4/20/12

Bob Sadino 40 tahun, Kita Max 12 tahun saja

Tahun 2006, tahunnya merajut mimpi. Zaman dimana Mandiri belum membuat WMM, Alanda Kariza belum membuat Indonesi Youth Conference, apalagi IYCS. Dan kita sudah mulai menjalankan mimpi saat itu.

Tahun 2007, tahunnya beryakin-yakin. Nyatanya satu demi satu keyakinan terbentuk, yang pasang iklan berdatangan, mengadakan training mulai tidak merugi. Modal yakin, lembaga pelatihan pelajar pertama di kota ini didirikan. Walaupun saat itu belum me-link ke dunia luar, karena masih cupet, karena akses internet masih hanya didapatkan dari warnet. Komputerpun baru hanya satu.

Tahun 2008, tahunnya action. Uang yang terkumpul dihambur-hamburkan membuat ini dan itu, yang penting action dulu. Dan memang betul, lebih banyak yang rugi daripada yang bertahan. Beberapa bertahan dan tidak ada yang untung.

Tahun 2009, tahunnya spirit dicoba. Yang spiritnya untuk jadi tim hore, yang spiritnya karena rikuh pekewuh, yang spiritnya karena sebuah tujuan besar, yang tetap bertahan, yang mulai mendua, yang memisahkan diri. Oh, jadi cuma segitu?

Tahun 2010, tahunnya knowledge. Merasionalisasi yang ada, membandingkan dengan gerakan serupa di daerah-daerah lain dan diibukota. Knowledge yang menguatkan satu sisi, juga mementahkan satu sisi. Terpilah-pilahlah, bidang mana yang harus dipertahankan, mana yang harus dikembangkan, mana yang harus ditinggalkan, mana yang harus digadaikan.

Tahun 2011, tahunnya idea. Itulah kenapa hobinya mengotak-atik peluang kompetisi businessplan, ada puluhan ide ditulis-tulis dalam kertas, sebagian dicoba diwujudkan, sebagian cuma berhenti di kertas, tapi yang pasti dari semuanya tidak ada yang kesampaian.

Tahun 2012, tahunnya fokus. Ya memang seperti ini kurikulumnya, kalau terlalu dini fokus, misalnya di tahun 2009 sudah fokus, kita tidak akan sekaya sekarang atas idea dan knowlegde, kita tidak sekuat sekarang atas spirit. Dan benar-benar baru tahu sekarang, ketika kita fokus menggarap satu bidang tertentu, memperkenalkan kepada siapa saja tentang bidang kita itu, satu persatu bertubi-tubi tiada henti kita bertemu dengan orang-orang yang berpotensi menjadi leverage kita.

Dari Pak Muhaimin sampai Pak Slamet, dari Wangsa Jelita sampai Bina Swadaya, sudah terjalin tinggal dilanjutkan. Dan kemudian dari Ustadz Rofieq sampai Pak Banani Makmur (Bapake Ulil), Soon.

Dan masih ada 5 tahun lagi. Nikmati saja, karena bukankah sukses yang kita maksud tidak sekerdil sebatas bisa membeli mobil, atau umroh setahun sekali, atau membangun beberapa pesantren yang mengajarkan nilai-nilai akhlak menggunakan pengetahuan pedalangan? Oh, lebih dari itu jelas. Jadi, kalau sebelum 5 tahun lagi, misalnya tahun depan, eum, tidak, maksudnya tahun ini sudah ada mobil, sudah terbeli itu rumah, ya, itu memang bukan tujuan kok, itu semua alat. Betul?

2013 tahun positif, ya, mungkin di tahun ini Indonesia sudah menyambut dan menghitung keberadaan kita. 2014 tahun memilih, bisa jadi akan ada konflik besar semacam paregreg disini, ya, diantisipasi dari sekarang saja, egois-egoisnya disadari, biar nanti kalau menggurita mudah dipangkasnya. 2015 tahun sinergi, eum, sudah sejajar mungkin dengan semacam Sandiaga Uno dan Chairul Tanjung sehingga orang-orang macam mereka mengajak kita bersinergi. 2016 adalah tahun Love, anak-anak kita sudah masuk playgroup mungkin, dan 2017 tahun sukses, kalaupun di tahun ini mati, sudah seperti Sudirman lah, pemuda satu daerah:Banyumas, yang tidak habis-habis ditulis kiprah dan prestasinya.

Itu pakem sukses versi Kording 12 step saja, 12 tahun saja, maksimal, yang lima terakhir, mungkin benar, mungkin tidak.

1 comment:

  1. hore... tim hore jadi apa ya...

    ReplyDelete