10/30/12

Satrio-Satrio


Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.

Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.

Satrio Jinumput Sumelo Atur
melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.

Satrio Lelono Topo Ngrame
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.

Satrio Hamong Tuwuh
melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.

Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pandhita atau alim ulama yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang aulia (waliyullah).

10/29/12

Bulan Sura

Bulan Besar sebentar lagi selesai, masuklah ke Bulan Sura kita. Sura adalah istilah bulan bagi orang Jawa untuk bulan pertama di tahun Hijriyah, Muharram. Sultan Agunglah dulu yang membuat kalender Jawa lama disinkronisasi dengan kalender Islam.

Bulan Sura atau Muharram adalah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Tiga lainnya yakni Dzulqaidah, Dzulhijjah (Besar) dan bulan Rajab. Loh kok bulan Ramadhan tidak termasuk? Ya memang tidak, itu para ustadz di TV aja yang pada sok tau menyebutkan Ramadhan sebagai bulan suci. Ramadhan itu bukan bulan suci, tetapi bulan spesial. Itu tepatnya. Kenapa spesial? Ya kita semua tahu lah betapa spesialnya bulan itu, berkelimpahan buah kedermawanan Allah.

Hebatnya orang Jawa, di bulan suci Sura, mereka mengurangi aktivitas keduniaan. Salah satunya adalah resepsi pernikahan. Ini sinkron saja saja dengan anjuran, di bulan ini kita tidak lalai oleh dunia, kita lebih fokus mentauhidkan Allah.

Jadi, yang dilarang bukan menikahnya kok, tapi just antisipasi saja, agar tidak lalai oleh dunia.

10/10/12

Sibuk

Menyibukkan diri sesibuk-sibuknya, sampai enggak kebagian detik untuk termenung, meratapi. Life must go on. 

Berlibur?

Lagi tidak mood buat berlibur. Karena pekerjaanku adalah liburanku. I'm so enjoying the day. Kalau disini aja happy, kenapa harus kesono-sono.

10/4/12

Merasa Berjasa

Pernah menyimak dan menelaah bagaimana pejabat-pejabat berpidato? Yah, coba saja sekali-sekali menyimak. Teks pidatonya mungkin panjang, tapi intinya, benang merahnya biasanya satu : merasa berjasa. Ya, tidak semua pejabat si seperti itu, oknumlah. *oknum tapi banyak

Saya sudah mencanangkan program ini, saya sudah membuat itu, saya sudah menginstruksikan anu, saya sudah bercapek-capek ono. Dan seterusnya. Hasyah, sebuah mentalitas yang membuat pencapaian tidak substansial. Iya, kelihatannya ada progres, iya kelihatannya sudah begitu heroik berpikir, bertindak, berkorban dan berjuang, tapi apa... nol!

Jangan-jangan kita juga begitu. "saya sudah membuat ini loh", "saya sudah mengerjakan itu loh", "saya sudah capek ngurusi anu loh", "itu yang menyelesaikan ono saya loh". Terus, gue harus bilang wow? sementara tidak ada substansial pencapaian yang didapat. 

Cuma merasa sudah punya pencapaian saja!

10/3/12

Pesan di Sebuah Sate Ponorogo

Mas Rama & Mba Ria menyampaikan sebuah pesan mendalam dalam kemasan yang begitu enteng & renyah. Tentang mimpi. Di sebuah kedai sate ponorogo, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Kalau kamu hidup di sekeliling orang yang tidak punya mimpi kemana-mana, ya siap2 aja kamu enggak akan kemana-mana. Beda kalau kamu hidup di lingkungan anak2 yang mimpinya selulus SMA kuliah di Amerika. Effort mereka tentang ujian ini dan itu ada, belajar ini dan itu ada, setidaknya bukan effort, minimal orientasi kesitu mereka punya.

Mimpi menentukan orientasi kita. Kalau mimpimu cuma pengen 'jejeg' pendapatan. Ya itu yang didapat. Kalau mimpimu pengen setiap hari kepusingan mendirikan pesantren disana-sini, ya sekalipun tidak tercapai, setidaknya orientasimu lebih luas.

Tidak bisa persis aku tuliskan pesan mereka berdua (Mba RIa dan Mas Rama) di blog ini, tapi ya intinya hampir sama dengan 2 paragraf di atas. Ya, dengan mimpi, kita tidak bingung dengan tujuan kita.

Zaky, Indra dan Nanky menanggapi dengan tidak kalah garing dan renyah. Kata mereka, ya, kita harus punya mimpi, agar ketika ditanya sopir taksi kemana tujuan kita, kita tidak bingung.

Misalnya ditanya ketika hendak naik taksi oleh sopirnya, "nak, mau kemana?" jawab : "saya mau kuliah S2 di Amerika".


10/1/12

Benefit Akses bagi Franchisee Alfamart

Logo Blog Review AlfamartFranchise (waralaba) bukan sekedar replikasi. Banyak orang terlalu dini memberanikan diri menjadi franchisor (pewaralaba), menawarkan usahanya untuk dimiliki orang lain hanya sekedar direplikasi. Itulah mengapa saat ini begitu banyak tawaran bisnis franchise, seringkali saya mendapatkan tawaran untukm membeli franchise, diantaranya berupa bisnis produk makanan dan minuman. Bisnis yang dijual tersebut diantaranya berbentuk booth/gerobak yang oleh Rhenald Khasali disindir dengan istilah 'grobakchise', bukan franchise, karena memang yang dijual gerobaknya. Beberapa dari mereka berkembang pesat dengan cepat, tetapi juga gulung tikar satu persatu dengan cepat pula.

Yang saya fahami franchise bukan hanya sebatas replikasi, karena jika begitu maka yang terjadi hanyalah jualan gerobak dan jualan resep. Sementara untuk menjadikan sebuah bisnis feasibel dan sustainabel, bukan hanya dibutuhkan dua hal itu. Sebuah bisnis dikatakan layak dan mampu berkelanjutan bila didukung oleh berbagai macam faktor, diantaranya : akses bahan baku yang berdaya saing, akses pasar, kemampuan manajerial, kekuatan brand/merk, cadangan operasional yang memadai, kemampuan mengatasi kondisi-kondisi yang tidak terprediksi, dan lain sebagainya.

Alfamart sebagai salah satu bentuk usaha franchise di Indonesia memberikan teladan yang baik mengenai hal ini. Franchisee (terwaralaba) bukan sekedar diminta membeli gerai dan resep dari franchisor. Melainkan franchisee mendapat beraneka rupa akses, sebegai benefit atas komitmennya mengambil franchise mini market ini.

Benefit akses yang diberikan franchisor Alfamart yang bisa dinikmati oleh mitra-mitra franchiseenya diantaranya :

1. Akses supply produk, dimana franchisee mendapat produk dengan harga yang kompetitif, ketimbang harga 'kulakan' minimarket lain. Selain itu, franchisee Alfamart juga mendapatkan kemudahan, karena tidak perlu berbelanja kesana-kemari untuk melengkapi display produknya. Alfamart memiliki sistem distribusi supply produk yang baik

2. Akses pemasaran. Inti dari membeli sebuah franchise adalah membeli brand, kalau kita sudah membeli brand tetapi masih harus membangun brand dari awal, sama saja franchise itu omong kosong. Alfamart terlebih dahulu sudah membangun brand yang besar dan baik, namanya sudah familier, warna logonya sudah menjadi identitas khas, dan tagline "belanja puas, harga pas" sudah akrab di telinga, maka franchisee sudah tidak perlu repot lagi membangun brand.

3. Akses promo produk. Kerap kita menjumpai adanya beraneka ragam jenis diskon di rak display Alfamart. Kalau kita membuat minimarket sendiri, tentu akan luar biasa sulit melakukan negosiasi dengan distributor atau pabrik dari suatu produk untuk memberikan diskonnya, tetapi Alfamart memiliki negotiation power untuk mendapatkan diskon dari para suppliernya.

Sebuah Media Promo di Alfamart Jl. MT Haryono Purwokerto.
Foto oleh : Rizky Dwi Rahmawan
4. Akses design promosi. Seringkali kita menjumpai spanduk atau poster promosi produk/toko tertentu dijalanan dengan desain yang kurang digarap serius, sehingga bukannya membuat laris, tetapi malah hanya membuang anggaran promosi, mengapa? Karena desainnya norak, sehingga tidak membuat orang tertarik. Alfamart memiliki tim designer profesional yang disiapkan untuk melayani seluruh mitra franchiseenya berpromosi, sehingga materi promosipun dapat dibuat menarik dan tepat sasaran.

5. Akses perpajakan. Pajak menjadi rumit apabila kita urus sendiri, sehingga tidak heran bila ada diantara pemilik toko individu yang enggan membayar pajak. Ini membuat pembukuan toko menjadi tidak tertib. Alfamart telah menerapkan pengelolaan keuangan yang tersistem dengan baik, termasuk pajak yang wajib dibayarkan untuk setiap produk yang terjual. Ini memudahkan franchise tentunya.

hal-hal di atas adalah benefit yang layak diterima oleh franchisee yang sudah berkomitmen untuk membeli sebuah franchise. Karena lazimnya sebuah kerjasama kemitraan antara franchisee dan franchisor adalah bukan semata jual beli bisnis belaka, tetapi adanya kolaborasi yang saling menguntungkan satu sama lain.

Franchisee ikut berkomitmen menjaga brand, dan franchisor memberi dukungan untuk memudahkan franchisee mengoperasikan usahanya. Ada kerjasama saling menguntungkan di dalamnya.

Fenomena Superblock


Di kota besar seperti Jakarta, saat ini sedang ramai pembangunan Superblock. Sebuah bangunan bertingkat yang difungsikan menjadi sebuah kompleks yang lengkap, ada mall, ada apartemen tempat tinggal, ada rumah sakit, ada  sekolah, dll. Superblock ramai diminati pembeli karena praktis si, tidak perlu kemana-mana menembus kemacetan kota macam Jakarta.

Tapi, tanpa sadar mereka sedang memenjarakan diri mereka sendiri. Terpenjara dalam penjara kenyamanan dan kepraktisan. Lah iya, hidup disitu-situ aja. Kontras dengan suasana didesa dimana anak-anak bisa 'playon' ke sana kemari hingga ke kali tak perlu pengawasan ketat orang tua. Orang tua juga bisa 'mejeng' kondangan ke dusun sebelah, juguran di pos ronda mana saja yang disuka.

Ah biarkanlah, memang begitu dinamika kehidupan. Tapi yang menarik dari fenomena superblock ini adalah kejadian yang sama terjadi pada orang pacaran. Menurutku sebagai orang yang tidak punya pacar, pacaran adalan fenomena memenjara diri padahal siapa juga yang suruh memenjara. Alasannya si keren, ingin saling mengenal, ingin belajar membangun pola komunikasi, atau apalah. Tapi sadarkah dibalik semua itu dia menutup diri dari keleluasaan membiarkan hati nya menjelajah ke sana kemari sampai ke kali, dan merasa nyaman, merasa praktis hanya dengan satu orang pacarnya itu.

Ingat loh, baik dan buruk itu subyektif. Kalau seseorang yang bukan siapa-siapa kita, eh kok kita taruhi cinta, ya pantas saja semuanya jadi indah, jadi baik semua yang ada di diri orang itu. Karena sebaliknya, kalau seseorang kok kita taruhi benci, ya jadinya buruk terus perilaku orang itu.

Daripada mengurung diri dalam superblock yang kita bangun sendiri, ya mending...

Go Primitif!


Kampanye orang modern kan go primitif. Bike to work! ya ampun, di desa itu kemana-mana ngepit mas. Terus ada lagi earth hour! haha, orang primitif mana pakai listrik. Terus ada lagi diet kantong plastik, orang jaman dulu memang kalau belanja tidak perlu kantong plastik, dari rumah dia bawa tenggok, tas belanjaan dan botol minyak goreng sendiri.

Terus di resto-resto di Barat katanya budayanya sekarang adalah mengantarkan sendiri piring ke belakang setelah selesai makan. Hahah, ya memang begitu to kebiasaan nenek moyang kita? Siap-siap saja nanti kalau sudah kedengeran sama orang kita, mereka akan segera meniru budaya Barat ngundur-ngundurin piring mereka sendiri.

Atas Nama Agama, Kok Berat?


Kalau kamu nggak punya uang, terus ngirit, pagi sarapan, siang enggak makan, malam baru makan. Eh, kuat. Tidak makan seharian bisa, tapi kok puasa senen kamis, berat. Kenapa? Itu adalah karena yang berat dari sebuah laku ibadah bukan kegiatan fisiknya, tapi keikhlasannya.

Apalagi di zaman seperti sekarang, dimana agama sudah dimonopoli dan dimobilisasi sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu yang justru oknum itu kita daulat sebagai agamawan. Sebutlah seorang preman bertato yang sudah insaf tapi belum bisa menghapus tatonya, apakah masjid menjadi teman yang nyaman buat dia? Ataukah justru di masjid dimana orang-orang berjubah dan berwajah serius itu menjadi ancaman bagi dia?

Begitu juga orang-orang yang baru belajar tentang kebersihan, ketika dirumahnya tidak punya kamar mandi yang representatif, hendak mandi di masjid dilanjut sholat dhuha sebelum mulai aktivitas harus berhadapan dengan pertahanan sang Takmir : Dilarang Mandi di Sini.

Busyet dah!! apa takmir itu nggak tahu, saya infak di masjid itu untuk membiayai ledeng bulanan, biar bisa dipakai oleh kemaslahatan banyak orang, baik yang baju kokonya wangi mukanya serius, ataupun tukang becak yang mau numpang mandi yang belum ngerti wiridan yang baru belajar tentang kebersihan sebagian dari iman.

Rasa berhak kita atas agama sudah dirampas oleh dua : Pertama, oleh orang-orang yang sok menjadi agamawan itu. Kedua, oleh perasaan berdosa kita sendiri. Iya to, kalau kita sedang merasa berdosa, rasanya ibadah itu beraat...

Oleh karena itu, kalau memang ibadah berat, ya dilatihlah. Caranya latihan bukan membiasakan aktivitas fisiknya belaka, tapi mengadaptasikan hati kita perlahan.. Misalnya berlatih puasa. Bukan cuma latihan tidak makan tidak minum saja, itu keciiil... tapi latihan begini misalnya. Pertama, tidak makan sebelum shubuh sampai adzan maghrib dalam rangka ngirit.

Oke itu sudah berlalu beberapa saat, tingkatkan : tahan diri tidak makan dari sebelum terbit fajar sampai terbenam matahari  dalam rangka tirakat. Tirakat adalah ajaran nenek moyang yang t.o.p.b.g.t dimana kita melibatkan hati dengan begitu intensif, tanpa membawa-bawa label agama.

Lalu yang ketiga, naikkan lagi grade-nya. Niatkan untuk tidak makan dan tidak minum seharian dalam rangka : bersyukur.

Nah, tanpa terasa sudah meningkat. Ibadah bisa dilakukan tanpa atas nama agama, tanpa label agama, kan? Begitulah, dialektika kita dengan Tuhan itu runyam karena kita terlalu melembagakan agama, sedikit2 membawa label agama. Hanya labelnya saja, bukan substansinya.

Selamat berlatih.