2/28/12
Arti Kata BPPT : Seminggu Lagi
Iki yo opo rek. Logikaku agak nge-hang mengikuti cara berpikir BPPT dan kementerian perhubungan kita. Kok kementerian perhubungan yang menentukan? bukannya kalau sudah ada data, ya sudah itu berarti dasar ditentukannya lolos tidaknya uji emisi? KECUALI, ada variabel lain diluar data riset yang berpengaruh terhadap penentuan kelolosan, misalnya, besarnya SOGOKAN yang harus Kemenhub terima.
BPPT, ragu benar aku dengan lembaga ini. Beberapa bulan lalu aku ikut technopreneur yang diselenggarakan pemda dengan BPPT, disitu ada sesi jadwal presentasi untuk menentukan 10 terbaik dan mendapat hibah inkubasi 100.000.000an. Apa yang terjadi? presentasi kacau, proposal enggak dibaca, pengumuman yang dijadwal harusnya hari itu juga terus ditunda, katanya : seminggu lagi.
Apa seminggu lagi hasil pengumuman kelolosan 10 besar itu keluar? TIDAK. keluarnya sebulan kemudian, eh lebih dari sebulan malah. Dan itu, bukannya diumumkan pakai surat resmi, tapi harus melihat ke kantor satu persatu masing-masing peserta.
Coba ya, seminggu dari sekarang, seperti apa integritas & kredibilitas BPPT kita apakah akan ontime. Atau ngecap doank, makan gaji buta doank selama ini.
2/23/12
Kasihan Kepada Anti Turangga-Seta
Diantara banyak argumentasi, mulai dari kota Teheran berasal dari kata Heran & Swiss berarti Sudah, sampai tentang jembatan Rama antara Srilanka & India yang dikemukakan oleh para kritikus itu, saya cuma agree di satu argumen saja, yakni tentang Chanelling.
Betul, bahwa bisa jadi pola interaksi Mas Bimo dari Turangga Seta setelah laku tirakat demikian panjang sehingga bisa berkomunikasi dengan mahkluk non-manusia perlu di crosschek apakah itu memang betul komunikasi dua subject atau hanya ilusi dari dalam dirinya yang berasal dari obsesi yang teramat kuat akan satu hal yang begitu ia yakini : kebesaran Nusantara masa silam.
Namun, tim Turangga Seta sudah melakukan upaya, yakni tidak serta merta patuh pada pesan mistis, tetapi melanjutkannya dengan metode penelitian ilmiah. Pesan mistis itu hanya untuk titik berangkat saja.
Saya jadi teringat, ketika ketulusan Bunda Asminah, asisten Fahmi Basya harus mengklarifikasi trit yang menghujat kekeliruan ayat yang dikutip di makalah Fahmi Basya dan dibesar-besarkan. Padahal tidak semestinya dibesar-besarkan, karena itu hanya salah ketik angka ayat, yang kalau diklarifikasi ke sumbernya saja bisa segera direvisi dan bukannya jadi bahan maki-makian.
Kritikus2 itu sebagian besar (tidak semua) hanyalah orang-orang yang sinis, yang iri pada kemajuan orang lain. Saya kasihan pada mereka, ketika Fahmi Basya, Turangga Seta, mendapat kemuliaan karena mereka telah berijtihad. Eh mereka-mereka cuma kopong riuh dengan kecuprusan belaka.
Mbok iyao, kalau mau sinis & mengkritisi, ini saja :
1. Kurikulum Sejarah kita
2. Hasil riset arkeolog bentukan dinas-dinas yang malas bekerja dan hasilnya janggal-janggal
3. NGO yang kerjaannya cari donor
Yang sudah benar-benar dan jelas-jelas menyimpang tidak mereka gubris, karena mereka sudah tunduk pada stigma kebenaran massal. Tapi yang aneh-aneh seperti Turangga Seta, yang bilang Kanjeng Ratu Kidul itu adalah moksa nya Ratu Angin-Angin, Yang bilang di relief Borobudur ada Ufo, baru aja dimaki-maki...
Mas, mba, yang menetukan sebuah ilmu itu ilmiah atau enggak ilmiah itu siapa? Ilmuwan modernkan? Ilmuwan modern memang bisa apa? Menghitung Umur Rama Bridge saja tidak bisa.
Jangan batasi ilmumu sebatas stigma yang diberikan oleh ilmuwan modern bro & sista... Ilmu pemilik jagad ini kalau ditulis dengan tinta dari air samudera dikalikan 7, dengan pena dari 7 kali lipat jumlah pohon yang ada di hutan di seluruh muka bumi, itu belum cukup. Lah ilmu yang dimiliki ilmuwan modern seberapanya? Kok yakin sekali dengan stigma mereka. Kok langsung resah kalau ada hasil ijtihad baru yang nyeleneh, bertentangan dengan stigma mereka?
Unlock yourmind ah!
Kepada tim Turangga Seta, Fahmi Basya, dan semua orang yang ikhlas mensetiai sebuah proses ijtihad. Selamat bermujahadah, kalau dalam proses ijtihad kalian ada salah, ada keliru, mahfum, karena kita semua manusia biasa. Ijtihad itu kalau benar dapat dua kebaikan, kalau salah masih punya satu kebaikan. Itulah betapa mulianya ijtihad.
Tidak usah digubris itu para pencaci maki, tapi tetap jadikan kritik yang konstruktif masukan, bagian dari proses berijtihad.
Tahun 2045, kedangkalan penafsiran relief borobudur & piramid yang tersembunyi akan terkuak, dan mereka hanya akan malu dengan diri mereka sendiri, seraya berkata : tau gini mending gue dulu mengkritisi dinas pendidikan saja yang sudah jelas2 mau ancur, karena sikapnya yang ancur, arkeolog bayaran dinas-dinas juga yang cuma bekerja demi uang & NGO NGO yang cuma cari uang buat perutnya sendiri.
2/21/12
Bae
Bae, relevan kalau di Kudus. Tapi, tidak relevan kalau di urusan jodoh. "Udah sama si xxx bae", "udah sama si yyy bae", "udah sama si zzz bae". Kalau suggestion semacam itu ditelan secara letterlux, itu seolah-olah ajakan untuk putus asa sesegera mungkin yah. Tapi tidak, ungkapan semacam itu dibaliknya adalah bentuk perhatian, support alias dukungan, jadi, jangan disalahfahamilah.
Tapi memang kalau dipikir-pikir yo agak menyebalkan juga si, karena ungkapan di atas itu ekuivalen dengan ungkapan ketika kita pergi ke toko buah, cari buah, tapi yang kita cari enggak ada "udah beli buah ini bae yang ada", hedew..... atau ketika kita kesorean ke terminal dan angkutan yang enak sudah habis, "udah naik ini bae".
Tidaklah, tidak perlu bae, karena jodoh adalah urusan yang sangat serius, tidak boleh kita memilih, menjatuhkan keputusan, karena perasaan keputusasaan yang sebetulnya tidak perlu itu ada perasaan semacam itu karena itu adalah perasaan yang muncul karena stigma & tekanan lingkungan.
Karena bahkan ketika CakNun tinggal pilih mau A apa Z, dari Ria Enes sampai Mba Neno, saat belum ditakdirkan Tuhan bertemu jodohnya juga dia cuma bilang "untuk urusan yang satu itu, saya gelap".
Yah, masih terus belajar...
Yihaa... Eksekutif cuma 50ribu
Sampai akhirnya hari ini dapat deh, tiket eksekutif cuma 50.000 utnuk kereta jarak tanggung & 100.000 untuk kereta jarak jauh. PT KAI membuka tiket promo yang hanya beberapa seat setiap perjalanan HANYA selama Maret 2012 saja.
Ngendong Online
Tapi sebenarnya bukan itu penyebabnya. Orang modern macam kita jarang ngendong bukan karena kita berperhitungan ekonomis begitu sebegitunya kali. Tapi karena aktivitas ngendong terlalu didominasi oleh ngendong di dunia maya, ngendong online.
Nggak percaya? coba si, seberapa sering kita klak klik web ini itu, untuk tujuan yang sekedar main kesana, main kesini saja. Berita baiknya adalah kita nggak berperhitungan ekonomis begitu sebegitunya, tapi kabar buruknya adalah kita mengalami kepincangan sosial karena syaraf2 yang berperan dalam komunikasi & interkasi offline kita jarang digunakan dan berpotensi mati.
Walhasil, ketika kita ngendong offline, bingung memilih topik, kikuk dalam mengobrol, gagap dalam berpamitan, enggak kepikir membawa buah tangan, gamang dan aneh...
Lebih parah lagi, kita dicap sombong, karena jarang ngendong, dikirinya sukses benar bisnis kita, sibuk ngurusi bisnis melulu. Padahal, karena ngendongnya di dunia online teruuus....
Salah kita sendiri.
2/20/12
Kesetiaan
Kesetiaan kepada kepatuhan adalah pasyarat mutlak untuk menjadi pribadi pemimpin yang berhasil. Ada yang menafsirkan dalil di atas yang entah siapa yang mengucapkan dan diriwayatkan oleh siapa tidak jelas itu begini : Makanya, kalau mau jadi bisnismen sukses, kerja dulu, biar tahu bagaimana nanti mengelola pekerja.
Sah-sah saja mah pendapat seperti itu. Walau aku tidak menyepakatinya. Kenapa? Memang betul, saat kerja kita bisa mengintip budaya kerja, budaya pekerja terhadap bosnya, budaya pimpinan terhadap bawahannya. Tapi seringkali, ilmu magang manajemen perusahaan itu terlalu kecil, tidak setimpal dengan setoran "terbonsainya nyali", "tergemboknya free will", "mengkerdilnya ambisi" dan ter-lock nya mind hingga tidak lagi bisa se-open dulu.
Istilahnya orang Jawa : "Mburu uceng kelengan deleg".
Namun demikian, aku juga tidak membenarkan bila aku dan teman-temanku kalau sudah tidak kerja, tidak juga belajar setia, setia kepada kepatuhan. Kebebasan itu bisa membelenggu loh. Kalau kita hanya "unlock your mind!", kemudian "just follow your pasionaet", terus apalagi ya, ini "kerjamu adalah istirahatmu", kalau kebablasan memegang kata2 itu dan semacamnya melewati koridor produktivitas, bisa-bisa mental kita yang porak-poranda. Mental yang porak-poranda itu adalah mental kesetiaan pada kepatuhan.
Kita jadi susah patuh, patuh pada jadwal yang kita susun sendiri. Patuh pada target kepuasan pelanggan. Bahkan sampai tidak patuh pada impian yang kita gantung sendiri. Berabeh to jadinya kalau itu terjadi...
Sekali lagi, lepas dari mau kerja dulu atau enggak kerja dulu, kalau kita tidak pernah belajar untuk memaksakan diri dan kemudian menikmati kesetiaan kepada kepatuhan, maka kita tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik, apalagi pemimpin yang extraordinary.
Camkan itu!!! *nunjuk awakku dhewe
2/19/12
Berangkat dari Pasar
Orang modern orang dangkal, persoalan tekstual aja sampai berujung pecah saudara. Begitu juga dalam menerjamahkan ini, begitu dangkal, tidak berani liar. Jadi membayangkan saat itu bahwa katakanlah Madinah itu Purwokerto, dan dia baru datang ke Purwokerto, maka yang dia tanyakan adalah "Pasarwage mana ya?"
Padahal esensialnya bukan itu, kalau cuma tanya pasarwage mana, bisa jadi kita cuma plonga plongo disana kalau belum tahu blas pasarwage itu seperti apa, kultur sosialnya bagaimana, yang digunakan bahasa apa, kalau begini sopan apa enggak kalau begitu baik apa enggak, dan seterusnya.
Karena sebetulnya, pertanyaan Abdurrahman Bin Auf itu lebih bisa dimaknai substansial bertanya pasar itu begini "Eh, sekarang ada peluang apa nih?"
Nah inilah, peluang yang dimaksud adalah pasar. Di masyarakat sedang ada market needs apa? itu yang membuat usaha bisa sukses dengan relatif cepat dan modal relatif ringan.
Karena tidak pernah belajar tentang Abdurrahman Bin Auf, karena kita belajar Sirah Nabawiyah linear saja sama seperti menghafalkan buku PSPB, maka pantas saja sekarang ini begitu banyak pengusaha pemula (termasuk aku) yang memillih usaha bukan "berangkat dari pasar", tapi "berangkat dari mood", atau "berangkat dari stigma", atau "atau berangkat dari modal".
Apa contohnya? Contohnya mood sedang senang usaha x, sudah aja beli ini beli itu buat modal, lalu begitu dijual, ternyata pasarnya sedikit, udah gitu tidak ada mental fight, udah gitu setelah sebulan mood-nya hilang. Bubarlah usaha.
Begitu juga dengan ramainya Kebab Turki. Akhirnya peniru-penirunyapun berdatangan, ada Kebab King, Kebab Israel, Kebab Ethiopia dan seterusnya. Pertanyaanku adalah, itu mereka pada latah bikin kebab, karena memang marketnya besar, atau karena silau dengan stigma kesuksesan Kebab Turki sang pendahulu?
Begitu juga ada seorang kawan yang buka warnet, hanya karena ada yang memodali. Sebentar, sebentar... pasarnya sudah diperiksa belum? Modal besar, pasar kecil, sanggup fight tidak?
Karena itu, untuk saudara-saudara yang sedang bingung memilih bisnis, menirulah Abdurrahman Bin Auf agar bisa jadi billionair. Berangkatlah dari kejelasan pasar. Bukan dari mood, bukan karena modal, bukan oleh stigma, bukan lain-lainnya...
MekaNira Nusantara, Inspirasi dari Dahlan Iskan
Pertanian adalah sektor primer. Krisis pangan dihadapan mata. Lulusan pertanian mayoritas tidak menjadi petani. Pemuda desa lebih memilih urbanisasi. Celah untuk menjadikan pertanian menjadi magnet kembali tidak ada cara lain adalah : mekanisasi pertanian. "Selama bertani itu masih identik dengan mencangkul, belepotan tanah, dll, maka selamanya pertanian tidak akan menarik bagi anak muda kita", kata Dahlan Iskan, Meneg BUMN.
Meskipun demikian, mekanisasi itu bukanlah bentuk industrialisasi dan kapitalisasi pertanian sepertihalnya revolusi industri di Eropa beberapa abad silam yang membuat tatanan sosial masyarakat dunia porak-poranda dan bertumbuhan manusia-manusia mesin dimana-mana. Mekanisasi itu hanya pintu awal saja, samahalnya dengan project pembukaan sawah baru yang dilakukan oleh BUMN sebanyak 200.000 hektar. Kenapa tidak langsung diserahkan pengelolaan dan kepemilikannya kepada warga, karena perlu ada yang mengawali agar sistem lebih cepat dan baik terbentuk.
2/10/12
Hukum untuk AS
Kalau perlakuan hukum seperti itu, belum ke kasus2 yg lebih besar dan super besar, apa masih perlu dibanggakan kita punya negara disebut negara hukum? Apa masih perlu ada fakultas hukum?
Jadi mempertanyakan legitimasi hukum, yang selama ini oleh banyak orang begitu dibangga2kan..
Sent using Nokia mobile phone
2/9/12
2/8/12
DIS
2/7/12
Tidak Aku Buru-Burui dengan Apapun
Aku juga tumbuh dan besar terbiasa mendidik. Dari jaman baru masuk SD sampai lulus SMP aku terbiasa sinau bareng & nyinaoni adik pertamaku yang umurnya nyaris sebayaan, Si Aan selisih 2 tahun saja. Dari gubug-gubugan, masak-masakan, monopoli, ular tangga sampai cerdas cermat cerdas cermatan, aku punya sekian banyak metode mendidik waktu itu.
Sampai menjelang masuk SMP adik keduaku, Si Ifa yang selisih sepuluh tahun lahir. Metode mendidikku beda lagi, mulai dari jalan-jalan, berpetualang, ngobrol tentang pesantren. Sampai sekarang masuk SMP 8 juga karena pengaruhku, syukurlah bisa juara 1,2,3 paralel terus, dan bukan cuma itu, aktif di organisasi pula, dan bukan cuma itu, kepengin masuk pesantren nanti SMA, tapi kakak yang baik, enggak boleh memaksa.
Lalu, pas masuk SMA, adik ketigaku lahir, Si Yiyi. Nalarnya jalan, otak kanannya aktif, ini anak ngeyelan sekali, tapi nyandakkan dalam memecahkan persoalan. Tidak beda dengan adik-adikku yang lain, kalau diajari nyandakkan, walau beda-beda spesialisasinya, kalau adik pertamaku pinter jualan, keduaku pinter hafalan, ketigaku pinter pecicilan.
Dari semua materi yang aku didikkan, hitung2an, karakter tokoh dunia, peta eropa, yang paling aku tekankan adalah bahasa inggris. iya benar, karena trend ketika dia besar nanti, sudah tidak bisa bicara lokal, bicaranya internasional.
Jadi arahnya kemana ini posting? Menyindir yang punya banyak adik angkat? Atau menyindir yang jadi guru cuma buat cari gaji? Oh tidak tidak tidak, maaf, kali ini aku sedang ogah urusan dengan begituan.
Aku cuma sedang terpikir, kalau ada laki-laki yang mau tunangan dengan perempuan yang perempuan itu mau diajak menginap di rumah kontrakannya (seperti tetanggaku di kompleks), materi seperti apa yang akan dididikkan si perempuan itu bagi anak-anaknya yang notabenenya adalah anak-anak si laki-laki itu juga?
Juga, apa yang akan dididikkan oleh perempuan yang mau diajak telpon2an berlama-lama, berjam-jam, berkali-kali setiap hari untuk urusan yang
Orang-orang mungkin tahunya studyku berantakan, tapi orang-orang dekatku pasti tau kalau aku adalah orang yang sangat serius soal pendidikan. Maka, aku ikhlaskan penantianku untuk tidak aku buru-burui dengan apapun, karena yang sedang aku jemput itu adalah partnerku dalam mendidik anak-anakku nanti...
*Segerakan Ya Allah...
Di Dalam Misteri Salah & Benar
Membangun usaha memang tidak mudah. Tidak mudah kalau inginnya jalannya benaaar terus, tidak mudah kalau inginnya untung terus, tidak mudah kalau inginnnya dipuji orang teruuus.
Tapi kalau tidak mengejar seperti itu, sesungguhnya menjadi pengusaha banyak privilege-nya. Apa saja itu?
1. Tidur jam 10 siang, enggak ada orang yang berhak negur. Begitu juga kerja sampai jam 11 malam, enggak ada orang yang berhak protes.
2. Berbuat salah itu wajar, gagal itu biasa, bangkrut itu sah-sah saja. Beda sama pekerja, masa misalnya gaji minus = bangkrut, lah ya kerja rodi namanya
3. Kalau punya mobil, punya property banyak, wajar, tidak dihitung2 orang : lama kerja berapa, pendapatan bulanan berapa, kok bisa beli ya?
Lepas dari semua itu, janganlah mudah merasa bersalah, jangan sedikit-sedikit "nanti kalau salah gimana"? Memang kita hidup di dunia ini didalam misteri salah dan benar kok, kalau kita sudah tahu apa yang kita lakukan PASTI benar, berarti kita tidak belajar. Itu weling Nyai Walidah kepada Al Mukarom KH Ahmad Dahlan suaminya di film Sang Pencerah.
Dan lepas dari semua itu, mau jadi pekerja atau pengusaha, pastikan yang penting, kamu berada di tempat yang membesarkan jiwamu, expertmu, nilai-dirimu. Kalau tidak, kamu hanya buang-buang umur saja, sekalipun gajimu besar!
Ingatlah, umurmu paling lama berapa si? 60 tahun? Iya kalau sehat terus... sangat sayang kalau kamu lewatkan hari ini di tempat yang hanya untuk menuggu sore, melewatkan hari.
2/4/12
Sekat 5 cm
Aku hari ini mau mengucapkan terima kasih untuk Pa Wahyu Pamungkas atas tautan tulisan Renald Khasali di Jawa Pos tentang belajar itu bukan cukup 5 cm. Belajar itu bukan cuma soal membaca buku dan memamerkannya:ini aku sudah baca buku ini loh. Belajar itu bukan cuma soal memulai bisnis dan tidak mengembangkannya.
Buku, seminar dan seabreg tools pembelajaran lainnya seringkali malah menjadi sekat yang membatasi belajar jadi tidak bisa lebih dari 5 cm ke bawah (untuk yang mulainya dari otak, baca:akademisi) dan 5 cm ke atas (untuk yang mulainya dari kaki, baca:praktisi).
Inilah yang membutuhkan waktu, membuat endapan teori mengalir sari-sarinya tidak cuma terhenti di otak, tapi sampai ke jantung, paru-paru, tangan juga kaki. Dan ini pulalah yang menguras energi, menaikkan gumpalan upaya agar tidak terhenti di dengkul, tapi naik ke lengan, dada, pikiran hingga ke hati.
Dan untuk ini, buku hanya bisa mengawali, tidak bisa memfasilitasi sepenuhnya. Begitu juga seminar-seminar
TK Mahal
Nanti pengen bikin TK, namanya TK Nusa Madani, bukan franchise, tapi pake konsultan ahli TK, jadi tetep bonafit tapi tidak mahal. Kalaupun mahal, advantage yang diterima siswa optimal.
Daripada buat beli franchise kan mending bayar konsultan, lebih murah, lebih expert.
Apresiasi Nomor Satu, Order Nomor Dua
Agak kurang enak di hati ketika aku baca jawabannya : "nggak janji ya, soalnya nanti pasti banyak pertimbangan".
Sebegitu matrenyakah aku, sebegitunyakah aku artikan jaringan pertemanan hanya sebatas jaringan market? Ya, ini zaman memang zaman dimana kepekaan sudah sedemikian tipis, apalagi semakin dipertipis oleh bercokolnya fakultas-fakultas yang kian bertambah jumlah, ragam dan biayanya setiap tahun. Sampai-sampai orang lebih bangga dikenal sebagai apa disiplin ilmunya, ketimbang sebagai namanya sendiri.
Twit untuk kawan lamaku itu sejatinya bukan twit penawaran, sekalipun ada efek samping yang aku harapkan adalah bisa dapat order nantinya. Tapi esensinya, twit itu adalah sebuah metafor saja. Sama seperti kalimat "matahari mulai tergelincir, pertanda senja telah datang".
"Kalau memang metafor, apa isi substansialnya memang di twitmu itu ki?". Isinya, pertama :
1. Pengharapan berlapis doa semoga segera dimudahkan menuju pernikahan
2. Memperkenalkan diri, bahwa sekarang ini loh usaha yang sedang aku jalani
3. Kalau ada respect untuk meng-order, misalnya dijawab "oh, usaha percetakan sekarang kamu? wah boleh-boleh, bisa diatur nanti.." itu tandanya masih diakui & dianggep sebagai teman
Sebenarnya yang berharga dari order yang diberikan oleh teman sendiri adalah apresiasinya, bukan nominal margin keuntungannya. Hal ini juga yang dilakukan Ibu dan Bapakku, seringkali memberi order, tanda mengapresiasi apa yang sedang aku kerjakan walau masih kecil. Dan akupun senang hati mengerjakannya, walau cuma untung lima ribu perak saja.
Haha, aku kalo menulis di blog tidak tedeng aling-aling. Mudah2an, base of story yang aku angkat di postingan ini tidak mampir kesini.
Bulan Mulud
Oleh karenanya, terserah apa kata orang tentang ESQ, bagi saya Ary Ginanjar dengan ESQ nya tetaplah seorang muasis, pioner, pahlawan yang mengingatkan jutaan orang di Indonesia tentang pentingnya menghidupkan kepekaan, mulai dari kepekaan menjaga kebersihan wastafel umum melalui kisah "Rudi & Sikat Gigi", sampai kepekaan mencintai Rasulullah karena cinta Rasul SAW kepada kita sungguh tiada tara yang diilustrasikan dalam segmen "Leadership Principle" dalam training itu.
Assalamu'alaika Yaa Rasalullah, Assalamu'alaika Yaa Habiballah... Ini bulan kelahiranmu, dimana orang ramai menghujat peringatan muludan sambil asyik menikmati barongsai Imlek
Kalah Lebih Indah
Tapi jangan pergi jauh-jauh dari kaleng, karena kalau pada saat pergi agak jauh, tiba-tiba ada anak yang bersembunyi mengendap-endap mendekati kaleng, kemudian berlari, kemudian menendang itu kaleng sampai berbunyi. Maka semua akan keluar dari persembunyian dan dia harus berjaga lagi : permainan diulang.
Kalau pas kebagian jaga lithong, aduh rasanya sedih. Apalagi kalau sudah menemukan beberapa orang, eh kaleng ditendang, aduh mengulang lagi deh.
Tapi sedihnya jaga lithong itu lebih ringan, ketimbang kesedihan yang dirasakan ketika kita menang hompimpah, dan teman lain yang jaga. Sementara dia berulang kali menemukan, berulang kali ditendang kalengnya, jadi permainan reset lagi reset lagi... aduh kasihan ya, batinku. Terlebih kalau aku dalam posisi dilematis, disatu sisi kasihan dia sudah jaga lithong begitu lama, tapi disisi lain lithong dalam jangkauanku untuk aku tendang.
Itulah, kalah bisa jadi sedih, tapi kesedihan itu tidak seberapa dibanding kesedihan kita melihat orang lain kita kalahkan.
Pola itu terbawa sampai dewasa. Ketika aku belum bisa membeli mobil, rumah & tanah seperti teman-teman se-liftingku. Aku sedih. Tapi kesedihan itu belum seberapa, ketimbang rasa sedih melihat teman-teman lain terlilih hutang, sedangkan aku tidak.
Agak susah diceritakan tentang indahnya kekalahan ini. Tapi, silahkan rasakan sendiri. Saat kau kalah, saat kau menang, saat temanmu mengalahkanmu, saat kau mengalahkan temanmu.
2/2/12
Tidak Mengambil Hak
Sekalipun kondisi galau, nyesek dan sakit menimpa, orang tetap boleh memilih untuk tidak mengambil haknya. Hak merasa galau, hak merasa nyesek hak merasa sakit.
Biarkan saja lah, anggap ini tebusan untuk semua minus-minus yang kamu lakukan selama ini yang belum terbalas oleh azab. Atau kalau minus-minusmu itu sudah terbalas semua, biarkan ini jadi tabungan yang bisa dicairkan setiap kali kamu butuh. Butuh keselamatan keluarga, butuh kecukupan rejeki, butuh keriangan disaat sendiri dan butuh-butuh lainnya termasuk butuh tiket kereta api saat mau ke Bekasi.
2/1/12
Arti Passion
Orang yang menuntut bekerja harus sesuai passion adalah orang yang jiwanya manja. Kenapa, karena jiwanya haus akan kesenangan. istilahnya Dahlan Iskan lagi nih "Masih ada jiwa ingin dilayani".
Pokoknya aku mau kerja bagus kalau aku senang, kalau aku tidak senang jangan salahkan aku pekerjaanku jelek, apa malah aku tidak bekerja.
Gajah Mada, entah apa passion dia. Tapi sumpah terkenalnya bunyinya begini : Aku tidak akan menikmati buah kesenangan dunia sebelum aku menaklukan Nusantara.
Dan itu ia pegang terus sampai tahun ke-7 menjelang akhir hayatnya, setelah gagal menaklukan Sunda, ia memilih mengakhiri sumpahnya. Gajah Mada hanya menikmati kesenangan dunia 6 tahun saja.
Nah loh, pekerjaannya tidak ada hubungannya dengan kesenangan dirinya. Jadi, perlukan menemukan passion? jawabannya : Perlu. Tapi kalau belum ketemu, tidak usah jadi alasan untuk tidak pool memberikan kualitas terbaik pekerjaan.
Arti Jatuh
Kemarin keren itu Pak Menteri berperformance, sampai-sampai saat membuka sesi tanya jawab, setiap penanya dia antari microfon sendiri dengan berlari. "Jiwa melayani!", itu kata dia.
Kata dia lagi begini "Bisnis pasti akan mengalami jatuh, jadi tidak perlu saya doakan untuk Anda-anda ini jatuh, karena itu sudah pasti terjadi. Tapi pesan saya, segeralah jatuh, karena jatuh di waktu dini itu lebih mudah dikelola kejatuhannya, ketimbang jatuh ketika sudah besar nanti.", kira-kira begitu kalimatnya, tidak persis si.
Ya, dari pemaparan pak Dahlan, menteri yang mantan pengusaha ini (kalau Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang mantan pengusaha), jadi insyaallah Pak Dahlan adalah Ahlus Sunnah (meski celananya tidak cungklang, tidak pula berjenggot) arah yang aku tangkap tentang arti jatuh adalah keadaan dimana kita mengalami kerugian, dimana bukan kita penyebabnya. Misalnya, ditipu oleh konsumen, dipaksa membayar utang padahal bukan kita yang menggunakan uangnya, dikhianati partner bisnis, keuntungan kita dirakusi orang, dll.
Sudah pernah mengalami yang begituan, belum?
Arti Bebas
Aku terkesan dengan yang disampaikan oleh Kang Agus-Aster Disc, "Milyarder Bos Rokok itu fokus mas, fokus membesarkan usaha rokok. Kalaupun dia membuka usaha property, atau usaha ini dan itu lainnya, itu adalah untuk memutarkan uang rokoknya. Karena kalau semuanya diputar di rokok, keseimbangan pasar rokok akan terganggu".
Pertanyaannya apakah yang kita jadwalkan hingga 29 hari kedepan di bulan Februari ini, itu untuk sesuatu yang fokus apa, atau untuk memenuhi kesenangan diri saja? atau untuk gaya-gayaan menuh-menuhin agenda saja? atau blank, no plan, no design activity? Oh ya pantes belum jadi milyarder macam bos rokok.
Februari:Upgrade
Bulan sudah berganti, tagihan-tagihan baru sebentar lagi datang menghampiri. Tapi, tidak usah terlalu diambil hati, yang penting usaha & berbagi tidak berhenti, insyaallah rejeki baru akan selalu datang mengiringi.
Kalau Januari kemarin slogannya "harumkan jejakmu", bulan ini beda lagi. Alhamdulillah, bulan kemarin sukses sudah berlalu aku jalani, tidak ada order yang tidak terselesaikan, tidak ada tagihan yang tidak terbayarkan. Jejak-jejak di time planner baruku 2012 juga lumayan bagus:full:penuh, tidak ada satu haripun yang kosong, nganggur, layah-leyeh. Bahkan ada lebih dari 15 pertemuan ilmiah dalam bentuk forum, konferensi, rapat konsultansi, rapat kerja, dll terjadi di bulan kemarin. Bagiku, jejak-jejak di bulan kemarin sudah cukup harumlah, harum menurut ukuranku sendiri.
Dan sekarang ganti bulan, ganti motto lagi, sekarang mottonya adalah:Upgrade. Pilihan motto ini didasarkan dari pertemuan dengan Happy Trenggono kemarin di perhelatan Pesta Wirausaha TDA, forum pengusaha pemula terbesar di Indonesia yang diisi oleh lebih dari 15 tokoh besar mulai dari Dahlan Iskan, Jokowi, Yusuf Mansyur, Chairul Tanjung, Happy Trenggono, Sandiaga Uno, Merry Riana, dll.
Kata Happy Trenggono, pengusaha sukses yang terkenal dengan jargonnya "BELI INDONESIA" itu singkatnya begini : "ubah cara bermainmu!". Nah lo, karena aku percaya setiap pembaca memiliki keleluasaan tafsir dan improvisasinya masing-masing, jadi tidak usahlah aku jelaskan maksud dari kalimat itu.
Semoga, motto bulan ini sukses lagi terlaksana. Sekalipun aku tinggal di kandang ayam, aku bukan ayam:upgrade. Kalaupun aku sehari-hari bersama itik, aku bukan itik:upgrade.
1/31/12
Student of The Year Candidate
----
bapak/ibu sekalian.......
sebagai seksi acara, saya meminta masukan untuk memilih student of the year
yang akan di wisuda tahun ini (desember 2011)
...bisa memberikan daftar peserta wisuda sebanyak 133 mahasiswa itu siapa saja ya?...kalau kandidat dari p eka katanya adalah rizky dwi rahmawan, dan hilmy...
Pada 18 November 2011 14:27
----
sumber dari sini.
Makelar Jengkol & Makelar Sedekah
Konsep ini begitu sederhana, berbeda dengan makelar sedekah. Jelas, peluang mendapatkan kemuliaan jauh terbuka lebar dengan menjadi makelar sedekah. Betapa tidak, dikala kita hidup di masyarakat dan bangsa yang mereka begitu taat pada pajak karena ingin disebut orang bijak, tetapi mereka masih begitu kikir dalam persoalan zakat, infak dan sedekah. Maka, ketika kita berperan menjadi pelumas yang melumerkan kekikiran komunal masyarakat, insyaallah ganjaran & "simpatik" dari Allah mengiringi setiap perjalanan hidup kita.
Namun begitu, memakelari sedekah tidak semudah mengumpulkan uang dari orang, kemudian membagikannya. Mengapa?
1. Akan ada tantangan riya dari dalam diri yang begitu besar, sadar atau tidak sadar ketika terbesit rasa nyaman dipandang orang dengan status makelar sedekah yang kita sandang bisa-bisa kita tidak jadi mendapat kebaikan ukhrowi dari aksi kita
2. Kalau keikhlasan dalam bersedekah adalah dimensi 'quantum', maka pengurutan skala prioritas adalah dimensi 'klasik' nya. Ya, karena sepaket dengan perburuan kita terhadap ridho dan balasan Tuhan, dalam menyalurkan sedekah, ada amanat buat kita sebagai makelar untuk menyampaikan uang sedekahan itu untuk sebesar-besar social-impact.
Ini menurutku rumit dan sangat menantang tanggung jawab kita. Bagaimana membeli karpet masjid apakah lebih tinggi kemanfaatannya dibanding memodali pedagang asongan yang hidup di kolong jembatan. Apakah memberi makanan buka puasa bersama lebih urgen kebutuhannya ketimbang menyantuni kaum fakir yang sedang sakit dan tidak punya biaya berobat.
Saya pernah menulis dulu, bahwa sedekahers yang hanya mengharap balasan 10x lipat atau hanya mengharap ridho dari Tuhan itu adalah sedekahers yang egois. Sekehers yang TOP BGT adalah yang dia sudah meyakini tentang balasan pelipatgandaan dan penganugerahan ridho dari Tuhan, sehingga tidak lagi memikirikan itu, tetapi sebagai ungkapan syukur akan adanya pelipatgandaan dan ridho dari Tuhan itu dia berhati-hati betul memberikan sedekahnya untuk manfaat sosial yang paling optimal.
Nah, kalau makelar sedekah tidak punya skala prioritas penyaluran, sedekahers mah bisa aja menyedekahkan sendiri, enggak perlu lewat makelar.
3. Adanya keuntungan terselubung. Misalnya, karena kita menggalakkan makelar sedekah, brand bisnis kita jadi naik. Karena kita berkampanye makelar sedekah, maka order tidak perlu tender, langsung dikerjakan oleh bisnis kita. Karena dikerjakan oleh bisnis kita, sekalipun dengan harga yang super khusus, kita masih diuntungkan adanya promo melalui kemasan produk kita yang tersebar luas dalam program makelar sedekah. Nah, adanya keuntungan terselubung seperti itu yang sekalipun tidak ada dalam siasat atau rencana, tetapi itu baik atau tidak si? Itu karena berkah dari Tuhan, atau itu efek samping marketing yang diupayakan atau tidak diupayakan menjadi keuntungan yang kita terima atas program sosial yang kita jalankan?
1/30/12
Bukan Cuma Terpaksa Makan Lumpia Boom
Betul juga kata Merry Riana kemarin, berada di tempat yang banyak kesempatan itu enak, ketimbambang di tempat yang sedikit kesempatan. Tapi kenapa dia di Singapore yang notabenennya kesempatan memulai usaha tidak sebagus di Indonesia justru malah sukses? Itu karena disana kesempatan sedikit, jadi konsisten dan fokus. Samahalnya dengan kasus makan itu tadi, kalau kita ada di satu kota yang adanya makanan ituuu tok, maka tidak perlu kita spare kan waktu untuk bingung & diskusi berkepanjangan menentukan warung pilihan.
Kira-kira begitulah, akhirnya makan lumpia boom lagi, padahal baru juga kemarin makan. Bukan cuma itu, tadi juga terpaksa minum es teh dobel, karena sudah kadung pesan es teh, eh dapat bonus 2 es teh lagi karena makan berlima
![]() |
| Photo Captured by : Rizky |
![]() |
| Photo Captured by : Uswah |
1/27/12
Foto Indonesian Changemakers
![]() |
Banyumas - Sekelompok muda-mudi melestarikan upacara minta hujan khas Banyumas yang disebut "Upacara Cowongan". Setelah ditelusuri, Cowongan dan tradisional karya cipta nenek moyang kita ternyata memiliki ketinggian dan keluhuran seni sastra, art of rythm terlebih kedalaman pesan moral. Yang dilestarikan di foto ini adalah karya seninya bukan ritus dan mistisismenya #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 28/11/2011 |
![]() |
| Cilacap - Kertas draft, buku agenda, to do list, map berkas dan novel menjadi teman setiap keseharianku, saat berperjalanan kemanapun. Itu bekal sekaligus amunisi membuat perubahan #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 11/01/2012 |
![]() |
| Yogyakarta - Membangun KESADARAN KOLEKTIF melalui forum diskusi maiyah bersama Emha Ainun Najib (Cak Nun), seorang budayawan dan negarawan yang membuat forum diskusi bulanan di beberapa kota di Indonesia. Tempatnya sederhana, karpet lusuh bukan permadani, tarub hajatan bukan ballroom hotel mewah. Tapi masih ingatkan Mahatma Gandhi? KESADARAN KOLEKTIF yang berhasil ia bangun jauh dari modal kemewahan #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 18/01/2012 |
![]() |
| Yogyakarta - Noe Letto bermain rebana. Pop bukan superior, kasidah bukan inferior. Pemuda yang akan membawa perubahan adalah dia yang punya prinsip, bukan yang melulu terjebak mainstream, pop, boyband, gadget, fashion... #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 17/01/2012 |
![]() |
Surabaya - Pemuda jualan krupuk, siapa takut? Jangan dipikir memulai menjadi seorang entrepeneur itu harus dengan modal besar, kantor bagus dan aktivitas prestisius. Key of entrepreneurship are selling : ya, jualan, jualan dan jualan. #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 24/01/2012 |
![]() |
| Kediri - Sebuah warung tenda berdiri dengan bersahaja dengan brand tunggalnya "warung lumayan". Hm, tapi saya yakin si empunya warung lebih senang dapat penghasilan MAKSIMAL, ketimbang hanya pendapatan LUMAYAN #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 25/01/2012 |
![]() |
Purwokerto - Si 'boneka anjing' Doggy ternyata bisa memakai toga wisuda juga. Hai kawan, janganlah berlebihan mengagung-agungkan wisuda, sadarilah kalau itu hanya sekedar upacara. Kapabilitas diri yang kita milikilah kebanggaan yang hakiki #Photo Captured by Rizky Dwi Rahmawan 25/01/2012 |
1/26/12
Laku Tirakat
dibayar kemarin. Ketemu pak anugerah, dan dengan design pertemuan yg memang pas bgt, lebih cantik dari yang direncanakan.
Ya, anggap saja jalan kaki berkilo2 meter itu sebuah laku tirakat. Dan kesabaran, selalu dapat gantinya, ya kemarin itu.... Maturnuwun Gusti Allah, atas mekanismeMu. Mudahkan jalan ke depan ya...
Sent using Nokia mobile phone
1/24/12
Libur Bingung?
Hidupnya tergantung pada instruksi, ketika bebas, ketika libur malah blank. Ketika lulus dan nganggur gusar kesana kemari mencari orang yang mau menyuruh.
Bermuhasabahlah.
Sent using Nokia mobile phone
1/22/12
Lama
"iya po?mosok si?"
"Lagi sibuk ya?have a nice activity aja dah..."
"haha, ga juga. makasih :D ya udah deh ini posting"
"..."
#Asli lagi blank mau posting apa
1/12/12
Kepanjangan
1. yang menampung sampah
2. makin memahami orang lain
Asinkron
Ternyata kondisi seperti ini bukan terjadi akhir2 ini saja, tp sudah terjadi sejak zaman sebelum tjokroaminoto lahir.
OKI, tjokro mengawali perjuangan dengan platform yg sangat sederhana : mengajak warga pribumi merasa setara.
Hm, dan platform perjuangan tjokro ini bukanlah platform yang rapuh di zaman ini. Okelah tidak ada penjajah yg membawa bedil datang ke rumah kita. Tapi coba, merasa kah, betapa inferiornya kita dihadapan bombardir iklan sabun yang harganya setara tarif wc umum dan katanya memiliki kandungan perlindungan mutakhir? Dan ratusan iklan2 lainnya. Kita inferior dihadapan pengiklan.
Kita juga merasa inferior dihadapan birokrat. Padahal, mereka itu rewang (pelayan) kita, bukan sesembahn dan junjungan kita. Hahah, jangan2 mulut kita lantang ngomong demokrasi, tp di otak kita NKRI ini kerajaan.... Cara berpiki sebagian kita kian asinkron saja...
Sent using Nokia mobile phone from Masjid Muhammad Cheng Ho, Purbalingga
Teror Gempa
Hm, apakah Aceh lebih aman dari Jawa? Karena disini sudah lama sekali tidak gempa? Yah, aman aman tidak aman lah.
Yang terbaik adalah kita tetap ngotot beramal dunia, tapi juga mesti pasrah kalau sewaktu2 bencana terjadi.
Terlebuh pejabat2 kita makin getol memancing datangnya MAHAPRALAYA, ketua dpr dalam forum resmi enak sekali menyalahkan pemerintag daerah, ketua golkar begitu narsis ngaku2 mmbantu ukm dari aceh sampai papua, presiden ya begitu2 saja, tambang dan mineral terus disedot utk keperluan korporasi global. Hueheheh, untung di negeri ini masih ada orang baik, yg membuat Tuhan simpatik.
Ya allah, lindungilah aku dan keluargaku dari petaka dunia dan api neraka. Amin..
Sent using Nokia mobile phone from Banjarnegara
1/11/12
Kutukan Dosa Belajar
Hm, tp aku tidak yakin penyebab orang begitu menjelek2an aktivitas mencontek karena dampak manipulasi itu. Tapi, mereka menganggap mencontek jelek, karena peraturan larangannya jelas terpampang.
Di sisi lain mahasiswa yang anti mencontek, di hari2 menjelang ujian meningkatkan sedemikian rupa tempo, speed & durasi belajarnya. Tujuannya apa? Agar bisa mengerjakan soal ujian dengan baik.
Tidak peduli hasil ujian akibat me'mempeng'kan sinau sedemikian rupa menjelang ujian adalah mencerminkan takaran kemampuan diri atau tidak, yang jelas cara ini tidak pernah dianggap berdosa.
Ya, manusia jaman sekarang kelewat rasional, instruksional, kebenarannya berbasis hukmiah, bukan insaniah. Sehingga, kalau ada kalimat larangan dia jauhi, ada kalimat perintah, ia taati. Yang tidak ada keduanya, ia abaikan.
Contohnya ya memforsir belajar sebelum ujian itu? Bukankah itu jelas2 sebuah Grand Skenario utk memanipulasi hasil ujian? Sehingga sekalipun daya serap, daya ingat & daya analisis kita aslinya cuma 6.0 melalui cara itu, kita berharap dapat skor 9.0.
Ini dianggap hal sepele, bahkan mengada2. Tapi sesungguhnya kasus pergeseran platform ujian dari yang semula utk mengukur kemampuan, menjadi peraihan nilai setinggi mungkin adl lubang kegagalan pendidikan kita.
Ribuan wisudawan menganggur, bertambah setiap tahun. Bisa jadi adalah karena mereka mengabaikan ukuran kemampuan asli dirinya dan nilai-oriented. Atau bisa jadi hal itu terjadi karena kutukan dosa mereka sendiri. Bukan dosa mencontek, itu si dosa kecil. Tapi dosa memanipulasi dengan cara memforsir diri belajar sebelum ujian agar tercipta kemampuan dopping sesaat.
Haha.....jangan ditelan mentah2 dan tekstual. Ini tulisan hanya ingin menyuguhkan sebuah sudut pandang saja.
Sent using Nokia mobile phone from Cilacap
1/10/12
Januari ini, benar2 tidak akan aku lewatkan begitu saja
Siapakah dia? ah lupakan kalau yang ada dibayanganku partner itu adalah orang. Bukan siapa, tapi apa. Buku time planner large-size, pensil hotel Jayakarta & spidol warna-warni kepunyaan adikku cukup untuk bulan ini.
Ternyata tidak sia-sia membeli buku perencanaan harian seharga setengah merah. Aku bisa memetakan dengan leluasa, bulan ini apa saja yang terlintas... ada 10 di listku, lalu diramping-rampingkan, berkurang deh jadi 6. Diantara 6 itu, ada skala prioritas 1, yakni nomer 1-3 dan skala prioritas 2, yakni nomor 4-6.
Lalu dicermati satu demi satu hari yang tersisa di bulan ini. Amati hari itu masih kosong, atau sudah berisi agenda yang sudah direncanakan sebelum ini. Lalu bagilah hari-hari itu sesuai kadar kebutuhan masing-masing dari keenam hal yang akan didapat di bulan ini.
Lalu pikirkan keterhubungan antara hari ini, besok dan lusa. Mungkinkah hari ini kecapekan karena hari kemarin. atau hari ini tidak boleh capek-capek karena besok butuh stamina prima dan seterusnya. Lalu, pastikan disiplin, tidak ada hal lain yang dikerjakan diluar keenam prioritas itu. Kalau terlintas ide baru, sudah, alokasikan ke Februari.
Prinsipnya sederhana, berhenti berwacana. Lupakan politik, lupakan idealisme, lupakan ideologi, lupakan NU-Salafi. Ini urusan dengkul ke bawah : kaki.
2012 ini bukan lagi tahunnya ongkang-ongkang itu kaki, saatnya berjalan. Berpindah dari satu urusan ke urusan lainnya, benar-benar tidak akan aku lewatkan begitu saja satu haripun untuk sesuatu yang tidak memberdayakan. Persoalan harapan, gantungkan pada Tuhan semata.
12 Butir Kesepakatan Etika Menulis Blog
2. Tidak mendiskreditkan pihak lain dan selalu berkomitmen untuk menulis secara proporsional.
3. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur pornografi.
4. Selalu berbagi pengetahuan dan kebaikan melalui blog masing-masing.
5. Tidak berprasangka dan hanya menulis berdasarkan fakta yang diyakini bisa dibuktikan serta tetap dengan menjunjung tinggi etika kesopanan dalam menulis.
6. Tidak melakukan spamming melalui kolom komentar.
7. Tetap menjaga kesopanan dan rasa saling menghormati dalam memberikan komentar pada blog yang dikunjungi.
8. Tidak melakukan hack pada website atau blog lain.
9. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur SARA.
10. Menggunakan bahasa yang baik dalam menulis.
11. Tetap menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam menulis tetapi tidak melanggar hak-hak orang lain.
12. Bersedia meralat informasi yang telah ditulis dalam blog jika di kemudian hari terdapat kesalahan dalam memuat tulisan di blog.*
Risa Amrikasari
1/7/12
Sense of Community
Salah satunya yg beliau katakan, kalau di Purwokerto itu potensinya bagus, sayangnya sense of community nya kurang. Yah, benar juga itu. Di purwokerto ada komunitas blogger, tp blum bisa mengadakan seperti yg komunitas lain buat. Di purwokerto ada komunitas wirausaha, tp krna satu dan lain hal pada cari kerja, kalah besar sama TDA, RJU dan komunitas wirausaha lainnya.
Di Purwokerto ada komunitas trainer, tp trainer2 pada jalan sendiri2. Entah berlebihan atw tidak, tp memang indvidualis kentara bgt. Perasaan senasib sepenanggungan, sepayung sekomunitas hanya bertahan sepanjang kepentingan dirinya terakomodir. Ketika itu tidak, enak sekali komunitas dicueki.
Maka solusinya adalah re-integrasi sosial. Sebuah keinsafan masal, agar masing2 komponen komunitas, komunitas apapun itu, membangun keyakinan baru : kalau bisa menyukseskan bebarengan, sendirinya pasti ikut sukses.
Semoga masing2 mulai bisa menyadari dan bersedia mengikhlaskan diri berbaur dalam proses reintegrasi sosial ini, dan outputnya adl, komunitas2 yg ada disini bisa membuat perhelatan dan kiprah berskala nasional.
Sent using Nokia mobile phone from Malang
Manusia instruksional
Dilatih dengan bel masuk, kalau telat dihukum. Mengumpulkan tugas, harus begini dan begitu. Melunasi biaya sekolah harus sebelum ujian. Dan harus harus harus harus harus harus harus lainnya.
Maka yang ada kebanyakan sekarang adl manusia2 terpelajar yang haus keharusan. Kalau tidak ada orang yg mengharuskan, dia bingung, nganggur bingung, diberi kebebasan bingung. Hidupnya tergantung instruksi.
Entah, sakit hatiku pada sekolahan belum tuntas. Sekolah yg sudah membuat satu sisi bagian otakku terganggu, untung baru terganggu, belum mati. Yaitu sisi bagian otak inisatif.
Ya, harus banyak latihan, agar bisa hidup lagi bagian otak itu. Kalau bagian otak itu sudah normal, kita tidak lg menjadi manusia instruksional.
Mau dimanapun berada, apapun yg dihadapi, bisa jadi sumber produktivitas. Ke tempat pelacuran sekalipun, bisa menjadi sbuah pelajaran. Ke acara apapun, bisa menemukan inspirasi.
Berharap
Selesai satu urusan, lanjutkan nggarap urusan lainnya, dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap. Betul itu, itu Quran yang bilang : berharapnya ke Tuhan, bukan ke urusan2 yg qt kerjakan. Hm, i know i know...
Sent with Nokia Mobile Phone from Caruban












