2/29/16

Kemutakhiran Masa Lalu

Kisah ini terjadi sekitar 250 tahun yang lalu, dituturkan oleh Mbah Kung yang tahun ini genap beliau menginjak usia 100 tahun.

Alkisah Kadipaten Banyumas dipimpin oleh Adipati Yudhanegara II. Sang Adipati bertitah untuk membangun Masjid.], maka dibangunlah Masjid di sisi barat alun-alun Banyumas. Dengan membuka sistem donasi terbatas, Demang Nur Dlaiman dari Gemelem menyumbangkan soko guru atau 4 pilar utama untuk masjid tersebut sekaligus mengarsitekinya.

Setelah Masjid tersebut berdiri, Adipati kesulitan menemukan khatib atau imam masjid. Maklum, saat itu belum ada audisi orang alim seperti hari ini. Tidak selang berapa lama, seorang santri yang tengah lulus dari Pesantren Somalangu, Kebumen sedang berperjalanan menuju Pajajaran tempat kelahirannya. Ketika santri tersebut melintas di alun-alun Banyumas, dicegatlah santri tersebut, kemudian sang Adipati memohon kesediaannya untuk tinggal dan menetap di Banyumas menjadi khatib di masjid yang baru dibangun tersebut.

Singkat cerita, santri tersebut bersedia memenuhi permintaan sang Adipati. Kelak di kemudian hari, santri tersebut dikenal sebagai Eyang Sulaiman, namanya dipadukan dengan nama Deman Nur Dlaiman donatur utama dan arsitek masjid tersebut menjadi Masjid Nur Sulaiman. Masjid tersebut kini menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan undang-undang.

Masjid tersebut berdiri ketika sekuleritas agama belum terjadi seperti saat ini. Selain sebagai khatib Masjid, Eyang Sulaiman dikenal sebagai penasehat spiritual Adipati Yudhanegara II. Mungkin istilah sekarang yang relevan adalah menjadi ketua Epistemic Kota. Alangkah Indahnya suasana pemerintahan kadipaten di masa itu ketika Sang Adipati mengkonsultasikan segala unek-unek dan kebijakannya kepada sesepuh terlebih dahulu yang pada masa itu sesepuh direpresentasikan oleh kaum alim ulama.

Di usia senjanya Eyang Sulaiman berpindah ke Kalimanah, Purbalingga. Entah mengapa sebabnya Mbah Kung tidak menuturkan. Dugaanku, Eyang Sulaiman pindah ke Purbalingga karena di saat itu Kadipaten Purbalingga baru saja disahkan pemekarannya oleh Negara Monarki Pajang. Sebagai kadipaten yang baru berdiri tentu saja membutuhkan konsultan Epistemic Kota pula untuk mengawal laju awal pemerintahan. Atau kemungkinan lainnya dari kepindahan itu adalah karena Eyang Sulaiman beristri orang Purbalingga.

Sejarah kerajaan dan kadipaten kini distigmakan dengan pertikaian dan keterbelakangan. Namun sesungguhnya, sejarah itu disembunyikan dari kecanggihan dan kemutakhiran sistem manajemen pemerintahan, konsititusi dan penanganan sosial. Agamawan dahulu ditempatkan sedemikian rupa dalam kasta tertinggi setara Brahmana, sekarang agamawan dikenal dikerdilkan hanya boleh maksimal hanya menjadi seorang mubaligh yang kesibukannya berceramah kesana-kesini.

Eyang Sulaiman setelah mangkat kemudian dimakamkan di pemakaman Bupati-Bupati Banyumas di Dawuhan, Banyumas. Namun anak cucunya tetap dimakamkan di Kalimanah, Purbalingga. Kompleks tempat tinggalnya ditandai dengan keberadaan Masjid Mustahal di Kalimanah Kulon. Nama yang diambil dari nama cucu generasi ke-4 sesudahnya. Dari Mbah Mustahal, di cucu generasi ke-3 berikutnya lahirlah Mbah Putri istri dari Mbah Kung yang menuturkan cerita di atas.  


1/30/16

Rekreasi dari Masa ke Masa

Orang membutuhkan jeda dari aktivitasnya. Aktivitas jeda yang banyak dipilih orang adalah melakukan rekreasi. Jaman dulu, rekreasinya seorang petani yang penat bekerja di sawah adalah bermain gamelan bersama tetangga. Rame, menyenangkan dan gratis pula. 

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan informasi yang kian meluas, sekedar bercengkerama dengan tetangga tidak lagi cukup menarik untuk dijadikan pilihan rekreasi. Terlebih beban hidup yang semakin penat menghimpit kehidupan, untuk merefresh kepenatan itu sungguh butuh pilihan jenis rekreasi yang tidak biasa. 

Merebaknya kebutuhan rekreasi yang tidak biasa ini kemudian ditangkap oleh para pebisnis. Bisnis pariwisatapun menggeliat karenanya. Menggeliatnya potensi pariwisata, akhirnya menjadi angin segar bagi banyak bisnis terkait. Travel agent, maskapai penerbangan juga hotel. 

Angin segar pula bagi kita yang berkeinginan untuk terjun di dunia bisnis pariwisata. Baik dengan menggandeng investor besar, atau kita memulai dari menjadi pebisnis start-up kecil-kecilan. Bekal yang harus kita persiapkan adalah, memahami tren minat masyarakat akan jenis rekreasi yang sedang diminati. Dari masa ke masa, minat masyarakat dalam memilih jenis rekreasi yang difavoritkan berubah-ubah. Di kurun waktu se-dekade terakhir saja, kita bisa mengamati transformasi rekreasi yang terjadi seperti berikut ini.

1. Dunia Fantasi
Ancol menjadi salah satu yang paling moncer dulu. Sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah, pergi ke Ancol adalah rekreasi yang diidam-idamkan. Dunia fantasi identik dengan permainan-permainan pemacu adrenalin, roller coaster menjadi salah satu yang paling populer untuk dijajal. 

Bagi orang-orang desa yang tak terjangkau menuju dunia fantasi yang mewah di kota besar, mereka cukup terhibur dengan mengunjungi arena pasar malam. Ada wahana komedi putar, wahana kincir hingga tong setan. 

2. Waterboom
Seiring dengan perjalanan waktu, minat masyarakat bergeser. Wisata air menjadi tujuan favorit. Waterboom Owabong di Purbalingga kala itu booming sebagai waterboom terbesar di Jawa Tengah. Ide penggagas yang sempat ditolak mentah-mentah oleh pemerintah berbuah sebaliknya, ternyata obyek wisata ini mendatangkan income yang fantastis melebihi target.

Semakin sedikitnya sungai dan danau alami yang ramah pengunjung, membuat wahana air buatan menjadi tujuan favorit untuk berekreasi. Rileks di dalam air menjadi kesenangan yang dicari tersendiri oleh banyak orang.

3. Snorkeling
Terumbu karang bukan lagi monopoli para penyelam. Keindahan ekosistem bawah laut di permuakaan laut yang dangkal kemudian dimanfaatkan orang untuk melakukan snorkeling. Spot snokeling dari habitat air laut yang alami dikembangkan di begitu banyak daerah di banyak daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selain menikmati terumbu karang dan ikan yang indah di bawah laut, berfoto dengan kamera underwater menjadi keasyikan tersendiri. Bisnis kamera serta dunia fotografi dan videografi terdongkrak pula perkembangannya.

Derawan Island
Lalu, tren apakah setelah era snorkeling ini berakhir? Salah satu prediksi yang aku yakini adalah wisata etnik dan wisata budaya. Heritage kekayaan leluhur masih begitu banyak yang belum diungkap dan direkonstruksi. Kalau itu sudah bisa dilakukan, tren rekreasi masyarakat mungkin segera bergeser. Orang akan terpukau dan bisa menikmati keasyikan cara hidup di masa lalu yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal dan kita jalani hari ini.


Kekinian dan Kekinian Syariah

Sabtu sepekan kemarin, Hilmy sahabatku baru saja kedatangan seorang putri cantik. Genap sepasang sudah buah hatinya dengan Rini.

Mereka berdua pandai membuat nama menurutku. Anak pertama diberi nama Manah Jembar Membumi. Nama yang aneh kalau dilihat dari ukuran kekinian. Orang-orang kekinian lebih suka menamai anaknya dengan kata dari bahasa Rusia, sementara yang kekinian syariah menggunakan kata dari bahasa Arab.

Nama adalah do'a. Esensi dari sebuah nama adalah munajat atau pengharapan. Membumi adalah pengharapan yang spesifik, bukan sekedar sholeh, bukan sekedar alim, tapi spesifik, membumi.

Semoga si Bumi kecil tumbuh menjadi anak yang dekat dengan sekelilingnya, membumi keramahtamahannya, membumi keahliannya, membumi dedikasinya. Ditengah sekarang banyak orang pandai tapi pandai atas keahlian yang tidak dibutuhkan oleh sekelilingnya, banyak orang alim tapi tidak menyatu dengan tanah yang ia pijak.

Anak yang kedua, mereka beri nama Sendang Mili Migunani. Nama yang indah sekali, tidak perlu membaca kamus A-Z nama anak, kita sudah tahu maknanya, mengalir dan berkegunaan. Sepertinya Ayah dan Bundanya Sendang gaulnya dengan orang-orang tua, orang-orang kuno. Lihat saja Bapak, Eyang dan Buyut kita. Mereka membuat nama dengan memilih istilah yang begitu dekat dengan keseharian mereka, bukan nama yang aneh-aneh. Pun begitu dengan pemilihan kata Migunani, sangat dekat dengan keseharian kita kini, bukan?

Hilmy dan Rini well prepared sekali pada anak-anaknya, ia mungkin khawatir di generasi anak dan cucunya nanti, mereka harus membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Migunani", karena sudah tak pernah digunakan, maka mereka ukirkan menjadi nama agar abadi.

Sama seperti kita kini, perlu membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Prasojo", "Raharjo", "Pratiwi" atau "Sri". Padahal kata-kata itu adalah kata-kata keseharian di beberapa generasi yang lalu yang bukan hanya mengandung makna yang baik, tetapi baik dan spesifik.

1/26/16

Berakhirmya Era Tas Kresek Gratis

Kabarnya, bulan depan pemerintah kita kembali mengimitasi negara maju: menghilangkan tas kresek gratis di tempat perbelanjaan.

Langkah yang bagus dalam rangka menggalakkan program go green. Budaya tas kresek berbayar sudah lama dilakukan di negara-negara maju. Kalau kita mau mempraktekkan, ya tinggal meniru saja.

Yang mesti diperhatikan paling :
1. Apakah ini hanya berlaku di toko modern atau semua toko? Bisakah pemerintah memonitor pemberian tas kresek gratis di warung kelontong di ujung pengkolan?

2. Apakah trust pemilik toko kepada konsumen sudah baik. Sehingga konsumen bisa menenteng tas kresek berisi dagangan yang ia beli di toko sebelumnya, masuk ke toko berikutnya. Atau setiap toko sudah siap menyediakan tempat penitipan barang?

Lepas dari semua itu, ini adalah langkah baik yang harus kita dukung. Penerapannya akan mudah di toko modern berjaringan yang instruksinya terpusat. Tapi susah bagi warung-warung. Ini mudah2an menjadi nilai lebih bagi warung tradisional, sehingga konsumen lebih senang datang ke warung tradisional yg melayani dengan keramahtamahan juga dapat kantong kresek sekalian.

Yang pemerintah tidak boleh lupa, kantong kresek vital keberadaannya, yaknk untuk bungkus tong sampah di rumah-rumah. Apakah sudah dilakukam tahap uji, sampah plastik apa yang paling dominan? Jangan-jangan bukan kantong kresek.

1/24/16

Pendekar

Tahap-tahap latihan kanuragan yang ditempuh untuk menjadi seorang pendekar tidak boleh dibolak-balik.

Pertama: Ndandani pikiran. Pikiran dibuatkan bangunan konstruksi yang kokoh. Sementara kebanyakan orang sekarang sibuk menghimpun referensi, asal masuk ke pikiran, tidak ditata. Karena pikiran belum dibangun rak-rak konstruksi, bangunan-bangunan penampung.

Kedua: Ndandani wektu. Ada waktu pagi, siang, sore dan malam. Itu untuk level awam. Kalau yang lebih expert fasenya sehari ada 24. Empat saja dulu diberesi. Pagi waktu aktif. Siang sediakan jeda. Sore waktu ceria. Malam luangkan kontemplasi.

Ketiga: Ndandani awak. Ini sebenarnya otomatis, karena di dalam pikiran yang sehat terdapat badan yang kuat. Kalau badan tidak terperhatikan, itu indikator ada yang belum beres di pikiran.

Keempat: Ndandani jurus. Kalau ketiga di atas sudah beres, baru bicara menang-kalah, menyerang-bertahan. Meringankan tubuh-hentak2 bumi. Dst.

Di alam modern, keempat tahap di atas tidak lagi penting. Karena sekarang tidak ada orang bercita-cita jadi pendekar. Repot. Harus menolong orang lain.

Lebih enak jadi orang kaya. Tidak penting sehat pikiran, tidak harus mengelola waktu, setiap hari bisa memanjakan badan, tak bisa jurus yang penting punya bodyguard.

1/18/16

Teror Tivi

Baru juga pulang liburan dari Derawan eh sudah harus menghadapi teror. Teror yang membuat perasaan mencekam. Teror dari benda bernama Televisi.

Media sepertinya sudah memposisikan diri menjadi Nabi ke-26, pembawa berita dan pemberi peringatan yang paling kita imani. Rasanya tertutup sudah segala apa yang terjadi, sebesar apapun itu, jika tidak masuk berita tivi.

Untunglah, kita selaku generasi Z kini memiliki daya makrifat-internet, mampu mengakses dunia tak kasat mata. Media digital benar-benar berhasil membangun jejaring sosial yang bisa menjadi pembawa berita alternatif atas intimidasi informasi yang dilakukan oleh media mainstream.

Tapi walau begitu, digital media harus digunakan dengan arif dan luas. Agar ia tidak tanpa sadar dijadikan nabi ke-27. Proporsional saja dalam mengkonsumsi informasi. Justru kalau bisa kita produktif jadi penyedia informasi, bagusnya seperti itu.

Kalau mau jadi penyedia informasi, cerdas dulu, agar kita jadi produsen yang memproduksi produk informasi yang sehat.

Lalu, jalur distribusinya juga diatur yang baik. Agar tidak salah kamar, nanti ibaratnya menceramahi kucing tidur.

Tiap jejaring sosial sebetulnya ada aurat-auratnya. Kalau mau share sesuatu yang fun, bisa di instagram. Kalau mau share refleksi, bisa di twitter. Facebook cukup untuk menshare godaan-godaan berpikir. Analisa dan penjlentrehan sesuatu bisa di blog. Heum, apalagi ya..

Kalau tivi, cukup untuk pengusir sepi. Jangan lebih dari itu. Bahaya.

1/2/16

Belajar Bisnis dari Tumbuhan

Strength + Opportunity + Inspiration = Income + Benefit. Rumus bisnis ini dipakai oleh tumbuhan, intern resources tumbuhan adalah klorofil, extern resources yang ada diluar adalah CO2, inspirasinya Sinar Matahari, maka jadilah income-nya Zat Makanan + benefitnya O2.

Jadi bisnis mustahil tanpa inspirasi. Rencana bisnis juga tidak bisa ngayawara, analisa SWOT dulu lah. Agar kita tidak memakai resorces yang bukan berada dalam diri kita. Juga tidak membidik yang bukan peluang disekitar kita.

Kenali potensi otentik, kalau potensi otentikmu kapak, jangan ikut2an mencangkuli ladang walau seluruh dunia sedang demam mencangkul. Kapak itu untuk menebang pohon, dia punya fungsi spesifik sendiri, sama seperti zat hijau daun.

Dan jangan mengejar peluang yang sudah menjadi rebutan terlalu banyak orang. Disaat banyak spesial memburu oksigen, tumbuhan malah sendirian memunguti karbondioksida.

Lalu bentangkan penampang otakmu agar bisa tersinari inspirasi. Bisnis tanpa inspirasi hanya akan disusuli kompetitor, sesudah itu mati.

Setelah proses bisnis kamu jalankan dan perolehan tinggal menunggu masak, siapkanlah perencanaan penerimaan income yang baik. Cash income paling besar itu untuk R&D, agar bisnismu tumbuh, selanjutnya baru untuk operasional dan selebihnya laba.

Jagalah fitrah sosial, kemanusian dan alam selalu, sehingga setiap yang kamu tuai menjadi benefit bagi sekelilingnya. Maka kamu sudah berhasil membangun a responsible corporate. Maka kamu tak perlu lagi menyisihkan Corporate Social Responsibility (CSR), karena semua perolehanmu adalah bernilai oksigen.

Kalau dirangkum menjadi: Kerjakan apa yang ada disekelilingmu yang itu bisa diraih, dengan sesuatu yang memang sudah ada dalam dirimu, improvisasikan dengan inspirasi tercemerlangmu. Lalu bersiaplah menuai hasil, yang pertama untuk membiayai pertumbuhanmu, sisanya kamu cadangkan. Dan keseluruhan kamu kerjakan dengan bertanggung jawab secara sosial, menjadi benefit yang bisa dipetik oleh semua.[]

Zaman Gratisan

Kita sulit mengimajinasikan bahwa di bumi kita dahulu, ada zaman dimana Pendidikan dan Kesehatan tidak dijadikan komoditas. Zaman itu terjadi bukan pada zaman dinosaurus, tapi zaman yang belum lama kemarin. Sewaktu orang tua kita masih remaja bahkan mungkin masih mengalaminya.

Di zaman itu, tidak ada kursus mengaji. Falsafah "Ngelmu iku kalakone kanti laku" benar-benar dipegang. Sehingga kalau ada anak yang mau ngelmu do'a dan wirid, cukup konsisten saja berangkat ke masjid, jangan pulang sebelum wirid ba'da sholat selesai. Dalam hitungan tidak sampai sebulan, si anak sudah mengilmui aneka do'a, wirid yang beraneka ragam dan beberapa adalah bacaan yang panjang-panjang. Semua itu diperoleh dengan gratis, semua itu terselenggara dengan gratis. Sekarang coba dicek, orang-orang tua di desa-desa itu pada hafal do'a dan wirid panjang tanyai, mereka kursus dimana dulu?

Kalau do'a dan wirid adalah ilmu maghdoh, maka bagaimana dengan pendidikan yang terkait ilmu muamalah. Lihatlah para tukang kayu di desa, termasuk Mbah Kakung saya dari Bapak adalah tukang kayu yang mahir, yang aku telat tidak mewarisi ilmunya. Beliau bukan insinyur, tapi karya-karyanya yang awet dan berkualitas masih bisa aku saksikan hingga hari ini. Untuk menjadi tukang kayu, juga tukang batu, tidak wajib sekolah. Cukup konsisten menjadi kernet bangunan, bakti, magang, ngabdi, nanti setahun atau dua tahun asal kamu titen terhadap setiap perilaku tukang senior yang kamu kerneti, selanjutnya kamu akan mahir juga. Metode pembelajaran seperti ini, gratis.

Lalu bagaimana di bidang kesehatan. Dari daun siridia sampai petai china, kalau tahu fungsinya, tinggal ditanam dipekarangan, kalau ada butuh pertolongan pertama atau terapi kesehatan tinggal petik. Tak perlu beli ke apotek.

Pun demikian tenaga ahli melahirkan, yang oleh orang modern diberi stigma sangat naif "dukun bayi". Dia lebih ekspert dari bidan lulusan D3, karena dasar pembelajaran dia bukan alat peraga artifisial di kampus tetapi ilmu titen dari ratusan bahkan ribuan pengalaman mendampingi proses melahirkan dan sedari menjadi pendamping dukun bayi senior sebelumnya. Dia bukan hanya tidak minta bayaran, bahkan dia berpuasa sunnah, berprihatin sebagai bentuk doa yang sungguh-sungguh bagi kelancaran proses kelahiran yang akan ia tangani.

Hanya saja, orang jaman dulu tidak kebangetan seperti orang sekarang. Mentang-mentang gratis, jadi tidak ngirim setandan pisang atau sekarung rambutan ke Pak Kiai tempat belajar mengaji. Mentang-mentang tidak minta bayaran, dukun bayi tidak diberi sesuatu sebagai 'tali kasih'. Tidak seperti itu orang jaman dulu. Semakin orang tidak meminta, semakin dia diberi banyak.

Maka, kalau sekarang kamu percaya pada sekolah ya jangan banget-banget, tetap sekolah tapi tetap cari ilmu alami. Kalau kamu percaya pada tenaga medis, juga jangan banget-banget, sambangi para tenaga kesehatan alternatif yang mungkin sekarang semakin sulit dicari yang benar-benar otentik.

Dan kalau kamu sekarang jadi tenaga medis, jangan congkak. Ingat, aslinya kesehatan itu bukan komoditas loh ya, bukan barang dagangan seperti beras dan gula. Layani yang membutuhkan keahlianmu dengan nawaitu kemanusiaan, bukan sebagai konsumen. Pun demikian kalau kamu sekarang jadi pendidik.

Sekali lagi, aslinya dulu pendidikan dan kesehatan bukan barang dagangan. Maka kalau sekarang mau tidak mau harus diperdagangkan, maka layani konsumenmu dalam nawaitu kemanusiaan. []

1/1/16

Sugeng Tindak 2015

Sugeng tindak.... Selamat jalan 2015. Sedih berpisah denganmu wahai makhluk Allah bernama 2015. Yang sudah setia menemaniku menjalani kesetiaan.

Yang sudah menjadi kepanjangan tangan Allah menjaga kesehatan, keselamatan dan keutuhan. Yang sudah menyediakan diri menjadi ruang pertemuanku dgn hal-hal besar, mengejutkan dan menakjubkan.

Yang sudah membentengiku dari petaka, kekufuran juga kefakiran. Yang tidak pernah sedetikpun berhenti, sehingga masalah-masalah yang aku hadapi menjadi berlalu.

Sugeng tindak... Selamat jalan... Semoga Allah ridho kepadamu, juga kepadaku. Hari ini aku tidak merayakan tahun baru, aku hanya mensyukuri 2015-ku.

12/26/15

Step by Step menjadi Wahabi

Pada tahap pertama, dengan teknik passing & leading orang dicekoki doktrin MURNI & TIDAK MURNI dalam beragama. Murni adalah ada dalilnya, bukannya murni akhlaknya.

Pada tahap berikutnya, diciptakanlah GUILTY FEELING. Rasa bersalah dan berdosa. Padahal fitrah manusia ya salah dan dosa, harusnya fokus ke perbaikan, bukam fokus ke rasa bersalah. Kalau kita diletakkan di kutub negatif, disinilah dikenalkan siapa yang akan diletakkan di kutub positif, yakni generasi SALAFUS SHOLEH.

Metode mengenali dan mengautentifikasi generasi salaf mana yang benar-benar sholeh dan mana yang justru tholeh sebenarnya sangat lemah dan cenderung sebatas klaim. Karena jarak abad dan minimnya informasi, tapi entahlah kok tidak ada yang mempertanyakan itu.

Pada step ke-3, orang akan dirancukan tentang parameter TUHAN dan MAKHLUK. Karena Tuhan diletakkan meneyerupai makluk, maka makhluk gaib dianggap berpotensi menjadi saingan Tuhan karena mereka sama-sama tak kasat mata. Maka muncullah jargon anti-syirik.

Berikutnya, mereka beragama tapi diajak menggunakan parameter kaum sekuler. Parameter di lingkungan sekuler adalah perkara keseharian dibagi menjadi : AKHIRAT & DUNIA. Sedangkan parameter orang beragama seharusnya adalah: Perkara Maghdoh dan Muamalah.

Sampai pada tahap ini, sebetulnya orang sudah berpotensi untuk merusak. Bukan merusak rumah atau bangunan, tapi merusak harmoninya tatanan sosial.

Eh masih ditambah lagi step berikutnya: penciptaan musuh bersama. Musuh sosiokultur mereka adalah Nahdlatul Ulama dengan pengembangan BUDAYA-nya. Musuh geopolitik mereka adalah SYIAH dengan Imamah-nya.

Kemudian untuk memunculkan semangat kolegial soliderity dibuatlah semacam SERAGAM bersama. Jenggotnya panjang, celananya pendek.

12/23/15

Subcon Nutrisi

Dulu, jaman beberapa generasi di atas kita, bagian rumah yang bernama dapur adalah tempat yang primer. Sehingga dapur didesain lega dengan berbagai tempat ubarampe yang fungsionable. Dapur lebih vital dari ruang tamu. Karena di ruang tamu, hanya tamu tertentu yang masuk, sedangkan didapur, tetangga, orang lewat, semua bisa masuk, ngendong (berkunjung) juha nganthong (numpang makan).

Vitalnya dapur adalah karena ditempat itu first hand dari nutrisi keluarga dihasilkan. Nutrisi yg akan mempengaruhi kualitas anggota keluarga baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Sayangnya, entah sejak kapan. Dapur menjadi mendapat stiga negatif. Dapur jadi terpinggirkan. Yang utama adalah tamu dan ruanh tivi.

Akibatnya, orang tidak bisa menemukan lagi keasyikan di dapur. Warna-warni cabe, fragmen2 pethikan kangkung, wangi rempah-rempah, semua tidak lagi menarik. Sambil disaat yang sama, orang lebih ayem men-sub-kontrak-kan pasokan nutrisinya kepada pihak ketiga. Ngewarung. Ngerames. Delivery order.

12/21/15

Bangkrut Statis

Orang Jawa itu di keadaan apa saja kok ya tetep saja bisa melihat untungnya. Kalau jatuh di jalan: untung cuma lecet, enggak ada yang parah.

Kalau dagang sepi: untung cuma sepi, enggak sampai nombok. Kalau nombok: untung cuma nombok, enggak sampai utang. Kalau utang: untung cuma utang, enggak sampai bangkrut. Kalau bangkrut: untung ketemu bangkrut, daripada enggak pernah mencoba.

Kalau nggak pernah mencoba: untung nggak pernah mencoba, jadi nggak perlu ngerasain bangkrut. Loh? Hehe...

Tidak ada peristiwa statis di dunia ini, termasuk bangkrut. Bangkrut statis tidak akan terjadi, kalau energi pikiran kita tetap digerakkan menjadi kumparan yang dinamis, sehingga bisa mengelektromagnetik keadaan dan memproduk momentum kebangkitan. Kecuali pikiran kita stuck berhenti.

Ekonomi Sederhana

Tentang perlambatan ekonomi yang terjadi nyaris menyeluruh, dari perusahaan multi-nasional sampai perusahaan ecek-ecek, disatu sisi adalah sebuah keluhan disisi lain juga kesyukuran.

Bagaimana tidak mengeluh kalau sales mobil dan sales kredit semakin diforsir demi target. Pun demikian kaum usahawan kecil. Kalau pedagang nasi goreng harus menaikkan harga jualnya, itu bukan aji mumpung atas momentum, itu karena kepepet atas harga2 bahan baku yang melambung. Disisi lain mereka harus siap dengan realita pembeli menjadi berkurang drastis karena daya beli konsumen melemah.

Itulah arti 2.000 rupiah dinaikkannya harga premium yg merupakan satu dari tiga kebutuhan bahan pokok selain beras dan gas. Kita belum mendengar dampak pengalihan subsidi untuk pendidikan dan daerah tertinggal, tapi sudah bising dengan pelemahan daya beli masyarakat yang menyeluruh se-nasional.

Belum lagi ditambah faktor ekonomi global, pemusatan modal dan berbagai rekayasa ekonomi lainnya. Apakah sensus ekonomi tahun ini akan mampu menyajikan fakta yang jujur dari data yang akan mereka serap dari lapangan se-nasional ini? Kita lihat saja nanti.

Kalau hal di atas adalah sisi keluhannya. Maka ada pula sisi kesyukurannya. Syukurnya adalah, mudah2an perlambatan ekonomi ini akan mendekatkan kita pada momentum dimana kita sadae bahwa rekayasa ekonomi sudah terlalu akut. Sehingga secara kompak dan massal kita mau bersama-sama kembali ke konsep ekonomi yang sederhana. Sederhana bahwa bisnis adalah tukar menukar kebutuhan, bukan rekayasa keinginan disulap jadi kebutuhan. Sederhana bahwa iklan itu mengenalkan produk, bukan menjebak. Sederhana bahwa modal itu faktor pendukung sistem, bukan penguasa sistem. Sederhana bahwa hidup yang enak itu hidup sederhana.

12/20/15

Impossible Ikhtiar

Aku hidup didesa, tapi jauh dari pelayanan alam, pelayananku dari Industri: bumbu instan, alfam*rt, gadget. Mbahku petani, tapi ilmuku teknologi informasi.

Ini sepertinya aku harus buru-buru men-download ilmu dari Mbah-mbahku. Agar aku paham ilmu bertani. Agar aku tidak bengong, nglangut, se-pasca ikhtiar. Agar aku tidak mengerjakan imposible ikhtiar.

Pak Tani itu, kalau sudah mencangkul lahan, memberi kompos dan menanam bibit, selanjutnya pekerjaannya ya tinggal menunggu. Menunggu panen.

Tinggal tugas Tuhan dan keniscayaan waktu yang bekerja. Kita menunggui saja, merawat, menjaga. Boleh menunggu sambil ngelangut, boleh menunggu sambil menggerutu. Tapi boleh juga menunggu sambil pergi 'repek' mencari kayu bakar. Atau sekedar nyeset-nyeseti bambu barangkali bisa jadi irus atau siwur.

Tapi please pekerjaan Tuhan jangan diganggu dengan mulur-mulurin batang tanaman. Kamu kira itu bisa membuat waktu panen lebih cepat?

Lah, tapi kalau panen masih lama. Kita makan apa donk? Makan tuh lamunanmu. Ya salahmu sendiri kenapa dari dulu tidak mempersiapkan umbi-umbian kek, atau tanaman sela apa kek, yang umur panennya lebih cepat, bisa untuk bahan pangan alternatif. Itu kan bisa direncanakan. Asal kamu mau berpikir detail.

Pecundang Vacancy

Entah aku harus bersyukur atau harus mengeluh. 10 tahun mencoba konsisten mengikuti katahati. 10 tahun puasa untuk tidak melacur dari mitos 'urip mapan kudu dadi pegawai'. Hari ini sepertinya semua pintu untukku berkemungkinan menjadi pekerja sudah tertutup sempurna.

Faktor eksternal adalah perlambatan ekonomi global yang mengakibatkan perusahaan makin eksploitatif memerah anak buahnya. Sudah kenyang aku mendapat keluhan kaum pekerja mulai dari yang bergaji rendah sampai yang bergaji bejibun. Dari yang bekerja di perusahaan ecek-ecek sampai yang kerja di perusahaan gedhe, segedhe gaban.

Sementara faktor internal adalah karena aku tidak mempunyai ijasah yang bonafide dan tinggalan IPK yang memadai. Ketambahan hasrat untuk kuliah lanjutan belum ada, tetap rencananya lanjut kuliah ya nanti mengisi waktu luang bersama istri setelah menikah.

Jadi, sekepepet-kepepetnya hidup. Mau tidak mau aku harus menjebol tembok inspirasi baru. Karena semua pintu pecundang sudah tertutup semua dengan sempurna. Sesusah apapun inspirasi itu dijebol. Energinya ya energi penghabisan: daripada sesak napas dihimpit keadaan.

12/18/15

Analisis Rasa

Kalau C.I.N.T.A itu sebuah program, maka ada input - proses - output. Yang orang pahami tentang cinta adalah output, bukan cinta itu sendiri. Output itu bentuknya : kecenderungan rasa. Walau cuma kecenderungan dan cuma rasa, tapi indahnya melampaui dunia seisinya.

Lalu apa inputnya? Dalam kosakata Arab disebut Ratib Al Qulub, yakni : diriku yang ada dihatinya, atau hatiku yang ada dirinya, atau bagian dari diriku yang ada di satu bagian di dirinya, atau entahlah disebut dengan apa, yang jelas maksudnya itu. Kecerdasan orang Jawa memaknainya, sehingga di Jawa dikenal falsafah : sigaraning nyowo yang diakronimkan menjadi garwo (Indonesia:Istri).

Apakah didalam diri calon pendampingmu, engkau menjumpai dirimu ada disana? Ataukah engkau tidak bisa melihatnya? Atau jangan-jangan bahkan engkau belum bisa mengetahui dan mengenali dirimu yang ada di dalam dirimu sendiri sehingga engkau kesulitan mendeteksi adanya dirimu di dalam orang lain? Welah dalah... mumet...

Loh, bukankah kecenderungan rasa itu tanda bahwa ada diriku di dirinya? Oh, belum tentu. Kok belum tentu? Belum tentu, karena parametermu atas rasa juga tak menentu. Cantik, cerdas, memukau. Langka, terpelihara, mempesona. Pukau dan pesona sekarang ukurannya suka-suka, bukan? Terkungkung rasa. Heum... dibawa merenung saja dulu... agar bisa melepaskan diri dari kungkung rasa dan memulai menganalisis.

Lalu, kalau output sudah tahu, input juga sudah tahu, lalu apakah prosesnya? Prosesnya bernama : Momentum. Momentum adalah sesuatu yang diatas kecepatan. Momentum adalah sesuatu yang harus panjang menganalisanya. Tinggal kita mau sibuk menganalisa atau mau sibuk online dengan Sang Penguasa Momentum.

Kaleidoskop 2015

Tahun 2015, tahun yang menakjubkan dan penuh kesyukuran. Di tahun ini, core activity-ku masih berkecimpung di dunia gula kelapa. Ini adalah tahun ke-4 aku membangun embrio perusahaan dari nol bersama dua rekanku, Hilmy dan Azis. Walaupun kecil, karena memang kita berangkat dari modal yang super cekak, tapi mungkin inilah satu-satunya perusahaan lokal di daerahku yang menerima berbagai penghargaan juga yang sudah melakukan ekspor langsung.

Pastinya masih panjang untuk perusahaan ini bisa seatle seperti Elang Groupnya Elang Gumilang atau sekaya Saratoganya Sandiaga Uno. Mudah-mudahan saja kita bisa memperjumpakan diri dengan banyak momentum sehingga proses yang masih panjang itu bisa ditempuh tidak harus memakan waktu yang lama.

Selain aktivitas makaryo sebagai kewajiban untuk mewajarkan diri sebagai manusia modern seperti di atas itu. Aku juga masih harus menyelesaikan pendidikanku. Aku mengambil pendidikan di bidang filsafat. Tahun ini insyaallah lulus wisuda dan bisa lanjut ke jenjang selanjutnya.

Kalau jenjang pendidikanku diibaratkan adalah belajar bertani, maka jenjang yang sedang aku tempuh adalah jenjang mengenali lahan yang kita miliki, jenis, countur dan karakteristiknya. Setelah kenal betul, di jenjang berikutnya aku diharuskan berkesperimen menentukan bibit budidaya apa yang benar-benar cocok dengan karakteristik lahan yang aku miliki. Menarik sekali pembelajaran yang sedang aku tempuh, aku bersyukur atas itu.

Selain kedua kesibukanku di atas, aku juga bersyukur bertemu dengan banyak persentuhan-persentuhan dan ekstrakurikuler baik rejeki maupun ilmu. Berikut catatan bulan perbulan yang sudah aku lalui di tahun 2015 ini :

Januari
Di bulan ini aku dan rekan-rekan disini menerima workshop keorganisasian dan kemasyarakatan dari Pak Toto Raharjo, Mbahnya LSM di Indonesia. Pendampingan dari beliau masih berlangsung hingga saat ini. Paradigma dan struktur yang beliau miliki mungkin hanya satu-satunya yang ada di Indonesia, silahkan sodorkan kepadaku kalau ada tandingannya.

Di bulan ini juga aku mendapat pembelajaran praktikal dari seorang pengusaha properti di Yogyakarta mengenai eksekusi lahan dan perencanaan klaster. Sayangnya memang aku belum berkesempatan mempraktekan ilmu ini hingga final, jadi klaster perumahan dan jadi uang.

Selain itu aku juga sedang getol belajar mengenai perencanaan paket program umroh dan perencanaan umroh backpacker, menimba ilmu dari teman-teman yang aku kenal dari jejaring di dunia maya. Tapi niatanku bukan untuk membisniskan ini, niatanku untuk mencari jalan termudah dan termurah bisa berhaji/umroh.

Februari
Cak Dil dari Malang dan Doktor Heri dari Jogja memberikan kepada kita pembelajaran tentang material konstruksi alternatif. Beberapa rekan mempraktekkan penggunaan material alternatif ini beberapa hari di Laboratorium milik Doktor Heri di Jogja. Sayangnya hingga saat ini, produk pengembangan yang kita tekuni belum bisa diorientasikan ke pasar.

Maret
Hall utama di hatiku harus dikosongkan, karena seseorang yang berada disana, di awal bulan ini dilamar orang. Dan lima bulan kemudian, mereka ditakdirkan menikah. Ah sudahlah..

Di hari yang sama, house of L22 yang menjadi basecamp komunitas milik rekan-rekan harus dikosongkan. Saatnya move on, hijrah.

Kesibukanku di bulan ini adalah berpartisipasi di beberapa workshop, diantaranya di Karanjambe di tengah hutan pinus Banyumas selatan, juga berpartisipasi di workshop di Magelang untuk teman-teman Komunitas Maneges Qudroh.

April
Selama tiga hari tiga malam kita mengodhog model embrio bank komunitas. Tandon uang tidak harus berada di luar komunitas, karena yang terjadi selalu akan seperti bank pada permainan monopoli yang selalu kaya raya dan semakin kaya raya sendirian.

Di bulan ini, aku menuntaskan prosesi "nedhak sungging", yakni melacak family tree, nama dan makamnya dimana. Kali ini yang baru bisa aku tuntaskan dari jalur ibu. PR untuk menyusuri jejak leluhur dari jalur bapak mudah-mudahan aku tuntaskan tahun depan.

Basecamp baru belum bisa disiapkan, kita menyiapkan basecamp alternatif. Di Kota Purbalingga. Proses rehab bulan ini dikerjakan dan segera kemudian bisa ditempati.

Mei
Akhirnya kita merealisasikan ekspedisi napak tilas pejuang Islam di Jateng, Jatim & Madura. Tercatat : Demak, Kudus, Tuban, Gresik, Bangkalan, Pasuruan dan Jombang disambangi dalam 3 waktu trip yang berbeda.

Kemampuan Bahasa Inggris-ku yang pas-pasan lagi-lagi ditagih oleh keadaan. Di bulan ini pula aku menerima kunjungan beberapa buyer gula kelapa, bulan ini tumben agak banyak.

Juni
Pindahan dari Griya Satria di Sumampir ke Sapphire Residence di Karangwangkal. Walau baru ditempati dua bulan kemudian.

Juli
Aku, Hilmy dan Azis menunaikan Ibadah Umroh akhir Ramadhan. Perjalanan didahului dengan Backpacker edisi Safari Ramadhan di Filipina, Singapura dan Malaysia. 

Memasuki lebaran, acara disibukkan dengan berbagai ritus halal bihalal. Salah satu yang paling seru adalah halal bihalal keluarga di Puncak Sikunir, Dieng.

Agustus
Kali ini kita kedatangan Guru Bangsa Emha Ainun Nadjib. Sebuah kehormatan dan kesyukuran tersendiri bagi orang-orang yang paham kadar kenegarawanan beliau. 

Di bulan ini juga aku diajak fieldtrip ke Pemalang untuk mempelajari budidaya Udang Vaname. Azis ditugasi untuk mengawal riset praktek secara langsungnya hingga sekarang masih berlanjut.

September
Silaturahim perdanaku dengan ulama kesohor yang paling dituakan di negeri ini, Kyai Haji Mustofa Bisri (Gus Mus) di sebuah Ponpes di Parangtritis, Yogya.

Di kali lain di bulan ini, aku berziarah ke makam Guru Bangsa Tjokroaminoto, Yogya. Di makamnya tertera sebutan kehormatan beliau, Tjokroaminoto Jang Oetama, Beliau adalah negarawan besar sekaliber Diponegoro yang berkiprah 70 tahun sesudahnya.

Oktober
Seminggu di Netherlands. Ini kali kedua aku mengunjungi negeri Kincir Angin, kali ini dalam rangka ikut rombongan misi perdagangan Gubernur Ganjar Pranowo. Netherlands, negeri mungil yang sangat menginspirasi.

November
Aku menyebut bulan ini sebagai bulan follow up. Jejaring baru yang aku dapatkan selama hampir setahun, beberapa terlewat belum difollowup-i, saatnya dimaintain lagi baik-baik.

Di bulan ini, untuk pertama kali secara resmi keluarga Juguran Syafaat menghadap ber-pisowanan agung ke Rumah Maiyah di Kadipiro, Yogya terkait beberapa agenda pokok yang hendak dikerjakan kedepan.

Desember
Mengikuti perhelatan silaturahmi nasional penggiat maiyah di Magelang. Aku berkesempatan menjadi salah satu presenter. Dan katanya presentasiku memukau. Alhamdulillah.

Dan dibulan ini, project Epistemic Community untuk dua kabupaten sekaligus ditabuh gong pertanda dimulai.

Canggih & Tekun

"Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis."

Simbah,
11-04-2015

Bincang-Bincang

Sudah lama aku tidak bincang-bincang bisnis. Bisnis ya eksekusi. Bahwa ada peluang inovasi, atau creating something new itu lah butuh bincang-bincang. Tapi itupun tidak sebatas bincang-bincang saja sebetulnya. Tapi memperbincangkan bagaimana harus eksekusi, mulai darimana yang akan dieksekusi.

Bahwa satu-satunya alasan tidak berbincang adalah karena sedang eksekusi. Kalau tidak ingin berbincang, lakukanlah eksekusi. Kalau tidak ingin eksekusi, berbincang-bincanglah. Teruslah berbincang, berhentinya ketika hendak eksekusi. Jangan hentikan eksekusi, kecuali mau berbincang-bincang.

Terbiasa Menduga-Duga

Menurut catatan sejarah, Banyumas adalah tempatnya para pertapa. Kata Cak Nun, orang Banyumas kalau kungkum atau tirakat jenis lainnya, mereka "gentur" betul. Bagi para pertapa, lapar itu nikmat. Bagi para pertapa, rezeki tak diduga-duga adalah keindahan. Sekalipun minhaitsu laa yahtasib bukanlah berarti rezeki yang didapat tanpa bekerja.

Bekerja bukan untuk mencari rezeki. Bekerja adalah ungkapan syukur atas setiap hal yang diberikan. Bahwa setelah bekerja dapat rezeki, itu sesuatu yang tidak diduga-duga, Ini nih yang sulit, sebab kita tidak terbiasa menghitung hal-hal yang harus disyukuri. Terus lagi kita terbiasa menganggap yang namanya bersyukur adalah cukup dengan mengucapkan Alhamdulillah, bukan diejawantahkan dalam kerja. Dan kalau kerja, yang diduga-duga dan dihitung-hitung dengan rigid adalah, akan memperoleh berapa nih nanti?

Bantaeng

Kabupaten Bantaeng berjarak 120 km dari Makassar, Ibukota Sulawesi Selatan. Tempat dimana Pantai Seruni yang aku ingin kesana berada. Kabupaten ini punya Bupati yang top markotop, Nurdin Abdullah namanya.

Bupati pertama yang bergelar profesor. Nurdin tidak seterkenal Risma atau Ridwan Kamil, tapi pencapaiannya jangan ditanya. Profesor yang pernah sekolah dan kerja di Jepang ini mengabdikan diri untuk daerahnya dengan dedikasi yang menurut saya keren. Dari Shubuh, pintu rumahnya terbuka untuk semua warga. Persoalan darurat sosial seperti banjir ia pelajari langsung tanpa perantara sehingga dapat menentukan solusi yang tepat dengan segera.

Kabupaten ini andalan pendapatan asli daerah (PAD)-nya adalah pertanian. Tidak mudah meng-amplify pendapatan dari sektor pertanian dalam waktu singkat. Maka solusinya adalah, ia banyak menggondol hibah dan kerjasama dari luar : Jepang, China dan Korea.

Ini yang menurut saya keren. Ia paham betul keterbatasan wilayahnya, dan cerdik memanfaatkan peluang yang paling memungkinkan. Betul, kita tidak bisa memaksakan sumber daya yang memang tidak bisa di-amplify dalam waktu singkat. Yang diperlukan adalah memahami kelemahan dan tantangannya, serta mencari sumber daya alternatif.

Saya membayangkan jika saya di posisi bupati, di daerah saya atau dimanapun. Yang repot paling sangat adalah soal teamwork. Dengan etos teamwork seperti PNS Pemda saat ini, apa yang bisa saya perbuat, konsep yang bagus paling hanya akan dibendel di sekretariat daerah. Harus ada team alternatif. Dan untuk team alternatif, harus ada source dana khusus. Dicontohkan oleh Prof. Nurdin di Bantaeng, ia mencari sumber daya dari luar negeri. Tinggal di adaptasi.

12/12/15

Jebakan Motivator

Diskusi itu membutuhkan skill. Karena dalam diskusi, kita dituntut untuk pertama:sanggup mendengarkan lawan bicara kita. Kedua:sanggup mengelaborasi materi dari lawan bicara kita.

Beberapa orang meremove akunku, hanya karena enggan diajak diskusi. Dan kebanyakan darinya adalah para motivator. Bukan karena aku pandai diskusi, tapi karena materi diskusiku mengganggu jualan mereka.

Menurut pandanganku, menjadi motivator itu tidak jelek. Tetapi bahwa banyak diantara mereka menjadi motivator hanya urusan jualan, itu memang benar. Daya nalar dan ketahanan mental mereka diatas panggung beda dengan di keseharian aslinya. Bagi mereka pencitraan adalah nomor satu, soal inputan ilmu-ilmu baru yang mungkin didapat dari diskusi mereka sangat resisten. Kalau-kalau inputan ilmu baru itu justru merusak komoditas paket training yang mereka jual.

Pandai-pandailah membeli motivasi, jangan terjebak.

12/11/15

Rumah Jawa Masakini

Rumah orang Jawa jaman dulu itu lebih ideal ketimbang produk developer masa kini. Setidaknya pemfungsiannya lebih optimal. Setiap sendi arsitekturnya mengandung filosofi. Kalau digali, bisa satu diktat sendiri hanya sekedar mengupas adiluhungnya produk arsitektur orang jaman dulu. Orang yang dicap kuno, tapi cara hidupnya jauh lebih mutakhir dibanding orang sekarang.

Kalau mau copy paste arsitektur jaman dulu, tentu saja susah. Kayu mahal, tukang mahal. Apalagi tanah, muahaaal. Maka, karena yang penting substansinya bukan bentuknya. Paling tidak, ada nilai-nilai substansi yang tetap terjaga, walau bentuk, juga ukuran rumah tidak bisa kita tiru untuk dihadirkan dimasa kini.

Ada banyak tentu saja, kita ambil lima saja misalnya apa-apa yang ada di rumah jaman dulu dan bisa kita adaptasikan untuk kita hadirkan di rumah masakini.

1. Padasan
Gentong air di depan rumah yang bisa dimanfaatkan untuk pejalan kaki yang butuh minum atau cuci kaki. Ya, kalau sekarang bisa lah dengan menaruh keran cuci mobil di depan rumah.

2. Halaman
Halaman yang luas, bisa untuk taman bermain gratis, tempat berkumpul anak-anak kita dengan anak-anak tetangga. Ruang interaksi yang multifungsi. Ya, kalau sekarang tidak harus seluas halaman rumah jaman dulu, mahal tanahnya. Tapi kita bisa memanfaatkan carport, dioptimalkan untuk ruang interaksi bagi siapa saja, jangan malah dibuat sesak dengan perabot. Pot pun sekadarnya saja.

3. Ruang Tamu
Ruang tamu jaman dulu memakai risban dan meja besar, enak untuk diskusi sambil medang. Kalau perabot besar macam risban dan meja besar malah mempersempit ruangan, yang penting ruang tamu dibuat lega, tapi tetap bisa untuk ngobrol formal dan diskusi berpanjang-panjang. Juga bisa untuk pisowanan, dimana orang-orang bertamu bermaksud menghadap, berkonsultasi atau sekedar meminta saran. Jangan malah ruang tamu disetting untuk sales-friendly belaka.

4. Dapur
Dapur itu bukan ruang belakang. Sekalipun ruangannya ada di belakang. Dapur adalah hal paling primer dalam rumah. Segala sesuatu yang dinikmati di rumah asalnya adalah dari dapur. Walaupun tidak bisa menghadirkan dipan untuk menyambut tetangga ngendong, para-para untuk menaruh barang yang harus keep warm, setidaknya, dapur tetap kita pandang sebagai ruang yang primer, bukannya ruang yang paling terabaikan. Sekalipun kita tidak suka memasak.

5. Ruang Pribadi
Ruang untuk meditasi atau uzlah atau tafakur. Ruang untuk me-time. Bisa didesain suka-suka, tidak harus bernuansa etnik klasik seperti ruang meditasi di keraton milik raja. Yang penting bisa untuk merenung dan menenangkan diri. Kalau lahan terbatas, kita bisa memanfaatkan loteng.

Begitulah kalau prinsip-prinsip itu tetap dijaga, sekalipun bentuknya sama sekali berbeda, tapi kita sudah berasa berada di Rumah Jawa.

Spirit of Jamaah

Keuntungan kita hidup di lingkungan teman-teman yang kebanyakan sudah pada menikah adalah kita mendapat booster etos kerja alami. Pagi-pagi masih kepengin tidur, sudah di-oyak-oyak untuk cari orderan. Sore-sore sudah kepengin pulang masih dipaksa nambah setoran. Malam hari, masih disuruh mantengin lemburan. Iya lah, over head cost orang menikah kan lebih tinggi dibanding para jomblo.

Maka untungnya lagi adalah, ketika kerja bersama dan dapat hasil yang sama, buat yang sudah menikah untuk belanja sekeluarga. Buat yang belum, untuk belanja sendiri. Eh, ini keuntungan apa kerugian yah. Hehe..

Begitulah kalau kita berada di lingkungan komunitas yang positif juga solid. Beda kalau kita berada di lingkungan komunitas yang egois. Begitu banyak tanggungan di rumah, komunitas ditinggalkan. Cari kerjaan dan kesibukan sendiri diluar. Urusan "spirit of jamaah" kagak urusan dah, yang penting gua rajin sholat jamaah di masjid inih.

11/28/15

Derajat Ilmu

Kadang-kadang mikir, mending jadi orang yang banyak enggak tahunya saja. Jadi, ketika ada orang lain minta masukan, aku tidak dibebani kewajiban untuk memberi masukan. Karena memang tidak punya pengetahuan untuk membuat masukan.

Daripada, tiwas sudah meminta masukan, diberi, eh tidak dipake. Dibuat berceceran begitu saja. Tapi yah, itulah kenapa orang berilmu ditinggikan derajatnya. Kompensasi atas beratnya berlaku bijaksana. Harus menahan diri, daripada obral masukan. Meski gemes nggak karuan melihat tingkah polah yang sebetulnya bisa aku berii masukan.

Maksud Sang Nabi

Kalau diantara kita ada yang berani menghukumi bahwa Syiah bukan Islam. Apalagi Khawarij. Kalau syiah saja tidak dianggap bagian dari Islam, terlebih mereka kaum Khawarij.

Tapi apa berani menghukumi khawarij itu bukan Islam. Sedangkan mereka bajunya Islami, rujukannya Quran dan Sunnah. Cara penafsiran dan penerapannya saja yang sakpenakwudele dhewe. Maka yakin, tak berani kita menghukumi kaum khawarij itu bukan Islam.

Kalau menghukumi syiah bukan Islam berani. Karena media berkata begitu. Wong kita lebih sami'na wa ato'na kepada media. Ketimbang bertabbayun pada maksud-maksud Nabi pada Sunnah-sunnahnya.

Sebegitu kita tidak mengenal baik Nabi kita sendiri, sehingga ketika tafsir atas perkataan Nabi dimanipulasi sedemikian rupa, kita masih yakin bahwa itu memang benar-benar yang dimaksud oleh Nabi.

11/27/15

Sulitnya Hidup Jujur

Sulitnya hidup jujur. Jujur itu bukan sekedar ngomong ke orang lain yang benar. Kalau itu jujur fisik. Jujur dalam hidup hakikinya adalah kita tidak mengingkari anggukan universal alias kebenaran murni yang tersimpan di dalam hati.

Kalau mau hidup tidak jujur gampang sebetulnya. Sekolah dan kuliah yang nurut. Kejar nilai tugas dan ujian yang baik. Lulus cari kerja yang menjanjikan. Kerja yang nurut. Disela-sela kerja, sholat yang rajin. Ikuti majelis taklim, rajin mengisi infak ini, infak itu.

Diwaktu senggang hafalkan beberapa dalil. Kuasai keahlian ceramah dg itu, bawakan dengan santun. Kejarlah pahala, nikmatilah dunia.

Semua kebenaran sudah tersaji. Tinggal rajin membaca teks agama. Hindari perdebatan. Ikuti mainstream. Dikala jenuh, sesekali berwisatalah, hitung-hitung mengambil jatah kebahagiaan duniamu.

Mudah bukan? Modalnya nurut. Taat. Pada aturan Tuhan dan Nabi. Tak perlu berpikir sedikitpun bukan untuk menjalani cara hidup seperti di atas? Enak, pikiran enteng, tak perlu banyak yang harus dikaji, diterjemahkan, dikontekstualisasi. Waktu senggang dan waktu tidurpun cukup.

Saking enaknya, bahkan kita tak perlu berpikir untuk meneliti, yang disampaikan tentang perintah Tuhan dan Nabi itu dituturkan oleh siapa? Siapa kelompok yang menuliskan menjadi bacaan tafsir kita? Adakah kepentingan mereka kepada diri kita?

Dan yang terpenting, kita sama sekali tidak perlu berpikir. Apakah yang mereka tuturkan dan tuliskan tentang Tuhan dan Nabi itu sudah betul-betul bisa mewakili yang benar-benar dimaksud oleh Tuhan dan Nabi? Atau jangan-jangan belum.

Maqomat

Kalau di arloji, maqomat aku itu enggine bukan interface. Kalau di kantor, kecenderungannya aku di backoffice bukan di frontoffice.

Aslinya bagian paling pas buatku ya di dapur. Tidak lihai ngurusin permukaan. Tapi bagaimanapun, 'kutukan' trah dari mbah-mbahku adalah aku harus mandito tapi juga harus siap satrio.

Harus pandai mikir. Tapi juga harus kalau 'terpaksa' dibutuhkan untuk tampil ya harus bisa. Tiba-tiba disuruh presentasi didepan juri nasional. Harus naik panggung disorot kamera tv nasional. Harus negosiasi dengan wong londo dengan bahasa mereka. Harus berbicara didepan umum. Minimal tidak ngisin-ngisini.

Tapi jangan salah mengenali maqomatmu. Aslinya ya kamu urusan dapur. Bahwa bisa tampil, itu jurus darurat belaka. Jangan malah terbuai sibuk cari panggung. Dan lupa nguleg ide, mblender gagasan di dapur.

Dan jangan membanding2kan diri dengan kualitas mereka yang maqomatnya memang dipanggung.

11/15/15

Genting

Malam-malam tidak bisa tidur. Seperti AH Nasution di penghujung September 65, seperti Soedirman di 28 Februari 1949. Sesuatu yang besar akan segera terjadi. Ontran-ontran. Genting. Tapi bukan chaos fisik, bukan huru-hara massa. Tapi membaliknya iklim, berganti drastisnya cuaca kehidupan bangsa kita.

Semoga bisa menyambutnya dengan sebaik-baiknya. Minimal menyadarinya. Syukur sekali menjadi bagian dari mekanisme kejadiannya.

10/31/15

Indonesia Bagian Facebook

Akhir-akhir ini inginnya menangis kalau sesekali aku mengintip timeline facebook. Bahkan kaum jahiliyah Arab dahulu saja masih mengerti sastra, masih tahu ilmu olah kata, masih mampu menanfsir menerawang makna.

Sedangkan sekarang, orang membagi ilmu tanpa ilmu. Orang berbaju agama dengan telanjang akhlak. Memberi nasehat tanpa empati. Berbagi tujuannya eksistensi. Jualan baju sampai jualan kata bijak.  

Untung semua itu, wilayah facebook cuma bagian kecil dari Indonesiaku.

10/19/15

Ubed: Simple Selling

Cita2nya M. Yunus pendiri Grameen Bank menarik: Kelak, anak cucu kita hanya akan melihat kemiskinan di museum.

Maksudnya, semua orang kaya dan berkecukupan. Kemiskinan hanya jadi diorama di museum. Apa bisa? Bisa. Ah masa? Kita nggak percaya kab karena kita closed dari informasi pra generasi kita. Kita hanya tahu dan meyakini apa yang kita alami di generasi kita. Ya maklum, ini generasi memang zamannya orang mustahil menjadi kaya tanpa memiskinkan orang lain. Mustahil kenyang, tanpa melahap orang lain.

Contoh lain yang kita gagal mengakses informasi dari generasi sebelum kita adalah adanya cara hidup "Ubed". Ubed itu cari duit dengan apa saja, untuk berlangsungnya hidup. Walaupun dengan cara "apa saja", bukan berarti tidak ada pola atau struktur teknologinya. Ubed itu "simple selling". Sekarang Ubed hanya ada di museum saja.

Yang ada sekarang adalah "Selling for Salary". Mau sehebat apapun anda jualan, kalau belum punya gaji tetap. Hidup anda tidak aman. Kalau di negara maju, tambah lagi rong2an tidak amannya: kalau hidup belum punya asuransi.

Begitulah, karena tidak ada museum ubed, hidup tanpa gaji dan asuransi menjadi tahayul. Sedangkan kita yang mau mengkaji ilmiahnya teknologi ubed, sudah tidak ada jalur untuk mengaksesnya.

10/16/15

Pejabat & WhatsApp

Di hari terakhir dari perjalanan singkatku ke Netherlands kemarin, aku dan rekan-rekan UKM lainnya berbincang dengan Pak Dubes dan Pak Gubernur Jateng di restaurant hotel. Memperbincangkan hasil-hasil kegiatan kemarin dan rencana-rencana follow up.

Ada yang menarik buatku, Pak Dubes memegang HP. Pak Gub sepanjang dari awal acara aku tak melihatnya pegang HP. Itulah beda gaya pejabat di dua negara. Di Indonesia mungkin pejabat riweuh luar biasa kalau pegang hape karena setiap detik ada satu pengajuan proposal masuk. Sedangkan Pak Dubes yang sudah terbiasa ikut gaya pejabat di Netherlands terbawa egaliter dan humble, asik saja WhatsApp-an. 

Sudah terkenal di Netherlands, anggota Parlemen ngantornya naik sepeda. Istana ratu tidak dikasih kawat berduri, kita bebas mendekat foto-foto. Jangankan suara sirine iring-iringan pejabat, suara klakson pun sangat jarang terdengar.  Disana yang kerajaan, disini yang kok masih feodal?

Republik atau Dagelan

Indonesia adalah negara pembangunan. Cirinya adalah banyak kita jumpai toko-toko bangunan. Beda dengan Netherland, penduduknya malas-masal memperbaharui cat rumahnya. Akibatnya rumahnya kusam-kusam. Susah menjumpai toko cat disini. 

Saat membangun, disaat yang sama kita merusak. Kalau bangunan yang baru, cat yang baru, ternyata kalah kualitas dari bangunan lama, cat lama. Masih sahkah kita disebut pembangun? Atau malah pasnya disebut perusak? 

Sejarah tak bisa cukup disimpan di buku. Juntaian bata, bongkahan semen, julangan cor menjadi saksi kebesaran sebuah peradaban ketika ia mampu bertahan lama melintasi generasi-generasi. Tugas negara adalah menjaga otentisitas masyarakat dan produk peradaban masyarakatnya. Salah satunya adalah bangunan. Sehingga generasi mendatang bisa belajar banyak dari tinggalan leluhurnya di masa lalu. Dari integritasnya membuat takaran semen. Dari penataan bangunan dan pengaturannya dengan sekeliling-sekelilingnya. Dari citarasa arsitekturnya. Semua adalah kekayaan ilmu luar biasa.

Ketika sebuah bangsa sibuk memborbardir trotoar dengan pelebaran jalan. Lalu disisi kiri kanan dihabisi semua jadi kios dan ruko. Apa yang bisa generasi mendatang petik? Hari ini di Indonesia harga ruko semakin tak terjangkau. Kebanyakan tutup, mangkrak ditinggalkan penghuningnya. Sebagian lainnya diam termangu menjadi agunan bank. Ternyata modernisasi, pemadatan kota, tidak selalu beriringan dengan semakin meluasnya peluang ekonomi dan percepatan ekonomi. 

Ini Republik sedang membangun, meninggikan beton, mengecat atau sedang dagelan to?

Kebebasan Terbatas

Konon katanya, Amsterdam adalah kota kebebasan. Bahkan lebih bebas dari kota-kota besar lainnya di Eropa. Kota ini lebih rame dan crowded dibanding kota lain di Netherlands. Maklum, dia ibukota negara. Sekaligus kota yang sangat touristy. 

Kalau datang ke kota ini, tas taruh depan. Dompet amankan. Passport dan uang amankan melekat di badan. Begitu wanti-wanti banyak orang. Di kota ini kita harus waspada dari copet. Kalau mau tidak repot, backpack dan koper bisa dititipkan di locker di Bandara Schiphol sebelum menjelajahi kota ini. 

Sajian untuk turis di kota ini memang sangat maksimal. Bagi pecinta sejarah, ada banyak sekali museum, yang terbesar namanya Rijk Museum. Bagi ibu-ibu sosialita, ada pabrik pengasahan berlian yang menyuguhkan asahan khas Amsterdam yang begitu bergengsi di dunia. Ada Canal Cruise bagi yang ingin menyusuri Amsterdam via kanal-kanal air. Ada juga buat anak-anak wahana pendidikan Nemo Science Center. 

Dan yang pasti jangan lupa jepret foto di landmark tulisan I AM AMSTERDAM yang terkenal itu.

Bukan hanya menyuguhkan wahana turis yang positif. Yang tidak positif juga ada. Namanya Red light Distric. Aquarium berisi wanita berbusana bikini yang bisa langsung di booking. Dia ada di jalan yang terlokalisir khusus, buka sejak matahari terbenam hingga dinihari. Ramainya tempat ini membuat pemerintah memberikan service yang luar biasa prima, sampai-sampai ketika musim dinginpun sungai disekitarnya dibuat tidak beku agar satwa-satwa bisa tetap ikut membangun suasana tourism disana. 

Begitulah kebebasan yang ditawarkan oleh kota Amsterdam. Bebas tapi tetap dibatasi lokasi. Sama halnya bagi yang ingin nge-fly atau sekedar nyimeng, dikota ini "halal" melakukan itu, asalkan dilakukan di tempat khusus yang bernama "coffeshop". Jadi jangan salah mencari kopi ya disana. 

Konon kata pemandu tourku, orang penduduk asli sendiri tidak tertarik dengan coffeshop, para turislah yang banyak meramaikan. Orang penduduk asli ketika diberi kebebasan malah sudah bosan. Para turislah yang pergi jauh-jauh ke Asmterdam menemukan kebebasan.

10/9/15

Edan-Wifi

Nggak banyak tulisan wifi gratisan, tapi kalau di seek ada. Bukan cuma ada, tapi kuenceng. Padahal gratisan. Itulah Netherlands. Dan mungkin begitu juga kebanyakan negara Eropa lainnya.

Apakah bentangan jarak untuk transfer teknologi antara Eropa di Barat hingga pojokan tenggara Asia masih sebegitu jauhnya hingga kondisi kedua belahan bumi untuk urusan koneksi internet saja begitu berbeda?

Ah, perjalanan pesawat saja hanya 14 jam ditempuhnya kok. Perjalanan transfer teknologi internet aku rasa nggak beda-beda jauh. Yang beda mungkin manajemennya. Kalau di negara maju, orang kaya dan yang benar2 butuh akses spesial mau membayar mahal. Begitupun negara mau membayarkan untuk rakyatnya pembangunan infrastruktur IT. Sehingga terjadi subsidi silang. Sehingga dimana-mana ada wifi gratisan. Di pinggiran hotel. Di kereta. Di bus. Di taman.

Sementara di belahan bumi lain tempat negara2 berkembang, internet dijual murah, sekalipun kepada mereka yang mampu dan mau bayar mahal.

Begitulah. Ke Netherlands, tak perlu beli kartu internet. Rajin-rajin hunting wifi di public area saja. Gartis. Kuenceng. Edan.

10/8/15

Roti Belanda vs Nasi China

Orang Asia kalau ke Eropa paling galau kalau nggak ketemu nasi. Padahal bukannya wagu, kalau cuma mau makan nasi si dirumah bisa. Mumpung ke-Barat, ya berlagaklah jadi orang barat. Makan roti, keju, minumnya susu.

Aku sendiri bukan termasuk yang risau berhari-hari nggak ketemu nasi. Bahkan kalau boleh memilih, mending aku makan roti belanda daripada makan nasi Chinese food. Seenak-enaknya nasi di negeri barat, tetep saja kalah sama nasinya orang Purwokerto. Apalagi nggak ada sambel tlenjenk lombok ijonya.

Tapi seenggak akrabnya perutku dengan roti dan keju. Aku akuin aku suka karena aneka roti-rotian mereka memang lezat, padat dan mengenyangkan.

Kalau dihidangkan dengan susu. Susunya enggak dikorupsi takarannya. Kalau disandingkan dengan butter, butternya enggak pakai perisa. Kalau dilahap bareng keju, kejunya aneka macam. Kalau disuguhkan dengan jus buah, segar beneran jusnya.

Gimana nggak sehat, gimana nggak smart kalau makanannya kualitas prima begini.

10/7/15

Cash Mindset

Pegang cash dan tidak pegang cash itu mindsetnya beda. Pegang cash sedikit dan pegang cash banyak, mindsetnya juga beda. Itulah kenapa dalam business coaching selalunya kita diajarkan untuk: seberapa besarpun utang bisnis anda, pertahankan cash income anda.

Kalau pergi ke tempat perbelanjaan mengantongi banyak Euro, apa-apa terasa murah. Padahal, perbandingan harga dengan barang sejenis di Indonesia wooow juga.

Maka rem paling ampuh adalah kalkulator. Hitung kurs sebelum membeli. Jangan cuma lihat angka di price tag terlihat kecil. Ingat loh itu logonya "€" bukan "Rp" hehe. Dan rem lainnya adalah, jangan bawa cash terlalu banyak.

Tapi kadang-kadang, susah juga orang kita yang overromantic. Buat orang2 tersayang, oleh-oleh berapa saja harganya dibeli.

Gantungan kunci €2 alias 30ribuan. Padahal di Malioboro 10.000 dapat 3 kali. Tshirt €10 alias 150.000an. Padahal di tanah abang 30.000 masih bisa ditawar kali. Lalu Jaket, ada €150 padahal kalau di Indonesia, tinggal tambahin nol 3 tapi ganti dulu logonya jadi IDR. Eheee...

Tapi ada satu oleh-oleh yg lebih murah dibanding beli di Indonesia, yaitu: Cokelat... Pinter2 saja carinya. Salah satunya bisa didapat di Albert Heijn. Borong saja yang banyak. Daripada nyesel nanti pulangnya... :D

10/6/15

Qiyamulail di Perpust

Budaya itu terbentuk oleh tuntutan zaman. Seperti budaya belanja di Netherlands misalnya, orang terbiasa berbelanja siang sampai sore saja. Sebab toko baru buka jam 10 atau 11 pagi. Dan sedikit saja toko yang buka hingga di atas jam 6 sore. Kenapa singkat sekali waktu belanja? Karena gaji karyawan mahal.

Kalau budaya mengunjungi tempat perbelanjaan waktunya singkat, budaya mengunjungi perpust waktunya lama. Perpust buka sampai jam 2 dini hari. Itu kata Mas Selo, mahasiswa master di Univ Delft asal Malang yang membantuku disini kemarin. Dia membantuku di event Misi Dagang Jateng bersama Pak Gub kemarin di Schakenbosch, Den Haag.

Enak kalo perpust sampai dinihari. Nggak harus pinjam buku, nggak harus baca buku kan disana. Sekarang jaman gadget, informasi cukup dipantengin di depan layar.

Loh, kalau cukup dipantengin di layar, bisa dirumah noh? Bisa. Tapi kan kalau di perpust bisa rame-rame, bareng-bareng, engga ngantuk jadinya.

Bisa juga qiyamul lail jamaah disana. Qiyamul lail artinya mendirikan malam. Mendirikan malam bisa dengan :
1. Tadzabur alam
2. Membaca Qur'an
3. Menuntut ilmu.

Tadzabur alam bisa dengan tafakuf merenungi malam. Membaca Qur'an bisa dengan sholat tahajjud juga. Menuntut ilmu, bisa dengan mengerjakan tesis atau belajar ilmu lainnya.

Loh. Mengerjakan tesis kok qiyamul lail. Ya nggak bisa to? Ya nggak bisa kalau cara pandang kita sekuler. Ilmu dunia dan ilmu agama dipisah.

Karena di Indonesia jarang perpustakaan buka hingga waktu tahajjud, haha, sampai waktu ashar juga jarang, ya sudah perpustakaan kita di halaman rumah, tradisi intelektuali kita langsung dibawah langit.

Kalau tidak begitu, kapan qiyamul lail kita mengungguli budaya yang Barat punya?

Ijtihad Toilet

Di negara maju seperti di Netherlands ini salah satu yang keren adalah di soal kebersihan toilet. Walaupun tetap saja tidak semua. Toilet umum di taman-taman kota misalnya, pesing juga.

Tapi satu hal, tidak dikenalnya budaya 'bersuci' ala Islam disini, membuat aku kerepotan juga. Disinilah skill ijtihad sosial ditagih.

Loh, bagaimana coba, orinoar nggak ada air bilasnya. Closet nggak ada washernya, cuma ada tisyu.

Tinggal putuskan sendiri kita, apa nawaitu istinja (bersuci dg benda kering dlm keadaan darurat), nawaitu peper (cebok tanpa air), atau bawa botol atau gayung buat wadah air, atau kencing & mulesnya ditahan saja sampai kembali ke tanah air.

Tentu saja keputusan-keputusan kita akan tergantung situasinya. Disitulah ada kebenaran kontekstual atas ijtihad kita. Karena kebenaran tidak selalu cuma satu.

10/5/15

Gaya Hidup Mahal

Rokok itu sekarang bagian dari gaya hidup. Tentu saja gaya hidupnya orang yang merokok. Saya tidak.

Bahkan bukan cuma di jaman sekarang, jaman dulupun rokok itu gaya hidup. Lalu apa yang membedakan gaya hidup merokok jaman sekarang dan jaman dulu.

Kalau jaman dulu, mbako tinggal ambil di kebun. Klobot ambil sisa panenan jagung. Gratis. Jadi mau sehari 24 batangpun nggak ada masalah.

Sedangkan kalau sekarang, rokok harganya belasan ribu. Kalau gaya hidup seseorang itu satu hari dua bungkus merokoknya, ya tinggal dihitung sendiri ongkosnya.

Itulah bedanya gaya hidup jaman sekarang dan jaman dulu. Jam 6 pagi kemarin lusa, aku landing di Schiphol Airport, Amsterdam. Rekanku ada yang bawa satu pak rokok gudang garam merah.

Konon rokok Indonesia dicari disini. Selain itu, untuk kebutuhan dia merokok sendiri disini. Maklum, disini harga rokok 6 kali lipat. Kalo di Indonesia satu bungkus 15.000. Disini 6 Euro.

Begitulah mahalnya gaya hidup merokok disini. Tinggal pilih, mempertebal kantong, atau mengganti gaya hidup