5/30/10

Jas Hujan

Disaat titik2 gerimis tidak dapat lagi ditolerir, disaat itulah jas hujan dikeluarkan

Psimis

Psimis... yoo wiss... .Itu tagline Psimis Indonesia kita

5/28/10

Selamat Jalan Cinta


...aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada...

...kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.   mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia...

...kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan ibu negara Hasri Ainun Habibie, semoga perjalananmu setelah ini dipenuhi magfiroh

5/27/10

Lima dan Dua Puluh Delapan

hari tinggal dalam hitungan jari, menuju Juni, yang diberkati

5/26/10

Stick-Stick

"And we made the day for (seeking) livelihood", (Q.S An Naba 11)

5/25/10

Tukaran Tak Terhindarkan

Hari itu Fachri (kanan) yang dibuat menangis, besoknya gantian si Arya (kiri).

5/24/10

Tambal Ban

Pelajaran Berharga dari Seorang Pak Tambal Ban Hari Ini

5/22/10

Senyum

Tersenyumlah, sebelum senyum itu dilarang

5/21/10

Dengan Kasih Sayang

Didulang, dititah, dimomong, disimpe, semuanya dengan kasih sayang


5/20/10

5/18/10

Bantal

K1 Argo Parahyangan masih menggunakan bantal K1 Argo Gede

5/14/10

Sebelas Pohon Durian

Ketekunan diibaratkan seperti seseorang yang hanya memiliki sebuah sendok teh, dia memindahkan pasir dari pantai ke daratan dengan satu sendok teh itu. Terus ia lakukan waktu demi waktu semakin cepat langkahnya. Ada yang mengiming2in kesibukan lain, dia abaikan. Ada yang mencaci menyalahkan, ia tutup kuping, pokoknya terus saja. Sampai akhirnya peribahasa "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" akhirnya pun terbukti.

Sedangkan keberuntungan itu seperti seseorang dan sepuluh orang teman lainnya berdiri di masing-masing pohon dari 11 pohon durian yang sudah ranum berbuah. Tidak ada yang bisa menebak durian akan runtuh di pohon siapa. 

Yang memilih tekun, kuncinya adalah terus saja berbuat. Dan yang memilih keberuntungan apakah cukup dengan berdiri berpangku tangan saja? Tidak, keberuntungan hanya milik orang-orang yang memiliki kesiapan. Tanpa menyiapkan diri dengan kecepatan berlari dan teknik mengupas durian, sekalipun durian jatuh di pohon yang ia tunggui, bisa-bisa orang lain yang akan menangkap, mengupas dan memakannya.

5/12/10

Bis Kota

Saya sering ingat slide-slide yang saya pandangi di banyak training dan seminar, yang mendadak terlintas di benak saya adalah sebuah slide yang diterangkan oleh narasumbernya tentang sebuah bis kota. Kerjasama dan bekerja bersama-sama itu berbeda, sang narasumber saat itu mengumpamakannya dengan sebuah bis kota.

Kalau orang yang bersama-sama di bis kota, itu termasuk bekerja sama atau bekerja bersama-sama? Begitu kira-kira pertanyaan yang dilontarkan kepada audience. Mana ya jawabannya? Coba dibayangkan bagaimana sebuah bis kota, di dalamnya ada banyak orang, orang-orangnya saling bersinggungan satu sama lain, suara terdengar antara seorang dan orang lainnya, semua menuju ke arah yang sama.

Namun, sekalipun begitu, mereka tidak turun di tempat yang sama. Yang duduk di belakang, tidak mendengar obrolan orang yang didepan. Yang duduk di sisi kiri, tidak perlu tahu keadaan yang disisi kanan. Urusan masing-masing.

Menjadi Kopasus

Hebatnya pasukan elite yang Indonesia miliki, dalam deretan terbaik dunia posisi pertama di tempati SAS (Inggris), peringkat kedua MOSSAD (ISRAEL) lalu peringkat ketiga adalah KOPASUS (Indonesia). Ya, urutan ketiga.

Seorang teman terbaik saya cerita kemarin, dia pernah dilatih oleh pelatih dari Kopasus, di tengah-tengah latihan ia ditunjukki bagaimana Kopasus in Training, "brutal!", ya begitulah latihannya Kopasus. Baru datang ke tempat latihan dipukul oleh instrukturnya satu-satu, bukan pukulan basa-basi, tapi benar-benar bukan pukulan biasa.

Ada sesi latihan dimana seolah ia ada di camp tawanan, dan dia dipukuli dengan pralon besar berisi semen. Ada sesi latihan dimana ia harus berlari dari Bandung hingga Pangandaran dengan waktu tidur hanya 2 jam sehari, selama berhari-hari hingga kulit kakinya bukan lagi lecet, tapi sobek.

Ada sesi latihan survival di hutan berular phyton, hingga mendesaknya keadaan dan laparnya perut, bahkan ular phyton yang besarnya segitu, yang biasanya bisanya cuma ditangkap rame-rame atau minimal berdua ia bisa tangkap sendiri, agar bisa makan.

Ada sesi dimana ia harus merayap sambil dihujani peluru, meleset sedikit saja dari instruksi, peluru menembus badannya, nyawa taruhannya. Dan entah seberapa banyak lagi kisah brutal yang belum teman saya ceritakan tentang perjalanan menjadi kopasus ini.

Namun begitulan, kebiasaan dipukuli dengan keras membuat ia kebal ketika harus dipukul musuh, ketika di dalam tawanan lawan dan untuk survive di hutan belantara. Itulah yang dikagumi oleh dunia terhadap Kopasus, mereka hebat bukan karena mengandalkan senjata, tapi olah tubuh dan kekuatan karakternya yang luar biasa.

Harus mau dipukuli keadaan, harus mau dihujani peluru cercaan, harus bisa tetap survive ditengah hutan rimba kesulitan. Itu kalau mau berhasil... dimanapun.

5/10/10

Spontan... uhuy...

Perjalanan seru kalau direncakan, tapi jauh lebih seru kalau tidak direncanakan alias spontan. Seperti kemarin, tidak ada niat untuk ketemu Purin di Sokaraja atau Neysa di Kalibagor, apalagi Ni Tiwen di Wlahar, tapi akhirnya sampai ke Kebasen, tempat tepian sungai yang asri dan diberkati (Ke = tempat tepian sungai, Ba = Asri, Sen = Diberkati.. Haha..).

Perjalanan yang spontan.. lebih uhuy... tak kalah menginspirasi..

Kali ini bener-bener ditepinya Kali Serayu

Pada bisa nyanyi ini nggak?

ditepinya sungai serayu
waktu fajar menyingsing
pelangi merona warnyanya
nyiur melambai-lambai
warna air sungai nan jernih
perahu berkilauan
desir angin lemah gemulai
aman tenteram dan damai
gunung slamet nan agung
tampak jauh di sana


bagai sumber kemakmuran
kerta kencana
indah murni alam semesta
tepi sungai serayu
sungai pujaan bapak tani
penghibur hati rindu


Cipt : Soetedja 

5/7/10

(serasa) Di Stasiun

bukan menentukan arah, menentukan kendaraan
Bukan sedang "menentukan arah", karena ini tidak seperti di persimpangan, tapi serasa di stasiun. Hiruk, pikuk, penat, riuh, berisik, ramai dan sendiri.

*sedang bingung, sedang perlu tambahan dorongan, dan sedikit udara baru.*

terima saja, ikuti.... lalu lepaskan

5/6/10

Kalibrasi Kesuksesan

Orang sukses selalu mengalami suatu kurva S tidur di titik terrendah, seperti penyakit cacar, minimal sekali. Kalau belum pernah mengalami tapi sudah sukses, siap-siaplah saja sewaktu-waktu akan menghampiri.

Masa ini pasti terjadi, mengapa? Karena orang sukses itu perlu dikalibrasi. Tanpa dikalibrasi, orang bisa jadi tidak sadar apa faktor yang membuat dia jadi sukses. Jangan-jangan dia sukses karena temannya hebat, dia sukses karena keberuntungan, dia sukses karena uangnya, dia sukses karena sesuatu yang ada diluar dirinya.

Dititik terbawah kurva S tidurnya itulah orang akan mengenali sebenarnya seberapa besar faktor penyukses yang ada di dalam dirinya. Ada banyak indikator sebetulnya untuk mengukur seberapa besar faktor itu, tapi saya ingin bagikan 3 yang umum-umum saja. Kalau faktor penyukses yang tertanam dalam dirinya itu besar, maka dia memang siap sukses, tapi kalau kecil bahkan tidak ada, hm, jangan bangga deh dengan kesuksesan yang akan orang itu raih nanti, rapuh, maya, nisbi, fatamorgana.

Kalau orang tipe kedua itu ditinggalkan temannya, kesuksesan akan berakhir. Kalau uangnya habis, juga demikian. Kalau keberuntungan enggan lagi menghampiri, pun demikian. Maka nikmatilah proses ke-blank-an, blank ide, blank uang, blank partner sebagai timing istimewa dimana enegeri The Power of Kepepet hadir tanpa diundang.

Nah, inilah 3 indikator yang saya maksud di atas dalam proses kalibrasi kesuksesan bernama BANGKRUT itu. :

Level 3 : Bunuh Diri 

Bunuh diri bukan hanya nyemplung sungai atau menabrakkan diri di depan kereta api loh ya. Bunuh diri dalam bentuk halus adalah dengan mematikan keyakinan dirinya akan keberhasilan, tidak ada lagi perasaan hebat dan kebesaran jiwa yang dimiliki sebelumnya. Mati sudah mimpi-mimpi dan harapan oleh benturan realita. Ya, nothing spesial lagi.

Manusia itu makhluk spesial, kalau dia sudah delete perasaan kespesialan terhadap dirinya sendiri, atribut2 spesialnya ia tanggalkan, bukankah itu namanya bunuh diri juga?

Level 2 : Menggadaikan Diri

Ia salahkah keadaan, ia maki-maki nasib yang ia terima, ia berpangku tangan seolah dirinya sudah tenang di dalam pegadaian dan masalah akan terselesaikan dengan kerelaannya mendekamkan diri selayaknya barang tergadai. Itu kondisi parahnya.

Kondisi ringannya, sebelum menggadaikan televisi, hape, atau apapun, cobalah level 1 di bawah ini. Menggadaikan barang-barang bukan pilihan bijak, kecuali bagi orang yang sudah tidak punya pilihan untuk berusaha.

Atau kalau tidak punya barang yang bisa digadaikan, gadaikanlah harga diri Anda dengan mencari hutang pinjaman kesana-kemari. Memang memalukan itu berhutang, tapi asal Anda berkomitmen melunasinya dan benar-benar melunasinya, it's not bad.

Level 1 : Menjual Diri 

Anda punya kaki, berjalanlah untuk menjajakkan dagangan. Anda punya mulut, bersuaralah yang dengan suara itu orang akan mendapatkan manfaat dan Anda berhak mendapat feedback berupa uang. Anda punya motor, berpaculah dengan waktu walau hanya menjadi sales. Anda punya channel, hubung2kanlah hingga mereka merasakan nilai tambah dan andapun uangnya bertambah.

Seberapa kuat Anda menghasilkan uang dalam kondisi minim, itulah kualitas seberapa tinggi derajat level 1 Anda. Kok uang? Ya, uang adalah indikator paling mudah, paling nyata dan paling real untuk menjadi indikator level diri kita.

Ke pegadaianlah sebelum Anda berpikir hanya bunuh diri satu-satunya solusi. Namun, sebelum ke pegadaianlah, berjualanlah kecuali benar-benar berjualan itu tidak bisa.

Menginginkan Istirahat

Ketahuilah, sungguh engkau berada pada medan pertempuran, sedangkan waktu itu akan berlalu dengan cepat. Maka janganlah engkau kekal dalam kemalasan.

Tidaklah sesuatu itu dapat terluput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah seseorang dapat meraih apa yang dicapainya melainkan karena kesungguhan dan tekadnya yang bulat.

Ilmu Tidak Akan Di Dapatkan Dengan Jasad Yang Selalu Menginginkan Istirahat...

Barakallahu fiik Ya Aba Umar

::Arif Anggriawan::

Kalau Mau Efektif, jangan Buat Rencana Pagi-Pagi!

Capaian, impian, target, perolehan... yah, apapun istilahnya itu biasanya ada di dimensi fisik kita, bukan didimensi quantum. Oleh karena itulah, kerja cerdas tidak bisa menjadi penukar kerja keras bagi seorang pemburu keberhasilan.

"Efektivitas kerja tidak bergantung pada ketersediaan (alokasi) waktu, tetapi pada ritme yang kita bangun".Dalil May Way Rizky ayat (1)


Apa maksud dalil di atas? Ya, kalau mau efektif, jangan buat rencana pagi-pagi!. Mengapa? Begini, sering tidak kita, pagi-pagi membuat rencana, lalu saat hendak melaksanakannya di jeda "istirahat dulu ah", hingga adzan Dhuhur berkumandang, ternyata belum mengerjakan apa-apa, hanya berkata "lho kok cepet banget ya sudah tengah hari", begitu sampai malam, ternyata keindahan rencana kita tidak serupa dengan hasil yang kita peroleh.


Ya, pagi-pagi itu bukan waktunya membuat rencana, pagi-pagi itu waktunya membangun ritme. Ini memang tips terlihat konyol, tapi coba praktekkan si, ketika Anda sedang ditimpuki serangkaian pekerjaan padat, atau akan ada acara penting, misal ujian bagi mahasiswa atau training bagi trainer, cobalah sibukkan waktu pagi Anda. Sibukkan dengan apa saja, dengan menyapu rumah, mencuci motor, lari pagi, menyiram tanaman, dan sebagainya sekalipun pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan prime time agenda Anda hari itu. 


Hm, apa gunanya, bukannya itu malah bikin capek? Tunggu dulu... itulah yang namanya membangun ritme, ketika dari pagi tubuh Anda sudah diadaptasikan dengan pekerjaan yang tap tap tap tap... disitulah enzim dan hormon akan membangun sebuah pola yang indah untuk hari yang indah Anda itu. Sederhananya, karena Anda sudah membangun ritme sibuk, maka tubuh Anda akan nyaman dengan kesibukkan, dan efektiflah hari Anda.


Bisa diterima?


Lalu, kita tidak usah membuat rencana? target? proposal hidup? Hm... siapa bilang? perhatikan judulnya : "Jangan buat rencana pagi-pagi...", buatlah rencana di malam sebelumnya, Otre?


Pagi-pagi adalah saatnya membangun ritme. Itu kiat membangun hari yang efektif, sehingga dimalam harinya Anda review "seharian saya sudah ngapaian aja ya?", Anda akan bangga dengan sepak terjang Anda sendiri.

5/3/10

Mradak

Rambu-rambu lingkungan meminta kita ke kiri, lah kok tetep maunya RIGHT? Mradak namanya... 
Saatnya bermain uang
Pelangi ini akan jadi uang berapa ya setelah bulan ini berakhir nanti?
Pagar untuk mlumpat, bukannya lewat aspalan malah lewat kebonan, dimarahin orang, kecocok duri, kepaduk batu, makan buah yang bisa diranggeh, itulah petualangan seru yang disebut mradak.

5/2/10

Tidak ada Shuttle Bus

Bagaimana si kalau seekor lalat, yang tadinya ikut kereta api dari Semarang ke Jakarta terus turun dan tidak melanjutkan lagi ke Cengkareng? Bandara Soekarno Hatta.

Bagaimana si kalau lalat enggan menclok di busway? Bagaimana kalau si lalat hanya berkutat di dalam stasiun? Bagaimana kalau si lalat malah tetap kereta itu kembali ke Jogja?

Manusia saja banyak yang bingung ketika turun di stasiun yang belum pernah ia singgahi sebelumnya, apalagi lalat. Tapi, kebingungan itu bukan alasan untuk si lalat untuk skeptis dan enggan naik busway kalau memang shuttle bus dari bandara tidak tersedia saat itu.

Akibat kurang tidur

Awalnya duduk di deretanm kursi-kursi putih itu

Lalu bergerak ke balik layar, dan kini sudah dipercaya tampil di atas panggung... Pa Edi Darmoyo, Semarang

Choice

Sebelum berangkat beberapa hari lalu, disebuah kesempatan saya singgah dirumahnya saya memperoleh banyak oleh-oleh. Salah satunya adalah oleh-oleh inspirasi seperti yang sedang akan saya tuliskan di note ini.

Ketika itu saya bertanya, "Saya ini sekarang sedang diragukan, bagaimana ini?", lalu teman saya itu menjawab, "lalu kamu mau mengiyakan kalau kamu memang meragukan, atau menunjukkan sebaliknya?"

"Saya sekarang itu sudah tidak dianggap, bagaimana ini?" lalu teman saya itu menjawab lagi, "lalu kamu mau mengiyakan bahwa memang kamu memang layak untuk tidak dianggap, atau kamu mau menunjukkan sebaliknya?"

Mereka yang bersikap, tapi kita yang mendapat ilmunya to? Ilmu The Power of Choice. Saat itu saya kembali sadar, hak memilih masih di tangan saya.

Lompat Kuadran

Si sebuah belahan dunia, banyak orang-orang dari kuadran kiri melompat ke kuadran kanan. Ada yang soft-jump ada yang hard-jump. Ada yang membuat sayap dulu baru lompat, ada yang lompat sambil membuat sayap. Di belahan dunia lainnya masih banyak orang-orang kiri yang konsisten dengan ke-kiri-annya, tentu dengan alasannya sendiri-sendiri.

Eh, dibelahan dunia lainnya ada orang-orang yang melompat dari kuadran sebaliknya, dari kanan ke kiri. Ada yang soft-jump ada pula yang hard-jump. Maksudnya, ada yang tetap menjalankan aktivitas kanannya, ada yang betul-betul pure pindah ke kiri. Dan di belahan dunia lainnya masih ada beberapa orang yang tetap persisten dengan ke-kanan-annya, tentu dengan kondisi-kondisi yang mendukungnya.

5/1/10

Banyak Jalan Menuju Karang Klesem

Beberapa pilihan jalan ke Karang Klesem
Kita memilih jalan kita sendiri-sendiri. Andri dan Azis memilih jalur lain karena ia ada tanggungan jangka pendek yang harus dipenuhi. Hilmy dan saya awalnya berjalan beriring-iringan, tapi sampai di tugu jalan merdeka kami berpisah jalan, entah berpisah jalan, entah berbeda kecepatan, yang jelas tidak terlihat lagi di spion saya.

Memang Azis dan Andri memilih jalan apa? Jalan yang mereka pilih adalah jalan Ringin Tirto, karena ada paket yang harus dikirimkan disana. Hoo... Saya dan Hilmy lewat yang jalan Karangkobar lewat arah SMA 2, karena menurut saya itu jalur tersingkat, teririt BBMnya.

Kalau Hilmy saya tidak tahu lewat mana, tapi setahu saya dia suka jalan yang lurus dan omber yang enak buat dibawa banter. Ya, itu semua pilihan tidak ada yang salah, yang salah kan kalau tujuannya ke Karangklesem kok mbawa motornya ke Cendrawasih... Nyasar... Ini yang harus dikoreksi.

Kalau tidak bareng-bareng begitu memang resikonya kalau ban kena paku dan mesti ditambal, atau ketilang atau apalah apalagi kayak saya kemarin cuma bawa uang pas-pasan 11.000 rupiah saja di dompet. SMS-an sangatlah membantu. Dan kalau tidak bareng-bareng, harus disadari kalau nanti sampainya pun tidak bareng-bareng juga, ada yang sampai duluan dan bisa lihat-lihat slender dulu disana, ada yang sampainya belakangan.

Itulah, sekelumit cerita perjalanan ke rumah Aan-betutu dan istrinya kemarin. Rencananya selasa depan Aan-betutu dan istrinya akan opening Mie Ayam Cendrawasih, di Jalan Cendrawasih, Kompleks Unsoed. Nah, kemarin itu acaranya trialnya, anak-anak L22 diundangi kesana untuk icip-icip.

Godaan

Knowledge itu godaannya adalah perasaan "merasa sudah berilmu". Idea itu godaannya adalah sikap "moody". Focus itu godaanya adalah bertebarannya peluang menggiurkan disekeliling kita. Positive itu godaannya adalah pembanding-pembanding yang ada disekeliling kita, yang semestinya tidak usah kita banding-bandingkan.