6/25/09

Ya Memang Harus Privatisasi

Salah satu pernyataan Pa Boed, calon wapres pendampingnya SBY yang dicap Neolib adalah "Privatisasi akan terus dilanjutkan, tapi selektif".

Pertanyaannya, apa iya harus privatisasi pa? bukankah aset negara akan tergadaikan pelan-pelan? Hm, simpulkan sendiri saja setelah membaca tulisan ini. Sekarang begini anak-anak, pak guru akan menjelaskan tentang perjalanan kereta api dari Purwokerto ke Jember yang memakan waktu 15 jam mungkin ada. Saya sebenarnya ingin bertanya ke dirut PT KAI, apa tidak pernah dilakukan survay atau analisis grafik fluktuasi penumpang? atau ada tapi tidak valid datanya?

kenapa memangnya? lah kalau memang analisis data penumpang itu ada, harusnya kejadian seperti tadi pagi saya terjepit dengan sebungkus rames di dekat sambungan gerbong oleh karung berisi pisang dan kotak berisi kopi panas ditambah dilompati orang yang mau turun dari kreta tentu tidak perlu terjadi. Kenapa jumlah penumpang dan armada bisa timpang? Bukankah tiket yang terjual terdata?

Itulah bobroknya pengelolaan dalam negeri, bandingkan dengan Bus Efisiensi yang notabenenya punya swasta itu. Kereta api seolah-olah yang penting jalan, yang penting setoran tiket masuk. Tapi beda dengan Efisiensi, Bus itu menyediakan fasilitas dan kenyamanan yang terus ditingkatkan.

Apa di kereta api tak ada tim kreatif atau RND? kalau seperti ini terus siapa yang rugi coba? alih-alih nyaman, pengguna kereta akan beralih ke angkutan lain kalau fasilitasnya tidak diperhatikan, jangankan minuman, kursi aja tidak. jangankan duduk di kursi, duduk di sambungan gerbong saja susah, apalagi ditambah tukang sapu liar yang menyeok2kan dan menerbangkan debu. lengkaplah sudah...

padahal, untuk negara berkarakter geografis luas seperti Indonesia ini, kereta api bisa menjadi transportasi vital, jauh lebih supported ketimbang bus. karena banyak perjalanan jarak jauh, kereta jelas jauh lebih cepat dan lebih baik.

karena itu, kalau saya jadi negarawan besar di bangsa ini nanti, kereta api akan saya upayakan untuk maju bertahap hingga bisa menyaingi Jepang. ya, ikhtiar simple nya, mulailah dengan mencoba upaya menyeimbangkan jumlah gerbong dan penumpang. Memang, mungkin anggaran agak membengkak, tapi kan itu di awal saja, ketika pengguna kereta api nyaman, dia akan bergetok tular sehingga pengguna kereta terus bertambah, kemacetan jalan raya berkurang, penipisan kantong akibat tiket mahal teratasi karena kereta lebih murah. Dan yang terpenting pak Marjoko tidak menebangi pohon lagi dengan alasan perluasan jalan.

Ini jaman penghijauan men... kok bupatinya mencontohkan pembabatan pohon, kelaut aja...

Kembali soal privatisasi, memang kalau diserahkan ke swasta kecenderungan akan jadi profesional. jadi sangat setujua saya dengan upaya itu, tapi kan yang anti buat saya adalah, privatisasi jadi celah bagi pejabat negara untuk mendapatkan komitmen fee yang justru menggerogoti hak finansial bagi negara. Ini nih yang bahaya pa Boed dan semua pendukung privatisasi..

Jadi, solusi terbaik memang kita bangun SDM-nya, kumpulkan saja motivator2 nasional untuk menggagas ide bagaimana agar BUMN dan birokrasi pemerintah punya mental inovatiflah minimal, jadi tau mensiasati keadaan, menyadong gaji bukan sekedar menjalankan rutinitas yang mengabaikan rakyat, bukan itu, bukan, tapi melayani masyarakat dengan 'inovasi tiada henti'

No comments:

Post a Comment