1/5/13

#f1: barter

model praktek keuangan modern sekarang ini, nilai uang itu merosooot terus. segala sesuatu jadi semakin tak terjangkau. 

maka sekarang ada pelatihan khusus tentang praktek ekonomi yang menguntungkan kita semua, ternyata ini praktek primitif. primitif tapi canggih, yakni barter. 

barter itu benar-benar menguntungkan, beda dengan gaya hidup kapitalistik sekarang yang mana korporasi besar jadi penampung uang, dan kita orang-orang khalayak ramai jadi penyumbang uang. karena dipaksa oleh budaya ekonomi dimana kita harus menyumbang uang untuk korporasi besar, maka kita harus terus cari uang kan? caranya bagaimana? dengan jadi buruh... diperbudak oleh dunia.

sistem barter tidak begitu. misalnya, barter sewa tempat dengan si penyewa tempat dikasih sofa. barter jasa pelatihan dengan voucher makan gratis, misalnya.

kenapa barter menguntungkan? karena yang dipertukarkan, yang ditransaksikan, bukan nominal formal. tetapi di dalam nominal yang menjadi kesepakatan, masing-masing pelaku barter memiliki spare margin keuntungan. jadi kedua belah pihak sama-sama mendapat laba. sama-sama membeli, sama-sama menjual. 

betapa lebih berfungsinya barter untuk menggerakkan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi, kalau itu dilakukan semakin massal dan semakin massal

1/2/13

fungsi

pertama : kita itu hobi sekali kulakan ilmu, tapi jarang menggunakannya. boro-boro menggunakan, menaruh dengan benar itu ilmu yang baru kita dapat saja enggak becus. akibatnya, ketika ilmu itu dibutuhkan, kepanikan psikis kita sama seperti saat : gunting dimana gunting? staplers tadi ditaruh mana? loh selotip nggelindig kemana? peniti-peniti. yaudah deh, akhirnya terhambat berkarya.

mulai dengan menata satu-satu, alon-alon, lalu mudah2an bisa memfungsikannya dengan lebih fungsionabel di 2013 ini dan kedepan.

kedua : seringnya kita itu boros segala sesuatu. untuk mengetahui bahwa diri ini sakit saja, harus meminta fatwa dokter. untuk bisa menikmati kudapan mie yang lezat saja, harus cari resto yang brand nya high. untuk  nyetak undangan yang bagus saja, harus ke tempat yang ternama. sampai ke penggunaan energi perasaan juga boros. borosnya seboros menggunakan ruangan. ruang kerja yang sebetulnya bisa diringkas di dalam satu ruangan ukuran 3,5 x 3,5 eh jadi membutuhkan ruangan yang besarnya 3x lipat. perkakas teknis yang seharusnya bisa ditata di ukuran 3 x 1 meter, eh harus menyita satu room full. 

ayolah lebih fungsional segala sesuatunya, ya ruangannya, waktunya, uangnya, energinya, ilmunya, perasaannya dan cintanya.


12/29/12

tiga jenis presiden

SETELAH era Presiden Soeharto, menurut humor politik, kita punya tiga jenis presiden. Misalnya Prof Habibie. Orangnya hebat, langkah-langkahnya jitu. Dia bebaskan pers. Dia hapus istilah pri-nonpri. Dia bikin demokrasi lebih baik. Dia restrukturisasi utang konglomerat agar ekonomi segera jalan. Dia bikin nilai satu dolar AS dari Rp 15.000 menjadi tinggal Rp 6.500. Dia merdekakan Timtim sehingga presiden berikutnya tidak perlu lagi terbebani soal Timtim. Dan banyak lagi. Namun, Habibie disebut sebagai orang hebat yang memerintah di waktu yang salah. Saat itu euforia reformasi lagi berada di puncaknya. Apa pun yang dia bikin akan disalahkan. Maka, secara guyon, Habibie disebut juga sebagai right man in the wrong time.

Lalu, kita punya Presiden Megawati. Banyak yang menilai orangnya tidak hebat. Bukan administrator dan bukan pula profesor. Tapi, Mega memerintah pada waktu yang sudah tepat. Orang sudah lelah dengan reformasi sehingga menjual BUMN pun sudah tidak terlalu banyak didemo. Mengampuni konglomerat hitam pun tidak sampai menggoyahkan kedudukannya. Timing (ketepatan waktu) memang sering menentukan dan tidak bisa diulang. Secara guyon, lantas Megawati disebut wrong woman in the right time.

Kita juga punya satu jenis presiden lagi: Gus Dur. Ia adalah presiden yang membuat istana kepresidenan tidak angker dan berani melakukan demiliterisasi. Keberaniannya memecat Menko Polkam Jenderal Wiranto termasuk dipuji banyak pihak. Namun, kekurangan fisiknya (beliau tidak bisa melihat), ditambah kebiasaan njaili lawan-lawan politiknya, masih ditambah pula situasi euforia reformasi yang belum sepenuhnya reda, membuat Gus Dur sering disebut dalam guyon itu sebagai wrong man in the wrong time.

Sumber dari : sini

ability dan respon of ability

"Kenapa kita tidak bersedia merasa sebagai anak yang sedang belajar, sehingga ketidakmampuan itu wajar dan tak perlu ditutup-tutupi " Emha.

Ada ability ada respons of ability atau kita kenal dengan responsibility alias tanggung jawab. kalau ada rumah kebakaran, lalu yang bisa dilakukan olehmu cuma menyiram dengan air pakai ember. maka itu abilitymu. tapi kalau ada turun hujan dan ada jemuran tetangga belum diselamatkan dan engkau diam saja, maka dipertanyakan responsibilitymu.

orang tidak punya ability seringkali tidak pernah bisa disalahkan, tapi orang yang punya ability tapi tidak menggunakan responnya, itu yang sering jadi masalah.

enggak seru banget, kan?

kalau ada yang bilang tempatku ini kandang kambing, maka aku bisa memastikan bahwa aku bukan bagian dari kambing-kambing itu. aku adalah aku.

kalau saat ini aku hidup di lingkungan coro, maka aku juga bukan coro. aku adalah aku.

aku sama sekali tidak mendambakan keriuhan bersama orang-orang yang hanya maunya seneng tok, maunya kepenak tok, maunya gampang tok. Jangankan sama orang yang maunya enak tok. Bahkan sama yang mau susah tapi cuma temporer, jangka pendek, self life nya sebentar, gampang kedaluarsa, gampang memble, juga enggak mau aku.

Terbayang begini, nanti aku sukses funtastis, muktakir fenomenal, terus ditanyai oleh seorang host : bagaimana perjalanan sukses anda? lalu aku menjawab : ya perjalananku bagus, dulu membuka ini sukses, mengembangkan ini berhasil, menjalankan ini mulus, ya begitu itu sampai sekarang.

Enggak seru banget kan cerita seperti itu?

lubang biawak

tahun baru masehi sebentar lagi, bukan cuma muda mudi yang rempong mempersiapkan pesta ini dan itu. para pendakwah juga ikut-ikutan rempong, berceramah disana sini. Bahwa kita tidak boleh ikut-ikutan merayakan tahun baru karena alasan A, B, C sampai... Z.

Bahwa memang betul, kita tidak boleh ikut-ikutan life style kaum selain kita, karena kalau kita terbiasa ikut-ikutan maka bahkan masuk ke lubang biawakpun kita akan ikuti saja mereka.

Tapi tahun baru hanyalah hal sepele, dibandingkan persoalan substansi umat. coba lihat, odol dan shampo kita, ikut kaum siapa? coba lihat sistem keuangan rumah tangga kita, ikut kaumsiapa? coba lihat sistem pendidikan kita, ikut kaum siapa? dan kita ikuuut saja, sambil terus mencerca orang-orang yang ikut menyalakan tahun baru.

kita mewanti-wanti orang agar jangan begitu saja ikut-ikutan agar kita tidak terperosok ke lubang biawak, eh tanpa sadar ternyata kitanya sendiri sudah ada di dalam lubang biawak.


jarak satu detik

"Jarak kita dengan maut di jalan hanya 1 detik"

Kalimat di atas bukan kalimat sastra atau puisi. tapi fakta, realita. Betapa jalanan dengan ribuan lubang-lubang aspalnya adalah pintu gerbang maut yang mengerikan. Belum ditambah jumlah kendaraan bermotor yang sudah tidak terbendung, sangat ramai sekali bila dibanding 10 tahun yang lalu.

Ya wajar saja, untuk kota sekelas Purwokerto saja, penjualan avanza untuk tahun ini sudah 750 unit. belum mobil tipe lain, belum showroom merk lain, belum sepeda motor. hedeeew.

Ditambah lagi pekerjaan pejabat SIM kita yang sekarang entah seperti apa modelnya. sehingga pesepeda motor kok berkendara seperti di hutan rimba, tarik gas, rem mendadak, nyelonong di pertigaan, zigzag di jalan ramai.

maka ikhtiar kita sebagai orang yang waras dan menyadari fenomena semrawutnya jalan raya ini hanyalah : berkendara dengan hati, bukan dengan emosi. tidak harus alon, tapi tidak usah kemrungsung. jaga kecepatan, jaga lajur, hormati pengguna jalan lain. sembari sering-sering berdoa, semoga kita termasuk orang yang dijauhkan dari celaka di jalanan.

mudah2an kita selalu selamat selama berperjalanan dimanapun dan kemanapun.

lagi ada masalah ni yee?

Salah satu nikmat yang selama ini mungkin lupa kita syukuri adalah nikmat dipandang sebagai orang yang beriman. Loh, jangan salah, ini nikmat loh, karena tidak semua orang memperolehnya.

Karena orang memandang kita sebagai orang yang beriman, maka kita pakai baju koko ya nyaman-nyaman saja, pecian oke, ke masjid ayo.

Coba mereka orang-orang yang dianggap sebagai begundal, yang jarang atau bahkan tidak pernah sholat. Seperti kita tahu bersama, bahwa sekarang agama telah dimonopoli oleh orang-orang alim. Pengajian hanya milik mereka yang sudah sering datang ke masjid.

Maka, dosa sosial tanggungan siapa ketika seorang begundal ternyata tidak sholat ke masjid, bukan karena dirinya enggan, tapi dirinya sungkan oleh tatapan mata sosial yang dengan nyinyir berkata "ih, tumben amat, preman ke masjid. lagi ada masalah ni yee?..." sambil meneriaki "lagi ada masalah ya?woi, emang Tuhan lembaga sosial yang kalau kamu datangi masalah selesai?"

Kita orang-orang yang rajin sholat, rajin ke masjid, seringkali tidak punya ruang untuk memberikan kesempatan mereka-mereka untuk ringan langkahnya ke masjid. disadari atau tidak

12/27/12

Masa sih nyerah?


Sumpah bukan Sumpah


Awal tahun 2012 lalu, tepatnya di bulan Februari, aku ikut sebuah perhelatan pemuda tingkat nasional di Gedung Merdeka & Gedung Indonesia Menggugat di Bandung. Menarik acara itu, hanya justru di acara inti malah terjadi kelucuan.

Kelucuan ada di sesi pembacaan Sumpah Pemuda jilid II. Lucunya kenapa? Karena disitu isinya adalah text "kami putra dan putri Indonesia bersumpah, bla22..." begitu pula baris kedua, dan ketiga. Padahal, coba si liat text Sumpah Pemuda yang asli tahun 1928 dulu, apakah ada kata-kata sumpahnya?

Tidak ada kata-kata sumpah sama sekali. Hanya kata, "mengaku", "mengaku" dan "menjunjung".

Kejadian serupa ini aku temui lagi untuk kasus berbeda di majalah-majalah yang memakai nama-nama Islam.   Ceritanya majalah itu mengangkat tentang tradisi Grebek Sura di sebuah kota di pesisir utara Jawa Tengah. Betapa pandainya sang jurnalis mengatakan, bahwa orang-orang yang mengikuti tradisi itu adalah pelaku kurafat, karena ada jimat yang dicuci disitu dan ada ritual upacara yang dilakukan disitu.

Pertanyaannya, darimana si jurnalis mendapatkan informasi bahwa peserta grebek itu sedang melakukan kurafat? Pandai sekali si jurnalis membaca hati para peserta? Kalaupun ada yang berniat syirik, berapa persen dari seluruh peserta yang hadir? Berapa jumlah dari peserta grebek yang ikut acara itu dengan niat meramaikan kampung sepertihalnya lomba panjat pinang 17an? Atau sekedar niat dalam rangka melestarikan nasab leluhurunya.

Kita sebagai pembaca ya manut saja dengan penjelasan si pembuat majalah. Padahal tulisan yang dibuat hanya berdasar prasangka, tidak melalui ditanyain satu-satu sampai ketemu prosentasi berapa dari peserta grebek yang memang niatnya syirik.

Kasus keblinger seperti ini terjadi pula pada orang-orang yang anti pada ramalan Jayabaya. Loh, memang Jayabaya itu tukang ramal apa? Jayabaya hanyalah seorang raja besar dimasa lalu, sang raja senang membuat karya sastra, karya sastra yang ia buat berdasar ilmu titen, menelaah kondisi disekeliling dan pola sejarah yang terjadi di masa itu.

Karena karya sastranya kok mathuk dengan perjalanan di masa depan, maka enak saja disebut itu sebagai ramalan Jayabaya. Dan orang yang mempelajari karya sastra itu disebut pelaku kurafat.

"Maka, mengapakah kamu tidak berpikir?"

Pernikahan-Pernikahan 2012

Andika menikah di Kediri, 9 Juni
Ambar menikah di Bobosan, 22 Juli
Arif menikah di Ajibarang, 7 September
Felly menikah di Jakarta, 27 Oktober
Retno menikah di Kebumen, 9 November
Fikry-Iswa menikah di Sokaraja, 16 November
Hanie menikah di Kemranjen, 8 Desember

Tahun ini belum dapat giliran. mudah-mudahan tahun depan dapat. dengan entah berapa pasang lagi yang akan mengakhiri masa lajangnya di 2013. Sampai blog ini diposting si baru dengar ada 3 calon pasangan yang akan melangsungkan pernikahan di tahun depan.

12/25/12

inilah sari berita

Berita pertama : SBY menengok cucu keduanya, suka cita menyelimuti keluarga presiden

Berita kedua : Seorang ibu dikediri mencampurkan racun tikus di susu kedua balitanya, beruntung suaminya yang pedagang asongan tidak lama memergoki ketiganya pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit

Berita ketiga : PT KAI sedang berjuang mati-matian menertibkan pedangan asongan di 50 titik stasiun

Berita keempat : Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat menjadi 1 dari 6 kementerian dengan rangking terburuk, yang penyerapan anggarannya paling jauh dari target.

Berita kelima : SBY untuk kedua kalinya menengok cucu keduanya lagi, bu ani datang terlebih dahulu jam 10 dan presiden menyusul jam 13. ia bersuka cita atas itu, walau ada rakyatnya yang terkapar di RS karena racun tikus akibat suaminya yang pedagang asongan tidak bisa memberikan jaminan ekonomi, terlebih pedagang asongan mulai diusiri dengan alasan penertiban oleh PT KAI, dan Menko Kesra kerjaannya nggak beres.

Berita keenam : enggak tahu. TV udah dimatiin tadi.

12/21/12

gooood


hm, BBMan, facebookan, smsan, pageran, kentongan, atau apapun itu.. hiduplah lebih nyata...

12/20/12

pesan besar

 “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS 55:19-20)



Dengan menyebut bahwa di tempat tersebut dua laut bertemu dan di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing, maka bisa jadi juga tempat tersebut adalah suatu tempat yang bisa kita lihat dengan begitu jelas seperti pada gambar di samping yaitu Indonesia.

Tempat bertemunya dua lautan tersebut yaitu Lautan Hindia dan Lautan Pacific, sungguh suatu tempat yang sangat kaya raya. Kekayaan laut kita ini dijelaskan lebih detil di ayat berikut : “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS 16 :14)

Indonesia yang memiliki luas daratan 1.92 km2, memiliki luas lautan 3.26 km2 atau 1.7 kali luas daratannya. Bila sesuai ayat tersebut di atas bahwa laut adalah sumber pangan, perhiasan, energy, konstruksi, perdagangan – maka sungguh masih sangat besar potensi yang belum digarap itu.

Laut kita yang di peta tersebut di atas diapit oleh dua lautan besar membuat laut kita sangat kaya dengan biodiversity – ke aneka ragaman hayati. Yang disebut lahmdalam ayat tersebut umumnya diterjemahkan sebagai daging yang segar (ikan), namun bisa juga berbagai hasil laut yang menjadi sumber pangan yang tiada batas.

artikel lengkap dari : sini.

12/15/12

Kalau merasa belum sukses

Ingat : "Kesuksesan bukanlah milik mereka yang mempunyai sumber daya. Kesuksesan adalah milik mereka yang mau mengambil peluang"

jadi, kalau masih merasa belum sukses, jangan berpikir karena kita kekurangan sumber daya. lebih besar kemungkinan karena kita kurang mengambil peluang.

yang ada dibenakku ketika peluang menghampiri, peluang apapun itu, ya begitu itu : sepanjang memungkinkan untuk ditandangi, ya ditandangi. Karena kita tak pernah tau efek bola salju apa setelah peluang itu diambil. Tidak selalu loh kita mengerjakan A, lalu kita mendapatkannya hanya A, seringnya dapatnya bukan cuma A, tapi ABC misal, atau Energizer. 

Dan lagi aku terpikirnya, jangan-jangan peluang itu titipan berkah dari Tuhan. gara-gara sehari 17 kali aku bilang "ihdina sirotolmustaqim". Who knows kalau itu "jalan" yang diberikan-Nya ya...

12/13/12

Gula Kristal Kemasan Stick


Prosesnya panjang saudara-saudara, untuk mendapatkan kemasan seeksklusif ini.

12/12/12

Hadiah di 12 12 12

Enam tahun SDI, dapat ucapan2 selamat hari jadi + hadiah istimewa, kemasan stick untuk unit bisnis gula kristal yang datang naik travel sore kemarin, kini sudah sampai...
satu cakram

Melanjutkan Rekaman

"Dengan menolong diri sendiri, kita bisa menolong orang lain dengan lebih sempurna.", RA Kartini.

Kredo di atas mengingatkan kita untuk tidak berpikir pragmatis dan parsial, antara urusan ekonomi (menolong diri sendiri) dan urusan sosial (menolong orang lain). Sering bukan, kita merasa kalau urusan mencari nafkah, adalah persoalan bukan mulia, sedangkan kegiatan bakti sosial, kegiatan amal, adalah kegiatan yang mulia.

Hati-hati loh, bisa2 bukannya sosial impact yang didapat, tapi soksial impact malahan. Kapan soksial impact terjadi? ketika waktu produktif kita tersunat sedemikian banyak oleh kegiatan sosial-sosialan kita, yang itu bukannya seiring sejalan dengan menolong diri sendiri, tetapi malah melemahkan diri sendiri.

Bukannya hari demi hari terpakai dengan meningkatnya aset investatif yang memperkuat power kita, malahan terbebani oleh liabilitas yang tidak terarah. ya, masing-masing dari kitalah yang bisa "membaca" fenomena ini di diri kita masing-masing

Karena, dengan membiarkan diri kita lemah, berarti kita akan memiliki keterbatasan dalam menolong orang lain dengan sempurna, bukan?

Dirgahayu Semangat Donk ke-6. Terus melanjutkan milestone, semuanya akan terrekam indah nanti.

12/1/12

Berani Menikah itu, Hebat!

lorem ipsum dolor sit amet

11/29/12

Desember : Lebih Cepat

Kalau November lebih pagi, maka Desember nambah : lebih cepat.

November ndilalahnya didukung oleh alam, dimana matahari memang bangun lebih pagi dari biasanya, makanya jam 05.00 saja sudah padang njingglang.

Desember ini kudu tekan gas lebih keras, jarang2 injak rem, jangan keseringan liat spion, ya senggal senggol marka sesekali nggak apalah, karena memang hanya dengan 'lebih cepat' lah revenue kita tidak akan terlalu banyak dimakan cost.

waktu adalah berharga. karena itu, "Lebih baik lebih cepat!"

11/28/12

Pasangan Dunia Akhirat

Di dunia kamu bareng dia, di akherat kamu bareng dia.

11/20/12

SME Packaging Center Plan

Fakta bahwa, produk usaha kecil menengah atau UKM, sering disebut pula dengan SME atau Small and Medium Entreprize kalah bersaing dengan produk-produk komersial milik korporasi nasional dan korporasi global.

Sebut saja kripik singkong, dengan citarasa yang tidak kalah enak, produk Small and Medium Entreprize kalah oplah penjualannya dengan produk kripik singkong komersial yang harganya berkali lipat lebih mahal.

Hal ini terjadi karena kemasan. Masyarakat bukan hanya membeli isi, tetapi membeli kemasan. Sedangkan Small and Medium Entreprize kurang memiliki sumber daya untuk membangun kemasannya.

Sebetulnya perhatian pemerintah terhadap Small and Medium Entreprize cukup besar. Namun, sayangnya masih terlalu berorientasi pada permodalan dan alat produksi. Padahal, mana ada Small and Medium Entreprize yang memiliki alokasi budget pemasaran yang cukup untuk memasang Billboard besar di pusat kota, misalnya.

Dan saya tidak bisa membayangkan, misalnya ada billboard 10 x 15 meter di pusat kota berisi gambar iklan kripik singkong dengan bungkus kemasan plasti disablon saja. Haha..

Saya menggagas SME Packaging Center bertujuan untuk masuk dalam fenomena ini. Agar bagaimana Small and Medium Entreprize bisa memiliki desain kemasan dan grafisnya yang mampu berdaya saing dengan produk-produk komersial di pasaran.

Produk mereka tidak lagi terkesan murahan, tetapi juga yang harus saya perhatikan adalah daya beli Small and Medium Entreprize terhadap jenis kemasan yang saya tawarkan. Kalau terlalu mewah dan mahal, mereka tidak mampu donk mengalokasikan budget untuk membuat kemasan tersebut. Terlebih, harga penjualan akan menjadi tinggi dan segmen konsumen akan menyempit.

Oleh karena itu banyak strategi yang saya rencanakan dalam SME Packaging Center ini, diantaranya pertama : merger produksi, dimana saya menghimpun sekian banyak Small and Medium Entreprize terlebih dahulu untuk mencetak kemasan bersama-sama.

Misalnya untuk cetak dengan mesin Rotto ada limit minimal 30 juta sekali cetak. Tapi di plat silinder cetaknya bisa muat enam desain kemasan yang berbeda. Nah, maka biaya bisa dibagi enam, masing-masing Small and Medium Entreprize cukup keluar uang lima juta rupiah.

Kedua : Berafiliasi dengan pemerintah, dan Business Development Services yang ada agar dana bantuan untuk Small and Medium Entreprize lebih besar dialokasikan untuk pemasaran, salah satunya untuk kemasan. Maka, Small and Medium Entreprize yang terpilih bisa mendapatkan bantuan kemasan gratis dari pemerintah.

Dan banyak lagi strategi-strategi lainnya yang akan ditempuh. Intinya competitive advantages bisnis ini nantinya akan ditumpukan pada dua hal : pertama, kekuatan desain. kedua, jejaring perusahaan distribusi yang akan kita tawarkan kepada klien-klien kita.

Sehingga klien-klien Small and Medium Entreprize akan mendapatkan kemasan yang mampu bersaing dipasaran dengan biaya produksi yang rendah, serta didukung sosialisasinya dengan murah pula melalui perusahaan distribusi-perusahaan distribusi yang menjadi mitra kita.

Memasuki tahun dua ribu belasan ini, saatnya Small and Medium Entreprize berjaya. Saat ini ada slogan "local is sexy". Ya, sumber daya lokal itu sangat potensial dikembangkan, sangat seksi untuk laris manis di pasaran.

Kalau sudah punya kemasan yang bagus, Small and Medium Entreprize memasang billboard di tengah kota juga percaya diri nantinya.


3 + 1 Kebohongan yang Mendunia

1. Teori Kelangkaan
Para saintist dan pebisnis dunia masa lalu berkonspirasi, menciptakan teori bahwa minyak akan habis. Bahwa tidak ada sumber daya alternatif selain minyak. Berkali-kali minyak diprediksi habis, walhasil sampai sekarang belum. Cadangan masih tersedia, energi alternatifpun mulai tercipta.

Teori ini bertujuan untuk menaikkan nilai komoditas minyak. Berhasil, sampai sekarang setiap negara berebut minyak, harganya seperti siluman, naik turun tidak jelas siapa pelaku penaik penurunnya.


2. Teori Spesialisasi
Bangsa Aria yang feodal ingin memproteksi kaum bangsawan dengan melakukan spesialisasi kepada kaum-biasa dan kaum bawah. Makanya diciptakanlah pengertian spesialisasi : tukang jahit, tukang kayu, pelaut, tukang batu, dll profesi.

Orang tersegmentasi, dan dirinya merasa rendah diri. Sampai sekarang, profesi dianggap lazim bahkan harus, adanya.

3. Teori Schooling
Sekolah pertama diciptakan saat Rusia War, dibuat untuk rekrutmen prajurit. Model sekolah diadopsi di zaman revolusi industri, digunakan untuk menyerap tenaga kerja. Teori sekolah berjalan sampai sekarang, yang enggak sekolah merasa rendah diri.

Seolah-olah, hidup enggak sekolah adalah kemalangan besar.

1. Teori Global Warming
Pemanasan global itu tidak ada. Cuma diada2kan oleh pebisnis yang berkecimpung di alat-alat/komoditas yang berhubungan dengan komoditas yang berkaitan dengan ramah lingkungan, green, dll. Termasuk untuk melancarkan para LSM hijau beraksi.

Benar tidaknya 3+1 kebohongan itu, silahkan ditelusuri sendiri. Ini postingan cuma titik berangkat, bukan penghakiman akhir.


Niat demi Niat

"Perbuatan itu dengan niat. Setiap orang beroleh apa yang ia niatkan. Maka, siapa yang hijrahnya menuju Allah Swt dan RasulNya, maka berarti hijrahnyapun kepada Allah Swt dan RasulNya; dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan ia peroleh atau karena perempuan yang akan ia nikahi, maka berarti hijrahnya hanya akan sampai pada apa yang ia hijrahi." 
Shahih al-Bukhari, Bab Kaifiyyah Bad'i al-Wahy, Vol.II, hal.002

Kalau hijrah itu berpindah dari tempat lama ke tempat baru, kalau hijrah bisa diartikan juga berpindah dari hidup lama ke hidup baru. Maka ketika seseorang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, berarti ia sedang berhijrah.

Kalau nikahnya karena Allah Swt dan RasulNya, maka tidak ada alasan untuk mencuri start. Kalau nikahnya karena (ingin pengakuan) dunia, mendapatkan legitimasi sosial, maka yang didapat lebih banyak gelamor eksternal ketimbang kekokohan rumah tangga internal. Kalau sekarang begitu nikmat diketiaki pasangan, didominasii pasangan, dijajah pasangan, disetir pasangan, ditelusuri lagi, jangan-jangan dulu niat menikahnya lebih karena ngebet ke premepuan yang akan engkau nikahi saja.

Banyak fenomena disekelilingku, yang jadi pelajaran praktikal buatku tentang niat demi niat. Niat itu terlihat pada tindakan, terbaca pada perilaku. Cuma manggut-manggut dan geleng-geleng saja menyaksikannya. Dan merefleksikannya ke diriku sendiri.

Rumus Diputus Pacar

JK Rowling, penulis Harry Potter atau Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi. Novel-novel yang fenomenal itu, konon kabarnya tidak memiliki latar belakang kepenulisan fiksi. Tapi kok bisa boom ya karyanya?

Aku ketemu jawabannya minggu lalu dari CoachYusa. Ia menerangkan bahwa di dalam kehidupan kita ada dimensi-dimensi. Dan persoalan di satu dimensi tidak bisa diselesaikan di dimensi yang sama, harus di dimensi atasnya. Hal di satu dimensi hanya bisa benar-benar ditaklukan melalui dimensi diatasnya.

Dimensi itu adalah physic ada di paling bawah, emotion ada di nomor dua, mind ada di nomor tiga dan soul ada di paling atas. Yang Coach sampaikan sebagai contoh kemarin adalah misalnya kita sakit di badan kita. itu tidak selesai dengan dipijat atau minum obat sebetulnya, karena itu hanya stimulan, tapi sakit itu selesai kita kita bisa mengubah persepsi emosi kita atas sakit itu.

Ini seperti kasus GusDur yang waktu itu klicir berdarah-darah jarinya karena terjepit pintu. Dan dia hanya memprogram emosinya (sekarang dikenal dengan istilah self-hipnosis) dan akhirnya ia tidak merasakan itu sebagai sakit. obat dan pijat ada di dimensi yang sama dengan sakit badan, yakni physyc. Sedangkan self-hypnosis ada di dimensi emotion, dimensi diatasnya.

Samahalnya, rumus orang diputus pacar itu bukan mencari pacar baru. Rumus orang ditinggal nikah itu, bukan merem mencari kambing dibedakin terus dinikahin. Karena sakitnya diputus dan ditinggal nikah itu ada di dimensi emosi, ya kita main-mainnya jangan di dimensi yang sama, mainlah di dimensi atasnya, di mind. Caranya, merenunglah, menyendirilah, untuk me-reprogram tentang arti berpacaran, tentang arti pernikahan, jadi, kita bisa kebal dari rasa sakit itu, lalu bisa berfikir dengan sehat dan menjalani hidup dengan  bebas dari pengaruh negatif perasaan memilukan itu.

Lalu hubungannya dengan Joko Rowling dan Andrea Hirata apa? Kata mentor Rama kalau mau jadi sineas profesional, haruslah menonton film sebanyak mungkin. Kata mentor Ike, kemarin juga bilang begitu. Kata Ahmad Tohari, kalau mau jadi novelis, harus lahap semua novel. Loh, tapi Mas Joko dan Mas Andrea tidak melakukan itu, malah melebihi pencapaian2 novelis lain? Kok bisa?

Ya, karena rumus dari mentor itu berlaku pada konteks tertentu dan tidak berlaku pada konteks lainnya. Kalau kita hanya ingin menyamai atau menang-menang dikit dengan sineas atau novelis yang sudah ada, ya syaratnya adalah mempelajari semua karya yang pernah ada.

Tapi kalau kita ingin mencapai pencapaian ultimate, ya bisa jadi semua itu malah akan memenjara proses kreatif kita. Karena proses kreatif itu tanpa batas. Kalau mempelajari teknik perfilman dan kepenulisan itu ada di dimensi mind, maka proses kreatif itu ada dimensi atasnya lagi : soul.

Mind tidak bisa diselesaikan di mind juga. Harus di dimensi atasnya : soul.




Kagum Membabi Buta (Ijo)

Kalau orang menang kompetisi, itu nggak harus dikagumi. Kalau orang kalah kompetisi, nggak pula harus berkecil hati. Kemarin, nonton-nonton profil pemenang sebuah kompetisi, ya ternyata seperti itu profilnya. Seperti itu gimana? menghina ya kamu? haha...

Ya bukan begitu. Artinya begini, ketika mendapatkan sebuah profil pemenang, tidak serta merta kita harus manggut-manggut kagum membabi buta (ijo) dan impactnya merendahkan diri sendiri... tapi daya analitis kita bisa kok tetep dijalankan. Jangan demi menghindari sikap iri dan sikap menghina, kita memilih untuk tidak analitis.

Karena dari cara berpikir analitis, biasanya kita akan dapat pelajaran-pelajaran baru. Misalnya tentang, bagaimana kejelasan konsep sosialnya? Bagaimana produk yang mereka suguhkan benar-benar mempertahankan nilai keekonomisan sebuah proses produksi? Bagaimana penggunaan kreativitas desain dalam penyuguhan ide. Dan lain sebagainya, bisa untuk masukan kita kedepan loh itu.

Terus lagi, di Indonesia ini kan kalau kita lihat, kebanyakan kompetisi anak muda itu bagaimana si? Modelnya mendaftar atau penelusuran? Hampir tidak ada atau jarang sekali yang model penelusuran. Kebanyakan adalah mendaftar. Jadi, bisa diterka-terka kan, bagaimana tipikal pemenangnya. Karena orang mendaftar pasti punya motivasi, punya niatan. Entah niat untuk populer, niat untuk mendapatkan hadiah, niat untuk bernetworking atau lainnya.

11/19/12

Hobi Merepotkan Tuhan

Misalnya, Tuhan sudah mentakdirkan aku akan dapat proyek dengan omzet 300 juta hari ini. Tapi, karena aku malas memfollow up 10 customer yang sudah aku list tadi malam. Ya batal lah takdir itu. 

Lalu Tuhanpun merevisi takdirnya, omzet itu jadinya aku dapatkan besok. Karena baru besok aku menghendaki diriku untuk tidak malas. Nah, takdir 300 juta itu geser sehari. 

Lalu, karena hari besok kegeseran takdir yang seharusnya terjadi hari ini. Maka, otomatis donk, takdir besok tergeser juga jadi besoknya lagi? Geseeeeer semua jadinya kan.... ouh, betapa Tuhan sudah direpotkan atas tindakan kita malas di sebuah hari, karena takdir di hari esok dan seterusnya jadi geser.

Nah, karena takdirku besok berhubungan dengan orang lain, dengan orang yang mungkin mendapat rejeki lewat aku, orang yang membutuhkan pertolonganku, orang yang mengharapkan kedatanganku dan seterusnya. Maka karena takdirku geser, maka takdir orang-orang yang bersangkutpautan dengan kita di hari besok juga geser juga kan? lalu takdir orang-orang itu lusa, besok lusa, besok besok lusa, bulan depan, tahun depan, geser juga kan?... terbayang betapa repotnya Tuhan karena ulah kita malas memfollow yp list customer itu.

Lalu orang yang takdirnya geser karena batal ketemuan dengan kita besok misalnya, dia juga bersangkutan dengan orang lainnya lagi yang harus ketemuan di hari yang sama dengan orang lain lagi itu. Maka orang lain lagi itu tergeser pula takdirnya, orang lain lagi itu bersangkutan dengan orang lainnya lagi, orang lain lagi yang bersangkutan dengan orang lain yang bersangkutan dengan orang yang harusnya ketemuan dengan kita itu juga punya besok, lusanya sendiri. Hedew, makin rumit, pelik, njelimetnya takdir yang harus diubah.

Sampai sejauh itukah kita berpikir, saat kita malas mengikuti bisikan hati dan memilih untuk bermalas-malasan meninggalkan sebuah peluang tindakan?

Maka, mengapakah kamu tidak berpikir?


Korupsi itu Masalah No. 2

Kalau negara sudah bebas dari korupsi. terus?... Indonesia jadi sejahtera begitu? *sambil koprol & bilang wow... Ketungkul ngurusi korupsi. sangking ketungkulnya, sampai-sampai uang hasil sitaan dari para koruptor jangan2 dikorupsi lagi dan enggak ketahuan.

Korupsi barulah masalah nomor 2. Lalu apa masalah nomor 1 nya? masalah nomor 1 negara ini adalah tidak bisa mengelola anggaran. Sok diperiksa saja, berapa banyak diklat pemerintah dilakukan di hotel-hotel mewah. Haruskah?

Tindakan Ahok mewakili pimpinan DKI memangkas anggaran PU 25% adalah langkah yang lebih solutif ketimbang rame-rame menghakimi koruptor yang ujung-ujungnya dihukum ringan dan mereka tetapa kaya raya. Karena perbaikan anggaran itu ada salah satu dampaknya yakni sbg langkah preventif memberantas korupsi.

Ya, anggaran dari tingkat negara sampai kabupaten itu, sekalipun separohnya dikorupsi, 50%nya raib dimakan para penguasa, masih cukup kok untuk membuat rakyat sejahtera. Asal bisa mengelola itu sisa uang  yang tidak dikorupsi dengan baik saja.

11/10/12

BaGoes : Sebuah Kolaborasi Bagus Anak Muda dan Masyarakat


Orang bilang pemuda adalah tulang punggung bangsa. Wah, memang apa yang dipunyai pemuda sehingga bisa punya julukan sehebat itu? Empat hari di sebuah komunitas anak muda Greeneration Indonesia (GI) kemarin, aku menemukan jawabannya. Di Bandung GI berdiri, berkolaborasi dengan masyarakat pelaku industri konveksi rumahan, menciptakan sebuah produk tas inovatif yang berfungsi mengerem ketergantungan masyarakat kepada kantong plastik. Tas BaGoes namanya, sebuah tas berbahan aneka jenis kain dengan grafis desain yang menarik dan bisa dilipat rapih karena memiliki retsleting pelipat, sehingga mudah dan trendy dibawa kemana-mana.

Yang dipunyai oleh anak muda, pertama adalah : Inovasi. Inovasi kerap lahir dari generasi muda, bukan dari generasi tua. Generasi tua yang meliputi orang-orang yang berumur tua, maupun anak-anak muda yang merasa tua, terjebak oleh rutinitas, tuntutan kewajiban ekonomi bulanan, tuntutan strata sosial, sehingga tidak sempat mengeksplorasi dirinya. Anak muda yang masih berjiwa muda mudah melahirkan inovasi, karena cara berpikirnya masih bebas, luwes dan semangatnya meletup-letup. Dari inovasi inilah sebuah produk akan mendapat sentuhan nilai tambah. Tas BaGoes misalnya, sebagai tas inovatif memiliki nilai ekonomi dua kali lipat lebih ketimbang produk tas konvensional dari bahan sejenis.

Yang dipunyai anak muda berikutnya adalah : Jejaring. Ketika masyarakat pelaku industri konveksi rumahan sudah habis waktu dan daya juangnya untuk menyelesaikan orderan jahit yang menumpuk, anak-anak muda di GI masih lincah meloncat kesana-kemari mencari ceruk baru untuk memasarkan produk tas BaGoes hasil kolaborasi mereka. Tidak tanggung-tanggung jejaring yang  mereka miliki, perusahaan kelas nasional yang mereka akses sebagai pasar mereka. Walhasil, masyarakatpun senang dan sangat terbantu, karena jumlah order dalam jumlah (quantityi) besar dan berkelanjutan (contiunity) membuat mereka tenang dalam bekerja. Tugas selanjutnya adalah bagaimana mereka menjaga kualitas (quality). Itulah sekelumit kisah, sentuhan anak muda untuk menopang perubahan bangsanya.


"Komunitas muda mempunyai inovasi dan jejaring, 
sedangkan masyarakat mempunyai skill dan pengalaman.
Ketika keduanya dikolaborasikan dalam sebuah platform Social Entrepreneurship, 
maka lahirlah manfaat dan kebahagiaan bagi kita bersama."



Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

11/9/12

Saatnya Gula Jawa Naik Kelas

Saya seorang pengusaha pemula di bidang agrobisnis. Komoditas yang saya kembangkan adalah gula Jawa yang merupakan gula dari bahan baku nira kelapa. Dalam banyak forum gula kelapa, seringkali saya menjadi peserta yang paling muda. Begitulah yang terjadi, industri gula Jawa tidak lagi dilirik oleh generasi muda, selesai di generasi kakek dan bapak kita. Karena memang menjadi pelaku industri gula Jawa itu identik dengan kampung, terbelakang, terpinggirkan dan pendapatannya sedikit.

Namun, siapa yang menyangka, masyarakat modern di belahan dunia yang saat ini resah dengan gaya hidup tidak sehat justru mulai mengidolakan gula Jawa. Gula Jawa disebut-sebut sebagai gula masa depan, karena hasil riset menunjukkan gula Jawa memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan yang lebih penting adalah aman bagi gula darah karena memiliki index glycemyc paling rendah diantara jenis gula lainnya, yakni hanya 35.

Ketika gula tebu sudah mulai dihindari oleh sebagian masyarakat, kemudian gula jagung yang disebut-sebut sebagai gula sehat juga diindikasii masih mengandung zat-zat yang dihimbau untuk dihindari. Gula Jawa lah yang kini menjadi primadona. Indikasi ini diperkuat dengan bagusnya pertumbuhan permintaan terhadap gula Jawa dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, industry roti dan farmasi mendominasi permintaan. Sedangkan dari luar negeri, Belanda, New Zealand, Kanada dan Jepang adalah beberapa negara yang mengimpor gula kelapa ke negara mereka.

Manisnya progresivitas permintaan gula Jawa ternyata belum memberikan dampak langsung kepada produsen, yang notabenenya adalah petani tradisional di desa-desa. Dimana pengrajin gula Jawa terbesar berada di daerah saya, Kabupaten Banyumas. Maka wajarlah Banyumas menjadi pemasok terbesar gula Jawa nasional.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan permintaan gula Jawa tidak diimbangi dengan upaya peningkatan kemampuan produksi SDM petani gula di desa-desa. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengakses inovasi produk, kemudian teknologi produksi yang lebih modern, serta mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh akses harga beli yang lebih tinggi.

Gula Jawa yang diinovasi menjadi bentuk kristal yang saya kembangkan bersama rekan-rekan saat ini diharapkan dapat memberikan manfaat lebih yang berdampak terhadap kesejahteraan petani di tingkat hulu produksi. Mengingat harga gula Jawa kristal atau dikenal pula dengan brown sugar memiliki nilai ekonomi yang lebih baik ketimbang gula Jawa bentuk konvensional.

Diimbangi dengan pemberian edukasi standarisasi produk, manajemen pengelolaan usaha dan akses teknologi modern, diharapkan para petani gula kelapa dapat lebih percaya diri menggarap produk mereka. Sehingga kedepan, anak cucu mereka dapat mengenal bidang industri gula kelapa sebagai bidang yang prospektif untuk dijalani, tidak lagi apatis seperti saat ini. Mengingat gula kelapa, adalah komoditas incaran dunia, bukan komoditas pinggiran.

Beberapa tindakan nyata yang sedang dan terus akan saya upayakan dalam membuat semua komponen pelaku industri gula kelapa naik kelas, diantaranya adalah dengan memberikan sentuhan inovasi sebagai berikut :
  1. Membangun top brand nasional untuk produk gula kelapa. Saat ini gula tebu dan gula jagung merk   tententu sudah ada yang menjadi top brand di pasar dalam negeri, tetapi gula kelapa belum. Gula kelapa baru beredar di pasar tradisional dan pasar modern tanpa kemasan.
  2. Melakukan riset nutrisi secara lebih mendalam. Sehingga masyarakat tahu secara signifikasi nilai kesehatan gula kelapa.
  3. Memangkas rantai distribusi dengan memiliki merk dagang sendiri, dimana produk dapat didistribusikan langsung ke konsumen tingkat akhir.
  4. Sosialisasi teknik produksi gula sehat kepada petani lebih luas, sehingga semakin banyak petani yang mampu membuat produk gula kelapa yang memenuhi standar perdagangan internasional.
  5. Penambahan variasi kemasan, dari kemasan biasa hingga kemasan sachet yang lebih eksklusif. Keberadaan kemasan yang eksklusive akan memudahkan gula kelapa diterima untuk konsumen kelas atas.
  6. Mengakses pameran promosi agrobisnis internasional, untuk dapat mengakses pembeli langsung. Sehingga proses ekspor komoditas tidak harus dilaksanakan melalui pihak ketiga seperti yang terjadi saat ini.#
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id  dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan."

Saya dan tim Gula Jawa SWEETJAVA bersama Wamendag Bayu Krisnamurthi

11/2/12

November Lebih Pagi

Salah satu tips menghemat umur adalah dengan bangun lebih pagi, memulai beraktivitas lebih pagi. Sehingga, apa yang bisa dikerjakan hari ini tidak harus dikerjakan besok. Bahkan, apa yang bisa dikerjakan besok, syukur-syukur bisa dikerjakan hari ini.


10/30/12

Satrio-Satrio


Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.

Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.

Satrio Jinumput Sumelo Atur
melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.

Satrio Lelono Topo Ngrame
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.

Satrio Hamong Tuwuh
melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.

Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pandhita atau alim ulama yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang aulia (waliyullah).

10/29/12

Bulan Sura

Bulan Besar sebentar lagi selesai, masuklah ke Bulan Sura kita. Sura adalah istilah bulan bagi orang Jawa untuk bulan pertama di tahun Hijriyah, Muharram. Sultan Agunglah dulu yang membuat kalender Jawa lama disinkronisasi dengan kalender Islam.

Bulan Sura atau Muharram adalah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Tiga lainnya yakni Dzulqaidah, Dzulhijjah (Besar) dan bulan Rajab. Loh kok bulan Ramadhan tidak termasuk? Ya memang tidak, itu para ustadz di TV aja yang pada sok tau menyebutkan Ramadhan sebagai bulan suci. Ramadhan itu bukan bulan suci, tetapi bulan spesial. Itu tepatnya. Kenapa spesial? Ya kita semua tahu lah betapa spesialnya bulan itu, berkelimpahan buah kedermawanan Allah.

Hebatnya orang Jawa, di bulan suci Sura, mereka mengurangi aktivitas keduniaan. Salah satunya adalah resepsi pernikahan. Ini sinkron saja saja dengan anjuran, di bulan ini kita tidak lalai oleh dunia, kita lebih fokus mentauhidkan Allah.

Jadi, yang dilarang bukan menikahnya kok, tapi just antisipasi saja, agar tidak lalai oleh dunia.

10/10/12

Sibuk

Menyibukkan diri sesibuk-sibuknya, sampai enggak kebagian detik untuk termenung, meratapi. Life must go on. 

Berlibur?

Lagi tidak mood buat berlibur. Karena pekerjaanku adalah liburanku. I'm so enjoying the day. Kalau disini aja happy, kenapa harus kesono-sono.

10/4/12

Merasa Berjasa

Pernah menyimak dan menelaah bagaimana pejabat-pejabat berpidato? Yah, coba saja sekali-sekali menyimak. Teks pidatonya mungkin panjang, tapi intinya, benang merahnya biasanya satu : merasa berjasa. Ya, tidak semua pejabat si seperti itu, oknumlah. *oknum tapi banyak

Saya sudah mencanangkan program ini, saya sudah membuat itu, saya sudah menginstruksikan anu, saya sudah bercapek-capek ono. Dan seterusnya. Hasyah, sebuah mentalitas yang membuat pencapaian tidak substansial. Iya, kelihatannya ada progres, iya kelihatannya sudah begitu heroik berpikir, bertindak, berkorban dan berjuang, tapi apa... nol!

Jangan-jangan kita juga begitu. "saya sudah membuat ini loh", "saya sudah mengerjakan itu loh", "saya sudah capek ngurusi anu loh", "itu yang menyelesaikan ono saya loh". Terus, gue harus bilang wow? sementara tidak ada substansial pencapaian yang didapat. 

Cuma merasa sudah punya pencapaian saja!

10/3/12

Pesan di Sebuah Sate Ponorogo

Mas Rama & Mba Ria menyampaikan sebuah pesan mendalam dalam kemasan yang begitu enteng & renyah. Tentang mimpi. Di sebuah kedai sate ponorogo, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Kalau kamu hidup di sekeliling orang yang tidak punya mimpi kemana-mana, ya siap2 aja kamu enggak akan kemana-mana. Beda kalau kamu hidup di lingkungan anak2 yang mimpinya selulus SMA kuliah di Amerika. Effort mereka tentang ujian ini dan itu ada, belajar ini dan itu ada, setidaknya bukan effort, minimal orientasi kesitu mereka punya.

Mimpi menentukan orientasi kita. Kalau mimpimu cuma pengen 'jejeg' pendapatan. Ya itu yang didapat. Kalau mimpimu pengen setiap hari kepusingan mendirikan pesantren disana-sini, ya sekalipun tidak tercapai, setidaknya orientasimu lebih luas.

Tidak bisa persis aku tuliskan pesan mereka berdua (Mba RIa dan Mas Rama) di blog ini, tapi ya intinya hampir sama dengan 2 paragraf di atas. Ya, dengan mimpi, kita tidak bingung dengan tujuan kita.

Zaky, Indra dan Nanky menanggapi dengan tidak kalah garing dan renyah. Kata mereka, ya, kita harus punya mimpi, agar ketika ditanya sopir taksi kemana tujuan kita, kita tidak bingung.

Misalnya ditanya ketika hendak naik taksi oleh sopirnya, "nak, mau kemana?" jawab : "saya mau kuliah S2 di Amerika".


10/2/12

Keep Otentic


Otentik niatnya

10/1/12

Benefit Akses bagi Franchisee Alfamart

Logo Blog Review AlfamartFranchise (waralaba) bukan sekedar replikasi. Banyak orang terlalu dini memberanikan diri menjadi franchisor (pewaralaba), menawarkan usahanya untuk dimiliki orang lain hanya sekedar direplikasi. Itulah mengapa saat ini begitu banyak tawaran bisnis franchise, seringkali saya mendapatkan tawaran untukm membeli franchise, diantaranya berupa bisnis produk makanan dan minuman. Bisnis yang dijual tersebut diantaranya berbentuk booth/gerobak yang oleh Rhenald Khasali disindir dengan istilah 'grobakchise', bukan franchise, karena memang yang dijual gerobaknya. Beberapa dari mereka berkembang pesat dengan cepat, tetapi juga gulung tikar satu persatu dengan cepat pula.

Yang saya fahami franchise bukan hanya sebatas replikasi, karena jika begitu maka yang terjadi hanyalah jualan gerobak dan jualan resep. Sementara untuk menjadikan sebuah bisnis feasibel dan sustainabel, bukan hanya dibutuhkan dua hal itu. Sebuah bisnis dikatakan layak dan mampu berkelanjutan bila didukung oleh berbagai macam faktor, diantaranya : akses bahan baku yang berdaya saing, akses pasar, kemampuan manajerial, kekuatan brand/merk, cadangan operasional yang memadai, kemampuan mengatasi kondisi-kondisi yang tidak terprediksi, dan lain sebagainya.

Alfamart sebagai salah satu bentuk usaha franchise di Indonesia memberikan teladan yang baik mengenai hal ini. Franchisee (terwaralaba) bukan sekedar diminta membeli gerai dan resep dari franchisor. Melainkan franchisee mendapat beraneka rupa akses, sebegai benefit atas komitmennya mengambil franchise mini market ini.

Benefit akses yang diberikan franchisor Alfamart yang bisa dinikmati oleh mitra-mitra franchiseenya diantaranya :

1. Akses supply produk, dimana franchisee mendapat produk dengan harga yang kompetitif, ketimbang harga 'kulakan' minimarket lain. Selain itu, franchisee Alfamart juga mendapatkan kemudahan, karena tidak perlu berbelanja kesana-kemari untuk melengkapi display produknya. Alfamart memiliki sistem distribusi supply produk yang baik

2. Akses pemasaran. Inti dari membeli sebuah franchise adalah membeli brand, kalau kita sudah membeli brand tetapi masih harus membangun brand dari awal, sama saja franchise itu omong kosong. Alfamart terlebih dahulu sudah membangun brand yang besar dan baik, namanya sudah familier, warna logonya sudah menjadi identitas khas, dan tagline "belanja puas, harga pas" sudah akrab di telinga, maka franchisee sudah tidak perlu repot lagi membangun brand.

3. Akses promo produk. Kerap kita menjumpai adanya beraneka ragam jenis diskon di rak display Alfamart. Kalau kita membuat minimarket sendiri, tentu akan luar biasa sulit melakukan negosiasi dengan distributor atau pabrik dari suatu produk untuk memberikan diskonnya, tetapi Alfamart memiliki negotiation power untuk mendapatkan diskon dari para suppliernya.

Sebuah Media Promo di Alfamart Jl. MT Haryono Purwokerto.
Foto oleh : Rizky Dwi Rahmawan
4. Akses design promosi. Seringkali kita menjumpai spanduk atau poster promosi produk/toko tertentu dijalanan dengan desain yang kurang digarap serius, sehingga bukannya membuat laris, tetapi malah hanya membuang anggaran promosi, mengapa? Karena desainnya norak, sehingga tidak membuat orang tertarik. Alfamart memiliki tim designer profesional yang disiapkan untuk melayani seluruh mitra franchiseenya berpromosi, sehingga materi promosipun dapat dibuat menarik dan tepat sasaran.

5. Akses perpajakan. Pajak menjadi rumit apabila kita urus sendiri, sehingga tidak heran bila ada diantara pemilik toko individu yang enggan membayar pajak. Ini membuat pembukuan toko menjadi tidak tertib. Alfamart telah menerapkan pengelolaan keuangan yang tersistem dengan baik, termasuk pajak yang wajib dibayarkan untuk setiap produk yang terjual. Ini memudahkan franchise tentunya.

hal-hal di atas adalah benefit yang layak diterima oleh franchisee yang sudah berkomitmen untuk membeli sebuah franchise. Karena lazimnya sebuah kerjasama kemitraan antara franchisee dan franchisor adalah bukan semata jual beli bisnis belaka, tetapi adanya kolaborasi yang saling menguntungkan satu sama lain.

Franchisee ikut berkomitmen menjaga brand, dan franchisor memberi dukungan untuk memudahkan franchisee mengoperasikan usahanya. Ada kerjasama saling menguntungkan di dalamnya.

Fenomena Superblock


Di kota besar seperti Jakarta, saat ini sedang ramai pembangunan Superblock. Sebuah bangunan bertingkat yang difungsikan menjadi sebuah kompleks yang lengkap, ada mall, ada apartemen tempat tinggal, ada rumah sakit, ada  sekolah, dll. Superblock ramai diminati pembeli karena praktis si, tidak perlu kemana-mana menembus kemacetan kota macam Jakarta.

Tapi, tanpa sadar mereka sedang memenjarakan diri mereka sendiri. Terpenjara dalam penjara kenyamanan dan kepraktisan. Lah iya, hidup disitu-situ aja. Kontras dengan suasana didesa dimana anak-anak bisa 'playon' ke sana kemari hingga ke kali tak perlu pengawasan ketat orang tua. Orang tua juga bisa 'mejeng' kondangan ke dusun sebelah, juguran di pos ronda mana saja yang disuka.

Ah biarkanlah, memang begitu dinamika kehidupan. Tapi yang menarik dari fenomena superblock ini adalah kejadian yang sama terjadi pada orang pacaran. Menurutku sebagai orang yang tidak punya pacar, pacaran adalan fenomena memenjara diri padahal siapa juga yang suruh memenjara. Alasannya si keren, ingin saling mengenal, ingin belajar membangun pola komunikasi, atau apalah. Tapi sadarkah dibalik semua itu dia menutup diri dari keleluasaan membiarkan hati nya menjelajah ke sana kemari sampai ke kali, dan merasa nyaman, merasa praktis hanya dengan satu orang pacarnya itu.

Ingat loh, baik dan buruk itu subyektif. Kalau seseorang yang bukan siapa-siapa kita, eh kok kita taruhi cinta, ya pantas saja semuanya jadi indah, jadi baik semua yang ada di diri orang itu. Karena sebaliknya, kalau seseorang kok kita taruhi benci, ya jadinya buruk terus perilaku orang itu.

Daripada mengurung diri dalam superblock yang kita bangun sendiri, ya mending...