6/15/09

Apa yang saya cemaskan hari ini?

Apa yang saya inginkan hari ini hingga membuat saya cemas?

Menjadi kaya? buat apa kalau menurut riset di sebuah majalah, bertambah kaya seseorang, semakin sulit orang itu bahagia. Artinya butuh ilmu lebih bagi orang kaya untuk bahagia ketimbang bagi orang miskin.

Menjadi tenar? buat apa itu kalau dalam hitungan tahun, yang menurut hitungan ilmiah yang dapat dipercaya paling tidak dalam 25 tahun ke depan akan terjadi bencana dahsyat akibat tabrakannya patahan Asia dan Australia? Belum lagi prediksi tabrakan meteor dan lain-lainnya

Mendapat jodoh? kan sudah diatur dan dipersiapkan jodoh kita, seperti menjemput tulang rusuk yang terserak saja

Sebulan terakhir : 3 kali ke Jogja, 2 kali ke Surabaya, 1 kali ke Cirebon

dari 6 perjalanan itu, 2 diantaranya saya jalani sendiri, yess, by alone. Satu pembuktian, apa orang salah bisa tetap naik tingkat?, jawabannya : Bisa!

Saya Suka Petualangan Ini

Saya pernah salah mendefinisikan cinta, hingga saya antipati terhadapnya. Ya, dulu, dimata saya, cinta hanya milik pria-pria tampan dan gadis-gadis cantik.

Sampai saya tahu, bukan cinta macam itu yang saya rindukan. Sekarang saya tahu jawabannya, dan tugas saya hanyalah melanjutkan langkah.

6/13/09

Logawa 12 Juni 2009

Tanpa dinyana-nyana saya duduk berhadapan dengan seorang pejabat di dinas air dan tanah Pemkab Banyumas, Pa Dekan namanya. Priyayi santun, rendah hati, banyak wawasan tapi tidak sombong. Sedang perjalanan menuju Jember yang 15 jam lamanya baru sampai untuk memenuhi undangan rekannya di sana, mungkin mencurvai air tanah disana...

Beliau alumni SMA 2 79, pernah study di Jepang, juga di Jerman. Orang yang tahu kayanya mineral dan potensi geologis Indonesia. Katanya, cadangan minyak yang ada di pesisir selatan Jawa saja, cukup untuk memasok kebutuhan dalam negeri hingga 200 tahun. Bayangkan kayanya negeri ini, sayang kekayaan itu 300 triliunnya dicuri asing. Hm, tanpa bermaksud berburuk sangka, siapa yang bisa membantah kalau diantara aset triliunan itu ada yang masuk ke rekening pejabat, entah itu menteri, DPR bahkan presiden. Pa Dekan sendiri dengan logisnya menjelaskan keniscayaan itu.

Bayangkan saja, utang Indonesia cuma 1600 triliun, tak sampai 6 tahun akan lunas! kalau mau mampetkan pencurian kekayaan negara yang mendurhakai UUD 1945 pasal 33 ini.

"Komitmen Fee", itu katanya, mungkin menyerupai kalau kita bikin KTP, harus bayar 5.000 rupiah padahal di kuitansi yang kita terima hanya tertulis 2.500 rupiah. Seperti kalau naik KA Ekonomi Logawa dari Stasiun Besar Kroya yang di tiket tulisannya 18.500 tapi si tukang tiket bilangnya 19.000. Mungkin seperti kalau kita parkir di Tamara plasa, uangnya 500 perak diminta, tapi kalau kita nggak meminta karcisnya kita ya nggak dikasih karcis.

Katanya, Belanda bertaruh nyawa untuk sampai ke negeri ini. Bukan 2-3 hari perjalanan, bukan medan yang mulus untuk memburu nusantara. Penjelajahan samudera diceritakan begitu panjang dalam pelajaran sejarah, tapi tak pernah disinggung alasan mendasar kenapa mereka memburu tanah air kita : karena tanah kita kaya.

Di bawah wates ada Intan. di Bawah bukit tempat rumah saya dibangun ada Emas di kedalaman 200-an meter, begitu katanya. Bukan cuma emas, tapi juga ada minyak, ya, minyak di pesisir selatan Jawa.

Tapi yang harus diterima pula, bahwa bukit tempat rumah saya dibangun, kata beliau adalah bukit lipatan, yang berhubungan langsung dengan patahan Asia dan Australia, yang sedang terus bergerak mendekat dan sudah hitungan kilometer. Padahal kedua lempengan itu bergerak dengan kecepatan tinggi, 2 meter perbulan. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi ketika 2 lempengan itu bertabrakan, bahkan katanya Tsunami di Aceh saja adalah imbas dar sekedar pergeseran patahan Asia Afrika, baru pergeseran saja seperti itu dahsyatnya, apalagi kalau tabarakan?

Ya, tsunami besar akan menerjang pesisir selatan Jawa, hitungannya kisaran 25 tahunan lagi kata beliau, besarnya melebihi Tsunami Aceh. Ketika itu saya berpikir daerah saya aman karena dataran tinggi, ternyata eh ternyata justru sebaliknya, karena perbukitan daerah saya yang memanjang dari susukan hingga majenang merupakan daerah lipatan, ini berpotensi akan longsor atau bahkan terangkat, terdorong oleh tabrakan megadahsyat itu.

Dari selatan ada tabrakan patahan dua benua, dari utara ada Slamet yang memang sejauh ini masih aman, karena granit dan bebatuan yang menopang magma relatif masih sangat kuat, apalagi di bawah lubang kawah di atas magma Slamet ada rongga yang membuat magma hanya meluap-luap di dalam rongga itu.

Slamet aman, tapi bagaimana dengan pemanasan global, apalagi dengan ditebanginya pohon-pohon di Dr Angka dan Jenderal Soedirman?

Perubahan

Mungkin ini salah satu tulisan terfulgar saya... di L22 sendirian, mendengarkan senandung Padi tempo doeloe, moment saya ngerental di Amanah Computer di selatan Alun-alun Banyumas. Yah, semuanya berubah, betul-betul berubah,

1. Rumah Karyanto besok akan 'nratag' untuk mbarang gawe,
2. Rhea yang saya gadang2 untuk pegang Divisi MD ke depan sampai jatuh sakit berkutat ngurusi cucian dan jemuran di laundrinya
3. Ambar tak pernah muncul lagi di YM, plekinya pun selalu tak aktif
4. Kalau saya ditanya siapa teman paling perhatian pada saya saat ini, dia adalah : Defi
5. Mas Hendro tak pernah muncul di L22, kumpul Fosma juga tak pernah mengajak untuk nongkrong di Bakul Wedang atau kafe-kafe sejenis
6. Alhamdulillah, masalah saya dan Hilmy yang beberapa lalu cukup membuat saya shock beberapa minggu sudah baikkan
7. Kemarin katanya Indie memutuskan Andri? Oh realy...
8. Azis bagi saya tetaplah terlalu mencla-mencle... Kalau dia mengeluh tak bisa seproduktif yang dia pikirkan, itu bukan karena kekurangan peluang apalagi kekurangan modal. Tapi karena sikapnya masih terlalu limbung hanyut oleh sandaran perasaannya
9. Fikry sepi training dan enggak tau bagaimana progress serabinya
10. Sugiantoro sudah tak pernah lagi bermalam di L22
11. Huda masih tetap semangat walau siklus tidurnya amburadul
12. Arini sering membawa laptop dan komputer rusak ke L22
13. Pemancar Wi-fi Access L22 terkena petir, tapi sementara masih bisa connect pakai kabel
14. Hanie mungkin seperti dulu sibuk dengan KKN nya, sekarang sibuk dengan skripsinya, enggak tau sebulan terakhir nggak pernah laporan & sharing, dan nggak menunjukkan hasil apa-apa pula
15. Kalau Kusworo minta bantuan, pasti saya bantu

Seiring dengan semua itu, ketahanan membaca saya meningkat. Begitu pula daya menulis saya. Lebih hebat lagi optimasi perenungan saya. Saya percaya semua ini proses.

Saya pasrahkan semua ini kepada Gusti Sing Nggawe Urip, ini upayaku, ini munajatku.

6/10/09

Dehumanisasi

Ini tentang diri saya sendiri,
yang lebih mementingkan membalas SMS ketimbang membalas tegur sapa dari orang yang mengajak bicara di hadapan kita.
yang lebih mementingkan menatap layar monitor menerawang ke dunia maya ketimbang berinteraksi dengan orang-orang yang membutuhkan interaksi langsung dengan diri kita.
yang lebih suka mengirim berita lewat kecanggihan teknologi, tanpa perlu bahasa verbal, bahasa vokal dan bahasa tubuh.

6/9/09

Diponegoro

"sura dira jayaningrat, lebur
dening pangastuti", salah satu quote putraHamengku Buwono III ini.

6/3/09

Area Bebas PKL

Alun-alun Purwokerto sekarang begitu indahnya. Tapi, dibalik keindahan itu, berapa atap orang miskin yang berkorban, terpaksa menggeser lahan  nafkahnya karena tulisan AREA BEBAS PKL.

PKL (Pedagang kaki lima) dilarang, tapi kenapa pacaran di alun-alun enggak dilarang. Pak Marjoko, yang mana yang sebenarnya merusak keindahan kota?

Neo Liberal

Lucu 1, santer asumsi, Pa Budiono itu pendiam, santun, sederhana jadi mana mungkin dia seorang penganut ekonomi bermadhab neo-liberal. Lalu bagaimana dengan ini, kata seorang ekonom, sejauh mana Anda mengenal kebijakan dan motif yang pernah ada dalam track record beliau selama ini? : 

"Lebih lanjut, Revrison juga menegaskan kalau mazhab pemikiran tidaklah didasari oleh seseorang itu sederhana atau tidak. Tapi dilihat dari kebijakan yang diambilnya."

Lucu 2, bahwa kata orang lagi, janganlah kita meributkan neoliberal atau bukan, katanya bukan cuma faktor itu yang akan bisa mengentaskan kita dari krisis dan kemelaratan, banyak sisi lain yang bisa kita unggulkan walaupun seseorang itu berkebijakan neoliberal. Loh? Kok berkompromi dengan neoliberal. Sudah tidak bisa dibantah kehancuran amerika dan ekonomi dunia adalah karena liberalisme, apa Indonesia mau menyusul?

Lucu 3, demi tidak dianggap neoliberal, maka dibikinlah label ekonomi Pancasila. Apa itu, yaitu raskin, BLT dan kredit rakyat miskin akan tetap dilanjutkan. Saya tanya, apa program itu mengentaskan kemiskinan? Apa membuat rakyat tetap miskin? Apa itu yang disebut ekonomi pro-rakyat?
Lalu bagaimana dengan Alfamart yang berdiri dimana2 menggusur retail milik rakyat. Penjajahan freeport terhadap lingkungan dan sekelilingnya tetap miskin dibiarkan saja. Aliran motor dan mobil baru begitu derasnya sampai angkot tergusur, jalan diperlebar dan kaki lima direlokasi ke tempat yang jauh.

Bulan Leadership


Dengan ini saya mencanangkan :

Bulan Juni 09, sebagai bulan LEADERSHIP
Bulan Juli 09, bulan THE POWER OF NOW
Bulan Agustus 09, bulan TAHSIN QURAN

Ambalat


Indonesia... sangat kaya,

karena itu, jangan bangga dulu kalau baru bisa bercerita tentang mengagumkannya negeri ini dengan puluhan ribu pulaunya.

Juga jangan bangga bisa mengkritik negeri ini dengan puluhan ribu kekurangannya.

Banggalah bisa beraksi. Walau hanya satu aksi.

Tanggap

Janganlah kau jadi robot. Turuti bisikan nuranimu, dia tak pernah berbohong untuk tanggap pada respon-respon orang-orang disekelilingnya. Tapi tak apa, aku sudah maafkan kok...

Dari Mas Ryan


Adil itu ada 3 karakter :
1. Seimbang
2. Proporsional
3. Pada tempatnya

dengan Adil, hidup kita akan Sejahtera (bukan kampanye)

SBY-JK Mengubah saya


Dua tokoh bangsa, yang dalam beberapa sisi amat berbeda, saya belajar dari mereka, negarawan-negarawan yang mulia (lepas dari pertarungan mereka di pilpres ini). Tenang, ini bukan postingan kampanye politik, karena saya Golput inih.

SBY itu reaktif, itu kritisi saya untuk beliau, kadang ada omongan nggak enak dari lawan politiknya, langsung beliau tanggapi, atau beliau membela diri.

Beda dengan JK yang tedeng aling-aling alias nggak punya muka, ketika beliau punya satu putusan, beliau nggak peduli orang berpendapat apa atau berpersepsi apa tentang dirinya.

Kemarin dan dulu saya SBY banget, sampai-sampai saya "kokehen cangkem" kebanyakan membela diri dan menjaga image. Sekarang dan esok saya akan seperti JK, mau dikomentari atau diacuhkan, dipuji atau diremeh-temeh, diikuti atau dikritisi, sepanjang jalan yang saya putuskan, kebijakan yang saya keluarkan saya yakini dan saya sanggupi terima segala konsekuensinya, saya akan tidak pedulikan apapun rekasi orang.

Lihat saja nanti! Dalam diri saya mengalir darah sang pemenang, Putra Sang Fajar, orang besar yang dilahirkan di waktu fajar jam 5 lewat 15 menit, 22 tahun yang lalu.

Denting Piano


Menyenandungkan lagu itu, jadi teringat masa-masa di GMC 25 semasa SMA dulu. Sebuah alasan yang membantah ketidakbahagiaan saya hari ini.

Disamping alasan lain, seorang bapak tua, agak tuna rungu, berjalan bungkuk, berjualan wedang jahe di stasiun Purwokerto saja mengajak bercakap2 saya dengan bahagianya. Saya kurang apa dari bapak tua itu?

Kurang syukur...!!!!!!!!

Merasa


Merasa bahasa Jawanya itu "Dumeh",

Merasa diacuhkan,
merasa tidak dianggap,
merasa tidak dilibatkan,
merasa tidak dibutuhkan,
merasa tidak diakui keberadaannya,
merasa tidak dinilai kebaikan2 yang kemarin-kemarin,

apa untungnya dengan merasa seperti itu. Gara-gara 1 buku di Gramedia, hari ini saya sudah berhasil me-reframe-ing semua rasa yang tidak perlu (walau belum 100%) yang saya rasa kemarin. Semoga bisa saya pertahankan dan tingkatkan.

Stasiun


Untuk seseorang yang rajin sekali baca blog saya, huehe... ^-^

Kalau kau sedang ada masalah, pergilah ke stasiun, biar saja masalahmu hilang disana, dicopet disana...

Kalau kau sedang ada masalah, pergilah ke stasiun, menjemput pertolongan-NYA, eh siapa tau pertolongan datang kepada kita naik kereta api...

Kan alat transportasi tercepat ke Purwokerto baru kereta api, huehe. Jangan telan 100% mentah2 kata2 saya di ataslah.

Woi, cuma pengen crita, sejak beberapa bulan yang lalu stasiun menjadi tempat yang indah buat saya, pertamanya tau dari Fikry... coba eh dicoba, beneran, stasiun tu indah. Apalagi stasiun Gubeng Surabaya, ada musiknya men... musik khas stasiun yang nggak ada duanya, Gubeng only.

Kemarin Ashar di Baitul Arqom (masjid perumahan), trus meluncur deh ke stasiun Purwokerto, bayar peron 1.500 ngabuburit until maghrib di masjid Agung. Subhanallah, saya melintasi pintu masuk dengan perasaan yang kacau nan kusam, tapi bagaimana perasaan saya ketika melintasi pintu keluar beberapa jam kemudian setelah saya masuk? jauh jauh jauh lebih baik.

DIA kabulkan permintaan di siang saya sore itu. dan ketika tulisan ini diposting, DIA sudah kabulkan doa saya di stasiun dan di waktu maghrib hari ini. Subhanallah ya...

Karena itu kawan, jangan salah datang kalau kau ada masalah. datanglah ke Sebaik Baik Tempat Mengadu.

6/1/09

Chating Semalam

Yang saya tahu Oemar Sahid Cokroaminoto tak punya Facebook, tapi siapa yang membantah kalau beliau tak ber YM? Heuh...

Semalam. Pak De Cok memberi satu pelajaran berharga buat saya, singkat kata-katanya, tapi dalam maknanya. Kita tahu semua kalau RI 1 pertama negeri ini adalah didikan dari beliau salah satunya, apa yang Pak De Cok sampaikan semalam?

"Saya hanya mengajarkan apa yang ada pada diri saya, bukan apa yang saya ketahui...". terus Sign Out deh...

Tanggal Bersejarah




Prestasi terbaik (Visi 35 Tahun [2022])


Prestasi terbaik saya adalah menjadi orang nomor 1 di Indonesia di bidang saya, diantaranya menjadi pendiri, pemilik dan pemimpin perusahaan multinasional dengan 50 anak perusahaan yang dan ribuan cabang di seluruh Indonesia yang dikelola secara kekeluargaan dan gotong-royong dengan nilai profit berdigit triliun rupiah setiap tahunnya.

Kesuksesan itu saya gunakan untuk mengangkat harkat ekonomi dan pola berpikir 1 juta orang miskin di sekeliling saya, juga menginspirasi 100.000 generasi muda dengan training cinta tanah air dan memberangkatkan kakek-nenek, bapak-ibu, bude, mertua, saya sendiri, istri, dan 100 orang lainnya, ada yang dari biaya sendiri, ada yang di dapat dari donasi mitra bisnis, untuk berangkat ke tanah suci untuk berhaji.

Prestasi itu sudah, sedang dan terus akan saya upayakan dengan gigih dan berani untuk terwujud. Yang sudah dilakukan diantaranya adalah membentuk komunitas motivasi, membentuk lembaga SDM, membentuk unit bisnis bersama, menerbitkan media motivasi gratis, mengadakan banyak pelatihan-pelatihan pengembangan diri, terus menggali informasi dan wawasan tentang cinta tanah air, belajar tentang permodalan rakyat micro-finance.

Yang sedang dan akan saya laksanakan adalah mengembangkan kemampuan leadership saya hingga melejit dahsyat, juga kemampuan saya menuangkan konsep kegiatan, program dan entitas dari di atas kertas menjadi bernilai nyata. Terus saling mendukung dalam komunitas, dan tidak pernah berpikir dua kali untuk istiqomah bersedekah. Juga terus menambah khasanah ilmu dari internet, buku dan guru-guru baru, guru-guru terbaik kehidupan.

Sedangkan prestasi terbaik saya secara spiritual yaitu menjadi seorang negarawan yang wisdom, mengabdikan diri dan harta yang saya miliki secara sistemik, sehingga mampu dirasakan manfaatnya menyeluruh.

Ikut berperan serta menebarkan keadilan dan kesejahteraan untuk Indonesia tercinta. Diantaranya dengan menulis 10 buku yang kesemuanya best seller.

Dan secara pribadi terus memampukan diri menjadi seorang muslim yang kuat. Menjadi imam sholat yang dicintai dimanapun dan kapanpun, mampu memberikan khutbah jumat yang menggelorakan semangat, serta hafal Al Quran 30 jus.

Kesemuanya adalah prestasi terbaik saya hingga usia 35 tahun (yaitu tahun 2022).

Harga seorang saya : tak ternilai.

(selengkapnya mengenai PROPOSAL HIDUP RIZKY ada di bagian bawah halaman blog ini)

5/31/09

Belajarlah atau Menua


Setiap orang pasti bertambah tua, tapi tidak setiap orang bertambah dewasa. Hanya orang-orang yang belajarlah yang menjadi dewasa.

BE A LEARNER FROM MISTAKES

Kalau kita begitu ikhlas dielu2kan dengan bangga dan kekaguman yang sedemikian rupa. Kenapa pula kita harus risau ketika pada suatu saat diacuhkan dengan sedemikian hina?

5/30/09

Train-Holic


hari-hari belakangan ini adalah hari-hari yang tidak ringan untuk saya lalui. Tapi saya yakin, bukan karena masalah yang berat, tapi karena saya saja yang tidak terbiasa menghadapi masalah, kecerdasan ketahan-malangan saya belum terlatih optimum.

Tapi memang terasa berat, sampai-sampai, naik kereta express cap ekonomi 10 jam lamanya saya enjoy-enjoy saja, padahal Andri-Indie kepanasan, dan sejuta rasa tak nyaman lainnya. Saking enjoynya saya ingin balik naik kereta itu lagi.

Di kereta ekonomi, banyak pemandangan yang bisa membuat kita bisa bersyukur dalam. Ternyata, banyak yang tak seberuntung kita...

Perbedaan


Apakah semakin berilmu seseorang, semakin sukses seseorang, masalah akan semakin hilang. Yang sedang saya coba buat perbedaan dalam diri saya, kalau dulu saya memandang bila masalah datang artinya saya jelek, saya kena hukuman, tanda saya pecundang.

Tapi sekarang, mencoba me-reframing, bahwa ketika masalah datang, artinya ujian kualitas diri saya naik satu tingkat, praktikum hidup yang boleh saya ambilpun bertambah.

Tak ada masalah bukan berarti diri kita mulia, ada masalah tidak selalu berarti diri kita hina. JTak ada satu orang suksespun yang dalam perjalanan masa lalunya tak menjumpai masalah.

Yakin saja, kalau ada episode turun, pasti ada episode naik. Yakin saja, kalau ada episode naik, pasti ada episode naik yang jauh lebih tinggi diluar yang kita bayangkan.

Capres = Mie Instan?


Ternyata promosi jadi pemimpin bangsa berpenduduk 220juta lebih sama dengan jualan mie instan. Dari dulu jamannya gencar iklan sekolah gratis, satu dari sekian hal yang tidak saya suka dari incumbent adalah soal iklan beliau.

Sebagus apapun pencapaian, akan jadi jelek dengan iklan-iklan 'norak' nan 'wagu'-nya. Kalau saya ketemu beliau ingin saya ngomong "Pak, biaya tayang iklan panjenengan sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan ganti rugi korban Lapindo yang panjenengan janjikan akan panjenengan kawal sejak 3 tahun yang lalu".

kita perlu merubah, bukan melanjutkan.

5/27/09

Menjadi Pegawai Hidup Berpensiun, Menjadi Entrepreneur Hidup Bergaransi


Beberapa waktu yang lalu saya memposting jawaban Ustadz Yusuf Mansyur atas pertanyaan dalam hati "kok masih gini-gini aja?"... Apa jawaban beliau, seimbangkan ikhtiar, kalau dari kemarin ngebut ikhtiar dunia, maka ikhtiar ibadahnya sekarang yang dikebut.

Memang betul, sholat dan sedekah terkait erat dengan rejeki kita. Kita-kita saja yang nggak bisa menghubungkannya.

Lalu, kemarin di Brawijaya ketemu lagi sama Om Bob, dapat jawaban lagi dari beliau. Ketika itu Rhea bertanya "Om, saya mau jadi entrepreneur dn sesuai saran Om Bob saya sudah keluar kuliah, terus gimana Om?", apa jawaban Bob Sadino pemilik The Mansion Apartemen? "Bagus, teruskan usaha, terus berproses, 40 tahun lagi Anda akan kaya raya seperti saya atau melebihi saya..."

40 tahun, ya ya ya, tiang pancang kesuksesan saya memang masih terlalu dangkal, kok berani-beraninya mengatakan "kok masih gini-gini aja...", sepersepuluhnya saja belum.

Bisa jadi benar saya ini serakah, rakus, kemaruk, maunya enak dan cepat. Padahal sesuatu yang terlalu cepat juga tidak enak, misalnya Artis Instan, Mie Instan dan hal-hal instan lainnya.

Kata Socrates, manusia adalah hewan yang berpikir. "saya berpikir maka saya ada", saya hanya berpikir lho, nggak benar-benar bertanya, toh dari pikiran saya itu dua orang menjawab pertanyaan saya. Hebat euy. So, kesimpulan atas pertanyaan "kok maish gini-gini aja?", ya simpulkan sendiri...

Bandingan saya bukan yang tiga tahun ndaftar STAN (sekolah terfavorit di Indonesia, coba ikatan dinasnya dicabut, apa masih pada mau ndaftar?) lalau penempatan di nun jauh disana dan waktu kita diborgol habis oleh kode bernama NIP. Atau 5 bulan yang mengubah penghasilan, bernama SPN (Sekolah Polisi Negara).

Bandingan saya adalah Pa Jamil, berapa lama beliau merintis sukses, Mas Andri, Muhammad Yunus juga yang selifting lainnya.

Mencoba lebih wisdom, mengubah parameter (alat ukur), yang tadinya ukuran sukses adalah waktu 'saya ingin besok sukses', 'saya ingin taun depan ini dan anu', diubah menjadi parameternya adalah kelapangan hati. Karena nyatanya semakin banyak tantangan bukan berrti orang semakin menderita. Sebut saja Nabi Muhammad SAW yang tantangannya demikian keras, cadas, dibanding kita. Tapi nyatanya tingkat kebahagiaan d\beliau jauh membubung di atas kita yang tiap hari di manja angin sepoi-sepoi Nusantara.

Kalau pegawai memang punya jaminan hari tua, tapi Entrepreneur sejati jaminannya lebih keren lagi. Jalani saja siklus 40 tahun, kita bermimpi, kita gigih bertindak, giat belajar dan tekun memperbaiki diri. Tutup kuping dari cibiran dan persepsi orang, juga dari masukan-masukan yang tidak membangun. Tutup juga muka dari rasa malu dan keinginan mempertahankan harga diri yang berlebihan. Maju saja, total saja, sungguh-sungguh saja.

Bisa 40 tahun atau bisa lebih cepat, derajat kesejahteraan yang kita impikan hari ini akan terlampaui. Yang saya percaya, kita saat itu belum tentu lebih bahagia dari kita di hari ini. Nggak ada jaminan atas itu, karena itu jangan letakkan kebahagiaan di ujung mimpi kita. Letakkan di setiap hari kita lebih baik.

Kalau hari ini kita bingung mau ngapain, bahagialah sembari memvisualisasikan peta perjalanan hidup kita, ..oh siklusnya sedang datar. Kalau hari ini sedang defisit, sedang dicibir orang... bahagialah episode kehidupan kita sedang berjalan, ..oh sedang di kurva S melembah, kalau tiba-tiba dapat keberutungan, jangan sekali-kali katakan itu Hoki, itu tabungan amal baik yang sedang dicairkan tepat pada waktunya... oh, siklus sedang menanjak... Itu teorinya.

Ya, kalau mau sukses prakteknya maka banyak2lah latihan.

Lalu garansi apa yang kita miliki, garansi bahwa kalau umur kita sampai pada 40 tahun kedepan, maka kesejahteraan yang kita impikan akan tercapai bahkan terlapaui. Nah, kalau umur kita tidak sampai 40 ahun lagi, kita nggak jadi sukses donk? Siapa bilang, yang benar adalah dimanapun ujungnya tetaplah sukses namanya. Karena kita sudah bersungguh-sungguh, dan kesungguhan itu akan dipindahbukukan dalam rekening amal jariyah yang akan kita nikmati entah kita masih di dunia ini atau di dunia selanjutnya.

Itulah garansi seorang entrepreneur. karen aitulah ukurannya bukan seberapa sukses, tapi seberapa sungguh-sungguh. Soal sungguh-sungguh, kapan-kapan saya posting lagi lebih detail.

Transfer Kepercayaan


Dulu yang saya transfer pertama adalah pemikiran... ya, adan akhirnya berkumpullah orang-orang yang se-pemikiran. Sekalipun dikatain sesat oleh kampus, dikatain apes oleh orang lain, dikatain keblinger bahkan. Apa benar semua katain-katain itu, dari sejumlah referensi dan refleksi, mindstream kita masih unggulan tinggal actionstreamnya aja terus dibenahi. Sukses...

Bergeser bulan, yang saya transfer adalah tugas, ini disuruh kesitu, ini disuruh kesini, ini jadi itu, itu jadi anu. Sukses...

Saya sadar tak semua suka didikte, walau didikte itu enak--karena kita jadi tak perlu lihat papan tulis, emang anak SD?--maka yang saya transfer berikutnya adalah tanggung jawab. Bertanggung jawab atas inovasi, bertanggung jawab atas kesinambungan SDM, bertanggungjawab atas peningkatan kemandirian, bertanggungjawab atas stabilitas kasa, bertanggungjawab atas kredibilitas nama dan seterusnya. Sukses...

Sekarang, mulai 16 Mei kemarin saya mencoba transfer kepercayaan. Sejak 10 hari sebelumnya, 6 Mei ibarat anggota DPR, mengambil masa reses, untuk mencari inspirasi banyak2. Sukses...

Semoga sampai tuntas periode transfer kepercayaan ini semua berjalan sukses pula, stabilitas kas terjaga, peningkatan entrepreneurialpun signifikan.

[Foto : Empire Palace, Surabaya]

Tiga, Satu sudah Dua belum


PANTAI
Karangbolong (sudah), Anyer & Senggigi (belum)

KOTA
Malang (sudah), Mataram & Mekah (belum)

PERJALANAN HIDUP
Khitanan (sudah), Menikah & Mati (belum)


[Foto : pantai Karang Bolong, Kebumen]

Hidup Ini Indah



matahari menyinari seisi bumi
seperti Engkau
menyinari perih dalam jasadku ini
selamanya seperti hujan
Kau basahi jiwa yang kering

hidup ini indah bila aku selalu
ada di sisiMu setiap waktu
hingga aku hembuskan nafas yang terakhir
dan kita pun bertemu

Kau bagai udara yang ku hirup
di setiap masa Engkaulah darah
yang mengalir dalam nadiku

maafkanlah selalu salahku
karena Kau memang pemaaf
dan aku hanya manusia

hanya Kau dan aku
dalam awal dan akhir


Malang-Blitar-Madiun-Jakarta


Atau disingkat MATARMAJA, kemarin ketemu keretanya di stasiun Malang. Kereta simbol persahabatan. Bikin simbol sendiri, huehe

[Foto : Gerbong KA Matarmaja]

Jaman Heboh Khitan


Entah anak SD sekarang, jaman kelas 4 SD dulu sekitar tahun 1995 akhir anak-anak seumuran saya dan saya sendiri heboh membicarakan soal khitan, satu kejadian sadis bermodus operasi lokal yang akan menimpa semua anak laki-laki yang mengaku dirinya benar-benar jantan.

Perbincangan seputar hayoo siapa yang sudah, siapa yang belum. Terus yang sudah menakut2i yang belum (dan yang belum penasaran pada yang sudah, bagaimana si hasil kreativitas sang mantri [atw sang dokter untuk yang sedikit modern).

Ada yang takut, ada yang penasaran, ada yang menantang, rupa neka reaksi mereka. Saya termasuk yang takut, hingga akhirnya saya bukan termasuk generasi 'awalun' untuk soal khitan. Waktu itu tahun 2000 baru saya menjumpai oprasi nan sadis ini, kelas 1 SMP cawu (waktu itu masih caturwulan) ketiga, persis seminggu sebelum Giri, salah satu sahabat baik saya (Anehnya kok lamaan saya sembuhnya).

Yah begitulah, sebelum waktu itu tiba, sering minder kalau teman2 yang sudah pada ngobrolin teman ini. Kok saya belum ya? ah tapi pikir saya, yang belum juga masih banyak kok. Ya, seolah2 yang nggak dikhitan2 adalah pengecut yang takut saya jarum suntik dan seperangkat alat mengerikan lainnya.

Namun berganti satu dekade kemudian, mulai tahun 2005 akhir saya mengenal vocab bernama "menikah". Ya, waktu itu yang ada dipikiran saya adalah pada saatnya nanti 'saya akan menikah', lalu seiring dengan perjalanan waktu berganti menjadi 'saya harus menikah', lalu berganti lagi semakin ekstrim menjadi, 'pokoknya saya harus menikah', lalu kesempatan demi kesempatan datang menjadi 'ayo menikah', lalu ke kerabat dan keluarga 'saya ingin menikah', lalu bermunajat pada Tuhan 'mampukan saya menikah', lalu sekarang 'kapan saya bisa menikah?'... ehm... belum belum belum, sebelum itu 'dengan siapa saya menikah?"

sejak 2005 lalu sudah banyak yang mengambil lajur kanan untuk mendahului, Ikhwan dengan Inung, Ms Azis dengan orang Bobosan, lalu sebelumnya ada Wesley, lalu salah satu sepupu dekat saya, sebentar lagi juga satu lagi sepupu dekat saya, lalu Karyanto, dan seterusnya dan seterusnya.

Sempat terlintas cemas, kapan selanjutnya saya? eh bukan bukan bukan, sebelum kapan adalah dengan siapa nanti saya? hikz, tak semenyedihkan itulah kondisi saya, ini terlalu mendramatisir saja.

Lalu kenapa dihubung2kan atuh antara khitan dan nikah, setidaknya ada sua alasan :

pertama : karena dua aktivitas itu melibatkan organ yang sama, huehe.piss... maaf maaf maaf, maksudnya kalau kata ucup kelik, ucapan untuk orang menikah adalah 'selamat menempuh hidup baru', sedangkan ucapan untuk orang yang baru khitan adalah 'selamat menempuh bentuk baru', huehe...

kedua : karena sama-sama menjadi topik terseru pada masanya. masa SD ya topiknya itu, masa wisuda ya topik terserunya berburu rejeki, posisi dan gaji, masa begini, ya topiknya nikah nikah dan nikah. Dan pada masanya nanti topiknya adalah meninggal, wafat dan mati. Sudah jadi siklus hiduplah. Renungkan sendiri maknanya.

Satu hal, saya belum punya hari baik (jangankan hari baik, calon saja belum), yang saya punya baru optimisme bahwa kalau cerita diatas dari taun 1995 baru terwuud 2000, maka kalau ini saya dengung2kan sejak 2005, maka 2010 nanti akan terwujud. Doakan ya teman...

Optimisme yang membuahkan obat bius, yang membuat tak sadar lelahnya mengubah 'keinginan' menjadi 'komitmen'. Sedang transisi antara keduanya, belum 1005 komitmen,Insyaallah sebentar lagi...

Stasiun Gubeng


Computa sudah calling, dan power point 'untuk Indonesia' siap dilanjutkan lagi. Saya yakin slide-slide itu akan selesai, akan berharga mahal, bahkan akan menjadi lembaran buku yang dicetak ulang puluhan kali. Saya lihat itu nyata 5 cm di depan kening saya.

Akan terwujud seperti terwujudnya kali kedua menginjakkan kaki di Gubeng kemarin, stasiun cantik yang ada musiknya. Pernah, masalah yang saya bawa hilang disitu, dicopet... haha bahagia.

Sedang Bangkrut


Indonesia itu sedang bangkrut,

makanya utang menumpul IRD 1.600 triliun lebih, tapi kok hasil pembangunan sampai saat ini tidak mencerminkan angka sebesar itu

makanya bahkan memanfaatkan jasa kursi ruang tungu terminal yang 'buluk' saja musti bayar pajak

kok ya masih pada berbondong-bondong meningkatkan kesejahteraan dengan memburu NIP (Nomor Induk Pegawai)

kok ya mereka yang pada maju jadi capres bergembor2 untuk memenangkan, memandang ini adalah ajang kompetisi, entahlah...

5/23/09

Gramedia


Tempat hilangkan stress ya di sini...

2. Di Gramedia terdekat dan semua Gramedia
3. Di stasiun dan semua kereta ekonomi jarak dekat maupun jauh
Lho, di masjid enggak..??? (sudah pasti No. 1 lah..)

5/20/09

3 Kejadian 1 Pelajaran


Justru banyak pelajaran berarti saya dapatkan ketika untuk kali pertama dalam sepanjang sejarah perjalanan hidup, saya cuti kuliah semester ini. Akhir2 ini, ada tiga kejadian secara nyaris bersamaan yang terlihat kebetulan, tapi saya percaya ini bukan kebetulan. Ini adalah formulasi sempurna praktikum di universitas besar kehidupan.

Guru kehidupan mengajarkan pada saya tentang satu hal yang sangat berarti dari tiga kejadian ini. Pertama : Belakangan saya cukup intens membaca modul, buku dan mendengarkan rekaman maupun live tausiyah Al ustadz Yusuf Mansyur. Tentang Tauhid, tentang tidak boleh mempertuhankan apapun di dunia ini.

Kedua, selama 2 minggu ini harus hidup tanpa sesuatu yang sangat berarti bagi keseharian saya selama ini, sepi, sendiri, tanpa laptop. hikz. Dan kejadian ketiga, soal pernikahan teman-teman, mereka sudah tidak lagi bercuap di bibir, sudah menyentuh ranah dimensi aksi. Dahsyat!!! Sungguh memacu saya untuk lebih sungguh-sungguh berbenah.

Tauhid-laptop dan langkah2 menuju pernikahan. Setelah direnungkan, keterkaitan antara ketiganya mempunyai makna yang begitu mendalam.

5/19/09

Selalu Kembali

Sewaktu kecil, waktu itu TK, saya sangat nakal (ya, sekarang juga masih nakal, nekat pula)... saya ingat dulu, pernah bikin satu kesalahan yang sangat keterlaluan, sampai-sampai bikin malu keluarga, dan butuh waktu lama untuk memperbaiki akibat kesalahan saya.

Tapi begitu, Ibu saya, sekalipun marah-marah, tetap saja saya kembali ke rumah, membuatkan makanan, memasakkan air untuk mandi dan memberikan uang jajan untuk sekolah esok harinya.

Itulah Ibu saya, sebesar apapun salah, tetap saja saya diterima dan ingin agar saya bisa memperbaiki dan menjadi lebih baik. Lalu bagaimana dengan Tuhan saya?

Kalau digambarkan dari sifat ibu saya, maka tak terbayangkanlah bagaimana sifat Tuhan saya terhadap sikap dan kesalahan hamba-hamba-Nya. Jadi, jangan kuatir ya...

Ibu adalah tempat kembali.
Tuhan adalah tenpat kembali "sejati".

Jembatan tiga pilar


Beberapa waktu yang lalu saya bercakap-cakap dengan seseorang yang begitu saya segani, beliau mengungkapkan sesuatu pada saya "Motivasi itu kan Anda tau, senantiasa meluap-luap, tapi bagaimana menerapkan itu dalam keseharian?". Yah, dari situ saya diajak untuk kritis, bahwa hidup tidak hanya disuruh untuk semangat, tetapi juga mengaplikasikan semangat itu dalam tindakan.

Membangun jembatan, jembatan antara pulau besar bernama idealita ke pulau kecil bernama realita. Tanpa itu, "motivasi" akan hanya menjadi sia-sia belaka. Itulah kenapa departemen agama yang alim-alim angka korupnya tertinggi, itulah kenapa seorang penulis motivasi ternyata begitu mudahnya stress menghadapi masalah (yang sebenarnya sederhana), itulah kenapa seorang pelatih pengembangan diri sulit untuk sholat tepat waktu.

Ketelatenan, ketekunan, kegigihan, adalah satu rumpun yang menjadi pilar-pilar jembatan antara idealita dan realita. Ketiga senjata inilah yang dibawa oleh semua orang sukses. Itulah mengapa semua orang sukses pernah melewati masa yang bernama PRIHATIN, tapi semua orang sukses pula berhasil melewatinya.

Terima kasih, Anda sudah mengingatkan saya tempo hari..

5/18/09

Kesamaan Saya

Kesamaan saya dengan JK, suka pakai baju santai, tak mau diatur-atur protokoler, pakai dasi lah, jas lah (walau dirumah ada, baru dan nganggur), lebih enak pakai hem yang dikeluarkan, begitu juga sepatu, bagi saya sandal jepit lebih enak (kecuali buat naik gunung slamet).

Kesamaan saya dengan SBY, sensitif, tiap ada isu, ada tanggapan, ada cemooh, ada penghinaan, ada kritik negatif, selalu saja ingin ditampik membela diri. soal ini dan soal itu. kenapa tak cuek saja?

hufh...

Setelah The Power of Idea, ternyata The Power of Focus


Alpukat di pending dulu, saya gak bisa menjalankan. Hm.. kalau pada ide2 berhasil saya dulu pujian mengalir deras dan saya terima, kenapa pada saat ide2 gagal saya saya harus menggerutu dicemooh dan di-apatis-i? ...iya to???

bau nyadar saya setelah periode the power of idea tinggal berikutnya adalah the power of focus, berulang saya bicara, kalau dihadapan kita ada samudera, ya samudera... samudera peluang, lautan ide, lautan prospek... betul itu! tapi saya bertanya2 sebulan belakangan, kenapa kok gini2 aja? ya, jawaban sementara yang saya dapat dari ustadz YM, ikhtiar saya belum seimbang, baru ikhtiar dunia, ikhtiar akhiratnya masih dikesampingkan... bahasa mas Arifnya, baru sibuk nggunting, jadi nggravitasi terabaikan.

ini praktikum saya, disamping praktikum mata kuliah baru yang musti saya ambil dan harus dapat nilai A, berapa kalipun mengulangnya. Apa itu? tentang fokus... dua hal :

pertama : pilih fokus kemana saya, ke "beban dan rasa bersalah atas masalah" atau ke "hikmah"..??? Kalau dengan ini saya meningkat, apa jeleknya? kalau dengan ini saya frustasi dan bunuh diri di jembatan suramadu, apa bagusnya? Jelas to, kemana saya harus fokus? itulah kenapa harus berpuluh2 kali saya ke Gramedia belakangan.

kedua: pilih fokus kemana? ke yang tidak ideal, atau ke yang ideal? banyakan mana antara keduanya? bahkan saya sekarang punya suhu tubuh normal, tak ada pening, tak ada mules, tak ada diare, bukan cuma punya organ yang hampir 100% sehat, sayapun punya rumah yang utuh, keluarga yang semuanya ceria, tak beda dengan teman2 yang ceria menyambut saya, ada daftar memori indah dan membanggakan, kemana saya fokus.. jelas, bukan?

ya, ternyata cuma masalah fokus saja masalah harus dihadapi. Kenapa harus merenung dan jalan-jalan, karena dengan itu area mindframe kita akan meluas, dan area fokus kita yang dipilih akan semakin tepat.

Tidak kuliah, bukan berarti tidak tambah ilmu.

Jalan Veteran

Veteran adalah orang yang pernah berjasa di masa kemerdekaan dulu, yang sudah pada usia lanjut, yang sebulan sekali mengambil uang pensiun di kantor pos, bergantin dengan pembagian uang BLT.

Veteran kalau naik kereta api, juga keluarganya, mendapat diskon khusus 30%.

Veteran... Mbah saya seorang veteran, yang ketika seumuran saya, berjuang bersama Bung Karno dan Bung Tomo, walau Bung Karno di Jakarta, Bung Tomo di Surabaya dan mbah saya di Rawalo.

Walau sudah diatas 80 tahun, tapi fisik beliau masih prima diantara rekan sejawatnya. Saya jarang kesana, tapi saya ingin berbagi tentang satu hal yang saya kagum dari beliau. Beliau tinggal di rumah yang TVnya baru rusak, tak ada TV, tak pernah mau pakai kacamata pula, kesehariannya cuma ditemani dengan Al Quran, teh, dan majalah Panjebar Semangat.

Sering kalau saya disana melihat, tak ada aktivitas berarti selain duduk, duduk dan duduk, menunggu dhuha, lalu menunggu dhuhur, lalu menunggu ashar, lalu menunggu maghrib, dan seterusnya...

orang yang datang hanya bersalaman, menyapa sedikit lalu melewatinya. begitu seterusnya. saya kasihan awalnya, "kok mbah dicueki ya?", begitu pikir saya. "Apa nggak bosen ya tiap hari duduk terus, nggak ada jalan-jalan, nggak ada yang ngajak ngobrol?" begitu pikir saya lagi..

Tapi kadang saya mengajaknya bicara, DAHSYAT reaksinya... Mbah tak menunjukkan wajah sedih, kesepian atau sakit hati karena dicueki seperti praduga saya. Walau sendiri, sepertinya beliau sangat menikmati, diajak ngobrolpun happy, bahkan untuk usia setua itu, beliau masih bisa bercanda tawa.

Apakah gerangan penyebabnya? Saya cuma bisa menebak-nebak, pasti zona sabar mbah sudah sedemikian luas, zona syukurnya juga. Makanya tak ada mengeluh, tak ada kesal, walau dicueki, walau hanya duduk. duduk dan duduk.

Saya ingin seperti mbah, mbah yang seorang veteran, seorang yang sangat WISDOM. Saya akan lebih banyak membaca.

rizky.blogspot.com

iseng-iseng saya buka "rizky.blogspot.com", nama yang saya incar tapi nggak boleh dipakai oleh paklik blogger.com... hm, akhirnya ya saya pakainya "rizky165.blogspot.com"... tak masalah,

eh, tapi agak kecewa juga, nama blog yang begitu cantik, ketika saya klik, eh, cuma isi 1 postingan, yang selama 3 tahun nggak di update... hufh, capek deh...

sayang di sayang, sayang sekali ya, padahal kan bagus alamat itu.

Yaah, begitulah diri kita selama ini bukan?eh bukan kita, saya maksudnya. Betapa banyak orang miskin yang iri pada kita, tapi uang kita cuma dibelanjakan buat beli pizza & spageti. Betapa banyak orang yang buntung yang iri pada kita, tapi kaki kita cuma buat ungkang-ungkang kaki. Betapa banyak orang yang bisu yang iri pada kita, sementara suara kita cuma buat ngerumpi...

Semoga ada banyak khasanah ilmu yang bisa saya jajaki, terima kasih akh zaky pesannya. Saya ingin hari2 saya semakin efektif.