6/17/09

Survay Performa Capres

Mas, mba, kalau survay LSI atau LRI bolehlah "LANJUTKAN!" menang telak, walau beberapa hari terakhir ini katanya perolehan pasangan Bapak Budi dan Ibu Budi ini sedang merosot drastis.

Wah, tapi kalau mau kritis, memperhatikan dialog, diskusi panel dan pemaparan argumentasi tiga capres, jujur deh siapa yang paling cerdas?

ya, benar, jawaban Anda. Tapi ya itu, lagi-lagi saya berpikir 1000x untuk mencoblos, lihat saja peta Indonesia dengan segenap detail2nya... saya masih takut orang-orang yang maju ncapres itu tidak lebih dari merasa hebat, saking merasa hebatnya lupa dengan luas, megah, kaya dan agungnya negeri yang bakal mereka pimpin.

katanya tidak ada pemimpin yang mencalonkan dirinya sebagai pimpinan. ya, saya masih terus gali itu...

yang jelas, saya tidak terobsesi ini atau itu jadi presiden, hanya saya berharap kandidat yang tinggi hati mudah-mudahan bukan dia yang jadi. biar tau rasa, huehe...

Kita Perlu Membangun Monas

Seorang negarawan pernah berkata kritis mempertanyakan kebijakan Bung Karno, "Kenapa Anda mendahulukan pembangunan tugu Monas ketimbang masjid Istiqlal?"... maka Bung karnopun menjawab, yang potongan dari jawaban itu adalah, kalau saya tiada, pembangunan istiqlal pasti akan diteruskan oleh penerus saya, tapai kalau monas, saya kuwatir... . kira2 begitu.

Ini adalah sekelumit episode romansa perjuangan duo soulmate soekarno dan hatta, yang seringkali kress dan harus berselisihpandangan. Namun demikian, Hatta yang 'nrima' selalu saja bisa meredam dan membuat semuanya adem ayem.

Salah satu kontra diantara mereka adalah soal kebijakan-kebijakan di masa negeri ini masih bayi. Hatta idealis, sementara Soekarno begitu telaten menjalani tahap demi tahap. Akibatnya, banyak pemikiran-pemikiran Hatta yang demikian ideal dan memang diakui bagusnya oleh Soekarno tidak serta merta langsung direalisasikan, "iya, itu bagus, saya juga setuju, tapi itu nanti, sekarang kondisi belum memungkinkan..." begitu mungkin ujar si Bung.

Bung Karno pun pernah dihujam oleh persepsi menghambur2kan uang negara ketimbang memperbaiki kesra (Kesejahteraan rakyat). Tapi saya tahu, niat bung Karno adalah membangun eksistensi bangsa ini, pertama : agar bangsa lain mengakui keberadaan Indonesia dan kedua (yang terpenting), agar bangsa kita bangga atas bangsanya sendiri.

Maka dari itu, era awal pemerintahan Soekarno kita tahu, bangsa ini diwarnai dengan pembangunan ini-itu yang berkait dengan kebanggaan sebagai sebuah bangsa, diantaranya adalah Monas.

Begitulah, yang parah dari yang terparah di negeri kita adalah rasa minder, lupa bahwa bangsa ini adalah sebuah masterpiece, lupa pula bahwa diri kita sebuah masterpiece

SIARAN MAFAZA FM SELASA SORE KEMARIN

inilsah setidaknya yang saya kupas kemarin, yakni soal ke-masterpiece-an diri. Oi, lupa ya waktu kita hidup sekiranya normal 60 tahun aja, sudah sepertiga lebih habis, hitungannya tinggal 38 tahun. Apa iya di waktu yang tersisa kita mau lewatkan begitu saja tanpa kebanggaan?

Lalu kemana kita akan dikenang, kenangan generasi sesudah kita sebagai satu indikator besar kecilnya makna kehidupan kita bagi bangsa bagi dunia. Saya itu orang jelek, tapi dikelilingi orang-orang istimewa, jadi tetap saja saya coba pertahankan pandangan istimewa terhadap diri saya sendiri.

Profesor Fabre dari Eropa pernah meneliti tingkah laku ulat, ulat-ulat kecil dibiarkan berjalan mengitari pot bungan kecil di atas meja, lalu ulat itu dibelakangnya dikasih ulat lagi hingga sambung menyambung ulat-ulat itu membentuk lingkaran.

Dan apa yang terjadi, setelah sekian lama berputar-putar, di tengah lingkaran ulat itu ditaruh makanan kegemaran ulat. Tapi apa yang terjadi berikutnya, ironis, ulat itu terus saja berputar2 mengikuti jejak ulat di depannya, sementara makanan yang sebenarnya ada dalam jangkauan mereka mereka acuhkan saja. Akhirnya satu persatu mati lemas kelaparan.

Apa hidup kita mau seperti itu, mengikuti tradisi orang-orang 'general' yang letaknya lebih rendah di bawah knalpot yang hitam dan 'ngelanges'? apa maksudnya di bawah knalpot? iya, orang tipe kebanyakan kan berarti orang standar, standar kan letanya lebih rendah dari knalpot?

Kalau saya si milih jadi orang speedometer, yang hadir untuk memberi petunjuk, inspirasi, keterangan.

Bangunlah monas untuk diri kita, agar kita tahu seberapa istimewa diri ini harus diperlakukan? Dan tutup kuping seperti tutup kupingnya Soekarno ketika dicibir saat membangun pusat-pusat kebanggaan milik bangsa.

SDI pun sedang membangun monas dulu, sebelum ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan dan kemandirian betul-betul mengorbit dengan cantik beberapa saat lagi. Sabar...

Ambruknya Jembatan L21

Bukan sebuah kebetulan, jembatan L21 yang menghubungkan bahu jalan pajang dengan theatre pajang 21 reot dan ambruk bersamaan dengan finishing dan peresemian jembatan terpajang se asia tenggara : Suramadu.

ya memang bukan sebuah kebetulan, karena memang nggak ada hubungannya, huehe. piss...

Asuransikan Makanmu

Sekian tahun ada di Purwokerto... cie gayanya, padahal baru 2 tahun lebih, huehe. Ya, itu kan kalau dihitung sejak saya, juga Hilmy terdampar di kampus nan megah Akatel Bumi Pariwara Putra Nirkarya. Jangan lupa, sebelumnya juga sudah 3 taun saya malang melintang dan kadang membujur di kota para satria ini.

Satu yang ingin saya ceritakan adalah bahwa saya belum pernah seharipun kesulitan makan diantara hampir 1000 hari ada di kota ini bersama Semangat Donk Indonesia dan ESQ juga EU.

Kadang beli di Bu Badriah, paling senang di Sitapen atau Lumpia BOM, tapi tidak jarang juga dapat jatah makanan lezat-lezat dari event dan training. Di traktir Mas Hendro, Ambar dan traktirwan traktirwati lainnya. Dan sering pula saya nraktir.

Ya, apa rahasianya? rahasianya adalah karena rejeki sudah ada yang ngatur. Wah, itu si bukan rahasia lagi, semua orang tau. Iya tau, tapi kan nggak semua yang tau meyakininya.

Nah, lepas dari tahu dan yakin, saya ingin berbagi soal asuransi makan. Weleh-weleh, kalau asuransi jiwa dan asuransi mobil sudah banyak, den bagus kita yang satu ini punya produk baru namanya asuransi makan. Caranya cukup simple, cukup carilah tempat makan yang ada tukang parkirnya. kok? sabar... akan saya jelaskan lengkap, tenang saja...

Hm, sebenarnya ini bukan produk saya, ini cuma saya terinspirasi dari guru saya tercinta, Ustad Yusuf Mansyur. saya dapat ilmu melalui beliau bahwa kalau kita sedekah, kita akan mendapat balasan pasti 10x lipat minimal, atau bisa sampai 70 bahkan 700 kali lipat bahkan tak terhingga... nah lo, percaya? ya percayain aja, orang valid kok sumbernya, lebih valid dari UUD 45 pasal 33 yang dilanggar terus oleh pejabat-pejabat kita.

Artinya apa, kalau memang kita percaya pada kemanfaatan sedekah itu, maka jadikanlah itu sebuah insurence system. artinya gini, kita ambil limit minimum manfaat, yakni 10 x lipat. nah sekarang hitung kebutuhan makan kita sehari, srapan nasi uduk 2.500 makan siang di sitapen dengan 2 gorengan 3.500 dan makan malam lunpia bom dengan nasi 2 menjadi (halah, 1 saja juga sudah kenyang kok, karena disamping bergizi, lumpia juga sangat memuaskan dari segi porsi, jadi jangan khawatir nggak kenyang... promosi...) jadi 6.000. Total sehari 12.000, okelah plus jajan dan es teh jadi 15.000.

jadi kalau kebutuhan makan kita sehari cuma segitu, kan cukup sedekah 10%nya alias 1.500, sudah ekuivalen. betul?

so, Tuhan itu lebih pandai dari guru matematika, tapi yang terpenting, sudah sebanyak apa sedekah kita selama ini, sampai 1.500 yang begitu kecilnyakah atau masih di bawah itu?

pantas saja kalau makan saja sulit. So... Action sekarang juga dan rutinkan! Dijamin kita akan menjadi orang yang dicintai, minimal oleh tukang parkir yang tiap kita parkirin dikasih lebihan 1.500, setiap hari...

Direpoti ternyata menyenangkan

Beberapa minggu terakhir saya mendapat amanat menjadi mediator jalinan kerja sama istimewa antara PT Semangat Donk Indonesia (tbk) dengan Den Bagus Aan Sugiantoro Betutu Leksono untuk mengerjakan tender pisang ijo company.

Terkendala masalah motor, karena setiba dari Bogor memang Aan belum mandiri secara motoritas, begitu juga asistennya. Nah, oleh karena itu, motor saya sering dibuat repot untuk dipinjamnya berlama-lama, mengurus ini dan itu demi tegaknya pilar2 kebangkiran bangsa dengan pisang ijo.

Tapi belakangan kok jarang ya pinjam motor saya, jadi terasa ada yang kurang. Jadi jarang menghubungi saya si Aan itu, dan entahlah saya juga tidak sedetail sebelumnya soal perkembangan sang pisang ijo.

TAUHID

Begitulah, dari kilasan singkat di atas kita bisa mengambil makna luar biasa mendalam, bukan?

6/16/09

Bersihkan Mata yang Ngeres

Malam ini Alhamdulillah berkesempatan terapi gurah mata, bersama dua dukun pengobatan, kaki andri dan nini indie. Dengan tiga ramuan ampuh berbahan herba, akhirnya mata yang ngeres ini bisa dibersihkan hingga kotoran2pun keluar setelah di terapi dengan ramuan itu.

Sangat perih, tapi sehabis itu segar dan enteng.

Berani Berubah (Materi Talkshow di Mafaza FM 16 Juni 2009)

  1. Perjalanan di Sebuah Negeri

Saya terkesan dengan perjalanan saya beberapa waktu lalu, di sebuah negeri menaiki sebuah kereta api tua. Disekeliling takjub saya pada pemandangan indah yang terlihat, “ini negeri hebat”, batin saya. Ada potensi lahan padi yang luar biasa luasnya. Dikejauhan juga terlihat dataran tinggi yang subur. Langitnya cerah. Dan dikesempatan perjalanan lain, saya menjumpai indahnya perairan negeri itu, pantai, danau, sungai. Lalu ketika saya mengajak bicara seseorang, dengan bahasa masyarakat setempat saya disambut ramah dan begitu bersahabat. Ketika saya tanya kepada orang itu, apa nama negeri ini? Kata orang itu, nama negeri ini : Indonesia.

Indonesia, puluhan tahun kita hidup di negeri yang disebut-sebut orang sebagai zamrud katulistiwa, tapi seberapa bangga kita terhadap langit yang kita junjung ini, bumi yang kita pijak ini? Flora dan fauna negeri ini luar biasa aneka ragamnya, kekayaan hasil bumi dan mineral begitu menggiurkan bangsa-bangsa lain. Sampai-sampai sebuah negeri kecil bernama Belanda yang letaknya di seberang belahan bumi sana mau jauh-jauh datang memburu negeri ini, bukan seminggu dua minggu mereka menetap, tapi tiga setengah abad.

Betapa betah mereka di bumi kita, bumi yang seringkali kita keluhkan selama ini.

  1. Seperti Tikus Kelaparan di Lumbung Padi

“Kesadaran” adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki manusia. Karena yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah kesadaran itu. Termasuk salah satunya adalah kesadaran pada kekayaan yang melimpah disekeliling kita. Aa Gym pernah mengumpamakan penduduk negeri ini, termasuk didalamnya adalah diri kita bak “tikus” yang kelaparan di lumbung padi.

Amat memprihatinkan keadaan negeri ini. Pajak dari mana-mana ditarik, kelangkaan sembako dan pupuk, rendahnya pendapatan petani dan nelayan, impor kurang strategis, bahkan hingga komoditas garam dan singkong kita masih impor.

Ini adalah satu dari tiga krisis besar bangsa ini, krisis cinta terhadap negeri sendiri. Apa krisis berikutnya? Yakni merebaknya budaya hedonisme dan dominasi otak kiri.

Kebanggan terhadap negeri menjadi sangat rendah karena kita sendiri memiliki sedikit sekali koleksi pengetahuan tentang kekayaan bangsa ini, ditambah lagi keyakinan yang sangat tipis bahwa kita bisa menjadi bangsa yang besar.

Begitu pula dengan diri kita, seringkali kita tidak bangga dengan diri kita sendiri. Pandai mengeluh dan sedikit bersyukur, padahal kalau kita mau jajaki satu persatu komponen pada diri kita, kita akan terbelalak takjub dengan potensi yang kita miliki.

Begitulah dari kesadaran akan kehebatan negeri ini kita belajar, memulai melakukan perubahan dengan menyusun kesadaran akan kehebatan diri kita sendiri dengan segenap potensi yang kita miliki.

  1. Kentang Goreng Spesial : Mengubah Negatif jadi Positif

Ada sebuah kisah inspiratif dari buku NLP karangan Pakar NLP Nasional, Drs. Waidi. Alkisah ada seorang koki restoran yang sedang memasakkan pesanan pengunjung, seporsi kentang goreng. Karena terlambat mengangkat kentang yang digorengnya, gosonglah kentang. Tidak pantaslah kentang gosong disajikan, maka demi kepuasan pengunjung dia memasak sekali lagi. Untuk kentang hasil gorengan kedua ini sudah tidak gosong lagi dan siap disajikan. Dan kentang gosong yang tadipun akhirnya dia makan sendiri.

Pepatah Jawa mengatakan “Urip Iku Sawang-Sinawang”, begitulah seringkali kita memberikan sesuatu yang spesial kepada orang lain sementara untuk diri sendiri merasa cukup memberikan yang gosong-gosong saja. Kita pandai memuji orang lain, tapi seringkali kita memberikan pernyataan-pernyataan negatif terhadap diri kita. Terlihat sepele memang, tapi kalau hal seperti ini terus dilakukan dari hari ke hari, maka sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kita akan menjadi seorang pecundang yang tidak bisa memandang spesial diri sendiri.

Karena itu di pelatihan-pelatihan pengembangan diri ada yang namanya metode kontras. Peserta pelatihan akan diajak untuk menggali ke dalam diri, menuangkan dalam tulisan hal-hal negetif yang sering kita cap pada diri sendiri. Lalu mencari lawan katanya, dan kata yang baru itu kita internalisasikan ke dalam diri.

Bangun persepsi diri positif. Ini penting. Meskipun kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa menjadi orang yang 100% benar, ada saatnya kita keliru, ada saatnya kita berbuat salah. Maka di saat itu adalah ujian bagi kita, bahwa ketika ada masalahpun kita tetap bisa berpikir positif, yaitu dengan tepat memilih fokus pikiran, bukan fokus pada rasa bersalah, tapi fokus pada hikmah.

Kalau pada saat kita bermasalahpun kita bisa positif, apalagi pada saat kita tidak bermasalah atau bahkan saat kita bisa berprestasi dan berkreasi?

  1. Semua Bangsa Besar Lahir dari Krisis

Kita bisa belajar dari Jepang, di tahun yang sama ketika kita merdeka, di saat yang sama Jepang hancur sehancur-hancurnya oleh dua bom atom dari sekutu. Tapi bagaimana perbandingan keadaan kedua negeri saat ini, setelah 60 tahun berlalu?

Jepang bangkit dengan begitu hebatnya, salah satunya adalah karena mereka tekun belajar dari kebangkitan bangsa sebelumnya, yakni Amerika dan Eropa. Revolusi Industri dan “Abad Penemuan” memungkinkan benua di belahan barat itu menjadi kiblat kemajuaan bagi dunia. Namun, karena tidak dibarengi dengan pembangunan akhlak, maka penjajahan (kolonialisme) menjalar dimana-mana, dan politik pasar bebas (liberalisme) memberangus dunia. Namun, terlepas dari semua itu kita bisa belajar dari bagaimana Inggris yang becek juga Amerika yang dihuni oleh orang-orang pendatang bisa merajai dunia? Diam-diam mereka belajar dari peradaban sebelumnya.

Di buku Imperium III karangan Eko Laksono dijelaskan bagaimana gilang-gemilangnya peradaban emas kaum Muslimin Abad ke-7 hingga ke-14. Sebuah Imperium terbesar sepanjang masa inipun tidaklah lahir langsung hebat, lahir dari satu krisis yang sangat-sangat memprihatinkan, dari padang pasir Mekah yang tandus, dari masyarakat jahiliyah yang tandus pula.

  1. Kurva “S” Tidur : Semua Orang Hebat Pernah Prihatin

Di suatu pelatihan saya mendapat ilmu bahwa keberhasilan itu seperti kurva berbentuk huru “S” yang ditidurkan, sehingga dari garis normal, kurva itu akan melengkung ke bawah, terus ke bawah, sampai pada titik kulminasi kurva itu akan naik, naik dan naik. Kata Pa Ippho, penulis buku best seller “13 Wasiat Terlarang” tentang otak kanan, “Optimislah, ketika kehidupan kita sedang turun, berpikirlah bahwa sebentar lagi kehidupan kita akan beranjak naik. Dan optimislah, ketika kehidupan kita sedang naik, maka sebentar lagi kehidupan kita akan beranjak naik lebih tinggi lagi”.

Pa Jamil Azzaini (Penemu Kubik Leadership) datang ke Bogor dengan uang sisa registrasi IPB 14.000 rupiah, dihina dan akibat bau karet karena dia sekolah sambil mencari uang dengan memungut getah karet. Untuk bisa makan harus memancing ikan dulu di sungai buat lauk, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Andri Wongso tidak lulus SD, menjajakan dagangan bersama istrinya dengan kehidupan rumah tangga yang begitu darurat ekonomi, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Ciputra adalah anak miskin dari Gorontalo yang untuk makan saja susah, tapi bagi ibunya pendidikan jadi prioritas walau sesulit apapun uang. Baju 1 kering di badan, ke sekolah tanpa alas kaki, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Ippho Santosa, pernah jualan donat 2 tahun banting tulang siang-malam sebelum belasan bukunya best seller dan menjadi pembicara otak kanan & entrepreneurship nasional hingga ke Singapura, stamina terkuras dengan kerja keras di awal, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Purdi E Chandra (Pemilik 600 outlet Primagama dan Pirmagama Grup) membuat bimbel yang tidak laku, hanya 2 pendaftar itupun teman sendiri, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Bob Sadino (Pemilik KemChik Grup & Apartemen The Mansion) pernah menjajakkan telor dari rumah ke rumah, menjadi kuli bangunan dengan honor 100 rupiah sehari, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Stave Job (Pemilik Apple & Pixar) pernah gagal meluncurkan produk pertamanya yang dinamakan LISA tetapi melejit dengan produk keduanya yang dikenal dunia dengan nama Ipod, bahkan sekarang sudah ada yang lebih memukau lagi, Iphone, merintis perusahaan multinasionalnya dari garasi rumahnya setelah drop out dari kuliah, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Ustadz Yusuf Mansur (Pendiri Wisatahati & Sekolah Darulquran International) pernah dipenjara 2X, terlilit hutang milyaran rupiah hingga terpaksa hidup dari menjajakkan es lilin di terminal, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Drs Waidi (Pakar NLP, Pengajar MM Unsoed) kisahnya mirip di Laskar Pelangi, anak miskin yang dengan kegigihannya akhirnya mampu menembus beasiswa luar negeri dan kini menjadi pengajar S2 dan menulis beberapa buku, tidak mampu membayar kuliah sendiri, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Bung Karno, semasa SMA indekost di Surabaya tanpa kasur, lampu dan kamarnya tanpa pintu dan jendela, di atas tikar rumput tak berbantal tidur dan belajar ditemani lampu teplok dan kecoa, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Jawaharlal Nehru (Mantan Perdana Menteri India), keluar masuk penjara hingga belasan kali, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Gatotkaca, dimasukkan ke kawah candradimuka yang panasnya melebihi kawah gunung berapi, tapi bisa sukses karena waktu itu dia Positif.

Dari banyak kisah di atas kita bisa belajar banyak tentang apa yang dikatakan Pa Ippho di atas. Optimislah pada apapun keadaan kita, sekalipun penuh keprihatinan. Karena keprihatinan adalah penjara yang akan mengokohkan kita, keprihatinana merupakan kawah candradimuka yang akan menempa kita, mengubah diri kita menjadi ksatria, bukan menjadi pecundang.

  1. Jus Sukses: Mengubah Pesimisme menjadi Optimisme

Harus berani berubah. Kalau permasalah tidak bisa diubah, kalau keadaan yang kita terima sulit kita ubah sesuai keinginan kita, maka pilihan satu-satunya adalah ubah fokus cara pandang kita. “Alam semesta bersifat netral, yang membuatnya menjadi positif atau negatif adalah diri kita sendiri”, kira-kira seperti itu kata buku The Secret.

Lalu bagaimana mengubah fokus itu? Misalnya kita mendapati diri kita adalah anak miskin dari desa, maka segera terapkan rumus “Jus Sukses”, yakni Jus “Tru”. Ketika diri kita mengatakan “Ah, saya kan anak miskin dari desa…”, maka segera timpali dengan jus, “Jus-tru karena saya anak miskin dari desa seperti Bung Karno, Seperti Napoleon, maka saya sangat mungkin bisa seperti mereka, saya akan belajar dari perjalanan hidup mereka dan saya akan tiru semangat mereka!”.“Ah, saya kan tidak pandai akademik…”, langsung berikan jus, “Jus-tru karena saya tidak pandai akademik, saya pasti pandai di minimal salah 1 dari 7 kecerdasan manusia lainnya, entah itu lingual, spasial, interpersonal, intrapersonal… saya akan cari tahu di mana kecerdasan saya unggul!”. Atau terbesit lagi,

Menurut buku Quantul Learning, manusia lebih banyak menerima celaan daripada pujian, artinya manusia lebih banyak menerima stimulus pesimisme ketimbang optimisme. Ini sangat berbahaya, karena itu kita tidak bisa hanya menunggu orang lain memperbanyak stimulus optimisme untuk diri kita, kita buat dan berikan sendiri saja untuk diri kita sendiri.

Saking bahayanya dampak pesimisme, semasa SMA dulu saya dan teman-teman merintis sebuah komunitas bernama Psimis yang kependekan dari (Persatuan Senin-Kamis), yang agar lebih keren ditambahi menjadi frasa “Psimis Indonesia”, yang menarik dari komunitas yang saya rintis ini selain kontinyu mengadakan buka bersama diluar bulan ramadhan (yakni puasa senin kamis) dan menjadi motor komunikasi dan reuni sesama alumni yang hingga sekarang menjadi angkatan tersolid secara jumlah sepanjang sejarah SMA 2 Purwokerto, yang menarik dari komunitas ini adalah : “Pesimiiiis…. Yoo wis…, yang kurang lebih artinya “ Pesimis? Ya udah… ke laut aja, he2”.

  1. Change Now or Lose

Ari Ginanjar dan Renald Kasali, dua tokoh pengembangan diri di negeri ini pernah menggagas seminar spektakuler bertajuk “Change Now or Lose”. Ya, berubah sekarang atau kita akan menjadi pecundang. Betapa tidak, anak muda negeri ini secara umum sudah sangat jauh dari nilai-nilai antusiasme dan ambisiusitas meraih kesuksesan. Sukses dimata kebanyakan kita hanya sebatas utopia alias kemustahilan belaka. Tidak ada kata “sukses” dalam kamus besar kehidupan kita, yang ada adalah nilai bagus, pekerjaan enak dan pendapatan besar.

Bagi saya itu bukan sukses, sukses adalah berkelimpahan. Ciri berkelimpahan adalah berbagi, karena itu sukses adalah berbagi. Negeri ini tidak butuh orang kaya yang tak mau berbagi, tapi betapa orang sudah sukses sekalipun ekonomi pas-pasan, karena kesadaran untuk berbaginya demikian luar biasa.

Maka, marilah berpikir ke arah itu. Merumuskan proposal hidup dengan tujuan yang lebih mulia dari yang kita rancang sekarang. Atau jangan-jangan tujuan hiduppun belum punya saat ini? Gawat…

Ketika teman-teman kita menghambur-hamburkan uang untuk membeli banyak buku, ketika teman lainnya lagi tak pernah punya liburan karena sibuk dengan pelatihan-pelatihan pengembangan diri. Mereka menemukan banyak nilai-nilai kesuksesan yang hakiki disana, tentang optimisme memandang nasib diri, tentang antusiasme mengejar apa yang harus kita kejar, tentang ambisiusitas yang membuat seorang manusia menjadi pemimpi besar. Sementara kita diam berpangku tangan, maka siap-siap saja menjadi “loser”.

Change Now or Lose, segera beranjak membaca buku yang bisa menyemangati diri, atau mencari informasi pelatihan pengembangan diri terdekat.

  1. Label diri Positif

Putera Sang Fajar adalah julukan yang diberikan Sang Ibunda kepada Bung Karno. Kata Sang Ibunda, Soekarno kecil yang lahir ketika fajar menyingsing yaitu pukul setengah enam adalah pertanda bahwa dia ketika besar nanti akan menjadi orang besar, akan menjadi pemimpin bagi masyarakatnya. Lepas dari asal-usul pertanda itu, tapi bisikan positif ini menjadi sugesti yang pada saatnya nanti terbukti bahwa Soekarno tumbuh dengan begitu tegar pada kemiskinannya dan gigih belajar hingga kiprahnya mendunia.

Kalau tak ada orang lain yang mencap kita seperti Bung Karno di atas, maka buat saja cap sendiri. Mungkin sebagian kita sudah pernah mendengar kisah anak elang yang bergaul bersama anak ayam. Alkisah anak burung elang tersesat dan diselamatkan oleh seekor ayam, ayam itu begitu baik hingga diangkatlah si ayam menjadi ibu oleh si anak elang. Anak elangpun bergaul sepanjang hari bersama ana-anak si ayam. Sampai pada akhirnya induk sang elang datang menemukan anaknya dan mengajaknya terbang, betapa ia terkejut, anak burung raja terbang di udara tidak bisa terbang. Apa sebab? Karena ia merasa dirinya adalah anak ayam, dan ia tak pernah berlatih terbang.

Begitulah kalau kita salah menempelkan label pada diri kita sendiri. Bisa jadi kita punya potensi yang luar biasa dahsyat tak ternilai, tapi karena kita salah mencap diri, akibatnya kita menjadi anak muda yang tak bisa berbuat apa-apa. Sedikit-sedikt lelah, sedikit-sedikit susah, tiada hari tanpa mengeluh. Saran saya, segera belilah pelampung, dan... kelaut aja...

  1. Belajar = Berubah. Belajar Sepanjang Waktu = Berubah Sepanjang Waktu

Kalau sebuah bangsa untuk menjadi hebat resepnya adalah belajar, begitu juga dengan diri kita. Bob Sadino yang tidak lulus SMA pernah mengatakan, “Saya memang tidak sekolah, tetapi saya selalu belajar”. Lalu apa belajar itu? Kata Andreas Harefa sang Manusia Pembelajar mengatakan bahwa satu ciri utama dari belajar adalah adanya perubahan, seseorang baru dapat dikatakan sudah belajar kalau sudah menunjukkan dia bisa berubah.

Kita terlahir bukan untuk menjadi perpustakaan, tetapi untuk mengamalkan sesedikit apapun ilmu kita. Jadi belajar itu bukan hanya mengunduh nilai, bukan hanya menampung pengetahuan, belajar adalah mempraktekkan. Mempraktekkan pengetahuan yang akal serap, hikmah yang hati terima, menjadi tindakan nyata.

Kalau pada topik kita kali ini keberhasilan akan dicapai dengan berani berubaha, maka semakin banyak kita melakukan perubahan berarti semakin baik tingkat kesuksesan kita, apalagi kalau usaha untuk berubah menjadi lebih baik kita lakukan sepanjang waktu. Luar biasa pasti hasilnya. Dan sekarang kita tahu, kunci perubahan adalah belajar.

Untuk sukses kita harus berubah, berubah adalah belajar, belajar sepanjang waktu untuk berubah sepanjang waktu.

  1. Jadilah Orang Hebat, atau Berpura-Puralah Menjadi Orang Hebat.

Suatu kesempatan saya pernah menjadi moderator diskusi dengan Presma (Presiden Mahasiswa) IPB, satu hal yang mengesankan bagi saya, dia yang rajin membaca koran dan becita-cita jadi Gubernur Jawa Barat bercerita pada audience, “kalau saya membaca koran tentang pembangunan dan pemerintahan, maka seolah-olah saya menjadi pejabat yang menangani masalah pada berita itu”, kata sang Presma lagi, “Dengan penempatan diri semacam itu, kita jadi tidak terhenti pada aktivitas membaca, tapi juga menganalisis dan berimajinasi, kira-kira sikap apa yang akan kita ambil sebagai pejabat yang berwenang tehadap masalah yang diberitakan itu.”

Ternyata teknik “berpura-pura” ini memang sangat mujarab dan esensial, banyak sekali buku yang mengupas tentang ini. Bahwa segala sesuatu itu diciptakan dua kali, pertama di pikiran kita dan kedua di dunia nyata. Karena itu, Borobudur tidak terbentuk tiba-tiba, tapi diawali dari imajinasi sang arsitek. Begitu juga dengan masa depan kita yang gilang-gemilang.

Kalau kita belum merasa jadi orang hebat, berpura-pura sajalah dulu.


Rizky Dwi Rahmawan

Pengasuh Rubrik Mafaza Motivasi, Setiap Selasa Pukul 16.00-17.30 di 96,7 FM

6/15/09

Apa yang saya cemaskan hari ini?

Apa yang saya inginkan hari ini hingga membuat saya cemas?

Menjadi kaya? buat apa kalau menurut riset di sebuah majalah, bertambah kaya seseorang, semakin sulit orang itu bahagia. Artinya butuh ilmu lebih bagi orang kaya untuk bahagia ketimbang bagi orang miskin.

Menjadi tenar? buat apa itu kalau dalam hitungan tahun, yang menurut hitungan ilmiah yang dapat dipercaya paling tidak dalam 25 tahun ke depan akan terjadi bencana dahsyat akibat tabrakannya patahan Asia dan Australia? Belum lagi prediksi tabrakan meteor dan lain-lainnya

Mendapat jodoh? kan sudah diatur dan dipersiapkan jodoh kita, seperti menjemput tulang rusuk yang terserak saja

Sebulan terakhir : 3 kali ke Jogja, 2 kali ke Surabaya, 1 kali ke Cirebon

dari 6 perjalanan itu, 2 diantaranya saya jalani sendiri, yess, by alone. Satu pembuktian, apa orang salah bisa tetap naik tingkat?, jawabannya : Bisa!

Saya Suka Petualangan Ini

Saya pernah salah mendefinisikan cinta, hingga saya antipati terhadapnya. Ya, dulu, dimata saya, cinta hanya milik pria-pria tampan dan gadis-gadis cantik.

Sampai saya tahu, bukan cinta macam itu yang saya rindukan. Sekarang saya tahu jawabannya, dan tugas saya hanyalah melanjutkan langkah.

6/13/09

Logawa 12 Juni 2009

Tanpa dinyana-nyana saya duduk berhadapan dengan seorang pejabat di dinas air dan tanah Pemkab Banyumas, Pa Dekan namanya. Priyayi santun, rendah hati, banyak wawasan tapi tidak sombong. Sedang perjalanan menuju Jember yang 15 jam lamanya baru sampai untuk memenuhi undangan rekannya di sana, mungkin mencurvai air tanah disana...

Beliau alumni SMA 2 79, pernah study di Jepang, juga di Jerman. Orang yang tahu kayanya mineral dan potensi geologis Indonesia. Katanya, cadangan minyak yang ada di pesisir selatan Jawa saja, cukup untuk memasok kebutuhan dalam negeri hingga 200 tahun. Bayangkan kayanya negeri ini, sayang kekayaan itu 300 triliunnya dicuri asing. Hm, tanpa bermaksud berburuk sangka, siapa yang bisa membantah kalau diantara aset triliunan itu ada yang masuk ke rekening pejabat, entah itu menteri, DPR bahkan presiden. Pa Dekan sendiri dengan logisnya menjelaskan keniscayaan itu.

Bayangkan saja, utang Indonesia cuma 1600 triliun, tak sampai 6 tahun akan lunas! kalau mau mampetkan pencurian kekayaan negara yang mendurhakai UUD 1945 pasal 33 ini.

"Komitmen Fee", itu katanya, mungkin menyerupai kalau kita bikin KTP, harus bayar 5.000 rupiah padahal di kuitansi yang kita terima hanya tertulis 2.500 rupiah. Seperti kalau naik KA Ekonomi Logawa dari Stasiun Besar Kroya yang di tiket tulisannya 18.500 tapi si tukang tiket bilangnya 19.000. Mungkin seperti kalau kita parkir di Tamara plasa, uangnya 500 perak diminta, tapi kalau kita nggak meminta karcisnya kita ya nggak dikasih karcis.

Katanya, Belanda bertaruh nyawa untuk sampai ke negeri ini. Bukan 2-3 hari perjalanan, bukan medan yang mulus untuk memburu nusantara. Penjelajahan samudera diceritakan begitu panjang dalam pelajaran sejarah, tapi tak pernah disinggung alasan mendasar kenapa mereka memburu tanah air kita : karena tanah kita kaya.

Di bawah wates ada Intan. di Bawah bukit tempat rumah saya dibangun ada Emas di kedalaman 200-an meter, begitu katanya. Bukan cuma emas, tapi juga ada minyak, ya, minyak di pesisir selatan Jawa.

Tapi yang harus diterima pula, bahwa bukit tempat rumah saya dibangun, kata beliau adalah bukit lipatan, yang berhubungan langsung dengan patahan Asia dan Australia, yang sedang terus bergerak mendekat dan sudah hitungan kilometer. Padahal kedua lempengan itu bergerak dengan kecepatan tinggi, 2 meter perbulan. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi ketika 2 lempengan itu bertabrakan, bahkan katanya Tsunami di Aceh saja adalah imbas dar sekedar pergeseran patahan Asia Afrika, baru pergeseran saja seperti itu dahsyatnya, apalagi kalau tabarakan?

Ya, tsunami besar akan menerjang pesisir selatan Jawa, hitungannya kisaran 25 tahunan lagi kata beliau, besarnya melebihi Tsunami Aceh. Ketika itu saya berpikir daerah saya aman karena dataran tinggi, ternyata eh ternyata justru sebaliknya, karena perbukitan daerah saya yang memanjang dari susukan hingga majenang merupakan daerah lipatan, ini berpotensi akan longsor atau bahkan terangkat, terdorong oleh tabrakan megadahsyat itu.

Dari selatan ada tabrakan patahan dua benua, dari utara ada Slamet yang memang sejauh ini masih aman, karena granit dan bebatuan yang menopang magma relatif masih sangat kuat, apalagi di bawah lubang kawah di atas magma Slamet ada rongga yang membuat magma hanya meluap-luap di dalam rongga itu.

Slamet aman, tapi bagaimana dengan pemanasan global, apalagi dengan ditebanginya pohon-pohon di Dr Angka dan Jenderal Soedirman?

Perubahan

Mungkin ini salah satu tulisan terfulgar saya... di L22 sendirian, mendengarkan senandung Padi tempo doeloe, moment saya ngerental di Amanah Computer di selatan Alun-alun Banyumas. Yah, semuanya berubah, betul-betul berubah,

1. Rumah Karyanto besok akan 'nratag' untuk mbarang gawe,
2. Rhea yang saya gadang2 untuk pegang Divisi MD ke depan sampai jatuh sakit berkutat ngurusi cucian dan jemuran di laundrinya
3. Ambar tak pernah muncul lagi di YM, plekinya pun selalu tak aktif
4. Kalau saya ditanya siapa teman paling perhatian pada saya saat ini, dia adalah : Defi
5. Mas Hendro tak pernah muncul di L22, kumpul Fosma juga tak pernah mengajak untuk nongkrong di Bakul Wedang atau kafe-kafe sejenis
6. Alhamdulillah, masalah saya dan Hilmy yang beberapa lalu cukup membuat saya shock beberapa minggu sudah baikkan
7. Kemarin katanya Indie memutuskan Andri? Oh realy...
8. Azis bagi saya tetaplah terlalu mencla-mencle... Kalau dia mengeluh tak bisa seproduktif yang dia pikirkan, itu bukan karena kekurangan peluang apalagi kekurangan modal. Tapi karena sikapnya masih terlalu limbung hanyut oleh sandaran perasaannya
9. Fikry sepi training dan enggak tau bagaimana progress serabinya
10. Sugiantoro sudah tak pernah lagi bermalam di L22
11. Huda masih tetap semangat walau siklus tidurnya amburadul
12. Arini sering membawa laptop dan komputer rusak ke L22
13. Pemancar Wi-fi Access L22 terkena petir, tapi sementara masih bisa connect pakai kabel
14. Hanie mungkin seperti dulu sibuk dengan KKN nya, sekarang sibuk dengan skripsinya, enggak tau sebulan terakhir nggak pernah laporan & sharing, dan nggak menunjukkan hasil apa-apa pula
15. Kalau Kusworo minta bantuan, pasti saya bantu

Seiring dengan semua itu, ketahanan membaca saya meningkat. Begitu pula daya menulis saya. Lebih hebat lagi optimasi perenungan saya. Saya percaya semua ini proses.

Saya pasrahkan semua ini kepada Gusti Sing Nggawe Urip, ini upayaku, ini munajatku.

6/10/09

Dehumanisasi

Ini tentang diri saya sendiri,
yang lebih mementingkan membalas SMS ketimbang membalas tegur sapa dari orang yang mengajak bicara di hadapan kita.
yang lebih mementingkan menatap layar monitor menerawang ke dunia maya ketimbang berinteraksi dengan orang-orang yang membutuhkan interaksi langsung dengan diri kita.
yang lebih suka mengirim berita lewat kecanggihan teknologi, tanpa perlu bahasa verbal, bahasa vokal dan bahasa tubuh.

6/9/09

Diponegoro

"sura dira jayaningrat, lebur
dening pangastuti", salah satu quote putraHamengku Buwono III ini.

6/3/09

Area Bebas PKL

Alun-alun Purwokerto sekarang begitu indahnya. Tapi, dibalik keindahan itu, berapa atap orang miskin yang berkorban, terpaksa menggeser lahan  nafkahnya karena tulisan AREA BEBAS PKL.

PKL (Pedagang kaki lima) dilarang, tapi kenapa pacaran di alun-alun enggak dilarang. Pak Marjoko, yang mana yang sebenarnya merusak keindahan kota?

Neo Liberal

Lucu 1, santer asumsi, Pa Budiono itu pendiam, santun, sederhana jadi mana mungkin dia seorang penganut ekonomi bermadhab neo-liberal. Lalu bagaimana dengan ini, kata seorang ekonom, sejauh mana Anda mengenal kebijakan dan motif yang pernah ada dalam track record beliau selama ini? : 

"Lebih lanjut, Revrison juga menegaskan kalau mazhab pemikiran tidaklah didasari oleh seseorang itu sederhana atau tidak. Tapi dilihat dari kebijakan yang diambilnya."

Lucu 2, bahwa kata orang lagi, janganlah kita meributkan neoliberal atau bukan, katanya bukan cuma faktor itu yang akan bisa mengentaskan kita dari krisis dan kemelaratan, banyak sisi lain yang bisa kita unggulkan walaupun seseorang itu berkebijakan neoliberal. Loh? Kok berkompromi dengan neoliberal. Sudah tidak bisa dibantah kehancuran amerika dan ekonomi dunia adalah karena liberalisme, apa Indonesia mau menyusul?

Lucu 3, demi tidak dianggap neoliberal, maka dibikinlah label ekonomi Pancasila. Apa itu, yaitu raskin, BLT dan kredit rakyat miskin akan tetap dilanjutkan. Saya tanya, apa program itu mengentaskan kemiskinan? Apa membuat rakyat tetap miskin? Apa itu yang disebut ekonomi pro-rakyat?
Lalu bagaimana dengan Alfamart yang berdiri dimana2 menggusur retail milik rakyat. Penjajahan freeport terhadap lingkungan dan sekelilingnya tetap miskin dibiarkan saja. Aliran motor dan mobil baru begitu derasnya sampai angkot tergusur, jalan diperlebar dan kaki lima direlokasi ke tempat yang jauh.

Bulan Leadership


Dengan ini saya mencanangkan :

Bulan Juni 09, sebagai bulan LEADERSHIP
Bulan Juli 09, bulan THE POWER OF NOW
Bulan Agustus 09, bulan TAHSIN QURAN

Ambalat


Indonesia... sangat kaya,

karena itu, jangan bangga dulu kalau baru bisa bercerita tentang mengagumkannya negeri ini dengan puluhan ribu pulaunya.

Juga jangan bangga bisa mengkritik negeri ini dengan puluhan ribu kekurangannya.

Banggalah bisa beraksi. Walau hanya satu aksi.

Tanggap

Janganlah kau jadi robot. Turuti bisikan nuranimu, dia tak pernah berbohong untuk tanggap pada respon-respon orang-orang disekelilingnya. Tapi tak apa, aku sudah maafkan kok...

Dari Mas Ryan


Adil itu ada 3 karakter :
1. Seimbang
2. Proporsional
3. Pada tempatnya

dengan Adil, hidup kita akan Sejahtera (bukan kampanye)

SBY-JK Mengubah saya


Dua tokoh bangsa, yang dalam beberapa sisi amat berbeda, saya belajar dari mereka, negarawan-negarawan yang mulia (lepas dari pertarungan mereka di pilpres ini). Tenang, ini bukan postingan kampanye politik, karena saya Golput inih.

SBY itu reaktif, itu kritisi saya untuk beliau, kadang ada omongan nggak enak dari lawan politiknya, langsung beliau tanggapi, atau beliau membela diri.

Beda dengan JK yang tedeng aling-aling alias nggak punya muka, ketika beliau punya satu putusan, beliau nggak peduli orang berpendapat apa atau berpersepsi apa tentang dirinya.

Kemarin dan dulu saya SBY banget, sampai-sampai saya "kokehen cangkem" kebanyakan membela diri dan menjaga image. Sekarang dan esok saya akan seperti JK, mau dikomentari atau diacuhkan, dipuji atau diremeh-temeh, diikuti atau dikritisi, sepanjang jalan yang saya putuskan, kebijakan yang saya keluarkan saya yakini dan saya sanggupi terima segala konsekuensinya, saya akan tidak pedulikan apapun rekasi orang.

Lihat saja nanti! Dalam diri saya mengalir darah sang pemenang, Putra Sang Fajar, orang besar yang dilahirkan di waktu fajar jam 5 lewat 15 menit, 22 tahun yang lalu.

Denting Piano


Menyenandungkan lagu itu, jadi teringat masa-masa di GMC 25 semasa SMA dulu. Sebuah alasan yang membantah ketidakbahagiaan saya hari ini.

Disamping alasan lain, seorang bapak tua, agak tuna rungu, berjalan bungkuk, berjualan wedang jahe di stasiun Purwokerto saja mengajak bercakap2 saya dengan bahagianya. Saya kurang apa dari bapak tua itu?

Kurang syukur...!!!!!!!!

Merasa


Merasa bahasa Jawanya itu "Dumeh",

Merasa diacuhkan,
merasa tidak dianggap,
merasa tidak dilibatkan,
merasa tidak dibutuhkan,
merasa tidak diakui keberadaannya,
merasa tidak dinilai kebaikan2 yang kemarin-kemarin,

apa untungnya dengan merasa seperti itu. Gara-gara 1 buku di Gramedia, hari ini saya sudah berhasil me-reframe-ing semua rasa yang tidak perlu (walau belum 100%) yang saya rasa kemarin. Semoga bisa saya pertahankan dan tingkatkan.

Stasiun


Untuk seseorang yang rajin sekali baca blog saya, huehe... ^-^

Kalau kau sedang ada masalah, pergilah ke stasiun, biar saja masalahmu hilang disana, dicopet disana...

Kalau kau sedang ada masalah, pergilah ke stasiun, menjemput pertolongan-NYA, eh siapa tau pertolongan datang kepada kita naik kereta api...

Kan alat transportasi tercepat ke Purwokerto baru kereta api, huehe. Jangan telan 100% mentah2 kata2 saya di ataslah.

Woi, cuma pengen crita, sejak beberapa bulan yang lalu stasiun menjadi tempat yang indah buat saya, pertamanya tau dari Fikry... coba eh dicoba, beneran, stasiun tu indah. Apalagi stasiun Gubeng Surabaya, ada musiknya men... musik khas stasiun yang nggak ada duanya, Gubeng only.

Kemarin Ashar di Baitul Arqom (masjid perumahan), trus meluncur deh ke stasiun Purwokerto, bayar peron 1.500 ngabuburit until maghrib di masjid Agung. Subhanallah, saya melintasi pintu masuk dengan perasaan yang kacau nan kusam, tapi bagaimana perasaan saya ketika melintasi pintu keluar beberapa jam kemudian setelah saya masuk? jauh jauh jauh lebih baik.

DIA kabulkan permintaan di siang saya sore itu. dan ketika tulisan ini diposting, DIA sudah kabulkan doa saya di stasiun dan di waktu maghrib hari ini. Subhanallah ya...

Karena itu kawan, jangan salah datang kalau kau ada masalah. datanglah ke Sebaik Baik Tempat Mengadu.

6/1/09

Chating Semalam

Yang saya tahu Oemar Sahid Cokroaminoto tak punya Facebook, tapi siapa yang membantah kalau beliau tak ber YM? Heuh...

Semalam. Pak De Cok memberi satu pelajaran berharga buat saya, singkat kata-katanya, tapi dalam maknanya. Kita tahu semua kalau RI 1 pertama negeri ini adalah didikan dari beliau salah satunya, apa yang Pak De Cok sampaikan semalam?

"Saya hanya mengajarkan apa yang ada pada diri saya, bukan apa yang saya ketahui...". terus Sign Out deh...

Tanggal Bersejarah




Prestasi terbaik (Visi 35 Tahun [2022])


Prestasi terbaik saya adalah menjadi orang nomor 1 di Indonesia di bidang saya, diantaranya menjadi pendiri, pemilik dan pemimpin perusahaan multinasional dengan 50 anak perusahaan yang dan ribuan cabang di seluruh Indonesia yang dikelola secara kekeluargaan dan gotong-royong dengan nilai profit berdigit triliun rupiah setiap tahunnya.

Kesuksesan itu saya gunakan untuk mengangkat harkat ekonomi dan pola berpikir 1 juta orang miskin di sekeliling saya, juga menginspirasi 100.000 generasi muda dengan training cinta tanah air dan memberangkatkan kakek-nenek, bapak-ibu, bude, mertua, saya sendiri, istri, dan 100 orang lainnya, ada yang dari biaya sendiri, ada yang di dapat dari donasi mitra bisnis, untuk berangkat ke tanah suci untuk berhaji.

Prestasi itu sudah, sedang dan terus akan saya upayakan dengan gigih dan berani untuk terwujud. Yang sudah dilakukan diantaranya adalah membentuk komunitas motivasi, membentuk lembaga SDM, membentuk unit bisnis bersama, menerbitkan media motivasi gratis, mengadakan banyak pelatihan-pelatihan pengembangan diri, terus menggali informasi dan wawasan tentang cinta tanah air, belajar tentang permodalan rakyat micro-finance.

Yang sedang dan akan saya laksanakan adalah mengembangkan kemampuan leadership saya hingga melejit dahsyat, juga kemampuan saya menuangkan konsep kegiatan, program dan entitas dari di atas kertas menjadi bernilai nyata. Terus saling mendukung dalam komunitas, dan tidak pernah berpikir dua kali untuk istiqomah bersedekah. Juga terus menambah khasanah ilmu dari internet, buku dan guru-guru baru, guru-guru terbaik kehidupan.

Sedangkan prestasi terbaik saya secara spiritual yaitu menjadi seorang negarawan yang wisdom, mengabdikan diri dan harta yang saya miliki secara sistemik, sehingga mampu dirasakan manfaatnya menyeluruh.

Ikut berperan serta menebarkan keadilan dan kesejahteraan untuk Indonesia tercinta. Diantaranya dengan menulis 10 buku yang kesemuanya best seller.

Dan secara pribadi terus memampukan diri menjadi seorang muslim yang kuat. Menjadi imam sholat yang dicintai dimanapun dan kapanpun, mampu memberikan khutbah jumat yang menggelorakan semangat, serta hafal Al Quran 30 jus.

Kesemuanya adalah prestasi terbaik saya hingga usia 35 tahun (yaitu tahun 2022).

Harga seorang saya : tak ternilai.

(selengkapnya mengenai PROPOSAL HIDUP RIZKY ada di bagian bawah halaman blog ini)

5/31/09

Belajarlah atau Menua


Setiap orang pasti bertambah tua, tapi tidak setiap orang bertambah dewasa. Hanya orang-orang yang belajarlah yang menjadi dewasa.

BE A LEARNER FROM MISTAKES

Kalau kita begitu ikhlas dielu2kan dengan bangga dan kekaguman yang sedemikian rupa. Kenapa pula kita harus risau ketika pada suatu saat diacuhkan dengan sedemikian hina?

5/30/09

Train-Holic


hari-hari belakangan ini adalah hari-hari yang tidak ringan untuk saya lalui. Tapi saya yakin, bukan karena masalah yang berat, tapi karena saya saja yang tidak terbiasa menghadapi masalah, kecerdasan ketahan-malangan saya belum terlatih optimum.

Tapi memang terasa berat, sampai-sampai, naik kereta express cap ekonomi 10 jam lamanya saya enjoy-enjoy saja, padahal Andri-Indie kepanasan, dan sejuta rasa tak nyaman lainnya. Saking enjoynya saya ingin balik naik kereta itu lagi.

Di kereta ekonomi, banyak pemandangan yang bisa membuat kita bisa bersyukur dalam. Ternyata, banyak yang tak seberuntung kita...

Perbedaan


Apakah semakin berilmu seseorang, semakin sukses seseorang, masalah akan semakin hilang. Yang sedang saya coba buat perbedaan dalam diri saya, kalau dulu saya memandang bila masalah datang artinya saya jelek, saya kena hukuman, tanda saya pecundang.

Tapi sekarang, mencoba me-reframing, bahwa ketika masalah datang, artinya ujian kualitas diri saya naik satu tingkat, praktikum hidup yang boleh saya ambilpun bertambah.

Tak ada masalah bukan berarti diri kita mulia, ada masalah tidak selalu berarti diri kita hina. JTak ada satu orang suksespun yang dalam perjalanan masa lalunya tak menjumpai masalah.

Yakin saja, kalau ada episode turun, pasti ada episode naik. Yakin saja, kalau ada episode naik, pasti ada episode naik yang jauh lebih tinggi diluar yang kita bayangkan.

Capres = Mie Instan?


Ternyata promosi jadi pemimpin bangsa berpenduduk 220juta lebih sama dengan jualan mie instan. Dari dulu jamannya gencar iklan sekolah gratis, satu dari sekian hal yang tidak saya suka dari incumbent adalah soal iklan beliau.

Sebagus apapun pencapaian, akan jadi jelek dengan iklan-iklan 'norak' nan 'wagu'-nya. Kalau saya ketemu beliau ingin saya ngomong "Pak, biaya tayang iklan panjenengan sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan ganti rugi korban Lapindo yang panjenengan janjikan akan panjenengan kawal sejak 3 tahun yang lalu".

kita perlu merubah, bukan melanjutkan.

5/27/09

Menjadi Pegawai Hidup Berpensiun, Menjadi Entrepreneur Hidup Bergaransi


Beberapa waktu yang lalu saya memposting jawaban Ustadz Yusuf Mansyur atas pertanyaan dalam hati "kok masih gini-gini aja?"... Apa jawaban beliau, seimbangkan ikhtiar, kalau dari kemarin ngebut ikhtiar dunia, maka ikhtiar ibadahnya sekarang yang dikebut.

Memang betul, sholat dan sedekah terkait erat dengan rejeki kita. Kita-kita saja yang nggak bisa menghubungkannya.

Lalu, kemarin di Brawijaya ketemu lagi sama Om Bob, dapat jawaban lagi dari beliau. Ketika itu Rhea bertanya "Om, saya mau jadi entrepreneur dn sesuai saran Om Bob saya sudah keluar kuliah, terus gimana Om?", apa jawaban Bob Sadino pemilik The Mansion Apartemen? "Bagus, teruskan usaha, terus berproses, 40 tahun lagi Anda akan kaya raya seperti saya atau melebihi saya..."

40 tahun, ya ya ya, tiang pancang kesuksesan saya memang masih terlalu dangkal, kok berani-beraninya mengatakan "kok masih gini-gini aja...", sepersepuluhnya saja belum.

Bisa jadi benar saya ini serakah, rakus, kemaruk, maunya enak dan cepat. Padahal sesuatu yang terlalu cepat juga tidak enak, misalnya Artis Instan, Mie Instan dan hal-hal instan lainnya.

Kata Socrates, manusia adalah hewan yang berpikir. "saya berpikir maka saya ada", saya hanya berpikir lho, nggak benar-benar bertanya, toh dari pikiran saya itu dua orang menjawab pertanyaan saya. Hebat euy. So, kesimpulan atas pertanyaan "kok maish gini-gini aja?", ya simpulkan sendiri...

Bandingan saya bukan yang tiga tahun ndaftar STAN (sekolah terfavorit di Indonesia, coba ikatan dinasnya dicabut, apa masih pada mau ndaftar?) lalau penempatan di nun jauh disana dan waktu kita diborgol habis oleh kode bernama NIP. Atau 5 bulan yang mengubah penghasilan, bernama SPN (Sekolah Polisi Negara).

Bandingan saya adalah Pa Jamil, berapa lama beliau merintis sukses, Mas Andri, Muhammad Yunus juga yang selifting lainnya.

Mencoba lebih wisdom, mengubah parameter (alat ukur), yang tadinya ukuran sukses adalah waktu 'saya ingin besok sukses', 'saya ingin taun depan ini dan anu', diubah menjadi parameternya adalah kelapangan hati. Karena nyatanya semakin banyak tantangan bukan berrti orang semakin menderita. Sebut saja Nabi Muhammad SAW yang tantangannya demikian keras, cadas, dibanding kita. Tapi nyatanya tingkat kebahagiaan d\beliau jauh membubung di atas kita yang tiap hari di manja angin sepoi-sepoi Nusantara.

Kalau pegawai memang punya jaminan hari tua, tapi Entrepreneur sejati jaminannya lebih keren lagi. Jalani saja siklus 40 tahun, kita bermimpi, kita gigih bertindak, giat belajar dan tekun memperbaiki diri. Tutup kuping dari cibiran dan persepsi orang, juga dari masukan-masukan yang tidak membangun. Tutup juga muka dari rasa malu dan keinginan mempertahankan harga diri yang berlebihan. Maju saja, total saja, sungguh-sungguh saja.

Bisa 40 tahun atau bisa lebih cepat, derajat kesejahteraan yang kita impikan hari ini akan terlampaui. Yang saya percaya, kita saat itu belum tentu lebih bahagia dari kita di hari ini. Nggak ada jaminan atas itu, karena itu jangan letakkan kebahagiaan di ujung mimpi kita. Letakkan di setiap hari kita lebih baik.

Kalau hari ini kita bingung mau ngapain, bahagialah sembari memvisualisasikan peta perjalanan hidup kita, ..oh siklusnya sedang datar. Kalau hari ini sedang defisit, sedang dicibir orang... bahagialah episode kehidupan kita sedang berjalan, ..oh sedang di kurva S melembah, kalau tiba-tiba dapat keberutungan, jangan sekali-kali katakan itu Hoki, itu tabungan amal baik yang sedang dicairkan tepat pada waktunya... oh, siklus sedang menanjak... Itu teorinya.

Ya, kalau mau sukses prakteknya maka banyak2lah latihan.

Lalu garansi apa yang kita miliki, garansi bahwa kalau umur kita sampai pada 40 tahun kedepan, maka kesejahteraan yang kita impikan akan tercapai bahkan terlapaui. Nah, kalau umur kita tidak sampai 40 ahun lagi, kita nggak jadi sukses donk? Siapa bilang, yang benar adalah dimanapun ujungnya tetaplah sukses namanya. Karena kita sudah bersungguh-sungguh, dan kesungguhan itu akan dipindahbukukan dalam rekening amal jariyah yang akan kita nikmati entah kita masih di dunia ini atau di dunia selanjutnya.

Itulah garansi seorang entrepreneur. karen aitulah ukurannya bukan seberapa sukses, tapi seberapa sungguh-sungguh. Soal sungguh-sungguh, kapan-kapan saya posting lagi lebih detail.

Transfer Kepercayaan


Dulu yang saya transfer pertama adalah pemikiran... ya, adan akhirnya berkumpullah orang-orang yang se-pemikiran. Sekalipun dikatain sesat oleh kampus, dikatain apes oleh orang lain, dikatain keblinger bahkan. Apa benar semua katain-katain itu, dari sejumlah referensi dan refleksi, mindstream kita masih unggulan tinggal actionstreamnya aja terus dibenahi. Sukses...

Bergeser bulan, yang saya transfer adalah tugas, ini disuruh kesitu, ini disuruh kesini, ini jadi itu, itu jadi anu. Sukses...

Saya sadar tak semua suka didikte, walau didikte itu enak--karena kita jadi tak perlu lihat papan tulis, emang anak SD?--maka yang saya transfer berikutnya adalah tanggung jawab. Bertanggung jawab atas inovasi, bertanggung jawab atas kesinambungan SDM, bertanggungjawab atas peningkatan kemandirian, bertanggungjawab atas stabilitas kasa, bertanggungjawab atas kredibilitas nama dan seterusnya. Sukses...

Sekarang, mulai 16 Mei kemarin saya mencoba transfer kepercayaan. Sejak 10 hari sebelumnya, 6 Mei ibarat anggota DPR, mengambil masa reses, untuk mencari inspirasi banyak2. Sukses...

Semoga sampai tuntas periode transfer kepercayaan ini semua berjalan sukses pula, stabilitas kas terjaga, peningkatan entrepreneurialpun signifikan.

[Foto : Empire Palace, Surabaya]

Tiga, Satu sudah Dua belum


PANTAI
Karangbolong (sudah), Anyer & Senggigi (belum)

KOTA
Malang (sudah), Mataram & Mekah (belum)

PERJALANAN HIDUP
Khitanan (sudah), Menikah & Mati (belum)


[Foto : pantai Karang Bolong, Kebumen]

Hidup Ini Indah



matahari menyinari seisi bumi
seperti Engkau
menyinari perih dalam jasadku ini
selamanya seperti hujan
Kau basahi jiwa yang kering

hidup ini indah bila aku selalu
ada di sisiMu setiap waktu
hingga aku hembuskan nafas yang terakhir
dan kita pun bertemu

Kau bagai udara yang ku hirup
di setiap masa Engkaulah darah
yang mengalir dalam nadiku

maafkanlah selalu salahku
karena Kau memang pemaaf
dan aku hanya manusia

hanya Kau dan aku
dalam awal dan akhir


Malang-Blitar-Madiun-Jakarta


Atau disingkat MATARMAJA, kemarin ketemu keretanya di stasiun Malang. Kereta simbol persahabatan. Bikin simbol sendiri, huehe

[Foto : Gerbong KA Matarmaja]

Jaman Heboh Khitan


Entah anak SD sekarang, jaman kelas 4 SD dulu sekitar tahun 1995 akhir anak-anak seumuran saya dan saya sendiri heboh membicarakan soal khitan, satu kejadian sadis bermodus operasi lokal yang akan menimpa semua anak laki-laki yang mengaku dirinya benar-benar jantan.

Perbincangan seputar hayoo siapa yang sudah, siapa yang belum. Terus yang sudah menakut2i yang belum (dan yang belum penasaran pada yang sudah, bagaimana si hasil kreativitas sang mantri [atw sang dokter untuk yang sedikit modern).

Ada yang takut, ada yang penasaran, ada yang menantang, rupa neka reaksi mereka. Saya termasuk yang takut, hingga akhirnya saya bukan termasuk generasi 'awalun' untuk soal khitan. Waktu itu tahun 2000 baru saya menjumpai oprasi nan sadis ini, kelas 1 SMP cawu (waktu itu masih caturwulan) ketiga, persis seminggu sebelum Giri, salah satu sahabat baik saya (Anehnya kok lamaan saya sembuhnya).

Yah begitulah, sebelum waktu itu tiba, sering minder kalau teman2 yang sudah pada ngobrolin teman ini. Kok saya belum ya? ah tapi pikir saya, yang belum juga masih banyak kok. Ya, seolah2 yang nggak dikhitan2 adalah pengecut yang takut saya jarum suntik dan seperangkat alat mengerikan lainnya.

Namun berganti satu dekade kemudian, mulai tahun 2005 akhir saya mengenal vocab bernama "menikah". Ya, waktu itu yang ada dipikiran saya adalah pada saatnya nanti 'saya akan menikah', lalu seiring dengan perjalanan waktu berganti menjadi 'saya harus menikah', lalu berganti lagi semakin ekstrim menjadi, 'pokoknya saya harus menikah', lalu kesempatan demi kesempatan datang menjadi 'ayo menikah', lalu ke kerabat dan keluarga 'saya ingin menikah', lalu bermunajat pada Tuhan 'mampukan saya menikah', lalu sekarang 'kapan saya bisa menikah?'... ehm... belum belum belum, sebelum itu 'dengan siapa saya menikah?"

sejak 2005 lalu sudah banyak yang mengambil lajur kanan untuk mendahului, Ikhwan dengan Inung, Ms Azis dengan orang Bobosan, lalu sebelumnya ada Wesley, lalu salah satu sepupu dekat saya, sebentar lagi juga satu lagi sepupu dekat saya, lalu Karyanto, dan seterusnya dan seterusnya.

Sempat terlintas cemas, kapan selanjutnya saya? eh bukan bukan bukan, sebelum kapan adalah dengan siapa nanti saya? hikz, tak semenyedihkan itulah kondisi saya, ini terlalu mendramatisir saja.

Lalu kenapa dihubung2kan atuh antara khitan dan nikah, setidaknya ada sua alasan :

pertama : karena dua aktivitas itu melibatkan organ yang sama, huehe.piss... maaf maaf maaf, maksudnya kalau kata ucup kelik, ucapan untuk orang menikah adalah 'selamat menempuh hidup baru', sedangkan ucapan untuk orang yang baru khitan adalah 'selamat menempuh bentuk baru', huehe...

kedua : karena sama-sama menjadi topik terseru pada masanya. masa SD ya topiknya itu, masa wisuda ya topik terserunya berburu rejeki, posisi dan gaji, masa begini, ya topiknya nikah nikah dan nikah. Dan pada masanya nanti topiknya adalah meninggal, wafat dan mati. Sudah jadi siklus hiduplah. Renungkan sendiri maknanya.

Satu hal, saya belum punya hari baik (jangankan hari baik, calon saja belum), yang saya punya baru optimisme bahwa kalau cerita diatas dari taun 1995 baru terwuud 2000, maka kalau ini saya dengung2kan sejak 2005, maka 2010 nanti akan terwujud. Doakan ya teman...

Optimisme yang membuahkan obat bius, yang membuat tak sadar lelahnya mengubah 'keinginan' menjadi 'komitmen'. Sedang transisi antara keduanya, belum 1005 komitmen,Insyaallah sebentar lagi...

Stasiun Gubeng


Computa sudah calling, dan power point 'untuk Indonesia' siap dilanjutkan lagi. Saya yakin slide-slide itu akan selesai, akan berharga mahal, bahkan akan menjadi lembaran buku yang dicetak ulang puluhan kali. Saya lihat itu nyata 5 cm di depan kening saya.

Akan terwujud seperti terwujudnya kali kedua menginjakkan kaki di Gubeng kemarin, stasiun cantik yang ada musiknya. Pernah, masalah yang saya bawa hilang disitu, dicopet... haha bahagia.

Sedang Bangkrut


Indonesia itu sedang bangkrut,

makanya utang menumpul IRD 1.600 triliun lebih, tapi kok hasil pembangunan sampai saat ini tidak mencerminkan angka sebesar itu

makanya bahkan memanfaatkan jasa kursi ruang tungu terminal yang 'buluk' saja musti bayar pajak

kok ya masih pada berbondong-bondong meningkatkan kesejahteraan dengan memburu NIP (Nomor Induk Pegawai)

kok ya mereka yang pada maju jadi capres bergembor2 untuk memenangkan, memandang ini adalah ajang kompetisi, entahlah...

5/23/09

Gramedia


Tempat hilangkan stress ya di sini...

2. Di Gramedia terdekat dan semua Gramedia
3. Di stasiun dan semua kereta ekonomi jarak dekat maupun jauh
Lho, di masjid enggak..??? (sudah pasti No. 1 lah..)