9/30/11

Berhenti

Welingnya Ki Nur, juga welingnya Mas Arif, guru-guru terbaik saya mereka itu. Guru yang tidak sekadar menggariskan hukum kurikulum, tapi menorehkan keikhlasan untuk memahami murid-muridnya. welingnya begini, "berhentilah belajar!".

Dan betul, aku berhenti ke kampus dengan segala urusannya, dari utang kampus yang dua juta, sampai utangku mbayar SPP. Aku juga berhenti nonton Mario Teguh. Berhenti datang ke training-training, termasuk ESQ. Berhenti membaca buku. Bahkan yang lebih parah, beberapa hari ini juga berhenti membuka mushaf. Tapi tentu tidak berhenti membaca Quran donk, kan alfatihah 17 kali sehari minimal sehari.

Ini masih terkait dengan tiga hal yang kita dibutakan oleh sekolah, 1)ilmu yang kita serap bagaimana kita menggunakannya, 2)diri kita itu sejatinya siapa dan kedudukannya dimana, 3)masalah real disekeliling kita itu sejatinya bagaimana.

Berhenti belajar yang dimaksud Mas Arif dan Ki Nur bagiku adalah berhenti menyimak text-text, berhenti kulakan knowledge-knowledge yang hanya untuk ditumpuk, sampai-sampai membuat otak kita penuh sesak bak rak-rak perpustakaan.

Maka lengkapnya nasehat mereka adalah "berhentilah 'belajar' agar kamu bisa segera mulai 'Belajar'". Ya, belajar dari, 'Fil afaqi', dan belajar dari diri kita sendiri 'wa fii anfusihim'.

Ya, aku meninggalkan belajar dalam definisi legal formal. Tapi aku tidak pernah mengabaikan perkembangan proses upgrading level fikriyahku.


1 comment:

  1. persis seperti yang pernah d sampaikan oleh Bob Sadino...

    ReplyDelete