6/22/09

p = m . v

Kali ini kita akan bicara tentang momentum. Bila ada dua kendaraan bertabrakan, maka seberapa parah kendaraan itu rusak tergantung pada momentum yang terjadi pada dua kendaraan itu. Semakin cepat kendaraan itu melaju, semakin parahlah. Begitu juga, semakin besar massa kendaraan itu, semakin parahlah pula.

Karena itu, dalam fisika besaran momentum dirumuskan dengan perkalian m (massa) dengan v (kecepatan). Dan rupa-rupanya rumus inipun berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Mau bukti? Kenapa seorang yang belajar pagi-pagi buta di hari H ujian bisa lebih banyak membaca halaman-halaman buku ketimbang belajar seharian tapi seminggu sebelum ujian?

Kenapa seseorang di hari lahirnya lebih bisa merasakan nikmatnya puasa sunnah dan khusyuknya muhasabah ketimbang hari-hari biasa? Dan sebagainya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena jam-jam menjelang ujian adalah momentum, karena hari lahir adalah momentum, sebuah waktu yang memiliki bobot psikologis tersendiri.

Begitulah, setelah kita sadar di waktu-waktu yang kita lalui ternyata ada waktu-waktu istimewa bermomentum, maka tantangan bagi kita untuk bisa peka memanfaatkan momentum-momentum itu. Amat sayang bila terlewatkan...

Misalnya, hari minggu saat kita free kuliah, sayang dilewatkan momentum itu untuk menghabiskan hari dengan mengikuti pelatihan entrepreneurship misalnya. Saat praktek kerja industri misalnya, sayang melewatkan momentum itu untuk mencari channel yang siapa tahu berguna kelak di kemudian hari.

Dan, pertanyaanya sekarang, apakah kita hanya cukup menunggu momentum-momentum itu berdatangan? atau kita bisa membuat momentum?

No comments:

Post a Comment