9/4/14

Komite Hijaz

Dua puluh lima tahun setelah runtuhnya kerajaan turki, Keluarga Ibnu Su'ud dibantu Muhammad bin Abdul Wahab mendirikan kerajaan saudi. disini awal mula ajaran wahabi yg konsern "memurnikan" ajaran islam mulai gencar.

Ajaran anti bidah ini melarang segala ibadah yg tidak ada di zaman Rosul. nuzulul quran, maulid nabi, halal bi halal, ziarah kubur, dlsb. situs2 bersejarah di sekitar kabah dihancurkan. tempat lahir nabi, rumah khadijah, gapura depan kabah, dlsb, semuanya diratakan dgn tanah. setelah itu situs2 sejarah di madinah juga mulai di hancurkan. makam 150 syuhada sudah tidak ada.

Ulama2 indonesia di pimpin mbah hasyim membentuk komite hijaz dan mengirim utusan ke saudi dengan membawa sepucuk surat.
1. selamat atas berdirinya kerajaan saudi.
2. meminta agar dilakukan pergiliran imam masing2 mahzab setiap minggu. ditolak
3. meminta agar seluruh umat muslim di bebaskan menjalankan ibada haji dan umroh sesuai dengan mahzabnya masing2. ditolak.
4. mbah hasyim meminta agar tidak dilakukan pembongkaran makam Rosul.

Mbah hasyim dan komite hijaz sudah menahan kerajaan saud membongkar makam Rosul. belakangan santer lagi berita rencana kerajaan saudi membongkar makam Rosul.[]FIkry

8/9/14

[7wonders] Karisma Pesona Lereng Merapi


Kalau Jogjakarta bagian selatan menawarkan eksotisme pantai, sedangkan Jogja bagian tengah menyodorkan keistimewaan sejarah dan heritage, maka lain lagi dengan bagian utara wilayah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Di bagian utara wilayah salah satu kerajaan Nusantara yang masih lestari ini kita disuguhi karismatiknya panorama dari menjulangnya Gunung Merapi.


Becak melintasi Tugu Landmark Jogjakarta.
Foto oleh : Rizky
Suguhan panorama karismatik milik salah satu gunung api teraktif di negeri kita ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk ditempuh dari pusat kota Jogja. Dengan jarak lebih kurang 27 km dari pusat kota, kita membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk bisa sampai ke salah satu titik di lereng merapi yang bisa kita jadikan titik awal pengembaraan kita memburu pengalaman baru di wilayah atapnya Jogjakarta ini.

Kita bisa mengambil jalan ke arah timur bila kita berangkat dari Stasiun Kereta Api Tugu Jogjakarta, atau sebaliknya kita bisa memacu kendaraan ke barat kalau Kita berangkat dari Bandar Udara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta. Nanti kita akan menemukan ruas jalan bernama Jalan Kaliurang yang pada kilometer 5 dari jalan ini akan berpotongan dengan Jalan Ring Road Utara Jogjakarta. Jalan Kaliurang inilah yang harus kita tempuh untuk menuju kawasan wisata Kaliurang di ketinggian lereng Merapi.
Jalan yang halus dan lebar membentang dari selatan ke utara ini cukup nyaman untuk ditempuh. Sesekali mungkin tersendat kalau ada lampu merah dan juga ketika sudah sampai di gerbang masuk kawasan wisata untuk mendapatkan tiket masuk. Ada beragam destinasi yang bisa kita pilih, untuk sekedar rekreasi ringan, disana tersedia Taman Rekreasi Kaliurang, Gardu Pandang dan Taman Nasional Gunung Merapi yang didalamnya terdapat obyek wisata Tlogo Putri, Hutan Wisata, Goa Jepang serta beberapa lagi lainnya. Sedangkan bila kita menginginkan petualangan, tersedia disana paket Lava Tour, berpetualang seru menaiki mobil jeep. Lain lagi bila ingin mendapatkan pemahaman edukasi, kita bisa mengunjungi Merapi Volcano Museum serta ada juga Ullen Sentalu Museum.

Foto oleh : Rizky
Di dalam Taman Nasional Gunung Merapi.
Foto : Rizky
Gardu Pandang Merapi.
Foto oleh : Rizky
Udara segar fresh from the leaf yang baru diproduksi oleh keanekaragaman tumbuhan bisa kita nikmati sepuasnya di Taman Nasional Gunung Merapi. Sambil memanjakan mata kita dengan panorama puncak gunung merapi yang bisa kita saksikan dari jarak yang relatif dekat. Dan juga perut kita jangan sampai terbengkalai, maka dari itu sambangilah penjual gudeg, makanan khas Jogja yang banyak menggelar dagangannya disana. Gudeg adalah seporsi makanan yang mengenyangkan, terbuat dari kethewel , yakni nangka yang disayur dengan teknik masak khusus, ditambah sepotong telur, siwiran ayam serta tidak boleh ketinggalan krecek dan kethek yang membuat makanan ini semakin nyammi untuk disantap. Kita juga bisa menambahkan rempeyek kalau ingin mendaptkan sensasi krancy-nya.

Setelah puas menyantap panorama dan melahap gudeg, kita bisa segera merapat ke basecamp lava tour untuk segera mengantri memesan jeep petualangan. Ada beberapa paket tour yang ditawarkan dengan kisaran biaya 300ribu rupiah kita bisa menaiki jeep bersama tiga hingga 5 kawan kita. Kendaraan ini siap mengantarkan kita off-road untuk menjelajahi sisa erupsi merapi yang terjadi tahun 2010 lalu. Diantara destinasi yang dituju adalah daerah Kali Kuning, Kali Adem, Kinahrejo dan beberapa destinasi lainnya.

Menjelajahi kawasan pasca erupsi Merapi seolah-olah kita diajak untuk mengumpulkan puing-puing pesan kehidupan dari bencana memilukan yang pernah melanda daerah ini beberapa tahun yang lalu. Salah satunya adalah pesan bahwa kita hidup tidak sendiri, kita hidup bersama berdampingan dengan alam. Manusia memiliki watak, alampun punya watak. Watak yang sebaiknya kita kenali, kita akrabi, sehingga kita tidak kaget oleh siklus si alam, juga tidak membuat “kesal” si alam, karena kita tidak mengenal alam dengan baik.


Jeep Wisata Merapi.
Foto oleh : Rizky
Foto oleh : Rizky
Salah satu destinasi petualangan lava tour adalah mengunjungi Desa Kinahrejo, tempat dimana sosok fenomenal Mbah Marijan kini hanya bisa kita saksikan petilasan bekas rumahnya saja. Mengenang beliau, kita akan dapat menggali banyak pelajaran hidup. Sosok juru kunci gunung merapi yang santun dan bersahaja ini adalah seorang muslim yang taat. Kegiatan sehari-harinya adalah mendiami rumah yang menjadi basecamp pendakian Merapi, di rumah ini para pendaki lapor mencatatkan diri, di rumah ini para pendaki dapat istirahat sambil berbincang santai mengenal Merapi untuk menambah bekal pengetahuan mereka dalam mendaki. Mbah Marijan rajin ke Masjid yang tidak jauh dari rumahnya untuk menjalankan sholat lima waktu sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhannya.

Mbah Marijan bukan orang sakti, ia hanya orang biasa yang memiliki karakter yang luhur serta berusaha menjaga alam dengan sebaik-baiknya. Setia pada tugasnya, tidak takut mati. Ketika gejala erupsi melanda, warga disekitarnya dipersilahkan turun, sementara dirinya tetap tenang di atas dan bersikukuh tidak mau turun karena bukanlah sikap ksatria jika beliau turun sementara masih ada warganya yang tinggal di atas. Beliau juga mengajarkan kesantunan bersikap kepada alam, beliau mengajarkan sebutan “Merapi sedang membangun”, bukannya “Merapi sedang meletus”. Beliau juga mengajarkan untuk tidak menyebut luncuran awan panas dengan sebutan binatang, wedhus gembel misalnya. Begitulah penghormatan Mbah Marijan kepada alam dan kepada tugasnya. Hingga diakhir hayatnya, jasadnya ditemukan dalam posisi sujud kehadirat Ilahi.

Kini bekas rumahnya bisa kita saksikan sebagai sebuah museum sederhana, didepannya dibangun tourist information dan outlet merchandise. Di Kinahrejo kita juga bisa menyaksikan sisa bangunan, rongsokan mobil dan tulang belulang hewan ternak akibat dampak erupsi yang menimpa desa tersebut.

Pasca erupsi, kini masyarakat lereng Merapi mulai menggeliat kembali. Lahan pertanian yang bertambah subur mulai menghijau kembali. Pasir muntahan Merapi dengan kualitas tinggi tidak habis-habisnya dikeruk, saking banyaknya. Ditambah lagi dengan menggeliatnya sektor wisata minat khusus, yang sedikit banyak memberikan dampak bagi warga untuk ikut mengais rezeki.

Kalau ingin lebih lengkap mengetahui tentang bekas luncuran lava erupsi dan pengetahuan tentang kegunungapian lebih lanjut, selanjutnya kita bisa menuju ke Merapi Volcano Museum. Sedangkan untuk melengkapi pengetahuan kita tentang sejarah dan heritage Jawa, kita bisa menuju ke Ullen Sentalu Museum, sebuah museum yang cukup eksklusif dibanding museum pada umumnya di Indonesia. Museum ini cukup percaya diri memasang tarif hingga lima kali lipat dibanding tarif museum di Indonesia pada umumnya.

Lengkaplah sudah penjelajahan kita di lereng Merapi. Berderet-deret villa dan hotel tinggal kita pilih untuk kita beristirahat melepas lelah disana. Tinggal pilih villa atau hotel bergaya modern atau tradisional, murah atau mahal, ada spa dan kolam renang atau cukup hanya bed dan breakfast saja.## 

8/4/14

Itinerary Expedisi Napak Tilas Islam Nusantara jilid I

Hari ke-1 
- 14.00 Berangkat dari Purwokerto
- 19.00 Tiba di Yogya
- 20.00 Mocopat Syafaat

Hari ke-2 
- 04.00 Meninggalkan Yogya
- 11.00 Tiba di Malang, Istirahat
- 15.00 Sarasehan dengan Ki Agus Sunyoto*
- 22.00 Meninggalkan Malang

Hari ke-3 
- 00.00 Tiba di Jombang
- 02.00 Sentana Arum
- 11.00 Tebu Ireng, Sholat Jumat
- 13.00 Meninggalkan Jombang
- 17.00 Tiba di Bangkalan
- 18.00 Syaikhona Kholil
- 21.00 Batu Ampar
- 22.00 Menuju Sumenep

Hari ke-4
- 01.00 Tiba di Masjid Agung Sumenep
- 07.00 Sarasehen dengan Husen Satriawan
- 08.00 Menuju Kepulauan Kangean
- 14.00 Tiba di Kepulauan

Hari ke-5 
- 14.00 Meninggalkan Kepulauan
- 22.00 Tiba kembali di Madura

Hari ke-6 
- 05.00 Meninggalkan Madura
- 09.00 Tiba di Ampel, Surabaya
- 13.00 Meninggalkan Surabaya
- 23.00 Tiba kembali di Purwokerto

Untuk informasi lebih lanjut, email : 12.izky@gmail.com

7/12/14

Ribut dan Anteng

Kita sedang menyaksikan dua rumah tetangga di kanan dan kiri kita. Rumah tetangga sebelah kanan isinya ribut melulu. Konon, mereka ribut karena salah satu diantara mereka ketahuan selingkuh.

Sementara itu rumah sebelah kiri tampat anteng (tenang). Konon, mereka tenang karena diantara mereka sudah saling ketahuan sama-sama selingkuhnya.

Begitulah Cak Nun mengilustrasikan dagelan politik Indonesia saat ini saat pisowanan di Kraton Ndalem Kadipiro di hari pencoblosan tanggal 9 kemarin. Sayangnya, Ia tidak menjelaskan persis detail maksud dari ilustrasi itu.

Akan tetapi kalau melihat situasi saat ini, aku punya terkaan gambaran kedua rumah itu adalah gambaran dua kubu yang sedang sabung capres saat ini.

Kubu satu tampak sering aksinya kontroversial kelihatan tidak kompaknya, sementara kubu yang satu adem ayem diem-diem meng-goal-kan revisi UU.

Owalah, bangsanya siapa si buat plarakan?!!

7/6/14

Melihat Keindonesiaan di Nederland

Tram, kendaraan sepanjang 3 bus pariwisata digandeng yang melaju di atas rel melintasi dalam kota adalah hal baru buatku. Haltenya ada berselang 5-10 menit, armadanya susul menyusul tiap 10-20 menit dari dini hari sampai tengah malam. Tarif normal untuk 'One hour card' adalah EUR 3, sedangkan untuk sekali naik adalah EUR 1,1. Tapi kalau membeli tiket 'One day card' cukup EUR 6,5.

Tram sesungguhnya bukan hal baru di Indonesia. Menurut cerita yang dituturkan Mas Miko dan koleksi dokumentasi Banjoemas.com, komunitas sejarah & heritage yang ia bina dan aku ikut2an nimbrung di dalamnya, tram ini sudah ada di Indonesia pada masa pendudukan Hindia-Belanda dulu. Bukan hanya di Batavia, bahkan di Purwokerto pun ada, salah satu jalurnya melintasi Pasar Wage.

Sebuah tram melintas didepan hotelku. Membayangkan ini di Pasar Wage. Oho..
Bedanya, tram yang merupakan kendaraan ramah lingkungan, tidak bising, antimacet itu berkembang di kota-kota di Nederland tetapi punah di Indonesia. Karena tram yang disupport oleh buskota berkembang, maka mobil menjadi tetap tersier, tidak menjadi kebutuhan primer seperti disini. Jarak dari halte ke rumah kalau jauh, cukup dikayuh dengan sepeda onthel. Maka, menerapkan tarif parkir tinggi hingga EUR 4 per jamnya dan pajak mobil EUR 200 per bulan, tidak menyulut pergolakan warga disana.

Diantara belasan museum kereta api dan tram yang tersebar di belasan kota, aku hanya sempat mengunjungi museum tram di Horn. Sayang, karena waktu yang terbatas, saya tidak sempat mencicipi naik tram kuno disana. Mungkin ada diantara koleksi tram yang ada, adalah jenis tram yang berkembang di Indonesia pada masa negeri ini diperintah oleh Ratu negeri Kincir Angin ini dahulu.

Sebuah Kereta Intercity berhenti di Stasiun Amsterdam Centraal
Kereta api berkembang dengan pesat di Nederland, ada sprinter yang merupakan kereta jarak pendek, ada intercity, yakni kereta antar kota dan ada juga kereta cepat, diantaranya namanya Thalys & Fyra. Ada 'wifi on de trein' juga loh kecuali untuk sprinter. Pesatnya perkembangan kereta api di Nederland, mungkin sama dengan pesatnya perkembangan kereta api di Indonesia selama sekitar se-abad sebelum kemerdekaan. Banyaknya jalur rel dan perusahaan kereta api swasta beroperasi di Indonesia, baik untuk kebutuhan penumpang maupun barang, yang akhirnya pasca kemerdekaan rel memendek perlahan demi perlahan, terus memendek hingga saat ini. Miris.

Beralih ke soal air, negeri ini kini menjadi rujukan penaklukan air bagi negara-negara di seantero jagad. Negeri yang 60% daratannya berada dibawah permukaan laut ini sudah setengah abad lebih tidak menjumpai banjir. Dam atau bendungan dengan sistemasi yang fungsionable tersebar dimana-mana. Aku hanya sempat menghampiri tanggul pinggir pantai di Volendam, selebihnya aku menonton berbagai miniatur terknik pengaturan air di Taman Mini Madurodam.

Tanggul di tepi laut, Volendam

Miniatur bendungan dan sistem pengairan terpadu di Madurodam, bisa untuk belajar anak-anak
Maka kalau kata Jokowi, untuk mewujudkan pembukaan sawah baru 2 juta hektar seperti obsesi Prabowo kita butuh siapkan airnya dulu, rasa-rasanya kita harus mengesampingkan malu belajar kepada negeri yang pernah menjajah kita. Tak bisa dipungkiri, pemerintahan Pra-Orde lama sangatlah produktif dalam hal penciptaan sawah. Bendungan-bendungan, irigasi-irigasi bikinan Belanda di negeri ini banyak yang masih bisa kita jumpai hingga saat ini.

Penataan saluran air yang smart, sehingga dibawah kalipun masih bisa dibuat ruang tinggal
Kok bisa, mereka yang katanya menjajah tapi meninggalkan warisan infrastruktur, sedangkan sekarang yang ngakunya memerintah kok isinya meninggalkan bangunan-bangunan mangkrak saja. Sebabnya sederhana, Penjajah membangun dengan orientasi jangka panjang, sedangkan pemerintah membangun dengan orientasi proyek.

Indonesia impor daging sapi, udah impor tapi harganya 2x lipat dari negeri jiran, itu bukan soal kita tidak bisa membangun peternakan, tidak bisa mengairi rumput. Tapi soal proyek dan soal mafia kok. Begitu pula Jakarta yang katanya mustahil bebas banjir, loh kok bisa fatalis begitu, orang Jakarta masih diatas permukaan air laut kok.

Balik lagi ke Nederland, berikutnya aku terkesan pada perilaku warga yang 'njawani' disana. Diantaranya, pejalan kaki begitu dihormati, kalau ada orang mau menyeberang, mobil mengalah, bukannya klakson-klakson bikin bising. Trotoar juga leluasa untuk menjelajahi kota dengan berjalan kaki.

Kemudian budaya family-time, dimana waktu untuk keluarga yang membudaya disana adalah memasak dan makan bersama dirumah, bukannya makan diluar. Pantas saja, jarang aku menjumpai resto keluarga, banyakan bar dan cafe. Pekerjaan rumah juga menjadi urusan pemilik rumah, bukan semata-mata pembantu. Taman-taman yang sederhana tapi apik di depan rumah-rumah mungil yang aku lihat, ternyata itu dirawat oleh istri-istri saat mengisi waktu menunggu suami pulang kerja. Ya, kalau mau mempekerjakan tukang kebun disana harus siap merogoh kocek EUR 10 perjamnya.

Dan yang 'njawani' lagi disana adalah banyaknya penduduk Suriname dan keturunannya, yang mereka faseh berbahasa Jawa, walau tak bisa bahasa Indonesia. Asik berbicara dengan mereka, bahasa Jawa yang entah Banyumasan, Tegal, Solo, Semarang mbuh campur-campur ra nggenah. Hahah.

Berpose didepan Merah-Putih-Biru
(Untung nggak bawa gunting, jadi nggak bisa merobek birunya. Hehe)
Tentang keindonesiaan di Belanda, aku perlu berkunjung lagi sepertinya, kemarin hanya menemukan pintu-pintunya saja, belum menjamah lebih dalam. Selain disebutkan di atas, ada Masjid Indonesia di Belanda dan ada jejak-jejak pejuang kemerdekaan di Leiden yang nanti aku buat di tulisan lain. Sedangkan tentang National Archieve di Den Haag dan lembaga riset KITLV yang banyak menyimpan data riset mereka tentang Indonesia, belum bisa aku tulis, karena aku belum kesana.

Ah, masih butuh petualangan panjang untuk mengobati kerinduan menemukan Indonesia yang disini hilang, sedangkan banyak masih tersimpan rapih disana.
Bule-bule menari Bali

7/1/14

Mblusukan di Nederland

Koneksi internet bisa menjadi hal yang sangat membantu pada saat ingin menggerayangi negeri ini lebih dalam. Mengenali tempat, mengetahui review obyek, merancang rute dan banyak lagi. Tapi si tidak usah terburu-buru membeli simcard untuk paket blackberry atau internet. Banding-bandingkan dulu lah. Provider yang menawarkan paket itu diantaranya Lebara dan Vodafone.

Aku memilih memakai Vodafone. Harga resminya di gerai EUR23 tapi karena aku terburu-buru membeli saat ditawari orang di airport, jadinya dapat EUR30 deh. Didalamnya sudah ada paket internet/BB siap pakai. Nanti kalau habis, bisa top up (isi ulang) di minimarket, supermarket atau di warung-warung kopi biasanya mereka jual. Tarifnya EUR 1 per hari, maksimal 100 MB. Mahal yah.

Kalaupun tidak mau membeli simcard baru, simcard Indonesia seperti Telkomsel & Indosat masih bisa dipakai untuk telepon & SMS, kena roaming aja paling sekitar belasan ribu rupiah permenit untuk telepon dan sekitar 10 ribu rupiah per sms. Sedangkan untuk internet, bisa mengandalkan wi-fi yang ada di Hotel atau di kereta api. Kebanyakan museum juga menyediakan free wi-fi juga kok.

Aku sangat terbantu dengan aplikasi yang aku download dari Play Store diantaranya Hollandpass & 9292.nl untuk mengetahui lokasi-lokasi dan rutenya. Di tengah kota-kota yang bangunannya tampak serupa tapi tak sama, terlebih ukuran papan nama gedungnya minimalis, lumayan rempong kalau harus berkali-kali bertanya maupun berkali-kali malu bertanya yang menyebabkan berkali-kali sesat dijalan.

Kota-kota yang sempat aku mblusuki diantaranya ada dibawah ini. Selain itu masuk banyak sebetulnya kota-kota di negara bekas penjajah negara kita ini. Sebagian familier karena grup sepakbolanya, misalnya Groningen, Breda, Eindhoven dan Roosendaal. Sebagian populer karena ada di buku pelajaran sejarah di Indonesia, misalnya benteng Roterdam dan perjanjian Rijkwijk.

Nederland Map
Den Haag (The Hague)
Merupakan kota pusat pemerintahannya Belanda, Ada Istana ratu, Binenhof namanya, ada juga beberapa istana pendukung seperti Palais Noordein. Wilayah tengahnya disebut centrum, dikelilingi oleh wilayah2 dikitarannya. Kotanya lengang, tidak begitu gaduh. Enak buat menenangkan diri.

Stasiun Den Haag Centraal
Amsterdam
Merupakan ibukota kebebasan, bandara terbesarnya ada disini, Schiphol namanya. Stasiun KA nya juga sangat besar, ada 15 spoor masing-masing "a" dan "b", muat untuk 30 kereta api bisa berhenti di waktu yang bersamaan. Banyak titik keramaian disini, crowded dan aku kurang suka. Tetapi museum dan obyek wisata separoh lebih yang dipunyai negeri itu ya adanya di kota ini. Di pusat-pusat kerumunan, kita harus waspada pada pencopetan. Barang berharga jangan ditaruh dipunggung. Dekap di dada, begitu kata seorang kawan yang tinggal disana.

Stasiun Amsterdam Centraal
Leiden
Sepertinya ini kota pendidikan. Banyak kampus dan banyak museum. Ada juga pusat riset Indonesia disana, KITLV namanya, sayang bulan ini sudah tutup untuk selamanya. Antara mahasiswa dan turis berbaur, susah membedakannya. Kotanya tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi. Enak..

Stasiun Leiden Centraal
Utrecht
Katanya dari kota inilah KUHP yang negara kita pakai berasal. Tak banyak obyek wisata disana. Sepanjang kiri-kanan dari atas kereta menuju kesana, terhampar padang rumput. Banyak peternakan sepertinya.

Delft
Adalah sebuah kota tua yang tidak terlalu besar. Museum Prinsenhof dan sebuah gereja menjulang tinggi menandai titik tengah kota ini. Yang terkenal di kota ini adalah keramik handmade, merk yang populer diantaranya adalah Royal Delf. Selain itu, di kota ini banyak pula mahasiswa.

Landmark Kota Delft
Horn
Kota kecil tempat museum tram uap berada. Butuh setengah jam dengan kereta api dari Amsterdam untuk sampai disini. Kalau mau mencoba berwisata naik kereta tram tua, bisa lihat jadwal terlebih dahulu, karena tidak setiap hari dan setiap jam kita bisa menaikinya.

Poster Museum Tram di Horn
Salah satu sisi museum tram di Horn

6/28/14

Nederland & Sepeda

Nederland berarti tanah yang datar. Begitulah negeri kincir angin ini dinamai sesuai dengan topografi wilayahnya yang begitu datar, tanpa gunung, dataran tertingginya saja hanya beberapa puluh meter dari atas permukaan laut. Memang 60% wilayah negeri ini posisinya lebih rendah dari permukaan laut, termasuk bandara terbesarnya, Sciphol, ada 4 meter dibawah permukaan laut.

Ini di tepi laut, dibawah ada saluran air yang letaknya dibawah permukaan air laut. Kok bisa ya?

Miniatur bandara Schiphol di Taman Mini Madurodam. Pesawatnya bisa jalan loh...

Karena tanahnya datar, maka sepeda menjadi favorit digowes untuk berpergian oleh penduduk disana. Dimana-mana terlihat orang bersepeda, kakek-nenek, tua-muda, miskin-perlente, mahasiswa-eksmud berseliweran menggenjot sepeda. Sampai-sampai perbandingan jumlah sepeda dan mobil disana adalah 3 : 1.

Parkir Sepeda

Kalau di Indonesia yang tanahnya bergunung-gunung, tentulah susah memasyarakatkan sepeda. Ngos-ngosanlah kita dipaksa bersepeda dari Purwokerto ke Baturraden misalnya. Hahaha... Tapi taruhlah misal Indonesia itu datar semua, lantas apakah sepeda menjadi favorit dipakai? Ah, belum tentu, masih ada faktor berikutnya, yakni faktor : gengsi. Gengsi donk naik sepeda, dikira enggak bisa beli sepeda motor saja.

Dan masih banyak faktor-faktor penghambat lainnya. Pemandangan yang menarik di Nederland adalah dijalan-jalan, berbagai moda transportasi tumpang tindih di jalur yang sama, tetapi harmonis. Jalur mobil dipakai bersama dengan trem, disampingnya ada jalur sepeda, disampingnya ada jalur pedestrian. Persilangan dan perempatan ditata dengan apik dengan lampu merah untuk mobil tersendiri, untuk sepeda tersendiri, untuk pejalankaki juga tersendiri.

Tombol lampau hijau untuk pejalan kaki



Penjaluran transportasi yang baik, didukung dengan jumlah armada yang memadai, sehingga tak perlu menunggu lama apalagi menunggu sopir ngetem, membuat moda transportasi umum menjadi nyaman untuk digunakan. Dari mulai kota Den Haag yang sepi, sampai Amsterdam yang ramai, semua berjalan dengan baik.
Ya jalan raya, ya jalan truk, ya jalan sepeda, ya jalan orang, ya jalan trem, jadi satu tapi tertib

Selain dari moda transportasinya, yang menarik lainnya dari negari ini adalah penhargaan mereka terhadap ruang dan bangunan. Tata kota yang fungsional membuat negeri ini jadi percontohan bahkan oleh negara-negara Eropa lainnya. Bangunan-bangunan awet terpelihara, sampai yang tua-tua juga masih berdiri rapi dan terawat. Pantas saja toko cat dan bangunan tidak njeprah berdiri dimana-mana, karena negeri ini tidak hobi merobohkan dan membangun bangunan baru.

Berfoto di depan Holland Spoorwagen, bangunan tua yang dipelihara

Beda dengan negari yang bangunan-bangunan lama diberangus atas nama pembangunan, anak cucu yang lahir dimasa kini tidak bisa melihat jejak-jejak kakek dan buyut mereka, tidak tahu kebesaran masa lalu mereka, tidak tahu disini ada ini disitu ada itu, dulu ini dibangun dengan begini, dulu itu dibangun karena begitu dan seterusnya.

Kemudian satu hal lagi, size untuk billboard mungkin sangat mahal disana, sehingga sampah visual sangat minim. Nama jalan, papan nama gedung dibuat kecil saja. Iklan-iklanpun dibuat dalam ukuran kecil saja, tidak seperti billboard rokok dan seluler di Indonesia yang betul-betul jadi sampah visual ditengah keasrian kota. Karena papan-papan nama dibuat kecil, maka kita harus jeli saat mencari alamat.

Iklan-iklan berukuran kecil, tidak menyampahi pemandangan kota

6/27/14

Move On

Kalau kau mendatangi seseorang lalu ketika tiba dihadapan orang itu kau mengatakan "aku benci kamu", maka pantaslah orang yang kau ucapi itu menghindarimu karena sebal kepadamu. Akan tetapi, kalau kau mendatangi seseorang untuk mengatakan "aku suka kamu" , ada dua kemungkinan yang akan kau dapati. Pertama, dia akan mengatakan idem lalu menjadi separuh dari bagian hidupmu, atau kedua, dia akan sebal lalu menghindarimu melebihi reaksi orang yang bilang benci itu tadi. Lha kok begitu?

Maka berpacaranlah sebanyak-banyaknya, 51 atau 52 atau 53 kali jadian kalau perlu, agar kau tahu bahwa kejadian seperti diatas bukan satu-satunya rumus yang berlaku di dunia percintaan. Ada begitu banyak rumus, yang diantaranya bisa jadi lebih menguntungkanmu.

Terima kasih untuk seseorang disana yang sudah mengajarkanku satu rumus itu. Kamu tidak salah, tapi aku yang salah, yang memilih mensetiaimu sehingga tak mencoba mengenal rumus-rumus yang lain.

6/25/14

Nederland yang Ramah-Turis

Lange Voorhout
Lange Voorhout, taman dengan hamparan pasir putih yang entah diangkut darimana, memanjang terbentang tidak jauh dari Istana Binenhof. Di kiri kanannya menjulang pepohonan tinggi berbaris rapi. Negara tropis yang hobi menebangi pepohonan di dalam kota seharusnya iri melihat anggunnya taman ini. Aku bermalam di sekitar taman ini, di Easy Hotel. Best choice bagi yang ingin hunting hotel budget, luas kamar pas-pasan tapi bed & showernya kualitas bintang 5 bisa didapatkan dengan rate EUR 69 exclude breakfast.

Easyhotel di Parkstraat 
EUR 1 saat aku berangkat setara dengan 15.800 rupiah. Hotel memang terbilang mahal disini. Kalau hotel budget saja segitu, bagaimana dengan hotel bintang, pasti fantastis harganya kalau dibandingkan dengan Inna Garuda atau Tentremnya Jogja. Rate hostel yang lebih moderat, biasanya jadi pilihan para backpacker. Kingkool hostel, yang baru opening April 2014 lalu misalnya, ia menawarkan tarif hanya EUR 21. Relatif murah, bukan? Itu tarif 1 bed untuk dormitory sekamar ber-9.

Kingkool Hostel di Prinsegracht
Biasanya hotel maupun hostel menyediakan sewaan sepeda, sekitar EUR 12 perharinya. Sepeda adalah kendaraan primadona disana, tanahnya yang landai dan dilengkapi jalur khusus sepeda hampir di setiap ruas jalan raya disana membuat nyaman bepergian dengan ngonthel sepeda. Suhu udara yang dominan dingin memaksa orang harus memakai baju tebal, maka tak heran kalau melihat pria berjas atau wanita ber-blezer ngonthel sepeda dengan pedenya.

Parkir Sepeda bersusun di Stasiun Den Haag Central
Maka wajar kalau pemerintah memberlakukan biaya parkir tinggi EUR 4/jam untuk mobil pribadi. Karena pemerintah sudah menyediakan moda dan infrastruktur transportasi yang memadai. Bukan hanya itu, warga dan turispun dimanjakan dengan sistem informasi berbasis internet tinggal klik 9292.nl atau unduh aplikasinya di Android, kita bisa memilih rute berangkat dan tujuan maka aplikasi itu akan menunjukkan dengan detail moda transportasi apa untuk menuju kesana, jam berapa, kalau kereta berhentinya di jalur berapa, ada juga petanya. Buatku itu sangat membantu.

Aplikasi 9292.nl berisi informasi untuk rute perjalanan di dalam negeri, sedangkan kalau kita ingin keluar Nederland, bisa menggunakan kereta api antarnegara. Rute dan harga tiket bisa dilihat dan dipesan di www.ns.nl
www.9292.nl untuk panduan perjalanan
Kereta api di Nederland mirip dengan di Indonesia. Iyalah, kan yang membangun jalur kereta api di Indonesia dulu mereka. NKRI cuma meneruskan saja. Meneruskan tapi kinerjanya melorot, timpang jauh dengan mereka dulu. Minimal punya rasa malu lah, kalau  sebagai pemerintah sendiri, belum bisa punya etos sebagus penjajah. Huft, yang salah mananya, yang salah siapa.

Sekalipun mirip, tapi beda, halusnya, kecepatannya, interiornya (wah, kok beda semua?). Bedanya lagi, kalau disini masuk peron harus menggotong-gotong KTP, di dalam masih dicek ulang tiketnya, kalau kereta NS kepunyaan Belanda, tiket diperiksa secara random, penumpang cukup tap in dan tap out OV-chip mereka ke mesin, simple dan leluasa.

Interior KA kelas 2
Stasiun rame, tapi tidak crowded, orang hilir mudik silih berganti, tak ada tukang ojek atau supir taksi yang berlagak seperti wartawan diluar pintu. Kalau kita kebingungan, ada bagian informasi yang siap ditanya-tanyai. Berbeda dengan Prancis dan Jerman, 2 negara yang mengapit si kecil Holland yang keukeuh hanya dengan bahasanya masing-masing, di Nederland Bahasa Inggris familier digunakan oleh warga setelah Bahasa Belanda. Negeri ini makin ramah-turis dengan tersedianya papan-papan informasi museum dan obyek wisata di banyak titik di sudut-sudut kota. Selain ada ada juga VVV tourist information.

Peta Wisata dan Penunjuk Arah ada di banyak titik

Welkom op de Nederland

Merasakan udara dingin Eropa itu adalah sesuatu yang ngangenin. Walau musim semi sudah mulai merangkak ke musim panas, taman bunga Keukenhof saja sudah tidak mekar, tapi suhu udara masih begitu dingin, Baturraden saja tidak sedingin itu. Di Bandara Amsterdam Schiphol, aku menginjakkan kaki pertamaku di daratan Eropa, disambut suhu udara 12-18 derajat celcius.

Monitor Informasi Penerbangan

Bandara Schiphol, Amsterdam

Terbang diudara 12 jam, menggunakan KLM maskapai kebanggaan kerajaan Belanda jam menunjukkan pukul 07.00 pagi ketika aku mendarat. Akhirnya, proses panjang persiapan selama ini terbayarkan dengan menapakkan kaki di tanah yang jaraknya hampir 11.000 km dari tanah air. Misi perjalananku kali ini disamping jalan-jalan adalah dalam rangka mengikuti Tong-Tong Fair, pameran Eurasia untuk masyarakat Eropa yang diselenggarakan di pusat kota Den Haag, Belanda.
Bagian depan Tenda seluas 3 lapangan bola

Belanda atau Nederland atau Deutch atau Holland, ah banyak kali nama negeri ini, kedutaan besarnya ada di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat. Di kedutaan besar yang letaknya paling 300 meter dari halte trans Kuningan Barat koridor Slipi-Pinangranti inilah aku mengurus Visa. Jenis visa yang lazim dipakai untuk bisa masuk ke negeri Kincir Angin ini adalah visa schengen. Visa schengen biaya urusnya 950.000 rupiah, visa ini bisa dipakai di 25 negara di Eropa. Kalau punya visa ini, enak sebetulnya, bisa leluasa menjelajah Eropa, apalagi di Eropa perusahaan kereta api antar negara sudah terintegrasi satu sama lain. Salah satu web yang bisa diakses adalah Eurail.com.

Di Nederland sendiri, transportasi umum sudah terintegrasi dengan baik. Dua jempol untuk ini. Aku membeli OV-Chipkaart, kartu yang bisa dipakai untuk membayar kereta api, tram atau bus dimanapun di penjuru negeri ini. OV-Chip ini aku beli di gerai mobil di stasiun Den Haag Central seharga EUR 17,5. Kartu sudah terisi deposit EUR 10. Kartu ini berlaku 5 tahun, masih aku simpan untuk berkunjung kembali tahun depan, Insyaalloh.
Trem, tak perlu menunggu lama 10-15 menit sekali lewat dan terjadwal
Kalaupun tidak punya OV-Chip, kita tetap tidak perlu ribet untuk menggunakan transportasi umum di Nederland. Kita bisa membeli tiket tram perjam EUR 3 atau perhari EUR 6,5 kepada masinis tram langsung. Sedangkan untuk kereta api, kita bisa membeli tiket ketengan dengan koin di mesin yang tersedia di stasiun atau di loket penjualan tiket.
Mesin tiket KA, yang kiri ada lobang koinnya jadi bisa bayar pakai koin.

Pameran yang aku ikuti diadakan di Malievield, lapangan raksasa di tengah kota, 10 menit jalan kaki dari Stasiun Den Haag Central, 20 menit dari Istana Binenhof. Binenhof adalah istana tempat Ratu berkantor kalau di Den Haag, di istana ini pula dulu berlangsung Konferensi Meja Bundar (KMB). Bangunan-bangunan bersejarah di negeri ini utuh, seperti tak tersentuh gemerlap modernitas, tetap anggun, tetap humble. Nederland memiliki lebih dari 700 museum dan pastinya ribuan bangunan bernilai sejarah tinggi. Untuk ukuran negara yang luasnya hanya seluas Jogja + Klaten + Solo, bagaimana aku tidak lagi-lagi mengacungi jempol.
Bangunan di Kompleks Binenhof, Anggun & Bersahaja

Museum dikelola dengan serius, tidak rugi membayar mahal dengan kualitas penataan interior, tata suara, tata lampu dan skematisasi yang demikian ciamik. Belum lagi ada beberapa museum yang memiliki koleksi ribuan, diantaranya yang terbesar Rijkmuseum, yang koleksinya dihimpun dari seluruh penjuru dunia dan merupakan barang asli, bukan replika.

Ada museumkaart, kartu seharga EUR 59 untuk masuk gratis ke sekian puluh museum. Aku tak membelinya, karena aku sudah membeli Hollandpass secara online. Hollandpass seharga EUR 87,5 bisa dipakai untuk masuk gratis ke 7 museum, gratis tiket kereta seharian penuh, gratis transportasi dalam kota 1-2 hari tergantung kotanya, diskon belanja dan gratis buku profil museum dan tempat wisata. Kalau visa sudah di-approve, hollandpass sudah di tangan, maka Welkom op de Nederland, selamat datang, Nederland menyambut untuk dijelajahi.
HollandPass, harus beli online dan diambil setiba di Holland

11/11/13

Mata satu disekitar batu surga

Ternyata logo polisi Saudi menggunakan simbol mata satu.
Googling untuk mendapatkan lebih banyak informasi.

Sebutlah Garuda, atau PT KAI, mereka membayar miliaran rupiah untuk peremajaan logo mereka. Logo adalah hal yang benar-benar diperhatikan oleh si pemilik institusi, karena merupakan icon atau bahasa paling praktis untuk dipahami oleh yang melihat untuk memahami si institusi.

Seperti kita tahu, logo yang berupa stilasi (penyederhanaan bentuk) mata satu adalah salah satu identitas zionis, iluminati dan para sekutunya. Heum, apa yang terjadi dengan Kerajaan Saudi Arabia, hingga banyak logo-logo institusi yang notabenennya bagian dari kerajaan menggunakan stilasi yang sama, mata satu? Logo aparat yang disebut asykar, salah satu yang menggunakannya.

Pasti Anda belum tuntas mempelajari Kerajaan bentukan Ibnu Su'ud yang mengambil alih lahan milik Turki Ustmani ini jika Anda belum menemukan relasi dan korelasi antara Saudi dengan pemilik icon mata satu, Yahudi Zionis penguasa dunia saat ini.

9/6/13

Gulajava Meaningfull Trip

Day 1
- 06.30 Depart from Jakarta with Purwojaya Executive/Business Train
- 11.30 Arrive at Purwokerto Railstation
- City Tour Purwokerto (Heritage of Stasiun Besar Purwokerto, Soto Jalan Bank, Museum Bank, Pendopo & Alun-alun)
- 14.00 Move to Gulajava Village & Live in over there
- 16.00 Relaxing at Gumawang Waterfall
- 20.00 Banyumas Traditional Puphet Show : "Wayang Cumplung"

Day 2
- 07.00 Coconut Trees Rapling : "Nderes"
- 09.00 Gulajava (coconut sugar) cooking experience : "Ngindel"
- 10.00 Nira-cofee time & cimplung
- 12.00 Lunch & Mendoan time
- 14.00 "Ebeg" magic performing art
- 17.00 Visit Sokaraja : Giftfood & batik
- 19.00 Go to Purwokerto, Depart with Purwojaya Executive/BUsiness Train at 19.30

For furtherer inform, 
call : (0281)6841492, email : sweetjava1@gmail.com


8/24/13

Pilihan Hotel di Yogyakarta

1. Royal Ambarrukmo
Hotel tua bintang 5 ini bangunanya menyatu dengan sebuah pendopo klasik. Dibangun di atas tanah kraton, bisa ditempuh 15 menit dari bandara. Kamar besar dengan bed besar, menu sarapan lengkap dari westren sampai tradisional membuat istitahat anda di kota ini mengesankan. Ratenya 800ribuan.

2. Fave Hotel Kusumanegara
Satu dari sedikit saja hotel budget yang memiliki kolam renang. Dengan budget 300ribuan, hotel bintang 2 yang terletak 15 menit dari Jogja Expo Center ke arah barat ini memberikan fasilitas yang sepadan. Kamar yg tidak terlalu luas, sarapan dengan menu yg cukup, kafe sederhana disamping kolam renang.

3. Grand Dafam Merapi-Merbabu Hotel
Hotel bintang 4 ini terletak 15 menit dari Terminal Condong Catur. Lahannya luas, sehingga kolam renang ada di luar bangunan. Ratenya 500ribuan. Sarapannya menyajikan banyak pilihan menu, kamarnya luas dgn furniture yg terbatas.

4. Pop Hotel Sangaji
Hotel bintang 2 yang terlalu minimalis. Ruangannya sempit, kamar mandinya sempit. Ratenya 300ribuan. Hotel grup Haris ini identik dengan warna+warni interior yang digemari anak-anak. Menu sarapan hanya 2 macam, nasi yang dibungkus daun pisang seperti nasi bungkus warteg.

5. Syahid Rich Hotel
Hotel bintang 4 dengan rate 500ribuan. Kamarnya luas, bed nya besar. Kolam renangnya luas. Bangunan berarsiteltur romawinya menampakkan kemegahan. Seandainya menu sarapan dilengkapkan lagi pilihannya, orang sudah akan menyangka bahwa ini bintang 5. Hotel yang terletak 15 menit dari Tugu Jogja ini recomended untuk yg mencati suasana yang lega.

6. Hotel Cakra Kembang
Pendopo kecil klasik di samping kolam renang adalah resto dari hotel ini. Menunya mungkin terlalu sederhana tetapi suasana asri menjadi daya tarik hotel ini. Hotel yg terletak 15 menit di utara UGM ini merupakan jenis hotel tua yang anggun dan bersahaja. Kalau ingin akses ke kamar yang bebas tak perlu mondar-mandir di recepcionist, anda bisa memilih kamar yang berada di bangunan luar. Jika karakter hotel bangunan baru adl kamarnya relatif sempit, hotel Cakra Kembang yang bangunan ini kamarnya luas.

7. Ros In Hotel
Terletak 15 menit di selatan Kraton Yogya. Hotel bintang 4 dengan interior romawi tema keemasan. Kamarnya lumayan luas, menu sarapan lumayan enak, kolam renang lumayan besar tetapi sangat segat airnya. Anda mau mengisi kamar twinbed anda dengan 4 orang sekalipun, tidak ditegur. Dengan rate 500ribuan bahkan kurang, anda bisa menikmati fasilitas yang ada, termasuk fitness center dan ruang pertemuan juga besar.

8. Edelweiss Hotel
Terletak 15 menit di sebelah timur UGM. Hotel bintang 3 yang terasa bintang 2. Menu sarapan pilihannya sangat terbatas, kolam renang dewasa hanya cukup utk 1 orang, kamarnya terlalu sempit. Ratenya 400ribuan.

9. Ibis Style Hotel
Terletak 15 menit dari Stasiun Yogyakarta. Hotel ini cocok utk pelancong Malioboro. Sarapannya bercitarasa, pilihan menu memuaskan utk kelasnya sbg hotel bintang 3. Kolam renang dan kafe didesain artistik

10. Dafam Fortuna Hotel
Terletak di area Malioboro. Hotel baru dengan kamar ukuran sedang tapi sudah cukup lega. Menu pilihan sarapan memuaskan. Hotel bintang 3 ini memiliki kolam renang yang nyaman di rooftopnya. Fasilitasnya sesuai ratenya yang 400ribuan.

8/8/13

Perbandingan dua video tentang walisongo

ini ada 2 video tentang walisongo, satu video kalau Anda simak begitu ilmiah, sedangkan satu video kok cuma blunder.

mana yang fakta empirik dan mengandung ilmu, mana yang blunder, cuma ra'yu dan tidak jelas data2nya dari dua video ini? simak dan nilai sendiri.

Video 1
Video 2

8/4/13

#10 Ka'bah

Sampailah di Pemondokan, Namanya Olayan Ajyad Hotel. Hotel Binthcxcang 4 di ring paling depan, paling dekat dengan Masjidil Haram. Didepannya lagi tinggal hotel-hotel bintang 5. Beda dengan di Madinah yang tinggal mlumpat pagar, jarak Masjidil Haram-hotel lebih kurang 200 meter.

Chek in, makan malam, tidurK sejenak. Lalu jam 1 malam kita serombongan baru bergerak menuju Masjidil Haram. Labaik Allahuma Labaik... Mulai nampak bangunan Masjidnya, melalui pintu No.1 aku masuk masjid yang begitu terhormat itu, sampai beberapa langkah aku melangkah masuk, nampak di depan dengan mata kasat ini bangunan kubus diselimuti kaib hitam

Ka'bah

Sholat Tahiyatul Masjid dilanjut dengan Sholat Jamak Takhir Qasar Maghrib Isya menjadi aktivitas pertamaku di Masjid dengan keutamaan 100.000 kali lipat ini.

Ka'bah dari kejauhan
Talbiyahpun selesai dikumandangkan. Saatnya menunaikan rukun umroh kedua : Tawaf.

Selesai tawah dilanjutkan menuju bukit Shofa, saatnya menunaikan rukun umroh ketiga : Sa'i. Diantara semua rangkaian ibadah, aku sendiri paling khidmat disini, sepanjang 7 kali bolak-balik dari bukit Shofa ke Marwah.

Sampai di Bukit Marwah, aku menyelesaikan rukun umroh yang terakhir : Tahalul.
Menjelang shubuh, ritual umroh selesai. Sampai syuruq skitar jam 6 kurang sedikit aku lewatkan waktu di sekitar Ka'bah baru kemudian pulang ke hotel dan melepas ihram, ganti pakaian biasa.

Ka'bah lebih dekat

#9 Labaik Allahuma Labaik

"Labaik Allahuma Labaik...dst..." seisi bis mengumandangkan kalimat tersebut sepanjang lebih kurang 600 km jarak menuju kota Mekkah. Kecuali yang tertidur pastinya. Khidmat sekali bacaan talbiyah dikumandangkan, tidak seperti yang dilagukan versi pop religi tertentu. Sunnahnya sejak miqot, talbiyah dikumandangkan sampai dengan kita akan memulai tawaf, begitu penjelasan ust. Rofieq dari kursi Tour Leader di bagian depan bus.

Pemandangan Kerajaan Saudi aku nikmati sepuas-puasnya karena aku duduk di bangku paling depan. Dari jam 3ansore sampai masuk ke Mekkah sekitar jam 9an malam.

Setiap melihat angka kilometer di samping jalan raya yang aku lalui, "Mekkah 50 km", semakin kecil angka km nya, semakin nggegirisi bacaan talbiyah terdengar si telinga. 

Sampai akhirnya terdengar ust Rofieq berbicara : "Bapak Ibu semuanya, mari bangun semua, beberapa saat lagi kita akan memasuki batas kota suci Mekkah Al Mukaromah, saya ingin semuanya dalam keadaan tersadar saat melewati ini, tidak ada yang tertidur, karena..... bla bla bla usg Rofieq menjelaskan beberapa dalil".

Menara yang konon tingginya 600 meter lebih dengan jam raksasa yang besarnya 30 meter di atasnya, mulai tampak. Itulah Bait Al Braj, bangunan tinggi yang letaknya persis di depan pintu No.1 Masjidil Haram.

Aku mulai sok tahu menunjuk-nunjuk : kita mau ke arah situ tuh. Masjidil Haram yang dulu hanya di pigura2 ruang tamu, kini nyata di depan sana, tidak jauh lagi.
Terima kasih ya Allah berkenan mengundangku ke sini.

#8 Bir Ali

Akhirnya tiba pada detik terakhir mata ini diijinkan Allah menatap secara kasat Masjid Nabi-Nya yang terhormat itu.

Saatnya meninggalkan Madinah, menuju Mekkah. Aku kembali ke pemondokan, melepas semua pakaian, berganti pakaian ihram. Helaian kain putih tak berjahit, menyerupai kain yang akan aku pakai ketika pulang keharibaannya nanti. Bedanya, kalau ini jumlahnya 2 helai, kalau nanti aku mati dibungkus berapa helai ya, belum tahu malah. Dasar ngawur, padahal kemaren sebelum berangkat sudah dijelaskan sama Mbah Kung.

Selamat jalan Madinah Al Munawarah, terlihat tugu bertuliskan END OF HARAM. Ya, itu adalah tugu penanda batas tanah haram atau tanah suci Madinah. Nanti di Mekkah juga akan ada lagi penanda batas masuk tanah sucinya.

Tidak jauh dari tugu itu, berhenti kita di masjid yg cukup besar tapi belum seapa-apanya Nabawi. Namanya Bir Ali. Di Masjid itulah kita mengambil Miqat.

Yang dilakukan adalah niat. Niat adalah 1 dari 4 rukun umroh yang wajib dikerjakan. Sebetulnya bisa memaikai kain ihram disini, tidak dari pemondokan, tapi tidak ada tempat khusus untuk ganti, paling di dalam masjid atau di tempat wudhu.


8/1/13

#7 Shaf Pertama

Dari kamis sore, kini sudah Ahad. Entah untuk keberapa kalinya aku keluar masuk Badr Gate, pintu kesukaanku. Dua setengah jam sebelum Dhuhur, aku sudah selesai dari Raudhoh dan Makam Rasulullah. Keluar Masjid dari pintu depan kiri (Baqee Gate), dan masuk lagi lewat pintu depan kanan. Pintu itu letaknya sejajar dengan shaf ke-6an dari depan.

Wah, ada space nih di sebelah Bapak tua di Shaf pertama. Langsung saja aku hampiri. Alhamdulillah, akhirnya dapat shaf pertama, walau waktu dhuhur masih dua jam lebih.

Aku mengisi waktu dengan sholat mutlak, dilanjut tilawah. Seusai tilawah, seperti biasa : bercakap-cakap dengan bahasa Isyarat dengan orang disebelahku.

Si Bapak tua yang wajahnya mengingatkanku pada sunan-sunan walisongo itu meminjam mushafku. Dia tidak bisa bahasa Indonesia, aku tidak bisa bahasa Arab, kebingungan juga aku menangkap maksud yang dia isyaratkan. Sampai akhirnya faham juga, dia bilang mushafku terlalu kecil, tolong ambilkan di rak didepanku itu mushaf2 lebih besar, ayo baca Quran sama-sama.

Satu mushaf dibaca bersama, aku jadi teringat Mbah Kung. Kakekku yang saat itu sedang berulang tahun ke 97 dan tetap sehat dan rajin sholat. Mbah Kung banyak menemaniku sewaktu aku kecil, tapi aku jarang sekali ke rumah Mbah sekarang saking sok sibuknya. Sehat2 nggih mbah... *meng-ha-ru-kan.

Mbah Kung adalah orang yang aku mintai restu setelah Ibu Bapakku dan mbah Putriku sebelum berangkat. Mbah Kung yang mantan pejuang sekaligus kayim (nasionalis-spiritualis jadi satu di cucunya ini) pesannya sederhana sekali saat itu, pertama : "moga-moga ngibadahmu ketrima". Kedua, "jaman mbah buyut munggah kaji mbiyen, kain ihram disimpan untuk dijadikan kafan, jadi tidak beli mori lagi". Dan beberapa wejangan untuk meluruskan niat lainnya. Mbahku TOP abizz, the real ulama, yang sudah terbukti dan teruji. Wejangannya mantebbb abizz.

Kembali ke shaf pertama Masjid Nabawi, aku membaca Quran bersama dengan Pak tua mirip walisongo itu. Awalnya dia cepet banget bacanya, aku kepuntal2 jadinya pelan banget bacanya.
Sebuah teknik mengajari Baca Quran yang keren, santun dan nancep banget buatku. Aku baru nyadar tahsinku masih buerantakan abiz, bacaanku dikoreksi tanpa dia mengguruiku dan aku merasa digurui. Aih, takjub aku, wong kita nggak bisa bahasa satu sama lain kok ya aku bisa dikasih tahu banyak hal.
Sekitar sejam aku selesai berguru. Dan jeng jeng jeng...saatnya dapat sertifikat dan ganti nama, karena sudah nyantri di tanah suci. Hahaha....becanda2....

Selesai itu, tanpa sempat berkenalan, aku dan sang mirip sunan itu terpisah oleh seorang pangeran Arab yang duduk disebelahku.

Adzan dhuhur berkumandang. Sholat terakhirku di Masjid Nabawi saat itu, di shaf pertama dan pas Imam meninggalkan pengimaman aku sempat menyalami beliau, beliau tersenyum santun.

#6 Bukber di Nabawi

Walaupun bukan bulan puasa, tapi hampir tiap hari ada buka puasa bersama. Karena bulan itu bulan Rajab, pada puasa Rajab katanya orang sana. Menyenangkan, karena aku sempat dan kuat puasa sekali di Madinah saat itu.

Ada plastik digelar banyak sekali, di atasnya ada roti arab, kurma dan teh manis (teh bukan ya?kayaknya si teh). Aku duduk saja di salah satu gelaran makanan itu. Satu demi satu orang berdatangan menyebelahiku. Sesekali sambil sok akrab dengan bahasa isyarat aku berbincang dengan orang-orang tidak bisa berbahasa Indonesia (kasihan..) di sebelahku.

Ada banyak hal menarik buka puasa bersama disana. Diantaranya pertama : walau rotinya cuma sepotong, tapi bikin kenyaang juga. Maafkan aku roti, aku sudah suudzon sebelumnya (yah, buka begini mana kenyang, batinku sebelum adzan). Terbukti aku kuat sampai baru makan malam sesudah Isya, sekitar jam 10 malam.

Kedua : orang yang memberi buka puasa (yang dipikiranku dia adalah juragan mebel--mentang2 mukanya arab. Arab = mebel? Hehe), mengajak jamaah untuk buka puasa dengan makananya sangat mengharap. Dalam bahasa Arab si, tapi mungkin dia bilang "tolong buka disini saja mari...mari..."

Hidangan Buka Bersama

#5 Makam Baqi

Makam Baqi, makamnya para Sahabat di zaman Rasulullah dan makam ulama-ulama saat ini. Letaknya di sisi kiri masjid Nabawi, arah jam 11 dari apartemenku. Walau bersambungan langsung dengan pelataran Nabawi, setengah jam lebih deh aku berjalan melewatkan senja dari penginapan menuju kompleks pemakanan itu. Kita tidak bisa masuk, hanya melihat dan berdoa dari balik teralis tinggi.

Sepulang dari Baqi, aku bercerita dengan teman jamaah yang sudah umroh dan haji berulangkali. Pa Imam namanya, beliau mungkin ke Mekah-Madinah seperti ke Bekasi. Hehehe...piiis pa Imam.

Akhirnya saya diajari teknik masuk ke Makam Baqi dan cara bagaimana menyaksikan pemakaman disana yang beberapa berbeda dengan di tanah air. Misalnya katanya, kedalaman kuburannya cuma paling setengah meter, karena memang batu berpasir disana, bukan tanah gembur seperti disini. Dan setiap periode tertentu tulang belulang dikumpulkan di satu tempat untuk bisa bergantian makam itu dipakai oleh yang lain.

Sayangnya kesempatan mempraktekkan tips dari Pa Imam itu belum menghampiriku, sampai meninggalkan Madinah. Mudah2an nanti bisa kesana lagi.

Underpass disamping makam Baqi, jalan ini lewat bawah Masjid Nabawi

#4 Masjid Quba

Keesokan harinya adalah Jadwal city tour Madinah. Destinasi pertama adalah masjid Quba, Ustadz Rofieq dan mas Ahmad sang mutowif mengingatkan kita sebelum bis berangkat untuk ambil wudhu terlebih dahulu. Agar kita mendapat keutamaan pahala setara Umroh karena memiliki wudhu dari tempat tinggal sampai Sholat 2 Rakaat di Masjid Quba.

Masjid Quba
Masjid Quba adalah masjid yang didirikan Rasulullah pertama ketika hijrah. Rasullullah gemar ke masjid tersebut setiap hari Sabtu. Dan hari itu kita kesana juga hari Sabtu. Btw, kenapa Rasulullah masih senang ke Masjid Quba padahal sudah ada Masjid Nabawi. Wallahu'alam, pendapatku si : karena Rasulullah tidak melupakan sejarah.

Semoga kita termasuk orang yang tidak melupakan, apalagi meremehkan, apalagi hobinya menghancurkan situs2 sejarah. Dengan dalih menghindari syirik, dll. Cerdaslah sedikit, ada kok caranya mengantisipasi syirik tanpa harus menghancurkan situs sejarah. Kalau begitu pola berpikirnya, sama saja kamu menghindari sombong dengan tidak mau menjadi kaya. Hanya orang dungu yang merasa terbimbing yang punya pemikiran seperti itu.

Masjid Quba, dijelaskan oleh Ustadz Rofieq sebagai masjid yang memiliki kedudukan yang utama di bawah tiga masjid (Masjidil Haram, Nabawi & Aqsa). Di bawah masjid Quba tidak ada lagi, masjid selain itu, dimanapun, derajatnya sama.

Destinasi selanjutnya adalah ke Jabal Uhud, lalu ke Jabal Magnet, Masjid Qiblatain dan sampai lagi di Masjid Nabawi beberapa menit menjelang Adzan Dhuhur.

#3 Sholat Jumat di Madinah

Pagi pertama di Madinah Al-Munawaroh, hari itu hari Jumat. "Dududu, yang mau jumatan di Masjid Nabawi ni yee.." celetuk seorang jamaah putri di rombonganku. Iya yah, nggak ngimpi banget aku.

Pagi itu tanpa diagendakan, Bang Roni mengajakku mblusukkan kota Madinah. Ketemu orang sehobi : hobi jalan kaki. Ya, ke kota manapun kalau ada waktu pasti aku sempatkan jalan kaki menyetubuhi kota. Karena dengan jalan kaki, semua menjadi terlihat dekat dan detail.

Menyusuri jalanan Madinah yang aspalnya semulus paha Cherry belle, ke tempat jajanan membeli semacam hotdog khas arab, ke daerah yang banyak burungnya macam di film Habibie-Ainun, menyusuri gang-gang sempit tempat losmen 20riyal (50ribuan) permalam berada, sampai ke masuk ke lobi-lobi hotel bintang 4 sekedar meluruskan kaki di sofa dan mensurvay rate room. Hohoho... udah optimis banget mau kesini lagi tanpa biro nih kayaknya. *sssst rahasia.

Time to Jumatan.

Masjid Nabawi sudah dipadati jamaah sampai halaman-halamannya. Aku sangat terbantu sekali dengan dekatnya jarak pemondokan, coba kalau jauh, akan susah lagi time managementnya, karena jarak dari gerbang depan masuk ke bangunan masjid saja sudah lumayan luas tu pelataran. Daru pintu masjid sampai pengimaman lebih luas lagi, harus melewati berapa block di dalam masjid.

Oya, tapi tidak usah kuwatir ngos-ngosan jalan mencari shaf terdepan, karena di banyak titik di dalam dan luar masjid disediakan air zam-zam yang didatangkan khusus dari Mekkah.

Zam-zam

Jum'atanpun berlangsung khidmat, dengan khotbah yang 100% tidak ada Bahasa Indonesianya. Ya iyalah...

Mmm, aku jadi teringat kisah di tanah air. Bahwa para wali dan ulama zaman dulu sering paginya masih di kampungnya, tapi siangnya dia jumatan di Masjid Nabawi. Hohoho... apa pendapatmu? Pendapatku si : logika itu bukan puncaknya ilmu. Masih ada ilmu di atas batas kemampuan pemahaman kita. So, untuk hal yang tidak kita kuasai, seperti teknik berangkat-pulang jumatan dari Indonesia ke Madinah dalam sekejap, janganlah buru-buru kita menghakimi. Apalagi mencerca..


Layah-Leyeh