8/31/15

Tepat untuk Zamannya

Apa sih alasan bagi kita untuk membenci orang lain? Hanya karena dia tidak mengerti yang kita pahami?

Ustadz Yusuf Mansyur itu dulu datang disaat etnologis manusia memang butuh untuk digugah bersedekah. Saat dhuha itu masih aneh belum membudaya.

Pa Ari Ginanjar Agustian itu melahirkan ESQ saat pola pikir masyarakat sudah sangat sekuler tanpa sadar. Yakni masa diman penat sekai manusia oleh keterpisahan dunia dan akherat, agama dianggap diluar ilmu pengetahuan.

Pun begitu Pa Purdi E. Chandra, timing kemunculan beliau tepat disaat musim pasca krisis, butuh orang didorong untuk menciptakan sense of crisis-nya dan mengambil langkah-langkah nekat untuk bangkit.

Eh, bahwa sekarang ilmu sedekah dan dhuha dipelintir fungsi dan orientasi oleh mereka yang mengaku murid2nya. Itu akal kita yang harus pandai-pandai agar jangan terpedaya.

Atau bahwa kemudian pemadatab ESQ yang kini meraksasa demikian cepat yang membuat secara keilmuan ia nyaris mandeg karena terbebani overhead, janganlah kita memincingkan mata disitu saja.

Pun bahwa banyak murid2 EU yang mengutamakan hasrat tamak dan tidak siap melewati fase bangkrut, janganlah kita ikut2an mencaci. Kita yang salah mempraktekkan jurus, eh guru yang disalahkan.

Kalau kita meletakkan mereka semua di zamannya, justru yang muncul adalah rasa kagum dan penghormatan. Kalau yang masih muncul adalah sentimen atau kebencian, berarti kita yang masih gagal paham.

8/29/15

Beneran Kaya

Kalau jaman dulu, orang kaya ya kaya beneran, sakti ya sakti beneran, berwibawa ya berwibawa beneran.

Kalau sekarang, orang kaya karena kedunungan alias moment, bahkan beberapa kaya karena ngakali. Orang sakti karena membeli kesaktian, sanggup membeli karena kaya. Orang berwibawa karena jabatan yang dia miliki, memiliki jabatan juga karena kaya.

Padahal ukuran kekayaan orang adalah dari jumlah asetnya. Aset itu bukan semata simpanan harta dan properti. Aset sejati adalah sesuatu yang bernilai karena bisa memberikan manfaat.

Apa yang kita miliki, saat kita tidak memiliki apa-apa dan dengan itu kita bisa survive. Itulah aset sejati.

Ini tahun ke-10 dari perjalananku di Purwokerto. Agustus 10 tahun yang lalu aku merintis apa yang dicapai hari ini di Padepokan milik eyang Sinto Gendheng, di Jalan Pramuka 212.

Ini saat yang tepat untuk menghitung berapa aset kekayaan kita. Terpenting, berapa aset sejati kita. Dari situ kita tahu, 10 tahun ini berapa kemajuan hidup kita, berapa langkah keberhasilan pengerjaan misi kita.

Menghitung aset bisa dilakukan dengan melihat catatan kekayaan kita. Sedangkan menghitung aset sejati, caranya dengan membayangkan seandainya kita tak punya apa-apa, seberapa kita mampu survive? Kalau tak ada dayung, tak ada pelampung,  seberapa mahir kemampuan renang kita, seberapa lihai kita bertahan di atas air. Itulah aset sejati.

Jangan sampai, kita merasa punya banyak hal. Tapi ternyata tak ada kemajuan pengerjaan misi yang berarti dalam 10 tahun ini.

8/28/15

Zaman Meninggi

Sedikitnya 1.000 calon santri fundamentalis diberangkatkan ke Timur Tengah secara periodik, lalu mereka kembali ke tanah air membuat resah dan geger mengerjakan misi monopoli tafsir dgn mengangkat berbagai isu pemurnian agama.

Disaat yang sama ada "The Mesenger" yang turun di akhir zaman dengan nama akun: Jonru.

Tapi tak usah kuwatir2 amat dengan semua itu. Sebisa kita saja membentengi diri dan orang2 terdekat kita dari rongrongan teror, adu keyakinan dan fitnah yang mereka tebarkan.

Kenapa tak usab kuwatir2 amat? Jawabannya adalah karena kita hidup di tengah masyarakat yang kesadarannya sedang terus tumbuh. Kita berada di tengah bangsa yang kecerdasannya sedang terus berkembang.

Apa yang mereka jajakan, tema2 meresahkan, isu2 yang membuat jengkel, ajaran2 yang dipaksakan itu semakin nanti akan semakin tidak laku kok. Yakni ketika kesadaran dan kecerdasan masyarakat semakin tinggi.

Lihat saja sekarang, berapa banyak isu masa lalu yang sudah basi tidak bisa digoreng lagi. Lihat saja sekarang, mereka kelabakan menyajikan isu-isu baru yang karena tergesa-gesa menyiapkannya sehingga baru dilontarkan saja sudah kentara kebasiannya.

Itulah kenapa ditengah bangsa yang ekonominya sedang gonjang-ganjing ini, saya masih menyimpan keayeman di kantong. Ayem karena saya yakin saat ini adalah zaman yang sedang rising. Yang kita mau berupaya atau diam saja, kebangkitan akan tetap menjelang.

Apa yang baik sedang meninggi. Apa yang jelek sedang tenggelam.

8/25/15

Boleh Korupsi?

Konon, masalah nomor wahid dari bangsa kita adalah KORUPSI. Betulkah? Kalau iya, bagaimana hasil kerja komisi pemberantasnya jika diukur? Misalpun seluruh korupsi berhasil di STOP, jadi majukah bangsa kita?

Entah ada berapa masalah lagi yang lebih kronis ketimbang korupsi. Diantaranya adalah masalah PENGGUNAAN ANGGARAN. Ya, anggaran sudah disusun demikian cantik, tapi penyerapannya sangat memble. Adapun anggaran yang terserap, manfaat dan dampaknya banyak yang tidak jelas bahkan mubazir.

Padahal persoalan kegagalan penggunaan anggaran ini lebih signifikan pengaruhnya juga nominalnya. Jadi seandainyapun misalnya KPK bubar. Atau sekalian ada undang2 yang menyatakan bahwa korupsi boleh asal wajar. Tetapi anggaran yang tersisa tidak terkorupsi diperbaiki manajemen penggunaannya, dimaksimalkan, diefektifkan, dipastikan tepat sasaran. Maka Indonesia bisa maju. Banyak contohnya, negara yang berhasil maju dengan sumber daya yang terbatas.

Kita menunggu hadirnya pemimpin yang berani bersikap revolusioner seperti itu "Boleh korupsi asal wajar. Boleh korupsi asal kerjanya maksimal. Jika tidak, gantung!"

Terlalu sibuk menambal kekayaan yang bocor, tapi lengah memaksimalkan kekayaan yang ada hanyalah membuang waktu tak membuahkan apa-apa.

Memang kita bangsa yang kaya raya. Tapi kali ini please akuilah bahwa sumber daya kita terbatas. Terbatas oleh korupsi. Terbatas tapi dimaksimalkan, diefektifkan, dipastikan tepat sasaran.

Justru ketika korupsi diberi kelonggaran, disitulah bibit2 nurani kemanusiaan pejabat bisa tumbuh. Ketimbang dihadang bertubi-tubi oleh perundangan dan berbagai aturan, nurani kemanusiaan kian tak punya tempat, mati.

Hidup yang Mandeg

Masih tentang Mbah Barno, Ayahanda Pak Toto Raharjo (Yai Tohar). Sewajarnya orang jaman dulu, anaknya banyak, nyaris selusin. Yang unik adalah, beliau memberi nama anak-anaknya sesuai dengan situasi desa Lawen yang sedang ia bangun.

Ini adalah metode pemberian nama yang unik. Berbeda dengan kebanyakan orang jaman sekarang, mencari di ensiklopedia nama bayi Bahasa Arab. Latah...

Tapi wajar saja kalau orang jaman sekarang metode pembuatan nama anaknya seperti itu. Kenapa? Karena mereka tak punya pengalaman hidup sebagaimana yang Mbah Barno dan orang-orang jaman dulu alami.

Tak ada tahapan tahun prihatin, tahun tirakat, tahun mulai menata, tahun mulai tertata dan seterusnya. Kalaupun ada fase-fase seperti itu, itupun tidak dalam konteks 'pengerjaan tugas kehidupan', melainkan perjalanan mencapai penghidupan. Alias 'kere munggah mbale'. Itu kan puncak obsesi orang jaman sekarang?

Begitulah jaman sudah mengalami downgrade. Tak ada misi hidup sebagaimana Mbah Barno membangun dan menata desa Lawen dengan framework kekhalifahan.

Orang yang berkarier, milestone hidupnya hanya soal mutasi kerja dan kenaikan pangkat. Orang yang berbisnis, milestone hidupnya hanya soal gonta-ganti bisnis, gali lubang tutup lubang. Hidup yang mandeg. Tapi fine-fine saja. Karena kita tidak pernah mengenal bagaimana si konsep hidup yang berjalan sesungguhnya.

Nilai Kepantasan

Kita boleh berdagang apa saja. Namun, kalau memilih empat bidang ini musti hati-hati tingkat tinggi.

1. Pendidikan
2. Agama
3. Kesehatan
4. Kebudayaan

Kebanyakan orang mau membayar mahal untuk meraih kepandaian. Tapi janganlah kita memanfaatkan itu. Kebanyakan orang juga menempatkan agama dalam skala prioritasnya. Tapi jangan kita memanfaatkan itu. Kebanyakan orang tentu akan membayar berapapun saja untuk sehat. Lagi-lagi tapi, janganlah memanfaatkan itu. Dan kebanyakan orang tak begitu menghitung-hitung angka untuk sebuah apresiasi seni. Sekali lagi tapi, janganlah kita memanfaatkan itu.

Selain keempat bidang itu, komponen biaya dari produk yang kita jual terdiri dari :

harga pokok produksi + laba.

Sedangkan untuk keempat bidang itu, kita tidak boleh mengambil laba. Batasannya kita hanya boleh mengambil ongkos waktu, tenaga dan keringat kita.

harga pokok produksi + ongkos (waktu + tenaga + pikiran).

Disinilah kehati-hatian tingkat tinggi harus kita terapkan. Batas bawah dari ongkos adl Rp 0. Artinya kita mensedekahkan ongkos waktu, tenaga dan pikiran yang sudah kita keluarkan. Sedangkan batas atasnya adalah: NILAI KEPANTASAN.

Nilai kepantasan sangatlah subyektif. Karena ia tidak berupa barang belanjaan yang terukur nominalnya. Kita sendiri yang paham, seberapa sejujurnya ongkos waktu, tenaga dan pikiran yang pantas untuk kita ambil. Kita sendiri yang paling tahu, adakah unsur serakah, tamak, nafsu mengkapitalisasi, dsb sehingga kita melanggar nilai kepantasan itu.

8/24/15

Mbah Barno

Seorang anak muda yg sedang belajar di Yogya dipanggil pulang oleh Ayahnya. Ia diminta mengurus desa, meneruskan menjadi lurah di pedalaman Banjarnegara. Lawen, Pandanarum tepatnya.

Soebarno muda benar-benar telah menerapkan konsep zakat. Ia telah menzakatkan hidupnya dalam bentuk dedikasi 100 persen untuk mewujudkan toto tentrem kerto raharjonya Desa Lawen.

Buah dari zakatnya yang paripurna itu, maka Soebarno muda sangat cepat berproses menjadi pribadi multitalenta. Hingga ia bisa menguasai ilmu tata lingkungan, mengajari berbagai kesenian termasuk pedalangan, menerapkan manajemen pengelolaan ladang, revitalisasi pasar dan banyak lagi lainnya dengan tetap menjadi pribadi religius yang kharismatik.

Meski seluruh hidupnya ia zakatkan, bukan berarti keluarganya terbengkalai. Bukan berarti hidupnya nestapa menderita.

Hari ini beliau dikenal sebagai tokoh. Mbah Barno adalah figur mengagumkan bagi orang zaman sekarang. Mengapa mengagumkan? Karena orang zaman sekarang tak memiliki daya baca sosiologis-antropologis masyarakat pada era beberapa puluh tahun yang lalu.

Dimana di era itu, siapa saja yang hidup setia pada kewajaran, maka ia menjadi multitalenta, berguna optimal dan tidak membengkalaikan siapa-siapa.

Sudah setiakah kita pada kewajaran hidup. Atau kita sibuk iri, meri, kemrungsung pada obsesi-obsesi, hingga hidup tak jelas berpegang pada siapa, ikut prinsip siapa, mengkonsumsi wacana siapa. Alih-alih angan-angan keberhasilan kita terwujud. Eladalah, kita malah ikut katut dalam rombongan generasi zaman yang tergerus oleh mekanisme metamorfosis dan kehancuran zaman.

8/22/15

Ekosistem Pahlawan

Lingkungan kita ini sudah nombok mentalnya. Sehingga ketika ada sopir taksi yang tidak menilep barang penumpang yang ketinggalan, kita gumun luar biasa. Begitu pula dengan slogan "Berani Jujur, Hebat". 

Konsekuensinya, jika tidak menilep barang penumpang adalah luar biasa, maka perbuatan menilep barang penumpang yang ketinggalan dianggap biasa. Begitupun, jika berani jujur adalah hebat, maka tidak jujur menjadi wajar. 

Ada missing pada strata nilai mental sosial kita. Karena jujur dianggap hebat, dan tidak jujur menjadi wajar, maka kita kehilangan daya identifikasi untuk mengenali sesuatu yang tidak wajar. Begitupun karena tidak menilep barang penumpang itu luar biasa, sehingga menilep barang penumpang menjadi biasa, maka kita kehilangan daya identifikasi untuk mengenali sesuatu yang tidak biasa. 

Defisit mental hingga nombok inilah yang membuat ketakjuban kita pada keperwiraan Soedirman dan kesatriaan Soekarno menjadi tidak aplikabel di ranah perjuangan hidup dan pengupayaan masalah sosial kita saat ini. 

Soekarno itu relijius, tapi yang ditunjuk-tunjukkan hanya foto-foto sholat dan haji beliau, tidak ditunjukkan bagaimana ketakdziman beliau pada ulama. Apa sebab? Sebab sekarang dan dulu sudah jauh beda kondisinya, demi ustadz-ustadz muda bergelar Lc. laku di pasaran dakwah, ulama khos diberangus dari pengenalan sosial kita.

Kalau Sudirman itu punya ketangkasan fisik sebagai tentara di kesatuan militer bentukan Jepang, itu karena di zaman itu pemuda belum dimanjakan dengan gadget dan gaya hidup yang melemahkan fisik seperti sekarang ini. 

Dari peta sederhana lintas zaman ini, mudah-mudahan kita faham untuk tidak bersusah payah memaksakan diri menjadi pahlawan seorang diri. Karena sekeras apapun kita menggembleng diri untuk sesempurna profil pribadi Soekarno atau Soedirman, akan tetapi tetap saja sulit kalau kita masih mahfum dengan defisit mental lingkungan sosial kita.

Kita tidak bisa upgrade personal saja, kita harus upgrade komunal. Sosial kita harus jadi ekosistem yang kondusif dulu, baru bibit-bibit pahlawan bisa tumbuh. 

Everytime, Everywhere

Akhir Ramadhan kemarin menjadi marking point super berharga dalam babak hidup yang sedang aku lalui. Di waktu yang termustajab, di tempat yang termustajab sudah aku lakukan sebaik-baik dan seberkesan-kesannya ibadah napak tilas dan ibadah menuntut ilmu.

Empat puluh hari telah berlalu. Dan sekarang, tak ada alasan lagi untuk menghadir-hadirkan guilty feeling mengejar waktu dan mengejar tempat. Sudah kok kemarin. Sekarang tinggal sekontemplatif mungkin kapanpun, dimanapun. Itulah tugas hari ini, bisa lebih kontemplatif menjalani hidup. Wayatafakaruna fii khalqi samaawati wal 'ard..


Mataf

11 Tahun Psimis

Puasa Senin-Kamis jadi pilihan moda tirakat favorit anak SMA 2 zaman itu. Agar puasa terasa ringan, maka jadilah dibuat semacam komunitas puasa, karena secara psikologis jadi terasa banyak temannya yang sama-sama puasa. 


Tidak cukup secara psikologis, tapi secara fisiologis dan ekonomis juga komunitas ini harus bisa membuat pengaruh. Maka diakalilah agar bagaimana dengan iuran Rp 2.500,00 bisa buka bersama sering-sering. Jadilah kita adakan agenda buka bersama rutin dengan rumah berpindah-pindah, juga menyambangi rumah para guru. 

Akta Pendirian Psimis
Sampai 11 tahun berlalu, komunitas ini mesih membekaskan kenangan yang menyenangkan. Semoga tidak pernah terputus pasedulurannya.

8/17/15

Bekal

Seseorang ketika diberi sebuah tugas, pasti dibekali juga dengan peralatannya.

Kalau orang ditugasi untuk tidak menjadi pekerja, pasti juga dibekali dengan peralatannya: hasrat, stamina, daya survive, kreativitas, keberanian, dll. Dan tiap fase perjalanan tugas, bekalnya beda-beda.

Dirgahayu RI Ke-70

Hari ini memoriku lari secepat kilat menuju hari yang sama dengan ini di 20 tahun yang lalu. Ketika itu aku masih duduk di bangku SD, merayakan ulang tahun emas kemerdekaan. Desaku ramai mempersiapkan gapura selamat datang. Walau hanya terbuat dari bahan bambu yang di cat dengan gamping, diberi ornamen logo HUT RI yang dicat diatas tampah, tapi aku masih ingat betapa aku merasa mengagumi gapura itu.

Aku tidak ikut menyaksikan Pak Harto memimpin upacara di Istana Merdeka, karena waktu itu di rumahku belum ada TV. Sementara TV di tempat tetangga juga akinya sedang disetrum. Caraku untuk ikut memeriahkannya adalah aku menggambar logo HUT RI banyak-banyak. Saking seringnya aku membuat, dari di awal aku harus mensketsa lekuk-lekuk benderanya dulu, sampai aku sudah mahir, sekali jadi. Spidol warna merah untuk menggambar bendera. Spidol warna hitam untuk menulis angkanya. Sebetulnya di logo yang asli harusnya warna emas. Tapi tak masalah, waktu itu spidol warna emas belum ada dalam benakku dimana harus aku dapatkan.

Hari ini berlalu 20 tahun. Aku tak tertarik sama sekali untuk menggambar logo HUT RI. Bukan karena menggambar logo itu pekerjaan anak SD. Bukan juga karena sekarang sudah ada Photoshop dan Corel. Tapi karena aku muak, jijik dan rasanya ingin muntah melihat tagline dibawahnya yang asal njeplak.

Aku memperingati HUT RI kali ini dengan cukup sederhana, menjenguk PakDe yang saat ini hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sakit sejak depresi akibat guncangan hebat 8 tahun lalu setelah di PHK. Aku disana hanya membisikkan sholawat. Tidak berani mengucapkan dirgahayu kemerdekaan, apalagi menyebut-nyebut tagline-nya : "AYO KERJA!"

Regresi

8/15/15

Sebuah Perspektif tentang Rukun Islam

1. Syahadat yakni engkau senantiasa berusaha memahami dan semakin memahami kesadaran disaksikan dan menyaksikan. Dimana dua kesadaran itu sesungguhnya saling menampung satu sama lain.

2. Sholat adalah pemberian Allah sebab Dia mengasihi menyayangi kita sehingga Ia harus 'pura-pura' memaksa seperti Bu'de yang sewaktu kita datang memaksa untuk kita mau makan. Manfaatnya ya untuk kita sendiri seperti kita disuruh mencuci motor, yang nyaman menggunakan setelahnya ya kita sendiri.

3. Puasa membuat kita jadi cerdas. Cerdas karena antara insting dan tindakan diberi jeda oleh bekerjanya akal. Saking pentingnya dan karena Allah tahu seking beratnya, Allah berretorika mengatakan "puasa itu untuk-Ku".

4. Zakat diawali dari kesadaran bahwa semua bukan hak kita. Semua wajib kita berikan. Bahwa ada hal-hal dimana kita butuh mengambil untuk diri sendiri, maka sedikit saja. Dan pastikan itupun dalam rangka sedang memberi.

5. Haji adalah kita hadir ke Baitullah. Rumah dimana Allah kita akui sebagai tuan rumah, kita cuma petugas-Nya, khalifah-Nya, kepanjangangan tangan-Nya, ART-nya, qadim-Nya, hamba-Nya. Abdullah.

8/10/15

Ramadhan di Tanah Suci

KAAIA - Juli, 2015


Tidak semua sesuai dengan rencana, tapi hari itu, kita sudah tiba di Bandara Jeddah. Disambut matahari musim panas di Jazirah Arabia, bibir tak berhenti melafadz Talbiyah "Labbaik Allohumma Labbaik".

Hadiah istimewa dari Allah. Kita menjemput undangan-Nya untuk mengecap nikmatnya Ramadhan di dua kota suci yang ditempuh dengan perjalanan semi-menggelandang, didahului dengan backpacker di tiga negara. Banyak pelajaran, semua menarik dan mengesankan.

8/3/15

Jodoh dan Aqidah

Setiap orang pasti punya kriteria atas jodoh idamannya. Kebanyakan kita, terutama yang kerepotan dengan kriteria itu pada akhirnya lebih memilih downgrade kriteria ketika jodoh tak kunjung ditemukan.

Kriteriamu sih terlalu muluk-muluk, begitu komentar banyak orang. Lalu kita menjadi blaming of the victim, melafadz banyak-banyak istigfar, lalu dengan terpaksa menurunkan standar kriteria.

Tidak adakah orang yang berpikir kalau kriteria itu adalah clue dari Tuhan? Clue tentang perjanjian azali manusia di awal waktu sebelum penciptaan, akad manusia dengan Tuhannya tentang takdirnya, tentang jodohnya.

Tuhan itu Maha Berkomitmen. Sekalipun manusia lupa ingatan blas tentang rembugan kesepakatan dan akad perjanjian itu, Tuhan tidak lantas acuh tak acuh. Dia dengan caranya mengingatkan butir-butir kesepakatan itu menggunakan 'clue', demi kita benar-benar menemukan jodoh sesuai yang tertulis di akta perjanjian yang bernama lauh mahfudz.

Menemukan akad azali itu, adalah perjalanan aqidah. Jangan-jangan kita berbusa beristighfar, sok-sokan bertawadhu menurunkan kriteria, eh malah dalam rangka melemahkan aqidah kita sendiri.

Jadi, apakah alasan paling mendasarmu menikah? Untuk tidak kesepiankah? Heum, jangan2 setelah menikah jadi sepi karena perjumpaan dgn teman2mu makin terbatas.

Untuk status sosialkah? Ehehe, capek sekali memenuhi tuntutan-tuntutan sosial itu.

Atau untuk menjalankan sunnah Rasul? Kalau itu, sholat rowatib juha sunnah Rasul.

Alasan paling mendasar dari menikah adalah untuk aqidah. Untuk menjumpai perjanjian agung dengan Tuhan di awal waktu, di masa azali, yang tak terjangkau memori kognisi kita.

Bakat dan Aqidah

Bakat adalah kecenderungan yang dilanjutkan dengan kegigihan berlatih. Kecenderungan atas kesukaan kepada suatu bidang yang tidak dilanjutkan dengan latihan hanya akan menjadi seperti tunas tanaman yang tidak dipupuk.

Tentu Allah tidak menggunakan sistem undian dalam membagi-bagi bidang bakat setiap orang. Amnesia kita saja mungkin yang membuat lupa bahwa kita pernah berembug dan bermufakat di awal waktu di masa azali sebelum dilahirkan tentang pilihan tunas kecenderungan atas kesukaan kita kepada suatu bidang.

Menempuh bakat adalah menempuh perjalanan aqidah. Sementara bakat sudah sempurna kita krupuk-kan. Passing grade, potensi ekonomi, jaminan penghasilan, berdasarkan itulah kita memilih bidang hidup kita.

Kalau hari ini kamu miskin, tapi setia kepada kecenderungan kesukaan bidangmu, berbahagialah, karena kamu sedang berpegang teguh pada perjanjian dan akad kesepakatan azalimu dengan Tuhanmu dulu.

Meskipun kamu amnesia sekarang, bukankah kamu yakin Tuhanmu tidak berwatak culas dan curang? Maka yakin saja akad perjanjian azalimu apapun itu isinya tidak mungkin merugikanmu.

Tempuhlah bakat, temui akad aqidahmu sendiri.

7/21/15

Suku, Bangsa dan Aqidah

Manusia mencari kesadaran kenapa mereka dibuat bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah bagian dari pencarian aqidah. Yakni akad dirinya dengan Tuhannya di awal waktu dahulu azali sebelum dilahirkan.

Karena manusia sesudah lahir tak bisa memilih ingin menjadi suku apa atau bangsa mana. Ketika kita latah dengan budaya Arab sebagaimana beberapa puluh tahun lalu kita latah dengan budaya Barat, alih-alih kita sedang menuju aqidah. Jangan-jangan kita malah sedang menjauhinya.

Tentu Allah tidak iseng menentukan kita lahir di suku ini dan bangsa sini. Ada sepaket kurikulum kehidupan dan segunung hidden message yang tersembunyi di suku dan bangsa tempat kita berada.

Menerima dan berkesediaan lalu mempelajari dan menginternalisasi positive value dari dalam bumi tempat kita berpijak dibawah tempat langit yang kita junjung, akan menjadi jalan penempuhan aqidah kita.

6/19/15

Mengerucut

Kenapa Diponegoro menyerah, adalah metode pembelajaran terbaik bagi generasi sesudahnya. Kenapa Tjokoraminoto bersedia dipenjara, adalah metode pembelajaran terbaik untuk generasi sesudahnya. Kenapa Pesantren Hasan Askary di Mangli menjadi sepi sepeninggal Al Muqarom, kenapa Pondok Pesantren Keudng Paruk yang terkenal itu menjadi sepi pula sepeninggal Al Muqarom adalah juga merupakan metode pembalajaran terbaik bagi generasi sesudahnya.

Kenapa Kesultanan Turki Utsmani juga harus gagal menyelamatkan Haramain dari milisi pemberontak. Itu juga pembelajaran terbaik bagi generasi sesudahnya.

Semua itu, dan banyak peristiwa lainnya, kalau Anda pengamatannya jeli adalah bukan karena Diponegoro mati langkah, bukan karena Tjokro kalah. Bukan karena Mbah Hasan Askary kehilangan karomah, bukan juga karena Mbah Abdul Malik Kedung Paruk tidak berdaya setelah beliau berpindah ke alam Barzakh. Serta bukan pula Allah kewalahan untuk meletakkan Haramian tetap pada penjaga yang benar.

Semua itu adalah agar generasi sesudahnya (kita) bisa dipandu untuk mengerucut menemukan kemana sumur pelajaran yang harus ditimba. Dan mengerucut menemukan dimana pancer peradaban peninggalan Kanjeng Rasul Muhammad saat ini berada.

6/16/15

Trainer/Motivator

Trainer/motivator siapapun, lembaga training/motivasi manapun, tidak salah, tidak jelek. Yang salah, yang jelek, adalah yang mandeg.

Ketika publik menyambut antusias, lalu bisa dikomersialisasi dengan laris manis, terus berhenti disitu. Sama seperti mandegnya teknologi batere hape, demi powerbank tetap laris. Sama seperti berhentinya teknologi mobil hybrid, demi mobil2 pendahulunya tetap berpurna jual bagus harganya.

Resikonya pejalan ilmu memang tidak sempat menjual ilmu, kadung sibuk inventory, inventory dan inventory.

6/15/15

Ribut Kata

Konon ini jaman adalah yang terburuk sejak Nabi Adam. Apa iya? Bisajadi. Karena di jaman jahiliyahpun orang Arab Badui masih pandai membuat karya sastra. Artinya mereka paham huruf, paham aksara, paham kata, paham makna, paham rasa.

Ini jaman katanya sudah bebas buta aksara, tapi nol besar soal rasa. Sehingga berminggu-minggu orang2 yang kurang beruntung secara intelektual masih saja meributkan kata-kata Pak Menag "Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa."

Padahal itu juga bukan kalimat orisinilnya Pak Menag. Ruing, ribut sendiri, tanda tingginya arogansi.

5/15/15

Memakmurkan Pombensin

Saat ini masjid makmur-makmur. Kasnya banyak, lantainya marmer, kubahnya megah. Sayang, banyak masjid hanya dibuka saat jam sholat. 1-2 jam setelah jamaah isya sudah ditutup. Takmir mau tidur.

Maka wajar donk, kalau saya lebih nyaman mampir di mushola yang disediakan pombensin. Beberapa pom bensin malah menyediakan gelaran karpet dan selasar khusus untuk istirahat disamping mushola.

Selain itu, beberapa memiliki kamar mandi relatif lebih bersih dan wangi dibanding masjid pada umumnya. Dan yang jelas bisa sekalian isi pertalite. Malahan beberapa ada penjual kopi bahkan kafe serta minimarketnya juga.

Dan yang jelas pombensin tak pernah ditutup gerbangnya. Mau dhuha, tahajudpun bisa. Paling ada yang membuat tulisan "dilarang tidur-tiduran disini!". Itu artinya, Anda harus tidur beneran disitu.

Begitulah pombensin, untungnya cuma puluhan rupiah belum dipotong pungli tangki. Sering dibuat terkejut oleh perubahan harga oleh pa menteri. Dan harus ngangsur ke bank mengembalikan investasi. Pombensin wajib kita makmurkan, karena ia telah menjadi pusat kegiatan ummat. Masjid yang sepi dan dibuat berjarak oleh takmir dan marbotnya malah nggak tau tuh, bernilai apa tidak kalau kita nyemplungkan amal dikotaknya. Mandeg.

4/28/15

Wudhu

Pemahaman "Wudhu" yang dijelaskan oleh Sabrang buatku sangat membantu meredam gaduh dipikiranku. Gaduhnya berada di simulator tingkat lanjut seperti Tris Prior sedang disuruh melawan dirinya sendiri.

Kerja keras itu bukan soal hasil uang. Tapi soal martabat. Disinilah kamu harus menemukan esensi wudhu martabatmu. Egois namanya ketika kamu mempertahankan untuk ingin dikenal sebagai orang yang paham, sementara kamu melalaikan izzah martabat. Tapi kentut kamu, kalau atas nama izzah martabat kamu memilih mengesampingkan kenaifan sosialmu sebagai atas nama orang yang paham.

Lalu dimana batas antara keduanya? Batasnya di wudhu ruhani. Kalau wudhu jasmani gampang mengidentifikasi kamu sudah batal apa belum, kentut batasnya. Kalau wudhu ruhani?

Kita akan mendapati orang seperti Pak Khotib. Yang oleh karena senioritas usianya, ia merelakan diri dianggap sebagai orang yang tidak paham. Walau pada aslinya paham. Beda dengan kita, yang masih butuh menunjuk-nunjukkan pemahaman kita demi diakui sebagai orang paham. Kuwatir dianggap sebagai orang tidak paham.

4/27/15

Jelajah Malut

Tidore, gambarnya ada di lembaran uang pecahan seribuan. Ternate, lima abad yang lalu penjelajah samudera dari Portugis sudah sampai disana memburu rempah-rempah. Dua pulau yang terletak di Propinsi Maluku Utara ini adalah pilihan destinasi untuk traveling berikutnya.

Akan menjadi sebuah perjalanan yang lengkap : wisata air, wisata pegunungan, wisata kebudayaan Indonesia Timur dan wisata sejarah. Aku menghitung setidaknya butuh waktu seminggu minimal untuk bisa berpuas diri menjelajahi seserpih kekayaan Nusantara kita ini.

Perjalanan diawali dengan berburu tiket menuju Pulau Ternate. Tiket Garuda Indonesia dirrect Jakarta-Ternate bisa jadi pilihan. Cukup dengan merogoh kocek empat jutaan, sudah bisa menikmati penerbangan langsung dari Indonesia Barat menuju Indonesia Timur dengan waktu tempuh lebih kurang tiga setengah jam.



Setiba di Bandara Sultan Babullah Ternate, aku rencanakan untuk mengambil penginapan disana. Selanjutnya, hari pertama mulai tengah hari aku sudah bisa mulai eksplore Pulau Ternate. Ada banyak pilihan destinasi di Pulau Ternate, diantaranya adalah Keraton Sultan Ternate yang menjadi saksi kebesaran wilayah itu semasa masih berbentuk kesultanan beberapa abad yang lalu. Ada juga Benteng Oranje yang pernah menjadi markas besar VOC. Juga ada beberapa benteng lainnya seperti benteng Tolluko dan Benteng Kalamata yang merupakan peninggalan Portugis.

Setelah satu setengah hari berpuas-puas mengeksplore Ternate, di hari ketiga saatnya menuju Dermaga Bastiong untuk melanjutkan perjalanan ke Dermaga Rum di Pulau Tidore. Ada Istana Sultan Tidore, Pantai Akesahu dan benteng-benteng disana.

Hari ke-4 saatnya menyeberang ke Pulau Halmahera. Di pulau yang berbentuk mini Sulawesi inilah ibukota Propinsi Maluku Utara berada. Sofifi nama kotanya. Cantik kedengarannya.. Kali ini aku ingin bermalam di kota Tobelo di sisi utara pulau ini. Tapi sebelum itu, tak ada salahnya aku memanfaatkan waktu untuk singgah di Kota Sidangoli dan Jailolo terlebih dahulu.

Hari ke-5 dari Tobelo saatnya menuju destinasi selanjutnya : Pulau Morotai. Aku sediakan waktu agak panjang di pulau yang terkenal dengan Sail Morotai ini. Dua malam mudah-mudahan cukup. Pulau di jajaran terluar Nusantara sebelah utara ini berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Selain keindahan pantainya, Pulau ini istimewa karena masih menyimpan jejak peninggalan perang dunia ke-2. Sisa amunisi dan bangkai pesawat di dasar laut bisa disaksikan sambil snorkeling. Pulau ini memang jauh dari Jakarta Ibukota Negara, tapi nyatanya ia mempunyai arti penting pada era perang kemerdekaan dulu.

Setelah memuncaki petualangan di Pulau Morotai, saatnya kembali ke Ternate untuk menuju Bandara Sultan Babullah menuju Jakarta. Sebelum pulang sempatkan untuk mengambil gambar di view point uang seribuan terlebih dahulu untuk kenang-kenangan.

Begitulah rencana perjalanan tujuh hari menikmati secuil keindahan Indonesia Timur. Budget yang dibutuhkan kalau dirinci menjadi begini :
Tiket KA Purwokerto-Jakarta PP : 600.000
Tiket Garuda Indonesia Jakarta-Ternate PP :  3.666.200
Penginapan di Ternate : 300.000
Penyeberangan Ternate-Tidore : 20.000
Penginapan di Tidore : 300.000
Penyeberangan Tidore-Halmahera : 75.000
Perjalanan darat di Halmahera : 300.000
Penginapan di Tobelo : 300.000
Penyeberangan Tobelo-Morotai : 75.000
Penginapan di Morotai : 600.000
Penerbangan perintis Morotai-Ternate : 450.000
Tiket obyek wisata : 250.000
Peralatan Snorkeling : 250.000
Makan : 1.000.000
Souvenir : 1.500.000
TOTAL : 9.998.200

Untuk pembelian tiket pesawat aku pilih dengan Traveloka mobile apps. Kelebihan menggunakan traveloka adalah harga yang ditampilkan didepan merupakan harga final alias harga bayar, jadi tidak perlu was-was. Terlebih keuntungan tambahan kalau menggunakan mobile apps seringkali harganya lebih murah ketimbang diluar.



 

4/20/15

Kalau Indonesia Krisis Pangan

Orang-orang yang tinggal di pulau-pulau kecil di sekitar Madura tidak doyan ikan lele dan gabus. Disana banyak ikan-ikan yang lebih gemuk berisi dan lebih lezat yang saking berlimpahnya jadi tak laku diperjualbelikan. Begitu juga orang di pedalaman papua, ikan bergizi tinggi dibakar dengan singkong aduhai lezatnya.

Di pantai-pantai Kebumen, ada species lucu bernama Utuque (baca : yutuk) atau undur-undur laut yang bisa digoreng krispi, asam manis, saos tiram atau dibikin peyek. Di lereng gunung andong kobis & kentang dijual super-murah kepada para pendaki & peziarah.

Kalau besok-besok Indonesia pimpinan nasional oleng, negara chaos, krisis pangan. Maka penduduk di pelosok masih bisa makan untuk sekedar survive. Makan dari hasil bumi yang tumbuh tanpa dirawat, ikan yang berlimpah tanpa menebar benih.

Mari kita kenali sumber daya alam bekal hidup dari Tuhan yang ada disekeliling kita. Belajar makan wortel, belajar doyan ubi jalar, belajar doyan mengkudu. Agar bisa survive ketika masa sulit datang nanti. Setidaknya menggu sampai Imam Mahdi dibai'at didepan Ka'bah

Berubah Drastis

Apa yang drastis berubah di desa saat ini adalah rasa saling menguatkan saudara. Semangat pro-eksistensi terdegradasi menjadi semangat kompetisi. Saya bersyukur menemukan desa yang masih otentik belum terdegradasi. Kalau banyak orang se-desa sibuk berkompetisi besar2an kulkas, bagus2an keramik. Justru saya berada di lingkungan dimana hampir tidak pernah membicarakan itu belasss...

Bukan cuma tidak membicarakan malah, bahkan saya harus berpikir 7 hari 7 malam untuk sekedar ganti gadget. Takut melukai saudara yang lain yang sedang tidak mendapat kesempatan bermewah-mewah dalam hidup.

Tuhan begitu cerdik mengatur skenario, sehingga saya kehabisan alasan untuk mengeluh ketika omzet menurun. Karena disaat yang sama bahkan ada sekeluarga yang puasa berminggu-minggu karena dagangannya tak laku. Dan keluarga itu masih ceria-ceria saja. Sistem sosial yang anomali ditengah penghambaan orang pada tugan kapitalisme. Ditengah zaman mengimani bahwa segelintir orang sah-sah saja meraup untung besar sementara saudaranya hidup kerepotan.

Apa ada seperti itu di Jakarta? Di lepas desa Melati masih ada.

3/23/15

Menikmati Cuti

Cuti ada baiknya diambil. Bagi pegawai, cuti diperlukan untuk menguras sedikit perolehan pendapatannya, agar tidak menumpuk menggunung. Bagi yang bukan pegawai, cuti diperlukan untuk sekedar mengkalibrasi : ini yang sedang aku kerjakan adalah pekerjaan yang sesuai kalibernya atau terlalu remeh atau terlalu besar yah?

Gajah jangan ikut berburu nyamuk, karena nyamuk itu kaliber targetnya cicak yah.

3/20/15

Tahun Test Case

Nenek Asiani di blow up media, oleh kasus remeh temeh 7 batang kayu jati, kasus yang belum seujung kuku hitamnya rekening gendut beberapa minggu lalu. Media sedang menggambarkan seolah-olah di Situbondo tidak ada alim ulama yang hanif atau sekedar konglomerat kaya raya yang baik hati sehingga kasus seremeh itu bisa muncul ke permukaan.

Publik sedang di test, seberapa luapan nurani rakyat setelah disayat kasus memilukan itu. Seberapa rakyat berontak dipertontoni potongan berita yang kental nuansa drama itu. Kalau publik masih tersentuh nuraninya, berarti dosis patirasa nurani akan ditingkatkan lagi.

Ini tahun pertama sang raja baru bertahta, disebutnya tahun test case. Di test dengan harga beras, di test dengan dibuat seolah-olah kasus terorisme ISIS tak bisa ditangani militer kita, di test dengan pemerkosaan harga BBM, di test dengan polemik hukuman mati, dan test-test lainnya.
Lantas, apa selanjutnya setelah test?

Bank Komunitas

Dollar menguat menembus 13.000. Ini masa sedang mengajak kita regresi pada situasi 17 tahun yang lalu. Tak beda komentar sang pejabat antara sekarang dan 17 tahun yang lalu : walau Dollar menguat tapi tak masalah karena fundamental ekonomi kita masih bagus.

Jelaslah kalau fundamental ekonomi bangsa kita masih bagus, karena yang fundamental bagi bangsa kita sejatinya bukan uang. Yang fundamental adalah personal happines & community strength.
Yang sang pejabat maksud fundamental ekonomi itu kalau masih dipikirannya adalah uang, maka sang pejabat itu hanya sedang berfantasi berhalusinasi. Bangsa ini survive hingga hari ini bukan karena fantasi sang pejabat yang indah itu. Tapi karena masih meletakkan fundamental ekonomi pada empan papan-nya.

Sistem permodalan komunitas (sisdaltas) adalah hal yang fundamental untuk segera dibangun secara sungguh-sungguh. Dia berupa bank atau bentuk lembaga keuangan lainnya yang berfungsi tertutup bagi tiap-tiap komunitas. Dia menjalankan perang Bank ditengah para Bank kini sedang sibuk menjalankan peran pegadaian.

Lembaga sisdaltas tidak sibuk menagih agunan, karena yang dinilai adalah proposal. Lembaga juga tidak boleh terjebak pada bentuk formal proposal, karena yang dinilai sejatinya adalah personal trust. Personal trust hanya sebuah kepura-puraan palsu, jika tidak didahului dengan gairah paseduluran, hasrat untuk hidup bebrayan.

Lalu bagaimana lembaga Sisdaltas meraup laba? Laba tidak haram diraup, sepanjang tepat pada patrapnya. Pastikan pas, kapan dia menjadi dewa penolong darurat sosial, kapan dia menjadi partner bisnis bagi peminjam.

Dua hal pokok yang musti dicatat :
1. Berfungsilah sebagai bank, bukan pegadaian
2. Berperanlah sebagai sedulur, bukan penghisap

3/9/15

L-22 Sodaqollahul-Adzim

Delapan tahun tiga bulan masa inkubasi sudah selesai. Tahapan panjang membangun cara berpikir agar tidak terhanyut oleh arus mainstream yang salah arah ditutup pada 8 Maret 2015 kemarin. Selang beberapa minggu saja setelah kita berhasil menemukan karakteristik otentik komunitas, L-22 rumah inkubasi kemudian dikosongkan.

Ini waktunya bertransformasi. Kalau kita kemarin diletakkan di lingkungan yang sangat permisif atas abnormalitas cara hidup dan cara berpenghidupan kita, kini harus mulai siap masuk di dunia nyata. Kalau kita kemarin tidak hidup abnormal, maka pertumbuhan keilmuan kita tidak akan segembur hari ini. Itulah kenapa kita ditempatkan di lingkungan yang sangat akomodatif terhadap abnormalitas gaya hidup komunitas kita.

Namun sekarang, kita sudah punya bekal pemahaman yang utuh atas karakteristik otentik komunitas. Bahasa agamanya sudah punya Iman. Sehingga kalau harus berbaur dengan mainstream yang cara hidupnya sememuakkan apapun, pertumbuhan keilmuan kita tidak akan terganggu.

Justru kita menjadi dzolim, kalau pertumbuhan keilmuan kita justru diisolasi untuk internal kita sendiri saja. Saatnya bertransformasi dari era inkubasi, menuju era eskalasi. Mudah-mudahan kita memang sedang menjalani firman dan titah Tuhan yang Maha Benar.


2/3/15

Supra-Melihat

Orang bilang cinta itu buta. Disebut begitu hanya karena cinta tak pernah memakai ukuran mata pandang jasadi kita. Lalu apakah memang cinta benar-benar tidak pake mata, sehingga ia dicap buta?

Ada buta, ada melihat, ada supra-melihat. Apakah supra-melihat itu? Yakni cara kita melihat dengan indera penglihatan yang bukan mata jasadi. Tapi dengan indera penglihatan yang kita pakai saat kita merem, juga saat kita tidur.

Dengan indera 'halus' itulah cinta terukur. Kalau kau tak bisa mengukur cinta, jangan buru-buru menyalahkan cinta. Salahkan dirimu yang tak pernah mengenali cara lensa, pupil dan retina 'halus'mu itu bekerja.

Utilitas Sosial

Berpikir tentang utilitas sosial, bukan ilusi amal. Selama kita tidak mencoba menstrukturkan apa yang sudah kita lalui, kita berkemungkinan untuk selalu mengulang kesalahan yang sama.

Tak tahu mana yang sudah kita dapat, mana yang belum kita kerjakan, mana yang harus ditajamkan, mana yang mesti ditinggalkan. Mana kemanfaatan.hakiki, mana yang cuma romantisme.

Pahala, kesantunan, sikap tawadhu yang dipisahkan dari realitas, kesemuanya pada akhirnya akan berarti menjadi ilusi belaka kok.

Sembilan tahun yang sangat padat sudah aku lalui, pembelajaran hidup serius yang nyaris aku tak pernah bolos. Aku geleng-geleng kepala sendiri, menyaksikan dan mendata apa-apa yang sudah pernah aku kerjakan selama itu. Salout..

Lantas selanjutnya bagaimana? Itu terserah kita.

1/26/15

Apa Setelah Lengser?

Martabat Presiden sudah di titik nadir kerendahan, sudah di titik asfala safilin. Dirongrong wartawan kemana-mana, dicaci maki di medsos lengkap dengan meme ejekan yang beraneka rupa.

Kalau benar beliau hanya bertahan 13 bulan, maka tinggal menghitung jari saja untuk menujunya. Sambil meratapi aset-aset yang dijual murah, deal-deal yang meniadakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Lalu, setelah lengser, apakah kepemimpinan nasional menjadi lebih baik? Siapakah yang bisa menduduki posisi kepemimpinan nasional dan masih dipercaya rakyat bisa membawa ke arah lebih baik? Sang kandidat kalahkah yang sudah mati gaya dengan serentetan tuntutan? Atau yang sudah main kasar dengan diam-diam menggoalkan UU sabotase parlemen?

Pencapaian bangsa paling dekat, belumlah sampai kepada harapan lebih baik itu. Paling jauh, pencapaian bangsa kita adalah menyadari bahwa kita bangsa yatim. Tak punya orang tua dan tak mengakui yang seharusnya dituakan.

1/21/15

Kesurupan Sadar

Orang yang sedang kesurupan dia memiliki jalan pikirannya sendiri. Orang dikatakan kesurupan adalah ketika ia disusupi makhluk halus. Beberapa orang menggambarkan makhluk halus itu berupa tepung atau lebih lembut dari itu, kemudian menyusup ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Namun, beberapa lainnya meyakini proses kesurupan adalah berupa proses disusupi atau diinspesinya sebuah gagasan halus ke dalam jalan pikiran seseorang.

Orang yang sedang kesurupan, ia tidak bisa menjelaskan kesadaran sebelum ia kesurupan. Sementara orang hidup, ia juga tidak bisa menjelaskab kesadaran sebelumia hidup. Jangankan sebelum ia lahir ke alam dunia, saat masih bayipun, akal pikirannya tidak bisa menelusur.

Mungkinkah, hidup ini juga sebuah kesurupan? Kesurupan yang kita akan sadar ketika hidup ini selesai? Mungkinkah saat itu, kita memiliki cara berpikir yang sama sekali berbeda, kemudian bisa mengakses kenangan masa bayi, bahkan masa dalam kandungan?

Susahnya menemukan jawaban itu adalah sama seperti susahnya orang yang sedang tidur dan bermimpi kemudian menyadari bahwa itu mimpi, kemudian bercara berpikir sebagaimana ia bangun. Disinilah kita harus bersikeras bagaimana di dalam gelarab alam semesta mimpi ini, kita bisa bertemu dengan orang yang mampu menginformasikan bahwa kita sebenarnya sedang di dalam mimpi.

Siapakah orang yang mampu memberikan informasi tentang alam bangun, kepada kita saat bermimpi? Cukup cerdaskah kita untuk meyakini kata-kata informan itu? Atau kalau itu tidak masuk akal, apa tidak lebih baik kita melanjutkan kenikmatan mimpi, yang suatu saat nanti akan lenyap seketika kita bangun.

Mau apa nanti ketika kita sudah bangun? Cara berpikir seperti apa yang kita punyai saat itu? Gelap, sama gelapnya dengan saat kita terlelap tidur tanpa mimpi. Sama gelapnya dengan saat kita mencoba mengakses kenangan semasa bayi. Sama gelapnya dengan saat kita mencoba menerka ada apa dibalik dinding batas alam semesta disana?

1/12/15

Sekolah Biasa Saja

Prestasi akademik yang gilang gemilang sedari pendidikan dasar, aku pikir akan menjadi jalanku menjadi seorang profesional muda yang rapih berdasi dengan pendapatan 8 digit setiap bulan. Tapi ternyata tidak, prestasi itu justru hanya mengantarkanku pada sebuah buku di rak sebuah toko buku, judulnya "Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup", karya Andreas Hareva.

Buku yang menjadi tonggak revolusi hidup. Sesudah itu, dunia Personal Development aku kuliti habis2an. Dari Tung Desem hingga Purdi Candhra, Ippho Santosa hingga Ary Ginanjar, Dewa Eka Prayoga hingga Merry Riana. Dari bisnis mindset sampai hypnotherapy. Dari SEFT sampai Fisika Quantum.

Khatam semua itu, bukan penghasilan 9 digit perbulan ternyata yang aku peroleh. Semua itu ternyata cuma pengantar menuju bertemunya aku dengan buku "Sekolah Biasa Saja", karya Toto Raharjo.

Ini menjadi tonggak revolusi hidupku berikutnya. Dekonstruksi total habis-habisan hingga luluh lantak pemahaman-pemahamanku. Ruqyah setiap insepsi gagasan-gagasan yang kadung tertanam di pikiranku.

Transformasi dari personal development menuju community development bukanlah perjalanan linear, tapi senyatanya adalah arah putar balik. Sebuah jalan baru yang menantang untuk dijalani dan diteliti. Entah nanti akan mengantarkanku pada 10 digit perolehan uang atau tidak, aku rasa sih iya.

Hueh, baru kunci-kunci dasarnya saja, sudah membuat otak menyala-nyala.

1/7/15

Hormon Stress

Di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut, iklim Purwokerto harus diakui memang terlalu membuat nyaman daya survive hidup seseorang disini. Dengan kategori sebagai kota ketiga, daya saing bisnispun masih hijau. Karena itulah, kota ini amat diminati oleh kaum pensiunan, yang butuh hanya sibuk nggendong cucu, menggunting tanaman di taman dan jalan-jalan sore ke tepian sawah. Bisakah bisnis dijalankan dengan cara pandang seperti itu? Kalau pegawai bank itu kualitas menjalankan rakaat sholatnya sebagaimana kualitas sholat wajib, karena memang diwajibkan bosnya. Lah, kalau tidak ada yang mewajibkan, apakah berarti kita sah dan merasa sudah berpahala dengan menjalankan rakaat tanpa all out, alakadarnya, mentang-mentang sunnah? Huhhh. Stress!!!!

Mengontrol proyeksi bawah sadar itu lebih sulit dari mengontrol pusat proyeksinya. Mengontrol pusat proyeksi didalam bawah sadar lebih sulit dari mengontrol sekresi hormon yang menstimulasinya. Ah, sepertinya saya kebanyakan sekresi hormon kortisol untuk hal-hal yang melankolistik, makanya stress.

Lalu bagaimana cara mengontrol sekresi hormon? Dia tidak bisa disuruh-suruh oleh perintah sadar kita. Paling banter yang bisa dilakukan adalah mengamati untuk menyadari. Kalau sudah merasa teramati, kalau sudah disadari, hormon akan malu sendiri, kemudian berhenti sekresi.

1/2/15

Arsiran Bayangan Hukum Murphy

Hukum Murphy bolan-balen disinggung di film Interstellar. Bahkan saking mendasarnya, pemain terpenting di dalamnya pun dinamai Murph. Tapi adegan mana yang berkorelasi dengan Hukum Murphy itu? Sampai hari ini masih jadi perdebatan panjang para penontonnya. Dan dengan brengseknya Nolan sang sutradara anteng dengan diamnya.

Hukum Murphy bunyinya begini "If anything can go wrong, it will."

Teorinya cari saja sendiri. Penjelasan yang mudah dari berlakunya hukum Murphy contohnya begini : ketika kita membuat anggaran panitia kegiatan, realisasinya pasti membengkak. Kalau anggarannya pas atau malah lebih, pasti ada penurunan kualitas dari yang seharusnya.

Bingung? Begini, kalau benda 3 dimensi, kubus misalnya, harus diaplikasikan di buku gambar yang 2 dimensi, dia membutuhkan tambahan space untuk kesan 3 dimensi juga arsiran bayangan. Kesan untuk menambah dimensi termasuk arsiran bayangan itulah pembengkakan yang terjadi pada rencana anggaran.

Kubus adalah benda 3D, sementara gambar kubus adalah benda 2D. Proposal rencana kegiatan adalah benda 4D, karena ia berupa kelebatan  rencana dalam benak atau imajinasi, sedangkan kegiatan adalah realisasi imajinasi ke dalam alam real 3D.

Itulah kenapa tingkah polah manusia di bumi selalu saja bikin salah. Karena manusia dalam realitas itu adalah gambar kubus, sedangkan kubusnya sendiri adalah eksistensi manusia dalam dimensi ke-5. Di dalam blackhole, di dalam singularitas, di dalam lautan informasi quantum. Arsiran bayangannya adalah kesalahan-kesalahan yang diperbuat manusia.

Jadi kesalahan itu tidak selalu neraka. Kesalahan itu adalah akibat empiris dari berlakunya hukum Murphy. Sebuah arsir bayangan akibat manusia ke bumi harus downgrade dimensi.

Silahkan cermati sendiri Murph di kamarnya dan kamar Murph di dalam blackhole di film Interstellar. Juga cermati khotib di mimbar-mimbar, yang mensyiarkan perbaikan manusia dengan melalaikan hukum Murphy. Mereka mencoba merobotisasi manusia, mentopengmonyetkan manusia, bukannya memanusiakan manusia.

Begitulah film Interstellar ingin menyampaikan dengan cerdas bahwa manusia itu adalah dzat dimensi 3, juga dzat dimensi 5. Serta film itu dengan cerdas memancing kita untuk menemukan media koneksi internal antara kita (dimensi 3) dan diri kita sendiri (dimensi 5).

Bagaimana mungkin manusia tidak memahami Hukum Murphy, sedangkan Allah adalah Robbun yang memiliki sifat Ghoffur? Silahkan luaskan sendiri hubungannya dengan kenapa kita belum juga bisa membangun ekosistem yang baldatun toyyibatun.

L22,
02 Jan 15

1/1/15

Ahlan Wa Sahlan 2015

Makhluk ciptaan Tuhan yang kita namai sebagai 2015 telah datang, mari kita ucapkan ahlan wasahlan. Makluk bernama 2015 ini merupakan jenis makluk dimensi 4 (waktu). Dia tidak menurut pada hukum titik, garis, bidang maupun ruang yang berturut-turut merupakan atmosfer dimensi 0, 1, 2 dan 3.

Mari kita kirimi Fatihah untuk sahabat baru bernama 2015 ini, semoga bisa kompak dengan kita untuk sama-sama menuju Allah, tidak malah mbondokalani. Dan walaupun kita terbatas untuk mengenali perangai dari sahabat baru kita ini, karena di sekolah kita tidak diajari pengetahuan anatomis, morfologis maupun fisiologis tentang makhluk berdimensi 4, tapi tetap sebisa-bisa kita coba untuk mengenalinya.

2015, tanggal 1 Januarinya bertepatan dengan tanggal 10 Maulid 1436 menurut perhitungan Hijri Lunar Calender (Qomariah). 1 Januari sendiri merupakan sebutan menurut Gregorian Solar Calender. Day of Masehi nya adalah Kamis, Day of Javanya adalah Kliwon. Asapon Kalendernya bersamaan dengan 10 Mulud tahun 1948 atau disebut taun Ha'. Neptunya (Sum of day & date of Java) berjumlah 16. Ini merupakan hari ke-16 kita memasuki Mangsa Kapitu. Mangsa Kapitu sendiri akan berumur 42 hari.

12/28/14

Memilih

[Tulisan Lama]

Jadi anak muda itu tidak usah sok 'nyufi'. Makan nggak habis, ya nggak apa-apa. Semangat komunalisme ketika berkelompok tinggi, ya nggak apa-apa. Tidak menepati janji, ya nggak apa-apa. Jangankan tidak menepati janji, tidak berusaha menepati janji juga nggak apa-apa.

Jangan, tidak perlu, tak usah stress mencari surga, surga sudah ada sejak disini, dihamparan padang hijau, bilik tidur yang bagus, air hangat, angin sepoi-sepoi dan dibawahnya mengalir air ke danau.

Nikmati saja kesempatanmu memilih. Kalau kau berbuat baik, itu semata-mata hanya karena kau menyadarinya. Sebagai sebuah pilihan, bukan karena larangan dari siapapun. Karena kadang kita cuma punya dua pilihan : berbuat salah atau tidak berbuat.


Sawangan Golf & Resort,
30 Okt 2011

Do Not Go Gentle Into That Good Night

Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Good men, the last wave by, crying how bright
Their frail deeds might have danced in a green bay,
Rage, rage against the dying of the light.

Wild men who caught and sang the sun in flight,
And learn, too late, they grieved it on its way,
Do not go gentle into that good night.

Grave men, near death, who see with blinding sight
Blind eyes could blaze like meteors and be gay,
Rage, rage against the dying of the light.

And you, my father, there on the sad height,
Curse, bless, me now with your fierce tears, I pray.
Do not go gentle into that good night.
Rage, rage against the dying of the light.




Interstellar features this classic poem by Dylan Thomas.

12/9/14

11 Generasi

Durriyah tidak penting diketahui oleh peradaban modern, karena yang penting adalah cari penghidupan, amankan penghidupan. Durriyah dalam bahasa science terkait erat dengan genetika, menaik ke atas berarti leluhur, turun temurun ke bawah berarti anak cucu. Memutuskan dengan siapa aku beristri, berarti bagian permulaaan untuk menulis durriyahku ke depan. Allah tak punya alasan untuk menghambat-hambatnya.

Baiklah aku memulai dengan menulis durriyah ke belakang dulu, ada banyak jalur, aku ambil satu jalur dulu. Aku, lalu bapakku bernama Purwaji bin Pawijaya, ibuku Nuning Resdiana binti Muhammad Yasir.

Ibunya ibuku bernama Siti Fatonah, dimakamkan di Tanggeran, disamping makam ayahnya H. Muhammad Muchsin. Bapaknya lagi bernama H. Hasan Bisri (San Besari), Pengulu Landrat Kadipaten Banyumas, dimakamkan di Dawuhan.

Ayahnya bernama Kyai Mustahal, dimakamkan di Kalimanah, Purbalingga di kompleks Masjid Mustahal. Ibunya dijuluki Nyai Masech 2, Ibunya lagi disebut Nyai Masech 1.

Ayahnya bernama Kyai Mutasim, atau Embah Kalimanah, dimakamkan di Kalimanah, Purbalingga. Ayahnya lagi bernama Mbah Hasanuddin, sumareh di Dawuhan berdekatan dengan makam besannya yakni Kyai Ageng Sulaiman, Khatib Masjid Ageng Nur Sulaiman pertama yang merupakan ayah dari Nyai Mutasim.

Mbah Hasanuddin merupakan anak dari Syech Abdussomad (Mbah Jombor) yang makamnya ada di Cilongok. Demikianlah 11 generasi durriyah yang mendahului didepanku.