1/24/12

Libur Bingung?

Kamu pelajar atau mahasiswa? Datang libur sampai sebulan lalu bingung? Selamat...kamu sudah sukses dibredel otaknya oleh sekolahan dan kini sudah menjadi manusia instruksional.

Hidupnya tergantung pada instruksi, ketika bebas, ketika libur malah blank. Ketika lulus dan nganggur gusar kesana kemari mencari orang yang mau menyuruh.

Bermuhasabahlah.


Sent using Nokia mobile phone

1/22/12

Lama

"Kamu kok lama nggak posting blog mas?"
"iya po?mosok si?"
"Lagi sibuk ya?have a nice activity aja dah..."
"haha, ga juga. makasih :D ya udah deh ini posting"
"..."

#Asli lagi blank mau posting apa




1/12/12

Kepanjangan

Dua kalimat, seperti di atas mungkin kepanjangan, sehingga susah mempraktekannya. Baiklah, mari kita singkat jadi dua frasa saja, mungkin akan tidak menjadi omong kosong belaka

1. yang menampung sampah
2. makin memahami orang lain

Asinkron

Chainist & Arab menduduki kasta sosial yg lebih tiggi di nusantara ini. Pribumi seperti mbok-mbok pemilik kost yang pekerjaanya adang (menanak nasi), ngumbaih (mencuci pakaian) dan mepeni (menjemur) di belakang rumah. Sementara orang2 bangsa lain, mereka nge kost, tp pake jas, bawa ipad dan yah high lah pokoknya.

Ternyata kondisi seperti ini bukan terjadi akhir2 ini saja, tp sudah terjadi sejak zaman sebelum tjokroaminoto lahir.

OKI, tjokro mengawali perjuangan dengan platform yg sangat sederhana : mengajak warga pribumi merasa setara.

Hm, dan platform perjuangan tjokro ini bukanlah platform yang rapuh di zaman ini. Okelah tidak ada penjajah yg membawa bedil datang ke rumah kita. Tapi coba, merasa kah, betapa inferiornya kita dihadapan bombardir iklan sabun yang harganya setara tarif wc umum dan katanya memiliki kandungan perlindungan mutakhir? Dan ratusan iklan2 lainnya. Kita inferior dihadapan pengiklan.

Kita juga merasa inferior dihadapan birokrat. Padahal, mereka itu rewang (pelayan) kita, bukan sesembahn dan junjungan kita. Hahah, jangan2 mulut kita lantang ngomong demokrasi, tp di otak kita NKRI ini kerajaan.... Cara berpiki sebagian kita kian asinkron saja...

Sent using Nokia mobile phone from Masjid Muhammad Cheng Ho, Purbalingga

Teror Gempa

Aceh kemarin siang gempa, adikku ada disana. Adik yang walaupun dia adik kandung, tapi kita enggak pernah saling memanggil 'sayang-sayangan'. Gempa menjadi teror tersendiri, karena sewaktu2 bisa terjadi. Tak bisa diprediksi besaran skalanya, berpotensi tsunami pun mungkin.

Hm, apakah Aceh lebih aman dari Jawa? Karena disini sudah lama sekali tidak gempa? Yah, aman aman tidak aman lah.

Yang terbaik adalah kita tetap ngotot beramal dunia, tapi juga mesti pasrah kalau sewaktu2 bencana terjadi.

Terlebuh pejabat2 kita makin getol memancing datangnya MAHAPRALAYA, ketua dpr dalam forum resmi enak sekali menyalahkan pemerintag daerah, ketua golkar begitu narsis ngaku2 mmbantu ukm dari aceh sampai papua, presiden ya begitu2 saja, tambang dan mineral terus disedot utk keperluan korporasi global. Hueheheh, untung di negeri ini masih ada orang baik, yg membuat Tuhan simpatik.

Ya allah, lindungilah aku dan keluargaku dari petaka dunia dan api neraka. Amin..

Sent using Nokia mobile phone from Banjarnegara

1/11/12

Kutukan Dosa Belajar

Mengintip jawaban teman saat ujian, itu disebut berdosa. Kenapa? Karena itu adalah aksi memanipulasi takaran kemampuan diri yang nantinya akan tercermin dalam nilai hasil ujian.

Hm, tp aku tidak yakin penyebab orang begitu menjelek2an aktivitas mencontek karena dampak manipulasi itu. Tapi, mereka menganggap mencontek jelek, karena peraturan larangannya jelas terpampang.

Di sisi lain mahasiswa yang anti mencontek, di hari2 menjelang ujian meningkatkan sedemikian rupa tempo, speed & durasi belajarnya. Tujuannya apa? Agar bisa mengerjakan soal ujian dengan baik.

Tidak peduli hasil ujian akibat me'mempeng'kan sinau sedemikian rupa menjelang ujian adalah mencerminkan takaran kemampuan diri atau tidak, yang jelas cara ini tidak pernah dianggap berdosa.

Ya, manusia jaman sekarang kelewat rasional, instruksional, kebenarannya berbasis hukmiah, bukan insaniah. Sehingga, kalau ada kalimat larangan dia jauhi, ada kalimat perintah, ia taati. Yang tidak ada keduanya, ia abaikan.

Contohnya ya memforsir belajar sebelum ujian itu? Bukankah itu jelas2 sebuah Grand Skenario utk memanipulasi hasil ujian? Sehingga sekalipun daya serap, daya ingat & daya analisis kita aslinya cuma 6.0 melalui cara itu, kita berharap dapat skor 9.0.

Ini dianggap hal sepele, bahkan mengada2. Tapi sesungguhnya kasus pergeseran platform ujian dari yang semula utk mengukur kemampuan, menjadi peraihan nilai setinggi mungkin adl lubang kegagalan pendidikan kita.

Ribuan wisudawan menganggur, bertambah setiap tahun. Bisa jadi adalah karena mereka mengabaikan ukuran kemampuan asli dirinya dan nilai-oriented. Atau bisa jadi hal itu terjadi karena kutukan dosa mereka sendiri. Bukan dosa mencontek, itu si dosa kecil. Tapi dosa memanipulasi dengan cara memforsir diri belajar sebelum ujian agar tercipta kemampuan dopping sesaat.

Haha.....jangan ditelan mentah2 dan tekstual. Ini tulisan hanya ingin menyuguhkan sebuah sudut pandang saja.

Sent using Nokia mobile phone from Cilacap

1/10/12

Januari ini, benar2 tidak akan aku lewatkan begitu saja

Kata seorang kawan tadi sore, "Kamu butuh partner yang bisa membuatmu berlari ki!"

Siapakah dia? ah lupakan kalau yang ada dibayanganku partner itu adalah orang. Bukan siapa, tapi apa. Buku time planner large-size, pensil hotel Jayakarta & spidol warna-warni kepunyaan adikku cukup untuk bulan ini.

Ternyata tidak sia-sia membeli buku perencanaan harian seharga setengah merah. Aku bisa memetakan dengan leluasa, bulan ini apa saja yang terlintas... ada 10 di listku, lalu diramping-rampingkan, berkurang deh jadi 6. Diantara 6 itu, ada skala prioritas 1, yakni nomer 1-3 dan skala prioritas 2, yakni nomor 4-6.

Lalu dicermati satu demi satu hari yang tersisa di bulan ini. Amati hari itu masih kosong, atau sudah berisi agenda yang sudah direncanakan sebelum ini. Lalu bagilah hari-hari itu sesuai kadar kebutuhan masing-masing dari keenam hal yang akan didapat di bulan ini.

Lalu pikirkan keterhubungan antara hari ini, besok dan lusa. Mungkinkah hari ini kecapekan karena hari kemarin. atau hari ini tidak boleh capek-capek karena besok butuh stamina prima dan seterusnya. Lalu, pastikan disiplin, tidak ada hal lain yang dikerjakan diluar keenam prioritas itu. Kalau terlintas ide baru, sudah, alokasikan ke Februari.

Prinsipnya sederhana, berhenti berwacana. Lupakan politik, lupakan idealisme, lupakan ideologi, lupakan NU-Salafi. Ini urusan dengkul ke bawah : kaki. 

2012 ini bukan lagi tahunnya ongkang-ongkang itu kaki, saatnya berjalan. Berpindah dari satu urusan ke urusan lainnya, benar-benar tidak akan aku lewatkan begitu saja satu haripun untuk sesuatu yang tidak memberdayakan. Persoalan harapan, gantungkan pada Tuhan semata.

12 Butir Kesepakatan Etika Menulis Blog

1. Menghargai dan menjunjung tinggi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dengan menghindari plagiarisme, pembajakan, dan selalu mencantumkan sumber setiap kali mengutip karya orang lain.

2. Tidak mendiskreditkan pihak lain dan selalu berkomitmen untuk menulis secara proporsional.

3. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur pornografi.

4. Selalu berbagi pengetahuan dan kebaikan melalui blog masing-masing.

5. Tidak berprasangka dan hanya menulis berdasarkan fakta yang diyakini bisa dibuktikan serta tetap dengan menjunjung tinggi etika kesopanan dalam menulis.

6. Tidak melakukan spamming melalui kolom komentar.

7. Tetap menjaga kesopanan dan rasa saling menghormati dalam memberikan komentar pada blog yang dikunjungi.

8. Tidak melakukan hack pada website atau blog lain.

9. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur SARA.

10. Menggunakan bahasa yang baik dalam menulis.

11. Tetap menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam menulis tetapi tidak melanggar hak-hak orang lain.

12. Bersedia meralat informasi yang telah ditulis dalam blog jika di kemudian hari terdapat kesalahan dalam memuat tulisan di blog.*




Risa Amrikasari

1/7/12

Sense of Community

Nah,memang Pa Tofik Rahzen itu orang berilmu, cerdas, bukunya banyak, pengalamannya banyak.

Salah satunya yg beliau katakan, kalau di Purwokerto itu potensinya bagus, sayangnya sense of community nya kurang. Yah, benar juga itu. Di purwokerto ada komunitas blogger, tp blum bisa mengadakan seperti yg komunitas lain buat. Di purwokerto ada komunitas wirausaha, tp krna satu dan lain hal pada cari kerja, kalah besar sama TDA, RJU dan komunitas wirausaha lainnya.

Di Purwokerto ada komunitas trainer, tp trainer2 pada jalan sendiri2. Entah berlebihan atw tidak, tp memang indvidualis kentara bgt. Perasaan senasib sepenanggungan, sepayung sekomunitas hanya bertahan sepanjang kepentingan dirinya terakomodir. Ketika itu tidak, enak sekali komunitas dicueki.

Maka solusinya adalah re-integrasi sosial. Sebuah keinsafan masal, agar masing2 komponen komunitas, komunitas apapun itu, membangun keyakinan baru : kalau bisa menyukseskan bebarengan, sendirinya pasti ikut sukses.

Semoga masing2 mulai bisa menyadari dan bersedia mengikhlaskan diri berbaur dalam proses reintegrasi sosial ini, dan outputnya adl, komunitas2 yg ada disini bisa membuat perhelatan dan kiprah berskala nasional.

Sent using Nokia mobile phone from Malang

Manusia instruksional

Keberhasilan terbesar lembaga pendidikan bernama sekolah adalah : melahirkan manusia istruksional.

Dilatih dengan bel masuk, kalau telat dihukum. Mengumpulkan tugas, harus begini dan begitu. Melunasi biaya sekolah harus sebelum ujian. Dan harus harus harus harus harus harus harus lainnya.

Maka yang ada kebanyakan sekarang adl manusia2 terpelajar yang haus keharusan. Kalau tidak ada orang yg mengharuskan, dia bingung, nganggur bingung, diberi kebebasan bingung. Hidupnya tergantung instruksi.

Entah, sakit hatiku pada sekolahan belum tuntas. Sekolah yg sudah membuat satu sisi bagian otakku terganggu, untung baru terganggu, belum mati. Yaitu sisi bagian otak inisatif.

Ya, harus banyak latihan, agar bisa hidup lagi bagian otak itu. Kalau bagian otak itu sudah normal, kita tidak lg menjadi manusia instruksional.

Mau dimanapun berada, apapun yg dihadapi, bisa jadi sumber produktivitas. Ke tempat pelacuran sekalipun, bisa menjadi sbuah pelajaran. Ke acara apapun, bisa menemukan inspirasi.

Berharap

Faidza faroghta fanshob, waila robbika farghob...

Selesai satu urusan, lanjutkan nggarap urusan lainnya, dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap. Betul itu, itu Quran yang bilang : berharapnya ke Tuhan, bukan ke urusan2 yg qt kerjakan. Hm, i know i know...

Sent with Nokia Mobile Phone from Caruban

1/6/12

Pengejek Pramukaan

Si Putra, kawanku satu kost, yang dulu hobinya mengejekku pramukaan. Yang aktivis MP itu, yang kriting, banyak fansnya dan banyak cewe bilang dia manis--tp aku tidak nemu tuh sudut pandang kemanisannya. Ya, anak itu, hari ini dia menikah di GOR Nabire, Papua. Istrinya namanya Tasya.... Selamat ya put... Barrokalohulaka

1/5/12

Hunting-Hunting

Butuh vector CDR? Ke sini aja.

Butuh hotel murah? bisa ke sini.

Kalau butuh buat nyimpen alamat-alamat web, ke sini nih.

1/4/12

Jokowi Memang Cari Muka

Eh pada ribut katanya Jokowi cari muka. Memang iya kok. Baru tahu? Itu tingkah polah dia persis sama kayak Dahlan Iskan pas di Bali, sudah disediakan hotel bagus, lah kok terus malah enggak mau nginep disana. Cari muka dia dengan nginep di hotel BUMN.

Memang mobil anak negeri, hotel kepunyaan badan usaha negara, ya harus dicarikan muka. Selama ini pejabat-pejabat kita hobinya menjilat pantat lembaga internasional, negara ini dan itu, tanda tangan free trade ujung-ujungnya kerepotan sendiri.

Mana ada diantara mereka yang terpikir untuk mencarikan muka mobil dalam negeri, hotel BUMN. Kalau bukan pejabat yang jadi Brand Ambasador, lha njuk kon sopo neh?

Mahal

Yang mahal itu teman. Buat apa aku punya cukup uang untuk ke TJQ, kalau nggak ada teman yang bisa aku ajak?

1/3/12

Pelembagaan Agama, Pelembagaan Ujian

TL 03/01/12

Pelembagaan Agama

"Apa yang disampaikan GusDur (Pluralisme) sebenarnya merupakan otokritik bagi umat Islam, karena adanya Politisasi Agama & Pendangkalan Agama"
 
Setelah wafat, barulah omongannya banyak dibenar-benarkan orang, termasuk aku. Karena memang benar. Contoh kasus adalah ucapanya di Kick Andy tentang Amin Rais & Mega, "Saya sudah memaafkan", "Tapi tidak melupakan". Betapa arti kata memaafkan memang berada di luar irisan melupakan dan ini menjadi kajian intensif diantara kalangan ilmu pengetahuan psikologi modern dan forgivness terapi.

Termasuk tindakan Sok Pluralnya Gusdur, yah, manusia hanya bisa menghakimi, tapi hakim seadil-adilnya ya hanya Tuhan. Bisa jadi Gusdur memang cuma Sok Plural, sebagai bentuk otokritik pada agamanya sendiri. Karena agama dimaknai begitu politis dan kian dangkal. Agama terlalu dilembagakan.

Inilah salah satu akar tunggang persoalan masyarakat : Pelembagaan agama yang kelewat batas. Agama yang terlalu dilembagakan membuat "ngaji" dan "belajar IPA" itu terpisah. Agama yang dilembagakan membuat yang bersorban harus duduk di shaf depan dan anak jalanan yang celananya sobek rambutnya bundet "dilarang" masuk masjid.

Terpeliharanya kejahatan, keburukan, kenakalan, kebobrokan di luar masjid adalah karena kokohnya pelembagaan masjid dan agama itu sendiri. Pada sadar tidak, wahai orang yang merasa sudah alim-alim?

Pelembagaan Ujian

Perlu diskusi beberapa SKS untuk memahami secara komprehensif sebab, akibat dan kondisi pelembagaan agama serta ekses negatifnya. Untuk pemanasan, mari kita bicara tentang hal yang lebih ringan : Pelembagaan ujian. Saya tergelitik menulis ini setelah mendengar beberapa teman mengumpat-umpat tentang teman lainnya yang mencontek saat ujian, dan beberapa pengajar yang mengomel-ngomel ketika mahasiswanya semakin kreatif membuat contekan.

Apa yang salah dengan mencontek? Perbandingkan kesalahan mencontek dengan kesalahan institusi kita melembagakan ujian. Coba, kembali dulu ke substansi awal : untuk apa ujian ada?

Ujian ada untuk mengukur ketercapaian proses pendidikan. Aku ulangi, untuk "mengukur". Nah, kalau untuk mengukur saja, kenapa harus demikian disakralkan (pendangkalan ujian), ada perintah harus hening dilarang mencontek. ada ritual pekan sunyi, ada doa bersama istighosah sukses ujian. DAN YANG LEBIH MENTERENG LAGI ADALAH ADA ANCAMAN, KALAU BELUM LUNAS SPP TIDAK BISA IKUT UJIAN (politisasi ujian).

Sepetinya harus ada Gusdur Junior yang mau membawa obor masuk ke wahana pluralisme dan menerangi substansi ketimbang hanya kemasan. Daging buah, ketimbang hanya lembaga. Harus ada Gusdur Junior yang mau masuk ke alam pendidikan yang demikian plural. Loh iya, dikiranya belajar itu tunggal : disekolah. Media belajar itu begitu plural, di sawah, di toko buku, di mal, di angkringan bahkan di gang pelacuran, di setiap tempat bisa terjadi itu proses belajar. 

Berlatih jujur yang hakiki bukanlah dengan tidak mencontek atau menjelek-jelekkan orang yang mencontek. Tapi jujur yang hakiki adalah tampil apa adanya... kalau memang ketercapaian kita masih pada level 7, ya biarlah saat ujian itu yang muncul.

Tidak usah didopping dengan belajar extra, tidak usah dimantra-mantrai dengan istighosah berlebihan. 

Ujian itu untuk mengukur, atau untuk apa si?

Hari Quran

Selain mengajarkan program self-training bernama Riyadoh 40. Yusuf Mansyur juga mengajak kita untuk punya Hari Quran. Sederhana tuh, jadi bagi para usahawan, bisa saja diterapkan 5 hari usaha (setara 5 hari kerja). Dua hari sisanya kita full free dari urusan bisnis. Hari keenam kita pakai untuk libur/refreshing, dan Hari ketujuh kita full pakai untuk membaca, mengkaji dan berkontemplasi dengan Al Quran.

Di ANTV Pagi ini (03/01/12) sederhana sekali Yusuf Mansyur menjelaskan. "Bagi bapak-bapak, ibu-ibu, yang punya toko. Coba sehari saja, datang ke toko, bawa Mushaf, terus masuk ke toko, enggak usah dibuka itu toko, di dalam baca Quran seharian dari pagi sampai sore. Lalu lihat saja, pasti.... pasti nggak ada yang beli". Haha, bisa saja ini ustadz.

Tapi coba saja, gitu kata beliau. Akan jadi pembuktian ini, bahwa selama ini yang kita yakini, yang mendatangkan rejeki itu toko atau Allah. Ayo, selamat mencoba.

1/2/12

Siap Menang, Siap Kalah.

kalah kompetisi, itu tidak selalu berarti jelek. itu betul. karena itulah, lebih baik jangan ikut kompetisi, kalau masih mudah berkecil hati. Pa Ade Supriatna, projectnya namanya Bambu Indah Nusantara (BIN), mantap kali dia membuat papan sepertihalnya papan kayu, tapi bahan bakunya dari bambu yang di press.

Project sebagus itu, dan sudah berjalan. Belum lagi ada program yang keren banget, "tebang 1 bambu, tanam 2 bambu". Nah, sebagus itu tidak lolos di Community Entrepeneur Challange II kemarin. Bayangkan kalau Pa Ade berkecil hati, bisa-bisa patah semangat, terus kendor aksinya.

Tapi Pa Ade siap menang, siap juga kalah. Makanya tidak berkecil hati. Kita-kita yang sedang bernasib kalah juga harus mencontoh itu Pa Ade. Tetaplah apresiasi diri sendiri, berkecil hati itu tidak ada gunanya.

Satu lagi, ciri orang yang siap menang adalah dia kecewa ketika kalah. Tapi dia bisa mengendalikan kekecewaannya itu. Sehingga rasa kecewanya tidak destruktif, tidak menjadi bibit kecil hati. Tapi orang yang tidak siap menang, dia akan berdalih "ah, saya nggak ngejar juara kok, yang penting kan ilmunya, yang penting networking", bisa jadi itu cuma kedok dibalik ketidak gentle-an menerima nasib.




Timpang


Tiket Logawa, kereta ekonomi untuk tarif jarak terdekat, termasuk ke Jogja per 1 Januari 2012 : 36.000.


Tiket Efisiensi, Bus Patas AC jurusan Purwokerto/Cilacap Jogja dengan pelayanan Excellent masih tetap sama Rp 40.000. (Include Air Mineral + Shuttle gratis ke dalam kota) 


Dari kedua perbandingan itu, pilih mana?




Kurang Indonesia

Aku memang kalah sama Tel***sel, yang "Paling Indonesia" itu. Aku cuma orang yang "kurang Indonesia", ketika aku mengajak seorang kawan jauh menjelajah negara tetangga, dia menolak "aku mau menjelajah Indonesia dulu bro, belum tertarik dengan luar negeri". Haha, dan begitulah, aku menjadi orang yang begitu tidak menarik untuk berbicara itenerary perjalanan dalam negeri.

Yah, begitulah aku yang "kurang Indonesia" ini lebih senang hunting info tentang trip di New Zealand, mencari-cari tiket promo ke Singapura dan bermimpi bisa sampai ke negeri tempat dimana Igi sedang study sekarang, Jepang.

Aku punya tiga alasan kenapa lebih tertarik ke luar Indonesia sementara ini :

Pertama : Indahnya Indonesia itu sudah tidak 0,00%pun aku ragu. Jadi tidak perlu aku harus membuktikannya satu-satu. Aku sudah cukup takjub walau belum punya kesempatan menjelajahnya.

Kedua : Aku sangat tertarik dengan kisah seorang kawan yang bekerja di Hongaria, kawan yang berdinas di Jeddah, kenalan baik yang pernah berkeliling di bekas Uni Soviet dan dosen yang pernah riset kecil-kecilan di sekitar Masjid Nabawi. Bahwa disana orang Indonesia itu unggul, bahwa disana akan menemukan banyak hal yang musti kamu syukuri karena di Indonesia banyak yang lebih baik. Aku ingin menuju semua penjuru negara-negara, untuk memperoleh gambaran yang empirik, bukan sekedar dalam bayangan, seberapa perbandingan Indonesia dan negara-negara serta orang-orang disana. Bahwa Indonesia memang unggul.

Ketiga : Kalau harus menghabiskan Indonesia dulu baru ke luar negeri. Kapan habisnya tempat-tempat menakjubkan di negeri ini dijelajahi? Bahkan satu sudut pantai diantara Menganti dan Karangbolong saja terselip tidak ter-expose di buku traveling manapun.

Ya begitu itu. Bukan untuk "aku pernah kesini loh, aku pernah kesitu loh" aku ingin bepergian. Aku ingin bepergian untuk membuktikan dengan mata kepala kalau Ras bangsaku tidak se-inferior yang di citrakan dunia kepada kita saat ini.



Pacaran Konvensional, Pacaran Syariah

Bukan cuma BNI, yang di utara jalan namanya BNI konvensional dan di selatan jalan BNI Syariah. Pacaran juga sekarang bermunculan versi-versi hijaunya


Pacaran Islami
 
Ahaha, masing ingat istilah pacaran Islami? kisah relationship pejuang agama, yang kalau kajian hijabnya tingginya 3 meter dan tebalnya 1 meter dengan bahan baja tidak tembus pandang? tapi sesampai di rumah mereka sms-an, "ukhti, tahajud yuk...", bermodal lembar kontak person jarkom kepanitiaan.

Kisah ini beneran adanya, Ustadz Fatur yang bertutur kala itu, beliau dicurhati seorang akhwat yang mengaku dirinya suka smsan begitu-itu dengan rekan ikhwan sesama aktivis.



Sahabat Menuju Pernikahan

Ada lagi versi yang lebih inovatif. Istilahnya SMP alias Sahabat Menuju Pernikahan. "Dia bukan pacarku kok, dia adalah sahabat menuju pernikahanku. Ahaha, keren juga, se-keren rentenir yang menyewa ruko kemudian memasang neonbox dengan nama "Penyedia Jasa Pembiayaan Mikro". Ah, tetap saja bunganya selangit. Tetap saja itu "sahabat" dalam tanpda petik.

Setahuku, sahabat itu tanpa pamrih. Dalam persahabatan, bukan tujuan yang dicari, tapi perjalanan bersama, itu yang dinikmati.



Adik-Kakak Angkat

Ini versi beda lagi, ada keterlibatan birokrasi disini. Loh kok birokrasi? Iya, petugas Kantor Catatan Sipil dilibatkan. Dia kakakku, dia adikku... Nah, kalau sudah tercatat di Catatan Sipil, serasa sudah berhak deh bermanja-manja-an satu sama lain, "ade, kaka insomnia nih, temenin BBMan dunk.."

Dan itu "bukan" pacaran. "bukan" nya pakai tanda petik si.



Teman-"TER"Baikku

Nothing special betwen us. Tapi dia teman terbaikku. Ihirr, kalau aku dengar statement ini. "dia teman baikku" dan "dia teman 'TER'-baikku" walau cuma beda "ter" tapi maknanya sangat beda. "Ter" menunjukkan satu nuansa superlatif-relationship. Bedanya dengan mengatakan "dia pacarku" adalah ada rasa tidak PeDe aja, padahal sebetulnya ya PeDe-PeDe aja lagi, optimis! bisa kok! Wehee

1/1/12

Akhirnya Masuk WMM

Awarding Night at Jayakarta Hotel, Jogja

Rasanya sudah tidak ingin menang, karena memang aku merasa belum pantas menang. Tapi, ketika kita sudah memasuki sebuah kompetisi maka sudah menjadi keharusan untuk kita berusaha untuk menang, kalau perlu "ngoyo" untuk menang.

Seorang teman berpesan padaku, sudah usaha saja, tapi tidak usah ngoyo. Hahah, tapi aku tidak sepakat dengan pesan itu. Anjuran untuk tidak ngoyo (bersungguh-sungguh dengan pol) hanyalah tameng, tameng karena belum siap ikhlas, kalau hasilnya tidak tercapai. Artinya dia masih ragu dengan kemampuan ikhlas yang ia miliki.

Yang benar adalah, berusahalah sebersungguh-sungguhmungkin, perkara tidak tercapai, ikhlas. Nah, semakin tinggi tingkat sungguh-sungguh, artinya semakin lebar bentangan keikhlasan kita. Mudeng enggak mudeng lanjutin baca saja.

Dan di penghujung tahun 2011 kemarin, berita baik aku dapat dari Mandiri, satu impianku lagi tercapai, jadi Finalis Wilayah VII Wirausaha Muda Mandiri. Mimpiku memang itu, belum mimpi untuk jadi pemenang di nasional, jadi ya pantas saja, ketika maju ke level nasional, aku belum tembus. Aku kalah saing, sainganku GEMILANG dia sudah 3 kali mengikuti kompetisi ini, profilnya ada di buku ke-2 Wirausaha Muda Mandiri halaman 109. Bukan lawan sembarangan.

Dan aku rayakan terwujudnya mimpiku ini dengan kawanku ke Ullen Sentalu, ke Malioboro beli jam tangan, ke Shoping borong buku dan mampir di Yu Djum beli gudeg buat oleh-oleh.

Lion Air Beli 230 Pesawat Baru Boeing ???

Kontrak pembelian oleh Lion Air sudah ditanda tangani disaksikan SBY dan Obama, kedua presiden sama2 sedang anjlok reputasinya didalam negerinya masing2, anjloknya juga sama2 disebabkan kebijaksanaan ekonomi yang blunder menuju krisis yang lebih dalam, menuju peningkatan pengangguran.

Jadi berita pembelian 230 pesawat Boeing betul2 menjadi kejutan di masing2 kedua negara ybs. Tentunya baik SBY maupun Obama mengharapkan reputasinya akan meningkat dengan kejadian ini tepat diambang pemilu di-masing2 negara.

Padahal Lion Air hanyalah perusahaan penerbangan baru yang tidak besar, tidak banyakhttp://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=4907242525845181587#editor/target=post;postID=1825947304857914303 pengalaman, dan terlalu banyak di dongkrak para petinggi negara dalam konspirasi yang memerlukan tutup mulut. Jelas Lion Air tidak punya dana untuk merampungkan pembelian ini. Ternyata dibelakang ada bank yang tidak disebutkan namanya yang katanya memberikan kredit selama 12 tahun untuk mencicil hutang pembelian 230 Boeing ini.

Yang menjadi sorotan adalah siapa bank-nya ??? Memang bisa jadi sebuah bank swasta di Indonesia, tapi bank swasta di Indonesia juga tidak ada yang punya dana sebanyak itu. Kenapa tidak bisa bekerja sama dengan Obama mencarikan backing bank2 yang lagi krisis di Amerika ??? Beda nya, kalo bank di Indonesia tidak punya duit untuk diputer, maka bank di Amerika kelebihan duit yang enggak bisa diputer. Disini kuncinya ketemu.

Semua kelihatannya berjalan mulus, tetapi kita semua tahu, dari pengalaman yang lalu bisa dibuktikan enggak ada yang mulus, kita perlu waktu sekitar 5-7 tahun yang akan datang, barulah akan kelihatan tanda2nya. Bisa saja kontrak dibatalkan ditengah jalan, bisa juga kontraknya diubah dari pembelian 230 pesawat menjadi jumlah 23 pesawat atau bahkan cuma 2 atau 3 pesawat saja.

Ada banyak ahli yang berpendapat bahwa krisis global dimulai oleh bangkrutnya bisnis real estate di Amerika. Ternyata ini tidak benar, yang lebih tepat dimulai sejak terjadinya serangan teror 911, dua gedung kembar runtuh, dibawah tanah gedung tsb merupakan tempat penyimpanan emas Amerika sebanyak ribuan ton yang penyelamatannya memerlukan waktu ber-tahun2. Akibatnya harga emas meroket, biasanya Amerika bisa mengontrol dan memainkan harga emas, namun saat ini betul2 lepas kontrol karena untuk mengontrol harga emas tentunya harus juga dengan emas. Jadi tanpa memiliki emas Amerika malah keteteran mempertahankan nilai dollarnya. Semua ini sambung menyambung diikuti outsourcing pabrik2 Amerika ke Cina dan India, jutaan buruh kena laid-off, dan jutaan buruh yang tadinya sedang mencicil rumah tidak mampu lagi membayar cicilan rumahnya, bersambung ke perusahaan real estate yang tersumbat aliran dananya, maka runtuhlah kesemuanya tanpa bisa dipertahankan lagi.

Jadi akibat teror 911 selanjutnya adalah ketakutan traveler diseluruh dunia untuk menaiki pesawat terbang, mereka takut pesawatnya meledak mendadak waktu diudara. Akibatnya, sampai lebih dari dua tahun semua penerbangan kehilangan penumpang, discount ticket ternyata tidak menolong, penumpang kereta api dan kapal laut meningkat lebih dari 200%. Wajar hampir semua penerbangan Amerika bangkrut, bersambung ke Boeing yang kontraknya dibatalkan oleh Pentagon karena Amerika tidak punya dana lagi, semua dana dikerahkan membiayai perang di Irak dan Afghanistant. Makin banyak prajurit yang mati, makin banyak dana yang dikeluarkan. Selanjutnya anda bisa mengikuti beritanya di media umumnya.

Singkat ceritanya, dalam situasi prihatin seperti ini, sebuah perusahaan kecil di Indonesia bikin kejutan, entah ini memang betul2 kejutan atau semacam rekayasa kedua presiden yang kebetulan mempunyai pertalian persahabatan yang unik yang kebetulan sama2 punya vested interest untuk meningkatkan jumlah pemilihnya di pemilu yang beberapa tahun lagi. Ini betul2 merupakan prestasi dan prestige dimata dalam dan luar negeri kedua negara yang sama2 sedang disibuki oleh berbagai macam demo2.

Kita bukan mencurigai atau prejudice, melainkan dari analisa pasar bisa dipastikan bahwa dalam kondisi begini tidak mungkin ada keajaiban. Apalagi di Amerika dan di Indonesia hampir semua bank2 mengalami pelarian dana dibawa lari oleh masing2 CEO-nya yang penyelesaiannya sengaja digantung ter-katung2 menjadi pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya. Entah bank mana yang nantinya akan menjadi kambing hitamnya. Mari kita tunggu jawabannya nanti sekitar 5-7 tahun yang akan datang, yang jelas dua pemilu sudah berlalu dan kedua bekas presiden ini bisa menunjuk kesalahannya pada suksesor-nya masing2 yang lalai dan ceroboh mengambil kebijaksanaan yang bertentangan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

12/26/11

Walikukun

Melesat di atas logawa, sudah 2 jam ada.
gobyos di dalam kereta, azis memilih di pintu, hilmy tidur, aku baca bukunya cak nun.
tadi pa tofik-penasehatSBY telpon ngajak nonton wayang ruwat.
meta sms, sepertinya mau ada kiriman legit nih nanti malam sebelum nonton teman2 Jamus pentas di ump.
aku kehilangan contact dg Hurin, aduh padahal belum ngucapin terima kasih. Makasih ya Mba e, jamuannya & pertolongannya kemarin.
yang akan menjemputku nanti si Puput, siap sedia di stasiun maghrib, sekarang dia lg cari flanel bwt bikin surprise utk seseorang.
Dua calon order masuk by sms, semoga lekas deal.
bakul2 segala rupa berseliweran, cuma beli nasi campur 4.000 sebelum madiun tadi & sebungkus nangka di stasiun walikukun, ngawi.

12/21/11

Sekali Lagi : Jangan Gumunan

Gramedia Purwokerto 13/12/11

Jalan-jalan di Gramedia, lihat di etalase utama, bukunya anak muda semua : Merry Riana & Bong Chandra. Hanjuk gumun... kok bisa ya semuda itu bisnis property highclass, kok bisa ya umur 26 tahun punya income 10 miliar sebulan.

Lihat websitenya Indonesia Young Changemaker, klak klik klak klik ketemu daftar panitianya. Gebleeg, profil tiap-tiap panitia keren-keren banget, pernah ikut kongres internasional ini, pernah dapat penghargaan itu. Gumun maning...

Blogwalking ke blognya Mbak Dika, wesheh... nggak cuma ngomongnya yang fasih berbahasa Inggris, blognya juga bahasa Inggrisnya vocab & structure nya kelihatan bukan sembarang pemilihan kata. Gumun.. gumun... gumun deh.

Gumun itu baik, karena di dalam gumun terselip satu apresiasi positif, sanjungan dan ungkapan menghormati. Tapi kalau dengan gumun, kita jadi nge-peer, jadi rendah diri, jadi merasa kurang berarti, jadi kempes. Aduh, mending di-delete lah itu kegumunanmu.

Seperti saat kita gumun melihat cantiknya pemandangan sebuah gunung dengan sejuknya warna biru, pikirkanlah, jangan berhenti pada kecantikan yang membuatmu gumun itu. Pikirkanlah bahwa ketika didekati, warnanya itu hijau, hutan, pohon, batu, jurang, sama sekali berbeda dengan biru yang kamu lihat.



*gumun (jawa : kagum)

12/17/11

Satu Jam Bersama Bapak Kafir Liberal Indonesia

Bersama Orang Kafir+Liberal+Merdesa


Sudah lama mengikuti twitternya @kafirliberal, eh kemarin ketemu orangnya, Kang Dadang namanya. Mungkin bagi orang Islam fundamental dan radikal orang seperti kang Dadang ini halal darahnya. Tapi, bagiku, apalagi mutiara ilmu dari Kang Dadang, bahkan dari mulut Anjing sekalipun tetaplah mutiara.

Obrolan sekitar satu jam kemarin, lebih malah mendiskusikan cukup banyak hal. Tentang Akhlak Nabi Muhammad yang similar dengan kultur masyarakat Sunda, tentang asal-usul bangsa Yahudi yang ternyata berasal dari Paparan Sunda (baca : Nusantara), tentang Tuhan, tentang Sholat sampai tentang libido sexual.

Aku, Hilmy dan Kukuh kemarin bertiga larut dalam diskusi mengasyikkan dengan pribadi low profile tapi sangat getol sekali belajar dan melakukan pencarian hidup. Karena panasnya diskusi ini, selama diskusi berlangsung kami bolak balik menoleh kiri kanan, agar jangan sampai ada orang awam yang ikut nguping. Karena kalau ada yang mendengar perbicangan kami, dan dia belum memiliki dasar ilmu kanuragan (halah...) yang cukup, bisa-bisa kami semua ditembak ditempat karena dianggap halal darahnya.

Kang Dadang memang orang yang Edan, Tuhan saja dia maki-maki. Seperti yang kita tahu, dia membuat banyak kaos bertulisan kontroversial, seperti "DEMI TUHAN, SAYA ATHEIS", atau "DEMI ALLAH, SAYA SUDAH MEMBUNUH TUHAN", dan sebagainya. Memang betul beliau edan, tapi kan ini jaman edan, jadi dalam garis bilangan edan minus edan = 0, netral. Haha...

Ada satu statement menarik dari Kang Dadang kemarin. Begini bunyi statement itu, Bahwasannya orang yang menyembah matahari, menyembah pohon, itu lebih Islami ketimbang orang modern yang mensyirik-syirikkan mereka. Haaah... kok bisa? berani sekali kang Dadang ini membuat statement.

Benar menurut saya pernyataaan Kang Dadang ini, Orang yang memuja matahari dan memuja pohon, itu mending, dia memuja sesuatu yang merupakan bagian dari alam semesta. Ada interaksi kasih sayang antara dirinya dengan alam semesta, ada kemesraan, ada synergy, ada keselarasan. Sedangkan orang modern macam kita, kita menyembah apa coba?

"Loh, kita kan menyembah Tuhan!!!". Eit, aku tanya dulu, kamu tahu apa itu Tuhan? Kamu sudah mengenal Tuhan? Apakah Tuhan yang ada dalam pikiranmu sama dengan Tuhan secara hakiki? Kalau memang iya, lalu kenapa masih ada perdebatan soal yasinan, qunut, celana cungklang, cadar, dll?

Kita selama ini menyembah Tuhan yang sebenarnya, atau kita menyembah persepsi? Bukankah persepsi itu produk pikiran kita sendiri? Bukankan persepsi itu fiktif?

Coba introspeksi dalam-dalam, wiridan dari tengah malam sampai matahari terbit, untuk menjawab pertanyaan ini : Sesungguhnya selama ini aku menyembah Tuhan? Atau menyembah PERSEPSI-ku tentang Tuhan?

Naas sekali kalau kita mensyirik2an orang yang memuja pohon, sedangkan kita sendiri adalah penyembah persepsi.


12/15/11

Dijual Terpisah


Pidato Kelulusan Rizky Dwi Rahmawan
Purwokerto, 16 Desember 2011


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada awalnya dulu, saya mengenal kecerdasan hanya ada satu, yakni kecerdasan akademis. Pertemuan saya dengan buku karangan Andreas Harefa berjudul "Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup" membuka bingkai berpikir saya bahwa kecerdasan ada banyak macamnya, ada yang menyebut ada delapan yakni yang kita kenal sebagai multiple inteligence, ada yang menyebut lebih.

Perjalanan saya setelah bingkai berpikir itu terbongkar pada akhirnya berbanding lurus dengan ritme kesibukan saya di organisasi semasa SMA dan di dunia entrepreneurship setelah lulus SMA. Dan ini berbanding terbalik dengan skor serta rangking di bidang akademis saya. Namun, itu tidak mengapa, saya memandang itu dengan penuh ungkapan kesyukuran, bahwa seperti inilah selugas-lugasnya proses belajar saya, tidak monoton, tidak linear, tidak pula terperangkap dalam kotak.

Setelah saat ini saya dinyatakan lulus dari perkuliahan di kampus kedua saya, terbetik inisiatif untuk bertanya kepada diri saya sendiri sebuah pertanyaan yang dulu di awal kuliah juga saya tanyakan, "untuk apa saya kuliah sebenarnya?".

Maka jawaban saya masih tetap sama, yakni untuk mengisi waktu luang. Itu adalah jawaban pribadi. Lalu bagaimana jawaban yang lebih bisa mewakili bila pertanyaan itu menyangkut tentang orang tua dan keluarga saya? Jawabannya adalah saya kuliah untuk mendapatkan ijazah.

Ijazah yang selembar kertas itu tidak pernah saya pandang sebagai barang sakral yang harus berwudlu dulu sebelum menyentuhnya. Selembar kertas itu diyakini berpengaruh erat dengan nasib penghidupan seseorang, karenanyalah benda ini demikian sakral. Bagi banyak orang begitu, tapi tidak bagi saya. Ijazah bagi saya tidak berbeda dengan bon yang kita dapatkan seusai belanja dari minimarket.

Ya, ijazah adalah bukti pembayaran. Bahwa kita sudah lunas membayar tugas, PR, praktikum dan berbagai aturan kedisiplinan kampus. Bahwa kita sudah menyumbang buku di perpustakaan sebelum lulus. Dan bahwa kita sudah membayar semua biaya SKS yang kita ambil, praktikum dan remidial.

Saya memaklumi ketika Ibu dan Bapak saya begitu memandang penting selembar bukti pembayaran ini sekalipun harus mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk mendapatkannya. Karena memang kita hidup di zaman dimana kebenaran kolektif mengatakan, orang yang berijazah lebih tinggi strata hidupnya ketimbang orang yang tidak berijazah. Tentu Ibu dan Bapak saya ingin anaknya ini mendapat kedudukan yang tinggi dimata masyarakat, dan mereka mengupayakannya dengan cara yang dipahami dan diterima oleh masyarakat luas saat ini.

Akan tetapi, sebagai pribadi, saya malah jadi tergelitik dengan kondisi yang terjadi pada diri saya. Pada tanggal 30 November 2011 dibacakan SK Yudisium, saya termasuk yang dinyatakan lulus, ada nama saya di lembar SK tersebut. Namun, dengan alasan untuk dibagikan bersamaan dengan kelulusan periode sebelumnya yang belum mendapat ijazah, maka saat itu hanya dijanjikan ijazah baru dapat diambil setelah wisuda.

Dan saya diharuskan ikut wisuda. Kalau tidak ikut wisuda, tetap bayar penuh. Kalau belum bayar penuh, ijazah ditahan. Nalar berpikir saya agak janggal mendapati pernyataan seperti ini. Saya sudah dinyatakan lulus, tapi tidak boleh mengambil ijazah, karena belum membayar biaya wisuda. Pertanyaannya apakah wisuda itu? Apa ada SKS nya? Apa kalau tidak wisuda jadi kelulusan dibatalkan.

Jawaban yang saya terima dari kampus sederhana : ini sesuai kesepakatan di awal, semua biaya satu paket. Dengan jawaban yang tidak mutu ini, saya berharap menemukan pelurusan kebijakan kampus, agar tidak intimidatif begini. Atau kalau memang tetap memaksakan biaya sepaket ini, tolong bisa menunjukkan ketentuannya seperti apa, siapa yang menandatangani ketentuan itu dan bagaimana kekuatan hukumnya.

Dulu saya tahunya ketika datang pertama kali ijazah dan wisuda dijual terpisah, tetapi ternyata satu paket. Mana mahal pula harga wisudanya. Persoalan ini bukan soal nominal atau dalih penegakkan aturan belaka. Persoalan ini menjadi benar-benar penting karena merupakan satu bentuk intimidasi mental, mental kerbau dicucuk hidungnya. Mental pembayar pajak di SAMSAT yang dipaksa membeli map+balpoint yang tidak jelas urgensi fungsinya. Disini saya mempertanyakan apa urgensi fungsi perhelatan berbiaya 135 juta rupiah besok dengan aturan yang memaksa wajib membayar semua itu?

Namun begitulah, realitas yang harus dipelajari, ditelaah dan kemudian disikapi, bukan hanya diam saja. Karena belajar bukan soal menyelsaikan silabus belaka, tetapi lebih dari itu adalah persoalan bagaimana menggunakan instrumen berpikir, untuk tidak mudah disetir, diremote dan diintimidasi.

Maka terakhir, saya mengajak kepada semua sivitas akademika untuk tidak turut dalam riuhnya hedonisme dan materialisme. Pendidikan diabaikan, penjualan dinomorsatukan. Perbudakan dikampus dilestarikan, riset lapangan entah dikemanakan. Semua itu harus diperbaiki. Agar kampus bukan hanya menghasilkan lulusan ber-IPK manajer tetapi bermental kuli. Lebih baik menghasilkan IPK kuli, tetapi berkedudukan manajer.

Washolallohu'ala nabi muhammad, 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

12/14/11

Buku

Aku bukan kolektor buku, karenanya aku tidak pernah menemui kerepotan seperti defi yang sedang melacak buku2nya malam ini. Buku dipinjam, tidak kembali ya tidak apa2. Yang penting aku sudah katam membacanya. Kalau ilang gimana? Ya tidak apa2, toh tiap beli buku juga nawaitunya sedekah jariyah, duitnya juga diambil dari spare dana sosial pribadi.he..

Tp karena itu juga, aku tidak bisa seperti pa asep. Yang rumahnya penuh buku, kalau mau menulis apa referensi tinggal comot. Ah, tp tidak mengapa, toh aku bukan penulis ilmiah.

Dan aku juga kok ya nggak pernah kepikiran untuk menjepret mendokumentasikan buku2 yang pernah aku baca seperti adhi. Jadi kadang sampe lupa aku pernah beli buku quantum ikhlas, buku2nya ippho, prof zuhal.. Dll

Buku hanya titipan.. He

Kapitalisasi Populasi Nyamuk

Kemarin ngobrol-ngobrol dengan kawanku, Anggi, salah satu putra desa di ujung Barat Banyumas. Gumelar nama daerahnya. Ditengah-tengah kesibukannya menuntaskan skripsi, ternyata dia punya kesibukan lain. Apa itu kesibukannya? kesibukannya adalah mengamati nyamuk pasca disemprot obat anti nyamuk.

Jadi, menurut pengamatannya. Nyamuk, setelah disemprot obat anti nyamuk, mereka pada tepar, tapi tidak mat. Setelah matahari terbit, mereka pada bangun lagi *kayak vampire* lalu terbang tapi oleng kekiri dan ke kanan. Dia berhipotesis mungkin si nyamuk itu mabok karena obat semprot anti nyamuk itu.

Nah inilah... inilah.... disini ada yang janggal. Jangan-jangan obat anti nyamuk itu tidak ampuh. Masa membunuh nyamuk saja tidak becus, cuma bikin itu nyamuk mabok dan pingsan saja. Atau... ada kesengajaan dari pabrik pembuat anti nyamuk. Karena mereka sayang sama nyamuk, sehingga tidak dibunuh, cuma dipingsankan saja.

Pantas saja walau sudah tiap hari pakai semprotan anti nyamuk, nyamuk ada terus setiap hari. Tapi kalau obat anti nyamuk yang disemprot itu bisa mematikan nyamuk, perusahaan pembuat antinyamuk yang repot, besok lagi sudah tidak pada ada nyamuk, lalu sepi deh itu produk.

Atau ada kesengajaan, populasi nyamuk dipertahankan sedemikian rupa agar obat antinyamuk tetap laku? Nah, ini nih yang namanya kapitalisasi.

Tapi mungkin ada yang berkilah, nyamuk mati kok mas kena semprot, tapi kan yang bayi-bayi nyamuk pada lahir lagi dan meneruskan generasi, makanya besoknya ada lagi. Nah inilah... inilah... masa iya si sebodoh itu profesor membuat riset penelitian hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, nyamuk bayinya tidak sekalian agar generasi nyamuk habis.

Bagaimanapun nyamuk seperti pelangi, keduanya adalah ciptaan Tuhan. Mungkin perusahaan antinyamuk membuat formula yang tidak memberangus habis nyamuk bukan karena tidak mampu, tapi karena ingin melestarikan keberadaan populasi ciptaan Tuhan. Atau sebenarnya si lebih mungkin, agar produknya laku terus, ada yang butuh terus.

Hidup Nyamuk!


Keren lah ya?

Rencana menghidupkan lagi Kording masih belum terrealiasasi, padahal sudah hampir 8 bulan berlalu. Ah, masih bermental birokrat rupanya kita. Padahal, orisinalitas dan nilai inspiratifnya tidak remeh temeh itu produk. Hayuklah, sebelum tahun ini lewat, harus sudah terbit lagi.

Semangat Donk sebagai komunitas tetap akan dikibarkan, tanpa perlu diganti nama. Aku punya satu usulan lagi, karena kemarin mendengar nama yang bagus dan walau sudah dipakai di banyak instansi, tapi nanti unit bisnisnya Semangat Donk kalau sudah established juga akan memakai nama SDI. Misalnya, PT SDI : Sumber Daya Insani...

Maknanya apa? usaha ini berbasis padat karya, memberdayakan insan-insan. Keren lah ya? Hm, bayangkan saja SDI tercetak seperti tulisan di sisi kanan jalan tol sokaraja di sebuah pabrik internasional : Indesso

12/13/11

Nglarisi

Dekade training sudah selesai. ESQ berhasil meleading dengan baik, didampingi oleh EU, Kubik dan banyak lagi lainnya. Indonesia yang katanya negara terbelakang ternyata memiliki produk yang mendunia macam nama-nama di atas, itu satu kebanggaan tersendiri buat kita pastinya.

Training bisa menjadi solusi, salah satunya untuk menghidupan sektor riil, yakni dengan training-training entrepreneurship. Namun, training bukanlah satu-satunya solusi untuk itu. Ada cara lain untuk menghidupkan sektor riil, yang cara ini bisa dilakukan oleh semua orang, tanpa harus berlatih public speaking terlebih dahulu sebagaimana calon trainer.

Cara itu adalah dengan : sedekah.

Sedekah yang kita kenal selama ini kebanyakan adalah sedekah konvensional, ada kotak di masjid dicemplungin receh. Ada peminta-minta, dikasih. Ada yayasan bawa proposal, diberi uang. Ada lebihan rejeki diwakafkan untuk mengkeramik masjid dan seterusnya.

Padahal ada model sedekah yang tidak kalah keren. Itu adalah sedekah dengan "nglarisi" pedagang kecil. Ada penjual sapu keliling, dibeli. Ada penjual ciri-mutu, dibeli. Ada penjual mainan anak kecil, dibeli. Ada penjual tas jelek, dibeli. Ada penjual salak, dibeli. Pernahkah seperti itu? Atau merasa itu tidak penting karena pahalanya tidak sebesar membelikan keramik untuk masjid?

Cobalah "nglarisi", agar penjual salak senang dengan aktivitasnya dan dia terus berjualan. Cobalah "nglarisi", agar penjual sapu dapat menyambung hidupnya dan dia bisa mengajari anaknya berjualan juga. "Loh kan aku nggak butuh", atau "Aduh, aku kalau beli sapu harus yang kualitas supermarket boo", dan seterusnya.

Ya sudah kalau memang enggak butuh, atau barangnya jelek, simpan saja dulu, besok lagi berikan ke orang. Niatkan sedekah pokoknya. Bayangkan, hal seperti itu jarang dilakukan, makanya orang meninggalkan aktivitas berjualan, akhirnya jadi deh mereka buruh dengan gaji tidak seberapa tapi waktunya habis di pabrik.

Salah siapa? dosa siapa itu? jadi siapa yang membuat sektor riil tidak bergerak?

"nglarisi", dengan niatan sedekah agar dia bisa menyambung penghidupannya. "nglarisi", agar dia optimis dengan produk yang ia jual. "nglarisi" agar orang-orang yang menganggur bisa terinspirasi "ini loh, aku jualan ini, laku loh".

Janganlah mendongak, mentang-mentang tidak butuh, atau bukan level kualitasnya itu sapu, itu salak, itu ciri-muthu.

Kalau di pinggir jalan ada yang meminta-minta lalu kita tidak memberi dengan alasan takut membuat mereka ketagihan meminta-minta. Ya sudah, kalau ada yang menawari barang, dan kita ada uang, beli saja, agar mereka ketagihan jualan.

Kelihatan sepele, tapi ini bisa memajukan bangsa yang didominasi oleh orang-orang yang bergelut dalam skala UMKM ini.



Giliran yang Muda

Akan ada 5 speaker yang diundang, masing-masing speaker didampingi oleh 1 fasilitator dari orang-orang kita saja. Kelimanya adalah :
1. Goris Mustaqim, Asgar Muda, bidangnya entrepreneurship
2. Zaini Alif, Komunitas Hong, bidangnya education
3. Syammahfuz Chazali, Pemenang Global Social Venture Competition, bidangnya research
4. Ayos Purwoaji, Hifatlobrain, bidangnya travelwriter
5. Anton Abdul Fatah, Pemenang E-idea, bidangnya environtment


Jadi bagaimana caranya dikondisikan agar mereka bisa menularkan "sesuatu" untuk anak-anak kemarin sore (baca : generasi muda) bisa melanjutkan estafet sesepuh-sesepuhnya. Giliran yang muda, mulai semuda mungkin, jangan menunggu tua.

Siapa saja sesepuh-sesepuhnya?
1. entrepreneurship : Happy Trenggono dengan gerakan "Beli Indonesia"


2. education : Annis Baswedan dengan "Indonesia Mengajar"




3. research : Renald Khasali dengan "Rumah Perubahan"



4. travelwriter : Chairul Tanjung dengan seabreg program reportase perjalanan dan wisata di Trans7, ada Bolang, Jejak Petualang, dll



5. environtment : Ridwan Kamil dengan "Indonesia Berkebun"



Wah, itu baru 10 ya orang hebat di negeri ini. Ya, mudah-mudahan pemerintah kita segera bubar karena dirinya sendiri, jadi orang-orang hebat nan baik macam 5 anak muda dan 5 orang tua di atas bisa masuk ke tengah, menjadi pusaran kemuliaan hidup.

Mudah-mudahan sukses terlaksana acara ini.





Anak adalah rejeki. Lalu, apakah rejeki = anak?

Tahu, bagaimana cara membuat anak? Ah, pasti jawabannya adalah dengan melakukan begini ini, begitu itu di atas ranjang, guling-guling kadang sampai jatuh, tapi tetap nikmat. Halah....

Caknun pernah bilang, tak ada seorang laki-lakipun yang berkuasa membuat seorang wanita hamil. Hm, kira-kira betul apa betul pernyataan itu? Iya, laki-laki cuma bisa membuncahkan sperma, itu kalau tidak impotensi. Soal sperma itu bertemu dengan ovum apa tidak, setelah bertemu kemudian terjadi pembuahan apa tidak, apakah si laki-laki masih berperan mengurusi itu?

Begitulah seorang anak terlahir diawali dari pencampuran sperma dan ovum, yang kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan seterusnya. Semua itu terjadi bahkan tanpa sepengatuan si laki-laki dan perempuan. Mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak mendesain apa-apa, mereka tidak merancang apa-apa di dalam proses yang panjang dan ultrarumit itu. Mereka hanya bersenggama, mendesah-desah menikmati tubuh satu sama lain.

Dan kata orang, anak adalah rejeki. Lalu pertanyaannya, apakah rejeki juga sama dengan anak kalau memang anak adalah rejeki? Apakah kelahiran rejeki sama dengan kelahiran anak?

Sepertinya iya loh. Seseorang bersenggama dengan gerobak bubur ayam, melakukan foreplay dengan mangkok, krupuk, ayam, celoteh pelanggan, tukang retribusi, komplain dari kompetitor, lalu setelah sekian waktu, setelah Tuhan selesai memproses formulasi hasil persenggamaannya, lahirlah rejeki : tukang bubur ayam bisa naik haji. *film nya Yusuf Mansyur.

Tapi bisa juga, sudah tiap malam bersetubuh dengan laptop dan printer, menyusun proposal ini dan itu, membelai lembar-demi lembar kertas, menggerayangi handphone berkoordinasi dengan sana-sini, meremas staplers, lakban dan gunting, sampai kenikmatan itu memuncak mencapai klimaks dengan mendapat ACC proyek. Ah, puas sudah.... eh, tapi ternyata tidak goal. tidak lahir itu rejeki. hal biasa juga terjadi hal seperti itu.

Yah, begitulah, kita berikhtiar, tidak disuruh untuk mengurusi hal-hal yang ultranjlimet sepertihalnya strutur kimia perkembangan janin. Kita cuma disuruh menggauli aktivitas kita, sampai membuncah, sampai klimaks. Sederhana sekali kan?

Jadi pesannya adalah, jangan berkecil hati, jangan merasa tidak berhak atas rejeki besar, hanya karena menilai ikhtiarnya masih sedikit. Wong kita tidak disuruh mengurusi yang tidak bisa kita urusi kok seperti urusan janin itu... yang penting kita bisa tegak berdiri lalu dimasukkan, lalu klimaks, gitu tok kok. Itu bukan cuma hal yang sederhana, bahkan dalam prosesnya sungguh nikmat bukan? *katanya yang sudah nikah si, kalau masih bujang begini mah ya bisanya manggut-manggut doank...

Apakah Muhammad muda seorang social-entrepreneur?

Obrolanku dengan Hilmy sepulang menjajal ifu mie & kwetio sapi Bang Arul semalam belum tuntas, keburu ngantuk. Tapi kebelumtuntasan itu membuatku masih berpikir sampai sekarang. Yang pertama adalah tentang "Apakah Muhammad muda seorang social-entrepreneur?", dan yang kedua adalah tentang "Anak adalah rejeki. Lalu, apakah rejeki = anak?".

Bergabung dalam keluarga maiyah memang begini jadinya, mulai berani nakal, nakal dalam berpikir, menggali, mengeksplorasi, mentafakuri, lalu mengadon formulanya untuk siap dinyalakan menjadi bara di dalam diri. Halah....

Baik, yang pertama dulu ya, yang kedua di lain postingan. 

Jadi sebagai seorang muslim, eh sebagai manusia, kita baik untuk meneladani Nabi Muhammad, termasuk masa mudanya. Nah, pertanyaannya dulu, sewaktu muda kan Nabi Muhammad kaya raya itu, tetapi juga mendapat kedudukan yang tinggi di bidang sosial, itu bagaimana konsepnya.

Apakah beliau beraktivitas sosial, lalu aktivitas sosialnya itu didukung dengan mata pencaharian beliau. Ataukah beliau bermata pencaharian dan hasilnya banyak digunakan untuk sosial?

Begini gambarannya kalau bingung, apakah misalnya kalau diterapkan jaman sekarang, kita membuat sebuah taman bacaan dan aktivitas serta konsentrasi kita sebagian besar disitu, sementara diluar itu kita mencari nafkah dan menyisihkannya untuk kemajuan taman baca itu.

Ataukah kita mencari nafkah, semaksimal mungkin, nah soal hasilnya untuk kegiatan sosial apa, ya itu dibagi-bagi, brel... brel... brel....

Beliau aktivis sosial yang mencoba mandiri, atau beliau orang mandiri yang berjiwa sosial?





12/12/11

Perjalanan 2011

Ini tahun ke-6 aku di Purwokerto. Tiga tahun pertama di kota ini adalah tahun-tahun yang membanggakan. Dan tiga tahun berikutnya adalah tahun yang senyap.

Di 2006 Koran Dinding, sebuah ide orisinil tapi membekas di banyak anak sekolahan terbit pertama kali dan selanjutnya kontinyu setiap bulan. Di Tahun 2007, SDTC berdiri, lembaga pelatihan pelajar pertama di kota ini, lagi-lagi karya orisinil. Di tahun 2008, ipoint yang waktu itu namanya masih SDCP berdiri, RT RW net pertama juga disini.

Lalu 2009 aku menyatakan vakum dari Semangat Donk, 2010 dan sampai sekarang. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, itu equivalen dengan waktu yang ditempuh seseorang untuk menyelesaikan program diploma normal. Tiga tahun adalah waktu yang kurang lebih sama, dengan waktu yang dilewati Muhammad muda naik turun Jabal Nur sampai akhirnya mendapat wahtu di Gua Hira. Waktu yang kurang lebih sama juga ketika umat Islam yang masih sedikit itu diboikot, embargo ekonomi di tahun-tahun awal kenabian.

Jadi, sekalipun 3 tahun ini tidak ada satu hal besar yang dibanggakan, tapi insyaallah, aku memastikan pada diri sendiri, bahwa waktu yang aku lewati itu tidak sia-sia belaka. Bukan jalan ditempat belaka.

Dan tahun 2011 pun sebentar lagi habis. Akan segera datang tahun yang digadang-gadang akan terjadi badai matahari nanti. Optimisme untuk kembali membuat pencapaian besar, bahkan lebih besar bertikel-tikel kali lipat ketimbang yang pernah kita capai dulu ada. Tunggu saja karya kita...

Selamat jalan 2011, semoga 365 harinya semuanya bernilai barokah, tidak satu haripun yang tidak.

Kaos seri inspirator bukan hanya dalam gagasan, value to reality lah. Di bulan-bulan ini kita gencar ber-event di beberapa tempat. Selain berjualan online di toko bagus. Search saja : kaos semangat donk
Hasil silaturahim dengan seorang kawan alumni UTHB 6, Ust Zainurrofieq namanya membuahkan beberapa perjalanan untuk belajar dunia umroh dan haji. Belum berhasil menyelenggarakan perjalalanan si, baru seminar nya saja waktu itu
 
Rame orderan plakat buat anak-anak KKN, dan orderan2 percetakan lainnya mulai berdatangan, perlahan tetapi pasti sebanding dengan bertambahnya jumlah relasi
Kumpulan anak-anak semangat donk, susah sekali sekarang, karena sudah dengan kesibukan dan kenganggurannya masing-masing
Mengamati sebuah konferensi (summit) di ibukota Jawa Tengah dengan mengikutinya, berharap bisa menyelenggarakan sendiri beberapa saat lagi. Bagus sekali acara semacam ini, agar anak muda tidak jumud, diam, manut saja diatur kampusnya sekalipun itu eksploitatif, persis kerbau dicucuk hidungnya
Setelah hanya berkomunikasi di dunia maya, akhirnya ketemu langsung dengan Mas Miko. Dan akhirnya kita sepakat mendirikan Banjoemas History & Heritage Community, dari Juni bahkan beberapa tahun yang lalu mas Miko sudah mulai riset, baru 11-11-11 komunitas itu diresmikan
Membentuk grup orkestra gamelan untuk pementasan wayang tiga jaman bernama Jamus Kalimasada. Yang mengasuh tidak baen-baen, Ki Dalang Subur Widadi, salah satu sesepuh budaya Banyumas yang kesohor. Sampai sekarang masih sering latihan dengan beberapa kali pementasan sudah sukses dilaksanakan.
Di Bulan ini juga lolos penyisihan Community Entrepreneur Challange-nya British Council. Belum menang, tapi networking yang didapat hedewh... mantep.
Rame gawean ini dan itu, ketambahan lagi sidang tugas akhir dan meyelesaikan urusan kampus, akhirnya STOP 10 hari menjelang Idul Fitri, ngadem dulu di Padepokan Budi Mulia, daerah Ngaglik, Jogja. Orang-orang hebat berdatangan disini, mantep tenan, tahun depan yang mau ngadem recomended untuk datang kesini lah.
Usai lebaran kesibukanku adalah lintang-lintung dengan sahabat terbaikku, Hilmy. Menjelajah dan meriset dunia gula. Semua pelaku gula dijabanin, dari Cilongok, Dukuhwaluh, Bojongsari sampai Kulonprogo di Jogja sana. Berharap awal tahun depan siap action

Jalan-jalan ke Bandung, serap inspirasi, study bandingi tata cara penyelenggaraannya. Banyak yang didapat di perjalanan sehari itu, apalagi ketambahan mampir ke Komunitas Hong. Saat ini, aku dkk sedang memvoluntiri TEDx Purwokerto.
Pemda Banyumas punya mbaranggawe, yang ditanggap BPPT pusat, bikin kompetisi Technopreneur yang enggak jelas juntrungannya sampai sekarang. Hadiahnya si menggiurkan, dapat pembinaan, kabarnya kalau dikonversi setara 100.000.000, ah tapi entah sampai sekarang bagaimana prosedurnya, tidak penting. Yang lebih penting aku kenal hampir 100 pengusaha inovatif dari Banyumas yang ide, mental dan sikapnya jos jos tenan.
Dan Desember ini adalah waktunya menyimpulkan dari 11 bulan perjalanan yang sudah aku lalui. Agar menjadi sebuah formula, bukannya cuma dijeprat-jepret dipasang didinding jadi kenangan belaka. Tapi semuanya jadi aset investatif untuk "sesuatu" yang tidak biasa di tahun yang baru. Tunggu karya kita, sambil terus doakan ya...

12/10/11

Karpet 7,5 Juta

Zaman sekarang, masjid sudah pada mewah-mewah. Ketika banyak orang masih beratap rumbia, halaman masjid sudah full kanopi 350.000/meter.

Jadi, untuk beberapa masjid memang sudah perlu disumbang, justru malah masjidlah yang harus menyumbang kepada orang.Kalau orang sudah disumbang, kan pekewuh, nah, nanti mau deh dia jadi jamaah masjid itu.

Kalau tahu masjid baik, masjid mau menyumbang, pasti kristenisasi tidak akan mempan. Tidak tergiurlah kalau cuma sama indomie dari para misionaris. Tapi kenyataannya, masjid itu angkuh. Mandi tidak boleh, tidur tidak boleh. Beberapa masjid sudah berubah, bukan lagi rumah Tuhan, tapi rumah takmir. Hobi sekali takmir membuat larangan ini dan itu.

Eh kemarin di sebuah Masjid di Jogja aku mendengar ceramah ustadz di sebuah pengajian ibu-ibu. "Ibu-ibu, mulai minggu depan kajian kita pindah ke masjid X. Di masjid X, lantainya belum pakai karpet. Jadi kalau ibu-ibu duduk 1 jam, bisa pada masuk angin. Karpet yang dibutuhkan itu 150 meter. Jadi dengan itungan harga 50.000/meter, masjid itu butuh dana pengadaan karpet 7.500.000... Amal jariyah ibu-ibu sekalian insyallah akan mengantarkan ibu-ibu ke surga."

Kira-kira begitu bunyi penutup ceramahnya. Nah, baikkah membeli karpet untuk masjid? Lihat kondisi dulu, kalau masih banyak orang yang butuh beras, butuh penghasilan, beli karpet sekalipun baik secara dimensi ke-sholeh-an, tapi belumlah baik secara dimensi ke-ihsan-an.

Mending si 7,5 juta itu diberikan pembekalan dan modal untuk kelompok masyarakat fakir, agar derajat ekonomi mereka meningkat. Jadi waktu mereka tidak habis untuk mengais rejeki, sampai tak punya waktu untuk ke masjid. Itu amal jariyah juga kan?

Pertanyaannya sekarang, diantara dua amal jariyah itu mana yang lebih prioritas? Mana yang harus dipilih agar memenuhi kaidah ihsan?jawabanku si yang kedua, membantu penghidupan sesama umat.

Mungkin akan ada yang membantah, "loh, tapi kan karpet juga penting, kalau ibu-ibu apalagi sudah nenek-nenek, duduk di lantai 1 jam bisa meriang semua nanti."

Ya gampang jawabannya... saat pengajian, jangan duduk. Berdiri saja dilantai. Buahahaha... Atau, pengumumannya diubah begini "Ibu-ibu, mulai minggu depan kajian kita pindah ke masjid X. Di masjid X, lantainya belum pakai karpet. Jadi kalau ibu-ibu duduk 1 jam, bisa pada masuk angin. Oleh karena itu, diharapkan ibu-ibu membawa sajadah dari rumah untuk alas duduk, kalau bisa yang tebal, kalau perlu dobel."





Arti Kepompong

Kemarin ke Merapi, Dusun Godang I tepatnya. Kali ini bukan review trip yang mau aku obrolkan, tapi satu obrolan sederhana bareng kawan-kawan disana sambil istirahat di depan koperasi.

"aku lah rak mudheng kuwi arti persahabatan bagai kepompong", celetuk seorang teman. Hm, iya juga ya, baru aku terpikir padahal dari dulu sering nyanyi. Persahabatan kok kepompong, kepompong kok persahabatan.

Dan begitulah obrolan berlangsung beberapa menit dengan banyak argumentasi-argumentasi. Obrolan akhirnya selesai, tanpa kesimpulan apa-apa.

Tapi, ada benarnya juga menurutku, persahabatan bagai kepompong. benarnya apa itu? benarnya adalah seperti kepompong yang melahirkan kupu-kupu, persahabatan juga bisa melahirkan cinta. ciee...

Contoh nyata adalah Arini & Azis, awalnya ya sahabat di Fosma, eh sekarang sudah mbojo dan hampir punya momongan. Contoh lainnya adalah inisial A dan U. Haha, karena ini belum tau kejelasan nasibnya, jadi pakai inisial saja dulu ya... dulunya sahabat lekat, eh kemudian menjadi cinta. prikitiuw...lah.

Ada juga, sepasang lagi kawan kita, ah tapi tidak mau sebut-sebut dulu ah. Tapi ya itu, witing tresno jalaran soko kulino.

Ketika seorang pernah bercurhat padaku, lalu aku dedes dengan sebuah pertanyaan. Karena kamu suka, dia jadi perhatian, apa karena dia perhatian jadi kamu suka? dia jawab, yang kedua mas... itulah sekali lagi witing tresno jalaran soko kulino.

Kalau masih bertanya-tanya siapakah gerangan jodohku nanti? coba di list daftar sahabat2mu yang kamu berikan perhatian sedemikian hari ini. Jangan-jangan satu diantara mereka. 


12/8/11

Gedung Agung

Kenapa ya istana negara yg diluar jakarta, gedung agung di jogja salah satunya, dibiarkan menganggur? Kenapa tidak difungsikan saja, utk tempat tinggal tunawisma, dhuafa atau anak2 terlantar...
mungkin akan menjawab : loh tidak bisa, itu akan menurunkan wibawa presiden.
eleh eleh eleh... Memangnya ketika kita punya 6 istana megah, tp sekian banyak orang tidur beralas kardus, itu tidak menurunkan wibawa? Jawab pak presiden????

12/7/11

Young Leader Summit 2011 : Membesarkan Anak Macan

ada satu statement dari Panji Pragiwaksono saat dia menjadi speaker di event TEDx Bandung bulan lalu, bahwa dalam program acara TV Provokatif Proaktif yang dia gagas, disana orang boleh bicara tentang politik secara subyektif sesuai pandangan dirinya. Ini dalam rangka mendobrak kemalasan anak muda jaman sekarang yang manja, enggan menginvestigasi, enggan berpikir karena selalu saja menerima informasi yang sudah dalam bentuk jadi.

Seperti postingan ini, ini bukan sebuah judgement, saya tidak menganjak siapapun untuk sekedar manggut-manggut atau geleng-geleng, tapi ayo gunakan kemampuan fikriyah kita untuk berpikir, menelusuri, menelaah dan selanjutnya menemukan insight.

Ini postingan tentang perhelatan nasional bertajuk YOUNG LEADER SUMMIT (YLS) yang diselenggarakan tempo hari 2-4 Desember 2011. YLS diprakarsai penyelenggaraannya oleh sebuah yayasan internasional yang didirikan oleh orang Korea dan berkantor pusat di New York Amerika Serikat, yakni Global Peace Festifal Foundation (GPFF) Indonesia. Acara ini diikuti oleh 200 pemimpin muda dari berbagai organisasi kampus, organisasi kepemudaan non kampus, komunitas dan LSM dari seluruh wilayah di Indonesia. Acara dilaksanakan di Vila Aryanti, Puncak, Bogor.

Bagi peserta dari luar Jabodetabek, tidak dikenai biaya sama sekali untuk ikut acara ini. Sedangkan bagi peserta dari Jabodetabek dikenai biaya 100.000 rupiah. Peserta yang mendaftar menurut pengumuman dari panitia sebanyak 700 orang, kemudian diseleksi sehingga hanya 200 orang saja yang dibolehkan ikut serta.

Setelah peserta dijemput di dua titik penjemputan, yakni Stasiun Gambir dan Soekarno Hatta Intl Airport, kemudian dilakukan pembagian kamar dan pengkondisian, dibukalah acara konferensi pemimpin muda tingkat nasional ini. Acara dibuka oleh Ibu Dr. Musdah Mulia, pengajar dari UIN Jakarta. Saya tidak tahu banyak tentang beliau saat beliau berpidato. Yang saya tangkap, beliau berpidato tentang perjuangan pemenuhan hak azasi manusia dan kesetaraan gender. Selidik punya selidik, Ibu Musdah ternyata mempunyai sepak terjang internasional, beliau mendapat previllage & penghargaan dari Amerika Serikat atas prestasinya sebagai tokoh Islam. Gagasan beliau diantaranya adalah tentang penghalalan kasus homoseksual & lesbian. Selengkapnya, silahkan googling sendiri.

Acara selanjutnya diisi oleh pembicara dari Korea. Oh iya, di awal sesi kita beberapa kali diajak menyanyi lagu "One Family Under God". Nah, di sesi pembicara dari Korea berulang-ulang dibahas tentang apa itu One Family Under God.

Yang berikutnya adalah materi dari Romo Magnis Susanto, materinya bagus, tentang pluralisme, bahwasanya sudah, kita perkuat keyakinan kita masing-masing. Yang menarik menurut saya adalah, ini audience kan sebagian besar muslim, kenapa narasumbernya seorang Romo, kenapa tidak ada Ustadz siapa begitu sehingga komposisinya bagus.

Ada dua pembicara dari Korea lainnya, yang kesemuanya pakai bahasa Inggris. Nah, satu lagi pembicara dari Malaysia. Pembicara dari Malaysia ini mengajarkan tentang bagaimana menjadi Sukarelawan. Oh iya, ada juga pembicara dari Indonesia yakni Ibu Zubaidah dari Paramadina, materi yang dibawakan adalah tentang Paradigma Baru Kepemimpinan. Saya kurang terlalu menangkap materi yang beliau sampaikan, paradigma yang lama salahnya dimana saja, seberapa penting harus diganti paradigma yang baru, paradigma yang baru itu seperti apa, kelebihannya dibanding paradigma lama apa, jaminan keberhasilannya apa kalau memakai paradigma yang baru. Selesai sesi saya mendapat informasi bahwa Ibu Zubaidah ini aktif dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Silahkan googling sendiri saja atau tanya kanan kiri OKE.

Ikut tampil sebagai pembicara adalah Anton Abdul Fatah, pemuda garut yang mendapat juara di E-Idea Competition yang dilaksanakan oleh British Council. Ini materi paling geeerrr mungkin, antusiasme peserta menyimak ulasan Kang Anton tentang proyek Agroforestynya menginspirasi banyak Audience.

Ikut hadir sebagai pembicara adalah Kang Goris Mustaqim. Kang Goris tertulis di proposal ikut sebagai stering comitee, tetapi anehnya saat diklarifikasi ternyata beliau hanya diundang sebagai narasumber saja. Padahal beberapa peserta tertarik datang karena melihat nama beliau ada dalam kepanitiaan.

Desas-desuspun beredar dalam acara ini, ada yang berbicara di dalam forum, ada yang berbicara diluar forum, ada yang menyampaikannya melalui jejaring sosial, ada yang sebatas mendiskusikannya diantara teman sekelompoknya tentang indikasi adanya kejanggalan disana-sini dalam penyelenggaraan acara ini yang diindikasi itu merupakan tanda adanya hidden agenda.

(1) Tidak dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia Raya di awal maupun akhir acara, (2) narasumber yang dipilih didominasi oleh tokoh-tokoh liberal, (3) tidak jelas kesinambungan antar acara, (4) adanya acara dadakan Focus Group Discussion (FGD) setelah panitia melihat keresahan diantara peserta, (5) tidak adanya kesimpulan yang jelas di akhir acara, malah Goris Mustaqim yang menutup acara, bukannya tokoh dari Global Peace atau setidaknya Ibu Musdah Mulia kembali yang menutup (6) besarnya anggaran yang dihabiskan untuk acara ini hingga ratusan juta rupiah bahkan dari sumber yang tidak dapat disebutkan menyebut total dana mencapai 250 juta dan tidak ada goal besar yang ditonjolkan. Itu adalah diantara beberapa hal yang membuat desas-desus dan keresahan beredar. Semuanya itu diawali dari pernyataan oleh salah satu peserta yang menyatakan, "diantara kami, tidak ada persoalan dengan agama-agama, sumber konflik bukanlah perbedaan keyakinan terhadap Tuhan, tapi kenapa yang dibahas adalah isu-isu tentang Ketuhanan?".

Nah, inilah tanda, kemungkinannya dua : pertama, narasumber yang kebanyakan dari luar negeri tidak memahami persoalan Indonesia, jadi tidak solutif yang mereka sampaikan dengan membawakan materi kompromi ketuhanan dengan kredo "One Family Under God" nya. Kedua, ada penyusupan paham secara terselubung.

Ini semakin menarik, ketika seorang peserta menemukan daftar nama yang terlibat dalam konstelasi Jaringan Islam Liberal (JIL), dan ternyata orang2 yang diundang kebanyakan ada dalam daftar itu. Semakin mencengangkan ketika seorang peserta lainnya menemukan data keterkaitan antara Global Peace Foundation dengan sebuah sekte yang menguversalkan Tuhan di Amerika Serikat bernama Sun Myung Moon. Sun Myung Moon sendiri adalah tokoh dari Korea yang mengaku dirinya sebagai Mesiah, dan Global Peace didirkan oleh anak ketiga dari Pak Sun Myung Moon ini. Ingin tahu lebih lanjut, googling sendiri.

Saya jadi teringat kisah yang disampaikan oleh Caknun (Emha Ainun Najib) beberapa hari sebelum saya berangkat mengikuti YLS ini. Bahwa Caknun pernah diberi previllage sedemikian rupa oleh pemerintah Amerika Serikat untuk berbaur dan belajar di sekte ini. Namun, karena Caknun tidak terpengaruh dan tidak mau menjadi kepanjangan mereka, oleh karenanya dia dibuang dan tidak jadi dipakai untuk kepentingan mereka. Maka pantas saja Caknun sebagai agamawan dan budayawan yang sudah banyak menorehkan kiprah2 nyata dalam perdamaian antar suku maupun antar agama tidak pernah mendapat pengakuan dan penghargaan apa-apa dari Amerika Serikat.

YLS ini sendiri merupakan perhelatan pertama. sebelum-sebelumnya Global Peace concern mengadakan kegiatan Voluntering dan pelatihan-pelatihan menyusup ke sekolah-sekolah. Melalui event YLS ini mungkin tujuan awal mereka adalah untuk membangun simpul-simpul kepanjangan tangan mereka di seluruh Indonesia. Nyatanya, peserta yang lolos dan ikut YLS terseleksi secara kecerdasan dan kapabilitas mereka, sehingga, mereka tidak terpengaruh oleh materi-materi dan pilihan narasumber yang doktrinatif dari Global Peace ini.

Walhasil, mereka seperti membesarkan anak macan dengan YLS ini. Saya dan 199 pemimpin muda dari berbagai daerah lainnya yang sebelumnya hanya tahu Global Peace adalah NGO yang bergerak memperjuangkan perdamaian dunia (Tapi kok aneh, tidak membahas apa-apa tentang upaya perdamaian Israel dan Palestina), ternyata memiliki keterkaitan dengan JIL dan Sun Myung Moon, sekte sesat dari Korea itu.

Yang tadinya diharapkan peserta yang 200 dari berbagai penjuru itu akan menjadi musang piaraan mereka, kini menjadi macan yang siap memantau setiap gerak-gerik Global Peace di Indonesia dan siap menerkam kalau gerakannya sampai macam-macam.

Maka, keuntungan terbesar dari keikutsertaan dari YLS adalah networking. Oleh karenanya, baiknya semua peserta yang ikut dalam acara kemarin melakukan dua hal : (1) Menjaga networking antar peserta, tidak peduli beda suku, beda agama, semuanya bersatu padu untuk Indonesia yang lebih baik dan ke (2) Informasikan setiap mendengar berita tentang program-program global peace, kalau program itu baik, kita dukung. kalau program itu meragukan, kita investigasi. kalau program itu merusak, kita TERKAM.

Rizky Dwi Rahmawan