2/6/11

Menggunakan Akal Semata?

Kesekian kalinya, mendapati kalimat-kalimat dari calon penghuni surga seperti ini :

astaghfirullah,,,,,,,,,,,
dakwah termasuk amal ibadah,
syarat diterima nya amal insan manusia disamping ikhlas harus ikut contoh nabi.
kalau mengikut contoh nabi,hendaklah menggunakan kalamullah dan sunattallah dan atsar para sahabat, dan ulama 2 yg i`tiba kepada mereka.bukan menggunakan akal semata.
jazakallahu khairan ....

Pandai sekali mereka menghakimi, bahwa orang2 yang menggunakan akalnya untuk mentadzaburi Al Quran dan Sunnah itu disebut tidak mengikuti contoh nabi. Bahwa ia menggunakan akalnya doank, bahwa ia menjadikan akalnya sebagai hakim.

Padahal, para mujtahid (orang-orang yang berijtihad) itu, apakah betul ia hanya menggunakan akal? Data darimana? Ia menggunakan panca indera, perasaan, qalbu, memori membaca sejarah, visi menatap masa depan, modalitas kepemimpinan mendefinisikan realitas permasalahan disekelilingnya, intinya mereka menggunakan semua yang ada dalam diri (badan dan jiwa) nya untuk menelaah sumber-sumber kebenaran.

Ingat postingan saya beberapa waktu lalu, tentang substantif, komprehensif dan implementatif. Bagi mereka yang menulis di bold italic itu, saya menangkap mereka adalah orang-orang yang menganggap kebenaran itu cukup pada dimensi komprehensif saja. Sudah, kebenaran simpan di perpustakaan saja, jangan diotak-atik, jangan diformulasi menjadi sesuatu yang implementatif nanti malah rusak aqidahnya, nanti malah tidak sesuai tuntutan! seperti itu mungkin yang mereka pikirkan.

Islam itu bukan rahmatan lil alamin, Islam itu bagaimana kita murni dan masuk ke surga, orang lain biar sesat kita jangan ikut-ikutan, nanti malah kita ikut rusak. Islam itu nilai yang harus tersimpan rapi dalam perpustakaan, bukan dalam pabrik-pabrik implementasi solusi atas masalah-masalah yang dihadapi umat manusia.

:: Kutipan dari sini

No comments:

Post a Comment