8/16/12

#27 Ramadhan : Eling lan Waspodo


Biasanya gambarnya semar, kalau di kaca bagian belakang mobil kalimat ini tertulis "Eling lan Waspodo". Sepele terlihat kalimat ini, tapi bagi yang faham sebetulnya ini punya arti penting. Arti penting dimana bahwa kecerdasan spiritual sudah ada di zaman nenek moyang tanah jawa ini sebelum Islam yang kita kenal saat ini tiba di tanah air.

Eling lan Waspodo itu apa si? Kenapa tidak Eling tok, kenapa tidak Waspodo tok? Itu pengertianya sama dengan kenapa tidak iman tok, kenapa tidak amal sholeh tok. Kenapa "aladina amanu wa amilu salihat". Ya, karena kalau hanya satu dari keduanya maka akan pincang. Iman tanpa amal/tindakan itu rapuh. Amal/tindakan tanpa iman itu kosong.

Sebelum dalil itu dikenal oleh leluhur kita di tanah jawa, nurani penduduk pribumi ini sudah bisa merumuskan sendiri kearifannya "eling" lan "waspodo". Kalau menemukan batang pohon salak yang berduri tergeletak di pinggir jalan, maka dia "eling", ingat, nyadar, aware, bahwa ini bisa membahayakan pejalan kaki lainnya. Tapi nyadar, eling saja tidak cukup, harus waspada, dengan cara bertindak, menyingkirkan batang berduri itu dari jalan.

Saat marah, kita dinasehati orang tua untuk eling. ya, tapi kalau eling saja, bisa jadi marah masih bisa meluap. harus waspada, dengan cara ambil tindakan, saat berdiri ya duduk, saat kegerahan ya ambil air wudhu, saat gaduh ya meninggalkan tempat.

Aware and then action, sadari kemudian bertindak, itulah Eling dan Waspodo. Dan pepatah jawa mengatakan, seberuntung2nya orang, lebih beruntung yang eling & waspodo. Tentang orang yang disebut beruntung ini cocok dengan yang dijelaskan di Surat Al Mu'minun.

Nenek moyang kita hebat yah, sudah mengerti jauh-jauh waktu sebelum dalilnya datang, karena mereka mendengarkan hati, mempergunakannya dengan cerdas.



#26 Ramadhan : Terasing atau Memarginalkan Diri?



Penceramah di masjid-masjid banyak menyampaikan, berkah bulan Ramadhan bagi kita adalah : berkah semangat bertilawah, berkah semangat mengerjakan sholat, berkah semangat pergi ke masjid, berkah semangat berkumpul dengan keluarga. Lalu 'berkah' Ramadhan bagi saudagar chainis di pasar-pasar di kota besar apa : 'berkah' dagangannya laris, omzetnya berlipat-lipat.

Allah lebih menyukai muslim yang kuat, ketimbang yang lemah. Ini seringnya hanya diartikan sebatas kuat fisiknya, sehat, tidak sakit-sakitan. Padahal ada makna yang jauh lebih konstruktif, bahwa muslim yang berada di posisi sentral lebih baik dibanding yang berada di posisi marginal. Sentral perekonomian, sentral kekuasaan, sentral aktivitas kemasyarakatan justru yang bersemangat mengeksplore adalah saudara-saudara kita dari kelompok-kelompok lain. Itulah kenapa berkah Ramadhan hanya dalam bentuk-bentuk yang non-materiil yang kita terima. Berkah materiil, berkah prepegan pendapatan, hanya bagi segelintir orang saja.

Kedoknya si Zuhud, tidak cinta dunia. Haha, apakah orang yang berkelimpahan omzet selalu cinta dunia? Ya, itulah dalilnya orang yang termaginalkan. Belum lagi dalil tambahan "Islam datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing." Miris, saya melihat kelompok yang bangga merasa dirinya terasing, padahal mereka sebetulnya bukan terasing dalam artian konstruktif, tapi mereka termarginalkan atau terpinggirkan akibat cara berpikir dan bergaul mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka memarginalkan diri.

Rasulullah SAW dan para sahabat terasing dulu, karena membawa cara berpikir baru yang memang asing bagi lingkungannya. Mereka bukan memarginalkan diri, justru mereka masuk ke sentral-sentral dari tiap-tiap sendi kehidupan, ekonomi, kekuasaan, kemasyarakatan dll. Lah sekarang, bukan cara berpikir baru yang mereka tawarkan, tapi mereka yang mengaku terasing adalah yang kaku dan tidak diterima masyarakat, serta merasa nyaman dengan keislamannya walau cuma dipinggir-pinggir saja.

8/14/12

#25 Ramadhan : Bermindset Masjid

Keahlian andalan yang dimiliki oleh sebagian besar diantara kita kan menyepelekan kemampuan kebisaan Tuhan berbuat. Pokoknya kalau pagi nggak pegang uang artinya mustahil siang bisa makan enak. Kalau pendidikan enggak punya artinya mustahil bisa sukses.

Itu sama saja tidak mengucapkan Allah Maha Besar, karena yang kita yakini, se-Maha Besar Maha Besarnya Tuhan masih kalah kok oleh mekanisme kehidupan. Jadi ingat, ada 1 dari 7 golongan yang nanti diijinkan melenggang masuk surga : pemuda yang hatinya tertambat pada masjid.

Apakah artinya ini? Apa para sales yang kalau siang2 nyolong waktu selonjoran tidur-tiduran di masjid biar dikira sedang cari nasabah? Atau marbot masjid yang ngambil sripilan sebagai tukang parkir jamaah? atau sepasang muda-mudi yang janjian kencan/pacaran ketemuannya di masjid sebelah kosan?

Masjid akan sempit kalau hanya diartikan sebagai sebuah benda. Tapi masjid disini adalah orientasi, istilahnya 'Bermindset Masjid'. Apa maksudnya bermindset masjid? Begini, kalau sedang bisnis, diancam oleh klien akan diputus kontraknya kalau kita telat memenuhi kewajiban, sementara kita sudah berusaha sebisa-bisanya agar tidak telat tapi tetap telat. Apa yang terjadi?

Orang yang tidak bermindset masjid maka akan panik, waduh hancur ini guwe bakal ditinggal klien bisnis. Rusak reputasiku. Bla bla bla... Tapi, bagaimana dengan cara berpikir orang yang bermindset masjid: Kalau sudah berusaha sesbisa-bisa, sudah memohon belum dikasih petunjuk dari Allah untuk ikhtiar apalagi, ya sudah tawakal, mungkin memang reputasi akan rusak, hubungan bisnis akan hancur, tapi mudah bagi Allah untuk membuat perbuatan yang tiba-tiba rukun kembali, nyambung kembali, dengan entah tidak tahu bagaimana Dia punya cara.

Pemuda yang hatinya senantiasa tertaut pada masjid, dia punya mindset masjid. Dan pastinya tidak ada panggilan yang lebih diprioritaskan ketimbang panggilan dari masjid : Adzan.

Pelan-pelan kita belajar.



8/13/12

Kota Serambi Madinah

Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah. Lalu adakah Serambi Madinah di Indonesia? Ada, kata Caknun, kota serambi madinah itu Jogja.

Kalau 2 daerah istimewa di indonesia disebut serambi kedua kota itu. Lalu daerah istimwa satu lagi : jakarta, serambinya mana ya?

Entah, serambi Amerika, mungkin.

#24 Ramadhan : Sudah Puasa, Sudah Bertaqwa

Orang yang di bulan Ramadhan itu mau puasa, berarti dia sudah bertaqwa. Cara berpikir yang diajarkan para ustadz kepada kita selama ini kan, puasa itu untuk mencapai taqwa. Maka, ada yang berhasil mencapai taqwa, ada yang tidak. Nah, pola berpikir seperti ini sepertinya tidak memberdayakan deh. pasti kita merasanya kita termasuk yang tidak berhasil mencapai, karena tarawehnya bolong, karena siang-siang masih lirik sana lirik sini dan seterusnya.

Tidak, tenang saja. Anda mau puasa, itu sudah tandanya anda bertaqwa kok. Taqwa itu melibatkan. melibatkan siapa?melibatkan Allah. Ketika siang-siang tidak ada orang, meski di kulkas ada makanan, tapi tidak diambil, berarti Allah dianggap ada kan? Allah dilibatkan kan? Nah itulah.

Perumpamannya begini, seorang anak disuruh ayahnya ke hutan : Nak, kamu ayah wajibkan pergi ke hutan, seperti kakak-kakakmu, supaya kamu berani ya!. Apa hikmah dibalik kisah itu? Iya, benar, ketika si anak berani masuk hutan, itu tandanya dia sudah 'berani'.

Soal bagaimana cara dia di hutan, berapa lama keluar hutan, dapat apa saja. Itu variabel lain. Samahalnya dengan puasa, soal puasanya lirak lirik berapa kali, tarawehnya ketinggalan berapa kali, sahurnya kelewat berapa kali, baca Qurannya berapa banyak, penilaian semua itu bukan urusan kita. Bukankah dengan jelas Allah sudah mengabarkan, soal pahala puasa itu privacy Dia semata?

Kira-kira lebih enak mana, merasa sudah bertaqwa, atau merasa masih jauh dari taqwa? Pilih sendiri saja ya, bebas.


Picture of The Week


8/12/12

Tren Bisnis ke Depan

Empat tren yang akan berkembang dan mempengaruhi bisnis masa depan, yaitu: migrasi pertumbuhan pusat ekonomi dari Atlantik ke Pasifik, kelahiran Cina sebagai raksasa ekonomi duinia baru, bangkitnya Renminbi Cina menggantikan dollar Amerika, dan tumbuhnya kelas menengah baru mencapai 500-600 juta di negara-negara Asia, khususnya Cina, India dan Indonesia.

Dato’ Sri Tahir, Executive Chairman Mayapada Group dan Veronica Colondam, CEO dan Founder Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)

#23 Ramadhan : Nasehat


Pengertian kata nasehat menyempit maknanya. Artinya menjadi suruhan, menjadi ceramah. Itulah kenapa banyak agamawan yang hobi sekali ceramah, merasa itu disukai Tuhan. Begitu juga aktivis masjid mudah sekali menyuruh,  berbekal dalil "nasehat menasehati dalam mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran".

Output dari nasehat adalah seseorang menyadari tentang sesuatu hal yang lebih baik, lebih mendatangkan manfaat bagi dirinya. Karena psikologi tiap orang beda-beda, baik karakteristik maupun kondisinya, tentu caranyapun beda. Kalau nasehat hanya diartikan ceramah dan menyuruh, maka jangan heran kalau orang ilfeel pada kita.

Yang penting adalah nyantol dipikirannya apa-apa yang sebelumnya tidak terpikirkan. Yang penting adalah orang itu nyadar. Bentuknya, itu cerdas-cerdasnya kita memberi nasehat. Jangan orang lagi kena masalah keuangan diceramahi, orang lagi putus cinta disuruh-suruh ibadah ini itu.

Didengarkan, dibantu menyediakan alternatif kesimpulan, dibeberkan cerita-cerita yang kira-kira bisa menginspirasi pikirannya dia untuk bangkit dari persoalannya. Insyaallah, tidak perlu diceramahi, tidak perlu disuruh, dia akan sholat kok, dia akan bermunajat kok.

Jadi, jangan buru-buru bangga kalau jadi suami/istri/teman/jamaah yang hobinya berkata begini : sudah ngaji belum? sholat sunnah dulu sana! astaghfirulloh ini tidak boleh itu tidak boleh, tahu? lakukan ini! tinggalkan itu! ...Haduh bawel amat sih...

8/11/12

Bisnis Yahudi Persaudaraan Jawa

Kejadian pertama, seorang teman mengubungiku memesan atribut waktu itu. Sampai selang berapa hari tidak ada kabar, dia menghubungiku lagi. Aku pesen kaos sekian, buat jadi 3 hari lagi. Bisa ya? Salahku waktu itu adalah menjawab : Bisa diusahakan, tapi tidak janji ya.

Jawaban yang seharusnya aku lontarkan adalah : Maaf, tidak bisa. Ya, karena deadline waktu itu loh mepet sekali. Memang 3 hari selesai, kalau tidak ada trouble. Untuk ancang-ancang trouble makanya aku selalu sanggupi paling cepat 5 hari. Lalu, kenapa kok 3 hari diiyakan. Bukan diiyakan, tapi diusahakan. Itu sebagai bentuk ke-eman-anku karena yang pesan itu teman, itu pikirku waktu itu.

Nyatanya apa yang terjadi, benar saja ada trouble produksi diluar kekuasaanku. Barang telat jadi setengah hari. Aku dibanjiri SMS, diteror telepon. Sudah aku juga lagi capek pikiran waktu itu, aku matikan saja, dan walhasil kaos jadi, dan tidak dibayar. Itu akibat berbisnis dengan paradigma teman.

Kejadian kedua, seorang teman memesan lagi atribut. Waktunya mepet. Maka aku kasih prasyarat, oke, aku sanggupi kalau desain masuk paling telat nanti malam, sebelum ayam jantan berkokok. Sampai ayam jantan capek berkokok belum juga masuk si desain, karena teman, pikirku waktu itu, aku follow up lagi. Gimana jadi? oke, jadi, minta didesainkan aku, aku siapkan segala sesuatunya, adalagi kendala di produksi, pin tidak bisa dibikin sesuai jadwal, aku cancel, "aku kecewa sama kamu ki!" begitu katanya.

Andai saja aku tidak usah beritikad baik sebagai teman waktu kemarin, tentu tidak usah dapat ucapan kekecewaan itu. Mentang-mentang teman, dikasih toleransi, akhirnya ada trouble, bukannya dapat terima kasih malah dapat makian.

Sejak hari itu (baca : kemarin), aku belajar tegas memegang prinsip, business is business, friend is friend. Maka semalam ada yang minta tambahan pesanan, waktunya mepet, sekalipun dia teman, dia bikin di tempat lain juga belum tentu dapat, aku jawab saja : maaf, tidak bisa, sudah tidak terkejar.

Tadi pagi urusan proposal, yang tadinya aku percayakan dihandle dua proposal oleh satu orang karena dia teman, aku ambil alih satu. jangan sampai karena teman, hasil tidak maksimal, mendua tidak fokus, proposal tidak goal, kecewa dipendam di hati ujungnya. Resiko dikira gila penghargaan, resiko dianggap tidak mau menolong teman, resiko dikira egois, resiko dibilang kaku aku rasa lebih logis dihadapi ketimbang order tidak dibayar atau diucapi "kecewa sama kamu ki!".

Mengutip kata-kata Mas Wiwid : Bisnis Yahudi, Persaudaraan Jawa. Ada saatnya stright, ada saatnya lunak.




#22 Ramadhan : Akal Sehat & Akal Sakit

Akal sehat, itu katanya yang sedang ditegakkan Dahlan Iskan. Akal sehat, itu pula yang sedang diperjuangkan Emha Ainun Najib. Benar saja, akal yang sehat sekarang tidak dimiliki setiap orang, malah kalau dalam sekup komunitas masyarakat, karena terlalu banyak yang sakit, jadinya secara jamaah menjadi masyarakat berakal sakit.

Misalnya di sebuah SMA, ada spanduk yang berisi ucapan selamat atas prestasi tertentu yang diucapkan kepada dirinya. Dan diantara 1000 siswa dalam sekolah itu, tidak ada yang merasa tidak nyaman sehingga bertanya, apa maksudnya ini mengucapkan selamat kok kepada dirinya sendiri. Apa begitu masih bisa disebut akalnya pada sehat?

Atau calon pemimpin, tapi memesan baliho ratusan juta, lalu memajang mukanya sendiri di pinggir jalan, dan tidak merasa tidak nyaman dengan itu. Apa masih bisa disebut akalnya sehat begitu? Lain lagi, kasus mendaftar PNS yang membayar sekian rupiah dijabanin, sehatkah akal yang memutuskan tindakan seperti itu?Atau sepeda motor yang semakin memadati jalan, tanda kebutuhan masyarakat akan transportasi meningkat. Tapi tidak ada sedikitpun pembenahan atas transportasi dalam kota. Ini apa-apaan?

Sudah tidak sehat akal masyarakat di zaman ini memang. Sekolah favorit masih memasang spanduk berisi ucapan selamat atas prestasi, berharap sekolah itu makin laris mengungguli pesaing-pesaingnya. Untuk menjadi pemimpin, tidak malu menampilkan foto diri sebagai 'rai gedhek'. Untuk menjadi abdi negara rela membayar berjuta-juta, abdi cap itu? Demi perusahaan sepeda motor laris sebuah kota rela ditelantarkan pembangunan sistem transportasinya.

Nanti semua akan mati. Yang memperjuangkan akal sehat akan dicatat sebagai tokoh. Yang menuruti akal sakitnya, enggan menyehatkan ya tidak akan dicatat sebagai apa-apa, kecuali sebagai pecundang. Ya tinggal pilih mana silahkan..

8/10/12

#21 Ramadhan : Guru Sejati adalah Hati Kita Sendiri

"Mintalah fatwa pada hatimu..", diulang 3X Kanjeng Nabi SAW ketika berwasiat tentang ini. Tapi umat Muhammad sekarang memiliki mosi tidak percaya yang begitu tinggi pada hatinya sendiri, mereka hanya mendengarkan ustadz, tidak pernah minta konfirmasi hati. Hanya karena hati tidak berpeci, tidak berbaju takwa, tidak hafal dalil-dalil, dan suka nakal kalau melihat wanita seksi di jalan.

Guru terbaik sesungguhnya adalah hati. Sayangnya, kita tidak akrab dengan hati kita sendiri, makanya tidak mengenal bahasanya, sama seperti kalau kita tidak akrab dengan orang jerman misalnya, ya wajar tidak faham bahasa jerman, tidak mengerti info-info apa yang orang jerman itu sampaikan.

Akibatnya, ikut 1000 kali pengajian, 2000 kelas training walhasil bingung sendiri. Karena pengajian A minta kita menambahkan garam, pengajian B minta kita mengurangi garam, pengajian C minta kita hanya menggunakan garam X, pengajian D membahas bahaya garam, pengajian E membahas enaknya hidup tanpa garam, pengajian F meminta kita memakan asam garam sekaligus.

Ya, kita diberi begitu banyak rumus, pencerahan dan info-info kebenaran. Tapi persoalannya, kita tidak tahu ini masakan sudah sampa mana, apa sudah saatnya dikasih garam, apa nanti? apa sudah gosong apa belum? apa masih mentah apa sudah matang?

Maka selain belajar agama, tidak kalah penting belajar tentang hati dan karakteristiknya, baik dari dimensi fisika, kimia, biologi maupun psikologi. Agar kita sedikit-sedikit bisa memahami bahasa hati, bisa memahami sinyal-sinyal dan kode-kode yang dikirimkan oleh hati, lalu kita bisa berguru kembali padanya dengan nyaman.

Dan untuk para ustadz, janganlah meninggikan diri, dan langsung atau tidak langsung merendahkan posisi hati jamaah-jamaahnya.

#20 Ramadhan : OlahRasa

Kalau ngeprint dengan tergesa-gesa, seringnya printer ngadat, kertas salah, dan terjadi kekacauan-kekacauan kecil. Kalau sedang terburu-buru berkendara, kok ya tiap traffic light merah terus lampunya yang menyala. Kalau membuat roti dengan hati dongkol, kok seringnya bantat itu roti. Kalau mobil baru dicuci bersih kok enak terasa dipakainya.

Apakah fenomena di atas itu kebetulan? Bukan. Di alam semesta ada vibrasi. karena keterbatasan manusia dan keengganan manusia mempelajarinya, kita jadi tidak memahami tentang ini. Ya, manusia itu terbatas, kemampuan dengar saja cuma di rentang 20-20.000 Hz. Ya, manusia itu enggan mempelajari, sebab yang penting adalah matematika, bahasa inggris dan bahasa indonesia yang jelas-jelas berhubungan dengan masa depan (baca:seberapa besar gaji saya di masa depan) nanti.

ilmuwan non-muslim justru yang mempelajari tentang vibrasi ini. Bahwa jiwa kita memancarkan getaran, getaran orang marah, orang ragu-ragu, orang yakin, orang pasrah hingga orang pada tingkatan yang disebut kesadaran murni itu beda-beda tingkatannya satu sama lain. perbandingan getaran level tertentu dengan level dibawahnya bisa sampai perbandingan  1 : 700 bahkan lebih. Itulah kenapa, ada tokoh karismatik yang ketika bicara semua terkesima, bung karno misalnya. Begitu juga ada peperangan yang 300 : 1000 yang menang justru yang sedikit, yang 300. Karena vibrasi yang mereka pancarkan tidak sama.

bukan cuma raga yang perlu dipelajari pengolahannya dengan olahraga, rasa (jiwa) juga, tentu dipelajari pengolahannya dengan olah rasa. Kalau ini dipelajari, maka tidak celaka lagi seseorang ketika sholat. Celaka bagaimana? Celaka karena tubuhnya sholat, tapi jiwanya memancarkan vibrasi level rendah. Seseorang berdoa, tapi yang dipancarkan vibrasi ragu-ragu.

Dan ketika telah memahami olah rasa ini, kita bisa memilih untuk mendapatkan kualitas maksimal dari setiap yang kita kerjakan, hanya dengan memancarkan vibrasi level tinggi. Begitulah, makanya jangan belum-belum sudah mengklenik-klenikkan orang yang minta air doa dari tokoh tertentu. Pelajari dulu tentang vibrasi sampai khattam agar mengerti tentang olahrasa.

#19 Ramadhan : Loby

Orang Jawa punya pepatah "Gusti Allah ora sare". Ya, Tuhan tidak tidur, Tuhan sibuk setiap waktu, tetapi Tuhan tidak pernah kerepotan. Kalau memang Tuhan sibuk, maka hukum sebab-akibat perlu disempurnakan. Karena kalau dunia sudah berjalan berdasarkan rumus hukum sebab-akibat, sepertihalnya komputer yang sudah berjalan otomatis berbasis coding, maka Tuhan sibuk ngapain donk kalau begitu, bukankah semuanya sudah berjalan dengan sistem dengan sendirinya?

Tidak demikian, kata mutiara lagi :  "Tidak ada yang bisa melawan kehendak-Nya selain kehendak-Nya sendiri". Yah, sebab tidak pernah sholat maka miskin. Sebab maling maka dibenci. Sebab alim maka dihormati. Sebab sedekah maka kaya. Semua itu bukanlah FINAL CONDITION. Ada proses tawar menawar atau lobi yang masih bisa dilakukan. Dan hebatnya, proses lobi ini bahkan boleh dilakukan oleh manusia paling bejad sekalipun.

Melobi Tuhan, untuk membuat kehedak baru, yang melawan kehendak lama-Nya, itu mungkin. Ketimbang kita memaksakan kehendak kita untuk mengubah kehendak Tuhan. Itu tidak logis. Karena itulah, orang yang banyak dosa tidak berarti harus putus asa dengan hidupnya, karena hak lobi masih kok dia miliki, agar hukum sebab-akibat tidak menimpanya, tapi kehendak Tuhan lah yang akan terjadi.

Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan bertakwa. Hah? Susah donk. Ya, kalau definisi takwa diartikan dengan hafal sekian hadits, sholat sunnah sekian rakaat sehari, pakai baju takwa ukuran ini dan pakai parfum merk ini ya repot. Tapi pahamilah esensi takwa adalah melibatkan Allah. Itulah kenapa takwa disenangi Allah. Perumpamaah Allah menyenangi takwa adalah seperti orang rumah yang sedang dibawakan oleh-oleh dari luar kota. Kenapa senang? Karena berarti ketika kita sedang diluar kota kita mengingat, melibatkankan orang rumah.

Sesederhana itu saja takwa, cobalah melobi, jangan menganggap hukum sebab-akibat itu sudah final. takutnya, kita malah jadi kelompok orang yang berputus asa dari rahmat Allah karenanya.

#18 Ramadhan : Hidup tanpa Gaya

Orang modern dengan segala bentuk gaya hidupnya, boleh saja mentah-mentah ditiru, tapi akan lebih baik kalau kita mempelajarinya sebelum meniru. Arsitek zaman dulu bisa membuat rancangan gedung yang tidak gerah walau tanpa AC, tidak gelap walau tanpa lampu dan dapat mengkondisikan suara dari panggung ke seantero gedung walau tanpa microfon. Pandai bukan?

Lalu trend sekarang, seperti itu tidak? Tidak. Gedung mutlak pakai AC, pakai lampu dan pakai microfon. Apa karena arsitek jaman sekarang kurang pandai? Hm, bisa jadi. Tapi yang jelas di jaman sekarang, semuanya sudah terinterfensi oleh bakul (Jawa:penjual). Bakul AC, bakul lampu, bakul listrik dan bakul microfon.

Itu yang pertama, efisiensi tidak menjadi bagian dari kecerdasan konstruksi agar komoditas2 AC, lampu, microfon dan banyak lagi lainnya laku.

Kemudian yang kedua, gaya hidup modern itu jauh dari fitrah yang menyehatkan. Misalnya di mal kelas atas dan ruang pertemuan, banyak bunga-bungaan, tapi itu cuma bunga plastik. Efek estetikanya ada, tapi apakah ngaruh ke sirkulasi oksigen dan karbondioksida?

Lalu makanan kemasan, menggunakan perisa jeruk, perisa mangga, rasa kari ayam rasa rendang. Cuma rasanya, bukan jeruk beneran, bukan ayam beneran, maka nutrisinyapun enggak beneran.

 Orang modern dengan matahari saja takut, senjatanya korden. Padahal matahari sampai jam 10 pagi itu mengandung vitamin D. Orang modern dengan tanah saja jijik, padahal persentuhan langsung telapak kaki dengan tanah merupakan proses grounding, itu yang menyebabkan orang jaman dulu yang kemana-mana tanpa alas kaki, bahkan dirumah alasnya langsung tanah, mereka sehat-sehat, tidak mudah stress. Karena tekanan yang otak dan perasaan mereka terima disalurkan ke ground, ada groundnya, langsung ke tanah.

Kalau memang GAYA hidup modern benar-benar merusak seperti itu, betul-betul melemahkan seperti itu, betul-betul tidak menyehatkan seperti itu, ya sudah mending hidup tidak usah pakai GAYA saja.

Biarkan nyeleneh yang penting sehat, yang penting konstruktif.

8/6/12

Wonokromo's Song


Biarkanlah diri ini
Untuk mencoba mendekatimu
Mendekati indahnya dirimu
Dirimu yang hadir di mimpiku

Berikanlah aku waktu
Dan keadaan yang engkau mampu
Empat mata yang ku mau
Untuk katakan cinta padamu

Hati ini takkan bisa
Lebih lama tuk memendam rasa


#17 Ramadhan : Pengusaha v.s. Karyawan


Karyawan itu waktunya dibatasi oleh kontrak pekerjaan. Tapi batasan waktu atas kontraknya itu diganjar dengan sejumlah keuntungan yang diberi nama : gaji. Sedangkan pengusaha, waktunya tidak bisa ditukar uang begitu saja, tapi konsekuensinya dia bebas, tidak dibatasi oleh apapun waktunya.

Oleh karena itu, ketika karyawan pamer gajinya. Pengusaha pamer kebebasan waktunya. Nah, inilah inilah...stereotip yang keliru, bahwa kebanggaan seorang pengusaha adalah bebasnya, maka ketika dia tidak bebas, dia merasa rendah, "loh apa bedanya dong saya dengan karyawana kalau saya dibatasi?".

Kalau cara berpikirnya seperti itu, ya tidak ada keunggulan pengusaha atas karyawan. Sama saja kok. Syaraf-syaraf karyawan mati karena tidak diberi kesempatan untuk berkembang memenuhi rasa ingin tahunya yang terbatasi oleh beban dan waktu kerja. Syaraf-syaraf pengusaha juga mati karena semaunya sendiri, untuk rajin berat, untuk tetap berkualitas saat dibawah tekanan susah. Imbang.. dro...

Sebetulnya, ketika seorang pengusaha membatasi waktunya dan mengambil beban kerja layaknya karyawan, itu bukan menurunkan derajatnya. Justru dia sedang upgrade naik level. Kenapa? Ya, pengusaha seperti itulah yang selangkah lebih maju, dan biasanya sepersekian detik lebih cepat mencapai sukses. Karena sekalipun sama-sama waktunya dibatasi, hari-harinya diisi beban kerja, tetapi beda levelnya. Karena karyawan waktunya dibatasi, beban kerja dia terima akibat sistem perusahaan. Sedangkan pengusaha mengatur waktu dan beban kerjanya atas pilihannya sendiri.

Beda antara yang dipaksa dan yang memilih batas sendiri.

#16 Ramadhan : Jomblo lebih Perwira


Dosa orang pacaran sesungguhnya bukan cuma berapa kali si tangan menggerayangi tubuh pasangannya. Ada dosa sosial dalam pacaran yang sebetulnya itu lebih berat timbangannya : Yakni melahirkan pemikiran permisif, bahwa berpasang-pasangan itu biasa, malah yang lebih parah adalah statement non-lisan "yang enggak pacaran, enggak laku".

Akibatnya banyak anak muda resah dengan kondisi itu, akibat lihat orang pacaran. Wah, daripada dianggap tidak laku, mending cari pacar nih. Harga diri gitu...masak dianggap tidak laku. Akhirnya dipacarinlah kambing dibedakin atau bebek direbonding atau apapun juga lah, suka enggak suka sama si pasangan yang penting enggak sendirian. Dan fenomena itu berujung pada banyaknya data statistik pacaran yang tidak mengarah ke pernikahan : pacaran sebagai status sosial masakini.

Maka lebih perwira yang jomblo, yang tidak mau menggadaikan hatinya hanya demi prestise bahwa dirinya laku, demi agar dirinya tidak kesepian saat pergi ke fotokopian, demi punya teman untuk diajak kondangan. Hatinya hanya diberikan kepada seseorang yang benar-benar cocok dan ia terima, yang seperti RAM harus menunggu "klik" dulu baru bisa berjalan.

#15 Ramadhan : Nge-Leak


Apa si beratnya puasa menahan makan dan minum. Untung ajarannya seperti itu, coba ajarannya adalah misalnya puasa itu adalah makan dan minum tidak boleh berhenti dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Nah lo, ini baru berat.

Sebetulnya ibadah itu ringan. Menjadi berat, karena kita tidak mempelajari secara detail apa yang membuatnya berat. Yang berat dari puasa, dari sholat, dari baca Quran adalah ikhlas. Ketika seseorang sedang pada frekuensi khusyuk, ringan saja itu ibadah, karena ikhlas ada di frekuensi itu. Tapi coba orang yang baru selesai maksiat, waduh jangankan taraweh, sholat 2 rakaat saja beraat....

Dalam sebuah perjalanan wajar ada gangguan, komputer nge-leak, pesawat turbulance, truk masuk jalan berlubang. Contoh kasus, Lagi puasa senin-kamis lancar-lancar, ditengah jalan eh maksiat, trus putus deh ritme puasa. lalu, berat mau mulai lagi. Lagi jadwal baca quran bagus-bagus, eh putus di tengah jalan, berat mau mulai lagi.

Kenapa bisa berat? Karena kita tidak ikhlas, menerima bahwa, manusia ya tempatnya salah. Pepatah bijak mengatakan "orang yang tidak pernah berbuat salah jangan-jangan tidak pernah berbuat apa-apa.",

Bahkan wiridan kita setiap habis sholat adalah "Subhanallah 33x"...  Ya, Yang Maha Suci hanya Allah saja, manusia tidak bisa luput dari hal-hal yang membuatnya tidak suci, yakni kesalahan. Disinilah kita harus tepat menempatkan rasa bersalah. Rasa bersalah bagus dihadirkan saat bermuhasabah, jangan rasa bersalah dibawa-bawa saat mau memulai tindakan baik.

#14 Ramadhan : Sholat tidak Perlu Dimeditasi-meditasikan


Para ilmuwan meneliti tentang sholat, bahwa orang yang sholatnya benar, akan mendapatkan efek meditasi. Lalu, apakah dengan itu berarti sholat adalah meditasi? Bukan. Meditasi ya meditasi. Sholat ya sholat. Namun, karena kehebatan dampak sholat terhadap semua organ tubuh dan jiwa kita, membuat orang kalau sudah sholat, meditasi menjadi tidak perlu lagi.

Rukun sholat ada 13, diantara rukun itu ada beberapa tuma'ninah. Tuma'ninah mengkondisikan pikiran dan jiwa kita untuk tenang hingga akhirnya mencapai trans, sebuah kondisi yang dicari oleh orang dengan bermeditasi. Di dalam tata cara sholat ada gerakan-gerakan yang begitu teratur, misalnya ruku, punggung harus sampai lurus. Memang kenapa kalau tidak lurus? Pada saat kondisi punggung lurus, pengaruh ke sistem syaraf dalam tubuh kita berbeda dengan kondisi pada saat punggung tidak lurus, yang berujung kondisi trans tidak tercapai.

Itu sedikit gambaran saja, bahwa gerakan sholat merupakan sebuah rancangan agung, yang kalau itu dipenuhi, secara otomatis tubuh akan mengkondisikan pikiran dan jiwa menjadi hening dan akhirnya trans. Dan pada kondisi inilah doa begitu mudah ditransmisikan.

Jadi, sholat tidak usah dimeditasi-meditasikan, tidak perlu ada manipulasi pikiran, tidak perlu ada pengkondisian jiwa, yang perlu hanya menjalankan gerakan sebaik-baiknya. Sudah otomatis kaifiyat efek-efek meditatif kita dapatkan kok dengan itu. Kalau kita memanipulasi pikiran saat sholat, malah jadi tidak pasrah, jadi sia-sia deh sholatnya, celaka deh..

Muda-Mudi Ngabuburit


Waduk sempor jadi pilihan tepat buat ngabuburit bareng pacar. Biar hubungan mangkin barokah...
nanti disana bisa sambil baca Quran bersama, sholawatan, makan mendoan, minum cendol sambil menunggu bedug maghrib tiba...

8/2/12

#13 Ramadhan : Keyakinan Mahal Nilainya

Ustadz Yusuf Mansur tidak bosan-bosan dari jaman 7 tahun yang lalu berpesan tentang keyakinan. Kosongkan dompet, sedekahkan, lalu haqqul yakin dan perhatikan apa yang terjadi.

Eh kemawin ketemu Pak Gono, ketua kelompok tani terbaik di Jateng tahun kemarin. Dialog panjang lebar di rumah beliau di Karanggintung sana, dari A sampai Z, termasuk kisah haqqul yakin beliau saat menyiapkan kandang dan lahan sekian hektar untuk menumbuhkan rumput, dalam rangka mengajukan proposal hibah sapi senilai sepertiga miliar.

Harus trukoh dulu, itu kunci sukses bisnis. Apa itu trukoh? Istilah lainnya harus swadaya dulu. Seperti kisah Pak Gono mengeluarkan modal membeli lahan dan membangun kandang yang semuanya habis belasan juta, padahal belum pasti itu hibah turun ke beliau.

Begitupun dalam bisnis. Harus berani keluar uang dulu untuk modali produksi, walaupun belum ada yang beli. Atau sebaliknya, harus modali dulu untuk memasarkan, walaupun produk belum sepenuhnya siap. Ya, harus berani seperti itu, karena tidak bisa bisnis langsung lengkap. Tidak bisa semua sumber daya komplit dulu baru kita gerak, walhasil keduluan orang, walhasil ketinggalan moment, walhasil ya tidak menjadi kasil apa-apa.

Lalu, apa pentingnya si kita trukoh, kita swadaya seperti itu. Dan kenapa orang yang berani melakukan itu yang akhirnya menuai sukses. Tidak lain adalah karena orang yang mau trukoh, mau swadaya, adalah orang yang sudah membuktikan keyakinannya bukan cuma dalam wirid lisan dan lintasan hati, tapi betul-betul dalam tindakan nyata : haqqul yakin.

Yang kamu butuhkan bukan modal, yang kamu butuhkan bukan pembeli, yang kamu butuhkan bukan mesin saat ini. Yang kamu butuhkan adalah sesuatu yang bisa mengungkit keyakinanmu, sehingga bisa sampai level haqqul yakin.  

Itulah betapa mahalnya keyakinan sampai-sampai jadi prasyarat ujian yang tidak bisa tidak harus dilewati. Ya sudah, yakin2in aja kalau belum yakin, daripada jalan ditempat. Mending Merem aja dah...

#12 Ramadhan : bergaul lintas zaman


Kita memang dituntut untuk memiliki pergaulan yang luas. Teman jangan cuma sedikit. Kawan jangan cuma sezaman. Hah?maksudnya?Apa kita disuruh bermain klenik dengan mencoba konek dengan para leluhur dan arwah-arwah yang lahir di zaman sebelum kita?

Ada jin yang bisa menampakkan diri dihadapan manusia, tapi ada jin yang tidak bisa. Begitu juga, ada manusia yang bisa mengakses dunia lain, ada juga manusia yang tidak. Nah, kalau memang kita tidak termasuk manusia yang bisa mengakses dunia lain, maka ya pakai tools yang rasional saja untuk menjalin pergaulan lintas zaman.

Sederhana kok, misalnya dengan mendatangi makam wali. Lalu, kita bermeditasi disana? Bukan, bukan. Ada cara yang rasional kok kalau kita tidak menguasai dunia energi dan getaran. Yakni dengan mendatangi juru kunci. Lalu, minta mantra begitu? Bukan, bukan. Cukup minta cerita, minta buku, minta dikenalkan dengan keluarga penerus untuk dapat memperoleh penggambaran tentang bagaimana kehidupan wali tersebut, apa kelebihannya, bagaimana sikap-sikapnya semasa hidup dan seterusnya.

Juga bisa bergaul lintas zaman dengan mengunjungi perpustakaan, membaca buku sejarah, mencermati dan merefleksikannya untuk kehidupan kita. Juga bisa dengan mendatangi museum. Dan seterusnya.

Memang, apa pentingnya semua itu si? Pentingnya adalah agar kita tidak terpenjara zaman. Seandainya saja pergaulan kita terbatas pada orang-orang yang se-zaman, maka ketika kita hidup di zaman yang semuanya jadi pengusaha, maka kita akan sulit jadi pekerja. Misalnya kita hidup di zaman yang agamawan lebih dihormati dari ilmuwan, mungkin kita jadi tidak tertarik mengembangkan ilmu pengetahuan. Misal kita hidup di zaman yang semua cewe pakai celana pendek 40 cm di atas lutut, maka kita risih dengan baju lebar dan kerudung besar. Dan seterusnya. Misal kita terbiasa melihat orang mencari informasi begitu mudah dengan google, kita jadi males study pustaka mendalam.

Tapi kalau kita memiliki teman di banyak zaman, kita jadi punya cermin, punya pembanding, tidak sempit. Karena kalau sempit, ya itu tadi, jadi terpenjara deh.


8/1/12

Vertikal Akses


Kenapa seseorang atau suatu komunitas miskin? Kemiskinan terjadi karena tersumbatnya akses. Ada akses teknologi, akses modal, akses pasar. Ada akses pendampingan, akses kolaborasi dan akses pengembangan. Ada akses vertikal, akses horizontal dan akses diagonal.

Terlalu luas membahas ini sebetulnya. Sepotong dulu saja disini ya, ibarat seporsi soto, ya ini kecambahnya dulu yang kita bahas. Akses horizontal sudah aku bangun sedemikian rupa, sampai gubuk yang lebih mirip kandang ayam yang dikenal orang sebagai L22 masih bertahan sampai hari ini. Ya, akses horizontal adalah mastermind. Aku, Hilmy dan anak-anak L22 adalah mastermind. Satu visi, satu etos, satu aktivitas.

Akses horizontal saja tidak cukup untuk mencapai keberhasilan dalam waktu cepat. Cepat itu maksudnya adalah satu generasi, tidak harus seperti Djarum atau Sampoerna yang bergenerasi-generasi untuk besar. Yang diperlukan berikutnya adalah akses vertikal.

Apa itu akses vertikal? Contoh kasus adalah pengusaha sukses dari Sumut, Rahmat Syah namanya, dia mengusahakan akses vertikal ke Surya Paloh. Kemudian Sandiaga Uno saat masih ider proposal, dia mengakses figur vertikal Dahlan Iskan.

Atau juga billgates yang mengakses IBM waktu itu. Yah, selama kita belum dilirik oleh figur2 besar yang sudah seatle berdiri vertikal di atas kita, kita masih perlu mempertanyakan apakah yang sedang kita kerjakan ini bermutu atau tidak. Karena itulah akses vertikal penting.

Namun bayangkan, ketika kita bisa memperkenalkan project atau aktivitas atau misi kita kepada tokoh tertentu, dan dia tertarik. Apa yang terjadi?

Pertama : kita mendapati informasi bahwa project kita memang bagus
Kedua : kita bisa mendapatkan support untuk percepatan keberhasilan kita

Kalau tidak ada tokoh besar yang tertarik? bisa jadi, kita salah mengkomunikasikan. Atau, kita kepedean project kita bagus, padahal sebetulnya project yang tidak menjanjikan.

Kira-kira begitu.

Lalu, apakah akses diagonal? Ouh, itu nanti, bukan buat bulan ini, tunggu kita lincah bermain di pasar dulu yak.

#11 Ramadhan : Tidak Bisa Masak dan Alasannya

Istri yang baik, pasti pandai memasak. Ada yang setuju, ada yang tidak. Lalu, seorang perempuan menyanggah "kamu cari istri, apa cari tukang masak?". Eits, tunggu dulu, apa mempersyaratkan seseorang pandai memasak itu artinya akan mengeksploitasi orang itu untuk jadi tukang masak di keluarga?

Yah, yang terpenting dari pernyataan itu bukanlah dia akan mau disuruh masak tiap hari atau tidak. Atau masakannya enak atau tidak. Tapi yang sebenarnya penting dari pernyataan itu adalah alasan dibalik ketidakbisaan seorang perempuan kok sampai tidak bisa memasak.

"Apa yang membuatmu tidak bisa memasak?", ini beberapa kemungkinan jawabannya :
1. Aku tidak bisa memasak karena Ibuku dan semua orang dirumahku tidak ada yang bisa memasak, kita biasa membeli yang siap saji
2. Aku rajin membaca buku, mengerjakan PR dan tugas-tugas sedari kecil, sibuk sekali dengan buku dan tugas-tugas sampai aku tak pernah sempat ke dapur
3. Aku tidak suka kotor-kotor, bahan masakan, wajan, minyak goreng, aduh, jauh-jauh deh..
4. Aku tak pernah membantu ibuku memasak, aku cuma membantu mengepel dan mencuci baju saja
5. Aku tak pernah membantu ibu blasss...tiap ibu masak aku nonton TV..
6. Aku sering membantu ibu memasak, tapi memasak memang butuh keahlian khusus, kecerdasanku tidak mampu untuk menguasai keahlian yang dikuasai ibu : memasak
7. Aku bisa masak, tapi males
8. dll ...

Bisa terbaca kan, bagaimana karakter seorang perempuan, ketika kita tahu alasan dia tidak bisa memasak.
Jadi, kalau ada seorang laki-laki menanyakan kebisaan memasakmu, jangan buru-buru men-justice dia akan mengeksploitasi waktu dan tenagamu untuk selalu memasak ketika jadi suamimu ya. Cuma ingin mengenalmu, mengenal karaktermu, seputar adabmu terhadap ibumu, adabmu terhadap isi dan pekerjaan di dalam rumahmu, dan pemahamanmu tentang skala prioritas pekerjaan.

Hm, adakah alasan tidak bisa memasak yang lain, yang lebih bagus tentang seorang perempuan dengan ketidakbisaan memasaknya? Kalau ada, boleh ditulis di kolom komentar ya..

#10 Ramadhan : Festival Sholat Malam

Manusia senang dengan kemeriahan, senang dengan kebersamaan, senang dengan festival-festival. Kalau ada festival yang diselenggarakan oleh EO atau oleh pemerintah di pusat kota, biasanya rame. Seperti festival dugderan yang setiap tahun membuat macet kawasan Johar, Semarang.

Allah SWT sangat tahu menyenangkannya festival bagi manusia. Oleh karenanya, Dia adakan satu bulan penuh, setahun sekali sebuah bulan yang begitu meriah, bulan Ramadhan namanya. Bulan ini begitu meriah, kalau di mall ada banjir diskon dengan berbagai bonus hadiah, di Ramadhan ada banjir pahala dengan bonus berlipat-lipat. Pahala ibadah sunnah senilai wajib, pahala 1 huruf membaca Quran dilipatkan 10, dan seterusnya.

Saking senangnya manusia, bahkan sampai amalan yang begitu berat dilaksanakan di bulan-bulan biasa, di bulan Ramadhan ini begitu antusias dijalankan. Apa amalan itu? Amalan itu adalah Qiyamul Lail atau sholat malam. Di bulan-bulan biasa, berapa persen umat Islam coba orang yang bangun untuk sholat malam? Tapi, di bulan Ramadhan, bahkan dibanding jamaah sholat maghrib yang hukumnya wajib, masih lebih sedikit diikuti ketimbang jumlah jamaah sholat taraweh.

Taraweh sejatinya hanyalah sholat malam, tapi ke-Maha Cerdas-an Allah membuatnya tidak terasa berat, justru menyenangkan. Semoga, karena kita tidak pernah putus sholat taraweh, itu bisa mengaktivasi otomatic-system di otak kita untuk tetap kontinyu bangun malam, sholat malam, setelah bulan festival selesai.

7/30/12

#9 Ramadhan : Soal Nasab


Nasab atau garis keturunan menjadi satu yang dihimbau dijadikan pertimbangan, selain kecantikannya, hartanya dan agamanya. Berapa banyak darikita yang dalam hal jodoh hanya berhenti di urusan orang tua sana setuju, orang tua sini setuju, then oke. Atau merasa nyambung, sevisi, lalu cocok. Lebih simpel lagi yang menganut faham 'yang penting sama-sama cinta'.

Ada cerita nyata tentang kakak beradik 3 bersaudara, si kakak pergaulannya enggak beres, adiknya, lebih tidak beres lagi, adiknya lagi baru agak lumayan. Sudah dinasehati berulangkali hingga dipesantrenkan masih saja tidak berubah, malah lebih parah. Padahal perhatian orang tua tidak kurang, nutrisi makanan juga mencukupi.

Lalu, apa yang menjadi penyebab semua itu? Selidik punya selidik, dulu ayah mereka sebelum pensiun, kerja di sebuah instansi pemerintah, dimana ia menjadi salah satu orang yang menerima uang bayaran suap dari masyarakat yang mengurus berkas-berkas di kantor itu, kalau tidak ada uang suap itu berkas lama jadinya, makanya suap jadi budaya, agar cepat kelar urusan. Walhasil mengalir deraslah penghasilan si ayah itu.

Nah, mungkin enak-enak saja itu uang dibelanjakan, termasuk untuk belanja kebutuhan keluarga, dimana anak-anaknya juga ikut menerima. Tidak terpikir saat itu, bahwa itu sedang memasukkan zat tidak beres ke darah dan daging anak-anaknya. Dan tidak terpikir kalau zat tidak beres itu sudah menyatu sedemikian rupa, kita sendiri yang berdecak keheranan, habis pikir, tidak menemukan cara memperbaiki kelakuan buruk anak-anak.

Nah, nasab penting salah satunya karena ini. Beres tidak orang tuanya memberikan asupan rejeki dan nutrisi? Kemudian beres tidak kakeknya menurunkan zat kedalam darah dan daging ayah-ibunya, semakin selidik jauh ke atas, semakin baik.

#8 Ramadhan : Menggeser Kiblat


Sajadah dimiring-miringkan, garis shaf lama dihapus, dibikin garis shaf baru. Begitulah kiblat sudah seharusnya digeser, itu kalau menurut perhitungan matematis kedudukan kita di sini terhadap azimut ka'bah di Saudi sana.
Namun ternyata memiringkan sajadah dan mencocokkan derajat arah kiblat dengan arah yang baru sesuai pengumuman Kemenag saja tidak cukup, itu baru secara kuantitatif. Secara kualitatif, kiblat hidup kita juga sudah sedari lama harus digeser.

Digeser darimana? Digeser dari Jakarta. Lihat sekarang, betapa arah kehidupan kita dijakarta-jakartakan sedemikian rupa. Orang hidup harus sekolah, selesai sekolah harus kerja berangkat pagi pulang malam. Akibat orientasinya seperti itu, ladang tidak tergarap, potensi lokal terbengkalai.

Kota belum maju kalau belum ada mallnya, hotel bertingkatnya dan taman kotanya. Akibatnya enggak peduli melanggar tata kota ataupun tidak, merusak cagar budaya ataupun tidak, mengusik kearifan lokal atau tidak mal didirikan, hotel bertingkat diberi ijin, taman kota diberi ijin.

Secara individu, mayoritas orang mengidolakan artis di TV, tidak peduli bagaimana latar belakang kehidupan si artis, asal dia cantik, ganteng, pinter nyanyi, ketika tampil pasti dielu-elukan didayu-dayukan. Padahal, bagaimana kehidupan mereka secara umum, bagaimana mereka memiliki gaya hidup di apartemen yang begitu permisif, bagaimana mereka bergaul dengan begitu bebas, sampai-sampai ada artis bekas video pornonya tersebar keseantero negeri setelah beberapa tahun eh diterima lagi di TV dan diidolakan lagi. Bagaimana itu bisa terjadi? Ya karena si artis tidak malu, karena memang yang lebih parah dari dia dan enggak ketahuan lebih banyak.

Lalu, kalau Jakarta dan semua hal yang kejakarta-jakartaan tidak pantas dijadikan kiblat, harus digeser kemana kiblatnya? Ke Papua? Ke Palangkaraya? Ke Jogja? Atau ke Aceh? Berkiblat ke kearifan lokal masing-masing saja, setiap bagian di negeri ini punya kok nilai-nilai luhur yang paling sesuai dengan paradigma sosial kita, yang tiap-tiap daerah berbeda.

7/28/12

#7 Ramadhan : Kemampuan menakjubkan manusia


Manusia mempunyai sebuah kemampuan menakjubkan, yakni : adaptasi. Sebuah kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi 'disini' dan 'sekarang' nya manusia. Oleh karenanya, sebetulnya tidak ada orang yang perlu takut dengan datangnya perubahan. Baik perubahan yang dibuat orang lain, ataupun perubahan yang dia buat sendiri.

Orang yang berpindah kota misalnya, di hari-hari pertama mungkin aneh, tapi selang berapa waktu, keanehan itu akan membiasa. Karena adaptasinya sudah berhasil. Begitupun, orang yang berubah pekerjaan/aktivitas, tidak usah dibayang-bayangkan susahnya, diawal-awal bisa jadi susah itu beneran menghampiri, tapi cepat atau lambat semua kesusahan itu akan membiasa kok.

Begitupun dengan orang yang berpindah bahasa, ke bahasa yang sama sekali baru misalnya, tenang saja, pasti bisa adaptasi kok. Begitupun dengan orang yang berpindah status, dari lajang jadi menikah. Tidak usah dibayang-bayangkan ngerinya, nanti setelah malam ke-21 pernikahan semua kengerian itu akan membiasa kok.

Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan masa depan, karena Allah lengkapi untuk instrumen perjalanan kita fitur menakjubkan : adaptasi. Namun begitu, selain sebagai fitur pelengkap, adaptasi bisa jadi sisi lemah kita. Kapan itu terjadi? Yakni, ketika kita sudah beradaptasi dengan keadaan baru, dan lupa keadaan kita sebelumnya, kita tidak eling, dan kemudian berbuat melampaui batas.

Gejalanya sederhana kok, misalnya yang sudah menikah, eh tidak lagi mau buka puasa sama teman2 lajangnya, maunya sama pasangannya. Yang sudah bekerja mapan, ogah, tidak mementingkan berangkat reuni smp/sma. Berhasil beradaptasi dengan keadaan baru, tapi lupa dengan masa lalu... yang lebih parah, lupa dengan asal-usul.

#6 Ramadhan : Tuhan itu NU apa Muhammadiyah yah?


Tahun ini 1 ramadhan terbagi dalam tiga kelompok besar, ada yang sama dengan ketetapan menteri Agama, NU salah satunya. Ada yang sehari mendahului, yakni Muhammadiyah. Dan golongan yang ketiga adalah yang beda dengan NU dan Muhammadiyah.

Kalau 1 Ramadhannya berbeda, lalu, bagaimana dengan malam Lailatul Qodr-nya ya? Lailatul Qodr menurut riwayat jatuh pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, atau orang jawa menyebutnya sebagai 'malem likuran'.

Nah, tahun ini, malam Lailatul Qodr akan jatuh pada malam ganjilnya NU, apa malam ganjilnya Muhammadiyah yah? Wah, kita tidak bisa spekulasi tentunya, karena rumusan penentuan malam Lailatul Qodr tidak bisa diteropong, atau dihitung secara astronomis untuk menentukan kapan jatuhnya.

Untuk amannya, ya sudah 10 hari di full aja munajatnya, jangan dipilih-pilih malam ganjil saja. Nanti kalau ikutnya patokan ganjil NU, ternyata Allah ikutnya kalender Muhammadiyah bagaimana? Nah, kalau ikutnya patokan ganjil Muhammadiyah, ternyata Allah patokannya kalender NU bagaimana?

7/26/12

#5 Ramadhan : Akibat Text-Minded

Masih ingat dengan lagu yang sering dinyanyikan jaman kita kanak-kanak berikut ini?

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang Solo
Leh-Olehe payung motho

Pak jenthir lolo lobah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip nggolet duit


Ini adalah lagu nasehat jawa yang syarat makna, satu saja dulu maknanya, sluku-sluku bathok, itu ada yang memaknai bahwa bathok (kepala, pikiran) kita itu harus ada istirahatnya, agar tidak aus. Cara istirahatnya bagaimana? Dengan ela-elo, yakni dzikir Laaillahailallah. dan seterusnya.

Nah, sayangnya kita kadung sedari kecil, bahkan malah mungkin sedari belum lahir, sudah diajarkan untuk menjadi manusia tekstual, walhasil kita salah memaknai nasehat di bait terakhir dari lagu yang didayu-dayukan kepada kita sedari masih dalam gendongan sampai kita masuk SD kelas 1 itu.

Bait terakhir itu bunyinya : "Yen urip nggolet duit", akhirnya misi utama hidup ya cari uang beneran. Ada yang pergi jauh pisahan dengan keluarga seumur hidup, karena urusan penghidupan mereka. Ada yang hidupnya terpaksa absen setiap hari dengan mengeluh "aku malas, malas, malas, dan seterusnya". Ada yang merasa kehidupannya baru dimulai nanti, menunggu pensiun dulu.

Padahal text "yen urip nggolet duit" maknanya adalah "saat hidup saatnya makaryo (berkarya)".

Begitulah, ketika kita tidak bisa menyelamdalami sebuah kata hingga ke kedalaman maknanya, hanya sebatas text-nya saja, lagu nasehat yang begitu bijaksana bisa berubah menjadi pesan ajakan untuk menjadi materialis sejati.

Berapa persen orang mendaftar polisi karena ingin makaryo dibanding yang ingin gaji besar? Berapa persen orang menjadi anggota dewan karena ingin makaryo dibanding yang ingin penghasilan besar?

Berapa persen orang yang resah masih menganggur dan ingin segera makaryo dibanding yang resah menganggur dan ingin segera dapat uang?

7/25/12

#4 Ramadhan : Pembelajaran Motorik

Kata Cak Nun di forum Kenduri Cinta, pendidikan yang pertama-tama diajarkan kepada anak-anak kita adalah motorik, yang kedua kemudian disiplin atau menahan diri.

Motorik itu berkait dengan alat gerak dalam tubuh kita. Jadi, ingat pendidikan yang diajarkan Nabi SAW : berkuda, memanah dan berenang.

Bukan, berkuda, memanah dan membaca. Atau bukan berkuda, menulis dan menghafal. Atau bukan juga Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika.

Berkuda itu berhubungan dengan tangan dan kaki, memanah itu dengan kepala dan tangan, berenang itu melibatkan semua organ tubuh. Maka pendidikan modern sudah salah kaprah. Bukan hanya yang disekolahan, tapi juga dirumah.

Anak jaman dulu, sedari kecil sudah dibiasakan untuk tumandang, ngiris bawang-brambang, nggoreng sega, asah-asah, nyapu latar, dst, itu semua terkait dengan pembelajaran motorik. Anak jaman sekarang, bantu-bantu pembantu masak saja enggak boleh, takut PR nya nggak rampung.

Jadi, kalau anak Anda bertanya, "Ayah, kenapa si aku kok diajari berkuda, kan sekarang jamannya sepeda motor?!", atau "Ayah, kenapa si aku diajari memanah, kan sekarang jamannya PES?", atau "Ayah kenapa si aku diajari berenang, kan disini padang pasir, enggak ada kolam renang?" Jawabnya adalah, karena pendidikan yang pertama-tama adalah motorik.

Itu mungkin yang ingin Nabi SAW sampaikan, hanya saja kan lucu kalau waktu itu sudah keluar ucapan : motorik. Sehingga Nabi SAW pun menggunakan metode mengajarkan yang lebih sederhana.

Jadi sekarang, berikan ruang yang lebih luas agar anak-anak bisa mengasah motorik mereka, kasih pekerjaan dapur, kasih alat pel, kasih genteng kalau perlu buat dia pasang. Biar anak setelah dewasa nanti bisa tumandang

7/24/12

#3 Ramadhan : Ramadhan Bulan Pancingan. Maksudnya?

Yang paling tahu diri kita, ya siapa lagi kalau bukan yang menciptakan kita. Begitulah bulan Ramadhan dilaunching melalui Rasulullah SAW dan masih ada sampai 500.000 hari sesudahnya bahkan hingga saat ini sebagai bulan spesial bagi kita.

Sebuah ilustrasi : Ada seorang bapak yang menawari iming-iming kepada anaknya yang malaas sekali : Nak, minggu ini adalah minggu spesial, kalau kamu mau bersih-bersih rumah, uang sakumu bapak naikkan jadi 10x lipat. Teruuus, ada 1 dari 7 hari yang bapak pilih di minggu ini yang kalau bapak lihat kamu rajiin sekali membersihkan rumahnya, bapak akan belikan kamu iPad yang harganya 1000 kali lipat dari uang jajanmu biasa.

Begitulah karena tawaran spesial itu, si anak jadi rajin bersih-bersih rumah. Apa harapan si bapak dengan keluar modal memberikan imbalan spesial begitu? Harapannya adalah setelah selesai minggu spesial itu, sudah terbentuk dalam diri si anak kebiasaan untuk bersih-bersih rumah secara otomatis.

Kira-kira begitu Ramadhan diprogramkan Allah, karena tahu hamba-hambanya banyak yang menyerah oleh iming-iming dunia, Allah berikan BIG SALE pahala agar kita teriming-imingi untuk meng-elevate kegiatan ibadah kita. Harapannya, setelah bulan dengan iming2 10 hingga 1000 kali lipat bahkan lebih ini, autopilot dalam tubuh kita sudah teraktivasi lagi, intensitas ibadah kita jadi lebih banyak tapi tetap enteng sesudah ramadhan. Itulah yang disebut derajat taqwanya meningkat.

Jadi, manfaatkan kesempatan di bulan pancingan ini, pertama untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan diskon dosa besar-besaran sekaligus untuk membentuk kebiasaan beribadah dengan intensitas yang lebih, lebih dan lebih...

Jangan salah kaprah makanya mengartikan Ramadhan sebagai bulan suci. Karena bulan suci, warung di sweeping, diskotik di grebek, selesai Idul Fitri maaf-maafan, dan minum2an, wanita2an dimulai lagi dah... Hehey, semua bulan itu suci, mana coba bulan yang tidak suci?

Ramadhan, yang lebih tepat disebut daripada bulan suci adalah bulan spesial. Karena semua amalan dispesialkan, + ada banjir ampunan, masih + lagi ini adalah bulan bentuk Kasih Sayang & ke-Maha Tahu-an Allah tentang cara mengupgrade kualitas hamba-hamba-Nya

Selamat membentuk kebiasaan baru di bulan spesial ini, kalau kata ahli psikologi, butuh 21 hari, nah ini ada 29 hari,  lebih dari cukup untuk membuat kebiasaan baru itu terautomatisasi sesudah Ramadhan selesai besok..

#2 Ramadhan : Opera v.s. Keranjang Ampunan & Rejeki

Hal pertama yang dilakukan orang saat bangun saur adalah : nyetel TV. Ini dianggap cara ampuh untuk mengusir kantuk saat hendak makan saur : memilih program TV mana saja yang ketawa-ketiwi, toh hampir semua channel menyajikan lawak semua.

Entah sejak kapan budaya ini diciptakan dan siapa yang menciptakan juga tidak pernah kita pikirkan, karena kita anggap tidak penting, karena kita memang sudah didesain sedemikian rupa (termasuk oleh para ustadz) untuk tidak  usah terlalu banyak bertanya, apalagi mengkaji, walau di dalam forum yang namanya pengajian (asal kata : peng-kaji-an).

Padahal waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat spesial, di sekitar jam 3-4an itu Allah SWT turun ke bumi, membawa dua keranjang, sekeranjang ampunan dan sekeranjang lagi rejeki. Boro-boro kita melirik keranjang itu, kita asik-asik saja ketawa-ketiwi nonton opera.

Itulah duel head to head direktur program Opera TV v.s. Allah SWT. Ketika di bulan Ramadhan Allah SWT memanjakan sedemikian rupa, sehingga orang-orang yang tidak pernah bisa bangun malam dikondisikan sedemikian rupa, di grand design agar bisa bangun sebelum shubuh untuk mengisi perut, eh bukannya di sela-sela menunggu makanan masak orang-orang menyambut kehadiran Allah SWT, tapi malah mlengos nonton lawak.

Ini seperti misalnya kita sedang ikut kegiatan mencari jejak saat pramuka, kemudian ada kakak pembina yang berbaik hati mancing-mancing kita agar kita agar bisa melihat tanda panah, eh malah ada teman yang asik mengajak kita gojekan dan kita memilih gojekan. Apa akibatnya?
1. kakak pembina marah donk, sudah berbaik hati memberi tanda, eh dicueki
2. kita tidak menemukan tanda panah dengan mudah

Agaknya memang kita kalah cerdas jauh dengan musuh-musuh agama. Mereka tahu persis keutamaan waktu sahur, makanya disusun cara agar kita terlena. Allah SWT dan dua keranjang yang dibawa-Nya dicueki, naik lagi ke langit, keranjang yang dibawa buat kita utuh deh.

Tapi Allah SWT Maha Rahman, besok akan turun lagi menyapa kita lagi. Yang baca blog ini mungkin jam 03.00 sudah nongkrong di atas sajadah menunggu keranjang. Hehe..

#1 Ramadhan : Pilih Kurma atau Klepon?

Hafal hadits yang berisi tentang tuntunan Nabi SAW berbuka dengan kurma saja belumlah selesai. Ternyata ilmu kita harus dilengkapi pula dengan usaha untuk membedakan mana kurma dan mana yang manisan kurma.

Nabi SAW berbuka dengan kurma basah, atau kalau tidak ada dengan rumah kering, atau kalau tidak ada dengan air putih. Bukan dengan manisan kurma. Sementara, kurma yang banyak beredar di Indonesia, adalah manisan kurma, yaitu kurma yang diberi tambahan gula agar terjaga keawetannya. Sementara kurma yang asli seperti di Mekah/Madinah jarang dijumpai disini, kalaupun ada, harganya tinggi.

Nah, kalau beragama modal hafalan saja, hasilnya adalah kita jadi gendut selesai hari raya, malah bisa-bisa kena diabetes. Kenapa? Karena manisan kurma itu berbeda dengan kurma. Kalau kurma asli itu adalah makanan tinggi nutrisi dan rendah kalori, sedangkan manisan kurma adalah makanan yang memiliki kadar gula tinggi, yang kalau dikonsumsi di awal buka puasa, setelah perut kosong 12 jam, ampuh sekali menaikkan kadar insulin yang berujung pada penimbunan lemak secara signifikan di kantong2 penyimpanan lemak di dalam tubuh.

Jadi untuk buka puasa mending makan kurma atau klepon? Mengkonsumsi klepon yang dibuat dengan gula jawa yang merupakan jenis gula rendah kalori malah lebih aman untuk kesehatan dibanding mengkonsumsi kurma yang ternyata sudah dalam bentuk manisan dengan kadar gula tinggi saat awal buka puasa.

Nah itu, beragama butuh ilmu, menjalankan sunnah tidak bisa tekstual, harus diimbangi dengan daya pikir kita. Bisa jadi kesalahkaprahan seperti ini terjadi di sendi-sendi kehidupan yang lain, cadar misalnya, atau lain-lainnya

7/15/12

Palm Sugar (Gula Semut) Sekarang ada Semarang Loh



Yang mencari Palm Sugar, Brown Sugar, Gula Kristal, Gula Semut dan apapun orang menyebutnya, sekarang ada di Semarang, di Atrium Hall Paragon Mall lantai dasar.

Karena Expo selesai hari ini, besok lusa dan seterusnya bisa didapatkan di Minimarket serba organik : NATURE MART, Jalan dr. Cipto 74, Semarang.

Nature Mart - Minimarket Serba Organik

7/12/12

Promosi Gula Kristal & Cair di Semarang

Stand SWEETJAVA, tetanggaan dengan Adidas, BreadTalk & J.Co

Gula Jawa dari yang bentuknya klasik sampai kontemporer

5 hari pameran di atrium hall nya Paragon Mall

7/9/12

Loh?

bersyukur, karena masih diberi rasa gelisah, atas belum diberikan jalan oleh-Nya untuk sudah menikah hari ini. Rasa gelisah kok disyukuri. loh?

7/7/12

Fasilitas

Kemudahan adalah lubang menuju kememblean. Sekarang dikejar yang mudah-mudah, yang instan-instan, yang simple-simple, yang taktis-taktis. Sampai saking terbiasanya dengan semua itu, otak, otot dan nyali kita menjadi gamoh, gopoh alias memble.

Disinilah kita perlu memahami fasilitas yang kita kejar sekedarnya saja, jangan membabi buta menggantungkan semuanya padanya. Karena kalau semua fungsi2 diserahkan ke fasilitas, lah otak kita nganggur, otot kita nganggur, nyali kita nganggur, terus lama kelamaan mau jadi apa kita? bisa apa kita?

fungsi bertanya arah digantikan oleh GPS. Fungsi bertanya informasi digantikan oleh Google. Fungsi berteman digantikan oleh gatget. Fungsi ngobrol digantikan dengan SMS.

Kita lambat laun kehilangan fungsi-fungsi kemanusiaan kita. syaraf responsif, simpatik dan empatik kita. Mesakke


7/1/12

Sarjana Mendidik

Di Pulau Rubiah, bareng 23 teman2 SM-3T (Sarjana Mendidik yang ditempatkan
di daerah Tertinggal-Terluar-Terbelakang)