4/11/11

In The Name of Entrepreneurship

In The Name of Entrepreneurship with Autonomy and Welfare

Dengan menyebut nama entrepreneurship, aku mengakui telah begitu banyak kehilangan dimensi. Ibarat ke Papua naik pesawat terbang, tak bisa mengukur betapa luasnya Indonesia. Atau kalau bingung tidak bisa membayangkan karena belum pernah naik pesawat terbang, Ibarat ke Jogja naik KA Eksekutif, yang didapat hanya Stasiun Purwokerto, bantal dan Stasiun Tugu. 

Terasa cepat, terasa nikmat, tapi sebenarnya aku telah kehilangan dimensi. Dimensi nasi pecel, dimensi ayam goreng 5.000an, dimensi pengemis penyapu gerbong, dimensi-dimensi yang penuh sensasi.

Aku meluncur dari Stasiun April 2010 dengan kenyamanan kendaraan eksekutifku, sampai-sampai ini sudah sampai di Stasiun April 2011 dan tidak menemukan banyak sensasi diperjalanannya, tidak menemukan sensasi karena kehilangan dimensi.

Rugi besar, rugi bandar kalau begitu. Apakah aku harus kembali lagi ke arah Stasiun April 2010 dan kali ini harus dengan berjalan kaki untuk memastikan tidak ada satupun dimensi yang terlewati?

And in the name of entrepreneurship, i am blank now, realy2 blank...

No comments:

Post a Comment