5/27/09

Jaman Heboh Khitan


Entah anak SD sekarang, jaman kelas 4 SD dulu sekitar tahun 1995 akhir anak-anak seumuran saya dan saya sendiri heboh membicarakan soal khitan, satu kejadian sadis bermodus operasi lokal yang akan menimpa semua anak laki-laki yang mengaku dirinya benar-benar jantan.

Perbincangan seputar hayoo siapa yang sudah, siapa yang belum. Terus yang sudah menakut2i yang belum (dan yang belum penasaran pada yang sudah, bagaimana si hasil kreativitas sang mantri [atw sang dokter untuk yang sedikit modern).

Ada yang takut, ada yang penasaran, ada yang menantang, rupa neka reaksi mereka. Saya termasuk yang takut, hingga akhirnya saya bukan termasuk generasi 'awalun' untuk soal khitan. Waktu itu tahun 2000 baru saya menjumpai oprasi nan sadis ini, kelas 1 SMP cawu (waktu itu masih caturwulan) ketiga, persis seminggu sebelum Giri, salah satu sahabat baik saya (Anehnya kok lamaan saya sembuhnya).

Yah begitulah, sebelum waktu itu tiba, sering minder kalau teman2 yang sudah pada ngobrolin teman ini. Kok saya belum ya? ah tapi pikir saya, yang belum juga masih banyak kok. Ya, seolah2 yang nggak dikhitan2 adalah pengecut yang takut saya jarum suntik dan seperangkat alat mengerikan lainnya.

Namun berganti satu dekade kemudian, mulai tahun 2005 akhir saya mengenal vocab bernama "menikah". Ya, waktu itu yang ada dipikiran saya adalah pada saatnya nanti 'saya akan menikah', lalu seiring dengan perjalanan waktu berganti menjadi 'saya harus menikah', lalu berganti lagi semakin ekstrim menjadi, 'pokoknya saya harus menikah', lalu kesempatan demi kesempatan datang menjadi 'ayo menikah', lalu ke kerabat dan keluarga 'saya ingin menikah', lalu bermunajat pada Tuhan 'mampukan saya menikah', lalu sekarang 'kapan saya bisa menikah?'... ehm... belum belum belum, sebelum itu 'dengan siapa saya menikah?"

sejak 2005 lalu sudah banyak yang mengambil lajur kanan untuk mendahului, Ikhwan dengan Inung, Ms Azis dengan orang Bobosan, lalu sebelumnya ada Wesley, lalu salah satu sepupu dekat saya, sebentar lagi juga satu lagi sepupu dekat saya, lalu Karyanto, dan seterusnya dan seterusnya.

Sempat terlintas cemas, kapan selanjutnya saya? eh bukan bukan bukan, sebelum kapan adalah dengan siapa nanti saya? hikz, tak semenyedihkan itulah kondisi saya, ini terlalu mendramatisir saja.

Lalu kenapa dihubung2kan atuh antara khitan dan nikah, setidaknya ada sua alasan :

pertama : karena dua aktivitas itu melibatkan organ yang sama, huehe.piss... maaf maaf maaf, maksudnya kalau kata ucup kelik, ucapan untuk orang menikah adalah 'selamat menempuh hidup baru', sedangkan ucapan untuk orang yang baru khitan adalah 'selamat menempuh bentuk baru', huehe...

kedua : karena sama-sama menjadi topik terseru pada masanya. masa SD ya topiknya itu, masa wisuda ya topik terserunya berburu rejeki, posisi dan gaji, masa begini, ya topiknya nikah nikah dan nikah. Dan pada masanya nanti topiknya adalah meninggal, wafat dan mati. Sudah jadi siklus hiduplah. Renungkan sendiri maknanya.

Satu hal, saya belum punya hari baik (jangankan hari baik, calon saja belum), yang saya punya baru optimisme bahwa kalau cerita diatas dari taun 1995 baru terwuud 2000, maka kalau ini saya dengung2kan sejak 2005, maka 2010 nanti akan terwujud. Doakan ya teman...

Optimisme yang membuahkan obat bius, yang membuat tak sadar lelahnya mengubah 'keinginan' menjadi 'komitmen'. Sedang transisi antara keduanya, belum 1005 komitmen,Insyaallah sebentar lagi...

No comments:

Post a Comment