2/7/11

Bernyawa Sembilankah Kamu?

Kali ini saya dengar dari Danang, teman baik saya. Seorang peworo entrepreneurship ulung, yang setelah bosan berbisnis, ia penasaran mencoba peruntungannya di PNS, dan walhasil tak disangka ternyata diterima. Dalam ke-PNS-annya sepertinya hidupnya belum berakhir, PNS belum menjadi surga baginya, makanya dia masih suka berceletuk aneh.

Salah satunya adalah celetuk pertanyaan di FB nya beberapa hari yang lalu : Lebih baik hidup biasa, tapi berkecukupan, atau hidup spesial, dengan segala resiko konsekuensinya?

Diantara pemberi komen ada yang menjawab, mending hidup biasa, ada juga yang mengatakan lebih baik hidup spesial. Ya, hidup adalah pilihan. Bagi yang merasa nyawanya 9 dan umurnya lama, hidup biasa itu menyenangkan, tapi bagi mereka yang sadar nyawanya satu dan waktunya sebentar, akan sangat sayang kalau hidup kok tidak dibuat spesial.

Ini mungkin lebih bisa menjelaskan ketimbang postingan saya beberapa waktu yang lalu tentang Jangan Samakan Mereka. Bukan soal pegawai dan penguasaha secara profesi dalam artian sempit perbandingan kemuliaan itu, tapi pada visi besar dan visi kecil yang terwakili oleh dominasi masing-masing golongan itu.

Kalau Anda termasuk orang yang menjawab pertanyaan Danang itu dengan jawaban pertama, koreksilah pengertian Anda tentang arti hidup, Anda belum memahami arti hidup Anda sendiri. Kalau Anda termasuk penjawab jawaban kedua, juga koreksilah diri Anda, sudahkah Anda fokus di penanganan resiko menuju pencapaian, atau sebatas fokus pada peng-angan-an kenikmatan pencapaian?

No comments:

Post a Comment