12/12/15
Jebakan Motivator
Beberapa orang meremove akunku, hanya karena enggan diajak diskusi. Dan kebanyakan darinya adalah para motivator. Bukan karena aku pandai diskusi, tapi karena materi diskusiku mengganggu jualan mereka.
Menurut pandanganku, menjadi motivator itu tidak jelek. Tetapi bahwa banyak diantara mereka menjadi motivator hanya urusan jualan, itu memang benar. Daya nalar dan ketahanan mental mereka diatas panggung beda dengan di keseharian aslinya. Bagi mereka pencitraan adalah nomor satu, soal inputan ilmu-ilmu baru yang mungkin didapat dari diskusi mereka sangat resisten. Kalau-kalau inputan ilmu baru itu justru merusak komoditas paket training yang mereka jual.
Pandai-pandailah membeli motivasi, jangan terjebak.
12/11/15
Rumah Jawa Masakini
Kalau mau copy paste arsitektur jaman dulu, tentu saja susah. Kayu mahal, tukang mahal. Apalagi tanah, muahaaal. Maka, karena yang penting substansinya bukan bentuknya. Paling tidak, ada nilai-nilai substansi yang tetap terjaga, walau bentuk, juga ukuran rumah tidak bisa kita tiru untuk dihadirkan dimasa kini.
Ada banyak tentu saja, kita ambil lima saja misalnya apa-apa yang ada di rumah jaman dulu dan bisa kita adaptasikan untuk kita hadirkan di rumah masakini.
1. Padasan
Gentong air di depan rumah yang bisa dimanfaatkan untuk pejalan kaki yang butuh minum atau cuci kaki. Ya, kalau sekarang bisa lah dengan menaruh keran cuci mobil di depan rumah.
2. Halaman
Halaman yang luas, bisa untuk taman bermain gratis, tempat berkumpul anak-anak kita dengan anak-anak tetangga. Ruang interaksi yang multifungsi. Ya, kalau sekarang tidak harus seluas halaman rumah jaman dulu, mahal tanahnya. Tapi kita bisa memanfaatkan carport, dioptimalkan untuk ruang interaksi bagi siapa saja, jangan malah dibuat sesak dengan perabot. Pot pun sekadarnya saja.
3. Ruang Tamu
Ruang tamu jaman dulu memakai risban dan meja besar, enak untuk diskusi sambil medang. Kalau perabot besar macam risban dan meja besar malah mempersempit ruangan, yang penting ruang tamu dibuat lega, tapi tetap bisa untuk ngobrol formal dan diskusi berpanjang-panjang. Juga bisa untuk pisowanan, dimana orang-orang bertamu bermaksud menghadap, berkonsultasi atau sekedar meminta saran. Jangan malah ruang tamu disetting untuk sales-friendly belaka.
4. Dapur
Dapur itu bukan ruang belakang. Sekalipun ruangannya ada di belakang. Dapur adalah hal paling primer dalam rumah. Segala sesuatu yang dinikmati di rumah asalnya adalah dari dapur. Walaupun tidak bisa menghadirkan dipan untuk menyambut tetangga ngendong, para-para untuk menaruh barang yang harus keep warm, setidaknya, dapur tetap kita pandang sebagai ruang yang primer, bukannya ruang yang paling terabaikan. Sekalipun kita tidak suka memasak.
5. Ruang Pribadi
Ruang untuk meditasi atau uzlah atau tafakur. Ruang untuk me-time. Bisa didesain suka-suka, tidak harus bernuansa etnik klasik seperti ruang meditasi di keraton milik raja. Yang penting bisa untuk merenung dan menenangkan diri. Kalau lahan terbatas, kita bisa memanfaatkan loteng.
Begitulah kalau prinsip-prinsip itu tetap dijaga, sekalipun bentuknya sama sekali berbeda, tapi kita sudah berasa berada di Rumah Jawa.
Spirit of Jamaah
11/28/15
Derajat Ilmu
Kadang-kadang mikir, mending jadi orang yang banyak enggak tahunya saja. Jadi, ketika ada orang lain minta masukan, aku tidak dibebani kewajiban untuk memberi masukan. Karena memang tidak punya pengetahuan untuk membuat masukan.
Daripada, tiwas sudah meminta masukan, diberi, eh tidak dipake. Dibuat berceceran begitu saja. Tapi yah, itulah kenapa orang berilmu ditinggikan derajatnya. Kompensasi atas beratnya berlaku bijaksana. Harus menahan diri, daripada obral masukan. Meski gemes nggak karuan melihat tingkah polah yang sebetulnya bisa aku berii masukan.
Maksud Sang Nabi
Kalau diantara kita ada yang berani menghukumi bahwa Syiah bukan Islam. Apalagi Khawarij. Kalau syiah saja tidak dianggap bagian dari Islam, terlebih mereka kaum Khawarij.
Tapi apa berani menghukumi khawarij itu bukan Islam. Sedangkan mereka bajunya Islami, rujukannya Quran dan Sunnah. Cara penafsiran dan penerapannya saja yang sakpenakwudele dhewe. Maka yakin, tak berani kita menghukumi kaum khawarij itu bukan Islam.
Kalau menghukumi syiah bukan Islam berani. Karena media berkata begitu. Wong kita lebih sami'na wa ato'na kepada media. Ketimbang bertabbayun pada maksud-maksud Nabi pada Sunnah-sunnahnya.
Sebegitu kita tidak mengenal baik Nabi kita sendiri, sehingga ketika tafsir atas perkataan Nabi dimanipulasi sedemikian rupa, kita masih yakin bahwa itu memang benar-benar yang dimaksud oleh Nabi.
11/27/15
Sulitnya Hidup Jujur
Sulitnya hidup jujur. Jujur itu bukan sekedar ngomong ke orang lain yang benar. Kalau itu jujur fisik. Jujur dalam hidup hakikinya adalah kita tidak mengingkari anggukan universal alias kebenaran murni yang tersimpan di dalam hati.
Kalau mau hidup tidak jujur gampang sebetulnya. Sekolah dan kuliah yang nurut. Kejar nilai tugas dan ujian yang baik. Lulus cari kerja yang menjanjikan. Kerja yang nurut. Disela-sela kerja, sholat yang rajin. Ikuti majelis taklim, rajin mengisi infak ini, infak itu.
Diwaktu senggang hafalkan beberapa dalil. Kuasai keahlian ceramah dg itu, bawakan dengan santun. Kejarlah pahala, nikmatilah dunia.
Semua kebenaran sudah tersaji. Tinggal rajin membaca teks agama. Hindari perdebatan. Ikuti mainstream. Dikala jenuh, sesekali berwisatalah, hitung-hitung mengambil jatah kebahagiaan duniamu.
Mudah bukan? Modalnya nurut. Taat. Pada aturan Tuhan dan Nabi. Tak perlu berpikir sedikitpun bukan untuk menjalani cara hidup seperti di atas? Enak, pikiran enteng, tak perlu banyak yang harus dikaji, diterjemahkan, dikontekstualisasi. Waktu senggang dan waktu tidurpun cukup.
Saking enaknya, bahkan kita tak perlu berpikir untuk meneliti, yang disampaikan tentang perintah Tuhan dan Nabi itu dituturkan oleh siapa? Siapa kelompok yang menuliskan menjadi bacaan tafsir kita? Adakah kepentingan mereka kepada diri kita?
Dan yang terpenting, kita sama sekali tidak perlu berpikir. Apakah yang mereka tuturkan dan tuliskan tentang Tuhan dan Nabi itu sudah betul-betul bisa mewakili yang benar-benar dimaksud oleh Tuhan dan Nabi? Atau jangan-jangan belum.
Maqomat
Kalau di arloji, maqomat aku itu enggine bukan interface. Kalau di kantor, kecenderungannya aku di backoffice bukan di frontoffice.
Aslinya bagian paling pas buatku ya di dapur. Tidak lihai ngurusin permukaan. Tapi bagaimanapun, 'kutukan' trah dari mbah-mbahku adalah aku harus mandito tapi juga harus siap satrio.
Harus pandai mikir. Tapi juga harus kalau 'terpaksa' dibutuhkan untuk tampil ya harus bisa. Tiba-tiba disuruh presentasi didepan juri nasional. Harus naik panggung disorot kamera tv nasional. Harus negosiasi dengan wong londo dengan bahasa mereka. Harus berbicara didepan umum. Minimal tidak ngisin-ngisini.
Tapi jangan salah mengenali maqomatmu. Aslinya ya kamu urusan dapur. Bahwa bisa tampil, itu jurus darurat belaka. Jangan malah terbuai sibuk cari panggung. Dan lupa nguleg ide, mblender gagasan di dapur.
Dan jangan membanding2kan diri dengan kualitas mereka yang maqomatnya memang dipanggung.
11/15/15
Genting
Semoga bisa menyambutnya dengan sebaik-baiknya. Minimal menyadarinya. Syukur sekali menjadi bagian dari mekanisme kejadiannya.
10/31/15
Indonesia Bagian Facebook
Sedangkan sekarang, orang membagi ilmu tanpa ilmu. Orang berbaju agama dengan telanjang akhlak. Memberi nasehat tanpa empati. Berbagi tujuannya eksistensi. Jualan baju sampai jualan kata bijak.
Untung semua itu, wilayah facebook cuma bagian kecil dari Indonesiaku.
10/19/15
Ubed: Simple Selling
Cita2nya M. Yunus pendiri Grameen Bank menarik: Kelak, anak cucu kita hanya akan melihat kemiskinan di museum.
Maksudnya, semua orang kaya dan berkecukupan. Kemiskinan hanya jadi diorama di museum. Apa bisa? Bisa. Ah masa? Kita nggak percaya kab karena kita closed dari informasi pra generasi kita. Kita hanya tahu dan meyakini apa yang kita alami di generasi kita. Ya maklum, ini generasi memang zamannya orang mustahil menjadi kaya tanpa memiskinkan orang lain. Mustahil kenyang, tanpa melahap orang lain.
Contoh lain yang kita gagal mengakses informasi dari generasi sebelum kita adalah adanya cara hidup "Ubed". Ubed itu cari duit dengan apa saja, untuk berlangsungnya hidup. Walaupun dengan cara "apa saja", bukan berarti tidak ada pola atau struktur teknologinya. Ubed itu "simple selling". Sekarang Ubed hanya ada di museum saja.
Yang ada sekarang adalah "Selling for Salary". Mau sehebat apapun anda jualan, kalau belum punya gaji tetap. Hidup anda tidak aman. Kalau di negara maju, tambah lagi rong2an tidak amannya: kalau hidup belum punya asuransi.
Begitulah, karena tidak ada museum ubed, hidup tanpa gaji dan asuransi menjadi tahayul. Sedangkan kita yang mau mengkaji ilmiahnya teknologi ubed, sudah tidak ada jalur untuk mengaksesnya.
10/16/15
Pejabat & WhatsApp
Republik atau Dagelan
Kebebasan Terbatas
10/9/15
Edan-Wifi
Nggak banyak tulisan wifi gratisan, tapi kalau di seek ada. Bukan cuma ada, tapi kuenceng. Padahal gratisan. Itulah Netherlands. Dan mungkin begitu juga kebanyakan negara Eropa lainnya.
Apakah bentangan jarak untuk transfer teknologi antara Eropa di Barat hingga pojokan tenggara Asia masih sebegitu jauhnya hingga kondisi kedua belahan bumi untuk urusan koneksi internet saja begitu berbeda?
Ah, perjalanan pesawat saja hanya 14 jam ditempuhnya kok. Perjalanan transfer teknologi internet aku rasa nggak beda-beda jauh. Yang beda mungkin manajemennya. Kalau di negara maju, orang kaya dan yang benar2 butuh akses spesial mau membayar mahal. Begitupun negara mau membayarkan untuk rakyatnya pembangunan infrastruktur IT. Sehingga terjadi subsidi silang. Sehingga dimana-mana ada wifi gratisan. Di pinggiran hotel. Di kereta. Di bus. Di taman.
Sementara di belahan bumi lain tempat negara2 berkembang, internet dijual murah, sekalipun kepada mereka yang mampu dan mau bayar mahal.
Begitulah. Ke Netherlands, tak perlu beli kartu internet. Rajin-rajin hunting wifi di public area saja. Gartis. Kuenceng. Edan.
10/8/15
Roti Belanda vs Nasi China
Orang Asia kalau ke Eropa paling galau kalau nggak ketemu nasi. Padahal bukannya wagu, kalau cuma mau makan nasi si dirumah bisa. Mumpung ke-Barat, ya berlagaklah jadi orang barat. Makan roti, keju, minumnya susu.
Aku sendiri bukan termasuk yang risau berhari-hari nggak ketemu nasi. Bahkan kalau boleh memilih, mending aku makan roti belanda daripada makan nasi Chinese food. Seenak-enaknya nasi di negeri barat, tetep saja kalah sama nasinya orang Purwokerto. Apalagi nggak ada sambel tlenjenk lombok ijonya.
Tapi seenggak akrabnya perutku dengan roti dan keju. Aku akuin aku suka karena aneka roti-rotian mereka memang lezat, padat dan mengenyangkan.
Kalau dihidangkan dengan susu. Susunya enggak dikorupsi takarannya. Kalau disandingkan dengan butter, butternya enggak pakai perisa. Kalau dilahap bareng keju, kejunya aneka macam. Kalau disuguhkan dengan jus buah, segar beneran jusnya.
Gimana nggak sehat, gimana nggak smart kalau makanannya kualitas prima begini.
10/7/15
Cash Mindset
Pegang cash dan tidak pegang cash itu mindsetnya beda. Pegang cash sedikit dan pegang cash banyak, mindsetnya juga beda. Itulah kenapa dalam business coaching selalunya kita diajarkan untuk: seberapa besarpun utang bisnis anda, pertahankan cash income anda.
Kalau pergi ke tempat perbelanjaan mengantongi banyak Euro, apa-apa terasa murah. Padahal, perbandingan harga dengan barang sejenis di Indonesia wooow juga.
Maka rem paling ampuh adalah kalkulator. Hitung kurs sebelum membeli. Jangan cuma lihat angka di price tag terlihat kecil. Ingat loh itu logonya "€" bukan "Rp" hehe. Dan rem lainnya adalah, jangan bawa cash terlalu banyak.
Tapi kadang-kadang, susah juga orang kita yang overromantic. Buat orang2 tersayang, oleh-oleh berapa saja harganya dibeli.
Gantungan kunci €2 alias 30ribuan. Padahal di Malioboro 10.000 dapat 3 kali. Tshirt €10 alias 150.000an. Padahal di tanah abang 30.000 masih bisa ditawar kali. Lalu Jaket, ada €150 padahal kalau di Indonesia, tinggal tambahin nol 3 tapi ganti dulu logonya jadi IDR. Eheee...
Tapi ada satu oleh-oleh yg lebih murah dibanding beli di Indonesia, yaitu: Cokelat... Pinter2 saja carinya. Salah satunya bisa didapat di Albert Heijn. Borong saja yang banyak. Daripada nyesel nanti pulangnya... :D
10/6/15
Qiyamulail di Perpust
Budaya itu terbentuk oleh tuntutan zaman. Seperti budaya belanja di Netherlands misalnya, orang terbiasa berbelanja siang sampai sore saja. Sebab toko baru buka jam 10 atau 11 pagi. Dan sedikit saja toko yang buka hingga di atas jam 6 sore. Kenapa singkat sekali waktu belanja? Karena gaji karyawan mahal.
Kalau budaya mengunjungi tempat perbelanjaan waktunya singkat, budaya mengunjungi perpust waktunya lama. Perpust buka sampai jam 2 dini hari. Itu kata Mas Selo, mahasiswa master di Univ Delft asal Malang yang membantuku disini kemarin. Dia membantuku di event Misi Dagang Jateng bersama Pak Gub kemarin di Schakenbosch, Den Haag.
Enak kalo perpust sampai dinihari. Nggak harus pinjam buku, nggak harus baca buku kan disana. Sekarang jaman gadget, informasi cukup dipantengin di depan layar.
Loh, kalau cukup dipantengin di layar, bisa dirumah noh? Bisa. Tapi kan kalau di perpust bisa rame-rame, bareng-bareng, engga ngantuk jadinya.
Bisa juga qiyamul lail jamaah disana. Qiyamul lail artinya mendirikan malam. Mendirikan malam bisa dengan :
1. Tadzabur alam
2. Membaca Qur'an
3. Menuntut ilmu.
Tadzabur alam bisa dengan tafakuf merenungi malam. Membaca Qur'an bisa dengan sholat tahajjud juga. Menuntut ilmu, bisa dengan mengerjakan tesis atau belajar ilmu lainnya.
Loh. Mengerjakan tesis kok qiyamul lail. Ya nggak bisa to? Ya nggak bisa kalau cara pandang kita sekuler. Ilmu dunia dan ilmu agama dipisah.
Karena di Indonesia jarang perpustakaan buka hingga waktu tahajjud, haha, sampai waktu ashar juga jarang, ya sudah perpustakaan kita di halaman rumah, tradisi intelektuali kita langsung dibawah langit.
Kalau tidak begitu, kapan qiyamul lail kita mengungguli budaya yang Barat punya?
Ijtihad Toilet
Di negara maju seperti di Netherlands ini salah satu yang keren adalah di soal kebersihan toilet. Walaupun tetap saja tidak semua. Toilet umum di taman-taman kota misalnya, pesing juga.
Tapi satu hal, tidak dikenalnya budaya 'bersuci' ala Islam disini, membuat aku kerepotan juga. Disinilah skill ijtihad sosial ditagih.
Loh, bagaimana coba, orinoar nggak ada air bilasnya. Closet nggak ada washernya, cuma ada tisyu.
Tinggal putuskan sendiri kita, apa nawaitu istinja (bersuci dg benda kering dlm keadaan darurat), nawaitu peper (cebok tanpa air), atau bawa botol atau gayung buat wadah air, atau kencing & mulesnya ditahan saja sampai kembali ke tanah air.
Tentu saja keputusan-keputusan kita akan tergantung situasinya. Disitulah ada kebenaran kontekstual atas ijtihad kita. Karena kebenaran tidak selalu cuma satu.
10/5/15
Gaya Hidup Mahal
Rokok itu sekarang bagian dari gaya hidup. Tentu saja gaya hidupnya orang yang merokok. Saya tidak.
Bahkan bukan cuma di jaman sekarang, jaman dulupun rokok itu gaya hidup. Lalu apa yang membedakan gaya hidup merokok jaman sekarang dan jaman dulu.
Kalau jaman dulu, mbako tinggal ambil di kebun. Klobot ambil sisa panenan jagung. Gratis. Jadi mau sehari 24 batangpun nggak ada masalah.
Sedangkan kalau sekarang, rokok harganya belasan ribu. Kalau gaya hidup seseorang itu satu hari dua bungkus merokoknya, ya tinggal dihitung sendiri ongkosnya.
Itulah bedanya gaya hidup jaman sekarang dan jaman dulu. Jam 6 pagi kemarin lusa, aku landing di Schiphol Airport, Amsterdam. Rekanku ada yang bawa satu pak rokok gudang garam merah.
Konon rokok Indonesia dicari disini. Selain itu, untuk kebutuhan dia merokok sendiri disini. Maklum, disini harga rokok 6 kali lipat. Kalo di Indonesia satu bungkus 15.000. Disini 6 Euro.
Begitulah mahalnya gaya hidup merokok disini. Tinggal pilih, mempertebal kantong, atau mengganti gaya hidup
10/2/15
Organic, Green and Health Expo 2015
Ditengah peradaban yang terus menguning, mengemas, menggemerlapkan diri, ada sekelompok orang yang berjalan agak 'menyimpang'. Mereka berkomunitas untuk memilih menghijau. Komunitas Organik Indonesia hingga akhir pekan besok sedang menggelar expo nasional Organic, Green and Health (OGH) Expo.
Ini adalah penyelenggaraan yang ke-5. Produknya unik-unik, di area depan ada banyak booth hidroponik dan aneka kreativitas bercocoktanam. Geser ke kanan ada booth2 cafetaria. Masuk ke dalam banyak kita bisa jumpai aneka bahan pangan organik. Masuk ke aula dalam, lebih beragam lagi produk kosmetik dan modern lifestyle.
Produk lokal juga import. Ada yang murah ada yang mahal, tapi kebanyakan mahal. Untuk yang sedang belajar gaya hidup sehat nan modern, nggak ada salahnya merapat ke Bentara Budaya Kompas, Palmerah.
Memewahkan Diri, Menyusul Ketinggalan
Setelah bertahun-tahun ketinggalan dengan negara tetangga Malaysia, Filipina dan Singapore, kini negara kita sudah mulai hampir akan menyusul di soal transportasi massal. Jangan dulu bicara MRT atau sekedar legalisasi odong-odong menjadi Jeepney, yang minimal bisa kita lihat saat ini adalah perbaikan2 pelayanan juga perbaikan2 setasiunnya.
Ke Setasiun tak perlu karcis, tinggal menge-tap kartu uang elektrobik saja. Simple. Keren. Setasiun di tengah kota disulap menjadi lebih mewah. Jadi seperti di luar negeri saja. Tentu saja lengkap dengan kios-kios modern yang mahal-mahal dagangannya.
Setasiun Juanda yang dulu mungil dekil, kini megah gemerlap. Begitu juga Setasiun Sudirman. Setasiun Palmerah sudah jadi bangunan barunya nan mewah. Mungkin kini sedang tahap deal-deal lobi dengan para pelapak mewah.
Tapi stasiun Tanah Abang tetap saja kumuh yah. Sekelilingnya maksudnya. Memang kemana dana CSR perusahaan digelontorkan ya?
Transit Area Stasiun Gambir
Googling punya googling, ternyata Stasiun Gambir sekarang punya transit area. Wah, kemajuan..
Walau sayangnya, area ini bukan untuk publik. Jadi yang mau memanfaatkan fasilitasnya ya harus bayar. Fasilitas yang ditawarkan meliputi:
Sewaan locker per 2 jam kecil 5.000, besar 10.000. Terus juga ada shower room 55.000/jam dengan gratis kopi.
Juga ada room single 200.000/4 jam dan double dengan harga selisih 50ribuan. Lokasinya ada di area selatan, lantai dua.
Tadi jam 6 pagi (2/10) aku tiba di gambir. Gotong2 koper 20 kiloan ke lantai 2, karena itu transit area belum punya lift. Lumayan...
Dan... Ketika turun dari transit area, aku mendapati ada fotokopi merangkap money changer merangkap penitipan barang. Cuma 2.000/jam/item. Perhari 20.000. Lebih murah. Nggak perlu gotong2 koper keatas. Weeeewww...
9/22/15
Bisnis dengan Cara Pandang Pancasila
Sila ke-1: Alat pemenuh kebutuhan itu tak terbatas. Karena Tuhan Maha Tak Terbatas.
Sila ke-2: Cara manusia memenuhi kebutuhan itu terbatas.
Sila ke-3: Diperlukan rantai-rantai persambungan.
Sila ke-4: Jangan cuma meniru, tapi hikmahi. Miliki cara pandang yang detail case by case.
Sila ke-5: Pastikan ridho bi ridho, bukan saling memangsa.
9/21/15
Les
Kalau mau les pernikahan, ya kepada yang sudah menikah. Kalau mau kursus parenting, ya kepada yang sudah punya anak.
Kalau mau les kehidupan, ya kepada yang sudah lulus hidupnya. Namun sayang, mereka yang sudah mati tak bisa kita akses lagi. Atau lebih tepatnya, kita tak punya kepahaman tentang cara mengakses dan menghubungi mereka.
Ketambahan ditambahi self-sugesti. Amalan terputus. Doa tidak sampai. Khurafat. Musyrik.
Pantesan hidup tak kunjung cerdas.
9/16/15
Skill Dasar Memasak Informasi
Apa yang dipertengkarkan Semaun dan Agus Salim di rapat SI di salah satu scene Tjokro-Movie pada hakekatnya terjadi juga sekarang.
Waktu itu Semaun bersikeras bahwa pergerakan yang utama adalah perjuangan hak atas lahan bagi petani. Sedangkan Agus Salim bersikeras bahwa pergerakan yang paling utama adalah pendidikan.
Pergerakan tentang lahan adalah tentang akses ekonomi rakyat. Saat ini banyak dilakukan oleh banyak LSM. Walau hampir semua dari mereka kepentingan terdalamnya adalah proyek-oriented.
Sedangkan pergerakan tentang pendidikan, itu bukan dengan beasiswa siswa miskin atau pemegahan gedung sekolah. Sama sekali bukan.
Pendidikan yang Agus Salim bersikeras padanya, kalau dibawa ke kekinian adalah tentang pembelajaran struktur dan cara berpikir. Ini yang hampir tidak ada dimanapun. Kalaupun ada, dianggap tidak penting adanya.
Inilah yang akan menggerakkan cakra zaman dan manggilingannya nasib bangsa kedepan.
Pendidikan cara berpikir itu diantaranya mencakup ilmu untuk mendefinisikan benar dan salah secara tepat konteks. Cakupan lainnya adalah tentang ilmu untuk menseleksi mana tafsir-terjemah yang berintegritas dan mana tafsir-terjemah yang abal-abal.
Pada generasi terdahulu, ilmu semacam ini menjadi skill wajib yang musti dimiliki setiap orang. Karena tanpa memiliki ilmu ini, psikis seseorang tidak akan hidup. Beda dgn generasi sekarang, informasi sudah tersaji lengkap tentang benar dan salah, tentang asli dan palsu. Sayangnya, informasi yang lengkap itu, bukan buatan wali zaman. Tapi buatan bathara kala.
Analoginya seperti dunia kuliner. Zaman dulu orang wajib punya skill masak, apalagi di wanita. Karena makanan harus menyediakan sendiri, tidak banyak warung seperti sekarang. Kalau sekarang, wanita tidak punya skill masak pede saja menikah. Karena toh semua masakan sudah tersaji, warung tinggal pilih, semua sudah tersaji diantaranya oleh Bathara Kaefce.
Sekali lagi: ini tentang Pendidikan. Dan oleh warung bernama Salaf*, ilmu dasar semacam ini langsung diidentikkan dan ditahbiskan dengan filsafat. Setelah sebelumnha filsafat mereka klaim sebagai bagian dari khurafat. Ya, sajian mereka akan tidak laku, kalau orang sudah pada bisa masak benar-salah, asli-palsu sendiri. Wong dagangan mereka tidak enak kok aslinya. Tidak percaya? Coba si dengarkan siaran radio mereka beberapa episode, berapa banyak dalil yang mereka pakai yang tidak mem-blame kita sbg korban.
9/14/15
Penimba
Demi nilai-nilai yang harus beliau biayai pendistribusiannya, Rasul rela memilih mengajak keluarganya mengalah. Rela menyaksikan Fatimah sang puteri mengganjal perutnya dengan sebutir batu, untuk bertahan dari laparnya.
Beliau sendiri mengganjal perutnya dengan tiga butir batu. Bukan hanya itu, dengan kondisi seperti itu beliau masih pergi keluar rumah, bekerja menjadi penimba air, dengan menyamarkan muka, untuk mendapat upah.
Assolatuwasalamu'alaika Yaa Rasulullah
Ruang Logika, Ruang Iman
8/31/15
Tepat untuk Zamannya
Apa sih alasan bagi kita untuk membenci orang lain? Hanya karena dia tidak mengerti yang kita pahami?
Ustadz Yusuf Mansyur itu dulu datang disaat etnologis manusia memang butuh untuk digugah bersedekah. Saat dhuha itu masih aneh belum membudaya.
Pa Ari Ginanjar Agustian itu melahirkan ESQ saat pola pikir masyarakat sudah sangat sekuler tanpa sadar. Yakni masa diman penat sekai manusia oleh keterpisahan dunia dan akherat, agama dianggap diluar ilmu pengetahuan.
Pun begitu Pa Purdi E. Chandra, timing kemunculan beliau tepat disaat musim pasca krisis, butuh orang didorong untuk menciptakan sense of crisis-nya dan mengambil langkah-langkah nekat untuk bangkit.
Eh, bahwa sekarang ilmu sedekah dan dhuha dipelintir fungsi dan orientasi oleh mereka yang mengaku murid2nya. Itu akal kita yang harus pandai-pandai agar jangan terpedaya.
Atau bahwa kemudian pemadatab ESQ yang kini meraksasa demikian cepat yang membuat secara keilmuan ia nyaris mandeg karena terbebani overhead, janganlah kita memincingkan mata disitu saja.
Pun bahwa banyak murid2 EU yang mengutamakan hasrat tamak dan tidak siap melewati fase bangkrut, janganlah kita ikut2an mencaci. Kita yang salah mempraktekkan jurus, eh guru yang disalahkan.
Kalau kita meletakkan mereka semua di zamannya, justru yang muncul adalah rasa kagum dan penghormatan. Kalau yang masih muncul adalah sentimen atau kebencian, berarti kita yang masih gagal paham.
8/29/15
Beneran Kaya
Kalau jaman dulu, orang kaya ya kaya beneran, sakti ya sakti beneran, berwibawa ya berwibawa beneran.
Kalau sekarang, orang kaya karena kedunungan alias moment, bahkan beberapa kaya karena ngakali. Orang sakti karena membeli kesaktian, sanggup membeli karena kaya. Orang berwibawa karena jabatan yang dia miliki, memiliki jabatan juga karena kaya.
Padahal ukuran kekayaan orang adalah dari jumlah asetnya. Aset itu bukan semata simpanan harta dan properti. Aset sejati adalah sesuatu yang bernilai karena bisa memberikan manfaat.
Apa yang kita miliki, saat kita tidak memiliki apa-apa dan dengan itu kita bisa survive. Itulah aset sejati.
Ini tahun ke-10 dari perjalananku di Purwokerto. Agustus 10 tahun yang lalu aku merintis apa yang dicapai hari ini di Padepokan milik eyang Sinto Gendheng, di Jalan Pramuka 212.
Ini saat yang tepat untuk menghitung berapa aset kekayaan kita. Terpenting, berapa aset sejati kita. Dari situ kita tahu, 10 tahun ini berapa kemajuan hidup kita, berapa langkah keberhasilan pengerjaan misi kita.
Menghitung aset bisa dilakukan dengan melihat catatan kekayaan kita. Sedangkan menghitung aset sejati, caranya dengan membayangkan seandainya kita tak punya apa-apa, seberapa kita mampu survive? Kalau tak ada dayung, tak ada pelampung, seberapa mahir kemampuan renang kita, seberapa lihai kita bertahan di atas air. Itulah aset sejati.
Jangan sampai, kita merasa punya banyak hal. Tapi ternyata tak ada kemajuan pengerjaan misi yang berarti dalam 10 tahun ini.
8/28/15
Zaman Meninggi
Sedikitnya 1.000 calon santri fundamentalis diberangkatkan ke Timur Tengah secara periodik, lalu mereka kembali ke tanah air membuat resah dan geger mengerjakan misi monopoli tafsir dgn mengangkat berbagai isu pemurnian agama.
Disaat yang sama ada "The Mesenger" yang turun di akhir zaman dengan nama akun: Jonru.
Tapi tak usah kuwatir2 amat dengan semua itu. Sebisa kita saja membentengi diri dan orang2 terdekat kita dari rongrongan teror, adu keyakinan dan fitnah yang mereka tebarkan.
Kenapa tak usab kuwatir2 amat? Jawabannya adalah karena kita hidup di tengah masyarakat yang kesadarannya sedang terus tumbuh. Kita berada di tengah bangsa yang kecerdasannya sedang terus berkembang.
Apa yang mereka jajakan, tema2 meresahkan, isu2 yang membuat jengkel, ajaran2 yang dipaksakan itu semakin nanti akan semakin tidak laku kok. Yakni ketika kesadaran dan kecerdasan masyarakat semakin tinggi.
Lihat saja sekarang, berapa banyak isu masa lalu yang sudah basi tidak bisa digoreng lagi. Lihat saja sekarang, mereka kelabakan menyajikan isu-isu baru yang karena tergesa-gesa menyiapkannya sehingga baru dilontarkan saja sudah kentara kebasiannya.
Itulah kenapa ditengah bangsa yang ekonominya sedang gonjang-ganjing ini, saya masih menyimpan keayeman di kantong. Ayem karena saya yakin saat ini adalah zaman yang sedang rising. Yang kita mau berupaya atau diam saja, kebangkitan akan tetap menjelang.
Apa yang baik sedang meninggi. Apa yang jelek sedang tenggelam.
8/25/15
Boleh Korupsi?
Konon, masalah nomor wahid dari bangsa kita adalah KORUPSI. Betulkah? Kalau iya, bagaimana hasil kerja komisi pemberantasnya jika diukur? Misalpun seluruh korupsi berhasil di STOP, jadi majukah bangsa kita?
Entah ada berapa masalah lagi yang lebih kronis ketimbang korupsi. Diantaranya adalah masalah PENGGUNAAN ANGGARAN. Ya, anggaran sudah disusun demikian cantik, tapi penyerapannya sangat memble. Adapun anggaran yang terserap, manfaat dan dampaknya banyak yang tidak jelas bahkan mubazir.
Padahal persoalan kegagalan penggunaan anggaran ini lebih signifikan pengaruhnya juga nominalnya. Jadi seandainyapun misalnya KPK bubar. Atau sekalian ada undang2 yang menyatakan bahwa korupsi boleh asal wajar. Tetapi anggaran yang tersisa tidak terkorupsi diperbaiki manajemen penggunaannya, dimaksimalkan, diefektifkan, dipastikan tepat sasaran. Maka Indonesia bisa maju. Banyak contohnya, negara yang berhasil maju dengan sumber daya yang terbatas.
Kita menunggu hadirnya pemimpin yang berani bersikap revolusioner seperti itu "Boleh korupsi asal wajar. Boleh korupsi asal kerjanya maksimal. Jika tidak, gantung!"
Terlalu sibuk menambal kekayaan yang bocor, tapi lengah memaksimalkan kekayaan yang ada hanyalah membuang waktu tak membuahkan apa-apa.
Memang kita bangsa yang kaya raya. Tapi kali ini please akuilah bahwa sumber daya kita terbatas. Terbatas oleh korupsi. Terbatas tapi dimaksimalkan, diefektifkan, dipastikan tepat sasaran.
Justru ketika korupsi diberi kelonggaran, disitulah bibit2 nurani kemanusiaan pejabat bisa tumbuh. Ketimbang dihadang bertubi-tubi oleh perundangan dan berbagai aturan, nurani kemanusiaan kian tak punya tempat, mati.
Hidup yang Mandeg
Masih tentang Mbah Barno, Ayahanda Pak Toto Raharjo (Yai Tohar). Sewajarnya orang jaman dulu, anaknya banyak, nyaris selusin. Yang unik adalah, beliau memberi nama anak-anaknya sesuai dengan situasi desa Lawen yang sedang ia bangun.
Ini adalah metode pemberian nama yang unik. Berbeda dengan kebanyakan orang jaman sekarang, mencari di ensiklopedia nama bayi Bahasa Arab. Latah...
Tapi wajar saja kalau orang jaman sekarang metode pembuatan nama anaknya seperti itu. Kenapa? Karena mereka tak punya pengalaman hidup sebagaimana yang Mbah Barno dan orang-orang jaman dulu alami.
Tak ada tahapan tahun prihatin, tahun tirakat, tahun mulai menata, tahun mulai tertata dan seterusnya. Kalaupun ada fase-fase seperti itu, itupun tidak dalam konteks 'pengerjaan tugas kehidupan', melainkan perjalanan mencapai penghidupan. Alias 'kere munggah mbale'. Itu kan puncak obsesi orang jaman sekarang?
Begitulah jaman sudah mengalami downgrade. Tak ada misi hidup sebagaimana Mbah Barno membangun dan menata desa Lawen dengan framework kekhalifahan.
Orang yang berkarier, milestone hidupnya hanya soal mutasi kerja dan kenaikan pangkat. Orang yang berbisnis, milestone hidupnya hanya soal gonta-ganti bisnis, gali lubang tutup lubang. Hidup yang mandeg. Tapi fine-fine saja. Karena kita tidak pernah mengenal bagaimana si konsep hidup yang berjalan sesungguhnya.
Nilai Kepantasan
Kita boleh berdagang apa saja. Namun, kalau memilih empat bidang ini musti hati-hati tingkat tinggi.
1. Pendidikan
2. Agama
3. Kesehatan
4. Kebudayaan
Kebanyakan orang mau membayar mahal untuk meraih kepandaian. Tapi janganlah kita memanfaatkan itu. Kebanyakan orang juga menempatkan agama dalam skala prioritasnya. Tapi jangan kita memanfaatkan itu. Kebanyakan orang tentu akan membayar berapapun saja untuk sehat. Lagi-lagi tapi, janganlah memanfaatkan itu. Dan kebanyakan orang tak begitu menghitung-hitung angka untuk sebuah apresiasi seni. Sekali lagi tapi, janganlah kita memanfaatkan itu.
Selain keempat bidang itu, komponen biaya dari produk yang kita jual terdiri dari :
harga pokok produksi + laba.
Sedangkan untuk keempat bidang itu, kita tidak boleh mengambil laba. Batasannya kita hanya boleh mengambil ongkos waktu, tenaga dan keringat kita.
harga pokok produksi + ongkos (waktu + tenaga + pikiran).
Disinilah kehati-hatian tingkat tinggi harus kita terapkan. Batas bawah dari ongkos adl Rp 0. Artinya kita mensedekahkan ongkos waktu, tenaga dan pikiran yang sudah kita keluarkan. Sedangkan batas atasnya adalah: NILAI KEPANTASAN.
Nilai kepantasan sangatlah subyektif. Karena ia tidak berupa barang belanjaan yang terukur nominalnya. Kita sendiri yang paham, seberapa sejujurnya ongkos waktu, tenaga dan pikiran yang pantas untuk kita ambil. Kita sendiri yang paling tahu, adakah unsur serakah, tamak, nafsu mengkapitalisasi, dsb sehingga kita melanggar nilai kepantasan itu.
8/24/15
Mbah Barno
Seorang anak muda yg sedang belajar di Yogya dipanggil pulang oleh Ayahnya. Ia diminta mengurus desa, meneruskan menjadi lurah di pedalaman Banjarnegara. Lawen, Pandanarum tepatnya.
Soebarno muda benar-benar telah menerapkan konsep zakat. Ia telah menzakatkan hidupnya dalam bentuk dedikasi 100 persen untuk mewujudkan toto tentrem kerto raharjonya Desa Lawen.
Buah dari zakatnya yang paripurna itu, maka Soebarno muda sangat cepat berproses menjadi pribadi multitalenta. Hingga ia bisa menguasai ilmu tata lingkungan, mengajari berbagai kesenian termasuk pedalangan, menerapkan manajemen pengelolaan ladang, revitalisasi pasar dan banyak lagi lainnya dengan tetap menjadi pribadi religius yang kharismatik.
Meski seluruh hidupnya ia zakatkan, bukan berarti keluarganya terbengkalai. Bukan berarti hidupnya nestapa menderita.
Hari ini beliau dikenal sebagai tokoh. Mbah Barno adalah figur mengagumkan bagi orang zaman sekarang. Mengapa mengagumkan? Karena orang zaman sekarang tak memiliki daya baca sosiologis-antropologis masyarakat pada era beberapa puluh tahun yang lalu.
Dimana di era itu, siapa saja yang hidup setia pada kewajaran, maka ia menjadi multitalenta, berguna optimal dan tidak membengkalaikan siapa-siapa.
Sudah setiakah kita pada kewajaran hidup. Atau kita sibuk iri, meri, kemrungsung pada obsesi-obsesi, hingga hidup tak jelas berpegang pada siapa, ikut prinsip siapa, mengkonsumsi wacana siapa. Alih-alih angan-angan keberhasilan kita terwujud. Eladalah, kita malah ikut katut dalam rombongan generasi zaman yang tergerus oleh mekanisme metamorfosis dan kehancuran zaman.
8/22/15
Ekosistem Pahlawan
Everytime, Everywhere
Empat puluh hari telah berlalu. Dan sekarang, tak ada alasan lagi untuk menghadir-hadirkan guilty feeling mengejar waktu dan mengejar tempat. Sudah kok kemarin. Sekarang tinggal sekontemplatif mungkin kapanpun, dimanapun. Itulah tugas hari ini, bisa lebih kontemplatif menjalani hidup. Wayatafakaruna fii khalqi samaawati wal 'ard..
| Mataf |
11 Tahun Psimis
![]() |
| Akta Pendirian Psimis |
8/17/15
Bekal
Seseorang ketika diberi sebuah tugas, pasti dibekali juga dengan peralatannya.
Kalau orang ditugasi untuk tidak menjadi pekerja, pasti juga dibekali dengan peralatannya: hasrat, stamina, daya survive, kreativitas, keberanian, dll. Dan tiap fase perjalanan tugas, bekalnya beda-beda.
Dirgahayu RI Ke-70
Aku tidak ikut menyaksikan Pak Harto memimpin upacara di Istana Merdeka, karena waktu itu di rumahku belum ada TV. Sementara TV di tempat tetangga juga akinya sedang disetrum. Caraku untuk ikut memeriahkannya adalah aku menggambar logo HUT RI banyak-banyak. Saking seringnya aku membuat, dari di awal aku harus mensketsa lekuk-lekuk benderanya dulu, sampai aku sudah mahir, sekali jadi. Spidol warna merah untuk menggambar bendera. Spidol warna hitam untuk menulis angkanya. Sebetulnya di logo yang asli harusnya warna emas. Tapi tak masalah, waktu itu spidol warna emas belum ada dalam benakku dimana harus aku dapatkan.
Hari ini berlalu 20 tahun. Aku tak tertarik sama sekali untuk menggambar logo HUT RI. Bukan karena menggambar logo itu pekerjaan anak SD. Bukan juga karena sekarang sudah ada Photoshop dan Corel. Tapi karena aku muak, jijik dan rasanya ingin muntah melihat tagline dibawahnya yang asal njeplak.
Aku memperingati HUT RI kali ini dengan cukup sederhana, menjenguk PakDe yang saat ini hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sakit sejak depresi akibat guncangan hebat 8 tahun lalu setelah di PHK. Aku disana hanya membisikkan sholawat. Tidak berani mengucapkan dirgahayu kemerdekaan, apalagi menyebut-nyebut tagline-nya : "AYO KERJA!"
![]() |
| Regresi |


