12/30/09

Mungkin (Sangat Mungkin)

Mungkin (sangat mungkin) nanti ada satu fase dimana saya jadi seorang dosen, wah berarti saya S2 donk? bisa iya, bisa juga tidak. Yang jelas, waktu itu jadi dosen di kampus milik sendiri, entah saya rektornya, entah saya ketua yayasannya, entah saya ketua dewan pembina yayasannya.

Mengajar mata kuliah kewirausahaan, atau lainnya. Yang jelas, saya terinspirasi oleh Pak Balia juga terinspirasi oleh para trainer yang materi dan raut mukanya saat training tak terlupakan, juga terinspirasi oleh training-training saya sendiri. Yah, dosen adalah profesi dimana ia mempunyai peluang besar untuk menjadi seorang inspirator bagi mahasiswa-mahasiswanya.

Amat disayangkan, banyak dosen tidak memanfaatkan peluang besar itu, hanya menganggap profesinya sebagai ladang mengebulkan dapur dan meninggikan kehormatan diri.

Dan mungkin (sangat mungkin) istri saya menjadi seorang penjaga apotek, tetapi sekaligus sebagai pimpinan pengelolaan apotek yang kami miliki bersama dalam naungan jaringan entrepreneur-communitty yang saya bangun.

Entah iapotek itu ada buka praktek dokter apa saja, yang jelas dia bukan sebagai pelayan para dokter itu, dia adalah manajer para dosen, yang menentukan jadwal, yang menentukan tarif normal, tarif subsidi silang dan tarif hemat untuk orang miskin agar tidak ada pasien yang terbebani, tetapi klinik yang satu atap dengan apotek kami itu tidak rugi.

Ada transit room di apotek itu, ada transit room pula di kampus, tapi tetap kita tinggal di perumahan yang masjidnya makmur dan semakin makmur atas kehadiran kita. Mungkin (sangat mungkin) Saphire Regency yang di dekat stasiun, atau entah lainnya, yang jelas di Purwokerto.

Hm, coba si buka-buka postingan saya di blog ini di masa lalu, banyak tulisan yang saya tulis pada kondisi belum ada yang saya tulis, eh selang berapa lama, jadi ada. Contohnya adalah telepon dan internet, dulu saya cuma tulis sebagai "ingin", dengan perjuangan panjang, diserahkan ke si A, tidak becus, ke B tidak serius, ke C ogah-ogahan, ke D dijalankan dengan terpaksa, eh selang 13 bulan berlalu akhirnya terwujud, kita bisa gratisan internet di L22 bahkan untung hingga hampir satu juta perbulannya dan sekarang kerasa sekali manfaatnya ketika harus perpanjangan kontrak.

Dan, apakah cukup dengan hampir satu juta itu? Tidak. Saya punya masterplan, ya saya punya, agar menjadi 10 juta sebulan untungnya atau bahkan lebih. Memang bisa? Khayal sekali? Ah, dulu saja pas jamannya hanya ada 1 komputer dengan RAM 128 tanpa internet juga hampir satu juta perbulan adalah sesuatu yang khayal sekali menjadi nyata.

Nanti lah, yang lebih penting dari memacu keuntungan finansial adalah bagaimana memberi ruang bebas bagi setiap individu untuk mengembangkan diri. Seperti ruang bebas yang diberikan Ibu dan Bapak saya untuk belajar, hingga menjadi seperti sekarang ini dan seperti saya di masa depan.

Salam Semangat

12/29/09

Mahal

Notepad adalah sesuatu yang sangat mahal bagi seorang Linguistik
16 pensil warna adalah nyawa bagi seorang Visual
Lapangan adalah surga bagi seorang Kinestetik
Waktu menyendiri adalah sesuatu yang tidak terkira berharganya bagi seorang Intrapersonal
Berbincang, bercengkerama, bersama-sama teman adalah saat istimewa bagi seorang Interpersonal
Dipisahkan dari earphone adalah saat termenyedihkan bagi seorang Musikal
Bahkan pergerakan semutpun dianalisis oleh seorang Matematik
Alam adalah rumah bago seorang Naturalis

12/27/09

Ingin bercerita

Saya ingin bercerita, tentang bumi dan masa jaya-jayanya dulu, Gajahmada juga Cut Nyak Dien, Perang paderi juga Perang Gerilya Jenderal Soedirman, Empu Gandring juga Soekarno.

Tentang Armada Hasanuddin juga KRI Irian, tentang Negarakartagama juga UUD 45. Tentang hubungan self-motivation the inner energy dengan semua itu.

Hanya Karena Terlalu Pandai

Pagi-pagi sudah dapat pelajaran. Tadi di GOR, jalan-jalan mengamat-amati, eh ternyata eh ternyata, ada pelajaran yang terselip diantara padatnya penjual-penjual di pasar kaget yang meramaikan GOR Satria Purwokerto tiap minggu ini.

Pelajaran pertama : Ternyata bukan hal yang mustahil aki bisa menyalakan lampu neon. Lah, disana aki bisa dipakai untuk menyalakan spekaer, bahkan printer dan laptop. Yang mustahil itu, kalau kita tidak mengusahakan apa-apa eh tiba-tiba tuh aki bisa menyalakan neon dengan sendirinya.

Pelajaran kedua : Ada seorang bapak yang sudah berumur, dia bawa laptop yang enggak lebih bagus dari laptop kita, dia siapkan box dari kain yang dikerangkai besi-besi bekas, laptop itu disambungkan dengan webcam yang kayanya nggak lebih bagus dari webcam kita, terus printer model jadul yang levelnya jauh lah di bawah R230 punya.

Tapi dia bisa jualan, jualan photobox di GOR. Yah, nggak pentinglah omzetnya berapa, itu nanti. Tapi yang penting saat ini adalah, karena alat-alatnya yang sederhana itu, ditambah modal template dan sedikit kemampuan mengolah-olah gambar (desain yang dipakai standar banget kok) dia bisa menuangkan kreativitasnya dalam bentuk tindakan nyata.

Mengubah ide menjadi gizi. Loh iya, dari angan-angannya, dia pacu dengan kemauan, dia lengkapi dengan peralatan, dia wujudkan dalam bentuk jualan, hasilnya bisa buat istri pergi ke warung, anak-anak bisa makan dan mendapat asupan gizi.

Ini teguran bahkan tamparan luar biasa keras bagi saya, betapa selama ini terlalu gamam dalam bertindak. Merasa laptop kurang bagus, printer kurang top, kemampuan desain kurang yahud, kualitas cetakan kurang prima, terus apalagi, terus apalagi?

Saya terlalu egois, kenyamanan pikiran lebih penting ketimbang berapa banyak nafkah yang harus saya wujudkan, berapa banyak ide yang seharusnya bisa saya bumikan. Merasa kurang ini kurang itu, padahal sebetulnya yang ada disekeliling saya sudah lebih dari cukup, luar biasa tak terkira, hanya karena terlalu pandai saya.

12/26/09

Percakapan Bill Gates (2)


"Bill, salahmu adalah kamu terlalu hebat.", kata Gur lagi.

Ide-idemu bagus, brilian, besar, spektakuler, bisa fenomenal. Kamu bikin program 1000 senyum anak-anak miskin. Kamu susun proposal perpustakaan nasional. Kamu rancang media gratisan.

"Maksudnya itu salah Gur?", tanya Bill. Apa jawab Guru, "bisa jadi Ya, salah!".

"Kenapa?, Kenapa salah?"

"Ada tukang batu hebat ingin membangun menara, dia sibuk mengecat eterneit, merakit elevator, mendatangkan pot dan bunga-bunga yang akan dipakai menghias ruangan. Kamu akan bilang dia salah atau benar sementara pondasi belum beres, atap belum dipasang?", Kata Gur.

"Nanti 80% kekayaanmu pakai untuk membuat 1000 program 1000 anak miskin, bikin 1000 perpustakaan nasional, atau apa saja yang kamu inginkan untuk memenuhi naluri hebatmu. Nanti itu bisa, asal kamu mau penuhi syaratnya!"

"Apa itu syaratnya, Gur?". "Wujudkan kekayaanmu, hingga 80% dari kekayaan yang berhasil kamu wujudkan itu mampu untuk memenuhi semua keinginan-keinginan hebatmu! Pacu dirimu betul-betul!"



Dan betul, 80% kekayaannya dihabiskan di Bill & Melinda Gates yang mendunia. Tapi ternyata tidak betul semua percakapan diatas, cari saja referensinya kalau bisa nemu!

Percakapan Bill Gates

Terhenyak mendengar percakapan tokoh besar dunia dan seorang yang telah berhasil membesarkannya, yakni gurunya. Waktu itu Bill Gates belum menjadi orang terkaya di dunia, dia masih duduk di bangku kuliah, memutuskan keluar dan mengejar idealismenya.

Hohoho, sayang disayang, bertahun-tahun berlalu, dia cuma dianggap anak konyol yang sedang sibuk "bermain-main", disaat yang lain sudah berstrata atau berhasil mendapat pekerjaan, tentunya jodoh dan penghidupan yang dipandang orang. "Ini kenapa ini? Ini ada apa ini?", begitu pikir si Bill.

Mungkin memang idealisme terlalu mahal, mungkin idealisme memang letaknya hanya di dunia dongeng para motivator yang turun bak dewa-dewa dari kahyangan. Atau mungkin-mungkin lainnya mungkin...

Sampai akhirnya ilmu yang dia miliki menjaga langkahnya, terarah langkah sang kaki kehadapan gurunya, guru kehidupan yang luar biasa, dan berdialoglah membahas ini "Ada apa ini? Kenapa ini?" Begitulah kira-kira.

"Bill, semua itu butuh proses..", itu kata sang guru. Lalu Bill pun membalas ungkapan sang guru tadi, "Jadi saya nggak salah langkah ya Gur?", Bill melanjutkan "Tapi kenapa yang lain berhasil dengan kehidupannya sementara saya gini-gini aja, apa saya bukan salah langkah, tapi salah kecepatan?". "Tidak juga Bill", jawab sang guru.

"Lalu salah saya apa dong Gur?", Bill mencoba mencari pencerahan, "Salahmu adalah kamu terlalu hebat". Plis deh, dengan wajah bingung setengah bengong Bill menimpali "Maksudnya Gur?", "Jelaskan dong Gur!"...

"Bill, mereka kamu lihat berhasil, dan mungkin memang sudah berhasil, itu karena ukuran keberhasilan mereka ya cuma begitu, cuma segitu", jelas sang Guru. "So?", Bill belum mudheng. "Apakah kamu pikir, karena mereka sudah berhasil menurut ukuran mereka, lantas mereka lebih bahagia ketimbang kebahagiaanmu sekarang yang kamu nilai belum berhasil?", Gur melanjutkan penjelasannya.

"Bill, kebahagiaan tidak sesederhana itu bisa dicapai, ingat kebutuhan itu ada lima, mungkin banyak diantara mereka yang dengan kecerdasan hatinya mampu merasakan kebahagiaan dengan cara yang sangat sederhana. Tapi, berapa banyak dari mereka yang hanya mengejar sesuatu yang terlihat saja, sehingga sekalipun tampak sudah mencapai banyak hal tetapi sesungguhnya dia iri dengan kehidupan sepertimu?"

Biarpun nggak mudheng, tetap saja Bill sok antusias mendengarkan, sambil mencoba memudhengkan diri.

Resapi, pahami. Kalau sudah ngeresep, kalau sudah paham, boleh melanjutkan membacanya.

Bersambung...

Tahun Baru, Semangat Baru

"Its not about them, but its about me!"

Satu semangat baru yang spektakuler, bahwa kita adalah manusia-manusia masa depan yang dilahirkan di zaman yang terlampau dini. Oleh itulah, langkah-langkah kita menjadi tersendat (seolah) tak terarah.

Oleh itulah, bahasa-bahasa kita menjadi sulit sekali untuk dimengerti oleh orang-orang kebanyakan. Oleh pikiran kita yang berpuluh-puluh tahun lebih di depan ketimbang orang kebanyakan, orang-orang zaman sekarang.

Pilihan di tangan kita, bukan di tangan mereka. Tetap menjadi manusia-manusia masa depan dengan segenap keistimewaannya, atau memilih berkompromi dengan keadaan, menjadi manusia masa kini seperti anak elang yang tersesat di dalam sekawanan anak ayam demi kenyamanan saat ini?

Satu catatan penting : Jangan pernah berpikir keajaiban itu datang seperti doorpise yang diundi. Hasil yang berbeda tidak datang tiba-tiba, hasil yang berbeda adalah buah dari langkah kita yang berbeda.

Mulailah melangkah berbeda, tidak lagi loyo, tidak lagi setengah yakin, tidak lagi gaduh oleh komentar orang, tidak lagi peragu, tidak lagi membuang waktu, tidak lagi memanjakan diri, tidak lagi merasa kesuksesan itu begitu besar sedangkan diri kita saat ini begitu kecil.

Pembatal Keinginan

Janganlah menjadikan kemungkinan adanya kegagalan sebagai pembatal keinginan kita untuk mencapai kebesaran yang telah menjadi hak kita – yaitu untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.

Kesalahan dan kegagalan adalah pemberitahuan agar kita memperbaiki diri dan cara-cara kita, yang akan kita temui dalam upaya mewujudkan kelas-kelas kepemimpinan yang lebih tinggi pada diri kita.

Kesalahan dan kegagalan sama sekali bukanlah tanda untuk berhenti.

Kita – Anda dan saya, tidak mungkin mendekati keberhasilan, bila kita tidak berlaku ramah kepada kesalahan dan kegagalan.

Jika Anda tidak membuat kesalahan, itu berarti bahwa Anda tidak berupaya cukup keras.(Mario Teguh)

12/24/09

Mutiara Hati Hari Ini

"Saat Alloh menjawab do'amu, Dia meminta imanmu.
Saat Alloh belum menjawab do'amu, Ia meminta kesabaranmu.
Dan saat Alloh menjawab tapi bukan do'amu, Ia memilih yang t'bae untukmu."



:: Thankz : Arifiani ::

12/23/09

Al Fatihah buat Kawan

Bismillahirrahmanirrahim
AlhamdulillahiRabbila'lamin
Arrahmanirrahim
Malikiyaumiddin
Iyya kana'buduwaiyya kanasta'in
Ihdinassirotolmustakim
Siratollazinaan'amta'laihim ghorilmaghdubi'alaihim waladdaaaaaaalilin

amin...

Ternyata Semua Ini Menguatkan

Untuk penggagas, pendiri, perintis, pengurus, pengikut, penggemar, simpatisan. Untuk guru, figur, inspirator, konsultan. Dan untuk kekuatan niat kita yang mungkin kemarin sempat mengeluh karena masalah, karena penghadang, ternyata tanpa masalah, tanpa penghadang kita tidak pernah bisa naik kelas dan tidak pernah tahu sudah naik kelas atau belum.

Menjelang 2010, Saatnya Semakin Serius

Ini bukan pernyataan komitmen, ini adalah reportase, bahwa tindakan hari ini, 23 Desember 2009, adalah tanda bahwa memang saya sudah benar-benar serius.

Loh iya, masa muda masanya berapi-api, masa muda cuma lewat sekali, pas nanti sudah wisuda, sudah yang lain pada berrumah tangga, we have no choice again. Yeah, mending memaksakan diri hari ini, untuk berbuat lebih serius, ketimbang nanti, semua penuh dengan keterpaksaan dan keserbasalahan.

Yah, hidup itu susah. Kalau hidup tidak susah, sepertihalnya game yang mudah, hidup yang tidak menantang bisa-bisa mudah saja kita tinggalkan. Tutup kuping, langkah tegap maju jalan.

Tindakan boleh saja dikomentari apapun, keputusan boleh saja dipersepsikan apapun, tapi orang-orang yang benar-benar sayang padamu, tak perlu mempertanyakan apapun tentang niatmu, dia percaya akan itu.

Kalau gagal bagaimana? Gagal bukan kehinaan, kehinaan sesungguhnya adalah ketika kita tidak berbuat apa-apa. Kalau berhasil bagaimana? Bukankah itu yang kamu inginkan? Terlepas dari gagal dan berhasil, sudah, fokus saja, niatkan saja, kamu sedang merapatkan catatan kaledioskop yang akan kamu kenang di akhir 2010, setahun yang akan datang.

Bukankah kenangan kaledioskop 2009 kali ini begitu indah? Itu adalah tanda, bahwa kita bisa membuat catatan kenangan yang lebih indah, catatan aksi yang lebih terarah, catatan progress yang lebih rapat setahun yang akan datang.

Ayo bareng-bareng.

Merdekaaaaaa

Merdekaaaaaaaaaaaa!!!!!

Itu jawaban Om Bob pas diucapi Selamat Hari Raya. Aneh?!

12/22/09

Dua Cara untuk Sabar

Satu : gerakkan jari ke lima tuts keyboard ke tuts S lalu A lalu B lalu A lagi, terakhir R. Jangan terbalik!

Dua : beli jepitan jemuran, jepit pipi, tarik ke belakang.

*serasa udah jadi pensiunan, udah nggak nyambung diajak ngobrol. Ngobrolnya ma mbah2 di Kompasiana aja deh, udah sepuh kali gue

2 keputusan harus dibuat hari ini, semoga tepat.

Tugasku bukan untuk membuahkan hasil (berhasil). Tugasku cuma mencoba. Itu kata Pa Rio,
kalau salah?

Ya, kelaut aja.

*widarapayung tuh deket*

Ta sholat dulu nanti

Fatwa Pujangga

Tapi sayang... sayang.. sayang.. seribu kali sayang
kemanakah risau aku kualamatkan

Tlah kutrima suratmu yang lalu
penuh sanjongan kata merayu
syair dan pantun tersusun indah sayang
bagaikan sabda fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu yang itu
bak pusaka yang sangat bermutu
walau kita tak lagi bersua sayang
cukup sudah tandamu setia

Tapi sayang... sayang.. sayang.. seribu kali sayang
kemanakah risau aku kualamatkan
terimalah jawabanku ini
hanyalah doa restu Ilahi
mogalah de kau tak putus asa sayang
pasti kelak kita kan berjumpa

::Album Sang Pemimpi::

Kenapa si Senyum itu Ibadah?

Karena senyum itu lebih utama,

coba, saat kamu sendirian, mudah tidak untuk tersenyum?
saat tidak dihiraukan, mudah tidak untuk tersenyum?
saat tidak dipentingkan, mudah tidak untuk tersenyum?
saat tidak disenyumi, mudah tidak untuk tersenyum?
saat senyummu diabaikan, mudah tidak tersenyum?
saat sedang berusaha untuk tersenyum, diacuhkan, mudah tidak untuk tersenyum?

*menulis ini sambil tersenyum

12/20/09

Eratnya Psikis & Fisik

Membaca buku Dr. Majid Ramadhan. Teman, Emosi itu jangan dipendam. Disamping secara psikologis membuat piskis kita tertekan, karena solusi terbaik tak kunjung tercipta, tetapi memendam emosi itu bisa membuat fisik kita rusak dan berakibat sakit.

Dibuku itu dijelaskan, emosi yang dipendam dapat membuat kerusakan di lambung dan usus. Tentu dalam bentuk yang lebih besar, dapat pula mengena ke paru-paru bahkan jantung. Ya, ada keterkaitan yang erat antara piskis dan fisik.

Jadi, kalau kamu ada sakit, cobalah chek, karena kebiasaan makanmu, karena kebiasaan fisikmu, atau ada emosi yang terpendam begitu berat membebani? Begitu juga kalau kamu kurus saja, coba di chek, karena kurang nutrisi atau akibat dari ketidakstabilan emosi yang tidak diseimbangkan?

Emosi, salurkanlah, luapkanlah, agar ketemu solusi. Lari dari persoalan juga bukan kunci, bisa saja kita melupakan dengan pergi jauh kemana, tapi berapa lama si rasa itu mampu bertahan, begitu kembali goncang lagi, berat lagi... Sharinglah.

Sharing memang ada resikonya, tetapi resiko orang sharing jauh lebih rendah daripada resiko orang yang menahan emosinya.

12/19/09

Jogjaaa... (pengalaman pertama mereka)

Jangan melihat dari sudut pandang diri sendiri, itu pesan besarnya. Ya, bagi Yiyi dan Ifa, anak umur 7 dan 12 tahun perjalanan pertama kali ke Jogja bagi mereka adalah perjalanan yang seru! buktinya, sepanjang jalan tidak pernah tertidur, baru di akhir, ketika kereta super-ekonomi Logawa jurusan Surabaya-Purwoekerto berhenti di Stasiun Tambak, salah satu dari mereka tertidur.

Serasa jadi Backpaker, begitu kata mereka. "Loh memang tahu backpaking?" itu pertanyaan saya ketika mereka nyemlong itu, oh katanya ada di TV. Oh, pantas saja dari awal mereka tidak susah diajak untuk ngirit.

Ya, biasanya naik mobil kemana-mana, atau se-seru-serunya ya naik motor, terakhir perjalanan bersepeda motor menembus hutan gunung sawah ya menuju lautan di perbatasan kebumen dan Cilacap, pantai Karangbolong namanya.


Tapi kali ini dengan kereta, karena bekal sedikit, maka harus ngirit. Turun di stasun Kroya 5 menit sebelum kereta Logawa pagi datang, beli donat dan teh manis cuma 1, barengan makannya. Begitu juga pas di kereta, tercatat cuma beli satu nasi goreng di restorasi, satu botol aqua (betul-betul mereknya aku lho), satu buah tisu dan satu bungkus tahu Purworejo. sudah itu.

Sepanjang jalan di kereta, duduk berdiri duduk berdiri si Yiyi terlihat sekali menikmati perjalanan. Mungkin ketika besar nanti dia juga akan jadi railfan, apalagi perjalanan pulangnya, yang biasanya kalau di mobil bahkan di motor dia tertidur, eh malah harus membuntuti dia jalan-jalan sepanjang lorong gerbong sampai gerbong paling ujung belakang, melihat bagaimana dua rel yang tidur sejajar ditinggalkan sang kereta.

Tidak cukup itu, dia minta duduk dipintu dekat sambungan antar-gerbong. Tidak cukup juga, anak 7 tahun berdiri di pintu saat kereta melaju berkecepatan tinggi, sangat menikmati, apalagi sensasi saat kereta menembus terowongan ijo.

Oh ya, tadi sampai mana, sampai stasiun lempuyangan ya, nah, dari situ bukannya mencari taksi, tapi eh menawar becak. Setelah alot melakukan tawar-menawar, akhirnya kita gagal, ya sudah deh kita jalan kaki. Pas jalan kaki itulah ada pesawat melintas di atas kepala, wah, mungkin bagi mereka itu pengalaman melihat pesawat dalam jarak terdekat dan terus karena tidak tahu jalan, bukan Jogja namanya kalau tidak bertanya di jalan "Pa, Halte Trans Kridosono mana ya?", dan kita diarahkan menuju halte yang letaknya persis di depan SMP 5 ini.

"Kayak jadi Backpaker..", saat jalan kaki inilah mereka nyemlong, oh, kelihatannya happy-happy saja batal naik becak, malah seru mencari plang dimana SMP 5, hingga akhirnya ketemu.

Perjalananpun berlanjut ke beberapa tempat. Cerita menarik di trans, adalah anak 7 tahun berdiri, ikut "umpel-umpelan" karena tidak dapat tempat duduk, dan kelihatannya dia happy-happy saja.

Cerita menarik berikutnya adalah ketika mencari makan siang, diantara deretan A&W, Foodcourt, KFC, setelah kita teropong harga-hargannya yang belum termasuk PPN 10%, akhirnya kita memutuskan untuk makan siang dipinggir jalan saja, Ayam Goreng paket A + Es teh dan sebotol air minum (bukan aqua) botol besar. Terbukti efektif menekan pengeluaran 1/6 dari budget yang harus dikeluarkan bila harus makan di A&W dan teman-temannya.

Disitulah sesi perjalanan backpaking kita tiba pada saat penghitungan anggaran, si Ifa mengeluarkan blocknotenya dan dengan didikte, si Yiyi menulis daftar pengeluaran dari awal, tidak boleh terlewat satupun. Dan betul, sampai perjalanan selesai mereka tahu untuk berhemat tanpa disuruh lagi.

Kembali naik trans, si Yiyi selalu saja tiap kali transit bergelantungan diantara besi-besi pegangan pintu keluar halte. Hari sudah sore, petualangan ditutup dengan naik becak, setelah sebelumnya jalan kaki sepanjang jalan depan kraton hingga setengah jalan Malioboro dari ujung sebelah Gedung Agung. Belajar untuk tidak Jaim, berhenti dan duduk di trotoar, ngemil sambil jalan dan beli-beli seperlunya.

Dan becak, setelah melintas jalan samping Hotel Melia Purosani dan masjid bersejarah yang ada diseberangnya kemudian mengantarkan kita sampai kembali ke Stasiun Lempuyangan 20 menit sebelum kereta Logawa sore datang. Lagi, tanpa jaim duduk di lantai stasiun menanti kereta.

Backpaking yang kemarin mencatatkan habis biaya Rp 344.000,00 ini mudah-mudahan akan ada kelanjutannya, mereka bermimpi ingin ke Borobudur, ke Suramadu dan beli kaos Bandung. Mungkin ini selanjutnya, sebelum dilanjutkan ke Bali, Lombok, Jordan, Paris dan tempat yang ingin dikunjungi Yiyi-Chan : Bekas sekolahnya Totto-Chan di Jepang, Tomoe Gakuen.

Scene Puncak "Sang Pemimpi"

Ini film pertama yang membuatku tersedu-sedan. Kalau film yang membuat bisa jadi menangis si banyak, ini lebih dari itu. Kalau di training yang leadershipku, Naim sang asisten selalu menyebut bagian 2 materi terakhir yakni "Syinergi" dan "Love & Success" sebagai sesi puncak training ini.

Begitu juga dalam scene yang memiliki pesan moral "Synergi", "Love" & "Success" di menjelang akhir film Riri RIza yang launch perdana 17 Desember kemarin ini.

Synergi

Sejak awal-awal SMA, Jimbron, Aray dan Ikal sudah membiasakan diri menabung, bedanya Jimbron si Kuda-dicted ini dengan yang lain adalah dia punya 2 celengan berbentuk kuda sekaligus. Keduanya diisi sama, Setelah lulus dan Aray juga Ikal memutuskan pergi ke Jakarta, ternyata Jimbron memberikan celengan kudanya, satu untuk Aray, satu untuk Ikal.

Itulah synergy, seolah orang lain lebih penting dari dirinya. Jimbron sungguh luar biasa, siapapun yang jadi Aray maupun Ikal tidak akan menahan haru yang begitu dalam kalau memiliki sahabat seperti Jimbron.

Dan hadiah yang pantas buat Jimbron, setelah ditinggal pergi kedua sahabatnya bersama dua kuda--celengan--nya, akhirnya dia bisa mendapatkan Laksmi pujaan hatinya.


Love

Cinta bukan pemuasan kebahagiaan diri oleh orang lain. CInta adalah dedikasi. Scene Jimbron yang memberikan dua celengan kudanya diawali dari scene berpamitannya Aray dan Ikal dengan Ibu, Bapak dan dua gurunya, Pak Mustar sang Kepsek dan Pak Balia yang selalu mengajak murid-murid yang ia panggil dengan sebutan "Sang Pelopor" untuk memekikkan kata-kata inspirasi di awal dan di akhir pelajarannya.

Cinta adalah persembahan. Biarpun pernah nakal, berkali-kali malah, pernah juga mengecewakan, tetapi tetap seseorang bisa mempersembahkan sesuatu. Salah besar kalau terlalu dini menghakimi diri, apalagi menghakimi orang lain tidak punya cinta. Scene yang luar biasa, tak bisa dilukiskan ulang dengan sehalaman notepad.


Success

Masih ingat novel keempat Tetralogi Laskar Pelangi, "Maryamah Karpov", halaman 200 paragraf paling bawah? Judul babnya 16 Mei? Yah, Aray dan Zakiah Nurmala, sang pujaan hati yang begitu susah ditaklukan sedari awal SMA akhirnya menikah. (Haha, hati-hati ini buat yang apatis, jangan-jangan akhirnya luluh seperti Zakiah Nurmala pula, hehe).


Dengan perjuangannya yang tidak gampang, si Aray di atas kapal dengan lambaian tanggannya dan si Zakiah Nurmala dengan senyumnya dari pinggiran pantai.... Ah, indahnya sukses, tak terlukiskan...

12/17/09

Great

"Kalau Anda belum bisa, pura-puralah bisa. Tahu-tahu Anda tidak sadar sudah tidak berpura-pura lagi." Pa Rio

Cuti

Sampai senin depan saya ajukan cuti dulu. Cut dari semua aktivitas bisnis maupun komunitas. Capek!

Peran Kecil

Bukan besarnya peran, tapi bagaimana besarnya kemaksimalan kualitas kita terhadap sekecil apapun peran yang kita tanggung. Itu kurang lebih kata Pa Rio.

Saya sudah putuskan sikap, semoga kuat menanggung segala konsekuensinya. Yah, sebelum saya putuskan ini, saya pikir matang-matang, bahwa berapa banyak orang menginginkan dalam keadaan seperti saya.

12/14/09

Ada kaca mata, ada kaca pikiran

Bukan hanya mata, pikiran kita juga mempunyai daya akomodasi. Dan kemampuan daya akomdasi antara satu orang dengan lainnya berbeda-beda. Oleh karenanyalah, kita bukan hanya perlu menyediakan kaca mata, tetapi juga kaca pikiran.

Beberapa masalah lahir karena kita tidak menyediakan kaca pikiran, dengan daya akomodasi yang begitu terbatas kita menilai, menghakimi satu masalah dan masalah lainnya yang justru bukannya melahirkan solusi-solusi konstruktif tetapi malah hanya arogansi pemuas keinginan diri sendiri saja.

Ini beberapa kejadiannya :

1. Bekerja tetapi menganggur

Saya lupa istilahnya, tapi saya masih ingat pa Jamil Azzaini pernah menjelaskan ini, bahwa tidak semua tindakan yang kita lakukan akan berpotensi melahirkan sesuatu yang baru dan hebat bagi diri kita. Beberapa tindakan justru tidak menghasilkan output apa-apa. Tindakan-tindakan itu banyak yang terperangkap dalam yang namanya rutinitas.

Rutinitas yang menjebak, menjebak pikiran sendiri sehingga membuat pikiran malah justru tidak berkembang, tidak maju. Itulah, mereka adalah orang-orang yang bekerja, beraktivitas tetapi justru sebtulnya menganggur. Bedanya adalah, mereka tidak mengeluh, tidak seperti orang di golongan sebaliknya, yaitu orang-orang yang tidak bekerja, tetapi sebetulnya pikirannya tidak pernah menganggur.

Jadi apa definisi menganggur sebenarnya?

2. Pencari uang itu matre

Orang khawatir saat menjual, terutama bila menjual jasa, karena takut dianggap matre, bahkan takut dirinya tergelincir untuk matre. Padahal, apakah definisi matre sedangkal itu? Kalau seandainya kita mau menguatkan daya akomodasi pikiran kita, atau mau menggunakan kaca pikiran, kita bisa berpikir lebih jauh.

Lebih jauh yang bagaimana? Lebih jauh, bukan hanya berpikir tentang mencari uangnya, tetapi, uang itu digunakan untuk apa? Orang yang mencari uang dengan getol tidak bisa langsung dikatakan matre sebelum kita melihat untuk tujuan apa uang itu digunakan dan seberapa besar manfaat uang itu di tangannya. Justru orang yang takut mencari uang, tetapi dirinya selalu menggerutu, tidak nyaman dengan kondisi ketiadaan uangnya itu dia protes atau bahkan hanya sekedar merasa tidak nyaman.

Jadi apa definisi matre sebenarnya?

Be like a Bee

ketika 'sesuatu' yang kebanyakan orang sebut masalah tiba, bukan saatnya untuk mencari kesalahan orang dan berharap orang mengerti perasaan kita.. naluriah, rasa itu akan timbul di hati, bahkan air mata juga tak jarang mengiringi.. tak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang, tapi yang harus kita lakukan adalah mengerti kesalahan kita sendiri.. walaupun berat, akui semuanya dan minta maaf lah dengan hati ikhlas..

::Mitchi Bee::

12/12/09

Bertanya soal ide bisnis

Apa si ide bisnis terbaik itu? "sebaik-baik bisnis adalah yang dijalankan" betul, dan "sebaik-baik bisnis yang dijalankan adalah yang konsisten, tidak dikit-dikit tutup, berhenti, istirahat."

Ide bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan bersih 1,6 juta perbulan dengan cuma kerja 4 kali saja, mau tau itu? Idenya adalah : Kalau minggu, jual apa saja di GOR

1. Jualan Martabak unyil
Misal terget penjualan 180.000, dipotong itung2an bahan baku dan honor ada lah lebihan 50.000.

2. Jualan Es Pisang Ijo
Misal ditarget terjual 100 porsi (pokoknya kalau nggak 100 jangan pulang dulu, hehe), dengan harga variable cost (bahan baku, honor masak dan honor jualan) terus dikurangi royalti tersisa 500 rupiah, ada profit 50.000.

3. Jualan Stick
Misal beli stick 2 macam, masing-masing sekilo, habis uang 60.000. Terus dibungkusin  kecil-kecil buat dijual 1.000an, akan jadi 135 bungkus. dipotong honor jualan dan lain-lain. Untung 50.000


4. Jualan Es Siroop
Buatlah racikan sirup yang kira-kira bisa terjual 100 porsi, jual 2.500-an. Biaya produksi dan honor jualan 1.500. Untung 100.000.

5. Jualan kupat goreng crips
Kupat harganya 500an, beli yang banyak, lalu digoreng pakai tepung pisang goreng dan dibumbui bumbu tela-tela crispy. Jual seporsinya 3.000 (aslinya 2 kupat). Dikurangi honor jualan sisa 1.000 kali 100 porsi, jadinya 100.000 deh.

6. Jualan bubur ayam
Ambil dari yang masak dan biaya distribusi 2.500 katakanlah, buat yang jualan 500, dijualnya 4.000, laku 50 porsi, untungnya 50.000.

Modalnya kecil, kan? enggak menyita waktu kan? tinggal kemauan saja. Ayo kita coba.

Benalu

Kebiasaanku waktu kecil, memanjat pohon jambu. Tidak terlalu tinggi dan cabang-cabangnya enak buat duduk, apalagi rasa jambu di pegunungan, jambu merah, itu seger, manis. Sambil mendengarkan guru-guru SMP disamping pohon itu mengajar.

Yang masih ingat waktu itu bu guru yang sedang mengajar menerangkan tentang materi Fisika. Hm, lalu ada satu cabang yang ujungnya ada pohon aneh. Orang menyebutnya benalu, tapi karena memang setiap kali aku naik enggak pernah di kelas itu pas pelajaran Biologi, maka aku tak pernah tahu apa itu benalu.

Benalu, keberadaannya tidak diharapkan. Karena itupun, dia ada disitu tanpa pernah diindahkan. Kasihan ya...

Aa Gym

Aa Gym mengajarkan 3 cara untuk menjadi orang yang baik, A yang pertama : Aku aman bagimu, A yang kedua : Aku menyenangkan bagimu, dan A yang ketiga : Aku manfaat bagimu.

Berbeda lagi dengan rumus untuk menemukan jodoh yang tepat (dan mau), rumusnya 3B : B yang pertama : Berusaha, B yang kedua : Berdoa dan B yang ketiga adalah... Bercermin.

Lalu apa dengan 3C? Itu nilai ujian khususku kemarin, 3 mata kuliah C semua : C, C dan C. Hehehe...

For U

Usia baru,
Semangat baru,

Selamat Ulang Tahun...

12/10/09

12/9/09

Jangan Punya Cita-Cita!

Di Blog yang namanya The Power of Dream kok ada judul postingan begitu?

Ada banyak orang, mereka punya cita-cita, tetapi kesehariannya penuh dengan gerutu keluh kesah, karena cita-citanya tak kunjung menjelma nyata. Di bagian lain dunia, banyak orang, mereka tak punya cita-cita, tetapi kesehariannya penuh dengan tahap demi tahap kecil yang membuat hari demi harinya meningkat.

"Jangan punya cita-cita, kalau kau tak mendapatkan power dari itu",

Itu lengkapnya,

"ujar2e nikah kuwi gampang apa?kok nggampangke? Lah ora nggampangke kepriwe, sing kaya ngene be kowe ora bisa ngatasi, lah mengko ujar2e ora nemu masalah kaya kiye?",

Menikah, betulkah itu sesuatu yang pantas untuk aku cita-citakan? Sementara aku begini adanya hari ini? Begini adanya bagaimana? Ya begini ini, serentetan problem interpersonal tak bertemu titik solusi, tak menemukan sudut clear.

Dari waktu ke waktu hanya bingung, bingung dan bingung. Sempat terpikir menikah akan jadi solusi. Tapi kemudian melayang pikiran selanjutnya, bukankah pendamping kita juga bisa berlaku hal yang sama? Menuntut diperhatikan, setelah diperhatikan menuntut untuk tidak terlalu dicampuri, pesoalan jenuh, persoalan mosi tidak percaya, muncul keinginan-keinginan egois, pada satu kondisi malas untuk mengerti. Dan seterusnya.

Maka yang terbesit berikunya adalah, "kalau aku tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, artinya aku belum siap untuk menikah".

Ah, tapi kata-kata itu bernada penghakiman sekali, destruktif sekali nampaknya. Sampai akhirnya besitan terakhir tadi siang di jalan, "apapun yang terjadi dalam upayaku menyelesaikan masalah ini, akan menjadi sangat berharga untuk bekalku menghadapi persoalan-persoalan pernikahan interpersonal didalam pernikahan nanti."

Untuk alasan inilah aku harus terus mencari solusi

12 Desember 2009

3 tahun Semangat Donk (12 Desember 2006)
4 bulan Warnet Semangat (12 Agustus 2009)

Tiga Krisis yang Mengikis Budaya

Melestarikan budaya itu seperti menjaga nyalanya mesin diesel. Begitu mati, menstarternya lagi susah. Mengapa begitu? Karena memang budaya adalah akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan yang telah terfungsi automatis. Sedangkan kebiasaan sendiri adalah akumulasi dari tindakan-tindakan yang dilakukan dengan nyaman dan refleks secara berulang.

Termasukkah 12 budaya itu?

Krisis Referensi
Orang yang membaca, selesai dan tidak melanjutkan pada bacaan selanjutnya, maka akan hambar. Membaca yang diulang-ulang akan meningkatkan pemahaman, tetapi membaca tanpa ada penambahan asupan baru hanya akan menjadikan imun.

Apalagi kalau dibarengi dengan pengalaman-pengalaman pahit, getir tentang gagalnya sebuah pembuktian, gagalnya sebuah upaya.


Krisis Konsultansi
Di atas langit masih ada langit. Sepandai apapun kita, selalu saja kita memerlukan guru, tempat sharing. Kegagalan lahir ketika telah melesat adalah ketika kita mengabaikan atau tidak bisa menemukan arti penting keberdaan guru dan tempat sharing. Angkuh...


Krisis Figur
Kalau Mas Arif adalah konsultannya, maka Miss Ary adalah figurnya. Itu yang saya tangkap, oleh karena itulah bahkan budaya melepas alas kaki saat masuk dapurpun dijaga demikian ketat di SPEC sana.

Harus menemukan figur, atau harus ada yang menjadi figur. Tinggal mana yang lebih mungkin.

Mengaduh Sampai Gaduh

Pecahkan saja gelasnya, biar ramai,
atau diamkan saja gelasnya, biar sepi.

12/5/09

Dua Penghakiman yang Kita Berikan Tanpa Sadar Padahal itu Sangat Berbahaya

1. Penghakiman terselubung pertama

Seorang anak kecil baru awal-awal SD sedang bermain-main di kamar, padahal itu waktunya belajar, lalu si orang tua berkata kepada anaknya, "hey, belajar, belajar, rajinlah sedikit!".

Orang tua itu tidak marah-marah, bukan? Tapi berbahayakah ucapan itu? Ya, berbahaya sekali. Kenapa berbahayanya? Coba cermati, coba renungkan, memang kalimat itu content-nya mengajak seseorang melakukan kebaikan, tapi apa yang ada di dalamnya ternyata terselip sebuah pernghakiman yang tanpa sadar kita lontarkan dalam hal ini pada si anak

bahwa si anak itu tidak rajin, malas.

Contoh kedua, ketika membangunkan teman sholat shubuh, "hey, bangun-bangun, gimana si udah mau habis ni waktu shubuh, apa sholatnya mau nunggu malaikat udah pada pulang?"

Perhatikan, tidak ada ejekan dalam kalimat itu. Tapi, sontak si orang yang kita bangunkan langsung membentuk pola penghakiman diri "oh saya orang tidak beriman, mengabaikan malaikat".

Coba baca ulang kalau belum paham. Kalau belum paham juga, bandingkan dengan pendekatan yang lebih konstruktif.

Alih-alih menyuruh si anak belajar, orang tua itu menanyakan "mana tas kamu?", "gimana PR yang kemarin dapat berapa?", "wah, ini bisa dapat 60.. (biarpun nilainya rendah, ungkapkan dengan nada positif)", lalu lanjutkan, "coba kalau materi yang ini, gimana?...".

Pujian terselubung menjadi sebuah pengakuan yang melahirkan penghakiman positif bahwa "aku kemarin bisa", penghakiman itu melahirkan "minat". Dan menanyakan materi selanjutnya mengarahkan kemana "energi minat itu diarahkan".

begitu juga, alih-alih menyalahkan teman kita yang bangunnya kesiangan dan belum sholat shubuh, cobalah datangi dengan baik-baik, tepuk, bangunkan dengan halus, "nikmat bener tidurmu sampai pules gini", "masih ada waktu shubuh tuh sedikit, hayo ndang!".

Cara membangunkan yang berbeda itu akan melahirkan penghakiman diri yang berbeda, bukan sebagai orang yang salah karena bangunnya kesiangan, tapi sebagai orang yang baru dapat nikmat, nikmat tidur pules.


Sekali lagi, hati-hatilah, jangan sampai di dalam ajakan baik kita, justru tersembunyi penghakiman negatif yang merusak terhadap orang yang kita ajak baik itu.


2. Penghakiman terselubung kedua

Banyak orang kalau disuruh berbagi ilmu, berbicara di depan umum, menulis, atau banyak lagi rupa neka aktivitas berbagi ilmu lainnya dia menolak, "saya tidak mau, saya belum mengamalkan dengan baik ilmu itu."

Hm, pemahaman seperti ini perlu diluruskan, karena bisa menjebak diri dalam kesombongan. maksudnya? loh iya, artinya orang itu hanya mau berbagi ilmu-ilmu yang sudah dia amalkan dengan baik, artinyasaat membagikan ilmu itu sebetulnya dia sedang sombong dong menghakimi diri sudah mengamalkan kebaikan-kebaikan?

7 kondisi untuk bahagia :

membiasakan diri beradaptasi,
pendidikan,
pernikahan yang stabil, ... Lihat Selengkapnya
tidak merokok,
tidak mengkonsumsi alkohol,
rutin olahraga,
menjaga berat tubuh ideal


dan kebahagiaan sepenuhnya tergantung pada kemampuan Anda untuk menciptakan gumpalan positif ketika menghadapi tekanan dari luar.




Sumber : http://lexdepraxis.wordpress.com/

Nikmatnya

Sampai pada pemahaman dengan keadaan sadar, bahwa ternyata kenikmatan menahan diri itu lebih, lebih ketimbang kenikmatan saat hasrat terbuncahkan.

12/4/09

Kaku, Kikuk, Kuk Kuk Kuk Kuk...

Mungkin ada benarnya saran dua sejoli bakul krupuk dari pasar kroya, untuk pergi ke Mas Arif. Biar bisa merelease emosi, mengerase trauma, meretas sesuatu yang baru.

Bukannya apa-apa, efek si efek, tapi kan kalau efek jelek, ibarat 'noise" haruslah semaksimal mungkin diredam. Bukannya dibiar-biarkan, diangin-anginkan, dijor-jorkan saja.

Kenapa? Siapa Mas Arif? Mas Arif bukan Ustadz atw ulama Ruqyah, apalagi dukun. Tapi, ya, ah, besok coba datang dulu saja.

Semoga kedepan, bisa jadi lebih baik. Nggak Kaku, Kikuk, Kuk Kuk Kuk Kuk lagi..

12/3/09

Dua Modal Fokus yang Bisa Kita Pilih : Total Competency atau Total Synergy

Oh iya, ternyata ada dua cara untuk fokus, dan dari cara ini saya menilai dan memang lebih comfort buat saya jalani yang kedua :

Cara pertama : Kita Fokus pada satu hal, ibarat sungai, kita fokus pada satu sungai, kerjakan dari hulu ke hilir, fokus ke sungai itu, abaikan dulu sungai-sungai yang lain.

Cara kedua : Kita fokus pada satu bidang, ibarat sungai, kita fokus di hilir, kilometer kesekian dari muara saja, atau kita fokus ke hulu, bagian mata air saja, dan semua sungai kita jamah.

Kedua-duanya adalah bentuk fokus kan? Bedanya, fokus model pertama membuat kita membatasi diri dari sungai-sungai yang lain. Dan fokus model kedua membuat kita membatasi diri dari bagian-bagian sungai yang sedang kita kerjakan.


Itulah, maka modal untuk fokuspun ada dua, yang tanpa salah satu modal ini kita kuasai, ibarat lup yang lebay, sefokus apapun kita tidak akan bisa membakar kertas, tidak akan bisa menemukan tempat baru yang ada listriknya.

Cukup kuasai salah satu dari ini, kita bisa fokus. Kuasai Total Competency, yakni menguasai semua keahlian dari pekerjaan melebarkan hulu sampai mengeruk hilir, agar sebuah sungai bisa tertangani sendiri, agar waktu kita juga tidak banyak blank karena kita telanjur memilih membatasi diri untuk menjamah sungai-sungai lain.

Kedua, kuasai Total Synergy, yakni menguasai semua nama dan jenis sungai yang ada, tidak peduli kita hanya bisa menderaskan mata air di hulu, tanpa tau teknik mengeruk  hilir atau menjernihkan muara, yang penting ketika ada waktu blank kita tidak kebingungan mau mengerjakan apa karena selalu ada sungai lain yang mata air di hulunya perlu kita tangani.

Soal betapa pentingnya fokus (The Power of Fokus) tidak perlu dijelaskan disini lah, semua sudah paham tanpa fokus sukses adalah mustahil. Tinggal kita, mau fokus model pertama atau model kedua?

Kalau mau model pertama, biar sukses, ya konsisten saja, tidak usah mikirin sungai-sungai lain. Jangan semua-muanya mau kita garap. Satu sungai saja sampai sebesar Mahakam. Biarin aja dibilang keras kepala, tidak melihat realita.

Kalau yang kedua, dan mau sukses, juga konsisten, percayakan hal-hal yang bukan bidang kita ke orang lain, jangan semua-muanya harus kita urusi? Buat setiap hulu sungai satu persatu jadi indah, lupakan hilir dan muaranya percayakan ke yang lain. Biarin aja dibilang egois dan tidak peduli.

Bilangan mereka dasarnya apa si? Yang penting dasar kita kuat, udah. Titik.

Punya Sendiri-Sendiri

Ya, kalau Hilmy asyik dari dulu dengan MCI-nya (Mac Club Indonesia, forumnya pengguna Mac). Rizky dengan Kompasiana (Public blognya Kompas). Azis dengan Semboyan35 (Forumnya penggemar kereta api).  Ya masing-masing punya daya tariknya sendiri bagi masing-masing.

Walau jujur dari dulu saya suka kreta-api, tapi ya belum kober buat berasyik-asyik di forum para railfan yang Azis asyiki sekarang. Kalau di Kompasiana, asyiknya, kita bisa mengembangkan pikiran, owh ternyata... owh ternyata... yang unik dari para kompasianers adalah cara berpikir mereka yang dari sudut beda-beda. Ini dua contohnya:

Contoh 1 :
Namanya Ichwan Kalimasada, dia membahas tentang Kasus Century, sudahlah tidak usah dari sudut yang komprehensif, dari satu aspek saja, pernyataan sikap, maka kita akan 'ngeh' akan betapa bedanya sikap SBY dan JK terhadap kasus ini.

Sikap JK jelas : tegas. Lantang dia katakan, saya tidak menginstruksikan Menkeu dan Gub BI untuk membailout, JK memang dari dulu ngomongnya ya Century harus ditutup.

Sikak SBY juga jelas : nggantung. Cuma bilang di luar negeri, nggak ada tuh kejelasan, dia waktu itu mengiyakan, menidakkan, atau tidak mau tahu atau pura-pura tidak tahu.

Nah lo, banyak contoh berpikir yang lebih spesifik dan lebih tajam lagi di Kompasiana.

Contoh 2 :
Namanya Wisnu Nugraha, seorang wartawan istana. Postingannya selalu saja hal-hal yang sepele, misalnya foto BHD (Kapolri) yang sedang mengobrol dengan HS (Jaksa Agung) dan dilatarbelakang foto itu pas ada Panglima TNI yang lagi bengong, terus dibuatlah judul postingan itu "Dimana Posisi Militer?"

Simple, tapi bikin "ngeh", oh ya ya, militer selama ini kita cuekin.

Hm, btw, kalau keasyikan mereka bertiga adalah itu, kalau keasyikan Andri dan Naim apa ya? Kalau Naim masih lah dengan youtube album terbaru dan lirik-lirik lagu terpopuler. Kalau Andri? Hm, sepertinya masih berkutat dengan emailnya semangat donk, semangatdonk@gmail.com. Hehe

Momentum yang Terlewatkan


Begini, setiap segala sesuatunya itu ada momentumnya. Menulis itu enaknya pagi, membaca itu enaknya malam (bagi segolongan orang), itu misalnya.

Sama, seperti menyebar kording, juga ada momentumnya. Berjualan di lapak, juga ada momentumnya. Nah, jangan terjebak akan adanya momentum ini, misalnya, ketika kita melihat seseorang begitu hebat bisa menjajakan dagangan dengan peluh keringat, lalu mengatakan "wah, hebat ya dia".

Tunggu dulu, kalau motif mengatakan hebat itu untuk menyampaikan sanjungan dan ungkapan menghargai, okelah, bolehlah.

Tapi, kalau motifnya yang kedua ini, sebaiknya jangan deh, tidak usahlah mengatakan hebat-hebatan. Ya, motif yang saya maksud adalah mengatakan orang lain hebat sembari menjudge bahwa diri kita tidak hebat "wah, dia bisa ya, nggak kayak aku..", begitu misalnya.

Sebelum berpikir destruktif yang merugikan diri sendiri macam itu, coba telisik lebih dalam. Dia bisa seperti itu dan dianggap hebat, karena dia sedang dalam momentumnya, momentum dalam mengerjakan itu. Sedangkan momentum kita saat ini beda.

Bisa jadi momentum kita untuk mengerjakan itu sudah lewat tanpa menyadarinya dulu. Sederhana saja, misalnya menjualkan produk, dia bisa begitu laku keras karena moment menjual baginya adalah sekarang, pas dia baru mengenal dunia entrepreneur, pas belum lama mempelajari dunia motivasi.

Sedangkan kita, momentumnya sudah beda, sudah pada tahap charging motivasi, kembangkan ini, atau memahami itu yang jauh di depan momentum dia. Pertanyaannya, dimana kita pada saat momentum macam orang itu menghampiri kita dulu? Kita lagi tidur2an dan malas2an.

Dan itu tidak terlalu penting, dibanding pertanyaan ini, kalau hari ini kita masih pandai menggerutui nasib diri : Kita sedang di momentum apa saat ini? Hayo buruan dikerjakan, jangan sampai kelewat lagi.

Betul?

Mudah-mudahan bisa difahami.

12/2/09

Never Till Tomorrow What You Can Do Today

RABU 2

Martabak geser tempat
Maintenance Warnet tahap terakhir


KAMIS 3

Katalog & listing produksi SPC


JUMAT 4

Koordinasi event


SABTU 5

Cabang baru

Ganbate Kudasai

Pa Jamil di Surabaya dulu pernah bercerita tentang seorang pendaki tingkat dunia, modal awal dia adalah menulis target-target gunung yang akan ditaklukan, dan sekarang sudah dibukukan (saya lupa je nama dan bukunya) bagaimana keberhasilan dia mewujudkan mimpi-mimpi yang dia tuliskan.

Dan pagi ini Bu Ani membagikan video tentang Danang A Prabowo (Mapres IPB 2007) dan nasehat dari Ustadz Aris Ahmad Jaya (Motivator pertama saya di Bogor) tentang menulis 100 mimpi.

Blog ini namanya The Power of Dream, mulai dari mimpi dari pasang telepon hingga internetan gratis everyday dibayari tetangga-tetangga. Mulai A hingga E, F, bahkan G... hayo, kenapa tidak dilanjutkan sampai Z, atau AA, AB, AC, bahkan hingga ZY, ZZ atau lebih dari itu...

100 mimpi Rizky.

Strategi Tidak Selalu Mudah untuk Dimengerti

Ini kisah anjing super dalam serial animasi Bolt. Keren tuh film. Ada kejadian menarik ketika si anjing Bolt bersama hamster dan kucing seperjalanannya sedang ada di atas kereta yang mengangkut tangki minyak.

Si Bolt terlempar ke sebuah tangga besi yang horisontal tergeletak di ujung belakang kereta. Si kucing melihat Bolt kesusahan kembali ke gerbong, tergantung2 di ujung tangga besi itu. Waduh gawat, mur yang mengikatkan tangga dengan gerbong ternyata berputar mengendur, wah, tangga bisa copot, sementara Bolt masih tersangkut dan bisa-bisa dia jatuh bersama tangga kalau tangga ini lepas.

Akhirnya si kucing memutuskan untuk memegangi mur itu agar tidak lepas sambil si Bolt terus berusaha untuk maju mendekati gerbong. Si Hamster melihat, eh, dia malah salah memahami, dia mengira si kucing sengaja tidak menolong Bolt karena si kucing cuma memegangi mur dan tidak mendekati Bolt untuk memancingnya.

Yah, singkat cerita akhirnya ketiga makhluk itu terlempar dari kereta tetapi selamat semua.

Yah, seringkali menolong, peduli, berpartisipasi itu butuh strategi. Coba kalau si kucing memilih menghampiri si Bolt, bisa dipastikan mur lepas dan mereka berdua terseret rangkaian kereta hingga stasiun terdekat. Tapi karena si kucing berstrategi (memegangi mur), sekalipun dia disalahkan karena dianggap tidak menolong, akhirnya mereka bertiga selamat.

Kita melakukan sesuatu itu untuk menghasilkan sesuatu, mempersembahkan sesuatu, mendedikasikan sesuatu, bukan untuk dikatai orang begini-begini atau dimengerti orang begitu-begitu.

Bisakah membuka lapak nasi goreng hanya dengan 300.000?

Bisa. Ini bukan saya yang mau mbuka, ini seorang teman. Dia nanya begitu, masak iya tega saya jawab "wah, mana cukup uang segitu? paling enggak 3 juta men!".

Dan nyatanya memang kok, bisa membuka nasi goreng, kafe bahkan hanya dengan 300.000. Caranya? Begini : Gunakan uang itu untuk (misalnya) beli bubur ayam untuk dijualkan lagi. 300 ribu dapat 150 porsi kan? jualkan semaksimal mungkin. Andai saja habis (positif thingking nih ceritanya), dan setelah dikurangi komisi penjualan (sekalipun yang menjual diri sendiri) masih sisa bersih 1.000 rupiah perporsi, artinya modal + keuntungan bersih sekrang total jadi 450.000. Begitu terus selama sebulan, dan alhamdulillahnya habis terus (nah, kalau tidak habis? ya lanjutkan saja, berarti sabar, lebih dari sebulan), berapa tuh yang didapat selama sebulan? 150.000 x 30 sama dengan 4.500.000 + modal awal 300.000.

Lalu kabarkan rencanamu ke teman yang punya duit, "nih guwe ada prospek, tambahin donk", dan betul, jadi dua kali lipat. Coba, 9.600.000 cukup kan buat bikin kafe nasi goreng kecil-kecilan?

Oh ya ya. Hm, kenapa nggak berpikir kesitu ya? Ini nih, akibat pikiran skeptis kita buah pendidikan yang skeptis, sehingga :

1. Kita berpikir instant, nggak sabar nunggu sebulan untuk mengoptimalkan modal, tetapi langsung menghabiskan uang itu untuk modal awal. Ya mana cukup...

2. Kita berpikir materialistis, maunya keluar hari ini untung hari ini. Mana ada bakul makanan yang dari awal buka langsung ramai? (ada si, tapi spekulatif dan amat jarang lah), paling enggak satu tahunlah baru kebentuk pasarnya. Kenapa musti sabar menunggu setahun? Ingat, pelanggan ada dua, pertama : yang kebetulan lewat dan mampir dan kedua : yang memang bertandang kesitu (nah, mana ada yang bertandang kalau belum dikenal), anggaplah setahun itu perkenalan.

3. Kita berpikirnya payah, begitu ada halangan sedikit, pikirannya "hueh, nggak laku neh", "bakal bangkrut nih". Karena apa? karena nggak diuji oleh ketangguhan mental dari awal. Coba si jualan bubur itu, dari awal dia sudah diuji dengan ketangguhan bahwa tidak pernah berhenti jualan setiap hari, bahwa sekalipun hari ini nggak habis, besok harus tetap jualan lagi, bahwa sesusah apapun modal harus terkumpul. So, tangguh pula dia ketika bisnis yang dia cita-citakan sudah mulai dibuka (sama seperti super mario, tidak ada perjalanan bisnis yang tidak ada rintangannya lho)

4. Kita belum baca-baca blog ini mungkin. Hohohoho....

Tanggapan Normatif & Solusi

Hufh, susahnya jadi pemimpin, begini salah, begitu salah. Begini dia protes, begitu dia yang lain lagi protes. Begini merugikan si ini, begitu merugikan si itu. Selalu saja.

Bilang "itu bukan domain saya" salah, memberikan pengaruh terlalu dominan juga salah. Terus bagaimana donk, harus berdomain atau harus dominan?

Ini ada dua respon :

1. Tanggapan Normatif
Orang akan mengatakan, "ya ambil tengah-tengahnya saja". Haha, kenapa pernyataan seperti ini saya sebut normatif? ya jelas, mengambil tengah-tengah itu hanyalah utopia, karena tengah-tengahnya dua hal itu sangatlah relatif, mau mengacu ukuran siapa? ukuran si A, si B, si C dan diri kita pasti berbeda satu sama lain. Tidak ada solusi dengan cara ini.


2. Solusi
Maka yang solutif adalah dengan melakukan "pengabaian", yah, abaikan saja komentar orang, abaikan orang yang melemahkan. Mending fokus pada niat awal kita, pada pelurusan niat, mau berdomain atau dominan itu tidak penting, yang penting kan niatnya benar, terjaga lurusnya.

Tapi harus mengorbankan orang lain? Itu konsekuensi mas. Tidak penting berapa banyak serbuk gergaji yang terbuang, yang penting ornamen kayu yang kita gergaji jadi dan bagus kan?

Ini dari Fikry

Jadi tuh dia nulis begini, penjual bubur yang laris tu yang bangunnya paling pagi. Trus bla, bla, bla... pokoknya hubungannya sama yang pernah saya tulis di Bogor dulu, "siapa yang memulai aktivitas lebih pagi, dia lebih berhasil"

Inspiratif. Memang waktu pagi itu terasa lebih berbobot dan padat ketimbang waktu-waktu yang lain. Kalau di EU dikenal dengan istilah The Golden Time.

So, mungkin bisa tuh doa memohon panjang umur disubstitusi dengan doa memohon diberi keleluasaan memanfaatkan waktu pagi dengan dapat bangun sepagi mungkin.

12/1/09

Masih ada

Masih ada kok yang nggak males ngobrol sama kamu ki, Kompasiana.

Santai saja, orang males ga bisa dipaksa, buat apa? Yuh, kelaut aja.

Ke Kampus cuma buat Gunting Kuku

Sudah keberapakian kalinya ya lihat pengumuman mendadak : KULIAH DITIADAKAN (karena dosen masih asik tidur, karena dosen kondangan... karena dosen males).

Ya ini ini, ternyata memakai celana bahan tidak hitam, hukumannya lebih berat ketimbang tidak berangkatnya dosen tanpa surat keterangan dari rumah sakit (padahal kalau praktikum mahasiswa tidak dianggap ijin tanpa melampiri surat semacam itu)

Lebih penting mana si? mentaati peraturan, atau membuat peraturan yang berorientasi manfaat? apa sekedar peraturan buat gagah-gagahan?

Sudahlah, terserah, saya mau bikin jadwal online sendiri aja :

Komsat A : Panca
Elkom B : Bayu
Telemetri : Wita
Metopel : Bayu lagi..
Wireline : Sriyani
Siskom I A : Erico

Sebelum berangkat SMS mereka, antisipasi biar nggak menjumpai kosong jadwal mendadak yang membuang-buang bensin di jalur padat pasarwage

Salah Bangsa Kita (mungkin) Memakai Azas Gotong Royong

Apa karena kita pakai azas gotong royong makannya kita nggak maju-maju? begini, di buku Kekuatan Daya Saing Indonesia, ada kutipan referensi, berapa persen dari PDB anggaran untuk riset di Amerika Serikat, di Jepang, atau di Jerman dan negara-negara maju lainnya.

Lah, Indonesia nggak masuk daftar, karena ternyata nggak 0,1% acan. Nah inilah, bangsa ini pandai gotong royong, tapi karena kebablasan, tidak dipentingkan adanya spesialisasi. Pas semua macul, macul semua. Pas semua bukaan martabak, buka martabak semua. Pas semua sinetron bernafas ibu tiri, ibu tiri semua.

Karena itulah, nggak ada inovasi (baca : inovasinya kurang). Yang pertama mengajarkan tentang model konseptor dan eksekutor adalah Ria. Yah, harus ada spesialisasi kalau mau maju, kalau mau berkembang, kalau mau melejit.

Dan yang terpenting, setelah dilakukan spesialisasi, jangan saling sawang sinawang, wah enak jadi ini ya, nggak enak jadi itu, bla, bla, bla. Cape deh.

Kita tidak penting menghargai peran orang lain, kalau kita belum bisa menghargai peran kita sendiri. Atau bahasa yang lebih TOP-nya : hargailah peran kita sendiri, agar kita bisa menghargai peran orang lain.

Minat Bersama

Dalam training hari pertama MCB (Mission & Character Building) ada moda materi yang sangat mengesankan bagi siapapun yang mengikutinya : Visi, Misi, Nilai dan Peran.

Keempat hal itu merupakan kosekuensi logis yang harus diterima oleh setiap insan. Sebuah konsekuensi logis yng terjadi akibat adanya interaksi. Interaksi adanya ya dalam kolaborasi. Tanpa adanya interaksi dan tanpa adanya kolaborasi, keempat hal tersebut tidaklah diperlukan. Kita tidak perlu mencapai sesuatu, bahkan tidak perlu mengerjakan sesuatu, tidak perlu memegang sesuatu dan tidak pula perlu menjadi sesuatu.

Mau telanjang ya telanjang saja, mau tidur terus-terusan yang tidur saja, toh hidup sendirian inih. Namun, tidak begitu ketika kita berada dalam rimba raya bernama society.

Nah, apa sesungguhnya keempat hal itu?

Manfaat Bersama
Dua orang atau lebih mengejar satu pencapaian tertentu yang disebut hasil, apabila dalam bayangan hasil yang sedang mereka kejar terdapat unsur-unsur yang masing-masing pihak pencapai akan merasakan manfaatnya, itulah namanya se-Visi.


Ketika salah satu atau segelintir dari mereka tidak lagi menembukan bayangan akan manfaat yang akan mereka peroleh ketika sesuatu kondisi itu tercapai pada suatu saat nanti, maka masing-masing akan mengubah dan membuat visi baru.


Minat Bersama
Sesuatu dikerjakan bersama-sama dengan baik diawali dengan adanya kesamaan minat. Tanpa ada minat, mana mungkin seseorang mau melakukan. Begitu pula ketika minat ada, tetapi kemudian hilang, maka seolah break, bahkan selesai misi itu.


Minat itu seperti nyala lampu di gerobak martabak unyil, yang ketika meredup, pusinglah dia. Hm, tapi kalau kita masih memiliki visi, masih ada terbayang manfaat bersama, maka ketika lampu itu redup, gampang saja kita ganti dengan lilin, sementara lampu kita charge ulang. Itu salah satu cara mensiasati tetap menyalanya minat, agar misi tetap berjalan. Itu kalau visi masih terbayang penting untuk dicapai si.


Kesepahaman Bersama
Relatif, begitulah hukum nilai yang ada dalam pemahaman manusia. Dualitas sifatnya, artinya bisa dilihat dari satu sisi sebagai positif, bisa juga dilihat dari satu sisi sebagai negatif. Misalnya aktivitas membebaskan, bisa ditangkap sebagai aktivitas membiarkan. Misal pula aktivitas total action, bisa juga diartikan sebagai mendominasi. Misal juga aktivitas fleksibel, bisa juga dinilai sebagai melalaikan tanggung jawab. Juga aktivitas konsisten, bisa dimaknai sebagai sifat kolot.


Tekstual nilai-nilai dasar kehidupan hanya akan benar-benar hidup ketika dimaknai dalam paparan konteks. Tanpa pemahaman kontekstual, semuanya terlalu umum. Oleh karena itu penting, untuk merancang kesepahaman bersama, agar sikap-sikap yang diterapkan tidak disalahrafsirkan, tidak disalahpandangi, tidak disalahnilaii, tidak juga disalahmaknai.

Nilai hanya akan hidup bila semuanya memahami. Dan syarat memahami adalah adanya keterbukaan berpikir. Dan syarat keterbukaan berpikir adalah ditepisnya arogansi diri.



Kesepakatan Bersama  
Tidak akan selesai sebuah karya penggarapan sesuatu hal kalau tidak adanya pembagian peran. Karena tidak bisa semua fungsi dijalankan secara seragam. Juga tidak pula menjadi expert orang-orang yang tidak konsisten pada fokusnya, tidak fokus pada perannya.

Dan syarat berjalannya masing-masing peran adalah adanya sesuatu yang disepakati bersama.

Belajar dalam Suasana Bebas (2)

Begitu juga dalam bisnis, saya memutuskan untuk fokus pada domain saya. Dan untuk kodomain, itu silahkan ranah masing-masing. Yang terpenting, semua mudah2an masih percaya bahwa tidak ada yang berubah dalam visi saya. Yah, jalannya saja yang harus dilakukan penyesuaian disana-sini.

PERCETAKAN-LEMBAGA PELATIHAN-WARNET-WARUNG TENDA. Sudah itu saja. Yang lain, tidak ada intervensi, tidak ada arahan, tidak ada larangan, boleh disebut malah pengabaian, sudah, kan lebih enak memang seperti itu, yang penting ditunggu saja hasilnya (berapa persen terserah, masing-masing kan sudah punya manajemennnya yang bisa mengaturkan baiknya).

Namun begitu, kalau memang dibutuhkan, ya ayuk kita obrolkan, meja ini selalu terbuka bagi siapa saja yang mau datang. Bukan bagi yang cuma mau memandang dari jauh.

Belajar dalam Suasana Bebas

Yiyi, adik saya yang paling kecil, saat ini masih kelas 1 SD. Dia termasuk tipikal malas sekolah, tapi salut, biarpun bolos, dia tetap belajar, tanpa disuruh. Begitulah, sekolah sesungguhnya memang warisan culturstelsel, semuanya serba dipaksa (tidak sesuai dengan modalitas alamiahnya).

Belajar dipaksa, disiplin dipaksa, ujian dibuat mencekam, wah, betul-betul sekolah membuat jadi bodoh kan?
*makanya kita harus pintar2 mencounter balancingnya di luar sekolah.

Awalilah dengan belajar tentang cara belajar, sepanjang kita belum bisa merasa senang dan menikmati proses belajar, itu tandanya kita belum menemunkannya. Tapi, kalau sudah ketemu itu, wah, parahlah, dunia saja bisa kamu bolak-balik sakarepmu kalau sudah menjadi manusia pembelajar.

Makin Salut sama Pak Ary

Menikmati sajian materi training terbaru, kemarin di Reguler 16 ESQ Training tingkat dasar Purwokerto. Wah, ada yang baru di bagian background. Salah satunya adalah tentang Basic Need dan kebahagiaan. Materi yang keren, dibawakan dengan public speaking skill yang keren dan slide yang keren. Perpaduan yang luar biasa, sungguh beda dengan penyuluhan PPL yang gratisan.

Memukau buat saya kecerdasan Pak Ary, bukan semata kecerdasannya dalam menggali begitu kompleks ilmu, tetapi kecerdasan bagaimana membagikannya. Sekalipun kontroversi disana-sini, protes dan keluh kesah dimana-mana, bagi saya Pak Ary tetaplah hebat.

Pengkritik itu, sudah menorehkan apa si? Tetapi berapa banyak (dan yang terpenting berapa besar) torehan inspirasi dari seorang Ary Ginanjar Agustian itu?

Yang ia sodorkan bukan secangkir kopi, bukan juga sehalaman kritik, yang dia sodorkan adalah secarik masterpiece. Yah, persembahan terbaik seorang anak manusia.

Itulah, sekalipun kadang mendengar disana-sini "ESQ begini... begini", atau "ah, ikut nggak ikut training sama aja...", atau "Fosma (organisasi alumninya) cuma bisa foto, gosip makan...", bagi saya Pa Ary tetaplah orang hebat.

Lalu, apakah tidak sedih melihat citra ESQ banyak yang memandang miring? banyak alumni yang tidak termaintenance dengan baik? Manajemennnya ada yang keropos? Saya yakin Pa Ary sedih, tetapi ya itulah kesedihan yang harus ditanggung dengan kebesaran jiwa yang menjadi konsekuensi seorang pemimpin.

Seorang pemimpin sejati kuat menerima ketidaksempurnaan, termasuk ketidaksempurnaan buah akan karya nyata yang diperbuatnya. Pemimpin memahami prinsip ini dengan baik, bahwa tugasnya adalah menanam, perkara buah, itu bukan domain dia.

Dan lagi, saya membaca, sepertinya memang Pa Ary sedang memprioritaskan sesuatu. Entah itu Menara 165 (dalam arti visi bukan fisik), entah itu merampungkan peletakkan dasar-dasar ilmu pengembangan diri modern berbasis Islam (penggarapan materi training 4 tingkat secara lengkap) atau apa. Oleh karenannya, maintenance alumni ada di list prioritas bukan paling atas.

Maka, melalui tulisan pagi ini, mari kita doakan bersama-sama (minimal dengan Al Fatihah), semoga Pa Ary senantiasa dikarunia umur panjang (usianya ditambah dan atau usia yang tersisa diefektifkan) agar pada saatnya nanti priritas yang sedang digarapnya hari ini selesai, lalu memfokuskan prioritas pada maintenance alumni.

Yah, bayangkan bila penggarapan maintenance alumni digarap sesempurna penggarapan materi, slide dan simulasi dalam training-training yang dirancang Pa Ary. Great bukan?

11/25/09

Badut

Seorang “pemimpin” itu tugasnya adalah “memimpin”, bukan tugas pemimpin untuk membuat semua orang senang..he..he.. kalo tugas membuat semua orang senang adalah pekerjaan seorang “badut”

Boedi Tjahjono

Surga Bukan untuk Orang Baik

"Orang-orang yang menjadi penghuni syurga adalah orang-orang salah, orang-orang yang tahu kesalahannya dan memperbaikinya. Penghuni neraka adalah orang-orang baik, orang-orang yang berbusung dada dengan semua kebaikannya dan selalu merasa diri sebagai orang baik hingga lupa dengan kesalahannya."

Iya, silahkan untuk tidak percaya dengan neraka. Dan silahkan untuk tidak meyakininya. Tetapi, aku mendengar seorang lelaki tua yang enggan perkenalkan nama, saat bercengkrama di tepi petang, denganku.

“Mereka yang tidak percaya neraka hanya orang-orang yang memiliki mata. Hanya saja kasihan sekali, mereka tidak bisa melihat. Dan kemudian syurga justru akan dihuni oleh banyak sekali maling, oleh penjahat dan oleh beribu pelaku kesalahan” Ujar seorang lelaki yang menyebut dirinya sebagai sahaya Tuhan.

Kucoba bertanya dengan rasa segan,”di kampungku banyak sekali maling. Apakah mereka akan masuk syurga?”

“Iya, mereka akan masuk syurga. Mereka akan ditemani oleh para bidadari yang memiliki tubuh indah yang bangkitkan gairah yang takkan membuat lelah.”

Dalam kedunguanku. Ini gila, bagaimana mungkin seorang penjahat masuk syurga. Atau jangan-jangan aku sendiri yang gila karena gagal memahami yang dimaksudkannya. Aku tercenung, mencoba untuk keluar dari ketololan diri, mencerna dan mereka-reka.

“Kenapa harus bingung. Orang-orang yang masih miliki kepala selalu tahu, syurga memang tidak pernah diciptakan untuk orang-orang baik.” Kalimatnya benar-benar hampir membuat kepalaku pecah hingga otakku berserakan.

“Kau cobalah untuk mencernanya, jika syurga adalah untuk orang baik, maka Tuhan akan sangat kejam ketika melemparkan orang-orang jahat ke neraka. Terdapat substansi, orang-orang baik tidak perlu dirangsang dengan apapun untuk melakukan kebaikan. Dan orang-orang jahat juga hamba Tuhan. Tetapi justru para penjahat yang harus dibujuk dan dirayu untuk bisa tinggalkan kejahatannya dan melakukan kebaikan. Mereka yang sudah baik memang sudah menyatu dengan kebaikannya. Untuk apa lagi Tuhan ganjar mereka dengan berbagai imbalan. Orang-orang baik tidak butuh rayuan apapun.”

Entah mungkin kemampuan otakku yang memang terbatas. Suaranya yang masuk ke telingaku terasa berat untuk merasuk. Dalam hati mencoba memaki kebodohan yang tidak pernah bosan hinggapi jiwaku.

“Bagiku tidak ada manusia yang baik.” Ujarnya seakan menyimpulkan.”Karena pertarungan baik dan buruk tidak hanya berada di luar sana. Tetapi didalam jiwa semua kita. Didalam jiwaku dan didalam jiwamu. Tidak selalu juga kita berhasil untuk melepaskan diri dari kesalahan, bahkan acap dengan sengaja kita ulang-ulang.” Ia terlihat sangat jujur.

Tertarik juga untukku berbicara.”Dulu aku pernah hentikan tahajud-tahajudku. Hanya karena Tuhan tdak bersedia untuk mengajak pulang saja semua penjahat. Tetapi justru Tuhan munculkan sebuah suara didalam diriku, bahwa akupun penjahat. Sudah siapkah untuk pulang? Suara itu acapkali menyindirku. Maka kuhentikan untuk lafalkan doa berisi caci maki.”

“Iya, jika engkau sudah menyadari diri sebagai penjahat. Yakinlah engkau akan masuki syurga. Syurga itu diciptakan untuk penjahat. Untuk penjahat yang tahu bahwa dia adalah seorang penjahat. Dan takkan pernah diberikan pada orang-orang baik yang tidak mau melihat kesalahannya. Percayalah, Tuhan mencintai seseorang bukan karena kebaikan seseorang itu atau keburukannya. Tetapi pada kejujurannya. Engkau jujur pada diri sendiri, kau menjadi bagian hamba yang dicintai-Nya.” Ujarnya sembari mengayunkan langkah kearah matahari tenggelam, dan menghilang.

Aku masih saja terpaku memaksa otak untuk bisa pahami semua kata-katanya. Tetapi dari kejauhan terdengar gema yang semayup,”otakmu tidak selalu bisa pahami kebenaran, kecuali dengan hati. Otak saja yang kau andalkan hanya akan membuatmu angkuh. Dan, kau leluasa menghafal semua alphabet kebenaran hanya jika kau sudah bersedia mendengar dengan kuping yang bertempat di hati.”

Ditulis oleh : Zulfikar Kompasiana

11/23/09

Tidak Ada Pilihan Lain

Carilah kesulitan! Buatlah masalah! itu...

itu kalau mau jadi seorang entrepreneur sukses. Bolehlah kita mencari-cari jalan termudah, berharap kita akan selalu survive dan mulus, tapi sampai seberapa lama? akan menjadi seberapa tangguh kita?

Lebih baik bersulit-sulit sekarang, mumpung hasrat belajar kita masih menyala-nyala. Kesulitan itu akan menguatkan kita.

Kalau harus bangkrut, rugi, gagal? Bagaimana uangku? Bagaimana nama baikku? Bagaimana kepercayaan diriku? wueesssshhh.... semua bisa disiasati. Itu memang bayaran untuk peningkatan ketangguhan diri kita.

Percayalah, kesulitan kita hari ini adalah cara kita untuk menghadapi banyak hal di masa depan dengan lebih mudah.

Yup, berkorban dengan bangkrut, nama baik tak kunjung terangkat, kepercayaan diri kembang kempis. Percayalah, sekali lagi percayalah, SEDEKAH itu bukan perkara MEMBERI. SEDEKAH itu perkara BERKORBAN!

Apa masih ragu bagi orang yang banyak sedekah akan kesuksesannya?

11/22/09

3 Giants : Urgensi Fungsi Semangat Donk

Giant Network
Keberhasilan di masa yang akan datang (saat ini juga sudah berlaku) bukan mereka yang mempunyai produk, tetapi mereka yang memiliki Network. Network yang paling tangguh adalah "Nama yang Dikenal Luas".

Giant Name
Sebaik-baik nama adalah nama yang dikenal keistiqomahannya, dijalankan dengan konsisten.

Giant Circle
Dalam banyak hal, kita hanya bisa leluasa mempengaruhi apa-apa yang ada di zona lingkaran dalam kita. Maka itu, luaskanlah lingkaran dalam kita.

Melestarikan Kas, Melestarikan Budaya

Sebuah pertanyaan terlontar, "Kenapa Saya dan Hilmy jarang membicarakan Semangat Donk akhir-akhir ini?"

Tapi tidak begitu dengan saya dan Andri, justru sangat intens saat ini. Yah, dari awal substansi apa yang kami kerjakan memang belum berubah, yakni melestarikan kas. Ini bukan kelit atau omong kosong, bisa dicek bagaimana aliran dana ke rekening pribadi masing-masing kami.

Tanpa kemandirian kas, kita menjadi tidak berbeda dengan komunitas yang miskin dana sehingga aktivitasnya alakadarnya dan tidak berimbas. Tanpa kemandirian kas, kita menjadi tidak berbeda dengan komunitas yang menyadong dana dari sini dan sana dan dengan berat hati harus melayani apa keinginan si pendonatur.

Urgensi kemandirian kas inilah yang kemudian diimplementasikan pada lahirnya warnet, martabak dan dihidupkannya kembali SPC. Mungkin tidak banyak yang tahu kenapa warnet dibangun? Saya ingin cerita disini, ini nyata dan tidak dibuat-buat.

Pada waktu itu unit mandiri diluncurkan, dan kita berkomitmen untuk tidak menyandarkan semuanya pada pendapatan event & training. Bahkan banyak seminar di-off-kan sementara waktu. Praktis pemasukan kas menurun, dan saya pun berpikir ke depan, bahwa kalau begini terus, lama-lama defisit. Harus ada tindakan!

Tindakan yang terpikir oleh saya, adalah menggenjot sumber pendapatan dari unit mandiri yang termasuk dalam golongan mapan, mapan diantara yang lain. Karena kalau semua dipacu target pendapatan, itu akan tidak baik untuk jangka panjang unit yang bersangkutan.

SDCP salah satu yang musti saya pacu. Dengan kata "sebaiknya begini..." bahkan hingga "pokoknya harus.." ternyata kata-kata saya tidak berpengaruh banyak pada perkembangan unit itu. Yah, saya baru paham belakangan ini sebabnya, "karena itu bukan domain saya". Jadi dulu saya berafiliasi dengan Andri "Ndri, harus ada terobosan, mungkin warnet, mau nggak kita nggarapin dulu, kalau memang sudah bisa take off, nanti serahkan biar jadi satu manajemen sama SDCP". Dan betul, warnetpun dibangun, walau sampai sekarang belum bisa stabil mengudara.

Tetapi, benar saja SDCP, dengan prinsip "pembiaran" bukan lagi "pengharusan" sudah bisa membukukan laba yang cukup membanggakan.

Begitu juga yang terjadi dengan Martabak. Awalnya saya kebingungan ketika sudah saya carikan dana talangan sebesar 3 M (3 million rupiahs = 3 juta) untuk pembukaan Bubur Ayam, tetapi begitu, dana tersebut tidak serta merta dapat digunakan di sektor itu, karena menyangkut bagi hasil dan sebagainya. Sementara saya tidak mau menelan ludah sendiri, akhirnya saya putar otak, "Ndri buka mie ayam!", ternyata sang produsen tidak siap. Lalu terobosan berikutnya, walau saya tidak menilai prospek, optimis saja saya garap Martabak, asal 3 M itu tidak hilang.

Dan jadilah Martabak Unyil itu.

Prinsip pembiaran, bukan pengharusan yang sudah terbukti ke SDCP berefek positif itulah yang saat ini saya terapkan di semua sektor. Saya percaya, dengan memberikan keleluasaan, mungkin hasilnya akan berbeda daripada saya mengharuskan ini dan itu. Walau saya tahu beberapa mengalami kesulitan, beberapa tertekan, bahkan beberapa kembang kempis tak jelas. Yah, semua kesulitan itu akan menguatkan.

Yang terpenting adalah saya ingin meretas satu konsep budaya baru, yang lebih terarah dan lebih rapi, oh ya, sederhana saja, budaya rutin sholat di masjid, itu satu hal kecilnya. Dan banyak sekali budaya-budaya ilmiah lain yang harus dikembangkan dengan pembiasaan. Dan kalau urusan kas itu domainnya Andri, maka urusan ini lebih ke domain Saya dan Hilmy yang di awal-awal menggagas ini.

Maka, semuanya biarlah mengalir tanpa banyak omong ini dan itu, pada saatnya nanti semua bertemu, forum berbincang, pada keadaan kas yang lebih baik, pada budaya yang lebih cemerlang dan pada ketahanan atas kesulitan yang lebih tangguh.

Insyaallah kiprah kita akan kembali berkibar, secara lebih ilmiah.

11/21/09

Rizky tidak Sesolutif Dia

Gara-gara tidak bisa membantu terobosan kongkrit menyelesaikan tugas kesekretariatan, eh saya kena marah deh. "Oh, itu bukan domain saya", tandas saja saya bilang begitu.

Dan akhirnya sayapun dibilang tidak solutif, omong tok, yah intinya tidak bisa membantu.

Hm, cemaskah dimarahin begitu? ah, seperti tidak ingat saja, saya dulu juga pernah diprotes karena mendominasi.

Mendominasi, salah. Membiarkan juga salah. Terus gimana donk? Ya terus saja, yang menyalahkan kan berpersepsi atas pemahaman dia sendiri, sedangkan yang paling paham atas niat, landasan sikap dan semua-muanya kan diri kita sendiri.

Kita berbuat, bukan untuk mendapat penilaian ini dan itu dari orang. Yang penting kita paham atas niat dan landasan sikap kita. Iya kan?

11/16/09

SM EC PP

Sedang belajar untuk memampukan diri menjadi seorang social-entrepreneur, membangun raksasa bisnis, melibas Freeport Inc., mengungguli Honda bukan berdasar azas padat modal, tetapi padat SDM. Yakni dengan komunitas, tepatnya entrepreneur-communitty

Tidak semua orang mengerti langkah dan arah saya, semaksimal mungkin saya jelaskan, saya perlihatkan, agar sebanyak mungkin orang paham dan mau bersama-sama mewujudkan kembalinya kebesaran bangsa ini

Diawali dengan self-motivation, dijembatani dengan entrepeneur-communitty dan diteruskan dengan people-power.

Saya percaya, tidak semuanya harus dimulai dari garis politik dan dari tempayan modal besar.

Tidak Punya Alasan

Memang, kalau sudah berdamai dengan diri sendiri, ah, orang lain... lewat...

Entahlah, enak sekali, nyaman sekali hari ini. Walaupun hanya ditanggapi dengan kata-kata datar. Toh, saya tidak punya alasan untuk tidak tersenyum.

Thkz God, Engkau bukan memberi dia atau dia. Engkau memberi yang memang aku butuhkan.

11/15/09

Berdamai dengan Kekurangan Diri Sendiri

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Mari kita review dulu pembahasan kita tentang berdamai dengan diri sendiri beberapa waktu lalu.

Yah, kekesalan, sakit hati, kemarahan bahkan kebencian terhadap orang lain seringkali dibuntuti dengan serentetan tuntutan agar orang lain mau berbaik sikap dan berbaik hati agar permasalahan hati itu selesai.

"habis dianya si begini begini", "ya dia harus begitu begitu donk" dan seterusnya. Hm, apakah selesai permasalahan dengan seperti itu? Hm juga, kalaupun selesai, apa yang patut dibanggakan dari satu kejadian, dari satu masalah, dimana tidak ada imbas apa-apa terhadap perubahan dalam diri kita, tetapi malah orang lain yang berubah?

Berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan kekesalan dengan mengatakan "tidak ada sikapnya yang pantas untuk membuatku kesal", berdamai dengan mengatakan "sakit hati itu hak prerogatif saya, mulai hari ini saya memilih untuk tidak sakit hati lagi", berdamai dengan mengatakan "saya pribadi yang bebas, saya bebaskan diri saya untuk mengubah kebencian menjadi kasih sayang."


Damaikanlah egomu yang mudah kesal, damaikan jiwamu yang terlalu peka untuk sakit hati, damaikan hari-harimu dari perasaan benci yang hanya memberatkan.

Berdamai dengan diri sendiri, akan memungkinkan apabila kelak dikemudian hari lahir konflik-konflik yang sama bahkan sedikit lebih besar, kita bisa menyikapinya secara lebih dewasa, lebih smart.

BERDAMAI DENGAN KEKURANGAN DIRI SENDIRI

Setiap pribadi adalah pemimpin, buktinya, setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan dengan pertimbangannya masing-masing. Oleh karenanya itu, berapa sering kita baru saja memutuskan ini, eh beberapa detik berlalu langsung berubah pikiran memutuskan yang berbeda? Itulah saking leluasanya kita dalam hal hak menentukan pilihan.

Pemimpin, demikian juga pemimpin besar, mereka yang berhasil bukanlah pemimpin yang tidak punya cela yang bersumber dari kekurangan dirinya. Pemimpin yang berhasil, dalam level apapun, adalah dia yang bisa berdamai dengan kekurangan dirinya, mengatakan dengan lembut "wahai kekurangan diriku, aku akan tetap bawa kau, karena bagiku sulit untuk meninggalkanmu, tetapi berdamailah denganku yang tidak lagi akan memprioritaskanmu, tidak lagi memberikan ruang yang luas buatmu, oke?" 

Ya, kekurangan diri bukan untuk disesali saja, kekurangan diri bukan untuk dijadikan bahan pikiran saja, kekurangan adalah tantangan bagi kita. Kalau dengan kekurangan diri saja kita bisa berdamai, apalagi dengan hal-hal lain yang jauh lebih baik.

Maka itu, setelah berdamai, kesampingkanlah ia, fokuskan pada kelebihan diri kita. Memfokuskan kelebihan dan mengesampingkan kekurangan bukanlah kerja ganda yang berat, bayangkan saja jika kelebihan diibaratkan telapak tangan kanan kita, dan kekurangan diibaratkan telapak tangan kiri kita, julurkan keduanya ke depan, fokuslah pandangan pada tangan kanan? apa pada saat itu kita bisa melihat tangan kiri dengan jelas? tidak.

Kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan. Dan sesuatu yang kita sudah berdamai dengannya, tidak akan mengganggu kita.

11/14/09

Lalu, mau jadi apa kalau tidak jadi PNS?

Memang, bisnis (apalagi masih kecil-kecilan) terasa seperti dolanan. Apalagi kalau memperhatikan teori gempa tahun kedua dan tahun kelima yang lebih berpotensi episentrumnya dari area internal, kebosanan dan perubahan prioritas kepentingan adalah salah satu pemicunya, kesemuanya bisa membuat semuanya kabur, hambur, berantakan.

Yah, kalau orang sudah berpikir rasional, dia pasti sudah berpikir untuk menjadi pegawai. Yah, orang dinilai bukan dari kontribusinya, bukan dari potensi dirinya, tetapi dari status dan jabatannya, iya to? sekarang begitu kan?

Lalu, saya tanyakan pertanyaan ini ke lebih dari 10 mentor, dan kesemua jawaban mereka sungguh mencerahkan. Terima kasih, terima kasih para suhu.

Diluar proposal hidup, ini hanya imajinasi bebas, saya membayangkan ada sebuah keluarga muda, yang baru beberapa hari mengucap akad, belum ada momongan, tinggal di sebuah rumah dua kamar di perumahan yang damai, rumah itu hak milik, DP-nya dibayarkan dari sisa acara resepsi yang kemarin berlangsung sederhana ditambah hadiah dari keempat orang tua, tinggal sidua orang yang mengangsur pelunasan itu rumah.

Keleluasaan waktu membuat dua pasangan muda itu memiliki banyak waktu untuk mencoba banyak bisnis, si pria bermain (secara bersih tentunya) di proyek-proyek dan mega-mega proyek, berafiliasi dagang secara profesional, lintas pulau bahkan lintas bangsa, serta mengembangkan usaha kecil yang bisa diduplikasi dalam jangka pendek, begitu terus kesibukannya, disamping agenda mencari ilmu, umum dan agama, serta berbagi melalui banyak pelatihan dan forum bicara, serta buku yang ia tulis-tulis.

Sementara si wanita membuka klinik, dia dokter? bukan, dia hanya seorang perawat, yang fungsinya bukan sebatas sebagai asisten dokter, tetapi manajer pada dokter, di klinik yang ia satukan dengan apotek sekaligus.

Dan, masih panjang ceritanya... sayang ini harus sudah mau berangkat. Hm, ternyata tidak harus jadi pegawai dulu kan untuk hidup seperti itu? dengan sehari-hari berkutat bersama Honda Jazz juga Avanza..

11/13/09

Future Perfect


 Next Sevila
 
 Next Andalucia
 
 Next Pajang 21
 
Next Granada

Present Continous



 

 

 

 

 

 

Simple Past


 L22 sebelum pemugaran
 
 Sebelum dibabad, L21 bahkan lebih rimbun dari ini, sangat rimbun oleh rumput liar
 
  Walau sudah berulang kali ganti printer, belum pernah ganti PC sejak Juli 2006...masa2 awal pra pendirian


11/12/09

Sejarah Kenapa Ditanami Kacang Lanjaran

Pak Slamet adalah orang yang berjasa di L22, beliau yang sehari-hari menjadi paspamrum (pasukan pengamanan perumahan) secara khusus selalu melintasi L22 dalam jarak yang begitu dekat. Alhasil, semua pun aman, kecuali sepasang sepatu bola dan gitar saja yang pernah raib dari sini.

Dharma bakti Pak Slamet pantas diaspresiasi, mengingat beliau juga adalah peletak dasar penanaman kacang lanjaran di L22 Open-Land.

Kenapa kacang lanjaran, bukankah tadinya mau ditanami cabe? Ini percakapan singkatnya, "pa, tolong setelah lahan dipacul rampung, dideder ini bibit cabe, saya ingin lahan rumput ini berubah jadi lahan cabe."

Awalnya Pak Slamet mengiyakan saja, lagipula kan cabe itu lebih baik daripada rumput. Dalam hal mana kita tahu bersama apa itu peribahasa rumput, "rumput di halaman tetangga lebih hijau..". Bisa jadi keberadaan rumput inilah yang membuat selama ini mudah sekali sawang-sinawang.

Oleh karena itulah, sekarang saya senang, rumput sudah diganti. Hm, mengenai permasalahan kenapa tidak jadi cabe, begini penjelasan pak Slamet, "Iya mas, jangan cabe, kacang lanjaran saja", saya tanya ke beliau, "loh, kenapa memangnya pak?",  Pak slamet menjawab, "filosofinya lebih bagus mas", saya tanya lagi, "apa itu pak?", jawab beliau, "agar pada ingat, kalau sudah jadi kacang jangan pada lupa pada lanjarannya".

*kisah ini hanya fiktif belaka

11/11/09

Yiyi-Chan

Anak kelas 1 SD baca bukunya Totto Chan

Yiyi's Picture (Nanti akan mengalahkan Walt Disney Picture...)

Ngaku Saja!

Yess! Yeah...

Siapa bilang mengaku itu gampang, hm, tapi apa boleh buat, inilah yang terjadi, yess, dengan tangan terbuka saya katakan, saya sudah gagal.

sesuatu yang tidak mengenakkan, sesuatu yang memalukan, sesuatu yang melemahkan, sesuatu yang pantas disesali, itulah "gagal".

Ya, mau bagaimana lagi.. tetap pilihan ada di tangan saya, meratapi kegagalan, atau mensyukuri kegagalan? Hm, kalau meratapi, apa yang saya dapat? cuma kesal disindir di note, cuma sedih dimintai bantuan nggak bisa bantu, cuma termenung biasanya menasehati sekarang dinasehati, cuma dipamitin saja enggak, hm, menyakitkan kalau semua itu dirasa.

Terus, kalau memilih yang kedua? Mensyukuri kegagalan? Apa yang didapat? Tidak ada konsekuensi lain atas pilihan itu, kecuali "mikiir...". Mikir, mikir apa? mikir apa yang musti saya syukuri?

Yah, akhirnya sore ini ketemu. Salah satu yang mesti saya syukuri adalah, saya tak perlu mempertahankan apa-apa. Enteng, main tanpa beban. Loh iya, mau mempertahankan kesuksesan? lah kan enggak sukses, gagal. Mau mempertahankan ini, itu, anu, ono, ene, ane-ane hh saja...

Wahai ego, syukurin lu udah gagal, giliran gue yang mimpin : hati.

Oke, nyamleng tenan sore ini, nggak ada yang perlu dipertahankan, nggak ada yang perlu dicemaskan, nggak ada yang perlu dikejar, nggak ada yang perlu dicapai, nggak ada yang perlu diminta, nggak ada yang perlu diapa-apain...

Baru maksud istilahnya Indie : "dolanan...".

Thkz for read

11/10/09

Untuk Sukses Bisnis siapkan Dua BANGUNan Sebagai Modal

Berapa sering, sebuah usaha tutup padahal baru beberapa hari? Ya begitulah, terlalu cepat menghakimi diri bahwa usahanya rugi, tidak berprospek. Padahal, kenapa usahanya belum menyenangkan hasilnya karena memang membangun modalnya belum selesai.

Yah, bukan hanya butuh satu, tetapi dua bangunan yang musti dijadikan modal. yang musti dibangun sampai selesai.

1. BANGUNan untuk tempat produksi

Ini semua orang juga tahu, bahwa untuk bikin konter hape diperlukan kios, bahwa untuk jualan martabak diperlukan warung tenda. Apakah dengan tempat dan ubarampenya cukup? tidak. Kita perlu yang kedua.

2. Pelanggan yang ter-BANGUN

Ini yang kebanyakan orang lupa, kalau untuk membangun tempat produksi kita perlu biaya, membangun bangunan pasar yang disebut pelanggan juga perlu biaya. Kalau membangun tempat produksi perlu waktu, membangun bangunan pasar juga perlu waktu.

Nah, sebelum memutuskan untuk gulung tikar, pikirkan dulu. Sudah dibangun dengan baikkah bangunan tempat produksinya? Dan sudah dibangun dengan baikkah bangunan pasar (pelanggan) nya?

Jangan dikira kalau biaya kios dan renovasi interior hanya 10 juta, berarti modal 12 atau 13 juta cukup. Lah pelanggan kan justru jauh lebih penting untuk dibangun, wajarlah butuh lebih mahal dari modal tempat produksi.

Nah, bagaimana kalau memang dana yang ada hanya 12 atau 13 juta? ya jawabannya : sadar diri. sisa yang modal membangun pelanggannya dicicil. Bagaimana bentuk nyicilnya?

Taruhlah dicicil selama setahun, sementara estimasi untung pada rencana usaha kita 1 juta perbulan, ya sudah, kalau memang kita merasa modal membangun pelanggan butuh lebih besar dari modal produksi, ikhlaskan saja selama setahun hak keuntungan kita jangan kita terima dulu (artinya walaupun 12 bulan pertama tekor terus, rugi terus, ya jalan terus saja, optimis saja, itu bukan tanda usaha kita jelek)

Kalau rugi terus, bagaimana donk kita makan? Ya gampang, pertama : lah, kan sebelum buka usaha juga kita nggak punya keuntungan, toh bisa makan. kedua : berhutang saja, nanti dilunasi kalau usaha sudah bisa untung.

Hm, emang nantinya mau untung mas? Loh? plis deh, buat apa melakukan sesuatu yang kita tidak yakin akan keberhasilannya. Kalau memang nggak ada keyakinan pada saatnya nanti akan untung, ya sudah, jangan jadi pengusaha, jadi kerbau pembajak sawah saja, lebih aman daripada jadi tukang panjat BTS.

Piss

ASLI 1.000.000

Gedung Dewan Kabarnya akan dipugar jadi Pasar Malam, mungkin akan laris, rame, nonton tikus pada sirkus disitu. Apalagi tanpa pengawalan seperti sekarang, cukup bayar HTM, sudah bisa jalan-jalan nonton sambil menikmati popcron, atau membuka gelaran tikar + rantang bagi yang membawa dari rumah.

Sepertinya suara 1.000.000 facebooker yang benar-benar 1.000.000 lebih bisa mewakili suara rakyat, ketimbang orang-orang yang berkoar-koar atas nama rakyat, mereka yang mewakili rakyat naik mobil mewah, mewakili rakyat makan-makanan mewah, mewakili rakyat tidur di arena rapat mewah...
  
Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto


"dorrrrr!"

Seorang anak dijambak kerah bajunya, tangan kanan memegang kerah baju, tangan kiri mengambil selembar kertas putih seraya orang itu berkata, "ini apa?!" 

Lalu si anak menjawab, "kertas putih pak..."

Lalu ditaruhlah kertas putih di atas meja, si penjahat itu mengambil pulpen dan menorehkan sebuah tanda titik di atas kertas itu, lalu diambil lagi kertas itu seraya bertanya kembali, "ini apa?!"

Si anak dengan ketakutan menjawab, "sebuah titik pak..."

Dengan nada yang lebih keras dan menakutkan ia bertanya lagi, "ini apa??!!"

Dengan wajah yang semakin ketakutan menjawab sekali lagi, "sebuah titik pak..."

Sekali lagi bertanya, dan sekali lagi menjawab, akhirnya kertas itu ditaruh dan diraihlah pistol di atas rak piring dekat situ, lalu tanpa berkata apa-apa, "dorrrrr!", si anak ditembaknya.

Dilepaskanlah jambakan kerah baju si anak, dan ia bergegas meninggalkan tempat itu, dalam langkah penuh wibawanya seseorang mencoba menghadang dan bertanya, "kenapa kamu menembaknya?"

Dengan cool penjahat itu menjawab, "kertas putih dibilang titik."

dan "Cut", program director berseru. Adegan untuk scene itu selesai.


Memang, kertas putih kalau sudah dititiki jadi bukan kertas putih lagi. Kalau sudah salah, mau bagaimanapun yang baik-baik hilang semua.

Banyak ngomong lu!

"Halah, kayak sendirinya benar aja...."

Hm, saya tanya? Kalau hanya orang-orang yang suci yang boleh mengkritik, boleh mengulas argumentasi tentang sebuah permasalahan, berapa banyak masukan yang bisa muncul?

Aneh memang, sama seperti kata orang seperti ini, "sudah, nggak usah banyak ngomong, yang penting kita kerja aja yang baik".

Kalau kita persis mengucapkan ini diucapkan di kapal, kita posisinya sebagai pengepel dak kapal, sementara kita melihat ada yang sedang membocori kapal, tetapi posisi orang itu terlalu jauh jadi mustahil suara kita terdengar.. lalu seseorang mngingatkan kita yang sedang berkoar-koar, "sudah, nggak usah banyak ngomong, yang penting kita kerja aja yang baik".

Hohoho, terus saja pel tuh lantai sampai kapal tenggelam, mapan di dasar laut.

Ini logikanya :


Pertama,
Kita mengenal dan meyakini bahkan merapkan dalam kehidupan sehari-hari secara sadar maupun tidak peribahasa "Rumput di halaman tetangga lebih hijau...".

Peribahasa ini pula yang menjadi alasan kenapa perusahaan dalam memilih konsultan dari orang luar, karena orang luar, karena orang luar lebih fair dan obyektif dan tajam dalam melihat suatu masalah.

Begitulah, memandang dengan kacamata biasa kita akan menilai, ngomongin orang itu jelek. Tetapi, memandang dengan kacamata positif, bukankah dengan menilai orang lain itu, pertama : kita melatih ketajaman kita memandang suatu masalah, kedua : masalah itu bisa menjadi cermin bagi apa-apa kekurangan yang mungkin ada dalam diri kita.

Rumput tetangga yang lebih hijau bagi orang biasa cuma bikin iri, tapi rumput tetangga yang hijau bagi orang-orang tertentu sebenarnya bisa jadi cermin, cermin untuk melihat (kekurangan) diri kita, karena kita cenderung sulit kritis terhadap diri sendiri.

Ya situ, jadi suci dulu saja kalau mau mengkritik.

Kedua,
Sekalipun berkoar-koar itu tidak terdengar oleh yang sedang membocori kapal, atau yang membocori kapal itu dengar tapi bebas saja dia tidak menuruti teriakan kita. Tapi bukankah dengan  berkoar-koar kita jadi ada peluang siapa tahu masinis (maaf, nahkoda maksudnya), atau kapten, atau ABK lainnya, atau bahkan orang lewat yang ada dan lebih memungkinkah menjangkau orang itu untuk tahu bahwa ada yang sedang membocori kapal dan dia bisa membenthong kepala si pembocor kapal?

Samahalnya kita mengisi training, memang mungkin kita tidak bisa membuat perubahan sebesar yang kita omongkan sendiri di training, sehingga kadang merasa sia-sia apa yang kita ucapkan. Tapi, seandainya dari training yang ke 100 kita diantara ratusan ribu peserta, ada satu orang saja yang terinspirasi dan dia adalah keturunan Arjuna yang mendapat Wahyu Makutharama, lalu dia terinspirasi oleh ucapan kita, bisa jadi perubahan 10x lipat lebih dahsyat dari yang kita bayangkan terjadi, hanya karena satu orang.

Ketiga,
Ada tahapan dalam belajar, ini yang tidak pernah diajarkan di sekolahan tetapi valid adanya, pertama adalah Learning to Know, kedua adalah Learning to Do, ketiga dan seterusnya....

Jadi hargailah orang-orang yang sedang berproses dalam belajar, dia belum berhasil untuk bisa melalukan, dia baru berhasil untuk bisa ngomong...

Keempat,
Simaklah 10 film, amati konfliknya, risetlah, analisislah, dan buatlah sebuah tesis : berapa persen konflik di film itu lahir karena kekurangan, ketiadaan atau kesalahan komunikasi. Kalau mau komunikasi tanpa banyak omong, main dulu ke SLB bagian C sana, belajar bahanya isyarat...

Semoga bermanfaat!