7/17/10

Tangga Keamanan


Safak Muhammad menjelaskan secara sistematis dan logis tentang bagaimana seorang pebisnis bisa memiliki keamanan finansial. Ini mematahkan mitos-mitos konservatif bahwa pebisnis rawan stess karena bangkrut bisa terjadi sewaktu-waku, bahwa bisnis tidak bisa untuk hidup.

Ada tiga komponen sekaligus merupakan tangga karena lazimnya untuk menguasai ketiga hal tersebut kita harus memulainya satu persatu. Tiga komponen itu disingkat dengan 3P.

P yang pertama adalah PAKAR.
Untuk memulai tangga keamanan finansial seorang pebisnis, seorang pebisnis harus mendefinisikan dirinya sebagai pakar di bidang apa, misal fotografi, musik, penulis, design grafis, IT, dan lain sebagainya.

P yang kedua adalah PENGUNGKIT.
Bisnis tidak bisa dikerjakan sendiri, karena itu diperlukan pengungkit. Apa saja pengungkit itu? Pengungkit adalah faktor-faktor diluar diri kita yang dimanaj untuk membantu mengungkit kesuksesan diri kita, diantaranya adalah uang orang lain, tenaga orang lain, ide orang lain, nama besar orang lain, tempat orang lain dan sebagainya.

dan P yang ketiga adalah PETERNAKAN ASET.
Pada akhirnya seorang pebisnis yang sudah bisa mengumpulkan dana cash bisa dengan smart memilih tempat investasi teraman, bukannya dihabiskan untuk kebutuhan konsumsi. Aset kita bisa diternakkan dalam bentuk pengembangan property, deposito, saham, emas, investasi di bisnis orang lain dan lain sebagainya.

Nah, ajaran bisnis Aliran Purdi E Chandra pincang, karena di awal bisnis orang sudah diajari untuk langsung P yang kedua. Tentu, ini tidak bisa serta merta menyalahkan Purdi Chandra, karena sudah terang-terangan beliau mengatakan manhaj bisnisnya adalah otak kanan, dan karakteristik otak kanan memang non-secuensial (acak) bukannya linear, jadi sah-sah saja melompat.

Namun demikian, ketika kita sudah memilih berbisnis dengan manhaj acak seperti itu, kita harus sadar akan dimana posisi kita pada peta kesuksesan kita, kita harus bisa mendefinisikan realitas [Dalil July Way Rizky ayat (1)], bahwa resiko kita memulai bisnis tidak sesuai garis linear 3P adalah kebutuhan masa kini kita yang mendesak tidak terpenuhi. Apa saja kebutuhan itu? Kebutuhan untuk makan, membayar angsuran, memiliki status untuk melamar, memiliki tabungan untuk menikah dan sebagainya.

Lalu, bagaimana untuk mensiasati agar kebutuhan itu bisa tetap tercover? ada tiga cara : Pertama, bangunlah P yang pertama, jadilah pakar di bidang sesuai skill kita, satu-satunya cara menjadi pakar adalah menghabiskan waktu terbanyak kita untuk fokus di bidang yang kita akan menjadi pakar disana, karena tidak ada seorang menjadi pakar (expert) dengan menekuni terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan.

Bila kita memilih forografi, tekuni itu. Bila kita memilih kuliner, tekuni itu. Temporary dan seiring berjalannya waktu kita akan menjadi pakar. Setelah menjadi pakar, kita akan dibutuhkan orang, akan dibayar orang dan kita akan punya uang untuk makan, membayar angsuran, memiliki status dan berani melamar, menabung untuk modal menikah dan sebagainya.

Cara kedua, kalau tidak telaten memilih bidang dan membangun diri menjadi seorang pakar, maka cara ini bisa dipilih, barterkan waktu kita. Dengan membartertkan waktu kita kepada orang lain, maka kita bisa dibayar (baca : digaji), dan dari orang lain itu kita bisa makan, bisa membayar angsuran, bisa memiliki kartu pegawai sebagai status dan bisa menabung.

Cara ketiga, berhutanglah. Selama ada pihak ketiga yang bisa mendonasi hidup kita, itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi jembatan sementara hingga selesai pembangunan jembatan permanenenya (baca:bisnis), dan setelah itu bisa berlipat-lipat kita bayar hutang itu.

Diantara ketiga cara, menurut saya cara paling smart adalah yang pertama, karena hutang itu sama dengan menggadaikan diri, karena membarterkan waktu itu sama dengan menyerahkan kekayaan paling berharga yang kita miliki, sedangkan mengasah skill menjadi seorang PAKAR, maka berarti kita belajar selaras alam dan pada akhirnya status yang kita sandang sebagai (Expert in ...) itu lebih sejati ketimbang status pada kartu perusahaan manapun.

Tetapi jangan 'sawang sinawang' beranggapan berbisnis secara acak itu lebih jelek daripada berbisnis secara linear. Jangan salah, justru banyak sekali pebisnis linear yang karena memulainya monoton mulai dari P1, P2 dan seterusnya, mereka terjebak dalam zona nyaman bernama "omzet", sehingga menjadi orang yang takut mengambil resiko lebih besar dan enggan mengembangkan usaha. Akhirnya P yang ketiga pun tak kunjung bisa mereka raih.

Hm, saya belum menemukan apa sebenarnya "Expert in" saya. di bidang apa ya saya asah ke-PAKAR-an saya? Ada masukan?

No comments:

Post a Comment