9/30/09

Hanya Butuh Sedikit Lebih

“Lihatlah, berapa perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia? Cuma 0, 00 sekian detik dibanding saingannya. Berapa beda jarak juara renang dengan saingannnya? Mungkin hanya satu ruas jari! Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan! Sudah lebih terasa kekuatannya?” A Fuadi, Negeri Lima Menara.

9/28/09

Inspirator itu Dahsyat! Kalau Inspirator para Inspirator?

Mahatma Gandhi, menyebarkan empat ajaran untuk menentang kekejaman penjajah dengan cara non-kekerasan, dua diantara nama ajarannya adalah ahimsa dan swadesi.Gerakan sosial Mahatma Gandhi menginspirasi Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak di Amerika sana.

William Bill Gates meninggalkan bangku kuliah, berkutat di gudang merancang suatu teknologi baru, atas ketekunannya berkembanglah komputer, berkembang pula internet. Internet menginspirasi Onno W. Purbo untuk memperjuangkan penyebaran ilmu pengetahuan untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia hingga diakui dunia sebagai pemimpin dunia di bidang pengembangan IT berbasis masyarakat.

Result, hasil, adalah bonus. Dibalik berhasil atau tidaknya kita meng-create result, meraup bonus, sesungguhnya apa yang kita lakukan sudah amat luar biasa, bila ada satu orang saja terinspirasi oleh kita. Seandainya keberhasilan SBY bisa disebut hebat karena bisa menjadi seorang presiden, maka sesungguhnya Guru  SD SBY lebih hebat, karena beliau telah memberikan inspirasi untuknya.

Begitu spektakuler inspirasi itu, maka berikanlah dengan tulus...plooong...

10 Filosofi google

1. Fokuskan pada pengguna dan yang lainnya akan mengikuti.

Sejak awal, Google telah memfokuskan diri pada penyediaan pengalaman terbaik bagi pengguna. Sekalipun banyak perusahaan mengklaim akan memprioritaskan pelanggan terlebih dahulu, hanya sedikit yang mampu menahan godaan untuk membuat pengorbanan kecil untuk meningkatkan nilai pemegang saham. Google tetap menolak untuk membuat perubahan yang tidak menawarkan manfaat bagi pengguna yang mengunjungi situs:

* Antarmukanya jelas dan sederhana.
* Halaman dimuat dengan seketika.
* Iklan di hasil pencarian tidak pernah dijual kepada siapa pun.
* Pemasangan iklan di situs harus menawarkan isi yang relevan dan bukan sebagai gangguan.

Dengan selalu mengutamakan kepentingan pengguna, Google telah membangun khalayak yang paling setia di web. Dan pertumbuhan itu muncul bukan melalui kampanye iklan TV, tetapi dari mulut ke mulut antara satu pengguna yang puas ke pengguna lainnya.

2. Yang paling baik adalah melakukan satu hal dengan sempurna.

Google benar-benar mencari. Dengan salah satu grup penelitian terbesar di dunia yang memfokuskan secara eksklusif pada pemecahan masalah pencarian, kami tahu apa yang kami lakukan sebaik-baiknya, dan bagaimana kami dapat melakukannya dengan lebih baik. Melalui masalah sulit yang terjadi berulang-ulang secara terus-menerus, kami telah mampu menyelesaikan masalah yang kompleks dan menyediakan penyempurnaan yang berkelanjutan terhadap suatu layanan yang sudah dianggap terbaik di web dalam menemukan informasi secara cepat dan lancar bagi jutaan pengguna. Pengabdian kami untuk menyempurnakan pencarian juga telah memungkinkan kami menerapkan apa yang telah kami pelajari pada produk baru, termasuk Gmail, Google Desktop, dan Google Maps. Sambil kami melanjutkan membuat produk baru* seraya membuat pencarian yang semakin baik, harapan kami adalah menghadirkan kehebatan pencarian pada wilayah yang belum pernah disentuh sebelumnya, dan membantu pengguna mengakses serta menggunakan informasi yang jauh lebih luas dalam kehidupan mereka.

3. Cepat lebih baik daripada lambat.

Google percaya dengan kepuasan seketika. Anda menginginkan jawaban dan Anda menginginkannya sekarang juga. Siapa yang kita ajak berdebat? Google mungkin satu-satunya perusahaan di dunia yang tujuannya adalah membuat pengguna meninggalkan websitenya secepat mungkin. Dengan terobsesi secara fanatik untuk memotong setiap kelebihan bit dan byte dari halaman kami dan meningkatkan efisiensi lingkungan porsi kami, Google telah memecahkan waktu rekor kecepatannya sendiri dan ini terjadi berulang-ulang. Yang lainnya menganggap bahwa server yang besar adalah cara tercepat untuk menangani jumlah data yang luar biasa besar. Google merasa PC jaringan telah semakin cepat. Di mana yang lain menganggap batas kecepatan ditentukan oleh algoritma pencarian, Google menulis algoritma baru yang membuktikan bahwa sesungguhnya tidak ada batasan. Dan Google terus bekerja untuk membuat semuanya berjalan bahkan lebih cepat.

4. Demokrasi dalam web berjalan.

Google berhasil karena mengandalkan pada jutaan orang yang mengirim situs web untuk menentukan situs lain mana yang menawarkan konten yang bernilai. Daripada mengandalkan pada sekelompok editor atau semata-mata pada frekuensi kemunculan istilah tertentu, Google mengkategorikan setiap halaman web menggunakan teknik terobosan bernama PageRank™. PageRank menilai semua situs yang terhubung ke sebuah halaman web dan memberi nilai terhadapnya, antara lain berdasarkan situs yang terhubung ke mereka. Dengan menganalisis struktur penuh dari web, Google mampu menentukan situs mana yang telah “diberi nilai” sebagai sumber informasi terbaik melalui informasi paling menarik yang mereka tawarkan. Teknik ini sebenarnya semakin sempurna sejalan dengan semakin besarnya web, karena setiap situs baru merupakan titik lain bagi informasi dan pilihan yang harus diperhitungkan.

5. Anda tidak perlu berada di meja Anda untuk mendapatkan jawaban.

Dunia semakin bertambah mobile dan tidak ingin terhambat oleh lokasi yang menetap. Apakah itu melalui PDA mereka, ponsel mereka atau bahkan mobil mereka, orang menginginkan agar informasi datang kepada mereka. Inovasi Google di wilayah ini mencakup Google Number Search, yang mengurangi jumlah penekanan tombol yang dibutuhkan untuk menemukan data dari ponsel web dan sistem terjemahan sambil-jalan yang mengubah halaman tertulis dalam bentuk HTML ke format yang dapat dibaca oleh browser telepon. Sistem ini membuka jutaan halaman untuk dilihat dari perangkat yang mungkin tidak pernah terbayangkan mampu membukanya, termasuk perangkat Palm PDA dan i-mode Jepang, J-Sky, dan EZWeb. Ke mana pun pencarian akan membantu pengguna untuk memperoleh informasi yang mereka cari, Google memelopori teknologi baru dan menawarkan solusi baru.

6. Anda bisa mendapatkan uang tanpa melakukan kejahatan.

Google merupakan sebuah bisnis. Penerimaan yang dihasilkan oleh perusahaan diperoleh dari cara menawarkan teknologi pencarian kepada perusahaan dan dari penjualan iklan yang ditampilkan di Google dan di situs lainnya di seluruh web. Namun, Anda mungkin belum pernah melihat iklan di Google. Ini karena Google tidak mengizinkan iklan ditampilkan di halaman hasil temuan kami kecuali kalau iklan tersebut relevan dengan halaman hasil temuan yang diperlihatkan. Jadi, hanya pencarian tertentu yang memunculkan link sponsor di sebelah atas atau sisi kanan hasil pencarian. Google benar-benar percaya bahwa iklan dapat menyediakan informasi yang berguna jika, dan hanya jika, iklan tersebut relevan dengan yang ingin Anda temukan.

Google juga telah membuktikan bahwa pemasangan iklan dapat efektif tanpa harus mencolok. Google tidak menerima pemasangan iklan pop-up, yang mengganggu pandangan Anda terhadap konten yang Anda minta. Kami menemukan bahwa iklan teks (AdWords) yang relevan dengan orang yang membacanya akan jauh meningkatkan jumlah klik menuju situs iklan daripada iklan yang muncul secara acak. Kelompok penyempurna Google bekerja dengan pemasang iklan untuk meningkatkan jumlah klik menuju iklan sepanjang masa kampanye, karena jumlah klik yang tinggi merupakan suatu indikasi bahwa sebuah iklan relevan dengan minat pengguna. Para pengiklan, tidak perduli seberapa kecil atau besar, dapat mengambil manfaat dari media yang sangat spesifik dalam menargetkan penggunanya, baik melalui program iklan layanan sendiri yang menempatkan iklan online dalam beberapa menit, atau dengan bantuan perwakilan periklanan Google.

Pengiklan pada Google selalu teridentifikasi dengan jelas sebagai sebuah “Link Sponsor”. Ini merupakan nilai utama bagi Google karena tidak mempertaruhkan integritas hasil temuan kami. Kami tidak pernah memanipulasi peringkat untuk menempatkan mitra kami lebih tinggi di dalam hasil pencarian kami. Tidak seorang pun dapat membeli PageRank yang lebih baik. Pengguna kami percaya pada objektivitas Google dan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat tidak sebanding dengan merusak kepercayaan tersebut .

Ribuan pengiklan menggunakan program Google AdWords untuk mempromosikan produk mereka; dan kami percaya AdWords merupakan program terbesar di antara program yang sejenis. Lagi pula, ribuan manajer situs web mengambil keuntungan dari program Google AdSense untuk mengirimkan iklan yang relevan dengan isi situs mereka, sehingga meningkatkan kemampuan mereka untuk menghasilkan penerimaan dan meningkatkan pengalaman bagi pengguna mereka.

7. Selalu ada lebih banyak informasi di luar sana.

Setelah Google membuat indeks halaman HTML di Internet yang jauh lebih banyak daripada layanan pencarian lainnya, insinyur kami mengalihkan perhatian mereka ke informasi yang belum siap diakses. Terkadang ini hanyalah merupakan masalah penggabungan database baru, seperti penambahan fitur pencarian nomor telepon dan alamat serta buku alamat bisnis. Upaya lainnya membutuhkan kreativitas yang lebih, seperti menambahkan kemampuan untuk mencari miliaran gambar dan cara melihat halaman yang semula dibuat sebagai file PDF. Kepopuleran hasil PDF memandu kami untuk mengembangkan daftar jenis file yang dicari untuk mencakup dokumen dalam lusinan format seperti Microsoft Word, Excel dan PowerPoint. Bagi pengguna nirkabel, Google mengembangkan cara yang unik untuk menerjemahkan file dengan format HTML ke dalam format yang dapat dibaca oleh perangkat mobile. Daftar ini kemungkinan besar tidak berakhir di sana karena peneliti Google terus meneliti cara-cara untuk menghadirkan semua informasi dunia kepada pengguna yang mencari jawaban.

8. Kebutuhan akan informasi melintasi semua batas.

Walaupun Google berpusat di California, misi kami adalah memfasilitasi akses ke informasi bagi seluruh dunia, sehingga kami memiliki kantor di seluruh dunia. Untuk itu kami mempertahankan lusinan domain Internet dan melayani lebih dari separuh hasil pencarian kami kepada pengguna yang tinggal di luar Amerika. Hasil pencarian Google dapat dibatasi hingga halaman yang ditulis dalam lebih dari 35 bahasa menurut preferensi pengguna. Kami juga menawarkan fitur penerjemahan sehingga isi sebuah halaman web tersedia bagi pengguna tanpa memandang bahasa ibu mereka, dan bagi mereka yang tidak suka melakukan pencarian dalam bahasa Inggris, antarmuka Google dapat disesuaikan ke lebih dari 100 bahasa. Untuk mempercepat penambahan bahasa baru, Google menawarkan kesempatan bagi para relawan untuk membantu penerjemahan melalui peralatan otomatis yang tersedia di situs web Google.com. Proses ini telah meningkatkan baik variasi maupun kualitas layanan yang dapat kami tawarkan kepada pengguna, bahkan yang berada di penjuru dunia yang paling jauh sekalipun.

9. Anda bisa serius tanpa mengenakan setelan jas.

Pendiri Google telah sering mengatakan bahwa perusahaan hanya akan menekuni kegiatan pencarian, bukan kegiatan lain. Mereka membangun perusahaan dengan ide bahwa suatu pekerjaan sebaiknya yang menantang dan tantangan tersebut haruslah menyenangkan. Karena itu, budaya Google tidak sama seperti perusahaan Amerika lainnya, dan ini bukan karena lampu lava yang menyala di mana-mana dan bola karet besar yang bertebaran, atau fakta bahwa koki perusahaan pernah bekerja untuk Grateful Dead. Bila menyangkut soal layanan online, Google mendahulukan penggunanya, sama seperti cara Google Inc. memprioritaskan karyawan bila menyangkut soal kehidupan sehari-hari di kantor pusat Googleplex kami. Ada suatu tekanan pada prestasi dan kebanggaan tim dalam prestasi perorangan yang memberikan sumbangsih bagi keberhasilan perusahaan secara keseluruhan. Bertukar ide, diuji dan dipraktikkan dengan dengan kesigapan yang terkadang memusingkan. Rapat yang akan berlangsung berjam-jam di mana pun seringkali tidak lebih dari percakapan yang berlangsung sambil makan siang dan ruangan staf yang menulis kode hanya terpisah oleh beberapa dinding dari ruangan staf yang membuat cek. Lingkungan yang sangat komunikatif ini membantu pengembangan produktivitas dan persahabatan yang didorong oleh realitas bahwa jutaan orang mengandalkan hasil Google. Berikan peralatan yang benar ke sekelompok orang yang ingin membuat perbedaan, dan mereka akan melakukannya.

10. Hebat saja ternyata belum cukup.

Selalu memberi lebih dari yang diharapkan. Google tidak ingin menjadi yang terbaik di titik akhir, tetapi titik awal. Melalui inovasi dan pengulangan, Google mengambil sesuatu yang telah berjalan baik dan kemudian menyempurnakannya dengan cara yang tidak terduga. Pencarian bekerja baik untuk kata-kata yang dieja dengan benar, tapi bagaimana dengan yang salah ejaan? Seorang insinyur melihat suatu kebutuhan dan kemudian membuat program pemeriksa ejaan yang kelihatannya mampu membaca pikiran pengguna. Memerlukan waktu terlalu lama untuk mencari dari telepon WAP? Kelompok kerja nirkabel kami mengembangkan Google Number Search untuk mengurangi penekanan tombol dari tiga kali per huruf menjadi satu. Dengan jutaan pengguna, Google mampu mengidentifikasi titik pergeseran dengan cepat dan kemudian memuluskannya. Namun, titik perbedaan Google adalah untuk mengantisipasi kebutuhan yang belum disampaikan oleh khalayak global kami, kemudian mempertemukan kebutuhan itu dengan produk dan layanan yang menetapkan standar baru. Ketidakpuasan terhadap keadaan yang berlangsung terus-menerus ini pada akhirnya menjadi kekuatan pendorong di belakang mesin pencarian terbaik di dunia.

http://www.google.com/corporate/tenthings.html

Haus Naskah

Cepat saja Anda selesaikan naskahnya, lalu segera kirim ke penerbit
yang pas. Penerbit pun kadang memberikan masukan yg berarti. Skr
penerbit lg pada haus naskah.

ez

9/27/09

Agenda Ke Depan

Hari Ini :
-Merampungkan script
-Ashar
-Memenuhi permintaan obrolan dengan dengan salah seorang senior photoshop designer perihal SPC & All
-Mentul-mentul & Mumbul-mumbul
-Olymyc Swiming Pool
-Ketemu Manajer Mr. Agus
-Bongkar Stan
-Ke SPEC
-Jenguk Bintang di RS

Besok :
-Kantor pos
-Beres2 bekas wedang-ewdang L22
-Ke Pak Slamet Haeni
-Rapat koordinasi bidang Picang Ico
-Rapat koordinasi bidang Event
-Back up data
-Memenuhi janji dengan salah satu mahasiswa Ilkom UGM
-Pulang ke tanah air

Lusa :
-Peninjauan Sumpiuh
-Rapat Koordinasi bidang Warnet

Torehan Perubahan para Pemimpin Public

"Mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh."  Mahatma Gandhi

“Suatu hari cucu-cucu kita akan harus pergi ke museum untuk melihat seperti apa itu kemiskinan” - dikutip di "The Independent", 5 May 1996 Muhammad Yunus

“kesuksesan tidak cukup hanya dengan memiliki sumber daya, kesuksesan kita raih dengan keberanian mengambil setiap peluang” Rizky D Rahmawan

9/26/09

Tinggi & Meningkat, Pilih Mana

Si A mulai usaha dengan modal besar, dimodali orang tua, lalu berhasil, melesat, membuncah-buncah keuntungannya. Namun, perubahan terjadi, pesaing muncul, perlahan tapi pasti, ia tak dapat mengimbangi. Omzetnya yang semula 1 milyar turun perlahan hingga tinggal 800 juta, lalu 600 juta dan selanjutnya terus turun sampai stabil di angka 100 juta.

Si B, anak miskin, mulai usaha dengan mendompleng orang lain, mengasah keahlian dengan hitungan tahun, ketekunannya membuat karakternya terasah, keahliannya meningkat, talentanya cemerlang, relasinya meluas dan perlahan namun pasti rejekinya yang awalnya 390.000 meningkat jadi 1.000.000 lalu jadi 6.000.000 lalu jadi 42.000.000 lalu jadi 100.000.000.

Andaikan kita ada di posisi A, bayangkan dalam-dalam. Lalu klik kembali ke desktop, klik kanan dan refresh, lalu bayangkan kita ada di posisi B. Lalu apa jawaban atas pertanyaan ini : sesungguhnya apa yang kita cari dalam kehidupan ini?


Inspiring from : Naim (Word : Ternyata bukan uang...)

Trampolin Raksasa


Persis di samping stan Pisang Ijo yang kami buka di Owabong ada satu wahana keren dengan HTM 10.000, Trampolin Raksasa namanya. Karena kita sudah terlanjut akrab, maka nggak perlu bayar untuk masuk ke wahana itu.

Namanya juga trampolin, ya di dalam wahana kita lompat-lompat adanya, mumbul-mumbul istilahnya. Wah, asyik ngobrol dengan mas petugas tiket yang ternyata juga ta'mir masjid di dekat Owabong. "Mas, liat si gampang, weh, tapi kalo nyobain...", dan bla bla bla, panjang percakapannya.

Mas itu juga bercerita bahwa butuh waktu seminggu, dengan tiap hari mumbul-mumbul untuk bisa salto seperti mas nya, "jadi kalo pertama-tama ya mumbul-mumbul dulu mas." Cerita lainnya, ada salah seorang karyawan yang mengalami kegemukan, terus setiap hari main di trampolin raksasa itu, dan akhirnya berat badannya susut.

Yah, sedikitnya ada tiga pelajaran setelah saya ngobrol-ngobrol dan mencoba sendiri enaknya mumbul-mumbul, loncat-loncat lebih tinggi. Pertama : Kalau baru awal, siap-siap saja pegel-pegel dan badan ngrememeh, tapi kalu sudah beberapa kali bahkan sering, malah kalau nggak loncat-loncat badan kita jadi pegel, ini seperti hukum kebiasaan (habbit).

Kedua : Kalau baru awal, jangan maksain diri salto atau atraksi keren lainnya, sadarlah, semua butuh proses, mbok malah keseleo repot jadinya. Semuanya bertahap, rasakan feelnya dan asalkan istiqomah (konsisten) tiap hari juga akhirnya bisa trampil salto-salto tinggi-tinggi juga.

Ketiga : Manfaat dari sesuatu yang kita lakukan baru kita rasakan setelah lama, nggak instan, tapi sabar saja, asal rutin, pasti pada saatnya nanti manfaat akan kita tuai.

Dan pelajaran tambahannya : Pedekate lah dengan penjaha wahana, biar bisa masuk gratis, berulang-ulang...

Some Raeders Write, All Writer Read


Dari interaksi dengan sejumlah orang yang tertarik dunia tulis-menulis, ada satu hal yang sungguh bisa membedakan apa seseorang itu benar-benar menulis atau sekadar membicarakannya. Ketika menjadi instruktur menulis di visikata.com, saya kenalan dengan peserta dari Banda Aceh. Dia bekerja di sebuah LSM. Setiap kali kami mengadakan pertemuan rutin (chatting di ruang virtual situs itu), dia selalu sulit hadir, terlalu sibuk bekerja dan menyelesaikan tugas kantor---yang sebenarnya positif juga. Yang buruk buat kemampuan menulisnya ialah dia tetap kesulitan dan mengaku bahwa tugas menulis selalu membuatnya tertekan dan degdegan.

Kesimpulan saya: orang seperti dia kehabisan waktu buat menulis dan mencurahkan pikiran dan energi untuk benar-benar menyelesaikan tulisan.

Mengalokasikan waktu, mencurahkan pikiran dan energi akan benar-benar bisa membuat perbedaan dalam menulis. Setiap tulisan memang merupakan kerja (keras). Penulis harus duduk untuk menuangkan isi kepala pada kertas atau file di komputer. (Seperti saya sekarang saat menulis tentang topik ini. Saya duduk, meluangkan waktu, mengumpulkan energi, berkonsentrasi untuk menghasilkan tulisan yang berusaha fokus pada topik ini.)

Kondisi itu cukup sesuai dengan pengakuan Bagus Takwin---dosen Jurusan Psikologi Universitas Indonesia yang telah menghasilkan sejumlah buku. Saya bertanya kepadanya: "Persiapan apa yang paling penting dalam menulis?"

Jawab dia, "Kalau dari pengalamanku secara umum banyak baca. Lalu, secara khusus penting untuk meningkatkan sensitivitas." Bagus Takwin memang sudah melampaui tahap "bingung mau menulis apa." Meski begitu dia tetap butuh persiapan khusus ketika akan menulis. "Dari segi teknis, sangat penting tersedia rokok dan kopi serta air putih supaya tetap bisa menulis sambil mendapat kenikmatan kopi dan rokok serta terus minum air agar ginjal tidak rusak," tambahnya mengenai kebiasaan menulisnya.

Setiap orang punya kebiasaan tertentu ketika akan menulis. Semua penulis butuh waktu dan energi untuk betul-betul menghasilkan tulisan. Natalie Goldberg terus berseru: "Keep your hand moving!" (Terus gerakkan tanganmu!) untuk meyakinkan peserta workshop penulisannya benar-benar menulis, bukan berpikir mengenai isi tulisan atau khawatir soal bagus dan jelek tulisannya nanti.

Prinsip menulis Natalie Goldberg sangat sederhana:
(1) Keep your hand moving!
(2) Jangan mencoret, jangan mengedit waktu menulis.
(3) Jangan khawatir soal ejaan, tanda baca, tata bahasa.
(4) Lepaskan kontrol.
(5) Jangan berpikir, tidak mesti logis.
(6) Carilah urat nadinya.

Prinsip itu dia ulang-ulang secara konsisten. Soal baik dan buruk, itu soal nanti. Lagi pula ada proses editing (menyunting). Yang paling utama ialah menyempatkan diri untuk menulis dulu, sampai selesai.

Ada tulisan yang bisa cepat selesai baik karena pendek atau benar-benar sudah matang dalam isi kepala penulis, jadi tinggal menuangkan dalam tulisan. Bila begitu, penulis hanya butuh waktu sebentar untuk menulis. Bisa jadi mayoritas jurnalis (wartawan) yang bekerja di harian atau majalah mingguan harus punya kemampuan menulis cepat. Kalau tidak, tentu dia sudah dipecat. Saya pernah kenalan dengan seorang redaksi mingguan yang bisa beres menulis empat - lima artikel setiap minggu. Menakjubkan.

Tapi ada juga tulisan yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, baik karena sulit maupun banyak bahan yang harus diceritakan. (Bayangkan novel atau buku nonfiksi tebal yang butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.)

Bagi Bagus Takwin, minimal dalam sehari pasti ada yang dia baca dan tulis---walaupun sekarang alokasi waktu untuk menulisnya berubah-ubah. Dia butuh kira-kira dua - tiga jam untuk membaca dan menulis. Dia juga membiasakan diri menulis hal-hal yang menurutnya menarik sehabis baca buku, termasuk membuat catatan atau ide-ide yang terlintas.

Kalau saya lihat pola menulis Fenfen, biasanya dia menulis topik yang menarik minatnya. Terus meluangkan waktu, pikiran, dan energi untuk menuntaskannya dalam sekali waktu. Sepertinya ide dan isi kepalanya sudah merupakan tempat yang bagus untuk merancang tulisan. Sampai tulisan itu benar-benar tuntas (terpoles), dan siap untuk dikirim ke media massa atau diposting di Internet.

Pola menulis saya agak lain. Biasanya saya mulai dengan pointer topik yang akan ditulis, terus menjelajahinya sesuai pointer. Meski begitu, saya suka menuliskan segala lintasan pikiran, meskipun bisa jadi hal itu tak tertulis dalam pointer. Bila sudah merasa tuntas atau materinya cukup, tulisan itu dibaca ulang, saya perhatikan kepaduannya, lantas diedit. Mungkin karena percaya pada fase editing, saya cukup yakin bahwa setiap tulisan pada dasarnya bisa diubah-ubah komposisinya, diperbaiki, dan dinegosiasikan kembali oleh penulis.

Bila kasusnya penulis butuh waktu lama (bisa berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun) untuk menyelesaikan tulisan, kebiasaan dan rutinitas menulis jadi penting, atau dia harus menciptakan waktu khusus untuk menulis. Misal penulis paling punya waktu ideal sehabis subuh atau ketika anak-anaknya sudah ke sekolah semua. Manfaatkan secara maksimal waktu itu.

Untuk penulis pemula, menulis 10 - 25 menit setiap hari sudah sangat bagus untuk membangun kebiasaan menulis atau menyempurnakan tulisan yang tertunda kemarin. Untuk lebih memudahkan mulai menulis, Patricia L. Fry----yang telah menerbitkan 25 buku---memberi tips dari mana saja kita bisa memulai tulisan:

1/ Tulislah hal yang kamu tahu.
Ini nasihat paling prinsipil. Tulislah hal yang merupakan keahlian atau keunggulan kamu. Tulisan itu akan berisi dan penting. Perhatikan keterampilan yang kamu kuasai, apa ketertarikan dan hobi kamu, bakat kamu, termasuk pengalaman yang menurut kamu menarik untuk dibagikan kepada pembaca.

Hampir semua tulisan saya pasti mengenai hal yang saya tahu. Sesekali saya berusaha menulis tentang sesuatu yang saya agak buta atau sok tahu, hasilnya kerap mengecewakan.

2/ Tulis tentang hal yang ingin kamu ketahui.
Menulis tentang hal ini biasanya akan membawa kita pada pengetahuan baru, menjelajahi topik serupa, bahkan melakukan riset kecil-kecilan. Misal tentang "home schooling"; apa benar ini bisa dilakukan, bagaimana melakukannya, bagaimana dengan sertifikasi (bila anak benar-benar tidak sekolah formal), dan seterusnya.

3/ Berbagi pengalaman.
Orang itu suka berbagi, suka cerita, suka hal yang tak mereka miliki. Tulisan mengenai pengalaman yang bisa jadi unik biasanya bisa memudahkan penulis, karena dia benar-benar mengalaminya, juga menarik buat orang lain karena pembaca bisa jadi penasaran.

4/ Ceritakan/tulis pengalaman orang lain.
Sebagian orang lain suka bila namanya masuk dalam tulisan, koran, jadi pembicaraan, termasuk diwawancarai untuk media massa. Saya juga menulis tentang penulis lain atau sastrawan, orang yang bergerak di industri buku, baik sebagai narasumber maupun profil dalam artikel.

5/ Diam, perhatikan, dan dengarkan.
Perhatikan dunia sekitar kita. Ada banyak yang bisa ditulis. Orang lain merupakan sumber menakjubkan buat ide tulisan kita. Misal ketika saya mengajak Ilalang ke museum Siliwangi, sepulang dari sana saya terdorong menulis tentang nasionalisme, perjuangan, pelajaran PSPB, perang kemerdekaan, dan sejenis itu.

6/ Akrab dengan berita.
Berita selalu bisa merangsang kita untuk berkomentar dan mengembangkan pikiran. Apalagi bila berita itu mengenaskan, sensasional, sulit dipercaya, atau dramatik. Berita seperti itu sering bisa mendorong orang menulis. Berita tentang Prita, Dede si 'Manusia Pohon,' orang yang kesulitan ekonomi sampai tak bisa menguburkan anaknya... semua bisa jadi rangsang menulis yang hebat.

7/ Gunakan Internet.
Internet merupakan sumber subur bagi penulisan. Saya biasanya browse dulu sebelum menulis, baik untuk memperkaya wawasan atau mencari rujukan. Media massa juga berlangganan berita dari kantor berita lain untuk diberitakan kembali kepada pembca mereka.

8/ Tulislah dengan jujur.
Menulislah seperti kita bicara kepada teman. Alamiah. Apa yang benar-benar membuat kamu semangat? Memasak? Tulislah sesuatu tentang memasak. Apa kamu benar-benar ingin membuat perubahan? Kamu benar-benar bertentangan ide dengan pendapat orang lain? Tulislah ide dan keyakinanmu. Utarakan pendapat kamu. Kuatkan argumen kamu. Biasanya keyakinan yang kuat bisa menghasilkan tulisan yang berbeda dan mengesankan.[]12/09/09

Dari : Anwar Holid, editor dan penulis.
Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

9/24/09

Kehendak & Pendapatan

"Maka kritik yang seharusnya muncul dari masyarakat kritik ini adalah “kritik membangun yang mempertanyakan mengenai penyelewengan manusia atas diri pribadinya”, dan bersedia menyerahkan hak miliknya yang mutlak itu kepada orang lain dengan dalih mempertahankan eksistensinya di dunia sebagai makhluk yang hidup-padahal sebenarnya manusia yang hak miliknya telah dirampas itu lebih menyedihkan daripada kematian yang pula niscaya bagi setiap orang. Manusia itupun, jika hidup, hanyalah sebagai benda mati. Karena ia tidak mampu lagi berkehendak. Apa yang ia lakukan merupakan kehendak orang lain." Dewi Ramadhina.

Sampai sejauh ini perjalanan yang saya tempuh, masih tetap idealisme saya. Tidak rela saya menukarkan kehendak saya dengan penghasilan tetap, dengan menyerahkan segenap potensi yang saya miliki untuk sebuah institusi apapun, yang hanya memerah saya seperti robot.

Itulah beda definisi zona nyaman menurut saya dan mereka, zona nyaman bukan ketika ada yang menjamin kelangsungan hidup saya hitam di atas putih. Zona nyaman adalah ketika saya bisa mengeksplorasi diri saya, bebas berkehendak.

Memang saya punya tenanga dan otak yang bisa ditukar dengan uang bulanan, tapi saya tidak mau dua hal itu ditukarkan, sementara saya kehilangan tempat untuk satu hal yang lebih besar dari keduanya : Imajinasi.

Masih nyaman di dalam zona nyaman, itulah kesuksesan saya hingga hari ini.

9/22/09

Maaf, sekali lagi


Maaf memang tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi maaf bisa mempercantik masa kini dan masa depan... untuk orang2 yang belum plong memberi maaf ke Rizky, semoga...

9/21/09

Asiatic

Rumah makan termewah di Purwokerto menjadi saksi terlaksananya bukber tahun ke-5 angkatan 2005-nya SMA 2 Purwokerto. Dari 109 pendaftar by SMS, hanya 79 yang mengisi absen. Seperti digambarkan di grafik, warna biru menunjukkan kehadiran, dan warna merah menunjukkan kemangkiran.


Niat saya tahun depan tidak di tanah air, jadi tidak bisa mempanitiai lagi. Yah, kalau yang nggarap yang lain, mudah-mudahan lebih berbobot dan berkesan. Bagaimanapun, ini adalah bukber tersukses sepanjang sejarah alumni SMA 2 2005 di mata saya.
 
Terima kasih para donatur, sehingga acara bisa terlaksana gratis, sisa banyak malah. Dan terima kasih teman2 semua, walau obrolan-obrolan kita pendek tapi sangat berkesan malam itu.


9/19/09

Semakin

Semakin banyak kita membaca, semakin kita merasa tidak tahu banyak hal. (Mas Arif)

Kalau Anda membaca dari berbagai sumber sekaligus, Anda akan mempunyai kemungkinan lebih banyak mendapatkan hal-hal menarik (Mas Eko)

Saya Justru lebih menghargai data dari pengalaman Anda sendiri, ketimbang mengutip dari buku, koran atau media (Mas Bagja)


9/18/09

Sambal Tomat di Spesial


Awalnya biasa saja, lama-lama... lama-lama pedas juga, begitulah konfigurasi sambal tomat yang disajikan di warung depan GOR SATRIA yang saya kunjungi bersama dedengkot Fosma Pwt lainnya memenuhi traktiran Dian Ambon asal Lampung itu.

Senang, bisa melihat Ambar lahap makan, walau hanya makan tulang-tulang ayam, sisanya sendiri dan sisanya Arif. Setidaknya dia tidak kumat maag seperti yang sering terlihat. Di saat yang sama Arini sedang sakit, pusat pasi wajahnya.

Begitu, memang begitu perempuan, senengnya "maksa" terutama maksain diri, lha wong genah-genah punya maag, disuruh makan susahnya kayak disuruh ngangsu, begitu juga lha wong jelas-jelas pucat begitu tetep mau maksain bermalam di masjid malam itu (walau akhirnya nggak jadi).

Memelihara tubuh, juga kan ibadah to? Jangan maksain diri lah, diniatkan buat ngrumat titipan Gusti Ingkang Pinaring Urip.

Dan sambel tomat itu, biji cabenya pada ngumpul di bawah sehingga di awal nggak pedes, eh pas mau habis pedesnya menjadi-jadi.

9/16/09

Sudut Kritis

Dalam proses pembiasan cahaya, kita mengenal istilah sinar datang, garis normal dan sinar bias. Sudut kritis adalah sudut yang dibentuk antara garis normal dengan sinar bias.

Kritis itu perlu, agar kita tidak menjadi bebek yang setia mengekor, menjadi insan yang taqlid membuntut. Dalam beragama, awalilah dengan pertanyaan kritis, kenapa saya harus Islam, harus Nasrani atau harus Yahudi. Agar yang islam nantinya bukan hanya hati kita, tetapi juga rasa dan akal kita.

Begitu pula dalam bermanhaj, istilahnya, "Mari berilmu sebelum beragama", kenapa saya harus masuk golongan fundamental, harus masuk golongan moderat atau harus masuk golongan radikal.

Bertanya pula, kenapa saya harus berwirausaha, atau bekerja?

Kritis termasuk pada sudut-sudut yang kecil, ketika...(bersambung)

The Power of Love

Cinta, yang mampu meroketkan tindakan menjadi kebiasaan
Cinta, yang mampu mensublim kebosanan menjadi peningkatan

Penjual Sapu

Alhamdulillah, banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Saat ini Ibu sudah jadi kepala sekolah... ngantornya di SDN 4 Tanggeran, ya, deket2 Bekasi gitu deh.. . "Wah, ini anaknya bu Kepsek ya", haha, begitulah saya disapa sama guru-guru SD itu pas kemarin jujug Ibu ke sekolahnya.

Setelah dari SD, saya melanjutkan jujug Ibu ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten. Selesai itu, saatnya saya meluncur ke Banyumas lagi, ada janjian. Eit, tetapi sejenak belum beranjak dari Dinas Pendidikan perjalanan saya tertahan.

Berkaca-kaca mata saya, ada kakek tua jualan sapu ijuk. Dia pake baju memang si rapi, hem yang semi jas gitu, warnanya coklat tua, tapi saya tau, itu pasti baju lunsuran. Dia tidak pakai alas kaki, sandal jepitpun tidak... dan, dia pakai tongkat, ya, seorang tunanetra.

Sapu banyak di Moro, orang Dinas Pendidikan pasti gampang dan banyak yang sering ke Moro, apa si kakek itu laku jualan sapu? Apa keunggulan sapunya?

Bagaimana kalau sapunya cuma laku sedikit? Kalau nggak ada yang laku? Dimana rumah dia? sedangkan untuk belok dari area gedung ke pintu gerbang saja dia Alhamdulillah didekatnya pas ada orang, seorang bapak pejabat dinas pendidikan yang mengarahkan langkahnya.

Doa saya untuk kakek tua yang saya tak tahu namanya itu, saya terharu sungguh.

KebesaranMu

Kau tempatku mengadu hati
memberi segala hidup
dunia dan seisinya milik-Mu
mencintai-Mu sejati

ku manusia yang penuh dosa
berharap ampunan-Mu
lihat di langit kesempurnaan hati-Mu
Kau cinta pertama dalam hidup

Allahu Akbar Maha Besar
memuja-Mu begitu indah
selalu Kau berikan semua
kebesaran-Mu Tuhan

kebesaran-Mu Tuhan

::ST 12::

Membaca dan "Membaca"

Sebetulnya, kita itu tidak memiliki apa-apa. Terus, kalau sedekah, kita akan mendapat pengembalian 10x lipat, itu sebetulnya uang siapa?.. Bahkan 10x lipat itu adalah takaran minimal, bisa 70 bahkan 700 malahan tak terhingga kali lipatnya.

Apa uang yang kita sedekahkan itu milik kita? Bukan, kan? Itulah, ternyata "ikhlas" tidak sesederhana yang terpikirkan oleh saya dan banyak orang... Kalau definisi ikhlas adalah plong, lah, plong kenapa? orang kita tidak kehilangan apa-apa juga.

Salah satu bukti keistimewaan grand-design manusia, bahwa ternyata subyek sedekah itu bukan pada apa yang kita sedekahkan, tetapi lebih pada bagaimana manajemen hati (qalbu) kita pada saat proses itu kita putuskan untuk terjadi. Begitu juga subyek belajar, bukan pada buku dan media yang kita pelajari, tetapi bagaimana akal dan hati kita "membaca".

Nasihat untuk Rizky

Perbanyak ilmu-mu karena kelak kau akan jadi guru dan panutan untuk anak - anakmu,
Perbanyak Ibadahmu karena kelak kau akan jadi Imam untuk istri dan anak - anakmu,
Perbanyak dzikir karena kelak kau akan jadi penasihat untuk istri dan anak - anakmu,

Berpakaian-lah dengan taqwa, karena dengan itulah kau tampak tampan,
Berperilakulah sopan, dan setiap insan pasti akan menghormatimu,
Bersedekah-lah, untuk membersihkan diri dan hatimu,
Berbaktilah kepada Ibumu,lalu Ibumu,kemudian Ibumu, baru Ayahmu.
Perbanyak silaturahmi karena itu akan melapangkan rizkimu,

Jangan pernah mengeluh, kecuali kepada Allah, karena itu bukan sifatmu.
Jangan pernah menangis, kecuali karena engkau berbuat dosa,
Pedulilah kepada saudara - saudaramu, karena itu akan memudahkan urusanmu.
Senantiasalah bersyukur, karena dengan itu kau akan bertambah kaya,
Jagalah sedekah-mu, agar kau tetap terjaga dari segala kejahatan dan musibah,
Perbanyak tadarus Al-Qur’an, maka dengannya kau akan dapat inspirasi,

Jagalah matamu, maka hatimu akan bersih,
Ucapkanlah hanya kebaikan, niscaya akan merdu suaramu,
Kendalikan nafsumu, maka kau tak akan tersesat,
Laparkan perutmu (puasa), maka dengannya kau akan terjaga dari kehinaan,

Hormatilah wanita, maka dirimu akan Berharga.
Kenalilah Tuhanmu lebih dekat, niscaya dikabulkan semua do’a - do’a,
Senyumlah dengan ikhlas, niscaya hati akan senantiasa nyaman,
Kurangilah tertawamu (yg berlebih-lebihan), maka kau akan berwibawa,

Maafkanlah kesalahan yang pernah orang lakukan terhadapmu, dan satu dosamu akan terhapuskan,
Hapus dendam yg ada dihatimu, niscaya kau akan sembuh dari penyakitmu,
Tanamlah kebaikan disetiap langkahmu, niscaya dilangkah berikutnya kau akan menuai kembali jauh lebih banyak dari yang kau tanam,

Jangan pernah sombong sedikitpun walau dalam hati, maka Tuhan akan mengangkat derajatmu,
Selalulah berbaik sangka, maka orang lain pasti akan berbaik sangka pula terhadapmu,
Buanglah kata benci terhadap saudaramu, maka kau akan awet muda,dan tenang hatimu,
Do’akanlah selalu kebaikan untuk setiap orang, maka kebaikan akan selalu kau dapatkan,
Tidak ada kata sukar, jika kau memiliki kemauan,

Hiduplah semaumu dan lakukan sesukamu !!, tapi ingat kau pasti akan Mati.



::udhien.. ^_^ kompasianers::

9/15/09

Cap Cay Surabaya

Setelah kemarin kenyang dengan berta'jil bakwan, berpuncak nasi + capcay Surabaya buka puasa di SPEC. Hari ini untuk pertama kalinya terselenggara buka bersama di L22, sama, dengan capcay Surabaya. Bedanya, kali ini ada anekarupa jus, pisang ijo, kripik tempe, kripik tahu dan ada Meta, Ayu, Iswa, Defi.

Selamat mudik...

Exlusive Capture

 
Koordinasi sebelum dan memakai helm pada saat harus bergerak
 
Time to speak, time to sms, time to foto-foto
 
Menemukan sesuatu, yang lain biar berlalu
Sendiri-sendiri dulu
Permulaan yang baik
Sinergi... (Foto tengah : Bupati Purworejo)
Percepatan, pacu...
   Sejenak mengamati, sejenak berpikir
Ada saatnya harus turun sendiri
Ketika berbeda, selalukah dia salah dan aku yang paling benar?
Tergerak untuk ikut bergerak
Tempat kelahiran keputusan-keputusan besar itu,
tak pernah lagi lengang, selengang tempat ini

9/14/09

Persepsi

Bagi sebagian orang, ambisi saya terlalu besar... walau nggak bilang, tatapan mereka mengungkapkan "kemaruk lu..", memforsir diri. Antipati dan harus ditinggalkan orang seperti saya ini, atau hanya akan ter-rodi dalam satu jebakan aktivitas yang membuat dirinya mejadi tidak punya ruang dan waktu.

Bagi sebagian lainnya, target kehidupan saya terlalu sederhana, dalam alunan kata-katanya terbesit "apa nggak kepengen mengejar sesuatu yang jauh lebih berarti?", dan orang-orangpun menapaki jalannya sendiri, daripada tidak mendapat banyak kalau terus-terusan membersamai saya.

Itulah hidup, dengan sekian banyak sudut-sudut perspektifnya yang disebut persepsi. Yang saya pahami, hidup adalah perjalanan. Yang lebih penting dari memikirkan jalur perjalanannya adalah memikirkan bagaimana nalar pikir dan kepekaan rasa kita berkembang. Jalan adalah stimulan, alat pikir-rasa-renung dalam diri kita adalah subyek yang distimulasi.

Nggak mudeng? renungkan sendiri, kapan-kapan saya post yang lebih smart, kalau sudah kumpul data-datanya.

Energi Syukur

Julurkan kedua tangan di depan kita, sejajar dengan muka. Lalu perhatikan tangan kanan baik-baik? Apa yang terjadi dengan penglihatan kita terhadap tangan kiri? menjadi tidak jelas?

Tetap julurkan dengan posisi yang sama, pindah pandangan, fokuskan ke kiri baik-baik. Apa yang terjadi dengan penglihatan kita terhadap tangan kanan? menjadi kabur? Iya, betul sekali.

Kekuatan fokus kita tidak bisa dibagi dua, demikian juga bila dihadapan kita ada dua hal yang bisa kita tatap. Keluhan dan rasa syukur. Dulu, saya sering berdoa agar saya diberi keleluasaan untuk mengakses internet dan mendapat pengetahuan cara untuk semakin mengoptimalkan penggunaannya. Dulu sangat ingin sekali, tetapi saat ini, setelah itu tercapai, setelah untuk mengakses internet tidak perlu membayar di warnet, setelah menemukan banyak guru-guru di dunia maya dan segudang pengetahuan baru yang meningkatkan kemampuan saya untuk memanfaatkan kegunaan internet, muncul keinginan baru lagi.

Saya ingin ngaji, ingin menemukan majelis ilmu yang mengoptimalkan wawasan keislaman saya, menjadi muslim yang bukan sekedar abangan, menjadi generasi muslim yang rabbani. Ada dua pilihan fokus saya, pertama mensyukuri bahwa doa saya tentang internet sudah terkabul, atau kedua, mengeluh karena saya belum rajin ngaji karena belum menemukan majelis ilmu yang seperti saya idam-idamkan.

Lagi-lagi, janji Allah untuk orang yang bersyukur adalah akan mendapat tambahan nikmat, tetapi untuk orang yang mengeluh, bisa-bisa malah meneria azab. Bisa jadi kalau majelis ilmu yang saya dambakan adalah nikmat bagi saya, kenapa itu tidak kunjung tercapai adalah karena saya lebih fokus pada mengeluh karena belum menemukannya, disaat yang sama, karena fokus saya tidak bisa mendua, maka sayapun lupa bersyukur, sehingga energi syukur tidak bisa saya peroleh.

Belajar untuk bersyukur, dengan syukur yang lebih sempurna maka akan semakin kuat energi syukur yang saya dapatkan. Memang, lelah mengeluh, "hah, saya belum bisa ini ya..." atau " hah, saya kok gini ya", bandingkan dengan "Syukur banget sekarang saya gini", atau "Alhamdulillah, kalau ini dioptimalkan juga nantinya akan...".

Bagi orang yang bermadzhab otak kanan seperti saya, tentu tidak sulit untuk memahami, bahwa bersyukur itu tidak perlu menunggu suatu pencapaian besar tercapai dulu (karena pencapaian manusia selalu saja bertambah kalau yang lama sudah tercapai), tetapi dengan bersyukur, bisa jadi pencapaian yang kita inginkan hari ini akan tercapai sebagai bentuk tambahan nikmat dari Allah".

9/13/09

The Power of Habbit (Kebiasaan)

Kalau Arif RH mempunyai training The Power of Mind (pikiran), kalau Semangat Donk Indonesia mempunyai tulisan The Power of Action (tindakan), maka kali ini saya ingin berbicara mengenai The Power of Habbit (kebiasaan).

Kebiasaan adalah salah satu rahasia kehebatan manusia. Bayangkan, seorang yang terbiasa minum-minuman keras sambil nongkrong di gardu, saking kuatnya kebiasaan itu, bisa membuat dia menjaga jarak begitu jauh dengan keluarga bahkan Tuhannya.

Begitu juga, seorang yang mempunyai kebiasaan tilawah dan ibadah di masjid, saking kuatnya kebiasaan itu bisa membuat dia jauh dari nikmatnya rokok, mabok dan wanita.

Sebetulnya anak gardu tidak perlu heran melihat anak rohis sejati, "kok bisa ya dia tiap hari di masjid, apa nggak capek?bosen?", begitu juga anak masjid tidak perlu heran melihat preman-preman sejati beraksi, "kok bisa ya minum, nongkrong sepanjang tahun begitu?". Karena apa? karena sesungguhnya sesuatu yang sudah menjadi kebiasan seseorang, sekalipun bagi orang lain terlihat berat, tetapi baginya mah ringan-ringan saja.

Kata kuncinya adalah "menyenangkan". Menyenangkan adalah password untuk mengaktifkan salah satu potensi kehebatan manusia bernama habbit atau kebiasaan. Menurut penelitian, sangat sulit bagi seseorang untuk membangun kebiasaan, dengan pelatihan 40 hari, melakukan tindakan yang ingin menjadi kebiasaan kita, barulah kita berhasil. Begitu juga bila kita ingin mengubah kebiasaan. Oleh karena itu, hanya dengan membuatnya menyenangkanlah kita bisa bertahan secara konsisten selama 40 hari itu, dan suatu kebiasaan akan terbentuk.

Orang sukses adalah orang yang memiliki kebiasaan sukses, bukan orang yang di hari pertama semangatnya 99 dan dihari lainnya semangatnya 17, 16, 15 dan terus turun... . Justru yang memiliki semangat 35, tetapi bertahan terus, dialah yang akan lebih sukses.

Karena itu, berusahalah menjadi orang yang mengherankan, bantuklah satu kebiasaan hebat, ya dengan rumus itu, pelatihan 40 hari dengan password : menyenangkan. Ketika kebiasaan itu sudah terbentuk, bisa jadi kita sendiri ikut-ikutan heran pada diri kita sendiri, karena sesuatu yang dulu dipandang berat, "kok jadi ringan sekali sekarang ya?". Bahkan bisa-bisa kita malah jatuh sakit kalau tidak menjalankannya... Wah, dahsyat kan habbit itu?

Dongeng Motivasi

Anak SD itu masih fresh (kecuali yang kadung terjebak dalam pacaran dini, tak tau...), kalau disuruh menghafal nama-nama tokoh dan tanggal-tanggal bersejarah, biasanya cepet nyantolnya. Sayang disayang, setelah masuk kuliahan tinggal berapa persen saja yang tersisa.

Kalau anak SD seminggu sekali saja diberi dongeng motivasi, satu kisah yang membuka pintu imajinasi mereka ke ruang khayal tanpa batas, maka setidaknya ketika mereka tumbuh besar dan jadi anak kuliahan tidak terlalu banyak bersedih. Karena sekalipun hafalannya banyak yang sudah tidak nyantol lagi, tetapi ia masih bisa mengakses memory-memory dahsyat di ruang imajinasinya yang dulunya cuma impian menjadi satu pijakan-pijakan awal pencapaian hal besar di bidang yang mereka tekuni.

Guru hanya perlu 52 kisah saja kok untuk bisa mendongeni murid-muridnya seminggu sekali. dongeng motivasi dapat diakses contohnya di www.dongeng motivasi.com

Lalu ketika beranjak SMP dan SMA, dibekalilah mereka dengan ekstrakurikuler motivasi, skill people mereka bisa dilejitkan dengan 12 tema saja selama setahun, begitu pas SMP, begitu juga pas SMA. Sehingga dalam sebulan mereka bisa mengakses satu kajian keahlian dan materi pembangunan karakter yang bisa diterapkan sesuai bakat dan modalitas masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Berikutnya ketika terjun ke dunia kampuspun dibekali dengan aktivitas emosional-spiritual intelegent yang sama, belajar untuk hidup bersama dengan nilai-nilai "hidup bersama". Pendidikan yang kadung diberikan terlalu monoton sedari SD membuat mereka kesulitan menerapkan nilai-nilai kebersamaan dan kecakapan berkolaborasi, akibatnya, sekalipun mereka adalah orang pilihan yang masuk dalam organisasi sekolah, tetapi tetap saja monoton, tidak ada pengembangan organisasi, tidak pula perkembangan personal secara bersama, yang ada adalah siapa yang paling lelah dia yang paling berkembang, siapa yang ikut-ikutan saja lama-lama terkikis dengan sendirinya.

Dan setelah terjun ke masyarakat, seorang harus dibentuk menjadi pribadi yang "Be", sehingga dia tidak menjadi mesin produksi yang waktunya dibarterkan dengan gaji bulanan, keluarga terkesampingkan. "Be" atau menjadi seorang dengan statusnya yang sesuai dengan modal karakternya. pas SMP diajari untuk tahu, pas SMA diajari untuk bisa, pas kuliah diajari untuk terbiasa dan pas lulus diajari untuk bisa-menjadi.

Lalu pas SD diajari apa? pas SD diajari cara belajar yang benar, belajar yang benar itu menyenangkan, seberat apapun itu materinya.

Menuju Swasembada Selanjutnya

"Barang siapa bersyukur, maka akan Aku tambah nikmat bagimu..", Sedikit, 9 hal yang amat saya syukuri sampai sejauh ini. Swasembada Internet dan swasembada wisma, bandingkan dengan mereka yang tuna-internet apalagi yang tuna-wisma. Kita sih, sukanya membandingkan dengan mereka yang wismanya keren, mobilnya cakep dan uangnya banyak saja.

Semoga, dengan ungkapan syukur yang terus ditingkatan, akan semakin dibukakan jalan kita untuk swasembada-swasembada selanjutnya. Swasembada tajil untuk puasa Ramadhan (dan puasa sunnah kalau Ramadhan sudah selesai) juga sudah, lalu bagaimana swasembada pangan? Kita sudah ada produksi puyuh, tinggal dibangun warung ramesnya saja. Swasembada LCD juga sudah, tinggal colok, tinggal pakai, lalu bagaimana dengan swasembada transportasi? Sedang indent, sabar saja.

Nantinya akan swasembada Branding, dimana sekalipun kita tidak promosi, dunia akan memperbincangkan kita dan mengajak orang untuk datang ke kita. Lalu swasembada ide, dimana setiap unek-unek tinggal diimplementasikan, dan tentu saja harus ditekuni, apapun itu. Swasembada ibadah, menghabiskan akhir Ramadhan tahun depan di Masjidil Haram adalah sesuatu yang amat mungkin sekali untuk diupayakan.

Semoga, semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mencapai taraf kemakmurannya dengan keterbukaan mindset dan kekuatan karakter untuk tekun. Karena semakin kita makmur, semakin banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari tindakan kita, terinspirasi dan terbantu.

9 Picang Ico

Menjelang persiapan pembukaan stan di "Owabong Byur" banyak hal yang harus dikerjakan, mulai dari memenuhi ekuitas modal, penyiapan seragam, spanduk promo dan segala perlengkapannya. Es Picang Ico selama Ramadhan memiliki derajat Favorable yang excellent pula, ini patut kita Alhamdulillah-i juga.

Betapa tidak, kelembutan bubur dan citarasanya yang sudah jauh lebih lezat ditambah ditemukannya jaringan tempat baru di pusat jajanan barat alun-alun Purwokerto tentu menjadi satu titik terang tersendiri untuk pengembangan usaha pasca lebaran. Terlebih lagi dengan tingkat kelarisan yang luar biasa saat ini, kita tentunya semakin optimis akan pencapaian bila segenap instrumen pemasaran akhirnya bisa diterapkan semua pasca libur lebaran nanti. Untuk strategi-strategi brilian itu, tentu tidak diexpose disini, terlalu cantik kalau nanti ada yang menjiplak tetapi menjalankannya dengan tidak optimal. Ganbate Picang Ico!!

8 Beranda L22

Bukan cuma Facebook yang punya beranda, sekarang L22 juga punya, Alhamdulillah. Dibangun atas prakarsa dan keringat salh satunya Pak RT kita yang peduli. Alhamdulillah juga sekarang sudah ada tempat cuci piring lengkap dengan kesadaran mencuci piringnya, begitu juga Aula berstandar "21" di sisi kiri L22 juga sudah dirapihkan sedemikian rupa, atas peran dan keringat Pak RT juga.

Tinggal hall tengah saja yang berlum dirapihkan, dan penanaman kembali pot-pot yang usang. Memang aneh, Pak Bupati menebangi pohon diprotes, tapi taman sendiri pada tidak disiram sampai pada mati bunga-bunganya. Lepas dari semua itu, L22 telah berhasil dilipatgandakan nilai gunanya, dari sekedar seonggok bangunan tempat tidur dan transit, menjadi satu tempat yang bisa digunakan untuk berkumpul, bermusyawarah bahkan berhotspotan gratis dengan kecepatan akses yang excellent.

Kalau selama ini terlihat remeh, sejenak mari kita syukuri hal yang tidak sederhana ini, ...Alhamdulillah.

7 Selangkah Lebih Maju

Tanpa inovasi, kita akan terlibas. Betul saja, jejak-jejak strategi dan konsep event kita perlahan diikuti oleh orang lain. Yah, artinya tujuan kita menginspirasi orang kan tercapai. Namun begitu, saya sangat bangga, sekalipun sebagian orang menganggap even-even yang kita selenggarakan komersil, tetapi kita berkembang dengan pesat, begitu juga dampaknya.

Kalau toh soal  komersil, memang betul kita mencari uang, tapi apakah penarikan kesimpulan hanya berdasar atas ini? Kenapa tidak dilanjutkan dengan pertanyaan, "uang yang kita dapat digunakan untuk (membangun) apa si?". Lepas dari itu, kita amatlah berbeda dengan lembaga-lembaga yang jauh lebih formal, tetapi mempropagandakan sertifikat, menghadirkan tema dan pembicara yang tidak mutu dan cap jelek lainnya.

Alhamdulillah, tahap demi tahap terus meningkat. Awalnya hanya sekup kota, lalu merambah ke kota kecamatan, lalu luar kota. Yang awalnya dilaksanakan mandiri, lalu menggandeng organisasi resmi untuk, bahkan hingga mengundang pejabat pemerintahan, hingga bupati.

Dan Alhamdulillah, proses penjajakan kerjasama dengan salah satu lembaga profesi telah terjalin, tinggal realisasinya. Ini merupakan satu langkah yang membuat kita percaya diri, ya, kita selangkah lebih maju dari lainnya.

Dan bukan hanya soal metode penggandengan kerjasama, soal pengemasan acara juga diakui kita termasuk penyelenggara yang rapih. Dan yang patut disyukuri lainnya adalah soal tema, ada perkembangan tema dari yang semula berbasis psikologis murni, kini kita menemukan tema-tema yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan, segmentasi kita.

Pada saatnya nanti, bila unit-unit lainnya sudah bisa diandalkan melebihi unit ini, saya ingin mengajak kita semua meniru Jepang, sebuah negara yang berhasil makmur di sektor mandiri, dan karena kemakmurannya itu, Jepang mempunyai idealisme untuk memajukan pendidikan tanpa menjadikannya sebagai lahan bisnis.

Kesungguhan menggarap unit-unit bisnis akan menentukan cepat lambatnya unit-unit itu maju, dan akan berpengaruh pula pada cepat atau lambatnya idealisme Jepang itu bisa kita terapkan.

6 Masih Berfungsi Baik

SPC 18 Agustus kemarin memasuki usianya yang ke 4, gimana neh laporannya? Setelah sekian lama vakum dan tersendat, Alhamdulillah sekarang masih vakum. Namun, patut disyukuri, usulan salah satu pendirinya membeli Printer R230 untuk unit Warnet bisa didomplengi untuk cetak-cetak juga, sudah terlihat kemarin, hasilnya lebih memuaskan.

Bukan hanya itu, sampai saat ini alat produksi masih berfungsi baik. Dan alhamdulillahnya, disamping menemukan lebih banyak relasi tempat produksi yang lebih lengkap, sekarang SPC menemukan bahan baku yang jauh lebih murah. Akibatnya, marginpun lebih besar.

Walau masih tersendat, saya berpikir, masih sangat bisa ditata. Tunggu tanggal mainnya.

5 Mbok Cuci

Lama nggak main ke Laundry, biasanya nonton sinetron disana. Tapi dengar kabar terakhir, katanya ada perkembangan, "tenang saja mas, terhandle baik", begitu kata mbok cuci disana. Yah, saya percaya lah, nggak ada hasil yang didapatkan oleh seorang yang tahan banting, selain keberhasilan.

SL atau Semangat Londri, sebetulnya si nama resminya Londri Semangat, yah suka-suka pelanggan lah mau menamai apa. Yang penting sampai sejauh ini, membanggakan lah bisa bertahan, pasti nanti ada saat buat melejit.

4 More Fasilities

Masih eksis, bertahan dan memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang, Semangat Donk Training Center (SDTC), disaat lembaga serupa ada yang surut, ada yang gulung tikar, ada yang berubah haluan, dia masih menikmati fasilitas gratis full akses internet, sekretariat yang luas, nyaman, serbaguna, dengan ruang tidur yang cukup menampung banyak orang, ruang pertemuan berstandar "21" dan tentunya stempel dan fasilitas-fasilitas lainnya tanpa tertekan oleh target pendapatan pembiayaan.

Alhamdulillah, kalau diukur dengan target yang ingin dicapai, bisa jadi masih mengecewakan, begitu juga bila dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain yang berkapital kuat dan digerakkan oleh SDM berpendidikan memadai. Tetapi amat sangat bisa disyukuri, lembaga yang dibangun dari nol ini, dengan ekuitas modal, dan kapasitas pendidikan SDM yang terbatas bisa berkembang hingga sejauh ini dan masih bertahan dengan branding yang cukup baik.

Tingkatkan!

3 Awal yang Indah

Tidak ada sesuatu yang dimulai langsung ideal. seperti mencuci piring dan dicucikan piring, walau lebih lelah lelah mencuci sendiri, tetapi ada perasaan mongkog tersendiri yang tidak diperoleh bila piring dicucikan.

Pembenahan demi pembenahan di cabang pertama warnet Semangat terus dilakukan, memang membutuhkan waktu, juga membutuhkan kesabaran. Ke depan, dengan dukungan dari Semangat Donk Training Center (SDTC), Warnet ini berpotensi menjadi the agent of change of internet paradigm yang menurut Eko Laksono akan menjadi tonggak kebangkitan sistem pembelajaran di negeri ini.

Alhamdulillah, sejauh ini lancar dan semakin menantang kita untuk cerdas dan cekatan bermanuver.

2 Buka dengan Nasi + Telur Puyuh, dua kali

Apa si istimewanya telur puyuh? Selain ukurannya yang lebih kecil, tidak ada keisitmewaan lainnya kecuali ini citarasanya, masakan mbok Nur memang uenak tenan. Jan, ketagihanlah, kepengennya sering-sering saja.

Namun, yang lebih istimewa dari menu nasi telur puyuh ini adalah karena telurnya dari puyuh hasil ternak sendiri. Meskipun saya nggak urun banyak, tapi ya tetep namanya usaha bersama. Betul, puas beneer, puyuh-puyuh yang dibesarkan sudah bisa bertelor, telornya sudah bisa dimasak, dan masakannya udah bisa dimakan. Tempat makannya juga sudah dicuci.

Alhamdulillah, satu hal yang sangat patut disyukuri, kan? Terlebih lagi, dengan pengalaman "ngerumat" yang ada, hasil diskusi kemarin dengan orang-orang yang menghandle puyuh, ke depan memiliki perhitungan prospek yang bisa diandalkan. Oleh karena itu, secara lebih serius pengembangan usaha ini akan terus digalakkan. Semoga optimisme yang tergambar ini, bisa direalisasikan dalam waktu dekat menuju Umroh 2010.

1 Excellent

Semangat Donk Connection Point atau dikenal orang dengan SDCP saat ini terus berbenah meningkatkan kualitas dan kapasitasnya. Pelanggan, walau masih di bawah target tetapi sudah mencapai angka yang patut disyukuri.

Dengan dukungan perangkat Akses Point Edimax kini telah menghasilkan kekuatan sinyal (signal strength) yang EXCELLENT. Alhamdulillah, sinyal kuat SDCP lah, soalnya dulu kan sinyalnya masih "low", walau  se "low-low"nya tetap masih bersainglah dengan kecepatan koneksi wi-fi di tempat-tempat lain.

Alhamdulillah juga sudah bulan kedua SDCP Swasembada akses, sudah tidak disubsidi lagi oleh Anggaran Pusat. Dalam waktu dekat, kalau ini istiqomah pastinya akan meningkatkan kesejahteraan pengelolanya dan mampu menyerap SDM baru yang otomatis berimbas pada menurunnya angka pengangguran di Indonesia. Tingkatkan!

Onno W. Purbo tentu akan senang kalau SDCP bisa menjadi pioner perkembangan akses internet untuk segmen perumahan.

9/12/09

Kalau Bikin Mimpi, yang Khayal Sekalian

Banyak pihak yang dapat menghalangi kita mencapai sukses. Tetapi, tak satu pun yang bisa menghalangi Anda dari bermimpi. Mimpi satu-satunya aktivitas yang tidak bisa dibatasi orang lain. Seliar apa pun mimpi Anda, tak ada yang bisa mencegahnya. Yang penting setelah Anda bangun, Anda berusaha mewujudkannya.

Mimpi adalah pintu pembuka bagi sukses Anda. Mimpi Anda sekarang, menentukan hidup Anda beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, jika sekarang Anda tidak bermimpi, beberapa tahun ke depan Anda tidak menjadi apa pun.

:: Relon Star ::

Lagi, Soal Kebiasaan (Habbit)

"Terbiasa tidak belajar dan terbiasa belajar sama-sama memberikan kenyamanan. Karena, itu sama-sama memberikan efek keterbiasaan. Jika terbiasa tidak belajar namun tiba-tiba belajar, orang akan merasa tidak nyaman sehingga sangat mungkin ia akan kembali ke kenyamannnya semula. Begitu pula sebaliknya, jika orang-orang luar biasa seperti nama-nama di atas berhenti berkarya, mereka akan merasa tak nyaman dan tak betah. Sehingga, mereka akan kembali ke bentuk kenyamanannya semula. Jika pada akhirnya toh sama-sama nyaman, kenapa tidak memilih terbiasa belajar yang akan menjadikan kita luar biasa, meski awalnya tidak nyaman? Bagaimana menurut Anda?"

Dari : Eni Kusuma

9/11/09

Arti Kemenangan Seorang Pemimpin

Menjadi kurang tepat pernyataan orang yang bilang bahwa Indonesia kacau balau, terpuruk berantakan, karena alam mengutuk kita yang pada sembrono. Sepertinya ada pernyataan yang lebih tepat, kalau kita seperti ini memang sudah diatur sedemikian rupa oleh artis-artis kita di istana dan gedung dewan dengan sutradara dari negeri di barat, lebih barat dari negerinya Raam Punjabi.

1596 Belanda datang ke Indonesia, era penjajahan dimulai. 1626 VOC didirikan, alam Indonesia dikeruk untuk memperkaya pemerintahan Hindia Belanda. PDB tumbuh dengan baik, tapi rakyatnya miskin jelata tiada terkira. Buku-buku sejarah anak SD menyebutkan VOC dibubarkan tahun 1800. Apa betul?Saya tidak yakin... Mungkin yang punya Belanda dibubarkan, tapi diadopsi oleh negeri baratnya Belanda, jadi IMF, ADB & World Bank, sasarannya masih sama... kepulauan Hindia Belanda yang sekarang dikenal orang dengan nama beken INDONESIA.

1942 Belanda menyerah, penjajahan di Indonesia oleh Barat selesai. Gantian Jepang... 1945 Jepang menyerah. Catatan sejarah anak-anak SMP menyebutkan bahwa pada tahun itu naskah proklamasi dibacakan, kabar kemerdekaan disiarkan, pemerintahan dibentuk.

1947 penjajah Barat datang lagi dengan memboncengi kapal NICA, seorang guru Muhammadiyah yang belum ikut sertifikasi dan tidak pernah mendapat tunjangan fungsional memimpin perlawanan, Soedirman juga perlawanan lainnya gencar, ada agresi militer 1 dan 2 dan banyak lagi.

Sementara waktu mereka mungkin terusir. Soekarno yang tidak suka dengan cara Barat yang mengiming2i bantuan tapi selalu minta pamrih lebih akrab dengan blok Timur. Merasa nggak Ce-Es sama Amerika, maka CIA pun beraksi, Soekarno Guling dengan cara yang sadis, jutaan manusia di Jawa Timur dan Bali jadi korban, 7 Jenderal yang dibunuh beritanya dibesar-besarkan (ya, mirip isu terorisme sekarang lah mungkin).

Soeharto pun naik, tim ekonomi disusun sedemikian rupa biar nurut dengan Barat. Parah, KRI Irian yang ditakuti bangsa2 lain, hanya karena belinya dari Sovietpun dibiarkan berkarat dan dibesituakan. Kiblat pindah ke Barat, baratnya Arab.

Sampai jaman berorde reformasi, orang-orang anti-amerika dibuat gagap, orang-orang ekonomi pro barat yang mau insaf ditekan sedemikian rupa agar mau menduduki jabatan. Yang pro disponsori, aliran dana pemilu yang begitu "wah" tidak kunjung terusut, ada uang Barat disana.

Nah, kapan berarti Indonesia pernah merdeka?

Yang dapat jabatan, dialah yang menang, boleh atur kebijakan, boleh alirkan uang kemana Barat inginkan. Boleh tebang pohon sembarangan (buang sampah sembarangan, kencing sembarangan juga lama-lama boleh mungkin).

Pemerintah memang tetap dari dulu tukang merintah, karena merekapun diperintah. Menang, karena boleh memerintah suka-suka. Kalau ada yang protes, ada kontroversi, diamkan saja, nanti juga diam sendiri. Menang, karena jadi anak kesayangan paman, paman Sam BREENGSEKKKK!!!!

Hayu lah, menjadi Indonesia!!!

Ayu

Orang yang banyak ide, di negeri kita banyak? Orang yang bekerja keras, di negeri kita juga banyak? Tapi, hanya sedikit orang yang punya ide-ide besar dan berani menuangkannya dalam tindakan-tindakan nyata untuk membuatnya terwujud.

Setahun di OSIS, dapat jabatan yang cucok banget saya, Sekbid OPPK, kependekan dari Organisasi Pendidikan Politik dan Kepemimpinan. Setahun berkubang di ruangan letter L sekretariat kami, dengan satu unit PC baru yang wah karena Pentium 4, walau belum nyambung internet, saya mendapat banyak hal disitu.
Bahwa tiduri di mebel penerima tamu itu uenak, bahwa berdua-duaan di remang-remangnya senja, mengetik di pojokan sekre bersama orang secantik Pramudita Ayu yang hari ini ulang tahun adalah hal yang mengguncang jantung, menantang mata, palagi baju identitas yang dia pakai waktu itu…. (sudah tidak usah diteruskan, tidak terjadi apa-apa kok)

Dan bahwa disana banyak orang-orang berbakat, Rahayu “Ayu” Fajri salah satunya. Kompak sekali kami, salah satunya adalah saat mempersiapkan perhelatan akbar HUT SMA 2 yang waktu itu, membuat bazar dan menutup seluruh lapangan. Sebuah acara besar yang panitianya hanya mendapat jatah konsumsi rames, sayur kentang tanpa sendok.

Asyik, dapat kaos waktu itu, hitam dengan tepiannya putih, bertuliskan judul acara itu. Kaos biasa mungkin, cotton combat yang diragukan ke-100%-annya. Tetapi kaos itu buat saya adalah inspirasi tersendiri, bagaimana ketika di awal saya hanya ditunjukkan draftnya oleh Ayu eh dihari berikutnya menjadi kaos beneran. Hueh, memang dahsyat sensasi ketika sebuah mimpi terwujud.

Begitulah, kami berbincang banyak hal, bahkan hingga selesai jadi OSIS, sama-sama menjemput ujian. Begitu juga pas mau daftar kuliah, sempat makan bareng-bareng rame-rame. Salah satu yang terkesan dari dia adalah idealismenya itu, dia menjadi dirinya sendiri, menjadi orang yang punya imajinasi besar, menentang arus, melewati batas kelaziman bahkan batas hal-hal yang tabu. Dan yang terpenting, dia berani menuangkannya dalam tindakan.

Pekerja keras yang imajinatif, kalau semakin banyak generasi bangsa ini yang seperti itu, maka hebatlah kita. Begitulah Ayu, entah saya begitu nyambung karena kita banyak kecocokan, atau memang dianya saja yang supel, hingga sampai sekaranpun masih berkomunikasi, walau cuma lewat dunia maya. Lepas dari semua itu, saya dan Ayu tidak ada apa-apa kok.

Hehh!!!! Belum Saatnya Kita di Tepuk Tangani...

Mungkin ini saatnya kita bergagal-gagal ria, untuk menemukan jurus sebanyak-banyaknya melanjutkan perjalanan sukses. Mungkin ini saat dicaci-caci jenaka, dibilang nggak menghasilkan, dibilang ngga bisa mempertahankan ini dan itu, dibilang nggak bisa memelihara anu dan ono.

Mungkin ini saatnya ditinggalkan ceria,oleh orang-orang yang nggak tahan sama nasib yang tak kunjung berubah, oleh relasi yang lebih memilih mitra-mitra yang lebih profesional. Mungkin ini saatnya berpuasa-puasa nikmat, semuanya dibawah target, nggak nutup ini dan itu, utang bertambah disini dan disitu.

Bukankah kalau terburu-buru sukses, kita sendiri yang repot. Jadi lebay, jadi nggak resisten, nggak benar-benar kokoh. Toh yang terpenting, kita suda berusaha seoptimal mungkin. Sekali lagi ukurannya bukan targetnya sudah tercapai atau belum, ukurannya adalah kita sudah bergerak dari titik awal atau belum.

Apa alasan yang kita punyai hingga kita ingin orang bertepuk tangan pada langkah kita, hehh jangan sok, kita tuh belum seberapa... prihatin dulu... tirakat dulu... nggak ada alasan udah terlalu lama, baru juga beberapa tahun.

Pasrah si Pasrah, tapi Diikat juga Donk

Sekali waktu saya berdialog, saya dengan lagaknya menyampaikan "rejeki itu di tangan Tuhan, bukan di tangan negara, bukan di tangan perusahaan, jadi bukan satu keharusan kita harus punya NIP harus punya jabatan dulu baru merasa ayem hidup kita". Yah, sekalipun kata-kata ini terlalu utopis bagi sebagian orang, toh saya bangga saya masih memegang idealisme kata-kata itu.

Yang saya ajak dialog menjawab yang intinya, bukannya nggak percaya rezeki di tangan Tuhan, tapi ingat kisah sebuah kejadian di zaman sahabat, seorang sahabat meninggalkan untanya saat menunaikan sholat dengan mengatakan sudah memasrahkannya kepada Allah SWT, tapi kemudian SAW mengingatkan agar unta itu diikatkan terlebih dahulu.

Sebuah pembelaan, pasrah si pasrah, tapi tetap ikhtiar donk. Yap, betul sekali itu, bukan berarti kalau percaya rejeki di tangan Tuhan itu, dengan kita banyak-banyak sholat saja nanti uang pada berdatangan sendiri. Pertanyaannya sekarang, apakah "tali pengikat unta" yang kita gunakan untuk menjamin rezeki kita?

Mungkin sebagian orang berpendapat tali pengikat unta itu adalah NIP dan NIK, tapi menurut saya bukan. Tali pengikat yang membuat rezeki kita aman, yang merupakan bentuk ikhtiar kita sembari memasrahkan dengan keyakinan penuh bahwa rezeki di tangan Tuhan bukanlah jabatan atau status, tali pengikat itu adalah Skill.

Skill atau keahlian, inilah yang membuat kita punya how to representating ourself, sesuatu yang kita punyai dan bernilai guna bagi orang lain. Skill inilah yang membuat kita bisa produktif dan mandiri tanpa menyandarkan nasib kita pada negara atau perusahaan.

Andri punya skill menghitung dengan ketelitian tinggi. Fikry punya skill public speaking yang menginspirasi. Rhea punya skill untuk bermuka tebal jatuh  bangun mempertahankan usaha (menuruni gurunya, Mas Hendro). Mengandalkan skill itu jauh lebih baik ketimbang mengandalkan jabatan dan status.

Itulah tali pengikat unta, ikhtiar kita sembari memasrahkan dengan keyakinan penuh bahwa rezeki di tangan Tuhan. Lalu, kalau skill adalah tali, apa donk karakter itu? Karakter itu adalah stadium akhir dari habite (kebiasaan), kebiasaan sendiri adalah stadium lanjutan dari tindakan, oleh karena itu karakter merupakan sesuatu yang dahsyat. Kalau skill merupakan bagian dari sisi intelektual, maka karakter adalah bagian dari sisi emosional. Karena itu karakter adalah rantai pengikat lengkap dengan gemboknya.

So, kalau menurut kamu status dan jabatan itu sesuatu yang istimewa untuk diraih, maka tanamkanlah pemahaman mulai hari ini bahwa skill itu jauh lebih istimewa lagi, bahwa karakter jauuuh lebih istimewa lagi... Maka, kalau status dan jabatan itu menurutmu membanggakan, jauh lebih berbanggalah kita bila mengenali dan mampu mengembangkan skill dan karakter kita.

Misterti 6 kata : Saya, Bogor, Purwokerto, Rumah, Habbit & Riya'

Saya adalah subyek yang merupakan topik dari tulisan ini

Bogor, Purwokerto, Rumah
Di Bogor, hampir bahkan selalu tidak pernah tidak punya waktu untuk sekedar olahraga pagi jalan-jalan keliling Kebun Raya Bogor... seeetiap pagi, minimal satu setengah jam, cabut dari Shubuhan di Masjid teruus jalan sampai kira-kira jam 7-an, ditutup dengan sarapan ketan bakar langganan saya.

Di Purwokerto, kalau ada Adzan biasanya lebih berat melangkah ke Masjid, walau kadang juga masih sering (gimana si, kadang apa sering jane???) sholat di rumah.

Di Rumah, mungkin karena kebiasaan ngaji pas kecil tidak terestafet dengan baik ketika saya beranjak SMP dan SMA, makanya lebih berat sholat di rumah ketimbang ke mushola.


Habbit (Kebiasaan) & Riya'
Tiga tempat, tiga beda, pas di Bogor hampir setiap pagi sholat shubuh juga di Masjid (beberapa bulan terakhir disana) , sholat2 lainnya tentu saja lebih entenglah. Aneh ya, kenapa coba? padahal jarak masjid di Bogor, di Purwokerto dan di Rumah hampir sama ketiga-tiganya dengan rumah.

Lalu kenapa di sana ringan dan di sini berat? Inilah yang saya coba pikirkan, semoga dengan baru memikirkannya saja (apalagi sekarang sudah menuliskannya) sudah merupakan suatu hidayah, saya kepikirannya adalah bahwa ternyata yang berat itu bukan persoalan melangkahkan kaki, yang berat adalah keluar dari belenggu kebiasaan atau habbit.

lah iya, perkara melangkahkan kaki, perkara pakai sarung, perkara ambil wudhu kan sama? Waktu shubuh, dhuhur, maghrib juga kan sama. Ternyata memang diri kita itu hebat ya, salah satu kehebatannya ya itu, bisa membuat langkah kaki jadi ringan, setengah ringan dan berat. Hufh, itu berarti musti hati-hati nih sama diri kita sendiri, tapi juga itu berarti mustinya kita bisa smart memanfaatkan potensi hebat dalam diri kita. Lho, kalau itu diaplikasikan ke hal yang positif kan dahsyat luar biasa.

Yah, setelah menemukan jawaban penyebab saya kenapa begini begitu, sebenarnya saya tahu teorinya, bahwa membuat kebiasaan itu mudah, cukup lakukan hal yang kita jadikan kebiasaan itu selama 40 hari tanpa putus, Yusuf Mansyur mengatakan ini dengan istilah Riyadhah 40. Berarti begitu juga dalam mengubah kebiasaan, cukup lakukan itu 4o hari.

Dan sebenarnya timing-pun sudah DIA sediakan, 30 hari Ramadhan, 1 hari Idul Fitri, 6 hari Puasa Syawal dan 3 hari sisanya hari biasa, itung-itung magang. Sayang saya belum optimal memanfaatkannya.Setidaknya walau belum berhasil mengadakan reformasi diri dalam soal ini, saya bersyukur atas 3 hal.

Pertama, saya masih disadarkan atas ini (walau baru sadar doank). Kedua, saya tahu teori yang seharusnya saya praktekkan. Ketiga, saya masih disadarkan untuk mensyukuri apa yang saya sadari ini.

Dan semoga saya tidak terjebak dalam riya', karena katanya kan kalau kita ibadah ditempat umum beda dengan saat kita ibadah sendirian, bisa jadi selisih perbedaan itu adalah riya'. Saya berdoa semoga saja tidak. Amin...

3 Tahap Renaisans Indonesia

Pertama adalah membangun Optimisme Massal
Salah satunya dengan menyebarkan visur-visur motivasi, sekalipun dikritik hanya ber-efek 7 hari, sudah, tutup kuping saja. Itulah sifat dimensi emosi kita, yang penting perulangan harus selalu dan harus dilakukan. SDTC punya peranan besar dalam mengupayakan ini. Yang perlu digaris bawahi (maaf disini saya belum nemu fasilitas undirline...) adalah kata "Massal", inilah bedanya dengan sekedar membangun optimisme saja.

Dimana bedanya, bedanya kita harus terstruktur, poresional, tidak cukup hanya berbagi seikhlasnya, pas ada waktu luang doang, atau sekedar memberi yang gratis-gratis. Harus ada program yang memang dijalankan dengan strategi untuk menjadi besar, sehingga jumlah orang yang terbangun optimismenya betul-betul besar dan menggemparkan

Kedua adalah membangun Kepemimpinan Massal
Kepemimpinan yang mengurus bangsa ini saat ini belumlah mandiri, masih dimandori oleh pihak asing, sebuah kekuatan yang bukan hanya mengintervensi, tetapi betul-betul mencengkeram kuat. Itulah kenapa logo Hypermart mengalahkan "warung kelontomh mamieh", KFC mengalahkan "pecel madiun". Mana ada "mendoan Purwokerto", "tahu slawi" yang balihonya sebesar starbuck dan McDonald di mal-mal terbesar negeri kita.

Pemimpin-pemimpin kita harus ditumbangkan, diganti generasinya menjadi pemimpin yang  mengerti bahwa dia adalah mandat rakyat, bukan mandat Bank Dunia atau ADB atau Australia. Ini sulit, tapi inilah ujian pembangunan optimisme kita, oleh karena itu proses ini dijalankan sembari proses pertama masih tetap dijalankan.

Kita harus menyadari bahwa mengubah para pemimpin kita yang sudah menjadi pejabat itu adalah hal yang lebih dari sekedar sulit. Oleh karena itu, kita harus menciptakan orang-orang biasa, generasi muda, setiap elemen rakyat menjadi pemimpin bagi lingkup mereka sendiri, sehingga kepemimpinan dijiwai secara massal, baik oleh pejabat maupun yang bukan pejabat.

Ketiga adalah membangun Pendidikan Massal
Kita tak perlu mengimpor guru, ada Yohanes Surya, ada Onno W Pubo, ada Kak Seto Mulyadi, ada Dedy Mizwar, ada Habibie, ada banyak sekali orang-orang expert yang siap menjadi guru bangsa tanpa menuntut imbalan uang dan fasilitas.

Orang-orang terbaik yang diakui dunia ada di sini. Dan kita harus tahu, Indonesia merupakan salah satu negara termaju dalam luasnya jangkauan pembangunan jaringan internet, terutama Wi-fi Access. Maka pendidikan massal yang bukan hanya sekedar menuntut materi, tetapi pendidikan yang mengantarkan anak-anak didiknya menemukan kesenangannya, memberikan keleluasan mencurahkan inspirasinya, membangkitkan mereka untuk berani berimajinasi, bermimpi besar, akan membuat renaisans Indonesia seperti kebangkitan Eropa atau restorasi Indonesia seperti kebangkitan Jepang. Syaratnya, massal, tidak cukup dengan seminar-seminar pendidikan lokal, harus terstruktur, harus terencana, sekalipun mahal.

Ketiganya tidak harus dilakukan berurutan, tetapi lakukanlah bersama-sama. Nanti pada saatnya, pendidikan yang baik akan melahirkan kepemimpinan yang luhur, kepemimpinan yang luhur akan melahirkan optimisme yang terpelihara. Bangkit Indonesia!!! Saya akan bukan hanya sekedar nulis...(dari dulu juga sebetulnya kita sudah bergerak).

9/9/09

Jangan terlalu Kuatirkan Celaan

Shock, jelaslah. Begitulah kalau kita disalahkan, apalagi untuk ukuran orang seperti saya ini yang memiliki "delay switch" terlalu bagus makanya reaktif pisaan... Tapi, kalau dipikir, direnungkan dan dibiarkan berlalu beberapa saat, shock itu tiba-tiba pudar dengan sendirinya.

Al kisah pada jaman dahulu kala ketika saya masih berseragam putih biru, saya punya seorang sepupu yang sudah SMA, seorang primadona, di akademik selalu juara, begitu juga di olahraga... perfect nian nih orang, begitu pikir banyak orang mungkin. Yah, sepupu saya gitu...

Ceritanya pada waktu itu dia berbuat satu kesalahan, mbolos apa yah.. wualah, begitu kabar itu sampai ke telinga ibundanya yang tidak lain adalah bude saya, maka dimarahilah si pria perfect itu. Setelah durasi marah-marah habis, barulah dengan relaks tanpa membangkang sepupu saya komentar, "lah, aku biasanya dapat nilai bagus, mbolos sehari aja dimarahin. Lah tuh si Tono (bukan nama sebenarnya) yang biasa nongkrong-nongkrong, baru dapet nilai 7 sekali dipuji-puji minta ampun".

Haha, ceritanya si sepupu saya ni protes, kemana prestasi dia selama ini, seolah ludes semua gara-gara satu kesalahan. Padahal tetangganya yang nggak jelas, baru rajin sehari saja dielu-elukan dengan pujian dengan begitu mendayu-dayu.

Begitulah, hati-hati dengan pujian dan jangan terlalu kuwatir dengan celaan. Bisa jadi kita dicela, bukan karena kita berbuat terlalu parah, tetapi karena orang itu begitu kecewa pada kita yang sebelumnya dipandang istimewa, eh menurun sedikit keistimewaan kita. Berarti kita istimewa kan...

Begitu juga hati-hati dengan pujian, bisa jadi kita dipuji bukan karena prestasi kita memang luar biasa. Tetapi karena memang selama ini tidak pernah menelurkan prestasi dan sekali-kalinya tumbenan menelurkan prestasi. Berarti kita ... ah, sebut saja sendiri.

Ambil hikmahnya sendiri-sendiri ya... Salam Semangat!

Bersyukur saat Salah

The way of life kita, Islam, betapa begitu kuatnya menekankan pada kita tentang arti penting menjauhi pesimisme. Pesimisme memang merupakan konsep diri yang merusak, bahkan lebih parah dari itu pesimisme bisa dikatakan dekat sekali dengan kufur nikmat, malah berbahaya lagi kalau sampai di klaim orang sebagai bunuh diri secara halus.

Yah, tentu saya masih perlu banyak belajar lagi soal ini. Namun demikian, ada baiknya memang kita meningkatkan kesungguhan kita dalam menghindari rasa pesimis yang berujung pada sikap destruktif. Kok parah nemen sampai dibilang pesimisme itu sebagai bunuh diri? Loh ya iya, bukan bunuh diri fisik, tapi bunuh diri potensi, bunuh diri impian, bunuh diri karakter, apa nggak bahaya tuh.

Saya tidak bermaksud menafsirkan salah satu ayat dalam Al Quran ini : “Sesungguhnya orang yang beriman itu apabila disebut Nama Allah bergetar, ... “, hanya ingin berbagi, pernah dulu dalam suatu kajian disampaikan apa yang dimaksud tergetar itu? ternyata bahwa kejadian yang paling sederhana, yakni ketika mendengar ayat Allah hati kita lalu tertuju mengingat-Nya, itu juga sudah disebut tergetar, karena kita tahu hati itu lembut, begitu juga getarannya.


Lalu berikutnya, bahwa Adzan itu merupakan panggilan sholat, tetapi tidak semua orang bergegas sholat bila mendengar adzan. Pernah saya mendapat ilmu di suatu kajian, bahwa tumbuh rasa tidak nyaman ketika tahu bahwa seharusnya bergegas sholat tetapi dirinya diam saja itu juga berarti dia telah mendapat hidayah.


Jangan diartikan definisi orang beriman itu sesederhana itu atau kalau ada adzan dicueki saja loh ya, tetapi yang ingin saya sampaikan bahwasannya, hal sekecil apapun pandanglah positifnya. Termasuk bila kita berbuat dosa, yakin deh tidak ada satupun dari kita yang tak pernah berbuat dosa, lalu kalau kita berbuat dosa dan memperbaiki, maka bersyukurlah itu. Kalau kita berbuat dosa tapi belum bisa memperbaiki, tapi kita sudah menyadarinya, tetap juga itu sudah layak untuk disyukuri.


Begitu juga kalau bebruat dosa, kita tidak menyadarinya lalu ada orang yang menegur kita mengingatkan, itu juga disyukuri. Begitu juga kalau berbuat dosa, tidak menyadarinya dan tidak ada yang mengingatkan, tapi membaca tulisan ini, juga disyukuri itu.


Simetrik dengan pernyataan orang Jawa yang selalu ada untung, kalau kecelakan, bilang "untung slamet ya ngger..", kalau patah tulang tangan, bilang "untung nggak patah kaki ya nduk", dan seterusnya.


Oleh sebab itu, kita orang Jawa, terlebih orang Islam mesti bisa belajar lebih banyak untuk memahami optimisme dengan cara bersyukur pada sekecil-kecilnya hal, bahkan pada sejelek-jeleknya kesalahan. 

Semoga bisa ditangkap pesannya...

9/8/09

Huda, Fikry dan Naim

BSD cerah berawan, begitulah keadaan Bumi Sumpiuh Damai sore ini. Online sepanjang hari sambil menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, sesekali onlen dengan orang-orang nun jauh disana, beberapa dari Purwokerto.

Tiba-tiba saya teringat dengan tiga sosok yang menjadi judul postingan ini, orang-orang mengesankan, calon pemimpin-pemimpin yang diakui expertisenya dibidangnya. Betul ini, tiga, bahkan dua belas lainnya tak ada yang saya pandang sebagai "kacung", atau sekedar bawahan. Struktur itu terlalu nisbi, dimata saya dari dulu, mereka adalah potensi-potensi dahsyat bagi diri mereka sendiri.

Dasar narsis memang, bahkan sebelum menceritakan apa yang ingin saya ceritakan tentang mereka, saya ingin bercerita tentang diri saya sendiri. Masih ingat dulu, saya pernah menulis, "saya memang leadermu, tapi saya juga manusia, tolong tetap perlakukanlah sebagai teman, sebagai sahabat".

Ini betul lagi, menjadi leader itu tidak mudah, saya tidak mengharapkan hierarki saya lebih tinggi, tetapi untuk satu dan beberapa sebab, saya dipaksa untuk pada saat-saat tertentu saya harus "kongkon" dan menempatkan posisi saya lebih tinggi. Yah, perang batin itu biasa, ditafsirkan dengan multiintrepretasi juga harus dibiasakan. Bagaimana ketika saya mencoba menjaga arah dengan kuat tetapi dibilang antikritik. Ketika mencoba meneladankan all out ditengah-tengah orang yang setengah all out dibilang mendominasi. Dan banyak lagi.

Habibie juga begitu, ketika mencoba mempersembahkan pesawat buatan sendiri sebagai karya terbaik putra bangsa dibilang orang Habibie tidak bisa membaca keadaan, masyarakat itu butuh beras bukan butuh itu. Ketika pesawat kita dibarter dengan ketan hitam, dibilang produk ciptaan habibie cuma sekelas ketan hitam.

Betapa banyak orang yang buru-buru mengambil speaker tanpa bercermin terlebih dahulu si. Hey, masuk ke inti.

Huda

Karakter kepemimpinannya adalah tekun dan peduli. Menjadi pribadi yang dicintai sampai dijuluki oleh Bintang "Kaki Huda" tentu tidak mudah, bagaimana kedekatan Daffa hingga papa dan mamanya Daffa juga satu prestasi yang terabaikan padahal pantas diberi jempol.

Keberhasilannya dalam liak-liuk dan tersendat-sendatnya pendirian kedaulatan pemancar SDCP hingga mencapai 9 pelanggan patutlah dibri tepukan tangan dan sekedar ditraktir makan-makan. SDCP telah swasembada bandwith ditandai dengan mulai membayar sendirinya langganan internet per Agustus 2009 lalu.

Ketekunan dalam mengerjakan, sekalipun itu adalah hal kecil adalah satu budaya mental yang membuat dirinya jarang sekali mengeluh. Keluhan adalah sumber lahirnya energi negatif dan itu sedikit sekali ditemukan di diri Huda. Huda akan menjadi pemimpin besar, pemimpin bukan dalam artian jabatan, tetapi menjadi orang yang expert yang akan spektakuler karena mampu memberikan imbas manfaat bagi jauh lebih banyak orang. Kalau hari ini baru 9 rumah terbantu oleh ketelatenannya mensolder dan menyambung kabel, maka seperti prajurit Rasulullah yang baru 300 orang di medan Badar dan 30.000 orang di tahun ke-9 Hijriyah, pertumbuhan kemanfaatan akan berlipat dalam skala yang tidak terbendung.


Fikry

Karakter kepemimpinannya adalah tegas dan tahan banting. Berbeda dengan yang lainnya kalau motornya dipinjam hanya menyindir halus "mbok ya motornya sekali-kali dicuci", Fikry dengan tegas kemarin mengatakan, "motor tolong dicuci!".

Terlalu berperasaan halus tidaklah baik dalam visi kepemimpinan, ketegasan memang semacam kekhasan karakter kepemimpinan yang dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin yang lahir dan dibesarkan di tanah bukan Jawa.

Gagal membuat Jus Gledek, beralih ke Serabi, gagal menemukan ide-ide segar setelah sekian lama "menyepi" di kawah candradimuka L22, Kini aktif lagi dengan menarik dan mendorong gerobak Jus Gledek. Bukan hal yang mudah untuk bertahan, sama seperti Bung Karno yang Orator, Fikrypun seorang pembicara, trainer, yang biasa dipandang dan didayu-dayukan dengan pujian dimuka umum, sungguh bukan hal yang mudah untuk bertahan, dipenjara dalam penjara Banceu berukuran seselonjor kaki dengan hanya satu lubang untuk melihat selama 8 bulan, bukan hal yang mudah pula terkungkung dalam kevakuman ide dan gairah bertindak berbulan-bulan dalam cutinya kuliah.

Karakter adalah potensi, potensi orang-orang yang mengatakan "ah, saya tak punya apa-apa", sesungguhnya perasaan tak punya apa-apa adalah karena dia tidak mengembangkan karakternya dengan all out, yang bisa jadi karena dia sendiri tak mengenal apa sesungguhnya karakter yang sudah ada pada dirinya.

Karakter adalah potensi, potensi luar biasa. Visi memang ukuran kebesaran suatu kepemimpinan, tetapi yang menentukan akan menjadi seberapa besar kualitas kepemimpinan kita nanti, yang utama adalah karakter kita. Dalam training ESQ karakter diajarkan pada sesi Character Building, sebuah implementasi dari aktivitas mendirikan sholat. Betapa pentingnya karakter, mungkin ini salah satu sebab kenapa sholatpun menjadi demikian penting, menjadi indikator utama amal kita, menjadi password, pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada kita nanti. Karakter tegas Fikry patut saya teladani.



Naim

Karakter kepemimpinannya adalah loyal dan visioner. Kalau Huda mengesankan saya karena ketekunannya mensolder kabel demi SDCP tanpa menuntut fasilitasi, Fikry mengucapkan perintah dengan tegas karena memang benar, maka saya terkesan pada Naim karena kemarin memanjatkan dua buah degan (buah kelapa muda) untuk buka puasa saya dan keluarga.

Apa yang unik dari memanjat pohon kelapa? Yang unik adalah karena dia tidak sahur di pagi harinya, dan bukan hanya itu, dia tidak buka puasa dengan nasi kemarin sorenya. Luar biasa, berapa banyak orang yang mengeluh karena kesiangan sahur, lah ini malah tidak sahur, juga tidak buka.

Apa tidak kangen baru ketemu nasi setelah lewat 36 jam, atau bahkan lebih mungkin? Loyalitas Naim sungguh luar biasa, bukan satu loyalitas yang terbentuk akibat konsekuensi penerimaan hak, tetapi karena kepekaannya dalam memahami keadaan dan kecerdasannya dalam mengambil sikap. Tidak sembarang loyalitas yang bisa membuahkan inisiatif.

Naim, bukan karena lupa dia tidak berbuka puasa. Tapi karena satu inisiatif, mengadakan acara malam Nuzulul Quran di Masjid di kompleks rumahnya, memboncengkan pembicara menembus angin malam, berangkat ba'da maghrib dan mengantarkan kembali si pembicara tengah malamnya. Lalu inisiatif lainnya adalah memfotokopi surat, tanpa meminta saya mengeprintkan ulang, tanpa menuntut pengajuan anggaran dan membagikannya di hari berikutnya ke Banjarnegara.

Kalau saya diposisinya, pasti akan berpikir, "Ini tidak seimbang, antara apa yang saya dapat dengan lelahnya saya, buat apa diteruskan? buat apa saya loyal? buat apa saya inisiatif?", Naim jauh lebih visioner ketimbang saya.