10/31/10

Menulis Setiap Kapan

Setiap saya menyendiri, saya menulis, merangkai tulisan dalam angan-angan. Setiap saya mendengarkan orang membagikan ilmunya saya merangkai imajinasi. Kalau semua itu ditotal dan dianggap 100%, hanya 1% nya yang saya tuangkan dalam bentuk lain, saya formulasikan, saya lahirkan keterwujudannya, dan dari 1% itu, 1% pula yang saya posting di blog ini.

10/30/10

Waljinahan

Pagi-pagi nyetel Winamp, muternya lagu-lagu cerianya Waljinah. Asyik ndes... Kalau kemarin seharian muternya Basanova, lagu Jawa yang di Jazzkan. Setelah mendengar LIVE suara gending saron-nya Kiai Kanjeng kemarin saya betul-betul terpukau dengan keindahan karya cipta orang Jawa, salah satunya musiknya.

Eits, jangan antipati dengan yang namanya budaya dan tradisi, sedikit-sedikit bid'ah. Bid'ah itu di ranah rukun Islam. Kalau menyenggol sedikit budaya njur langsung skeptis, yang namanya tiap pagi Anda beol dan kalau tidak beol perut Anda mules, itu juga bentuk tradisi budaya lho.

Jangan hukum vertikal digunakan untuk nyacag-nyacag perihal yang ada di zona horizontal, mundak kurus kamu. Yah, jadi nglantur saya, yang jelas I LOVE JAVA. Nanti Biro Wisata saya namanya Mocopat Tour, Armada Busnya diambilkan dari nama-nama Sekar Macapat, ada Maskumambang, Asmarandana dan sebagainya. Syukur pisan bisa beli trayek Purwokerto Semarang dan Purwokerto Cirebon.

Nanti juga kalau butuh nama lagi, saya mau ambil dari leluhur saya, dari Ronggowarsito sampai Condrolukito, dari Raden Patah sampai Adipati Mrapat. Orang Jawa itu hebat-hebat, selain yang jadi politikus. Mau melanjutkan Waljinahan dulu...

Sugeng midangetaken...

Orang Pinter ngajeni Gamelan, Orang Pekok nyepelin Gamelan

10/29/10

Benar-Benar Bening.. Jatuh Cinta Saya.. Hii...

Biasanya cuma melihat dan mendengar dari Youtube, seperti mimpi saja kemarin ikut jadi Pamiarsa LIVE performance Cak Nun bersama kelompok Gamelan Kiai Kanjengnya. Asli, benar-benar bening tabuhan saronnya, apalagi expresi Niyaga nya yang demikian total, betul betul mempesona.

Berbulan-bulan merencakana perjalanan untuk menyambangi sang Kiai berbahan dasar besi ini. Mulai dari dulu mau nekad berangkat ke TIM, beberapa kali mencari teman yang bisa diajak ke Baiturohman juga bolan-balen SMS minta tanggal dan ancer-ancer pelaksanaan di mBantul. Tapi nggak pernah ketemu kaleksanan. Eh malah CNKK (Caknun dan Kiai Kanjeng) kemarin yang mendatangi. Dan kitapun bertemu di sebuah desa di Kebasen, Kaliwedi.
Caknun dan Rakyat

Mempesona, memukau, seperti raja yang turun dari istananya menyambangi rakyatnya, merangkul camatnya, mempersilahkan lurahnya berkeluh kesah, bahkan sayapun dapat jatah Mic, anggun sekali acara ini, begitu pikir saya... jatuh cinta saya.

Terlalu banyak yang harus dipostingkan atas kesan saya di malam peringatan Sumpah Pemuda tadi malam itu, yang jelas, saya ingin ikut lagi dan berkali-kali, melebihi kuantitas berkali-kalinya saya membuntuti Ary Ginanjar dengan ESQ nya. Dan yang jelas, kalau orang-orang membaiat CakNun jadi Presiden, saya akan sewakan Horn TOA untuk berkoar-koar mendukung beliau.

Rizky dan Kiai Kanjeng

10/26/10

Dadung Pak Kartasun

Tenant bisnis saya yang baru bernama Mr. Kartasun, sudah sudah tidak usah ditafsirkan sendiri Sun itu matahari dan Karta itu Grafik (Chart), nanti malah jadi diagram kartesius. Mr atau Bahasa Indonesianya Pak, Kartasun adalah seorang pengasong meja kayu.

Dari daerah bernama Kemutug Kidul (South of Kemutug) dia berangkat menjajakan meja yang dia panggul, sehari dia bawa 2 meja kayu ukuran panjang 120 cm dan harganya 70 ribu ke Kota Purwokerto, kadang juga ke kota lainnya. Tadi sekitar jam 5an sore saya ketemu di pinggir jalan (kondisi : gerimis kecil) dan dagangannya masih 1 meja, saya beli itu meja dengan tidak menawar.

Lalu ngobrol2ah kami, saya jadi tahu, untuk pulang ke rumahnya yang ada di sekitar Baturraden, dia harus naik ojek 10.000. Padahal sehari dia cuma bawa 2 meja, 2 x 70.000 (biasanya kan orang jualan meja ditawar), jadi 140.000. Saya tidak tahu harga ke pengrajin yang membuat meja berapa, dipotong ojek, dipotong makan siang, dipotong kalau ada orang nawar, hm, berapa ya kira-kira proyeksi keuntungannya?

Sudah dihitung? Itu proyeksi keuntungan kalau mejanya laku semua? kalau cuma laku satu? kalau tidak ada yang laku? Darimana cost ojek? cost ngojekin meja pulang lagi? cost makan siang? Nah lo...

Meja tadi diikatkan oleh Pak Kartasun ke motor saya, karena tidak ada rafia, saya diberi sebuah dadung hanya dengan mengganti biayanya Rp 5.000,00.

Foto dadung dari Pak Kartasun ini saya sengaja upload, untuk diri saya sendiri dan siapapun agar kalau kita puyeng dengan pangrejeken kita, kalau kita gundah dengan kecukupan hidup kita, kalau kita was-was dengan ikhtiar kita, kita ingat ke Pak Kartasun, yang keluar dari rumah hanya membawa 2 meja, jadi sampai jam 5 sore masih memanggul-menjajakannya langkah demi langkah dengan penuh keyakinan rezeki sudah ada yang mengatur.

Apa Tuhan yang kita sembah tidak kita yakini Dia Maha Kaya atas rezeki-rezeki yang kita butuhkan dan inginkan? Wah, jangan-jangan selama ini kita salah nyembah, salah sembahyang.
Dadung ini bisa digunakan untuk gantung diri

Teritory Teori

Teori-teori yang saya pelajari, di training motivasi yang katanya omong kosong, di EU yang katanya edan kebablasan dan di--yang disebut orang--sebagai kursus menangis bernama Training ESQ perlahan tetapi pasti mulai melampau batas-batas teritorinya.


Kartu nama

Time Planner, To Do List dan Buku Kas

KTP, Kartu NPWP & Rek. Koran

Struk Gestun

Investasi

10/23/10

Dont Call Me

Jangan telepon saya, kecuali untuk urusan yang penting, yang manfaat, yang memakan waktu seperlunya saja. Hm, maaf ya, saya tidak suka ditelepon lama-lama (kecuali oleh beberapa orang), apalagi pakai pula bonusan.

Trims, kalau ngobrol lama live aja, lebih asyik*

*di kafe dan ditraktir tapi, hehe

10/20/10

Ingin dan Komit

Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, besoklah. Tapi besoknya ngomong lagi hal yang sama dan ujungnya kembali, besoklah. Daaan seterusnya, berulang-ulang diungkapkan itu keinginan sampai orang se-RT tahu.

Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, diucapkan sambil menata berkas yang  berantakan, menjemur keset, terus siangnya mencari kardus untuk mewadahi barang-barang yang masih berantakan.

Itu kan bedanya keinginan dan komitmen?

Ketinggalan Banyu Biru

Pengalaman pertama sepanjang hidup naik kereta dipinggir Laut Jawa, ya, tadi, di track sebelum Stasiun Plabuan kalau tidak salah si masih masuk Kendal.
Laut Jawa dari atas KA Kaligung 20-10-2010
Seturun di Semarang Poncol langsung menggondol ojek menuju Semarang Tawang berharap bisa dapat tiket Banyu Biru ke Jogja. Ternyata eh Ternyata, KA Banyubiru sudah berangkat, ketinggalan deh...

Ketinggalan berapa menit? bukan menit, tapi Jam, 6 Jam sekitaran. Loh kok bisa? Iya, ternyata KA Banyu Biru yang sore sudah tidak beroperasi. Mungkin karena tidak laku. Hikz...

Setelah sekian jepret berfoto di Semarang Tawang sembari berharap minimal ada kereta apapun yang datang saya ingin mendengar nada sambut di stasiun itu yang katanya membunyikan aransemen "Gambang Semarang", eh tidak ada. Akhirnya segera berbecak menuju pemberhentian Damri dan meluncurlah ke Sukun, tempat dimana Bus Nusantara berpool. Tepat jam 14.00 sampai di sana. Alhamdulillah... dapat bus? tidak!! Bus Nusantara penuh.

Stasiun Semarang Tawang 20-10-2010
Maka setelah menunaikan Sholat Jamak Qosor di Masjid Agung ADA, naiklah sembarang bus yang saya sendiri tidak sempat melihat nama bus itu hingga saya turun jam 21.00 tadi. Dua minuman botol, 1 bungkus tahu bulat, 3 arem-arem dan 2 tempe goreng menemani perjalanan yang dari Purwokerto ke Semarang menyenangkan, tapi selebihnya mengenaskan tapi dipaksakan menyenangkan.

Tak apa, di bus tadi saya terpikir banyak hal, tentu tidak ditulis disini, rahasia, he. Yang ditulis disini yang terpikir sekarang saja. Sekarang saya terpikir tentang bagaimana mencari note balok lagu Ditepinya Sungai Serayu yang menjadi nada sambut stasiun Purwokerto, terpikir tentang Juragan bus Nusantara kok tidak bikin ekonomi AC ya, terpikir tentang Bangsari dan kambingnya sudah jadi berapa ekor ya, terpikir tentang Bumi Panorama Permai dan Pa Firdaus si Pengembang, terpikir tentang Pak Narsan si penjual Sop Buah dengan 3 kost2annya, terpikir tentang Siomay "Baraya Geulis", terpikir tentang papan penunjuk arah Dishub-style di Bandung yang ada ATM BNI nya, ya.. kita formuliskan pikiran2 hari ini, besok.

Sebuah Pengakuan

Diantara sekian banyak prinsip toleransi, sampai sejauh ini, konsep toleransi ala Caknunlah yang paling bisa jiwa saya terima. Bahkan nuwun sewu saya pernah privat dengan seorang ustadzpun, konsep toleransinya bagi saya nggrambyang atau bahasa arifnya, terlalu normatif.

Apa si prinsip Caknun? Wah, baca sendiri di majalahnya lah ya.

Ini bukan postingan agama, jadi tidak saya bahas disini. Ini soal jalan yang saya pilih sebagai seorang entrepeneur, atau bahasa tetangga2 saya juragan, atau bahasanya anak fisip kebanyakan orang matre yang kerjaannya nyari duit melulu, enggan bersosial. Dan lain sebagainya entahlah...

Dulu saya orang yang paling tidak tedeng aling-aling menggembor2kan keunggulan entrepeneur diatas employee, juragan di atas rewang, demi sebuah pengakuan, bahwa saya lebih baik, karena memilih jalan yang lebih baik.

Lalu sekarang, apakah sudah saya anggap sama kasta juragan dan rewang itu dimata saya? Bukan, justru sebaliknya, saya semakin menemukan banyak data ilmiah tak terbantahkan 9 dari 10 pintu rezeki ada pada berdagang. Tapi ya itu, prinsip toleransi yang saya anut adalah prinsipnya Caknun. Saya harus yakin jalan yang saya pilih paling baik dan benar, dan jalan yang lain kalah baik bahkan salah, tapi itu saya pendam dalam hati, tidak saya konfrontasikan. Bagiku jalanku, bagimu jalanku, bagimunegeri jiwaraga kami.

Sok, sekarang saya dibilang malas kuliah karena sudah ijo matanya karena sudah lihat duit. Atau dibilang kelewat matre dan tidak penting apa itu yang namanya sosial atau sok idealis nggak ngerti cari uang kalau nggak dari gaji dikira gampang apa, atau apapun itu tidak lagi jadi masalah buat saya. Sebuah pengakuan tidak lagi penting untuk saya.

Yang lebih penting adalah kontribusi dan penambahan aset kita sebagai energi potensial kontribusi.

10/17/10

Yang Bahaya itu Diri Kita Sendiri

Saya mengenal istilah "Kontekstualisasi" itu pertama kali dari guru kita, Caknun. Entah apa whole definitionnya, tapi dari itu saya merenung dan merenung, menemukan sebuah pengertian yang mungkin kita semua akan menganggukinya.

Bahwasannya, yang paling berbahaya justru diri kita sendiri. Mengapa? Diri kita berbahaya, karena kita terlalu pandai membuat alasan untuk mengkontekskan apa yang ingin kita pilih untuk lakukan. Ketika ingin memilih jadi pengusaha, ada sejuta dalil untuk menjelek2kan karyawan. Ketika ingin jadi karyawan, ada semilyar pasal untuk membela diri bahwa karyawan itu tidak jelek.

Ketika ingin memilih jadi orang kaya, ada setriliun postulat untuk menjelaskan bahwa menjadi kaya itu baik. Begitu juga atas pilihan kita untuk utang atau tidak utang ke Bank, untuk membeli smartphone atau cukup stupidphone, memilih mengejar IPK atau cukup hanya lulus, memilih membuat kartu kuning atau kartu merah, memilih menikah dini atau menikah nanti-nanti saja, memilih ini dan itu.

Boleh saja tumpukan alasan itu kita lontarkan ke orang lain, tapi sebaiknya jangan aniaya diri dengan beralasan pada diri sendiri. Kalau memang pilihan itu diambil karena kepepet, karena terpaksa atau bahkan karena nafsu, boleh sembunyikan itu pada orang lain, tapi pastikan kita beralasan yang sejujurnya kepada diri kita.

Sekali lagi, jangan banggakan alasan yang kita buat untuk mendukung pilihan yang kita inginkan. Jangan menjebak diri sendiri, jangan memasung nasib kita sendiri.

Berpikirlan siklikal, tidak selalu yang ada alasan baik dibaliknya itu adalah pilihan baik pula. Karena kita terlalu pandai membuat alasan yang dipas-paskan dengan hasrat, nafsu, libibo kita. *menurut saya note pendek ini benar-benar penting, kalau belum paham membacanya, ulangi 2X lagi*

10/16/10

Avanza Plat Merah

Tepat 5 meter sebelum bakul bensin eceran di pertigaan MT Haryono utara, bensin motor habis. "Hil, ada Pak Camat", ucap saya sambil nuntun motor mendekati warung bensin. "Camat Sopo?", tanyanya.

Dan kamipun berbincang-bincang sambil berdiri di pinggir jalan. Begitulah cara kami dipertemukan dengan Pak Abdul Kudus, teman EU yang sekarang jadi Camat di Kecamatan saya dan sedang menemani istrinya menggunakan Avanza Plat Merahnya. Pas bensin sat, pas ada bakul bensin, pas ada pak Camat.

10/5/10

Dibonsai oleh Instruksi

Orang hebat sering menunggu waktu free, waktu menganggur, karena di waktu kosong itu dia bisa mengeksplorasi dirinya dan membuat reka-cipta daya-karya yang baru, yang menantang dan yang memberi manfaat.

Tapi tidak dengan sarjanawan dan diplomawati kebanyakan di Indonesia. Menganggur adalah masa yang menyiksa, menganggur adalah saatnya lamar sana lamar sini berharap dapat pekerjaan. Saya tahu, walau mereka yang melakukan malah sendirinya justru tidak tahu. Tahu bahwa sebenarnya yang mereka cari atas pekerjaan itu bukanlah serta merta uang. Lalu? Apa yang mereka cari? Yang mereka cari adalah instruksi.

6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan 5 tahun di kampus atau total 17 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membonsai keberanian, gagasan, inovasi, daya-cipta, kemampuan reka-karya yang ada dalam setiap diri manusia. Tragis sekali, memilukan sekali. Yang lebih memilukan, mereka yang mengalaminya justru tidak menyadarinya.

Saya berbelasungkawa atas itu. Atas orang yang bingung mau ngapain ketika menganggur, bukannya mencari ke dalam diri, tetapi kursus disana-sini, ngikut disana-sini, ngelamar disana-sini berharap mendapat instruksi "ini saya mesti ngapain?".

Tapi tetap saya memberikan apresiasi tinggi, kepada mereka yang kursus untuk mempertajam potensi diri, yang ngikut orang untuk menduplikasi benih-benih keberhasilan dan yang melamar sana-sini untuk mendedikasikan potensi. BUKAN untuk mengemis instruksi dan sekedar menyadong rejeki.

Sebentar lagi jadi CPNS

Bersamaan dengan tepat 5 tahunnya saya mencanangkan diri sebagai manusia entrepeneur, maka besok Desember saya akan melaksanakan wisuda atau tepatnya mewisuda diri sendiri dari kampus bisnis yang saya buat sendiri. Dulu, 13 Desember adalah awal masuk ke kampus bisnis itu, Studium Generalnya oleh Zainal Abidin dan Supardi Lee.

Dan kali ini, tinggal merampungkan proyek skripsi saya yang mudah-mudahan Desember sudah kelar. Saya ambil judul skripsi PNC, doakan lancar ya.

Dan layaknya kehidupan manusia pada umumnya, setelah lulus dari kampus, maka saya tinggal memasuki fase CPNS, apa itu CPNS? CPNS adalah Calon Pengusaha Nasional Sukses. Ya, tidak bisa langsung jadi PNS lah. berarti mulai 13 Desember besok, saya tidak lagi belajar toq, tidak lagi dolanan tok dalam urusan bisnis, karena saya sudah lulus.

Masa CPNS sendiri saya perkirakan mungkin sekitar 8 bulanan hingga saya menyelesaikan PTA saya di Akatel. Kemudian, barulah saya prajabatan, prajabatan mungkin berlangsung satu atau dua minggu saja, saya si berharap mudah-mudahan prajabatan saya kebagian tempat di Madinah sana.

Dan setelah itu tidak lagi magang, tidak lagi training, saya sudah benar-benar jadi PNS alias Penguasa Nasional Sukses.

Saya optimis bisa mencapainya kok. Apalagi kalau saya ingat pengalaman masa lalu, awal masuk kampus bisnis yang saya buat sendiri, yang saya jadi dosen sekaligus rektor sekaligus mahasiswanya sendiri itu saya mengikuti masa orientasi menjajakan air minum kemasan di Stasiun Lenteng Agung, memasarkan gantungan kunci di IPB dan mengasong snack di Pasar Bogor.

Dengan terus mendatangkan dosen-dosen terbang dari orang-orang terbaik di dunia bisnis, masuk semester kedua saya dan rekan-rekan membuat satu bangun usaha pertama berbasis investasi, nama usaha waktu itu Slash Point Pinmaker yang saat ini sudah berkembang menjadi SPC.

Tepat setahun saya kuliah di kampus bisnis itu, tepatnya 12 Desember, saya membuat media massa sendiri bernama Koran Dinding, sebuah koran iklan fenomenal pertama yang dipasang di dinding dan terbit hingga 2 tahun, jarang-jarang koran iklan lokal bertahan bahkan hanya sampai 1 tahun loh.

Pasca UTS semester 3 di kampus bisnis itu saya dan tim mendirikan lembaga pelatihan pelajar pertama di Purwokerto yang kemudian dikenal dengan SDTC. Pada tahun ketiga kuliah saya, saya bergabung dengan banyak komunitas, diantaranya adalah EU buatan Purdi E Chandra dan bermitra dengan banyak tokoh-tokoh public lokal maupun nasional.

Hingga di awal semester ke delapan saya mendirikan Warnet dan tidak lama berselang saya mulai terjun ke dunia kuliner. Sampai saat ini kaki bisnis saya, saya kerucutkan menjadi 4 saja, IT, Publishing, Training Center dan Kuliner.

Dan semua itu hanyalah praktikum-praktikum dalam siklus pembelajaran saya di kampus bisnis yang saya buat dan saya miliki sendiri. Ada keuntungan, ada juga kerugian. Dapat uang, tetapi juga banyak keluar uang. Ya, seperti kuliah konvensional saja, keluar uang banyak sampai puluhan juta, tapi tidak pernah menuntut kampus mengembalikannya.

Demikian pula saya, keluar uang banyak untuk menutup utang, rugi-rugi dan operasional yang belum balance, tapi saya tidak menggerutuinya, wong itu biaya yang memang wajib saya bayar untuk ilmu-ilmu yang saya pelajari. Toh pada saatnya Desember nanti, saya diwisuda juga, saya si berharap orang tua bisa datang nanti pas Wisuda, begitu juga pejabat negara bisa memberikan ucapan selamat, ya minimal Pak Bupati lah. Doakan ya...

Dan atas track record dan antusiasme pembelajaran saya selama kurun 10 semester, senat kampus menganugerahi saya predikat Summa Cumlaude. Wah senang sekali?

Loh kok bisa dapat predikat sebagus itu? Ya bisa-bisa saja, wong ketua senatnya ya saya sendiri. Dan nanti juga yang mencetak ijazahnya saya sendiri juga, yang memajang juga saya sendiri. Suksesnya ya saya peroleh sendiri, tapi si saya terus niatkan untuk selalu bagi-bagi.

10/3/10

Identiknya Bisnis

Identiknya bisnis itu dengan sportivitas, kejantanan, keterbukaan, ketegasan, kecemerlangan. Bukan dengan colong-colongan, serobot-serobotan, salip-salipan apalagi sabotase-sabotasean. Untuk yang sedang membangun bisnis, semoga dimudahkan urusannya.

Seperti yang pernah saya tulis di status, berdoa mohon kemudahan itu beda dengan berdoa mohon yang mudah-mudah saja. Setiap kita pasti menghendaki pribadi kita meningkat, pribadi menjadi meningkat karena diberikan ujian/masalah yang lebih, nah sekalipun ujian dan masalah yang datang bertambah besarnya, semoga setiap itu pula senantiasa diiringi kemudahan menyelesaikannya.

Berbeda bukan, dengan doa minta masalah yang mudah-mudah tok saja?

9/30/10

Sudahlah, tidak usah beralasan

Ada tidak ya di bangku sekolah seorang anak mengacungkan tangan dan bertanya "Pak Guru, bagaimana akhlak yang terpuji ketika kita terlambat?", sepanjang 12 tahun saya sekolah tidak pernah tuh mendapati ada pertanyaan dan penjelasan tentang itu.

Ya, karena memang materi akhlak terpuji saat terlambat tidak keluar di UASBN apalagi di Lomba Cerdas Cermat UUD 45 buatan kaum "cinta negeri".

Saya justru dapat ilmunya dari orang yang bukan siapa-siapa, yang intinya, kalau kita terlambat sudahlah tidak usah beralasan, cukup minta maaf sebagai ungkapan penyesalan. Bukan hanya alasan keterlambatan kita itu tidak perlu, tetapi hanya menyakiti hati orang yang sudah membuat kita menunggu.

Orang yang membuat kita menunggu tidak butuh pengetahuan apapun yang menunjukkan bahwa kita tidak salah-salah amat, dia lebih membutuhkan dirinya diberitahu bahwa kita sangat menyesal atas keterlambatan kita itu.

Sekali lagi, ketika terlambat, minta maaflah dengan setulus hati dan simpan semua alasan. Kecuali orang itu beberapa jeda kemudian menanyakannya, jawablah, bukan untuk membaik-baikkan diri, jawab saja sebagai sebuah pertanyaan yang memang seharusnya dijawab.

Nuwun. Yang benar dari Allah yang salah dari saya sendiri.

Kepunthal-punthal

Seperti meminta sepeda, begitulah kita merengek minta dihadirkan jodoh untuk kita. Jangan-jangan, sebagaimana sepeda, pada saat awal dimiliki tah iya, disayang-sayang sampai-sampai ditangkringkan diatas kasur untuk ikut menemani tidur. Namun, setelah selang berapa waktu, merasakan lelahnya mengayuh, mengetahui kecepatan maksimal yang bisa dikayuh, akhirnya dianggurkanlah itu sepeda.

Stop! Ini bukan bicara soal sepeda, paragraf di atas hanya perumpamaan saja, begitulah, ada yang namanya euforia. Makanya, sepertinya ada yang lebih bijak dari cara kita meminta jodoh, ketimbang merengek seperti minta sepeda.

Lalu harus seperti apa donk memintanya? Hm, bagaimana kalau seperti minta tiket perlombaan. Ketika seseorang mendaftarkan diri berharap mendapatkan tiket untuk bisa mengikuti lomba, orang itu sadar bahwasannya setelah tiket didapat bukan kesenangan belaka, tetapi tantangan yang lebih besar. Lebih besar tetapi bukannya menakutkan, tapi mengasyikkan, karena kita sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Sehingga tidak ada itu satu fase kita terlena dengan kenikmatan sesaat sampai-sampai berhenti belajar, karena kalau hal itu terjadi artinya kita akan kalah konyol (sejenis mati konyol) dalam perlombaan itu.

Dan pada kondisi lain, ketika kita kok pada tahap pra kualifikasi tidak lolos, tidak mendapat tiket, bukannya menggerutu dan memaksakan panitia memberikan tiket, tetapi kita belajar lebih, berlatih lebih, sampai kita berhasil lolos mendapatkan tiket itu.

Kalau pra kualifikasi saja tidak lolos, dan eh misalnya kita memaksakan diri untuk tetap boleh ikut lomba, dijamin, kita hanya akan kepunthal-punthal.

Mau kepunthal-punthal? Dia tahu kita jarang menghitung (kemampuan) diri kita.

Rahasia Dibalik Bilangan Ganjil

Sewaktu dulu saya ikut pelatihan Kewirausahaan bersama Pa Supardi Lee di Auditorium salah satu Fakultas di IPB saya diajari tentang "anchor", atau istilah Indonesianya jangkar. Jadi, kita membuat satu gerakan khusus, misalnya menceplikkan jempol, menggenggam tangan atau apapun lah, yang dengan itu kita jadikan shortcut atau penghubung dengan memory kita yang berisi semangat, kemenggebu-gebuan dan lain sebagainya.


Sederhananya, dengan kita mengepalkan tangan misalnya, diri kita jadi tergerak untuk semangat lagi, mengulang semangat di suatu waktu yang pernah kita alami dulu. Itulah anchor.


Saya mengistilahkan itu dengan aktivitas "mengingat semangat" atau bahasa Arabnya mungkin "Dzikrul Semangat" (ngarang....), karena dengan melakukan apa yang menjadi anchor kita, memory tentang semangat hadir di diri kita.

Ternyata hal itu bukan ilmu baru, sudah diajarkan bagaimana Dzikrullah dengan metode anchor sebagaimana yang diajarkan Pa Supardi Lee di atas. Bagaimana caranya?


Hadits Qudsi menyebutkan, "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", yang artinya, sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.


Nah, bilangan ganjil diajarkan-Nya untuk menjadi anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Kita memilih hari untuk bepergian, "hm, tanggal 13 apa 14 ya?" lalu sontak kita memilih "tanggal 13 ah!", kemudian seorang teman berkata "kenapa 13?", lalu kita menjawab "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", bukankah itu artinya kita sudah melaksanakan aktivitas mengingat Allah? Dzikrullah?


Bukan hanya mengingat, tetapi juga memilih apa yang Dia cintai. Nah, mulai sekarang jadikanlah bilangan ganjil sebagai anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Ketika kita bimbang memilih hari untuk bepergian, pilih yang ganjil, ketika membeli sesuatu pilihlah jumlah yang ganjil, ketika menyalakan volume televisi tetapkan pada volume ganjil, dan setiap kali ada orang bertanya atau diri kita sendiri yang bertanya, "kenapa?", maka jawablah "Allah itu ganjil, dan menyukai yang ganjil". Maka kita sudah mengingat-Nya, sudah melibatkannya.


Quraish Syihab mengatakan, "Esensi beragama adalah melibatkan Allah dalam setiap urusan kita."


Wallahu'alam, CMIIW.



Sumber dari kuliah taraweh di Masjid Daarut Tauhid

Lilinnya Padam

Teduh rasanya ruangan, kalau ada lilin yang menyala di dalamnya. Memang tidak terang benderang, tapi nyaman. Beda ceritanya kalau lilin itu mati. Kita berharap ada lampu pijar menyala menerangi kita. Masih kurang terang, sambil menggerutu, kita menuntut dihadirkan matahari.

Ada cara yang lebih tidak menyiksa, yakni : akui saja. Akuilah saja kalau "lilin diri" kita padam, sehingga kita menuntut lampu pijar untuk segera dinyalakan agar kita terterangi. Akuilah seperti Nabi Yunus AS mengakui kedzoliman dirinya dalam doa "Lailahaila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin" agar kita tidak lelah menuntut dihadirkan matahari.

Memang terlalu sombong manusia, Nabi saja mengaku dirinya dzolim dihadapan-NYA, lah kita malah mengaku-ngaku hebat, walau pada kenyataannya setiap hari kita meminta lampu pijar, menuntut dihadirkan matahari, pertanda "lilin diri" kita mati.

9/28/10

Amannya Mario Teguh

Ketika Ary Ginanjar dihujat lantaran dalam membawakan materi training-training pembangun jiwa mengutip Al Quran, Hadits, dan kata bijak dari tokoh2 Islam. Mario Teguh justru aman-aman saja.

Coba si simak rekaman Mario Teguh dalam programnya di Metro TV yang populer dengan sebutan MTGW, simak dengan cermat, dalam sekali tayang berapa kali Mario Teguh mengungkapkan kalimat-kalimat yang menyerupai ayat Al Quran dan Hadits Nabi SAW.

Ary Ginanjar yang mencoba mempenetrasikan nash-nash asli itu digampar bahkan ditendang, lantaran ini dan itu. Tetapi Mario Teguh tidak, karena Mario Teguh me re-redaksi atau membuat keredaksian sendiri yang senada dan mirip dengan nash-nash Al Quran dan Hadits.

Apapun itu, merekalah orang2 berilmu yang turun gunung, yang bukan hanya dakwah di dalam masjid, yang bukan hanya berharap membeli surga dengan rakaat sholat dan sekian persen zakat berasnya.

Saya jadi teringat kata teman baik saya di kumpulan di rumah Karyanto silaturahim Idul Fitri kemarin, "Golongan Islam klasik memang lebih getol mengkritik saudara seiman sendiri, ketimbang mengkritik orang lain."

Prihatin saya.

Pa Ary, teruslah menuju kebenaran dan teruslah berbagi. Mario Teguh, teruskan pula, saya setuju2 saja kok, toh itu lebih aman dari serangan saudara sendiri. Yang penting pesannya sampai dulu, daripada pesan tidak pernah tersampaikan hanya karena meributkan nash.

9/26/10

Nanti Dibikin

Sebuah dedikasi untuk teman-teman se-almamater tercinta, untuk persatuan ukhuwah kita dan mengembangkan semangat koperasi tanpa harus mendaftarkan diri ke departemen koperasi (karena sesungguhnya departemen koperasi, departemen agama dan lain2nya itu aneh keberadaannya...), bahkan tanpa menggunakan nama koperasi seperti yang tertempel di taksi-taksi sekarang... Nanti kita bikin :

99. Spensaba Mart
05. Pasar Kecil Psimis

Man shabara zhafira

"Sopowonge sing sabar, dheweke begja", begitu kira-kira artinya.

Hikayat Kelahiran Bedug

Waktu itu Islam belum lama datang di tanah Jawa, tanah Jawa yang masyarakatnya belum mengenal kalkulator apalagi kamus bahasa Arab, masih tradisional pokoknya.

Setelah beberapa orang di kelompok masyarakat itu bisa syahadat, selanjutnya mereka diajari sholat. Maka, dibangunlah sebuah masjid yang sederhana dan diserahkanlah pengurusan masjid itu kepada seorang warga bersama Tarmin.

Tarmin juga yang biasa adzan disitu, hari berganti hari si Tarmo yang masuk Islam dan mengaji materi "Fundamental Islam" bersama Tarmin jarang sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di masjid, lalu ditegurlah dia, "kamu kok nggak ikut sholat jamaah Dhuhur dan Ashar?"

Si Tarmo menjawab, "Lah, saya di kebon, nggak denger kamu Adzan, makanya beli mic & Toa donk?!", Lalu si Tarmin menjawab, "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada toko yang jualan mic & Toa!".

"Oh iya, lupa...", kata Tarmo. "Kalau begitu begini saja, itu ada kayu bolong kalau dipukul kan lumayan keras bunyi 'thong-thong-thong' nya, nah, kalau kamu mau Adzan, dipukul dulu ya yang keras biar aku tahu bahwa sebentar lagi Adzan", lanjut Tarmo.

"Ah, ribet amat si, tinggal kamu lihat jam si kenapa, kira2 sendiri sudah masuk waktu sholat apa belum...", Sanggah Tarmin. "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada jam! lupa ya?!", jawab Tarmo. "Oh iya, lupa....", balas Tarmin.

"Baiklah, aku tabuh kayu itu ya kalau mau Adzan, tapi kamu gotong gih ke depan masjid", lanjut Tarmin.

Sejak saat itu, tiap dengar 'thong-thong-thong', Tarmo segera bergegas dari kebonnya dan menuju masjid. Dia tidak pernah lagi ketinggalan jamaah karena sebuah benda yang kemudian diberi nama "Kenthong", karena bunyinya tang thong-thong-thong itu.

Nah, yang kebonnya lebih jauh tidak bisa mendengar jelas itu kenthong, apalagi anak-anak biasa mainan menabuh-menabuh kayu. Daripada salah pendengaran atau tidak terdengar, ada orang lain yang kebonnya lebih jauh dari Tarmo urun kulit sapi yang dibundarkan di atas kayu yang kalau dipukul bunyinya "dug-dug-dug".

Lambat laun benda itu dikenal dengan nama bedug karena bunyinya yang 'dug-dug-dug'. Karena tarmin sudah ribuan hari menabuh itu dua benda, maka lambat laun jadi tidak sekedar menabuh tetapi muncul irama tertentu seperti yang terdengar sekarang ini.

Dan karena kayu bolong dan kulit sapi itu sering kehujanan, maka diiubkanlah di di serambi masjid. Tidak lama berselang setelah kebiasaan itu terbentuk, kiai yang mengajar ngaji Tarmin dan Tarmo ditangkap penjajah Belanda.

Kejamnya penjajah Belanda, kiai yang baik itu diasingkan dan ditukar dengan kiai palsu yang pekerjaannya menyelewengkan aqidah. Walhasil, masyarakah Jawa yang tradisional, sederhana dan miskin wawasan itu beberapa ada yang mensyariatkan kenthong dan bedug sebagai syarat sah sebuah masjid.

Begitulah, tidak selang berapa lama berlalu, Tarmo, Tarmin dan gurunya dianggap sesat karena menggunakan benda-benda itu. Mungkin pendapat dari orang yang menganggap sesat itu, seandainya Tarmo tidak usah menggunakan benda-benda itu, dan tidak usah mendengar orang adzan karena jauhnya ladang, itu bisa jadi dianggap tidak sesat. (*Aneh...)

Sebagaimana di judul, ini cuma hikayat, hikayat itu cuma ngarang... jadi ini bukan teks sejarah kelahiran bedug ya, jangan dicap sesat saya.

Sekedar ingin mengajak berpikir, bahwa yang mutlak benar itu Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain, selain Al Quran dan Hadits semuanya mempunyai kemungkinan salah. Nah, cara dan hasil tafsil Al Quran dan Hadits itu bagian dari Al Quran dan Hadits itu sendiri atau bukan? Kalau bukan, berarti itupun mungkin salah.

CMIIW

9/24/10

Play On

Tidak terasa, sudah hampir setengah tahun saya menikmati irama aktivitas yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya saya banyak di balik layar (layar laptop) dan sedikit putar-putar purwokerto, sekarang hampir setiap hari harus mampir SPBU.

Setiap kali saya selesai dari sebuah urusan eh kemudian merogoh saku dan menyimak lembaran to do list yang saya buat dari potongan kertas aster ukuran 6 x 8 dan ternyata sudah ada waiting list aktivitas berikutnya yang harus segera saya temujui dan saya beresi, seketika itu pula saya melatih diri saya untuk reflex mengucap ungkapan tertulus dari dalam hati :

"Alhamdulillah, waktu yang saya punyai termanfaatkan"

Betapa syukur itu kentara mendalam ketika saya mengcounternya dengan dua kenyataan berbeda di luar saya : 1. mereka yang bingung mau ngapain dan 2. mereka yang terpaksa harus ngapa-ngapain demi janji yang mereka tuangkan dalam surat kontrak yang mereka tanda tangani sendiri.

Dan sebuah hadiah indah kemarin saya dapati, MYELIN namanya. Bahwasannya, tidak ada yang merugi bagi seorang yang gemar playon tetapi tetap berpikir mendalam (berkontemplasi), karena muscle memory atau memory yang tersebar di sekujur tubuh kita berkembang, seiring dengan berkembangnya brain memory di dalam otak kita.

Orang yang hanya bertindak, berorientasi pada bayaran atau penilaian atas hasil tanpa berpikir mendalam tentang visi hingga evaluasi maka brain memory-nya tidak berkembang. Dan orang yang hanya berpikir, tanpa tersibukkan dirinya dengan action fisik (playon), maka muscle memory nya tidak akan berkembang. Dan kata Renald Kasali si penulis buku MYELIN, beriringnya perkembangan kedua memori penting di dalam tubuh kita itulah yang membuat lahirnya pemimpin-pemimpin besar dibidangnya.

Saya mengira-ira, mungkin itu semakna dengan perpaduan yang kata Bob Sadino jam terbang dan kata Ippho Santosa Intuisi.

Mari playon, marilah playon, marilah Play On bersama sama...

9/23/10

Stadium Kepepet, Stadium Dorurot

Sebetulnya sangat beda, tapi berapa banyak orang yang sengaja merancukan antara dua kondisi ini, yakni stadium kepepet dan stadium darurat.

Kepepet itu misalnya, jatuh tempo angsuran. Dorurot itu diancam sama depkolektor mau dibunuh. Nah, diajaran agama kita, dalam kondisi dorurot bahkan daging babipun boleh dimakan asal dianggap menjadi satu-satunya jalan yang bisa berefek kuratif (menyembuhkan).

Kehati-hatian kita adalah dalam menentukan kita sebetulnya stadiumnya sudah dorurot apa baru kepepet. Kalau baru kepepet kok sudah makan daging babi, aduh jaaan sayang..... Jasa Setiabudi sampai membuat buku tersendiri tentang kekuatan dibalik kepepet yang judulnya The Power of Kepepet.

Pesan saya, saat merasa stress, buntu, merasa kondisi sudah dorurot, sharinglah kepada orang yang tepat, kalau bisa jangan hanya kepada satu orang, agar kita bisa menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk mendefinisikan kondisi kita memang benar-benar dorurot atau baru kepepet tapi sudah mau makan babi?

Kepepet adalah tonggak kebangkitan diri kita, kecuali sudah benar-benar dorurot, janganlah terburu-buru makan babi. Kepepet bukan dalih untuk bisa kita sebut dorurot, kepepet adalah timing kita untuk meluncur...

Ayuku

Rangkaian penawaran demi penawaran yang kupikir selesai dengan 2,5 jam talkshow dan diskusi interaktif tadi malam dirumah kawan lamaku, Ayuku namanya. Ternyata tidak, setelah tadi pagi menandatangani 3 materai, sore dan malam ini masih ada 3 appointment lagi. Alhamdulillah...

Saya jadi ingat sebuah kalimat sakral di salah satu awal paragraf pembukaan UUD 1945, itulah bukti betapa tinggi spiritualitas para pendiri bangsa, bayangkan kemerdekaan yang untuk menggapainya melahap seabreg harta benda bahkan ribuan malah jutaan nyawa, tidak mereka tulis di UUD : Atas berkat uang yang terbuang dan darah yang tertumpah, tetapi

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..."

Dan bukan hanya itu, kalimat yang membuntutinyapun bukan soal materi, bukan soal kerja keras, tapi :

"...dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur."

Keinginan luhur mungkin identik artinya dengan niat yang lurus dan penuh kesungguhan.

Ya, semua penawaran dan penerimaan yang bertubi-tubi adalah atas berkat Rahmat Allah, bukan hasil kerja keras dan lelah...

*to Ayuku dan all tenant-tenant saya, semoga berlanjut ya obrolan kita...

Cukup Jadikan itu Pemacu, Bukan Peresah

Hari ini talkshow Inspirasi Entrepeneurship di kampus Akatel berlangsung lancar, antusias dan saya sendiri puas dengan performa tadi. Slide terakhir yang saya tampilkan tadi di baris paling bawah sebagai inti materi adalah "berpikir linear v.s. berpikir lateral".

Ini sebetulnya bukan slide untuk mereka saja, tapi slide untuk diri saya sendiri. Agar tidak terjebak dalam alur berpikir linear ketika dilontari pertanyaan-pertanyaan yang terkesan menekan. Contohnya adalah pertanyaan ini "Lah, kamu kapan nikah?", yang dilontarkan bertubi-tubi selama rangkaian silaturahim Idul Fitri keliling diantaranya ke guru-guru SMA tercinta kemarin.

Pertanyaan itu, harus kita analisis asbabun-nya atau latar belakang kenapa pertanyaan itu dilontarkan. Apakah sebuah pertintah untuk kita lekas menikah, atau sebuah bumbu komunikasi yang ringan, menggelitik tetapi mengesankan perhatian personal yang dekat?

Berpikir linear terhadap pertanyaan itu dan pertanyaan lain yang serupa hanya akan membuat kita terjerumus dalam lubang bernama keresahan. Karena itu, berpikir lateral saja, cukup jadikan itu sebagai pemacu, tidak perlu merasa tidak nyaman, sehingga kita mempercepat nikah kita atas dasar ingin menjawab pertanyaan itu secepatnya, bukan lagi karena niat sucinya sebuah pernikahan.

Sering bukan? kita terjebak dalam kekeliruan niat semacam itu? Misalnya di kasus lain, ada orang menutup akun facebook, sebenarnya ingin membukanya lagi, tapi karena gengsi, ia tak kunjung membukanya. Bayangkan, susah-susah tutup akun bukan karena niat ingin memetik manfaatnya, tetapi karena demi gengsi.

Begitu juga dengan wisuda, niat suci mengambil bagian dalam perhetalan wisuda sebagai perhelatan proklamasi diri bahwa skill yang ia ilmui sudah melampaui batas kapasitas, eh banyak orang justru memburu-buru wisuda karena resah dengan slentingan dan omongan orang, termasuk orang tua.

Hal semacam itulah yang memboroskan amal, kinerja meningkat tapi niat tidak terpelihara, sayang... mubah... . Mending si tidak usah nikah saja, atau buka saja itu akun facebook, atau tidak usah wisuda saja, daripada niat ingsun memuja gengsi diri.

Ya sudahlah, intinya, jangan resah oleh omongan orang, karena belum tentu orang ngomong seperti itu sedang dalam konteks menuntut, bisa saja cuma sekedar menggelitik. Jadikan saja itu pemacu. Kalau itu menimbulkan keresahan dan keresahan tidak bisa diusir, percayalah, setelah pertanyaan itu terjawab akan menyusul pertanyaan berikutnya, "Kapan punya rumah?", "Kapan punya anak?", "Kapan punya mantu?", "Kapan punya cucu?", "Kapan kamu mati?"...

Haha, mending mati sekarang, daripada menghabiskan umur hanya untuk bergumul dari keresahan akibat :
1. omongan orang
2. gengsi diri



CMIIW

9/22/10

Nasi Kuning

Nasi kuning depan Rumah Makan Sederhana jam 08.00 sudah habis. Padahal jam 06.00 baru buka. Hm, sudah laku berapa ya? Katakanlah laku 100, harga perporsi 3.500 maka didapat angka 350.000 omzet perhari.

Keuntungan minim-minimnya 50%, jadi untung 175.000. Angka itu mungkin sudah bersih, karena tidak perlu bayar karyawan sebab si owner sekaligus jadi self-employee disitu, dan tidak perlu sewa ruko karena cukup menggelar lapak.

Perbulan didapat laba bersih 175.000 x 30 = 5.250.000,00. Tiga kali lipat dari gaji CS. Bahkan cicilan Avanza saja cuma 3.500.000,00.

Kepada para entrepeneur yang saat ini omzetnya masih seret, sabarlah, ikhlaslah, asal tidak putus asa, kata SBY "Ku Yakin Sampai Disana".

9/20/10

Bebaskan Dirimu....

Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek.
Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi.
Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan.
Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak hanya bisa minta petunjuk.

(Dahlan Iskan)

9/15/10

Multi-intepretasi SMS

Memang gampang sekali salah tafsir dalam membaca SMS, apalagi yang membacanya cepat, hanya sekali dan tidak diulang. Haha, sore ini, SMS-an dengan harus dua kali kirim dengan penjedaan dan tata penulisan yang berbeda demi menghindari multi-intepretasi SMS. Hahaha... ada ada saja.

9/14/10

Semudah itukah Mencap Orang Lain Sesat?

Kepada para kiai-kiai itu saya ingin bertanya ke mereka, ibadah itu ada (1) ATURAN dan ada (2) TUJUAN, apa cukup kita mencapai maqom kemuliaan tertinggi hanya dengan mencapai ATURAN ibadah saja, sehingga tidak perlu kita berpikir, merasa dan merenung tentang TUJUAN ibadah. Atau TUJUAN ibadah memang hanya sebatas mencukupi ATURAN2nya saja?

Jangan Pake "Mantese"

Mantese kepenak ya ngger nduwe bojo, mantese nyamleng ya nek wis ana kodean, mantese bombong ya ngger dadi kaya Aa Gym...

Mau sampai manapun diperturuti, "mantese" hanya akan berbuah kekecewaan. Ya, dalilnya jelas, jangan mengikuti prasangka, karena kebanyakan prasangka itu tidak benar. Nyatanya memang begitu, wong mbojo kepengen menyepi, wong ngode kepengin prei, wong penggede kepengen leren.

Itulah tingkatan hakikat kehidupan yang diajarkan Tuhan kepada manusia melalui proses. Bukan karena tidak mampu, Tuhan kok mengulur terkabulnya doa, memperpanjang masa prihatin sebelum sukses, cuma agar manusia tidak terjerat oleh pikirannya sendiri yang bernama "mantese".

Pada akhirnya, semua keberhasilan adalah karena Rahmat Allah. Upaya kita bukan penyebab keberhasilan kita, secuilpun tidak. Kalau konsep ini sudah tertanam bukan sekedar "mudheng", tetapi bener-bener "dong" alias "ngeh", saya yakin, tidak ada itu kita ngode dan bilang "kepriwe maning", tidak juga cemas dan kuwatir dikala jodoh yang dipanjatkan disetiap doa tidak kunjung hadir, tidak pula kemrungsung untuk mengharuskan diri menjadi penggede negeri.

Sekali lagi, bukan karena kerja keras terus kita jadi sukses, bukan karena dosa terus kita jadi gagal, karena Rahmat Allah semata. Kerja keras dan dosa itu hanya link untuk kita eling bahwa Allah itu dekat, rahmat-Nya itu dekat...

Bagi yang tidak mudheng, silahkan tanya langsung ke Allah... boleh kok.

9/13/10

Opname

Masjid Daarut Tauhid

Bergumam

Toyota Vios 2007, 140juta. Sikat???

Meminta

Tuhan berikanlah aku cinta...

Bertanya

Apa umur idealis saya sudah habis ya? Saatnya menyerah pada persoalan-persoalan hidup dan menjadi manusia "ya, kepriwe maning..."

9/7/10

Pasak/Pilar yang Dipancangkan

Pasak/Pilar yang Dipancangkan tidak cukup dengan satu atau dua hari, atau dengan energi satu atau dua joule itu akan menjadi penjaga keyakinan kita dalam berikhtiar.

Terlaksana Sudah

Ditujukan kepada para donatur postingan ini di publis, minta maaf nih atas keterlamabatnya.

Telah terselenggara dengan baik, pelatihan inspirasi menulis dilanjutkan buka puasa bersama untuk putra-putri panti asuhan Darmo Yuwono, kala itu tanggalnya 20 bulannya Agustus 2010.

Ini dokumentasinya sekelumit...

Peserta

Crew, mohon maaf yang sisi sebelah kanan masih ada sederet lagi, tapi belum ketemu dokumentasinya

Pelatihan lanjutan, setiap pekan sekali
Untuk teman-teman yang tertarik untuk ikut berpartisipasi dan berbagi inspirasi di pertemuan-pertemuan lanjutan, hubungi saya saja

Jazakumulloh khoiron katsiron untuk para donatur, salam sudah disampaikan bersambut doa dari saya dan mereka semua.

8/28/10

Nusa Madani

Keikhlasan tidak menerima sesuatu yang seharusnya menjadi hak kita, mudah2an itu menjadi sedekah kita dalam bentuk yang lain

8/24/10

Tujuh

Orang Jawa terkenal sangat kental basa-basinya. Bahkan untuk sekedar pamitan saat bertamu, basa-basi sebagai ekspresi kesantunan dan kecerdasan emosinya hingga berlevel tujuh.

Pertama : "Kadosipun niki badhe pamit rumiin" (Sepertinya ini saya mau pamit dulu). 
Begitu GeErnya takut kepulangannya membuat sedih si empunya rumah (padahal asilnya mah si empunya rumah malah senang, hehe) maka sebelum pamitan sesungguhnya ada acara pra pamitan, menggunakan kata "sepertinya".

Kedua : Berpamitan
Inilah inti dari serangkaian seremoni pamitan yang sesungguhnya, bagi bukan orang Jawa sebenarnya ini saja lebih dari cukup.


Ketiga : "Niki maturnuwun sanget lho" (Mengucapkan terima kasih)
Mengucapkan terima kasih, tidak peduli disuguh atau tidak tadi, tidak peduli dioleh-olehi atau tidak, ya diterimakasihi saja item-item yang ada walau beberapa mungkin meksa.


Keempat : Bersalaman
Salaman sebagai aksi kongkrit sebuah seremony pertemuan maupun persiapan, tentu diiringi dengan senyuman yang termanis dan kata-kata basa-basi pengiring yang bentuk dan jumlahnya tergantung tingkat kepandaian masing-masing


Kelima : Sambil naleni sepatu bercakap-capak seperlunya lalu ditutup dengan ucapan "pareng" (permisi)
Ya begitu deh.


Keenam : Saat kendaraan mulai melaju mengklakson sambil uluk salam "Assalamu'alaykum"
Klakson itu penting, untuk mobil-mobil yang sudah menggunakan power window biasanya dengan membuka kaca. Tapi untuk yang bertamu menggunakan becak, cukup dengan meminta pak tukang becak memelankan genjotannya.


Ketujuh : Sesampainya dirumah sms lagi "Kolowau saestu maturnuwun sanget lho"
Ucapan terima kasih lagi, kali ini beda, lebih tinggi levelnya, karena ada kata "saestu" (benar-benar).

Hahaha....

8/23/10

Taci Taci Semakin Tua

Bahasa apa yang wajib kita siapkan kalau kita mau belanja di Toko Cina? jawabannya adalah Bahasa Jawa. Kenapa? Karena sudah tertebak, yang jaga warungnya si Kokoh atau Taci disana pasti orang Jawa.

Kenapa suka belanja di Toko Cina? Karena 9 dari 10 toko di 9 dari 10 pasar di Indonesia yang punya orang Cina. Yang jaga orang Jawa, kasirnya si Kokoh, si Taci atau anak mereka, paling begitu.

Dan karena Cina berhasil menguasai kunci-kunci supply produk. Tokonya jelek, tapi harganya murah. Berantakan penataannya, tapi semuanya ada.

Pertanyaannya, ketika si Kokoh dan si Taci itu sudah semakin tua, lalu meninggal dunia. Kepada siapakah akses supply barang, diteruskan? Kepada siapakah toko2 terstrategis diwariskan? Apakah kepada anak-anak mereka yang sedari kecil hidup mewah tetapi gigih dilatih prihatin dan telaten?

Atau kepada orang-orang pribumi yang kita salah satu diantaranya?