan, uenak tuenan jangan kangkungnya, sekalipun dari kemarin buka pake ayam, pake lumpia, pake martabak, di hari keempat inilah yang paling enak : jangan kangkung...

Alhamdulillah, masih belum cukup kenikmatan jangan kangkung itu, eh ada tajilan minuman kotak kacang hijau, terus habis taraweh ditraktir Bakso Pak Kardi LANGSUNG oleh anaknya Pak Kardi dan belum juga usai, sebagai penutup masih ada semangkok kolak di kosan Uchas... sekali lagi Alhamdulillah.

Dan hari inipun berlalu indah, hari-hari yang semakin enteng saya jalani, tidak ada beban seperti dulu. Tidak perlu banyak mikir, tidak perlu banyak ngrumus, mengalir saja... seperti tadi, betapa relaxnya saya di masjidnya Perusahaan Kereta Api Indonesia itu, di serambi masjid yang agak remang mengendap-endap mencari nasi, hahaha.... tanpa jaim... Rizky Rizky...

7/29/10

Halaman Pertama, Urutan Pertama

Gagal posting 1 artikelpun di Kompasiana Blogging Day, malamnya saya rilis saja dua tulisan terkait itu. Bukan emosi, hanya tawaran solusi untuk penyelenggara. Karena ratusan peserta yang gagal posting sudah cukup legowo dan lapang dada menerima kesalahan sistem yang terjadi, maka sudah sepantasnya panitiapun ksatria legowo mengakui kesalahan, memberikan keterangan gamblang dan memberikan pertanggungjawaban. Apalagi ada proses vote artikel sampai pertengahan Agustus nanti.

Satu dari dua tulisan saya tentang protes berisi usulan konstruktif itu ternyata ditangkap mesin pencari google dan didudukkan di halaman pertama, urutan pertama pula pada clue pencarian : Kompasiana Blogging Day.

Kompasiana Waiting Day

Sudah menyiapkan waktu khusus untuk Kompasiana Blogging Day, 100 menit nge-blog hari ini dengan iming-iming 23 hadiah menarik, eh malah tepat jam 14.00 website Kompasiana.com Error. Jadinya Bukan Kompasiana Blogging Day lagi deh... Kompasiana Waiting Day

7/24/10

Menuju Mata Air

Dua orang pengembara sedang mencari air, orang pertama memilih berkembara langsung ke hulu sungai, agar bisa mendapatkan air langsung dari mata airnya yang jernih dan murni.

Seorang lainnya merasa tidak kuat kalau harus mendapatkan air baru di hulu, maka iapun menuju hilir. Di hilir air memang tidak sejernih di hulu, tetapi si pengembara tahu, sekalipun ada bagian yang keruh, tapi ini tidak berbahaya. Ia meminum air di hilir itu, sambil berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Tanpa sungkan, kepada orang yang ada disekelilingnya ia minta diajari bagaimana caranya mengambil air, agar kemanapun ia pergi ia bisa mempunyai simpanan air untuk cadangan dirinya, agar kemanapun ia pergi ia bisa berbagi air ke sebanyak-banyaknya orang.

Maka, bergulat dengan air hilir yang kadang keruh, ia belajar membuat timba, membuat kantong penampungan. Belajar mengambil, menyimpan dan mendistribusikan air. Singkat cerita akhirnya si pengembara itupun mahir. Berbekal air hilir yang kadang keruh itu, ia bergegas berhijrah, mencari tempat yang lebih jernih, sambil meminumunya, sambil membagikannya kepada orang2 yang ia temui, tanpa terasa akhirnya ia telah sampai ke hulu, ke tempat mata air itu.

Bertemulah dengan si pengembara pertama, ketika pengembara kedua sudah begitu mahirnya mengambil, menyimpan dan membagikan air, maka air jernih yang bisa ia ambil dari mata air itu begitu banyak, lalu ia simpan dan ia distribusikan. Namun, si pengembara pertama tidak mempunyai keahlian apa-apa dalam mengambil, menyimpan dan membagikan air. Akibatnya, ia tidak pernah berani meninggalkan mata air. Ia takut sekali, menghindari sekali air hilir yang keruh yang dibawa oleh orang-orang dari hilir yang kebetulan mendekatinya. Dan ia tidak pernah mempunyai kesempatan turun ke perkampungan membawa air jernih itu untuk dibagikan kepada sebanyak2nya warga kampung di dekat hilir sana.

Dari mata air memang jernih, tapi apakah cukup untuk dikonsumsi sendiri. Hm, ternyata kitapun butuh bisa ahli untuk membagikannya.

Kumpul Blogger

Sedulur2 blogger se-Banyumas lan sekitarane, saben minggu esuk jam 7.30 komunitas blogger banyumas "Bawor" nganakna kumpul-kumpul nang alun-alun purwokerto, digoleti baen nang kolem tiang bendera.

Kepriben, pada kepengin melu ora? wong anyar ora usah rikuh, asal nduwe blog, arep aktif apa ora bloge, teka baen, ora masalah.

Wotreeeey??? tek enteni ya pada sedulur...


Info lainnya :

7/17/10

Ada Hak Mereka di Kita

Waktu, keahlian dan ide-ide yang mungkin bagi kita biasa saja, bisa saja berarti begitu istimewa bagi mereka. 




Sebuah panti asuhan beberapa waktu lalu menghubungi kami, meminta kami berbagi tentang jurnalistik dan ilmu-ilmu lainnya agar putra-putri di panti asuhan tersebut nantinya bisa membuat mading (majalah dinding) untuk kalangan mereka sendiri.

Dari permintaan tersebut, terpikirlah hal : Pertama, ternyata sesuatu yang kami anggap remeh selama ini, keahlian kami sekedar menggunting sterefoam, meramu artikel dari hasil googling dan mencetak dokumen dengan mesin bernama printer apabila dibagikan banyak diluar sana yang membutuhkan. Panti asuhan tersebut hanya satu diantaranya.

Demikian pula waktu kita, tiga jam yang biasa digunakan untuk bersantai-santai apabila diberikan untuk mereka ternyata bisa menjadi sangat istimewa. Begitupun dengan ide kita, ide yang hanya kita simpan dan kita anggap remeh, apabila dibagikan kepada mereka bisa jadi ada begitu banyak tangan yang siap bahu membahu mewujudkannya.

Kedua, dengan segala keterbatasan kami, kami berkeyakinan bila berbagi sendirian itu baik, maka dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bersama-sama berbagi pasti akan berlipat-lipat jauh lebih baik.

Melatih teknik membuat mading itu baik. Melatih teknik membuat mading dengan memberikan pelatihan tambahan berupa motivasi-meraih-mimpi, itu lebih baik, karena mereka bukan hanya akan menjadi tahu cara membuat mading tetapi juga tahu apa yang akan dituangkan untuk mading itu sehingga bisa berkelanjutan tanpa pernah kehabisan materi.

Dan melatih membuat mading, memberikan training inspirastif-motivasional ditambah lagi memberikan suguhan logistik untuk konsumsi, itu semakin baik lagi, karena materi yang baik akan didukung oleh konsentrasi dan antusiasme yang baik pula bila dibandingkan dengan penerimaan materi tanpa konsumsi.

Dan bila tidak hanya tiga hal di atas yang diberikan, apabila dibekalkan pula perkakas dan bahan-bahan untuk membuat mading, maka akan semakin berlipat lagi bukan baiknya? Kemudian  keempat  hal itu dilaksanakan lagi dengan penyempurnaan di tempat lain, sedangkan sudah ada satu yang berhasil, maka di tempat lain akan menjadi lebih baik lagi, karena sudah ada contoh yang bisa dilihat yang semakin memacu semangat mereka. 

Oleh karenanya, kami bermaksud memenuhi undangan panti asuhan tersebut untuk memberikan pelatihan praktikal membuat Mading sekaligus pelatihan inspirasi-motivasi. Dan melalui catatan pendek ini kami bermaksud mengajak rekan-rekan semuanya yang jauh maupun dekat untuk ikut berpatisipasi dalam bentuk kehadiran dan dukungan finansial untuk bersama-sama kita bersinergi sehingga terlipatgandakanlah nilai baik dari program yang baik ini.

Dukungan finansial untuk konsumsi dan logistik, untuk belanja perkakas dan buku-buku inspiratf  untuk sumber inspirasi mereka bukan untuk membiayai trainer. Dukungan finansial untuk memodali mereka membuat mading yang elegant, yang membuat mereka bangga akan karya kreasi mereka sendiri. Kelebihan dana akan digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan mudah-mudahan lebih sempurna di panti asuhan lain untuk kegiatan sosial berkala kami.

Untuk akuntabilitas kegiatan, dokumentasi dan laporan keuangan akan diunggah dan ditransparansikan kepada public seusai acara. Dan nama baik pemilik blog ini sebagai garansi penyelenggaraan kegiatan ini.

Kegiatan akan diselenggarakan di Bulan Juli 2010 dengan waktu masih menyesuaikan persiapan-persiapan. Rekan-rekan yang berkenan hadir dapat melayangkan surel ke 12.izky@gmail.com untuk kemudian kami kirimi ketentuan waktu dan tempat pelaksanaan secara pastinya.

Donasi dukungan finansial teman-teman kami nantikan pada rekening kemi di bawah ini. Mohon konfirmasi ke alamat surat elektronik di atas setelah transfer. Berapapun nominalnya, penghargaan kami tetap yang setinggi-tingginya untuk rekan-rekan.

Kegiatan ini bukanlah kegiatan sosial pertama kami, namun kegiatan ini merupakan kegiatan pertama kami merangkul rekan-rekan untuk ikut serta berpatisipasi dalam bentuk donasi finansial. Kami sampaikan ajakan ini sebagai deklarasi atas keterbatasan kami, dan deklarasi atas keinginan kami memberikan model "berbagi" yang terbaik, yang betul-betul optimal terasa manfaatnya oleh mereka, bukan sekedar berbagi alakadarnya.

Regards,



RIZKY DR

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lampiran :
Pengisi Acara



Kerfesta "Iche" Marpaung. Guru Sekolah Dasar, Pembimbing senior dan Juri berbagai kompetisi Mading. Salah satu asuhannya adalah tim Mading SMAN2 Purwokerto.

Arif Sugiharto "Pangeran Motivasi", Trainer Pengembangan Diri dan aktif di kepengurusan organisais kepemudaan Fosma 165. Salah satu produk trainingnya MVT (Mission & Vision Training), sebuah training dengan metode khusus : menulis aktif dan berbagi (sharing).





Rekening untuk donasi :
Bank Syariah Mandiri nomor 1777-01-7991 atas nama RIZKY DR. kami tunggu sebelum 25 Juli 2010 atau sesegera mungkin atau menghubungi kami bila lewat batas tanggal tersebut.


Catatan :
Kegiatan ini murni sosial, bersifat independent, 100% tidak ditumpangi kepentingan apapun

Tangga Keamanan


Safak Muhammad menjelaskan secara sistematis dan logis tentang bagaimana seorang pebisnis bisa memiliki keamanan finansial. Ini mematahkan mitos-mitos konservatif bahwa pebisnis rawan stess karena bangkrut bisa terjadi sewaktu-waku, bahwa bisnis tidak bisa untuk hidup.

Ada tiga komponen sekaligus merupakan tangga karena lazimnya untuk menguasai ketiga hal tersebut kita harus memulainya satu persatu. Tiga komponen itu disingkat dengan 3P.

P yang pertama adalah PAKAR.
Untuk memulai tangga keamanan finansial seorang pebisnis, seorang pebisnis harus mendefinisikan dirinya sebagai pakar di bidang apa, misal fotografi, musik, penulis, design grafis, IT, dan lain sebagainya.

P yang kedua adalah PENGUNGKIT.
Bisnis tidak bisa dikerjakan sendiri, karena itu diperlukan pengungkit. Apa saja pengungkit itu? Pengungkit adalah faktor-faktor diluar diri kita yang dimanaj untuk membantu mengungkit kesuksesan diri kita, diantaranya adalah uang orang lain, tenaga orang lain, ide orang lain, nama besar orang lain, tempat orang lain dan sebagainya.

dan P yang ketiga adalah PETERNAKAN ASET.
Pada akhirnya seorang pebisnis yang sudah bisa mengumpulkan dana cash bisa dengan smart memilih tempat investasi teraman, bukannya dihabiskan untuk kebutuhan konsumsi. Aset kita bisa diternakkan dalam bentuk pengembangan property, deposito, saham, emas, investasi di bisnis orang lain dan lain sebagainya.

Nah, ajaran bisnis Aliran Purdi E Chandra pincang, karena di awal bisnis orang sudah diajari untuk langsung P yang kedua. Tentu, ini tidak bisa serta merta menyalahkan Purdi Chandra, karena sudah terang-terangan beliau mengatakan manhaj bisnisnya adalah otak kanan, dan karakteristik otak kanan memang non-secuensial (acak) bukannya linear, jadi sah-sah saja melompat.

Namun demikian, ketika kita sudah memilih berbisnis dengan manhaj acak seperti itu, kita harus sadar akan dimana posisi kita pada peta kesuksesan kita, kita harus bisa mendefinisikan realitas [Dalil July Way Rizky ayat (1)], bahwa resiko kita memulai bisnis tidak sesuai garis linear 3P adalah kebutuhan masa kini kita yang mendesak tidak terpenuhi. Apa saja kebutuhan itu? Kebutuhan untuk makan, membayar angsuran, memiliki status untuk melamar, memiliki tabungan untuk menikah dan sebagainya.

Lalu, bagaimana untuk mensiasati agar kebutuhan itu bisa tetap tercover? ada tiga cara : Pertama, bangunlah P yang pertama, jadilah pakar di bidang sesuai skill kita, satu-satunya cara menjadi pakar adalah menghabiskan waktu terbanyak kita untuk fokus di bidang yang kita akan menjadi pakar disana, karena tidak ada seorang menjadi pakar (expert) dengan menekuni terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan.

Bila kita memilih forografi, tekuni itu. Bila kita memilih kuliner, tekuni itu. Temporary dan seiring berjalannya waktu kita akan menjadi pakar. Setelah menjadi pakar, kita akan dibutuhkan orang, akan dibayar orang dan kita akan punya uang untuk makan, membayar angsuran, memiliki status dan berani melamar, menabung untuk modal menikah dan sebagainya.

Cara kedua, kalau tidak telaten memilih bidang dan membangun diri menjadi seorang pakar, maka cara ini bisa dipilih, barterkan waktu kita. Dengan membartertkan waktu kita kepada orang lain, maka kita bisa dibayar (baca : digaji), dan dari orang lain itu kita bisa makan, bisa membayar angsuran, bisa memiliki kartu pegawai sebagai status dan bisa menabung.

Cara ketiga, berhutanglah. Selama ada pihak ketiga yang bisa mendonasi hidup kita, itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi jembatan sementara hingga selesai pembangunan jembatan permanenenya (baca:bisnis), dan setelah itu bisa berlipat-lipat kita bayar hutang itu.

Diantara ketiga cara, menurut saya cara paling smart adalah yang pertama, karena hutang itu sama dengan menggadaikan diri, karena membarterkan waktu itu sama dengan menyerahkan kekayaan paling berharga yang kita miliki, sedangkan mengasah skill menjadi seorang PAKAR, maka berarti kita belajar selaras alam dan pada akhirnya status yang kita sandang sebagai (Expert in ...) itu lebih sejati ketimbang status pada kartu perusahaan manapun.

Tetapi jangan 'sawang sinawang' beranggapan berbisnis secara acak itu lebih jelek daripada berbisnis secara linear. Jangan salah, justru banyak sekali pebisnis linear yang karena memulainya monoton mulai dari P1, P2 dan seterusnya, mereka terjebak dalam zona nyaman bernama "omzet", sehingga menjadi orang yang takut mengambil resiko lebih besar dan enggan mengembangkan usaha. Akhirnya P yang ketiga pun tak kunjung bisa mereka raih.

Hm, saya belum menemukan apa sebenarnya "Expert in" saya. di bidang apa ya saya asah ke-PAKAR-an saya? Ada masukan?

7/13/10

Alarm Kegagalan

Sebetulnya, sebelum sebuah perusahaan, negara bahkan seseorang itu jatuh, entah untuk jatuh yang penghabisan atau sekedar kurva sedang men-jurang, ada tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Ary Ginanjar dalam materi Self Control memaparkan hasil penelitian dunia tentang penyebab jatuhnya perusahaan-perusahaan kaliber internasional.

Dari ratusan perusahaan, dengan ratusan kasus pula, ditarik kesimpulan 7 penyebabnya, yang saya lupa catatannya saya taruh mana, intinya adalah karena kegagalan mereka dalam menuruti dorongan jiwa yang baik (Nafsul Muthmainah). Dari kasus inilah saya sedikit mendapat tambahan pengertian, kenapa puasa kok bisa masuk dalam The Big Five, 1 dari 5 hal yang dijadikan rukun (pokok)nya agama Islam. Kalau hanya sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual saja, sesederhana itukah? Ternyata tidak.

Perusahaan kaliber internasional sekalipun, yang berhasil bertahan, yang kuat dari ancaman kejatuhan, adalah yang mereka berhasil puasa. Mengendalikan dorongan jiwa yang baik dengan mengeluarkan yang baik (Taqwiyatun Nafs) dan menekan yang jelek (Tazkiyatun Nafs).

Implementasi dalam kehidupan pribadi, ketika sudah tahu tentang ini, saya jadi paham, bahwa sebuah keberhasilan atau kegagalan yang akan dicapai, ternyata sudah bisa terbaca dari sikap kita sendiri. Adakah arogansi saat kita mengupayakannya? adakah ketakaburan saat kita memperjuangkannya? Adakah sikap abai saat kita menapakinya? dan sikap-sikap sejenisnya yang kita pasti merasa, tinggal kita mencoba menekan dan menggantinya dengan yang baik, atau tetap abai, takabur dan arogan mengabaikannya?

Kata bergaris bawah, "mencoba", tidak selalu berarti langsung berhasil. Mencoba itu hanya upaya.

Semoga bermanfaat.

7/11/10

Ilmu Menjual Emas

Saya kok jadi teringat waktu itu, hm, waktu itu ada sesuatu yang sedang sangat ingin saya dapatkan, tapi tidak kunjung dapat. Tidak usah sebut merk lah ya, inti (hikmah) ceritanya saja yang diambil. Terus saya berpikir "Ah, itu cuma angan-angan, nasib saya ya begini ini".

Namun, selang sepersekian detik kok tiba2 ada bisikan halus dari dalam diri saya sendiri, "Hush, jangan ngomong begitu, lihat saja nanti ketika waktu itu tiba". Dan betul, memang agak lama dari saat itu, akhirnya waktu yang saya impikanpun tiba, dan ketika itu kok ya seperti Angkering, saya langsung teringat pada saat saya mengeluh, "Ah, ternyata keluhan saya waktu itu salah."

Haha, begitulah pengalaman singkat tapi berharga dan berguna. Seperti ilmu menjual emas, saat grafik harga sedang turun, janganlah buru-buru emas dijual, tunggu, grafik pasti naik. Dan begitu rumus yang harus kita pakai, saat kehidupan kita sedang down, keberhasilan kita sedang redup, jangan buru-buru menghakimi diri bahwa takdir kita adalah seperti itu.

Agar nanti ketika sudah naik grafiknya, kita tidak malu dengan diri sendiri. Tugas orang berhasil adalah Tawadhu, dan tugas orang gagal adalah Tawakal... mana yang lebih mulia? Yang lebih mulia ya manapun diantara keduanya yang lebih bersungguh-sungguh.

7/6/10

Passion dan Skill Ternyata Berseberangan. Sudah Tahu?

Apa itu passion, definisi lengkap dan formalnya bisa dilihat di Kamus Besar Bahasa Inggris di Perpustakaan Nasional Inggris sana, demikian pula untuk definisi lengkap dan formalnya Skill. Makna sederhana saja, dimana passion kita bisa kita kenali dengan di aktivitas yang disana kita menemukan kesenangan, kebetahan, cinta, sehingga kehujanan terasa hangat, terbakar matahari terasa sejuk, dibayar atau tidak dibayar kualitas yang kita berikan sama.

Sedangkan skill adalah sesuatu keahlian yang kita kuasai yang tidak semua orang kuasai dan biasanya kalau orang ada perlu bantuan yang berhubungan dengan bidang skill kita itu, kitalah yang mereka panggil untuk diminati bantuan (maupun job).

Nah, dua hal itu sama-sama bisa kita jadikan pijakan untuk memulai bisnis. Loh, kok sama-sama? katanya berseberangan? Sebentar... Sekalipun keduanya sama-sama bisa kita gunakan pijakan untuk memulai bisnis, tetapi karakter bisnisnya berbeda, bertolak belakang, berseberangan.

Bagaimana berseberangannya? Akan saya jelaskan dalam beberapa paragraf. Begini, Purdi E Chandra dan rekan-rekan bisnis yang seideologi dengannya memiliki kredo "kalau mau sukses bisnis, pilihlah bidang yang berbeda dari latar belakang bidang kita."

Misalnya Anda orang perikanan, cobalah berjualan katering. Atau Anda orang dapur, cobalah bercocok tanam salak pondoh untuk diekspor misalnya. Pernyataan diatas bukan tanpa dasar Pa Purdi lontarkan. Salah satu logikanya begini, misalnya Anda orang perikanan, Anda tahu sekali seluk beluk sebuah species ikan, mulai dari masa pemeliharaan, makanan favorit hingga tipe-tipe kepribadian masing-masing ikan. Oleh karena fokus yang  begitu detail dan dalam soal obyek produksi, bisa jadi ia lemah di strategi pemasaran apalagi spekulasi persaingan, makanya bisa jadi orang selain perikanan yang tidak terlalu tahu banyak ikan, tahu hanay seperlunya saja, tetapi dia memiliki alokasi pikiran yang lebih ke faktor-faktor non obyek produksi bisa jadi lebih berhasil untuk menjadi pengusaha besar ikan.

Begitu juga bila orang dapur, mau berjualan kue, dari segi rasa sangat detail sekali bisa menguasai, tapi karena terlalu fokusnya, dia jadi mengabaikan faktor persaingan, efisiensi cadangan operasional, manajemen pengembangan cabang dan lain sebagainya, maka bisa jadi orang yang tidak menguasai kualitas rasa dan tetek bengek soal dapur roti bisa lebih besar keberhasilannya karena memiliki alokasi pikiran yang luas juga di aksi spekulasi dan pengembangan tidak terforsir di satu hal saja : rasa.

Namun demikian, bukan memilih bidang yang sesuai latar belakangnya bukan berarti sembarang pilih. Yang paling mudah untuk berhasil adalah mereka yang memilih bukan di bidangnya tetapi sesuai dengan passionnya.

Kemudian tentang skill, saya mengidentifikasi rekan-rekan saya yang tetap komit di dunia bisnis, mereka ternyata bisa survive dan berpenghasilan dari bisnisnya, pola yang saya temukan adalah karena mereka berbisnis sesuai dengan skillnya. Orang yang skillnya di dunia Linux bisa hidup cukup bahkan berkelimpahan dari order install aplikasi dan maintenance dipanggil nge-job disana-sini. Orang yang skillnya di fotografi bisa terus berbisnis dengan menggandeng wedding organizer menjemput order foto-foto aneka rupa resepsi. Dan berbagai contoh lainnya.

Sederhana, cukup tingkatkan skill kita, gandeng pihak-pihak yang berkaitan dengan skill kita, kenalkan pada sebanyak mungkin orang bahwa kita memiliki skill itu, maka keberhasilan berbisnispun ada di tangan.

Disinilah berseberangannya, dengan skill kita bisa menjadi pebisnis yang mantap, karea order akan sulit terputus. Tetapi dengan passion kita bisa menjadi pebisnis yang besar, karena kita tidak tersita banyak waktu di ranah produksi sehingga bisa concern mengembangkan usaha.

Jadi, pilihan di tangan kita, mau jadi pebisnis yang penghasilannya mantap, setiap hari tidak pernah kurang order dan tidak pernah tidak pegang uang, pilihlah bisnis di skill kita. Tetapi konsekuensinya kita akan sulit menjadi besar, karena kita akan berat meninggalkan ranah produksi yang merupakan keahlian kita, kecuali kita delegator yang baik.

Tapi kalau kita inginnya menjadi pebisnis yang besar, pilihlah yang bukan skill kita tapi sesuai dengan passion kita, sehingga tidak pernah merasa lelah untuk terus mengembangkan itu usaha.

*Ini bukan tulisan justifikasi, sekedar bahan diskusi

7/4/10

Menjadi Apa


Anda akan menjadi seperti :
1. Apa yang banyak Anda lihat
2. Orang seperti Apa yang Anda banyak mintai pertimbangan

Mari kita review sejenak.

7/2/10

Keramahtamahanmu


Sy,atau kami tepatnya, sdang meluncur nyari penerbit Tiga Serangkai.
Sy : "Pnerbit TS pundi gih,Pak?"
Bpk : "Oh. Lurus mawon,mangke w0nten pertigaan,niku ngajeng niku (menunjuk arh),belok kiri"... Lihat Selengkapnya
sy: "teras?"
bpk: "lurus mawon.mangke ningali kiri jalan. Nah TS niku w0ntening kiri jLn..mmmmh (susah pyah ia hitung2) kinten2 800meteran saking pertigaan niku"
sy: "oh. Gih. Mtsuwun gih pak gih." dan sy pergi.

Lima meter mtor sy mlaju, sesuara susah pyah mdarat k tlingaku. Aih,trnyta si Bpk. Dia menyusulkn sesuatu,
"eh, boten 800meter. Mung 200meteran Mas" susulnya, ngos ngosan.

Aih, ia smpat2ny mralat hitung2 itu. Hmm.m trmkasih Solo,keramahtamahanmu...
(Solo,2006)

:: Suyatna "Citho" Pamungka ::