Jauh-jauh printer Canon tipe M Pixma 258 didatangkan ke L22, eh ternyata... ternyata eh ternyata sangat membantu keberadaan printer itu. Walau sedikit mengecewakan, baru beberapa puluh lembar, warna birunya sudah memudar.
Beda dengan si Epson, R230 ini kemarin sempat kabur beberapa lama, menikmati hari-harinya di toko service printer sana. Sempat cemas kemarin, aduh, jangan-jangan setelah kembali sudah tidak mau lagi berpartner denganku. Terang saja, magentanya enggak keluar, sampai-sampai aku bawa ulang ke toko servicenya, "ini headnya kena mas, rusak permanen magentanya!". Waduh, mana si Epson ini printer paling idealis pula, beda sama si Canon, kalau hitamnya rusak, bisa di mode color only, kalau Epson ya enggak bisa, mau enggak mau semua warna harus OKE semua...
Sedih rasanya, Epson kembali, tapi tidak begitu keadaan head di bagian magentanya. Heumh, ya sudahlah, nyatanya orang sepertiku baru bisa ikhlas kalau sudah kepepet, kalau sudah tidak ada pilihan lain. Ah, ya bersyukur saja, masih bisa ikhlas. Dan aku ikhlaskan itu Epson, aku cueki berhari-hari. Weleh, malah ini, syukur Alhamdulillah, ketika aku kesal dengan si Canon, aku iseng nyalakan si Epson, Alhamdulillah, magentanya sudah OKE.
Epson R230 ini mengagumkan malam ini, ya, setelah sekian tahun bersama, sudah ribuan lembar kertas ia lukisi dengan headnya yang mahal. Dan sampai hari ini, printer sepuh itu terbuki menunjukkan performa yang lebih hebat, ketimbang saudaranya si Canon, yang baru juga 7 bulan bergabung bersamaku.
Terima kasih Epson, keep fight!
8/15/11
8/13/11
GFF
Bagiku tidak ada kata ngisin-ngisini dalam kamus hidupku. Apalagi cuma sekedar ngambil prasmanan saat kondangan, kalau memang lagi kepengin ambil banyak, ya ambil segepok itu daging tusuk-daging tusuknya. Menurutku itu lebih baik, ketimbang sebenarnya laper, sebenarnya kepengin ambil banyak, tapi jaim, alias jaga image. Image siapa? Image diri sendiri? Weleh2... sebegitu meninggikan diri sendiri orang macam itu.
Pun begitu di Soekarno-Hatta kali kedua kemarin. Bukannya ngumpul bareng rombongan, aku memilih playon penculatan entah kemana, weheehe, sampai akhirnya ketemu itu ruangan kecil di terminal 2F berlogo siluet burung, ya, kantornya Garuda Indonesia.
Disitulah mimpiku terwujud : punya kartu GFF, alias Garuda Frequent Flyer.
Amboi senangnya bukan main... yah, bukan soal kartunya yang terpenting, karena kartu yang diberikan saat itu baru kartu sementara, kartu aslinya katanya mau dikirim 14 hari setelah aktivasi dengan sekali terbang, dan sekarang yang harusnya sudah sampai juga belum sampai itu kartu. Tapi yang nikmat adalah ketika satu mimpi kita terwujud. Mimpi waktu itu saat dapat majalah Garuda di sebuah pameran, hehe.
Masih konsisten dengan judul besar blog ku ini. Bermimpilah, teruslah bermimpi, nikmati dahsyatnya setiap moment dimana mimpi kita terwujud.
Pun begitu di Soekarno-Hatta kali kedua kemarin. Bukannya ngumpul bareng rombongan, aku memilih playon penculatan entah kemana, weheehe, sampai akhirnya ketemu itu ruangan kecil di terminal 2F berlogo siluet burung, ya, kantornya Garuda Indonesia.
Disitulah mimpiku terwujud : punya kartu GFF, alias Garuda Frequent Flyer.
Amboi senangnya bukan main... yah, bukan soal kartunya yang terpenting, karena kartu yang diberikan saat itu baru kartu sementara, kartu aslinya katanya mau dikirim 14 hari setelah aktivasi dengan sekali terbang, dan sekarang yang harusnya sudah sampai juga belum sampai itu kartu. Tapi yang nikmat adalah ketika satu mimpi kita terwujud. Mimpi waktu itu saat dapat majalah Garuda di sebuah pameran, hehe.
Masih konsisten dengan judul besar blog ku ini. Bermimpilah, teruslah bermimpi, nikmati dahsyatnya setiap moment dimana mimpi kita terwujud.
Passport by Rhenald Kasali
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa
orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya
sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah
naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah
pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah
pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR
dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi
tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin
memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet,
terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu
kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan,
pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia,
Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu
dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang
bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi
kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya
uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir
pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga
para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah
melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas
kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut
sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.
Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.
Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan,
teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para
pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok
backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah,
menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang
bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka
sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis,
yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang
yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh,
bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah
rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima
Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang
dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko,
menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut
kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan
menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain
kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat
teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi
eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
*
The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel
ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari
Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk
dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin
masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan
miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak
pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket
pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi
para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima
ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis
melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan
jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu
pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah
kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan
infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada
di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan
memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas
Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat
minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus
Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung
melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau
diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka
perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia
ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf
tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti
menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah
punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi,
jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket,
menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan
kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya
sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun
kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka
anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu
tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang
mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang
meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki
daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.
Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita,
gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki
pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport
pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di
Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe
yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya
mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus
Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
*Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia *
Artikel Jawapos 8 Agustus 2011
Hak Dia atas Diriku
Sudah sabtu, hari yang ditunggu-tunggu oleh Andriyanto senin kemarin. Selamat ya Ndri, sudah tercapai sabtumu.
Seperti minggu lalu, ini saatnya posting review khotbah jumat. Haduh maaf para pembaca yang Efisiensi (jalur Jogja si bukan jalur Bandung), karena aku ketiduran kemarin, jadi tidak menangkap materi khotib secara utuh. Tapi memang beberapa materi itu kupasan dalil umum yang sudah biasa kita dengar. Istilahnya Jamaah Kenduri Cinta : Kalau cuma membawakan Quran dan Hadits, tidak usah ada ustadz, tinggal search saja.
Ya, karena memang tugas pendakwah itu bukan membacakan, tetapi mengunyahkan. Seperti bayi yang giginya belum tumbuh sempurna, jadi nasi yang mau disuapkan harus dikunyahkan terlebih dahulu.
Kembali ke khotbah, satu materi saja ya, kemarin tentang kisah Khalifah Umar, ketika itu ada rakyatnya yang datang mau mengadu tentang persoalan dia dengan istrinya. Tapi ketika datang, dijumpainya sang khalifah juga sedang dicekcoki istrinya, maka si rakyat memilih berbalik badan dan pulang lagi, mau minta nasehat eh yang dimintai nasehat juga sepertinya sedang memiliki masalah yang sama, begitu pikirnya.
Tapi sebelum melangkah pergi, sempat terjadi dialog si rakyat dengan sang khalifah. Ketika sang Khalifah ditanya, beliau menjawab yang kira-kira "... istriku sudah mencucikan baju untukku, mendididik anak-anakku, memelihara aku, kalau dia marah padaku, itu bagian dari hak dia atas diriku..."
Bagi aku yang belum punya istri, dan jarang cek cok dengan adik-adikku. Ya aku umpamakan saja ketika cek cok dengan sahabatku, kalau dia bikin marah, menjengkelkan, ngeselin, ya sepersekian detik driving pikiranku agar ingat jasa-jasa baik dia, jadi yang muncul dari pikiran "Oh iya, dia kan sudah bla bla bla untukku, ya ini hak dia yang ada pada diriku lah."
Kira-kira begitu. Hm, ada yang bertanya lagi, "kok contohnya sahabat si, bukan yang lain?", "yang lain bagaimana?pacar maksudnya?aduh maaf enggak punya saya". Hihiii
Seperti minggu lalu, ini saatnya posting review khotbah jumat. Haduh maaf para pembaca yang Efisiensi (jalur Jogja si bukan jalur Bandung), karena aku ketiduran kemarin, jadi tidak menangkap materi khotib secara utuh. Tapi memang beberapa materi itu kupasan dalil umum yang sudah biasa kita dengar. Istilahnya Jamaah Kenduri Cinta : Kalau cuma membawakan Quran dan Hadits, tidak usah ada ustadz, tinggal search saja.
Ya, karena memang tugas pendakwah itu bukan membacakan, tetapi mengunyahkan. Seperti bayi yang giginya belum tumbuh sempurna, jadi nasi yang mau disuapkan harus dikunyahkan terlebih dahulu.
Kembali ke khotbah, satu materi saja ya, kemarin tentang kisah Khalifah Umar, ketika itu ada rakyatnya yang datang mau mengadu tentang persoalan dia dengan istrinya. Tapi ketika datang, dijumpainya sang khalifah juga sedang dicekcoki istrinya, maka si rakyat memilih berbalik badan dan pulang lagi, mau minta nasehat eh yang dimintai nasehat juga sepertinya sedang memiliki masalah yang sama, begitu pikirnya.
Tapi sebelum melangkah pergi, sempat terjadi dialog si rakyat dengan sang khalifah. Ketika sang Khalifah ditanya, beliau menjawab yang kira-kira "... istriku sudah mencucikan baju untukku, mendididik anak-anakku, memelihara aku, kalau dia marah padaku, itu bagian dari hak dia atas diriku..."
Bagi aku yang belum punya istri, dan jarang cek cok dengan adik-adikku. Ya aku umpamakan saja ketika cek cok dengan sahabatku, kalau dia bikin marah, menjengkelkan, ngeselin, ya sepersekian detik driving pikiranku agar ingat jasa-jasa baik dia, jadi yang muncul dari pikiran "Oh iya, dia kan sudah bla bla bla untukku, ya ini hak dia yang ada pada diriku lah."
Kira-kira begitu. Hm, ada yang bertanya lagi, "kok contohnya sahabat si, bukan yang lain?", "yang lain bagaimana?pacar maksudnya?aduh maaf enggak punya saya". Hihiii
8/12/11
Ramadhan Bulan Festival
Tidak tepatnya Ramadhan disebut bulan suci adalah karena Ramadhan tidak termasuk dari 1 dari 4 bulan yang memang ada dalil yang menyebutkan keempat bulan itu sebagai bulan suci. Bulan apa saja itu? Silahkan tanya pada kiai masing-masing.
Kata "suci" pada "bulan suci Ramadhan" hanyalah sebah eufimisme positif dari kata aslinya, bulan festival. Iya, penghalusan bahasa itu perlu, sembrono kan kalau bulan Ramadhan dibilang bulan festifal persis judul note ini. Ya, sembrono bagi orang2 yang sudah punya kapling2 di surga, kalau bagi orang2 abangan macam aku ini mah biasa-biasa saja.
Sedikitnya ada tiga hal kenapa kok disebut bulan festival :
Pertama : Ada festival puasa. Ya, puasa itu ibadah individu, tapi dibulan ini, dibersamakan, biar orang menjalaninnya semangat dan riang... itu bukti betapa Allah begitu memperhatikan kita sampai ke detail karakteristik psikologi manusia.
Kedua : Ada festival qiyamullail, namanya sholat tarawih. Sholat malam atau qiyamulail itu ibadah individu, tapi di bulan ini dijamaahkan. Kalau ditelusuri dalilnya, sholat tarawih itu sholat yang santai. Ya, santai, bukan sholat yang berat. Itu semakin mencirikan bahwasannya keutamaan kebersamaan memang ditonjolkan dalam ibadah ini, secara... festival gitu loh.
Jadi, agak lucu kalau ada penceramah yang ngaruh-ngaruhi kalau tarawehnya banyak rakaatnya tapi banter, expresstaraweh... lha, memang sholat santai, ya wajar kalau imamnya pilih suratan pendek, kalau sholat non-santai lah pilih bacaan panjang Al Baqarah 1 rakaat.
Ukuran santai kan beda-beda, kalau buat aktivis dakwah kampus 1 jus 1 malam santai, tapi kalau di kampung ya surat Qulhu dan setaraf itu santai. Jadi jangan sok lah, mentang2 dapat imam tarawehnya nggak se-express masjid sebelah, terus dirasan-rasani itu jamaah masjid sebelah. Eh siapa tahu, Allah menilai lebih baik kualitas sholatnya masjid sebelah yang lebih express, malu sendiri kan kita?
Dan yang ketiga : Seperti festival band, beda dengan parade band, di akhir pasti ada penentuan pemenang. Sama, di bulan ini juga diakhiri dengan hari kemenangan. Disinilah Mahaadil dan Mahaindah nya Allah, penentuan kemenangan tidak berdasarkan urutan linear. Setiap orang berhak jadi pemenang, ukurannya ya hati kita bisa mengukurnya masing-masing. Aku menang nggak yah Ramadhan kali ini? Seberapa meneng? Agregatkah? Terdegradasikah? Kita bisa bertanya pada hati masing-masing.
Lalu, apa sebetulnya tujuan Allah mengadakan festival untuk kita-kita ini? Ini entah tujuan entah manfaat, tapi ya agar selesai festival, kita punya konsep diri pemenang, sehingga kualitas ibadah vertikal dan horizontal kita terupgrade dibanding sebelum ramadhan.
Nah, inilah yang banyak tidak dipahami oleh para penceramah dan motivator yang seringnya marusak konsep diri jamaahnya, misalnya dengan kalimat : "puasa itu juga harus telinga kita, mulut kita, dan yang paling berat adalah hati kita... sudah puluhan kali kita puasa, ternyata kita belum bisa melakukannya". Nah lho... betapa ini bertentangan dengan visi Allah, Allah saja sedang membangunkan mental pemenang, kok para penceramah yang membawa dalil-dalil begitu fasih itu malah menjatuhkan konsep diri kita, bahwa kita ini jelek, kita ini puluhan tahun tidak mampu puasa dengan becus otomatis kerangka berpikir yang terbentuk kali ini juga pasti berat deh buat becus."
Kepada orang-orang yang punya hak pegang mic, sekalipun dalilmu banyak, coba dianalisis, panjenengan sedang membangun/mengupgrade konsep diri umat, atau malah sedang merusak/menjatuhkan/mendowngrade?
Ini hari festival ke-12 ayo semangat, biar kita menang semua ya...
Kata "suci" pada "bulan suci Ramadhan" hanyalah sebah eufimisme positif dari kata aslinya, bulan festival. Iya, penghalusan bahasa itu perlu, sembrono kan kalau bulan Ramadhan dibilang bulan festifal persis judul note ini. Ya, sembrono bagi orang2 yang sudah punya kapling2 di surga, kalau bagi orang2 abangan macam aku ini mah biasa-biasa saja.
Sedikitnya ada tiga hal kenapa kok disebut bulan festival :
Pertama : Ada festival puasa. Ya, puasa itu ibadah individu, tapi dibulan ini, dibersamakan, biar orang menjalaninnya semangat dan riang... itu bukti betapa Allah begitu memperhatikan kita sampai ke detail karakteristik psikologi manusia.
Kedua : Ada festival qiyamullail, namanya sholat tarawih. Sholat malam atau qiyamulail itu ibadah individu, tapi di bulan ini dijamaahkan. Kalau ditelusuri dalilnya, sholat tarawih itu sholat yang santai. Ya, santai, bukan sholat yang berat. Itu semakin mencirikan bahwasannya keutamaan kebersamaan memang ditonjolkan dalam ibadah ini, secara... festival gitu loh.
Jadi, agak lucu kalau ada penceramah yang ngaruh-ngaruhi kalau tarawehnya banyak rakaatnya tapi banter, expresstaraweh... lha, memang sholat santai, ya wajar kalau imamnya pilih suratan pendek, kalau sholat non-santai lah pilih bacaan panjang Al Baqarah 1 rakaat.
Ukuran santai kan beda-beda, kalau buat aktivis dakwah kampus 1 jus 1 malam santai, tapi kalau di kampung ya surat Qulhu dan setaraf itu santai. Jadi jangan sok lah, mentang2 dapat imam tarawehnya nggak se-express masjid sebelah, terus dirasan-rasani itu jamaah masjid sebelah. Eh siapa tahu, Allah menilai lebih baik kualitas sholatnya masjid sebelah yang lebih express, malu sendiri kan kita?
Dan yang ketiga : Seperti festival band, beda dengan parade band, di akhir pasti ada penentuan pemenang. Sama, di bulan ini juga diakhiri dengan hari kemenangan. Disinilah Mahaadil dan Mahaindah nya Allah, penentuan kemenangan tidak berdasarkan urutan linear. Setiap orang berhak jadi pemenang, ukurannya ya hati kita bisa mengukurnya masing-masing. Aku menang nggak yah Ramadhan kali ini? Seberapa meneng? Agregatkah? Terdegradasikah? Kita bisa bertanya pada hati masing-masing.
Lalu, apa sebetulnya tujuan Allah mengadakan festival untuk kita-kita ini? Ini entah tujuan entah manfaat, tapi ya agar selesai festival, kita punya konsep diri pemenang, sehingga kualitas ibadah vertikal dan horizontal kita terupgrade dibanding sebelum ramadhan.
Nah, inilah yang banyak tidak dipahami oleh para penceramah dan motivator yang seringnya marusak konsep diri jamaahnya, misalnya dengan kalimat : "puasa itu juga harus telinga kita, mulut kita, dan yang paling berat adalah hati kita... sudah puluhan kali kita puasa, ternyata kita belum bisa melakukannya". Nah lho... betapa ini bertentangan dengan visi Allah, Allah saja sedang membangunkan mental pemenang, kok para penceramah yang membawa dalil-dalil begitu fasih itu malah menjatuhkan konsep diri kita, bahwa kita ini jelek, kita ini puluhan tahun tidak mampu puasa dengan becus otomatis kerangka berpikir yang terbentuk kali ini juga pasti berat deh buat becus."
Kepada orang-orang yang punya hak pegang mic, sekalipun dalilmu banyak, coba dianalisis, panjenengan sedang membangun/mengupgrade konsep diri umat, atau malah sedang merusak/menjatuhkan/mendowngrade?
Ini hari festival ke-12 ayo semangat, biar kita menang semua ya...
Bukan Karena
Kalau aku tidak pamer, itu bukan karena aku baik. Hanya karena aku nggak ada yang bisa aku pamerkan...
Kalau aku tidak bergaya hidup mewah, itu juga bukan karena aku baik. Hanya karena aku nggak punya banyak uang...
Kalau aku tidak pacaran, itupun bukan karena aku baik. Hanya karena nggak ada yang mau jadi pacaku...
Sesederhana itu...
Kalau aku tidak bergaya hidup mewah, itu juga bukan karena aku baik. Hanya karena aku nggak punya banyak uang...
Kalau aku tidak pacaran, itupun bukan karena aku baik. Hanya karena nggak ada yang mau jadi pacaku...
Sesederhana itu...
8/11/11
Jangan Kasihani Anak Yatim
Bulan Ramadhan begini, anak yatim kebanjiran schedule, buka puasa disini, buka puasa disitu, dapat santunan ini, dapat sumbangan itu, weh weh weh.... senangnya....
Rasa2nya ada yang kurang sreg buatku, secara tindakan kita memang membantu, menyantuni. Tapi banyak diantara kita di saat yang sama menanamkan satu kondisi batin dimana mereka lebih rendah dari kita, kita mengasihani mereka, mereka dikasihani kita.
Sadarlah, mereka itu manusia, sama seperti kita. Kalau memang mau membantu, bantulah dengan sorotan persaudaraan. Bukannya dengan tatapan kasihan. Karena bisa jadi derajat mereka lebih tinggi dari kita, derajat taqwa.
Jangan komoditaskan mereka. sekalipun bukan untuk komoditas bisnis, komoditas sosialpun jangan. Temukan cara-cara cantik untuk mendukung mereka, tanpa kata "peduli anak yatim", tanpa kata "sumbangan untuk anak yatim", tanpa kata "amal untuk anak yatim".
Cerdaslah....
Rasa2nya ada yang kurang sreg buatku, secara tindakan kita memang membantu, menyantuni. Tapi banyak diantara kita di saat yang sama menanamkan satu kondisi batin dimana mereka lebih rendah dari kita, kita mengasihani mereka, mereka dikasihani kita.
Sadarlah, mereka itu manusia, sama seperti kita. Kalau memang mau membantu, bantulah dengan sorotan persaudaraan. Bukannya dengan tatapan kasihan. Karena bisa jadi derajat mereka lebih tinggi dari kita, derajat taqwa.
Jangan komoditaskan mereka. sekalipun bukan untuk komoditas bisnis, komoditas sosialpun jangan. Temukan cara-cara cantik untuk mendukung mereka, tanpa kata "peduli anak yatim", tanpa kata "sumbangan untuk anak yatim", tanpa kata "amal untuk anak yatim".
Cerdaslah....
8/10/11
Maiyah Peace Revolution
Sedang mencoba mengaransemen bagaimana ya kalau konsep maiyah itu dituliskan dalam sebuah format konsep tertulis dalam bidang Peace Revolution. Selama ini dunia menganggap yang namanya perdamaian adalah tidak perang senjata, owh, belum tentu... Bahkan Indonesia ini sekarang sedang perang, perang pemikiran, antara Kapitalis dengan Koperasiis. Antara gerilyawan social-entreprize dengan pemburu prediket "dewa penolong sosial", antara aliran agama fundamentalis dengan terbuka.
Tidak menggunakan senjata mesin dan nuklir memang mereka, tapi lebih mengerikan, perangnya dengan bersenjatakan perundangan yang dimanipulasi, persoalan rakyat kecil yang dikomoditasi dan dalil-dalil agama yang dibaca tidak sampai tenggorokan.
Dunia terlalu sempit berpikir kalau internal peace itu sudah berhasil dicapai hanya dengan duduk, diam dan meditasi. Oh tidak, sepengelanaan saya di dunia uncounsiousmind menuju kondisi meditatif hanyalah membuka pintu gerbang superpower bawah sadar. Setelah berhasil mencapai kondisi itu, perjuangan mendamaikan justru barulah dimulai.
Maiyah adalah konsep yang unik dan menarik. Ini bukan seperti training motivasi, yang seolah-olah menolong tetapi sebetulnya menjerumuskan. Persis seperti konsep revolusi hijaunya orde baru, yang dipandang hebat karena itu program bertujuan mencapai obsesi swasembada pangan, tetapi sebetulnya lahan dirusak dengan begitu sadisnya memakai pupuk-pukuk kimia dan pestisida yang sejatinya adalah racun. Begitulah training menjadikan kita terobsesi pada kesuksesan, sementara kita tidak sadar unsur hara dalam diri kita dimusnahkan perlahan...
Bersambung... mandi dulu... ini belum tuntas note nya
Tidak menggunakan senjata mesin dan nuklir memang mereka, tapi lebih mengerikan, perangnya dengan bersenjatakan perundangan yang dimanipulasi, persoalan rakyat kecil yang dikomoditasi dan dalil-dalil agama yang dibaca tidak sampai tenggorokan.
Dunia terlalu sempit berpikir kalau internal peace itu sudah berhasil dicapai hanya dengan duduk, diam dan meditasi. Oh tidak, sepengelanaan saya di dunia uncounsiousmind menuju kondisi meditatif hanyalah membuka pintu gerbang superpower bawah sadar. Setelah berhasil mencapai kondisi itu, perjuangan mendamaikan justru barulah dimulai.
Maiyah adalah konsep yang unik dan menarik. Ini bukan seperti training motivasi, yang seolah-olah menolong tetapi sebetulnya menjerumuskan. Persis seperti konsep revolusi hijaunya orde baru, yang dipandang hebat karena itu program bertujuan mencapai obsesi swasembada pangan, tetapi sebetulnya lahan dirusak dengan begitu sadisnya memakai pupuk-pukuk kimia dan pestisida yang sejatinya adalah racun. Begitulah training menjadikan kita terobsesi pada kesuksesan, sementara kita tidak sadar unsur hara dalam diri kita dimusnahkan perlahan...
Bersambung... mandi dulu... ini belum tuntas note nya
Nostalgia Jus Berapa
Waktu itu kelas 2 SMA, layaknya SMA-SMA lainnya, di SMA ku juga ada jadwal taraweh bergilir. Kelasku IPA 4 kebagian jatah bareng kelas IPA 3. Hahay IPA 3 yang istimewa (waktu itu....).
Sepulang taraweh dengan aksi sok perhatian dan sok care ku aku temani si dia menunggu jemputan di luar pintu gerbang mushola SMA. Obrolan kami berdua tidak banyak, tidak se-ramai kalau ngobrol di telepon (maklum ada salah-salah tingkah gitu...) wehew...
Sampai akhirnya bahan obrolanpun habis. Jeda sepersekian menit, dia memulai obrolan lagi dengan pertanyaan "Udah sampai jus berapa nyet?", aku lupa waktu itu aku jawab jus berapa, tapi yang jelas jus ku tak sebanyak jus dia. Dan sejak itu, aku jadi semangat baca Quran, kejar target Ramadhan, biar kalau ditanyain lagi sama dia aku jawabnya dengan bangga.
Dan di Puasa kali ini, hari ke-10, targetnya beberapa halaman menuju rampungnya jus 10. Tapi bukan untuk jaga-jaga kalau-kalau dia menanyakanannya lagi...
*Lucunya saat-saat itu. Gerbang Mushola At Tahrim, Suzuki Esteem Putih B 1812 AN & "jus berapa?", hehew....
Sepulang taraweh dengan aksi sok perhatian dan sok care ku aku temani si dia menunggu jemputan di luar pintu gerbang mushola SMA. Obrolan kami berdua tidak banyak, tidak se-ramai kalau ngobrol di telepon (maklum ada salah-salah tingkah gitu...) wehew...
Sampai akhirnya bahan obrolanpun habis. Jeda sepersekian menit, dia memulai obrolan lagi dengan pertanyaan "Udah sampai jus berapa nyet?", aku lupa waktu itu aku jawab jus berapa, tapi yang jelas jus ku tak sebanyak jus dia. Dan sejak itu, aku jadi semangat baca Quran, kejar target Ramadhan, biar kalau ditanyain lagi sama dia aku jawabnya dengan bangga.
Dan di Puasa kali ini, hari ke-10, targetnya beberapa halaman menuju rampungnya jus 10. Tapi bukan untuk jaga-jaga kalau-kalau dia menanyakanannya lagi...
*Lucunya saat-saat itu. Gerbang Mushola At Tahrim, Suzuki Esteem Putih B 1812 AN & "jus berapa?", hehew....
8/6/11
Munafik Guarantee
Sebelum mengawali aktivitas hari ini dengan 14 item di to do list hari ini, seperti minggu lalu, ini mau sedikit share tentang materi khotbah jumat, hari jumat kemarin.
Jumat pertama Ramadhan, wuidih... masjid membludak. Kepergok deh bahwa di waktu non Ramadhan ternyata banyak laki-laki yang mangkir dari jumatan. Ya, ini Ramadhan mungkin mereka berharap bisa merapel itu perolehan pahala karena dilipatkan 10 semua bulan ini. Huehehe....
Salah satu insight yang didapat di khotbah jumat di masjid yang berjubel sampai-sampai aku duduk di tataran undak-undakan kemarin adalah tentang "munafik". Ternyata Allah punya mekanisme yang begitu cerdas, ya karena memang Dia Maha Cerdas. Bahwa seseorang belum bisa digaransi dia munafik atau tidak munafik, kalau belum sholat berjamaah di masjid, tidak ketinggalan takbir pertama selama 40 kali berturut-turut.
Sederhana sekali ya cara menggaransinya? Tapi maknyus benar metode ini. Betul saja, aku jadi tahu pentingnya syariat. Syariat itu jadi garis garansi ya penerapannya semacam ini. Tentu ini bukan analogi, tapi bisa membantu jembatan berpikir kalau belum paham, misalnya seseorang mengaku menyukai gamelan, tapi ketika ada syariat dari pelatih gamelan untuk berlatih 2x seminggu kadang bolos, datang telat, maka bisa saja si pelatih meragukan ucapan orang itu yang bilang katanya suka gamelan. Sah-sah saja kan bilang munafik lah kamu katanya suka gamelan. Begitu...
Jadi, sholat wajib berjamaah di masjid dan ga ketinggalan takbir pertama itu penting.
Jumat pertama Ramadhan, wuidih... masjid membludak. Kepergok deh bahwa di waktu non Ramadhan ternyata banyak laki-laki yang mangkir dari jumatan. Ya, ini Ramadhan mungkin mereka berharap bisa merapel itu perolehan pahala karena dilipatkan 10 semua bulan ini. Huehehe....
Salah satu insight yang didapat di khotbah jumat di masjid yang berjubel sampai-sampai aku duduk di tataran undak-undakan kemarin adalah tentang "munafik". Ternyata Allah punya mekanisme yang begitu cerdas, ya karena memang Dia Maha Cerdas. Bahwa seseorang belum bisa digaransi dia munafik atau tidak munafik, kalau belum sholat berjamaah di masjid, tidak ketinggalan takbir pertama selama 40 kali berturut-turut.
Sederhana sekali ya cara menggaransinya? Tapi maknyus benar metode ini. Betul saja, aku jadi tahu pentingnya syariat. Syariat itu jadi garis garansi ya penerapannya semacam ini. Tentu ini bukan analogi, tapi bisa membantu jembatan berpikir kalau belum paham, misalnya seseorang mengaku menyukai gamelan, tapi ketika ada syariat dari pelatih gamelan untuk berlatih 2x seminggu kadang bolos, datang telat, maka bisa saja si pelatih meragukan ucapan orang itu yang bilang katanya suka gamelan. Sah-sah saja kan bilang munafik lah kamu katanya suka gamelan. Begitu...
Jadi, sholat wajib berjamaah di masjid dan ga ketinggalan takbir pertama itu penting.
8/5/11
PR Maiyah 17 Juli
Sebelum merampungkan revisi TA dan ujian khusus 1 jam lagi, mari mengerjakan PR dari pak Guru Toto Raharjo yang diberikan 17 maiyah bulan kemarin tentang fenomena puasa :
Ini Pak Guru Toto yang berhasil saya himpun sampai saat ini :
1. Puasa itu adalah mengendalikan jatuhnya pilihan. Jadi, hati nurani itu biasanya berbisik, misal : mau sodaqoh 5.000 apa 20.000 ya?... atau ketika baca Quran "mau 2 lembar apa 5 lembar ya? Atau ketika-ketika lainnya. Nah, seseorang dikatakan sempurna puasanya kalau skor pemilihan maksimum untuk memilih pilihan yang tertinggi, sekalipun berat. Ketika terbesit tertinggi 5 lembar, ya 5 lembar dijabanin, ketika terbesit tertinggi 20.000 ya itu yang dikeluarkan.
Aku tidak bisa membayangkan betapa hebatnya orang yang selalu berhasil menjatuhkan pilihan ke opsi tertinggi. Dan toh, hati nurani nggak akan ngeledek kok, misal membesitkan : 30 lembar sekarang bacanya, atau 100.000 sodaqohnya, padahal di dompet cuma ada 25.000.
2. Da'i dan penceramah itu beda. Da'i itu pendakwah, tidak selalu dengan ceramah, malah kebanyakan dengan mendengarkan dan meneladani. Sedangkan penceramah ya orang yang pekerjaannya berceramah. Di bulan Ramadhan penceramah itu laris manis.
3. Ramadhan adalah semacam cuci gudang atau bulan diskonnya Allah untuk manusia yang notabenennya lalai dan dhzolim. jadi dengan adanya iming-iming 10x lipat, orang akan berbondong-bondong untuk mengupgrade kebiasaannya, yang tadinya baca Quran sehari 3 lembar, jadi 10 lembar. Yang tadinya ke masjid 2 x seminggu, ya sekarang jadi 2 x sehari. Nah, kenapa 30 hari? karena batas minimal rata-rata membentuk kebiasaan hari adalah 21 hari, jadi harapannya selesai ramadhan itu kebiasaan baru sudah terupgrade permanen.
4. Aku ingin bertanya pada Cak Nun soal Lailatul Qodr. Apa sebetulnya pesan besar dibalik fenomena yang diburu setiap insan (yang sadar mau memburu) itu.
Bersambung...
Ini Pak Guru Toto yang berhasil saya himpun sampai saat ini :
1. Puasa itu adalah mengendalikan jatuhnya pilihan. Jadi, hati nurani itu biasanya berbisik, misal : mau sodaqoh 5.000 apa 20.000 ya?... atau ketika baca Quran "mau 2 lembar apa 5 lembar ya? Atau ketika-ketika lainnya. Nah, seseorang dikatakan sempurna puasanya kalau skor pemilihan maksimum untuk memilih pilihan yang tertinggi, sekalipun berat. Ketika terbesit tertinggi 5 lembar, ya 5 lembar dijabanin, ketika terbesit tertinggi 20.000 ya itu yang dikeluarkan.
Aku tidak bisa membayangkan betapa hebatnya orang yang selalu berhasil menjatuhkan pilihan ke opsi tertinggi. Dan toh, hati nurani nggak akan ngeledek kok, misal membesitkan : 30 lembar sekarang bacanya, atau 100.000 sodaqohnya, padahal di dompet cuma ada 25.000.
2. Da'i dan penceramah itu beda. Da'i itu pendakwah, tidak selalu dengan ceramah, malah kebanyakan dengan mendengarkan dan meneladani. Sedangkan penceramah ya orang yang pekerjaannya berceramah. Di bulan Ramadhan penceramah itu laris manis.
3. Ramadhan adalah semacam cuci gudang atau bulan diskonnya Allah untuk manusia yang notabenennya lalai dan dhzolim. jadi dengan adanya iming-iming 10x lipat, orang akan berbondong-bondong untuk mengupgrade kebiasaannya, yang tadinya baca Quran sehari 3 lembar, jadi 10 lembar. Yang tadinya ke masjid 2 x seminggu, ya sekarang jadi 2 x sehari. Nah, kenapa 30 hari? karena batas minimal rata-rata membentuk kebiasaan hari adalah 21 hari, jadi harapannya selesai ramadhan itu kebiasaan baru sudah terupgrade permanen.
4. Aku ingin bertanya pada Cak Nun soal Lailatul Qodr. Apa sebetulnya pesan besar dibalik fenomena yang diburu setiap insan (yang sadar mau memburu) itu.
Bersambung...
Kalah
Gempa yang mengguncang Purwokerto kemarin untung tidak berlangsung lama. Ya memang tidak perlu berlangsung lama, baca 10 lembar mushaf saja beres kok.
Dan setelah diinvestigasi mendalam, memang betul kata sahabat baikku di sms kemarin, yang intinya ya, ini semakin memperkuat tanda untuk...wah sudahlah tidak jadi dibahas disini.
Ya, dalam pokoknya, ini bukan soal menyayangkan atau apa. Hanya guncangan kekalahan saja. Karena memang jadi tahu, tidak ada yang perlu disayangkan. Sama, seperti kalah oleh Ibu Sabrina dan Mbak Ning di Usmar Ismail Hall kemarin.
Dan setelah diinvestigasi mendalam, memang betul kata sahabat baikku di sms kemarin, yang intinya ya, ini semakin memperkuat tanda untuk...wah sudahlah tidak jadi dibahas disini.
Ya, dalam pokoknya, ini bukan soal menyayangkan atau apa. Hanya guncangan kekalahan saja. Karena memang jadi tahu, tidak ada yang perlu disayangkan. Sama, seperti kalah oleh Ibu Sabrina dan Mbak Ning di Usmar Ismail Hall kemarin.
8/3/11
sepasang-sepasang
Dapat beberapa point ilmu berhaga hari ini, ya suatu saat nanti pasti akan sangat berguna. masing-masing dari beberapa itu berjumlah sepasang-sepasang. Yakni, industry & trading. Inti & plasma. Surabaya & Bandung. Menarik menarik menarik... menarik.
8/1/11
10 Hari 10 Hari
Kalau ingat kata banyak penceramah, Ramadhan itu dibagi dalam 3 termin. 10 hari pertama, 10 hari tengah-tengah, dan 10 hari terakhir.
Karena tanggal 9 adalah Yudisium, maka aku putuskan 10 hari pertama ini aku mau fokus, khusyuk di kampus saja, beberes semuanya.
Karena pekerjaan-pekerjaan Ospek akan dipakai di tanggal-tanggal pasca HUT kemerdekaan, maka 10 hari kedua aku mau genjot itu SPC, sepool aku bisa.
Dan karena aku harus menyelesaikan anyaman-anyaman karya-karya besarku, maka seperti tahun lalu, aku nawaitukan 10 hari terakhir aku sediakan waktu yang semaksimal aku bisa, hanya untuk diriku sendiri. Untuk bawah sadarku tercinta.
Dan setelah 3 termin itu, semoga aku keluar jadi pemenang kali ini.
Karena tanggal 9 adalah Yudisium, maka aku putuskan 10 hari pertama ini aku mau fokus, khusyuk di kampus saja, beberes semuanya.
Karena pekerjaan-pekerjaan Ospek akan dipakai di tanggal-tanggal pasca HUT kemerdekaan, maka 10 hari kedua aku mau genjot itu SPC, sepool aku bisa.
Dan karena aku harus menyelesaikan anyaman-anyaman karya-karya besarku, maka seperti tahun lalu, aku nawaitukan 10 hari terakhir aku sediakan waktu yang semaksimal aku bisa, hanya untuk diriku sendiri. Untuk bawah sadarku tercinta.
Dan setelah 3 termin itu, semoga aku keluar jadi pemenang kali ini.
Bulan Menganyam
Di bulan ini tiga warna bersatu, merah, putih dan hijau. Di bulan ini pula, bambu dan daun kelapa berkolaborasi, semangat bambu runcing dan anyaman daun kelapa muda yang membentuk selongsong ketupat bertebaran merata.
Bahwa kemerdekaan yang tahun ini diperingati yang ke 66 bukanlah sekedar selembar, dua lembar karya. Akan tetapi kemerdekaan adalah anyaman beribu-ribu lembar dedikasi putra-putri terbaik bangsa, dari teriakkan Bung Tomo di Surabaya, Serangan Umum 1 Maret yang dikonfigurasi oleh Sudirman dan HB IX, invasi udara pertama ke semarang oleh 3 ksatria udara, Adi Sucipto, Adi Sumarmo dan Abdurrahman Saleh, dan banyak lagi lainnya.
Kini kesakralan 17 Agustus akan berhimpitan dengan malam istimewa bagi sebagian besar umat di negeri ini, yakni malam turunnya Al Quran. Satu momentum yang paling hanya seumur hidup sekali dialami oleh insan manusia. Akan seperti apakah bulan ini berjalan?
Dan buatku bulan ini semakin istimewa, karena bersamaan dengan detik-detik proklamasi kemerdekaan dari sangkar emas yang nyaris menjadi agama baru masakini : kampus. Ketambahan lagi dengan superberantakannya L22 akibat renovasi L21. Hm, sensasi emosional belum selesai, gagalnya mencapai prestasi puncak di 3 perhelatan E-Idea, Communitty Entrepeneur Chalange & Entrepeneur Delegation semakin membuat bulan ini bisa dipastikan menjadi sebuah chekpoint hidupku. Entah chekpoint revolusioner, atau malah titik nadir keputusasaan. Oh, satu lagi, suasana mencekam sidang tugas akhir bak ditengah arena Coloseum di Roma kemarin...
Kehidupan sudah berjalan sedari lama dulu bukannya start selulus kuliah, kegagalan, keberhasilan, pujian, celaan, apresiasi positif, hambatan, cukup lihai semua itu mengantarkanku sampai saat ini. Sampai saat dimana aku tersadar, skalaku terlalu kecil, yang aku kerjakan terlalu mentah.
Ibarat janur, aku hanya memetiknya, sudah, terus menyajikannya ke hadapan dosen penguji, memamerkannya ke hadapan juri British Council, dan mencoba menyelipkannya ke meja Hillary Clinton. Nyatanya, tidak ada yang tertarik dengan seonggok janur. Aku seharusnya berpikir, untuk menganyam janur itu menjadi seselongsong ketupat. Kalau toh Hillary tidak melirik, kalau dosen penguji juga masih tidak berkenan, toh itu masih laku dijual di pasar cereme 250 perak.
Atau kalau aku masih punya saldo ketelatenan dalam kantong-kantong penyimpanan energiku, aku bisa isi itu anyaman janur yang sudah berbentuk selongsong dengan beras, lalu ditanak, lalu jadilah ketupat. Harga jualnya lebih mahal. Diberikan ke orangpun lebih tinggi benefitnya.
Ya, terlalu banyak janur (daun kelapa muda) yang aku petik, tapi dibiarkan berserakan, sudah, sudah, tidak usah capek-capek memanjat pohon-pohon ilmu lagi, berhenti berburu kebun-kebun inspirasi lagi, tunda dulu keinginan bertualang kesana-kemari kalau hanya untuk sekedar memuaskan keinginan saja. Puasa, puasa!. Diam saja sekarang di rumah Ramadhan, simpan itu bambu runcing, negara ini sudah ada yang mengurus, tugasku sekarang adalah mengurus diriku sendiri. Dianyam itu janur-janur yang sudah aku kumpulkan, sampai bernilai guna bagi orang lain, dan itu akan membuatmu dibutuhkan oleh mereka, berguna bagi mereka.
Selamat menganyam..........sampai jadi.
Bahwa kemerdekaan yang tahun ini diperingati yang ke 66 bukanlah sekedar selembar, dua lembar karya. Akan tetapi kemerdekaan adalah anyaman beribu-ribu lembar dedikasi putra-putri terbaik bangsa, dari teriakkan Bung Tomo di Surabaya, Serangan Umum 1 Maret yang dikonfigurasi oleh Sudirman dan HB IX, invasi udara pertama ke semarang oleh 3 ksatria udara, Adi Sucipto, Adi Sumarmo dan Abdurrahman Saleh, dan banyak lagi lainnya.
Kini kesakralan 17 Agustus akan berhimpitan dengan malam istimewa bagi sebagian besar umat di negeri ini, yakni malam turunnya Al Quran. Satu momentum yang paling hanya seumur hidup sekali dialami oleh insan manusia. Akan seperti apakah bulan ini berjalan?
Dan buatku bulan ini semakin istimewa, karena bersamaan dengan detik-detik proklamasi kemerdekaan dari sangkar emas yang nyaris menjadi agama baru masakini : kampus. Ketambahan lagi dengan superberantakannya L22 akibat renovasi L21. Hm, sensasi emosional belum selesai, gagalnya mencapai prestasi puncak di 3 perhelatan E-Idea, Communitty Entrepeneur Chalange & Entrepeneur Delegation semakin membuat bulan ini bisa dipastikan menjadi sebuah chekpoint hidupku. Entah chekpoint revolusioner, atau malah titik nadir keputusasaan. Oh, satu lagi, suasana mencekam sidang tugas akhir bak ditengah arena Coloseum di Roma kemarin...
Kehidupan sudah berjalan sedari lama dulu bukannya start selulus kuliah, kegagalan, keberhasilan, pujian, celaan, apresiasi positif, hambatan, cukup lihai semua itu mengantarkanku sampai saat ini. Sampai saat dimana aku tersadar, skalaku terlalu kecil, yang aku kerjakan terlalu mentah.
Ibarat janur, aku hanya memetiknya, sudah, terus menyajikannya ke hadapan dosen penguji, memamerkannya ke hadapan juri British Council, dan mencoba menyelipkannya ke meja Hillary Clinton. Nyatanya, tidak ada yang tertarik dengan seonggok janur. Aku seharusnya berpikir, untuk menganyam janur itu menjadi seselongsong ketupat. Kalau toh Hillary tidak melirik, kalau dosen penguji juga masih tidak berkenan, toh itu masih laku dijual di pasar cereme 250 perak.
Atau kalau aku masih punya saldo ketelatenan dalam kantong-kantong penyimpanan energiku, aku bisa isi itu anyaman janur yang sudah berbentuk selongsong dengan beras, lalu ditanak, lalu jadilah ketupat. Harga jualnya lebih mahal. Diberikan ke orangpun lebih tinggi benefitnya.
Ya, terlalu banyak janur (daun kelapa muda) yang aku petik, tapi dibiarkan berserakan, sudah, sudah, tidak usah capek-capek memanjat pohon-pohon ilmu lagi, berhenti berburu kebun-kebun inspirasi lagi, tunda dulu keinginan bertualang kesana-kemari kalau hanya untuk sekedar memuaskan keinginan saja. Puasa, puasa!. Diam saja sekarang di rumah Ramadhan, simpan itu bambu runcing, negara ini sudah ada yang mengurus, tugasku sekarang adalah mengurus diriku sendiri. Dianyam itu janur-janur yang sudah aku kumpulkan, sampai bernilai guna bagi orang lain, dan itu akan membuatmu dibutuhkan oleh mereka, berguna bagi mereka.
Selamat menganyam..........sampai jadi.
7/30/11
Untuk Kebersamaan
Kemarin jumatan di masjid dekat terminal lama. Materinya ya materi layaknya khotbah jelang Ramadhan. Puasa jangan cuma dari makan, minum dan hubungan sex, tetapi mata juga puasa, telinga juga puasa, bla..bla..bla.. dan seterusnya.
Hingga akhirnya pada sampai pada pembahasan, bagaimana kelompok mereka mendeklarasikan sikap terhadap penentuan hari pertama puasa. Mereka ikut pemerintah, melihat hilal dulu. Alasannya ada dua :
Pertama : dalilnya jelas, melihat hilal atau menggenapkan bulan sya'ban jadi 30 hari. Kalau ada cara selain itu, maka itu termasuk mengada-adakan cara baru
Kedua : Puasa dan Idul Fitri itu ibadah kolektif, sudah semestinya menjaga kebersamaan diutamakan, maka ikutlah ketentuan penguasa masyarakat setempat (Pemerintah).
Point pertama saya kurang bisa menerima, bahwa misalnya cara Muhammadiyah itu mereka sebut sebagai cara baru yang diada-adakan, sepertinya tidak deh. Misalnya begini, ada pilot sekolah, lalu diberi penjelasan oleh dosennya... kalau mau landing, kamu harus melihat landasan.
Nah, melihat bisa diartikan, mata kepala menatap itu landasan. Tapi melihat juga bisa diartikan "mengacu", artinya menggunakan segala instrumen yang bisa digunakan di pesawat untuk bisa mengacu perhitungan terhadap letak landasan.
Melihat, tentu tidak bisa diplot artinya hanya satu : menatap dengan mata kepala. Tetapi juga bisa diartikan "mengacu" atau "berpedoman". Yang termasuk cara baru dalam menentukan bulan puasa adalah bila hari pertama Ramadhan ditentukan tidak dengan mengacu pada posisi bulan, tetapi pada matahari, atau komet misalnya.
Analoginya sama seperti di butir-butir surat keputusan (SK), ada kata menimbang, mengingat, memperhatikan, dst... Nah, kata menimbang juga bukan berarti menyediakan alat timbangan kan?
Itu tentang point pertama. Selanjutnya tentang point kedua, tentang kebersamaan. Nah, inilah yang penting. Saya sampai sekarang juga masih bertanya-tanya, apa si yang membuat mereka kok keukeuh dengan cara melihat hilal versi berhitung mereka, seberapa tidak afdol dalam keyakinan mereka to mengikuti cara melihat hilal versi pemerintah? Kok ya keafdolan dan tidak afdolan itu lebih dipentingkan, ketimbang menjaga kebersamaan?
Hingga akhirnya pada sampai pada pembahasan, bagaimana kelompok mereka mendeklarasikan sikap terhadap penentuan hari pertama puasa. Mereka ikut pemerintah, melihat hilal dulu. Alasannya ada dua :
Pertama : dalilnya jelas, melihat hilal atau menggenapkan bulan sya'ban jadi 30 hari. Kalau ada cara selain itu, maka itu termasuk mengada-adakan cara baru
Kedua : Puasa dan Idul Fitri itu ibadah kolektif, sudah semestinya menjaga kebersamaan diutamakan, maka ikutlah ketentuan penguasa masyarakat setempat (Pemerintah).
Point pertama saya kurang bisa menerima, bahwa misalnya cara Muhammadiyah itu mereka sebut sebagai cara baru yang diada-adakan, sepertinya tidak deh. Misalnya begini, ada pilot sekolah, lalu diberi penjelasan oleh dosennya... kalau mau landing, kamu harus melihat landasan.
Nah, melihat bisa diartikan, mata kepala menatap itu landasan. Tapi melihat juga bisa diartikan "mengacu", artinya menggunakan segala instrumen yang bisa digunakan di pesawat untuk bisa mengacu perhitungan terhadap letak landasan.
Melihat, tentu tidak bisa diplot artinya hanya satu : menatap dengan mata kepala. Tetapi juga bisa diartikan "mengacu" atau "berpedoman". Yang termasuk cara baru dalam menentukan bulan puasa adalah bila hari pertama Ramadhan ditentukan tidak dengan mengacu pada posisi bulan, tetapi pada matahari, atau komet misalnya.
Analoginya sama seperti di butir-butir surat keputusan (SK), ada kata menimbang, mengingat, memperhatikan, dst... Nah, kata menimbang juga bukan berarti menyediakan alat timbangan kan?
Itu tentang point pertama. Selanjutnya tentang point kedua, tentang kebersamaan. Nah, inilah yang penting. Saya sampai sekarang juga masih bertanya-tanya, apa si yang membuat mereka kok keukeuh dengan cara melihat hilal versi berhitung mereka, seberapa tidak afdol dalam keyakinan mereka to mengikuti cara melihat hilal versi pemerintah? Kok ya keafdolan dan tidak afdolan itu lebih dipentingkan, ketimbang menjaga kebersamaan?
7/26/11
Out of 20
Ada 3 project Community Entrepeneur Challange kali ini yang aku respeki, 1 diantaranya lolos 20 besar, dan 2 tidak.
Yang pertama adalah project tanaman organik dari desa Brenjonk, di Mojokerto. Ini menarik kenapa? Pertanian organik si umum, tapi Pak Slamet berhasil mereplikasi lahan2 organik di pekarang2 rumah mulai ukuran 3 x 4 meter. Menarik sekali penjelasan beliau...
Yang kedua, Projectnya Shana, gadis cantik eks Ketua BEM ITB yang sudah mencicipi Batam sampai Raja Ampat, Flores sampai Eropa dan banyak tempat dan kadang ia tuju sendirian ini menggarap project di Pulau dekat Pulau Komodo. Simpel sekali, semacam jualan galon dengan model R.O. tapi ini terobosan bisa memangkas jalur distribusi yang selama ini menganga lebar membuat mahal air galon disana.
Dan yang ketiga project dari Bandung, tol lingkar Bandung itu keluar pintu tol Buah Batu, cari Pak Ade, dia membuat usaha budidaya bambu, dan membuat bambu-bambu dilem sedemikian rupa menyerupai papan kayu. Wuidih, produknya menarik sekali, like this lah.
Tapi juri tentu punya pertimbangan komprehensif. Pak Slamet Lolos 20 besar, tetapi Shana dan Pak Ade besok bersamaku jalan-jalan ke villa di Bogor... yeah, keep happy, biarpun sudah tereleminasi.
#Pgn ke Flores, jelajah NTT sampai puas...
Yang pertama adalah project tanaman organik dari desa Brenjonk, di Mojokerto. Ini menarik kenapa? Pertanian organik si umum, tapi Pak Slamet berhasil mereplikasi lahan2 organik di pekarang2 rumah mulai ukuran 3 x 4 meter. Menarik sekali penjelasan beliau...
Yang kedua, Projectnya Shana, gadis cantik eks Ketua BEM ITB yang sudah mencicipi Batam sampai Raja Ampat, Flores sampai Eropa dan banyak tempat dan kadang ia tuju sendirian ini menggarap project di Pulau dekat Pulau Komodo. Simpel sekali, semacam jualan galon dengan model R.O. tapi ini terobosan bisa memangkas jalur distribusi yang selama ini menganga lebar membuat mahal air galon disana.
Dan yang ketiga project dari Bandung, tol lingkar Bandung itu keluar pintu tol Buah Batu, cari Pak Ade, dia membuat usaha budidaya bambu, dan membuat bambu-bambu dilem sedemikian rupa menyerupai papan kayu. Wuidih, produknya menarik sekali, like this lah.
Tapi juri tentu punya pertimbangan komprehensif. Pak Slamet Lolos 20 besar, tetapi Shana dan Pak Ade besok bersamaku jalan-jalan ke villa di Bogor... yeah, keep happy, biarpun sudah tereleminasi.
#Pgn ke Flores, jelajah NTT sampai puas...
Just Wait
That i beleive now, if i can survive at this chapter, i will get new spirit or energy or whatever, that i need to make something big. Yes, after this chapter of journey... just survive, just defence, just wait, just pray...
just kok okeh, wehee..
just kok okeh, wehee..
Kulminasi
Memang betul, relasi bukan yang terpenting. Yang lebih penting dari relasi, adalah kapasitas diri kita. Perjalanan mencari kenalan kesini, kesitu, petualangan kesana-kemari memperkenalkan diri, itu semua menjadi tidak terlalu menohok, tanpa kita membawa kapasitas diri yang mantap.
Dan jadi tahu sekarang, kapasitas diri itu membangunnya ke dalam, menelusuri, menganyam, membatik, menggaris, menggores, menata, menyalakan, apa-apa yang sudah ada di dalam gudang diri kita.
Mungkin judul bulan depan adalah Agustus Menganyam. Huehee.. terlalu banyak hal sia-sia yang kita punya, sia-sia hanya karena tidak teranyam dengan benar, tidak tertata dengan baik. Padahal, we have more than the other.
Dan di Juli ini, menjadi bulan kulminasi revolusionernya tahun ini. Akan ada perubahan besar akibat sidang tugas akhir, seleksi British Council, dibangunnya L21 oleh Pak Darwoto, kasus yang membuat warnet harus tutup sementara, Project Ospek dan tentu saja datangnya Ramadhan.
Hm, seperti apa dan kemana arah L22 sebagai sebuah komunitas ke depan? Saksikan saja bersama-sama. I hope i still have a partner to keep build this together. Whatever the way...
Dan jadi tahu sekarang, kapasitas diri itu membangunnya ke dalam, menelusuri, menganyam, membatik, menggaris, menggores, menata, menyalakan, apa-apa yang sudah ada di dalam gudang diri kita.
Mungkin judul bulan depan adalah Agustus Menganyam. Huehee.. terlalu banyak hal sia-sia yang kita punya, sia-sia hanya karena tidak teranyam dengan benar, tidak tertata dengan baik. Padahal, we have more than the other.
Dan di Juli ini, menjadi bulan kulminasi revolusionernya tahun ini. Akan ada perubahan besar akibat sidang tugas akhir, seleksi British Council, dibangunnya L21 oleh Pak Darwoto, kasus yang membuat warnet harus tutup sementara, Project Ospek dan tentu saja datangnya Ramadhan.
Hm, seperti apa dan kemana arah L22 sebagai sebuah komunitas ke depan? Saksikan saja bersama-sama. I hope i still have a partner to keep build this together. Whatever the way...
7/25/11
Males
Males ngeblog! padahal banyak cerita, banyak insight! menarik3 dueh... cari sariwangi aja ah, mari bicara...
7/16/11
CEO KASKUS
JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan jumlah, usaha rintisan (startup) di Indonesia terbilang cukup banyak. Namun, tidak semua pelaku usaha rintisan yang menjalankan usahanya dengan serius.
"Memang banyak sih. Kalau banyak, sih banyak, yang tertarik juga banyak. Namun yang mengecewakan juga banyak," sebut CEO Kaskus, Ken Dean Lawadinata, kepada Kompas.com, di sela-sela konferensi IDBYTE, di Jakarta, Kamis (14/7/2011).
Menurutnya, hal yang mengecewakan yaitu banyak startup lokal yang melakukan penjiplakan, dan tidak memberikan suatu nilai tambah.
"Kan ngopi, habis ngopi sudah. Enggak pernah dilihat. Misalkan, oh, ada yang buat Facebook. Facebook laku di sana ok, kita bikin Facebook di Indonesia. Habis itu udah, mereka nggak mikirin, oh, Facebook itu sudah ada di Indonesia," sebutnya.
Ia menuturkan, tidak bisa hanya sebatas menjiplak. Harus ada local flavour yang ditambahkan pada startup-nya. "Harus disesuaikan dengan pasarnya," jelasnya. Ia pun menilai, kreatifitas dalam startup ini masih kurang. Padahal potensi untuk berkembang sangat besar.
Selain itu, lanjut dia, startup yang ada saat ini tergolong tidak berkomitmen. "Kalau startup yang sekarang ada yah, menurut saya, kayak per bulan, itu angot-angotan. Sebulan saya bikin, enggak jalan, ya udah besok tutup," sebutnya. Seharusnya, pelaku startup berkomitmen dengan usahanya. "Setahun-dua tahun dijalankan, oh enggak bisa. Baru ditutup," tambahnya.
"Memang banyak sih. Kalau banyak, sih banyak, yang tertarik juga banyak. Namun yang mengecewakan juga banyak," sebut CEO Kaskus, Ken Dean Lawadinata, kepada Kompas.com, di sela-sela konferensi IDBYTE, di Jakarta, Kamis (14/7/2011).
Menurutnya, hal yang mengecewakan yaitu banyak startup lokal yang melakukan penjiplakan, dan tidak memberikan suatu nilai tambah.
"Kan ngopi, habis ngopi sudah. Enggak pernah dilihat. Misalkan, oh, ada yang buat Facebook. Facebook laku di sana ok, kita bikin Facebook di Indonesia. Habis itu udah, mereka nggak mikirin, oh, Facebook itu sudah ada di Indonesia," sebutnya.
Ia menuturkan, tidak bisa hanya sebatas menjiplak. Harus ada local flavour yang ditambahkan pada startup-nya. "Harus disesuaikan dengan pasarnya," jelasnya. Ia pun menilai, kreatifitas dalam startup ini masih kurang. Padahal potensi untuk berkembang sangat besar.
Selain itu, lanjut dia, startup yang ada saat ini tergolong tidak berkomitmen. "Kalau startup yang sekarang ada yah, menurut saya, kayak per bulan, itu angot-angotan. Sebulan saya bikin, enggak jalan, ya udah besok tutup," sebutnya. Seharusnya, pelaku startup berkomitmen dengan usahanya. "Setahun-dua tahun dijalankan, oh enggak bisa. Baru ditutup," tambahnya.
7/12/11
Titi Mangsa
Ijtihad itu, kalau benar dapat 2 kebaikan, kalau salah tetap dapat kebaikan, 1. Orang Jawa berijtihad membuat titi mangsa. Begitu juga tembang mocopat, terus ada lagi pasaran manis, pahing, pon, wage, kliwon itu juga hasil ijtihad. Menjadi entrepeneur sebuah ijtihad, ditengah doktrinasi zaman, yang mendeklarasikan agama baru bernama "sekolah", tanpa sekolah, enggak bisa kerja enak, tanpa kerja enak ga bisa hidup enak.
7/8/11
7/7/11
Identifikasi Egostate (1)
Bahwa untuk sukses di jalan bisnis aku sama sekali tidak mempunyai modal yang mencukupi. Pilihan terbaik adalah menyadari bahwa yang aku miliki adalah bekal-bekal yang berseberangan dengan yang dibutuhkan :
1. Bukan pemberani, padahal bisnis penuh spekulasi, yang namanya spekulasi, bisa membubung, bisa juga jatuh... gabrugggg.... bisa sakit.. bisa mati...
2. Tidak bisa tegas, memecat anak buah yang tidak becus tidak berani, mencabut benalu di perkumpulan cuma dibatin. Sudah berapa kondisi yang seharusnya aku tegas, aku tidak tegas.
3. Tidak bisa ndableg, diomongin begini tersinggung, dirasani begitu dipikir, dianggap tidak becus, terpukul.... Halah... dasar memang tidak becus beneran kok.
4. Susah jatuh cinta, makanya nggak nikah-nikah. Syukurin kamu dibikin iri sama yang udah nikah... kawus!!!
5. Tidak care. Egois, urusan sendiri dipentingkan, urusan orang lain dikesampingkan... Lah, bagaimana klien bisnis mau nyaman....???
6. Bukan sanguin, padahal kalau mau sukses yang dihadapi adalah banyak presentasi yang memikat, perlu lobi yang mencekat, bukan hanya duduuuk di depan laptop dan printer doank. Gitu si jadi staff aja kamu!!! sana ndaftar beli kartu kuning.
7. Pemalu. Bagaimana mau personal branding, kalau mengenalkan diri saja malu-malu. Tampil di depan jadi trainer dengan 'gamam'.
8. Tertutup, sudah pemalu, tertutup pula. Bukannya kalau lagi forum ngobrol sana sini cari kenalan sebanyak-banyaknya... eh diaam saja, ngabisin prasmanan. Halah!!! Kepiweee si karepmu????
9. Selera rendah. Milih baju norak. beli sendal wagu, rambut nggak pernah jelas sempongannya. Plis deh, ngganteng itu bukan semata anugerah Tuhan men!!!, tapi bagaimana kamu memilih penampilan, pantofel apa kets? jeans apa bahan? kaos jungkis apa batik? sweater apa jaket resmi? warna gelap apa warna terang? polos apa belang-belang?
10. Kuper. Nggak tahu film, padahal di hardisk external penuh tuh sama copyan film. Nggak ngerti artis, penyanyi, apalagi lagu. Enggak ngeri motoGP, liga champion, argo sindoro, track petualangan di papua... ngertine opoooo???? jadi selama ini ngapain aja...???
Apa untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan menciptakanku untuk menjadi orang gagal aku harus mengetik 10 point di atas dini hari begini?
1. Bukan pemberani, padahal bisnis penuh spekulasi, yang namanya spekulasi, bisa membubung, bisa juga jatuh... gabrugggg.... bisa sakit.. bisa mati...
2. Tidak bisa tegas, memecat anak buah yang tidak becus tidak berani, mencabut benalu di perkumpulan cuma dibatin. Sudah berapa kondisi yang seharusnya aku tegas, aku tidak tegas.
3. Tidak bisa ndableg, diomongin begini tersinggung, dirasani begitu dipikir, dianggap tidak becus, terpukul.... Halah... dasar memang tidak becus beneran kok.
4. Susah jatuh cinta, makanya nggak nikah-nikah. Syukurin kamu dibikin iri sama yang udah nikah... kawus!!!
5. Tidak care. Egois, urusan sendiri dipentingkan, urusan orang lain dikesampingkan... Lah, bagaimana klien bisnis mau nyaman....???
6. Bukan sanguin, padahal kalau mau sukses yang dihadapi adalah banyak presentasi yang memikat, perlu lobi yang mencekat, bukan hanya duduuuk di depan laptop dan printer doank. Gitu si jadi staff aja kamu!!! sana ndaftar beli kartu kuning.
7. Pemalu. Bagaimana mau personal branding, kalau mengenalkan diri saja malu-malu. Tampil di depan jadi trainer dengan 'gamam'.
8. Tertutup, sudah pemalu, tertutup pula. Bukannya kalau lagi forum ngobrol sana sini cari kenalan sebanyak-banyaknya... eh diaam saja, ngabisin prasmanan. Halah!!! Kepiweee si karepmu????
9. Selera rendah. Milih baju norak. beli sendal wagu, rambut nggak pernah jelas sempongannya. Plis deh, ngganteng itu bukan semata anugerah Tuhan men!!!, tapi bagaimana kamu memilih penampilan, pantofel apa kets? jeans apa bahan? kaos jungkis apa batik? sweater apa jaket resmi? warna gelap apa warna terang? polos apa belang-belang?
10. Kuper. Nggak tahu film, padahal di hardisk external penuh tuh sama copyan film. Nggak ngerti artis, penyanyi, apalagi lagu. Enggak ngeri motoGP, liga champion, argo sindoro, track petualangan di papua... ngertine opoooo???? jadi selama ini ngapain aja...???
Apa untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan menciptakanku untuk menjadi orang gagal aku harus mengetik 10 point di atas dini hari begini?
7/5/11
Melukis Juli
Di bulan ini akan ada banyak lomba melukis. Kenapa? Karena ada satu hari istimewa buat anak-anak di bulan ini. Hari anak nasional.
Tentu saja aku tak bisa mengikuti lomba itu, karena aku bukan anak-anak. Kalaupun ada lomba lukis orang dewasa, seribu orang bahkan malaikat juga tahu dan menegur sebelum berangkat "kamu tu bisa apa, he, plis deh lomba ini khusus buat para pelukis tau!"
Hidupku dulu digambar, dengan garisan perencanaan, dihitung dengan busur derajat anggaran, dibatasi dengan garis tepi 'realita' yang tidak boleh ditrabas, dan disana-sini dipenuhi dengan bentuk-bentuk sudut, yakni sudut pandang dari hasil pembanding kehidupan orang lain.
"Kamu itu nggak tegelan, nggak bakat jadi pebisnis." atau"Ia, di bisnis aku percaya kamu bisa sukses, tapi nanti nunggu tua, kayak Bob Sadino." adalagi "Kamu tuh nggak kayak si X, dia bisnisnya jalan, kuliahnya rapi, udah nikah pula." ditambah lagi "Kamu itu sudah tua, sampai kapan kamu mau 'playon' mainan terus." Dan masih banyak lagi lainnya. Semua itu benar-benar membuat kertas A3 kehidupanku menjadi bergambar begitu tidak indah.
Aku memasuki juli dengan mempersiapkan diri membeli alat-alat lukis. Menyiapkan kanvas 'Iman', dengan cara mendekonstruksi makna iman tidak sebatas pengertian definitif, teoritis dan normatif dari pengajian-pengajian. Juga membersihkan beberapa kuas yang selama ini lusuh, kuas 'Dhuha', kuas 'itikaf', kuas 'tilawah' dan kuas 'sodaqoh'.
Dan tentu saja cat untuk lukisnya disiapkan pula, ada cat warna 'Hasbunallah..", ada cat "Zam-zamallah", ada "Robbi adhilni..", ada banyak lah, nanti tinggal pilih sesuai kebutuhan saat lukis. Bukan text nya, tapi maknanya, itu yang terpenting.
Sudah tahu kan bedanya melukis dan menggambar? Menggambar itu bergantung pada alat, membuat garis harus pakai garisan, membuat sudut harus dihitung. Menggambar membutuhkan panduan, lihat gambar model, parahnya yang dimodel adalah orang lain, yang sama sekali berbeda dengan kita.
Sedangkan melukis, melukis itu relaks, melukis itu tak perlu model apapun, tak ada keharusan menggaris selurus apa, membuat sudut sebesar apa. Tak ada batasn menggunakan warna apa dan warna itu didampingi apa. Tak ada target harus dilihat orang bagus.
Aku ingin melukis hari-hariku, tidak lagi menggambarnya. Aku ingin menjalankan bisnis senikmat pelukis melukis. Dan aku sekarang tahu Iman itu bukan digambar, tapi dilukis. Iman itu diguratkan bukan dengan rasional, dengan panduan hukmiah belaka, tapi dengan rasa, rasa yang sumbernya hati, yang di dalamnya ada unsur kepekaan irama, nuansa, menembus cakrawala.
Selamat melukis hari hari di bulan Juli ini, aku ucapkan pada diriku sendiri, dan pada siapapun yang sedang melukis. Yakinlah lukisanmu itu sudah bagus, tidak usah resah merasa harus sebagus orang lain, alat ukur kebagusan itu bukan orang lain. Biarlah orang lain mapan dengan pemikirannya, nyaman dengan statusnya, pendapatannya, gajinya, cara berpikirnya.
Lukisanmu bukan lebih jelek atau lebih bagus dari mereka, tidak usah pikirkan itu. Tetapi pikirkan, lukisanku hanya berbeda saja. Masuk Ramadhan, lukisan tinggal di pajang, Dan selesai Ramadhan semoga Tuhan menyukai lukisanku dan Dia mau membayarnya. Amin, mohon doanya ya teman-teman semua dengan satu Al Fatihah.
Tentu saja aku tak bisa mengikuti lomba itu, karena aku bukan anak-anak. Kalaupun ada lomba lukis orang dewasa, seribu orang bahkan malaikat juga tahu dan menegur sebelum berangkat "kamu tu bisa apa, he, plis deh lomba ini khusus buat para pelukis tau!"
Hidupku dulu digambar, dengan garisan perencanaan, dihitung dengan busur derajat anggaran, dibatasi dengan garis tepi 'realita' yang tidak boleh ditrabas, dan disana-sini dipenuhi dengan bentuk-bentuk sudut, yakni sudut pandang dari hasil pembanding kehidupan orang lain.
"Kamu itu nggak tegelan, nggak bakat jadi pebisnis." atau"Ia, di bisnis aku percaya kamu bisa sukses, tapi nanti nunggu tua, kayak Bob Sadino." adalagi "Kamu tuh nggak kayak si X, dia bisnisnya jalan, kuliahnya rapi, udah nikah pula." ditambah lagi "Kamu itu sudah tua, sampai kapan kamu mau 'playon' mainan terus." Dan masih banyak lagi lainnya. Semua itu benar-benar membuat kertas A3 kehidupanku menjadi bergambar begitu tidak indah.
Aku memasuki juli dengan mempersiapkan diri membeli alat-alat lukis. Menyiapkan kanvas 'Iman', dengan cara mendekonstruksi makna iman tidak sebatas pengertian definitif, teoritis dan normatif dari pengajian-pengajian. Juga membersihkan beberapa kuas yang selama ini lusuh, kuas 'Dhuha', kuas 'itikaf', kuas 'tilawah' dan kuas 'sodaqoh'.
Dan tentu saja cat untuk lukisnya disiapkan pula, ada cat warna 'Hasbunallah..", ada cat "Zam-zamallah", ada "Robbi adhilni..", ada banyak lah, nanti tinggal pilih sesuai kebutuhan saat lukis. Bukan text nya, tapi maknanya, itu yang terpenting.
Sudah tahu kan bedanya melukis dan menggambar? Menggambar itu bergantung pada alat, membuat garis harus pakai garisan, membuat sudut harus dihitung. Menggambar membutuhkan panduan, lihat gambar model, parahnya yang dimodel adalah orang lain, yang sama sekali berbeda dengan kita.
Sedangkan melukis, melukis itu relaks, melukis itu tak perlu model apapun, tak ada keharusan menggaris selurus apa, membuat sudut sebesar apa. Tak ada batasn menggunakan warna apa dan warna itu didampingi apa. Tak ada target harus dilihat orang bagus.
Aku ingin melukis hari-hariku, tidak lagi menggambarnya. Aku ingin menjalankan bisnis senikmat pelukis melukis. Dan aku sekarang tahu Iman itu bukan digambar, tapi dilukis. Iman itu diguratkan bukan dengan rasional, dengan panduan hukmiah belaka, tapi dengan rasa, rasa yang sumbernya hati, yang di dalamnya ada unsur kepekaan irama, nuansa, menembus cakrawala.
Selamat melukis hari hari di bulan Juli ini, aku ucapkan pada diriku sendiri, dan pada siapapun yang sedang melukis. Yakinlah lukisanmu itu sudah bagus, tidak usah resah merasa harus sebagus orang lain, alat ukur kebagusan itu bukan orang lain. Biarlah orang lain mapan dengan pemikirannya, nyaman dengan statusnya, pendapatannya, gajinya, cara berpikirnya.
Lukisanmu bukan lebih jelek atau lebih bagus dari mereka, tidak usah pikirkan itu. Tetapi pikirkan, lukisanku hanya berbeda saja. Masuk Ramadhan, lukisan tinggal di pajang, Dan selesai Ramadhan semoga Tuhan menyukai lukisanku dan Dia mau membayarnya. Amin, mohon doanya ya teman-teman semua dengan satu Al Fatihah.
Background dari Google. Font : Comic Andy
7/2/11
Kaos Seri Inspirator. Mau?
Soekarno
Akibat dicuplik fotonya di banyak baliho, dikutip dengan bagian per bagian kata-katanya di banyak kongres, maka sedikit saja dari kita yang tahu betapa Soekarno adalah figur pemimpin yang begitu religius. Ketajaman mata hatinya bersanding selaras dengan kecermatan nalarnya sanggup membaca peta perpolitikan dunia saat itu yang berada di bawah bayang-bayang imperialisme dan kolonialisme. Ia bukan hanya mampu meyibak tabir lalu membaca, tapi juga berani bersuara lantang di hadapan dunia internasional. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang pernah dengan berani mundur dari PBB.
Soedirman
Orang desa yang mengeksplorasi diri dan pasukannya di dalam hutan belantara, gerilya. Tanpa facebook tanpa twitter, tidak juga Ipad dan BBM. Tidak tercover asuransi kesehatan Kelas VVIP layaknya para menteri dan anggota Dewan. Tapi namanya kini menjadi nama jalan, jalan aorta di hampir semua kota besar di Indonesia. Kini monumen dan museum kelahirannya tetap berdiri anggun dengan bersahajanya di dusun Rembang, harus 2 jam perjalanan dari Purwokerto, ke pojokan kota dekat Pemalang sana.
Hamengkubuwono IX
Kalau Jogja disebut bidan kelahirannya NKRI, maka Hamengkubuwono IX (HB IX) adalah suaminya si bidan. Ia sisihkan tanah keraton untuk kampus perkuliahannya anak muda NKRI, UGM. Ia sodorkan bandara, gedung agung stasiun tugu dan entah apalagi untuk digunakan bebas oleh pemerintah NKRI yang saat itu masih bayi. Hubungan baik kekaribannya dengan Ratu Belanda, Juliana teman semasa sekolahnya dulu itu ia jadikan garansi keamanan bagi pemimpin NKRI yang terancam di luar Jogja, menjadi aman didalam dekapan Jogja.
Bung Tomo
Takbir dipekikkan bukan untuk memecah belah kelompok, menajamkan polarisasi golongan dan mengaburkan substansi penghambaan. Takbir dipekikkan Bung Tomo untuk menyatukan semua elemen bangsa, bangkit dengan percaya diri menghadapi kedatangan penjajah.
Sadarilah, motivasi perjuangan kemerdekaan bukanlah semata-mata nasionalisme dalam arti sempit. Bung Tomo adalah satu dari ribuan tokoh yang mempertahankan NKRI sebagai representasi Jihad menegakkan agamanya, Islam. Peran agama dengan ulamanya di zaman kemerdekaan sudah terlalu kita pinggirkan, tanpa kita mengilmui sejarahnya secara menyeluruh.
Agus Salim
Bargaining dan positioning negeri bayi NKRI sangatlah tinggi. Itu karena diplomat-diplomat ulung yang kita miliki. Haji Agus Salim salah satunya.
Habibie
Idola remaja masa kini. Habibie adalah teknokrat yang begitu mendalam cintanya pada bangsa, yang karena keahliannya justru ia tidak mendapat peran strategis di negeri ini. Masih ada ratusan ilmuwan asli Indonesia yang tersebar di Malaysia, Jerman, Jepang, higga di NASA, tanpa pernah kita mengapresiasi keahlian mereka. Bahkan mengenalnyapun tidak.
Bagi kita yang penting gaji kita cukup, makan kita cukup. sudah. Tapi tidak bagi Habibie, seterpinggirkan apapun dia, tidak berkurang cintanya pada Indonesia.
Mario Teguh
Kalau sinetron dan infotainment menyumbang sampah ke akal sehat kita, Mario Teguh Golden Way (MTGW) adalah salah satu program yang memberikan kontribusi sebaliknya. Bagus. Lanjutkan. Walau bangsa ini tidak memberikan ruang yang leluasa bagi Mario Teguh dan oase-oase jiwa figur-figur pengguggah semangat kita, maka minimal kita memberikan ruang yang luas di hati kita masing-masing.
Benyamin S.

Ikon seniman Betawi yang fenomenal. Seni bukan apa-apa, seni adalah tools merasakan indahnya hidup. Seni jangan diantipatii, agar hidup menjadi berirama.
Cut Nyak Dien
Engkau mengupayakan sesuatu dengan mati-matian, tetapi yang diupayakan tidak mewujud dan kita tetap bahagia. Itulah ikhlas. Cut Nyak Dien mati-matian membela tanah leluhur dan agamanya, belum juga menuai hasil yang funtastik, usianya menua, fisiknya menurun dan dipersembunyian karena anak buahnya tidak tega Cut Nyak Dien sakit tanpa mendapat perawatan lalu dilaporkanlah kepada Belanda agar ditangkap, semata-mata agar sakitnya terawat.
Cut Nyak Dien pun ditangkap dan dibuang ke Sumedang, visi perjuangannya tidak terwujud seperti rencana, tapi di akhir hayatnya ia ikhlas di pembuangan. Tahunya ikhlas? Setelah tidak bisa berperang, ia mengajar mengaji, dengan nama samaran, hingga akhir hayatnya.
Gajahmada
Tanpa google map, belum ada GPS, tapi visinya sudah Nusantara. Begitu fightnya si Mahapatih, ia berkomitmen tidak bersenang-senang sebelum Nusantara berhasil dipersatukan, itu kan bunyi sumpah yang terabadikan dengan nama Palapa. Apa diantara kita ada yang berani bersumpah begitu? Tidak akan bersenang-senang sebelum Zionis runtuh. Ya kira-kira semustahil runtuhnya Zionis mungkin, kemustahilan bersatunya Nusantara saat itu. Tapi bagi Gajahmada itu tidak mustahil
Kesepuluh tokoh inspirator itu dibuat kaos bergambar oleh komunitas anak muda kreatif di Purwokerto, nama komunitasnya Semangat Donk Indonesia, dilabelinya Semangatdonk Clothing. Harga kaosnya 65.000 dan bisa dikirim kemana saja diseluruh Indonesia.
Ini upaya kecil saja melestarikan pengenalan anak muda jaman sekarang dengan superheronya. Dan untuk tidak meremehkan tokoh-tokoh masa kini yang memberikan pencerahan dan membukakan paradigma kita, bahwa mereka juga pahlawan.
Di kaos berbahan katun soft-combat 20s itu di punggungnya ditulisi quote atau pekikan kata mutiara dari sang tokoh. Dan exlusivenya kaos ini adalah hanya diproduksi 10 pcs setiap tokohnya di seluruh Indonesia.
Minat dengan kaosnya? Kunjungi sini saja.
Akibat dicuplik fotonya di banyak baliho, dikutip dengan bagian per bagian kata-katanya di banyak kongres, maka sedikit saja dari kita yang tahu betapa Soekarno adalah figur pemimpin yang begitu religius. Ketajaman mata hatinya bersanding selaras dengan kecermatan nalarnya sanggup membaca peta perpolitikan dunia saat itu yang berada di bawah bayang-bayang imperialisme dan kolonialisme. Ia bukan hanya mampu meyibak tabir lalu membaca, tapi juga berani bersuara lantang di hadapan dunia internasional. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang pernah dengan berani mundur dari PBB.
Soedirman
Orang desa yang mengeksplorasi diri dan pasukannya di dalam hutan belantara, gerilya. Tanpa facebook tanpa twitter, tidak juga Ipad dan BBM. Tidak tercover asuransi kesehatan Kelas VVIP layaknya para menteri dan anggota Dewan. Tapi namanya kini menjadi nama jalan, jalan aorta di hampir semua kota besar di Indonesia. Kini monumen dan museum kelahirannya tetap berdiri anggun dengan bersahajanya di dusun Rembang, harus 2 jam perjalanan dari Purwokerto, ke pojokan kota dekat Pemalang sana.
Hamengkubuwono IX
Kalau Jogja disebut bidan kelahirannya NKRI, maka Hamengkubuwono IX (HB IX) adalah suaminya si bidan. Ia sisihkan tanah keraton untuk kampus perkuliahannya anak muda NKRI, UGM. Ia sodorkan bandara, gedung agung stasiun tugu dan entah apalagi untuk digunakan bebas oleh pemerintah NKRI yang saat itu masih bayi. Hubungan baik kekaribannya dengan Ratu Belanda, Juliana teman semasa sekolahnya dulu itu ia jadikan garansi keamanan bagi pemimpin NKRI yang terancam di luar Jogja, menjadi aman didalam dekapan Jogja.
Bung Tomo
Takbir dipekikkan bukan untuk memecah belah kelompok, menajamkan polarisasi golongan dan mengaburkan substansi penghambaan. Takbir dipekikkan Bung Tomo untuk menyatukan semua elemen bangsa, bangkit dengan percaya diri menghadapi kedatangan penjajah.
Sadarilah, motivasi perjuangan kemerdekaan bukanlah semata-mata nasionalisme dalam arti sempit. Bung Tomo adalah satu dari ribuan tokoh yang mempertahankan NKRI sebagai representasi Jihad menegakkan agamanya, Islam. Peran agama dengan ulamanya di zaman kemerdekaan sudah terlalu kita pinggirkan, tanpa kita mengilmui sejarahnya secara menyeluruh.
Agus Salim
Bargaining dan positioning negeri bayi NKRI sangatlah tinggi. Itu karena diplomat-diplomat ulung yang kita miliki. Haji Agus Salim salah satunya.
Habibie
Idola remaja masa kini. Habibie adalah teknokrat yang begitu mendalam cintanya pada bangsa, yang karena keahliannya justru ia tidak mendapat peran strategis di negeri ini. Masih ada ratusan ilmuwan asli Indonesia yang tersebar di Malaysia, Jerman, Jepang, higga di NASA, tanpa pernah kita mengapresiasi keahlian mereka. Bahkan mengenalnyapun tidak.
Bagi kita yang penting gaji kita cukup, makan kita cukup. sudah. Tapi tidak bagi Habibie, seterpinggirkan apapun dia, tidak berkurang cintanya pada Indonesia.
Mario Teguh
Kalau sinetron dan infotainment menyumbang sampah ke akal sehat kita, Mario Teguh Golden Way (MTGW) adalah salah satu program yang memberikan kontribusi sebaliknya. Bagus. Lanjutkan. Walau bangsa ini tidak memberikan ruang yang leluasa bagi Mario Teguh dan oase-oase jiwa figur-figur pengguggah semangat kita, maka minimal kita memberikan ruang yang luas di hati kita masing-masing.
Benyamin S.
Ikon seniman Betawi yang fenomenal. Seni bukan apa-apa, seni adalah tools merasakan indahnya hidup. Seni jangan diantipatii, agar hidup menjadi berirama.
Cut Nyak Dien
Engkau mengupayakan sesuatu dengan mati-matian, tetapi yang diupayakan tidak mewujud dan kita tetap bahagia. Itulah ikhlas. Cut Nyak Dien mati-matian membela tanah leluhur dan agamanya, belum juga menuai hasil yang funtastik, usianya menua, fisiknya menurun dan dipersembunyian karena anak buahnya tidak tega Cut Nyak Dien sakit tanpa mendapat perawatan lalu dilaporkanlah kepada Belanda agar ditangkap, semata-mata agar sakitnya terawat.
Cut Nyak Dien pun ditangkap dan dibuang ke Sumedang, visi perjuangannya tidak terwujud seperti rencana, tapi di akhir hayatnya ia ikhlas di pembuangan. Tahunya ikhlas? Setelah tidak bisa berperang, ia mengajar mengaji, dengan nama samaran, hingga akhir hayatnya.
Gajahmada
Tanpa google map, belum ada GPS, tapi visinya sudah Nusantara. Begitu fightnya si Mahapatih, ia berkomitmen tidak bersenang-senang sebelum Nusantara berhasil dipersatukan, itu kan bunyi sumpah yang terabadikan dengan nama Palapa. Apa diantara kita ada yang berani bersumpah begitu? Tidak akan bersenang-senang sebelum Zionis runtuh. Ya kira-kira semustahil runtuhnya Zionis mungkin, kemustahilan bersatunya Nusantara saat itu. Tapi bagi Gajahmada itu tidak mustahil
Kesepuluh tokoh inspirator itu dibuat kaos bergambar oleh komunitas anak muda kreatif di Purwokerto, nama komunitasnya Semangat Donk Indonesia, dilabelinya Semangatdonk Clothing. Harga kaosnya 65.000 dan bisa dikirim kemana saja diseluruh Indonesia.
Ini upaya kecil saja melestarikan pengenalan anak muda jaman sekarang dengan superheronya. Dan untuk tidak meremehkan tokoh-tokoh masa kini yang memberikan pencerahan dan membukakan paradigma kita, bahwa mereka juga pahlawan.
Di kaos berbahan katun soft-combat 20s itu di punggungnya ditulisi quote atau pekikan kata mutiara dari sang tokoh. Dan exlusivenya kaos ini adalah hanya diproduksi 10 pcs setiap tokohnya di seluruh Indonesia.
Minat dengan kaosnya? Kunjungi sini saja.
Dua Gembok
Orang-orang yang masuk aliran Islam fundamental, baik yang mengakui itu sebuah aliran atau tidak mengakaui walaupun dalam keseharian mereka membuat cluster sendiri, mereka sudah tergembok. Gemboknya ada dua :
Gembok 1 : Akal tidak boleh dijadikan hakim
Karena diwanti-wanti akal tidak boleh dijadikan hakim, maka akal atau saya lebih suka menyebutnya nalar seringkali dikesampingkan, dimarginalisasi. Perilaku ini tidak dijumpai pada kalangan Islam non fundamental. Kalangan Islam non fundamental sebenarnya tidak menjadikan akal sebagai hakim, tetapi menjadi akal sebagai alat konfirmator.
Contohnya begini, perintah mengikuti bentuk celana 7/8 yang tidak menutup mata kaki. Kalau itu diniatkan sombong, termasuk dosa besar, sedangkan kalau itu dilakukan tanpa niatan apa-apa, itu termasuk dosa kecil atau maksiat biasa saja. Alasannya adalah karena Rasul dulu juga pakaiannya seperti itu.
Kalau akal difungsikan sebagai konfirmator, akan muncul self-question : Bentuk celana saya ikut masyarakat arab, kenapa bentuk rumah saya tidak? Kira-kira dengan pakaian saya yang menonjol berbeda akan memudahkan atau menyulitkan saya dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran kepada orang lain? Apakah menyampaikan kebenaran kepada mereka yang sudah mengerti Quran dengan preman yang sama sekali belum pernah belajar Islam itu sama caranya sehingga pakaian tidak perlu jadi soal? Apakah pelacur adalah musuh dalam dakwah kita, atau mereka adalah bagian-bagian dari orang yang perlu kita dakwahi? dan seterusnya...
Gembok 2 : Kebenaran ada di tiga perkataan : dari kitab suci, dari sunnah Rasul dan dari ucapan "aku tidak tahu"
Ketika sebuah kebenaran disampaiakan bukan dari rujukan Quran dan Hadits, maka langsung tertolak. Itu terkesan baik dan murni, padahal, yang terjadi adalah, banyak dari mereka yang terjebak berhenti dalam tafsir Quran dan tafsir hadits, bukan Quran dan Haditsnya itu sendiri.
Misalnya, Tuanku Imam Bonjol itu ulama yang benar, kalau Diponegoro, tidak tahu, kejawen mungkin. Imam Bonjol di stigmai sebagai ulama yang benar menurut informasi dari guru atau ustadznya yang bercerita begitu. Sedangkan Diponegoro di stigmai sebagai kejawen dengan embel-embel kata "mungkin".
Mungkin Diponegoro celananya tidak ngatung, tapi memfatwa atau menyebut dia kejawen tanpa diriset terlebih dahulu, itu adalah sebuah kekeliruan. Seringkali kalangan yang berstatus ulama pada begitu, mereka menyebut hipnosis haram, Tasawuf Agus Mustofa itu ingkar sunnah, hanya dasarnya adalah informasi sekunder, tidak tergerak untuk meriset sendiri.
Nanti selanjutnya saya akan posting lagi tentang jenis tolibul ilmi, ada dua : (1) mendengarkan pemaparan, (2) meriset sesuatu perkara. Betapa sering kita terjebak bahwa menuntut ilmu itu mendengar ceramah dan ngaji di masjid saja. Padahal riset lah ilmu sampai ke negeri china juga menuntut ilmu.
Ulama kita banyak yang hanya kutu buku, dan antipati dengan aktivitas riil riset.
Gembok 1 : Akal tidak boleh dijadikan hakim
Karena diwanti-wanti akal tidak boleh dijadikan hakim, maka akal atau saya lebih suka menyebutnya nalar seringkali dikesampingkan, dimarginalisasi. Perilaku ini tidak dijumpai pada kalangan Islam non fundamental. Kalangan Islam non fundamental sebenarnya tidak menjadikan akal sebagai hakim, tetapi menjadi akal sebagai alat konfirmator.
Contohnya begini, perintah mengikuti bentuk celana 7/8 yang tidak menutup mata kaki. Kalau itu diniatkan sombong, termasuk dosa besar, sedangkan kalau itu dilakukan tanpa niatan apa-apa, itu termasuk dosa kecil atau maksiat biasa saja. Alasannya adalah karena Rasul dulu juga pakaiannya seperti itu.
Kalau akal difungsikan sebagai konfirmator, akan muncul self-question : Bentuk celana saya ikut masyarakat arab, kenapa bentuk rumah saya tidak? Kira-kira dengan pakaian saya yang menonjol berbeda akan memudahkan atau menyulitkan saya dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran kepada orang lain? Apakah menyampaikan kebenaran kepada mereka yang sudah mengerti Quran dengan preman yang sama sekali belum pernah belajar Islam itu sama caranya sehingga pakaian tidak perlu jadi soal? Apakah pelacur adalah musuh dalam dakwah kita, atau mereka adalah bagian-bagian dari orang yang perlu kita dakwahi? dan seterusnya...
Gembok 2 : Kebenaran ada di tiga perkataan : dari kitab suci, dari sunnah Rasul dan dari ucapan "aku tidak tahu"
Ketika sebuah kebenaran disampaiakan bukan dari rujukan Quran dan Hadits, maka langsung tertolak. Itu terkesan baik dan murni, padahal, yang terjadi adalah, banyak dari mereka yang terjebak berhenti dalam tafsir Quran dan tafsir hadits, bukan Quran dan Haditsnya itu sendiri.
Misalnya, Tuanku Imam Bonjol itu ulama yang benar, kalau Diponegoro, tidak tahu, kejawen mungkin. Imam Bonjol di stigmai sebagai ulama yang benar menurut informasi dari guru atau ustadznya yang bercerita begitu. Sedangkan Diponegoro di stigmai sebagai kejawen dengan embel-embel kata "mungkin".
Mungkin Diponegoro celananya tidak ngatung, tapi memfatwa atau menyebut dia kejawen tanpa diriset terlebih dahulu, itu adalah sebuah kekeliruan. Seringkali kalangan yang berstatus ulama pada begitu, mereka menyebut hipnosis haram, Tasawuf Agus Mustofa itu ingkar sunnah, hanya dasarnya adalah informasi sekunder, tidak tergerak untuk meriset sendiri.
Nanti selanjutnya saya akan posting lagi tentang jenis tolibul ilmi, ada dua : (1) mendengarkan pemaparan, (2) meriset sesuatu perkara. Betapa sering kita terjebak bahwa menuntut ilmu itu mendengar ceramah dan ngaji di masjid saja. Padahal riset lah ilmu sampai ke negeri china juga menuntut ilmu.
Ulama kita banyak yang hanya kutu buku, dan antipati dengan aktivitas riil riset.
7/1/11
Pekan Raya Korea
Memang lebih pas disebut begitu, perhelatan dengan nama Pekan Raya Banyumas yang sedang di gelar di Auditorium Universitas Jenderal Soedirman itu. Karena di deretan terdepan, yang ada produk2 asing, mobil mewah, komputer, laptop, handphone. Sementara kerajinan UKM nyelesep di atas, enggak kelihatan.
Tidak usah menebak dulu tulisan ini akan menjelek2an Pak Bupati lagi yang semakin tidak membuat Banyumas menonjolkan karakternya saja, kecuali biasanya memamerkan : "bahwa produk asing disini banyak loh, yang sanggup beli juga banyak loh". Bukan kesitu arah tulisan kali ini.
Ini tulisan curahan hati setelah dimarahi (imajiner) oleh Pak Bupati kemarin. Ketika aku mendatangi beliau (imajiner loh, inget) dan bertanya, "Pak, Pekan Raya Banyumas kok depan sendiri stan mobil, Stan mendoan dimana Pak? Gimana lah Pak namanya doang, Banyumas isinya bukan"
Sontak Pak Bupati balik nanya, "Nggak ada mendoan ya mas?", aku jawab "Iya Pak". Pak Bupati melanjutkan "Lah sampean orang Banyumas bukan? Kenapa bukan sampean saja yang nyanding mendoan? Sampean nyanding apa? Apa nonton doang?"
Toweng-toweng..., (masih imajiner) aku hanya bisa nyengir, "hehee..."
Tidak usah menebak dulu tulisan ini akan menjelek2an Pak Bupati lagi yang semakin tidak membuat Banyumas menonjolkan karakternya saja, kecuali biasanya memamerkan : "bahwa produk asing disini banyak loh, yang sanggup beli juga banyak loh". Bukan kesitu arah tulisan kali ini.
Ini tulisan curahan hati setelah dimarahi (imajiner) oleh Pak Bupati kemarin. Ketika aku mendatangi beliau (imajiner loh, inget) dan bertanya, "Pak, Pekan Raya Banyumas kok depan sendiri stan mobil, Stan mendoan dimana Pak? Gimana lah Pak namanya doang, Banyumas isinya bukan"
Sontak Pak Bupati balik nanya, "Nggak ada mendoan ya mas?", aku jawab "Iya Pak". Pak Bupati melanjutkan "Lah sampean orang Banyumas bukan? Kenapa bukan sampean saja yang nyanding mendoan? Sampean nyanding apa? Apa nonton doang?"
Toweng-toweng..., (masih imajiner) aku hanya bisa nyengir, "hehee..."
6/30/11
Mungkinkah Terjadi
Di film-film, seperti Harun Yahya yang Tanda Akhir Zaman, kemudian Wall-E, dll digambarkan bahwa suatu saat nanti akan datang dimana suatu zaman orang-orangnya sudah berkelimpahan kesejahteraan, kaya-kaya semua.
Mohammad Yunus, yaitu Wiriaatmajanya Bangladesh mengatakan bahwa suatu saat nanti anak cucu kita hanya mengenal kemiskinan dari museum saja. Karena tidak ada lagi orang miskin.
Catatan literatur agama menjelaskan, bahwa akan datang suatu zaman dimana orang bingung mencari orang yang mau menerima sodaqohnya.
Nah, mungkinkah masa-masa itu terjadi? Atau selamanya yang namanya hidup ya begini, ada yang miskin, ada yang kaya, ada jeda jurang yang begitu lebar menganga antara keduanya. Apa hidup selamanya begini, kalau sudah agak besar ya sekolah, sekolah selesai ya kerja, kerja ditaletini nanti kaya, ajarkan itu ke anakmu, begitu seterusnya seperti guru SD mengajarkan pemandangan turun temurun.
Tidak. Zaman itu akan datang. Zaman dimana kapitalisme sudah runtuh. Hm, gambarannya zaman itu mungkin begini, semua orang sudah memiliki perencanaan keuangan masa depan yang baik, semua pakai tabungan berencana dan asuransi. Jadi tidak harus jadi PNS untuk dapat pensiunan, perusahaan asuransipun berlomba-lomba untuk mengcover penyakit seringan apapun, jadi jika orang flu saja sudah bisa klaim asuransi dan rumah sakit hanya berurusan dengan pihak asuransi, orang tidak perlu membayar apa-apa ke rumah sakit.
Zaman itu sangat niscaya atau mungkin terjadi, karena apa? Karena sistem kolaborasi global manusia sudah sedemikian tertata rapi dan terstruktur. Tidak ada segelintir orang yang ungkang-ungkang semakin kaya setiap hari tanpa dia memikirkan sistem bagaimana kaum marginal bisa hidup layak, layak dalam artian bisa makan juga bisa berinvestasi setiap harinya.
Semua orang sudah terlibat dalam sistem tata ekonomi dunia yang menguntungkan semua pihak. Itu mungkin terjadi, sangat mungkin. Tunggu saja, semoga umur kita dipanjangkan untuk dapat menjumpai zaman itu. Zaman dimana semua orang kaya raya.
Mohammad Yunus, yaitu Wiriaatmajanya Bangladesh mengatakan bahwa suatu saat nanti anak cucu kita hanya mengenal kemiskinan dari museum saja. Karena tidak ada lagi orang miskin.
Catatan literatur agama menjelaskan, bahwa akan datang suatu zaman dimana orang bingung mencari orang yang mau menerima sodaqohnya.
Nah, mungkinkah masa-masa itu terjadi? Atau selamanya yang namanya hidup ya begini, ada yang miskin, ada yang kaya, ada jeda jurang yang begitu lebar menganga antara keduanya. Apa hidup selamanya begini, kalau sudah agak besar ya sekolah, sekolah selesai ya kerja, kerja ditaletini nanti kaya, ajarkan itu ke anakmu, begitu seterusnya seperti guru SD mengajarkan pemandangan turun temurun.
Tidak. Zaman itu akan datang. Zaman dimana kapitalisme sudah runtuh. Hm, gambarannya zaman itu mungkin begini, semua orang sudah memiliki perencanaan keuangan masa depan yang baik, semua pakai tabungan berencana dan asuransi. Jadi tidak harus jadi PNS untuk dapat pensiunan, perusahaan asuransipun berlomba-lomba untuk mengcover penyakit seringan apapun, jadi jika orang flu saja sudah bisa klaim asuransi dan rumah sakit hanya berurusan dengan pihak asuransi, orang tidak perlu membayar apa-apa ke rumah sakit.
Zaman itu sangat niscaya atau mungkin terjadi, karena apa? Karena sistem kolaborasi global manusia sudah sedemikian tertata rapi dan terstruktur. Tidak ada segelintir orang yang ungkang-ungkang semakin kaya setiap hari tanpa dia memikirkan sistem bagaimana kaum marginal bisa hidup layak, layak dalam artian bisa makan juga bisa berinvestasi setiap harinya.
Semua orang sudah terlibat dalam sistem tata ekonomi dunia yang menguntungkan semua pihak. Itu mungkin terjadi, sangat mungkin. Tunggu saja, semoga umur kita dipanjangkan untuk dapat menjumpai zaman itu. Zaman dimana semua orang kaya raya.
6/29/11
Prestasi
Kalau lihat prestasi-prestasi orang lain, yang terpikir itu, "aduh, nyong si apa...".
How?how?how?
Apa "nyong" harus ada? dan tinggi posisinya?
Apa kalau tak ada prestasi berarti jelek?
Kalau jelek, memangnya kenapa?
Selama ini sudah berusaha membuat prestasi belum?
Sudah.
Tapi itu.. males2an, tidak sungguh2. Sok tahu kamu, ngukur darimana sungguh-sungguh tidaknya?
How?how?how?
How?how?how?
Apa "nyong" harus ada? dan tinggi posisinya?
Apa kalau tak ada prestasi berarti jelek?
Kalau jelek, memangnya kenapa?
Selama ini sudah berusaha membuat prestasi belum?
Sudah.
Tapi itu.. males2an, tidak sungguh2. Sok tahu kamu, ngukur darimana sungguh-sungguh tidaknya?
How?how?how?
Kontradiksi
Doktrinnya kalangan Islam fundamental memang sangat kuat, bagaimana mereka membonsai ilmu dan melakukan stratifikasi terhadapnya. Ah, menarik sekali dikaji. Belum puas rasanya mengkaji kontradiksi antara Islam fundamental dengan Islam terbuka.
Kalau sudah puas nanti baru beranjak mengkaji antara Islam Sunnah dan Syiah. Kalau sudah mumpuni, barulah belajar menghafalkan script khotbah Jumat. Insyaallah...
Sambil terus hafalannya ditambah, sambil terus pikiran ngeresnya dikurangi, ndang nikah, ndang nikah, ndang nikah... biyadil khoir, amin, amin, amin
Kalau sudah puas nanti baru beranjak mengkaji antara Islam Sunnah dan Syiah. Kalau sudah mumpuni, barulah belajar menghafalkan script khotbah Jumat. Insyaallah...
Sambil terus hafalannya ditambah, sambil terus pikiran ngeresnya dikurangi, ndang nikah, ndang nikah, ndang nikah... biyadil khoir, amin, amin, amin
6/25/11
Janur Kuning
Ini zaman, zaman industri. Tembakau digulung, jadi rokok, dijual, bisa menerangi kota dengan billboard-billboard raksasanya. Seperti di Alun-alun kota-kota lainnya, di Alun-alun Purwokerto juga sudah teronggok TV Raksasa berisi iklan rokok sepanjang hari. Ya, karena si perusahaan rokok yang membuat itu TV, bagaimana enggak mengiklankan.
Ini zaman, zaman industri, pendidikan jadi ladang segar menggenjot pendapatan, SMA negeri favorit yang menolak ratusan murid dari 20 tahun yang lalu karena kelebihan pendaftar, kini memasang spanduk. Dijalan-jalan bertemu spanduk SMAN 1, ada juga spanduk SMAN 2 almamaterku. Bukannya bangga, tapi heran… apa ini sekolah sudah enggak laku ya sampai-sampai pasang spanduk? Atau sedang melukai hati sekolah-sekolah pinggiran, yang muridnya 20 tidak genap, bayarnya saja ngangsur dan guru-gurunya digaji tidak lebih dari pendapatan pengamen.
Kesehatan juga ikut-ikutan jadi ladang pengeruk uang. Namanya industri kesehatan, mencetak obat dan menjualnya mahal ke orang, jelas bukan orang sehat, tapi orang sakit, yang mau tidak mau, punya tidak punya uang ya tidak ada pilihan lain selain membeli.
Di zaman industri telepati dianggap magis, atau lebih agamanya syirik, tanpa orang-orang diberi ajakan untuk menelaah terlebih dahulu. Agar handphone dan internet gak ada matinye. Di zaman industri, daun pisang pembungkus nasi diganti kertas yang dilapisi laminasi plastik dan kita kenal dengan nama kertas minyak, dengan sekian item dampak buruk dan bahayanya.
Tapi, si zaman industri nyatanya sampai hari ini belum bisa menggantikan janur kuning. Di Banyumas, dan banyak daerah di tanah Jawa, keluarga pengantin selalu memburu seniman janur, agar H-1 sebelum hajatan, di ujung gang tempat anaknya dinikahkan sudah tertancap untaian cantik daun kelapa muda setinggi bambu layur.
Janur kuning tidak bisa digantikan dengan GPS, walau fungsinya sama, untuk memandu tamu menuju lokasi resepsi. Janur tidak bisa diganti dengan umbul-umbul kain, karena keluarga pasti tidak mau dianggap rumahnya sedang memperingati tujuhbelasan. Dan entah si zaman sedang memikirkan apa pengganti janur kuning, seperti si zaman menggeser daun pisang dengan kertas minyak, ilmu kepekaan batin (telepati) dengan HP, juga membisniskan pendidikan dan kesehatan.
Sampai hari ini di Banyumas saya belum menemukan pabrik pembuatan janur, setahu saya janur-janur itu dibuat dari sentuhan tangan seniman langsung. Dan sampai hari ini saya tidak menemukan janur sombong yang tidak mau turun seperti ketua PSSI, karena begitu 3 hari resepsi selesai, sekalipun tidak diturunkan, janur akan layu mencoklatkan diri. Jadi orang tidak akan nyasar datang ke tempat resepsi yang sudah kedaluarsa.
Janur kuning atau daun kelapa muda, adalah dedikasi alam, untuk kemaslahatan hidup kita.
Ini zaman, zaman industri, pendidikan jadi ladang segar menggenjot pendapatan, SMA negeri favorit yang menolak ratusan murid dari 20 tahun yang lalu karena kelebihan pendaftar, kini memasang spanduk. Dijalan-jalan bertemu spanduk SMAN 1, ada juga spanduk SMAN 2 almamaterku. Bukannya bangga, tapi heran… apa ini sekolah sudah enggak laku ya sampai-sampai pasang spanduk? Atau sedang melukai hati sekolah-sekolah pinggiran, yang muridnya 20 tidak genap, bayarnya saja ngangsur dan guru-gurunya digaji tidak lebih dari pendapatan pengamen.
Kesehatan juga ikut-ikutan jadi ladang pengeruk uang. Namanya industri kesehatan, mencetak obat dan menjualnya mahal ke orang, jelas bukan orang sehat, tapi orang sakit, yang mau tidak mau, punya tidak punya uang ya tidak ada pilihan lain selain membeli.
Di zaman industri telepati dianggap magis, atau lebih agamanya syirik, tanpa orang-orang diberi ajakan untuk menelaah terlebih dahulu. Agar handphone dan internet gak ada matinye. Di zaman industri, daun pisang pembungkus nasi diganti kertas yang dilapisi laminasi plastik dan kita kenal dengan nama kertas minyak, dengan sekian item dampak buruk dan bahayanya.
Tapi, si zaman industri nyatanya sampai hari ini belum bisa menggantikan janur kuning. Di Banyumas, dan banyak daerah di tanah Jawa, keluarga pengantin selalu memburu seniman janur, agar H-1 sebelum hajatan, di ujung gang tempat anaknya dinikahkan sudah tertancap untaian cantik daun kelapa muda setinggi bambu layur.
Janur kuning tidak bisa digantikan dengan GPS, walau fungsinya sama, untuk memandu tamu menuju lokasi resepsi. Janur tidak bisa diganti dengan umbul-umbul kain, karena keluarga pasti tidak mau dianggap rumahnya sedang memperingati tujuhbelasan. Dan entah si zaman sedang memikirkan apa pengganti janur kuning, seperti si zaman menggeser daun pisang dengan kertas minyak, ilmu kepekaan batin (telepati) dengan HP, juga membisniskan pendidikan dan kesehatan.
Sampai hari ini di Banyumas saya belum menemukan pabrik pembuatan janur, setahu saya janur-janur itu dibuat dari sentuhan tangan seniman langsung. Dan sampai hari ini saya tidak menemukan janur sombong yang tidak mau turun seperti ketua PSSI, karena begitu 3 hari resepsi selesai, sekalipun tidak diturunkan, janur akan layu mencoklatkan diri. Jadi orang tidak akan nyasar datang ke tempat resepsi yang sudah kedaluarsa.
Janur kuning atau daun kelapa muda, adalah dedikasi alam, untuk kemaslahatan hidup kita.
Sepuluh Doa Simbah Penjual Peyek
Sarapan pagi di warung rames sederhana, seperti biasa, ketemu Simbah Penjual Peyek. Peyek, makanan mirip opak, renyah, kranchi, ada kacang dan kedelainya, kadang dipadu dengan udang kecil-kecil itu kini sepertinya memang kalah pamor dengan krupuk. Mungkin karena peyek tetap dimasak di dapur sebagai home industri, sedangkan krupuk sudah banyak pabrik-pabrik industrinya.
Namun begitu, Simbah yang aku tidak tahu namanya karena belum pernah berkenalan sekalipun sudah sering menyapa dan kadang mengobrol itu saat ini masih berjualan peyek. Dengan Tenggok yang dia bopong dengan kain jaritnya, Simbah ber kethu (penutup kepala) khas gadis angakatan 45 itu sedang duduk mampir di warung tempatku makan tadi.
Tak lama aku datang, Simbah berbincang sedikit denganku lalu pamitan ke Bapak dan Ibu yang punya warung. Dalam akad pamitan itu aku hitung 10 doa Simbah ucapkan buat Bapak dan Ibu warung itu. Doa-doa itu sebagai berikut :
1. Ke Bapak warung "Sing waras... (yang sehat [rohani])
2. ...slamet ya (selamat [jasmani])
3. Ke Ibu warung "Sing waras...
4. ...slamet ya...
5. sing laris...
6. laris...
7. laris ya pada...
begitu Simbah ucapkan sambil berjalan keluar warung. Dan diluar warung masih mengucapkan doa lagi :
8. Moga-moga laris..
9. laris
10.laris, lah ya..
Orang mendoakan seperti itu sebenarnya biasa. Biasa bagi kebanyakan orang-orang tua disekeliling kita. Tapi tidak bagi masyarakat modern. Jangankan mendoakan, bahkan pada mitra bisnis yang jelas-jelas sudah memberikan keuntungan bagi kita, kadang yang ada adalah menjelek-jelekkan.
Ya itulah masyarakat modern. Begitu juga masyarakat yang sudah beragama dengan modern, kalau mau mendoakan ditanya dulu "agamanya apa?"... kalau dia non-muslim tidak jadi mendoakan. Karena doa kepada non-muslim di dalil disebutkan tidak akan sampai.
Lah, sampai atau tidak, apa jeleknya si mendoakan. Kalau toh kita berdoa dengan rumusan bisnis, mungkin akan dihitung, rugi donk, sudah capek-capek mendoakan, tapi sia-sia karena tidak akan sampai? Setidaknya kita ya mengupayakan. pertama : orang yang didoakan merasa kita menghormatinya. kedua : memangnya Tuhan bukan Maha Kuasa apa, sehingga Dia tidak bisa melanggar ketentuannya sendiri dan mengabulkan doa bagi orang non-muslim?
Untuk yang baca note ini, moga-moga waras ya, slamet, pinter, terbuka pikirannya, tajam hatinya, lembut perangainya, cerah wajahnya, bahagia perjodohannya, mulia anak-anak dan keluarganya.... (sudah 10 belum ya doanya.. hehe)
Namun begitu, Simbah yang aku tidak tahu namanya karena belum pernah berkenalan sekalipun sudah sering menyapa dan kadang mengobrol itu saat ini masih berjualan peyek. Dengan Tenggok yang dia bopong dengan kain jaritnya, Simbah ber kethu (penutup kepala) khas gadis angakatan 45 itu sedang duduk mampir di warung tempatku makan tadi.
Tak lama aku datang, Simbah berbincang sedikit denganku lalu pamitan ke Bapak dan Ibu yang punya warung. Dalam akad pamitan itu aku hitung 10 doa Simbah ucapkan buat Bapak dan Ibu warung itu. Doa-doa itu sebagai berikut :
1. Ke Bapak warung "Sing waras... (yang sehat [rohani])
2. ...slamet ya (selamat [jasmani])
3. Ke Ibu warung "Sing waras...
4. ...slamet ya...
5. sing laris...
6. laris...
7. laris ya pada...
begitu Simbah ucapkan sambil berjalan keluar warung. Dan diluar warung masih mengucapkan doa lagi :
8. Moga-moga laris..
9. laris
10.laris, lah ya..
Orang mendoakan seperti itu sebenarnya biasa. Biasa bagi kebanyakan orang-orang tua disekeliling kita. Tapi tidak bagi masyarakat modern. Jangankan mendoakan, bahkan pada mitra bisnis yang jelas-jelas sudah memberikan keuntungan bagi kita, kadang yang ada adalah menjelek-jelekkan.
Ya itulah masyarakat modern. Begitu juga masyarakat yang sudah beragama dengan modern, kalau mau mendoakan ditanya dulu "agamanya apa?"... kalau dia non-muslim tidak jadi mendoakan. Karena doa kepada non-muslim di dalil disebutkan tidak akan sampai.
Lah, sampai atau tidak, apa jeleknya si mendoakan. Kalau toh kita berdoa dengan rumusan bisnis, mungkin akan dihitung, rugi donk, sudah capek-capek mendoakan, tapi sia-sia karena tidak akan sampai? Setidaknya kita ya mengupayakan. pertama : orang yang didoakan merasa kita menghormatinya. kedua : memangnya Tuhan bukan Maha Kuasa apa, sehingga Dia tidak bisa melanggar ketentuannya sendiri dan mengabulkan doa bagi orang non-muslim?
Untuk yang baca note ini, moga-moga waras ya, slamet, pinter, terbuka pikirannya, tajam hatinya, lembut perangainya, cerah wajahnya, bahagia perjodohannya, mulia anak-anak dan keluarganya.... (sudah 10 belum ya doanya.. hehe)
Kaum Muda Opportunis
Dulu mereka mungkin pemberani. Aktivis yang giat di jalanan bahkan mungkin pernah kena sentuhan penjara. Bentrok dengan polisi dan terntara bisa jadi menu sehari-hari. Tapi nyali itu ternyata tidak berusia lama. Keberanian kerap kali kurang bertahan panjang di badan. Semangat perlawanan dan anti kemapanan nyatanya mengenal kata istirahat. Uang dan jabatan telah membuat mereka bersimpuh. Nyali berganti watak pengecut. Suara kritis berubah jadi kompromi. Lalu sikap anti kemapanan berubah menjadi pribadi borjuis yang haus akan popularitas dan posisi. Sehingga ketika menjadi pengecut, mereka sibuk membela diri.
Sehingga ketika menjadi pengecut, mereka sibuk membela diri.
(Eko Prasetyo, APTR Hal 129)
Sehingga ketika menjadi pengecut, mereka sibuk membela diri.
(Eko Prasetyo, APTR Hal 129)
6/24/11
Membenahi ekspektasi
"Besok bisa jadi kapan? Sabtu?", seorang bertanya untuk pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku jawab ringan "Bisa, bisa, bisa...". Bukan jawaban asal njeplak, bukan juga nggak dihitung, ketika akhirnya baru jadi hari jumat minggu depannya. Owh.. sabtu itu adalah besok, 24 jam lagi, tapi yang ada di ekspektasiku, sabtu itu masih 100an jam lagi, alias 4 harian ke depan.
Begitu juga, kalau ditanya orang "sekarang kamu kerja dimana?", dengan ringan aku jawab, "ah masih main-main begini aja". Iya si aku aliran anti berkarier di tempat orang, tap sebenarnya dibalik jawabanku itu aku berekspektasi umurku masih 18 tahun, baru lulus SMA, padahal yang senyatanya umurku 24 tahun sekarang, tua.
Sampai ke soal Ketuhanan. "Bayaran listrik sama internet bulan depan gimana?", aku jawab ringan juga "Lah, Gusti Allah sudah mengatur rejeki kita". Welah-welah, ini juga kudu dibenahi, karena aku berekspektasi Tuhan mengaturkan untukku sedetail itu, padahal jelas-jelas di pengajian dari jaman aku SD diterangkan, aku itu diturunkan sebagai wakil Allah, wakil itu diberi otoritas... . Kalau aku sudah mewakilkan kehadiranku pada karyawanku, saru namanya kalau aku juga ikut-ikutan datang. Kalau pencarian rejeki sudah diwakilkan ke manusia, ya masa Tuhan mau nimbrung-nimbrung juga.. Tuhan nggak mau donk dibilang mencampuri privacy kita?
Wallahu 'alam bishawab
Begitu juga, kalau ditanya orang "sekarang kamu kerja dimana?", dengan ringan aku jawab, "ah masih main-main begini aja". Iya si aku aliran anti berkarier di tempat orang, tap sebenarnya dibalik jawabanku itu aku berekspektasi umurku masih 18 tahun, baru lulus SMA, padahal yang senyatanya umurku 24 tahun sekarang, tua.
Sampai ke soal Ketuhanan. "Bayaran listrik sama internet bulan depan gimana?", aku jawab ringan juga "Lah, Gusti Allah sudah mengatur rejeki kita". Welah-welah, ini juga kudu dibenahi, karena aku berekspektasi Tuhan mengaturkan untukku sedetail itu, padahal jelas-jelas di pengajian dari jaman aku SD diterangkan, aku itu diturunkan sebagai wakil Allah, wakil itu diberi otoritas... . Kalau aku sudah mewakilkan kehadiranku pada karyawanku, saru namanya kalau aku juga ikut-ikutan datang. Kalau pencarian rejeki sudah diwakilkan ke manusia, ya masa Tuhan mau nimbrung-nimbrung juga.. Tuhan nggak mau donk dibilang mencampuri privacy kita?
Wallahu 'alam bishawab
Dewan Gaul Indonesia
Gaul gitu loch... pakai celana pensil, bawa bolpoint, jangka sorong, kacamata tebal & kalkulator scientific, itu adalah tanda-tanda gaul. *betul nggak sih? hehe... ngarang...
Ya intinya begitu lah, nah sekelompok anak-anak yang merasa dirinya gaul dengan segala atribut ke-gaul-annya itu akhirnya mendirikan suatu komunitas atau perkumpulan yang lebih reket. Akhirnya dibentuklah Dewan Gaul Indonesia.
Kira-kira menguntungkan atau merugikan ya pendirian organisasi itu? Bagi para pengikut dewan tersebut pasti menguntungkan, kenapa? Pertama, mereka jadi eksis di ranah kegaulan, kedua, mereka lebih mudah memberikan pengaruh gaulisme kepada sesama anggota perkumpulan, ketiga, bisa diatur proses rekrutmen untuk menambah jamaah gaul Indonesia.
Tapi bagi public, terutama dunia gaul, keberadaan mereka bisa jadi merugikan. Anak-anak yang sebenarnya sangat gaul, bukan hanya penampilannya, tapi juga jiwa, dan ideologinya, tetapi mereka tidak menampilkan diri dan membentuk organisasi massa seolah-olah tidak eksis.
Seolah-olah ada stigma sosial, belum gaul kalau belum gabung di Dewan Gaul Indonesia lah pokoknya. Padahal, mungkin anak-anak supergaul banyak, dimana ideologi, nafas dan ruh kegaulannya bisa jadi tidak bisa ditampung oleh organisasi Dewan Gaul Indonesia, satu aliran yang baru muncul kemarin sore itu.
Walhasil, kosakata "gaul" akhirnya dimonopoli oleh aliran perkumpulan itu. Bukan hanya orang-orang supergaul yang tidak bisa dikenal kegaulannya, tetapi juga anak-anak norak, kampungan, kutu buku dan dari berbagai golongan lain yang ingin menjadi gaul merasa minder, karena terlanjur lahir stigma, kalau belum gabung di DGI, belumlah disebut gaul.
Walhasil, mereka tidak pernah berusaha untuk menggaulkan dirinya, untuk bertahap berproses menjadi anak gaul. Kasihan ya..
Ya intinya begitu lah, nah sekelompok anak-anak yang merasa dirinya gaul dengan segala atribut ke-gaul-annya itu akhirnya mendirikan suatu komunitas atau perkumpulan yang lebih reket. Akhirnya dibentuklah Dewan Gaul Indonesia.
Kira-kira menguntungkan atau merugikan ya pendirian organisasi itu? Bagi para pengikut dewan tersebut pasti menguntungkan, kenapa? Pertama, mereka jadi eksis di ranah kegaulan, kedua, mereka lebih mudah memberikan pengaruh gaulisme kepada sesama anggota perkumpulan, ketiga, bisa diatur proses rekrutmen untuk menambah jamaah gaul Indonesia.
Tapi bagi public, terutama dunia gaul, keberadaan mereka bisa jadi merugikan. Anak-anak yang sebenarnya sangat gaul, bukan hanya penampilannya, tapi juga jiwa, dan ideologinya, tetapi mereka tidak menampilkan diri dan membentuk organisasi massa seolah-olah tidak eksis.
Seolah-olah ada stigma sosial, belum gaul kalau belum gabung di Dewan Gaul Indonesia lah pokoknya. Padahal, mungkin anak-anak supergaul banyak, dimana ideologi, nafas dan ruh kegaulannya bisa jadi tidak bisa ditampung oleh organisasi Dewan Gaul Indonesia, satu aliran yang baru muncul kemarin sore itu.
Walhasil, kosakata "gaul" akhirnya dimonopoli oleh aliran perkumpulan itu. Bukan hanya orang-orang supergaul yang tidak bisa dikenal kegaulannya, tetapi juga anak-anak norak, kampungan, kutu buku dan dari berbagai golongan lain yang ingin menjadi gaul merasa minder, karena terlanjur lahir stigma, kalau belum gabung di DGI, belumlah disebut gaul.
Walhasil, mereka tidak pernah berusaha untuk menggaulkan dirinya, untuk bertahap berproses menjadi anak gaul. Kasihan ya..
Menjual Brand
Mie Ayam, makanan khas Indonesia yang ada dimana-mana. Entah darimana kota asalnya, apa malah bisa jadi asalnya bukan dari Indonesia, belum pernah aku riset hal itu.
Tapi yang jelas keberadaan mie ayam sangat disambut di negeri ini, melebihi gemergap penyambutan kita terhadap datangnya Avanza dan Innova atau mobil-mobil mewah lainnya yang tidak berhenti-berhenti dibeli di negeri ini. Kembali ke mie ayam, di Purwokerto saja tidak terhitung berapa jumlah penguasa kuliner, atau berapa properti gerobak yang ada, aku yakin Pemkabpun tak memiliki datanya.
Sekalipun banyak, tapi mereka tetap saja bertahan, itu artinya banyak yang beli, atau bisa jadi laris. Padalah, enjual mie ayam tidak memasang spanduk dan baliho seperti kafe-kafe modern. Tapi, tidak sedikit dari mereka yang menggondol omzet hingga 300 mangkok sehari. Hitung saja sendiri berapa itu sebulan pendapatannya?
Kenapa begitu? Karena mereka memang menjual mie ayam, bukan menjual brand. Asal mie ayamnya enak, sepelosok apapun, atau sejelek apapun tempatnya, tetap saja laris diburu, sekalipun tanpa baliho. Sebut saja Mie Ayam Pajak, tempatnya cuma di pagar keliling kantor pajak lama, kalau ramai pengunjung paling muat 15-20 orang, itu juga berjubel, tapi masyaallah larisnya… Atau Mie Ayam Telkom, tempatnya cuma di gedung tua dan halaman gedung miliki PJKA, ramenya bukan main kalau jam istirahat.
Ada juga Mie Ayam Berkah Karang Salam, cuma dari bambu bangunannya, bukan bambu modern seperti rumah makan berkonsep sawung, asli bambu orisinil dan dekat di bawahnya kolam ikan atau bahasa Banyumasnya, Blumbang, tapi jen laris..
Dan mereka juga bukan kapitalis penumpuk harta, yang ramai sedikit difranchise, tidak seperti franchisor lain yang begitu bernafsu melihat potensi kekayaan, sampai-sampai sistem belum kuat sudah jualan lapak disana-sini, akhirnya ambruk karena kelemahannya sendiri.
Jangankan menjual franchise, pokoknya kalau sudah habis, ya tutup. Tidak nambah porsi. Memang dalam ilmu pengembangan bisnis itu bukan strategi brilian. Tapi satu hal yang bisa dipetik, mereka sangat menghargai pendapatan harian mereka, mereka sangat menjaga kualitas mereka.
Yang mereka jual mie ayam, karena enak, brand nya mengikut. Yang mereka ciptakan adalah pelayanan, karena memuaskan, pendapatanpun menukik. Mereka tidak mudah ambruk, seperti kebanyakan usaha yang terlalu gembar-gembor brand, tanpa potensi intrinsik yang kuat.
Tapi yang jelas keberadaan mie ayam sangat disambut di negeri ini, melebihi gemergap penyambutan kita terhadap datangnya Avanza dan Innova atau mobil-mobil mewah lainnya yang tidak berhenti-berhenti dibeli di negeri ini. Kembali ke mie ayam, di Purwokerto saja tidak terhitung berapa jumlah penguasa kuliner, atau berapa properti gerobak yang ada, aku yakin Pemkabpun tak memiliki datanya.
Sekalipun banyak, tapi mereka tetap saja bertahan, itu artinya banyak yang beli, atau bisa jadi laris. Padalah, enjual mie ayam tidak memasang spanduk dan baliho seperti kafe-kafe modern. Tapi, tidak sedikit dari mereka yang menggondol omzet hingga 300 mangkok sehari. Hitung saja sendiri berapa itu sebulan pendapatannya?
Kenapa begitu? Karena mereka memang menjual mie ayam, bukan menjual brand. Asal mie ayamnya enak, sepelosok apapun, atau sejelek apapun tempatnya, tetap saja laris diburu, sekalipun tanpa baliho. Sebut saja Mie Ayam Pajak, tempatnya cuma di pagar keliling kantor pajak lama, kalau ramai pengunjung paling muat 15-20 orang, itu juga berjubel, tapi masyaallah larisnya… Atau Mie Ayam Telkom, tempatnya cuma di gedung tua dan halaman gedung miliki PJKA, ramenya bukan main kalau jam istirahat.
Ada juga Mie Ayam Berkah Karang Salam, cuma dari bambu bangunannya, bukan bambu modern seperti rumah makan berkonsep sawung, asli bambu orisinil dan dekat di bawahnya kolam ikan atau bahasa Banyumasnya, Blumbang, tapi jen laris..
Dan mereka juga bukan kapitalis penumpuk harta, yang ramai sedikit difranchise, tidak seperti franchisor lain yang begitu bernafsu melihat potensi kekayaan, sampai-sampai sistem belum kuat sudah jualan lapak disana-sini, akhirnya ambruk karena kelemahannya sendiri.
Jangankan menjual franchise, pokoknya kalau sudah habis, ya tutup. Tidak nambah porsi. Memang dalam ilmu pengembangan bisnis itu bukan strategi brilian. Tapi satu hal yang bisa dipetik, mereka sangat menghargai pendapatan harian mereka, mereka sangat menjaga kualitas mereka.
Yang mereka jual mie ayam, karena enak, brand nya mengikut. Yang mereka ciptakan adalah pelayanan, karena memuaskan, pendapatanpun menukik. Mereka tidak mudah ambruk, seperti kebanyakan usaha yang terlalu gembar-gembor brand, tanpa potensi intrinsik yang kuat.
6/23/11
Bisnis Rumah Sakit
Kalau ada obat yang lebih murah saja bisa, lalu pak Dokter menulikan resep dipilihkan obat yang lebih mahal, tanpa penjelasan, pokoknya suruh 'nebus' aja itu pasien. Dosa apa tidak itu?
Kalau dosa adalah persoalan hukum. Hm, kira-kira hati nurani bergetar negatif apa positif itu saat melakukan?
Kasus lainnya, ini kisah dari seorang calon perawat yang hari ini berulang tahun dan entah akan mengajakku makan-makan dimana nanti. Kisahnya begini, di UGD rumah sakit biasanya ada prosedur, satu berkas yang harus disepakati dan ditandatangi oleh pasien, yang isinya tentang, kalau-kalau terjadi keadaan darurat, pasien sekarat, pihak keluarga mau pilih paket apa :
Paket A : biayanya lebih murah, yakni cukup dipacu jantungnya, kalau tidak berdegup lagi ya sudah.
Paket B : biayanya mahaal, yakni kalau dipacu jantung tidak ngefek, maka diberikan selang ventilator untuk menyuplai oksigen langsung ke dalam tubuh.
Suatu ketika ada pasien gawat darurat, pihak keluarga memilih paket A, si pasien sekarat, lalu dipaculan jantungnya, ditekan-tekan dadanya berharap berdegup lagi. Tapi degupan yang diharapkan tidak terjadi, sebetulnya saat itu, si pasien masih bisa punya harapan hidup kalau diberi ventilator, tetapi karena pihak keluarga tidak memilih paket B, maka hal itu tidak dilakukan, dan akhirnya pasienpun meninggal dunia...
Bayangkan, kalau Anda jadi perawat yang menangani pasien itu. Anda tahu prosedur menyelamatkan orang itu, tapi karena terhambat ketentuan administrasi rumah sakit, hal itu dilakukan.
Tragis, mengenaskan, nyawa menjadi bagian dari komoditasi bisnis. Ini tidak kalah sadisnya dengan bisnis pendidikan, yang atas nama mutu sekolah, anak diforsir belajar matematika dan ipa, tanpa pernah diberi kesempatan yang luwes untuk membangun karakter dirinya.
Kalau dukun-dukun pengobatan alternatif saja bisa memberikan tarif bagi pasien kaya dan menggratiskan pasien miskin bahkan diberi oleh-oleh uang saku saat pulang. Kenapa atas nama ketentuan administrasi, rumah sakit tidak?
Ini soal nyawa loh, seharusnya rumah sakit punya sistem yang lebih profesional katakanlah bentuknya anggaran CSR untuk menangani kasus-kasus seperti di atas, kasus kecelakaan yang tanpa ada yang mau menjamin, dan sebagainya.
Janganlah atas nama bisnis, nyawa jadi korban. Setahuku, RSUD Banyumas misalnya, adalah penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) terbesar bagi kabupaten Banyumas. Juga RSU Margono, itu juga salah satu penyumbang APBD Provinsi terbesar. Masa iya, tega, begitu, semoga kedua rumah sakit ini si tidak termasuk yang begitu. Dan siap menjewer rumah sakit rumah sakit lain yang masih menjadikan profesionalitas bisnis lebih penting daripada kepedulian sosial menyelamatkan nyawa orang.
Kalau dosa adalah persoalan hukum. Hm, kira-kira hati nurani bergetar negatif apa positif itu saat melakukan?
Kasus lainnya, ini kisah dari seorang calon perawat yang hari ini berulang tahun dan entah akan mengajakku makan-makan dimana nanti. Kisahnya begini, di UGD rumah sakit biasanya ada prosedur, satu berkas yang harus disepakati dan ditandatangi oleh pasien, yang isinya tentang, kalau-kalau terjadi keadaan darurat, pasien sekarat, pihak keluarga mau pilih paket apa :
Paket A : biayanya lebih murah, yakni cukup dipacu jantungnya, kalau tidak berdegup lagi ya sudah.
Paket B : biayanya mahaal, yakni kalau dipacu jantung tidak ngefek, maka diberikan selang ventilator untuk menyuplai oksigen langsung ke dalam tubuh.
Suatu ketika ada pasien gawat darurat, pihak keluarga memilih paket A, si pasien sekarat, lalu dipaculan jantungnya, ditekan-tekan dadanya berharap berdegup lagi. Tapi degupan yang diharapkan tidak terjadi, sebetulnya saat itu, si pasien masih bisa punya harapan hidup kalau diberi ventilator, tetapi karena pihak keluarga tidak memilih paket B, maka hal itu tidak dilakukan, dan akhirnya pasienpun meninggal dunia...
Bayangkan, kalau Anda jadi perawat yang menangani pasien itu. Anda tahu prosedur menyelamatkan orang itu, tapi karena terhambat ketentuan administrasi rumah sakit, hal itu dilakukan.
Tragis, mengenaskan, nyawa menjadi bagian dari komoditasi bisnis. Ini tidak kalah sadisnya dengan bisnis pendidikan, yang atas nama mutu sekolah, anak diforsir belajar matematika dan ipa, tanpa pernah diberi kesempatan yang luwes untuk membangun karakter dirinya.
Kalau dukun-dukun pengobatan alternatif saja bisa memberikan tarif bagi pasien kaya dan menggratiskan pasien miskin bahkan diberi oleh-oleh uang saku saat pulang. Kenapa atas nama ketentuan administrasi, rumah sakit tidak?
Ini soal nyawa loh, seharusnya rumah sakit punya sistem yang lebih profesional katakanlah bentuknya anggaran CSR untuk menangani kasus-kasus seperti di atas, kasus kecelakaan yang tanpa ada yang mau menjamin, dan sebagainya.
Janganlah atas nama bisnis, nyawa jadi korban. Setahuku, RSUD Banyumas misalnya, adalah penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) terbesar bagi kabupaten Banyumas. Juga RSU Margono, itu juga salah satu penyumbang APBD Provinsi terbesar. Masa iya, tega, begitu, semoga kedua rumah sakit ini si tidak termasuk yang begitu. Dan siap menjewer rumah sakit rumah sakit lain yang masih menjadikan profesionalitas bisnis lebih penting daripada kepedulian sosial menyelamatkan nyawa orang.
Memboyong Malioboro
Belum ke Jogja kalau tidak ke Malioboro, begitu kata orang. Ya, Malioboro menjadi ikon yang begitu penting untuk Jogjakarta. Hm, sebetulnya apa sih isi Malioboro? Isinya pedagang kaki lima, isinya toko dan ada mal, ada juga hotel, ada juga kantor pemerintahan.
Komplit yah Malioboro. Tapi begitu, di Malioboro tidak ada Bank. Kalaupun ada, itu hanya ATM, atau kantor cabang pembantu. Inilah bedanya dengan Jalan Jenderal Soedirman di Purwokerto, satu kawasan yang ada pedagang kaki limanya, ada tokonya, ada malnya, ada kantor pemerintahannya, tapi juga bank nya.
Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto di salah satu ruasnya, yaitu ruas Pasarwage digembor-gemborkan oleh pedagang kaki lima sekitar untuk dijadikan seperti Malioboro? Mungkinkah? Bisa jadi mungkin, tapi tentu saja tidak tepat. Salah satu tidak tepatnya adalah karena jalan itu adalah jalan arteri. Keberadaan banyak bank menandai bahwa jalan itu adalah nadi utama di sebuah kota. Dan berarti Malioboro bukanlah jalan nadi utama, karena walau ramai, tapi tidak ada Banknya
Mungkin kalau memang mau memboyong Malioboro, ada jalan lain yang lebih tepat. Pemerintahlah yang seharusnya melakukan study kelayakan, (kalau pemerintah sedang tidak sibuk), karena pekerjaan seperti ini kan tidak ada upetinya, tidak seperti perijinan hotel atau mal.
Tapi memang realitanya begitu, pedagang kaki lima di sepanjang Jenderal Soedirman menggemborkan itu semata karena resah, kalau-kalau direlokasi. Relokasi yang sembarang relokasi, asal ada tanah Pemkab yang tidak terpakai, sudah dipindah saja kesitu. Malah berita yang sudah-sudah tentang relokasi lahannya belum siap, tempat yang lama belum di bongkar.
Jadi, bukan sedang memaksakan jalan yang menjadi nadi utama Purwokerto itu untuk dibuat berjubel sesak seperti Malioboro, tapi memang seharusnya pemerintah menyiapkan solusi intelektual untuk memindahkan pedagang yang katanya mengganggu ketertiban itu, ke tempat yang disepakati semua pihak, karena memang benar-benar layak. Kalau pemerintah sibuk, ya ditunggu uluran warga, yayasan, LSM atau siapapun yang mau menggantikan tugas pemerintah, mengerjakan hal itu.
Komplit yah Malioboro. Tapi begitu, di Malioboro tidak ada Bank. Kalaupun ada, itu hanya ATM, atau kantor cabang pembantu. Inilah bedanya dengan Jalan Jenderal Soedirman di Purwokerto, satu kawasan yang ada pedagang kaki limanya, ada tokonya, ada malnya, ada kantor pemerintahannya, tapi juga bank nya.
Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto di salah satu ruasnya, yaitu ruas Pasarwage digembor-gemborkan oleh pedagang kaki lima sekitar untuk dijadikan seperti Malioboro? Mungkinkah? Bisa jadi mungkin, tapi tentu saja tidak tepat. Salah satu tidak tepatnya adalah karena jalan itu adalah jalan arteri. Keberadaan banyak bank menandai bahwa jalan itu adalah nadi utama di sebuah kota. Dan berarti Malioboro bukanlah jalan nadi utama, karena walau ramai, tapi tidak ada Banknya
Mungkin kalau memang mau memboyong Malioboro, ada jalan lain yang lebih tepat. Pemerintahlah yang seharusnya melakukan study kelayakan, (kalau pemerintah sedang tidak sibuk), karena pekerjaan seperti ini kan tidak ada upetinya, tidak seperti perijinan hotel atau mal.
Tapi memang realitanya begitu, pedagang kaki lima di sepanjang Jenderal Soedirman menggemborkan itu semata karena resah, kalau-kalau direlokasi. Relokasi yang sembarang relokasi, asal ada tanah Pemkab yang tidak terpakai, sudah dipindah saja kesitu. Malah berita yang sudah-sudah tentang relokasi lahannya belum siap, tempat yang lama belum di bongkar.
Jadi, bukan sedang memaksakan jalan yang menjadi nadi utama Purwokerto itu untuk dibuat berjubel sesak seperti Malioboro, tapi memang seharusnya pemerintah menyiapkan solusi intelektual untuk memindahkan pedagang yang katanya mengganggu ketertiban itu, ke tempat yang disepakati semua pihak, karena memang benar-benar layak. Kalau pemerintah sibuk, ya ditunggu uluran warga, yayasan, LSM atau siapapun yang mau menggantikan tugas pemerintah, mengerjakan hal itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

