6/19/16

Aman Bergenerasi-Generasi

2016 dilanda elnino, dingin-panas, reda-hujan berfluktuasi secara ujug-ujug dan mengagetkan. Kabarnya beberapa daerah dilanda bencana, banjir dan longsor. 

Setiap tanah yang kita pijaki, bisa berpotensi bencana. Antara takut-takut paranoid bencana mendatangi kita, antara penuh percaya diri daerah kita aman, dimana tepatnya sikap kita?

Dari cerita yang tutur tinular, Mbah Buyut adalah yang pertama kali datang ke Desa tempat aku tinggal sekarang. Orang tua dari Mbah Putri itu bertempat tinggal di depan Masjid yang sekarang biasa aku pakai Jumatan. Lalu ketika Mbah berkeluarga, mereka menempati rumah di sebelah kanan nya, yang menjadi rumah Mbah sampai akhir hayatnya.

Aku percaya Mbah Buyut memilih lokasi rumah tinggal di tempat itu, bukan tanpa pertimbangan. Bahkan pertimbangannya lebih akurat ketimbang orang jaman sekarang memilih perumahan. Aku percaya sejak peletakkan batu pertama, rumah pertama di desa tempat aku tinggal itu, Mbah sudah memanjatkan doa, untuk aman dan selamat, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk anak turun dan generasi penerusnya. 

Aku hanya bisa menerka-nerka, ilmu memilih ketepatan, sepertihalnya kemampuan Mbah Buyut menemukan ketepatan pemilihan lokasi dahulu. Satu petak tanah dari sebukit ladang yang demikian luas, yang berjarak berkilo-kilo meter dari pemukiman yang sudah ada sebelumnya.  

5/17/16

Materialisme, Eksistensialisme

Sejak aku sadar di sekolah aku dikandangkan untuk menjadi perahan industri, batinku minggat meski lahirku tetap tertahan. Batin sudah minggat, badan kemudian ikut-ikutan tak kuat tetap bertahan. Untung bisa menahan badan, setidaknya sampai dapat ijasah.

Hidup itu memang butuh materi, karena itu kita harus mencarinya. Tapi bukan berarti kita harus menjadi pengaut agama materi, yang inna sholati, wanusuki, wa mahyaya, wa mahmati li materi.

Tapi sekarang, sudah sempurnalah kemurtadanku dari agama materi. Sudah, selesaikan euforiamu, kebiasaanmu berbangga-bangga mengaku-aku menjadi kaum murtad.

Kamu sudah berada di agama baru. Kamu tak butuh mencantumkan agama non-materi mu itu di KTP. Cukup dibatin saja juga nggak apa-apa.

Kalau kamu tidak paham ini, diam-diam justru kamu terseret masuk ke dalam agama eksistensi. Malah lebih mengerikan lagi.

5/8/16

Bulan Puasa di Manila

Ini kali pertamaku merasakan suasana Bulan Puasa di negeri orang. Manila, Ibukota negara Filipina, di Bulan Puasa tahun kemarin aku berkesempatan mengunjunginya. Kami bertiga dalam rombongan backpacker kali ini.

Di Kota Manila, muslim adalah minoritas. Ketika berangkat dari tanah air, nuansa Bulan Puasa begitu kentara, mulai dari pengeras suara di Masjid dan Surau, jalanan yang lengang karena warung makan sebagian tutup, juga iklan-iklan di televise yang dipenuhi oleh sirup, sarung dan obat maagh. Berbeda situasinya setiba aku di Ibukota negara yang terletak di sisian Samudera Pasifik saat itu, tidak ada pengeras suara nuansa Bulan Puasa menggema, warung dan penjaja jajanan juga ramai saja.

Dengan penerbangan Cebu Pacific Airlines tengah malam kita meninggalkan Jakarta, tiba di Bandara Ninoy Aquino International pagi-pagi buta. Setelah sejenak meregangkan tubuh di selasar hall kedatangan, lalu menuju money changer, kita lantas beranjak menuju halte shuttle bus. Dengan shuttle bus seharga 20 Peso, kita terangkut menuju stasiun MRT dalam kota terdekat. Kurs untuk 1 Peso sekitar 300 rupiah. Setelah naik MRT, kita harus menyambung dengan kendaraan lagi untuk mencapai hotel. Disinilah kita menjumpai angkutan yang hanya ada di Filipina, angkutan umum mirip jeep, mirip oplet, Jeepney namanya. Bentuknya lucu, ditambah livery yang dibuat oleh si-sopir suka-suka, menjadi kesan tersendiri menumpangi Jeepney. Ruang untuk penumpangnya luas dan ongkosnya murah, 8 Peso saja.

Sesampai di Artina Hotel, kita diijinkan early chek in gratis. Mungkin sang receptionist kasihan melihat muka lusuh kita, apalagi diluar sedang turun hujan. Padahal Bulan Juli 2015 waktu itu Indonesia masih kemarau, tapi Filipina hujan dan gerimis sepanjang hari. Tampaknya Samudera Pasifik dan Samudera Hindia sedang tidak akur. Hehe..

Jeepney

Setelah badan terasa lebih fit, menjelang sore hari kita kembali berburu Jeepney. Masih belum puas menikmati kendaraan unik yang satu ini. Kali ini destinasi kita adalah menuju Carriedo. Di Carriedo terdapat masjid terbesar di Manila, Moskeng Ginto namanya. Masjid ini kubahnya dicat kuning keemasan, karena inilah dinamai Moskeng Ginto yang berarti Masjid Emas. Disekeliling masjid dihuni oleh penduduk Muslim, sehingga kawasan tersebut disebut Moslem Town.

Jam di Manila lebih cepat dua jam dari Jakarta, karenanya buka puasanya terasa lebih lambat dua jam. Kita biasa berbuka puasa menjelang jam enam, kali ini harus menunggu jam setengah delapan lebih. Tapi kukuruyuknya perut untungnya terhibur oleh stand pembagian buka puasa gratis di halaman masjid. Horee.. senangnya berbuka puasa bersama di negeri orang, gratis pula.

Moskeng Ginto tentu saja tidak sebesar Istiqlal. Masjid terbesar di Manila ini mungkin setara besarnya dengan masjid-masjid agung di kabupaten-kabupaten di Indonesia. Masjid cukup ramai oleh jamaah, karena memang disekelilingnya dihuni oleh penduduk Muslim. Disamping itu, kala itu juga sedang Bulan Puasa. Penjaga Masjidnya bersikap ramah terhadap tamu, kita diajak berkeliling untuk mengenali arsitektur dan diberi cerita singkat sekilas masjid ini. Sayangnya, lingkungan sekeliling masjid masih kumuh terkesannya. Terlebih saat itu becek karena musim hujan. Mungkin perlu dibuatkan pagar yang lebih rapih sebagai pembatas masjid dengan hunian penduduk disekelilingnya, sehingga sampah rumah tangga tidak ikut membuat kumuh masjid.

Seusai mengikuti sholat taraweh, kita mengisi waktu dengan berkeliling sekitar Moslem Town itu. Disini banyak warung makanan dan jajanan. Diantara makanan yang unik adalah ikan asap yang ditusuk utuh berukuran 30 – 40 cm. Sebab aku tidak menyukai ikan, aku tidak berminat untuk mencobanya. Bagi kaum Muslim tentu berbelanja makanan di area ini aman, karena diluar sana banyak sekali makanan yang mengandung babi. Meskipun diluaran sana kita dapat mengenali warung makan yang menyediakan babi atau tidak dengan di papan namanya terdapat tulisan “Bobbay”.

Di hari berikutnya, giliran kita mengeksplorasi sejarah Manila di Museum Nasional-nya. Museum yang memanfaatkan bangunan peninggalan kuno yang megah ini memiliki koleksi yang lengkap, mulai dari sejarah purbakala, sejarah awal Filipina hingga perjalanan tumbuh kembang seni budaya, tradisi dan pangan Filipina hingga saat ini. Untuk menikmati semua itu, kita tidak dipungut tiket masuk. Souvenir shop ada di sisi museum, kita memborong untuk oleh-oleh disini.

Moslem Town
National Museum
Selain mengunjungi Rizal Park, selebihnya di hari itu kita mondar-mandir menikmati MRT dan Jeepney, moda transportasi dalam kota yang tidak mewah, tapi mudah dan murah.

Di hari ketiga yang menjadi hari terakhir kita di negara bekas jajahan Portugis ini, kita melanjutkan eksplorasi ke Manila Bay. Pantai di pusat kota ini berada disamping persis Kedutaan Besar Amerika Serikat. Lalu disampingnya lagi ada Pelabuhan Laut Manila. Setelah kepayahan berjalan kaki lima kilometer lebih menyusuri pantai dan menyusuri jalanan kota Manila, tibalah saatnya kita menuju Bandara. Untuk menjangkau stasiun MRT terdekat, kita memilih kendaraan semacam Bentor (Becak Bermotor). Aih sayang, driver bentornya nakal. Harga yang disepakati 40 Peso saat sebelum naik, lalu saat turun dia memaksa kita membayar 80 Peso. Daripada membuat ribut di negeri orang, ya sudah lah aku bayar saja sesuai yang dia minta.

Naik Bentor
Halte LRT
Akhirnya sampailah kita di Bandara, menunggu penerbangan berikutnya menuju Singapura. Lain kali mudah-mudahan ada kesempatan mengeksplorasi lebih luas negara ini. Mungkin bisa dicoba lewat jalur laut, menyeberang dari arah selatan dari Pulau Morotai di Indonesia Timur sana.[]

4/22/16

Umur Obsesif

Kamu itu masih berasa di umur obsesif. Tapi kenapa takut berobsesi?

Takut obsesimu gagal? Bukan dauntless namanya itu.

Takut dianggap orang obsesif? Bukan candor itu berarti kamu.

Merasa obsesimu tidak akan menjadi kemanfaatan bagi banyak orang? Bukan abnegation kalau gitu.

Nggak bisa menghitung, menakar, mengejawantahkan obsesimu dalam manajemen? Tanda bahwa kamu bukan Erudite.

Atau bahkan kamu mengalami confused di dalam dirimu sendiri tentang apa itu obsesi & bukan obsesi? Tidak Amity kamu.

Bertukar Waktu

Kalau hari ini kita bisa bertukar waktu dg diri kita di masa depan. Meminjam mesin waktu Doraemon misal. Apa yang akan kita lakukan?

Kita bisa-bisa akan melakukan sebanyak mungkin hal, sekalipun itu adalah hal-hal yang berpotensi kesalahan. Sebab, diri kita dari masa yang akan datang itu adalah si penanggung penyesalan-penyesalan.

Penyesalan atas hal-hal yang bisa kita lakukan tapi tidak kita lakukan hari ini.

Jangan Sampai Kaya

Lahirku ingin kaya yang raya. Bukan cuma ingin malah, tapi berjuang mati-matian. Tapi jangan-jangan, diam-diam batinku terobsesi sebaliknya: Mbok, kalau bisa jangan sampai kaya.

Apalagi raya, kaya saja sudah mencemaskan. Aku menjadi sepertinya tak butuh tawaran bantuan siapa-siapa lagi kalau uangku sudah tak hitungan banyaknya.

4/21/16

Ketungkul

Nasibmu yang silau oleh iming-iming adalah terbeli. Sementara nasibmu yang berhasil tidak silau, tapi gagal membikin manajemen adalah ketungkul.

Manajemen! Kecuali kamu penikmat ratapan nasib.

3/30/16

Antara Daratan

Kalau ada alien penghuni planet lain pertama kali melihat google map dan dia kepincut dengan gugusan kepulauan Nusantara, itu wajar. Diseantero google map tak ada kenampakan yang lebih estetis ketimbang gugusan kepulauan Nusantara.

Di ribuan pulau itu, semua sambung menyambung oleh jalur kapal laut. Berbeda dengan Serawak dan Semenanjungnya Kuala Lumpur, walau mereka satu negara tapi tidak ada jalur lautnya. Wajar, karena bentangan Serawak di sisi timur dan Semenanjung di sisi Barat sangatlah jauh. Tidak ada jarak antar pulau besar di Nusantara yang jaraknya sejauh dua daratan di negeri jiran itu.

Terpisah tapi tersambung. Itu cuma satu dari semilyar anugerah Nusantara dari Tuhan.

3/29/16

Sebelum Traveling

Ada orang yang maunya traveling pakai biro perjalanan. Tak perlu ribet, diantar kesana-kemari, ada pemandu, bisa ke  banyak destinasi, bisa dapat banyak foto-foto. Sebaliknya, ada traveler yang sukanya jalan sendiri, tanpa biro, nyasar-nyasar, menemukan destinasi-destinasi yang tidak biasa.

Lepas dari kamu termasuk yang mana diantara kedua jenis traveler itu, saat ini ada yang beda dengan jaman dulu. Kalau jaman dulu, panduan wisata paling banter adalah buku Lonely Planet, selebihnya adalah tanya-tanya penduduk setempat. Saat ini, di era informasi membludak, kita bisa hunting informasi selengkap-lengkapnya sebelum berangkat.

Wah, kan nggak seru, nggak surprise kalau kita sudah kadung tahu banyak destinasi kita? Ya, tergantung ukuran serumu bagaimana. Kalau yang disebut seru, kamu datang dengan gagap meraba-raba, berharap menemukan hal-hal tak terduga, ya iya. Tapi dengan model begitu, kamu akan banyak wasting time, waktu sehari yang seharusnya bisa mengerjakan banyak hal, menuju banyak destinasi, hanya dihabiskan untuk surprise-surprisemu itu. Ketika sudah pulang dan tak sengaja kamu menemukan bacaan bahwa di tempat yang habis kamu tuju ada ini dan itu yang menarik dan kamu tak beruntung menemukannya kemarin, kamu tinggal menyesal sendiri deh.

Maka, cari informasi banyak-banyak tidak ada salahnya. Kamu bisa memilih dan memilah destinasimu, mengefektifkan rutemu, menghemat budget transportasi dan penginapanmu. Dengan menggali informasi banyak-banyak, kamu justru mungkin dapat menemukan hal-hal baru yang tidak dijumpai oleh traveler lain. Kalau kamu cerdas saja si.

Demam Hypnosis

Demam yang tidak disembuhkan bisa menjadi kebanjur, terlanjur. Ada yang demam hypnosis, lalu berhenti berkutat disana, lupa bahwa hypnosis hanya salah satu saja dari rekayasa psikologi manusia. Analogi kandang kambing, hypnosis hanya salah satu bahan pagar saja, untuk menjaga agar kambing tidak liar, tetap tertib sosial.

Hypnosis tidak membuat kambing memiliki cara berpikir yang lebih maju dibanding cara berpikir sebelumnya. Sehingga tidak ada kemungkinan di masa depan kambing akan tidak liar, walau tidak dibuatkan pagar.

Ada juga yang demam fisika quantum. Terlena bahwa fisika quantum sebetulnya hanya tafsir subyektif seseorang yang mana tafsir tersebut ia ejawantahkan menggunakan term-term fisika. Mempelajarinya tanpa bingkai ketunggalan, kemanunggalan, wahhada, yuwahhidu, tauhidan berpotensi membuat kita blunder sendiri pada kepentingan-kepentingan pendek semata.

Analoginya, kambing mungkin masih bisa diajak memahami bagaimana mekanisme alam semesta mendatangkan seonggok pakan. Tapi tanpa bingkai tauhid, kambing tidak ada kemungkinan untuk memahami untuk apa ia berada dan untuk apa ia harus memakan pakan.

Dan masih banyak jenis demam-demam lainnya, demam berpergerakan, demam berdakwah, dll.

Wabal, Bulan-bulan Kutukan

Ini masih bulan Wabal, bulan-bulan kutukan. Sebab di bulan kutukan, foto bareng presiden saja jadi bahan bully-an. Haha...

Di bulan-bulan kutukan, jangan terlalu banyak berekspresi, orang berkemungkinan salah berekspektasi, atau lebih tepatnya, niat 'jelek' terselubungmu mudah diketahui orang. Di bulan-bulan kutukan, jangan ketungkul asyik dengan kesenanganmu sendiri. Sebab kesenangan kebanyakan adalah melenakan. Di bulan-bulan kutukan, jagalah diri dengan puasa. Puasai apa saja, rem dalam-dalam pekerjaan yang tidak diperlukan, rem dalam-dalam segala keisengan.

Setelah bulan-bulan ini berlalu, semoga kita tergolong orang yang selamat, lolos dan tetap lanjut pada pegangan dan tumpuan nilai yang benar, pada sumur ilmu yang benar pula.

3/5/16

Akhlak kepada Bos, Akhlak kepada Leluhur

Kata Aa Gym barusan di Istiqlal, kita tidak perlu berdoa melalui perantara ulama atau leluhur yang sudah berada di alam Barzakh. Alasan Aa Gym, karena Allah lebih dekat dari urat leher, jadi meminta langsung saja kepada Allah.

Betul. Allah lebih dekat dari urat leher. Karena itu, sebetulnya orang tidak perlu bekerja. Langsung minta ke Allah saja. Namun pasti pendapat seperti ini akan ditolak. Oh ya tidak, bekerja itu harus, karena rezeki itu harus ada ikhtiarnya.

Bekerja harus ada ikhtiarnya. Lantas berdoa memang tidak harus diikhtiari? Doa dan ikhtiar kita sekulerkan sedemikian rupa si, sehingga cara berpikir kita yang salah memproduk cara pandang terhadap berziarah kepada ulama yang masih hidup dan bersilaturahim kepada leluhur yang sudah berpulang secara kelira-liru pula.

Betapa banyak orang mendapat rezeki bahkan tanpa wasilah ikhtiar. Ya, karena rezeki itu dari Allah. Dan Allah itu sangat dekat. Lalu, kenapa kita harus bekerja? Sebetulnya, bekerja itu hanya urusan akhlak saja. Akhlak alias kepatutan. Kepatutan dihadapan Allah, juga kepatutan dihadapan manusia.

Maka ketika kita memilih menjauhi ulama dan antipati kepada makam leluhur, pikirkan pula akhlak kita. Akhlak dihadapan Allah, akhlak dihadapan orang. Betapa senang Allah melihat akhlak anak cucu seorang leluhur yang rajin berziarah dan berdoa. Apalagi jika sang leluhur itu adalah seorang pejuang agama yang tergolong kelompok syuhada, yang tetap hidup dan mendapat rezeki di sisi Allah sekalipun sudah mati. Betapa indahnya orang-orang akan melihat seseorang yang rajin berziarah, berbakti kepada leluhurnya.

Maka yang harus digaris bawahi adalah, kalau mau jadi seorang agamis, hilangkan pikiran sekuler. Jangan pisahkan doa dan ikhitiar. Jagalah akhlak kepada leluhur, sebagaimana kita menjaga akhlak kepada bos ditempat kerja kita.

Kecuali kita tak mengimani kematian, menganggap mereka yang tak ada bersama kita berarti benar-benar tiada. Padahal, kita saja yang tak tahu kehidupan mereka, seperti bayi di perut ibu yang tak tahu kehidupan dunia dengan mall, gadget juga sosmed. Betul begitu Aa?

2/29/16

Kemutakhiran Masa Lalu

Kisah ini terjadi sekitar 250 tahun yang lalu, dituturkan oleh Mbah Kung yang tahun ini genap beliau menginjak usia 100 tahun.

Alkisah Kadipaten Banyumas dipimpin oleh Adipati Yudhanegara II. Sang Adipati bertitah untuk membangun Masjid.], maka dibangunlah Masjid di sisi barat alun-alun Banyumas. Dengan membuka sistem donasi terbatas, Demang Nur Dlaiman dari Gemelem menyumbangkan soko guru atau 4 pilar utama untuk masjid tersebut sekaligus mengarsitekinya.

Setelah Masjid tersebut berdiri, Adipati kesulitan menemukan khatib atau imam masjid. Maklum, saat itu belum ada audisi orang alim seperti hari ini. Tidak selang berapa lama, seorang santri yang tengah lulus dari Pesantren Somalangu, Kebumen sedang berperjalanan menuju Pajajaran tempat kelahirannya. Ketika santri tersebut melintas di alun-alun Banyumas, dicegatlah santri tersebut, kemudian sang Adipati memohon kesediaannya untuk tinggal dan menetap di Banyumas menjadi khatib di masjid yang baru dibangun tersebut.

Singkat cerita, santri tersebut bersedia memenuhi permintaan sang Adipati. Kelak di kemudian hari, santri tersebut dikenal sebagai Eyang Sulaiman, namanya dipadukan dengan nama Deman Nur Dlaiman donatur utama dan arsitek masjid tersebut menjadi Masjid Nur Sulaiman. Masjid tersebut kini menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan undang-undang.

Masjid tersebut berdiri ketika sekuleritas agama belum terjadi seperti saat ini. Selain sebagai khatib Masjid, Eyang Sulaiman dikenal sebagai penasehat spiritual Adipati Yudhanegara II. Mungkin istilah sekarang yang relevan adalah menjadi ketua Epistemic Kota. Alangkah Indahnya suasana pemerintahan kadipaten di masa itu ketika Sang Adipati mengkonsultasikan segala unek-unek dan kebijakannya kepada sesepuh terlebih dahulu yang pada masa itu sesepuh direpresentasikan oleh kaum alim ulama.

Di usia senjanya Eyang Sulaiman berpindah ke Kalimanah, Purbalingga. Entah mengapa sebabnya Mbah Kung tidak menuturkan. Dugaanku, Eyang Sulaiman pindah ke Purbalingga karena di saat itu Kadipaten Purbalingga baru saja disahkan pemekarannya oleh Negara Monarki Pajang. Sebagai kadipaten yang baru berdiri tentu saja membutuhkan konsultan Epistemic Kota pula untuk mengawal laju awal pemerintahan. Atau kemungkinan lainnya dari kepindahan itu adalah karena Eyang Sulaiman beristri orang Purbalingga.

Sejarah kerajaan dan kadipaten kini distigmakan dengan pertikaian dan keterbelakangan. Namun sesungguhnya, sejarah itu disembunyikan dari kecanggihan dan kemutakhiran sistem manajemen pemerintahan, konsititusi dan penanganan sosial. Agamawan dahulu ditempatkan sedemikian rupa dalam kasta tertinggi setara Brahmana, sekarang agamawan dikenal dikerdilkan hanya boleh maksimal hanya menjadi seorang mubaligh yang kesibukannya berceramah kesana-kesini.

Eyang Sulaiman setelah mangkat kemudian dimakamkan di pemakaman Bupati-Bupati Banyumas di Dawuhan, Banyumas. Namun anak cucunya tetap dimakamkan di Kalimanah, Purbalingga. Kompleks tempat tinggalnya ditandai dengan keberadaan Masjid Mustahal di Kalimanah Kulon. Nama yang diambil dari nama cucu generasi ke-4 sesudahnya. Dari Mbah Mustahal, di cucu generasi ke-3 berikutnya lahirlah Mbah Putri istri dari Mbah Kung yang menuturkan cerita di atas.  


1/30/16

Rekreasi dari Masa ke Masa

Orang membutuhkan jeda dari aktivitasnya. Aktivitas jeda yang banyak dipilih orang adalah melakukan rekreasi. Jaman dulu, rekreasinya seorang petani yang penat bekerja di sawah adalah bermain gamelan bersama tetangga. Rame, menyenangkan dan gratis pula. 

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan informasi yang kian meluas, sekedar bercengkerama dengan tetangga tidak lagi cukup menarik untuk dijadikan pilihan rekreasi. Terlebih beban hidup yang semakin penat menghimpit kehidupan, untuk merefresh kepenatan itu sungguh butuh pilihan jenis rekreasi yang tidak biasa. 

Merebaknya kebutuhan rekreasi yang tidak biasa ini kemudian ditangkap oleh para pebisnis. Bisnis pariwisatapun menggeliat karenanya. Menggeliatnya potensi pariwisata, akhirnya menjadi angin segar bagi banyak bisnis terkait. Travel agent, maskapai penerbangan juga hotel. 

Angin segar pula bagi kita yang berkeinginan untuk terjun di dunia bisnis pariwisata. Baik dengan menggandeng investor besar, atau kita memulai dari menjadi pebisnis start-up kecil-kecilan. Bekal yang harus kita persiapkan adalah, memahami tren minat masyarakat akan jenis rekreasi yang sedang diminati. Dari masa ke masa, minat masyarakat dalam memilih jenis rekreasi yang difavoritkan berubah-ubah. Di kurun waktu se-dekade terakhir saja, kita bisa mengamati transformasi rekreasi yang terjadi seperti berikut ini.

1. Dunia Fantasi
Ancol menjadi salah satu yang paling moncer dulu. Sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah, pergi ke Ancol adalah rekreasi yang diidam-idamkan. Dunia fantasi identik dengan permainan-permainan pemacu adrenalin, roller coaster menjadi salah satu yang paling populer untuk dijajal. 

Bagi orang-orang desa yang tak terjangkau menuju dunia fantasi yang mewah di kota besar, mereka cukup terhibur dengan mengunjungi arena pasar malam. Ada wahana komedi putar, wahana kincir hingga tong setan. 

2. Waterboom
Seiring dengan perjalanan waktu, minat masyarakat bergeser. Wisata air menjadi tujuan favorit. Waterboom Owabong di Purbalingga kala itu booming sebagai waterboom terbesar di Jawa Tengah. Ide penggagas yang sempat ditolak mentah-mentah oleh pemerintah berbuah sebaliknya, ternyata obyek wisata ini mendatangkan income yang fantastis melebihi target.

Semakin sedikitnya sungai dan danau alami yang ramah pengunjung, membuat wahana air buatan menjadi tujuan favorit untuk berekreasi. Rileks di dalam air menjadi kesenangan yang dicari tersendiri oleh banyak orang.

3. Snorkeling
Terumbu karang bukan lagi monopoli para penyelam. Keindahan ekosistem bawah laut di permuakaan laut yang dangkal kemudian dimanfaatkan orang untuk melakukan snorkeling. Spot snokeling dari habitat air laut yang alami dikembangkan di begitu banyak daerah di banyak daerah dari Sabang sampai Merauke.

Selain menikmati terumbu karang dan ikan yang indah di bawah laut, berfoto dengan kamera underwater menjadi keasyikan tersendiri. Bisnis kamera serta dunia fotografi dan videografi terdongkrak pula perkembangannya.

Derawan Island
Lalu, tren apakah setelah era snorkeling ini berakhir? Salah satu prediksi yang aku yakini adalah wisata etnik dan wisata budaya. Heritage kekayaan leluhur masih begitu banyak yang belum diungkap dan direkonstruksi. Kalau itu sudah bisa dilakukan, tren rekreasi masyarakat mungkin segera bergeser. Orang akan terpukau dan bisa menikmati keasyikan cara hidup di masa lalu yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal dan kita jalani hari ini.


Kekinian dan Kekinian Syariah

Sabtu sepekan kemarin, Hilmy sahabatku baru saja kedatangan seorang putri cantik. Genap sepasang sudah buah hatinya dengan Rini.

Mereka berdua pandai membuat nama menurutku. Anak pertama diberi nama Manah Jembar Membumi. Nama yang aneh kalau dilihat dari ukuran kekinian. Orang-orang kekinian lebih suka menamai anaknya dengan kata dari bahasa Rusia, sementara yang kekinian syariah menggunakan kata dari bahasa Arab.

Nama adalah do'a. Esensi dari sebuah nama adalah munajat atau pengharapan. Membumi adalah pengharapan yang spesifik, bukan sekedar sholeh, bukan sekedar alim, tapi spesifik, membumi.

Semoga si Bumi kecil tumbuh menjadi anak yang dekat dengan sekelilingnya, membumi keramahtamahannya, membumi keahliannya, membumi dedikasinya. Ditengah sekarang banyak orang pandai tapi pandai atas keahlian yang tidak dibutuhkan oleh sekelilingnya, banyak orang alim tapi tidak menyatu dengan tanah yang ia pijak.

Anak yang kedua, mereka beri nama Sendang Mili Migunani. Nama yang indah sekali, tidak perlu membaca kamus A-Z nama anak, kita sudah tahu maknanya, mengalir dan berkegunaan. Sepertinya Ayah dan Bundanya Sendang gaulnya dengan orang-orang tua, orang-orang kuno. Lihat saja Bapak, Eyang dan Buyut kita. Mereka membuat nama dengan memilih istilah yang begitu dekat dengan keseharian mereka, bukan nama yang aneh-aneh. Pun begitu dengan pemilihan kata Migunani, sangat dekat dengan keseharian kita kini, bukan?

Hilmy dan Rini well prepared sekali pada anak-anaknya, ia mungkin khawatir di generasi anak dan cucunya nanti, mereka harus membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Migunani", karena sudah tak pernah digunakan, maka mereka ukirkan menjadi nama agar abadi.

Sama seperti kita kini, perlu membuka kamus dulu untuk mengerti kata "Prasojo", "Raharjo", "Pratiwi" atau "Sri". Padahal kata-kata itu adalah kata-kata keseharian di beberapa generasi yang lalu yang bukan hanya mengandung makna yang baik, tetapi baik dan spesifik.

1/26/16

Berakhirmya Era Tas Kresek Gratis

Kabarnya, bulan depan pemerintah kita kembali mengimitasi negara maju: menghilangkan tas kresek gratis di tempat perbelanjaan.

Langkah yang bagus dalam rangka menggalakkan program go green. Budaya tas kresek berbayar sudah lama dilakukan di negara-negara maju. Kalau kita mau mempraktekkan, ya tinggal meniru saja.

Yang mesti diperhatikan paling :
1. Apakah ini hanya berlaku di toko modern atau semua toko? Bisakah pemerintah memonitor pemberian tas kresek gratis di warung kelontong di ujung pengkolan?

2. Apakah trust pemilik toko kepada konsumen sudah baik. Sehingga konsumen bisa menenteng tas kresek berisi dagangan yang ia beli di toko sebelumnya, masuk ke toko berikutnya. Atau setiap toko sudah siap menyediakan tempat penitipan barang?

Lepas dari semua itu, ini adalah langkah baik yang harus kita dukung. Penerapannya akan mudah di toko modern berjaringan yang instruksinya terpusat. Tapi susah bagi warung-warung. Ini mudah2an menjadi nilai lebih bagi warung tradisional, sehingga konsumen lebih senang datang ke warung tradisional yg melayani dengan keramahtamahan juga dapat kantong kresek sekalian.

Yang pemerintah tidak boleh lupa, kantong kresek vital keberadaannya, yaknk untuk bungkus tong sampah di rumah-rumah. Apakah sudah dilakukam tahap uji, sampah plastik apa yang paling dominan? Jangan-jangan bukan kantong kresek.

1/24/16

Pendekar

Tahap-tahap latihan kanuragan yang ditempuh untuk menjadi seorang pendekar tidak boleh dibolak-balik.

Pertama: Ndandani pikiran. Pikiran dibuatkan bangunan konstruksi yang kokoh. Sementara kebanyakan orang sekarang sibuk menghimpun referensi, asal masuk ke pikiran, tidak ditata. Karena pikiran belum dibangun rak-rak konstruksi, bangunan-bangunan penampung.

Kedua: Ndandani wektu. Ada waktu pagi, siang, sore dan malam. Itu untuk level awam. Kalau yang lebih expert fasenya sehari ada 24. Empat saja dulu diberesi. Pagi waktu aktif. Siang sediakan jeda. Sore waktu ceria. Malam luangkan kontemplasi.

Ketiga: Ndandani awak. Ini sebenarnya otomatis, karena di dalam pikiran yang sehat terdapat badan yang kuat. Kalau badan tidak terperhatikan, itu indikator ada yang belum beres di pikiran.

Keempat: Ndandani jurus. Kalau ketiga di atas sudah beres, baru bicara menang-kalah, menyerang-bertahan. Meringankan tubuh-hentak2 bumi. Dst.

Di alam modern, keempat tahap di atas tidak lagi penting. Karena sekarang tidak ada orang bercita-cita jadi pendekar. Repot. Harus menolong orang lain.

Lebih enak jadi orang kaya. Tidak penting sehat pikiran, tidak harus mengelola waktu, setiap hari bisa memanjakan badan, tak bisa jurus yang penting punya bodyguard.

1/18/16

Teror Tivi

Baru juga pulang liburan dari Derawan eh sudah harus menghadapi teror. Teror yang membuat perasaan mencekam. Teror dari benda bernama Televisi.

Media sepertinya sudah memposisikan diri menjadi Nabi ke-26, pembawa berita dan pemberi peringatan yang paling kita imani. Rasanya tertutup sudah segala apa yang terjadi, sebesar apapun itu, jika tidak masuk berita tivi.

Untunglah, kita selaku generasi Z kini memiliki daya makrifat-internet, mampu mengakses dunia tak kasat mata. Media digital benar-benar berhasil membangun jejaring sosial yang bisa menjadi pembawa berita alternatif atas intimidasi informasi yang dilakukan oleh media mainstream.

Tapi walau begitu, digital media harus digunakan dengan arif dan luas. Agar ia tidak tanpa sadar dijadikan nabi ke-27. Proporsional saja dalam mengkonsumsi informasi. Justru kalau bisa kita produktif jadi penyedia informasi, bagusnya seperti itu.

Kalau mau jadi penyedia informasi, cerdas dulu, agar kita jadi produsen yang memproduksi produk informasi yang sehat.

Lalu, jalur distribusinya juga diatur yang baik. Agar tidak salah kamar, nanti ibaratnya menceramahi kucing tidur.

Tiap jejaring sosial sebetulnya ada aurat-auratnya. Kalau mau share sesuatu yang fun, bisa di instagram. Kalau mau share refleksi, bisa di twitter. Facebook cukup untuk menshare godaan-godaan berpikir. Analisa dan penjlentrehan sesuatu bisa di blog. Heum, apalagi ya..

Kalau tivi, cukup untuk pengusir sepi. Jangan lebih dari itu. Bahaya.

1/2/16

Belajar Bisnis dari Tumbuhan

Strength + Opportunity + Inspiration = Income + Benefit. Rumus bisnis ini dipakai oleh tumbuhan, intern resources tumbuhan adalah klorofil, extern resources yang ada diluar adalah CO2, inspirasinya Sinar Matahari, maka jadilah income-nya Zat Makanan + benefitnya O2.

Jadi bisnis mustahil tanpa inspirasi. Rencana bisnis juga tidak bisa ngayawara, analisa SWOT dulu lah. Agar kita tidak memakai resorces yang bukan berada dalam diri kita. Juga tidak membidik yang bukan peluang disekitar kita.

Kenali potensi otentik, kalau potensi otentikmu kapak, jangan ikut2an mencangkuli ladang walau seluruh dunia sedang demam mencangkul. Kapak itu untuk menebang pohon, dia punya fungsi spesifik sendiri, sama seperti zat hijau daun.

Dan jangan mengejar peluang yang sudah menjadi rebutan terlalu banyak orang. Disaat banyak spesial memburu oksigen, tumbuhan malah sendirian memunguti karbondioksida.

Lalu bentangkan penampang otakmu agar bisa tersinari inspirasi. Bisnis tanpa inspirasi hanya akan disusuli kompetitor, sesudah itu mati.

Setelah proses bisnis kamu jalankan dan perolehan tinggal menunggu masak, siapkanlah perencanaan penerimaan income yang baik. Cash income paling besar itu untuk R&D, agar bisnismu tumbuh, selanjutnya baru untuk operasional dan selebihnya laba.

Jagalah fitrah sosial, kemanusian dan alam selalu, sehingga setiap yang kamu tuai menjadi benefit bagi sekelilingnya. Maka kamu sudah berhasil membangun a responsible corporate. Maka kamu tak perlu lagi menyisihkan Corporate Social Responsibility (CSR), karena semua perolehanmu adalah bernilai oksigen.

Kalau dirangkum menjadi: Kerjakan apa yang ada disekelilingmu yang itu bisa diraih, dengan sesuatu yang memang sudah ada dalam dirimu, improvisasikan dengan inspirasi tercemerlangmu. Lalu bersiaplah menuai hasil, yang pertama untuk membiayai pertumbuhanmu, sisanya kamu cadangkan. Dan keseluruhan kamu kerjakan dengan bertanggung jawab secara sosial, menjadi benefit yang bisa dipetik oleh semua.[]

Zaman Gratisan

Kita sulit mengimajinasikan bahwa di bumi kita dahulu, ada zaman dimana Pendidikan dan Kesehatan tidak dijadikan komoditas. Zaman itu terjadi bukan pada zaman dinosaurus, tapi zaman yang belum lama kemarin. Sewaktu orang tua kita masih remaja bahkan mungkin masih mengalaminya.

Di zaman itu, tidak ada kursus mengaji. Falsafah "Ngelmu iku kalakone kanti laku" benar-benar dipegang. Sehingga kalau ada anak yang mau ngelmu do'a dan wirid, cukup konsisten saja berangkat ke masjid, jangan pulang sebelum wirid ba'da sholat selesai. Dalam hitungan tidak sampai sebulan, si anak sudah mengilmui aneka do'a, wirid yang beraneka ragam dan beberapa adalah bacaan yang panjang-panjang. Semua itu diperoleh dengan gratis, semua itu terselenggara dengan gratis. Sekarang coba dicek, orang-orang tua di desa-desa itu pada hafal do'a dan wirid panjang tanyai, mereka kursus dimana dulu?

Kalau do'a dan wirid adalah ilmu maghdoh, maka bagaimana dengan pendidikan yang terkait ilmu muamalah. Lihatlah para tukang kayu di desa, termasuk Mbah Kakung saya dari Bapak adalah tukang kayu yang mahir, yang aku telat tidak mewarisi ilmunya. Beliau bukan insinyur, tapi karya-karyanya yang awet dan berkualitas masih bisa aku saksikan hingga hari ini. Untuk menjadi tukang kayu, juga tukang batu, tidak wajib sekolah. Cukup konsisten menjadi kernet bangunan, bakti, magang, ngabdi, nanti setahun atau dua tahun asal kamu titen terhadap setiap perilaku tukang senior yang kamu kerneti, selanjutnya kamu akan mahir juga. Metode pembelajaran seperti ini, gratis.

Lalu bagaimana di bidang kesehatan. Dari daun siridia sampai petai china, kalau tahu fungsinya, tinggal ditanam dipekarangan, kalau ada butuh pertolongan pertama atau terapi kesehatan tinggal petik. Tak perlu beli ke apotek.

Pun demikian tenaga ahli melahirkan, yang oleh orang modern diberi stigma sangat naif "dukun bayi". Dia lebih ekspert dari bidan lulusan D3, karena dasar pembelajaran dia bukan alat peraga artifisial di kampus tetapi ilmu titen dari ratusan bahkan ribuan pengalaman mendampingi proses melahirkan dan sedari menjadi pendamping dukun bayi senior sebelumnya. Dia bukan hanya tidak minta bayaran, bahkan dia berpuasa sunnah, berprihatin sebagai bentuk doa yang sungguh-sungguh bagi kelancaran proses kelahiran yang akan ia tangani.

Hanya saja, orang jaman dulu tidak kebangetan seperti orang sekarang. Mentang-mentang gratis, jadi tidak ngirim setandan pisang atau sekarung rambutan ke Pak Kiai tempat belajar mengaji. Mentang-mentang tidak minta bayaran, dukun bayi tidak diberi sesuatu sebagai 'tali kasih'. Tidak seperti itu orang jaman dulu. Semakin orang tidak meminta, semakin dia diberi banyak.

Maka, kalau sekarang kamu percaya pada sekolah ya jangan banget-banget, tetap sekolah tapi tetap cari ilmu alami. Kalau kamu percaya pada tenaga medis, juga jangan banget-banget, sambangi para tenaga kesehatan alternatif yang mungkin sekarang semakin sulit dicari yang benar-benar otentik.

Dan kalau kamu sekarang jadi tenaga medis, jangan congkak. Ingat, aslinya kesehatan itu bukan komoditas loh ya, bukan barang dagangan seperti beras dan gula. Layani yang membutuhkan keahlianmu dengan nawaitu kemanusiaan, bukan sebagai konsumen. Pun demikian kalau kamu sekarang jadi pendidik.

Sekali lagi, aslinya dulu pendidikan dan kesehatan bukan barang dagangan. Maka kalau sekarang mau tidak mau harus diperdagangkan, maka layani konsumenmu dalam nawaitu kemanusiaan. []

1/1/16

Sugeng Tindak 2015

Sugeng tindak.... Selamat jalan 2015. Sedih berpisah denganmu wahai makhluk Allah bernama 2015. Yang sudah setia menemaniku menjalani kesetiaan.

Yang sudah menjadi kepanjangan tangan Allah menjaga kesehatan, keselamatan dan keutuhan. Yang sudah menyediakan diri menjadi ruang pertemuanku dgn hal-hal besar, mengejutkan dan menakjubkan.

Yang sudah membentengiku dari petaka, kekufuran juga kefakiran. Yang tidak pernah sedetikpun berhenti, sehingga masalah-masalah yang aku hadapi menjadi berlalu.

Sugeng tindak... Selamat jalan... Semoga Allah ridho kepadamu, juga kepadaku. Hari ini aku tidak merayakan tahun baru, aku hanya mensyukuri 2015-ku.

12/26/15

Step by Step menjadi Wahabi

Pada tahap pertama, dengan teknik passing & leading orang dicekoki doktrin MURNI & TIDAK MURNI dalam beragama. Murni adalah ada dalilnya, bukannya murni akhlaknya.

Pada tahap berikutnya, diciptakanlah GUILTY FEELING. Rasa bersalah dan berdosa. Padahal fitrah manusia ya salah dan dosa, harusnya fokus ke perbaikan, bukam fokus ke rasa bersalah. Kalau kita diletakkan di kutub negatif, disinilah dikenalkan siapa yang akan diletakkan di kutub positif, yakni generasi SALAFUS SHOLEH.

Metode mengenali dan mengautentifikasi generasi salaf mana yang benar-benar sholeh dan mana yang justru tholeh sebenarnya sangat lemah dan cenderung sebatas klaim. Karena jarak abad dan minimnya informasi, tapi entahlah kok tidak ada yang mempertanyakan itu.

Pada step ke-3, orang akan dirancukan tentang parameter TUHAN dan MAKHLUK. Karena Tuhan diletakkan meneyerupai makluk, maka makhluk gaib dianggap berpotensi menjadi saingan Tuhan karena mereka sama-sama tak kasat mata. Maka muncullah jargon anti-syirik.

Berikutnya, mereka beragama tapi diajak menggunakan parameter kaum sekuler. Parameter di lingkungan sekuler adalah perkara keseharian dibagi menjadi : AKHIRAT & DUNIA. Sedangkan parameter orang beragama seharusnya adalah: Perkara Maghdoh dan Muamalah.

Sampai pada tahap ini, sebetulnya orang sudah berpotensi untuk merusak. Bukan merusak rumah atau bangunan, tapi merusak harmoninya tatanan sosial.

Eh masih ditambah lagi step berikutnya: penciptaan musuh bersama. Musuh sosiokultur mereka adalah Nahdlatul Ulama dengan pengembangan BUDAYA-nya. Musuh geopolitik mereka adalah SYIAH dengan Imamah-nya.

Kemudian untuk memunculkan semangat kolegial soliderity dibuatlah semacam SERAGAM bersama. Jenggotnya panjang, celananya pendek.

12/23/15

Subcon Nutrisi

Dulu, jaman beberapa generasi di atas kita, bagian rumah yang bernama dapur adalah tempat yang primer. Sehingga dapur didesain lega dengan berbagai tempat ubarampe yang fungsionable. Dapur lebih vital dari ruang tamu. Karena di ruang tamu, hanya tamu tertentu yang masuk, sedangkan didapur, tetangga, orang lewat, semua bisa masuk, ngendong (berkunjung) juha nganthong (numpang makan).

Vitalnya dapur adalah karena ditempat itu first hand dari nutrisi keluarga dihasilkan. Nutrisi yg akan mempengaruhi kualitas anggota keluarga baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Sayangnya, entah sejak kapan. Dapur menjadi mendapat stiga negatif. Dapur jadi terpinggirkan. Yang utama adalah tamu dan ruanh tivi.

Akibatnya, orang tidak bisa menemukan lagi keasyikan di dapur. Warna-warni cabe, fragmen2 pethikan kangkung, wangi rempah-rempah, semua tidak lagi menarik. Sambil disaat yang sama, orang lebih ayem men-sub-kontrak-kan pasokan nutrisinya kepada pihak ketiga. Ngewarung. Ngerames. Delivery order.

12/21/15

Bangkrut Statis

Orang Jawa itu di keadaan apa saja kok ya tetep saja bisa melihat untungnya. Kalau jatuh di jalan: untung cuma lecet, enggak ada yang parah.

Kalau dagang sepi: untung cuma sepi, enggak sampai nombok. Kalau nombok: untung cuma nombok, enggak sampai utang. Kalau utang: untung cuma utang, enggak sampai bangkrut. Kalau bangkrut: untung ketemu bangkrut, daripada enggak pernah mencoba.

Kalau nggak pernah mencoba: untung nggak pernah mencoba, jadi nggak perlu ngerasain bangkrut. Loh? Hehe...

Tidak ada peristiwa statis di dunia ini, termasuk bangkrut. Bangkrut statis tidak akan terjadi, kalau energi pikiran kita tetap digerakkan menjadi kumparan yang dinamis, sehingga bisa mengelektromagnetik keadaan dan memproduk momentum kebangkitan. Kecuali pikiran kita stuck berhenti.

Ekonomi Sederhana

Tentang perlambatan ekonomi yang terjadi nyaris menyeluruh, dari perusahaan multi-nasional sampai perusahaan ecek-ecek, disatu sisi adalah sebuah keluhan disisi lain juga kesyukuran.

Bagaimana tidak mengeluh kalau sales mobil dan sales kredit semakin diforsir demi target. Pun demikian kaum usahawan kecil. Kalau pedagang nasi goreng harus menaikkan harga jualnya, itu bukan aji mumpung atas momentum, itu karena kepepet atas harga2 bahan baku yang melambung. Disisi lain mereka harus siap dengan realita pembeli menjadi berkurang drastis karena daya beli konsumen melemah.

Itulah arti 2.000 rupiah dinaikkannya harga premium yg merupakan satu dari tiga kebutuhan bahan pokok selain beras dan gas. Kita belum mendengar dampak pengalihan subsidi untuk pendidikan dan daerah tertinggal, tapi sudah bising dengan pelemahan daya beli masyarakat yang menyeluruh se-nasional.

Belum lagi ditambah faktor ekonomi global, pemusatan modal dan berbagai rekayasa ekonomi lainnya. Apakah sensus ekonomi tahun ini akan mampu menyajikan fakta yang jujur dari data yang akan mereka serap dari lapangan se-nasional ini? Kita lihat saja nanti.

Kalau hal di atas adalah sisi keluhannya. Maka ada pula sisi kesyukurannya. Syukurnya adalah, mudah2an perlambatan ekonomi ini akan mendekatkan kita pada momentum dimana kita sadae bahwa rekayasa ekonomi sudah terlalu akut. Sehingga secara kompak dan massal kita mau bersama-sama kembali ke konsep ekonomi yang sederhana. Sederhana bahwa bisnis adalah tukar menukar kebutuhan, bukan rekayasa keinginan disulap jadi kebutuhan. Sederhana bahwa iklan itu mengenalkan produk, bukan menjebak. Sederhana bahwa modal itu faktor pendukung sistem, bukan penguasa sistem. Sederhana bahwa hidup yang enak itu hidup sederhana.

12/20/15

Impossible Ikhtiar

Aku hidup didesa, tapi jauh dari pelayanan alam, pelayananku dari Industri: bumbu instan, alfam*rt, gadget. Mbahku petani, tapi ilmuku teknologi informasi.

Ini sepertinya aku harus buru-buru men-download ilmu dari Mbah-mbahku. Agar aku paham ilmu bertani. Agar aku tidak bengong, nglangut, se-pasca ikhtiar. Agar aku tidak mengerjakan imposible ikhtiar.

Pak Tani itu, kalau sudah mencangkul lahan, memberi kompos dan menanam bibit, selanjutnya pekerjaannya ya tinggal menunggu. Menunggu panen.

Tinggal tugas Tuhan dan keniscayaan waktu yang bekerja. Kita menunggui saja, merawat, menjaga. Boleh menunggu sambil ngelangut, boleh menunggu sambil menggerutu. Tapi boleh juga menunggu sambil pergi 'repek' mencari kayu bakar. Atau sekedar nyeset-nyeseti bambu barangkali bisa jadi irus atau siwur.

Tapi please pekerjaan Tuhan jangan diganggu dengan mulur-mulurin batang tanaman. Kamu kira itu bisa membuat waktu panen lebih cepat?

Lah, tapi kalau panen masih lama. Kita makan apa donk? Makan tuh lamunanmu. Ya salahmu sendiri kenapa dari dulu tidak mempersiapkan umbi-umbian kek, atau tanaman sela apa kek, yang umur panennya lebih cepat, bisa untuk bahan pangan alternatif. Itu kan bisa direncanakan. Asal kamu mau berpikir detail.

Pecundang Vacancy

Entah aku harus bersyukur atau harus mengeluh. 10 tahun mencoba konsisten mengikuti katahati. 10 tahun puasa untuk tidak melacur dari mitos 'urip mapan kudu dadi pegawai'. Hari ini sepertinya semua pintu untukku berkemungkinan menjadi pekerja sudah tertutup sempurna.

Faktor eksternal adalah perlambatan ekonomi global yang mengakibatkan perusahaan makin eksploitatif memerah anak buahnya. Sudah kenyang aku mendapat keluhan kaum pekerja mulai dari yang bergaji rendah sampai yang bergaji bejibun. Dari yang bekerja di perusahaan ecek-ecek sampai yang kerja di perusahaan gedhe, segedhe gaban.

Sementara faktor internal adalah karena aku tidak mempunyai ijasah yang bonafide dan tinggalan IPK yang memadai. Ketambahan hasrat untuk kuliah lanjutan belum ada, tetap rencananya lanjut kuliah ya nanti mengisi waktu luang bersama istri setelah menikah.

Jadi, sekepepet-kepepetnya hidup. Mau tidak mau aku harus menjebol tembok inspirasi baru. Karena semua pintu pecundang sudah tertutup semua dengan sempurna. Sesusah apapun inspirasi itu dijebol. Energinya ya energi penghabisan: daripada sesak napas dihimpit keadaan.

12/18/15

Analisis Rasa

Kalau C.I.N.T.A itu sebuah program, maka ada input - proses - output. Yang orang pahami tentang cinta adalah output, bukan cinta itu sendiri. Output itu bentuknya : kecenderungan rasa. Walau cuma kecenderungan dan cuma rasa, tapi indahnya melampaui dunia seisinya.

Lalu apa inputnya? Dalam kosakata Arab disebut Ratib Al Qulub, yakni : diriku yang ada dihatinya, atau hatiku yang ada dirinya, atau bagian dari diriku yang ada di satu bagian di dirinya, atau entahlah disebut dengan apa, yang jelas maksudnya itu. Kecerdasan orang Jawa memaknainya, sehingga di Jawa dikenal falsafah : sigaraning nyowo yang diakronimkan menjadi garwo (Indonesia:Istri).

Apakah didalam diri calon pendampingmu, engkau menjumpai dirimu ada disana? Ataukah engkau tidak bisa melihatnya? Atau jangan-jangan bahkan engkau belum bisa mengetahui dan mengenali dirimu yang ada di dalam dirimu sendiri sehingga engkau kesulitan mendeteksi adanya dirimu di dalam orang lain? Welah dalah... mumet...

Loh, bukankah kecenderungan rasa itu tanda bahwa ada diriku di dirinya? Oh, belum tentu. Kok belum tentu? Belum tentu, karena parametermu atas rasa juga tak menentu. Cantik, cerdas, memukau. Langka, terpelihara, mempesona. Pukau dan pesona sekarang ukurannya suka-suka, bukan? Terkungkung rasa. Heum... dibawa merenung saja dulu... agar bisa melepaskan diri dari kungkung rasa dan memulai menganalisis.

Lalu, kalau output sudah tahu, input juga sudah tahu, lalu apakah prosesnya? Prosesnya bernama : Momentum. Momentum adalah sesuatu yang diatas kecepatan. Momentum adalah sesuatu yang harus panjang menganalisanya. Tinggal kita mau sibuk menganalisa atau mau sibuk online dengan Sang Penguasa Momentum.

Kaleidoskop 2015

Tahun 2015, tahun yang menakjubkan dan penuh kesyukuran. Di tahun ini, core activity-ku masih berkecimpung di dunia gula kelapa. Ini adalah tahun ke-4 aku membangun embrio perusahaan dari nol bersama dua rekanku, Hilmy dan Azis. Walaupun kecil, karena memang kita berangkat dari modal yang super cekak, tapi mungkin inilah satu-satunya perusahaan lokal di daerahku yang menerima berbagai penghargaan juga yang sudah melakukan ekspor langsung.

Pastinya masih panjang untuk perusahaan ini bisa seatle seperti Elang Groupnya Elang Gumilang atau sekaya Saratoganya Sandiaga Uno. Mudah-mudahan saja kita bisa memperjumpakan diri dengan banyak momentum sehingga proses yang masih panjang itu bisa ditempuh tidak harus memakan waktu yang lama.

Selain aktivitas makaryo sebagai kewajiban untuk mewajarkan diri sebagai manusia modern seperti di atas itu. Aku juga masih harus menyelesaikan pendidikanku. Aku mengambil pendidikan di bidang filsafat. Tahun ini insyaallah lulus wisuda dan bisa lanjut ke jenjang selanjutnya.

Kalau jenjang pendidikanku diibaratkan adalah belajar bertani, maka jenjang yang sedang aku tempuh adalah jenjang mengenali lahan yang kita miliki, jenis, countur dan karakteristiknya. Setelah kenal betul, di jenjang berikutnya aku diharuskan berkesperimen menentukan bibit budidaya apa yang benar-benar cocok dengan karakteristik lahan yang aku miliki. Menarik sekali pembelajaran yang sedang aku tempuh, aku bersyukur atas itu.

Selain kedua kesibukanku di atas, aku juga bersyukur bertemu dengan banyak persentuhan-persentuhan dan ekstrakurikuler baik rejeki maupun ilmu. Berikut catatan bulan perbulan yang sudah aku lalui di tahun 2015 ini :

Januari
Di bulan ini aku dan rekan-rekan disini menerima workshop keorganisasian dan kemasyarakatan dari Pak Toto Raharjo, Mbahnya LSM di Indonesia. Pendampingan dari beliau masih berlangsung hingga saat ini. Paradigma dan struktur yang beliau miliki mungkin hanya satu-satunya yang ada di Indonesia, silahkan sodorkan kepadaku kalau ada tandingannya.

Di bulan ini juga aku mendapat pembelajaran praktikal dari seorang pengusaha properti di Yogyakarta mengenai eksekusi lahan dan perencanaan klaster. Sayangnya memang aku belum berkesempatan mempraktekan ilmu ini hingga final, jadi klaster perumahan dan jadi uang.

Selain itu aku juga sedang getol belajar mengenai perencanaan paket program umroh dan perencanaan umroh backpacker, menimba ilmu dari teman-teman yang aku kenal dari jejaring di dunia maya. Tapi niatanku bukan untuk membisniskan ini, niatanku untuk mencari jalan termudah dan termurah bisa berhaji/umroh.

Februari
Cak Dil dari Malang dan Doktor Heri dari Jogja memberikan kepada kita pembelajaran tentang material konstruksi alternatif. Beberapa rekan mempraktekkan penggunaan material alternatif ini beberapa hari di Laboratorium milik Doktor Heri di Jogja. Sayangnya hingga saat ini, produk pengembangan yang kita tekuni belum bisa diorientasikan ke pasar.

Maret
Hall utama di hatiku harus dikosongkan, karena seseorang yang berada disana, di awal bulan ini dilamar orang. Dan lima bulan kemudian, mereka ditakdirkan menikah. Ah sudahlah..

Di hari yang sama, house of L22 yang menjadi basecamp komunitas milik rekan-rekan harus dikosongkan. Saatnya move on, hijrah.

Kesibukanku di bulan ini adalah berpartisipasi di beberapa workshop, diantaranya di Karanjambe di tengah hutan pinus Banyumas selatan, juga berpartisipasi di workshop di Magelang untuk teman-teman Komunitas Maneges Qudroh.

April
Selama tiga hari tiga malam kita mengodhog model embrio bank komunitas. Tandon uang tidak harus berada di luar komunitas, karena yang terjadi selalu akan seperti bank pada permainan monopoli yang selalu kaya raya dan semakin kaya raya sendirian.

Di bulan ini, aku menuntaskan prosesi "nedhak sungging", yakni melacak family tree, nama dan makamnya dimana. Kali ini yang baru bisa aku tuntaskan dari jalur ibu. PR untuk menyusuri jejak leluhur dari jalur bapak mudah-mudahan aku tuntaskan tahun depan.

Basecamp baru belum bisa disiapkan, kita menyiapkan basecamp alternatif. Di Kota Purbalingga. Proses rehab bulan ini dikerjakan dan segera kemudian bisa ditempati.

Mei
Akhirnya kita merealisasikan ekspedisi napak tilas pejuang Islam di Jateng, Jatim & Madura. Tercatat : Demak, Kudus, Tuban, Gresik, Bangkalan, Pasuruan dan Jombang disambangi dalam 3 waktu trip yang berbeda.

Kemampuan Bahasa Inggris-ku yang pas-pasan lagi-lagi ditagih oleh keadaan. Di bulan ini pula aku menerima kunjungan beberapa buyer gula kelapa, bulan ini tumben agak banyak.

Juni
Pindahan dari Griya Satria di Sumampir ke Sapphire Residence di Karangwangkal. Walau baru ditempati dua bulan kemudian.

Juli
Aku, Hilmy dan Azis menunaikan Ibadah Umroh akhir Ramadhan. Perjalanan didahului dengan Backpacker edisi Safari Ramadhan di Filipina, Singapura dan Malaysia. 

Memasuki lebaran, acara disibukkan dengan berbagai ritus halal bihalal. Salah satu yang paling seru adalah halal bihalal keluarga di Puncak Sikunir, Dieng.

Agustus
Kali ini kita kedatangan Guru Bangsa Emha Ainun Nadjib. Sebuah kehormatan dan kesyukuran tersendiri bagi orang-orang yang paham kadar kenegarawanan beliau. 

Di bulan ini juga aku diajak fieldtrip ke Pemalang untuk mempelajari budidaya Udang Vaname. Azis ditugasi untuk mengawal riset praktek secara langsungnya hingga sekarang masih berlanjut.

September
Silaturahim perdanaku dengan ulama kesohor yang paling dituakan di negeri ini, Kyai Haji Mustofa Bisri (Gus Mus) di sebuah Ponpes di Parangtritis, Yogya.

Di kali lain di bulan ini, aku berziarah ke makam Guru Bangsa Tjokroaminoto, Yogya. Di makamnya tertera sebutan kehormatan beliau, Tjokroaminoto Jang Oetama, Beliau adalah negarawan besar sekaliber Diponegoro yang berkiprah 70 tahun sesudahnya.

Oktober
Seminggu di Netherlands. Ini kali kedua aku mengunjungi negeri Kincir Angin, kali ini dalam rangka ikut rombongan misi perdagangan Gubernur Ganjar Pranowo. Netherlands, negeri mungil yang sangat menginspirasi.

November
Aku menyebut bulan ini sebagai bulan follow up. Jejaring baru yang aku dapatkan selama hampir setahun, beberapa terlewat belum difollowup-i, saatnya dimaintain lagi baik-baik.

Di bulan ini, untuk pertama kali secara resmi keluarga Juguran Syafaat menghadap ber-pisowanan agung ke Rumah Maiyah di Kadipiro, Yogya terkait beberapa agenda pokok yang hendak dikerjakan kedepan.

Desember
Mengikuti perhelatan silaturahmi nasional penggiat maiyah di Magelang. Aku berkesempatan menjadi salah satu presenter. Dan katanya presentasiku memukau. Alhamdulillah.

Dan dibulan ini, project Epistemic Community untuk dua kabupaten sekaligus ditabuh gong pertanda dimulai.

Canggih & Tekun

"Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis."

Simbah,
11-04-2015

Bincang-Bincang

Sudah lama aku tidak bincang-bincang bisnis. Bisnis ya eksekusi. Bahwa ada peluang inovasi, atau creating something new itu lah butuh bincang-bincang. Tapi itupun tidak sebatas bincang-bincang saja sebetulnya. Tapi memperbincangkan bagaimana harus eksekusi, mulai darimana yang akan dieksekusi.

Bahwa satu-satunya alasan tidak berbincang adalah karena sedang eksekusi. Kalau tidak ingin berbincang, lakukanlah eksekusi. Kalau tidak ingin eksekusi, berbincang-bincanglah. Teruslah berbincang, berhentinya ketika hendak eksekusi. Jangan hentikan eksekusi, kecuali mau berbincang-bincang.

Terbiasa Menduga-Duga

Menurut catatan sejarah, Banyumas adalah tempatnya para pertapa. Kata Cak Nun, orang Banyumas kalau kungkum atau tirakat jenis lainnya, mereka "gentur" betul. Bagi para pertapa, lapar itu nikmat. Bagi para pertapa, rezeki tak diduga-duga adalah keindahan. Sekalipun minhaitsu laa yahtasib bukanlah berarti rezeki yang didapat tanpa bekerja.

Bekerja bukan untuk mencari rezeki. Bekerja adalah ungkapan syukur atas setiap hal yang diberikan. Bahwa setelah bekerja dapat rezeki, itu sesuatu yang tidak diduga-duga, Ini nih yang sulit, sebab kita tidak terbiasa menghitung hal-hal yang harus disyukuri. Terus lagi kita terbiasa menganggap yang namanya bersyukur adalah cukup dengan mengucapkan Alhamdulillah, bukan diejawantahkan dalam kerja. Dan kalau kerja, yang diduga-duga dan dihitung-hitung dengan rigid adalah, akan memperoleh berapa nih nanti?

Bantaeng

Kabupaten Bantaeng berjarak 120 km dari Makassar, Ibukota Sulawesi Selatan. Tempat dimana Pantai Seruni yang aku ingin kesana berada. Kabupaten ini punya Bupati yang top markotop, Nurdin Abdullah namanya.

Bupati pertama yang bergelar profesor. Nurdin tidak seterkenal Risma atau Ridwan Kamil, tapi pencapaiannya jangan ditanya. Profesor yang pernah sekolah dan kerja di Jepang ini mengabdikan diri untuk daerahnya dengan dedikasi yang menurut saya keren. Dari Shubuh, pintu rumahnya terbuka untuk semua warga. Persoalan darurat sosial seperti banjir ia pelajari langsung tanpa perantara sehingga dapat menentukan solusi yang tepat dengan segera.

Kabupaten ini andalan pendapatan asli daerah (PAD)-nya adalah pertanian. Tidak mudah meng-amplify pendapatan dari sektor pertanian dalam waktu singkat. Maka solusinya adalah, ia banyak menggondol hibah dan kerjasama dari luar : Jepang, China dan Korea.

Ini yang menurut saya keren. Ia paham betul keterbatasan wilayahnya, dan cerdik memanfaatkan peluang yang paling memungkinkan. Betul, kita tidak bisa memaksakan sumber daya yang memang tidak bisa di-amplify dalam waktu singkat. Yang diperlukan adalah memahami kelemahan dan tantangannya, serta mencari sumber daya alternatif.

Saya membayangkan jika saya di posisi bupati, di daerah saya atau dimanapun. Yang repot paling sangat adalah soal teamwork. Dengan etos teamwork seperti PNS Pemda saat ini, apa yang bisa saya perbuat, konsep yang bagus paling hanya akan dibendel di sekretariat daerah. Harus ada team alternatif. Dan untuk team alternatif, harus ada source dana khusus. Dicontohkan oleh Prof. Nurdin di Bantaeng, ia mencari sumber daya dari luar negeri. Tinggal di adaptasi.

12/12/15

Jebakan Motivator

Diskusi itu membutuhkan skill. Karena dalam diskusi, kita dituntut untuk pertama:sanggup mendengarkan lawan bicara kita. Kedua:sanggup mengelaborasi materi dari lawan bicara kita.

Beberapa orang meremove akunku, hanya karena enggan diajak diskusi. Dan kebanyakan darinya adalah para motivator. Bukan karena aku pandai diskusi, tapi karena materi diskusiku mengganggu jualan mereka.

Menurut pandanganku, menjadi motivator itu tidak jelek. Tetapi bahwa banyak diantara mereka menjadi motivator hanya urusan jualan, itu memang benar. Daya nalar dan ketahanan mental mereka diatas panggung beda dengan di keseharian aslinya. Bagi mereka pencitraan adalah nomor satu, soal inputan ilmu-ilmu baru yang mungkin didapat dari diskusi mereka sangat resisten. Kalau-kalau inputan ilmu baru itu justru merusak komoditas paket training yang mereka jual.

Pandai-pandailah membeli motivasi, jangan terjebak.

12/11/15

Rumah Jawa Masakini

Rumah orang Jawa jaman dulu itu lebih ideal ketimbang produk developer masa kini. Setidaknya pemfungsiannya lebih optimal. Setiap sendi arsitekturnya mengandung filosofi. Kalau digali, bisa satu diktat sendiri hanya sekedar mengupas adiluhungnya produk arsitektur orang jaman dulu. Orang yang dicap kuno, tapi cara hidupnya jauh lebih mutakhir dibanding orang sekarang.

Kalau mau copy paste arsitektur jaman dulu, tentu saja susah. Kayu mahal, tukang mahal. Apalagi tanah, muahaaal. Maka, karena yang penting substansinya bukan bentuknya. Paling tidak, ada nilai-nilai substansi yang tetap terjaga, walau bentuk, juga ukuran rumah tidak bisa kita tiru untuk dihadirkan dimasa kini.

Ada banyak tentu saja, kita ambil lima saja misalnya apa-apa yang ada di rumah jaman dulu dan bisa kita adaptasikan untuk kita hadirkan di rumah masakini.

1. Padasan
Gentong air di depan rumah yang bisa dimanfaatkan untuk pejalan kaki yang butuh minum atau cuci kaki. Ya, kalau sekarang bisa lah dengan menaruh keran cuci mobil di depan rumah.

2. Halaman
Halaman yang luas, bisa untuk taman bermain gratis, tempat berkumpul anak-anak kita dengan anak-anak tetangga. Ruang interaksi yang multifungsi. Ya, kalau sekarang tidak harus seluas halaman rumah jaman dulu, mahal tanahnya. Tapi kita bisa memanfaatkan carport, dioptimalkan untuk ruang interaksi bagi siapa saja, jangan malah dibuat sesak dengan perabot. Pot pun sekadarnya saja.

3. Ruang Tamu
Ruang tamu jaman dulu memakai risban dan meja besar, enak untuk diskusi sambil medang. Kalau perabot besar macam risban dan meja besar malah mempersempit ruangan, yang penting ruang tamu dibuat lega, tapi tetap bisa untuk ngobrol formal dan diskusi berpanjang-panjang. Juga bisa untuk pisowanan, dimana orang-orang bertamu bermaksud menghadap, berkonsultasi atau sekedar meminta saran. Jangan malah ruang tamu disetting untuk sales-friendly belaka.

4. Dapur
Dapur itu bukan ruang belakang. Sekalipun ruangannya ada di belakang. Dapur adalah hal paling primer dalam rumah. Segala sesuatu yang dinikmati di rumah asalnya adalah dari dapur. Walaupun tidak bisa menghadirkan dipan untuk menyambut tetangga ngendong, para-para untuk menaruh barang yang harus keep warm, setidaknya, dapur tetap kita pandang sebagai ruang yang primer, bukannya ruang yang paling terabaikan. Sekalipun kita tidak suka memasak.

5. Ruang Pribadi
Ruang untuk meditasi atau uzlah atau tafakur. Ruang untuk me-time. Bisa didesain suka-suka, tidak harus bernuansa etnik klasik seperti ruang meditasi di keraton milik raja. Yang penting bisa untuk merenung dan menenangkan diri. Kalau lahan terbatas, kita bisa memanfaatkan loteng.

Begitulah kalau prinsip-prinsip itu tetap dijaga, sekalipun bentuknya sama sekali berbeda, tapi kita sudah berasa berada di Rumah Jawa.

Spirit of Jamaah

Keuntungan kita hidup di lingkungan teman-teman yang kebanyakan sudah pada menikah adalah kita mendapat booster etos kerja alami. Pagi-pagi masih kepengin tidur, sudah di-oyak-oyak untuk cari orderan. Sore-sore sudah kepengin pulang masih dipaksa nambah setoran. Malam hari, masih disuruh mantengin lemburan. Iya lah, over head cost orang menikah kan lebih tinggi dibanding para jomblo.

Maka untungnya lagi adalah, ketika kerja bersama dan dapat hasil yang sama, buat yang sudah menikah untuk belanja sekeluarga. Buat yang belum, untuk belanja sendiri. Eh, ini keuntungan apa kerugian yah. Hehe..

Begitulah kalau kita berada di lingkungan komunitas yang positif juga solid. Beda kalau kita berada di lingkungan komunitas yang egois. Begitu banyak tanggungan di rumah, komunitas ditinggalkan. Cari kerjaan dan kesibukan sendiri diluar. Urusan "spirit of jamaah" kagak urusan dah, yang penting gua rajin sholat jamaah di masjid inih.

11/28/15

Derajat Ilmu

Kadang-kadang mikir, mending jadi orang yang banyak enggak tahunya saja. Jadi, ketika ada orang lain minta masukan, aku tidak dibebani kewajiban untuk memberi masukan. Karena memang tidak punya pengetahuan untuk membuat masukan.

Daripada, tiwas sudah meminta masukan, diberi, eh tidak dipake. Dibuat berceceran begitu saja. Tapi yah, itulah kenapa orang berilmu ditinggikan derajatnya. Kompensasi atas beratnya berlaku bijaksana. Harus menahan diri, daripada obral masukan. Meski gemes nggak karuan melihat tingkah polah yang sebetulnya bisa aku berii masukan.

Maksud Sang Nabi

Kalau diantara kita ada yang berani menghukumi bahwa Syiah bukan Islam. Apalagi Khawarij. Kalau syiah saja tidak dianggap bagian dari Islam, terlebih mereka kaum Khawarij.

Tapi apa berani menghukumi khawarij itu bukan Islam. Sedangkan mereka bajunya Islami, rujukannya Quran dan Sunnah. Cara penafsiran dan penerapannya saja yang sakpenakwudele dhewe. Maka yakin, tak berani kita menghukumi kaum khawarij itu bukan Islam.

Kalau menghukumi syiah bukan Islam berani. Karena media berkata begitu. Wong kita lebih sami'na wa ato'na kepada media. Ketimbang bertabbayun pada maksud-maksud Nabi pada Sunnah-sunnahnya.

Sebegitu kita tidak mengenal baik Nabi kita sendiri, sehingga ketika tafsir atas perkataan Nabi dimanipulasi sedemikian rupa, kita masih yakin bahwa itu memang benar-benar yang dimaksud oleh Nabi.

11/27/15

Sulitnya Hidup Jujur

Sulitnya hidup jujur. Jujur itu bukan sekedar ngomong ke orang lain yang benar. Kalau itu jujur fisik. Jujur dalam hidup hakikinya adalah kita tidak mengingkari anggukan universal alias kebenaran murni yang tersimpan di dalam hati.

Kalau mau hidup tidak jujur gampang sebetulnya. Sekolah dan kuliah yang nurut. Kejar nilai tugas dan ujian yang baik. Lulus cari kerja yang menjanjikan. Kerja yang nurut. Disela-sela kerja, sholat yang rajin. Ikuti majelis taklim, rajin mengisi infak ini, infak itu.

Diwaktu senggang hafalkan beberapa dalil. Kuasai keahlian ceramah dg itu, bawakan dengan santun. Kejarlah pahala, nikmatilah dunia.

Semua kebenaran sudah tersaji. Tinggal rajin membaca teks agama. Hindari perdebatan. Ikuti mainstream. Dikala jenuh, sesekali berwisatalah, hitung-hitung mengambil jatah kebahagiaan duniamu.

Mudah bukan? Modalnya nurut. Taat. Pada aturan Tuhan dan Nabi. Tak perlu berpikir sedikitpun bukan untuk menjalani cara hidup seperti di atas? Enak, pikiran enteng, tak perlu banyak yang harus dikaji, diterjemahkan, dikontekstualisasi. Waktu senggang dan waktu tidurpun cukup.

Saking enaknya, bahkan kita tak perlu berpikir untuk meneliti, yang disampaikan tentang perintah Tuhan dan Nabi itu dituturkan oleh siapa? Siapa kelompok yang menuliskan menjadi bacaan tafsir kita? Adakah kepentingan mereka kepada diri kita?

Dan yang terpenting, kita sama sekali tidak perlu berpikir. Apakah yang mereka tuturkan dan tuliskan tentang Tuhan dan Nabi itu sudah betul-betul bisa mewakili yang benar-benar dimaksud oleh Tuhan dan Nabi? Atau jangan-jangan belum.

Maqomat

Kalau di arloji, maqomat aku itu enggine bukan interface. Kalau di kantor, kecenderungannya aku di backoffice bukan di frontoffice.

Aslinya bagian paling pas buatku ya di dapur. Tidak lihai ngurusin permukaan. Tapi bagaimanapun, 'kutukan' trah dari mbah-mbahku adalah aku harus mandito tapi juga harus siap satrio.

Harus pandai mikir. Tapi juga harus kalau 'terpaksa' dibutuhkan untuk tampil ya harus bisa. Tiba-tiba disuruh presentasi didepan juri nasional. Harus naik panggung disorot kamera tv nasional. Harus negosiasi dengan wong londo dengan bahasa mereka. Harus berbicara didepan umum. Minimal tidak ngisin-ngisini.

Tapi jangan salah mengenali maqomatmu. Aslinya ya kamu urusan dapur. Bahwa bisa tampil, itu jurus darurat belaka. Jangan malah terbuai sibuk cari panggung. Dan lupa nguleg ide, mblender gagasan di dapur.

Dan jangan membanding2kan diri dengan kualitas mereka yang maqomatnya memang dipanggung.