Apa ini arti dari 30? Kok sekarang banyak hal tidak tahu kemana tempat bercerita & berbaginya.
Overload? Atau memang ini bagian dari cara menanggalkan obsesi.
Nggak kejadian, nggak patheken! Wes, gitu saja lah.
Apa ini arti dari 30? Kok sekarang banyak hal tidak tahu kemana tempat bercerita & berbaginya.
Overload? Atau memang ini bagian dari cara menanggalkan obsesi.
Nggak kejadian, nggak patheken! Wes, gitu saja lah.
Semakin kamu merasa jadi terdakwa atas kegagalanmu menemukan sejolimu, semakin itu terjadi, semakin bersyukur saja kamu.
Itu tandanya masih banyak orang-orang yang memperhatikanmu.
Memang bagi sebagian orang menikah adalah prestasi. Sesuatu atas yang mereka capai atas jerih payahnya sendiri. Lupa ada mawadah & rohmah-Nya yang padahal keduanya bekerja lebih dominan.
Oleh mereka, orang-orang yang belum menikah dianggap belum berprestasi. Lebih parah, orang-orang gagal.
Sungguh membuat depresi sosial memang statement-statement mereka. Tapi kembali pada postulat pertama : itu bentuk perhatian mereka kok.
Mending perharikan postulat kedua ini : Kamu boleh menentukan siapa sejolimu atas dasar apapun. Entah dasar kamu sreg, dasar kamu merasa sudah tiba waktunya, dasar takdzim pada yang memperkenalkan, dasar wangsit mimpi, atau apapun saja dasarnya.
Asalkan jangan atas dasar yang satu ini : atas dasar kamu mengalami depresi sosial. Depresi oleh umpatan, cemooh, bully-an orang-orang disekelilingmu.
Kalau itu alasanmu membuat keputusan. Hasilnya nanti tidak bagus.
Sebab kamu tidak benar-benar sedang membangun masa depan. Tapi, kamu hanya sedang berupaya menyelamatkan citra dirimu sendiri.
Biarlah kamu dicap belum berprestasi, dianggap orang gagal, terlalu idealis, terlalu banyak cing-cong, rumit, atau apapun saja.
Tutup kuping saja, sambil senyam-senyum.
Bangun masa depanmu dengan pijakan yang baik sedari awal.
Pernah di suatu masa aku mengidap fobia. Fobia kayaraya.
Kayaraya itu menakutiku. Sebab, ketika kita kayaraya sudah, yang kamu butuhkan semua menjadi tercukupi sudah.
Tak ada lagi yang kamu perlukan, tidak juga aku.
Ah, apa iya fobia itu hari ini belum hilang?
Tak mengapa kok sekarang kayaraya. Tak mengapa aku tak dibutuhkan.
Toh, aku akan punya duniaku sendiri.
Kalau 'firasat' tak masuk logika, bukan sebab ia tak ilmiah. Tapi sebab ia adalah jenis informasi quantum. Jenis informasi lima dimensi.
Kalau 'sreg' itu susah dicari, tanyakan lagi apa memang benar-benar susah? Atau susah sebab sulit-mudahnya dalam mencari, kita kadung bermental search engine.
Padahal dia adalah artefak masa lalu. Sesuatu yang pernah berjodoh di waktu sebelum dunia. Yang terselip diantara jutaan peziarah Arafah.
Terbayang betapa susahnya kamu menemukannya seorang diri, kalau tidak dipandu oleh kecenderungan mawadah-Nya, juga oleh kemurahan rohmah-Nya.
Kalau belum 'sreg' jangan dipaksakan. Mereka yang membully adalah orang-orang amnesia yang tak perlu di dengar. Amnesia bahwa proses mereka dulu 88% sebab kerja mawadah dan rohmah-Nya. Amnesia merasa semua itu hasil pencapaiannya sendiri.
Biasanya masalah-masalah itu berupa letupan, ditiup sedikit saja hilang, selesai.
Tapi di penghujung tahun ini, masalah nampak seujung kuku, tapi didalamnya ternyata menghujam sebesar bongkah gunung es.
Masalah-masalah apa saja, jangan buru-buru menyelesaikan. Tapi buru-burulah menemukan hujaman ke kedalamannya.
Jangan sampai salah memperkarakan masalah. Sebab masalah yang sebenarnya justru tersembunyi di kedalaman.
Semoga di kedalaman kita menemukan mutiara, untuk digenggam memulai langkah tahun yang baru.
Seorang saudara jauh datang hendak menyambung silaturahmi. Ia menyebut niat kedatangannya dengan istilah 'Nglari'.
Sebagaiamana anak kebanyakan di jaman ini, kosakata 'Nglari' sungguh undefined di pikiranku.
Ya, sebab sekarang api sebegitu mudahnya dibuat. Selain korek cuncek, korek gas dan aneka teknologi perkorekan berkembang demikian pesat.
Berbeda dengan jaman dulu. Ketika orang hendak membuat api, ia harus menyiapkan klari atau daun kelapa kering di para-para penyimpanan kayu bakar yang ada di dapur. Klari lalu di bawa ke dapur tetangga terdekat yang sudah terlebih dahulu membuat api.
Jadilah ia sukutkan klari kepada api pawon di dapur tetangganya itu untuk menyalakan api di dapurnya sendiri. Setelah menyala, api baru seolah punya nasab, hasil 'Nglari' dari tetangganya itu. Maka tak heran, ikatan nasab atas api membuat masakan yang matang dari atas pawon miliknya akan sampai punjungannya ke tetangga yang telah sudi apinya disuluti klari tadi.
Harmony sekali peradaban menjadi.
Hidup itu futuristik. Di dalam hidup, kamu bisa melihat warna, merasakan gerak, meraba tekstur, membau rasa.
Semua itu serba canggih dan so sophisticated. Sebuah koordinasi faali tingkat tinggi antara indera sebagai responder, syaraf menghantarkan dan otak mengerjakan setiap asa.
Previllage ini kelak ada batas waktunya. Kita tak bisa mengerjakannya lagi.
Meskipun setelah previllage ini dicabut, kita dijanjikan untuk bisa mendapat peluang previllage yang lebih, lebih dan lebih dari yang sekarang bisa kita peroleh, tapi bukan berarti kita tidak rugi jika kita tidak mengagumi dan menikmati previllage yang diberikan Tuhan hari ini.
Menakjubkan sekali hidup ini.
Tahun Wabal hampir sampai penghujungnya. Sebuah siklus 17 tahunan. Juga siklus dari rentang yang lebih luas.
Kasyful hijab, tersingkap, telanjang semua.
Rasa-rasanya sudahlah, paling aman banyak-banyak waktu habiskan dengan keluarga saja.
Menjaga diri dari sapuan elnino kutukan.
Mbak Dwi itu dibilang nggak punya, tapi punya. Dibilang punya, tapi nggak punya.
Sepertinya dia orang kaya, tapi minumnya bening, mau ngleseh bahkan ndlosor.
Sepertinya dia orang nggak punya, tapi pengalamannya kemana-mana. Dan tak pernah membuat repot siapa-siapa.
Mbak Dwi itu sempurna menutupi kekayaannya, dibalut citra bersahaja. Ia juga sempurna menutupi ketidakpunyaannya, hingga tak ada ruang untuk berbelas iba.
Didatangi peminta-minta sebab kaya itu ngga enak. Dikasihani sebab nggak punya, lebih ngga enak. Mbak Dwi aman dari kedua situasi itu.
Wudhu dengan setengah gelas air mineral. Wow. Spektakuler.
Workshopnyapun ramai digelar di banyak kajian-kajian.
Pertanyaannya? Perlukah? Sedangkan ada S.O.P untuk tayamum ketika air langka/minim?
Kalau di Barat atau Timur Tengah mungkin teknik ini perlu, karena memang di sana air mahal. Bahkan saking bernilainya air, di Barat air hanya untuk makan dan minum, pamali dipakai cebok.
Tapi mungkin yang paling aplikatif adalah ajakan untuk hemat air saat ber-wudhu, itu sudah cukup. Tidak harus sebegitunya setengah gelas lah. Kalau memang air ae-langka itu, bukankah lebih baik disimpan untuk cadangan air minum saja?
Setuju dengan kata-kata Rendra ketika ia memerankan Samin Surasentika: Bisnis itu tukar menukar kebutuhan.
Ya, itulah praktek paling konvensional dalam bisnis. Kebutuhan ditukar dengan kebutuhan, nilai tambah ditukar dengan laba.
Beranjak sengit orang bersaing dalam bisnis, kemudian bisnis berubah definisi menjadi adu iklan, lomba promosi.
Lebih expert lagi, kemudian definisi bisnis berubah menjadi unggul-unggulan modal.
Terus berkembang, bisnis kemudian menjadi dulu-duluan informasi. Di sini, keberadaan koneksi menjadi penting.
Pada tingkat lebih megahnya, bisnis adalah bagaimana deal-dealan dibalik meja. Entertain menjadi mendesak keberadaannya.
Dan pada puncaknya, bisnis adalah menundukkan regulasi. Pada level ini, bahkan sumber daya alam dan cabang produksi pokok saja bisa dikuasai.
Di atas puncak ternyata masih ada puncak. Apa itu? Bisnis adalah menghutangi pembuat regulasi, sehingga mereka bertekuk lutut sempurna. Sebenarnya praktek ini tak beda dengan praktek pembelian ijon yang dialami petani kelas bawah.
Sekarang pilihan di tanganmu, mau sukses bisnis yang seperti apa?
| Vihara kecil di depan pertokoan |
| Masjid Agung Pattaya |
| Tuk-Tuk |
| Kota Sattahip |
![]() |
| Aksara Thailand |
| Jeepney |
| Moslem Town |
| National Museum |
| Naik Bentor |
![]() |
| Halte LRT |
Kamu itu masih berasa di umur obsesif. Tapi kenapa takut berobsesi?
Takut obsesimu gagal? Bukan dauntless namanya itu.
Takut dianggap orang obsesif? Bukan candor itu berarti kamu.
Merasa obsesimu tidak akan menjadi kemanfaatan bagi banyak orang? Bukan abnegation kalau gitu.
Nggak bisa menghitung, menakar, mengejawantahkan obsesimu dalam manajemen? Tanda bahwa kamu bukan Erudite.
Atau bahkan kamu mengalami confused di dalam dirimu sendiri tentang apa itu obsesi & bukan obsesi? Tidak Amity kamu.
Lahirku ingin kaya yang raya. Bukan cuma ingin malah, tapi berjuang mati-matian. Tapi jangan-jangan, diam-diam batinku terobsesi sebaliknya: Mbok, kalau bisa jangan sampai kaya.
Apalagi raya, kaya saja sudah mencemaskan. Aku menjadi sepertinya tak butuh tawaran bantuan siapa-siapa lagi kalau uangku sudah tak hitungan banyaknya.
Nasibmu yang silau oleh iming-iming adalah terbeli. Sementara nasibmu yang berhasil tidak silau, tapi gagal membikin manajemen adalah ketungkul.
Manajemen! Kecuali kamu penikmat ratapan nasib.
| Derawan Island |