12/13/10

Misterius

Membuat selongsong ketupat itu misteri, bagi orang yang belum pernah mempelajari ilmu menganyam janur dan berpengalaman membuatnya. Begitupun bisnis, jangankan bagi yang belum tahu ilmu dan belum punya pengalaman, yang sudah tahu ilmu dan belum cukup pengalaman saja bisnis masih tetaplah misteri.

Misterinya begini, orang terjun ke dunia bisnis kan banyak, ada 0,018% dari seluruh penduduk Indonesia, silahkan hitung sendiri berapa itu. Tapi kenapa coba, mereka bidangnya beda-beda. Kenapa tidak ada rangkingisasi bahwa jenis bisnis ini bisa melipatgandakan uang sejumlah x Milyar menjasi 2x dalam waktu sekian, lalu jenis bisnis lainnya lagi bisa memutar uang x menjadi 2000x dalam waktu sekian tahun, dan sebagainya, lalau yang nilai lipatgandanya paling besar dan paling cepat pilih aja bisnis itu untuk dijalani semua orang.

Nyatanya tidak begitu, tetap ada yang bisnis jualan krupuk, ada yang menanam jamur, ada yang  jualan website. Dan hasilnyapun beda-beda. Tidak melulu yang besar hasilnya njur dikrubuti dan yang kecil njur ditinggalkan.

Baru satu terkaan kesimpulan saja, bahwa bisnis memang bukan persoalan modal awal berupa uang saja, bukan soal prospek saja, bukan soal potensi keuntungan saja. Bisnis itu soal kecocokan dengan diri sendiri. Kalau cocok, daya tahannya kuat. Kalau cocok, kemampuan improvisasinya luas, kalau cocok ungkit pengembangannya dahsyat, sapiturute.

Nah, bagaimana menentukan sebuah bisnis itu cocok untuk kita atau tidak? Cara nomor satu adalah mengenali karakterisitik diri kita sendiri, hidung kita seberapa panjang, jari kita seberapa lentik, betis kita seberapa keras, telapak kaki kita seberapa kasar sapiturute.

Semakin bisa mengenali diri kita sendiri dengan segenap lekuk liuk tubuh dan persendiannya, maka semakin bisnis tidak menjadi misteri. Selamat membeli cermin yang besar itu semoga bisa membantu.

12/10/10

Jumat Pertama 1432 H

Apakah ada pembenaran, walau satu buah saja sekalipun, atas kesalahanku, dosaku, kehinaanku? Tiada tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku ini dzolim....  benar-benar seorang yang dzolim.

Hari ini adalah hari jumat pertama di tahun yang baru, 1432 H. Karena tadi terjebak antrian, jadi tidak terkejar jumatan di tempat biasa, tempat yang biasa saya dan Kukuh sebut Masjid Kompleks Istana. Tadi jumatan di masjid PJKA. Tadi adalah jumatan ketiga dalam hidup saya yang saya titeni dibarengi dengan turun hujan. Dan tadi adalah jumatan pertama dalam hidup saya melihat orang sholat dibawah gerimis karena masjid, bahkan tarub yang disiapkan tamir tidak bisa menampung.

Untung Imamnya pengertian, suratannya tidak panjang-panjang amat, Sabihisma untuk suratan rakaat pertama dan Hal ataka untuk suratan rekaat kedua. Memang tempat saya sholat enggak kena gerimis, tapi basah juga terciprat-ciprat lantainya. Tapi jan betapa egoisnya saya, tidak mau dikalahkannya saya, saya pertahankan tempat dipojokan itu agar tidak keduluan orang, agar saya tidak kena gerimis. Jan, mbok ya pada-pada sholat. Semoga yang sholatnya gerimisan mendapat kemuliaan dunia akherat.

Maafkan saya tadi, sholat saja egois, apalagi diluar sholat. 
Lantai tempat dimana orang sholat di bawah gerimis

Fiqh Bisnis

Tenang, ini bukan potingan pelajaran agama. Selamat membaca. Bisnis adalah sebuah proses, diawali dengan penyediaan barang/produk dan diakhiri dengan diserahterimakannya barang tersebut dalam proses akad yang disebut jual-beli. Hehe ndean si seperti itu pengertiannya.

Kalau saya pertama diajari bisnis oleh Ibu saya kelas 3 SD, waktu itu jadi sales Ibu saya menjualkan lembar perkalian yang biasa kita pakai untuk contekan *hayo ngaku saja, maka kali ini saya lebih dini lagi mengajari adik saya bisnis, kelas 2 SD.

Gantungan kunci yang dia jual. Luar biasa, anak kelas 2 SD bisa mengorder 19 gantungan kunci dalam seminggu untuk dipasarkan kepada konsumen yang sudah memesan. Sebagai produsenpun saya senang.

Proses produksipun selesai, gantungan kunci didistribusikan kepada konsumen. Setelah seminggu berlalu, saatnya saya menyampaikan invoice pembayaran. Apa yang terjadi? Ternyata yang membayar baru cuma 6 orang. Hahahaha...

Apakah adik saya berhasil menjadi pebisnis? gagal! itu menurut pendekatan Fiqh. Karena produk sudah sampai ke konsumen, tapi akad tidak menghasilkan uang sebagai imbal bayarnya. Apakah adik saya harusnya dimarahi dan diberikan sertifikat "KAMU TIDAK BECUS BERBISNIS."? Ya jangan to kasihan.

Dimarahi dan dicap tidak becus hanyalah milik orang-orang yang terlalu memandang bisnis dari sisi sah dan tidak sah. Bisnis itu sah kalau untung dan tidak sah kalau rugi, begitu pandangan mereka. Mereka memburu prospek yang kira-kira tidak mungkin rugi, tetapi juga kira-kira belum ada orang lain yang melirik agar tidak punya pesaing (aneh... memang ada?) demi ke ab-sah an bisnis dia.

Tidak demikian untuk adik saya itu, yang penting dia sudah bisa jualan. Bisa dalam artian, dia tidak malu menjajakkan produknya. Ini adalah kemerdekaan berpikir, dari paradigma berpikir global saat ini, bahwa pembeli itu lebih mulai dari ;penjual, jadi belanja itu PD tapi jualan itu minder. Beli segala sesuatu untuk peralatan sekolah itu wajib, tapi saat sekolah berjualan itu haram.

Ke Diri

Mas Arif sedang ke Kediri, naik keretanya Exa Gajayana. Hm, bukan itu tapi yang mau saya post di note kali ini, karena saya enggak mau menyusul Mas Arif ke Kediri kok. Saya cuma mau ke stasiun saja malam ini, mau workshop, coz lama tidak workshop.

Apa itu workhop? Work itu bekerja dan shop itu toko. Bekerja di toko? Bukan, bukan. ngawur saja le mengartikan. Baiklah, cerita tentang workshop di stasiunnya nanti saja, kalau sudah selesai dilaksanakan. Bahas yang lainnya dulu saja.

Kemarin Mas Hendro ke sini, beberapa jam saya anggurkan dan beberapa menit berbincang, ceritanya Pak Zainal Abidin baru dari Unsoed. Wedew, ada barang bagus datang enggak kabar-kabar koh. Sempat naik pitam saya enggak dikabari kedatangan Rektor sebuah Institut yang namanya Kemandirian itu. Yo ben gak popo, paling juga belum berubah kok postur dan slide-slidenya. Hm, tapi bukan itu yang saya cari.... uwis, uwis...

Saya kepengen cerita, kalau Pa Zainal dan satu partnernya, Pa Lee adalah guru yang hebat, yang 5 tahun lalu mengenalkan saya tentang enrepeneurship. Beda loh dengan EU, yang banyak mengajarkan tentang bagaimana mengakali Bank agar dapat modal, Pa Zainal dan Pa Lee titik tekan mengajarnya adalah bagaimana membangun kemampuan.

Kalau di EU kita diajari cara ke bank, kalau di Pa Zainal dan Pa Lee kita diajari cara ke diri. Bahwa bisnis itu bukan proses perolehan uang seperti pejabat melahap jabatan atau atlit menggondol piala. Bisnis adalah proses penyepuhan besi menjadi sendok, menjadi teralis atau menjadi peniti.

Sudah jadi apa ya kita ini?

12/6/10

Seandainya Kementerian Pendidikan Tidak Ada

Tidak ada menteri negara urusan Desain, tidak ada menteri pemberdayaan Distro tapi apa yang terjadi di Kota Bandung? Paris betul-betul menjadi Bandung van Eropa, Bandung betul-betul memukau, kreativitasnya mengalahkan Yogya sekalipun dalam posisinya sebagai kota budaya atau kota pelajar atau apapun peran Yogya.

Di Bandung ratusan nama Distro bertebaran, melibas desain-desain kiriman dari luar negeri. Padahal, peran negara hanya sebatas pada urusan regulasi dan penambah hurur "R" dari kata "Registred" di belakang nama-nama.

Begitupun, jika pemerintah menarik diri dari sistem pendidikan di Indonesia. Apakah serta merta bangsa ini menjadi bangsa yang bodoh? Jika pemerintah tidak menetapkan silabus pendidikan, bahkan jika pemerintah tidak mengeluarkan anggaran pendidikan sekalipun.


Jawabannya : Tidak. Negeri ini terlalu kaya alamnya untuk dijadikan media praktikum oleh anak-anaknya. Justru selama ini sekolah membatasi begitu sadisnya, bahwa yang namanya belajar dalam bentuk praktikum tidak lebih dari sekedar mengoleksi nilai atau menambah jumlah hafalan di kepala, sehingga alam terlalu banyak yang tidak dijamah untuk diekspolarasi dalam pembelajaran. Walhasil, pemuda-pemudi kita menjadi sosok yang gagap, sekalipun menyandang gelar sarjana, ketika berhadapan dengan peluang yang disediakan alam untuk berpenghidupan, mereka lebih memilih "Ah, ngode bae saja".

Demikian, apakah terus anak-anak kita menjadi pribadi bloon yang berdiam di rumah tidak tahu mau ngapain ketika sekolah tidak diwajibkan oleh negara? Jawabannyapun : Tidak. Orang seperti saya akan mendesain sekolah lokal, dengan kurikulum yang paling aplikabel agar orang-orang disekeliling saya bisa belajar sesuatu yang berguna bagi dirinya. Itu baru orang seperti saya, lantas bagaimana tokoh daerah, tokoh regional bahkan tokoh nasional lainnya.

Ha, bangsa ini terlalu banyak memiliki tokoh, yang mereka selama ini bekerja bukan hanya untuk mencari uang, mereka bekerja memajukan orang lain dengan membagikan ilmunya. Sayangnya negara membatasi, sepandai apapun orang kalau tidak punya NIP, tidak punya status sebagai guru, tidak boleh mengajari ilmunya secara intensif dalam jalur sekolah. Dan naasnya lagi, sekalipun tokoh itu punya NIP dan berstatus sebagai guru, ia di sekolah tidak boleh mengajarkan ilmu-ilmu paling brilian yang ia miliki, jika itu tidak ada dalam panduan kurikulum.

Saya membayangkan sekolah menjamur seperti Distro, sekolah bersaing kualitas seperti merk mie instan saling bersaing satu sama lain, sekolah berpacu dalam memberikan harga seperti operator seluler berpacu. Dan para tokoh berbondong-bondong membuat sekolah dengan masing-masing keunikan dan keistimewaannya, dengan orientasi utama adalah MANFAAT bukan KEWAJIBAN kepada negara, seperti para trainer motivasi berramai-ramai mendesain pelatihannya sendiri-sendiri saat ini, memberikan yang terbaik.

Kita tidak sadar telah menjadi bodoh karena sekolah, saking bodohnya, kita tidak pernah berpikir bahwa ketika negara tidak membuatkan rakyatnya sekolah, kreativitas metode pembagian ilmu dari generasi atas ke generasi bawahnya di bangsa ini akan merebak, membuat cerdas dimana-mana.

12/5/10

Industri Kreatif

Kaos ini bermotif batik, masih penasaran saya gimana ini cara menyablonnya. Kaos, pada prinsipnya adalah sebuah produk industri kreatif yang terbuka, setiap orang bisa membikinnya.

Yang penting kita unik, yang penting kita jaga brand dengan harga tertentu, yang penting kita beda, yang penting kita membawa karakter, yang penting kita uptodate yang penting kita customer satisfaction dan yang penting-penting lainnya. Tidak salah semua itu.

Tapi yang tertepat menurut saya cuma satu, yang penting kita telaten. Apa telaten itu? Susah didefinisikan, tapi mungkin untuk diindikasii. Telaten iku, ora mikir bathen (keuntungan), ora mburu target fisik, sinau serius, lebih serius dari yang lain dan terakhir : bertahan.

Semoga saya bisa tune in lebih serius dan selanjutnya bisa tune on di dunia bisnis industri kreatif. Rumah Desain, Rumah Ngeprint, Clothing, hingga Publishing. Setidaknya ini jatah magang saya sampa Prajab pertengahan tahun depan. *)Melu2 nggaya-nggaya wae nganggo Prajab2an koyok dambaan konco-konco, hehehe

12/3/10

Grebeg Suro & Grebeg CPNS

Meretas sebuah persembahan diri di bulan Desember. Semoga...
Hak saya untuk memilih tidak apatis kepada Grebeg Suro, sama dengan ketidak apatisan saya kepada Grebeg CPNS. Katanya berebut gunungan itu musyrik, nglarung sesajen dalam sedekah lautpun demikian. Njur berebut jabatan, trus merasa perekonomian hidupnya belum terjamin kalau belum dapat NIP, apa itu perilaku yang lebih tidak musyrik?

Ah, saya tidak mau menghakim-hakimi, syirik terang-terangan dan syirik terselubung itu bagusan mana. Yang saya tahu, beda keduanya adalah, syirik terang2an mudah sekali diucapkan dan dicapkan, karena diri kita tidak terlibat. Tapi syirik terselubung, diumpet-umpetke karena ada kepentingan kita di dalamnya.

Banyak pegawai itu mulia, kepala dinas & CEO yang mengantarkan perusahaannya ke kancah nasional bahkan  internasional, itu T.O.P B.G.T loh. Dan lain sebagainya.

Mung ngelingke, saya pernah dengar dalil : Jangan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya. Silahkah kau artikan apa, terserah, yang kira-kira makna dalil itu paling menguntungkan untuk dirimu, yang makna dalil itu tidak merugikan dirimu ya... Ok?

Ben kon Celilian

Jawa, pernah berkraton di Kediri, pernah berkraton di Gresik, pernah berkraton Demak dan kemonarkian Jawa yang masih bertahan sampai saat ini tinggallah tersisa di Yogya dan Solo.

Jawa adalah keanggunan, Keraton adalah kewibawaan yang santun. Berbeda dengan pilar-pilar Istana Demokrasi, Istana adalah keangkuhan yang serakah.

Saya termasuk orang yang sangat muak atas gembor-gembor presiden dimana-mana tentang demokrasi, demokratis dan demokratnya. Seolah-olah demokrasi adalah satu-satunya pasword menuju kesejahteraan rakyat. Jan-jane, apa si terminologi dan substansi prinsip dari demokrasi itu sendiri tidak pernah dijabarkan oleh presiden. Saya menduga, dia sendiri juga tidak tahu.

Sederhana saja, apakah pemilu yang berlangsung damai, tetapi angka Golput tingginya subhanalloh, apakah itu bisa disebut ciri demokrasi yang sukses? Apakah ketika rakyat bisa mengakses langsung dengan sekali "contreng" siapa pemimpin yang dia inginkan tanpa rakyat bisa mengakses informasi yang akurat setelanjang-telanjangnya tentang calon pemimpin mereka, itu adalah gambaran demokrasi yang maju? Saya jadi heran sendiri, sakjane opo kuwi demokrasi?

Lah, kok kemarin-kemarin berani-beraninya si demokrasi yang masih pecicilan enggak nggenah itu menggugat kemonarkian Yogyakarta. Gumun saya... mosok iyo ada Presiden cemburu sama Gubernurnya lantaran instruksi Gubernur yang dalam hal ini Sabda Raja di daerah itu lebih didengarkan ketimbang Instruksi Presiden?

Seharusnya Presiden itu ngaca, atau setidaknya pinjam mesin waktunya Doraemon untuk pergi ke masa lalu. Andai Monarki itu tidak Anggun, Andai Hamengkubuwono IX itu serakah layaknya kroni-kroni Istana saat ini, bisa jadi NKRI tidak pernah ada. Ketika Jakarta diduduki Belanda kembali waktu itu, Soekarno-Hatta diijinkan ngekost di depan Kraton, ora kon mbayar, NKRI diuripi oleh dana pribadi Kanjeng Sultan Ngarso Dalem waktu itu, ora petung-petungan.

Saya membayangkan, kalau waktu itu yang jadi sultan itu presiden yang kemarin-kemarin yang menggugat kemonarkian Yogya, mungkin sikap yang dia ambil berbeda : "Sudah, NKRI bubar saja, seluruh wilayahnya sini serahkan ke kraton Yogya saja".

Nyatanya Yogya sebagai entitas Politik dan teritori Bangsa terbesar di tanah Jawa ketika itu tidak bersikap seperti itu. Yogya begitu anggun, sama anggunnya ketika besok hari Anda tersesat disana dan minta ditunjukkan sebuah alamat, Anda akan dijelaskan begitu detail, bahkan cuma-cuma diantarkan sampai tujuan. Begitulah ketika NKRI gonjang-ganjing kehilangan ibukota, Yogya menyiapkan sebuah Istana cuma-cuma disana.

Saya rasa, NKRI terlalu angkuh dengan memaksakan Pilkada disana. Tapi ya benar kata Caknun, sudah, biarkan saja, manut presiden demokrasi saja, biarin diadakan Pilkada disana, mundak 100% milih Sultan semua, pemerintah pusat celilian. Haha.

Ini baru bicara Yogya, belum bicara Aceh. Aceh yang andil modalnya begitu besar untuk lahirnya NKRI. Belum setimpal seperseratus acan balas budi NKRI terhadapnya. Karenanya, tidak sedih saya kalau NKRI hancur, musnah, punah sekalipun, karena saya yakin Nusantara tetap tidak tenggelam.

Karakter kita sebagai BANGSA memang lemah diinjak-injak imperialisme modern, tetapi karakter kita sebagai NEGERI terlampau anggun untuk dilibas oleh negeri manapun di dunia ini, India, China bahkan Arab sekalipun.

12/1/10

Ulang Tahun sebagai sebuah Dialektika Budaya

Selamat berulang tahun untuk my little sister, yang hari ini tepat berumur 8 tahun. Kadonya nanti sore ya, ini masih di Purwokerto.


Ngomong-ngomong soal ulang tahun, dengan segala kebodoh-dungu-tolol-cuped-jumud dan begonya saya, saya termasuk orang yang merasa kurang pas membawa-bawa hal ini dalam ranah syariat. Apalagi sampai pada kalangan yang menganggap pemunculan istilah Hari Ulang Tahun atau Hari Sumpah Pemuda dan sapiturute sebagai sebuah event tandingan untuk dua hari istimewa Idul Fitri dan Idul Adha.

Termasuk pula saya orang yang kurang sreg dengan kalangan yang menempatakan dirinya dalam posisis moderat, sehingga diubah menjadi "Met Hari Lahir" atau "Happy Milad". Ah, aneh saja, cuma nyampur-nyampurin bahasa, mbumbu-mbumbui Islami dan diTimurisasi sekenanya, seolah-olah kata itu lebih nyariat ketimbang ulang tahun.

Ulang tahun dari segi bahasa hanyalah serangkai kata biasa, sama seperti tepo seliro, sambung rasa atau kata sejenis lainnya. Jadi kenapa pula dipermasalahkan harfiahnya dengan membuat terobosan kata baru yang nggak ngkaidah dilihat dari aspek etimologi bahasa manapun?

Ulang tahunpun tidak perlu diprasangka akan bertanding-tandingan dengan Hari Raya apapun. Ulang tahun itu hari biasa kok, tidak ada syariat ritual apapun bahwa di tanggal itu saya harus nglarung sedekah danau atau berkorban buah kesemek.

Itulah kenapa saya tetap mengakui dan tidak men-delete istilah ulang tahun, karena dalam niatan saya itu tidak lebih dari dialektika budaya saja kok. Saya merasa kurang bijak, kalau di hari lahir adik saya yang masih kecil-kecil, yang hidup dilingkungan para tetangga yang kalau ulang tahun dibuatkan nasi kuning sapiturute kok saya adem ayem saja, pura-pura tidak tahu. Sekedar mengucapkan dan memberi kado akan menjadi sebuah bahasa non-verbal "oh, aku ternyata diperhatikan".

Seiring dengan pertambahan umur, akan ketemu kok pola komunikasi bahwasannya perhatian tidak melulu harus dengan kado di hari ulang tahun, itulah kenapa kepada adik saya paling besar yang sebentar lagi wisuda, tidak saya pentingkan lagi kado ulang tahun.

Masa iya, anak kecil dibilangi : "jangan, itu tidak ada tuntunannya!", atau "jangan", "jangan" lainnya. Nanti kalau dia tumbuh menjadi pribadi yang kaku, karena hanya mengenal pembeda antara "jangan" dan "tidak jangan", kan kasihan saya melihatnya. Biarlah akalnya menjadi sayap yang menopang hatinya menelusuri kebenaran, didasarkan pada kelembutan jiwa dan ilmu yang begitu indah, kompleks dan mendalam tentang jiwa.

"Tepat Waktu"

Kemarin niat mau buka bubur Ayam jam 7, tapi karena harus ke SMP 8 dulu, ke Asrama dulu dan bla, bla lainnya akhirna "tepat" jam 7.59 saya bisa mulai jualan.

Tepat waktu menjadi sesuatu yang sudah sangat kita toleransi bersama, bahwa kalau ada undangan rapat ba'da maghrib dan kita datang beberapa jam setelah Isya, asal masih "tepat" rapat itu belum bubar, masih biasa sajalah itu dan bisa dikatakan tepat waktu.

Dan kata Pak Man, pemilik Bakmi Dua Jaman yang tekenal di Jalan Parangtritis, Jogja, raihlah keberhasilan dengan sholat di awal waktu. Ya, tuntunan sholat memang diawal waktu, bukan tepat waktu, karena kalau hanya tepat waktu, setiap kita juga sudah begitu, sholat Ashar tepat di waktu Ashar, dan Sholat Maghrib tidak di waktu Shubuh. Kalau saja saya bisa menjalankan amalan yang dipesankan Pak Man ini, yang notabenenya adalah Sabda Nabi SAW, maka betapa perfectnya perjalanan dan pencapaian keberhasilan saya. Ya, tidak mudah, tapi terus diupayakan saja.

Sambil saya terus mengupayakan agar saya bisa lulus "tepat waktu", tepat 10 semester jatah maksimal masa study saya.


*Diinspirasi dari mesej FB Pa KaProdi tentang "tepat waktu", haha

11/30/10

BMS

Apa itu BMS? Bina Cipta Sejahtera. boleh... Apa itu BMS? Banyumas. Boleh. Terserah kau artikan apa, seperti halnya terserah kau artikan SDI, Semangat Donk Indonesia, Semangat Doang Indonesia atau Semangat Dong-Dongan Indonesia, mau keluar darinya, atau lainnya mau menginjak-injak, lainnya mau nguri-uri lagi, lainnya lagi tetap membantu semampunya, dan kalau aku mau delete saja itu. Tapi nanti, kalau sudah lunas utang-utang materialnya 100%, karena saya seorang yang (sedang belajar) tanggung jawab.

Sudahlah.. BMS itu Buletin Macapat Syafaat, itu yang saya maksud dalam note ini. Bagus, keren, apik, walau cuma HVS 2 warna. Kali ini saya ingin kutipkan halaman tengah Edisi 29 (17 Nov 2010) : "Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, maka buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna dan nyawa tidak melayang, itu adalah kebaikan, sementara yang sebaliknya adalah keburukan, maka berhentilah memprotes Tuhan karena toh Tuhan tidak berlaku dalam skala berpikirmu..."

Sama-sama sinau.


 

Tidak Usah Cemas jadi Orang Indonesia

Gosipnya, mulai tanggal 1 Januari 2011 nanti BBM bersubsidi dilarang dipakai untuk kendaraan tahun 2005 ke atas. BBM jadi mahal. Kita cemas dengan hal itu? Sebagian besar dari kita pasti mengatakan "Iya, saya cemas". Cemas boleh, tapi jangan berlebihan, karena sesungguhnya ada yang lebih cemas dari kita. Siapa mereka yang lebih cemas dari kita atas pemberlakuan aturan itu? Mereka adalah perusahaan-perusahaan penjualan mobil, mereka sangat perhatian pada kita, cemas kalau-kalau kita tidak bisa menggunakan mobil hanya karena tidak bisa mengisi bahan bakar.

Begitu juga ketika kondisi politik memanas, perlukah kita cemas akan ada kerusuhan disana-sini yang membuat mall dan pasar tutup? Tidak perlu kita cemas, karena ada orang yang begitu perhatian dan mencemaskan kita, siapa mereka? Perusahaan asing yang sudah kadung mengirim produk-produknya untuk dijuali di sini. 

Back up kita cukup kuat, sehingga tak perlu cemas kalau Malaysia menabuh genderang perang. Negara-negara maju yang mengirimkan produk mobilnya hingga membuat banjir asap negeri ini akan ada digaris depan, cemas kalau-kalau calon pembeli yang notabennya adalah rakyat Indonesia tidak aman dan menunda membeli mobil.

Praktek apa ini? Ya praktek pengamanan untuk Indonesia, Indonesia dilindungi oleh seluruh dunia, sehingga bencana harus cepat pulih, karena kalau berlama-lama, produk2 mereka di supermarket area bencana akan mubazir.

Sesungguhnya praktek semacam itu bukanlah hal baru, itu sudah berlangsung sejak zaman Soekarno masih bertahta. Sayangnya Soekarno tidak pro kepada mereka, Soekarno lebih berterima kasih kepada Blok Timur yang memberi tanpa pamrih, menyumbang tanpa iming-iming, berhibah tanpa pikir panjang.

Ketidaksukaan Soekarno pada niat baik negara-negara Blok Barat yang dipimpin oleh yang kita agungkan bersama sang Amerika Serikat membuat mereka geram. Geram karena niat baik mereka melayani Indonesia tidak bisa dilakukan secara mulus, Soekarno terlalu cerdas untuk dibodohi.

Maka, melalui CIA disusunlah berbagai propaganda revolusi Indonesia, revolusi untuk mewujudkan Indonesia yang leluasa untuk dilayani. Dan goro-goro nya adalah peristiwa G30S/PKI, satu tonggak perubahan besar sebuah bangsa yang tidak pernah serius untuk ditelusuri kebenaran atas fakta-faktanya.

Tidak ada tindak lanjut setelah jenazah A.Yani divisum dan tidak ditemukan adanya bekas tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya. Tidak tergerak untuk menseriusi investigasi ketika jutaan set tulang belulang ditemukan di daerah Jawa Timur.

Guru sejarah tidak sungguh-sungguh dibantu untuk dapat menjelaskan, kalaulah G30S/PKI adalah sebuah pemberontakan besar, kenapa semudah itu dipatahkan. Siapakah yang mematahkan? Sehebat itukah? Atau ia sekedar tukang tambal ban yang menyebar sendiri paku yang akhirnya menempel di ban kendaraan yang dia tambal itu?

Dari mobil-mobil yang terus lestari di jalanan negeri ini, bertambah pesat tiap tahunnya, terproteksi kemampuan beli penduduknya, hingga kejanggalan-kejanggalan dibalik proses massal antipatiisme kepada PKI, akan terunut, di tangan siapakah kedaulatan negeri ini dipegang?

11/29/10

Tarekat Bisnis

Jalan bisnis kita ini masih jalan pencarian, jalannya orang-orang bertarekat. Karena itu, janganlah kita dicapekkan oleh pilihan-pilihan bentuk bisnis. Nikmati saja perjalanan kita ini, perjananan pencarian makna-makna. Bahwa tidak sekedar pengetahuan atas kualitas mesin offset yang kita tahu saat waktu kita habis tersita bertarekat di bisnis percetakan. Bukan juga sekedar harga-harga melon antar pasar yang kita kuasai saat mayeng-mayeng kita menjalankan usaha minuman buah lumat (jus).

Barulah setelah perjalanan itu tercukupi, kita akan masuk tingkatan diatas tarekat, yakni hakekat. Barulah saat itu ketika anak, cucu, tetangga dan murid-murid kita bertanya tentang bisnis, kita bisa menjelaskan : "Hakekatnya, bisnis itu adalah..."

Coba kalau sekarang, bisa menjawab tidak pertanyaan itu? Haha, paling juga jawaban yang mengada-ada saja. Selamat bertarekat.

11/26/10

Lima Follow Up TMoE

Lima langkah nyata setelah membaca buku The Miracle of Enzyme (TMoE). Saya mencoba menjadi seorang   :
1. AQuers
Galon L22 dari merk *%&##*^& berganti jadi AQua.

2. Juice Seller
Agar bisa makan buah banyak-banyak, solusinya adalah dengan jualan jus.

3. Sop Hunter
Suka mencari & makan sop, lebih segar.

4. Shoimer/Puasaer
Puasa harus terus diistiqomahkan, agar cadangan Enzym Pangkal lebih irit terpakainya, jadi pas tua cadangan Enzym Pangkal masih banyak, jadi pertahanan diri terhadap penyakit masih kuat.

5. Anti-Susuer
Meminimalisir konsumsi susu.

Foto Dr, dr. Hiromi, orang yang bolak balik dari Jepang ke Amerika seperti pergi ke jamban saja

Inspirasiana

Inspirasiana, nama apakah itu? Ya, ada lah. Nanti kalau sudah waktunya juga tahu. Hm, saya suka sekali dengan nama ini, manggua bisa dipakai untuk nama orang, anak saya akan saya namai dengan nama ini. Tapi ya saya masih jalan lah pikirannya, mosok nama macam ini dikasihkan buat nama orang.

Daripada saya menyalahkan si A, si B atau menyalahkan semua orang, atau bingung menyalahkan siapa, paling aman memang menyalahkan diri sendiri kalau mengingat masa-masa dimana diri saya ini masih berguna dulu. Berguna untuk mengenalkan Indonesia Emas ke anak-anak pinggiran yang tidak menjangkau untuk bayar 550.000 jamuan 2 hari di kota-kota, berguna untuk mengenalkan otak kanan dan segala kehebatannya, menuliskan kisah-kisah orang-orang yang menggelorakan dunia yang ternyata merekapun terlahir dari kalangan pinggiran.

Semoga dengan nama yang ada di judul note ini, saya bisa berguna lagi. Karena, berguna itu menyenangkan. Trenyuh saya diterimakasihi orang yang saya pikir saya nggak ngasih apa-apa kok. Ngilu rasanya orang kayak saya kok mau direportasei tentang kontribusi sosial.

Betul kok kata teman-teman saya, saya ini matre, ambisius malah ada yang bilang otoriter. Huakwakwak, sayangnya saya belum membuka lagi kamus untuk menemukan apa si arti otoriter itu. Sudahlah, sakit hati mungkin masih tersisa, tapi mending sakit hati itu saya arahkan ke diri sendiri saja, biar jadi cambuk perbaikan. Saya ingin berguna lagi dengan kendaraan bernama Inspirasiana, semoga.


Saya bahagia bisa berkontribusi membuat maju orang lain, walau hanya dengan sebait inspirasi.


* Diketik dengan suara latar Lir-Ilir Kiai Kanjeng khas MCB yang selalu menambatkan hati saya ke Patrajasa, 

Optimasi Dua Receiver Diri

Rizky yang penuntut, tukang prentah-prentah dan sapiturute adalah Rizky dengan komposisi sel-sel tubuh ratusan hari yang lalu yang sudah mati. Sel-sel tubuh saya yang waktu itu sudah tidak bersisa lagi, sudah mati semua, jadi tidak alasan sel-sel yang baru yang menyusun tubuh saya saat ini harus mewarisinya, setidaknya, kalau mewarisi ya tidak lagi mau banyak-banyak.

Perjalanan saya melangkah ke Gramedia menemui Renald Kasali walau dalam bentuk kotak persegi panjang yang disebut orang sebagai buku, cukup menginspirasi saya, karena di dunia luar, kupasan buku itulah yang sedang saya gumuli : tangible dan intangible aset.

kalau uang itu tangible, sikap mental itu intangible. Begitu lah kira-kira, definisi ilmiahnya silahkan cari sendiri, ini bukan note ilmiah.

Yang jelas, saya bersyukur atas pertambahan intangible aset dalam diri saya, hingga saya sekarang lebih ayem dalam berpartner dengan siapapun, dengan orang tipe apapun, semua partner saya saat ini tidak ada yang membuat saya jengkel, maras apalagi miris.

Kok bisa? Ya, karena saya sadar, pasti akan selalu ada irisan pergesekan dalam bekerja sama. Sedangkan tidak ada skema kehidupan di track manapun yang kita tidak membutuhkan kerjasama. Jadi saya lebih pilih membangun kedalam diri saja, memasang receiver atau alat penerima di dalam diri sendiri. Bukan cuma satu, tapi dua sekaligus. Dan sekarang sudah terbangun, tinggal terus dioptimasi.

Apa receiver itu? Alat penerima pertama adalah perangkat yang fungsinya untuk menerima, menerima kalau suatu saat mendadak partner kerjasama saya tidak bisa menunaikan kewajiban yang sudah diiyakannya, sudah dikomitmennya, sudah digembor2kannya. Sepanjang saya bisa handle ya saya ambil alih. Disinilah saya dituntut luwes mengamalkan amalan harian yang saya sakui kemana saya pergi, bernama To Do List.

Alat penerima kedua adalah perangkat yang fungsinya juga untuk menerima, menerima kalau-kalau ternyata saya tidak bisa menghandle ambil alih keterbengkalaian pekerjaan partner, ya saya menerima kalau tidak ada hasil hari itu. Receiver yang kedua ini juga berfungsi untuk menerima kalau saya sudah pool usaha, tapi kok rugi atau meleset hasilnya dari yang diprediksikan. Merk perangkat kedua ini saya baca di kemasannya bernama : Qonaah.

Karena kan yang kita kejar bukan hasil, tapi proses. Kalau sudah optimal proses, sudah berusaha dalam batas2 kecerdasan-aktivitas kita, ya sudah, itulah puncak keberhasilan kita berproses.

Satu Hari Satu Apel

Dari sebuah tayangan tentang Apel di TV nya Chairul Tanjung waktu itu, saya tahu mengkonsumsi apel walau hanya 1 buah perhari tetapi dilakukan berulang-ulang setiap hari akan memberi dampak baik bagi kesehatan fisik.

Hm, karena ini bukan note kesehatan, jadi silahkan search sendiri saja manfaat apel yang dikupas di Trans 7 itu. Tapi memang benar adanya, makanan menjadi berdampak baik ataupun jelek itu bukan atas sesekali dimakan saja, tetapi hasil simultan, perulangan akibat kebiasaan.

Jadi, tidak bisa makan apel satu njur langsung sehat prima, begitu juga makan tahu brontak jumbo pedas njur langsung sakit jantung. Sekali lagi, semua berefek bila simultan memakannya.

Kembali ke topik awal, seusai nonton tayangan di Trans 7 itu, saya langsung terbakar untuk menggegaskan kaki menuju warung buah. Sehari, dua hari bisa, tapi setelah berhari-hari jadi mikir, ini kok tiap hari belanja buah terus, habislah duitku. Maka perulangan yang belum menjadi kebiasaanpun itu terhenti, dan hilanglah harapan mendapat manfaat positif istimewa dari kandungan dalam buah apel.

Sampai perjalanan mengantarkan saya pada hari ini, ada kantin namanya Harina, saya boleh memakan apel yang ada disana suka-suka, cukup pas belanja di pasar wage bilang ke bakulnya untuk minta dilebihin satu. Satu hari satu apel saja sudah cukup.


Satu hari satu progres, tapi arahnya simultan. Okey?

11/14/10

Ngodor

Waktu saya tersita cukup banyak untuk proyek Wakaf 1000 Kasur ini. Eits, tepatnya, saya sengaja menyita waktu saya banyak-banyak untuk proyek Wakaf 1000 Kasur ini. Karena saya ingin serius kali ini.

Okelah soal menggapai kesuksesan saya, saya mungkin memang tidak pernah serius, makanya banyak orang-orang disekeliling saya meninggalkan saya, makanya sampai sekarang belum silaturahim lagi dengan Mba Aviani untuk menjemput Avanza.

Tapi kali ini saya sungguh miris, Pak SBY datang bayi-bayi dan manula dipinjami kasur sedangkan setelah SBY pulang kasur diambil kembali. Bagi banyak orang mungkin kasur tak sepenting sembako, tak sepenting bra dan celana dalam, tapi tidak bagi saya.

Seminggu saya ikhlaskan badan saya meriang karena tidur tanpa kasur 3 malam berturut-turut di Masjid Daarut Tauhid hingga saya putuskan sewa sleeping bag sampai malam terakhir bermalam disana. Begitupun untuk L22, andai ada rejeki berlebih saya ingin sekali membeli kasur lagi.

Kalau semalam tidur tanpa kasur memang tidak mengapa, tapi bagaimana kalau seminggu, dua minggu. Itulah yang dialami oleh saudara-saudara yang mengungsi disana. Belum lagi yang rumahnya porak poranda, sepulang dari pengungsianpun tidak mendapati ada kasur empuk di dalam rumah mereka sepertihalnya kita kelelalah pulang piknik dan sampai rumah langsung merebahkan badan di ranjang empuk.

Cuma ini sumbangsih yang bisa meringankan beban dalam diri saya karena tidak membantu mereka. Saya ngodor sms berulang-ulang, kirim mesej berulang-ulang, menghabiskan ratusan proposal hardcopy, berharap saya bisa maksimal membantu mereka.

Betul-betul kalau dipikir-pikir saya tidak tau malu sekali, mengundang muwakif kok meksa, ngodor. Tapi bagi saya menahan rasa malu akibat ngodor itu lebih ringan ketimbang menahan beban berdiam diri tidak membantu mereka yang tidur kedinginan tanpa alas layak.

Wahai, siapapun yang membaca blog ini, saya lebih ngodor lagi disini. Tidak peduli Anda sudah menyumbang berapa banyak untuk Merapi, Wasior dan Mentawai, bukan alasan untuk tidak tergerak mewakafkan kasur untuk mereka saudara-saudara kita yang sampai hari ini masih puluhan ribu berhimpun di posko-posko pengungsian.

Karena menyumbang, bukanlah kewajiban, bukan berarti kalau sudah menyumbang gugur kewajiban untuk nyumbang lagi.

Ini nomer rekeningnya : Mandiri 139-00-1056328 a.n. Rizky Dwi Rahmawan

Syukron, jazakalloh atas hati yang menggerakkan tangan menekan keypad ATM-nya.

11/11/10

Sahabat Yang Paling Mengerti Anda?

“xxx loh kenapa say? Lagi sedih juga? RT @zzz sama kayak si @xxx donk? RT @yyy lagi sedih :’( ”

“xxx sabar ya.. RT @yyy BENER! Semua emang sama aja! RT @zzz sial! Berani-beraninya nipu gue! ”

Familiar dengan tweet-tweet (yang sudah saya sensor) di atas? Yup! Sengaja saya sensor supaya orang yg nulis ini nggak terlalu ngerasa terpukul, karena menyindir orang tidak akan membuatnya berubah, malah justru akan semakin defensif.. So I write this because I really do care about you ;)

Hampir setiap dari anda semua yang membaca tulisan ini pasti mempunyai sahabat dekat yang anda rasa benar-benar mengerti diri anda. Mereka selalu ada saat dibutuhkan, mendengarkan curhat, mempunyai banyak kesamaan entah dari latar belakang, nasib, kemampuan atau apapun itu, dan selalu menemani kapanpun dimanapun kita berada, well agak berlebihan memang kalau saya bilang selalu menemani.. kalaupun tidak selalu at least cukup sering lah. :)

Namun tahukah anda fakta di balik persahabatan?

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang sejenis dengan kita. Pemain band ENTAH MENGAPA akan merasa selalu secara kebetulan bertemu dengan sesama pemain band, begitu juga dengan seorang jenius yang merasa selalu bertemu dengan sesama jenius, pesulap dengan pesulap, dan spesies apapun itu, pasti akan bertemu dengan sesamanya. Si cantik dengan si cantik, si NERD berkumpul dengan sesama NERD, si gaul berkumpul dengan sesama anak gaul, dst. So.. kali ini saya pinjamkan mesin waktu yang biasa dipakai Doraemon untuk kembali ke masa lalu demi mengungkap fakta di balik persahabatan.. khusus untuk anda! Sudah siap? LET’S ROCK!!!

Ciuuuuuuuuuuuuuuung……………. *bunyi mesin waktu*

Saat ini mungkin anda sedang mengingat salah satu momen dimana anda pertama kali bertemu dengan sahabat anda. Biasanya sejak pertama kali ngobrol, tiba-tiba saja anda merasa “klik” dengan orang tersebut. Dan entah mengapa anda mulai merasa orang tersebut sangat “cocok” dengan anda. Semenjak hari itu anda semakin banyak menghabiskan waktu dengan sahabat anda tersebut, makan bareng, ngopi bareng, jalan-jalan bareng, atau sekedar kumpul bareng sampai akhirnya anda mulai bertemu dengan orang-orang sejenis lainnya dan hey! “kita harus bikin gank nih!” dan akhirnya terbentuklah sebuah persaudaraan (sisterhood/brotherhood). Good things isn’t it? :)

YES! It’s a good things! And too.. a bad things!

Ketika sudah merasa “cocok” pada umumnya kita akan menganggap bahwa “hanya mereka lah yang mengerti diri kita. Dengan dasar pemikiran tersebut kita semakin terikat dengan “persaudaraan” yang entah sebenarnya membawa dampak baik atau buruk dalam mencapai tujuan hidupnya. Bersyukurlah apabila mereka mendukung tujuan hidup anda. Dan celaka lah apabila keberadaan mereka justru menyeret anda ke dalam lubang kenikmatan! Eh..lubang derita maksudnya..hehe ( ini ngomongin apa ya? 3:D )

Ok..cukup mesumnya.. so apabila lingkungan tersebut semakin mendekatkan anda pada tujuan hidup anda, anda WAJIB melanjutkan kiprah anda dalam gank tersebut. Namun persaudaraan tersebut tidak membawa anda kemana-mana dan hanya jalan di tempat, bahkan meskipun kelihatannya anda sedang “bergerak”, maka bersiaplah untuk meninggalkan lingkungan tersebut dan memasuki lingkungan baru.

Anda semua PASTI sudah tahu bahwa pergaulan anda sangat mempengaruhi pencapaian hidup anda. Dan maka dari itulah banyak orang besar, buku, motivator, ataupun terapis menyarankan untuk bergaul dengan orang-orang yang mendukung perkembangan diri anda. Namun anda tahu persis bahwa itu semua tidak semudah yang anda pikirkan bukan? :)

Ketika memasuki lingkungan baru anda merasa tidak nyaman. Rasanya lingkungan baru tersebut tidak benar-benar mengerti diri anda, yang akhirnya membawa anda kembali pada kesimpulan bahwa memang gank anda yang terdahulu lah yang PALING mengerti anda. Dan sayangnya mereka yang justru paling mengerti anda malah tidak bisa membawa anda menuju arti hidup yang anda cari selama ini!

Beberapa dari mereka yang benar-benar berkomitmen untuk berhasil biasanya tidak akan berhenti begitu saja. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk bisa mencapai tujuan mereka. Setelah membaca begitu banyak referensi, mengikuti seminar motivasi, dan masih banyak ide gila lain yang bahkan saya pun tidak terpikir, mereka pun mendapati bahwa rasa tidak nyaman tersebut memang muncul secara wajar karena mereka sedang keluar dari “zona nyaman” mereka. Namun tetap saja informasi tentang “zona nyaman” ini tetap tidak berarti signifikan dalam praktek pergaulan mereka.

Mengapa demikian? Karena konsep “keluar dari zona nyaman” membuat anda berpikir bahwa anda sedang berusaha “keluar” dari diri anda “yang sebenarnya”, sedangkan biasanya kita lebih sering menerima quote indah tentang “jadilah diri sendiri”.

Jadi apakah yang sebenarnya terjadi?

Faktanya adalah: mereka TIDAK benar-benar sejenis dengan anda!

Faktanya adalah: tidak ada kawan sejati (ataupun lawan sejati) yang ada hanyalah pergeseran kepentingan. situasi sangat menentukan hubungan anda, kawan bisa menjadi lawan secara tak terduga, begtu sebaliknya.

Faktanya adalah: karena hanya dengan mereka lah anda merasa diri anda diterima! In other words: hanya merekalah yang bersedia menerima diri anda!

Faktanya adalah: anda merasa demikian karena anda terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka!

Faktanya adalah: dan semakin sering anda menghabiskan waktu dengan mereka, mau tidak mau anda harus menerima belief mereka, idealisme mereka..

Faktanya adalah: karena jika anda tidak mengikuti belief mereka maka anda akan “dikucilkan” baik secara terang-terangan maupun ala perang dingin.

Faktanya adalah: dan itu artinya anda tidak lagi diterima, and it hurts your EGO!

Faktanya adalah: dan anda tidak tahu lagi harus kemana lagi supaya bisa diterima

Faktanya adalah: ketika memasuki lingkungan baru anda belum bisa beradaptasi sehingga anda merasa “berbeda”

Jadi PROSES yang terjadi SEBENARNYA adalah anda sedang menyamakan frekuensi diri anda dengan perkumpulan anda saat ini. Yang tadinya sebenarnya berbeda jadi tampak sama. Awalnya mungkin memang benar anda memiliki kesamaan, namun apabila selanjutnya anda merasa kalian benar-benar sama, yang terjadi adalah: anda menyama-nyamakan diri dengan mereka tanpa anda sadari, sehingga akhirnya anda menjadi benar-benar seperti mereka.

Dan KABAR BAIKnya adalah:

* Anda bisa cocok dengan siapa saja

* Anda cukup menghabiskan banyak waktu dengan lingkungan baru anda untuk menyamakan frekuensi anda dengan mereka sehingga merasa “klik”

Masih merasa kesulitan? Biasanya kendala sebenarnya bukan masalah tidak terbiasa, namun karena : ANDA TAKUT MELAKUKAN KESALAHAN!

Ya, anda ingin terlihat sempurna di depan lingkungan baru anda.. anda ingin membentuk image baru anda.. inilah yang sebenarnya membuat anda merasa “berbeda”. Anda terlalu takut melakukan TRIAL & ERROR.

Keputusan memang berada penuh di tangan anda, apakah anda bersedia benar-benar belajar & meningkatkan diri atau sekedar menjaga ego anda.

Sekali lagi, lihatlah sekeliling anda? apabila komunitas anda loser, maka jangan heran jika anda pun seorang loser.. dan lihatlah teman anda yang menurut anda keren.. dan perhatikan komunitasnya.. Apakah saat ini anda masih merasa cuma gank anda saja yang mengerti diri anda?

So mulai sekarang jangan takut untuk meninggalkan komunitas lama anda yang tidak mendukung dan hanya bisa menjatuhkan anda! Anda tidak perlu khawatir dikucilkan, karena setelah anda meninggalkan mereka, mereka yang justru akan mengikuti anda, maju bersama anda, selama anda tidak terlalu banyak mulut & TIDAK MERENDAHKAN MEREKA dan tentunya memang menunjukkan hasil yang signifikan.

Stop mengikuti teman-teman anda yang bisanya hanya mengeluh, merendahkan orang, memberi label seenaknya semacam “semua co/ce sama saja!”…itu hanya masalah mereka, bukan masalah anda, dan jangan sok membantu apabila anda belum memiliki kemampuan tersebut anda hanya akan membuang kehidupan anda yang berharga dengan menjadi dukun curhat.

Keep this simple then: komunitas anda menentukan kepribadian anda!

I know it sounds cruel, but you’ve proven it! You experience it yourself! So you know it’s damn true!

***


Copas dari artikel dengan judul yang sama di sini.

11/10/10

Kenapa 1000

Angka 1000 bisa diartikan mengisyaraktkan banyak makna, bisa juga diartikan tidak bermakna apa-apa. Sekedar angka, wujud tekstualitas belaka bahwa yang me-rengga (menopang) program ini banyak kalangan, ada teman-teman dari Red Apple, dari kalangan L22 dari Kukuh Prasetiyo Foundation (KPF), dari Alumni SMA 2, dari Stematel, dari Komunitas Blogger, dari komunitas sepak bola, dari sivitas kampus, dari Ormas dan lain sebagainya.

Kali ini saya ingin memaknai dari sudut pandang saya pribadi kenapa menyepakati keberadaan angka 1.000 itu. Begini... jreng jreng jeng jreng...

Hari-hari terakhir ini, hal yang mebuat saya resah adalah soal kesungguhan diri saya sendiri. Mungkin ini syndrom dari membaya buku MYELIN karya Renald Kasali. Saya obrolkan hal ini dengan teman baik saya, kenapa ya ini, itu, anu, ono tertunda semua?
n
Angka 1000 saya baca sebagai  target yang 'banyak', apalagi ada pewaktu deadline akhir. Salah satu pemicu kesungguhan adalah target. Kenapa beberapa hal tertunda demikian parah hari-hari belakangan ini adalah karena saya tidak mencangkan target kuantitas dan target waktu, walhasil, seolah berapapun yang saya dapat, saya syukuri, sehingga karena merasa sudah cukup alim dan tawadhu' dengan syukur itu makanya yang saya dapat tidak ada, kecuali ketertundaan.

Begitupun, karena tidak ada target waktu, seolah-olah umur saya turah-turah terlewat panjang, lupa kalau satu setengah bulan lagi sudah ganti tahun. Alangkah naasnya nasib diri ini akibat pengabaian penyusunan target sebagai salah satu alat mencapai kesungguhan.

Di 8 hari yang mengawali bulan Dzulhijah ini, saya ingin mengoreksi semua itu dengan memaksimalkan upaya saya di program Wakaf 1000 Kasur ini. Kalau angka 1000 tercapai bahkan terlampaui, bukan popularitas bahwa program ini besar yang saya kejar, tapi bahwa saya sudah melatih diri saya untuk tahu bagaimana caranya sungguh-sungguh.

Mari baca 1000 sebagai 'kesungguhan'. Selamat belajar yang mau sama-sama belajar dengan saya.

Kasur & SBY

Kebanyakan pengungsi adalah anak dibawah umur, dan orang tua di atas umur. Anda bayangkan malam ini Anda sedang persami, tidurnya memang tidak di dalam tenda tapi di ruangan, dan diruangan itu kecukupan alas tidur terbatas, paling ada terpal dan klasa, juga kardus.

Kalau itu Anda, tidak jadi soal. Tapi bayangkan kalau nenek Anda tidur tanpa kasur di atas udara lantai dan ruangan yang dingin. Celana dalam yang ganti baru tidak membuat serta merta mereka menjadi terlindungi daya tahan tubuhnya dari meriang.

Ini arah tulisan saya bukan sedang membanding-bandingkan ini lebih penting dari itu atau sebaliknya, bukan, arah saya adalah bahwa inilah kepedulian beberapa orang disana, makanya ketika SBY datang ke posko pengungsi Balita dan Manula dipinjami kasur. Sayangnya, setelah SBY pulang kasurnya diambil lagi, hanya takut ditegur mungkin "Ini kok tidur tanpa kasur!"

Berangkat dari itulah mengapa obyeknya kasur. Kasur menjadi kebutuhan mendesak tahap II, kalau di taap I tanggap darurat bencana tentu makanan dan keamanan lebih prioritas. Tetapi di tahap II pemulihan ini, penjagaan kesehatan mesti ditingkatkan. Terlebih kasur bermanfaat bukan hanya ketika sedang mengungsi, tetapi untuk mengganti kasur mereka yang rusak serta yang seumur hidup belum pernah menikmati kasur untuk tidur mereka.

11/9/10

Program Wakaf 1000 Kasur





ini adalah sedikit kepedulian kami untuk penggalangan dana untuk korban bencana yang ada di Indonesia.
dana akan diserahkan dalam bentuk kasur lantai untuk tidur.
semua keterangan dan kejelasan bisa dibaca dan diunduh di :

Program Wakaf 1000 Kasur

sekecil apapun rasa peduli serta action yang kita lakukan untuk semua solidaritas ini, akan dibalas ratusan kali lipat oleh-Nya.
yakinlah!

Masyarakat Relawan Plat R 

11/7/10

Opick Apik

Allah engkau dekat
Penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau
Biarkan hamba Mu menangis
Karna kemurahan Mu
Karna kasih sayang Mu
Hanya bila diri Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela
Dia kekasih Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asthma Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Setiap makhluk bergantung padaMu
Dan bersujud semesta untuk Mu
Setiap wajah mendamba cinta Mu cahaya Mu

Menahan Erupsi

Tidak ada botol aqua yang bisa dilempar. Gelas beling bersih semua baru dicuci kemarin. Puasa itu menahan, menahan erupsi di dada, puasa itu menahan, menahan cybershoot pandangan agar menemukan derajat fokus yang lebih cemerlang dan angle yang lebih luas.

Tari nafas dalam-dalam, kumpulkan energi-energi yang menyesakkan itu, lalu lepaskan perlahan seiring dengan dihempasnya nafas. Tuhan, ganjarkan penahananku ini dengan ampunan. Amin...

Adzan Magrib, Ahad, 7 November 2010, L22.

11/2/10

Haha, Makhluk Idealis

Makhluk idealis?
siapa?

..ya yang merasa saja. Haha..

11/1/10

Kiai Kanjeng & Kanjeng Kiai Caknun

Dulu Kiai Kanjeng pentas dan diletakkan di panggung. Mereka ditonton oleh penonton. Kiai Kanjeng yang bermaiyah tidak berada dipanggung dan tidak ditonton siapa-siapa. Mereka duduk melingkar, sehingga terserah orang lain akan bergabung menciptakan lapisan-lapisan lingkaran berikutnya atau tidak.
KK = Kiai Kanjeng

Kiai Kanjeng tidak mempertunjukan musik dan suaranya kepada penonton. Mereka hanya bernyanyi, bershalawat, berwirid, membaca puisi, atau apapun, tetapi yang ada di hadapan mata kesadaran mereka adalah Allah swt. Maka pada kebanyakan momentum selama ber-maiyah, hampir tak seorangpun di antara mereka yang tidak memejamkan mata. Karena mata wadag hanya sanggup melaporkan penglihatan tentang hal-hal yang sepele: materi, benda-benda, gedung-gedung, lembaran-lembaran uang, kecantikan wanita dan kegantengan lelaki, menara pencakar langit. Dan itu semua bersifat sementara dan sangat gampang hancur.

Jemaah Maiyah serak-serak suaranya untuk Allah. Habis bunyinya untuk mencintaiNya. Bernyanyi, membunyikan alat musik, berkeringat, untuk memelihara hubungan baik dengan Allah. Karena Allah sebagai pengasuh, penyantun, tempat bergantung – tidak bisa diperbandingkan dengan polisi, tentara, menteri ekuin, presiden, pemerintahan, konglomerat, distribusi modal atau apapun saja yang dituhankan oleh sangat banyak orang. Allah berjanji kepada para kekasihnya untuk menjalankan empat fungsi, asalkan oleh para kekasihnya dibeli dengan taqwa dan tawakkal.

Peran pertama, Allah sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas apa saja : coba sebut satu masalah yang Allah tidak sanggup menyelesaikannya!

Peran kedua, Allah sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia, sehingga para kekasih Nya tidak bisa menduga atau memperhitungkannya. Para kekasih Allah tinggal terima jadi, terima matang – anugrah rejeki yang mereka beli dengan ‘mata uang’ taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Rindukan Allah kapan saja. menjadikan Allah sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam ditancapkan dihujamkan terus menerus.

Peran ketiga, Allah sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dan menganggap Allah bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. Ia managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.


Peran keempat, Allah adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Allah kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi ‘honor’ taqwa dan tawakkal.

Sumber Wikipedia Lingkaran Maiyah

10/31/10

Menulis Setiap Kapan

Setiap saya menyendiri, saya menulis, merangkai tulisan dalam angan-angan. Setiap saya mendengarkan orang membagikan ilmunya saya merangkai imajinasi. Kalau semua itu ditotal dan dianggap 100%, hanya 1% nya yang saya tuangkan dalam bentuk lain, saya formulasikan, saya lahirkan keterwujudannya, dan dari 1% itu, 1% pula yang saya posting di blog ini.

10/30/10

Waljinahan

Pagi-pagi nyetel Winamp, muternya lagu-lagu cerianya Waljinah. Asyik ndes... Kalau kemarin seharian muternya Basanova, lagu Jawa yang di Jazzkan. Setelah mendengar LIVE suara gending saron-nya Kiai Kanjeng kemarin saya betul-betul terpukau dengan keindahan karya cipta orang Jawa, salah satunya musiknya.

Eits, jangan antipati dengan yang namanya budaya dan tradisi, sedikit-sedikit bid'ah. Bid'ah itu di ranah rukun Islam. Kalau menyenggol sedikit budaya njur langsung skeptis, yang namanya tiap pagi Anda beol dan kalau tidak beol perut Anda mules, itu juga bentuk tradisi budaya lho.

Jangan hukum vertikal digunakan untuk nyacag-nyacag perihal yang ada di zona horizontal, mundak kurus kamu. Yah, jadi nglantur saya, yang jelas I LOVE JAVA. Nanti Biro Wisata saya namanya Mocopat Tour, Armada Busnya diambilkan dari nama-nama Sekar Macapat, ada Maskumambang, Asmarandana dan sebagainya. Syukur pisan bisa beli trayek Purwokerto Semarang dan Purwokerto Cirebon.

Nanti juga kalau butuh nama lagi, saya mau ambil dari leluhur saya, dari Ronggowarsito sampai Condrolukito, dari Raden Patah sampai Adipati Mrapat. Orang Jawa itu hebat-hebat, selain yang jadi politikus. Mau melanjutkan Waljinahan dulu...

Sugeng midangetaken...

Orang Pinter ngajeni Gamelan, Orang Pekok nyepelin Gamelan

10/29/10

Benar-Benar Bening.. Jatuh Cinta Saya.. Hii...

Biasanya cuma melihat dan mendengar dari Youtube, seperti mimpi saja kemarin ikut jadi Pamiarsa LIVE performance Cak Nun bersama kelompok Gamelan Kiai Kanjengnya. Asli, benar-benar bening tabuhan saronnya, apalagi expresi Niyaga nya yang demikian total, betul betul mempesona.

Berbulan-bulan merencakana perjalanan untuk menyambangi sang Kiai berbahan dasar besi ini. Mulai dari dulu mau nekad berangkat ke TIM, beberapa kali mencari teman yang bisa diajak ke Baiturohman juga bolan-balen SMS minta tanggal dan ancer-ancer pelaksanaan di mBantul. Tapi nggak pernah ketemu kaleksanan. Eh malah CNKK (Caknun dan Kiai Kanjeng) kemarin yang mendatangi. Dan kitapun bertemu di sebuah desa di Kebasen, Kaliwedi.
Caknun dan Rakyat

Mempesona, memukau, seperti raja yang turun dari istananya menyambangi rakyatnya, merangkul camatnya, mempersilahkan lurahnya berkeluh kesah, bahkan sayapun dapat jatah Mic, anggun sekali acara ini, begitu pikir saya... jatuh cinta saya.

Terlalu banyak yang harus dipostingkan atas kesan saya di malam peringatan Sumpah Pemuda tadi malam itu, yang jelas, saya ingin ikut lagi dan berkali-kali, melebihi kuantitas berkali-kalinya saya membuntuti Ary Ginanjar dengan ESQ nya. Dan yang jelas, kalau orang-orang membaiat CakNun jadi Presiden, saya akan sewakan Horn TOA untuk berkoar-koar mendukung beliau.

Rizky dan Kiai Kanjeng

10/26/10

Dadung Pak Kartasun

Tenant bisnis saya yang baru bernama Mr. Kartasun, sudah sudah tidak usah ditafsirkan sendiri Sun itu matahari dan Karta itu Grafik (Chart), nanti malah jadi diagram kartesius. Mr atau Bahasa Indonesianya Pak, Kartasun adalah seorang pengasong meja kayu.

Dari daerah bernama Kemutug Kidul (South of Kemutug) dia berangkat menjajakan meja yang dia panggul, sehari dia bawa 2 meja kayu ukuran panjang 120 cm dan harganya 70 ribu ke Kota Purwokerto, kadang juga ke kota lainnya. Tadi sekitar jam 5an sore saya ketemu di pinggir jalan (kondisi : gerimis kecil) dan dagangannya masih 1 meja, saya beli itu meja dengan tidak menawar.

Lalu ngobrol2ah kami, saya jadi tahu, untuk pulang ke rumahnya yang ada di sekitar Baturraden, dia harus naik ojek 10.000. Padahal sehari dia cuma bawa 2 meja, 2 x 70.000 (biasanya kan orang jualan meja ditawar), jadi 140.000. Saya tidak tahu harga ke pengrajin yang membuat meja berapa, dipotong ojek, dipotong makan siang, dipotong kalau ada orang nawar, hm, berapa ya kira-kira proyeksi keuntungannya?

Sudah dihitung? Itu proyeksi keuntungan kalau mejanya laku semua? kalau cuma laku satu? kalau tidak ada yang laku? Darimana cost ojek? cost ngojekin meja pulang lagi? cost makan siang? Nah lo...

Meja tadi diikatkan oleh Pak Kartasun ke motor saya, karena tidak ada rafia, saya diberi sebuah dadung hanya dengan mengganti biayanya Rp 5.000,00.

Foto dadung dari Pak Kartasun ini saya sengaja upload, untuk diri saya sendiri dan siapapun agar kalau kita puyeng dengan pangrejeken kita, kalau kita gundah dengan kecukupan hidup kita, kalau kita was-was dengan ikhtiar kita, kita ingat ke Pak Kartasun, yang keluar dari rumah hanya membawa 2 meja, jadi sampai jam 5 sore masih memanggul-menjajakannya langkah demi langkah dengan penuh keyakinan rezeki sudah ada yang mengatur.

Apa Tuhan yang kita sembah tidak kita yakini Dia Maha Kaya atas rezeki-rezeki yang kita butuhkan dan inginkan? Wah, jangan-jangan selama ini kita salah nyembah, salah sembahyang.
Dadung ini bisa digunakan untuk gantung diri

Teritory Teori

Teori-teori yang saya pelajari, di training motivasi yang katanya omong kosong, di EU yang katanya edan kebablasan dan di--yang disebut orang--sebagai kursus menangis bernama Training ESQ perlahan tetapi pasti mulai melampau batas-batas teritorinya.


Kartu nama

Time Planner, To Do List dan Buku Kas

KTP, Kartu NPWP & Rek. Koran

Struk Gestun

Investasi

10/23/10

Dont Call Me

Jangan telepon saya, kecuali untuk urusan yang penting, yang manfaat, yang memakan waktu seperlunya saja. Hm, maaf ya, saya tidak suka ditelepon lama-lama (kecuali oleh beberapa orang), apalagi pakai pula bonusan.

Trims, kalau ngobrol lama live aja, lebih asyik*

*di kafe dan ditraktir tapi, hehe

10/20/10

Ingin dan Komit

Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, besoklah. Tapi besoknya ngomong lagi hal yang sama dan ujungnya kembali, besoklah. Daaan seterusnya, berulang-ulang diungkapkan itu keinginan sampai orang se-RT tahu.

Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, diucapkan sambil menata berkas yang  berantakan, menjemur keset, terus siangnya mencari kardus untuk mewadahi barang-barang yang masih berantakan.

Itu kan bedanya keinginan dan komitmen?

Ketinggalan Banyu Biru

Pengalaman pertama sepanjang hidup naik kereta dipinggir Laut Jawa, ya, tadi, di track sebelum Stasiun Plabuan kalau tidak salah si masih masuk Kendal.
Laut Jawa dari atas KA Kaligung 20-10-2010
Seturun di Semarang Poncol langsung menggondol ojek menuju Semarang Tawang berharap bisa dapat tiket Banyu Biru ke Jogja. Ternyata eh Ternyata, KA Banyubiru sudah berangkat, ketinggalan deh...

Ketinggalan berapa menit? bukan menit, tapi Jam, 6 Jam sekitaran. Loh kok bisa? Iya, ternyata KA Banyu Biru yang sore sudah tidak beroperasi. Mungkin karena tidak laku. Hikz...

Setelah sekian jepret berfoto di Semarang Tawang sembari berharap minimal ada kereta apapun yang datang saya ingin mendengar nada sambut di stasiun itu yang katanya membunyikan aransemen "Gambang Semarang", eh tidak ada. Akhirnya segera berbecak menuju pemberhentian Damri dan meluncurlah ke Sukun, tempat dimana Bus Nusantara berpool. Tepat jam 14.00 sampai di sana. Alhamdulillah... dapat bus? tidak!! Bus Nusantara penuh.

Stasiun Semarang Tawang 20-10-2010
Maka setelah menunaikan Sholat Jamak Qosor di Masjid Agung ADA, naiklah sembarang bus yang saya sendiri tidak sempat melihat nama bus itu hingga saya turun jam 21.00 tadi. Dua minuman botol, 1 bungkus tahu bulat, 3 arem-arem dan 2 tempe goreng menemani perjalanan yang dari Purwokerto ke Semarang menyenangkan, tapi selebihnya mengenaskan tapi dipaksakan menyenangkan.

Tak apa, di bus tadi saya terpikir banyak hal, tentu tidak ditulis disini, rahasia, he. Yang ditulis disini yang terpikir sekarang saja. Sekarang saya terpikir tentang bagaimana mencari note balok lagu Ditepinya Sungai Serayu yang menjadi nada sambut stasiun Purwokerto, terpikir tentang Juragan bus Nusantara kok tidak bikin ekonomi AC ya, terpikir tentang Bangsari dan kambingnya sudah jadi berapa ekor ya, terpikir tentang Bumi Panorama Permai dan Pa Firdaus si Pengembang, terpikir tentang Pak Narsan si penjual Sop Buah dengan 3 kost2annya, terpikir tentang Siomay "Baraya Geulis", terpikir tentang papan penunjuk arah Dishub-style di Bandung yang ada ATM BNI nya, ya.. kita formuliskan pikiran2 hari ini, besok.

Sebuah Pengakuan

Diantara sekian banyak prinsip toleransi, sampai sejauh ini, konsep toleransi ala Caknunlah yang paling bisa jiwa saya terima. Bahkan nuwun sewu saya pernah privat dengan seorang ustadzpun, konsep toleransinya bagi saya nggrambyang atau bahasa arifnya, terlalu normatif.

Apa si prinsip Caknun? Wah, baca sendiri di majalahnya lah ya.

Ini bukan postingan agama, jadi tidak saya bahas disini. Ini soal jalan yang saya pilih sebagai seorang entrepeneur, atau bahasa tetangga2 saya juragan, atau bahasanya anak fisip kebanyakan orang matre yang kerjaannya nyari duit melulu, enggan bersosial. Dan lain sebagainya entahlah...

Dulu saya orang yang paling tidak tedeng aling-aling menggembor2kan keunggulan entrepeneur diatas employee, juragan di atas rewang, demi sebuah pengakuan, bahwa saya lebih baik, karena memilih jalan yang lebih baik.

Lalu sekarang, apakah sudah saya anggap sama kasta juragan dan rewang itu dimata saya? Bukan, justru sebaliknya, saya semakin menemukan banyak data ilmiah tak terbantahkan 9 dari 10 pintu rezeki ada pada berdagang. Tapi ya itu, prinsip toleransi yang saya anut adalah prinsipnya Caknun. Saya harus yakin jalan yang saya pilih paling baik dan benar, dan jalan yang lain kalah baik bahkan salah, tapi itu saya pendam dalam hati, tidak saya konfrontasikan. Bagiku jalanku, bagimu jalanku, bagimunegeri jiwaraga kami.

Sok, sekarang saya dibilang malas kuliah karena sudah ijo matanya karena sudah lihat duit. Atau dibilang kelewat matre dan tidak penting apa itu yang namanya sosial atau sok idealis nggak ngerti cari uang kalau nggak dari gaji dikira gampang apa, atau apapun itu tidak lagi jadi masalah buat saya. Sebuah pengakuan tidak lagi penting untuk saya.

Yang lebih penting adalah kontribusi dan penambahan aset kita sebagai energi potensial kontribusi.

10/17/10

Yang Bahaya itu Diri Kita Sendiri

Saya mengenal istilah "Kontekstualisasi" itu pertama kali dari guru kita, Caknun. Entah apa whole definitionnya, tapi dari itu saya merenung dan merenung, menemukan sebuah pengertian yang mungkin kita semua akan menganggukinya.

Bahwasannya, yang paling berbahaya justru diri kita sendiri. Mengapa? Diri kita berbahaya, karena kita terlalu pandai membuat alasan untuk mengkontekskan apa yang ingin kita pilih untuk lakukan. Ketika ingin memilih jadi pengusaha, ada sejuta dalil untuk menjelek2kan karyawan. Ketika ingin jadi karyawan, ada semilyar pasal untuk membela diri bahwa karyawan itu tidak jelek.

Ketika ingin memilih jadi orang kaya, ada setriliun postulat untuk menjelaskan bahwa menjadi kaya itu baik. Begitu juga atas pilihan kita untuk utang atau tidak utang ke Bank, untuk membeli smartphone atau cukup stupidphone, memilih mengejar IPK atau cukup hanya lulus, memilih membuat kartu kuning atau kartu merah, memilih menikah dini atau menikah nanti-nanti saja, memilih ini dan itu.

Boleh saja tumpukan alasan itu kita lontarkan ke orang lain, tapi sebaiknya jangan aniaya diri dengan beralasan pada diri sendiri. Kalau memang pilihan itu diambil karena kepepet, karena terpaksa atau bahkan karena nafsu, boleh sembunyikan itu pada orang lain, tapi pastikan kita beralasan yang sejujurnya kepada diri kita.

Sekali lagi, jangan banggakan alasan yang kita buat untuk mendukung pilihan yang kita inginkan. Jangan menjebak diri sendiri, jangan memasung nasib kita sendiri.

Berpikirlan siklikal, tidak selalu yang ada alasan baik dibaliknya itu adalah pilihan baik pula. Karena kita terlalu pandai membuat alasan yang dipas-paskan dengan hasrat, nafsu, libibo kita. *menurut saya note pendek ini benar-benar penting, kalau belum paham membacanya, ulangi 2X lagi*

10/16/10

Avanza Plat Merah

Tepat 5 meter sebelum bakul bensin eceran di pertigaan MT Haryono utara, bensin motor habis. "Hil, ada Pak Camat", ucap saya sambil nuntun motor mendekati warung bensin. "Camat Sopo?", tanyanya.

Dan kamipun berbincang-bincang sambil berdiri di pinggir jalan. Begitulah cara kami dipertemukan dengan Pak Abdul Kudus, teman EU yang sekarang jadi Camat di Kecamatan saya dan sedang menemani istrinya menggunakan Avanza Plat Merahnya. Pas bensin sat, pas ada bakul bensin, pas ada pak Camat.

10/5/10

Dibonsai oleh Instruksi

Orang hebat sering menunggu waktu free, waktu menganggur, karena di waktu kosong itu dia bisa mengeksplorasi dirinya dan membuat reka-cipta daya-karya yang baru, yang menantang dan yang memberi manfaat.

Tapi tidak dengan sarjanawan dan diplomawati kebanyakan di Indonesia. Menganggur adalah masa yang menyiksa, menganggur adalah saatnya lamar sana lamar sini berharap dapat pekerjaan. Saya tahu, walau mereka yang melakukan malah sendirinya justru tidak tahu. Tahu bahwa sebenarnya yang mereka cari atas pekerjaan itu bukanlah serta merta uang. Lalu? Apa yang mereka cari? Yang mereka cari adalah instruksi.

6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan 5 tahun di kampus atau total 17 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membonsai keberanian, gagasan, inovasi, daya-cipta, kemampuan reka-karya yang ada dalam setiap diri manusia. Tragis sekali, memilukan sekali. Yang lebih memilukan, mereka yang mengalaminya justru tidak menyadarinya.

Saya berbelasungkawa atas itu. Atas orang yang bingung mau ngapain ketika menganggur, bukannya mencari ke dalam diri, tetapi kursus disana-sini, ngikut disana-sini, ngelamar disana-sini berharap mendapat instruksi "ini saya mesti ngapain?".

Tapi tetap saya memberikan apresiasi tinggi, kepada mereka yang kursus untuk mempertajam potensi diri, yang ngikut orang untuk menduplikasi benih-benih keberhasilan dan yang melamar sana-sini untuk mendedikasikan potensi. BUKAN untuk mengemis instruksi dan sekedar menyadong rejeki.

Sebentar lagi jadi CPNS

Bersamaan dengan tepat 5 tahunnya saya mencanangkan diri sebagai manusia entrepeneur, maka besok Desember saya akan melaksanakan wisuda atau tepatnya mewisuda diri sendiri dari kampus bisnis yang saya buat sendiri. Dulu, 13 Desember adalah awal masuk ke kampus bisnis itu, Studium Generalnya oleh Zainal Abidin dan Supardi Lee.

Dan kali ini, tinggal merampungkan proyek skripsi saya yang mudah-mudahan Desember sudah kelar. Saya ambil judul skripsi PNC, doakan lancar ya.

Dan layaknya kehidupan manusia pada umumnya, setelah lulus dari kampus, maka saya tinggal memasuki fase CPNS, apa itu CPNS? CPNS adalah Calon Pengusaha Nasional Sukses. Ya, tidak bisa langsung jadi PNS lah. berarti mulai 13 Desember besok, saya tidak lagi belajar toq, tidak lagi dolanan tok dalam urusan bisnis, karena saya sudah lulus.

Masa CPNS sendiri saya perkirakan mungkin sekitar 8 bulanan hingga saya menyelesaikan PTA saya di Akatel. Kemudian, barulah saya prajabatan, prajabatan mungkin berlangsung satu atau dua minggu saja, saya si berharap mudah-mudahan prajabatan saya kebagian tempat di Madinah sana.

Dan setelah itu tidak lagi magang, tidak lagi training, saya sudah benar-benar jadi PNS alias Penguasa Nasional Sukses.

Saya optimis bisa mencapainya kok. Apalagi kalau saya ingat pengalaman masa lalu, awal masuk kampus bisnis yang saya buat sendiri, yang saya jadi dosen sekaligus rektor sekaligus mahasiswanya sendiri itu saya mengikuti masa orientasi menjajakan air minum kemasan di Stasiun Lenteng Agung, memasarkan gantungan kunci di IPB dan mengasong snack di Pasar Bogor.

Dengan terus mendatangkan dosen-dosen terbang dari orang-orang terbaik di dunia bisnis, masuk semester kedua saya dan rekan-rekan membuat satu bangun usaha pertama berbasis investasi, nama usaha waktu itu Slash Point Pinmaker yang saat ini sudah berkembang menjadi SPC.

Tepat setahun saya kuliah di kampus bisnis itu, tepatnya 12 Desember, saya membuat media massa sendiri bernama Koran Dinding, sebuah koran iklan fenomenal pertama yang dipasang di dinding dan terbit hingga 2 tahun, jarang-jarang koran iklan lokal bertahan bahkan hanya sampai 1 tahun loh.

Pasca UTS semester 3 di kampus bisnis itu saya dan tim mendirikan lembaga pelatihan pelajar pertama di Purwokerto yang kemudian dikenal dengan SDTC. Pada tahun ketiga kuliah saya, saya bergabung dengan banyak komunitas, diantaranya adalah EU buatan Purdi E Chandra dan bermitra dengan banyak tokoh-tokoh public lokal maupun nasional.

Hingga di awal semester ke delapan saya mendirikan Warnet dan tidak lama berselang saya mulai terjun ke dunia kuliner. Sampai saat ini kaki bisnis saya, saya kerucutkan menjadi 4 saja, IT, Publishing, Training Center dan Kuliner.

Dan semua itu hanyalah praktikum-praktikum dalam siklus pembelajaran saya di kampus bisnis yang saya buat dan saya miliki sendiri. Ada keuntungan, ada juga kerugian. Dapat uang, tetapi juga banyak keluar uang. Ya, seperti kuliah konvensional saja, keluar uang banyak sampai puluhan juta, tapi tidak pernah menuntut kampus mengembalikannya.

Demikian pula saya, keluar uang banyak untuk menutup utang, rugi-rugi dan operasional yang belum balance, tapi saya tidak menggerutuinya, wong itu biaya yang memang wajib saya bayar untuk ilmu-ilmu yang saya pelajari. Toh pada saatnya Desember nanti, saya diwisuda juga, saya si berharap orang tua bisa datang nanti pas Wisuda, begitu juga pejabat negara bisa memberikan ucapan selamat, ya minimal Pak Bupati lah. Doakan ya...

Dan atas track record dan antusiasme pembelajaran saya selama kurun 10 semester, senat kampus menganugerahi saya predikat Summa Cumlaude. Wah senang sekali?

Loh kok bisa dapat predikat sebagus itu? Ya bisa-bisa saja, wong ketua senatnya ya saya sendiri. Dan nanti juga yang mencetak ijazahnya saya sendiri juga, yang memajang juga saya sendiri. Suksesnya ya saya peroleh sendiri, tapi si saya terus niatkan untuk selalu bagi-bagi.

10/3/10

Identiknya Bisnis

Identiknya bisnis itu dengan sportivitas, kejantanan, keterbukaan, ketegasan, kecemerlangan. Bukan dengan colong-colongan, serobot-serobotan, salip-salipan apalagi sabotase-sabotasean. Untuk yang sedang membangun bisnis, semoga dimudahkan urusannya.

Seperti yang pernah saya tulis di status, berdoa mohon kemudahan itu beda dengan berdoa mohon yang mudah-mudah saja. Setiap kita pasti menghendaki pribadi kita meningkat, pribadi menjadi meningkat karena diberikan ujian/masalah yang lebih, nah sekalipun ujian dan masalah yang datang bertambah besarnya, semoga setiap itu pula senantiasa diiringi kemudahan menyelesaikannya.

Berbeda bukan, dengan doa minta masalah yang mudah-mudah tok saja?