9/13/09

Dongeng Motivasi

Anak SD itu masih fresh (kecuali yang kadung terjebak dalam pacaran dini, tak tau...), kalau disuruh menghafal nama-nama tokoh dan tanggal-tanggal bersejarah, biasanya cepet nyantolnya. Sayang disayang, setelah masuk kuliahan tinggal berapa persen saja yang tersisa.

Kalau anak SD seminggu sekali saja diberi dongeng motivasi, satu kisah yang membuka pintu imajinasi mereka ke ruang khayal tanpa batas, maka setidaknya ketika mereka tumbuh besar dan jadi anak kuliahan tidak terlalu banyak bersedih. Karena sekalipun hafalannya banyak yang sudah tidak nyantol lagi, tetapi ia masih bisa mengakses memory-memory dahsyat di ruang imajinasinya yang dulunya cuma impian menjadi satu pijakan-pijakan awal pencapaian hal besar di bidang yang mereka tekuni.

Guru hanya perlu 52 kisah saja kok untuk bisa mendongeni murid-muridnya seminggu sekali. dongeng motivasi dapat diakses contohnya di www.dongeng motivasi.com

Lalu ketika beranjak SMP dan SMA, dibekalilah mereka dengan ekstrakurikuler motivasi, skill people mereka bisa dilejitkan dengan 12 tema saja selama setahun, begitu pas SMP, begitu juga pas SMA. Sehingga dalam sebulan mereka bisa mengakses satu kajian keahlian dan materi pembangunan karakter yang bisa diterapkan sesuai bakat dan modalitas masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Berikutnya ketika terjun ke dunia kampuspun dibekali dengan aktivitas emosional-spiritual intelegent yang sama, belajar untuk hidup bersama dengan nilai-nilai "hidup bersama". Pendidikan yang kadung diberikan terlalu monoton sedari SD membuat mereka kesulitan menerapkan nilai-nilai kebersamaan dan kecakapan berkolaborasi, akibatnya, sekalipun mereka adalah orang pilihan yang masuk dalam organisasi sekolah, tetapi tetap saja monoton, tidak ada pengembangan organisasi, tidak pula perkembangan personal secara bersama, yang ada adalah siapa yang paling lelah dia yang paling berkembang, siapa yang ikut-ikutan saja lama-lama terkikis dengan sendirinya.

Dan setelah terjun ke masyarakat, seorang harus dibentuk menjadi pribadi yang "Be", sehingga dia tidak menjadi mesin produksi yang waktunya dibarterkan dengan gaji bulanan, keluarga terkesampingkan. "Be" atau menjadi seorang dengan statusnya yang sesuai dengan modal karakternya. pas SMP diajari untuk tahu, pas SMA diajari untuk bisa, pas kuliah diajari untuk terbiasa dan pas lulus diajari untuk bisa-menjadi.

Lalu pas SD diajari apa? pas SD diajari cara belajar yang benar, belajar yang benar itu menyenangkan, seberat apapun itu materinya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment