12/29/12

tiga jenis presiden

SETELAH era Presiden Soeharto, menurut humor politik, kita punya tiga jenis presiden. Misalnya Prof Habibie. Orangnya hebat, langkah-langkahnya jitu. Dia bebaskan pers. Dia hapus istilah pri-nonpri. Dia bikin demokrasi lebih baik. Dia restrukturisasi utang konglomerat agar ekonomi segera jalan. Dia bikin nilai satu dolar AS dari Rp 15.000 menjadi tinggal Rp 6.500. Dia merdekakan Timtim sehingga presiden berikutnya tidak perlu lagi terbebani soal Timtim. Dan banyak lagi. Namun, Habibie disebut sebagai orang hebat yang memerintah di waktu yang salah. Saat itu euforia reformasi lagi berada di puncaknya. Apa pun yang dia bikin akan disalahkan. Maka, secara guyon, Habibie disebut juga sebagai right man in the wrong time.

Lalu, kita punya Presiden Megawati. Banyak yang menilai orangnya tidak hebat. Bukan administrator dan bukan pula profesor. Tapi, Mega memerintah pada waktu yang sudah tepat. Orang sudah lelah dengan reformasi sehingga menjual BUMN pun sudah tidak terlalu banyak didemo. Mengampuni konglomerat hitam pun tidak sampai menggoyahkan kedudukannya. Timing (ketepatan waktu) memang sering menentukan dan tidak bisa diulang. Secara guyon, lantas Megawati disebut wrong woman in the right time.

Kita juga punya satu jenis presiden lagi: Gus Dur. Ia adalah presiden yang membuat istana kepresidenan tidak angker dan berani melakukan demiliterisasi. Keberaniannya memecat Menko Polkam Jenderal Wiranto termasuk dipuji banyak pihak. Namun, kekurangan fisiknya (beliau tidak bisa melihat), ditambah kebiasaan njaili lawan-lawan politiknya, masih ditambah pula situasi euforia reformasi yang belum sepenuhnya reda, membuat Gus Dur sering disebut dalam guyon itu sebagai wrong man in the wrong time.

Sumber dari : sini

ability dan respon of ability

"Kenapa kita tidak bersedia merasa sebagai anak yang sedang belajar, sehingga ketidakmampuan itu wajar dan tak perlu ditutup-tutupi " Emha.

Ada ability ada respons of ability atau kita kenal dengan responsibility alias tanggung jawab. kalau ada rumah kebakaran, lalu yang bisa dilakukan olehmu cuma menyiram dengan air pakai ember. maka itu abilitymu. tapi kalau ada turun hujan dan ada jemuran tetangga belum diselamatkan dan engkau diam saja, maka dipertanyakan responsibilitymu.

orang tidak punya ability seringkali tidak pernah bisa disalahkan, tapi orang yang punya ability tapi tidak menggunakan responnya, itu yang sering jadi masalah.

enggak seru banget, kan?

kalau ada yang bilang tempatku ini kandang kambing, maka aku bisa memastikan bahwa aku bukan bagian dari kambing-kambing itu. aku adalah aku.

kalau saat ini aku hidup di lingkungan coro, maka aku juga bukan coro. aku adalah aku.

aku sama sekali tidak mendambakan keriuhan bersama orang-orang yang hanya maunya seneng tok, maunya kepenak tok, maunya gampang tok. Jangankan sama orang yang maunya enak tok. Bahkan sama yang mau susah tapi cuma temporer, jangka pendek, self life nya sebentar, gampang kedaluarsa, gampang memble, juga enggak mau aku.

Terbayang begini, nanti aku sukses funtastis, muktakir fenomenal, terus ditanyai oleh seorang host : bagaimana perjalanan sukses anda? lalu aku menjawab : ya perjalananku bagus, dulu membuka ini sukses, mengembangkan ini berhasil, menjalankan ini mulus, ya begitu itu sampai sekarang.

Enggak seru banget kan cerita seperti itu?

lubang biawak

tahun baru masehi sebentar lagi, bukan cuma muda mudi yang rempong mempersiapkan pesta ini dan itu. para pendakwah juga ikut-ikutan rempong, berceramah disana sini. Bahwa kita tidak boleh ikut-ikutan merayakan tahun baru karena alasan A, B, C sampai... Z.

Bahwa memang betul, kita tidak boleh ikut-ikutan life style kaum selain kita, karena kalau kita terbiasa ikut-ikutan maka bahkan masuk ke lubang biawakpun kita akan ikuti saja mereka.

Tapi tahun baru hanyalah hal sepele, dibandingkan persoalan substansi umat. coba lihat, odol dan shampo kita, ikut kaum siapa? coba lihat sistem keuangan rumah tangga kita, ikut kaumsiapa? coba lihat sistem pendidikan kita, ikut kaum siapa? dan kita ikuuut saja, sambil terus mencerca orang-orang yang ikut menyalakan tahun baru.

kita mewanti-wanti orang agar jangan begitu saja ikut-ikutan agar kita tidak terperosok ke lubang biawak, eh tanpa sadar ternyata kitanya sendiri sudah ada di dalam lubang biawak.


jarak satu detik

"Jarak kita dengan maut di jalan hanya 1 detik"

Kalimat di atas bukan kalimat sastra atau puisi. tapi fakta, realita. Betapa jalanan dengan ribuan lubang-lubang aspalnya adalah pintu gerbang maut yang mengerikan. Belum ditambah jumlah kendaraan bermotor yang sudah tidak terbendung, sangat ramai sekali bila dibanding 10 tahun yang lalu.

Ya wajar saja, untuk kota sekelas Purwokerto saja, penjualan avanza untuk tahun ini sudah 750 unit. belum mobil tipe lain, belum showroom merk lain, belum sepeda motor. hedeeew.

Ditambah lagi pekerjaan pejabat SIM kita yang sekarang entah seperti apa modelnya. sehingga pesepeda motor kok berkendara seperti di hutan rimba, tarik gas, rem mendadak, nyelonong di pertigaan, zigzag di jalan ramai.

maka ikhtiar kita sebagai orang yang waras dan menyadari fenomena semrawutnya jalan raya ini hanyalah : berkendara dengan hati, bukan dengan emosi. tidak harus alon, tapi tidak usah kemrungsung. jaga kecepatan, jaga lajur, hormati pengguna jalan lain. sembari sering-sering berdoa, semoga kita termasuk orang yang dijauhkan dari celaka di jalanan.

mudah2an kita selalu selamat selama berperjalanan dimanapun dan kemanapun.

lagi ada masalah ni yee?

Salah satu nikmat yang selama ini mungkin lupa kita syukuri adalah nikmat dipandang sebagai orang yang beriman. Loh, jangan salah, ini nikmat loh, karena tidak semua orang memperolehnya.

Karena orang memandang kita sebagai orang yang beriman, maka kita pakai baju koko ya nyaman-nyaman saja, pecian oke, ke masjid ayo.

Coba mereka orang-orang yang dianggap sebagai begundal, yang jarang atau bahkan tidak pernah sholat. Seperti kita tahu bersama, bahwa sekarang agama telah dimonopoli oleh orang-orang alim. Pengajian hanya milik mereka yang sudah sering datang ke masjid.

Maka, dosa sosial tanggungan siapa ketika seorang begundal ternyata tidak sholat ke masjid, bukan karena dirinya enggan, tapi dirinya sungkan oleh tatapan mata sosial yang dengan nyinyir berkata "ih, tumben amat, preman ke masjid. lagi ada masalah ni yee?..." sambil meneriaki "lagi ada masalah ya?woi, emang Tuhan lembaga sosial yang kalau kamu datangi masalah selesai?"

Kita orang-orang yang rajin sholat, rajin ke masjid, seringkali tidak punya ruang untuk memberikan kesempatan mereka-mereka untuk ringan langkahnya ke masjid. disadari atau tidak

12/27/12

Masa sih nyerah?


Sumpah bukan Sumpah


Awal tahun 2012 lalu, tepatnya di bulan Februari, aku ikut sebuah perhelatan pemuda tingkat nasional di Gedung Merdeka & Gedung Indonesia Menggugat di Bandung. Menarik acara itu, hanya justru di acara inti malah terjadi kelucuan.

Kelucuan ada di sesi pembacaan Sumpah Pemuda jilid II. Lucunya kenapa? Karena disitu isinya adalah text "kami putra dan putri Indonesia bersumpah, bla22..." begitu pula baris kedua, dan ketiga. Padahal, coba si liat text Sumpah Pemuda yang asli tahun 1928 dulu, apakah ada kata-kata sumpahnya?

Tidak ada kata-kata sumpah sama sekali. Hanya kata, "mengaku", "mengaku" dan "menjunjung".

Kejadian serupa ini aku temui lagi untuk kasus berbeda di majalah-majalah yang memakai nama-nama Islam.   Ceritanya majalah itu mengangkat tentang tradisi Grebek Sura di sebuah kota di pesisir utara Jawa Tengah. Betapa pandainya sang jurnalis mengatakan, bahwa orang-orang yang mengikuti tradisi itu adalah pelaku kurafat, karena ada jimat yang dicuci disitu dan ada ritual upacara yang dilakukan disitu.

Pertanyaannya, darimana si jurnalis mendapatkan informasi bahwa peserta grebek itu sedang melakukan kurafat? Pandai sekali si jurnalis membaca hati para peserta? Kalaupun ada yang berniat syirik, berapa persen dari seluruh peserta yang hadir? Berapa jumlah dari peserta grebek yang ikut acara itu dengan niat meramaikan kampung sepertihalnya lomba panjat pinang 17an? Atau sekedar niat dalam rangka melestarikan nasab leluhurunya.

Kita sebagai pembaca ya manut saja dengan penjelasan si pembuat majalah. Padahal tulisan yang dibuat hanya berdasar prasangka, tidak melalui ditanyain satu-satu sampai ketemu prosentasi berapa dari peserta grebek yang memang niatnya syirik.

Kasus keblinger seperti ini terjadi pula pada orang-orang yang anti pada ramalan Jayabaya. Loh, memang Jayabaya itu tukang ramal apa? Jayabaya hanyalah seorang raja besar dimasa lalu, sang raja senang membuat karya sastra, karya sastra yang ia buat berdasar ilmu titen, menelaah kondisi disekeliling dan pola sejarah yang terjadi di masa itu.

Karena karya sastranya kok mathuk dengan perjalanan di masa depan, maka enak saja disebut itu sebagai ramalan Jayabaya. Dan orang yang mempelajari karya sastra itu disebut pelaku kurafat.

"Maka, mengapakah kamu tidak berpikir?"

Pernikahan-Pernikahan 2012

Andika menikah di Kediri, 9 Juni
Ambar menikah di Bobosan, 22 Juli
Arif menikah di Ajibarang, 7 September
Felly menikah di Jakarta, 27 Oktober
Retno menikah di Kebumen, 9 November
Fikry-Iswa menikah di Sokaraja, 16 November
Hanie menikah di Kemranjen, 8 Desember

Tahun ini belum dapat giliran. mudah-mudahan tahun depan dapat. dengan entah berapa pasang lagi yang akan mengakhiri masa lajangnya di 2013. Sampai blog ini diposting si baru dengar ada 3 calon pasangan yang akan melangsungkan pernikahan di tahun depan.

12/25/12

inilah sari berita

Berita pertama : SBY menengok cucu keduanya, suka cita menyelimuti keluarga presiden

Berita kedua : Seorang ibu dikediri mencampurkan racun tikus di susu kedua balitanya, beruntung suaminya yang pedagang asongan tidak lama memergoki ketiganya pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit

Berita ketiga : PT KAI sedang berjuang mati-matian menertibkan pedangan asongan di 50 titik stasiun

Berita keempat : Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat menjadi 1 dari 6 kementerian dengan rangking terburuk, yang penyerapan anggarannya paling jauh dari target.

Berita kelima : SBY untuk kedua kalinya menengok cucu keduanya lagi, bu ani datang terlebih dahulu jam 10 dan presiden menyusul jam 13. ia bersuka cita atas itu, walau ada rakyatnya yang terkapar di RS karena racun tikus akibat suaminya yang pedagang asongan tidak bisa memberikan jaminan ekonomi, terlebih pedagang asongan mulai diusiri dengan alasan penertiban oleh PT KAI, dan Menko Kesra kerjaannya nggak beres.

Berita keenam : enggak tahu. TV udah dimatiin tadi.

12/21/12

gooood


hm, BBMan, facebookan, smsan, pageran, kentongan, atau apapun itu.. hiduplah lebih nyata...

12/20/12

pesan besar

 “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS 55:19-20)



Dengan menyebut bahwa di tempat tersebut dua laut bertemu dan di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing, maka bisa jadi juga tempat tersebut adalah suatu tempat yang bisa kita lihat dengan begitu jelas seperti pada gambar di samping yaitu Indonesia.

Tempat bertemunya dua lautan tersebut yaitu Lautan Hindia dan Lautan Pacific, sungguh suatu tempat yang sangat kaya raya. Kekayaan laut kita ini dijelaskan lebih detil di ayat berikut : “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS 16 :14)

Indonesia yang memiliki luas daratan 1.92 km2, memiliki luas lautan 3.26 km2 atau 1.7 kali luas daratannya. Bila sesuai ayat tersebut di atas bahwa laut adalah sumber pangan, perhiasan, energy, konstruksi, perdagangan – maka sungguh masih sangat besar potensi yang belum digarap itu.

Laut kita yang di peta tersebut di atas diapit oleh dua lautan besar membuat laut kita sangat kaya dengan biodiversity – ke aneka ragaman hayati. Yang disebut lahmdalam ayat tersebut umumnya diterjemahkan sebagai daging yang segar (ikan), namun bisa juga berbagai hasil laut yang menjadi sumber pangan yang tiada batas.

artikel lengkap dari : sini.

12/15/12

Kalau merasa belum sukses

Ingat : "Kesuksesan bukanlah milik mereka yang mempunyai sumber daya. Kesuksesan adalah milik mereka yang mau mengambil peluang"

jadi, kalau masih merasa belum sukses, jangan berpikir karena kita kekurangan sumber daya. lebih besar kemungkinan karena kita kurang mengambil peluang.

yang ada dibenakku ketika peluang menghampiri, peluang apapun itu, ya begitu itu : sepanjang memungkinkan untuk ditandangi, ya ditandangi. Karena kita tak pernah tau efek bola salju apa setelah peluang itu diambil. Tidak selalu loh kita mengerjakan A, lalu kita mendapatkannya hanya A, seringnya dapatnya bukan cuma A, tapi ABC misal, atau Energizer. 

Dan lagi aku terpikirnya, jangan-jangan peluang itu titipan berkah dari Tuhan. gara-gara sehari 17 kali aku bilang "ihdina sirotolmustaqim". Who knows kalau itu "jalan" yang diberikan-Nya ya...

12/13/12

Gula Kristal Kemasan Stick


Prosesnya panjang saudara-saudara, untuk mendapatkan kemasan seeksklusif ini.

12/12/12

Hadiah di 12 12 12

Enam tahun SDI, dapat ucapan2 selamat hari jadi + hadiah istimewa, kemasan stick untuk unit bisnis gula kristal yang datang naik travel sore kemarin, kini sudah sampai...
satu cakram

Melanjutkan Rekaman

"Dengan menolong diri sendiri, kita bisa menolong orang lain dengan lebih sempurna.", RA Kartini.

Kredo di atas mengingatkan kita untuk tidak berpikir pragmatis dan parsial, antara urusan ekonomi (menolong diri sendiri) dan urusan sosial (menolong orang lain). Sering bukan, kita merasa kalau urusan mencari nafkah, adalah persoalan bukan mulia, sedangkan kegiatan bakti sosial, kegiatan amal, adalah kegiatan yang mulia.

Hati-hati loh, bisa2 bukannya sosial impact yang didapat, tapi soksial impact malahan. Kapan soksial impact terjadi? ketika waktu produktif kita tersunat sedemikian banyak oleh kegiatan sosial-sosialan kita, yang itu bukannya seiring sejalan dengan menolong diri sendiri, tetapi malah melemahkan diri sendiri.

Bukannya hari demi hari terpakai dengan meningkatnya aset investatif yang memperkuat power kita, malahan terbebani oleh liabilitas yang tidak terarah. ya, masing-masing dari kitalah yang bisa "membaca" fenomena ini di diri kita masing-masing

Karena, dengan membiarkan diri kita lemah, berarti kita akan memiliki keterbatasan dalam menolong orang lain dengan sempurna, bukan?

Dirgahayu Semangat Donk ke-6. Terus melanjutkan milestone, semuanya akan terrekam indah nanti.

12/1/12

11/29/12

Desember : Lebih Cepat

Kalau November lebih pagi, maka Desember nambah : lebih cepat.

November ndilalahnya didukung oleh alam, dimana matahari memang bangun lebih pagi dari biasanya, makanya jam 05.00 saja sudah padang njingglang.

Desember ini kudu tekan gas lebih keras, jarang2 injak rem, jangan keseringan liat spion, ya senggal senggol marka sesekali nggak apalah, karena memang hanya dengan 'lebih cepat' lah revenue kita tidak akan terlalu banyak dimakan cost.

waktu adalah berharga. karena itu, "Lebih baik lebih cepat!"

11/28/12

Pasangan Dunia Akhirat

Di dunia kamu bareng dia, di akherat kamu bareng dia.

11/20/12

SME Packaging Center Plan

Fakta bahwa, produk usaha kecil menengah atau UKM, sering disebut pula dengan SME atau Small and Medium Entreprize kalah bersaing dengan produk-produk komersial milik korporasi nasional dan korporasi global.

Sebut saja kripik singkong, dengan citarasa yang tidak kalah enak, produk Small and Medium Entreprize kalah oplah penjualannya dengan produk kripik singkong komersial yang harganya berkali lipat lebih mahal.

Hal ini terjadi karena kemasan. Masyarakat bukan hanya membeli isi, tetapi membeli kemasan. Sedangkan Small and Medium Entreprize kurang memiliki sumber daya untuk membangun kemasannya.

Sebetulnya perhatian pemerintah terhadap Small and Medium Entreprize cukup besar. Namun, sayangnya masih terlalu berorientasi pada permodalan dan alat produksi. Padahal, mana ada Small and Medium Entreprize yang memiliki alokasi budget pemasaran yang cukup untuk memasang Billboard besar di pusat kota, misalnya.

Dan saya tidak bisa membayangkan, misalnya ada billboard 10 x 15 meter di pusat kota berisi gambar iklan kripik singkong dengan bungkus kemasan plasti disablon saja. Haha..

Saya menggagas SME Packaging Center bertujuan untuk masuk dalam fenomena ini. Agar bagaimana Small and Medium Entreprize bisa memiliki desain kemasan dan grafisnya yang mampu berdaya saing dengan produk-produk komersial di pasaran.

Produk mereka tidak lagi terkesan murahan, tetapi juga yang harus saya perhatikan adalah daya beli Small and Medium Entreprize terhadap jenis kemasan yang saya tawarkan. Kalau terlalu mewah dan mahal, mereka tidak mampu donk mengalokasikan budget untuk membuat kemasan tersebut. Terlebih, harga penjualan akan menjadi tinggi dan segmen konsumen akan menyempit.

Oleh karena itu banyak strategi yang saya rencanakan dalam SME Packaging Center ini, diantaranya pertama : merger produksi, dimana saya menghimpun sekian banyak Small and Medium Entreprize terlebih dahulu untuk mencetak kemasan bersama-sama.

Misalnya untuk cetak dengan mesin Rotto ada limit minimal 30 juta sekali cetak. Tapi di plat silinder cetaknya bisa muat enam desain kemasan yang berbeda. Nah, maka biaya bisa dibagi enam, masing-masing Small and Medium Entreprize cukup keluar uang lima juta rupiah.

Kedua : Berafiliasi dengan pemerintah, dan Business Development Services yang ada agar dana bantuan untuk Small and Medium Entreprize lebih besar dialokasikan untuk pemasaran, salah satunya untuk kemasan. Maka, Small and Medium Entreprize yang terpilih bisa mendapatkan bantuan kemasan gratis dari pemerintah.

Dan banyak lagi strategi-strategi lainnya yang akan ditempuh. Intinya competitive advantages bisnis ini nantinya akan ditumpukan pada dua hal : pertama, kekuatan desain. kedua, jejaring perusahaan distribusi yang akan kita tawarkan kepada klien-klien kita.

Sehingga klien-klien Small and Medium Entreprize akan mendapatkan kemasan yang mampu bersaing dipasaran dengan biaya produksi yang rendah, serta didukung sosialisasinya dengan murah pula melalui perusahaan distribusi-perusahaan distribusi yang menjadi mitra kita.

Memasuki tahun dua ribu belasan ini, saatnya Small and Medium Entreprize berjaya. Saat ini ada slogan "local is sexy". Ya, sumber daya lokal itu sangat potensial dikembangkan, sangat seksi untuk laris manis di pasaran.

Kalau sudah punya kemasan yang bagus, Small and Medium Entreprize memasang billboard di tengah kota juga percaya diri nantinya.


3 + 1 Kebohongan yang Mendunia

1. Teori Kelangkaan
Para saintist dan pebisnis dunia masa lalu berkonspirasi, menciptakan teori bahwa minyak akan habis. Bahwa tidak ada sumber daya alternatif selain minyak. Berkali-kali minyak diprediksi habis, walhasil sampai sekarang belum. Cadangan masih tersedia, energi alternatifpun mulai tercipta.

Teori ini bertujuan untuk menaikkan nilai komoditas minyak. Berhasil, sampai sekarang setiap negara berebut minyak, harganya seperti siluman, naik turun tidak jelas siapa pelaku penaik penurunnya.


2. Teori Spesialisasi
Bangsa Aria yang feodal ingin memproteksi kaum bangsawan dengan melakukan spesialisasi kepada kaum-biasa dan kaum bawah. Makanya diciptakanlah pengertian spesialisasi : tukang jahit, tukang kayu, pelaut, tukang batu, dll profesi.

Orang tersegmentasi, dan dirinya merasa rendah diri. Sampai sekarang, profesi dianggap lazim bahkan harus, adanya.

3. Teori Schooling
Sekolah pertama diciptakan saat Rusia War, dibuat untuk rekrutmen prajurit. Model sekolah diadopsi di zaman revolusi industri, digunakan untuk menyerap tenaga kerja. Teori sekolah berjalan sampai sekarang, yang enggak sekolah merasa rendah diri.

Seolah-olah, hidup enggak sekolah adalah kemalangan besar.

1. Teori Global Warming
Pemanasan global itu tidak ada. Cuma diada2kan oleh pebisnis yang berkecimpung di alat-alat/komoditas yang berhubungan dengan komoditas yang berkaitan dengan ramah lingkungan, green, dll. Termasuk untuk melancarkan para LSM hijau beraksi.

Benar tidaknya 3+1 kebohongan itu, silahkan ditelusuri sendiri. Ini postingan cuma titik berangkat, bukan penghakiman akhir.


Niat demi Niat

"Perbuatan itu dengan niat. Setiap orang beroleh apa yang ia niatkan. Maka, siapa yang hijrahnya menuju Allah Swt dan RasulNya, maka berarti hijrahnyapun kepada Allah Swt dan RasulNya; dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan ia peroleh atau karena perempuan yang akan ia nikahi, maka berarti hijrahnya hanya akan sampai pada apa yang ia hijrahi." 
Shahih al-Bukhari, Bab Kaifiyyah Bad'i al-Wahy, Vol.II, hal.002

Kalau hijrah itu berpindah dari tempat lama ke tempat baru, kalau hijrah bisa diartikan juga berpindah dari hidup lama ke hidup baru. Maka ketika seseorang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, berarti ia sedang berhijrah.

Kalau nikahnya karena Allah Swt dan RasulNya, maka tidak ada alasan untuk mencuri start. Kalau nikahnya karena (ingin pengakuan) dunia, mendapatkan legitimasi sosial, maka yang didapat lebih banyak gelamor eksternal ketimbang kekokohan rumah tangga internal. Kalau sekarang begitu nikmat diketiaki pasangan, didominasii pasangan, dijajah pasangan, disetir pasangan, ditelusuri lagi, jangan-jangan dulu niat menikahnya lebih karena ngebet ke premepuan yang akan engkau nikahi saja.

Banyak fenomena disekelilingku, yang jadi pelajaran praktikal buatku tentang niat demi niat. Niat itu terlihat pada tindakan, terbaca pada perilaku. Cuma manggut-manggut dan geleng-geleng saja menyaksikannya. Dan merefleksikannya ke diriku sendiri.

Rumus Diputus Pacar

JK Rowling, penulis Harry Potter atau Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi. Novel-novel yang fenomenal itu, konon kabarnya tidak memiliki latar belakang kepenulisan fiksi. Tapi kok bisa boom ya karyanya?

Aku ketemu jawabannya minggu lalu dari CoachYusa. Ia menerangkan bahwa di dalam kehidupan kita ada dimensi-dimensi. Dan persoalan di satu dimensi tidak bisa diselesaikan di dimensi yang sama, harus di dimensi atasnya. Hal di satu dimensi hanya bisa benar-benar ditaklukan melalui dimensi diatasnya.

Dimensi itu adalah physic ada di paling bawah, emotion ada di nomor dua, mind ada di nomor tiga dan soul ada di paling atas. Yang Coach sampaikan sebagai contoh kemarin adalah misalnya kita sakit di badan kita. itu tidak selesai dengan dipijat atau minum obat sebetulnya, karena itu hanya stimulan, tapi sakit itu selesai kita kita bisa mengubah persepsi emosi kita atas sakit itu.

Ini seperti kasus GusDur yang waktu itu klicir berdarah-darah jarinya karena terjepit pintu. Dan dia hanya memprogram emosinya (sekarang dikenal dengan istilah self-hipnosis) dan akhirnya ia tidak merasakan itu sebagai sakit. obat dan pijat ada di dimensi yang sama dengan sakit badan, yakni physyc. Sedangkan self-hypnosis ada di dimensi emotion, dimensi diatasnya.

Samahalnya, rumus orang diputus pacar itu bukan mencari pacar baru. Rumus orang ditinggal nikah itu, bukan merem mencari kambing dibedakin terus dinikahin. Karena sakitnya diputus dan ditinggal nikah itu ada di dimensi emosi, ya kita main-mainnya jangan di dimensi yang sama, mainlah di dimensi atasnya, di mind. Caranya, merenunglah, menyendirilah, untuk me-reprogram tentang arti berpacaran, tentang arti pernikahan, jadi, kita bisa kebal dari rasa sakit itu, lalu bisa berfikir dengan sehat dan menjalani hidup dengan  bebas dari pengaruh negatif perasaan memilukan itu.

Lalu hubungannya dengan Joko Rowling dan Andrea Hirata apa? Kata mentor Rama kalau mau jadi sineas profesional, haruslah menonton film sebanyak mungkin. Kata mentor Ike, kemarin juga bilang begitu. Kata Ahmad Tohari, kalau mau jadi novelis, harus lahap semua novel. Loh, tapi Mas Joko dan Mas Andrea tidak melakukan itu, malah melebihi pencapaian2 novelis lain? Kok bisa?

Ya, karena rumus dari mentor itu berlaku pada konteks tertentu dan tidak berlaku pada konteks lainnya. Kalau kita hanya ingin menyamai atau menang-menang dikit dengan sineas atau novelis yang sudah ada, ya syaratnya adalah mempelajari semua karya yang pernah ada.

Tapi kalau kita ingin mencapai pencapaian ultimate, ya bisa jadi semua itu malah akan memenjara proses kreatif kita. Karena proses kreatif itu tanpa batas. Kalau mempelajari teknik perfilman dan kepenulisan itu ada di dimensi mind, maka proses kreatif itu ada dimensi atasnya lagi : soul.

Mind tidak bisa diselesaikan di mind juga. Harus di dimensi atasnya : soul.




Kagum Membabi Buta (Ijo)

Kalau orang menang kompetisi, itu nggak harus dikagumi. Kalau orang kalah kompetisi, nggak pula harus berkecil hati. Kemarin, nonton-nonton profil pemenang sebuah kompetisi, ya ternyata seperti itu profilnya. Seperti itu gimana? menghina ya kamu? haha...

Ya bukan begitu. Artinya begini, ketika mendapatkan sebuah profil pemenang, tidak serta merta kita harus manggut-manggut kagum membabi buta (ijo) dan impactnya merendahkan diri sendiri... tapi daya analitis kita bisa kok tetep dijalankan. Jangan demi menghindari sikap iri dan sikap menghina, kita memilih untuk tidak analitis.

Karena dari cara berpikir analitis, biasanya kita akan dapat pelajaran-pelajaran baru. Misalnya tentang, bagaimana kejelasan konsep sosialnya? Bagaimana produk yang mereka suguhkan benar-benar mempertahankan nilai keekonomisan sebuah proses produksi? Bagaimana penggunaan kreativitas desain dalam penyuguhan ide. Dan lain sebagainya, bisa untuk masukan kita kedepan loh itu.

Terus lagi, di Indonesia ini kan kalau kita lihat, kebanyakan kompetisi anak muda itu bagaimana si? Modelnya mendaftar atau penelusuran? Hampir tidak ada atau jarang sekali yang model penelusuran. Kebanyakan adalah mendaftar. Jadi, bisa diterka-terka kan, bagaimana tipikal pemenangnya. Karena orang mendaftar pasti punya motivasi, punya niatan. Entah niat untuk populer, niat untuk mendapatkan hadiah, niat untuk bernetworking atau lainnya.

11/19/12

Hobi Merepotkan Tuhan

Misalnya, Tuhan sudah mentakdirkan aku akan dapat proyek dengan omzet 300 juta hari ini. Tapi, karena aku malas memfollow up 10 customer yang sudah aku list tadi malam. Ya batal lah takdir itu. 

Lalu Tuhanpun merevisi takdirnya, omzet itu jadinya aku dapatkan besok. Karena baru besok aku menghendaki diriku untuk tidak malas. Nah, takdir 300 juta itu geser sehari. 

Lalu, karena hari besok kegeseran takdir yang seharusnya terjadi hari ini. Maka, otomatis donk, takdir besok tergeser juga jadi besoknya lagi? Geseeeeer semua jadinya kan.... ouh, betapa Tuhan sudah direpotkan atas tindakan kita malas di sebuah hari, karena takdir di hari esok dan seterusnya jadi geser.

Nah, karena takdirku besok berhubungan dengan orang lain, dengan orang yang mungkin mendapat rejeki lewat aku, orang yang membutuhkan pertolonganku, orang yang mengharapkan kedatanganku dan seterusnya. Maka karena takdirku geser, maka takdir orang-orang yang bersangkutpautan dengan kita di hari besok juga geser juga kan? lalu takdir orang-orang itu lusa, besok lusa, besok besok lusa, bulan depan, tahun depan, geser juga kan?... terbayang betapa repotnya Tuhan karena ulah kita malas memfollow yp list customer itu.

Lalu orang yang takdirnya geser karena batal ketemuan dengan kita besok misalnya, dia juga bersangkutan dengan orang lainnya lagi yang harus ketemuan di hari yang sama dengan orang lain lagi itu. Maka orang lain lagi itu tergeser pula takdirnya, orang lain lagi itu bersangkutan dengan orang lainnya lagi, orang lain lagi yang bersangkutan dengan orang lain yang bersangkutan dengan orang yang harusnya ketemuan dengan kita itu juga punya besok, lusanya sendiri. Hedew, makin rumit, pelik, njelimetnya takdir yang harus diubah.

Sampai sejauh itukah kita berpikir, saat kita malas mengikuti bisikan hati dan memilih untuk bermalas-malasan meninggalkan sebuah peluang tindakan?

Maka, mengapakah kamu tidak berpikir?


Korupsi itu Masalah No. 2

Kalau negara sudah bebas dari korupsi. terus?... Indonesia jadi sejahtera begitu? *sambil koprol & bilang wow... Ketungkul ngurusi korupsi. sangking ketungkulnya, sampai-sampai uang hasil sitaan dari para koruptor jangan2 dikorupsi lagi dan enggak ketahuan.

Korupsi barulah masalah nomor 2. Lalu apa masalah nomor 1 nya? masalah nomor 1 negara ini adalah tidak bisa mengelola anggaran. Sok diperiksa saja, berapa banyak diklat pemerintah dilakukan di hotel-hotel mewah. Haruskah?

Tindakan Ahok mewakili pimpinan DKI memangkas anggaran PU 25% adalah langkah yang lebih solutif ketimbang rame-rame menghakimi koruptor yang ujung-ujungnya dihukum ringan dan mereka tetapa kaya raya. Karena perbaikan anggaran itu ada salah satu dampaknya yakni sbg langkah preventif memberantas korupsi.

Ya, anggaran dari tingkat negara sampai kabupaten itu, sekalipun separohnya dikorupsi, 50%nya raib dimakan para penguasa, masih cukup kok untuk membuat rakyat sejahtera. Asal bisa mengelola itu sisa uang  yang tidak dikorupsi dengan baik saja.

11/10/12

BaGoes : Sebuah Kolaborasi Bagus Anak Muda dan Masyarakat


Orang bilang pemuda adalah tulang punggung bangsa. Wah, memang apa yang dipunyai pemuda sehingga bisa punya julukan sehebat itu? Empat hari di sebuah komunitas anak muda Greeneration Indonesia (GI) kemarin, aku menemukan jawabannya. Di Bandung GI berdiri, berkolaborasi dengan masyarakat pelaku industri konveksi rumahan, menciptakan sebuah produk tas inovatif yang berfungsi mengerem ketergantungan masyarakat kepada kantong plastik. Tas BaGoes namanya, sebuah tas berbahan aneka jenis kain dengan grafis desain yang menarik dan bisa dilipat rapih karena memiliki retsleting pelipat, sehingga mudah dan trendy dibawa kemana-mana.

Yang dipunyai oleh anak muda, pertama adalah : Inovasi. Inovasi kerap lahir dari generasi muda, bukan dari generasi tua. Generasi tua yang meliputi orang-orang yang berumur tua, maupun anak-anak muda yang merasa tua, terjebak oleh rutinitas, tuntutan kewajiban ekonomi bulanan, tuntutan strata sosial, sehingga tidak sempat mengeksplorasi dirinya. Anak muda yang masih berjiwa muda mudah melahirkan inovasi, karena cara berpikirnya masih bebas, luwes dan semangatnya meletup-letup. Dari inovasi inilah sebuah produk akan mendapat sentuhan nilai tambah. Tas BaGoes misalnya, sebagai tas inovatif memiliki nilai ekonomi dua kali lipat lebih ketimbang produk tas konvensional dari bahan sejenis.

Yang dipunyai anak muda berikutnya adalah : Jejaring. Ketika masyarakat pelaku industri konveksi rumahan sudah habis waktu dan daya juangnya untuk menyelesaikan orderan jahit yang menumpuk, anak-anak muda di GI masih lincah meloncat kesana-kemari mencari ceruk baru untuk memasarkan produk tas BaGoes hasil kolaborasi mereka. Tidak tanggung-tanggung jejaring yang  mereka miliki, perusahaan kelas nasional yang mereka akses sebagai pasar mereka. Walhasil, masyarakatpun senang dan sangat terbantu, karena jumlah order dalam jumlah (quantityi) besar dan berkelanjutan (contiunity) membuat mereka tenang dalam bekerja. Tugas selanjutnya adalah bagaimana mereka menjaga kualitas (quality). Itulah sekelumit kisah, sentuhan anak muda untuk menopang perubahan bangsanya.


"Komunitas muda mempunyai inovasi dan jejaring, 
sedangkan masyarakat mempunyai skill dan pengalaman.
Ketika keduanya dikolaborasikan dalam sebuah platform Social Entrepreneurship, 
maka lahirlah manfaat dan kebahagiaan bagi kita bersama."



Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

11/9/12

Saatnya Gula Jawa Naik Kelas

Saya seorang pengusaha pemula di bidang agrobisnis. Komoditas yang saya kembangkan adalah gula Jawa yang merupakan gula dari bahan baku nira kelapa. Dalam banyak forum gula kelapa, seringkali saya menjadi peserta yang paling muda. Begitulah yang terjadi, industri gula Jawa tidak lagi dilirik oleh generasi muda, selesai di generasi kakek dan bapak kita. Karena memang menjadi pelaku industri gula Jawa itu identik dengan kampung, terbelakang, terpinggirkan dan pendapatannya sedikit.

Namun, siapa yang menyangka, masyarakat modern di belahan dunia yang saat ini resah dengan gaya hidup tidak sehat justru mulai mengidolakan gula Jawa. Gula Jawa disebut-sebut sebagai gula masa depan, karena hasil riset menunjukkan gula Jawa memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan yang lebih penting adalah aman bagi gula darah karena memiliki index glycemyc paling rendah diantara jenis gula lainnya, yakni hanya 35.

Ketika gula tebu sudah mulai dihindari oleh sebagian masyarakat, kemudian gula jagung yang disebut-sebut sebagai gula sehat juga diindikasii masih mengandung zat-zat yang dihimbau untuk dihindari. Gula Jawa lah yang kini menjadi primadona. Indikasi ini diperkuat dengan bagusnya pertumbuhan permintaan terhadap gula Jawa dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, industry roti dan farmasi mendominasi permintaan. Sedangkan dari luar negeri, Belanda, New Zealand, Kanada dan Jepang adalah beberapa negara yang mengimpor gula kelapa ke negara mereka.

Manisnya progresivitas permintaan gula Jawa ternyata belum memberikan dampak langsung kepada produsen, yang notabenenya adalah petani tradisional di desa-desa. Dimana pengrajin gula Jawa terbesar berada di daerah saya, Kabupaten Banyumas. Maka wajarlah Banyumas menjadi pemasok terbesar gula Jawa nasional.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan permintaan gula Jawa tidak diimbangi dengan upaya peningkatan kemampuan produksi SDM petani gula di desa-desa. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengakses inovasi produk, kemudian teknologi produksi yang lebih modern, serta mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh akses harga beli yang lebih tinggi.

Gula Jawa yang diinovasi menjadi bentuk kristal yang saya kembangkan bersama rekan-rekan saat ini diharapkan dapat memberikan manfaat lebih yang berdampak terhadap kesejahteraan petani di tingkat hulu produksi. Mengingat harga gula Jawa kristal atau dikenal pula dengan brown sugar memiliki nilai ekonomi yang lebih baik ketimbang gula Jawa bentuk konvensional.

Diimbangi dengan pemberian edukasi standarisasi produk, manajemen pengelolaan usaha dan akses teknologi modern, diharapkan para petani gula kelapa dapat lebih percaya diri menggarap produk mereka. Sehingga kedepan, anak cucu mereka dapat mengenal bidang industri gula kelapa sebagai bidang yang prospektif untuk dijalani, tidak lagi apatis seperti saat ini. Mengingat gula kelapa, adalah komoditas incaran dunia, bukan komoditas pinggiran.

Beberapa tindakan nyata yang sedang dan terus akan saya upayakan dalam membuat semua komponen pelaku industri gula kelapa naik kelas, diantaranya adalah dengan memberikan sentuhan inovasi sebagai berikut :
  1. Membangun top brand nasional untuk produk gula kelapa. Saat ini gula tebu dan gula jagung merk   tententu sudah ada yang menjadi top brand di pasar dalam negeri, tetapi gula kelapa belum. Gula kelapa baru beredar di pasar tradisional dan pasar modern tanpa kemasan.
  2. Melakukan riset nutrisi secara lebih mendalam. Sehingga masyarakat tahu secara signifikasi nilai kesehatan gula kelapa.
  3. Memangkas rantai distribusi dengan memiliki merk dagang sendiri, dimana produk dapat didistribusikan langsung ke konsumen tingkat akhir.
  4. Sosialisasi teknik produksi gula sehat kepada petani lebih luas, sehingga semakin banyak petani yang mampu membuat produk gula kelapa yang memenuhi standar perdagangan internasional.
  5. Penambahan variasi kemasan, dari kemasan biasa hingga kemasan sachet yang lebih eksklusif. Keberadaan kemasan yang eksklusive akan memudahkan gula kelapa diterima untuk konsumen kelas atas.
  6. Mengakses pameran promosi agrobisnis internasional, untuk dapat mengakses pembeli langsung. Sehingga proses ekspor komoditas tidak harus dilaksanakan melalui pihak ketiga seperti yang terjadi saat ini.#
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id  dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan."

Saya dan tim Gula Jawa SWEETJAVA bersama Wamendag Bayu Krisnamurthi

11/2/12

November Lebih Pagi

Salah satu tips menghemat umur adalah dengan bangun lebih pagi, memulai beraktivitas lebih pagi. Sehingga, apa yang bisa dikerjakan hari ini tidak harus dikerjakan besok. Bahkan, apa yang bisa dikerjakan besok, syukur-syukur bisa dikerjakan hari ini.


10/30/12

Satrio-Satrio


Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.

Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.

Satrio Jinumput Sumelo Atur
melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.

Satrio Lelono Topo Ngrame
melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.

Satrio Hamong Tuwuh
melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.

Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.

Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pandhita atau alim ulama yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang aulia (waliyullah).

10/29/12

Bulan Sura

Bulan Besar sebentar lagi selesai, masuklah ke Bulan Sura kita. Sura adalah istilah bulan bagi orang Jawa untuk bulan pertama di tahun Hijriyah, Muharram. Sultan Agunglah dulu yang membuat kalender Jawa lama disinkronisasi dengan kalender Islam.

Bulan Sura atau Muharram adalah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Tiga lainnya yakni Dzulqaidah, Dzulhijjah (Besar) dan bulan Rajab. Loh kok bulan Ramadhan tidak termasuk? Ya memang tidak, itu para ustadz di TV aja yang pada sok tau menyebutkan Ramadhan sebagai bulan suci. Ramadhan itu bukan bulan suci, tetapi bulan spesial. Itu tepatnya. Kenapa spesial? Ya kita semua tahu lah betapa spesialnya bulan itu, berkelimpahan buah kedermawanan Allah.

Hebatnya orang Jawa, di bulan suci Sura, mereka mengurangi aktivitas keduniaan. Salah satunya adalah resepsi pernikahan. Ini sinkron saja saja dengan anjuran, di bulan ini kita tidak lalai oleh dunia, kita lebih fokus mentauhidkan Allah.

Jadi, yang dilarang bukan menikahnya kok, tapi just antisipasi saja, agar tidak lalai oleh dunia.

10/10/12

Sibuk

Menyibukkan diri sesibuk-sibuknya, sampai enggak kebagian detik untuk termenung, meratapi. Life must go on. 

Berlibur?

Lagi tidak mood buat berlibur. Karena pekerjaanku adalah liburanku. I'm so enjoying the day. Kalau disini aja happy, kenapa harus kesono-sono.

10/4/12

Merasa Berjasa

Pernah menyimak dan menelaah bagaimana pejabat-pejabat berpidato? Yah, coba saja sekali-sekali menyimak. Teks pidatonya mungkin panjang, tapi intinya, benang merahnya biasanya satu : merasa berjasa. Ya, tidak semua pejabat si seperti itu, oknumlah. *oknum tapi banyak

Saya sudah mencanangkan program ini, saya sudah membuat itu, saya sudah menginstruksikan anu, saya sudah bercapek-capek ono. Dan seterusnya. Hasyah, sebuah mentalitas yang membuat pencapaian tidak substansial. Iya, kelihatannya ada progres, iya kelihatannya sudah begitu heroik berpikir, bertindak, berkorban dan berjuang, tapi apa... nol!

Jangan-jangan kita juga begitu. "saya sudah membuat ini loh", "saya sudah mengerjakan itu loh", "saya sudah capek ngurusi anu loh", "itu yang menyelesaikan ono saya loh". Terus, gue harus bilang wow? sementara tidak ada substansial pencapaian yang didapat. 

Cuma merasa sudah punya pencapaian saja!

10/3/12

Pesan di Sebuah Sate Ponorogo

Mas Rama & Mba Ria menyampaikan sebuah pesan mendalam dalam kemasan yang begitu enteng & renyah. Tentang mimpi. Di sebuah kedai sate ponorogo, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Kalau kamu hidup di sekeliling orang yang tidak punya mimpi kemana-mana, ya siap2 aja kamu enggak akan kemana-mana. Beda kalau kamu hidup di lingkungan anak2 yang mimpinya selulus SMA kuliah di Amerika. Effort mereka tentang ujian ini dan itu ada, belajar ini dan itu ada, setidaknya bukan effort, minimal orientasi kesitu mereka punya.

Mimpi menentukan orientasi kita. Kalau mimpimu cuma pengen 'jejeg' pendapatan. Ya itu yang didapat. Kalau mimpimu pengen setiap hari kepusingan mendirikan pesantren disana-sini, ya sekalipun tidak tercapai, setidaknya orientasimu lebih luas.

Tidak bisa persis aku tuliskan pesan mereka berdua (Mba RIa dan Mas Rama) di blog ini, tapi ya intinya hampir sama dengan 2 paragraf di atas. Ya, dengan mimpi, kita tidak bingung dengan tujuan kita.

Zaky, Indra dan Nanky menanggapi dengan tidak kalah garing dan renyah. Kata mereka, ya, kita harus punya mimpi, agar ketika ditanya sopir taksi kemana tujuan kita, kita tidak bingung.

Misalnya ditanya ketika hendak naik taksi oleh sopirnya, "nak, mau kemana?" jawab : "saya mau kuliah S2 di Amerika".


10/1/12

Benefit Akses bagi Franchisee Alfamart

Logo Blog Review AlfamartFranchise (waralaba) bukan sekedar replikasi. Banyak orang terlalu dini memberanikan diri menjadi franchisor (pewaralaba), menawarkan usahanya untuk dimiliki orang lain hanya sekedar direplikasi. Itulah mengapa saat ini begitu banyak tawaran bisnis franchise, seringkali saya mendapatkan tawaran untukm membeli franchise, diantaranya berupa bisnis produk makanan dan minuman. Bisnis yang dijual tersebut diantaranya berbentuk booth/gerobak yang oleh Rhenald Khasali disindir dengan istilah 'grobakchise', bukan franchise, karena memang yang dijual gerobaknya. Beberapa dari mereka berkembang pesat dengan cepat, tetapi juga gulung tikar satu persatu dengan cepat pula.

Yang saya fahami franchise bukan hanya sebatas replikasi, karena jika begitu maka yang terjadi hanyalah jualan gerobak dan jualan resep. Sementara untuk menjadikan sebuah bisnis feasibel dan sustainabel, bukan hanya dibutuhkan dua hal itu. Sebuah bisnis dikatakan layak dan mampu berkelanjutan bila didukung oleh berbagai macam faktor, diantaranya : akses bahan baku yang berdaya saing, akses pasar, kemampuan manajerial, kekuatan brand/merk, cadangan operasional yang memadai, kemampuan mengatasi kondisi-kondisi yang tidak terprediksi, dan lain sebagainya.

Alfamart sebagai salah satu bentuk usaha franchise di Indonesia memberikan teladan yang baik mengenai hal ini. Franchisee (terwaralaba) bukan sekedar diminta membeli gerai dan resep dari franchisor. Melainkan franchisee mendapat beraneka rupa akses, sebegai benefit atas komitmennya mengambil franchise mini market ini.

Benefit akses yang diberikan franchisor Alfamart yang bisa dinikmati oleh mitra-mitra franchiseenya diantaranya :

1. Akses supply produk, dimana franchisee mendapat produk dengan harga yang kompetitif, ketimbang harga 'kulakan' minimarket lain. Selain itu, franchisee Alfamart juga mendapatkan kemudahan, karena tidak perlu berbelanja kesana-kemari untuk melengkapi display produknya. Alfamart memiliki sistem distribusi supply produk yang baik

2. Akses pemasaran. Inti dari membeli sebuah franchise adalah membeli brand, kalau kita sudah membeli brand tetapi masih harus membangun brand dari awal, sama saja franchise itu omong kosong. Alfamart terlebih dahulu sudah membangun brand yang besar dan baik, namanya sudah familier, warna logonya sudah menjadi identitas khas, dan tagline "belanja puas, harga pas" sudah akrab di telinga, maka franchisee sudah tidak perlu repot lagi membangun brand.

3. Akses promo produk. Kerap kita menjumpai adanya beraneka ragam jenis diskon di rak display Alfamart. Kalau kita membuat minimarket sendiri, tentu akan luar biasa sulit melakukan negosiasi dengan distributor atau pabrik dari suatu produk untuk memberikan diskonnya, tetapi Alfamart memiliki negotiation power untuk mendapatkan diskon dari para suppliernya.

Sebuah Media Promo di Alfamart Jl. MT Haryono Purwokerto.
Foto oleh : Rizky Dwi Rahmawan
4. Akses design promosi. Seringkali kita menjumpai spanduk atau poster promosi produk/toko tertentu dijalanan dengan desain yang kurang digarap serius, sehingga bukannya membuat laris, tetapi malah hanya membuang anggaran promosi, mengapa? Karena desainnya norak, sehingga tidak membuat orang tertarik. Alfamart memiliki tim designer profesional yang disiapkan untuk melayani seluruh mitra franchiseenya berpromosi, sehingga materi promosipun dapat dibuat menarik dan tepat sasaran.

5. Akses perpajakan. Pajak menjadi rumit apabila kita urus sendiri, sehingga tidak heran bila ada diantara pemilik toko individu yang enggan membayar pajak. Ini membuat pembukuan toko menjadi tidak tertib. Alfamart telah menerapkan pengelolaan keuangan yang tersistem dengan baik, termasuk pajak yang wajib dibayarkan untuk setiap produk yang terjual. Ini memudahkan franchise tentunya.

hal-hal di atas adalah benefit yang layak diterima oleh franchisee yang sudah berkomitmen untuk membeli sebuah franchise. Karena lazimnya sebuah kerjasama kemitraan antara franchisee dan franchisor adalah bukan semata jual beli bisnis belaka, tetapi adanya kolaborasi yang saling menguntungkan satu sama lain.

Franchisee ikut berkomitmen menjaga brand, dan franchisor memberi dukungan untuk memudahkan franchisee mengoperasikan usahanya. Ada kerjasama saling menguntungkan di dalamnya.

Fenomena Superblock


Di kota besar seperti Jakarta, saat ini sedang ramai pembangunan Superblock. Sebuah bangunan bertingkat yang difungsikan menjadi sebuah kompleks yang lengkap, ada mall, ada apartemen tempat tinggal, ada rumah sakit, ada  sekolah, dll. Superblock ramai diminati pembeli karena praktis si, tidak perlu kemana-mana menembus kemacetan kota macam Jakarta.

Tapi, tanpa sadar mereka sedang memenjarakan diri mereka sendiri. Terpenjara dalam penjara kenyamanan dan kepraktisan. Lah iya, hidup disitu-situ aja. Kontras dengan suasana didesa dimana anak-anak bisa 'playon' ke sana kemari hingga ke kali tak perlu pengawasan ketat orang tua. Orang tua juga bisa 'mejeng' kondangan ke dusun sebelah, juguran di pos ronda mana saja yang disuka.

Ah biarkanlah, memang begitu dinamika kehidupan. Tapi yang menarik dari fenomena superblock ini adalah kejadian yang sama terjadi pada orang pacaran. Menurutku sebagai orang yang tidak punya pacar, pacaran adalan fenomena memenjara diri padahal siapa juga yang suruh memenjara. Alasannya si keren, ingin saling mengenal, ingin belajar membangun pola komunikasi, atau apalah. Tapi sadarkah dibalik semua itu dia menutup diri dari keleluasaan membiarkan hati nya menjelajah ke sana kemari sampai ke kali, dan merasa nyaman, merasa praktis hanya dengan satu orang pacarnya itu.

Ingat loh, baik dan buruk itu subyektif. Kalau seseorang yang bukan siapa-siapa kita, eh kok kita taruhi cinta, ya pantas saja semuanya jadi indah, jadi baik semua yang ada di diri orang itu. Karena sebaliknya, kalau seseorang kok kita taruhi benci, ya jadinya buruk terus perilaku orang itu.

Daripada mengurung diri dalam superblock yang kita bangun sendiri, ya mending...

Go Primitif!


Kampanye orang modern kan go primitif. Bike to work! ya ampun, di desa itu kemana-mana ngepit mas. Terus ada lagi earth hour! haha, orang primitif mana pakai listrik. Terus ada lagi diet kantong plastik, orang jaman dulu memang kalau belanja tidak perlu kantong plastik, dari rumah dia bawa tenggok, tas belanjaan dan botol minyak goreng sendiri.

Terus di resto-resto di Barat katanya budayanya sekarang adalah mengantarkan sendiri piring ke belakang setelah selesai makan. Hahah, ya memang begitu to kebiasaan nenek moyang kita? Siap-siap saja nanti kalau sudah kedengeran sama orang kita, mereka akan segera meniru budaya Barat ngundur-ngundurin piring mereka sendiri.

Atas Nama Agama, Kok Berat?


Kalau kamu nggak punya uang, terus ngirit, pagi sarapan, siang enggak makan, malam baru makan. Eh, kuat. Tidak makan seharian bisa, tapi kok puasa senen kamis, berat. Kenapa? Itu adalah karena yang berat dari sebuah laku ibadah bukan kegiatan fisiknya, tapi keikhlasannya.

Apalagi di zaman seperti sekarang, dimana agama sudah dimonopoli dan dimobilisasi sedemikian rupa oleh oknum-oknum tertentu yang justru oknum itu kita daulat sebagai agamawan. Sebutlah seorang preman bertato yang sudah insaf tapi belum bisa menghapus tatonya, apakah masjid menjadi teman yang nyaman buat dia? Ataukah justru di masjid dimana orang-orang berjubah dan berwajah serius itu menjadi ancaman bagi dia?

Begitu juga orang-orang yang baru belajar tentang kebersihan, ketika dirumahnya tidak punya kamar mandi yang representatif, hendak mandi di masjid dilanjut sholat dhuha sebelum mulai aktivitas harus berhadapan dengan pertahanan sang Takmir : Dilarang Mandi di Sini.

Busyet dah!! apa takmir itu nggak tahu, saya infak di masjid itu untuk membiayai ledeng bulanan, biar bisa dipakai oleh kemaslahatan banyak orang, baik yang baju kokonya wangi mukanya serius, ataupun tukang becak yang mau numpang mandi yang belum ngerti wiridan yang baru belajar tentang kebersihan sebagian dari iman.

Rasa berhak kita atas agama sudah dirampas oleh dua : Pertama, oleh orang-orang yang sok menjadi agamawan itu. Kedua, oleh perasaan berdosa kita sendiri. Iya to, kalau kita sedang merasa berdosa, rasanya ibadah itu beraat...

Oleh karena itu, kalau memang ibadah berat, ya dilatihlah. Caranya latihan bukan membiasakan aktivitas fisiknya belaka, tapi mengadaptasikan hati kita perlahan.. Misalnya berlatih puasa. Bukan cuma latihan tidak makan tidak minum saja, itu keciiil... tapi latihan begini misalnya. Pertama, tidak makan sebelum shubuh sampai adzan maghrib dalam rangka ngirit.

Oke itu sudah berlalu beberapa saat, tingkatkan : tahan diri tidak makan dari sebelum terbit fajar sampai terbenam matahari  dalam rangka tirakat. Tirakat adalah ajaran nenek moyang yang t.o.p.b.g.t dimana kita melibatkan hati dengan begitu intensif, tanpa membawa-bawa label agama.

Lalu yang ketiga, naikkan lagi grade-nya. Niatkan untuk tidak makan dan tidak minum seharian dalam rangka : bersyukur.

Nah, tanpa terasa sudah meningkat. Ibadah bisa dilakukan tanpa atas nama agama, tanpa label agama, kan? Begitulah, dialektika kita dengan Tuhan itu runyam karena kita terlalu melembagakan agama, sedikit2 membawa label agama. Hanya labelnya saja, bukan substansinya.

Selamat berlatih.

9/28/12

Teroris, Propaganda


Hati-hati dicap terorist. Kemarin di Solo sebuah rumah kontrakan digrebek, dan ditemukan oleh densus88 ada bom didalamnya. Padahal kata simbah yang dititipi kunci yang setiap kali itu rumah ia bersihkan tiap hari, tidak pernah menemukan tanda-tanda ada bom. Siapa yang bisa membantah kalau bukan densus88 sendiri yang menaruh itu bom?

Lain kasus, di ILC beberapa minggu lalu saat membahas terorisme, seorang pengacara memaparkan tentang kejadiah di Ritz Carltown. Pada hari peledakan tidak ditemukan kepala apapun, setelah hari ke-4 eh kok tiba2 ada potongan kepala korban. itu siapa yang naruh kepala?

Lalu beda lagi kasus, dulu sewaktu aku SMP diwanti2i, hati2 kalau ada razia narkoba, pernah kejadian seorang pelajar dirazia, di tasnya tiba2 ada bubuk narkoba, padahal dia tidak pernah mengenal yang namanya narkoba. Kok bisa ada? Iya, soalnya petugas razia sendiri yang menaruh. kalau nggak begitu nggak nutup target razia, nggak dapat honor bagus.

Seremnya fitnah di negeri ini. Semoga kita termasuk orang2 yang dilindungi dari oknum iblis-iblis berseragam suci itu. amin amin amin.

9/26/12

Buka Kuping

Aku tidak berangkat mocopatan bulan ini, tapi dapat sedikit reviewnya. Ijinkan aku membahasakan versiku tentang satu point review yang diangkat Naim. Yakni tentang petasan.

Ya, kita hidup sering seperti seorang anak kecil yang menabuh petasan. Tahu kan bagaimana anak kecil menabuh petasan. Setelah sumbu disulut, saat petasan meledeak, dia sendiri malah tutup kuping.

Begitulah, saat belum punya calon istri, mengeluh, ingin segera punya calon. Pas sudah punya calon, kuping malah ditutup dengan keluhan, ribetnya mengusahakan pernikahan. Setelah menikah berhasil, kuping ditutup lagi dengan keluhan ingin punya rumah sendiri. Setelah punya rumah, kupng ditutup lagi dengan keluhan ingin punya anak. Setelah punya anak kuping ditutup lagi dengan keluhan ingin punya penghasilan yang besar agar anaknya bisa hidup mewah.

Dan seterusnya, kita tak pernah memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk mendengarkan suara petasan yang kita sulut sendiri itu.


9/15/12

klarifikasi

aku tidak pacaran bukan karena ingin menjaga, bukan karena memegang omongan, bukan bukan..
tapi, karena aku tidak punya pacar

#malamminggu

Tak Pantas Ditunggu

Betapa bangganya aku selalu tidak bosa aku ulang-ulangi, bahwa aku punya guru Pa Supardi Lee dan Pa Zainal Abidin. Yang mengajarkan menjadi entrepreneur yang bisa berhasil berawal dari tangan dan kakinya sendiri, dari kerjakerasnya sendiri, dari akal cediknya sendiri, dari sumberdaya seterbatas apapun yang dimiliki saat ini.

Tidak menunggu utang, tidak menunggu pemodal, tidak menunggu peluang datang, tidak menunggu menang lomba, tidak menunggu fasilitasi pemerintah. Karena memang dari semua itu tidak ada yang pantas ditunggu.

Kalau ada saja diterima, dimanfaatkan. Jangan dimasukkan agenda.

---

*Tidak lolos MBM Challange...gak patheken!!

9/14/12

Pembeda

Aku sudah cukup fulgar menampilkan diriku. Aku sudah cukup konsisten menjaga pembeda diriku dengan yang lain. Tak ada sudut-sudut yang misterius yang harus kau jajaki. Semua itu aku rasa cukup, kecuali memang kau bukan tercipta untukku.


9/10/12

Menara Gading itu Bernama : Bank

Bank itu megah, sewa gedungnya pasti di jalan protokol. Bank itu megah, penataan ruangannya, desain interiornya, perabotnya, tata lampunya.

Tapi Bank, tidak bisa melayani konsumen dengan hati. Antri panjang, fasilitas paling mentok ya nomor antrian dan kursi. Masih disuruh menuliskan sendiri form setor. Disunat uang kita dengan alasan biaya administrasi. Ada saldo minimal dalam rekening tanpa alasan yang pernah merasa perlu untuk dikomunikasikan. Kalau penutupan rekening, dipotong pula uangnya dengan kedok biaya administrasi. Sekalipun berlabel syariah, apa aktivitas berhenti ketika adzan? Bagaimana dengan nasib karyawannya, hampir lembur setiap hari, seolah-olah hidup untuk bank bukan bank untuk hidup.

Mesin setor tunai yang rusak bertahun-tahun belum juga diganti. Ini menandakan bank begitu fakir, mengganti mesin saja tidak mampu. Penampilannya mentereng, tetapi kefakirannya membuat bank berhak untuk mendapatkan sodaqoh jariyah, paling tidak untuk bisa mengganti mesin setor tunai. Menambah jumlah teller sehingga kalau ramai teller ditambah, kalau sepi bisa dikurangi.

Agar bisa pula lebih produktif sehingga tidak perlu lagi ada biaya administrasi bulanan. Kalau tidak bisa lebih produktif, ya berendah hatilah, sewa kios dipinggir sawah, jangan gedung yang kelewat mewah. Mungkin dengan itu, operasional bulanan bisa ditekan, dan uang nasabah tidak perlu disunat-sunat.


9/9/12

Durah Sembada

Aku sangat respect dengan sharing salah satu peserta Asosiasi Klaster Indonesia kemarin, cerita dia ngotot datang ke Semarang, menemui salah seorang kepala dinas Provinsi di lantai 6, sementara dia tidak tahu bagaimana caranya naik lift. Tapi itu dia lakukan. Ketika sudah sampai berhasil di ruangannya, pa kepala yang ingin ia temui tidak ditempat. ia ngotot, bilang dia bawa proposal dari Bupati, sehingga diijinkan menunggu. Padahal itu bukan proposal dari bupati, proposal bikinannya sendiri.

Orang semarang mengatakan, duroh sembobo orang mau mau melakukan apa saja. Ya, untuk terkabul keinginannya, hal apapun dilakukan, termasuk seperti cerita orang yang aku ceritakan itu.

Apakah, kita sudah melakukan apa saja demi durah sembada? Apa baru berangan-angan, ngeluh sana ngeluh sini, dapat ganjalan sedikit mandeg, ada resiko sedikit eh dihindari. adanya ngresulah dengan keterbatasan yang ada.

Ya pantas kalau belum kasembadan yang diinginkan kalau begitu.

9/3/12

Keep Istiqomah atau Keep Strict


Orang mengajak hijrah, "Ayo ke Jakarta!" tapi diam saja. Orang lainnya mengajak "Ayo naik Sinar Jaya", eh malah dia yang tiba di Jakarta.

Khotib-khotib sepekan sekali berwasiat taqwa, tapi orang biasa saja, tidak ada perubahan, tidak menjadi taqwa. Tapi orang lainnya datang ke sesepuh di desa , lalu mendapat wasiat dari sang sesepuh "sing pada eling!", eh kemudian kok sesudah itu, karena dia senantiasa eling, akhirnya dia bisa menjalankan perintah kebaikan dan menjauhi larangan keburukan. Loh, bukannya dua hal itu adalah ciri-ciri taqwa?

Lalu para ukhti-ukhti aktivis berkirim sms kepada para ihwan-ihwan, "keep istiqomah", eh tetap ibadah para penerima sms itu dari hari ke hari memble. Kadang semangat, kadang tidak, sesuai mood saja.

Untuk istiqomah itu butuh strict kepada diri sendiri, kepada mood, kepada kemalasan, kepada alasan-alasan. Kalau sudah bisa tidak dikalahkan oleh mood, malas dan alasan-alasan, awalnya terpaksa tapi akhirnya nikmat itu yang namanya istiqomah.

so, keep strict!



Tanggapan untuk AM Waskito


ESQ Training jadwalnya tidak sepadat dulu, saya tidak tahu apa ini artinya ESQ sedang meredup atau bagaimana. Hm, sebagai seorang yang banyak berkecimpung di dalamnya, saya musti berani straight melakukan autokritik. Sampai akhirnya saya menemukan makalah kritik terhadap ESQ 22 halaman milik AM Waskito yang ditulis di Bandung tanggal 25 Juli 2012.

Sayangnya, makalah kritikan itu tidak bisa memuaskan hati saya, kenapa? Pertama : argumentasinya terlalu dangkal, menandakan si pengkritik tidak mengkaji obyek kritikannya dengan komprehensif, ia hanya memandang dari jauh dan sekilas pula. Kedua : Penulis dengan menulis kritik itu justru sedang menunjukkan kadar berfikirnya sendiri, konsep keberagamannya sendiri, penulis nampak masih termasuk dalam kelompok agamawan sekuler.

Siapakah agamawan sekuler itu? Yakni orang yang menggunakan identitas agama, hafal banyak dalil, berpenampilan sangat islam, berfikir seolah-olah sangat islami, tetapi sebetulnya dia memandang agama secara padat (solid), tidak secara cair. agama dan dunia itu tidak boleh dicampur, dunia dan akhirat itu beda.

Sampai saat ini autokritik saya hanya baru menemukan satu argumentasi yang saya bisa manggut-manggut membenarkan, yakni : adanya dismanajemen di dalam tubuh perusahaan yang menyebarkan ESQ. yah, sebagai lembaga pengembangan SDM, tentu lazim saja menarik biaya tinggi kepada perusahaan/instansi yang memberangkatkan anggotanya untuk mengikuti ESQ, konsep ini sama seperti kelaziman sekolah menarik biaya kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya di dalamnya.

Tetapi manajemen ESQ kebablasan, membidik market kalangan individu menengah ke bawah yang tentu berat dengan nilai tiket pelatihan yang semahal itu, ditambah lagi adanya targeting kepada para trainer yang seharusnya mereka concern di materi, tidak boleh ikut campur dalam pencarian peserta. Sebab kesalahan manajemen ESQ ini yang membuat wajar saja ESQ meredup.

Padahal seandainya manajemen ESQ dapat tetap berpuasa dari keserakahan, bisa saja kok materi ESQ didistribusikan kepada kalangan lebih luas, caranya adalah dengan mengakses dana CSR BUMN dan perusahaan swasta yang bergitu berkelimpahan jumlahnya.

Nah, membaca tulisan AM Waskito saya berharap menemukan argumen kedua, ketiga dan seterusnya untuk bahan autokritik saya. Tapi sayang, saya hanya menemukan tulisan orang yang tidak memahami secara dekat dan mendalam, orang yang seolah hanya ingin tampil sebagai orang baik, pahlawan kesiangan yang memerangi pahlawan yang aslinya.

Ini beberapa alasan kenapa saya bilang argumentasi kritik penulis rapuh :

1. Klaim "The ESQ Way 165"
penulis menganggap "The ESQ Way 165" sebuah doktrin baru yang mengecohkan dengan nilai-nilai agama aslinya. Ah masa? Ya, penulis tidak mengenal konsep anker (jangkar), "The ESQ Way 165" itu semacam anker, sepertihalnya sunan kalijaga menciptakan istilah kuku pancanaka sebagai senjata Bima dalam bagian dari metode dia untuk masyarakat ingat atas nilai sholat yang lima.


2. Konsep "Zero Mind Process"
Terlalu memaksakan ah kalau disebut materi ZMP adalah ajakan mengosongkan pikiran semacam cuci otak. Lebih bisa dipahami kalau penulis tidak cuma menganalisis buku, tapi mempelajari juga trainingnya. ZMP itu adalah ajakan untuk seperti ini misalnya, kalau Anda mau mendengarkan nasehat dari paman Anda yang Anda pernah kecewa/marah padanya, maka yang pertama dilakukan zerokan hati dulu. Kalau tidak zero, sebagus apapun, kita tidak bisa mendapatkan apa-apa karena sudut pandang kita kadung negatif duluan.

3. Terlalu berlebihan mengagungkan "God Spot"
God Spot diagung-agungkan oleh Ary Ginanjar? Atau penulis yang berlebih-lebihan menilai sehingga Ary Ginanjar dianggap mengagung-agungkan God Spot? Difahami bahwa titik berangkat dakwah ESQ adalah kepada kaum rasionalis di kota-kota besar, adanya konsep God Spot adalah sebagai tools oleh Ary Ginanjar untuk menjelaskan bahwa Tuhan itu Nyata, bahkan suprarasional (Maha Nyata), bukan cuma di angan-angan, tetapi bahkan ada peneliti yang berhasil menemukan bagian real di dalam tubuh fisik manusia.

4. Salah memahami konsep "suara hati"
Hadits yang sangat populer tentang sahabat Wabishah yang dinasehati Nabi SAW untuk meminta fatwa pada hatinya sendiri cukup menjelaskan konsep suara hati yang diusung Ary. Ary Ginanjar meyakini hadits ini dan mencoba merepresentasikan dalam bahasa yang lebih cair dan membumi. Bukan sedang membuat patokan sumber kebenaran baru seperti yang ditafsirkan penulis. Saya sendiri heran, kok bisa-bisanya penulis menafsirkan seperti itu. Bagaimana dia mengkaji agama sih?

5. Mengumpulkan dalil pendukung apa saja
Buku ESQ itu buku populer, bukan karya ilmiah. Sangat subyektif kalau disebut ada penggiringa opini. Ini argumen yang terlalu memaksakan.

6. Salah memahami sifat Allah
Bagaimana bisa penulis menafsirkan bahwa Ary sedang mengajarkan manusia dalam bersikap ada bagian Tuhan di dalamnya? Misalnya ada ajakan untuk bersyukur, pengaitan dengan Asmaul Husna adalah sebagai tempat konfirmasi, oh iya bersyukur itu baik, Tuhan saja Maha Bersyukur. ajakan untuk bervisi tinggi itu baik, karena Tuhan saja Maha Tinggi. Bagaimana bisa ajakan seperti itu dianggap Ary mengajarkan kita adalah Tuhan, Tuhan adalah kita? Aneh..
Kemudian adalagi argumentasi bahwa tidak boleh mempersonifikasikan Tuhan, mungkin bisa dibaca di Al Quran bagaimana Tuhan dalam beberapa ayat mempersonifikasikan dirinya sendiri. Ya, karena Tuhan itu pendidik manusia, Dia bukan hanya minta disembah sebagai Illah, tetapi saking cintanya ia lebih berperan sebagai pendidik atau Robbi.

7. Kerapuhan konsep ilmiah ESQ
Penulis menjelek-jelekkan ESQ karena terlalu banyak referensi barat di dalam bukunya. Loh, konsep ilmiah itu konsep siapa?Konsep barat, bukan? Kenapa menghakimi ESQ jelek hanya karena tidak ilmiah? Berarti telah menjadikan konsep barat sebagai hakim. Padahal di awal tulisan penulis sudah menulis dengan lantang, pemahaman barat hanya boleh sebagai tempat konfirmasi dan refleksi, tidak boleh sebagai hakim. Ini malah dia yang menghakimi ESQ dengan standar barat.

Saya faham ESQ mengapa tidak ilmiah, karena memang ESQ tidak seperti kebanyakan materi pengembangan diri. Inilah point dimana saya semakin yakin penulis memandang agama begitu padat, dia tidak siap menerima ilmu-ilmu kreasi manusia yang didalamnya sudah berbaur dengan cairnya nilai-nilai agama. Baginya agama itu ada dalam forum yang begitu kaku dan formal, tidak boleh diblusuk-blusukan ke sendi-sendi kehidupan yang begitu luas.
Pemikiran seperti inilah yang membuat preman antipati kepada masjid, orang enggan datang ke pengajian. Karena memang padat, ya mereka tersekat.

8. ESQ Menawarkan jalan hidup
Menawarkan jalan hidup baru, jalan hidup baru yang ditawarkan bukanlah tandingan Islam. Tapi bagaimana Ary mengenalkan jalan hidup Islam pada kadar yang begitu universal, sehingga bisa diterima semua kalangan. Tidak ada paksaan dalam agama, bukan? Maka tidak benar kalau dakwah memaksakan agama, yang lebih cocok dengan dalil ini adalah bagaimana dakwah itu memberikan kesempatan pada orang untuk mencicipi agama.
Termasuk Ary yang memberikan cicipan agama Islam dalam pemahaman yang holistik/kaffah/menyeluruh untuk masyarakat non-muslim, ataupun masyarakat muslim yang selama ini berislam tanpa mengenal agamanya sendiri. Soal dia akan melanjutkan belajar Islam, akan memeluk Islam atau tidak, itu urusan pribadi masing-masing.

Jadi, dari tulisan yang panjang ini, saya tidak menemukan, ESQ sesatnya dimana? Yang sesat itu orang yang begitu kaku dalam beragama, sampai-sampai para preman merasa dilarang mendekati masjid. Yang sesat itu yang menghujat saudaranya sendiri sesama muslim, sehingga orang-orang sekuler dan barat bebas mewarnai ibukota, perusahaa-perusaah dan gaya hidup dengan budaya mereka, lah baru mencoba sedikit masuk ke dunia mereka saja sudah di cap sesat, bagaimana mau islam mewarnai? Sesat itu pemerintah yang membuat spanduk BBM Bersubsidi, loh minyak bumi ini milik rakyat, ketika dikonsumsi rakyat kok disebut subsidi.

Maka, hati-hati menuduh sesat, saya berkeyakinan tuduhan sesat kepada Ary Ginanjar di catatan malaikat sudah berbalik kepada pa AM Waskito. karena tuduhan yang bergitu meyakinkan, argumen yang begitu panjang itu ternyata rapuh, gamoh, kopong.

Teror Media


Masyarakat harus jeli memilih media. Sebut saja TV One, apakah dia memang TV berita? bukan, dia merupakan TV newstainment. Infotainment yang mengetengahkan berita-berita dan gosip-gosip politik.

Juga TV yang entah siapa yang ada dibaliklayarnya sehingga bisa mengetengahkan satu tema dengan begitu berkepanjangan. Kasus kerusuhan Sampang, misalnya. Itu kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon atau Papua belum ada apa-apanya, tapi kok beritanya diulang-ulang santer sekali. Ada apa? Ada indikasi skenario itu punya motif untuk melegalkan hadirnya syiah secara terang-terangan di Indonesia. Baru kali ini orang Islam yang benar di Indonesia disebut Sunni. apa-apaan ini?

Sebut media lainnya, majalah Suara Islam. Itu juga majalah bermasalah yang patut untuk dihindari. Kemarin saya beli, cuma saya baca sekilas lalu saya buang ke tong sampah. Saya contohkan tiga berita :

1. Berita ESQ Sesat

Suara Islam mengemukakan ESQ sesat karena Ary Ginanjar mengimplementasikan penerjemahan asmaul husna pada perilaku manusia. Loh? Coba dipelajari dulu, betapa basi nya statement sesat atas dasar ini. Kalau memang sudah mempelajari, pasti, redaksi tidak akan menemukan fakta apakah perilaku Ary Ginanjar itu ada yang mendiskreditkan Tuhan? Tidak, itu hanyalah bentuk cara keteladanan. Apakah keteladanan kepada Tuhan boleh? Ya, boleh. Karena Tuhan bukan hanya sebagai Illahi (fungsi penyembahan) tapi juga Robbi (fungsi mendidik).

2. Kampanye Foke menggunakan alat agama

Kedoknya menghindarkan umat memilih pemimpin non-muslim. Tapi ada gambarnya poster Foke di halaman belakang full-page. Alasannya apa orang dilarang memilih wagub non-muslim. Redaksi memaparkan bahwa kalau itu terjadi, maka Jakarta akan seperti Singapura saat perdana menterinya non-muslim, atau Filipina saat kedatangan tentara Spanyol, juga Andalusia saat terjadi perang antar agama dulu. Owalah dul...dul... pembodohan macam apa ini? Satu wagub non muslim dibandingkan dengan perang di andalusia, betapa jongkoknya intelektual sang redaktur membuat perbandingan yang tidak apple to apple begitu. Pemimpin DKI bukan cuma wagub, masih ada gubernur, masih ada walikota, masih ada DPRD, masih ada tokoh masyarakat, plis deh...

3. Dalam penentuan 1 Ramadhan, pemerintah tidak boleh campur tangan

Ini nih yang menunjukkan bahwa majalah ini tidak punya dewan fatwa, tidak punya dewan syariah. Ih, sangat berbahaya sekali. Sudah sengak menggunakan nama majalah "suara Islam", tapi tidak mempunyai pemahaman yang mendasar tentang nilai-nilai Islam. Suara Islam mempersoalkan 1 Ramadhan yang berbeda hari, ditengah sudah maklumnya masyarakat atas kondisi ini. Oh, provokatif sekali. Lalu menghujat pemerintah yang seharusnya tidak usah ikut campur. biar semuanya menentukan sendiri-sendiri. Ini nih yang ngacau. padahal kalau dirunut dalil, sudah benar pemerintah bersidang. Ketika ada perbedaan dalam penentuan seperti itu, ya harus dihadirkan seorang hakim. Dan kondisi di Indonesia, yang legitimate sebagai hakim ya pemerintah.

Itulah, kenapa kita harus strict dalam memilih berita yang kita konsumsi. Awalilah dengan tidak merasa inferior, terhadap TV, terhadap majalah. Memang, mungkin gaji kita tidak sebanyak gaji pekerja di TV dan pekerja di majalah, kekayaan kita juga tidak sebanyak pemilik TV dan pemilik majalah, tapi itu semua bukan alasan untuk merasa lebih rendah dihadapan mereka. Majalah dan TV adalah pelayan kita, kita musti jeli memilih pelayan, agar tidak rusak agama dan intelektualitas kita.

Sakit Pikiran, Sehat Jiwa


Lupa kapan aku puasa ramadhan pertama full sebulan, hm, sekitar kelas 3-4 SD kalau enggak salah. Yang jelas kalah sama adikku yang paling kecil, yang dari TK sudah puasa full setiap Ramadhan. Yang dinanti saat puasa adalah buka. Buka puasa jadi moment tradisi tersendiri dari kurun waktu demi waktu perjalanan umurku.

Selama SD aku selalu buka puasa dirumah. Karena jaman SD belum ada bukber kelas, bukber ekskul dll. Lalu beranjak SMP, masih sama, selalu buka puasa dirumah. Selama 3 tahun aku SMP selama itu pula presidennya Gus Dur, satu-satunya presiden yang membuat anak-anak sekolah matigaya : 1 bulan penuh libur...enggak ketemu teman-teman acan.

Beranjak SMA, baru deh jarang buka dirumah. Ya, bukanya di kost. Kecuali ada undangan-undangan bukber di sekolahan. Jaman SMA dulu ada buka bersama kelas, biasanya dilanjut dengan jadwal giliran taraweh di sekolah. Buka bersama jadi moment mengesankan tersendiri yang merekatkan keakraban satu sama lain.

Di SMA pula aku mengenal tradisi 'hunting tajil'. Tidak seperti mushola di kampung, masjid di kota banyak yang menyediakan menu berbuka. Wah asik-asik, apalagi si yang lebih menggembirakan bagi anak kost selain : makan gratis? Maka investigasipun dimulai, oh di masjid ini ada takjil + nasi, di masjid ini takjil doang, di masjid ini kadang ada kadang enggak, di masjid ini enggak semuanya kebagian. Dan seterusnya.

Kuliah, jadwal buka bersama makin beragam..ada bukber kelas, bukber organisasi, bukber komunitas, bukber anak nongkrong, berasa ramadhan kurang cuma 30 hari untuk giliran buka bersama doang. Belum termasuk bukber di panti. Kecuali tahun ini, hampir tiap taun aku dan teman-teman adakan bukber di panti, dengan berbagai variasi acaranya. Ya senang kita, karena bisa menyapa anak-anak panti asuhan. Tapi, kalau mau bukber di panti, jangan mendadak, karena mereka biasanya di bulan ramadhan sudah banyak yang mengantri menyumbang menu berbuka dan kunjungan untuk bukber, bukan kita doang.

Dan yang berkesan lagi di puasaan tahun ini adalah buka bersama orang gila. Ya, ini orang gila alias tidak waras beneran. Ceritanya sedang di masjid, sekalian nunggu bedug magrib. disebelahku ada orang menggelar kain, aku menoleh sesaat pikirku sajadah, tapi ada yang aneh loh, iya beneran aneh deh, ternyata kain taplak meja. terus aku lihat orangnya, pakainnya, wah iya ini orang nggak waras ini.

Eit, tapi jangan menyepelekan dulu. Hari itu aku benar-benar merasa kalah sama si orang gila itu. Ceritanya magrib masih lama, di masjid, bagusnya ya berdiam diri alias itikaf. Tapi apa, susah ternyata, aku coba diam, ketiduran, akhirnya sms-an, mainan hape, plirak plirik, tolah toleh sana sini dan pokoknya 'rogeh-rogeh' terus. Tapi apa yang dilakukan si orang gila yang ternyata bisa ikut jamaah sholat tadi itu. Dia bisa diam, tenang, sambil sesekali senyum, sampai jelang buka. Dia tidak tolah toleh mengamati kiri kanan, dia tidak mainan hape dan dia enggak ketiduran.

Yah, kita sering tidak bisa tenang diam karena pikiran kita gerak-gerak terus, pengen menghubungi ini, menyentil itu, mengamati ini, menganalisis itu, mengingat masa lalu, memikirkan masa depan. capek. sedangkan orang gila itu, jangankan menganalisis sekeliling, jangankan terpikir ingin menghubungi teman. punya pikiran aja enggak. hehehe...

yang menarik berikutnya adalah ketika buka, makanan datang, nasi kotak dan segelas teh hangat yang udah menjadi dingin. bedug bergema, aku minum teh hampir habis satu gelas, dilanjut makan dengan lahapnya. Lalu aku menoleh ke si orang gila tadi, wahai... yang dia makan ayamnya dulu, baru sayur, baru mie. kebalikannya orang waras ya, kalau makan bakso misalnya, kuahnya dulu, mie nya, baru baksonya buat pamungkasnya. Itulah, orang gila kadang lebih unggul, tidak terkungkung kepentingan, tidak terkungkung tradisi, bebas aja mau makan apanya dulu.

Terus lagi, yang menarik adalah cara menyeruput teh nya itu loh. orang itu teh anget yang udah dingin, tapi gaya nya kayak nyeruput kopi luwak yang masih panas... huidih... biarpun gila, tapi ternyata dia masih bisa menikmati sesuatu, minum aja pakai soul begitu. Hm, kalau begitu orang gila itu jiwanya hidup donk, pikirannya aja yang enggak punya. Jadi, mungkin lebih tepat dibilang orang gila itu sakit pikiran, bukan sakit jiwa. orang sakit jiwa itu kan orang yang serakah, dengki, rendah diri dan semua-mua yang bermasalah dengan jiwanya. sedangkan orang gila, jiwanya normal, pikirannya doang yang enggak dipakai, atau malah jangan2 enggak punya pikiran.

Itu sekelumit cerita tentang buka bersama, bahwa agar kita tidak punya alasan untuk merasa lebih mulia ketimbang orang yang dianggap tidak waras disekeliling kita.

9/1/12

Sisi Kontraproduktif

Selalu ada saja bagian gelap dari bulatan bulan yang tidak memantulkan cahaya matahari ke bumi. Begitulah setiap segala sesuatu ada sisi kotraproduktifnya..

1. Pengembangan Diri

Belajar rumus-rumus sukses pengembangan diri seperti membaca peta, kalau terlalu sering membaca melihat peta, jadi tahu banyak hal, tapi jadi malas membuat langkah-langkah kecil. padahal pencapaian besar kan selalu dari langkah2 kecil.

Terlalu tekun menyerap ilmu motivasi, jadi etosnya bukan etos kerja, tapi etos hasil. Kalau mengerjakan ini, diukur dengan hasil yang besar, trus terasa tidak ada apa-apanya, walhasil jadi berat melakukannya. Ya itu sisi kontraproduktifnya.

2. Maiyah

Terlalu banyak maiyah dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguang kehamilan dan janin. Haha. Ya, karena diajak berani berpikir, yang tidak pegang kendali dengan baik bisa-bisa kebablasan. Jadi permisif, ini boleh dilakukan, itu boleh dilakukan. Makin parah jadi antipati, antipati pakai peci, antipati pakai baju koko.

Perlu diingat, sekalipun Cak Nun pernah jalan sama Ria Enes, tapi Noe, anaknya sangat strict menjaga perilakunya terhadap perempuan yang bukan istrinya. Sekalipun jamaah digiring untuk tidak membawa-bawa label Islami dalam pakaian mereka, tapi tetap kok yang di panggung maiyah pakai sarung, pakai peci selalu ada.

8/31/12

Bahaya Mendengarkan Khotbah

Waspadai bahayanya mendengarkan khotbah, yakni membuat kita jadi inferior, berkonsep diri rendah, susah menghargai diri sendiri. Karena kebanyakan orang-orang yang mempunyai hak berbicara di atas mimbar itu adalah menghakimi, katanya habis pada puasa Ramadhan biasa aja, tidak ada perubahan, itu contohnya.

Sedikit sekali dari mereka yang pandai mengapresiasi. Kalau kita sudah dicekoki begitu, lantas kita merasa deh gagal berRamadhan, lantas karena sudah merasa menjadi orang gagal, mau ngapai2in yang baik2 jadinya males, jadinya tidak ada peningkatan beneran deh.

Mbok iyao kalo begitu, kita sendiri saja yang mengapresiasi, wuih, kemarin 29 hari enggak bolong loh aku puasanya. wuih kemarin ini kemarin itu loh. prestasi-prestasi kecil jangan diremehkan atuh. jangan dikira, orang yang berhasil Ramadhan itu ketika masuk idul fitri jenggotnya jadi panjang, pakai baju koko terus kemana-mana, mulutnya komat-kamit wiridan terus. Tidak tidak, jangan terlalu dilembagakan begitu. Sekecil apapun peningkatan, apresiasilah. Hanya diri yang diapresiasi yang bisa memberikan hal lebih baik lagi diantara tumpukan kebaikan2 kecil yang sudah dilaksanakan sebelumnya.

Kalau ada khotib jumat yang cuma merusak konsep diri kita, menuntut diri kita berlebihan diluar batas kemampuan kita, dan membuat kita jadi merasa diri kita jelek tidak berharga, sudah, tinggal tidur saja.

8/29/12

Puasa Syawal

Laki-laki kalau enggak puasa syawal itu kebangeten. Kebangetennya gimana? Lah iya, berapa banyak perempuan dimuka bumi ini yang ingin puasa syawal, tapi tidak bisa, karena harus nyaur utang puasa Ramadhan mereka terlebih dahulu. Maka kalau mau puasa syawal, di bulan ini harus kejar tayang meng-qodho puasa maksimal H-7 sebelum bulan syawal habis. Betapa puasa syawal jauh lebih ringan untuk kaum laki-laki, bukan?


8/23/12

#29 Ramadhan : Krisis Apresiasi


Akhirnya Ramadhanpun berpamitan. Ada yang sedih ada yang bahagia, kira-kira begitu topik di banyak mimbar-mimbar qultum di masjid. Kalau zaman generasi sahabat mereka dulu menangis ketika Ramadhan hampir selesai, kalau kita tidak. Kalau kita disuruh untuk introspeksi, di hari2 terakhir Ramadhan ini dimaksimalkan kalau hari-hari kemarin yang sudah kita lakukan 'dirasa' belum maksimal.

Sangat pelit sekali sepertinya kita memberikan apresiasi, yang pelit bukan cuma orang biasa, mubaligh yang notabenenya ustadzpun begitu. Ketika pola berpikir kita digiring dengan kalimat 'barangkali kemarin belum maksimal mengisi hari2 puasanya', ya kita sebagai orang yang baik-baik, yang rendah hati, ya jelas merasanya belum maksimal. Akibatnya konsep dirinyapun merendah.

Berbeda kalau diberikan apresiasi, "bapak ibu luar biasa, bisa bertahan dengan puasanya, bisa menjaga selama berhari-hari tidak bergosip, bisa datang ke masjid setiap hari, ini luar biasa...", walau agak lebay ya misalnya seperti itu lah. Intinya bahwa orang diuwongke, merasa hal-hal sepele yang dilakukan selama ini diapresiasi, itu akan lebih membangun konsep diri yang baik.

Karena keluar Ramadhan, yang penting kan bukan ibadahnya stagnan persis kayak ramadhan, susahlah, karena suasananya beda. tapi minimal, orang konsep dirinya terupgrade, sehingga, apa yang misalnya sebelum ramadhan dhuha itu berat, sekarang jadi ringan. yang tidak pernah sholat malam, setidaknya sudah mulai bangun walau tidak rutin, dan lain-lain.

Bagi kita yang punya hak memegang mic di mimbar-mimbar pengajian, hati-hati berucap, jangan sampai merusak konsep diri jamaah. justru yang dilakukan harusnya membangun, dengan cara mengapresiasi, hinga hal-hal paling sepele sekalipun.

8/17/12

#28 Ramadhan : Gravitasi Langit


Kenapa kalau di rumah, bangun sholat malas. Sedangkan kalau di masjid, terasa lebih ringan. Saat ada waktu senggang, kalau dirumah, yang dicari remote lalu menyalakan TV. Sedangkan kalau di masjid, yang dicari mushaf, lalu mengaji.

Gravitasi langit, ditransmisikan dari langit dan turun di beberapa titik di bumi, utamanya adalah di masjid. Di luar masjid juga ada gravitasi ini bisa kita rasakan, misalnya di tempat orang-orang sholeh berkumpul. Yah, ada peran lingkungan terhadap kondisi hati kita, lingkungan yang  baik akan mempengaruhi hati kita menjadi ringan berbuat baik dan beribadah, lingkungan yang buruk akan membawa kondisi sebaliknya.

Maka, pandai-pandailah mencari lingkungan-lingkungan yang baik, yang ada gravitasi langitnya. Sehingga pikiran kita tidak hanya khusyuk memikirkan materi, karena terlalu kuat kena pengaruh grafitasi 'bumi'. tetapi juga ringan untuk berorientasi masa depan, berorientasi hari akhir. Setidaknya kalau sudah terbiasa sebulan, dua bulan, tiga bulan menikmati enaknya beribadah dan berbuat baik dibawah zona gravitasi langit, maka kita memiliki kekuatan lebih untuk bisa survive beribadah di tempat lain yang jauh dari gravitasi langit.

Kalau sudah begitu, kita baru bisa berguna dengan meneladankan ibadah dan perbuatan baik kepada sesama.

8/16/12

#27 Ramadhan : Eling lan Waspodo


Biasanya gambarnya semar, kalau di kaca bagian belakang mobil kalimat ini tertulis "Eling lan Waspodo". Sepele terlihat kalimat ini, tapi bagi yang faham sebetulnya ini punya arti penting. Arti penting dimana bahwa kecerdasan spiritual sudah ada di zaman nenek moyang tanah jawa ini sebelum Islam yang kita kenal saat ini tiba di tanah air.

Eling lan Waspodo itu apa si? Kenapa tidak Eling tok, kenapa tidak Waspodo tok? Itu pengertianya sama dengan kenapa tidak iman tok, kenapa tidak amal sholeh tok. Kenapa "aladina amanu wa amilu salihat". Ya, karena kalau hanya satu dari keduanya maka akan pincang. Iman tanpa amal/tindakan itu rapuh. Amal/tindakan tanpa iman itu kosong.

Sebelum dalil itu dikenal oleh leluhur kita di tanah jawa, nurani penduduk pribumi ini sudah bisa merumuskan sendiri kearifannya "eling" lan "waspodo". Kalau menemukan batang pohon salak yang berduri tergeletak di pinggir jalan, maka dia "eling", ingat, nyadar, aware, bahwa ini bisa membahayakan pejalan kaki lainnya. Tapi nyadar, eling saja tidak cukup, harus waspada, dengan cara bertindak, menyingkirkan batang berduri itu dari jalan.

Saat marah, kita dinasehati orang tua untuk eling. ya, tapi kalau eling saja, bisa jadi marah masih bisa meluap. harus waspada, dengan cara ambil tindakan, saat berdiri ya duduk, saat kegerahan ya ambil air wudhu, saat gaduh ya meninggalkan tempat.

Aware and then action, sadari kemudian bertindak, itulah Eling dan Waspodo. Dan pepatah jawa mengatakan, seberuntung2nya orang, lebih beruntung yang eling & waspodo. Tentang orang yang disebut beruntung ini cocok dengan yang dijelaskan di Surat Al Mu'minun.

Nenek moyang kita hebat yah, sudah mengerti jauh-jauh waktu sebelum dalilnya datang, karena mereka mendengarkan hati, mempergunakannya dengan cerdas.



#26 Ramadhan : Terasing atau Memarginalkan Diri?



Penceramah di masjid-masjid banyak menyampaikan, berkah bulan Ramadhan bagi kita adalah : berkah semangat bertilawah, berkah semangat mengerjakan sholat, berkah semangat pergi ke masjid, berkah semangat berkumpul dengan keluarga. Lalu 'berkah' Ramadhan bagi saudagar chainis di pasar-pasar di kota besar apa : 'berkah' dagangannya laris, omzetnya berlipat-lipat.

Allah lebih menyukai muslim yang kuat, ketimbang yang lemah. Ini seringnya hanya diartikan sebatas kuat fisiknya, sehat, tidak sakit-sakitan. Padahal ada makna yang jauh lebih konstruktif, bahwa muslim yang berada di posisi sentral lebih baik dibanding yang berada di posisi marginal. Sentral perekonomian, sentral kekuasaan, sentral aktivitas kemasyarakatan justru yang bersemangat mengeksplore adalah saudara-saudara kita dari kelompok-kelompok lain. Itulah kenapa berkah Ramadhan hanya dalam bentuk-bentuk yang non-materiil yang kita terima. Berkah materiil, berkah prepegan pendapatan, hanya bagi segelintir orang saja.

Kedoknya si Zuhud, tidak cinta dunia. Haha, apakah orang yang berkelimpahan omzet selalu cinta dunia? Ya, itulah dalilnya orang yang termaginalkan. Belum lagi dalil tambahan "Islam datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing." Miris, saya melihat kelompok yang bangga merasa dirinya terasing, padahal mereka sebetulnya bukan terasing dalam artian konstruktif, tapi mereka termarginalkan atau terpinggirkan akibat cara berpikir dan bergaul mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka memarginalkan diri.

Rasulullah SAW dan para sahabat terasing dulu, karena membawa cara berpikir baru yang memang asing bagi lingkungannya. Mereka bukan memarginalkan diri, justru mereka masuk ke sentral-sentral dari tiap-tiap sendi kehidupan, ekonomi, kekuasaan, kemasyarakatan dll. Lah sekarang, bukan cara berpikir baru yang mereka tawarkan, tapi mereka yang mengaku terasing adalah yang kaku dan tidak diterima masyarakat, serta merasa nyaman dengan keislamannya walau cuma dipinggir-pinggir saja.