1/13/10

Perbedaan Orang Jawa dan Orang Padang pada Dua Fase Wajib dalam Berentrepeneur


Orang Jawa dan orang Padang mendapati kondisi yang berbeda dalam menjalani fase-fase bereentrepeneur Ada dua fase besar yang mau tidak mau harus dilalui oleh seorang yang terlanjur memutuskan diri menjadi seorang entrepeneur.


Fase Pertama : Entrepeneur Minder

Inilah fase dimana mencoba dagang rugi-rugi terus, mencoba ide baru tetap saja rugi, ketika melihat sekeliling, teman selifting sudah ada yang jadi ini dan jadi itu.

Bagaimana orang Jawa pada fase ini? Mereka sibuk, sibuk memikirkan omongan orang, celaan orang, sibuk meramalkan nasib sendiri, saking sibuknya hingga malas berpikir kreatif. Jangankan berpikir kreatif, berpikir positif saja "aras-arasen", apalagi beraksi proaktif, ah nihil.

Alhasil, bukannya terus mencoba bagaimana (how) melakukan cara-cara baru yang inovatif, mereka "ketungkul" berpikir mengapa (why) nasibku begini? mengapa mereka berkata seperti itu? mengapa mereka bisa berhasil dan aku tidak? Kasihan, energi terkuras di level "why".

Bagaimana pula dengan orang Padang? Orang Padang jauh dari keluarganya, jauh dari orang-orang yang ia kenal, di tanah Jawa jangankan orang berkomentar, melirik ke ia saja tidak. Akibatnya, sekalipun omzet tidak nutup, sekalipun berbulan-bulan hanya makan nasi Padang tanpa lauk (nasi, sambal dan lalab saja), tetap saja mereka berpikir pada tataran "how", bagaimana ini terobosannya?

Iya, tidak ada omongan orang yang mereka pikirkan, ketika keluarga jauh di Padang sana menelepon katakan saja "Rancak Bana, Bahagia di Kampuang Jawa Bundo...", ya, bahagia, karena walau cuma makan nasi lalab, tapi pikiran tidak tersita oleh pembanding-pembanding yang menegasi kekuatan diri. Ya mau membandingkan dengan siapa, orang tidak ada yang dikenal?

Lalu masuklah pada Fase Kedua : Entrepeneur Percaya Diri

Ini adalah fase dimana seorang entrepeneur bangga dengan statusnya, bangga dengan kesehariannya, sekalipun hanya memakai sepatu kets dan kaos oblong tetapi kesejahteraan berlimpah, sedekah merekah.

Bagaimana orang Jawa pada fase ini? Haha, bagaimana ya, apa mereka sampai pada fase ini, sedangkan kesibukan mereka memikirkan omongan negatif orang-orang terdekatnya dan ramalan ramalan negatif ngaco yang ia buat sendiri menyita waktu untuk optimalisasi kualitas mental dan skillnya sendiri?

Ya, tidak terdeteksi nasib mereka di fase ini, mungkin karena sebelum masuk ke fase ini mereka sudah terlanjur kembali "repek" di hutan bengkok desa, mendaftar pegawai negeri, yah pokoknya demi meredam omongan orang, yang penting dapat status. Asal tidak lagi makan "sega kucing" yang penting gajian.


Lalu bagaimana dengan orang Padang pada fase ini? Ya, bisa ditebaklah, betapa bahagianya hidup dalam kesejahteraan yang ia jerihkan bertahun-tahun.

Merantaulah! "Merantau", bukan "Merantau", tahu kan maksudnya?

5 comments:

  1. ini apa sih. ga ilmiah. saya yang ada darah padangnya saja malu bacanya. Indonesia kan sudah merdeka, jangan terjebak stereotipe yang dibuat penjajah untuk memecah belah kita. bersikaplah dewasa dan elegan.
    maaf kalau komen saya agak nyelekit, tapi anda seharusnya mempertimbangkan ini sebelum posting. terimakasih

    ReplyDelete
  2. kenapa gitu?
    memang ini bukan karya ilmiah kok...

    blog2 saya juga, yang mau ambil pelajarannya ya silahkan, yang mau negatif persepsi ya silahkan... orang yang teacheble alias pembelajar bisa menangkap maksud postingan saya ini, pasti.

    ReplyDelete
  3. benar juga,tapi kenapa kalau orang jawa yang mau merantau kepadang di usir sama orang padang

    ReplyDelete
  4. Racist people like minang is idiot get out from indonesian,if you want still live in indonesian you must not racist

    ReplyDelete
    Replies
    1. lol, look at your comment, what a shame, you'll be the first one to get out from Indonesia then

      Delete