3/20/11

Zona Energi

Tidak perlu berbicara dalil-dalil dulu, sepertinya pembahasan dalil itu terlalu melangit. Disini, mari kita bicara yang manusiawi-manusiawi saja dulu. Kali ini adalah tentang manusia efektif. Bahwa, teori leadership tingkat internasional, salah satunya yang dirumuskan oleh Steven R Covey menyebutkan orang berkualifikasi tinggi bukanlah sebagai manusia sukses, tapi sebagai effektively people (manusia efektif). Mengapa?

Jawaban komprehensif dan shahihnya silahkan baca sendiri di buku tebalnya Covey, sederhana saja mau saya jawab, bahwasannya kunci untuk menjadi manusia unggul, manusia berkelas atas, adalah memang efektif waktu, menguasai waktu.

Pengertian ini jangan dulu dirancukan dengan memforsir diri tak pernah istirahat, atau workaholic mengabaikan nutrisi badan dan jiwa, nanti dulu... . Manusia efektif berkaitan erat dengan urusan waktu, itu mungkin ada hubungannya kenapa ada ayat "Demi Masa...", "Demi Siang...", "Demi Malam...", dan beberapa lagi lainnya.

Sekarang persoalannya, kenapa banyak orang tidak bisa menguasai waktu sehingga waktu itu menjadi efektif? Ada dua kemungkinan, karena orang itu tidak tahu caranya menggunakan waktu atau karena orang itu tidak mau menggunakan waktu.

Masing-masing kita tentu lebih paham kita termasuk golongan yang pertama, kedua atau bukan keduanya. Kalau kamu termasuk bukan golongan keduanya, maka tidak perlu melanjutkan membaca ini. Kalau kamu termasuk golongan yang pertama, hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengeksplorasi diri, caranya cari sendiri. Ciri golongan ini adalah, misalnya dia bangunnya siang terus, dan seharian hanya mengerjakan satu atau dua hal saja, sesudah itu tidur lagi, dan besoknya tidak banyak perubahan atas dampak perbuatan-perbuatan dia di hari kemarin. Lalu dia mencoba bangun lebih pagi, tapi tetap sama saja, dia tidak tahu harus mengerjakan apa, sehingga mau bangun siang atau pagi, ya segitu-segitu saja.

Beda dengan golongan kedua, dia punya segudang keahlian, semilyar peluang, sesamudera hal yang bisa dicoba, tapi sayang bangunnya siang terus, jadi hanya sedikit yang bisa dikerjakan, andai dia bisa bangun lebih pagi, tentu bisa mengerjakan lebih banyak hal.

Nah, kalau solusi bagi yang pertama adalah mengeksplorasi diri, maka solusi bagi golongan yang kedua adalah masuk ke zona energi. Apa maksudnya? Begini, orang golongan kedua kan sudah tidak perlu belajar bagaimana teknik bangun pagi to? dia juga tidak perlu mencari-cari kalau aku sudah berhasil bangun pagi terus mengerjakan apa?

Jadi persoalannya adalah soal pemanas mood, soal energi itu, soal bagaimana bisa mengubah "malas" menjadi "mau", dari "enggan" menjadi "senang". Itu semua tidak ada di zona skill, itu adanya di zona energi. Caranya bagaimana? cari sendiri. Bisa tirakatan, kontemplasi, silaturahim, sodaqoh, dll.

No comments:

Post a Comment