Apa itu BMS? Bina Cipta Sejahtera. boleh... Apa itu BMS? Banyumas. Boleh. Terserah kau artikan apa, seperti halnya terserah kau artikan SDI, Semangat Donk Indonesia, Semangat Doang Indonesia atau Semangat Dong-Dongan Indonesia, mau keluar darinya, atau lainnya mau menginjak-injak, lainnya mau nguri-uri lagi, lainnya lagi tetap membantu semampunya, dan kalau aku mau delete saja itu. Tapi nanti, kalau sudah lunas utang-utang materialnya 100%, karena saya seorang yang (sedang belajar) tanggung jawab.
Sudahlah.. BMS itu Buletin Macapat Syafaat, itu yang saya maksud dalam note ini. Bagus, keren, apik, walau cuma HVS 2 warna. Kali ini saya ingin kutipkan halaman tengah Edisi 29 (17 Nov 2010) : "Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, maka buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna dan nyawa tidak melayang, itu adalah kebaikan, sementara yang sebaliknya adalah keburukan, maka berhentilah memprotes Tuhan karena toh Tuhan tidak berlaku dalam skala berpikirmu..."
Sama-sama sinau.
11/30/10
Tidak Usah Cemas jadi Orang Indonesia
Gosipnya, mulai tanggal 1 Januari 2011 nanti BBM bersubsidi dilarang dipakai untuk kendaraan tahun 2005 ke atas. BBM jadi mahal. Kita cemas dengan hal itu? Sebagian besar dari kita pasti mengatakan "Iya, saya cemas". Cemas boleh, tapi jangan berlebihan, karena sesungguhnya ada yang lebih cemas dari kita. Siapa mereka yang lebih cemas dari kita atas pemberlakuan aturan itu? Mereka adalah perusahaan-perusahaan penjualan mobil, mereka sangat perhatian pada kita, cemas kalau-kalau kita tidak bisa menggunakan mobil hanya karena tidak bisa mengisi bahan bakar.
Begitu juga ketika kondisi politik memanas, perlukah kita cemas akan ada kerusuhan disana-sini yang membuat mall dan pasar tutup? Tidak perlu kita cemas, karena ada orang yang begitu perhatian dan mencemaskan kita, siapa mereka? Perusahaan asing yang sudah kadung mengirim produk-produknya untuk dijuali di sini.
Back up kita cukup kuat, sehingga tak perlu cemas kalau Malaysia menabuh genderang perang. Negara-negara maju yang mengirimkan produk mobilnya hingga membuat banjir asap negeri ini akan ada digaris depan, cemas kalau-kalau calon pembeli yang notabennya adalah rakyat Indonesia tidak aman dan menunda membeli mobil.
Praktek apa ini? Ya praktek pengamanan untuk Indonesia, Indonesia dilindungi oleh seluruh dunia, sehingga bencana harus cepat pulih, karena kalau berlama-lama, produk2 mereka di supermarket area bencana akan mubazir.
Sesungguhnya praktek semacam itu bukanlah hal baru, itu sudah berlangsung sejak zaman Soekarno masih bertahta. Sayangnya Soekarno tidak pro kepada mereka, Soekarno lebih berterima kasih kepada Blok Timur yang memberi tanpa pamrih, menyumbang tanpa iming-iming, berhibah tanpa pikir panjang.
Ketidaksukaan Soekarno pada niat baik negara-negara Blok Barat yang dipimpin oleh yang kita agungkan bersama sang Amerika Serikat membuat mereka geram. Geram karena niat baik mereka melayani Indonesia tidak bisa dilakukan secara mulus, Soekarno terlalu cerdas untuk dibodohi.
Maka, melalui CIA disusunlah berbagai propaganda revolusi Indonesia, revolusi untuk mewujudkan Indonesia yang leluasa untuk dilayani. Dan goro-goro nya adalah peristiwa G30S/PKI, satu tonggak perubahan besar sebuah bangsa yang tidak pernah serius untuk ditelusuri kebenaran atas fakta-faktanya.
Tidak ada tindak lanjut setelah jenazah A.Yani divisum dan tidak ditemukan adanya bekas tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya. Tidak tergerak untuk menseriusi investigasi ketika jutaan set tulang belulang ditemukan di daerah Jawa Timur.
Guru sejarah tidak sungguh-sungguh dibantu untuk dapat menjelaskan, kalaulah G30S/PKI adalah sebuah pemberontakan besar, kenapa semudah itu dipatahkan. Siapakah yang mematahkan? Sehebat itukah? Atau ia sekedar tukang tambal ban yang menyebar sendiri paku yang akhirnya menempel di ban kendaraan yang dia tambal itu?
Dari mobil-mobil yang terus lestari di jalanan negeri ini, bertambah pesat tiap tahunnya, terproteksi kemampuan beli penduduknya, hingga kejanggalan-kejanggalan dibalik proses massal antipatiisme kepada PKI, akan terunut, di tangan siapakah kedaulatan negeri ini dipegang?
Begitu juga ketika kondisi politik memanas, perlukah kita cemas akan ada kerusuhan disana-sini yang membuat mall dan pasar tutup? Tidak perlu kita cemas, karena ada orang yang begitu perhatian dan mencemaskan kita, siapa mereka? Perusahaan asing yang sudah kadung mengirim produk-produknya untuk dijuali di sini.
Back up kita cukup kuat, sehingga tak perlu cemas kalau Malaysia menabuh genderang perang. Negara-negara maju yang mengirimkan produk mobilnya hingga membuat banjir asap negeri ini akan ada digaris depan, cemas kalau-kalau calon pembeli yang notabennya adalah rakyat Indonesia tidak aman dan menunda membeli mobil.
Praktek apa ini? Ya praktek pengamanan untuk Indonesia, Indonesia dilindungi oleh seluruh dunia, sehingga bencana harus cepat pulih, karena kalau berlama-lama, produk2 mereka di supermarket area bencana akan mubazir.
Sesungguhnya praktek semacam itu bukanlah hal baru, itu sudah berlangsung sejak zaman Soekarno masih bertahta. Sayangnya Soekarno tidak pro kepada mereka, Soekarno lebih berterima kasih kepada Blok Timur yang memberi tanpa pamrih, menyumbang tanpa iming-iming, berhibah tanpa pikir panjang.
Ketidaksukaan Soekarno pada niat baik negara-negara Blok Barat yang dipimpin oleh yang kita agungkan bersama sang Amerika Serikat membuat mereka geram. Geram karena niat baik mereka melayani Indonesia tidak bisa dilakukan secara mulus, Soekarno terlalu cerdas untuk dibodohi.
Maka, melalui CIA disusunlah berbagai propaganda revolusi Indonesia, revolusi untuk mewujudkan Indonesia yang leluasa untuk dilayani. Dan goro-goro nya adalah peristiwa G30S/PKI, satu tonggak perubahan besar sebuah bangsa yang tidak pernah serius untuk ditelusuri kebenaran atas fakta-faktanya.
Tidak ada tindak lanjut setelah jenazah A.Yani divisum dan tidak ditemukan adanya bekas tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya. Tidak tergerak untuk menseriusi investigasi ketika jutaan set tulang belulang ditemukan di daerah Jawa Timur.
Guru sejarah tidak sungguh-sungguh dibantu untuk dapat menjelaskan, kalaulah G30S/PKI adalah sebuah pemberontakan besar, kenapa semudah itu dipatahkan. Siapakah yang mematahkan? Sehebat itukah? Atau ia sekedar tukang tambal ban yang menyebar sendiri paku yang akhirnya menempel di ban kendaraan yang dia tambal itu?
Dari mobil-mobil yang terus lestari di jalanan negeri ini, bertambah pesat tiap tahunnya, terproteksi kemampuan beli penduduknya, hingga kejanggalan-kejanggalan dibalik proses massal antipatiisme kepada PKI, akan terunut, di tangan siapakah kedaulatan negeri ini dipegang?
11/29/10
Tarekat Bisnis
Jalan bisnis kita ini masih jalan pencarian, jalannya orang-orang bertarekat. Karena itu, janganlah kita dicapekkan oleh pilihan-pilihan bentuk bisnis. Nikmati saja perjalanan kita ini, perjananan pencarian makna-makna. Bahwa tidak sekedar pengetahuan atas kualitas mesin offset yang kita tahu saat waktu kita habis tersita bertarekat di bisnis percetakan. Bukan juga sekedar harga-harga melon antar pasar yang kita kuasai saat mayeng-mayeng kita menjalankan usaha minuman buah lumat (jus).
Barulah setelah perjalanan itu tercukupi, kita akan masuk tingkatan diatas tarekat, yakni hakekat. Barulah saat itu ketika anak, cucu, tetangga dan murid-murid kita bertanya tentang bisnis, kita bisa menjelaskan : "Hakekatnya, bisnis itu adalah..."
Coba kalau sekarang, bisa menjawab tidak pertanyaan itu? Haha, paling juga jawaban yang mengada-ada saja. Selamat bertarekat.
Barulah setelah perjalanan itu tercukupi, kita akan masuk tingkatan diatas tarekat, yakni hakekat. Barulah saat itu ketika anak, cucu, tetangga dan murid-murid kita bertanya tentang bisnis, kita bisa menjelaskan : "Hakekatnya, bisnis itu adalah..."
Coba kalau sekarang, bisa menjawab tidak pertanyaan itu? Haha, paling juga jawaban yang mengada-ada saja. Selamat bertarekat.
11/26/10
Lima Follow Up TMoE
Lima langkah nyata setelah membaca buku The Miracle of Enzyme (TMoE). Saya mencoba menjadi seorang :
1. AQuers
Galon L22 dari merk *%&##*^& berganti jadi AQua.
2. Juice Seller
Agar bisa makan buah banyak-banyak, solusinya adalah dengan jualan jus.
3. Sop Hunter
Suka mencari & makan sop, lebih segar.
4. Shoimer/Puasaer
Puasa harus terus diistiqomahkan, agar cadangan Enzym Pangkal lebih irit terpakainya, jadi pas tua cadangan Enzym Pangkal masih banyak, jadi pertahanan diri terhadap penyakit masih kuat.
5. Anti-Susuer
Meminimalisir konsumsi susu.
1. AQuers
Galon L22 dari merk *%&##*^& berganti jadi AQua.
2. Juice Seller
Agar bisa makan buah banyak-banyak, solusinya adalah dengan jualan jus.
3. Sop Hunter
Suka mencari & makan sop, lebih segar.
4. Shoimer/Puasaer
Puasa harus terus diistiqomahkan, agar cadangan Enzym Pangkal lebih irit terpakainya, jadi pas tua cadangan Enzym Pangkal masih banyak, jadi pertahanan diri terhadap penyakit masih kuat.
5. Anti-Susuer
Meminimalisir konsumsi susu.
![]() |
| Foto Dr, dr. Hiromi, orang yang bolak balik dari Jepang ke Amerika seperti pergi ke jamban saja |
Inspirasiana
Inspirasiana, nama apakah itu? Ya, ada lah. Nanti kalau sudah waktunya juga tahu. Hm, saya suka sekali dengan nama ini, manggua bisa dipakai untuk nama orang, anak saya akan saya namai dengan nama ini. Tapi ya saya masih jalan lah pikirannya, mosok nama macam ini dikasihkan buat nama orang.
Daripada saya menyalahkan si A, si B atau menyalahkan semua orang, atau bingung menyalahkan siapa, paling aman memang menyalahkan diri sendiri kalau mengingat masa-masa dimana diri saya ini masih berguna dulu. Berguna untuk mengenalkan Indonesia Emas ke anak-anak pinggiran yang tidak menjangkau untuk bayar 550.000 jamuan 2 hari di kota-kota, berguna untuk mengenalkan otak kanan dan segala kehebatannya, menuliskan kisah-kisah orang-orang yang menggelorakan dunia yang ternyata merekapun terlahir dari kalangan pinggiran.
Semoga dengan nama yang ada di judul note ini, saya bisa berguna lagi. Karena, berguna itu menyenangkan. Trenyuh saya diterimakasihi orang yang saya pikir saya nggak ngasih apa-apa kok. Ngilu rasanya orang kayak saya kok mau direportasei tentang kontribusi sosial.
Betul kok kata teman-teman saya, saya ini matre, ambisius malah ada yang bilang otoriter. Huakwakwak, sayangnya saya belum membuka lagi kamus untuk menemukan apa si arti otoriter itu. Sudahlah, sakit hati mungkin masih tersisa, tapi mending sakit hati itu saya arahkan ke diri sendiri saja, biar jadi cambuk perbaikan. Saya ingin berguna lagi dengan kendaraan bernama Inspirasiana, semoga.
Saya bahagia bisa berkontribusi membuat maju orang lain, walau hanya dengan sebait inspirasi.
* Diketik dengan suara latar Lir-Ilir Kiai Kanjeng khas MCB yang selalu menambatkan hati saya ke Patrajasa,
Daripada saya menyalahkan si A, si B atau menyalahkan semua orang, atau bingung menyalahkan siapa, paling aman memang menyalahkan diri sendiri kalau mengingat masa-masa dimana diri saya ini masih berguna dulu. Berguna untuk mengenalkan Indonesia Emas ke anak-anak pinggiran yang tidak menjangkau untuk bayar 550.000 jamuan 2 hari di kota-kota, berguna untuk mengenalkan otak kanan dan segala kehebatannya, menuliskan kisah-kisah orang-orang yang menggelorakan dunia yang ternyata merekapun terlahir dari kalangan pinggiran.
Semoga dengan nama yang ada di judul note ini, saya bisa berguna lagi. Karena, berguna itu menyenangkan. Trenyuh saya diterimakasihi orang yang saya pikir saya nggak ngasih apa-apa kok. Ngilu rasanya orang kayak saya kok mau direportasei tentang kontribusi sosial.
Betul kok kata teman-teman saya, saya ini matre, ambisius malah ada yang bilang otoriter. Huakwakwak, sayangnya saya belum membuka lagi kamus untuk menemukan apa si arti otoriter itu. Sudahlah, sakit hati mungkin masih tersisa, tapi mending sakit hati itu saya arahkan ke diri sendiri saja, biar jadi cambuk perbaikan. Saya ingin berguna lagi dengan kendaraan bernama Inspirasiana, semoga.
Saya bahagia bisa berkontribusi membuat maju orang lain, walau hanya dengan sebait inspirasi.
* Diketik dengan suara latar Lir-Ilir Kiai Kanjeng khas MCB yang selalu menambatkan hati saya ke Patrajasa,
Optimasi Dua Receiver Diri
Rizky yang penuntut, tukang prentah-prentah dan sapiturute adalah Rizky dengan komposisi sel-sel tubuh ratusan hari yang lalu yang sudah mati. Sel-sel tubuh saya yang waktu itu sudah tidak bersisa lagi, sudah mati semua, jadi tidak alasan sel-sel yang baru yang menyusun tubuh saya saat ini harus mewarisinya, setidaknya, kalau mewarisi ya tidak lagi mau banyak-banyak.
Perjalanan saya melangkah ke Gramedia menemui Renald Kasali walau dalam bentuk kotak persegi panjang yang disebut orang sebagai buku, cukup menginspirasi saya, karena di dunia luar, kupasan buku itulah yang sedang saya gumuli : tangible dan intangible aset.
kalau uang itu tangible, sikap mental itu intangible. Begitu lah kira-kira, definisi ilmiahnya silahkan cari sendiri, ini bukan note ilmiah.
Yang jelas, saya bersyukur atas pertambahan intangible aset dalam diri saya, hingga saya sekarang lebih ayem dalam berpartner dengan siapapun, dengan orang tipe apapun, semua partner saya saat ini tidak ada yang membuat saya jengkel, maras apalagi miris.
Kok bisa? Ya, karena saya sadar, pasti akan selalu ada irisan pergesekan dalam bekerja sama. Sedangkan tidak ada skema kehidupan di track manapun yang kita tidak membutuhkan kerjasama. Jadi saya lebih pilih membangun kedalam diri saja, memasang receiver atau alat penerima di dalam diri sendiri. Bukan cuma satu, tapi dua sekaligus. Dan sekarang sudah terbangun, tinggal terus dioptimasi.
Apa receiver itu? Alat penerima pertama adalah perangkat yang fungsinya untuk menerima, menerima kalau suatu saat mendadak partner kerjasama saya tidak bisa menunaikan kewajiban yang sudah diiyakannya, sudah dikomitmennya, sudah digembor2kannya. Sepanjang saya bisa handle ya saya ambil alih. Disinilah saya dituntut luwes mengamalkan amalan harian yang saya sakui kemana saya pergi, bernama To Do List.
Alat penerima kedua adalah perangkat yang fungsinya juga untuk menerima, menerima kalau-kalau ternyata saya tidak bisa menghandle ambil alih keterbengkalaian pekerjaan partner, ya saya menerima kalau tidak ada hasil hari itu. Receiver yang kedua ini juga berfungsi untuk menerima kalau saya sudah pool usaha, tapi kok rugi atau meleset hasilnya dari yang diprediksikan. Merk perangkat kedua ini saya baca di kemasannya bernama : Qonaah.
Karena kan yang kita kejar bukan hasil, tapi proses. Kalau sudah optimal proses, sudah berusaha dalam batas2 kecerdasan-aktivitas kita, ya sudah, itulah puncak keberhasilan kita berproses.
Perjalanan saya melangkah ke Gramedia menemui Renald Kasali walau dalam bentuk kotak persegi panjang yang disebut orang sebagai buku, cukup menginspirasi saya, karena di dunia luar, kupasan buku itulah yang sedang saya gumuli : tangible dan intangible aset.
kalau uang itu tangible, sikap mental itu intangible. Begitu lah kira-kira, definisi ilmiahnya silahkan cari sendiri, ini bukan note ilmiah.
Yang jelas, saya bersyukur atas pertambahan intangible aset dalam diri saya, hingga saya sekarang lebih ayem dalam berpartner dengan siapapun, dengan orang tipe apapun, semua partner saya saat ini tidak ada yang membuat saya jengkel, maras apalagi miris.
Kok bisa? Ya, karena saya sadar, pasti akan selalu ada irisan pergesekan dalam bekerja sama. Sedangkan tidak ada skema kehidupan di track manapun yang kita tidak membutuhkan kerjasama. Jadi saya lebih pilih membangun kedalam diri saja, memasang receiver atau alat penerima di dalam diri sendiri. Bukan cuma satu, tapi dua sekaligus. Dan sekarang sudah terbangun, tinggal terus dioptimasi.
Apa receiver itu? Alat penerima pertama adalah perangkat yang fungsinya untuk menerima, menerima kalau suatu saat mendadak partner kerjasama saya tidak bisa menunaikan kewajiban yang sudah diiyakannya, sudah dikomitmennya, sudah digembor2kannya. Sepanjang saya bisa handle ya saya ambil alih. Disinilah saya dituntut luwes mengamalkan amalan harian yang saya sakui kemana saya pergi, bernama To Do List.
Alat penerima kedua adalah perangkat yang fungsinya juga untuk menerima, menerima kalau-kalau ternyata saya tidak bisa menghandle ambil alih keterbengkalaian pekerjaan partner, ya saya menerima kalau tidak ada hasil hari itu. Receiver yang kedua ini juga berfungsi untuk menerima kalau saya sudah pool usaha, tapi kok rugi atau meleset hasilnya dari yang diprediksikan. Merk perangkat kedua ini saya baca di kemasannya bernama : Qonaah.
Karena kan yang kita kejar bukan hasil, tapi proses. Kalau sudah optimal proses, sudah berusaha dalam batas2 kecerdasan-aktivitas kita, ya sudah, itulah puncak keberhasilan kita berproses.
Satu Hari Satu Apel
Dari sebuah tayangan tentang Apel di TV nya Chairul Tanjung waktu itu, saya tahu mengkonsumsi apel walau hanya 1 buah perhari tetapi dilakukan berulang-ulang setiap hari akan memberi dampak baik bagi kesehatan fisik.
Hm, karena ini bukan note kesehatan, jadi silahkan search sendiri saja manfaat apel yang dikupas di Trans 7 itu. Tapi memang benar adanya, makanan menjadi berdampak baik ataupun jelek itu bukan atas sesekali dimakan saja, tetapi hasil simultan, perulangan akibat kebiasaan.
Jadi, tidak bisa makan apel satu njur langsung sehat prima, begitu juga makan tahu brontak jumbo pedas njur langsung sakit jantung. Sekali lagi, semua berefek bila simultan memakannya.
Kembali ke topik awal, seusai nonton tayangan di Trans 7 itu, saya langsung terbakar untuk menggegaskan kaki menuju warung buah. Sehari, dua hari bisa, tapi setelah berhari-hari jadi mikir, ini kok tiap hari belanja buah terus, habislah duitku. Maka perulangan yang belum menjadi kebiasaanpun itu terhenti, dan hilanglah harapan mendapat manfaat positif istimewa dari kandungan dalam buah apel.
Sampai perjalanan mengantarkan saya pada hari ini, ada kantin namanya Harina, saya boleh memakan apel yang ada disana suka-suka, cukup pas belanja di pasar wage bilang ke bakulnya untuk minta dilebihin satu. Satu hari satu apel saja sudah cukup.
Satu hari satu progres, tapi arahnya simultan. Okey?
Hm, karena ini bukan note kesehatan, jadi silahkan search sendiri saja manfaat apel yang dikupas di Trans 7 itu. Tapi memang benar adanya, makanan menjadi berdampak baik ataupun jelek itu bukan atas sesekali dimakan saja, tetapi hasil simultan, perulangan akibat kebiasaan.
Jadi, tidak bisa makan apel satu njur langsung sehat prima, begitu juga makan tahu brontak jumbo pedas njur langsung sakit jantung. Sekali lagi, semua berefek bila simultan memakannya.
Kembali ke topik awal, seusai nonton tayangan di Trans 7 itu, saya langsung terbakar untuk menggegaskan kaki menuju warung buah. Sehari, dua hari bisa, tapi setelah berhari-hari jadi mikir, ini kok tiap hari belanja buah terus, habislah duitku. Maka perulangan yang belum menjadi kebiasaanpun itu terhenti, dan hilanglah harapan mendapat manfaat positif istimewa dari kandungan dalam buah apel.
Sampai perjalanan mengantarkan saya pada hari ini, ada kantin namanya Harina, saya boleh memakan apel yang ada disana suka-suka, cukup pas belanja di pasar wage bilang ke bakulnya untuk minta dilebihin satu. Satu hari satu apel saja sudah cukup.
Satu hari satu progres, tapi arahnya simultan. Okey?
11/14/10
Ngodor
Waktu saya tersita cukup banyak untuk proyek Wakaf 1000 Kasur ini. Eits, tepatnya, saya sengaja menyita waktu saya banyak-banyak untuk proyek Wakaf 1000 Kasur ini. Karena saya ingin serius kali ini.
Okelah soal menggapai kesuksesan saya, saya mungkin memang tidak pernah serius, makanya banyak orang-orang disekeliling saya meninggalkan saya, makanya sampai sekarang belum silaturahim lagi dengan Mba Aviani untuk menjemput Avanza.
Tapi kali ini saya sungguh miris, Pak SBY datang bayi-bayi dan manula dipinjami kasur sedangkan setelah SBY pulang kasur diambil kembali. Bagi banyak orang mungkin kasur tak sepenting sembako, tak sepenting bra dan celana dalam, tapi tidak bagi saya.
Seminggu saya ikhlaskan badan saya meriang karena tidur tanpa kasur 3 malam berturut-turut di Masjid Daarut Tauhid hingga saya putuskan sewa sleeping bag sampai malam terakhir bermalam disana. Begitupun untuk L22, andai ada rejeki berlebih saya ingin sekali membeli kasur lagi.
Kalau semalam tidur tanpa kasur memang tidak mengapa, tapi bagaimana kalau seminggu, dua minggu. Itulah yang dialami oleh saudara-saudara yang mengungsi disana. Belum lagi yang rumahnya porak poranda, sepulang dari pengungsianpun tidak mendapati ada kasur empuk di dalam rumah mereka sepertihalnya kita kelelalah pulang piknik dan sampai rumah langsung merebahkan badan di ranjang empuk.
Cuma ini sumbangsih yang bisa meringankan beban dalam diri saya karena tidak membantu mereka. Saya ngodor sms berulang-ulang, kirim mesej berulang-ulang, menghabiskan ratusan proposal hardcopy, berharap saya bisa maksimal membantu mereka.
Betul-betul kalau dipikir-pikir saya tidak tau malu sekali, mengundang muwakif kok meksa, ngodor. Tapi bagi saya menahan rasa malu akibat ngodor itu lebih ringan ketimbang menahan beban berdiam diri tidak membantu mereka yang tidur kedinginan tanpa alas layak.
Wahai, siapapun yang membaca blog ini, saya lebih ngodor lagi disini. Tidak peduli Anda sudah menyumbang berapa banyak untuk Merapi, Wasior dan Mentawai, bukan alasan untuk tidak tergerak mewakafkan kasur untuk mereka saudara-saudara kita yang sampai hari ini masih puluhan ribu berhimpun di posko-posko pengungsian.
Karena menyumbang, bukanlah kewajiban, bukan berarti kalau sudah menyumbang gugur kewajiban untuk nyumbang lagi.
Ini nomer rekeningnya : Mandiri 139-00-1056328 a.n. Rizky Dwi Rahmawan
Syukron, jazakalloh atas hati yang menggerakkan tangan menekan keypad ATM-nya.
Okelah soal menggapai kesuksesan saya, saya mungkin memang tidak pernah serius, makanya banyak orang-orang disekeliling saya meninggalkan saya, makanya sampai sekarang belum silaturahim lagi dengan Mba Aviani untuk menjemput Avanza.
Tapi kali ini saya sungguh miris, Pak SBY datang bayi-bayi dan manula dipinjami kasur sedangkan setelah SBY pulang kasur diambil kembali. Bagi banyak orang mungkin kasur tak sepenting sembako, tak sepenting bra dan celana dalam, tapi tidak bagi saya.
Seminggu saya ikhlaskan badan saya meriang karena tidur tanpa kasur 3 malam berturut-turut di Masjid Daarut Tauhid hingga saya putuskan sewa sleeping bag sampai malam terakhir bermalam disana. Begitupun untuk L22, andai ada rejeki berlebih saya ingin sekali membeli kasur lagi.
Kalau semalam tidur tanpa kasur memang tidak mengapa, tapi bagaimana kalau seminggu, dua minggu. Itulah yang dialami oleh saudara-saudara yang mengungsi disana. Belum lagi yang rumahnya porak poranda, sepulang dari pengungsianpun tidak mendapati ada kasur empuk di dalam rumah mereka sepertihalnya kita kelelalah pulang piknik dan sampai rumah langsung merebahkan badan di ranjang empuk.
Cuma ini sumbangsih yang bisa meringankan beban dalam diri saya karena tidak membantu mereka. Saya ngodor sms berulang-ulang, kirim mesej berulang-ulang, menghabiskan ratusan proposal hardcopy, berharap saya bisa maksimal membantu mereka.
Betul-betul kalau dipikir-pikir saya tidak tau malu sekali, mengundang muwakif kok meksa, ngodor. Tapi bagi saya menahan rasa malu akibat ngodor itu lebih ringan ketimbang menahan beban berdiam diri tidak membantu mereka yang tidur kedinginan tanpa alas layak.
Wahai, siapapun yang membaca blog ini, saya lebih ngodor lagi disini. Tidak peduli Anda sudah menyumbang berapa banyak untuk Merapi, Wasior dan Mentawai, bukan alasan untuk tidak tergerak mewakafkan kasur untuk mereka saudara-saudara kita yang sampai hari ini masih puluhan ribu berhimpun di posko-posko pengungsian.
Karena menyumbang, bukanlah kewajiban, bukan berarti kalau sudah menyumbang gugur kewajiban untuk nyumbang lagi.
Ini nomer rekeningnya : Mandiri 139-00-1056328 a.n. Rizky Dwi Rahmawan
Syukron, jazakalloh atas hati yang menggerakkan tangan menekan keypad ATM-nya.
11/11/10
Sahabat Yang Paling Mengerti Anda?
“xxx loh kenapa say? Lagi sedih juga? RT @zzz sama kayak si @xxx donk? RT @yyy lagi sedih :’( ”
“xxx sabar ya.. RT @yyy BENER! Semua emang sama aja! RT @zzz sial! Berani-beraninya nipu gue! ”
Familiar dengan tweet-tweet (yang sudah saya sensor) di atas? Yup! Sengaja saya sensor supaya orang yg nulis ini nggak terlalu ngerasa terpukul, karena menyindir orang tidak akan membuatnya berubah, malah justru akan semakin defensif.. So I write this because I really do care about you ;)
Hampir setiap dari anda semua yang membaca tulisan ini pasti mempunyai sahabat dekat yang anda rasa benar-benar mengerti diri anda. Mereka selalu ada saat dibutuhkan, mendengarkan curhat, mempunyai banyak kesamaan entah dari latar belakang, nasib, kemampuan atau apapun itu, dan selalu menemani kapanpun dimanapun kita berada, well agak berlebihan memang kalau saya bilang selalu menemani.. kalaupun tidak selalu at least cukup sering lah. :)
Namun tahukah anda fakta di balik persahabatan?
Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang sejenis dengan kita. Pemain band ENTAH MENGAPA akan merasa selalu secara kebetulan bertemu dengan sesama pemain band, begitu juga dengan seorang jenius yang merasa selalu bertemu dengan sesama jenius, pesulap dengan pesulap, dan spesies apapun itu, pasti akan bertemu dengan sesamanya. Si cantik dengan si cantik, si NERD berkumpul dengan sesama NERD, si gaul berkumpul dengan sesama anak gaul, dst. So.. kali ini saya pinjamkan mesin waktu yang biasa dipakai Doraemon untuk kembali ke masa lalu demi mengungkap fakta di balik persahabatan.. khusus untuk anda! Sudah siap? LET’S ROCK!!!
Ciuuuuuuuuuuuuuuung……………. *bunyi mesin waktu*
Saat ini mungkin anda sedang mengingat salah satu momen dimana anda pertama kali bertemu dengan sahabat anda. Biasanya sejak pertama kali ngobrol, tiba-tiba saja anda merasa “klik” dengan orang tersebut. Dan entah mengapa anda mulai merasa orang tersebut sangat “cocok” dengan anda. Semenjak hari itu anda semakin banyak menghabiskan waktu dengan sahabat anda tersebut, makan bareng, ngopi bareng, jalan-jalan bareng, atau sekedar kumpul bareng sampai akhirnya anda mulai bertemu dengan orang-orang sejenis lainnya dan hey! “kita harus bikin gank nih!” dan akhirnya terbentuklah sebuah persaudaraan (sisterhood/brotherhood). Good things isn’t it? :)
YES! It’s a good things! And too.. a bad things!
Ketika sudah merasa “cocok” pada umumnya kita akan menganggap bahwa “hanya mereka lah yang mengerti diri kita. Dengan dasar pemikiran tersebut kita semakin terikat dengan “persaudaraan” yang entah sebenarnya membawa dampak baik atau buruk dalam mencapai tujuan hidupnya. Bersyukurlah apabila mereka mendukung tujuan hidup anda. Dan celaka lah apabila keberadaan mereka justru menyeret anda ke dalam lubang kenikmatan! Eh..lubang derita maksudnya..hehe ( ini ngomongin apa ya? 3:D )
Ok..cukup mesumnya.. so apabila lingkungan tersebut semakin mendekatkan anda pada tujuan hidup anda, anda WAJIB melanjutkan kiprah anda dalam gank tersebut. Namun persaudaraan tersebut tidak membawa anda kemana-mana dan hanya jalan di tempat, bahkan meskipun kelihatannya anda sedang “bergerak”, maka bersiaplah untuk meninggalkan lingkungan tersebut dan memasuki lingkungan baru.
Anda semua PASTI sudah tahu bahwa pergaulan anda sangat mempengaruhi pencapaian hidup anda. Dan maka dari itulah banyak orang besar, buku, motivator, ataupun terapis menyarankan untuk bergaul dengan orang-orang yang mendukung perkembangan diri anda. Namun anda tahu persis bahwa itu semua tidak semudah yang anda pikirkan bukan? :)
Ketika memasuki lingkungan baru anda merasa tidak nyaman. Rasanya lingkungan baru tersebut tidak benar-benar mengerti diri anda, yang akhirnya membawa anda kembali pada kesimpulan bahwa memang gank anda yang terdahulu lah yang PALING mengerti anda. Dan sayangnya mereka yang justru paling mengerti anda malah tidak bisa membawa anda menuju arti hidup yang anda cari selama ini!
Beberapa dari mereka yang benar-benar berkomitmen untuk berhasil biasanya tidak akan berhenti begitu saja. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk bisa mencapai tujuan mereka. Setelah membaca begitu banyak referensi, mengikuti seminar motivasi, dan masih banyak ide gila lain yang bahkan saya pun tidak terpikir, mereka pun mendapati bahwa rasa tidak nyaman tersebut memang muncul secara wajar karena mereka sedang keluar dari “zona nyaman” mereka. Namun tetap saja informasi tentang “zona nyaman” ini tetap tidak berarti signifikan dalam praktek pergaulan mereka.
Mengapa demikian? Karena konsep “keluar dari zona nyaman” membuat anda berpikir bahwa anda sedang berusaha “keluar” dari diri anda “yang sebenarnya”, sedangkan biasanya kita lebih sering menerima quote indah tentang “jadilah diri sendiri”.
Jadi apakah yang sebenarnya terjadi?
Faktanya adalah: mereka TIDAK benar-benar sejenis dengan anda!
Faktanya adalah: tidak ada kawan sejati (ataupun lawan sejati) yang ada hanyalah pergeseran kepentingan. situasi sangat menentukan hubungan anda, kawan bisa menjadi lawan secara tak terduga, begtu sebaliknya.
Faktanya adalah: karena hanya dengan mereka lah anda merasa diri anda diterima! In other words: hanya merekalah yang bersedia menerima diri anda!
Faktanya adalah: anda merasa demikian karena anda terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka!
Faktanya adalah: dan semakin sering anda menghabiskan waktu dengan mereka, mau tidak mau anda harus menerima belief mereka, idealisme mereka..
Faktanya adalah: karena jika anda tidak mengikuti belief mereka maka anda akan “dikucilkan” baik secara terang-terangan maupun ala perang dingin.
Faktanya adalah: dan itu artinya anda tidak lagi diterima, and it hurts your EGO!
Faktanya adalah: dan anda tidak tahu lagi harus kemana lagi supaya bisa diterima
Faktanya adalah: ketika memasuki lingkungan baru anda belum bisa beradaptasi sehingga anda merasa “berbeda”
Jadi PROSES yang terjadi SEBENARNYA adalah anda sedang menyamakan frekuensi diri anda dengan perkumpulan anda saat ini. Yang tadinya sebenarnya berbeda jadi tampak sama. Awalnya mungkin memang benar anda memiliki kesamaan, namun apabila selanjutnya anda merasa kalian benar-benar sama, yang terjadi adalah: anda menyama-nyamakan diri dengan mereka tanpa anda sadari, sehingga akhirnya anda menjadi benar-benar seperti mereka.
Dan KABAR BAIKnya adalah:
* Anda bisa cocok dengan siapa saja
* Anda cukup menghabiskan banyak waktu dengan lingkungan baru anda untuk menyamakan frekuensi anda dengan mereka sehingga merasa “klik”
Masih merasa kesulitan? Biasanya kendala sebenarnya bukan masalah tidak terbiasa, namun karena : ANDA TAKUT MELAKUKAN KESALAHAN!
Ya, anda ingin terlihat sempurna di depan lingkungan baru anda.. anda ingin membentuk image baru anda.. inilah yang sebenarnya membuat anda merasa “berbeda”. Anda terlalu takut melakukan TRIAL & ERROR.
Keputusan memang berada penuh di tangan anda, apakah anda bersedia benar-benar belajar & meningkatkan diri atau sekedar menjaga ego anda.
Sekali lagi, lihatlah sekeliling anda? apabila komunitas anda loser, maka jangan heran jika anda pun seorang loser.. dan lihatlah teman anda yang menurut anda keren.. dan perhatikan komunitasnya.. Apakah saat ini anda masih merasa cuma gank anda saja yang mengerti diri anda?
So mulai sekarang jangan takut untuk meninggalkan komunitas lama anda yang tidak mendukung dan hanya bisa menjatuhkan anda! Anda tidak perlu khawatir dikucilkan, karena setelah anda meninggalkan mereka, mereka yang justru akan mengikuti anda, maju bersama anda, selama anda tidak terlalu banyak mulut & TIDAK MERENDAHKAN MEREKA dan tentunya memang menunjukkan hasil yang signifikan.
Stop mengikuti teman-teman anda yang bisanya hanya mengeluh, merendahkan orang, memberi label seenaknya semacam “semua co/ce sama saja!”…itu hanya masalah mereka, bukan masalah anda, dan jangan sok membantu apabila anda belum memiliki kemampuan tersebut anda hanya akan membuang kehidupan anda yang berharga dengan menjadi dukun curhat.
Keep this simple then: komunitas anda menentukan kepribadian anda!
I know it sounds cruel, but you’ve proven it! You experience it yourself! So you know it’s damn true!
***
Copas dari artikel dengan judul yang sama di sini.
“xxx sabar ya.. RT @yyy BENER! Semua emang sama aja! RT @zzz sial! Berani-beraninya nipu gue! ”
Familiar dengan tweet-tweet (yang sudah saya sensor) di atas? Yup! Sengaja saya sensor supaya orang yg nulis ini nggak terlalu ngerasa terpukul, karena menyindir orang tidak akan membuatnya berubah, malah justru akan semakin defensif.. So I write this because I really do care about you ;)
Hampir setiap dari anda semua yang membaca tulisan ini pasti mempunyai sahabat dekat yang anda rasa benar-benar mengerti diri anda. Mereka selalu ada saat dibutuhkan, mendengarkan curhat, mempunyai banyak kesamaan entah dari latar belakang, nasib, kemampuan atau apapun itu, dan selalu menemani kapanpun dimanapun kita berada, well agak berlebihan memang kalau saya bilang selalu menemani.. kalaupun tidak selalu at least cukup sering lah. :)
Namun tahukah anda fakta di balik persahabatan?
Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang sejenis dengan kita. Pemain band ENTAH MENGAPA akan merasa selalu secara kebetulan bertemu dengan sesama pemain band, begitu juga dengan seorang jenius yang merasa selalu bertemu dengan sesama jenius, pesulap dengan pesulap, dan spesies apapun itu, pasti akan bertemu dengan sesamanya. Si cantik dengan si cantik, si NERD berkumpul dengan sesama NERD, si gaul berkumpul dengan sesama anak gaul, dst. So.. kali ini saya pinjamkan mesin waktu yang biasa dipakai Doraemon untuk kembali ke masa lalu demi mengungkap fakta di balik persahabatan.. khusus untuk anda! Sudah siap? LET’S ROCK!!!
Ciuuuuuuuuuuuuuuung……………. *bunyi mesin waktu*
Saat ini mungkin anda sedang mengingat salah satu momen dimana anda pertama kali bertemu dengan sahabat anda. Biasanya sejak pertama kali ngobrol, tiba-tiba saja anda merasa “klik” dengan orang tersebut. Dan entah mengapa anda mulai merasa orang tersebut sangat “cocok” dengan anda. Semenjak hari itu anda semakin banyak menghabiskan waktu dengan sahabat anda tersebut, makan bareng, ngopi bareng, jalan-jalan bareng, atau sekedar kumpul bareng sampai akhirnya anda mulai bertemu dengan orang-orang sejenis lainnya dan hey! “kita harus bikin gank nih!” dan akhirnya terbentuklah sebuah persaudaraan (sisterhood/brotherhood). Good things isn’t it? :)
YES! It’s a good things! And too.. a bad things!
Ketika sudah merasa “cocok” pada umumnya kita akan menganggap bahwa “hanya mereka lah yang mengerti diri kita. Dengan dasar pemikiran tersebut kita semakin terikat dengan “persaudaraan” yang entah sebenarnya membawa dampak baik atau buruk dalam mencapai tujuan hidupnya. Bersyukurlah apabila mereka mendukung tujuan hidup anda. Dan celaka lah apabila keberadaan mereka justru menyeret anda ke dalam lubang kenikmatan! Eh..lubang derita maksudnya..hehe ( ini ngomongin apa ya? 3:D )
Ok..cukup mesumnya.. so apabila lingkungan tersebut semakin mendekatkan anda pada tujuan hidup anda, anda WAJIB melanjutkan kiprah anda dalam gank tersebut. Namun persaudaraan tersebut tidak membawa anda kemana-mana dan hanya jalan di tempat, bahkan meskipun kelihatannya anda sedang “bergerak”, maka bersiaplah untuk meninggalkan lingkungan tersebut dan memasuki lingkungan baru.
Anda semua PASTI sudah tahu bahwa pergaulan anda sangat mempengaruhi pencapaian hidup anda. Dan maka dari itulah banyak orang besar, buku, motivator, ataupun terapis menyarankan untuk bergaul dengan orang-orang yang mendukung perkembangan diri anda. Namun anda tahu persis bahwa itu semua tidak semudah yang anda pikirkan bukan? :)
Ketika memasuki lingkungan baru anda merasa tidak nyaman. Rasanya lingkungan baru tersebut tidak benar-benar mengerti diri anda, yang akhirnya membawa anda kembali pada kesimpulan bahwa memang gank anda yang terdahulu lah yang PALING mengerti anda. Dan sayangnya mereka yang justru paling mengerti anda malah tidak bisa membawa anda menuju arti hidup yang anda cari selama ini!
Beberapa dari mereka yang benar-benar berkomitmen untuk berhasil biasanya tidak akan berhenti begitu saja. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk bisa mencapai tujuan mereka. Setelah membaca begitu banyak referensi, mengikuti seminar motivasi, dan masih banyak ide gila lain yang bahkan saya pun tidak terpikir, mereka pun mendapati bahwa rasa tidak nyaman tersebut memang muncul secara wajar karena mereka sedang keluar dari “zona nyaman” mereka. Namun tetap saja informasi tentang “zona nyaman” ini tetap tidak berarti signifikan dalam praktek pergaulan mereka.
Mengapa demikian? Karena konsep “keluar dari zona nyaman” membuat anda berpikir bahwa anda sedang berusaha “keluar” dari diri anda “yang sebenarnya”, sedangkan biasanya kita lebih sering menerima quote indah tentang “jadilah diri sendiri”.
Jadi apakah yang sebenarnya terjadi?
Faktanya adalah: mereka TIDAK benar-benar sejenis dengan anda!
Faktanya adalah: tidak ada kawan sejati (ataupun lawan sejati) yang ada hanyalah pergeseran kepentingan. situasi sangat menentukan hubungan anda, kawan bisa menjadi lawan secara tak terduga, begtu sebaliknya.
Faktanya adalah: karena hanya dengan mereka lah anda merasa diri anda diterima! In other words: hanya merekalah yang bersedia menerima diri anda!
Faktanya adalah: anda merasa demikian karena anda terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka!
Faktanya adalah: dan semakin sering anda menghabiskan waktu dengan mereka, mau tidak mau anda harus menerima belief mereka, idealisme mereka..
Faktanya adalah: karena jika anda tidak mengikuti belief mereka maka anda akan “dikucilkan” baik secara terang-terangan maupun ala perang dingin.
Faktanya adalah: dan itu artinya anda tidak lagi diterima, and it hurts your EGO!
Faktanya adalah: dan anda tidak tahu lagi harus kemana lagi supaya bisa diterima
Faktanya adalah: ketika memasuki lingkungan baru anda belum bisa beradaptasi sehingga anda merasa “berbeda”
Jadi PROSES yang terjadi SEBENARNYA adalah anda sedang menyamakan frekuensi diri anda dengan perkumpulan anda saat ini. Yang tadinya sebenarnya berbeda jadi tampak sama. Awalnya mungkin memang benar anda memiliki kesamaan, namun apabila selanjutnya anda merasa kalian benar-benar sama, yang terjadi adalah: anda menyama-nyamakan diri dengan mereka tanpa anda sadari, sehingga akhirnya anda menjadi benar-benar seperti mereka.
Dan KABAR BAIKnya adalah:
* Anda bisa cocok dengan siapa saja
* Anda cukup menghabiskan banyak waktu dengan lingkungan baru anda untuk menyamakan frekuensi anda dengan mereka sehingga merasa “klik”
Masih merasa kesulitan? Biasanya kendala sebenarnya bukan masalah tidak terbiasa, namun karena : ANDA TAKUT MELAKUKAN KESALAHAN!
Ya, anda ingin terlihat sempurna di depan lingkungan baru anda.. anda ingin membentuk image baru anda.. inilah yang sebenarnya membuat anda merasa “berbeda”. Anda terlalu takut melakukan TRIAL & ERROR.
Keputusan memang berada penuh di tangan anda, apakah anda bersedia benar-benar belajar & meningkatkan diri atau sekedar menjaga ego anda.
Sekali lagi, lihatlah sekeliling anda? apabila komunitas anda loser, maka jangan heran jika anda pun seorang loser.. dan lihatlah teman anda yang menurut anda keren.. dan perhatikan komunitasnya.. Apakah saat ini anda masih merasa cuma gank anda saja yang mengerti diri anda?
So mulai sekarang jangan takut untuk meninggalkan komunitas lama anda yang tidak mendukung dan hanya bisa menjatuhkan anda! Anda tidak perlu khawatir dikucilkan, karena setelah anda meninggalkan mereka, mereka yang justru akan mengikuti anda, maju bersama anda, selama anda tidak terlalu banyak mulut & TIDAK MERENDAHKAN MEREKA dan tentunya memang menunjukkan hasil yang signifikan.
Stop mengikuti teman-teman anda yang bisanya hanya mengeluh, merendahkan orang, memberi label seenaknya semacam “semua co/ce sama saja!”…itu hanya masalah mereka, bukan masalah anda, dan jangan sok membantu apabila anda belum memiliki kemampuan tersebut anda hanya akan membuang kehidupan anda yang berharga dengan menjadi dukun curhat.
Keep this simple then: komunitas anda menentukan kepribadian anda!
I know it sounds cruel, but you’ve proven it! You experience it yourself! So you know it’s damn true!
***
Copas dari artikel dengan judul yang sama di sini.
11/10/10
Kenapa 1000
Angka 1000 bisa diartikan mengisyaraktkan banyak makna, bisa juga diartikan tidak bermakna apa-apa. Sekedar angka, wujud tekstualitas belaka bahwa yang me-rengga (menopang) program ini banyak kalangan, ada teman-teman dari Red Apple, dari kalangan L22 dari Kukuh Prasetiyo Foundation (KPF), dari Alumni SMA 2, dari Stematel, dari Komunitas Blogger, dari komunitas sepak bola, dari sivitas kampus, dari Ormas dan lain sebagainya.
Kali ini saya ingin memaknai dari sudut pandang saya pribadi kenapa menyepakati keberadaan angka 1.000 itu. Begini... jreng jreng jeng jreng...
Hari-hari terakhir ini, hal yang mebuat saya resah adalah soal kesungguhan diri saya sendiri. Mungkin ini syndrom dari membaya buku MYELIN karya Renald Kasali. Saya obrolkan hal ini dengan teman baik saya, kenapa ya ini, itu, anu, ono tertunda semua?
n
Angka 1000 saya baca sebagai target yang 'banyak', apalagi ada pewaktu deadline akhir. Salah satu pemicu kesungguhan adalah target. Kenapa beberapa hal tertunda demikian parah hari-hari belakangan ini adalah karena saya tidak mencangkan target kuantitas dan target waktu, walhasil, seolah berapapun yang saya dapat, saya syukuri, sehingga karena merasa sudah cukup alim dan tawadhu' dengan syukur itu makanya yang saya dapat tidak ada, kecuali ketertundaan.
Begitupun, karena tidak ada target waktu, seolah-olah umur saya turah-turah terlewat panjang, lupa kalau satu setengah bulan lagi sudah ganti tahun. Alangkah naasnya nasib diri ini akibat pengabaian penyusunan target sebagai salah satu alat mencapai kesungguhan.
Di 8 hari yang mengawali bulan Dzulhijah ini, saya ingin mengoreksi semua itu dengan memaksimalkan upaya saya di program Wakaf 1000 Kasur ini. Kalau angka 1000 tercapai bahkan terlampaui, bukan popularitas bahwa program ini besar yang saya kejar, tapi bahwa saya sudah melatih diri saya untuk tahu bagaimana caranya sungguh-sungguh.
Mari baca 1000 sebagai 'kesungguhan'. Selamat belajar yang mau sama-sama belajar dengan saya.
Kali ini saya ingin memaknai dari sudut pandang saya pribadi kenapa menyepakati keberadaan angka 1.000 itu. Begini... jreng jreng jeng jreng...
Hari-hari terakhir ini, hal yang mebuat saya resah adalah soal kesungguhan diri saya sendiri. Mungkin ini syndrom dari membaya buku MYELIN karya Renald Kasali. Saya obrolkan hal ini dengan teman baik saya, kenapa ya ini, itu, anu, ono tertunda semua?
n
Angka 1000 saya baca sebagai target yang 'banyak', apalagi ada pewaktu deadline akhir. Salah satu pemicu kesungguhan adalah target. Kenapa beberapa hal tertunda demikian parah hari-hari belakangan ini adalah karena saya tidak mencangkan target kuantitas dan target waktu, walhasil, seolah berapapun yang saya dapat, saya syukuri, sehingga karena merasa sudah cukup alim dan tawadhu' dengan syukur itu makanya yang saya dapat tidak ada, kecuali ketertundaan.
Begitupun, karena tidak ada target waktu, seolah-olah umur saya turah-turah terlewat panjang, lupa kalau satu setengah bulan lagi sudah ganti tahun. Alangkah naasnya nasib diri ini akibat pengabaian penyusunan target sebagai salah satu alat mencapai kesungguhan.
Di 8 hari yang mengawali bulan Dzulhijah ini, saya ingin mengoreksi semua itu dengan memaksimalkan upaya saya di program Wakaf 1000 Kasur ini. Kalau angka 1000 tercapai bahkan terlampaui, bukan popularitas bahwa program ini besar yang saya kejar, tapi bahwa saya sudah melatih diri saya untuk tahu bagaimana caranya sungguh-sungguh.
Mari baca 1000 sebagai 'kesungguhan'. Selamat belajar yang mau sama-sama belajar dengan saya.
Kasur & SBY
Kebanyakan pengungsi adalah anak dibawah umur, dan orang tua di atas umur. Anda bayangkan malam ini Anda sedang persami, tidurnya memang tidak di dalam tenda tapi di ruangan, dan diruangan itu kecukupan alas tidur terbatas, paling ada terpal dan klasa, juga kardus.
Kalau itu Anda, tidak jadi soal. Tapi bayangkan kalau nenek Anda tidur tanpa kasur di atas udara lantai dan ruangan yang dingin. Celana dalam yang ganti baru tidak membuat serta merta mereka menjadi terlindungi daya tahan tubuhnya dari meriang.
Ini arah tulisan saya bukan sedang membanding-bandingkan ini lebih penting dari itu atau sebaliknya, bukan, arah saya adalah bahwa inilah kepedulian beberapa orang disana, makanya ketika SBY datang ke posko pengungsi Balita dan Manula dipinjami kasur. Sayangnya, setelah SBY pulang kasurnya diambil lagi, hanya takut ditegur mungkin "Ini kok tidur tanpa kasur!"
Berangkat dari itulah mengapa obyeknya kasur. Kasur menjadi kebutuhan mendesak tahap II, kalau di taap I tanggap darurat bencana tentu makanan dan keamanan lebih prioritas. Tetapi di tahap II pemulihan ini, penjagaan kesehatan mesti ditingkatkan. Terlebih kasur bermanfaat bukan hanya ketika sedang mengungsi, tetapi untuk mengganti kasur mereka yang rusak serta yang seumur hidup belum pernah menikmati kasur untuk tidur mereka.
Kalau itu Anda, tidak jadi soal. Tapi bayangkan kalau nenek Anda tidur tanpa kasur di atas udara lantai dan ruangan yang dingin. Celana dalam yang ganti baru tidak membuat serta merta mereka menjadi terlindungi daya tahan tubuhnya dari meriang.
Ini arah tulisan saya bukan sedang membanding-bandingkan ini lebih penting dari itu atau sebaliknya, bukan, arah saya adalah bahwa inilah kepedulian beberapa orang disana, makanya ketika SBY datang ke posko pengungsi Balita dan Manula dipinjami kasur. Sayangnya, setelah SBY pulang kasurnya diambil lagi, hanya takut ditegur mungkin "Ini kok tidur tanpa kasur!"
Berangkat dari itulah mengapa obyeknya kasur. Kasur menjadi kebutuhan mendesak tahap II, kalau di taap I tanggap darurat bencana tentu makanan dan keamanan lebih prioritas. Tetapi di tahap II pemulihan ini, penjagaan kesehatan mesti ditingkatkan. Terlebih kasur bermanfaat bukan hanya ketika sedang mengungsi, tetapi untuk mengganti kasur mereka yang rusak serta yang seumur hidup belum pernah menikmati kasur untuk tidur mereka.
11/9/10
Program Wakaf 1000 Kasur
ini adalah sedikit kepedulian kami untuk penggalangan dana untuk korban bencana yang ada di Indonesia.
dana akan diserahkan dalam bentuk kasur lantai untuk tidur.
semua keterangan dan kejelasan bisa dibaca dan diunduh di :
Program Wakaf 1000 Kasur
sekecil apapun rasa peduli serta action yang kita lakukan untuk semua solidaritas ini, akan dibalas ratusan kali lipat oleh-Nya.
yakinlah!
Masyarakat Relawan Plat R
11/7/10
Opick Apik
Allah engkau dekat
Penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau
Biarkan hamba Mu menangis
Karna kemurahan Mu
Karna kasih sayang Mu
Hanya bila diri Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela
Dia kekasih Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asthma Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Setiap makhluk bergantung padaMu
Dan bersujud semesta untuk Mu
Setiap wajah mendamba cinta Mu cahaya Mu
Penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau
Biarkan hamba Mu menangis
Karna kemurahan Mu
Karna kasih sayang Mu
Hanya bila diri Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela
Dia kekasih Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asthma Mu
Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala
Setiap makhluk bergantung padaMu
Dan bersujud semesta untuk Mu
Setiap wajah mendamba cinta Mu cahaya Mu
Menahan Erupsi
Tidak ada botol aqua yang bisa dilempar. Gelas beling bersih semua baru dicuci kemarin. Puasa itu menahan, menahan erupsi di dada, puasa itu menahan, menahan cybershoot pandangan agar menemukan derajat fokus yang lebih cemerlang dan angle yang lebih luas.
Tari nafas dalam-dalam, kumpulkan energi-energi yang menyesakkan itu, lalu lepaskan perlahan seiring dengan dihempasnya nafas. Tuhan, ganjarkan penahananku ini dengan ampunan. Amin...
Adzan Magrib, Ahad, 7 November 2010, L22.
Tari nafas dalam-dalam, kumpulkan energi-energi yang menyesakkan itu, lalu lepaskan perlahan seiring dengan dihempasnya nafas. Tuhan, ganjarkan penahananku ini dengan ampunan. Amin...
Adzan Magrib, Ahad, 7 November 2010, L22.
11/2/10
11/1/10
Kiai Kanjeng & Kanjeng Kiai Caknun
Dulu Kiai Kanjeng pentas dan diletakkan di panggung. Mereka ditonton oleh penonton. Kiai Kanjeng yang bermaiyah tidak berada dipanggung dan tidak ditonton siapa-siapa. Mereka duduk melingkar, sehingga terserah orang lain akan bergabung menciptakan lapisan-lapisan lingkaran berikutnya atau tidak.
Kiai Kanjeng tidak mempertunjukan musik dan suaranya kepada penonton. Mereka hanya bernyanyi, bershalawat, berwirid, membaca puisi, atau apapun, tetapi yang ada di hadapan mata kesadaran mereka adalah Allah swt. Maka pada kebanyakan momentum selama ber-maiyah, hampir tak seorangpun di antara mereka yang tidak memejamkan mata. Karena mata wadag hanya sanggup melaporkan penglihatan tentang hal-hal yang sepele: materi, benda-benda, gedung-gedung, lembaran-lembaran uang, kecantikan wanita dan kegantengan lelaki, menara pencakar langit. Dan itu semua bersifat sementara dan sangat gampang hancur.
Jemaah Maiyah serak-serak suaranya untuk Allah. Habis bunyinya untuk mencintaiNya. Bernyanyi, membunyikan alat musik, berkeringat, untuk memelihara hubungan baik dengan Allah. Karena Allah sebagai pengasuh, penyantun, tempat bergantung – tidak bisa diperbandingkan dengan polisi, tentara, menteri ekuin, presiden, pemerintahan, konglomerat, distribusi modal atau apapun saja yang dituhankan oleh sangat banyak orang. Allah berjanji kepada para kekasihnya untuk menjalankan empat fungsi, asalkan oleh para kekasihnya dibeli dengan taqwa dan tawakkal.
Peran pertama, Allah sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas apa saja : coba sebut satu masalah yang Allah tidak sanggup menyelesaikannya!
Peran kedua, Allah sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia, sehingga para kekasih Nya tidak bisa menduga atau memperhitungkannya. Para kekasih Allah tinggal terima jadi, terima matang – anugrah rejeki yang mereka beli dengan ‘mata uang’ taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Rindukan Allah kapan saja. menjadikan Allah sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam ditancapkan dihujamkan terus menerus.
Peran ketiga, Allah sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dan menganggap Allah bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. Ia managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.
Peran keempat, Allah adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Allah kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi ‘honor’ taqwa dan tawakkal.
Sumber Wikipedia Lingkaran Maiyah
![]() |
| KK = Kiai Kanjeng |
Kiai Kanjeng tidak mempertunjukan musik dan suaranya kepada penonton. Mereka hanya bernyanyi, bershalawat, berwirid, membaca puisi, atau apapun, tetapi yang ada di hadapan mata kesadaran mereka adalah Allah swt. Maka pada kebanyakan momentum selama ber-maiyah, hampir tak seorangpun di antara mereka yang tidak memejamkan mata. Karena mata wadag hanya sanggup melaporkan penglihatan tentang hal-hal yang sepele: materi, benda-benda, gedung-gedung, lembaran-lembaran uang, kecantikan wanita dan kegantengan lelaki, menara pencakar langit. Dan itu semua bersifat sementara dan sangat gampang hancur.
Jemaah Maiyah serak-serak suaranya untuk Allah. Habis bunyinya untuk mencintaiNya. Bernyanyi, membunyikan alat musik, berkeringat, untuk memelihara hubungan baik dengan Allah. Karena Allah sebagai pengasuh, penyantun, tempat bergantung – tidak bisa diperbandingkan dengan polisi, tentara, menteri ekuin, presiden, pemerintahan, konglomerat, distribusi modal atau apapun saja yang dituhankan oleh sangat banyak orang. Allah berjanji kepada para kekasihnya untuk menjalankan empat fungsi, asalkan oleh para kekasihnya dibeli dengan taqwa dan tawakkal.
Peran pertama, Allah sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas apa saja : coba sebut satu masalah yang Allah tidak sanggup menyelesaikannya!
Peran kedua, Allah sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia, sehingga para kekasih Nya tidak bisa menduga atau memperhitungkannya. Para kekasih Allah tinggal terima jadi, terima matang – anugrah rejeki yang mereka beli dengan ‘mata uang’ taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Rindukan Allah kapan saja. menjadikan Allah sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam ditancapkan dihujamkan terus menerus.
Peran ketiga, Allah sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dan menganggap Allah bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. Ia managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.
Peran keempat, Allah adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Allah kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi ‘honor’ taqwa dan tawakkal.
Sumber Wikipedia Lingkaran Maiyah
10/31/10
Menulis Setiap Kapan
Setiap saya menyendiri, saya menulis, merangkai tulisan dalam angan-angan. Setiap saya mendengarkan orang membagikan ilmunya saya merangkai imajinasi. Kalau semua itu ditotal dan dianggap 100%, hanya 1% nya yang saya tuangkan dalam bentuk lain, saya formulasikan, saya lahirkan keterwujudannya, dan dari 1% itu, 1% pula yang saya posting di blog ini.
10/30/10
Waljinahan
Pagi-pagi nyetel Winamp, muternya lagu-lagu cerianya Waljinah. Asyik ndes... Kalau kemarin seharian muternya Basanova, lagu Jawa yang di Jazzkan. Setelah mendengar LIVE suara gending saron-nya Kiai Kanjeng kemarin saya betul-betul terpukau dengan keindahan karya cipta orang Jawa, salah satunya musiknya.
Eits, jangan antipati dengan yang namanya budaya dan tradisi, sedikit-sedikit bid'ah. Bid'ah itu di ranah rukun Islam. Kalau menyenggol sedikit budaya njur langsung skeptis, yang namanya tiap pagi Anda beol dan kalau tidak beol perut Anda mules, itu juga bentuk tradisi budaya lho.
Jangan hukum vertikal digunakan untuk nyacag-nyacag perihal yang ada di zona horizontal, mundak kurus kamu. Yah, jadi nglantur saya, yang jelas I LOVE JAVA. Nanti Biro Wisata saya namanya Mocopat Tour, Armada Busnya diambilkan dari nama-nama Sekar Macapat, ada Maskumambang, Asmarandana dan sebagainya. Syukur pisan bisa beli trayek Purwokerto Semarang dan Purwokerto Cirebon.
Nanti juga kalau butuh nama lagi, saya mau ambil dari leluhur saya, dari Ronggowarsito sampai Condrolukito, dari Raden Patah sampai Adipati Mrapat. Orang Jawa itu hebat-hebat, selain yang jadi politikus. Mau melanjutkan Waljinahan dulu...
Sugeng midangetaken...
Eits, jangan antipati dengan yang namanya budaya dan tradisi, sedikit-sedikit bid'ah. Bid'ah itu di ranah rukun Islam. Kalau menyenggol sedikit budaya njur langsung skeptis, yang namanya tiap pagi Anda beol dan kalau tidak beol perut Anda mules, itu juga bentuk tradisi budaya lho.
Jangan hukum vertikal digunakan untuk nyacag-nyacag perihal yang ada di zona horizontal, mundak kurus kamu. Yah, jadi nglantur saya, yang jelas I LOVE JAVA. Nanti Biro Wisata saya namanya Mocopat Tour, Armada Busnya diambilkan dari nama-nama Sekar Macapat, ada Maskumambang, Asmarandana dan sebagainya. Syukur pisan bisa beli trayek Purwokerto Semarang dan Purwokerto Cirebon.
Nanti juga kalau butuh nama lagi, saya mau ambil dari leluhur saya, dari Ronggowarsito sampai Condrolukito, dari Raden Patah sampai Adipati Mrapat. Orang Jawa itu hebat-hebat, selain yang jadi politikus. Mau melanjutkan Waljinahan dulu...
Sugeng midangetaken...
![]() |
| Orang Pinter ngajeni Gamelan, Orang Pekok nyepelin Gamelan |
10/29/10
Benar-Benar Bening.. Jatuh Cinta Saya.. Hii...
Biasanya cuma melihat dan mendengar dari Youtube, seperti mimpi saja kemarin ikut jadi Pamiarsa LIVE performance Cak Nun bersama kelompok Gamelan Kiai Kanjengnya. Asli, benar-benar bening tabuhan saronnya, apalagi expresi Niyaga nya yang demikian total, betul betul mempesona.
Berbulan-bulan merencakana perjalanan untuk menyambangi sang Kiai berbahan dasar besi ini. Mulai dari dulu mau nekad berangkat ke TIM, beberapa kali mencari teman yang bisa diajak ke Baiturohman juga bolan-balen SMS minta tanggal dan ancer-ancer pelaksanaan di mBantul. Tapi nggak pernah ketemu kaleksanan. Eh malah CNKK (Caknun dan Kiai Kanjeng) kemarin yang mendatangi. Dan kitapun bertemu di sebuah desa di Kebasen, Kaliwedi.
Mempesona, memukau, seperti raja yang turun dari istananya menyambangi rakyatnya, merangkul camatnya, mempersilahkan lurahnya berkeluh kesah, bahkan sayapun dapat jatah Mic, anggun sekali acara ini, begitu pikir saya... jatuh cinta saya.
Terlalu banyak yang harus dipostingkan atas kesan saya di malam peringatan Sumpah Pemuda tadi malam itu, yang jelas, saya ingin ikut lagi dan berkali-kali, melebihi kuantitas berkali-kalinya saya membuntuti Ary Ginanjar dengan ESQ nya. Dan yang jelas, kalau orang-orang membaiat CakNun jadi Presiden, saya akan sewakan Horn TOA untuk berkoar-koar mendukung beliau.
Berbulan-bulan merencakana perjalanan untuk menyambangi sang Kiai berbahan dasar besi ini. Mulai dari dulu mau nekad berangkat ke TIM, beberapa kali mencari teman yang bisa diajak ke Baiturohman juga bolan-balen SMS minta tanggal dan ancer-ancer pelaksanaan di mBantul. Tapi nggak pernah ketemu kaleksanan. Eh malah CNKK (Caknun dan Kiai Kanjeng) kemarin yang mendatangi. Dan kitapun bertemu di sebuah desa di Kebasen, Kaliwedi.
![]() |
| Caknun dan Rakyat |
Mempesona, memukau, seperti raja yang turun dari istananya menyambangi rakyatnya, merangkul camatnya, mempersilahkan lurahnya berkeluh kesah, bahkan sayapun dapat jatah Mic, anggun sekali acara ini, begitu pikir saya... jatuh cinta saya.
Terlalu banyak yang harus dipostingkan atas kesan saya di malam peringatan Sumpah Pemuda tadi malam itu, yang jelas, saya ingin ikut lagi dan berkali-kali, melebihi kuantitas berkali-kalinya saya membuntuti Ary Ginanjar dengan ESQ nya. Dan yang jelas, kalau orang-orang membaiat CakNun jadi Presiden, saya akan sewakan Horn TOA untuk berkoar-koar mendukung beliau.
![]() |
| Rizky dan Kiai Kanjeng |
10/26/10
Dadung Pak Kartasun
Tenant bisnis saya yang baru bernama Mr. Kartasun, sudah sudah tidak usah ditafsirkan sendiri Sun itu matahari dan Karta itu Grafik (Chart), nanti malah jadi diagram kartesius. Mr atau Bahasa Indonesianya Pak, Kartasun adalah seorang pengasong meja kayu.
Dari daerah bernama Kemutug Kidul (South of Kemutug) dia berangkat menjajakan meja yang dia panggul, sehari dia bawa 2 meja kayu ukuran panjang 120 cm dan harganya 70 ribu ke Kota Purwokerto, kadang juga ke kota lainnya. Tadi sekitar jam 5an sore saya ketemu di pinggir jalan (kondisi : gerimis kecil) dan dagangannya masih 1 meja, saya beli itu meja dengan tidak menawar.
Lalu ngobrol2ah kami, saya jadi tahu, untuk pulang ke rumahnya yang ada di sekitar Baturraden, dia harus naik ojek 10.000. Padahal sehari dia cuma bawa 2 meja, 2 x 70.000 (biasanya kan orang jualan meja ditawar), jadi 140.000. Saya tidak tahu harga ke pengrajin yang membuat meja berapa, dipotong ojek, dipotong makan siang, dipotong kalau ada orang nawar, hm, berapa ya kira-kira proyeksi keuntungannya?
Sudah dihitung? Itu proyeksi keuntungan kalau mejanya laku semua? kalau cuma laku satu? kalau tidak ada yang laku? Darimana cost ojek? cost ngojekin meja pulang lagi? cost makan siang? Nah lo...
Meja tadi diikatkan oleh Pak Kartasun ke motor saya, karena tidak ada rafia, saya diberi sebuah dadung hanya dengan mengganti biayanya Rp 5.000,00.
Foto dadung dari Pak Kartasun ini saya sengaja upload, untuk diri saya sendiri dan siapapun agar kalau kita puyeng dengan pangrejeken kita, kalau kita gundah dengan kecukupan hidup kita, kalau kita was-was dengan ikhtiar kita, kita ingat ke Pak Kartasun, yang keluar dari rumah hanya membawa 2 meja, jadi sampai jam 5 sore masih memanggul-menjajakannya langkah demi langkah dengan penuh keyakinan rezeki sudah ada yang mengatur.
Apa Tuhan yang kita sembah tidak kita yakini Dia Maha Kaya atas rezeki-rezeki yang kita butuhkan dan inginkan? Wah, jangan-jangan selama ini kita salah nyembah, salah sembahyang.
Dari daerah bernama Kemutug Kidul (South of Kemutug) dia berangkat menjajakan meja yang dia panggul, sehari dia bawa 2 meja kayu ukuran panjang 120 cm dan harganya 70 ribu ke Kota Purwokerto, kadang juga ke kota lainnya. Tadi sekitar jam 5an sore saya ketemu di pinggir jalan (kondisi : gerimis kecil) dan dagangannya masih 1 meja, saya beli itu meja dengan tidak menawar.
Lalu ngobrol2ah kami, saya jadi tahu, untuk pulang ke rumahnya yang ada di sekitar Baturraden, dia harus naik ojek 10.000. Padahal sehari dia cuma bawa 2 meja, 2 x 70.000 (biasanya kan orang jualan meja ditawar), jadi 140.000. Saya tidak tahu harga ke pengrajin yang membuat meja berapa, dipotong ojek, dipotong makan siang, dipotong kalau ada orang nawar, hm, berapa ya kira-kira proyeksi keuntungannya?
Sudah dihitung? Itu proyeksi keuntungan kalau mejanya laku semua? kalau cuma laku satu? kalau tidak ada yang laku? Darimana cost ojek? cost ngojekin meja pulang lagi? cost makan siang? Nah lo...
Meja tadi diikatkan oleh Pak Kartasun ke motor saya, karena tidak ada rafia, saya diberi sebuah dadung hanya dengan mengganti biayanya Rp 5.000,00.
Foto dadung dari Pak Kartasun ini saya sengaja upload, untuk diri saya sendiri dan siapapun agar kalau kita puyeng dengan pangrejeken kita, kalau kita gundah dengan kecukupan hidup kita, kalau kita was-was dengan ikhtiar kita, kita ingat ke Pak Kartasun, yang keluar dari rumah hanya membawa 2 meja, jadi sampai jam 5 sore masih memanggul-menjajakannya langkah demi langkah dengan penuh keyakinan rezeki sudah ada yang mengatur.
Apa Tuhan yang kita sembah tidak kita yakini Dia Maha Kaya atas rezeki-rezeki yang kita butuhkan dan inginkan? Wah, jangan-jangan selama ini kita salah nyembah, salah sembahyang.
| Dadung ini bisa digunakan untuk gantung diri |
Teritory Teori
Teori-teori yang saya pelajari, di training motivasi yang katanya omong kosong, di EU yang katanya edan kebablasan dan di--yang disebut orang--sebagai kursus menangis bernama Training ESQ perlahan tetapi pasti mulai melampau batas-batas teritorinya.
| Kartu nama |
| Time Planner, To Do List dan Buku Kas |
| KTP, Kartu NPWP & Rek. Koran |
| Struk Gestun |
| Investasi |
10/23/10
Dont Call Me
Jangan telepon saya, kecuali untuk urusan yang penting, yang manfaat, yang memakan waktu seperlunya saja. Hm, maaf ya, saya tidak suka ditelepon lama-lama (kecuali oleh beberapa orang), apalagi pakai pula bonusan.
Trims, kalau ngobrol lama live aja, lebih asyik*
*di kafe dan ditraktir tapi, hehe
Trims, kalau ngobrol lama live aja, lebih asyik*
*di kafe dan ditraktir tapi, hehe
10/20/10
Ingin dan Komit
Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, besoklah. Tapi besoknya ngomong lagi hal yang sama dan ujungnya kembali, besoklah. Daaan seterusnya, berulang-ulang diungkapkan itu keinginan sampai orang se-RT tahu.
Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, diucapkan sambil menata berkas yang berantakan, menjemur keset, terus siangnya mencari kardus untuk mewadahi barang-barang yang masih berantakan.
Itu kan bedanya keinginan dan komitmen?
Saya tuh sebenarnya ingin sekali bersihin L22, diucapkan sambil menata berkas yang berantakan, menjemur keset, terus siangnya mencari kardus untuk mewadahi barang-barang yang masih berantakan.
Itu kan bedanya keinginan dan komitmen?
Ketinggalan Banyu Biru
Pengalaman pertama sepanjang hidup naik kereta dipinggir Laut Jawa, ya, tadi, di track sebelum Stasiun Plabuan kalau tidak salah si masih masuk Kendal.
Seturun di Semarang Poncol langsung menggondol ojek menuju Semarang Tawang berharap bisa dapat tiket Banyu Biru ke Jogja. Ternyata eh Ternyata, KA Banyubiru sudah berangkat, ketinggalan deh...
Ketinggalan berapa menit? bukan menit, tapi Jam, 6 Jam sekitaran. Loh kok bisa? Iya, ternyata KA Banyu Biru yang sore sudah tidak beroperasi. Mungkin karena tidak laku. Hikz...
Setelah sekian jepret berfoto di Semarang Tawang sembari berharap minimal ada kereta apapun yang datang saya ingin mendengar nada sambut di stasiun itu yang katanya membunyikan aransemen "Gambang Semarang", eh tidak ada. Akhirnya segera berbecak menuju pemberhentian Damri dan meluncurlah ke Sukun, tempat dimana Bus Nusantara berpool. Tepat jam 14.00 sampai di sana. Alhamdulillah... dapat bus? tidak!! Bus Nusantara penuh.
Maka setelah menunaikan Sholat Jamak Qosor di Masjid Agung ADA, naiklah sembarang bus yang saya sendiri tidak sempat melihat nama bus itu hingga saya turun jam 21.00 tadi. Dua minuman botol, 1 bungkus tahu bulat, 3 arem-arem dan 2 tempe goreng menemani perjalanan yang dari Purwokerto ke Semarang menyenangkan, tapi selebihnya mengenaskan tapi dipaksakan menyenangkan.
Tak apa, di bus tadi saya terpikir banyak hal, tentu tidak ditulis disini, rahasia, he. Yang ditulis disini yang terpikir sekarang saja. Sekarang saya terpikir tentang bagaimana mencari note balok lagu Ditepinya Sungai Serayu yang menjadi nada sambut stasiun Purwokerto, terpikir tentang Juragan bus Nusantara kok tidak bikin ekonomi AC ya, terpikir tentang Bangsari dan kambingnya sudah jadi berapa ekor ya, terpikir tentang Bumi Panorama Permai dan Pa Firdaus si Pengembang, terpikir tentang Pak Narsan si penjual Sop Buah dengan 3 kost2annya, terpikir tentang Siomay "Baraya Geulis", terpikir tentang papan penunjuk arah Dishub-style di Bandung yang ada ATM BNI nya, ya.. kita formuliskan pikiran2 hari ini, besok.
| Laut Jawa dari atas KA Kaligung 20-10-2010 |
Ketinggalan berapa menit? bukan menit, tapi Jam, 6 Jam sekitaran. Loh kok bisa? Iya, ternyata KA Banyu Biru yang sore sudah tidak beroperasi. Mungkin karena tidak laku. Hikz...
Setelah sekian jepret berfoto di Semarang Tawang sembari berharap minimal ada kereta apapun yang datang saya ingin mendengar nada sambut di stasiun itu yang katanya membunyikan aransemen "Gambang Semarang", eh tidak ada. Akhirnya segera berbecak menuju pemberhentian Damri dan meluncurlah ke Sukun, tempat dimana Bus Nusantara berpool. Tepat jam 14.00 sampai di sana. Alhamdulillah... dapat bus? tidak!! Bus Nusantara penuh.
| Stasiun Semarang Tawang 20-10-2010 |
Tak apa, di bus tadi saya terpikir banyak hal, tentu tidak ditulis disini, rahasia, he. Yang ditulis disini yang terpikir sekarang saja. Sekarang saya terpikir tentang bagaimana mencari note balok lagu Ditepinya Sungai Serayu yang menjadi nada sambut stasiun Purwokerto, terpikir tentang Juragan bus Nusantara kok tidak bikin ekonomi AC ya, terpikir tentang Bangsari dan kambingnya sudah jadi berapa ekor ya, terpikir tentang Bumi Panorama Permai dan Pa Firdaus si Pengembang, terpikir tentang Pak Narsan si penjual Sop Buah dengan 3 kost2annya, terpikir tentang Siomay "Baraya Geulis", terpikir tentang papan penunjuk arah Dishub-style di Bandung yang ada ATM BNI nya, ya.. kita formuliskan pikiran2 hari ini, besok.
Sebuah Pengakuan
Diantara sekian banyak prinsip toleransi, sampai sejauh ini, konsep toleransi ala Caknunlah yang paling bisa jiwa saya terima. Bahkan nuwun sewu saya pernah privat dengan seorang ustadzpun, konsep toleransinya bagi saya nggrambyang atau bahasa arifnya, terlalu normatif.
Apa si prinsip Caknun? Wah, baca sendiri di majalahnya lah ya.
Ini bukan postingan agama, jadi tidak saya bahas disini. Ini soal jalan yang saya pilih sebagai seorang entrepeneur, atau bahasa tetangga2 saya juragan, atau bahasanya anak fisip kebanyakan orang matre yang kerjaannya nyari duit melulu, enggan bersosial. Dan lain sebagainya entahlah...
Dulu saya orang yang paling tidak tedeng aling-aling menggembor2kan keunggulan entrepeneur diatas employee, juragan di atas rewang, demi sebuah pengakuan, bahwa saya lebih baik, karena memilih jalan yang lebih baik.
Lalu sekarang, apakah sudah saya anggap sama kasta juragan dan rewang itu dimata saya? Bukan, justru sebaliknya, saya semakin menemukan banyak data ilmiah tak terbantahkan 9 dari 10 pintu rezeki ada pada berdagang. Tapi ya itu, prinsip toleransi yang saya anut adalah prinsipnya Caknun. Saya harus yakin jalan yang saya pilih paling baik dan benar, dan jalan yang lain kalah baik bahkan salah, tapi itu saya pendam dalam hati, tidak saya konfrontasikan. Bagiku jalanku, bagimu jalanku, bagimunegeri jiwaraga kami.
Sok, sekarang saya dibilang malas kuliah karena sudah ijo matanya karena sudah lihat duit. Atau dibilang kelewat matre dan tidak penting apa itu yang namanya sosial atau sok idealis nggak ngerti cari uang kalau nggak dari gaji dikira gampang apa, atau apapun itu tidak lagi jadi masalah buat saya. Sebuah pengakuan tidak lagi penting untuk saya.
Yang lebih penting adalah kontribusi dan penambahan aset kita sebagai energi potensial kontribusi.
Apa si prinsip Caknun? Wah, baca sendiri di majalahnya lah ya.
Ini bukan postingan agama, jadi tidak saya bahas disini. Ini soal jalan yang saya pilih sebagai seorang entrepeneur, atau bahasa tetangga2 saya juragan, atau bahasanya anak fisip kebanyakan orang matre yang kerjaannya nyari duit melulu, enggan bersosial. Dan lain sebagainya entahlah...
Dulu saya orang yang paling tidak tedeng aling-aling menggembor2kan keunggulan entrepeneur diatas employee, juragan di atas rewang, demi sebuah pengakuan, bahwa saya lebih baik, karena memilih jalan yang lebih baik.
Lalu sekarang, apakah sudah saya anggap sama kasta juragan dan rewang itu dimata saya? Bukan, justru sebaliknya, saya semakin menemukan banyak data ilmiah tak terbantahkan 9 dari 10 pintu rezeki ada pada berdagang. Tapi ya itu, prinsip toleransi yang saya anut adalah prinsipnya Caknun. Saya harus yakin jalan yang saya pilih paling baik dan benar, dan jalan yang lain kalah baik bahkan salah, tapi itu saya pendam dalam hati, tidak saya konfrontasikan. Bagiku jalanku, bagimu jalanku, bagimunegeri jiwaraga kami.
Sok, sekarang saya dibilang malas kuliah karena sudah ijo matanya karena sudah lihat duit. Atau dibilang kelewat matre dan tidak penting apa itu yang namanya sosial atau sok idealis nggak ngerti cari uang kalau nggak dari gaji dikira gampang apa, atau apapun itu tidak lagi jadi masalah buat saya. Sebuah pengakuan tidak lagi penting untuk saya.
Yang lebih penting adalah kontribusi dan penambahan aset kita sebagai energi potensial kontribusi.
10/17/10
Yang Bahaya itu Diri Kita Sendiri
Saya mengenal istilah "Kontekstualisasi" itu pertama kali dari guru kita, Caknun. Entah apa whole definitionnya, tapi dari itu saya merenung dan merenung, menemukan sebuah pengertian yang mungkin kita semua akan menganggukinya.
Bahwasannya, yang paling berbahaya justru diri kita sendiri. Mengapa? Diri kita berbahaya, karena kita terlalu pandai membuat alasan untuk mengkontekskan apa yang ingin kita pilih untuk lakukan. Ketika ingin memilih jadi pengusaha, ada sejuta dalil untuk menjelek2kan karyawan. Ketika ingin jadi karyawan, ada semilyar pasal untuk membela diri bahwa karyawan itu tidak jelek.
Ketika ingin memilih jadi orang kaya, ada setriliun postulat untuk menjelaskan bahwa menjadi kaya itu baik. Begitu juga atas pilihan kita untuk utang atau tidak utang ke Bank, untuk membeli smartphone atau cukup stupidphone, memilih mengejar IPK atau cukup hanya lulus, memilih membuat kartu kuning atau kartu merah, memilih menikah dini atau menikah nanti-nanti saja, memilih ini dan itu.
Boleh saja tumpukan alasan itu kita lontarkan ke orang lain, tapi sebaiknya jangan aniaya diri dengan beralasan pada diri sendiri. Kalau memang pilihan itu diambil karena kepepet, karena terpaksa atau bahkan karena nafsu, boleh sembunyikan itu pada orang lain, tapi pastikan kita beralasan yang sejujurnya kepada diri kita.
Sekali lagi, jangan banggakan alasan yang kita buat untuk mendukung pilihan yang kita inginkan. Jangan menjebak diri sendiri, jangan memasung nasib kita sendiri.
Berpikirlan siklikal, tidak selalu yang ada alasan baik dibaliknya itu adalah pilihan baik pula. Karena kita terlalu pandai membuat alasan yang dipas-paskan dengan hasrat, nafsu, libibo kita. *menurut saya note pendek ini benar-benar penting, kalau belum paham membacanya, ulangi 2X lagi*
Bahwasannya, yang paling berbahaya justru diri kita sendiri. Mengapa? Diri kita berbahaya, karena kita terlalu pandai membuat alasan untuk mengkontekskan apa yang ingin kita pilih untuk lakukan. Ketika ingin memilih jadi pengusaha, ada sejuta dalil untuk menjelek2kan karyawan. Ketika ingin jadi karyawan, ada semilyar pasal untuk membela diri bahwa karyawan itu tidak jelek.
Ketika ingin memilih jadi orang kaya, ada setriliun postulat untuk menjelaskan bahwa menjadi kaya itu baik. Begitu juga atas pilihan kita untuk utang atau tidak utang ke Bank, untuk membeli smartphone atau cukup stupidphone, memilih mengejar IPK atau cukup hanya lulus, memilih membuat kartu kuning atau kartu merah, memilih menikah dini atau menikah nanti-nanti saja, memilih ini dan itu.
Boleh saja tumpukan alasan itu kita lontarkan ke orang lain, tapi sebaiknya jangan aniaya diri dengan beralasan pada diri sendiri. Kalau memang pilihan itu diambil karena kepepet, karena terpaksa atau bahkan karena nafsu, boleh sembunyikan itu pada orang lain, tapi pastikan kita beralasan yang sejujurnya kepada diri kita.
Sekali lagi, jangan banggakan alasan yang kita buat untuk mendukung pilihan yang kita inginkan. Jangan menjebak diri sendiri, jangan memasung nasib kita sendiri.
Berpikirlan siklikal, tidak selalu yang ada alasan baik dibaliknya itu adalah pilihan baik pula. Karena kita terlalu pandai membuat alasan yang dipas-paskan dengan hasrat, nafsu, libibo kita. *menurut saya note pendek ini benar-benar penting, kalau belum paham membacanya, ulangi 2X lagi*
10/16/10
Avanza Plat Merah
Tepat 5 meter sebelum bakul bensin eceran di pertigaan MT Haryono utara, bensin motor habis. "Hil, ada Pak Camat", ucap saya sambil nuntun motor mendekati warung bensin. "Camat Sopo?", tanyanya.
Dan kamipun berbincang-bincang sambil berdiri di pinggir jalan. Begitulah cara kami dipertemukan dengan Pak Abdul Kudus, teman EU yang sekarang jadi Camat di Kecamatan saya dan sedang menemani istrinya menggunakan Avanza Plat Merahnya. Pas bensin sat, pas ada bakul bensin, pas ada pak Camat.
Dan kamipun berbincang-bincang sambil berdiri di pinggir jalan. Begitulah cara kami dipertemukan dengan Pak Abdul Kudus, teman EU yang sekarang jadi Camat di Kecamatan saya dan sedang menemani istrinya menggunakan Avanza Plat Merahnya. Pas bensin sat, pas ada bakul bensin, pas ada pak Camat.
10/5/10
Dibonsai oleh Instruksi
Orang hebat sering menunggu waktu free, waktu menganggur, karena di waktu kosong itu dia bisa mengeksplorasi dirinya dan membuat reka-cipta daya-karya yang baru, yang menantang dan yang memberi manfaat.
Tapi tidak dengan sarjanawan dan diplomawati kebanyakan di Indonesia. Menganggur adalah masa yang menyiksa, menganggur adalah saatnya lamar sana lamar sini berharap dapat pekerjaan. Saya tahu, walau mereka yang melakukan malah sendirinya justru tidak tahu. Tahu bahwa sebenarnya yang mereka cari atas pekerjaan itu bukanlah serta merta uang. Lalu? Apa yang mereka cari? Yang mereka cari adalah instruksi.
6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan 5 tahun di kampus atau total 17 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membonsai keberanian, gagasan, inovasi, daya-cipta, kemampuan reka-karya yang ada dalam setiap diri manusia. Tragis sekali, memilukan sekali. Yang lebih memilukan, mereka yang mengalaminya justru tidak menyadarinya.
Saya berbelasungkawa atas itu. Atas orang yang bingung mau ngapain ketika menganggur, bukannya mencari ke dalam diri, tetapi kursus disana-sini, ngikut disana-sini, ngelamar disana-sini berharap mendapat instruksi "ini saya mesti ngapain?".
Tapi tetap saya memberikan apresiasi tinggi, kepada mereka yang kursus untuk mempertajam potensi diri, yang ngikut orang untuk menduplikasi benih-benih keberhasilan dan yang melamar sana-sini untuk mendedikasikan potensi. BUKAN untuk mengemis instruksi dan sekedar menyadong rejeki.
Tapi tidak dengan sarjanawan dan diplomawati kebanyakan di Indonesia. Menganggur adalah masa yang menyiksa, menganggur adalah saatnya lamar sana lamar sini berharap dapat pekerjaan. Saya tahu, walau mereka yang melakukan malah sendirinya justru tidak tahu. Tahu bahwa sebenarnya yang mereka cari atas pekerjaan itu bukanlah serta merta uang. Lalu? Apa yang mereka cari? Yang mereka cari adalah instruksi.
6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA dan 5 tahun di kampus atau total 17 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membonsai keberanian, gagasan, inovasi, daya-cipta, kemampuan reka-karya yang ada dalam setiap diri manusia. Tragis sekali, memilukan sekali. Yang lebih memilukan, mereka yang mengalaminya justru tidak menyadarinya.
Saya berbelasungkawa atas itu. Atas orang yang bingung mau ngapain ketika menganggur, bukannya mencari ke dalam diri, tetapi kursus disana-sini, ngikut disana-sini, ngelamar disana-sini berharap mendapat instruksi "ini saya mesti ngapain?".
Tapi tetap saya memberikan apresiasi tinggi, kepada mereka yang kursus untuk mempertajam potensi diri, yang ngikut orang untuk menduplikasi benih-benih keberhasilan dan yang melamar sana-sini untuk mendedikasikan potensi. BUKAN untuk mengemis instruksi dan sekedar menyadong rejeki.
Sebentar lagi jadi CPNS
Bersamaan dengan tepat 5 tahunnya saya mencanangkan diri sebagai manusia entrepeneur, maka besok Desember saya akan melaksanakan wisuda atau tepatnya mewisuda diri sendiri dari kampus bisnis yang saya buat sendiri. Dulu, 13 Desember adalah awal masuk ke kampus bisnis itu, Studium Generalnya oleh Zainal Abidin dan Supardi Lee.
Dan kali ini, tinggal merampungkan proyek skripsi saya yang mudah-mudahan Desember sudah kelar. Saya ambil judul skripsi PNC, doakan lancar ya.
Dan layaknya kehidupan manusia pada umumnya, setelah lulus dari kampus, maka saya tinggal memasuki fase CPNS, apa itu CPNS? CPNS adalah Calon Pengusaha Nasional Sukses. Ya, tidak bisa langsung jadi PNS lah. berarti mulai 13 Desember besok, saya tidak lagi belajar toq, tidak lagi dolanan tok dalam urusan bisnis, karena saya sudah lulus.
Masa CPNS sendiri saya perkirakan mungkin sekitar 8 bulanan hingga saya menyelesaikan PTA saya di Akatel. Kemudian, barulah saya prajabatan, prajabatan mungkin berlangsung satu atau dua minggu saja, saya si berharap mudah-mudahan prajabatan saya kebagian tempat di Madinah sana.
Dan setelah itu tidak lagi magang, tidak lagi training, saya sudah benar-benar jadi PNS alias Penguasa Nasional Sukses.
Saya optimis bisa mencapainya kok. Apalagi kalau saya ingat pengalaman masa lalu, awal masuk kampus bisnis yang saya buat sendiri, yang saya jadi dosen sekaligus rektor sekaligus mahasiswanya sendiri itu saya mengikuti masa orientasi menjajakan air minum kemasan di Stasiun Lenteng Agung, memasarkan gantungan kunci di IPB dan mengasong snack di Pasar Bogor.
Dengan terus mendatangkan dosen-dosen terbang dari orang-orang terbaik di dunia bisnis, masuk semester kedua saya dan rekan-rekan membuat satu bangun usaha pertama berbasis investasi, nama usaha waktu itu Slash Point Pinmaker yang saat ini sudah berkembang menjadi SPC.
Tepat setahun saya kuliah di kampus bisnis itu, tepatnya 12 Desember, saya membuat media massa sendiri bernama Koran Dinding, sebuah koran iklan fenomenal pertama yang dipasang di dinding dan terbit hingga 2 tahun, jarang-jarang koran iklan lokal bertahan bahkan hanya sampai 1 tahun loh.
Pasca UTS semester 3 di kampus bisnis itu saya dan tim mendirikan lembaga pelatihan pelajar pertama di Purwokerto yang kemudian dikenal dengan SDTC. Pada tahun ketiga kuliah saya, saya bergabung dengan banyak komunitas, diantaranya adalah EU buatan Purdi E Chandra dan bermitra dengan banyak tokoh-tokoh public lokal maupun nasional.
Hingga di awal semester ke delapan saya mendirikan Warnet dan tidak lama berselang saya mulai terjun ke dunia kuliner. Sampai saat ini kaki bisnis saya, saya kerucutkan menjadi 4 saja, IT, Publishing, Training Center dan Kuliner.
Dan semua itu hanyalah praktikum-praktikum dalam siklus pembelajaran saya di kampus bisnis yang saya buat dan saya miliki sendiri. Ada keuntungan, ada juga kerugian. Dapat uang, tetapi juga banyak keluar uang. Ya, seperti kuliah konvensional saja, keluar uang banyak sampai puluhan juta, tapi tidak pernah menuntut kampus mengembalikannya.
Demikian pula saya, keluar uang banyak untuk menutup utang, rugi-rugi dan operasional yang belum balance, tapi saya tidak menggerutuinya, wong itu biaya yang memang wajib saya bayar untuk ilmu-ilmu yang saya pelajari. Toh pada saatnya Desember nanti, saya diwisuda juga, saya si berharap orang tua bisa datang nanti pas Wisuda, begitu juga pejabat negara bisa memberikan ucapan selamat, ya minimal Pak Bupati lah. Doakan ya...
Dan atas track record dan antusiasme pembelajaran saya selama kurun 10 semester, senat kampus menganugerahi saya predikat Summa Cumlaude. Wah senang sekali?
Loh kok bisa dapat predikat sebagus itu? Ya bisa-bisa saja, wong ketua senatnya ya saya sendiri. Dan nanti juga yang mencetak ijazahnya saya sendiri juga, yang memajang juga saya sendiri. Suksesnya ya saya peroleh sendiri, tapi si saya terus niatkan untuk selalu bagi-bagi.
Dan kali ini, tinggal merampungkan proyek skripsi saya yang mudah-mudahan Desember sudah kelar. Saya ambil judul skripsi PNC, doakan lancar ya.
Dan layaknya kehidupan manusia pada umumnya, setelah lulus dari kampus, maka saya tinggal memasuki fase CPNS, apa itu CPNS? CPNS adalah Calon Pengusaha Nasional Sukses. Ya, tidak bisa langsung jadi PNS lah. berarti mulai 13 Desember besok, saya tidak lagi belajar toq, tidak lagi dolanan tok dalam urusan bisnis, karena saya sudah lulus.
Masa CPNS sendiri saya perkirakan mungkin sekitar 8 bulanan hingga saya menyelesaikan PTA saya di Akatel. Kemudian, barulah saya prajabatan, prajabatan mungkin berlangsung satu atau dua minggu saja, saya si berharap mudah-mudahan prajabatan saya kebagian tempat di Madinah sana.
Dan setelah itu tidak lagi magang, tidak lagi training, saya sudah benar-benar jadi PNS alias Penguasa Nasional Sukses.
Saya optimis bisa mencapainya kok. Apalagi kalau saya ingat pengalaman masa lalu, awal masuk kampus bisnis yang saya buat sendiri, yang saya jadi dosen sekaligus rektor sekaligus mahasiswanya sendiri itu saya mengikuti masa orientasi menjajakan air minum kemasan di Stasiun Lenteng Agung, memasarkan gantungan kunci di IPB dan mengasong snack di Pasar Bogor.
Dengan terus mendatangkan dosen-dosen terbang dari orang-orang terbaik di dunia bisnis, masuk semester kedua saya dan rekan-rekan membuat satu bangun usaha pertama berbasis investasi, nama usaha waktu itu Slash Point Pinmaker yang saat ini sudah berkembang menjadi SPC.
Tepat setahun saya kuliah di kampus bisnis itu, tepatnya 12 Desember, saya membuat media massa sendiri bernama Koran Dinding, sebuah koran iklan fenomenal pertama yang dipasang di dinding dan terbit hingga 2 tahun, jarang-jarang koran iklan lokal bertahan bahkan hanya sampai 1 tahun loh.
Pasca UTS semester 3 di kampus bisnis itu saya dan tim mendirikan lembaga pelatihan pelajar pertama di Purwokerto yang kemudian dikenal dengan SDTC. Pada tahun ketiga kuliah saya, saya bergabung dengan banyak komunitas, diantaranya adalah EU buatan Purdi E Chandra dan bermitra dengan banyak tokoh-tokoh public lokal maupun nasional.
Hingga di awal semester ke delapan saya mendirikan Warnet dan tidak lama berselang saya mulai terjun ke dunia kuliner. Sampai saat ini kaki bisnis saya, saya kerucutkan menjadi 4 saja, IT, Publishing, Training Center dan Kuliner.
Dan semua itu hanyalah praktikum-praktikum dalam siklus pembelajaran saya di kampus bisnis yang saya buat dan saya miliki sendiri. Ada keuntungan, ada juga kerugian. Dapat uang, tetapi juga banyak keluar uang. Ya, seperti kuliah konvensional saja, keluar uang banyak sampai puluhan juta, tapi tidak pernah menuntut kampus mengembalikannya.
Demikian pula saya, keluar uang banyak untuk menutup utang, rugi-rugi dan operasional yang belum balance, tapi saya tidak menggerutuinya, wong itu biaya yang memang wajib saya bayar untuk ilmu-ilmu yang saya pelajari. Toh pada saatnya Desember nanti, saya diwisuda juga, saya si berharap orang tua bisa datang nanti pas Wisuda, begitu juga pejabat negara bisa memberikan ucapan selamat, ya minimal Pak Bupati lah. Doakan ya...
Dan atas track record dan antusiasme pembelajaran saya selama kurun 10 semester, senat kampus menganugerahi saya predikat Summa Cumlaude. Wah senang sekali?
Loh kok bisa dapat predikat sebagus itu? Ya bisa-bisa saja, wong ketua senatnya ya saya sendiri. Dan nanti juga yang mencetak ijazahnya saya sendiri juga, yang memajang juga saya sendiri. Suksesnya ya saya peroleh sendiri, tapi si saya terus niatkan untuk selalu bagi-bagi.
10/3/10
Identiknya Bisnis
Identiknya bisnis itu dengan sportivitas, kejantanan, keterbukaan, ketegasan, kecemerlangan. Bukan dengan colong-colongan, serobot-serobotan, salip-salipan apalagi sabotase-sabotasean. Untuk yang sedang membangun bisnis, semoga dimudahkan urusannya.
Seperti yang pernah saya tulis di status, berdoa mohon kemudahan itu beda dengan berdoa mohon yang mudah-mudah saja. Setiap kita pasti menghendaki pribadi kita meningkat, pribadi menjadi meningkat karena diberikan ujian/masalah yang lebih, nah sekalipun ujian dan masalah yang datang bertambah besarnya, semoga setiap itu pula senantiasa diiringi kemudahan menyelesaikannya.
Berbeda bukan, dengan doa minta masalah yang mudah-mudah tok saja?
Seperti yang pernah saya tulis di status, berdoa mohon kemudahan itu beda dengan berdoa mohon yang mudah-mudah saja. Setiap kita pasti menghendaki pribadi kita meningkat, pribadi menjadi meningkat karena diberikan ujian/masalah yang lebih, nah sekalipun ujian dan masalah yang datang bertambah besarnya, semoga setiap itu pula senantiasa diiringi kemudahan menyelesaikannya.
Berbeda bukan, dengan doa minta masalah yang mudah-mudah tok saja?
9/30/10
Sudahlah, tidak usah beralasan
Ada tidak ya di bangku sekolah seorang anak mengacungkan tangan dan bertanya "Pak Guru, bagaimana akhlak yang terpuji ketika kita terlambat?", sepanjang 12 tahun saya sekolah tidak pernah tuh mendapati ada pertanyaan dan penjelasan tentang itu.
Ya, karena memang materi akhlak terpuji saat terlambat tidak keluar di UASBN apalagi di Lomba Cerdas Cermat UUD 45 buatan kaum "cinta negeri".
Saya justru dapat ilmunya dari orang yang bukan siapa-siapa, yang intinya, kalau kita terlambat sudahlah tidak usah beralasan, cukup minta maaf sebagai ungkapan penyesalan. Bukan hanya alasan keterlambatan kita itu tidak perlu, tetapi hanya menyakiti hati orang yang sudah membuat kita menunggu.
Orang yang membuat kita menunggu tidak butuh pengetahuan apapun yang menunjukkan bahwa kita tidak salah-salah amat, dia lebih membutuhkan dirinya diberitahu bahwa kita sangat menyesal atas keterlambatan kita itu.
Sekali lagi, ketika terlambat, minta maaflah dengan setulus hati dan simpan semua alasan. Kecuali orang itu beberapa jeda kemudian menanyakannya, jawablah, bukan untuk membaik-baikkan diri, jawab saja sebagai sebuah pertanyaan yang memang seharusnya dijawab.
Nuwun. Yang benar dari Allah yang salah dari saya sendiri.
Ya, karena memang materi akhlak terpuji saat terlambat tidak keluar di UASBN apalagi di Lomba Cerdas Cermat UUD 45 buatan kaum "cinta negeri".
Saya justru dapat ilmunya dari orang yang bukan siapa-siapa, yang intinya, kalau kita terlambat sudahlah tidak usah beralasan, cukup minta maaf sebagai ungkapan penyesalan. Bukan hanya alasan keterlambatan kita itu tidak perlu, tetapi hanya menyakiti hati orang yang sudah membuat kita menunggu.
Orang yang membuat kita menunggu tidak butuh pengetahuan apapun yang menunjukkan bahwa kita tidak salah-salah amat, dia lebih membutuhkan dirinya diberitahu bahwa kita sangat menyesal atas keterlambatan kita itu.
Sekali lagi, ketika terlambat, minta maaflah dengan setulus hati dan simpan semua alasan. Kecuali orang itu beberapa jeda kemudian menanyakannya, jawablah, bukan untuk membaik-baikkan diri, jawab saja sebagai sebuah pertanyaan yang memang seharusnya dijawab.
Nuwun. Yang benar dari Allah yang salah dari saya sendiri.
Kepunthal-punthal
Seperti meminta sepeda, begitulah kita merengek minta dihadirkan jodoh untuk kita. Jangan-jangan, sebagaimana sepeda, pada saat awal dimiliki tah iya, disayang-sayang sampai-sampai ditangkringkan diatas kasur untuk ikut menemani tidur. Namun, setelah selang berapa waktu, merasakan lelahnya mengayuh, mengetahui kecepatan maksimal yang bisa dikayuh, akhirnya dianggurkanlah itu sepeda.
Stop! Ini bukan bicara soal sepeda, paragraf di atas hanya perumpamaan saja, begitulah, ada yang namanya euforia. Makanya, sepertinya ada yang lebih bijak dari cara kita meminta jodoh, ketimbang merengek seperti minta sepeda.
Lalu harus seperti apa donk memintanya? Hm, bagaimana kalau seperti minta tiket perlombaan. Ketika seseorang mendaftarkan diri berharap mendapatkan tiket untuk bisa mengikuti lomba, orang itu sadar bahwasannya setelah tiket didapat bukan kesenangan belaka, tetapi tantangan yang lebih besar. Lebih besar tetapi bukannya menakutkan, tapi mengasyikkan, karena kita sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Sehingga tidak ada itu satu fase kita terlena dengan kenikmatan sesaat sampai-sampai berhenti belajar, karena kalau hal itu terjadi artinya kita akan kalah konyol (sejenis mati konyol) dalam perlombaan itu.
Dan pada kondisi lain, ketika kita kok pada tahap pra kualifikasi tidak lolos, tidak mendapat tiket, bukannya menggerutu dan memaksakan panitia memberikan tiket, tetapi kita belajar lebih, berlatih lebih, sampai kita berhasil lolos mendapatkan tiket itu.
Kalau pra kualifikasi saja tidak lolos, dan eh misalnya kita memaksakan diri untuk tetap boleh ikut lomba, dijamin, kita hanya akan kepunthal-punthal.
Mau kepunthal-punthal? Dia tahu kita jarang menghitung (kemampuan) diri kita.
Stop! Ini bukan bicara soal sepeda, paragraf di atas hanya perumpamaan saja, begitulah, ada yang namanya euforia. Makanya, sepertinya ada yang lebih bijak dari cara kita meminta jodoh, ketimbang merengek seperti minta sepeda.
Lalu harus seperti apa donk memintanya? Hm, bagaimana kalau seperti minta tiket perlombaan. Ketika seseorang mendaftarkan diri berharap mendapatkan tiket untuk bisa mengikuti lomba, orang itu sadar bahwasannya setelah tiket didapat bukan kesenangan belaka, tetapi tantangan yang lebih besar. Lebih besar tetapi bukannya menakutkan, tapi mengasyikkan, karena kita sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Sehingga tidak ada itu satu fase kita terlena dengan kenikmatan sesaat sampai-sampai berhenti belajar, karena kalau hal itu terjadi artinya kita akan kalah konyol (sejenis mati konyol) dalam perlombaan itu.
Dan pada kondisi lain, ketika kita kok pada tahap pra kualifikasi tidak lolos, tidak mendapat tiket, bukannya menggerutu dan memaksakan panitia memberikan tiket, tetapi kita belajar lebih, berlatih lebih, sampai kita berhasil lolos mendapatkan tiket itu.
Kalau pra kualifikasi saja tidak lolos, dan eh misalnya kita memaksakan diri untuk tetap boleh ikut lomba, dijamin, kita hanya akan kepunthal-punthal.
Mau kepunthal-punthal? Dia tahu kita jarang menghitung (kemampuan) diri kita.
Rahasia Dibalik Bilangan Ganjil
Sewaktu dulu saya ikut pelatihan Kewirausahaan bersama Pa Supardi Lee di Auditorium salah satu Fakultas di IPB saya diajari tentang "anchor", atau istilah Indonesianya jangkar. Jadi, kita membuat satu gerakan khusus, misalnya menceplikkan jempol, menggenggam tangan atau apapun lah, yang dengan itu kita jadikan shortcut atau penghubung dengan memory kita yang berisi semangat, kemenggebu-gebuan dan lain sebagainya.
Sederhananya, dengan kita mengepalkan tangan misalnya, diri kita jadi tergerak untuk semangat lagi, mengulang semangat di suatu waktu yang pernah kita alami dulu. Itulah anchor.
Saya mengistilahkan itu dengan aktivitas "mengingat semangat" atau bahasa Arabnya mungkin "Dzikrul Semangat" (ngarang....), karena dengan melakukan apa yang menjadi anchor kita, memory tentang semangat hadir di diri kita.
Ternyata hal itu bukan ilmu baru, sudah diajarkan bagaimana Dzikrullah dengan metode anchor sebagaimana yang diajarkan Pa Supardi Lee di atas. Bagaimana caranya?
Hadits Qudsi menyebutkan, "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", yang artinya, sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.
Nah, bilangan ganjil diajarkan-Nya untuk menjadi anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Kita memilih hari untuk bepergian, "hm, tanggal 13 apa 14 ya?" lalu sontak kita memilih "tanggal 13 ah!", kemudian seorang teman berkata "kenapa 13?", lalu kita menjawab "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", bukankah itu artinya kita sudah melaksanakan aktivitas mengingat Allah? Dzikrullah?
Bukan hanya mengingat, tetapi juga memilih apa yang Dia cintai. Nah, mulai sekarang jadikanlah bilangan ganjil sebagai anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Ketika kita bimbang memilih hari untuk bepergian, pilih yang ganjil, ketika membeli sesuatu pilihlah jumlah yang ganjil, ketika menyalakan volume televisi tetapkan pada volume ganjil, dan setiap kali ada orang bertanya atau diri kita sendiri yang bertanya, "kenapa?", maka jawablah "Allah itu ganjil, dan menyukai yang ganjil". Maka kita sudah mengingat-Nya, sudah melibatkannya.
Quraish Syihab mengatakan, "Esensi beragama adalah melibatkan Allah dalam setiap urusan kita."
Wallahu'alam, CMIIW.
Sumber dari kuliah taraweh di Masjid Daarut Tauhid
Sederhananya, dengan kita mengepalkan tangan misalnya, diri kita jadi tergerak untuk semangat lagi, mengulang semangat di suatu waktu yang pernah kita alami dulu. Itulah anchor.
Saya mengistilahkan itu dengan aktivitas "mengingat semangat" atau bahasa Arabnya mungkin "Dzikrul Semangat" (ngarang....), karena dengan melakukan apa yang menjadi anchor kita, memory tentang semangat hadir di diri kita.
Ternyata hal itu bukan ilmu baru, sudah diajarkan bagaimana Dzikrullah dengan metode anchor sebagaimana yang diajarkan Pa Supardi Lee di atas. Bagaimana caranya?
Hadits Qudsi menyebutkan, "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", yang artinya, sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.
Nah, bilangan ganjil diajarkan-Nya untuk menjadi anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Kita memilih hari untuk bepergian, "hm, tanggal 13 apa 14 ya?" lalu sontak kita memilih "tanggal 13 ah!", kemudian seorang teman berkata "kenapa 13?", lalu kita menjawab "Innalloha mitru, wayuhibbul witru", bukankah itu artinya kita sudah melaksanakan aktivitas mengingat Allah? Dzikrullah?
Bukan hanya mengingat, tetapi juga memilih apa yang Dia cintai. Nah, mulai sekarang jadikanlah bilangan ganjil sebagai anchor atau jangkar untuk mengingat-Nya. Ketika kita bimbang memilih hari untuk bepergian, pilih yang ganjil, ketika membeli sesuatu pilihlah jumlah yang ganjil, ketika menyalakan volume televisi tetapkan pada volume ganjil, dan setiap kali ada orang bertanya atau diri kita sendiri yang bertanya, "kenapa?", maka jawablah "Allah itu ganjil, dan menyukai yang ganjil". Maka kita sudah mengingat-Nya, sudah melibatkannya.
Quraish Syihab mengatakan, "Esensi beragama adalah melibatkan Allah dalam setiap urusan kita."
Wallahu'alam, CMIIW.
Sumber dari kuliah taraweh di Masjid Daarut Tauhid
Lilinnya Padam
Teduh rasanya ruangan, kalau ada lilin yang menyala di dalamnya. Memang tidak terang benderang, tapi nyaman. Beda ceritanya kalau lilin itu mati. Kita berharap ada lampu pijar menyala menerangi kita. Masih kurang terang, sambil menggerutu, kita menuntut dihadirkan matahari.
Ada cara yang lebih tidak menyiksa, yakni : akui saja. Akuilah saja kalau "lilin diri" kita padam, sehingga kita menuntut lampu pijar untuk segera dinyalakan agar kita terterangi. Akuilah seperti Nabi Yunus AS mengakui kedzoliman dirinya dalam doa "Lailahaila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin" agar kita tidak lelah menuntut dihadirkan matahari.
Memang terlalu sombong manusia, Nabi saja mengaku dirinya dzolim dihadapan-NYA, lah kita malah mengaku-ngaku hebat, walau pada kenyataannya setiap hari kita meminta lampu pijar, menuntut dihadirkan matahari, pertanda "lilin diri" kita mati.
Ada cara yang lebih tidak menyiksa, yakni : akui saja. Akuilah saja kalau "lilin diri" kita padam, sehingga kita menuntut lampu pijar untuk segera dinyalakan agar kita terterangi. Akuilah seperti Nabi Yunus AS mengakui kedzoliman dirinya dalam doa "Lailahaila anta subhanaka inni kuntu minadzolimin" agar kita tidak lelah menuntut dihadirkan matahari.
Memang terlalu sombong manusia, Nabi saja mengaku dirinya dzolim dihadapan-NYA, lah kita malah mengaku-ngaku hebat, walau pada kenyataannya setiap hari kita meminta lampu pijar, menuntut dihadirkan matahari, pertanda "lilin diri" kita mati.
9/28/10
Amannya Mario Teguh
Ketika Ary Ginanjar dihujat lantaran dalam membawakan materi training-training pembangun jiwa mengutip Al Quran, Hadits, dan kata bijak dari tokoh2 Islam. Mario Teguh justru aman-aman saja.
Coba si simak rekaman Mario Teguh dalam programnya di Metro TV yang populer dengan sebutan MTGW, simak dengan cermat, dalam sekali tayang berapa kali Mario Teguh mengungkapkan kalimat-kalimat yang menyerupai ayat Al Quran dan Hadits Nabi SAW.
Ary Ginanjar yang mencoba mempenetrasikan nash-nash asli itu digampar bahkan ditendang, lantaran ini dan itu. Tetapi Mario Teguh tidak, karena Mario Teguh me re-redaksi atau membuat keredaksian sendiri yang senada dan mirip dengan nash-nash Al Quran dan Hadits.
Apapun itu, merekalah orang2 berilmu yang turun gunung, yang bukan hanya dakwah di dalam masjid, yang bukan hanya berharap membeli surga dengan rakaat sholat dan sekian persen zakat berasnya.
Saya jadi teringat kata teman baik saya di kumpulan di rumah Karyanto silaturahim Idul Fitri kemarin, "Golongan Islam klasik memang lebih getol mengkritik saudara seiman sendiri, ketimbang mengkritik orang lain."
Prihatin saya.
Pa Ary, teruslah menuju kebenaran dan teruslah berbagi. Mario Teguh, teruskan pula, saya setuju2 saja kok, toh itu lebih aman dari serangan saudara sendiri. Yang penting pesannya sampai dulu, daripada pesan tidak pernah tersampaikan hanya karena meributkan nash.
Coba si simak rekaman Mario Teguh dalam programnya di Metro TV yang populer dengan sebutan MTGW, simak dengan cermat, dalam sekali tayang berapa kali Mario Teguh mengungkapkan kalimat-kalimat yang menyerupai ayat Al Quran dan Hadits Nabi SAW.
Ary Ginanjar yang mencoba mempenetrasikan nash-nash asli itu digampar bahkan ditendang, lantaran ini dan itu. Tetapi Mario Teguh tidak, karena Mario Teguh me re-redaksi atau membuat keredaksian sendiri yang senada dan mirip dengan nash-nash Al Quran dan Hadits.
Apapun itu, merekalah orang2 berilmu yang turun gunung, yang bukan hanya dakwah di dalam masjid, yang bukan hanya berharap membeli surga dengan rakaat sholat dan sekian persen zakat berasnya.
Saya jadi teringat kata teman baik saya di kumpulan di rumah Karyanto silaturahim Idul Fitri kemarin, "Golongan Islam klasik memang lebih getol mengkritik saudara seiman sendiri, ketimbang mengkritik orang lain."
Prihatin saya.
Pa Ary, teruslah menuju kebenaran dan teruslah berbagi. Mario Teguh, teruskan pula, saya setuju2 saja kok, toh itu lebih aman dari serangan saudara sendiri. Yang penting pesannya sampai dulu, daripada pesan tidak pernah tersampaikan hanya karena meributkan nash.
9/26/10
Nanti Dibikin
Sebuah dedikasi untuk teman-teman se-almamater tercinta, untuk persatuan ukhuwah kita dan mengembangkan semangat koperasi tanpa harus mendaftarkan diri ke departemen koperasi (karena sesungguhnya departemen koperasi, departemen agama dan lain2nya itu aneh keberadaannya...), bahkan tanpa menggunakan nama koperasi seperti yang tertempel di taksi-taksi sekarang... Nanti kita bikin :
99. Spensaba Mart
05. Pasar Kecil Psimis
99. Spensaba Mart
05. Pasar Kecil Psimis
Hikayat Kelahiran Bedug
Waktu itu Islam belum lama datang di tanah Jawa, tanah Jawa yang masyarakatnya belum mengenal kalkulator apalagi kamus bahasa Arab, masih tradisional pokoknya.
Setelah beberapa orang di kelompok masyarakat itu bisa syahadat, selanjutnya mereka diajari sholat. Maka, dibangunlah sebuah masjid yang sederhana dan diserahkanlah pengurusan masjid itu kepada seorang warga bersama Tarmin.
Tarmin juga yang biasa adzan disitu, hari berganti hari si Tarmo yang masuk Islam dan mengaji materi "Fundamental Islam" bersama Tarmin jarang sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di masjid, lalu ditegurlah dia, "kamu kok nggak ikut sholat jamaah Dhuhur dan Ashar?"
Si Tarmo menjawab, "Lah, saya di kebon, nggak denger kamu Adzan, makanya beli mic & Toa donk?!", Lalu si Tarmin menjawab, "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada toko yang jualan mic & Toa!".
"Oh iya, lupa...", kata Tarmo. "Kalau begitu begini saja, itu ada kayu bolong kalau dipukul kan lumayan keras bunyi 'thong-thong-thong' nya, nah, kalau kamu mau Adzan, dipukul dulu ya yang keras biar aku tahu bahwa sebentar lagi Adzan", lanjut Tarmo.
"Ah, ribet amat si, tinggal kamu lihat jam si kenapa, kira2 sendiri sudah masuk waktu sholat apa belum...", Sanggah Tarmin. "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada jam! lupa ya?!", jawab Tarmo. "Oh iya, lupa....", balas Tarmin.
"Baiklah, aku tabuh kayu itu ya kalau mau Adzan, tapi kamu gotong gih ke depan masjid", lanjut Tarmin.
Sejak saat itu, tiap dengar 'thong-thong-thong', Tarmo segera bergegas dari kebonnya dan menuju masjid. Dia tidak pernah lagi ketinggalan jamaah karena sebuah benda yang kemudian diberi nama "Kenthong", karena bunyinya tang thong-thong-thong itu.
Nah, yang kebonnya lebih jauh tidak bisa mendengar jelas itu kenthong, apalagi anak-anak biasa mainan menabuh-menabuh kayu. Daripada salah pendengaran atau tidak terdengar, ada orang lain yang kebonnya lebih jauh dari Tarmo urun kulit sapi yang dibundarkan di atas kayu yang kalau dipukul bunyinya "dug-dug-dug".
Lambat laun benda itu dikenal dengan nama bedug karena bunyinya yang 'dug-dug-dug'. Karena tarmin sudah ribuan hari menabuh itu dua benda, maka lambat laun jadi tidak sekedar menabuh tetapi muncul irama tertentu seperti yang terdengar sekarang ini.
Dan karena kayu bolong dan kulit sapi itu sering kehujanan, maka diiubkanlah di di serambi masjid. Tidak lama berselang setelah kebiasaan itu terbentuk, kiai yang mengajar ngaji Tarmin dan Tarmo ditangkap penjajah Belanda.
Kejamnya penjajah Belanda, kiai yang baik itu diasingkan dan ditukar dengan kiai palsu yang pekerjaannya menyelewengkan aqidah. Walhasil, masyarakah Jawa yang tradisional, sederhana dan miskin wawasan itu beberapa ada yang mensyariatkan kenthong dan bedug sebagai syarat sah sebuah masjid.
Begitulah, tidak selang berapa lama berlalu, Tarmo, Tarmin dan gurunya dianggap sesat karena menggunakan benda-benda itu. Mungkin pendapat dari orang yang menganggap sesat itu, seandainya Tarmo tidak usah menggunakan benda-benda itu, dan tidak usah mendengar orang adzan karena jauhnya ladang, itu bisa jadi dianggap tidak sesat. (*Aneh...)
Sebagaimana di judul, ini cuma hikayat, hikayat itu cuma ngarang... jadi ini bukan teks sejarah kelahiran bedug ya, jangan dicap sesat saya.
Sekedar ingin mengajak berpikir, bahwa yang mutlak benar itu Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain, selain Al Quran dan Hadits semuanya mempunyai kemungkinan salah. Nah, cara dan hasil tafsil Al Quran dan Hadits itu bagian dari Al Quran dan Hadits itu sendiri atau bukan? Kalau bukan, berarti itupun mungkin salah.
CMIIW
Setelah beberapa orang di kelompok masyarakat itu bisa syahadat, selanjutnya mereka diajari sholat. Maka, dibangunlah sebuah masjid yang sederhana dan diserahkanlah pengurusan masjid itu kepada seorang warga bersama Tarmin.
Tarmin juga yang biasa adzan disitu, hari berganti hari si Tarmo yang masuk Islam dan mengaji materi "Fundamental Islam" bersama Tarmin jarang sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di masjid, lalu ditegurlah dia, "kamu kok nggak ikut sholat jamaah Dhuhur dan Ashar?"
Si Tarmo menjawab, "Lah, saya di kebon, nggak denger kamu Adzan, makanya beli mic & Toa donk?!", Lalu si Tarmin menjawab, "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada toko yang jualan mic & Toa!".
"Oh iya, lupa...", kata Tarmo. "Kalau begitu begini saja, itu ada kayu bolong kalau dipukul kan lumayan keras bunyi 'thong-thong-thong' nya, nah, kalau kamu mau Adzan, dipukul dulu ya yang keras biar aku tahu bahwa sebentar lagi Adzan", lanjut Tarmo.
"Ah, ribet amat si, tinggal kamu lihat jam si kenapa, kira2 sendiri sudah masuk waktu sholat apa belum...", Sanggah Tarmin. "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada jam! lupa ya?!", jawab Tarmo. "Oh iya, lupa....", balas Tarmin.
"Baiklah, aku tabuh kayu itu ya kalau mau Adzan, tapi kamu gotong gih ke depan masjid", lanjut Tarmin.
Sejak saat itu, tiap dengar 'thong-thong-thong', Tarmo segera bergegas dari kebonnya dan menuju masjid. Dia tidak pernah lagi ketinggalan jamaah karena sebuah benda yang kemudian diberi nama "Kenthong", karena bunyinya tang thong-thong-thong itu.
Nah, yang kebonnya lebih jauh tidak bisa mendengar jelas itu kenthong, apalagi anak-anak biasa mainan menabuh-menabuh kayu. Daripada salah pendengaran atau tidak terdengar, ada orang lain yang kebonnya lebih jauh dari Tarmo urun kulit sapi yang dibundarkan di atas kayu yang kalau dipukul bunyinya "dug-dug-dug".
Lambat laun benda itu dikenal dengan nama bedug karena bunyinya yang 'dug-dug-dug'. Karena tarmin sudah ribuan hari menabuh itu dua benda, maka lambat laun jadi tidak sekedar menabuh tetapi muncul irama tertentu seperti yang terdengar sekarang ini.
Dan karena kayu bolong dan kulit sapi itu sering kehujanan, maka diiubkanlah di di serambi masjid. Tidak lama berselang setelah kebiasaan itu terbentuk, kiai yang mengajar ngaji Tarmin dan Tarmo ditangkap penjajah Belanda.
Kejamnya penjajah Belanda, kiai yang baik itu diasingkan dan ditukar dengan kiai palsu yang pekerjaannya menyelewengkan aqidah. Walhasil, masyarakah Jawa yang tradisional, sederhana dan miskin wawasan itu beberapa ada yang mensyariatkan kenthong dan bedug sebagai syarat sah sebuah masjid.
Begitulah, tidak selang berapa lama berlalu, Tarmo, Tarmin dan gurunya dianggap sesat karena menggunakan benda-benda itu. Mungkin pendapat dari orang yang menganggap sesat itu, seandainya Tarmo tidak usah menggunakan benda-benda itu, dan tidak usah mendengar orang adzan karena jauhnya ladang, itu bisa jadi dianggap tidak sesat. (*Aneh...)
Sebagaimana di judul, ini cuma hikayat, hikayat itu cuma ngarang... jadi ini bukan teks sejarah kelahiran bedug ya, jangan dicap sesat saya.
Sekedar ingin mengajak berpikir, bahwa yang mutlak benar itu Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain, selain Al Quran dan Hadits semuanya mempunyai kemungkinan salah. Nah, cara dan hasil tafsil Al Quran dan Hadits itu bagian dari Al Quran dan Hadits itu sendiri atau bukan? Kalau bukan, berarti itupun mungkin salah.
CMIIW
9/24/10
Play On
Tidak terasa, sudah hampir setengah tahun saya menikmati irama aktivitas yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya saya banyak di balik layar (layar laptop) dan sedikit putar-putar purwokerto, sekarang hampir setiap hari harus mampir SPBU.
Setiap kali saya selesai dari sebuah urusan eh kemudian merogoh saku dan menyimak lembaran to do list yang saya buat dari potongan kertas aster ukuran 6 x 8 dan ternyata sudah ada waiting list aktivitas berikutnya yang harus segera saya temujui dan saya beresi, seketika itu pula saya melatih diri saya untuk reflex mengucap ungkapan tertulus dari dalam hati :
"Alhamdulillah, waktu yang saya punyai termanfaatkan"
Betapa syukur itu kentara mendalam ketika saya mengcounternya dengan dua kenyataan berbeda di luar saya : 1. mereka yang bingung mau ngapain dan 2. mereka yang terpaksa harus ngapa-ngapain demi janji yang mereka tuangkan dalam surat kontrak yang mereka tanda tangani sendiri.
Dan sebuah hadiah indah kemarin saya dapati, MYELIN namanya. Bahwasannya, tidak ada yang merugi bagi seorang yang gemar playon tetapi tetap berpikir mendalam (berkontemplasi), karena muscle memory atau memory yang tersebar di sekujur tubuh kita berkembang, seiring dengan berkembangnya brain memory di dalam otak kita.
Orang yang hanya bertindak, berorientasi pada bayaran atau penilaian atas hasil tanpa berpikir mendalam tentang visi hingga evaluasi maka brain memory-nya tidak berkembang. Dan orang yang hanya berpikir, tanpa tersibukkan dirinya dengan action fisik (playon), maka muscle memory nya tidak akan berkembang. Dan kata Renald Kasali si penulis buku MYELIN, beriringnya perkembangan kedua memori penting di dalam tubuh kita itulah yang membuat lahirnya pemimpin-pemimpin besar dibidangnya.
Saya mengira-ira, mungkin itu semakna dengan perpaduan yang kata Bob Sadino jam terbang dan kata Ippho Santosa Intuisi.
Mari playon, marilah playon, marilah Play On bersama sama...
Setiap kali saya selesai dari sebuah urusan eh kemudian merogoh saku dan menyimak lembaran to do list yang saya buat dari potongan kertas aster ukuran 6 x 8 dan ternyata sudah ada waiting list aktivitas berikutnya yang harus segera saya temujui dan saya beresi, seketika itu pula saya melatih diri saya untuk reflex mengucap ungkapan tertulus dari dalam hati :
"Alhamdulillah, waktu yang saya punyai termanfaatkan"
Betapa syukur itu kentara mendalam ketika saya mengcounternya dengan dua kenyataan berbeda di luar saya : 1. mereka yang bingung mau ngapain dan 2. mereka yang terpaksa harus ngapa-ngapain demi janji yang mereka tuangkan dalam surat kontrak yang mereka tanda tangani sendiri.
Dan sebuah hadiah indah kemarin saya dapati, MYELIN namanya. Bahwasannya, tidak ada yang merugi bagi seorang yang gemar playon tetapi tetap berpikir mendalam (berkontemplasi), karena muscle memory atau memory yang tersebar di sekujur tubuh kita berkembang, seiring dengan berkembangnya brain memory di dalam otak kita.
Orang yang hanya bertindak, berorientasi pada bayaran atau penilaian atas hasil tanpa berpikir mendalam tentang visi hingga evaluasi maka brain memory-nya tidak berkembang. Dan orang yang hanya berpikir, tanpa tersibukkan dirinya dengan action fisik (playon), maka muscle memory nya tidak akan berkembang. Dan kata Renald Kasali si penulis buku MYELIN, beriringnya perkembangan kedua memori penting di dalam tubuh kita itulah yang membuat lahirnya pemimpin-pemimpin besar dibidangnya.
Saya mengira-ira, mungkin itu semakna dengan perpaduan yang kata Bob Sadino jam terbang dan kata Ippho Santosa Intuisi.
Mari playon, marilah playon, marilah Play On bersama sama...
9/23/10
Stadium Kepepet, Stadium Dorurot
Sebetulnya sangat beda, tapi berapa banyak orang yang sengaja merancukan antara dua kondisi ini, yakni stadium kepepet dan stadium darurat.
Kepepet itu misalnya, jatuh tempo angsuran. Dorurot itu diancam sama depkolektor mau dibunuh. Nah, diajaran agama kita, dalam kondisi dorurot bahkan daging babipun boleh dimakan asal dianggap menjadi satu-satunya jalan yang bisa berefek kuratif (menyembuhkan).
Kehati-hatian kita adalah dalam menentukan kita sebetulnya stadiumnya sudah dorurot apa baru kepepet. Kalau baru kepepet kok sudah makan daging babi, aduh jaaan sayang..... Jasa Setiabudi sampai membuat buku tersendiri tentang kekuatan dibalik kepepet yang judulnya The Power of Kepepet.
Pesan saya, saat merasa stress, buntu, merasa kondisi sudah dorurot, sharinglah kepada orang yang tepat, kalau bisa jangan hanya kepada satu orang, agar kita bisa menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk mendefinisikan kondisi kita memang benar-benar dorurot atau baru kepepet tapi sudah mau makan babi?
Kepepet adalah tonggak kebangkitan diri kita, kecuali sudah benar-benar dorurot, janganlah terburu-buru makan babi. Kepepet bukan dalih untuk bisa kita sebut dorurot, kepepet adalah timing kita untuk meluncur...
Kepepet itu misalnya, jatuh tempo angsuran. Dorurot itu diancam sama depkolektor mau dibunuh. Nah, diajaran agama kita, dalam kondisi dorurot bahkan daging babipun boleh dimakan asal dianggap menjadi satu-satunya jalan yang bisa berefek kuratif (menyembuhkan).
Kehati-hatian kita adalah dalam menentukan kita sebetulnya stadiumnya sudah dorurot apa baru kepepet. Kalau baru kepepet kok sudah makan daging babi, aduh jaaan sayang..... Jasa Setiabudi sampai membuat buku tersendiri tentang kekuatan dibalik kepepet yang judulnya The Power of Kepepet.
Pesan saya, saat merasa stress, buntu, merasa kondisi sudah dorurot, sharinglah kepada orang yang tepat, kalau bisa jangan hanya kepada satu orang, agar kita bisa menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk mendefinisikan kondisi kita memang benar-benar dorurot atau baru kepepet tapi sudah mau makan babi?
Kepepet adalah tonggak kebangkitan diri kita, kecuali sudah benar-benar dorurot, janganlah terburu-buru makan babi. Kepepet bukan dalih untuk bisa kita sebut dorurot, kepepet adalah timing kita untuk meluncur...
Subscribe to:
Posts (Atom)






