1/1/11

1 1 11

Merayakan tahun baru itu tidak ada tuntunanya, tapi sadar akan kehadiran waktu itu utama. Itulah salah satu kaifiyat dari puasa awal, tengah dan akhir bulan, itu juga kaifiyat dari sholat gerhana dan sholat-sholat berorientasi waktu lainnya.

Mumpung tahun sebelas (11) masih bertanggal satu (1), bulannyapun masih (1) maka jangan usik saya yang masih asik menulis tentang tahun yang baru ini. Sedih menyambutnya, tapi ya mau bagaimana lagi, harus tetap disambut.

Mengelap Kaca Rumah Reot

Beberapa resolusi hanyalah menjadi sekedar resolusi. Seperti mengelap kaca sekinclong-kinclongnya, tapi setelah kaca itu kinclong dan kita mundur menatap keseluruhan, rumah tetaplah reot. Hueh, akhinya habislah energi untuk melanjutkan pembenahan rumah.

Begitulah, ketika kita meneriakkan nilai-nilai kecil "saya akan ini!", "saya akan itu!", kok kemudian tiba-tiba ngedrop dan berbalik arah, karena ternyata ada nilai besar yang terabaikan. Caknun mengatakan, kenapa penduduk kota tidak menjaga kebersihan sungai disekitar rumah tinggalnya, adalah bukan karena mereka tidak tahu cara membersihkan sungai itu, tapi karena penduduk putus asa terlebih dahulu ketika dia capek-capek membersihkan kebersihan sungai, tapi para pejabat tidak menjaga kebersihan keuangan negara.

Ini note tidak ada endingnya, menyuruh kita harus bagaimana bagaimananya, hanya memaparkan saja, bahwa kita akan berhenti bukan karena lelah mengelap kaca, tapi karena putus asa, melihat rumah tetap saja reot.

No comments:

Post a Comment