| Derawan Island |
1/30/16
Rekreasi dari Masa ke Masa
Kekinian dan Kekinian Syariah
Mereka berdua pandai membuat nama menurutku. Anak pertama diberi nama Manah Jembar Membumi. Nama yang aneh kalau dilihat dari ukuran kekinian. Orang-orang kekinian lebih suka menamai anaknya dengan kata dari bahasa Rusia, sementara yang kekinian syariah menggunakan kata dari bahasa Arab.
Nama adalah do'a. Esensi dari sebuah nama adalah munajat atau pengharapan. Membumi adalah pengharapan yang spesifik, bukan sekedar sholeh, bukan sekedar alim, tapi spesifik, membumi.
Semoga si Bumi kecil tumbuh menjadi anak yang dekat dengan sekelilingnya, membumi keramahtamahannya, membumi keahliannya, membumi dedikasinya. Ditengah sekarang banyak orang pandai tapi pandai atas keahlian yang tidak dibutuhkan oleh sekelilingnya, banyak orang alim tapi tidak menyatu dengan tanah yang ia pijak.
Anak yang kedua, mereka beri nama Sendang Mili Migunani. Nama yang indah sekali, tidak perlu membaca kamus A-Z nama anak, kita sudah tahu maknanya, mengalir dan berkegunaan. Sepertinya Ayah dan Bundanya Sendang gaulnya dengan orang-orang tua, orang-orang kuno. Lihat saja Bapak, Eyang dan Buyut kita. Mereka membuat nama dengan memilih istilah yang begitu dekat dengan keseharian mereka, bukan nama yang aneh-aneh. Pun begitu dengan pemilihan kata Migunani, sangat dekat dengan keseharian kita kini, bukan?
Hilmy dan Rini well prepared sekali pada anak-anaknya, ia mungkin khawatir di generasi anak dan cucunya nanti, mereka harus membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Migunani", karena sudah tak pernah digunakan, maka mereka ukirkan menjadi nama agar abadi.
Sama seperti kita kini, perlu membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Prasojo", "Raharjo", "Pratiwi" atau "Sri". Padahal kata-kata itu adalah kata-kata keseharian di beberapa generasi yang lalu yang bukan hanya mengandung makna yang baik, tetapi baik dan spesifik.
1/26/16
Berakhirmya Era Tas Kresek Gratis
Kabarnya, bulan depan pemerintah kita kembali mengimitasi negara maju: menghilangkan tas kresek gratis di tempat perbelanjaan.
Langkah yang bagus dalam rangka menggalakkan program go green. Budaya tas kresek berbayar sudah lama dilakukan di negara-negara maju. Kalau kita mau mempraktekkan, ya tinggal meniru saja.
Yang mesti diperhatikan paling :
1. Apakah ini hanya berlaku di toko modern atau semua toko? Bisakah pemerintah memonitor pemberian tas kresek gratis di warung kelontong di ujung pengkolan?
2. Apakah trust pemilik toko kepada konsumen sudah baik. Sehingga konsumen bisa menenteng tas kresek berisi dagangan yang ia beli di toko sebelumnya, masuk ke toko berikutnya. Atau setiap toko sudah siap menyediakan tempat penitipan barang?
Lepas dari semua itu, ini adalah langkah baik yang harus kita dukung. Penerapannya akan mudah di toko modern berjaringan yang instruksinya terpusat. Tapi susah bagi warung-warung. Ini mudah2an menjadi nilai lebih bagi warung tradisional, sehingga konsumen lebih senang datang ke warung tradisional yg melayani dengan keramahtamahan juga dapat kantong kresek sekalian.
Yang pemerintah tidak boleh lupa, kantong kresek vital keberadaannya, yaknk untuk bungkus tong sampah di rumah-rumah. Apakah sudah dilakukam tahap uji, sampah plastik apa yang paling dominan? Jangan-jangan bukan kantong kresek.
1/24/16
Pendekar
Tahap-tahap latihan kanuragan yang ditempuh untuk menjadi seorang pendekar tidak boleh dibolak-balik.
Pertama: Ndandani pikiran. Pikiran dibuatkan bangunan konstruksi yang kokoh. Sementara kebanyakan orang sekarang sibuk menghimpun referensi, asal masuk ke pikiran, tidak ditata. Karena pikiran belum dibangun rak-rak konstruksi, bangunan-bangunan penampung.
Kedua: Ndandani wektu. Ada waktu pagi, siang, sore dan malam. Itu untuk level awam. Kalau yang lebih expert fasenya sehari ada 24. Empat saja dulu diberesi. Pagi waktu aktif. Siang sediakan jeda. Sore waktu ceria. Malam luangkan kontemplasi.
Ketiga: Ndandani awak. Ini sebenarnya otomatis, karena di dalam pikiran yang sehat terdapat badan yang kuat. Kalau badan tidak terperhatikan, itu indikator ada yang belum beres di pikiran.
Keempat: Ndandani jurus. Kalau ketiga di atas sudah beres, baru bicara menang-kalah, menyerang-bertahan. Meringankan tubuh-hentak2 bumi. Dst.
Di alam modern, keempat tahap di atas tidak lagi penting. Karena sekarang tidak ada orang bercita-cita jadi pendekar. Repot. Harus menolong orang lain.
Lebih enak jadi orang kaya. Tidak penting sehat pikiran, tidak harus mengelola waktu, setiap hari bisa memanjakan badan, tak bisa jurus yang penting punya bodyguard.
1/18/16
Teror Tivi
Baru juga pulang liburan dari Derawan eh sudah harus menghadapi teror. Teror yang membuat perasaan mencekam. Teror dari benda bernama Televisi.
Media sepertinya sudah memposisikan diri menjadi Nabi ke-26, pembawa berita dan pemberi peringatan yang paling kita imani. Rasanya tertutup sudah segala apa yang terjadi, sebesar apapun itu, jika tidak masuk berita tivi.
Untunglah, kita selaku generasi Z kini memiliki daya makrifat-internet, mampu mengakses dunia tak kasat mata. Media digital benar-benar berhasil membangun jejaring sosial yang bisa menjadi pembawa berita alternatif atas intimidasi informasi yang dilakukan oleh media mainstream.
Tapi walau begitu, digital media harus digunakan dengan arif dan luas. Agar ia tidak tanpa sadar dijadikan nabi ke-27. Proporsional saja dalam mengkonsumsi informasi. Justru kalau bisa kita produktif jadi penyedia informasi, bagusnya seperti itu.
Kalau mau jadi penyedia informasi, cerdas dulu, agar kita jadi produsen yang memproduksi produk informasi yang sehat.
Lalu, jalur distribusinya juga diatur yang baik. Agar tidak salah kamar, nanti ibaratnya menceramahi kucing tidur.
Tiap jejaring sosial sebetulnya ada aurat-auratnya. Kalau mau share sesuatu yang fun, bisa di instagram. Kalau mau share refleksi, bisa di twitter. Facebook cukup untuk menshare godaan-godaan berpikir. Analisa dan penjlentrehan sesuatu bisa di blog. Heum, apalagi ya..
Kalau tivi, cukup untuk pengusir sepi. Jangan lebih dari itu. Bahaya.
1/2/16
Belajar Bisnis dari Tumbuhan
Strength + Opportunity + Inspiration = Income + Benefit. Rumus bisnis ini dipakai oleh tumbuhan, intern resources tumbuhan adalah klorofil, extern resources yang ada diluar adalah CO2, inspirasinya Sinar Matahari, maka jadilah income-nya Zat Makanan + benefitnya O2.
Jadi bisnis mustahil tanpa inspirasi. Rencana bisnis juga tidak bisa ngayawara, analisa SWOT dulu lah. Agar kita tidak memakai resorces yang bukan berada dalam diri kita. Juga tidak membidik yang bukan peluang disekitar kita.
Kenali potensi otentik, kalau potensi otentikmu kapak, jangan ikut2an mencangkuli ladang walau seluruh dunia sedang demam mencangkul. Kapak itu untuk menebang pohon, dia punya fungsi spesifik sendiri, sama seperti zat hijau daun.
Dan jangan mengejar peluang yang sudah menjadi rebutan terlalu banyak orang. Disaat banyak spesial memburu oksigen, tumbuhan malah sendirian memunguti karbondioksida.
Lalu bentangkan penampang otakmu agar bisa tersinari inspirasi. Bisnis tanpa inspirasi hanya akan disusuli kompetitor, sesudah itu mati.
Setelah proses bisnis kamu jalankan dan perolehan tinggal menunggu masak, siapkanlah perencanaan penerimaan income yang baik. Cash income paling besar itu untuk R&D, agar bisnismu tumbuh, selanjutnya baru untuk operasional dan selebihnya laba.
Jagalah fitrah sosial, kemanusian dan alam selalu, sehingga setiap yang kamu tuai menjadi benefit bagi sekelilingnya. Maka kamu sudah berhasil membangun a responsible corporate. Maka kamu tak perlu lagi menyisihkan Corporate Social Responsibility (CSR), karena semua perolehanmu adalah bernilai oksigen.
Kalau dirangkum menjadi: Kerjakan apa yang ada disekelilingmu yang itu bisa diraih, dengan sesuatu yang memang sudah ada dalam dirimu, improvisasikan dengan inspirasi tercemerlangmu. Lalu bersiaplah menuai hasil, yang pertama untuk membiayai pertumbuhanmu, sisanya kamu cadangkan. Dan keseluruhan kamu kerjakan dengan bertanggung jawab secara sosial, menjadi benefit yang bisa dipetik oleh semua.[]
Zaman Gratisan
Di zaman itu, tidak ada kursus mengaji. Falsafah "Ngelmu iku kalakone kanti laku" benar-benar dipegang. Sehingga kalau ada anak yang mau ngelmu do'a dan wirid, cukup konsisten saja berangkat ke masjid, jangan pulang sebelum wirid ba'da sholat selesai. Dalam hitungan tidak sampai sebulan, si anak sudah mengilmui aneka do'a, wirid yang beraneka ragam dan beberapa adalah bacaan yang panjang-panjang. Semua itu diperoleh dengan gratis, semua itu terselenggara dengan gratis. Sekarang coba dicek, orang-orang tua di desa-desa itu pada hafal do'a dan wirid panjang tanyai, mereka kursus dimana dulu?
Kalau do'a dan wirid adalah ilmu maghdoh, maka bagaimana dengan pendidikan yang terkait ilmu muamalah. Lihatlah para tukang kayu di desa, termasuk Mbah Kakung saya dari Bapak adalah tukang kayu yang mahir, yang aku telat tidak mewarisi ilmunya. Beliau bukan insinyur, tapi karya-karyanya yang awet dan berkualitas masih bisa aku saksikan hingga hari ini. Untuk menjadi tukang kayu, juga tukang batu, tidak wajib sekolah. Cukup konsisten menjadi kernet bangunan, bakti, magang, ngabdi, nanti setahun atau dua tahun asal kamu titen terhadap setiap perilaku tukang senior yang kamu kerneti, selanjutnya kamu akan mahir juga. Metode pembelajaran seperti ini, gratis.
Lalu bagaimana di bidang kesehatan. Dari daun siridia sampai petai china, kalau tahu fungsinya, tinggal ditanam dipekarangan, kalau ada butuh pertolongan pertama atau terapi kesehatan tinggal petik. Tak perlu beli ke apotek.
Pun demikian tenaga ahli melahirkan, yang oleh orang modern diberi stigma sangat naif "dukun bayi". Dia lebih ekspert dari bidan lulusan D3, karena dasar pembelajaran dia bukan alat peraga artifisial di kampus tetapi ilmu titen dari ratusan bahkan ribuan pengalaman mendampingi proses melahirkan dan sedari menjadi pendamping dukun bayi senior sebelumnya. Dia bukan hanya tidak minta bayaran, bahkan dia berpuasa sunnah, berprihatin sebagai bentuk doa yang sungguh-sungguh bagi kelancaran proses kelahiran yang akan ia tangani.
Hanya saja, orang jaman dulu tidak kebangetan seperti orang sekarang. Mentang-mentang gratis, jadi tidak ngirim setandan pisang atau sekarung rambutan ke Pak Kiai tempat belajar mengaji. Mentang-mentang tidak minta bayaran, dukun bayi tidak diberi sesuatu sebagai 'tali kasih'. Tidak seperti itu orang jaman dulu. Semakin orang tidak meminta, semakin dia diberi banyak.
Maka, kalau sekarang kamu percaya pada sekolah ya jangan banget-banget, tetap sekolah tapi tetap cari ilmu alami. Kalau kamu percaya pada tenaga medis, juga jangan banget-banget, sambangi para tenaga kesehatan alternatif yang mungkin sekarang semakin sulit dicari yang benar-benar otentik.
Dan kalau kamu sekarang jadi tenaga medis, jangan congkak. Ingat, aslinya kesehatan itu bukan komoditas loh ya, bukan barang dagangan seperti beras dan gula. Layani yang membutuhkan keahlianmu dengan nawaitu kemanusiaan, bukan sebagai konsumen. Pun demikian kalau kamu sekarang jadi pendidik.
Sekali lagi, aslinya dulu pendidikan dan kesehatan bukan barang dagangan. Maka kalau sekarang mau tidak mau harus diperdagangkan, maka layani konsumenmu dalam nawaitu kemanusiaan. []
1/1/16
Sugeng Tindak 2015
Sugeng tindak.... Selamat jalan 2015. Sedih berpisah denganmu wahai makhluk Allah bernama 2015. Yang sudah setia menemaniku menjalani kesetiaan.
Yang sudah menjadi kepanjangan tangan Allah menjaga kesehatan, keselamatan dan keutuhan. Yang sudah menyediakan diri menjadi ruang pertemuanku dgn hal-hal besar, mengejutkan dan menakjubkan.
Yang sudah membentengiku dari petaka, kekufuran juga kefakiran. Yang tidak pernah sedetikpun berhenti, sehingga masalah-masalah yang aku hadapi menjadi berlalu.
Sugeng tindak... Selamat jalan... Semoga Allah ridho kepadamu, juga kepadaku. Hari ini aku tidak merayakan tahun baru, aku hanya mensyukuri 2015-ku.
12/26/15
Step by Step menjadi Wahabi
Pada tahap pertama, dengan teknik passing & leading orang dicekoki doktrin MURNI & TIDAK MURNI dalam beragama. Murni adalah ada dalilnya, bukannya murni akhlaknya.
Pada tahap berikutnya, diciptakanlah GUILTY FEELING. Rasa bersalah dan berdosa. Padahal fitrah manusia ya salah dan dosa, harusnya fokus ke perbaikan, bukam fokus ke rasa bersalah. Kalau kita diletakkan di kutub negatif, disinilah dikenalkan siapa yang akan diletakkan di kutub positif, yakni generasi SALAFUS SHOLEH.
Metode mengenali dan mengautentifikasi generasi salaf mana yang benar-benar sholeh dan mana yang justru tholeh sebenarnya sangat lemah dan cenderung sebatas klaim. Karena jarak abad dan minimnya informasi, tapi entahlah kok tidak ada yang mempertanyakan itu.
Pada step ke-3, orang akan dirancukan tentang parameter TUHAN dan MAKHLUK. Karena Tuhan diletakkan meneyerupai makluk, maka makhluk gaib dianggap berpotensi menjadi saingan Tuhan karena mereka sama-sama tak kasat mata. Maka muncullah jargon anti-syirik.
Berikutnya, mereka beragama tapi diajak menggunakan parameter kaum sekuler. Parameter di lingkungan sekuler adalah perkara keseharian dibagi menjadi : AKHIRAT & DUNIA. Sedangkan parameter orang beragama seharusnya adalah: Perkara Maghdoh dan Muamalah.
Sampai pada tahap ini, sebetulnya orang sudah berpotensi untuk merusak. Bukan merusak rumah atau bangunan, tapi merusak harmoninya tatanan sosial.
Eh masih ditambah lagi step berikutnya: penciptaan musuh bersama. Musuh sosiokultur mereka adalah Nahdlatul Ulama dengan pengembangan BUDAYA-nya. Musuh geopolitik mereka adalah SYIAH dengan Imamah-nya.
Kemudian untuk memunculkan semangat kolegial soliderity dibuatlah semacam SERAGAM bersama. Jenggotnya panjang, celananya pendek.
12/23/15
Subcon Nutrisi
12/21/15
Bangkrut Statis
Orang Jawa itu di keadaan apa saja kok ya tetep saja bisa melihat untungnya. Kalau jatuh di jalan: untung cuma lecet, enggak ada yang parah.
Kalau dagang sepi: untung cuma sepi, enggak sampai nombok. Kalau nombok: untung cuma nombok, enggak sampai utang. Kalau utang: untung cuma utang, enggak sampai bangkrut. Kalau bangkrut: untung ketemu bangkrut, daripada enggak pernah mencoba.
Kalau nggak pernah mencoba: untung nggak pernah mencoba, jadi nggak perlu ngerasain bangkrut. Loh? Hehe...
Tidak ada peristiwa statis di dunia ini, termasuk bangkrut. Bangkrut statis tidak akan terjadi, kalau energi pikiran kita tetap digerakkan menjadi kumparan yang dinamis, sehingga bisa mengelektromagnetik keadaan dan memproduk momentum kebangkitan. Kecuali pikiran kita stuck berhenti.
Ekonomi Sederhana
Tentang perlambatan ekonomi yang terjadi nyaris menyeluruh, dari perusahaan multi-nasional sampai perusahaan ecek-ecek, disatu sisi adalah sebuah keluhan disisi lain juga kesyukuran.
Bagaimana tidak mengeluh kalau sales mobil dan sales kredit semakin diforsir demi target. Pun demikian kaum usahawan kecil. Kalau pedagang nasi goreng harus menaikkan harga jualnya, itu bukan aji mumpung atas momentum, itu karena kepepet atas harga2 bahan baku yang melambung. Disisi lain mereka harus siap dengan realita pembeli menjadi berkurang drastis karena daya beli konsumen melemah.
Itulah arti 2.000 rupiah dinaikkannya harga premium yg merupakan satu dari tiga kebutuhan bahan pokok selain beras dan gas. Kita belum mendengar dampak pengalihan subsidi untuk pendidikan dan daerah tertinggal, tapi sudah bising dengan pelemahan daya beli masyarakat yang menyeluruh se-nasional.
Belum lagi ditambah faktor ekonomi global, pemusatan modal dan berbagai rekayasa ekonomi lainnya. Apakah sensus ekonomi tahun ini akan mampu menyajikan fakta yang jujur dari data yang akan mereka serap dari lapangan se-nasional ini? Kita lihat saja nanti.
Kalau hal di atas adalah sisi keluhannya. Maka ada pula sisi kesyukurannya. Syukurnya adalah, mudah2an perlambatan ekonomi ini akan mendekatkan kita pada momentum dimana kita sadae bahwa rekayasa ekonomi sudah terlalu akut. Sehingga secara kompak dan massal kita mau bersama-sama kembali ke konsep ekonomi yang sederhana. Sederhana bahwa bisnis adalah tukar menukar kebutuhan, bukan rekayasa keinginan disulap jadi kebutuhan. Sederhana bahwa iklan itu mengenalkan produk, bukan menjebak. Sederhana bahwa modal itu faktor pendukung sistem, bukan penguasa sistem. Sederhana bahwa hidup yang enak itu hidup sederhana.
12/20/15
Impossible Ikhtiar
Aku hidup didesa, tapi jauh dari pelayanan alam, pelayananku dari Industri: bumbu instan, alfam*rt, gadget. Mbahku petani, tapi ilmuku teknologi informasi.
Ini sepertinya aku harus buru-buru men-download ilmu dari Mbah-mbahku. Agar aku paham ilmu bertani. Agar aku tidak bengong, nglangut, se-pasca ikhtiar. Agar aku tidak mengerjakan imposible ikhtiar.
Pak Tani itu, kalau sudah mencangkul lahan, memberi kompos dan menanam bibit, selanjutnya pekerjaannya ya tinggal menunggu. Menunggu panen.
Tinggal tugas Tuhan dan keniscayaan waktu yang bekerja. Kita menunggui saja, merawat, menjaga. Boleh menunggu sambil ngelangut, boleh menunggu sambil menggerutu. Tapi boleh juga menunggu sambil pergi 'repek' mencari kayu bakar. Atau sekedar nyeset-nyeseti bambu barangkali bisa jadi irus atau siwur.
Tapi please pekerjaan Tuhan jangan diganggu dengan mulur-mulurin batang tanaman. Kamu kira itu bisa membuat waktu panen lebih cepat?
Lah, tapi kalau panen masih lama. Kita makan apa donk? Makan tuh lamunanmu. Ya salahmu sendiri kenapa dari dulu tidak mempersiapkan umbi-umbian kek, atau tanaman sela apa kek, yang umur panennya lebih cepat, bisa untuk bahan pangan alternatif. Itu kan bisa direncanakan. Asal kamu mau berpikir detail.
Pecundang Vacancy
Entah aku harus bersyukur atau harus mengeluh. 10 tahun mencoba konsisten mengikuti katahati. 10 tahun puasa untuk tidak melacur dari mitos 'urip mapan kudu dadi pegawai'. Hari ini sepertinya semua pintu untukku berkemungkinan menjadi pekerja sudah tertutup sempurna.
Faktor eksternal adalah perlambatan ekonomi global yang mengakibatkan perusahaan makin eksploitatif memerah anak buahnya. Sudah kenyang aku mendapat keluhan kaum pekerja mulai dari yang bergaji rendah sampai yang bergaji bejibun. Dari yang bekerja di perusahaan ecek-ecek sampai yang kerja di perusahaan gedhe, segedhe gaban.
Sementara faktor internal adalah karena aku tidak mempunyai ijasah yang bonafide dan tinggalan IPK yang memadai. Ketambahan hasrat untuk kuliah lanjutan belum ada, tetap rencananya lanjut kuliah ya nanti mengisi waktu luang bersama istri setelah menikah.
Jadi, sekepepet-kepepetnya hidup. Mau tidak mau aku harus menjebol tembok inspirasi baru. Karena semua pintu pecundang sudah tertutup semua dengan sempurna. Sesusah apapun inspirasi itu dijebol. Energinya ya energi penghabisan: daripada sesak napas dihimpit keadaan.
12/18/15
Analisis Rasa
Lalu apa inputnya? Dalam kosakata Arab disebut Ratib Al Qulub, yakni : diriku yang ada dihatinya, atau hatiku yang ada dirinya, atau bagian dari diriku yang ada di satu bagian di dirinya, atau entahlah disebut dengan apa, yang jelas maksudnya itu. Kecerdasan orang Jawa memaknainya, sehingga di Jawa dikenal falsafah : sigaraning nyowo yang diakronimkan menjadi garwo (Indonesia:Istri).
Apakah didalam diri calon pendampingmu, engkau menjumpai dirimu ada disana? Ataukah engkau tidak bisa melihatnya? Atau jangan-jangan bahkan engkau belum bisa mengetahui dan mengenali dirimu yang ada di dalam dirimu sendiri sehingga engkau kesulitan mendeteksi adanya dirimu di dalam orang lain? Welah dalah... mumet...
Loh, bukankah kecenderungan rasa itu tanda bahwa ada diriku di dirinya? Oh, belum tentu. Kok belum tentu? Belum tentu, karena parametermu atas rasa juga tak menentu. Cantik, cerdas, memukau. Langka, terpelihara, mempesona. Pukau dan pesona sekarang ukurannya suka-suka, bukan? Terkungkung rasa. Heum... dibawa merenung saja dulu... agar bisa melepaskan diri dari kungkung rasa dan memulai menganalisis.
Lalu, kalau output sudah tahu, input juga sudah tahu, lalu apakah prosesnya? Prosesnya bernama : Momentum. Momentum adalah sesuatu yang diatas kecepatan. Momentum adalah sesuatu yang harus panjang menganalisanya. Tinggal kita mau sibuk menganalisa atau mau sibuk online dengan Sang Penguasa Momentum.
Kaleidoskop 2015
Canggih & Tekun
"Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis."
Simbah,
11-04-2015
Bincang-Bincang
Bahwa satu-satunya alasan tidak berbincang adalah karena sedang eksekusi. Kalau tidak ingin berbincang, lakukanlah eksekusi. Kalau tidak ingin eksekusi, berbincang-bincanglah. Teruslah berbincang, berhentinya ketika hendak eksekusi. Jangan hentikan eksekusi, kecuali mau berbincang-bincang.
Terbiasa Menduga-Duga
Bekerja bukan untuk mencari rezeki. Bekerja adalah ungkapan syukur atas setiap hal yang diberikan. Bahwa setelah bekerja dapat rezeki, itu sesuatu yang tidak diduga-duga, Ini nih yang sulit, sebab kita tidak terbiasa menghitung hal-hal yang harus disyukuri. Terus lagi kita terbiasa menganggap yang namanya bersyukur adalah cukup dengan mengucapkan Alhamdulillah, bukan diejawantahkan dalam kerja. Dan kalau kerja, yang diduga-duga dan dihitung-hitung dengan rigid adalah, akan memperoleh berapa nih nanti?
Bantaeng
Bupati pertama yang bergelar profesor. Nurdin tidak seterkenal Risma atau Ridwan Kamil, tapi pencapaiannya jangan ditanya. Profesor yang pernah sekolah dan kerja di Jepang ini mengabdikan diri untuk daerahnya dengan dedikasi yang menurut saya keren. Dari Shubuh, pintu rumahnya terbuka untuk semua warga. Persoalan darurat sosial seperti banjir ia pelajari langsung tanpa perantara sehingga dapat menentukan solusi yang tepat dengan segera.
Kabupaten ini andalan pendapatan asli daerah (PAD)-nya adalah pertanian. Tidak mudah meng-amplify pendapatan dari sektor pertanian dalam waktu singkat. Maka solusinya adalah, ia banyak menggondol hibah dan kerjasama dari luar : Jepang, China dan Korea.
Ini yang menurut saya keren. Ia paham betul keterbatasan wilayahnya, dan cerdik memanfaatkan peluang yang paling memungkinkan. Betul, kita tidak bisa memaksakan sumber daya yang memang tidak bisa di-amplify dalam waktu singkat. Yang diperlukan adalah memahami kelemahan dan tantangannya, serta mencari sumber daya alternatif.
Saya membayangkan jika saya di posisi bupati, di daerah saya atau dimanapun. Yang repot paling sangat adalah soal teamwork. Dengan etos teamwork seperti PNS Pemda saat ini, apa yang bisa saya perbuat, konsep yang bagus paling hanya akan dibendel di sekretariat daerah. Harus ada team alternatif. Dan untuk team alternatif, harus ada source dana khusus. Dicontohkan oleh Prof. Nurdin di Bantaeng, ia mencari sumber daya dari luar negeri. Tinggal di adaptasi.
12/12/15
Jebakan Motivator
Beberapa orang meremove akunku, hanya karena enggan diajak diskusi. Dan kebanyakan darinya adalah para motivator. Bukan karena aku pandai diskusi, tapi karena materi diskusiku mengganggu jualan mereka.
Menurut pandanganku, menjadi motivator itu tidak jelek. Tetapi bahwa banyak diantara mereka menjadi motivator hanya urusan jualan, itu memang benar. Daya nalar dan ketahanan mental mereka diatas panggung beda dengan di keseharian aslinya. Bagi mereka pencitraan adalah nomor satu, soal inputan ilmu-ilmu baru yang mungkin didapat dari diskusi mereka sangat resisten. Kalau-kalau inputan ilmu baru itu justru merusak komoditas paket training yang mereka jual.
Pandai-pandailah membeli motivasi, jangan terjebak.
12/11/15
Rumah Jawa Masakini
Kalau mau copy paste arsitektur jaman dulu, tentu saja susah. Kayu mahal, tukang mahal. Apalagi tanah, muahaaal. Maka, karena yang penting substansinya bukan bentuknya. Paling tidak, ada nilai-nilai substansi yang tetap terjaga, walau bentuk, juga ukuran rumah tidak bisa kita tiru untuk dihadirkan dimasa kini.
Ada banyak tentu saja, kita ambil lima saja misalnya apa-apa yang ada di rumah jaman dulu dan bisa kita adaptasikan untuk kita hadirkan di rumah masakini.
1. Padasan
Gentong air di depan rumah yang bisa dimanfaatkan untuk pejalan kaki yang butuh minum atau cuci kaki. Ya, kalau sekarang bisa lah dengan menaruh keran cuci mobil di depan rumah.
2. Halaman
Halaman yang luas, bisa untuk taman bermain gratis, tempat berkumpul anak-anak kita dengan anak-anak tetangga. Ruang interaksi yang multifungsi. Ya, kalau sekarang tidak harus seluas halaman rumah jaman dulu, mahal tanahnya. Tapi kita bisa memanfaatkan carport, dioptimalkan untuk ruang interaksi bagi siapa saja, jangan malah dibuat sesak dengan perabot. Pot pun sekadarnya saja.
3. Ruang Tamu
Ruang tamu jaman dulu memakai risban dan meja besar, enak untuk diskusi sambil medang. Kalau perabot besar macam risban dan meja besar malah mempersempit ruangan, yang penting ruang tamu dibuat lega, tapi tetap bisa untuk ngobrol formal dan diskusi berpanjang-panjang. Juga bisa untuk pisowanan, dimana orang-orang bertamu bermaksud menghadap, berkonsultasi atau sekedar meminta saran. Jangan malah ruang tamu disetting untuk sales-friendly belaka.
4. Dapur
Dapur itu bukan ruang belakang. Sekalipun ruangannya ada di belakang. Dapur adalah hal paling primer dalam rumah. Segala sesuatu yang dinikmati di rumah asalnya adalah dari dapur. Walaupun tidak bisa menghadirkan dipan untuk menyambut tetangga ngendong, para-para untuk menaruh barang yang harus keep warm, setidaknya, dapur tetap kita pandang sebagai ruang yang primer, bukannya ruang yang paling terabaikan. Sekalipun kita tidak suka memasak.
5. Ruang Pribadi
Ruang untuk meditasi atau uzlah atau tafakur. Ruang untuk me-time. Bisa didesain suka-suka, tidak harus bernuansa etnik klasik seperti ruang meditasi di keraton milik raja. Yang penting bisa untuk merenung dan menenangkan diri. Kalau lahan terbatas, kita bisa memanfaatkan loteng.
Begitulah kalau prinsip-prinsip itu tetap dijaga, sekalipun bentuknya sama sekali berbeda, tapi kita sudah berasa berada di Rumah Jawa.
Spirit of Jamaah
11/28/15
Derajat Ilmu
Kadang-kadang mikir, mending jadi orang yang banyak enggak tahunya saja. Jadi, ketika ada orang lain minta masukan, aku tidak dibebani kewajiban untuk memberi masukan. Karena memang tidak punya pengetahuan untuk membuat masukan.
Daripada, tiwas sudah meminta masukan, diberi, eh tidak dipake. Dibuat berceceran begitu saja. Tapi yah, itulah kenapa orang berilmu ditinggikan derajatnya. Kompensasi atas beratnya berlaku bijaksana. Harus menahan diri, daripada obral masukan. Meski gemes nggak karuan melihat tingkah polah yang sebetulnya bisa aku berii masukan.
Maksud Sang Nabi
Kalau diantara kita ada yang berani menghukumi bahwa Syiah bukan Islam. Apalagi Khawarij. Kalau syiah saja tidak dianggap bagian dari Islam, terlebih mereka kaum Khawarij.
Tapi apa berani menghukumi khawarij itu bukan Islam. Sedangkan mereka bajunya Islami, rujukannya Quran dan Sunnah. Cara penafsiran dan penerapannya saja yang sakpenakwudele dhewe. Maka yakin, tak berani kita menghukumi kaum khawarij itu bukan Islam.
Kalau menghukumi syiah bukan Islam berani. Karena media berkata begitu. Wong kita lebih sami'na wa ato'na kepada media. Ketimbang bertabbayun pada maksud-maksud Nabi pada Sunnah-sunnahnya.
Sebegitu kita tidak mengenal baik Nabi kita sendiri, sehingga ketika tafsir atas perkataan Nabi dimanipulasi sedemikian rupa, kita masih yakin bahwa itu memang benar-benar yang dimaksud oleh Nabi.
11/27/15
Sulitnya Hidup Jujur
Sulitnya hidup jujur. Jujur itu bukan sekedar ngomong ke orang lain yang benar. Kalau itu jujur fisik. Jujur dalam hidup hakikinya adalah kita tidak mengingkari anggukan universal alias kebenaran murni yang tersimpan di dalam hati.
Kalau mau hidup tidak jujur gampang sebetulnya. Sekolah dan kuliah yang nurut. Kejar nilai tugas dan ujian yang baik. Lulus cari kerja yang menjanjikan. Kerja yang nurut. Disela-sela kerja, sholat yang rajin. Ikuti majelis taklim, rajin mengisi infak ini, infak itu.
Diwaktu senggang hafalkan beberapa dalil. Kuasai keahlian ceramah dg itu, bawakan dengan santun. Kejarlah pahala, nikmatilah dunia.
Semua kebenaran sudah tersaji. Tinggal rajin membaca teks agama. Hindari perdebatan. Ikuti mainstream. Dikala jenuh, sesekali berwisatalah, hitung-hitung mengambil jatah kebahagiaan duniamu.
Mudah bukan? Modalnya nurut. Taat. Pada aturan Tuhan dan Nabi. Tak perlu berpikir sedikitpun bukan untuk menjalani cara hidup seperti di atas? Enak, pikiran enteng, tak perlu banyak yang harus dikaji, diterjemahkan, dikontekstualisasi. Waktu senggang dan waktu tidurpun cukup.
Saking enaknya, bahkan kita tak perlu berpikir untuk meneliti, yang disampaikan tentang perintah Tuhan dan Nabi itu dituturkan oleh siapa? Siapa kelompok yang menuliskan menjadi bacaan tafsir kita? Adakah kepentingan mereka kepada diri kita?
Dan yang terpenting, kita sama sekali tidak perlu berpikir. Apakah yang mereka tuturkan dan tuliskan tentang Tuhan dan Nabi itu sudah betul-betul bisa mewakili yang benar-benar dimaksud oleh Tuhan dan Nabi? Atau jangan-jangan belum.
Maqomat
Kalau di arloji, maqomat aku itu enggine bukan interface. Kalau di kantor, kecenderungannya aku di backoffice bukan di frontoffice.
Aslinya bagian paling pas buatku ya di dapur. Tidak lihai ngurusin permukaan. Tapi bagaimanapun, 'kutukan' trah dari mbah-mbahku adalah aku harus mandito tapi juga harus siap satrio.
Harus pandai mikir. Tapi juga harus kalau 'terpaksa' dibutuhkan untuk tampil ya harus bisa. Tiba-tiba disuruh presentasi didepan juri nasional. Harus naik panggung disorot kamera tv nasional. Harus negosiasi dengan wong londo dengan bahasa mereka. Harus berbicara didepan umum. Minimal tidak ngisin-ngisini.
Tapi jangan salah mengenali maqomatmu. Aslinya ya kamu urusan dapur. Bahwa bisa tampil, itu jurus darurat belaka. Jangan malah terbuai sibuk cari panggung. Dan lupa nguleg ide, mblender gagasan di dapur.
Dan jangan membanding2kan diri dengan kualitas mereka yang maqomatnya memang dipanggung.
11/15/15
Genting
Semoga bisa menyambutnya dengan sebaik-baiknya. Minimal menyadarinya. Syukur sekali menjadi bagian dari mekanisme kejadiannya.
10/31/15
Indonesia Bagian Facebook
Sedangkan sekarang, orang membagi ilmu tanpa ilmu. Orang berbaju agama dengan telanjang akhlak. Memberi nasehat tanpa empati. Berbagi tujuannya eksistensi. Jualan baju sampai jualan kata bijak.
Untung semua itu, wilayah facebook cuma bagian kecil dari Indonesiaku.
10/19/15
Ubed: Simple Selling
Cita2nya M. Yunus pendiri Grameen Bank menarik: Kelak, anak cucu kita hanya akan melihat kemiskinan di museum.
Maksudnya, semua orang kaya dan berkecukupan. Kemiskinan hanya jadi diorama di museum. Apa bisa? Bisa. Ah masa? Kita nggak percaya kab karena kita closed dari informasi pra generasi kita. Kita hanya tahu dan meyakini apa yang kita alami di generasi kita. Ya maklum, ini generasi memang zamannya orang mustahil menjadi kaya tanpa memiskinkan orang lain. Mustahil kenyang, tanpa melahap orang lain.
Contoh lain yang kita gagal mengakses informasi dari generasi sebelum kita adalah adanya cara hidup "Ubed". Ubed itu cari duit dengan apa saja, untuk berlangsungnya hidup. Walaupun dengan cara "apa saja", bukan berarti tidak ada pola atau struktur teknologinya. Ubed itu "simple selling". Sekarang Ubed hanya ada di museum saja.
Yang ada sekarang adalah "Selling for Salary". Mau sehebat apapun anda jualan, kalau belum punya gaji tetap. Hidup anda tidak aman. Kalau di negara maju, tambah lagi rong2an tidak amannya: kalau hidup belum punya asuransi.
Begitulah, karena tidak ada museum ubed, hidup tanpa gaji dan asuransi menjadi tahayul. Sedangkan kita yang mau mengkaji ilmiahnya teknologi ubed, sudah tidak ada jalur untuk mengaksesnya.
10/16/15
Pejabat & WhatsApp
Republik atau Dagelan
Kebebasan Terbatas
10/9/15
Edan-Wifi
Nggak banyak tulisan wifi gratisan, tapi kalau di seek ada. Bukan cuma ada, tapi kuenceng. Padahal gratisan. Itulah Netherlands. Dan mungkin begitu juga kebanyakan negara Eropa lainnya.
Apakah bentangan jarak untuk transfer teknologi antara Eropa di Barat hingga pojokan tenggara Asia masih sebegitu jauhnya hingga kondisi kedua belahan bumi untuk urusan koneksi internet saja begitu berbeda?
Ah, perjalanan pesawat saja hanya 14 jam ditempuhnya kok. Perjalanan transfer teknologi internet aku rasa nggak beda-beda jauh. Yang beda mungkin manajemennya. Kalau di negara maju, orang kaya dan yang benar2 butuh akses spesial mau membayar mahal. Begitupun negara mau membayarkan untuk rakyatnya pembangunan infrastruktur IT. Sehingga terjadi subsidi silang. Sehingga dimana-mana ada wifi gratisan. Di pinggiran hotel. Di kereta. Di bus. Di taman.
Sementara di belahan bumi lain tempat negara2 berkembang, internet dijual murah, sekalipun kepada mereka yang mampu dan mau bayar mahal.
Begitulah. Ke Netherlands, tak perlu beli kartu internet. Rajin-rajin hunting wifi di public area saja. Gartis. Kuenceng. Edan.
10/8/15
Roti Belanda vs Nasi China
Orang Asia kalau ke Eropa paling galau kalau nggak ketemu nasi. Padahal bukannya wagu, kalau cuma mau makan nasi si dirumah bisa. Mumpung ke-Barat, ya berlagaklah jadi orang barat. Makan roti, keju, minumnya susu.
Aku sendiri bukan termasuk yang risau berhari-hari nggak ketemu nasi. Bahkan kalau boleh memilih, mending aku makan roti belanda daripada makan nasi Chinese food. Seenak-enaknya nasi di negeri barat, tetep saja kalah sama nasinya orang Purwokerto. Apalagi nggak ada sambel tlenjenk lombok ijonya.
Tapi seenggak akrabnya perutku dengan roti dan keju. Aku akuin aku suka karena aneka roti-rotian mereka memang lezat, padat dan mengenyangkan.
Kalau dihidangkan dengan susu. Susunya enggak dikorupsi takarannya. Kalau disandingkan dengan butter, butternya enggak pakai perisa. Kalau dilahap bareng keju, kejunya aneka macam. Kalau disuguhkan dengan jus buah, segar beneran jusnya.
Gimana nggak sehat, gimana nggak smart kalau makanannya kualitas prima begini.
10/7/15
Cash Mindset
Pegang cash dan tidak pegang cash itu mindsetnya beda. Pegang cash sedikit dan pegang cash banyak, mindsetnya juga beda. Itulah kenapa dalam business coaching selalunya kita diajarkan untuk: seberapa besarpun utang bisnis anda, pertahankan cash income anda.
Kalau pergi ke tempat perbelanjaan mengantongi banyak Euro, apa-apa terasa murah. Padahal, perbandingan harga dengan barang sejenis di Indonesia wooow juga.
Maka rem paling ampuh adalah kalkulator. Hitung kurs sebelum membeli. Jangan cuma lihat angka di price tag terlihat kecil. Ingat loh itu logonya "€" bukan "Rp" hehe. Dan rem lainnya adalah, jangan bawa cash terlalu banyak.
Tapi kadang-kadang, susah juga orang kita yang overromantic. Buat orang2 tersayang, oleh-oleh berapa saja harganya dibeli.
Gantungan kunci €2 alias 30ribuan. Padahal di Malioboro 10.000 dapat 3 kali. Tshirt €10 alias 150.000an. Padahal di tanah abang 30.000 masih bisa ditawar kali. Lalu Jaket, ada €150 padahal kalau di Indonesia, tinggal tambahin nol 3 tapi ganti dulu logonya jadi IDR. Eheee...
Tapi ada satu oleh-oleh yg lebih murah dibanding beli di Indonesia, yaitu: Cokelat... Pinter2 saja carinya. Salah satunya bisa didapat di Albert Heijn. Borong saja yang banyak. Daripada nyesel nanti pulangnya... :D
10/6/15
Qiyamulail di Perpust
Budaya itu terbentuk oleh tuntutan zaman. Seperti budaya belanja di Netherlands misalnya, orang terbiasa berbelanja siang sampai sore saja. Sebab toko baru buka jam 10 atau 11 pagi. Dan sedikit saja toko yang buka hingga di atas jam 6 sore. Kenapa singkat sekali waktu belanja? Karena gaji karyawan mahal.
Kalau budaya mengunjungi tempat perbelanjaan waktunya singkat, budaya mengunjungi perpust waktunya lama. Perpust buka sampai jam 2 dini hari. Itu kata Mas Selo, mahasiswa master di Univ Delft asal Malang yang membantuku disini kemarin. Dia membantuku di event Misi Dagang Jateng bersama Pak Gub kemarin di Schakenbosch, Den Haag.
Enak kalo perpust sampai dinihari. Nggak harus pinjam buku, nggak harus baca buku kan disana. Sekarang jaman gadget, informasi cukup dipantengin di depan layar.
Loh, kalau cukup dipantengin di layar, bisa dirumah noh? Bisa. Tapi kan kalau di perpust bisa rame-rame, bareng-bareng, engga ngantuk jadinya.
Bisa juga qiyamul lail jamaah disana. Qiyamul lail artinya mendirikan malam. Mendirikan malam bisa dengan :
1. Tadzabur alam
2. Membaca Qur'an
3. Menuntut ilmu.
Tadzabur alam bisa dengan tafakuf merenungi malam. Membaca Qur'an bisa dengan sholat tahajjud juga. Menuntut ilmu, bisa dengan mengerjakan tesis atau belajar ilmu lainnya.
Loh. Mengerjakan tesis kok qiyamul lail. Ya nggak bisa to? Ya nggak bisa kalau cara pandang kita sekuler. Ilmu dunia dan ilmu agama dipisah.
Karena di Indonesia jarang perpustakaan buka hingga waktu tahajjud, haha, sampai waktu ashar juga jarang, ya sudah perpustakaan kita di halaman rumah, tradisi intelektuali kita langsung dibawah langit.
Kalau tidak begitu, kapan qiyamul lail kita mengungguli budaya yang Barat punya?
Ijtihad Toilet
Di negara maju seperti di Netherlands ini salah satu yang keren adalah di soal kebersihan toilet. Walaupun tetap saja tidak semua. Toilet umum di taman-taman kota misalnya, pesing juga.
Tapi satu hal, tidak dikenalnya budaya 'bersuci' ala Islam disini, membuat aku kerepotan juga. Disinilah skill ijtihad sosial ditagih.
Loh, bagaimana coba, orinoar nggak ada air bilasnya. Closet nggak ada washernya, cuma ada tisyu.
Tinggal putuskan sendiri kita, apa nawaitu istinja (bersuci dg benda kering dlm keadaan darurat), nawaitu peper (cebok tanpa air), atau bawa botol atau gayung buat wadah air, atau kencing & mulesnya ditahan saja sampai kembali ke tanah air.
Tentu saja keputusan-keputusan kita akan tergantung situasinya. Disitulah ada kebenaran kontekstual atas ijtihad kita. Karena kebenaran tidak selalu cuma satu.
10/5/15
Gaya Hidup Mahal
Rokok itu sekarang bagian dari gaya hidup. Tentu saja gaya hidupnya orang yang merokok. Saya tidak.
Bahkan bukan cuma di jaman sekarang, jaman dulupun rokok itu gaya hidup. Lalu apa yang membedakan gaya hidup merokok jaman sekarang dan jaman dulu.
Kalau jaman dulu, mbako tinggal ambil di kebun. Klobot ambil sisa panenan jagung. Gratis. Jadi mau sehari 24 batangpun nggak ada masalah.
Sedangkan kalau sekarang, rokok harganya belasan ribu. Kalau gaya hidup seseorang itu satu hari dua bungkus merokoknya, ya tinggal dihitung sendiri ongkosnya.
Itulah bedanya gaya hidup jaman sekarang dan jaman dulu. Jam 6 pagi kemarin lusa, aku landing di Schiphol Airport, Amsterdam. Rekanku ada yang bawa satu pak rokok gudang garam merah.
Konon rokok Indonesia dicari disini. Selain itu, untuk kebutuhan dia merokok sendiri disini. Maklum, disini harga rokok 6 kali lipat. Kalo di Indonesia satu bungkus 15.000. Disini 6 Euro.
Begitulah mahalnya gaya hidup merokok disini. Tinggal pilih, mempertebal kantong, atau mengganti gaya hidup
10/2/15
Organic, Green and Health Expo 2015
Ditengah peradaban yang terus menguning, mengemas, menggemerlapkan diri, ada sekelompok orang yang berjalan agak 'menyimpang'. Mereka berkomunitas untuk memilih menghijau. Komunitas Organik Indonesia hingga akhir pekan besok sedang menggelar expo nasional Organic, Green and Health (OGH) Expo.
Ini adalah penyelenggaraan yang ke-5. Produknya unik-unik, di area depan ada banyak booth hidroponik dan aneka kreativitas bercocoktanam. Geser ke kanan ada booth2 cafetaria. Masuk ke dalam banyak kita bisa jumpai aneka bahan pangan organik. Masuk ke aula dalam, lebih beragam lagi produk kosmetik dan modern lifestyle.
Produk lokal juga import. Ada yang murah ada yang mahal, tapi kebanyakan mahal. Untuk yang sedang belajar gaya hidup sehat nan modern, nggak ada salahnya merapat ke Bentara Budaya Kompas, Palmerah.