9/26/10

Hikayat Kelahiran Bedug

Waktu itu Islam belum lama datang di tanah Jawa, tanah Jawa yang masyarakatnya belum mengenal kalkulator apalagi kamus bahasa Arab, masih tradisional pokoknya.

Setelah beberapa orang di kelompok masyarakat itu bisa syahadat, selanjutnya mereka diajari sholat. Maka, dibangunlah sebuah masjid yang sederhana dan diserahkanlah pengurusan masjid itu kepada seorang warga bersama Tarmin.

Tarmin juga yang biasa adzan disitu, hari berganti hari si Tarmo yang masuk Islam dan mengaji materi "Fundamental Islam" bersama Tarmin jarang sholat Dhuhur dan Ashar berjamaah di masjid, lalu ditegurlah dia, "kamu kok nggak ikut sholat jamaah Dhuhur dan Ashar?"

Si Tarmo menjawab, "Lah, saya di kebon, nggak denger kamu Adzan, makanya beli mic & Toa donk?!", Lalu si Tarmin menjawab, "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada toko yang jualan mic & Toa!".

"Oh iya, lupa...", kata Tarmo. "Kalau begitu begini saja, itu ada kayu bolong kalau dipukul kan lumayan keras bunyi 'thong-thong-thong' nya, nah, kalau kamu mau Adzan, dipukul dulu ya yang keras biar aku tahu bahwa sebentar lagi Adzan", lanjut Tarmo.

"Ah, ribet amat si, tinggal kamu lihat jam si kenapa, kira2 sendiri sudah masuk waktu sholat apa belum...", Sanggah Tarmin. "He, ini settingnya jaman tradisional, belum ada jam! lupa ya?!", jawab Tarmo. "Oh iya, lupa....", balas Tarmin.

"Baiklah, aku tabuh kayu itu ya kalau mau Adzan, tapi kamu gotong gih ke depan masjid", lanjut Tarmin.

Sejak saat itu, tiap dengar 'thong-thong-thong', Tarmo segera bergegas dari kebonnya dan menuju masjid. Dia tidak pernah lagi ketinggalan jamaah karena sebuah benda yang kemudian diberi nama "Kenthong", karena bunyinya tang thong-thong-thong itu.

Nah, yang kebonnya lebih jauh tidak bisa mendengar jelas itu kenthong, apalagi anak-anak biasa mainan menabuh-menabuh kayu. Daripada salah pendengaran atau tidak terdengar, ada orang lain yang kebonnya lebih jauh dari Tarmo urun kulit sapi yang dibundarkan di atas kayu yang kalau dipukul bunyinya "dug-dug-dug".

Lambat laun benda itu dikenal dengan nama bedug karena bunyinya yang 'dug-dug-dug'. Karena tarmin sudah ribuan hari menabuh itu dua benda, maka lambat laun jadi tidak sekedar menabuh tetapi muncul irama tertentu seperti yang terdengar sekarang ini.

Dan karena kayu bolong dan kulit sapi itu sering kehujanan, maka diiubkanlah di di serambi masjid. Tidak lama berselang setelah kebiasaan itu terbentuk, kiai yang mengajar ngaji Tarmin dan Tarmo ditangkap penjajah Belanda.

Kejamnya penjajah Belanda, kiai yang baik itu diasingkan dan ditukar dengan kiai palsu yang pekerjaannya menyelewengkan aqidah. Walhasil, masyarakah Jawa yang tradisional, sederhana dan miskin wawasan itu beberapa ada yang mensyariatkan kenthong dan bedug sebagai syarat sah sebuah masjid.

Begitulah, tidak selang berapa lama berlalu, Tarmo, Tarmin dan gurunya dianggap sesat karena menggunakan benda-benda itu. Mungkin pendapat dari orang yang menganggap sesat itu, seandainya Tarmo tidak usah menggunakan benda-benda itu, dan tidak usah mendengar orang adzan karena jauhnya ladang, itu bisa jadi dianggap tidak sesat. (*Aneh...)

Sebagaimana di judul, ini cuma hikayat, hikayat itu cuma ngarang... jadi ini bukan teks sejarah kelahiran bedug ya, jangan dicap sesat saya.

Sekedar ingin mengajak berpikir, bahwa yang mutlak benar itu Al Quran dan Hadits. Dengan kata lain, selain Al Quran dan Hadits semuanya mempunyai kemungkinan salah. Nah, cara dan hasil tafsil Al Quran dan Hadits itu bagian dari Al Quran dan Hadits itu sendiri atau bukan? Kalau bukan, berarti itupun mungkin salah.

CMIIW

No comments:

Post a Comment